Catatan Popular

Memaparkan catatan dengan label Wali Malik Bin Dinar. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Wali Malik Bin Dinar. Papar semua catatan

Sabtu, 27 Julai 2013

TOKOH SUFI HEBAT : PENCURI DI RUMAH MALIK BIN DINAR



Seorang pencuri masuk ke rumah Malik bin Dinar. Ia memeriksa sisi rumah, namun tidak menemukan barang yang dapat dicuri. Malik bin Dinar mengawasi gerak-gerik si pencuri dari kejahuan. Setelah si pencuri yakin bahwa usahanya sia-sia, ia pun segera bergegas keluar. Belum sempat ia keluar, Malik bin Dinar menyapa, "Kemarilah, kamu telah datang kepadaku karena menginginkan sesuatu, namun tidak memperolehnya. Sekarang, jika kamu tidak berhasil mendapatkan kebaikan hissi (kebendaan), insyaa Allah kamu akan mendapatkan kebaikan maknawi. Shalatlah dua rakaat di atas sajadahku ini!"

Pencuri itu kemudian berwudhu dan shalat dua rakaat di atas sajadah beliau, sementara Malik bin Dinar berdoa agar si pencuri mau bertobat.

Ketika pencuri itu keluar dari rumah Malik bin Dinar, ia telah berada di alam (kehidupan) yang lain.Tanda-tanda pengabulan tampak pada dirinya. Cahaya ketaatan bersinar di
wajahnya.  Keesokan harinya kawan-kawannya sesama pencuri bertemu dengannya di jalan.

"Wahai Fulan, melihat wajahmu  yang berseri-seri, kami yakin bahwa semalam kamu mendapatkan hasil curian yang memuaskan," kata mereka "Sama sekali tidak, tidak sedikitpun kuperoleh harta, tapi yang kudapatkan adalah curian cahaya dan ilmu. Aku masuk ke rumah Malik bin Dinar, tetapi tidak menemukan sesuatu  yang dapat kucuri.
Ketika akan krluar, beliau memanggilku dan menyuruhku shalat dua rakaat di
sajadahnya, sewaktu aku shalat beliau mendoakan aku. Jadi, kebahagiaan ini adalah
kebahagiaan ketaatan. Karena itu, setelah hari ini, aku bukanlah teman kalian
lagi”.

TOKOH SUFI HEBAT : MALIK BIN DINAR MENINGGALKAN SYAHWAT DUNIA



Dialah Abu Yahya Malik bin Dinar. Sosok yang meninggalkan syahwat dunia. Penakluk jiwa ketika sedang bergejolak. Demikianlah Abu Nuaim memberikan sifat pada Malik bin Dinar dalam al-Hilyahnya.
Malik bin Dinar dilahirkan pada masa Ibnu Abbas R.a. Ia sempat bertemu dengan Anas bin Malik. Karenanya, ia diliputi berkah ilmu yang bermanfaat. Ia pun mengambil manfaat dari ulama shalih dari kalangan sahabat Nabi. Ia belajar akhlak suci dari mereka, adab dan sunah yang diridhoi Allah. Malik bin Dinar menjadi salah satu seorang pemimpin kaum muslimin yang ternama.
Ibnu Sa’ad berkata,”Dia seorang yang tsiqah dan sedikit bicara.”
Ibnu Hibban menambahkan dalam ats-Tsiqatnya,” Malik bin Dinar menulis Mushaf dan mendapatkan honor. Ia makan dari honor itu.”
Dialah imam zuhud. Terdepan dalam Wara’. Kezuhudannya menjadi perumpamaan. Mati kita renungi potongan kisah dari kehidupan ulama ini. Suatu ketika ia menemui Anas bin Malik R.a. Bersamanya ikut Tsabit dan Yazid ar-Raqasyi. Anas bin Malik memandang mereka dengan kagum, seraya berkata,”Betapa mirip kalian dengan para sahabat Rasulullah SAW. Sungguh kalian lebih aku cintai dari sekian anakku, kecuali mereka mempunyai keutamaan seperti kalian. Sungguh aku mendoakan kalian dimalam hari.”
Renungkanlah. Mereka didoakan oleh Abu Hamzah Anas bin Malik. Semata karena cinta pada Allah SWT. Apakah ada seseorang yang mencintai seperti Anas bin Malik kecuali orang-orang shalih dan ahli taat? Merekalah orang-orang yang benar bersama Allah dan Allah pun membenarkan mereka dengan kecintaan orang-orang shalih dan ahli ibadah.
Betapa tinggi kedudukan mereka! Suatu ketika ia membaca firman Allah SWT:
Artinya: “Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quraan ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah.”(QS.al-Hasyr:21)

Malik bin Dinar berkata,”Aku bersumpah pada kalian, tidak beriman seorang hamba dengan al-Qur’an kecuali hatinya terpecah.”
Abdul Aziz bin Salman menuturkan,”Aku dan Abdul Wahid bin Zaid menemui Malik bin Dinar. Kami dapati dia berdiri dari majelisnya, lalu masuk kerumahnya. Kemudian dia menutup pintu kamar. Kami duduk menunggunya hingga keluar atau mendengar darinya suatu gerakan. Kami kemudian minta izin. Malik bin Dinar seperti mengucapkan sesuatu yang tidak bisa dipahami, lalu terdengar dia menangis. Sampai-sampai kami merasa kasihan mendengar tangisannya. Kemudian tubuhnya bergetar, bernafas lalu pingsan.”
Abdul Wahid berkata,”Kita pergi. Kita tidak ada urusan hari ini dengan laki-laki ini. Dia sibuk dengan dirinya sendiri.”
Pada kesempatan lain ia memasuki kawasan pekuburan. Tiba-tiba ada seseorang yang sedang dikubur. Malik datang dan berdiri disamping kuburan sambil memperhatikan orang yang dikubur. Malik bin Dinar mulai berkata, ”Wahai Malik, besok beginilah keadaanmu. Tidak ada seseorang pun yang bisa menolongmu dikuburan.“
Malik bin Dinar terus berkata,“ besok beginilah keadaanmu.“ Hingga ia pingsan dan tersungkur dilubang kubur. Orang-orang pun segera membawanya kerumah dalam keadaan tak sadarkan diri.
Malik bin Dinar selalu mengulang-ngulang,“Wahai Tuhannya Malik!Engkau telah mengetahui penghuni surga dan penghuni neraka. Maka, dimanakah tempat malik?“kemudian Malik bin Dinar menangis!
Renungkan bagaimana ia menggambarkan keadaan seorang hamba di hari Kiamat ketika ia meninggalkan dunia ini.
Suatu ketika ia naik kapal. Saat kapal itu berada disebuah jembatan, diserukan agar awaknya tidak keluar dan berdiri dari tempatnya.
Malik bin Dinar malah keluar, mengambil pakaiannya dan memanggulnya lalu melompat dari kapal dan berdiri diatas tanah.“Apa yang membuatmu keluar?seru juru mudi.
”Tidak ada apa-apa!Jawab Malik.
“Pergi!” ujar juru kemudi lagi.
Malik berkata dalam hati,”beginilah akhirat.”

Betapa indah perumpamaan ini!Tidak mungkin dimengerti kecuali oleh hati yang suci, bersih seperti putihnya susu.
Beginilah Malik selalu mengevaluasi dirinya.. Tak ada temapat dihatinya kecuali zikir kepada Allah dan ketakutan yang selalu melekat disekujur anggota tubuhnya.
Suatu ketika, Harits bin Nabhan memberinya hadiah sebuah bejana yang terbuat dari kulit. Bejana itu berada ditempat Malik bin Dinar beberapa saat. Ketika Harits datang, Malik segera memanggilnya,”Wahai Harits, kemarilah!Ambil bejanamu!Dia telah membuat hatiku sibuk. Setiap kali aku memasuki masjid, syetan datang dan berkata,”Wahai Malik, bejanamu telah dicuri.”Dia telah membuat sibuk hatiku.”
Sungguh! Malik tak ingin ada yang mengusik hatinya kecuali takut pada Allah. Alangkah bahagianya pemilik hati ini!
Simaklah keluhannya suatu saat,”Aku berharap Allah mengizinkan ketika aku berada dalam genggaman TanganNya kelak aku sujud sekali saja. Sehingga aku tahu bahwa Dia telah ridha. Lalu Dia berkata kepadaku,”Wahai Malik jadilah debu.”
Sungguh ketakutan pada Allah telah memenuhi hati orang-orang yang bertakwa. Maka ia pun mendekat padaNya dan jauh dari godaan makhluk.
Ada seorang laki-laki terkaya di Bashrah. Ia mempunyai seorang putri yang teramat cantik. Suatu saat sang Ayah berkata,”Keturunan Hasyim pernah melamar padamu, dari bangsa arab!Tapi engkau menolak. Kukira engkau menginginkan Malik bin Dinar dan sahabatnya?”
”Demi Allah, itulah cita-citaku,”jawab sang putri.
Sang ayah berkata pada salah seorang saudaranya,”Temui Malik. Kabarkan tentang kedudukan putriku dan keinginannya!”
Ketika bertemu Malik, utusan ayah gadis itu berkata,”seseorang menyampaikan salam untukmu. Dia berpesan,’Sungguh engkau mengetahui bahwa aku orang paling kaya dikota ini. Aku punya seorang putri cantik yang ingin menikah denganmu. Apa pendapatmu?”
Malik menjawab,”Sungguh aneh. Apakah engkau tidak tahu bahwa aku telah menceraikan dunia dengan talak tiga!” Malik bin Dinar telah menceraikan dunia sehingga ia tidak peduli dengan apa-apa yang hilang dari dunianya.
Saat lain, Malik tertarik untuk memakan roti campur susu. Seorang temannya datang membawakan makanan yang dimaksud. Sejenak Malik membolak-balikkan roti itu lalu berkata,”Aku merindukanmu selama 40 tahun. Dan aku berhasil mengalahkan keinginanku itu. Hari ini engkau ingin mengalahkanku?pergi dari sisiku!” Malik tak mau memakannya.
Malik bin Dinar tak hanya zuhud dalam hal makanan. Kediamannya pun sangat sederhana. Dirumahnya tak ada apa pun kecuali Mushaf dan pakaiannya. Tentang rumahnya ini dia berkata,” Siapa yang masuk ke rumahku lalu mengambil sesuatu, maka itu halal baginya. Saya tak butuh gembok atau kunci.”
Suatu saat, seorang pencuri masuk ke rumahnya. Namun ia tidak menemukan sesuatu pun. Malik berkata,”wahai pencuri, engkau tidak menemukan apa-apa dari harta dunia. Apakah engkau ingin bagian dari akhirat?”
”Ya!” jawab pencuri.
”Berwudhulah dan shalat dua rakaat.”
Pencuri itupun melakukannya. Ia pun pergi ke masjid bersama Malik bin Dinar. Ketika Malik di tanya tentang orang yang bersamanya, ia menjawab,”Dia datang untuk mencuri. Maka dia yang kami curi.”
Suatu ketika, gubernur bashrah lewat bersama rombongan dan tentaranya. Malik berseru,”Paling sedikit dari perjalananmu ini.”Para pembantu gubernur marah dan mengancam Malik. Namun sang gubernur buru-buru mencegah, lalu berkata pada Malik,”Apakah engkau tidak mengenalku?”
“Siapa yang lebih tahu tentang dirimu daripada aku?Awalmu dari tetsan mani yang jijik. Akhirmu adalah jenazah yang hina. Sekarang engkau berada di antara dua kondisi itu membawa kotoran.”
Sang gubernur menundukan wajahnya lalu pergi sembari berkata,”Sekarang, sungguh engkau telah mengetahui siapa diriku.”
Begitulah kehidupan Malik bin Dinar. Seorang zuhud dalam segala hal. Berani pada semua makhluk dan hanya takut pada Allah.
Ia meninggal dunia sebelum wabah Tha’un (kolera) melanda Bashrah. Wabah itu melanda pada tahun 131 Hijriyah. Semoga kita bisa mengikuti jejaknya

TOKOH SUFI HEBAT : MALIK BIN DINAR DAN PEMUDA MAHLIGAI



Jaafar bin Sulaiman rah berkata ''Satu ketika semasa berjalan di Basrah bersama Hadrat Malik bin Dinar rah kami melihat satu mahligai yang besar sedang dalam pembinaan. Seseorang pemuda sambil duduk memberi arahan kepada pekerja-pekerjanya. Hadrat Malik bin Dinar rah berkata kepada saya,'' Lihatlah betapa kacak pemuda ini! Tetapi dia sedang terlibat dalam urusan tidak berguna. Aku rasa terdesak untuk berdoa kepada Allah agar dia diselamatkan pemuda ini dari urusan sia-sia ini dan menjadikan hambanya yang mukhlis. Alangkah baiknya jika ia menjadi salah seorang dari pemuda-pemuda di syurga! Mari kita jumpa pemuda itu.'' Jaafar rah berkata bahawa mereka berdua telah pergi kepada  pemuda itu lalu mengucap salam kepadanya.

Pemuda itu menjawab salam kami. Dia mengetahui tentang Hadrat Malik bin Dinar rah, tetapi ketika itu beliau masih belum mengenalinya. Selepas beberapa lama apabila datang dia dapat mengenalinya maka dengan serta merta dia berdiri lalu berkata,'' Sila duduk. Bagaimana tuan datang kemari? Betapa tuahnya kami kedatangan tuan!'' Malik bin Dinar rah berkata,'' Berapakah yang kamu berlanjakan untuk pembinaan ini?'' Dia menjawab,'' Seratus ribu dirham.'' Malik rah berkata,'' Wang seratus ribu dirham itu kamu berilah kepadaku, maka aku akan mengambil tangungjawab dan memberi jaminan bahawa kamu akan diberi satu mahligai yang berlipat kali ganda lebih baik dari ini dalam syurga . Khadam-khadam yang ramai, khemah dan kubah dari Yaqut merah dan nikmat-nikmat syurga yang lain-lainnya akan menjadi milik kamu. Dindingnya dari mutiara, lantainya dari Jaafran dan cantuman dindingnya dari kasturi . Mahligai itu sentiasa akan berbau harum dan tidak sekali-sekali menjadi buruk. Mahligai itu bukanlah dibina oleh tukang-tukang pembinaan tetapi ia wujud dengan perintah Allah Kun yakni jadilah'.

''Pemuda itu meminta,'' Tolonglah berikan masa kepada saya untuk memikirkan perkara itu pada malam ini. Esok pagi saya akan memberi pandangan saya.'' Hadrat Malik bin Dinar rah pulang ke rumahnya. Pada sepanjang malam itu beliau berfikir untuk pemuda itu. Ketika hujung malam beliau telah berdoa untuknya sambil menangis. Selepas solat subuh kami pergi sekali lagi kepadanya. Pemuda itu sedang menunggu kami di pintu. Dia bergembira melihat Hadrat Malik bin Dinar rah. Hadrat Malik bin Dinar bertanya,'' Apakah pendapat kamu mengenai apa yang aku cadangkan kelmarin?'' Dia bertanya, Apakah tuan bersedia untuk menyempurnakan apa yang dijanjikan oleh tuan?'' Beliau menjawab,'' Tentu tiada syak lagi,'' Maka dia membawa satu uncang berisi seratus ribu dirham dan kertas serta pena untuk di tulis.

Hadrat Malik bin Dinar rah menulis di kertas itu, bismillahhirohmannirrohim. Seterusnya beliau menulis,'' Dengan ini saya Malik bin Dinar berjanji bahawasanya si anu bin si anu akan mendapat satu mahligai bersifat begini begini ( beliau menulis semua ciri-ciri mahligai itu di syurga seperti yang beliau telah ceritakan kelmarin ). Bahkan dia akan memperolehi kedudukan perhampiran Allah Taala.'' Surat jaminan itu beliau telah serahkan kepada pemuda itu lalu mengambil uncang berisi seratus ribu dirham dan membawa pulang. Pada sebelah petang hari itu juga kesemua wang seratus ribu dirham telah habis di bahagikannya sebagai sedekah sehingga tidak ketinggalan apa-apa walaupun untuk membeli makanan.

Selepas itu telah berlalu empat puluh hari.Satu pagi Malik bin Dinar rah mengimami solat subuh di Masjid. Setelah selesai solat beliau telah melihat sepucuk kertas di mihrab. Beliau mengambil dan melihat bahawa ianya adalah surat jaminan yang telah beliau berikan kepada pemuda itu. Tetapi di atasnya ada tambahan tulisan tidak berdakwat yang terang boleh dibaca,'' Aku melepaskan Malik bin Dinar dari tangungjawab jaminan ini, sebab aku berikan si anu bin si anu satu mahligai di syurga penuh dengan semua nikmat-nikmat yang dituliskannya, bahkan tujuh puluh kali ganda lebih daripadanya.''Setelah membacanya tulisan itu beliau tersangat kagum sehingga tidak dapat bergerak atau bercakap beberapa lama. Selepas itu beliau pergi ke rumah pemuda itu. Apabila tiba , beliau mendapati ada tanda-tanda kesedihan dan juga kedengaran suara tangisan di rumah itu . Bertanya kami telah di beritahu bahawa baru kelmarin pemuda itu sudah meninggal dunia.

Malik bin Dinar rah bertanya,'' Siapakah yang telah memandikan dan mengapani mayatnya?'' Maka orang yang dimaksudkan itu telah pun dipanggil dan diminta menceritakan semua peristiwa yang berlaku. Dia berkata, ''sebelum meninggal dunia beliau telah memberi sepucuk kertas kepada saya lalu mewasiatkan agar saya meletakkan kertas itu antara kapan dan tubuh mayatnya. Saya pun telah membuat sebagaimana wasiatnya.'' Hadrat Malik bin Dinar rah telah mengeluarkan kertas yang beliau jumpai di mihrab masjid dan sebelum sempat beliau berkata apa-apa orang itu berkata, ''Wallah! Inilah kertas yang saya telah letak di dalam kapannya.'' Setelah memerhatikan kesemua peristiwa itu maka salah seorang pemuda telah mendekati Dinar bin Malik rah lalu berkata,'' Tuan Syaikh, saya hendak memberikan dua ratus ribu dirham. Tolong tuliskan satu kertas lagi untuk saya.'' Beliau berkata .'' Peluang itu telah terlepas jauh! Allah membuat apa sahaja yang di kehendakinya .'' Selepas itu bila-bila masa sahaja beliau teringat peristiwa itu, maka beliau akan menceritakan kisah itu sambil menangis dan mendoakan untuk pemuda itu.

 

Sabtu, 17 September 2011

TOKOH SUFI KLASIK : MENGAPA IA DINAMAKAN MALIK IBN DINAR


Malik ibn Dinar al-Sami [d.130 H - 748 H] 'alayhi al-rahmah wa'l-Ridwan

Malik bin Dinar adalah anak kepada seorang hamba Parsi dari Sijistan (atau Kabul) dan menjadi pengikut HASAN AL-Basri [d.110 H] alayhir al rahman. Beliau disebut sebagai ahli hadith yang boleh dipercayai,  dia meninggal 130 H (748 H).

MENGAPA IA DI DINAMAKAN MALIK BIN DINAR

 Malik bin Dinar telah diberikan nama selepas kejadian berikut;

Ketika Malik dilahirkan, ayahnya adalah seorang budak tetapi Malik adalah seorang yang merdeka. Orang-orang mengisahkan bahwa pada suatu ketika Malik bin Dinar menumpang sebuah perahu. Setelah berada di tengah lautan, awak-awak perahu meminta: "Bayarlah tambang perjalananmu!".
"Aku tak mempunyai wang",jawab Malik.
Awak-awak perahu memukulinya hingga ia pingsan. Ketika Malik siuman, mereka meminta lagi: "Bayarlah tambang perjalananmu!".
"Aku tak mempunyai wang", jawab Malik sekali lagi, dan untuk kedua kalinya mereka memukulinya hingga pingsan.
Ketika Malik siuman kembali maka untuk ketiga kalinya mereka mendesak.
"Bayarlah tambang perjalananmu!".
"Aku tak mempunyai wang".
"Marilah kita pegang kedua kakinya dan kita lemparkan dia ke laut", pelaut-pelaut tersebut berseru.
Saat itu juga semua ikan di laut mendongakkan kepala mereka ke permukaan air dan masing-masing membawa dua keping dinar emas di mulutnya. Malik menjulurkan tangan, dari mulut seekor ikan diambilnya dua dinar dan uang itu diberikannya kepada awak-awak perahu. Melihat kejadian ini pelaut-pelaut tersebut segera berlutut. Dengan berjalan di atas air, Malik kemudian meninggalkan perahu tersebut. Inilah penyebab mengapa ia dinamakan Malik bin Dinar.