Catatan Popular

Memaparkan catatan dengan label Kisah Maqam Tawakkal. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Kisah Maqam Tawakkal. Papar semua catatan

Jumaat, 28 Ogos 2020

KISAH KEUTAMAAN BAGI ORANG YANG TAWAKKAL

Secara bahasa Tawakkal memiliki arti berserah diri atau mewakilkan. Sedangkan menurut istilah Tawakkal adalah sifat berserah diri kepada Allah sepenuhnya dalam menghadapi persoalan hidup, menanti akibat dan keputusan yang kehendaki-Nya. Namun dalam hal ini manusia diwajibkan untuk berusaha terlebih dahulu, dan setelah itu barulah segala urusan biar Allah yang menentukan.

 

Diceritakan dari Malik bin Dinar r.a., bahwasanya ia berkata:

 

Pada suatu hari aku pergi untuk menunaikan ibadah haji. Ketika sampai di tengah-tengah padang pasir, aku melihat seekor burung gagak yang di paruhnya ada sepotong roti.

 

Aku berkata dalam hati: "Ini adalah burung gagak terbang membawa sepotong roti, ini pasti ada sesuatu yang aneh. Kemudian aku mengikutinya sampai masuk ke dalam gua, dan aku pun ikut masuk ke dalamnya. Ternyata di tempat itu ada seorang laki-laki yang tergeletak serta terikat kedua tangan dan kakinya, sedangkan burung gagak itu menyuapinya dengan roti kemudian terbang tidak kembali lagi."

 

Aku bertanya kepada laki-laki itu: "Siapa kamu dan dari mana asalmu?"

 

Laki-laki menjawab: "Aku adalah salah seorang dari jama'ah haji. Semua hartaku dirampas para penyamun, dan aku diikat juga di lempar ke tempat ini. Aku sabar menahan lapar selama lima hari, kemudian aku berdo'a: "Wahai Dzat yang berfirman, apakah Dzat yang memberi ijabah orang yang mendapatkan kesulitan jika mau berdo'a kepada-Nya. Aku adalah orang yang mendapat kesulitan, maka sayangilah aku."

 

Tiba-tiba Allah menyuruh seekor burung gagak datang kepadaku untuk memberi makan dan minum setiap hari.

 

Malik bin Dinar meneruskan perkataannya: "Lalu aku melepaskan ikatan laki-laki itu dan kemudian pergi bersama denganku untuk meneruskan perjalanan.

 

Di tengah-tengah perjalanan kami berdua merasa haus sebab kehabisan air. Kami memandang jauh di padang pasir, tiba-tiba melihat sebuah kolam yang di kanan kirinya terdapat sejumlah rusa yang sedang minum. Kami mengucapkan 'Alhamdulillah', karena mendapatkan sumur dan kolam.

 

Ketika kami mendekati sumur tersebut, sejumlah rusa itu lari meninggalkannya. Setelah kami sampai di tepi sumur, tiba-tiba air sumur menyusut kebawah hampir sampai dasarnya. Kemudian aku menimba air itu dengan menggunakan timba dan tali. Setelah kami memperolehnya kami pun minum.

 

Kemudian aku berkata:

 

"Wahai Tuhanku, kenapa rusa-rusa itu tidak pernah ruku' dan sujud Engkau beri minum dengan mudahnya, cukup dari atas tanah. Sementara kami sujud dan ruku' harus menimba dahulu sedalam 100 dzira'?"

 

Tiba-tiba ada suara tanpa rupa (hathif) : 'Wahai Malik! Karena rusa-rusa itu berserah diri kepada-Ku sehingga Aku memberinya minum dengan mudah. Sedangkan engkau, berserah diri kepada tali dan timba.'

Ini adalah salah satu contoh bahwa barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang akan memberinya kecukupan.

 

Sebaliknya barangsiapa yang bersandar kepada dirinya sendiri, maka persoalannya akan di serahkan pada dirinya.

 

Sifat Tawakkal adalah suatu sikap mental seorang yang yakin sepenuhnya bahwa hanya Allah lah yang menciptakan segala-galanya dan telah mengatur semua yang ada di dunia. Keyakinan inilah yang menjadi pendorong agar menyerahkan segala persoalan kepada Allah.

 

Di samping itu dengan bertawakkal hati kita juga terasa tentram dan tidak ada rasa curiga, sebab sejatinya Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana.

BELAJAR TAWAKKAL KEPADA ALLAH PADA SEORANG PUTERI 10 TAHUN

Adalah kisah terdapat seorang ulama besar kaum muslimin yaitu Hatim Al Ashom, ulama rabbani, teladan kesederhanaannya dan tawakal.

Pada suatu waktu Hatim berkata kepada istri dan 9 putrinya bahwa ia akan pergi untuk menuntut ilmu. Tentu saja hal ini membuat istri dan putri putrinya merasa keberatan, karena siapa yang akan memberi mereka makan dan memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Salah satu dari putri-putri itu berusia 10 tahun dan hafal Al Quran. Dia menenangkan semua: Biarkan Ayah kita pergi. Ayah kita telah menyerahkan kita kepada Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan tidak pernah mati!.

 

Hatim pun pergi.

Hari itu berlalu, malam datang menjelang…

Mereka mulai lapar. Tapi tidak ada makanan. Semua mulai memandang protes kepada putri 10 tahun yang telah mendorong kepergian ayah mereka.

Putri hafal Al Quran itu kembali meyakinkan mereka: Ayah telah menyerahkan kita kepada Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan tidak pernah mati!

Dalam suasana seperti itu, tiba-tiba pintu rumah mereka diketuk. Pintu pun dibuka. Terlihat para penunggang kuda. Mereka bertanya: Adakah air di rumah kalian?

Penghuni rumah menjawab: Ya, kami memang tidak punya apa-apa kecuali air.

Air dihidangkan. Menghilangkan dahaga mereka.

Pemimpin penunggang kuda itu pun bertanya: Rumah siapa ini?

Penghuni rumah menjawab: Hatim al Ashom.

Penunggang kuda terkejut: Hatim ulama besar muslimin…..

Penunggang kuda itu mengeluarkan sebuah kantong berisi wang dan dilemparkan ke dalam rumah dan berkata kepada para pengikutnya: Siapa yg mencintai saya, lakukan seperti yang saya lakukan.

Para penunggang kuda lainnya pun melemparkan kantong-kantong mereka yang berisi wang. Sampai pintu rumah sulit ditutup, karena banyaknya kantong-kantong wang. Mereka kemudian pergi.

 

Tahukah antum, siapa pemimpin penunggang kuda itu…?

Ternyata Ia adalah Abu Ja’far Al Manshur, amirul mukminin.

Kini giliran putri 10 tahun yang telah hafal Al Quran itu memandangi ibu dan saudari-saudarinya. Dia memberikan pelajaran aqidah yg sangat mahal sambil menangis:

 

JIKA SATU PANDANGAN MAKHLUK BISA MENCUKUPI KITA, MAKA BAGAIMANA JIKA YANG MEMANDANG KITA ADALAH AL KHALIQ!

 

(Terimakasih nak, kau telah mengingatkan kami yang dominasi kegelisahannya hanya urusan dunia. Hingga lupa ada Al Hayyu Ar Rozzaq)

Hingga lupa jaminan Nya: dan di LANGIT lah RIZKI kalian…

Bukan di pekerjaan…bukan di bank…bukan di kebun…bukan di toko…tapi DI LANGIT!

Hingga kami lupa tugas besar akhirat

 

Ya Allah, jangan Kau jadikan dunia sebagai kegundahan

terbesar kami…

Ya Allah aku mohon kepadaMu hidayah,sifat taqwa, kesucian jiwa dan kekayaan

 

Demikian kisah tentang belajar tawakal kepada Allah pada seorang putri 10 Tahun, semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah tersebut.

ALLAHUMMA AMIN…

TAWAKAL ATHA BIN AL AZRAQ KEPADA ALLAH SWT

Kisah ini diceritakan sendiri oleh Atha' bin Al-Azraq.

Pada suatu hari isteri Atha' menyuruhnya pergi ke pasar untuk membeli gandum kerana gandum di rumahnya telah habis. Setelah isterinya memberi wang sebanyak 2 dirham, Atha' mengambil karung guni dan berjalan menuju ke pasar.

 

Di dalam perjalanan dia mendapati seorang hamba sahaya sedang menangis. Orang ramai yang lalu lalang di situ tidak mempedulikan hamba tersebut. Oleh kerana kasihan melihat keadaan hamba tersebut, Atha' menghampiri hamba yang sedang menangis itu lalu bertanya: "Kenapa kamu menangis di tepi jalan ini?" Hamba itu menjawab: "Saya diberi wang sebanyak 2 dirham oleh tuan saya supaya membeli barang keperluan di pasar. Apabila tiba di sini, saya dapati wang itu sudah tiada." Hamba tadi menangis lebih kuat lagi seraya menyambung: "Mungkin wang itu tercicir semasa dalam perjalanan kemari."

 

Atha' bertanya lagi: "Kenapa kamu tidak pulang saja dan memberitahu tuanmu tentang kehilangan wang tersebut?."

 

Sambil menangis hamba tadi menjawab: "Jika saya pulang dan memberitahu tentang kehilangan wang tersebut, tentulah saya dimarahi dan dipukul dengan teruk". Atha' merasa simpati di atas penjelasan hamba itu lalu berkata: "Ambil wang ini dan belilah barang-barang yang dipesan oleh tuanmu." Hamba tadi mengambil wang itu dan mengucapkan terima kasih kepada Atha' lalu beredar dari situ menuju ke pasar untuk membeli barang-barang yang dipesan oleh tuannya.

 

Setelah hamba tadi beredar dari situ Atha' berfikir sendirian: "Bagaimana aku hendak membeli gandum yang dipesan oleh isteriku sedangkan wang 2 dirham telah aku berikan kepada hamba tadi?" "Dari mana aku hendak mencari wang sebanyak itu?" katanya lagi. Untuk menenangkan fikirannya, Atha' menuju ke sebuah masjid yang berhampiran untuk menunaikan solat sunat. Atha' berada di dalam masjid agak lama, sehingga beliau sempat bersolat Asar di situ. Beliau berdoa supaya Allah SWT membantunya.

 

Setelah selesai solat Asar, Atha' menuju ke rumah kawannya kerana ia takut dileteri oleh isterinya kerana pulang tanpa membawa gandum yang dipesannya. Pada mulanya Atha' ingin menceritakan dan meminta bantuan daripada kawannya tetapi apabila tiba di rumah kawannya, ia tidak tergamak untuk memberitahu hajatnya. Apabila kawannya melihat Atha' membawa karung kosong, lalu kawannya bertanya: "Apa tu? Karung kosong?" jawab Atha': "Ya" "Kalau begitu isilah habuk kayu ini dan bawalah pulang untuk dijadikan bahan bakar," kata kawannya. Tanpa berkata apa-apa, Atha' terus mengisi karung guni dengan habuk kayu yang diberikan oleh kawannya dan terus pulang ke rumahnya.

 

Apabila tiba dirumahnya, Atha' meletakkan guni yang berisi habuk kayu tadi di rumahnya dan beredar dari situ dengan senyap-senyap kerana takut isterinya berleter disebabkan karung tersebut telah diisi dengan habuk kayu. Atha' kemudian menuju ke masjid. Agak lama juga beliau berada di sana sehingga hampir larut malam barulah dia pulang.

 

Setibanya di rumah, dia tercium bau harum roti yang sedang dibakar. Atha' kemudiannya masuk ke dapur dan melihat isterinya sedang membakar roti lalu berkata: "Harumnya bau roti ini!" Jawab isterinya: "Memanglah kerana gandum ini dari kualiti yang baik". Atha' bertanya lagi: "Dari mana kamu dapat tepungnya?" "Dari mana lagi, dari karung yang awak bawa baliklah!", jawab isterinya. Atha' kehairanan lalu berkata di dalam hatinya: "Dari mana datangnya gandum itu sedangkan karung tadi berisi dengan habuk kayu. Ajaib sungguh!"

 

Atha' bertanya kepada isterinya: "Mana karungnya? Biar aku lihat.." Isterinya menghulurkan karung tadi dan dilihatnya. "Memang benar, karung tadi yang berisi habuk kayu telah bertukar menjadi gandum yang berkualiti baik," kata Atha' di dalam hatinya. Atha' hanya mampu memandang sahaja sedangkan dia sendiri tidak tahu dari mana datangnya gandum tersebut.

 

Begitulah jika kita sentiasa merendah diri, beriman dan bertawakkal kepada Allah SWT...

 

Firman Allah SWT: “Dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pemelihara.” (Al-Ahzab: 33)

 

Allah SWT juga berfirman: “Dan sesiapa yang berserah diri bulat-bulat kepada Allah sedang ia berusaha mengerjakan kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada simpulan yang teguh dan kepada Allah jualah kesudahan segala urusan.” (Luqman: 22)

 

Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:

“Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, nescaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung. Mereka berangkat pagi dengan perut lapar, dan pulang petang hari dalam keadaan kenyang”

[HR.Ahmad,Tirmidzi,Ibnu Majah]

Jumaat, 2 Mac 2018

TAWAKKAL ABU DARDA SAHABAT NABI SAW


ABU Darda’ ialah seorang sahabat yang akrab dengan Nabi Muhammad. Beliau bersikap rendah diri dan bertakwa kepada Allah. Beliau banyak mendapat hadis daripada Nabi Muhammad.

Antara hadis yang terkenal adalah mengenai manusia dianggap gagah apabila dapat menahan perasaan marah.

Hadis ini dilaporkan oleh Imam Tabrani dan Ibin Abid Dunya. Pada suatu hari, Abu Darda’ bertanya kepada Nabi Muhammad: “Wahai nabi, tunjukkanlah kepada saya amalan yang dapat membawa saya ke syurga.”

Kemudian Nabi Muhammad menjawab, “Janganlah kamu marah. Mereka yang dapat menahan perasaan marah adalah orang yang mengawal diri sendiri supaya patuh dan taat kepada Allah dan Nabi Muhammad”.

Abu Darda’ mendengar dengan teliti jawapan yang diberikan oleh Nabi Muhammad. Kemudian Abu Darda’ mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata: “Tahulah saya sekarang, orang yang dapat menahan perasaan marah adalah orang yang mulia dan dapat masuk syurga.”

Abu Darda’ juga ahli fikah yang masyhur antara para sahabat Nabi Muhammad. Beliau digelar ‘Hakimul ummah’ iaitu orang yang pandai dan bijak dalam hal berkenaan agama Islam.

Pada suatu hari, Abu Darda’ mendapat berita mengenai kebakaran yang berlaku di kawasan rumahnya. Pada masa itu, Abu Darda’ berada di tempat kerjanya. Perjalanan dari rumah ke tempat kerjanya agak jauh.

Kemudian, datang seseorang memberitahunya. “Ada rumah terbakar! Ada rumah terbakar! Semua rumah di kawasan tempat tinggal di kampung sebelah sana semua sudah terbakar!”

Abu Darda’ mahu mendapat kepastian mengenai berita kebakaran itu. Beliau menghampiri lelaki yang menyampaikan berita itu.

“Betulkah apa yang kamu cakap ini?” tanya Abu Darda’ kepada orang itu.

“Ya. Saya baru sahaja datang dari kawasan rumah itu. Api semakin marak dan menjilat rumah-rumah yang berada di kawasan itu!” terang orang itu.

Tidak lama kemudian, orang itu perasan Abu Darda’ adalah salah seorang penghuni di kawasan itu.

“Bukankah kamu tinggal di kawasan rumah itu? Mungkin rumah kamu juga turut terbakar. Segeralah pulang dan lihat keadaan rumah kamu itu. Mungkin ada apa-apa yang dapat diselamatkan,” kata orang itu kepada Abu Darda’.

“Terima kasih kerana memberitahu saya mengenai berita kebakaran ini,” kata Abu Darda’.

“Pergilah segera pulang ke rumah kamu. Selamatkan barang-barang kamu,” ulang orang itu lagi.

“Saya tidak dapat pulang ke rumah sekarang. LAgi pula, sekarang saya bekerja. Kerja ini sudah diamanahkan kepada saya. Saya perlu menyelesaikan kerja ini terlebih dahulu,” bisik Abu Darda’ sendiri.

Abu Darda’ langsung tidak terkejut dengan berita kebakaran itu. Malah, beliau tidak risau sekiranya rumah beliau sendiri yang terbakar. Lagi pula, rumah beliau berada jauh dari tempat beliau bekerja. Sebaliknya, Abu Darda’ segera menyelesaikan tugasnya.

“Saya bertawakal kepada Allah atas apa yang berlaku,” bisik Abu Darda’ lagi.

Abu Darda’ terus menyelesaikan pekerjaannya. Bagi Abu Darda’, beliau hanya dapat bertawakal kepada Allah. Sekiranya rumahnya musnah dijilat api, itu adalah takdir yang ditetapkan oleh Allah. Beliau dapat menerima kenyataan itu dengan tenang.

“Alhamdulillah, kerja saya hari ini sudah selesai. Saya mahu pulang ke rumah segera,” katanya sendiri.

Petang itu, selepas selesai bekerja, Abu Darda’ pulang ke rumahnya seperti biasa. Perjalanan ke rumahnya agak jauh.

Sampai sahaja di kawasan tempat tinggalnya, beliau melihat rumah-rumah yang ada di sana habis musnah terbakar. Tidak ada satupun rumah yang berdiri teguh dan terselamat daripada kebakaran itu.

“Habis semua rumah di sini terbakar di jilat api,” bisik Abu Darda’ selepas melihat rumah-rumah yang hangus terbakar itu.

Abu Darda’ meneruskan perjalanannya sehingga sampai ke rumahnya. Tiba-tiba, beliau melihat keadaan rumahnya masih elok.

“Subhanallah. Saya bersyukur kepada Allah. Rumah saya tidak terbakar,” kata Abu Darda’ gembira. Beliau terkejut dan gembira melihat rumahnya terselamat dan tidak terbakar sedikit pun.

Beginilah sifat orang yang sentiasa bertawakal kepada Allah atas setiap pekerjaan yang dilakukannya. Allah lebih mengetahui mengenai sesuatu perkara. Sekiranya Allah mahu sesuatu perkara itu berlaku, pasti ia berlaku dengan izin Allah juga.