Catatan Popular

Rabu, 22 November 2017

KITAB FADHAIL AMAL 1. PERJALANAN RASULULLAH SAW KE THAIF

(BAB I KISAH-KISAH KETABAHAN)


Selama sembilan tahun sejak kerasulannya, Nabi Muhammad saw. telah berusaha menyampaikan ajaran Islam dan membawa hidayah untuk memperbaiki kaumnya di Makkah, namun sangat sedikit yang menerima aj akan beliau, kecuali mereka yang sejak awal telah masuk Islam. Selain mereka, ada yang belum masuk Islam, tetapi siap membantu Rasulullah saw.. Dan sebagian besar kafirin Makkah selalu menyakiti beliau dan para sahabatnya. Abu Thalib termasuk orang yang belum memeluk Islam, namun hatinya sangat mencintai Rasulullah saw., ia akan melakukan apapun yang dapat menolong Nabi saw..
Pada tahun kesepuluh kenabian, ketika Abu Thalib meninggal dunia, kaum kuffar bertambah kesempatan untuk mencegah perkembangan Islam, dan menyakiti kaum muslimin.
Atas hal ini, Rasulullah saw. pergi ke Thaif. Di sana ada suatu kabilah bernama Tsaqif, yang sangat banyak anggotanya. Beliau saw. berpendapat, jika mereka memeluk Islam, maka kaum muslimin akan terbebas dari siksaan kaum kafirin, dan akan menjadikan kota itu sebagai pusat penyebaran Islam. Setibanya di Thaif, Nabi saw. langsung menemui tiga orang pemuka masyarakat dan berbicara dengan mereka, mengajaknya kepada Islam, juga mengajak mereka untuk ikut membantu penyebaran agama ini. Namun, mereka bukan saja menolak, adat bangsa Arab yang terkenal dengan penghormatan terhadap tamu pun tidak mereka lakukan.
Mereka menerima beliau dengan perilaku yang sangat buruk. Mereka menunjukkan rasa tidak suka dengan kedatangan Nabi saw.
Pada mulanya beliau berharap kedatangannya kepada tokoh masyarakat itu, akan disambut baik dan sopan. Tetapi sebaliknya, seseorang dari mereka ada yang berkata, “Oh, kamukah yang dipilih oleh Allah sebagai Nabi-Nya?” Yang lainnya berkata, “Apakah tidak ada orang selainmu yang lebih pantas dipilih oleh Allah sebagai Nabi?” Yang ketiganya berkata, “Saya tidak mau berbicara denganmu, karena jika kamu memang benar seorang Nabi seperti yang kamu akui, dan kemudian aku menolakmu, tentu akan mendatangkan bencana. Dan jika kamu berbohong, maka tiada gunanya berbicara denganmu. ”
Setelah menemui mereka yang sulit diharapkan itu, Nabi saw. pun berharap agar dapat berbicara dengan selain mereka. Inilah sifat Nabi saw. yang selalu bersungguh-sungguh, teguh pendirian, dan tidak mudah putus asa. Ternyata, tidak satu pun diantara mereka yang mau menerimanya. Bahkan mereka membentak Rasulullah saw., “Keluarlah kamu dari kampung ini! Pergilah kemana saja yang kamu suka!”
Ketika Nabi saw. sudah tidak dapat mengharapkan mereka, dan bersiap-siap akan meninggalkan mereka, mereka telah menyuruh para pemuda kota agar mengikuti Nabi saw., lalu mengganggu, mencaci, serta melempari beliau dengan batu, sehingga sandal beliau penuh dengan darah. Dalam keadaan seperti inilah Rasulullah saw. meninggalkan Thaif. Ketika pulang, Rasulullah saw. menjumpai suatu tempat yang dianggap aman dari kejahatan mereka. Beliau saw. berdoa kepada Allah swt.
“Ya Allah, aku mengadukan kepada-Mu kelemahan kekuatanku, dan sedikitnya daya upayakupadapandangan manusia. WahaiyangMaha Rahim darisekalian rahimin, Engkaulah Tuhannya orang-orangyang merasa lemah, dan Engkaulah Tuhanku, kepada siapakah Engkau serahkan diriku. Kepada musuh yang akan menguasaiku, atau kepada keluargaku yang Engkau berikan segala urusanku, tiada suatu keberatan asalkan tetap dalam ridha-Mu. Afiat-Mu lebih berharga bagiku. Aku berlindung kepada-Mu dengan nur wajah-Mu, yang menyinari segala kegelapan, dan yang membaguskan urusan dunia dan akherat, Dari turunnya murka-Mu atasku atau turunnya adzab-Mu atasku. Kepada Engkaulah kuadukan keadaanku, hingga Engkau ridha. Tiada daya dan upaya melainkan dengan-Mu.”
Demikian sedih doa Nabi saw., sehingga Jibril as. datang, memberi salam kepada beliau dan berkata, “Allah swt. telah mendengar perbincanganmu dengan kaummu, dan Allah pun mendengar jawaban mereka, dan Dia telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung agar siap melaksanakan apapun perintahmu kepadanya.” Malaikat itu pun datang, dan memberi salam kepada Nabi saw., seraya berkata, “Apapun yang engkau perintahkan, akan kulaksanakan. Bila engkau suka, akan kubenturkan kedua gunung di samping kota ini, sehingga siapapun yang tinggal diantara keduanya akan mati terhimpit. Jika tidak, apapun hukuman yang engkau inginkan, aku siap melaksanakannya.” Rasulullah saw. yang bersifat kasih dan mulia ini menjawab, “Saya hanya berharap kepada Allah swt., andaikan pada saat ini, mereka tidak menerima Islam, mudah-mudahan keturunan mereka kelak akan menjadi orang-orang yang beribadah kepada Allah.”
Faedah :

Demikianlah akhlak seorang Nabi yang mulia. Kita mengaku bahwa diri kita adalah pengikutnya, namun ketika kita ditimpa sedikit kesulitan, kita akan mencela, bahkan menuntut balas. Kezhaliman dibalas dengan kezhaliman, sambil terus mengaku bahwa kita adalah umat Nabi saw.. Padahal dengan pengakuan itu, seharusnya segala tingkah laku kita mengikuti beliau. Nabi saw. pun, jika mendapat kesulitan dari orang lain, beliau tidak pernah mendoakan keburukan, juga tidak pernah ingin menuntut balas.

Tiada ulasan: