Catatan Popular

Memaparkan catatan dengan label Tarekat Tersohor Naqsyabadiyyah. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Tarekat Tersohor Naqsyabadiyyah. Papar semua catatan

Isnin, 29 Oktober 2012

TAREKAT NAQSYABANDIYAH KHALIDIYYAH : JEJAKNYA DI NUSANTARA

Mulai dikenal di Timur Tengah, Tariqat Naqshbandiyah Khalidiyah kemudian menyebar di kalangan jamaah haji di Makkah, termasuk para jamaah dari Nusantara. Dari situ, tersebarlah tarekat tersebut di penjuru Tanah Melayu, termasuk Indonesia. Dan pendalaman tarekat tersebut pun berkembang melalui keguruan.

BJ O Schrieke dan Martin Van Bruinessen, seperti dikutip www.moboskunks.blogspot.com, menyebutkan bahwa Naqsyabandiyah masuk ke Nusantara dan Minangkabau pada 1850.

Christine Dobbin (2008) menyebutkan, tarekat Naqsyabandiyah sudah masuk ke Minangkabau sejak abad ke-17. Tarekat itu masuk melalui daerah pesisir Pariaman, kemudian terus ke Agam hingga ke Kabupaten Lima Puluh Kota.

Sedangkan Azyumardi Azra pernah menuliskan bahwa tarekat Naqsyabandiyah diperkenalkan ke wilayah ini pada paruh pertama abad k-17 oleh Jamaluddin, seorang Minangkabau yang mula-mula belajar di Pasai sebelum melanjukan ke Bayt Al-Faqih, Aden, Haramain, Mesir, dan India.

Dalam hal keguruan tarekat, Syekh Sulaiman Zuhdi (silsilah tarekat ke-32) yang berkedudukan di Jabal Quraisy menjadi guru bagi sejumlah syekh yang kemudian menjadi penerusnya, seperti Syekh Usman Fauzi (Jabal Quraisy).

Selain itu, tercatat pula beberapa ulama dari Nusantara yang berguru pada Syekh Sulaiman Zuhdi, yakni Syekh M Hadi (Girikusumo-Jawa Tengah) dan putranya, Syekh Ali Ridho (yang kemudian menjadi penerus silsilah keguruan), Syekh Sulaiman (Huta Pungkut-Sumatera Barat), dan Syekh Abdul Wahab Rokan (Babussalam-Aceh).

Sekembali dari Jabal Qubaisy, berpusat di Huta Pungkut-Sumatera Barat, Syekh Sulaiman mengembangkan tarekat ini. Ia memiliki murid yang sangat cemerlang, yakni Syekh Muhammad Hasyim Al-Khalidi (Buayan-Sumatera Barat). Syekh Hasyim Al-Khalidi kemudian melawat ke Jabal Qubaisy dan memperoleh ijazah keguruan pada silsilah ke-34.

Berdasarkan penjelasan yang dikutip dalam www.baitulamin.org, Syekh Hasyim Al-Khalidi inilah yang kemudian menjadi guru Syekh Prof DR Kadirun Yahya. Syekh Kadirun Yahya kemudian memperoleh ijazah keguruan Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah dan menjadi pemegang silsilah ke-35. Ijazah keguruan juga ia peroleh dari Syekh Abdul Majid (Batusangkar) dan Syekh Syahbuddin (Sayurmatinggi), pemegang silsilah keguruan dari alur yang berbeda dengan Syekh Hasyim Al-Khalidi.

Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah yang diwarisi Syekh Kadirun Yahya diteruskannya hingga berkembang pesat di Indonesia, Malaysia bahkan juga di Amerika Serikat. Di Tanah Hindi, tarekat ini terkadang masih dikenali sebagai Tariqat Naqshbandiyah Mujaddidiyah.
Menurut penjelasan yang dikutip dari Majalah Mozaik edisi April 2008, rumah-rumah wirid tarekat ini tumbuh dan berkembang hampir di 700 tempat pada 2008.

Untuk mengelola tempat-tempat wirid yang tersebar luas itu, sekaligus untuk mewadahi aktivitas sosial kemasyarakatannya, ia mendirikan Yayasan Prof DR H Kadirun Yahya yang berpusat di Medan. Yayasan tersebut menaungi bidang ketarekatan dan lembaga pendidikan, mulai Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT).
Tokoh Naqsyabandiyah Khalidiyah Indonesia lainnya adalah seorang sufi asal Minangkabau, yakni Ismail Minangkabawi yang merupakan murid dari Abdullah Makki.

Setelah lama menetap di Makkah, Minangkabawi menetap di Pulau Penyengat di wilayah kepulauan Riau. Di sana, ia memperoleh kesetiaan dari keluarga pemerintahan yang telah mengenal Naqsyabandiyah melalui duta-duta pemerintah yang dikirim dari Madinah oleh Muhammad Mazhhar.

Minangkabawi juga pergi ke Melayu hingga Kedah (negeri-negeri yang membentuk Persekutuan Tanah Melayu; sekarang Malaysia), dan mempropagandakan Khalidiyah ke mana pun ia pergi. Namun usahanya merupakan rintisan, yang kemudian digantikan oleh dua orang Khalidiyah yang tinggal di Makkah, yakni Khalil Hamdi Pasya dan Syekh Sulaiman Zuhdi.

Dalam jangka panjang, Sulaiman Zuhdi lebih berhasil daripada Khalil Hamdi Pasya. Bahkan, Jabal Abi Qubais di Makkah, tempat ia tinggal, dipandang sebagai sumber seluruh Tarekat Naqsyabandiyah di Asia Tenggara. Di antara murid-muridnya kemudian banyak yang mendirikan pusat penyebaran Khalidiyah di berbagai tempat di Sumatera, Jawa dan Sulawesi.

Kemudian, Abdil Wahab Rokan dikirim dari Makkah pada tahun 1868 dengan misi menyebarkan Khalidiyah di seluruh Sumatera, dari Aceh sampai Palembang. Misi yang sukses dilakukannya adalah mendirikan pusat penyebaran Khalidiyah di Babussalam, Lengkat. Ia juga pernah tinggal dan menetap di Johor selama tiga tahun, sehingga memungkinkannya untuk memperluas pengaruhnya hingga ke Semenanjung Malaya.

Babussalam, yang dikenal juga dengan Besilam, disebut-sebut sebagai pusat penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Wikipedia menyebutkan, Babussalam dibangun pada 12 Syawal 1300 H (1883 M) di atas tanah wakaf raja Langkat pada masa itu, Sultan Musa Al-Muazzamsyah.

Besilam atau Babussalam, yang berarti “pintu kesejahteraan,” merupakan sebuah perkampungan terpencil dan terisolasi di tengah hutan sekunder di ujung Tanjung Pura, Padang Tualang, Langkat, Sumatera Utara. Daerah itu dihuni para sufi yang mengamalkan ketaatan pada pengasingan dari kehidupan duniawi dan mencari jalan menuju Sang Khalik. Bahkan Sultan Musa al-Muazzamsyah diceritakan ikut menetap di sana dan mengajarkan Tarekat Naqsyabandiyah sampai akhir hayatnya.

Isnin, 13 Februari 2012

ALAM KABIR DAN ALAM SAGHIR (DALAM TAREKAT NAQSHABANDIYYAH)

MANUSIA merupakan biasan dalam bentuk kecil bagi kejadian Alam Maya Semesta Raya [Kosmos] ini atau disebutkan sebagai Alam Kabir [Makrokosmos] yang bermakna alam besar. Sebagai biasan, manusia adalah Alam Saghir [Mikrokosmos] yang bermakna alam kecil. Segala apa yang wujud di alam yang kecil juga adalah wujud di alam yang besar. Namun demikian, setiap apa yang ada di alam besar tidak kesemuanya berada di alam kecil. Menerusi alam kecil, dapat dilihat apa yang ada di alam besar sana.
Walaubagaimanapun, tidak semua manusia yang dapat melihat alam besar menerusi alam kecil dirinya. Di dalam diri manusia itu mengandungi suatu daya tenaga yang jika ianya dibuka maka akan membolehkannya melihat Alam Maya Semesta Raya kerana dia merupakan Alam Saghir dan menjadi cermin kepada Alam Kabir di dalam dirinya.
Pada dasarnya, Alam Kabir ini adalah terlalu besar dan luas sehingga tiada siapa pun yang dapat menyatakan betapa besarkah kadar keluasannya. Para Masyaikh mentafsirkannya sebagai Daerah Imkan yang bererti suatu daerah keluasan yang mungkin baginya. Daerah Imkan Alam Kabir ini terbahagi kepada dua bahagian iaitu Alam Amar dan Alam Khalaq. Perbandingan antara kedua-dua Alam Kabir dan Alam Saghir dapat dilihat dalam Rajah 2, yang mana di Alam Kabir, ‘Arash Mu’alla menjadi sebagai pengantara manakala di Alam Saghir pula, Hati menjadi sebagai pengantara.
Kerana itulah ada mafhum sebuah Hadits yang menyatakan bahawa, “Allah Ta’ala itu berada dalam hati orang-orang beriman.”
Menurut Para Masyaikh Naqshbandiyah, hati manusia adalah merupakan biasan kepada Hati Ruhaniah Hakikat Muhammadiyah. Hati Ruhaniah ini mempamerkan Lautan Kekuasaan atau disebutkan sebagai Bahrul Qudrah, yang merupakan tempat asal usul segala ciptaan. Lautan Kekuasaan Bahrul Qudrah ini berada di Alam Kabir dalam Alam Maya Semesta Raya. Daerah Imkan.
Barangsiapa yang mampu mencapai pengetahuan tentang hati akan berkemampuan untuk memahami kebenaran Hakikat Kenabian Nur Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Hakikat Nur Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam berada di dalam Lautan Kekuasaan Bahrul Qudrah ini. Hati yang banyak berzikir akan menghasilkan limpahan Faidhz dan ianya akan turut mengalir di dalam saluran darah di dalam tubuh badan dan mengisikan tubuh badan dengan limpahan Faidhz tersebut.
Menurut Hadhrat Mujaddid Alf Tsani Syeikh Ahmad Faruqi Sarhindi Rahmatullah ‘alaih, apabila kelima-lima lataif Alam Amar telah disucikan dengan
sempurna, lataif Alam Khalaq juga dengan sendirinya akan disucikan, kemudian dia akan memahami hakikat Daerah Imkan. Untuk mencapai maqam ini, seseorang itu perlulah mancapai Fana Fi Syeikh. Ini akan mengangkat hijabnya terhadap kefahaman tentang Daerah Imkan.
Kebanyakan Salik berhenti pada tahap ini dengan memikirkan bahawa mereka telah pun sampai ke destinasi tujuan mereka sedangkan mereka sepatutnya terus bergerak melewati bulatan Daerah Imkan dengan meneroka Alam Amar dan seterusnya menempuh Wilayat Sughra, Wilayat Kubra dan Wilayat ‘Ulya.
Seseorang Murid tidak akan sama sekali dapat menempuh Wilayat-Wilayat ini tanpa bimbingaan Syeikh dan Para Masyaikh. Untuk ini seseorang Salik itu perlu mencapai Fana Fi Rasul. Kemudian barulah dirinya akan dapat merasakan pencapaian Fana Fillah.
Untuk memahami hubung kaitan antara Alam Kabir dan Alam Saghir, Daerah Imkan dan Lautan Kekuasaan Bahrul Qudrah, perhatikan kepada Rajah 2 yang berikut:

Alam Kabir [Alam Besar – Makrokosmos]
Alam Amar [Alam Kekal]
Qalb - Alam Malakut [Malaikat]
Ruh - Alam Jabarut
[Roh]
Sir - Alam Lahut
[Bayangan Sifat Allah]
Khafi - Alam Bahut
[Sifat-Sifat Allah]
Akhfa - Alam Hahut
[Zat Allah]
‘Arasy Mu’alla

Alam Khalaq [Alam Tidak Kekal]
Nafs
Angin
Api
Air
Tanah

Alam Saghir [Alam Kecil – Mikrokosmos]
Ruhani
Siddiqin
Kewalian
Kenabian
Ulul ‘Azmi
Ahmad
Hati
Jasmani
Merasa
Menghidu
Menyentuh
Melihat
Mendengar

Yang Menciptakan langit-langit dan bumi, dan bila Dia bekehendak untuk menciptakan sesuatu urusan (Amar), maka Dia hanya katakan kepadanya: Jadilah! Lalu jadilah ia. Allah juga berfirman menerusi Surah Ali Imran pada hujung ayat ke 47 yang bermaksud,

TAMBAHAN SHAH BAHAUDDIN NAQSHBAND

HADHRAT Shah Bahauddin Naqshband Rahmatullah ‘alaih merupakan Imam bagi Tariqat Naqshbandiyah dan seorang Mahaguru Tariqat yang terkemuka. Beliau telah mengukuhkan lagi jalan ini dengan tiga prinsip penting dalam Zikir Khafi sebagai tambahan kepada lapan prinsip asas yang telah dikemukakan oleh Hadhrat Khwajah Khwajahgan Syeikh ‘Abdul Khaliq Al-Ghujduwani Rahmatullah ‘alaih iaitu:


1. WUQUF QALBI


Mengarahkan penumpuan terhadap hati dan hati pula mengarahkan penumpuan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada setiap masa dan keadaan. Sama ada dalam keadaan berdiri, berbaring, berjalan mahupun duduk. Hendaklah bertawajjuh kepada hati dan hati pula tetap bertawajjuh ke Hadhrat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Wuquf Qalbi merupakan syarat bagi zikir.
Kedudukan Qalbi ini adalah pada kedudukan dua jari di bawah tetek kiri dan kedudukan ini hendaklah sentiasa diberikan penumpuan dan Tawajjuh. Bayangan limpahan Nur dari Allah hendaklah sentiasa kelihatan melimpah pada Qalbi dalam pandangan batin.
Ini merupakan suatu kaedah Zikir Khafi yakni suatu bentuk zikir yang tersembunyi dan tidak diketahui oleh Para Malaikat. Ia merupakan suatu kaedah zikir yang rahsia.


2. WUQUF ‘ADADI


Sentiasa memerhatikan bilangan ganjil ketika melakukan zikir Nafi Itsbat. Zikir Nafi Itsbat ialah lafaz LA ILAHA ILLA ALLAH dan dilakukan di dalam hati menurut kaifiyatnya. Dalam melakukan zikir Nafi Itsbat ini, Salik hendaklah sentiasa mengawasi bilangan zikir Nafi Itsbatnya itu dengan memastikannya dalam jumlah bilangan yang ganjil iaitu 7 atau 9 atau 19 atau 21 atau 23 atau sebarang bilangan yang ganjil.
Menurut Para Masyaikh, bilangan ganjil mempunyai rahsia yang tertentu kerana Allah adalah Ganjil dan menyukai bilangan yang ganjil dan ianya akan menghasilkan ilmu tentang Rahsia Allah Ta’ala. Menurut Hadhrat Shah Naqshband Rahmatullah ‘alaih,
“Memelihara bilangan di dalam zikir adalah langkah pertama dalam menghasilkan Ilmu Laduni.”
Memelihara bilangan bukanlah untuk jumlahnya semata-mata bahkan ianya untuk memelihara hati dari ingatan selain Allah dan sebagai asbab untuk memberikan lebih penumpuan dalam usahanya untuk menyempurnakan zikir yang telah diberikan oleh Guru Murshidnya.


3. WUQUF ZAMANI



Setiap kali selepas menunaikan Solat, hendaklah bertawajjuh kepada hati dan sentiasa memastikan hati dalam keadaan bertawajjuh kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Lakukan selama beberapa minit sebelum bangkit dari tempat Solat. Kemudian setelah selang beberapa jam hendaklah menyemak semula keadaan hati bagi memastikannya sentiasa dalam keadaan mengingati Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Apabila seseorang Murid itu telah naik ke peringkat menengah dalam bidang Keruhanian maka dia hendaklah selalu memeriksa keadaan hatinya sekali pada tiap- tiap satu jam untuk mengetahui sama ada dia ingat ataupun lalai kepada Allah dalam masa-masa tersebut. Jika dia lalai maka hendaklah dia beristighfar dan berazam untuk menghapuskan kelalaian itu pada masa akan datang sehinggalah dia mencapai peringkat Dawam Hudhur atau Dawam Agahi iaitu peringkat hati yang sentiasa hadir dan sedar ke Hadhrat ZatNya.
  
Ketiga-tiga prinsip ini adalah tambahan dari Hadhrat Shah Bahauddin Naqshband Rahmatullah ‘alaih dalam membimbing sekelian para murid dan pengikutnya dan terus menjadi amalan yang tetap dalam Tariqat Naqshbandiyah.

Ahad, 5 Februari 2012

DAERAH IMKAN, ALAM AMAR, ALAM KHALAQ (DALAM TAREKAT NAQSHABANDIYYAH)

Oleh Hadhrat Faqir Maulawi Jalalludin Ahmad Ar-Rowi

DAERAH IMKAN

Seluruh Alam Maya Semesta Raya ini berada dalam Daerah Imkan. Daerah Imkan atau Daerah Mumkinat adalah daerah keluasan Alam Kabir dan iannya terbahagi kepada dua bahagian, atas dan bawah yang meliputi Alam Amar dan Alam Khalaq. Separuh bahagian bawahnya adalah bermula dari ‘Arash sehinggalah ke bawah tanah dan separuh bahagian atasnya adalah bermula dari atas ‘Arash sehinggalah seatas-atasnya.

Alam Amar adalah pada separuh bahagian atas Daerah Imkan manakala Alam Khalaq pula adalah pada separuh bahagian bawah Daerah Imkan (Rajah 2). Pada tubuh setiap insan terdapat hubung kaitan dengan Daerah Imkan yang terdiri dari Alam Amar dan Alam Khalaq iaitu pada tubuh Rohani dan Jasmani.

Alam semesta jika dilihat menerusi pandangan batin mata hati, tampil dalam bentul suatu bulatan. Bulatan ini dinamakan sebagai Daerah Imkan atau Daerah Mumkinat atau daerah yang mungkin dan daerah ini dibahagikan kepada dua bahagian iaitu Alam Amar dan Alam Khalaq. Di tengah-tengah bulatan itu terdapat satu garis melintang yang membahagikan bulatan itu kepada satu bahagian berada di atas dan satu bahagian lagi berada di bawah. Garisan di tengah itu merupakan ‘Arash Mu’alla yang merupakan pembahagi kepada Alam Amar dan Alam Khalaq.


‘ARASH
ALAM AMAR
ALAM KHALAQ
Ruh
Khafi
Qalb
Sir
Akhfa
Nafs
Angin
Air
Tanah
Api

Menurut Hadhrat Mujaddid Alf Tsani Syeikh Ahmad Faruqi Sarhindi Rahmatullah ‘alaih manusia adalah alam kecil. Apabila Allah menjadikan manusia, Dia menggunakan kuasaNya untuk menempatkan latifah-latifah Alam Amar ini ke dalam dada manusia dan menjadikannya asyik dengan takluk tubuh badan. Ini adalah kerana Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin menjadikan manusia itu sempurna dan dilengkapkanNya dengan Alam Amar dan Alam Khalaq. Dengan cara ini manusia itu disebutkan sebagai Alam Saghir.

Manusia merupakan biasan dalam bentuk kecil bagi kejadian Alam Maya Semesta Raya [Kosmos] ini atau disebutkan sebagai Alam Kabir [Makrokosmos] yang bermakna alam besar. Sebagai biasan, manusia adalah Alam Saghir [Mikrokosmos] yang bermakna alam kecil. Segala apa yang wujud di alam yang kecil juga adalah wujud di alam yang besar. Namun demikian, setiap apa yang ada di alam besar tidak kesemuanya berada di alam kecil.

Menerusi alam kecil, dapat dilihat apa yang ada di alam besar sana. Walaubagaimanapun, tidak semua manusia yang dapat melihat alam besar menerusi alam kecil dirinya. Di dalam diri manusia itu mengandungi suatu daya tenaga yang jika ianya dibuka maka akan membolehkannya melihat Alam Maya Semesta Raya kerana dia merupakan Alam Saghir dan menjadi cermin kepada Alam Kabir di dalam dirinya.

Pada dasarnya, Alam Kabir ini adalah terlalu besar dan luas sehingga tiada siapa pun yang dapat menyatakan betapa keluasannya. Para Masyaikh mentafsirkannya sebagai Daerah Imkan yang bererti daerah keluasan yang mungkin baginya. Daerah Imkan Alam Kabir ini terbahagi kepada dua bahagian iaitu Alam Amar dan Alam Khalaq.

Perbandingan antara kedua-dua Alam Kabir dan Alam Saghir dapat dilihat dalam Rajah 3, yang mana di Alam Kabir, ‘Arasy Mu’alla menjadi sebagai pengantara manakala di Alam Saghir pula, Hati menjadi sebagai pengatara. Kerana itulah kepercayaan umum wujud bahawa “Allah Ta’ala itu berada dalam hati orang-orang yang benar-benar beriman.”

Menurut para Masyaikh Naqshbandiyah Haqqaniyah, hati manusia adalah merupakan biasan kepada Hati Rohaniah Hakikat Kenabian. Hati rohaniah ini mempamerkan Lautan Kekuasaan atau disebutkan sebagai Bahrul Qudrah, yang merupakan tempat asal usul segala ciptaan.

Lautan Kekuasaan Bahrul Qudrah ini berada di Alam Kabir dalam Alam Maya Semesta Raya. Daerah Imkan. Barangsiapa yang mampu mencapai pengetahuan tentang hati akan berkemampuan untuk memahami kebenaran Hakikat Kenabian Nur Muhammad s.a.w. Nur Muhammad s.a.w berada di dalam Lautan Kekuasaan Bahrul Qudrah ini.

Hati yang banyak berzikir akan menghasilkan limpahan faidhz dan ianya akan turut mengalir di dalam saluran darah di dalam tubuh badan dan mengisikan tubuh badan dengan limpahan faidhz tersebut. Menurut Hadhrat Mujaddid Alf Tsani Syeikh Ahmad Faruqi Sarhindi Rahmatullah ‘alaih, apabila kelima-lima lataif Alam Amar telah disucikan dengan sempurna, lataif Alam Khalaq juga dengan sendirinya akan disucikan, kemudian dia akan memahami hakikat Daerah Imkan.

Untuk mencapai maqam ini, seseorang itu perlulah mancapai Fana Fi Syeikh. Ini akan mengangkat hijabnya terhadap kefahaman tentang Daerah Imkan. Kebanyakan Salik berhenti pada tahap ini dengan memikirkan bahawa mereka telah pun sampai ke destinasi tujuan mereka sedangkan mereka sepatutnya terus bergerak melewati bulatan Daerah Imkan dengan meneroka Alam Amar. Untuk ini seseorang Salik itu perlu mencapai Fana Fi Rasul. Kemudian barulah dirinya akan dapat merasakan pencapaian Fana Fillah.

Untuk memahami Alam Kabir, Alam Saghir, Daerah Imkan dan Bahrul Qudrah, perhatikan kepada Rajah 3 yang berikut.


Alam Maya Semesta Raya [ Kosmos ]

Alam Kabir [ Alam Besar – Makrokosmos ]

Alam Amar [ Alam Kekal ]

Qalb - Alam Malakut [ Malaikat ]
Ruh - Alam Jabarut [ Roh ]
Sir - Alam Lahut [ Bayangan Sifat-Sifat Allah ]
Khafi - Alam Bahut [ Sifat-Sifat Allah ]
Akhfa - Alam Hahut [ Zat Allah ]

‘Arasy Mu’alla

Alam Khalaq [ Alam Tidak Kekal ]

Nafs
Angin
Api
Air
Tanah

Alam Saghir [ Alam Kecil – Mikrokosmos ]

Rohani

Siddiqin
Kewalian
Kenabian
Ulul Azmi
Ahmad
Hati

Jasmani

Merasa
Menghidu
Menyentuh
Melihat
Mendengar

Alam Maya Semesta Raya [ Kosmos ]

ALAM AMAR

Alam Amar adalah suatu alam kekal yang mana hanya dengan perintah ‘Kun’ yang bermakna ‘Jadilah’ maka ianya akan terjadi. Ini merujuk kepada saat penciptaan langit dan bumi yang mana Allah Ta’ala menciptakannya dengan perintah ‘Kun’ ini.
Alam Amar ini berada di luar batas masa dan ruang tempat. Alam Amar berada di dalam Daerah Imkan pada kedudukan di atas ‘Arash. Alam Amar mengandungi Qalb, Ruh, Sir, Khafi dan Akhfa.

Alam Amar adalah alam di mana tersembunyinya segala rahsia hakikat ketuhanan. Di sana tersembunyinya segala bayangan kebenaran yang berkaitan dengan Zat dan Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Secara ringkasnya Alam Amar adalah merujuk kepada tubuh Rohani manusia. Kedudukannya pada badan manusia adalah di bahagian dada seperti yang dijelaskan dalam Lima Lataif Alam Amar.

Menurut Imam Razi Rahmatullah ‘alaih, Ruh manusia berasal dari Alam Amar manakala jasad manusia adalah berasal dari Alam Khalaq. Menurut Imam Ghazali Rahmatullah ‘alaih, kewujudan Alam Amar adalah di luar batas pencapaian, menerusi pengalaman dan khayalan. Ianya tidak mempunyai sempadan dan tidak dapat disukat dengan masa dan ruang.

Menurut Hadhrat Imam Rabbani Rahmatullah ‘alaih, terdapat lima alam di dalam Alam Amar yang merupakan asal usul kesemua lataif. Latifah Qalb berasal dari Alam Malakut, latifah Ruh berasal dari Alam Arwah atau Jabarut, latifah Sir berasal dari Alam Lahut, latifah Khafi berasal dari Alam Bahut dan latifah Akhfa berasal dari Alam Hahut.

Alam Malakut adalah Alam Para Malaikat dan berada dalam wilayah Hadhrat Nabi Adam ‘Alaihissalam dan cahaya nurnya adalah kuning. Alam Arwah atau Jabarut adalah Alam Para Roh dan berada dalam wilayah Hadhrat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan cahaya nurnya adalah merah. Alam Lahut adalah Alam Bayangan Sifat-Sifat Allah dan berada dalam wilayah Hadhrat Nabi Musa ‘Alaihissalam dan cahaya nurnya putih berkilau. Alam Bahut adalah Alam Sifat-Sifat Allah dan merupakan alam yang tersembunyi dan berada dalam wilayah Hadhrat Nabi Isa ‘Alaihissalam dan cahaya nurnya adalah hitam. Alam Hahut pula adalah Alam Hadhrat Zat Yang Suci dan merupakan alam yang lebih tersembunyi. Cahaya nurnya adalah hijau dan alam ini berada dalam wilayah Hadhrat Baginda Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Latifah Qalb
Latifah Ruh
Latifah Sir
Latifah Khafi
Latifah Akhfa
Alam Malakut
Alam Jabarut
Alam Lahut
Alam Bahut
Alam Hahut
Adam
Ibrahim
Musa
Isa
Muhammad
Siddiqin
Kewalian
Kenabian
Ulul ‘Azmi
Ahmad
Syeikh
Mahdi
Abu Bakar
Muhammad
Allah
Ya Sayyid
Ya Sahib
Ya Siddiq
Ya Sayyid
Ya Allah
Kashf Qulub
Kashf Qubur
Jazbah Sukr
Hairat Sughra
Haqqul Yaqin
Kuning
Merah
Putih
Hitam
Hijau
Syari’at
Tariqat
Haqiqat
Ma’rifat
Khalwat
Mendengar
Melihat
Menyentuh
Menghidu
Merasa
Khinsar
Binsar
Wasat
Sababah
Ibham
Jari Anak
Jari Manis
Jari Tengah
Jari Telunjuk
Ibu Jari

ALAM KHALAQ

Alam Khalaq adalah alam tidak kekal yang mana kejadiannya berlaku secara berperingkat-peringkat. Ia dicipta dalam enam tempoh masa dan berada dalam batas masa dan ruang tempat. Ia juga mengandungi siang dan malam, kelahiran dan kematian. Alam Khalaq berada di dalam Daerah Imkan pada kedudukan di bawah ‘Arash.

Alam Khalaq mengandungi Nafs dan Empat Anasir iaitu Angin, Api, Air dan Tanah. Secara ringkasnya Alam Khalaq adalah merujuk kepada tubuh Jasmani manusia. Kedudukannya pada badan manusia adalah pada seluruh jasad. Tubuh badan jasmani manusia mengandungi keempat-empat unsur ini ditemukan dengan Nafs bagi membentuk Alam Khalaq.

Hadhrat Mujaddid Alf Tsani Syeikh Ahmad Faruqi Sarhindi Rahmatullah ‘alaih telah menyatakan di dalam kitabnya Ma’arif Laduniyyah pada Makrifat 26 berkenaan Fana dan Latifah sebagai berikut :

“Fana bererti melupakan semua perkara kecuali Allah Ta’ala. Setiap satu dari kelima-lima Latifah dalam Alam Amar terkandung bayangan gambaran dan takluk keasyikan di dalam tubuh badan manusia. Kelima-lima Latifah itu telah diberikan nama sebagai Qalb, Ruh, Sir, Khafi dan Akhfa. Kebanyakan Aulia Allah tidak dapat membezakannya di antara satu dengan yang lain lalu menggelarkan kesemuanya sebagai Ruh. Apabila dimaksudkan Ruh, maka kelima-lima perkara ini juga turut difahami. Ruh iaitu suatu Latifah sudah pun mengenali Allah Ta’ala sebelum ia di gabungkan dengan tubuh badan jasmani. Ia memiliki sedikit keinginan, pengetahuan dan cinta terhadap Allah Ta’ala. Ia telah diberikan tenaga dan kemampuan untuk mencapai ketinggian dan terpuji. Akan tetapi ia tidak akan dapat mencapai kecemerlangan selagi ia tidak bergabung dengan tubuh badan jasmani. Untuk maju dan cemerlang, ia perlu disatukan dengan tubuh badan. Untuk maksud ini, pada mulanya Ruh telah diberikan takluk keasyikan terhadap tubuh badan.”

“Kemudian, ia telah diberikan kebenaran untuk menuju ke tubuh badan lalu ia tercampak ke tubuh badan. Dengan keadaannya yang halus dan suci, ia tenggelam ke dalam tubuh badan manusia. Ia menjadi tidak dikenali, tidak dikenali oleh tubuh badan. Ia lupa tentang dirinya. Ia terus menyangka dirinya adalah tubuh badan. Ia kehilangan dirinya di dalam tubuh badan. Kerana itulah kebanyakan manusia menyangka diri mereka sebagai hanya tubuh badan. Tidak menyedari tentang kewujudan Ruh, mereka menafikannya. Allah Ta’ala dengan sifatNya Yang Maha Mengasihani telah menghantar pesanan kepada manusia iaitu Ruh, menerusi Para Nabi dan Rasul ‘Alaihimussolatu wassalam. Dia mengajak mereka kepada DiriNya. Dia melarang mereka dari bergantung kepada tubuh badan yang gelap ini.”

“Seseorang yang yang telah ditetapkan untuk memperolehi kebaikan yang kekal akan mentaati perintah-perintah Allah dan meninggalkan pergantungannya terhadap tubuh badan. Dia mengucapkan kesejahteraan kepadanya dan ia akan terus kembali ke atas pada tahap ketinggiannya yang sebenar. Cintanya terhadap asal-usulnya yang pernah dirasakannya sebelum bergabung dengan tubuh badan meningkat secara peringkat demi peringkat. Cintanya terhadap benda yang bersifat sementara makin berkurangan. Apabila dia melupakan keseluruhan tentang tubuh badan jasmaninya yang gelap, yang mana tiada lagi rasa asyik dan cinta yang tinggal, maka dia sudah mencapai fana tubuh badan. Seterusnya, dia perlu melepasi satu daripada dua langkah asas pada jalan Tasawwuf iaitu Fana dan Baqa. Kemudian jika Allah menghendaki dan merahmatinya, dia akan mencapai peningkatan rohaniah lalu terus melupakan tentang dirinya. Apabila ketidak sedaran ini meningkat, dia akan langsung melupakan terus tentang dirinya. Dia tidak akan lagi mengenali sesuatu apapun selain dari Allah Ta’ala. Seterusnya dia akan mencapai Fana Ruh yang mana seterusnya dia perlu bergerak meneruskan langkahnya yang kedua.”

“Ruh datang ke dunia ini dengan keinginan untuk mencapai Fana yang kedua ini. Ianya tidak akan dapat dicapai tanpa datang ke dunia ini. Jika Latifah Qalb melepasi kedua-dua langkah ini bersama-sama Ruh, ia akan mencapai Fananya sendiri bersama-sama dengan Ruh. Jika Nafs menyertai Qalb dengan cara ini, ia juga akan disucikan, iaitu ia juga akan mancapai Fananya. Tetapi apabila Nafs telah mencapai tahap Qalb, jika ia tetap berada di situ tanpa berusaha mencapai peningkatan dan melepasi kedua-dua langkah ini, ia tidak akan dapat mencapai tahap ketidaksedaran. Ia tidak akan menjadi Mutmainnah atau jiwa yang tenang.”

“Seseorang yang telah mencapai Fana Ruh mungkin tidak mencapai Fana Qalb. Ruh ibarat bapa kepada Qalb dan Nafs pula ibarat ibu kepada Qalb. Jika Qalb mempunyai keinginan terhadap Ruh sebagai bapanya dan memalingkan dirinya dari Nafs sebagai ibunya dan jika keinginan ini bertambah kuat dan menarik Qalb ke arah bapanya, maka ia akan mencapai darjatnya. Ianya adalah dengan melepasi kedua-dua langkah ini. Apabila Qalb dan Ruh mencapai Fana, Nafs tidak semestinya turut mencapai Fana. Jika Nafs mempunyai keasyikan dan keinginan terhadap anaknya, dan jika keinginan ini semakin bertambah dan membuatkannya semakin dekat dengan anaknya yang telah mencapai darjat bapanya, maka ibunya juga akan menjadi seperti mereka.”

“Keadaan yang sama juga berlaku untuk mencapai Fana pada Latifah Sir, Khafi dan Akhfa. Segala ingatan dan fikiran yang telah dipadamkan dan dilenyapkan dari Qalb hatinya menunjukkan kebenaran bahawa Ia telah melupakan segala perkara yang lain selain Allah Ta’ala. Tidak ada daya upaya untuk mengingat sesuatu apa pun bermakna bahawa pengetahuan dan segala sesuatu telah lenyap. Di dalam Fana, ilmu pengetahuan juga perlu dilenyapkan.”

Apabila Allah Ta’ala mengkehendaki seseorang hamba itu termasuk ke dalam urusanNya, maka Dia akan menyampaikan hamba itu untuk berkhidmat kepada salah seorang dari RakanNya, kemudian RakanNya itu akan menilai hal keadaanya dan memberikan arahan untuknya melakukan latihan Kerohanian dan Mujahadah dan menyucikan batinnya dan menerusi memperbanyakkan Zikir dan Fikir, latifah-latifahnya yang tersembunyi itu akan kembali bertawajjuh kepada asal usulnya.

Pada zaman ini, disebabkan kebanyakan penuntut menghadapi lemah semangat dan Himmat, kerana itulah Para Masyaikh Naqshbandiyah Rahimahumullah semenjak awal lagi mengarahkan murid mengamalkan jalan zikir dan sebagai menggantikan amalan dan latihan yang sukar serta Mujahadah dan Ibadah yang berat, mengarahkan amalan yang sederhana dan sentiasa memerhatikan waktu untuk melaksanakan ibadah dan melakukankan Tawajjuh kepada murid.

Para Masyaikh Naqshbandiyah telah mengarahkan sekelian murid mereka menuruti Sunnah Nabi Muhammad s.a.w. dan menjauhi segala bentuk Bid’ah serta mengarahkan para murid mereka untuk melakukan Zikir Khafi iaitu zikir yang tersembunyi.

Untuk menghasilkan nikmat zikir yang berterusan Para Masyaikh Naqshbandiyah telah menetapkan tiga jalan Zikir Khafi iaitu [1] Zikir Ismu Zat dan Nafi Itsbat, [2] Muraqabah dan [3] Rabitah Syeikh.

SEPULUH LATIFAH INSAN (TAREKAT NAQSHABANDIYYAH)

Oleh Hadhrat Faqir Maulawi Jalalludin Ahmad Ar-Rowi

Ketahuilah bahawa di sisi Hadhrat Imam Robbani Mujaddid Alf Tsani Syeikh Ahmad Faruqi Sirhindi Rahmatullah ‘Alaih dan sekelian para pengikutnya telah tsabit bahawa pada setiap insan terhimpun sepuluh Latifah. Lataif adalah kata jamak bagi latifah yang bererti kehalusan dan lima dari latifah tersebut adalah dari Alam Amar manakala lima latifah lagi adalah dari Alam Khalaq. Alam Amar dan Alam Khalaq adalah berada dalam lingkungan Daerah Imkan. Untuk memahami Tariqat Naqshbandiyah ini, amat penting untuk kita memahami tentang sepuluh lataif insan.

Lima Lataif dari Alam Amar itu adalah:

1. Qalb
2. Ruh
3. Sir
4. Khafi
5. Akhfa

Lima Lataif dari Alam Khalaq itu adalah:

1. Nafs
2. Angin
3. Api
4. Air
5. Tanah

Sewaktu Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan rupa bentuk jasmani bagi insan, dikurniakannya juga lima Lataif Alam Amar di beberapa kedudukan pada badan manusia dan mengurniakannya takluk keasyikan.

Adapun bagi Alam Amar, kedudukan Latifah Qalb itu terletak pada tetek kiri pada anggaran dua jari di bawah puting dan cenderung sedikit ke arah ketiak. Kedudukan Latifah Ruh adalah di bawah tetek kanan pada anggaran dua jari di bawah puting. Kedudukan Latifah Sir adalah pada tetek kiri pada anggaran dua jari ke arah dada. Kedudukan Latifah Khafi adalah pada tetek kanan pada anggaran dua jari ke arah dada dan kedudukan Latifah Akhfa adalah pada tengah-tengah dada. Allah mengurniakan takluk keasyikan pada Lataif ini di tubuh badan manusia.

Takluk Alam Amar ini akan mencapai peningkatan rohani setelah disucikan sehinggalah kita dapat mengenali diri kita dan asal usul kita yang merupakan cahaya Nur yang tersembunyi dalam tubuh jasmani yang gelap dan zulmat ini.

Adapun bagi Alam Khalaq, kedudukan Latifah Nafs itu adalah di antara kedua-dua kening yang mewakili otak dan akal manusia. Seterusnya Latifah bagi empat anasir iaitu Tanah, Air, Api dan Angin adalah pada seluruh tubuh jasmani manusia. Sepertimana Alam Amar, Alam Khalaq juga perlu disucikan kerana dengan penyuciannya akan membawa seseorang itu kepada peningkatan pengenalan diri dan asal-usul hakikat kejadian.

Penyucian kesemua Sepuluh Lataif Insan ini di lakukan dalam 7 Peringkat. Peringkat pertama penyucian Latifah Qalb, kedua penyucian Latifah Ruh, ketiga penyucian Latifah Sir, keempat penyucian Latifah Khafi, kelima penyucian Latifah Akhfa, keenam penyucian Latifah Nafs dan ketujuh adalah penyucian Latifah Qolibiah iaitu Empat Anasir merangkumi Angin, Api, Air dan Tanah.

Penyucian Latifah pertama hingga keenam adalah berzikir pada kedudukan masing-masing seperti yang telah dijelaskan manakala penyucian Latifah yang ketujuh iaitu Latifah Qolibiah dengan berzikir pada setiap zarah, jisim dan rambut pada seluruh tubuh badan kita yang merangkumi kesemua Sepuluh Lataif. Dalam gambar (Rajah 1) dapat diperhatikan kedudukan Latifah-latifah pada tubuh badan manusia sebagai maqam berzikir.

1. Qalb
2. Ruh
3. Sir
4. Khafi
6. Nafs
5. Akhfa
7. Tanah (10)
7. Air (9)
7. Angin (7)
7. Api (8)

JALAN PENGHASILAN FAEDAH JALAN NAQSHBANDIYAH

Oleh Hadhrat Faqir Maulawi Jalalludin Ahmad Ar-Rowi

Menurut Para Masyaikh, cara untuk menghasilkan faedah yang sebesar-besarnya dengan limpahan Faidhz dan keberkatan yang sempurna atas jalan Naqshbandiyah ini, seseorang murid itu hendaklah sentiasa bersahabat dengan Syeikhnya dengan penuh adab tertib dan keikhlasan hati serta memenuhi segala syarat-syaratnya serta tetap memelihara zikir azkar seperti yang telah ditalqinkan oleh Syeikh kepada dirinya.

Dalam tariqat ini juga terdapat maqam-maqam yang amat tinggi kedudukan darjatnya dan padanya terdapat warid-warid yang juga tinggi kedudukannya dan merupakan bahagian suluk Para ‘Ulul ‘Azmi dan Para Muqarrabin. Mereka-mereka yang telah diberikan keahlian dan kemampuan untuk memasuki dan menempuhi jalan tersebut telah diberikan kemuliaan oleh Allah dan mereka itu akan terus maju menuju ke Hadhrat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jalan Naqshbandiyah ini seperti yang telah ditegaskan oleh Hadhrat Imam Rabbani Mujaddid Alf Tsani bahawa ianya merupakan jalan yang paling dekat, paling mendahului, paling menuruti, paling kukuh, paling selamat, paling berhikmah, paling benar, paling baik, paling tinggi, paling agung, paling atas kedudukannya, paling sempurna dan paling indah jalannya.

Dalam menuruti Tariqat Naqshbandiyah ini, Para Masyaikh mendahulukan Jazbah sebelum Suluk di mana seseorang murid yang benar-benar ikhlas berusaha menghasilkan tawajjuh yang sempurna dari Syeikhnya. Dengan berkat tawajjuh Syeikh, murid itu akan memperolehi jazbah yang mana keadaannya akan mula mengalami perubahan iaitu bertambahnya Zauq dan Shauq serta ruhnya akan merasai kelazatan dan ketenangan yang khas tatkala melakukan zikir dan ibadat.

Seseorang murid yang benar hendaklah mendalami ilmu agama terutamanya yang berkenaan dengan Syari’at Islam seperti yang telah dibawakan oleh Hadhrat Baginda Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam serta menghidupkan Sunnah Baginda s.a.w. di dalam kehidupan sehari-harian terutamanya di dalam amalan ibadat dan meningglkan segala bentuk Bid’ah yang sesat dalam pelaksanaan ibadat. Murid hendaklah sentiasa berpegang teguh dengan Al-Quran dan Hadis Nabi s.a.w.

Hendaklah melaksanakan Rukun Islam iaitu bersaksi kepada Allah dan Rasul dengan mengucapkan dua kalimah syahadah, mendirikan dan memelihara Solat lima waktu setiap hari, berpuasa pada bulan Ramadhan, berzakat dan menunaikan Haji apabila berkemampuan.

Hendaklah melaksanakan Rukun Iman iaitu beriman dengan penuh percaya dan yaqin dengan Allah, Para Malaikat Nya, Kitab-kitab Nya, Para Rasul Nya, Hari Akhirat, Taqdir yang baik dan buruk adalah dari Allah Ta’ala serta beriman dan yaqin dengan hari kebangkitan sesudah mati.

Seterusnya hendaklah melaksanakan Rukun Ihsan iaitu, “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat Nya dan merasakan bahawa Allah sedang melihat engkau”. Ihsan di dalam Solat adalah martabat untuk dicapai oleh orang awam manakala Ihsan di dalam dan di luar Solat adalah maqam yang dicapai oleh Para Nabi dan Rasul dan menjadi perjuangan sekelian ahli sufi yang menempuh jalan Tariqat.

PRINSIP ASAS TARIQAT NAQSHBANDIYAH

Oleh Hadhrat Faqir Maulawi Jalalludin Ahmad Ar-Rowi

Tariqat Naqshabndiyah mempunyai prinsip dasarnya yang tersendiri yang telah diasaskan oleh Hadhrat Khwajah Khwajahgan Maulana Syeikh Abdul Khaliq Ghujduwani Rahmatullah ‘alaih. Beliau telah meletakkan 8 prinsip asas ini sebagai dasar Tariqat Naqshbandiyah. Prinsip-prinsip ini dinyatakannya dalam frasa bahasa Parsi dan mengandungi pengertian dan pangajaran yang amat tinggi nilainya. Adapun prinsip-prinsipnya adalah seperti berikut :

1. Yad Kard
2. Baz Gasht
3. Nigah Dasyat
4. Yad Dasyat
5. Hosh Dar Dam
6. Nazar Bar Qadam
7. Safar Dar Watan
8. Khalwat Dar Anjuman

Hadhrat Syeikh Muhammad Parsa Rahmatullah ‘alaih yang merupakan sahabat, khalifah dan penulis riwayat Hadhrat Maulana Shah Bahauddin Naqshband Rahmatullah ‘alaih telah menyatakan di dalam kitabnya bahawa ajaran tariqat Hadhrat Khwajah Maulana Syeikh Abdul Khaliq Ghujduwani Rahmatullah ‘alaih berkenaan zikir dan ajaran lapan prinsip asas seperti yang dinyatakan di atas turut dianuti dan diamalkan oleh 40 jenis tariqat yang lain sebagai panduan kepada jalan kebenaran yang mulia iaitu jalan kesedaran dalam menuruti Sunnah Hadhrat Baginda Rasulullah s.a.w. dengan meninggalkan sebarang bentuk bida’ah dan bermujahadah melawan hawa nafsu. Kerana itulah Hadhrat Khwajah Maulana Syeikh Abdul Khaliq Ghujduwani Rahmatullah ‘alaih mencapai ketinggian rohani dan menjadi seorang Mahaguru Tariqat dan penghulu pemimpin kerohanian pada zamannya.


1. Yad Kard

“Yad” bererti ingat yakni zikir. Perkataan “Kard” pula bagi menyatakan kata kerja bagi ingat yakni pekerjaan mengingati Allah dan ianya merupakan zat bagi zikir.. Berkata para Masyaikh, Yad Kard bermaksud melakukan zikir mengingati Tuhan dengan menghadirkan hati. Murid yang telah melakukan bai’ah dan telah ditalqinkan dengan zikir hendaklah senantiasa sibuk mengingati Allah dengan kalimah zikir yang telah ditalqinkan. Zikir yang telah ditalqinkan oleh Syeikh adalah zikir yang akan membawa seseorang murid itu mencapai ketinggian darjat rohani.

Syeikh akan mentalqinkan zikir kepada muridnya sama ada zikir Ismu Zat ataupun zikir Nafi Itsbat secara Lisani ataupun Qalbi. Seseorang murid hendaklah melakukan zikir yang sebanyak-banyaknya dan sentiasa menyibukkan dirinya dengan berzikir. Pada setiap hari, masa dan keadaan, sama ada dalam keadaaan berdiri atau duduk atau berbaring ataupun berjalan, hendaklah sentiasa berzikir.

Pada lazimnya seseorang yang baru menjalani Tariqat Naqshbandiyah ini, Syeikh akan mentalqinkan kalimah Ismu Zat iaitu lafaz Allah sebagai zikir yang perlu dilakukan pada Latifah Qalb tanpa menggerakkan lidah. Murid hendaklah berzikir Allah pada latifah tersebut sebanyak 24 ribu kali sehari semalam setiap hari sehingga terhasilnya cahaya Warid.
Seterusnya murid hendaklah mengkhabarkan segala pengalaman ruhaniahnya kepada Syeikh apabila menerima warid tersebut. Begitulah pada setiap latifah, murid hendaklah berzikir sebanyak-banyaknya pada kesemua latifah seperti yang diarahkan oleh Syeikh sehingga tercapainya warid. Mengingati Allah secara sempurna adalah dengan berzikir menghadirkan hati ke Hadhrat ZatNya.

Setelah zikir Ismu Zat dilakukan pada setiap latifah dengan sempurna, Syeikh akan mentalqinkan pula zikir Nafi Itsbat iaitu kalimah LA ILAHA ILLALLAH yang perlu dilakukan sama ada secara Lisani iaitu menerusi lidah atau secara Qalbi iaitu berzikir menerusi lidah hati. Zikir Nafi Itsbat perlu dilakukan menurut kaifiatnya.

Syeikh akan menentukan dalam bentuk apa sesuatu zikir itu perlu dilakukan. Yang penting bagi Salik adalah menyibukkan diri dengan zikir yang telah ditalqinkan oleh Syeikh sama ianya zikir Ismu Zat ataupun Nafi Itsbat.

Salik hendaklah melakukan zikir Nafi Itsbat sehingga dia mencapai kejernihan hati dan tenggelam di dalam muraqabah. Murid hendaklah melakukan zikir Nafi Itsbat sebanyak 5 ribu ke 10 ribu kali setiap hari bagi menanggalkan segala kekaratan hati. Zikir tersebut akan membersihkan hati dan membawa seseorang itu kepada musyahadah.

Salik hendaklah memelihara zikir dengan hati dan lidah dengan menyebut Allah iaitu nama bagi Zat Tuhan yang merangkumi kesemua nama-namaNya dan sifat-sifatNya yang mulia serta dengan menyebut zikir Nafi Itsbat menerusi kalimah LA ILAHA ILLALLAH dengan sebanyak-banyaknya.

Zikir Nafi Itsbat menurut Akabirin Naqshbandiyah, seseorang murid yang baru itu hendaklah menutup kedua matanya, menutup mulutnya, merapatkan giginya, menongkatkan lidahnya ke langit-langit dan menahan nafasnya. Dia hendaklah mengucapkan zikir ini dengan hatinya bermula dari kalimah Nafi dan seterusnya kalimah Itsbat. Bagaimanapun, bagi murid yang telah lama hendaklah membukakan kedua matanya dan tidak perlu menahan nafasnya.

Bermula dari kalimah LA yang bererti Tiada, dia hendaklah menarik kalimah LA ini dari bawah pusatnya ke atas hingga ke otak. Apabila kalimah LA mencapai otak, ucapkan pula kalimah ILAHA di dalam hati yang bererti Tuhan. Kemudian hendaklah digerakkan dari otak ke bahu kanan sambil menyebut ILLA yang bererti Melainkan, lalu menghentakkan kalimah ALLAH ke arah Latifah Qalb. Sewaktu menghentakkan kalimah Allah ke arah Qalb, hendaklah merasakan bahawa kesan hentakan itu mengenai kesemua Lataif di dalam tubuh badan.

Zikir yang sebanyak-banyaknya akan membawa seseorang Salik itu mencapai kepada kehadiran Zat Allah dalam kewujudan secara zihni yakni di dalam fikiran. Salik hendaklah berzikir dalam setiap nafas yang keluar dan masuk. Yad Kard merupakan amalan di fikiran yang mana fikiran hendaklah sentiasa menggesa diri supaya sentiasa ingat kepada Allah dan melakukan zikir bagi mengingati ZatNya.

Pekerjaan berzikir mengingati Allah adalah suatu amalan yang tiada batas dan had. Ianya boleh dikerjakan pada sebarang tempat, masa dan keadaan. Hendaklah sentiasa memerhatikan nafas supaya setiap nafas yang keluar dan masuk itu disertai ingatan terhadap Zat Allah s.w.t.


2. Baz Gasht

Baz Gasht bererti kembali. Menurut para Masyaikh, maksudnya ialah seseorang yang melakukan zikir dengan menggunakan lidah hati menyebut Allah Allah dan La ilaha Illallah, begitulah juga setelah itu hendaklah mengucapkan di dalam hati dengan penuh khusyuk dan merendahkan diri perkataan ini,
“Ilahi anta maqsudi, wa ridhoka matlubi.”
Yang bererti,

“Wahai Tuhanku Engkaulah maksudku dan keredhaanMu tuntutanku.”

Ianya merupakan ucapan Hadhrat Baginda Rasulullah s.a.w. ucapan ini akan meningkatkan tahap kesedaran kepada kewujudan dan kesaan Zat Tuhan, sehingga dia mencapai suatu tahap di mana segala kewujudan makhluk terhapus pada pandangan matanya. Apa yang dilihatnya walau kemana jua dia memandang, yang dilihatnya hanyalah Keesaan Zat Tuhan. Ucapan kata-kata ini juga memberikan kita pengertian bahawa hanya Allah yang menjadi maksud dan matlamat kita dan tidak ada tujuan lain selain untuk mendapatkan keredhaanNya.

Salik hendaklah mengucapkan kalimah ini bagi menghuraikan segala rahsia Keesaan Zat Tuhan dan supaya terbuka kepadanya keunikan hakikat Kehadiran Zat Allah. Sebagai murid, tidak boleh meninggalkan zikir kalimah ini meskipun tidak merasakan sebarang kesan pada hati. Dia hendaklah tetap meneruskan zikir kalimah tersebut sebagai menuruti Syeikhnya.

Makna Baz Gasht ialah kembali kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia dengan menunjukkan penyerahan yang sempurna, mentaati segala kehendakNya dan merendahkan diri dengan sempurna dalam memuji ZatNya. Adapun lafaz Baz Gasht dalam Bahasa Parsi seperti yang diamalkan oleh para Akabirin Naqshabandiyah Mujaddidiyah adalah seperti berikut :

“Khudawanda, maqsudi man Tui wa ridhai Tu, tarak kardam dunya wa akhirat barai Tu. Mahabbat wa ma’rifati Khud badih.”
Yang bererti,

“Tuhanku, maksudku adalah Engkau dan keredaanMu, ku lepaskan dunia dan akhirat kerana Engkau. Kurniakanlah cinta dan makrifat ZatMu.”

Pada permulaan, jika Salik sendiri tidak memahami hakikat kebenaran ucapan kata-kata ini, hendaklah dia tetap juga menyebutnya kerana menyebut kata-kata itu dengan hati yang khusyuk dan merendahkan diri akan menambahkan lagi pemahamannya dan secara sedikit demi sedikit Salik itu akan merasai hakikat kebenaran perkataan tersebut dan Insya Allah akan merasai kesannya.

Hadhrat Baginda Rasulullah s.a.w. telah menyatakan dalam doa Baginda,

“Ma zakarnaka haqqa zikrika Ya Mazkur.”
Yang bererti,

“Kami tidak mengingatiMu dengan hak mengingatiMu secara yang sepatutnya, Wahai Zat yang sepatutnya diingati.”

Seseorang Salik itu tidak akan dapat hadir ke Hadhrat Allah menerusi zikirnya dan tidak akan dapat mencapai musyahadah terhadap rahsia rahsia dan sifat-sifat Allah menerusi zikirnya jika dia tidak berzikir dengan sokongan dari Allah s.w.t. dan menerusi ingatan Allah s.w.t. terhadap dirinya.

Hadhrat Maulana Syeikh Abu Yazid Bustami Rahmatullah ‘alaih telah berkata, “Apabila daku mencapai ZatNya, daku melihat bahawa ingatanNya terhadap diriku mendahului ingatanku terhadap diriNya.” Seorang Salik itu tidak akan dapat berzikir dengan kemampuan dirinya bahkan dia hendaklah sentiasa menyedari bahawa Allah s.w.t.lah yang sedang berzikir menerusi dirinya.


3. Nigah Dasyat

Nigah bererti mengawasi dan Dasyat pula bererti melakukannya dengan bersungguh-sungguh. Maksudnya ialah seseorang Salik itu sewaktu melakukan zikir hendaklah sentiasa memelihara hati dari sebarang khatrah lintasan hati dan was-was Syaitan. Jangan biarkan khayalan kedukaan memberi kesan kepada hati. Setiap hari hendaklah melapangkan masa selama sejam ke dua jam ataupun lebih untuk memelihara hati dari segala ingatan selain Allah s.w.t. Selain diriNya, jangan ada sebarang khayalan dan lakukan latihan ini sehingga selain Allah segala-galanya menjadi lenyap.

Nigah Dasyat juga bermakna seseorang Salik itu mesti memerhatikan hatinya dan menjaganya dengan menghindarkan sebarang ingatan yang buruk masuk ke dalam hati. Ingatan dan keinginan yang buruk akan manjauhkan hati dari kehadiran Allah. Kesufian yang sebenar adalah daya untuk memelihara hati dari ingatan yang buruk dan memeliharanya dari sebarang keinginan yang rendah. Seseorang yang benar-benar mengenali hatinya akan dapat mengenali Tuhannya.

Di dalam tariqat Naqshbandiyah ini, seseorang Salik yang dapat memelihara hatinya dari sebarang ingatan yang buruk selama 15 minit adalah merupakan suatu pencapaian yang besar dan menjadikannya layak sebagai seorang ahli Sufi yang benar.

Hadhrat Maulana Shah Ghulam ‘Ali Dehlawi Rahmatullah ‘alaih menyatakan di dalam kitabnya Idhahut Tariqah bahawa, “Nigah Dasyat adalah merupakan syarat ketika berzikir, bahawa ketika berzikir hendaklah menghentikan segala khayalan serta was-was dan apabila sebarang khayalan yang selain Allah terlintas di dalam hati maka pada waktu itu juga hendaklah dia menjauhkannya supaya khayalan ghairullah tidak menduduki hati.”

Hadhrat Maulana Syeikh abul Hassan Kharqani Rahmatullah ‘alaih pernah berkata, “Telah berlalu 40 tahun di mana Allah sentiasa melihat hatiku dan telah melihat tiada sesiapapun kecuali DiriNya dan tiada ruang bilik di dalam hatiku untuk selain dari Allah.”

Hadhrat Syeikh Abu Bakar Al-Qittani pernah berkata, “ Aku menjadi penjaga di pintu hatiku selama 40 tahun dan aku tidak pernah membukanya kepada sesiapa pun kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala sehinggakan hatiku tidak mengenali sesiapapun kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Seorang Syeikh Sufi bernah berkata, “Oleh kerana aku telah menjaga hatiku selama sepuluh malam, hatiku telah menjagaku selama dua puluh tahun.”
4. Yad Dasyat

Yad Dasyat bererti mengingati Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan bersungguh-sungguh dengan Zauq Wijdani sehingga mencapai Dawam Hudhur yakni kehadiran Zat Allah secara kekal berterusan dan berada dalam keadaan berjaga-jaga memerhatikan limpahan Faidhz dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kesedaran ini diibaratkan sebagai Hudhur Bey Ghibat dan merupakan Nisbat Khassah Naqshbandiyah.

Yad Dasyat juga bermakna seseorang yang berzikir itu memelihara hatinya pada setiap penafian dan pengitsbatan di dalam setiap nafas tanpa meninggalkan Kehadiran Zat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ianya menghendaki agar Salik memelihara hatinya di dalam Kehadiran Kesucian Zat Allah Subhanahu wa Ta’ala secara berterusan. Ini untuk membolehkannya agar dapat merasai kesedaran dan melihat Tajalli Cahaya Zat Yang Esa atau disebut sebagai Anwar uz-Zat il-Ahadiyah

Menurut Hadhrat Maulana Shah Ghulam ‘Ali Dehlawi Rahmatullah ‘alaih, Yad Dasyat merupakan istilah para sufi bagi menerangkan keadaan maqam Syuhud atau Musyahadah yang juga dikenali sebagai ‘Ainul Yaqin atau Dawam Hudhur dan Dawam Agahi. Di zaman para Sahabat Ridhwanullah ‘alaihim ajma’in ianya disebut sebagai Ihsan.

Ia merupakan suatu maksud di dalam Tariqah Naqshbandiyah Mujaddidiyah bagi menghasilkan Dawam Hudhur dan Dawam Agahi dengan Hadhrat Zat Ilahi Subhanahu wa Ta’ala dan di samping itu berpegang dengan ‘Aqidah yang sahih menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan melazimkan diri beramal menuruti Sunnah Nabawiyah Sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika Salik tidak memiliki ketiga-tiga sifat ini iaitu tetap mengingati Zat Ilahi, beri’tiqad dengan ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan menuruti Sunnah Nabi s.a.w. ataupun meninggalkan salah satu darinya maka dia adalah terkeluar dari jalan tariqat Naqshbandiyah, na’uzu billahi minha!


5. Hosh Dar Dam

Hosh bererti sedar, Dar bererti dalam dan Dam bererti nafas, yakni sedar dalam nafas. Seseorang Salik itu hendaklah berada dalam kesedaran bahawa setiap nafasnya yang keluar masuk mestilah beserta kesedaran terhadap kehadiran Zat Allah Ta’ala. Jangan sampai hati menjadi lalai dan leka dari kesedaran terhadap kehadiran Zat Allah. Dalam setiap nafas hendaklah menyedari kehadiran ZatNya.

Menurut Hadhrat Khwajah Maulana Syeikh Abdul Khaliq Ghujduwani Rahmatullah ‘alaih bahawa, “Seseorang Salik yang benar hendaklah menjaga dan memelihara nafasnya dari kelalaian pada setiap kali masuk dan keluarnya nafas serta menetapkan hatinya sentiasa berada dalam Kehadiran Kesucian ZatNya dan dia hendaklah memperbaharukan nafasnya dengan ibadah dan khidmat serta membawa ibadah ini menuju kepada Tuhannya seluruh kehidupan, kerana setiap nafas yang disedut dan dihembus beserta KehadiranNya adalah hidup dan berhubung dengan Kehadiran ZatNya Yang Suci. Setiap nafas yang disedut dan dihembus dengan kelalaian adalah mati dan terputus hubungan dari Kehadiran ZatNya Yang Suci.”

Hadhrat Khwajah Maulana Syeikh ‘Ubaidullah Ahrar Rahmatullah ‘alaih berkata, “Maksud utama seseorang Salik di dalam Tariqah ini adalah untuk menjaga nafasnya dan seseorang yang tidak dapat menjaga nafasnya dengan baik makan dikatakan kepadanya bahawa dia telah kehilangan dirinya.”

Hadhrat Shah Naqshband Rahmatullah ‘alaih berkata, “ Tariqat ini dibina berasaskan nafas, maka adalah wajib bagi setiap orang untuk menjaga nafasnya pada waktu menghirup nafas dan menghembuskan nafas dan seterusnya menjaga nafasnya pada waktu di antara menghirup dan menghembuskan nafas.”

Hadhrat Syeikh Abul Janab Najmuddin Al-Kubra Rahmatullah ‘alaih berkta dalam kitabnya Fawatihul Jamal bahawa, “Zikir adalah sentiasa berjalan di dalam tubuh setiap satu ciptaan Allah sebagai memenuhi keperluan nafas mereka biarpun tanpa kehendak sebagai tanda ketaatan yang merupakan sebahagian dari penciptaan mereka. Menerusi pernafasan mereka, bunyi huruf ‘Ha’ dari nama Allah Yang Maha Suci berada dalam setiap nafas yang keluar masuk dan ianya merupakan tanda kewujudan Zat Yang Maha Ghaib sebagai menyatakan Keunikan dan Keesaan Zat Tuhan. Maka itu amatlah perlu berada dalam kesedaran dan hadir dalam setiapnafas sebagai langkah untuk mengenali Zat Yang Maha Pencipta.”

Nama Allah yang mewakili kesemua Sembilan Puluh Sembilan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah dan Af’alNya adalah terdiri dari empat huruf iaitu Alif, Lam, Lam dan Ha. Para Sufi berkata bahawa Zat Ghaib Mutlak adalah Allah Yang Maha Suci lagi Maha Mulia KetinggianNya dan DiriNya dinyatakan menerusi huruf yang terakhir dari Kalimah Allah iaitu huruf Ha. Huruf tersebut apabila ditemukan dengan huruf Alif akan menghasilkan sebutan ‘Ha’ yang memberikan makna ‘Dia Yang Ghaib’ sebagai kata gantidiri.

Bunyi sebutan ‘Ha’ itu sebagai menampilkan dan menyatakan bukti kewujudan ZatNya yang Ghaib Mutlak. [ Ghaibul Huwiyyatil Mutlaqa Lillahi ‘Azza wa Jalla ]. Huruf Lam yang pertama adalah bermaksud Ta’rif atau pengenalan dan huruf Lam yang kedua pula adalah bermaksud Muballagah yakni pengkhususan.

Menjaga dan memelihara hati dari kelalaian akan membawa seseorang itu kepada kesempurnaan Kehadiran Zat, dan kesempurnaan Kehadiran Zat akan membawanya kepada kesempurnaan Musyahadah dan kesempurnaan Musyahadah akan membawanya kepada kesempurnaan Tajalli Sembilan Puluh Sembilan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah.

Seterusnya Allah akan membawanya kepada penzahiran kesemua Sembilan Puluh Sembilan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah dan Sifat-sifatNya yang lain kerana adalah dikatakan bahawa Sifat Allah itu adalah sebanyak nafas-nafas manusia.

Perlu diketahui bahawa menjaga nafas dari kelalaian adalah amat sukar bagi seseorang Salik, lantaran itu mereka hendaklah menjaganya dengan memohon Istighfar yakni keampunan kerana memohon istighfar akan menyucikan hatinya dan mensucikan nafasnya dan menyediakan dirinya untuk menyaksikan penzahiran manifestasi Allah Ta’ala di mana-mana jua.




6. Nazar Bar Qadam

Nazar bererti memandang, Bar bererti pada, dan Qadam pula bererti kaki. Seseorang Salik itu ketika berjalan hendaklah sentiasa memandang ke arah kakinya dan jangan melebihkan pandangannya ke tempat lain dan setiap kali ketika duduk hendaklah sentiasa memandang ke hadapan. Jangan menoleh ke kiri dan ke kanan kerana ianya akan menimbulkan fasad yang besar dalam dirinya dan akan menghalangnya dari mencapai maksud.

Nazar Bar Qadam bermakna ketika seseorang Salik itu sedang berjalan, dia hendaklah tetap memerhatikan langkah kakinya. Di mana jua dia hendak meletakkan kakinya, matanya juga perlu memandang ke arah tersebut. Tidak dibolehkan baginya melemparkan pandangannya ke sana sani, memandang kiri dan kanan ataupun di hadapannya kerana pandangan yang tidak baik akan menghijabkan hatinya.

Kebanyakan hijab-hijab di hati itu terjadi kerana bayangan gambaran yang dipindahkan dari pandangan penglihatan mata ke otak sewaktu menjalani kehidupan seharian. Ini akan mengganggu hati dan menimbulkan keinginan memenuhi berbagai kehendak hawa nafsu seperti yang telah tergambar di ruangan otak. Gambaran-gambaran ini merupakan hijab-hijab bagi hati dan ianya menyekat Cahaya Kehadiran Zat Allah Yang Maha Suci.

Kerana itulah para Masyaikh melarang murid mereka yang telah menyucikan hati mereka menerusi zikir yang berterusan dari memandang ke tempat yang selain dari kaki mereka. Hati mereka ibarat cermin yang menerima dan memantulkan setiap gambaran dengan mudah. Ini akan mengganggu mereka dan akan menyebabkan kekotoran hati. Maka itu, Salik diarahkan agar merendahkan pandangan supaya mereka tidak terkena panahan dari panahan Syaitan.

Merendahkan pandangan juga menjadi tanda kerendahan diri. Orang yang bongkak dan sombong tidak memandang ke arah kaki mereka ketika berjalan. Ia juga merupakan tanda bagi seseorang yang menuruti jejak langkah Hadhrat Baginda Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam yang mana Baginda s.a.w. ketika berjalan tidak menoleh ke kiri dan ke kanan tetapi Baginda hanya melihat ke arah kakinya, bergerak dengan pantas menuju ke arah destinasinya.

Pengertian batin yang dituntut dari prinsip ini ialah supaya Salik bergerak dengan laju dan pantas dalam melakukan perjalanan suluk, yang mana apa jua maqam yang terpandang olehnya maka dengan secepat yang mungkin kakinya juga segera sampai pada kedudukan maqam tersebut. Ia juga menjadi tanda ketinggian darjat seseorang yang mana dia tidak memandang kepada sesuatupun kecuali Tuhannya.

Sepertimana seseorang yang hendak lekas menuju kepada tujuannya, begitulah seorang Salik yang menuju Kehadhrat Tuhan hendaklah lekas-lekas bergerak, dengan cepat dan pantas, tidak menoleh ke kiri dan ke kanan, tidak memandang kepada hawa nafsu duniawi sebaliknya hanya memandang ke arah mencapai Kehadiran Zat Tuhan Yang Suci.

Hadhrat Maulana Imam Rabbani Mujaddid Alf Tsani Syeikh Ahmad Faruqi Sarhindi Rahmatullah ‘alaih telah berkata dalam suratnya yang ke-259 di dalam Maktubat, “Pandangan mendahului langkah dan langkah menuruti pandangan. Mi’raj ke maqam yang tinggi di dahului dengan Basirah kemudian diikuti dengan langkah. Apabila langkah telah mencapai Mi’raj tempat yang dipandang, maka kemudian pandangan akan diangkat ke suatu maqam yang lain yang mana langkah perlu menurutinya.”
“Kemudian pandangan akan diangkat ke tempat yang lebih tinggi dan langkah akan menurutinya. Begitulah seterusnya sehingga pandangan mencapai maqam kesempurnaan yang mana langkahnya akan diberhentikan.”

“Kami katakana bahawa, apabila langkah menuruti pandangan, murid telah mencapai maqam kesediaan untuk menuruti jejak langkah Hadhrat Baginda Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam. Jejak langkah Hadhrat Baginda Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam adalah merupakan sumber asal bagi segala langkah.”

Hadhrat Shah Naqshband Rahmatullah ‘alaih berkata, “Jika kita memandang kesalahan sahabat-sahabat, kita akan ditinggalkan tanpa sahabat kerana tiada seorang juapun yang sempurna.”


7. Safar Dar Watan

Safar bererti menjelajah, berjalan atau bersiar, Dar bererti dalam dan Watan bererti kampung. Safar Dar Watan bermakna bersiar-siar dalam kampung dirinya yakni kembali berjalan menuju Tuhan.

Seseorang Salik itu hendaklah menjelajah dari dunia ciptaan kepada dunia Yang Maha Pencipta. Hadhrat Baginda Nabi s.a.w. pernah bersabda yang mafhumnya, “Daku sedang menuju Tuhanku dari suatu hal keadaan ke hal keadaan yang lebih baik dan dari suatu maqam ke suatu maqam yang lebih baik.”

Salik hendaklah berpindah dari kehendak hawa nafsu yang dilarang kepada kehendak untuk berada dalam KehadiranNya. Dia hendaklah meninggalkan segala sifat-sifat Basyariyah [kemanusiawian] yang tidak baik dan berusaha meningkatkan dirinya dengan sifat-sifat Malakutiyah [kemalaikatan] yang terdiri dari sepuluh maqam iaitu : [1] Taubat [2] Inabat [3] Sabar [4] Syukr [5] Qana’ah [6] Wara’ [7] Taqwa [8] Taslim [9] Tawakkal [10] Redha.

Para Masyaikh membahagikan perjalanan ini kepada dua kategori iaitu Perjalanan Luaran dan Perjalanan Dalaman. Perjalanan luaran adalah perjalanan dari suatu tempat ke suatu tempat mencari seorang pembimbing rohani yang sempurna bagi dirinya dan akan menunjukkan jalan ke tempat yang dimaksudkannya. Ini akan membolehkannya untuk memulakan perjalanan dalaman.

Seorang Salik apabila dia sudah menemui seorang pembimbing rohani yang sempurna bagi dirinya adalah di larang dari melakukan perjalanan luaran. Di dalam perjalanan luaran ini terdapat berbagai kesukaran yang mana seseorang yang baru menuruti jalan ini tidak dapat tidak pasti akan terjerumus ke dalam tindakan yang dilarang, kerana mereka adalah lemah dalam menunaikan ibadah mereka.

Perjalanan yang bersifat dalaman pula mengkehendakkan agar seseorang Salik itu meninggalkan segala tabiat yang buruk dan membawa adab tertib yang baik ke dalam dirinya serta mengeluarkan dari hatinya segala keinginan duniawi. Dia akan diangkat dari suatu maqam yang kotor zulmat ke suatu maqam kesucian.

Pada waktu itu dia tidak perlu lagi melakukan perjalanan dalaman. Hatinya telah dibersihkan dan menjadikannya tulin seperti air, jernih seperti kaca, bersih bagaikan cermin lalu menunjukkannya hakikat setiap segala suatu urusan yang penting dalam kehidupan sehariannya tanpa memerlukan sebarang tindakan yang bersifat luaran bagi pihak dirinya. Di dalam hatinya akan muncul segala apa yang diperlukan olehnya dalam kehidupan ini dan kehidupan mereka yang berada di sampingnya.

Hadhrat Maulana Shah Ghulam ‘Ali Dehlawi Rahmatullah ‘alaih telah berkata, “Ketahuilah bahawa apabila hati tertakluk dengan sesuatu selain Allah dan khayalan yang buruk menjadi semakin kuat maka limpahan Faidhz Ilahi menjadi sukar untuk dicapai oleh batin.”

“Jesteru itu dengan kalimah LA ILAHA hendaklah menafikan segala akhlak yang buruk itu sebagai contohnya bagi penyakit hasad, sewaktu mengucapkan LA ILAHA hendaklah menafikan hasad itu dan sewaktu mengucapkan ILLALLAH hendaklah mengikrarkan cinta dan kasih saying di dalam hati. Begitulah ketika melakukan zikir Nafi Itsbat dengan sebanyak-banyaknya lalu menghadap kepada allah dneganrasa hina dan rendah diri bagi menghapuskan segala keburukan diri sehinggala keburukan dirinya itu benar-benar terhapus.”

“Begitulah juga terhadap segala rintangan batin, ianya perlu disingkirkan supaya terhasilnya tasfiyah dan tazkiyah. Latihan ini merupakan salah satu dari maksud Safar Dar Watan.”


8. Khalwat Dar Anjuman

Khalwat bererti bersendirian dan Anjuman bererti khalayak ramai, maka pengertiannya ialah bersendirian dalam keramaian. Maksudnya pada zahir, Salik bergaul dengan manusia dan pada batinnya dia kekal bersama Allah Ta’ala. Terdapat dua jenis khalwat iaitu Khalwat Luaran dan Khalwat Dalaman.

Khalwat luaran menghendaki Salik agar mengasingkan dirinya di tempat yang sunyi dan jauh dari kesibukan manusia. Secara bersendirian Salik menumpukan kepada zikrullah dan muraqabah untuk mencapai penyaksian Kebesaran dan Keagungan Kerajaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Apabila sudah mencapai fana menerusi zikir fikir dan semua deria luaran difanakan, pada waktu itu deria dalaman bebas meneroka ke Alam Kebesaran dan Keagungan Kerajaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini seterusnya akan membawa kepada khalwat dalaman.

Khalwat dalaman bermaksud berkhalwat dalam kesibukan manusia. Hati Salik hendaklah sentiasa hadir ke Hadhrat Tuhan dan hilang dari makhluk sedang jasmaninya sedang hadir bersama mereka. Dikatakan bahawa seseorang Salik yang Haq sentiasa sibuk dengan zikir khafi di dalam hatinya sehinggakan jika dia masuk ke dalam majlis keramaian manusia, dia tidak mendengar suara mereka. Keadaan berzikir itu mengatasi dirinya dan penzahiran Hadhrat Suci Tuhan sedang menariknya membuatkannya tidak menghiraukan segala sesuatu yang lain kecuali Tuhannya. Ini merupakan tingkat khalwat yang tertinggi dan dianggap sebagai khalwat yang sebenar seperti yang dinyatakan dalam ayat Al-Quran :

Rijalulla tulhihim tijaratun wala bay’un ‘an zikrillah

“Para lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingati Allah.” [ 24 : 37 ]. Inilah merupakan jalan Tariqah Naqshbandiyah.

Hadhrat Khwajah Shah Bahauddin Naqshband Quddisa Sirruhu telah ditanyakan orang bahawa apakah yang menjadi asas bagi tariqatnya? Beliau menjawab, berdasarkan Khalwat Dar Anjuman, yakni zahir berada bersama Khalaq dan batin hidup bersama Haq serta menempuh kehidupan dengan menganggap bahawa Khalaq mempunyai hubungan dengan Tuhan. Sebagai Salik dia tidak boleh berhenti dari menuju kepada maksudnya yang hakiki.

Khalwat yang utama di sisi para Masyaikh Naqshbandiyah adalah khalwat dalaman kerana mereka sentiasa berada bersama Tuhan mereka dan pada masa yang sama mereka berada bersama dengan manusia. Sepertimana mafhum sabdaan Hadhrat Baginda Rasulullah s.a.w., “Padaku terdapat dua sisi. Satu sisiku menghadap ke arah Pencipta ku dan satu sisi lagi menghadap ke arah makhluk ciptaan.”

Hadhrat Shah Naqshband Rahmatullah ‘alaih berkata,

“Tariqatuna as-suhbah wal khayru fil jam’iyyat”

“Jalan tariqah kami adalah dengan cara bersahabat dan kebaikan itu dalam berjemaah.”

Adalah dikatakan bahawa seseorang beriman yang dapat bercampur gaul dengan manusia dan menanggung berbagai masaalah dalam kehidupan adalah lebih baik dari orang beriman yang menghindarkan dirinya dari manusia.

Imam Rabbani Rahmatullah ‘alaih telah berkata, “Perlulah diketahui bahawa Salik pada permulaan jalannya mungkin menggunakan khalwat luaran untuk mengasingkan dirinya dari manusia, beribadat dan bertawajjuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga dia mencapai tingkat darjat yang lebih tinggi. Pada waktu itu dia akan dinasihatkan oleh Syeikhnya seperti kata-kata Sayyid Al-Kharraz rahmatullah ‘alaih iaitu kesempurnaan bukanlah dalam mempamerkan karamah yang hebat-hebat tetapi kesempurnaan yang sebenar ialah untuk duduk bersama manusia, berjual beli, bernikah kahwin dan mendapatkan zuriat dan dalam pada itu sekali-kali tidak meninggalkan Kehadiran Allah walaupun seketika.”

Hadhrat Shah Ghulam ‘Ali Dehlawi Rahmatullah ‘alaih berkata, “Daripada masamu, jangan ada sebarang waktu pun yang engkau tidak berzikir dan bertawajjuh serta mengharapkan Kehadiran Allah Ta’ala dan bertemulah dengan manusia dan berzikirlah walaupun berada di dalam keramaian dan sentiasa berjaga-jaga memerhatikan limpahan Allah.”

Berkata Penyair,
Limpahan Faidhz Al-Haq datang tiba-tiba tetapi hatiku memerhatikan waridnya,
Biarpun di waktu sekali kerdipan mata namun diriku sekali-kali tidak leka,
Boleh jadi Dia sedang memerhatikanmu dan dikau tidak memperhatikannya.

Hal keadaan ini dinamakan Khalwat Dar Anjuman iaitu “Ka in haqiqat wa ba in surat” yakni hakikat dirinya berzama Zat Tuhan dan tubuh badan bersama makhluk ciptaan Tuhan.
Masyaikh menggelarkannya sebagai ‘Sufi Kain Bain’

Rabu, 18 Mei 2011

8 PRINSIP TAREKAT NAQSHBANDIYYAH


'Abdul Khaliq al-Ghujdawani mengemukakan butir-butir renungan ini yang kini dianggap sebagai prinsip Thariqat Naqshbandi Sufi: 

1.      Bernapas Secara Sadar ("Hosh dar dam")

Hosh berarti "pikir". Dar berarti "dalam". Dam berarti "napas". Artinya, menurut Abdul Khaliq al-Ghujdawani (q), bahwa :
"pencari/pejalan/murid yang bijak harus melindungi napasnya terhadap kealpaan/kesembronoan, menarik dan menghembuskan, dengan itu selalu menjaga kalbunya berada dalam Hadhirat Allah; dan dia harus menghidup kan napasnya dengan pengabdian dan penghambaan dan mempersembahkan pengabdian itu kepada Tuhannya penuh dengan kehidupan / kegairahan, karena setiap tarikan dan hembusan napas dengan demikian (Hadhirat) itu adalah hidup dan menyambung dengan Hadhirat Ilahi. Setiap tarikan dan hembusan napas dengan kealpaan/kecerobohan adalah mati, terputus hubungan dengan Hadhirat Ilahi."
Ubaidullah al-Ahrar (q) mengatakan, "Missi paling penting dalam Thariqat ini adalah untuk melindungi napasnya, dan dia yang tak dapat menjaga napasnya, baginya akan dikatakan, ‘dia telah kehilangan dirinya.'"
Shah Naqshband (q) mengatakan, "Thariqat ini dibangun atas dasar napas. Sehingga adalah suatu keharusan bagi semuanya untuk menjaga napasnya pada waktu menarik dan menghem buskan dan selanjutnya, untuk menjaga napasnya dalam interval antara menarik dan menghembuskan napas."
Shaikh Abul Janab Najmuddin al-Kubra mengatakan dalam bukunya, Fawatih al-Jamal, "Dhikr mengalir dalam diri setiap makhluq hidup dengan keharusan napasnya – meskipun tanpa niat – sebagi suatu tanpa ketundukan, yang adalah bagian dari penciptaannya. Melalui napasnya, bunyi huruf "Ha" dari asmaul husna Allah dibuat dalam setiap penghembusan dan penarikan dan itu adalah tanda dari Essensi Tak-Nampak sedang mengungkapkan penekanan Ke-Unik-an Allah. Jadi sangatlah penting untuk selalu “hadir” dengan napas itu, agar supaya menyadari (merasakan) Essensi dari Al Khaliqu."
Nama 'Allah' yang melingkupi sembilanpuluh sembilan asma ul-husna terdiri dari empat huruf : Alif, Lam, Lam dan Hah (ALLAH). Pengikut Sufi mengatakan bahwa Dzat Allah Azza Wa Jalla yang gaib sempurna dinyatakan dengan huruf terakhir, "Ha" itu. Huruf ini mewakili Dia Yang Maha gaib Sempurna (Ghayb al-Huwiyya al-Mutlaqa lillah 'azza wa jall). Lam pertama adalah untuk identifikasi (tacrif) dan Lam kedua adalah untuk penekanan (mubalagha).
Memelihara napasmu dari ketidak-pedulian akan menuntunmu kepada Hadhirat Nya secara utuh, dan Hadhirat Utuh akan menuntun engkau kepada Pandangan (Vision) utuh, dan Pandangan (Vision) utuh akan menuntun engkau kepada Manifestasi Utuh sembilanpuluh sembilan asma ul husna Allah. Allah akan menuntun engkau kepada Manifestasi sembilanpuluh sembilan Asma Nya dan keseluruhan Asma Nya yang lain, karena dikatakan bahwa, "Asma Allah adalah sebanyak napas umat manusia."
Hendaknya diketahui oleh semua bahwa menyelamatkan napas dari ketak-pedulian adalah suatu proses yang sukar bagi seorang pencari.. Sehingga mereka harus melakukan hal itu dengan mencari ampunan (istighfar) karena mencari ampunan akan membersihkan dan mensucikan diri kita dan mempersiapkan si pencari untuk Manifestasi Sesungguhnya Allah yang memang berada dimana-mana. 

2.      Perhatikan Langkahmu ("Nazar bar qadam")

Itu artinya bahwa sang pencari sewaktu berjalan hendaknya pandangan matanya hanya tertuju kepada kakinya saja. Kemanapun kakinya hendak dia tempatkan, pandangan matanya hendaknya berada disitu pula. Dia tidak diperkenankan melemparkan pandangannya kesana kemari, untuk melihat kekiri atau kekanan atau kedepannya, karena pemandangan yang tak perlu akan menutupi kalbunya. Kebanyakan tabir pada kalbu diciptakan oleh gambar(an) yang ditransmisikan dari mata kepada pikiran selama menjalani kehidupan sehari-hari. Hal-hal ini mungkin (boleh jadi) mengganggu (menggoncangkan) kalbumu dengan turbulensi (gambaran dari gerak air sewaktu ombak mendampar karang), karena berbagai macam keinginan yang (telah) dicetak di dalam pikiran kita (oleh berbagai gambar(an) itu). Bayangan-bayangan tersebut adalah seperti tabir yang menutupi kalbu. Mereka menghadang Cahaya Hadhirat Ilahiah. Itulah sebabnya para wali Sufi tidak membolehkan para pengikutnya, yang telah membersihkan kalbu mereka melalui Dhikr berkesinambungan, untuk melihat selain kepada kaki mereka. Kalbu mereka sudah seperti kaca cermin, memantulkan dan menyerap gambar (image) secara mudah. Gambar ini akan menyimpangkan mereka dan membawa berbagai kekotoran (ketak-murnian) kedalam kalbu mereka. Maka para pencari diperintahkan untuk merendahkan pandangannya agar supaya tidak diserbu oleh anak panah syaithan.
Merendahkan pandangan juga merupakan tanda kerendahan hati; orang yang bangga dan sombong tidak pernah melihat kaki mereka. Itu juga suatu indikasi bahwa seseorang sedang mengikuti jejak (yang dicontohkan) Nabi (s.a.w.),  yang jika berjalan tidak pernah melihat ke kiri atau ke kanan, tetapi selalu melihat ke kakinya, bergerak dengan tegas dan mantap menuju arah tujuannya. Itu juga sebuah tanda  dari sebuah ketinggian maqam bila seorang pencari tidak melihat kemana-mana kecuali hanya kepada Tuhannya. Seperti seorang yang ingin sampai ke tujuannya dengan cepat, demikian juga seorang pencari Hadhirat Allah bergerak dengan cepat, tidak melihat ke kanan atau ke kirinya, tidak melihat kepada keinginan duniawi, tetapi hanya melihat kepada Hadhirat Ilahiah.
Imam ar-Rabbani Ahmad al-Faruqi (q) mengatakan dalam suratnya ke 295 dari Maktubat nya:
"Pandangan mendahului langkah dan langkah mengikuti pandangan. Perjalanan mendaki (mi’raj) ke maqam yang lebih tinggi mula-mula dengan Pandangan, diikuti Langkah. Apabila Langkah mencapai level Ketinggian dari Pandangan, maka Pandangan akan naik lagi ke tingkat berikutnya, atas itu Langkah juga mengikuti secara bergilir. Maka Pandangan akan diangkat ke tempat yang lebih tinggi lagi dan Langkah akan mengikutinya secara bergilir. Dan begitu seterusnya sampai Pandangan mencapai tingkat Kesempurnaan ke arah itulah Langkah akan ditarik (oleh Pandangan). Kita katakan, 'Bila Langkah mengikuti Pandangan, sang murid telah mencapai tingkat Kesiapan dalam mendekati Langkah Nabi (s.a.w.). Maka Langkah Nabi (s.a.w.) itu disebut juga sebagai Awal atau Sejatinya semua langkah lainnya.'"
Shah Naqshband (q) mengatakan, "Jika kita (hanya) melihat kesalahan shahabat kita, kita akan ditinggalkan tanpa teman, karena tak seorangpun sempurna." 

3.      Perjalanan Pulang ("safar dar watan")

Itu artinya perjalanan menuju kampung halaman. Itu artinya sang pencari berjalan dari dunia ciptaan menuju kepada dunia Sang Pencipta. Diceritakan bahwa Nabi (s.a.w.) mengatakan, "Saya akan mengunjungi Tuhan ku dari satu maqam ke maqam yang lebih baik dan dari satu stasiun ke stasiun yang lebih tinggi." Dikatakan bahwa sang pencari harus berjalan dari Kenginan untuk hal terlarang kepada Keinginan untuk Hadhirat Ilahi.
Thariqat Naqshbandi membagi perjalanan itu menjadi dua kategori. Pertama adalah perjalanan eksternal dan kedua adalah perjalanan internal. Perjalanan eksternal adalah berjalan dari satu tempat ke tempat lain mencari seorang pembimbing yang sempurna untuk membawa dan mengarahkan engkau ke sasaran yang engkau tuju. Ini akan memungkinkan engkau untuk menapak ke kategori kedua, perjalanan internal. Para pencari, sekali mendapatkan pembimbing sempurna (mursid), dilarang untuk melakukan perjalanan eksternal lainnya. Dalam perjalanan eksternal terdapat banyak kesukaran yang tak akan sanggup ditanggung oleh pemula tanpa jatuh kepada tindakan terlarang (haram), karena mereka memang masih lemah dalam ibadahnya.
Kategori kedua adalah perjalanan internal. Perjalanan internal memerlukan para pencari meninggalkan akhlaq buruk mereka dan meningkat ke akhlaq yang lebih tinggi, mencampakkan semua keinginan dunia dari kalbunya. Dia akan diangkat dari keadaan tidak bersih ke keadaan bersih atau murni. Pada saat itu dia tidak lagi memerlukan perjalanan internal lainnya. Dia telah mensucikan kalbunya, membuatnya jernih seperti air, transparan seperti kristal, mengkilap seperti cermin, memperlihatkan kebenaran dari semua hal yang esensi dari kehidupannya sehari-hari, tanpa memerlukan gerakan eksternal dari sisinya. Dalam kalbunya akan muncul semua hal yang diperlukan untuk kehidupannya dan untuk kehidupan mereka yang berada di sekelilingnya. 

4.      Kesendirian dalam Keramaian ("khalwat dar anjuman")

"Khalwat" berarti menyendiri. Itu artinya secara tampak luar bersama dengan manusia di sekelilingnya sementara secara batin selalu bersama Allah. Terdapat juga dua kategori “khalwat”. Pertama adalah penyendirian eksternal dan kedua adalah penyendirian internal.
Penyendirian eksternal memerlukan para pencari unutk menyendiri dalam suatu tempat yang tiada orang lainnya. Tinggal disitu sendirian, dia konsentrasi dan meditasi pada Dhikrullah, mengingat Allah, agar supaya mencapai keadaan dimana Teritori Kebenaran Allah menjadi nyata (menjelma). Apabila engkau merantai indera eksternal, indera internal mu akan bebas untuk mencapai Teritori Kebenaran Langit (Surgawi). Ini akan membawamu ke kategori kedua : kesendirian internal.
Kesendirin internal berarti menyendiri diantara keramaian orang. Disitu kalbu pencari hendaknya hadir dengan Tuhannya dan absen dari  dunia ciptaan sambil secara fisik berada di antara mereka. Dikatakan, "Sang pencari akan begitu terkait mendalam dengan Dhikr sunyi (sir) dalam kalbunya, meskipun dia masuk ke kerumunan orang, dia tidak akan mendengar suara mereka. Keadaan Dhikr nya telah menguasainya. Kenyataan (manifestasi) dari Hadhirat Ilahi menariknya dan membuatnya tidak sadar kepada semuanya kecuali kepada Tuhannya. Ini adalah posisi tertinggi suatu khalwat, dan dianggap khalwat yang benar, sebagaimana disebut dalam al Qur'an: "Orang-orang yang tak dapat dialihkan perhatiannya dari mengingat Allah oleh bisnis maupun keuntungan " [24:37]. Inilah cara Tharekat Naqshbandi.
Khalwat utama seorang shaykh Tharekat Naqshbandi adalah kesendirian internal. Mereka bersama Allah dan sekaligus bersama umatnya. Sebagaimana dikatakan Nabi (s.a.w.), "Saya memiliki dua sisi : satu muka menghadap Al Khaliq muka lainnya menghadap ciptaan (makhluq)." Shah Naqshband menekankan kebaikan berjamaah, bermajelis (berkumpul) ketika dia mengatakan: Tariqatuna as-suhbat wa-l-khairu fil-jamciyyat ("Tharekat kita adalah persahabatan (kebersamaan), dan Kebaikan berada dalam Kebersamaan ").
Dikatakan bahwa seorang beriman yang bergaul dengan orang dan mengangkat (memikul) kesukaran mereka lebih baik dari seorang beriman yang menyendiri dari orang. Terhadap hal yang peka ini Imam Rabbani mengatakan,
"Hendaknya diketahui bahwa sang pencari pada awalnya mungkin menggunakan khalwat external untuk mengisolasi dirinya dari orang, beribadah dan konsentrasi kepada Allah, Azza wa Jalla, sampai dia mencapai tahap yang lebih tinggi. Pada waktu itu dia akan dianjurkan oleh shaikh-nya, dalam kata-kata Sayyid al-Kharraz, Kesempurnaan bukan pada peragaan kekuatan karomah, tetapi kesempurnaan adalah duduk bersama orang (banyak), menjual dan membeli, menikah dan mempunyai anak; namun tak pernah meninggalkan kehadiran Allah bahkan sekejabpun.'" 

5.      Dhikr Utama (Essensi) ("yad kard")

Arti 'Yad' adalah Dhikr. Arti 'kard' adalah essensi Dhikr. Sang pencari hendaknya melakukan Dhikr dengan penolakan (negasi) dan penerimaan (affirmasi) pada lidahnya sampai dia mencapai keadaan meditasi (kontemplasi) kalbu (muraqaba). Keadaan itu akan dicapai dengan setiap hari menyebut penolakan (negasi) : LA ILAHA dan penerimaan (affirmasi) ILLALLAH pada lidah, antara 5,000 dan 10,000 kali, membuang dari kalbunya segala elemen yang akan mengotori dan membuatnya berkarat. Dhikr ini mempoles kalbu dan membawa sang pencari ke dalam keadaan Kenyataan (Manifestasi). Dia harus melakukan dhikr harian itu, baik dengan kalbu atau dengan lidah, mengulang ALLAH, yang mewakili (meliputi) semua asma dan sifat Nya, atau dengan negasi dan affirmasi melalui penyebutan LA ILAHA ILLALLAH.
Dhikr harian ini akan membawa sang pencari kedalam kehadiran sempurna dari Huwa Allahu Ahad.
Dhikr dengan negasi dan affirmasi, dalam tatacara Shaykh Naqshbandi, menghendaki bahwa sang pencari menutup matanya, menutup mulutnya, menggigit giginya, melekatkan lidahnya pada langit-langit mulutnya, dan menahan napasnya. Dia harus membaca dhikr itu melalui kalbu, dengan negasi dan affirmasi, memulai dengan kata LA ("Tidak"). Dia mengangkat "Tidak" ini dari bawah pusarnya naik ke otaknya. Sampai di otak kata "Tidak" mengeluarkan kata ILAHA ("Tuhan"), bergerak dari otak ke bahu kiri, dan menabrak kalbu (jantung)nya dengan ILLALLAH ("kecuali Allah "). Apabila kata itu menabrak kalbu, energi dan panasnya memancar keseluruh bagian tubuh. Sang pencari yang telah menolak semua yang ada di dunia ini dengan kalimat LA ILAHA, dan menyatakan menerima kalimat ILLALLAH, artinya berada dalam keadaan bahwa semua yang exist (ada) hilang lenyap dalam Hadhirat Allah.
Sang pencari mengulang ini dengan setiap napas, menghirup dan meniup, selalu membuatnya mencapai kalbu, sesuai dengan jumlah angka yang di-instruksikan oleh shaikh-nya. Sang pencari secar berangsur akan mencapai keadaan dimana dalam satu napas dia dapat mengulang LA ILAHA ILLALLAH duapuluh tiga kali. Seorang shaikh mursid dapat mengulang LA ILAHA ILLALLAH tak terhitung banyaknya dalam setiap kali napas. Arti dari praktek ini adalah bahwa sasaran satu-satunya hanya ALLAH dan tidak ada sasaran lain lagi bagi kita. Dengan melihat Hadhirat Allah sebagai satu-satunya Kenyataan (Existensi), akan memasukkan kedalam kalbu murid itu cinta Nabi (s.a.w.) dan pada saat itu dia mengatakan, MUHAMMADUN RASULULLAH yang adalah jantung dari Hadhirat Allah. 

6.      Kembali ("baz gasht")

Ini adalah keadaan dimana sang pencari, yang melakukan Dhikr dengan negasi dan affirmasi, sampai kepada pengertian ungkapan Nabi (s.a.w.), ilahi anta maqsudi wa ridaka matlubi ("Ya Allah, Engkaulah yang kami Maksud dan Ridha Mu adalah dambaanku.") Pembacaan ungkapan ini akan menambah kesadaran sang pencari  tentang Ke-Esa-an Allah, sampai dia mencapai keadaan di mana keberadaan semua ciptaan (makhluq) lenyap dari pandangan matanya. Semua yang dilihatnya, kemanapun dia memandang, adalah Allahu Shamadu. Murid Naqshbandi membaca dhikr macam ini agar supaya menyuling dari kalbunya rahasia Al Ahad, dan untuk membuka diri mereka kepada Kenyataan Hadhirat Allahu Shamadu. Para pemula tidak berwenang  meninggalkan dhikr ini bila dia tidak mendapatkan kekuatan itu muncul dalam kalbunya. Dia harus tetap membaca dhikr ini mengikuti (meniru) Shaykh-nya, karena Nabi (s.a.w.) telah mengatakan, "Barang siapa meniru suatu golongan orang akan menjadi bagian dari golongan itu." Dan barang siapa meniru gurunya akan suatu hari mendapatkan rahasia itu terbuka untuk kalbunya.
Arti dari "baz gasht" adalah kembali kepada Allah Azza wa Jalla dengan menunjukkan kepasrahan diri sempurna dan tunduk kepada Kemauan Nya, dan kerendahan diri sempurna dengan menyampaikan semua pepujian kepada Nya. Itulah alasan Nabi (s.a.w.) menyebutkan dalam doanya, ma dzakarnaka  aqqa dzikrika ya Madzkar ("Kami tidak Mengingat Engkau sebagaimana seharusnya Engkau Diingat, Ya Allah"). Sang pencari tidak dapat datang kepada hadhirat Allah dalam dzikrnya, dan tidak dapat mengungkapkan Rahasia dan Sifat Allah dalam dzikrnya, bila dia tidak melaksanakan dzikrnya itu dengan Dukungan Allah dan dengan Allah Mengingat dirinya. Sebagaimana dikatakan Bayazid: "Ketika aku mencapai Dia aku melihat bahwa ingatan Dia (kepadaku) mendahului ingatan saya kepada Nya." Sang pencari tidak dapat melakukan dzikr oleh sendirinya. Dia harus mengetahui bahwa Allah adalah justru yang sedang melakukan Dzikr melalui diri hamba Nya itu. 

7.      Perhatian ("nigah dasht")

"Nigah" berarti pandangan (visi). Itu artinya sang pencari hendaknya mengendalikan qalbunya dan melindunginya dengan cara mencegah masuknya pikiran buruk. Kecenderungan buruk akan menghalangi qalbu dari penyatuan diri dengan Hadhirat Allah. Diakui dalam Naqshbandiyya bahwa bagi seorang pencari dapat melindungi qalbunya dari kecenderungan buruk selama lima menit saja adalah sebuah hasil yang besar. Untuk ini saja dia sudah akan diakui sebagai seorang sufi sejati. Sufisme adalah sebuah kekuatan untuk melindungi qalbu dari pemikiran buruk dan menjaganya dari kecenderungan rendah. Barang siapa berhasil dengan dua sasaran ini akan mengerti qalbunya, dan barang siapa mengerti qalbunya akan mengenali Tuhannya. Nabi s.a.w. mengatakan, "Barang siapa mengenal dirinya sendiri, mengenal Tuhannya."
Seorang shaikh Sufi mengatakan, "Karena saya melindungi qalbu ku untuk sepuluh malam, qalbuku melindungiku untuk duapuluh tahun."
Abu Bakr al-Qattani mengatakan, "Aku adalah penjaga pintu qalbuku selama 40 tahun, dan aku tak pernah membukanya untuk siapapun kecuali Allah, Azza wa Jalla, sampai qalbuku tidak lagi mengenali siapapun kecuali Allah Azza wa Jalla."
Abul Hassan al-Kharqani mengatakan, "Telah 40 tahun Allah melihat ke dalam qalbu saya dan mendapati bahwa tak seorangpun berada disana kecuali Diri Nya Sendiri. Dan memang tidak ada ruang dalam qalbu saya untuk selain Allah." 

8.      Memori ("yada dasht")

Artinya pembaca Dzikr melindungi qalbunya dengan negasi dan affirmasi dalam setiap hembusan napas tanpa meninggalkan Hadhirat Allah Azza wa Jalla. Hendaknya sang pencari agar mempertahankan qalbunya supaya selalu berada dalam Hadhirat Allah. Ini akan membuatnya menyadari dan merasakan Cahaya Esensi dari Allah (anwar adh-dhat al-Ahadiyya). Dia kemudian membuang tiga dari empat bentuk pikiran : pikiran egoistik, pikiran jahat, dan pikiran malaikatis, sambil mempertahankan dan membenarkan hanya bentuk pikiran ke-empat, yaitu : pikiran kebenaran atau haqqani. Hal ini akan membimbing sang pencari menuju keadaan tertinggi dari kesempurnaan dengan membuang semua khayalannya dan hanya merengkuh Kebenaran yang adalah Ke-Esa-an Allah, 'Azza wa Jalla. 

'Abdul Khaliq al-Ghujdawani mempunyai empat orang khalifah. Yang pertama adalah Shaikh Ahmad as-Siddiq, berasal dari Bukhara. Yang kedua adalah Kabir al-Awliya ("Terbesar diantara Wali "), Shaikh Arif Awliya al-Kabir (q). Berasal dari Bukhara, dia adalah ulama terkemuka dalam Ilmu external dan internal. Khalifah yang ketiga adalah Shaikh Sulaiman al-Kirmani (q). Khalifah keempat adalah cArif ar-Riwakri (q). Kepada khalifah keempat inilah Abdul Khaliq (q) mewariskan Rahasia Mata Rantai Emas (Naqshbandi) sebelum dia meninggal pada 12  Rabi'ul-Awwal 575 H.