Catatan Popular

Memaparkan catatan dengan label Wali Fudhail Bin Iyadz. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Wali Fudhail Bin Iyadz. Papar semua catatan

Jumaat, 9 Mac 2012

JENG JENG…..LAGI-LAGI KISAH MENGENAI DIRI AL FUDHAIL BIN IYADZ

  Suatu hari Fudhail memangku anak yang berumur empat tahun. Tanpa disengaja bibir Fuzail menyentuh pipi anak itu sebagimana yang sering dilakukan seorang ayah kepada anaknya.
“Apakah ayah cinta kepadaku?”, si anak bertanya kepada Fudhail.
“Ya”, jawab Fudhail.
”Apakah ayah cinta kepada Allah?”
“Ya”.
”Berapa banyakkah hati yang ayah miliki?”
“Satu”, jawab Fudhail.
“Dapatkah ayah mencintai dua hal dengan satu hati?”, si anak meneruskan pertanyaannya.
Fudhail segera sadar bahwa yang berkata-kata itu bukanlah anaknya sendiri. Sesungguhnya kata-kata itu adalah sebuah petunjuk Ilahi. Karena takut dimurkai Allah, Fudhail memukul-mukulkan
kepalanya sendiri dan memohon ampun kepada-Nya. Ia renggut kasih sayangnya kepada si anak kemudian dicurahkannya kepada Allah semata-mata,.


Pada suatu hari Fudhail sedang berada di Padang Arafah. Semua, jama’ah yang berada di sana menangis, meratap, memasrahkan diri dan memohonkan ampun dengan segala kerendahan hati,
“Maha Besar Allah!”, seru Fuzail. “Jika manusia sebanyak ini secara serentak menghadap kepada seseorang dan mereka semua meminta sekeping uang perak kepadanya, apakah yang dilakukannya?
Apakah orang itu akan mengecewakan manusia-manusia yang banyak ini?”
“Tidak!”, orang ramai menjawab.
“Jadi”, Fudhail melanjutkan, “sudah tentu bagi Allah Yang Maha Besar untuk mengampunkan kita semua adalah lebih mudah daripada bagi orang tadi untuk memberikan sekeping uang perak. Dia adalah Yang Maha Kaya di antara yang kaya, dan karena itu sangat besar harapan kita bahwa Dia akan mengampunkan kita semua”.

Putera Fudhail menderita penyakit susah buang air kecil. Fudhail berlutut di dekat anaknya dan mengangkat kedua tangannya sambil berdoa: “Ya Allah, demi cintaku kepada-Mu sembuhkanlah ia dari penyakit ini”.
Belum sempat Fudhail bangkit dari duduknya, si anak telah segar bugar kembali.

Di dalam doanya Fudhail sering mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah aku karena Engkau Maha Tahu bahwa aku telah bertaubat, dan janganlah Engkau menghukumku karena Engkau Maha Berkuasa
atas diriku”. Kemudian ia melanjutkan: “Ya Allah, Engkau telah membuatku lapar dan telah membuat anak-anakku lapar. Engkau telah membuatku telanjang dan telah membuat anak-anaku telanjang. Dan Engkau tidak memberikan pelita kepadaku apabila hari telah gelap. Semua itu telah Engkau lakukan terhadap sahabat-sahabat-Mu, Karena keluhuran spiritual, apakah Fuzail telah menerima kehormatan-Mu ini?”

Selama tiga puluh tahun tidak seorang pun pernah melihat Fdhzail tersenyum kecuali ketika puteranya meninggal dunia, Pada waktu itulah orang-orang melihat Fuzail tersenyum. Seseorang
menegurnya.
“Guru, mengapakah engkau justru tersenyum disaat-saat yang seperti ini?”
”Aku menyadari bahwa Allah menghendaki agar anakku mati. Aku tersenyum karena kehendak-Nya telah terlaksana”, jawab Fuzail.

Fudhail mempunyai dua orang anak perempuan. Menjelang akhir hayatnya Fudhail menyampaikan wasiat terakhir kepada isterinya:
“Apabila aku mati bawalah anak-anak kita ke gunung Abu Qubais. Di sana tengadahkan wajahmu dan berdoalah kepada Allah;
`Ya Allah, Fudhail menyuruhku untuk menyampaikan pesan-pesannya kepada-Mu; ketika aku hidup kedua anak-anak yang tak berdaya ini telah kulindungi dengan sebaik-baiknya. Tetapi setelah Engkau mengurungku di dalam kubur, mereka kuserahkan kepada-Mu kembali”.
Setelah Fudhail dikebumikan, isterinya melakukan seperti yang dipesankan kepadanya. Ia pergi ke puncak gunung Abu Qubais membawa kedua anak perempuannya.


Kemudian ia berdoa kepada Allah sambll menangis dan meratap. Kebetulan pada saat itu, pangeran dari negeri Yaman beserta kedua puteranya melalui tempat itu. Menyaksikan mereka yang menangis dan meratap itu, sangpangeran bertanya:
“Apakah kemalangan yang telah menimpa diri kalian?”
Isteri Fudhail menerangkan keadaan mereka. Kemudian si pangeran berkata:
“Jika kedua puterimu kuambil untuk kedua puteraku ini dan untuk masing-masing di antara mereka kuberikan sepuluh ribu dinar sebagai mas kawinnya, apakah engkau merasa cukup puas?”
“Ya”, jawab si ibu.
Segeralah sang pangeran mempersiapkan tandu-tandu, permadani permadani dan brokat-brokat kemudlan membawa si ibu beserta kedua puterinya ke negeri Yaman

ALFUDHAIL BIN IYADZ AHLI TASAWWUF

Menurut Fudhail, orang yang mengenal Allah dan jalan mahabbah tanpa disertai rasa takut, maka ia akan hancur dengan kegembiraan dan kesenangan. Orang yang mengenal Allah tanpa mengetahui jalannya, ia akan menyimpang dan bertambah jauh dari-Nya. Dan orang yang mengenal Allah melalui jalan keduanya (ma’rifah dan suluk), maka Allah akan mencintainya, mendekatinya, memuliakannya, dan menunjukinya [jalan menuju ke sisi-Nya.

Ketika Abdullah bin Malik bertanya kepadanya, “Bagaimana cara keluar dari persoalan yang membelit?” Ia menjawab dengan sebuah pertanyaan, “Coba jawab, apakah orang yang taat kepada Allah Ta ‘ala dicelakakan oleh kemaksiatan seseorang?”
“Tidak,” jawab Abdullah.
“Apakah orang yang bermaksiat kepada Allah akan mendapat manfaat dari ketaatan seseorang?” tanyanya lagi.
“Tidak,” Abdullah kembali menjawab.
“Itulah jalan keluar, kalau memang engkau mau,” lanjut Fudhail. Lalu ia membaca ayat, “Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang murni (bersih dari syirik). ” (QS. az-Zumar: 2-3)

Fudhail meninggal dan dimakamkan di Bab Mushalla.

AL FUDHAIL BIN IYADZ DAN AL QURAN SERTA AHLI HADITS

Fudhail meriwayatkan dari Rasulullah SAW, “Allah tidak akan menyia-nyiakan seorang hamba yang bangun shalat di tengah malam lalu membaca surat al-Baqarah dan Ali Imran, dan sebaik-baiknya perbendaharaan seorang Mukmin adalah al-Baqarah dan Ali Imran.” Ia pernah bertutur, “Para qari al-Rahman ialah mereka yang memiliki kelembutan dan ketundukan, sedangkan para qari penguasa ialah mereka yang yang memiliki kesombongan, ujub, dan suka meremehkan orang lain.”
Menurut Fudhail, pembawa Al-Quran adalah pembawa bendera Islam. Tidak patut baginya untuk bermain-main seperti orang-orang yang suka bermain-main dan menganggur, juga tidak lalai sebagaimana orang yang biasa lalai.


FUDHAIL SEBAGAI AHLI HADITS

Fudhail bin ‘lyadh adalah seorang cerdas, kuat hapalannya, dan juga wara’. Tiga sifat ini merupakan modal utama seorang ahli hadits. Dia paham betul tentang sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa berdusta kepadaku secara sengaja, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari)
Menurut Ibnu Sa’ad, Fudhail adalah seorang yang tsiqah, pemilik keutamaan, wara’, ahli ibadah, dan banyak menyimpan Hadits. Sementara bagi Imam Nawawi, hadis yang diriwayatkan oleh Fudhail itu Shahih.
Suatu ketika, dia melihat sekelompok ahli hadits bercanda sambil tertawa-tawa. Maka, ia menegur mereka, “Hati-hatilah, wahai pewaris Nabi.” Lalu ia berkata, “Kalian adalah imam yang diikuti.”

Di antara Hadits yang diriwayatkannya ialah, “Di antara yang didapati manusia dari ucapan kenabian pertama kali ialah, “Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” Ia meriwayatkan juga dan Sayyidah Aisyah bahwa ia berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahii ‘alaihi wa sallam membalas kezhaliman sama sekali selama tidak berkenaan dengan pelanggaran terhadap apa yang dilarang Allah. Tetapi, bila satu dari larangan-larangan Allah diterjang, maka beliau orang yang paling marah dalam masalah ini. Dan tidaklah beliau diharuskan memilih antara dua pilihan, melainkan memilih yang paling ringan dari keduanya selama itu tidak akan menjadi dosa.” (HR. Muslim)

AL FUDHAIL BIN IYADZ DAN NASIHAT-NASIHATNYA

  Tidaklah seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai dari apa yang Aku fardhukan kepadanya. Dan hamba-Ku akan selalu bertaqarrub kepada-Ku dengan amal-amal sunnah sampai Aku mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar, menjadi matanya yang dengannya ia melihat, menjadi tangannya yang dengannya ia berbuat, serta menjadi kakinya yang dengannya ia melangkah. Manakala ia meminta kepada-Ku, Aku sungguh memberinya dan jika memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar memberinya perlindungan.” (Muttafaq ‘alaih)


Fudhail banyak memberikan nasihat-nasihat. Di antara ungkapan-ungkapan nasihatnya ialah:
-“Jauhilahmanusiatanpaharusmeninggalkanjama’ah.”
-
“Siapa saja yang mencintai pelaku bid’ah, maka amalnya akan dihapus oleh Allah dan akan dikeluarkan dari relung kalbuny a cahaya Islam.”
-“Barangsiapa membantu pelaku bid’ ah, berarti ia membantu menghancurkan Islam.”

Pandangan Fudhail bin ‘lyadh tentang Kekuasaan

Fudhail memberi sangat membenci kekuasaan politis. Mengenai hal ini Fudhail berkata, “Seseorang mendekati bangkai yang berbau busuk jauh lebih baik daripada mendekati mereka para penguasa.” Ia juga berkata, “Seandainya ulama bersikap zuhud terhadap dunia, pasti leher-leher para penguasa tiran akan tunduk kepada mereka.” Dia pernah memberi nasihat kepada Imam Suryan bin ‘Uyainah, seorang ulama besar, “Kalian, wahai para ulama, adalah lampu yang menerangi negeri. Tetapi, kemudian kalian menjadi lapisan kegelapan. Kalian adalah bintang yang dijadikan pedoman, namun setelah itu kalian menjadi sesuatu yang membingungkan. Tidakkah seseorang dari kalian malu kepada Allah bila datang kepada para penguasa lalu mendapatkan harta dari mereka, sementara ia tidak mengetahui dari mana asalnya harta itu.
Kemudian ia kembali mengajar dengan bersandar pada mihrab seraya berkata, “Si Fulan telah raenceritakan kepadaku dari Si Fulan.” Ia juga berkata, “Mengapa kalian mendekati para penguasa? Padahal betapa besar pemberian mereka kepada kalian; mereka telah meninggalkan jalan akhirat untuk kalian, sementara kalian justru berdesak-desakan di atas jalan dunia.”
Harun al-Rasyid memiliki jalan menuju kemewahan hidup, namun terkadang ia memiliki rasa takut yang sangat kepada Allah. Ia berkata kepada Fudhail, “Betapa zuhudnya engkau.” Fudhail membalas, “Engkau lebih zuhud dariku. Karena zuhudku terhadap dunia dan ia memang sesuatu yang fana, sedangkan zuhudmu terhadap akherat, padahal ia abadi.”


KISAH AL FUDHAIL BIN IYADZ DAN KHALIFAH HARUN AR-RASYID

  Pada suatu malam, Harun ar-Rasyid memanggil Fazl Barmesid, salah seorang di antara pengawal-pengawal kesayangannya. Harun ar-Rasyid berkata kepada Fazl:
“Malam ini bawalah aku kepada seseorang yang menunjukkan kepadaku siapakah aku ini sebenarnya. Aku telah jemu dengan segala kebesaran dan kebanggaan”.
Fazl membawa Harun ar-Rasyid ke rumah Shofyan al-Uyaina. Mereka mengetuk pintu dan dari dalam Shofyan menyahut:
“Siapakah itu?”
“Pemimpin kaum Muslimin”,jawab Fazl.
Shofyan berkata: “Mengapakah sultan sudi menyusahkan diri? Mengapa tidak dikabarkan saja kepadaku sehingga aku datang sendiri untuk menghadap?”

Mendengar ucapan tersebut Harun ar-Rasyid berkata: “Ia bukan orang yang kucari. Ia pun menjilatku seperti yang lain-lainnya”.
Mendengar kata-kata sultan tersebut, Shofyan berkata:
“Jika demikian, Fuzail bin ’Iyaz adalah seorang yang engkau cari. Pergilah kepadanya”, kemudian Shofyan membacakan ayat: “Apakah orang-orang yang berbuat aniaya menyangka bahwa kami akan mempersamakan mereka dengan orang-orang yang beriman serta melakukan perbuatan-perbuatan yang Saleh?”
Harun ar-Rasyid menimpali: “Seandainya aku menginginkan nasehat-nasehat yang baik niscaya ayat itu telah mencukupi”.
Kemudian mereka mengetuk pintu rumah Fudhail. Dari dalam Fudhail bertanya: “Siapakah itu?”
“Pemimpin kaum Muslimin”, jawab Fazl.
“Apakah urusannya dengan aku dan apakah urusanku dengan dia?”, tanya Fudhail.
“Bukankah suatu kewajiban untuk mematuhi para pemegang kekuasaan?” sela Fazl.
“janganlah kalian menggangguku”, seru Fuzail.
“Perlukah aku mendobrak pintu dengan kekuasaanku sendiri atau dengan perintah sultan?” tanya Fazl.
“Tidak ada sesuatu hal yang disebut kekuasaan”, jawab Fudhail.
” Jika engkau secara paksa mendobrak masuk, engkau tahu apa yang engkau lakukan”.
Harun ar-Rasyid melangkah masuk, Begitu Harun menghampirinya, Fudhail meniup lampu sehingga padam agar ia tidak dapat melihat wajah sultan. Harun ar-Rasyid mengulurkan tangannya dan disambut oleh tangan Fuzail yang kemudian berkata: ‘
”Betapa lembut dan halus tangan ini! Semoga tangan ini terhindar dari api neraka!”
Setclah berkata demikian Fudhail berdiri dan berdoa. Harun ar-Rasyid sangat tergugah hatinya dan tak dapat menahan tangisnya.
“Katakanlah sesuatu kepadaku”, Harun bermohon kepada Fudhail.

Fudhail mengucapkan salam kepadanya dan berkata:
“Leluhurmu, pamanda Nabi Muhammad, pernah meminta kepada beliau: jadikanlah aku pemimpin bagi sebagian ummat manusia’. Nabi menjawab: ’Paman, untuk sesaat aku pernah mengangkatmu menjadi pemimpin dirimu sendiri’. Dengan jawaban ini yang dimaksudkan Nabi adalah: Sesaat mematuhi Allah adalah lebih balk daripada seribu tahun dipatuhi oleh ummat manusia. Kemudian Nabi menambahkan ’Kepemimpinan akan menjadi sumber penyesalan pada hari Berbangkit nanti’ “.
“Lanjutkanlah”, Harun ar-Rasyid meminta.
“Ketika diangkat menjadi khalifah, ’Umar bin ’Abdul Aziz memanggil Salim bin ’Abdullah, Raja’ bin Hayat, dan Muhammad bin Ka`ab. ‘Umar berkata kepada mereka: ’Hatiku sangat gundah karena cobaan ini. Apakah yang harus kulakukan? Aku tahu bahwa kedudukan yang tinggi ini adalah sebuah cobaan walaupun orang-orang lain menganggapnya sebagai suatu karunia’. Salah seorang di antara ketiga sahabat ’Umar itu berkata: ’Jika engkau ingin terlepas dari hukuman Allah di akhirat nanti, pandanglah setiap Muslim yang lanjut usia sebagai ayahmu sendiri, setiap Muslim yang remaja sebagai saudaramu sendiri, setiap Muslim yang masih kanak-kanak sebagai putramu sendiri, dan perlakukanlah mereka sebagaimana seharusnya seseorang memperlakukan ayahnya, saudaranya dan puteranya’ “.
“Lanjutkanlah!”, Harun ar-Rasyid meminta lagi.

“Anggaplah negeri Islam sebagai rumahmu sendiri dan penduduknya sebagai keluargamu sendiri. Jenguklah ayahmu, hormatilah saudaramu dan bersikap baiklah kepada anakmu. Aku sayangkan jika wajahmu yang tampan ini akan terbakar hangus di dalam neraka.
Takutilah Allah dan carilah perintah-perintah-Nya. Berhati-hatilah dan bersikaplah secara bijaksana, karena pada hari Berbangkit nanti Allah akan meminta pertanggung jawabanmu sehubungan dengan setiap Muslim dan Dia akan memeriksa apakah engkau telah berlaku adil kepada setiap orang. Apabila ada seorang wanita ’uzur yang tertidur dalam keadaan lapar, di hari Berbangkit nanti ia akan menarik pakaianmu dan akan memberi kesaksian yang memberatkan dirimu”.

Harun ar-Rasyid menangis dengan sangat getirnya sehingga tampaknya ia akan jatuh pingsan. Melihat hal ini wasir Fazl menyentak Fudhail:
“Cukup! Engkau telah membunuh pemimpin kaum Muslimin!”.
“Diamlah Haman! Engkau dan orang-orang yang seperti engkau inilah yang telah menjerumuskan dirinya, kemudian engkau katakan aku yang membunuhnya. Apakah yang kulakukan ini suatu pembunuhan?”
Mendengar kata-kata Fudhail ini tangis Harun ar-Rasyid semakin menjadi-jadi “Ia menyebutmu Haman”, kata Harun ar-Rasyid sambil memandang Fazl, “karena ia mempersamakan diriku dengan Fir’aun”.

Kemudian Harun bertanya. kepada Fudhail: ”Apakah engkau mempunyai hutang yang belum dilunaskan?”.
“Ya”, jawab Fudhail, “hutang kepatuhan kepada Allah. Seandainya Dia memaksaku untuk melunasi hutang ini celakalah aku!”
“Yang kumaksudkan adalah hutang kepada manusia, Fudhail”, Harun menegaskan.
“Aku bersyukur kepada Allah yang telah mengaruniakan kepadaku sedemikian berlimpahnya sehingga tidak ada keluh-kesah yang harus kusampaikan kepada hamba-hamba-Nya”.
Kemudian Harun ar-Rasyid menaruh sebuah kantong yang berisi seribu dinar di hadapan Fudhail sambil berkata: “Ini adalah uang halal yang diwariskan ibuku”.

Tetapi Fudhail mencela: “Wahai pemimpin kaum Muslimin, nasehat-nasehat yang kusampaikan kepadamu ternyata tidak ada faedahnya. Engkau bahkan telah memulai lagi perbuatan salah dan
mengulangi kezhaliman”.
“Perbuatan salah apakah yang telah kulakukan?”, tanya Harun ar-Rasyid.
“Aku menyerumu ke jalan keselamatan tetapi engkau menjerumuskan aku ke dalam godaan. Bukankah hal itu suatu kesalahan?
Telah kukatakan kepadamu, kembalikanlah segala sesuatu yang ada padamu kepada pemiliknya yang berhak. Tetapi engkau memberi kannya kepada yang tidak pantas menerimanya. Percuma saja aku berkata-kata”.
Setelah berkata demikian, Fudhail berdiri dan melemparkan uang-uang emas itu keluar.
“Benar-benar seorang manusia hebat!”, Harun ar-Rasyid berkata ketika ia meninggalkan rumah Fuzail. “Sesungguhnya Fudhail adalah seorang raja bagi ummat manusia. Ia sangat blak-blakan dan dunia ini terlampau kecil dalam pandangannya.”

WALI AL-FUDHAIL BIN IYADZ : SI PENJAHAT DAN KISAH PERTAUBATANNYA


Abu ’AIi aI·FudhaiI bin ‘Iyaz at-Talaqani Iahir di Khurasan. Diriwayatkan bahwa sewaktu masih remaja, Fudhail adalah seorang penyamun. Setelah bertaubat, Fudhail pergi ke Kufah kemudian ke Makkah, di mana ia tinggal beberapa tahun Iamanya hingga wafatya pada tahun 187 H/803 M. Nama FudhaiI cukup terkenal sebagai seorang ahli Hadits, dan keberaniannya mengkhotbahi Khalifah Harun ar-Rasyid sering diperbincangkan orang.

Sewaktu masih remaja, Fudhail mendirikan kemah di tengah·tengah padang pasir, yaitu di antara Merv dan Baward. jubahnya terbuat dari bahan ‘kasar, topinya terbuat dari bulu domba, dan dilehernya senantiasa tergantung sebuah tasbih. Fudhail mempunyai banyak teman yang semuanya terdiri dari para pencuri dan penjahat

Siang dan malam mereka merompak, membunuh dan membawa hasil rampasan mereka kepada FudhaiI karena ia adalah kepala mereka. Fudhail mengambil sesuatu yang disukainya, sesudah itu membagi-bagikan Iebihan harta rampasan tersebut kepada semua sahabatnya. Ia selalu tanggap tentang sesuatu dan tak pernah alpa dari pertemuan-pertemuan mereka. Setiap anggota baru yang sekali saja tidak menghadiri pertemuan, Fudhail akan mengeluarkannya dari kelompok mereka.
Suatu hari sebuah kafilah yang besar melewati daerah mereka. FudhaiI dan sahabat-sahabatnya teIah menanti-nantikan kedatangan kafilah tersebut.

Di dalam rombongan itu ada seorang lelaki yang pernah mendengar desas-desus mengenai para perompak itu. Ketika ia melihat kawanan perampok itu dari kejauhan, ia pun berpikir, bagaimanakah ia harus menyembunyikan sekantong emas yang dimilikinya.
“Kantong emas ini akan kusembunyikan”, ia berkata di dalam hati. “Dengan demikian jika para perampok membegal rombongan ini, aku masih mempunyai modal untuk diandalkan”. Ia menyimpang dari jalan raya.

Kemudian ia melihat sebuah kemah dan di dekat kemah itu ada seorang yang wajah dan pakaian nya tampak sebagai seorang pertapa. Maka kantong emas itu pun lalu dititipkannya kepada orang itu, yang sebenarnya adalah Fudhail sendiri. ”Taruhlah kantongmu itu di pojok kemahku”, Fuzail berkata kepadanya. Lelaki itu melakukan seperti yang dikatakan Fudhail.Kemudian ia kembali ke rombongannya, tetapi ternyata mereka telah dibegal oleh kawanan Fudhail. Semua barang bawaan mereka telah dirampas sedang kaki dan tangan mereka diikat. Lelaki itu melepaskan ikatan sahabat-sahabat seperjalanannya. Setelah mengumpulkan harta benda mereka yang masih tersisa, menyingkirlah mereka dari tempat kejadian itu.

 Lelaki tadi kembali ke kemah Fudhail untuk mengambil kantong emasnya. Ia melihat Fudhail sedang berkerumun dengan kawanan perampok dan membagi-bagikan hasil rampasan mereka.
“Celaka, ternyata aku telah menitipkan kantong emasku kepada seorang maling”, lelaki itu mengeluh.

Tetapi Fudhail yang dari kejauhan melihatnya, memanggilnya dan ia pun datang menghampiri.
“Apakah yang engkau kehendaki”, lelaki itu bertanya kepada Fudhail.
“Ambillah barangmu dari tempat tadi dan setelah itu tinggalkanlah tempat ini”.
Lelaki itu segera berlari ke kemah Fudhail, mengambil kantong emas dan meninggalkan tempat itu.

Dengan keheran-heranan teman-teman Fudhail berkata: “Dari seluruh kafilah itu kita tidak mendapatkan satu dirham pun di dalam bentuk tunai, tetapi mengapa engkau mengembalikan sepuluh ribu dirham itu kepadanya?”
Fudhail menjawab: “Ia telah mempercayaiku seperti aku mempercayai Allah akan menerima taubatku nanti. Aku hargai kepercayaannya itu agar Allah menghargai kepercayaanku pula”.

Pada hari yang lain mereka membegal kafilah pula dan merampas harta benda mereka. Ketika kawanan Fudhail sedang makan, seorang anggota kafilah itu datang menghampiri mereka dan bertanya: ”Siapakah pemimpin kalian?”
Kawanan perampok itu menjawab: “Ia tidak ada di sini. Ia sedang shalat di balik pohon yang terletak di pinggir sungai itu”.
“Tetapi sekarang ini belum waktunya untuk shalat”, lelaki itu berkata.
“Ia sedang melakukan shalat sunnat”, salah seorang di antara penjahat-penjahat itu menjelaskan.
“Dan ia tidak makan bersama-sama dengan kaIian?”, lelaki itu melanjutkan.
“Ia sedang berpuasa”, jawab salah seorang.
“Tetapi sekarang ini bukan bulan Ramadhan?”
“Ia sedang berpuasa sunnat”.
Dengan sangat heran lelaki tadi menghampiri Fudhail yang sedang khusyuk di dalam shalatnya, Setelah selesai berkatalah ia kepada Fudhail,
“Ada sebuah peribahasa yang mengatakan, hal-hal yang bertentangan tidak dapat dipersatukan. Bagaimanakah mungkin seseorang berpuasa, merampok, shalat dan membunuh orang Muslim pada waktu yang bersamaan?”.
“Apakah engkau memahami al-Qur’an?”, Fudhail bertanya kepadanya.
“Ya”, jawab lelaki itu.
“Tidakkah Allah Yang Maha Kuasa berkata:
 Orang-orang lain telah mengakui dosa-dosa mereka dan mencampuradukkan perbuatan-perbuatan yang baik dengan perbuatan-perbuatan yang aniaya?’ “.

Lelaki itu terdiam tidak dapat berkata apa-apa. Orang-orang mengatakan bahwa pada dasarnya Fudhail adalah seorang yang berjiwa satria dan berhati mulia. Apabila di dalam sebuah kafilah terdapat seorang wanita, maka barang-barang wanita itu tidak akan diusiknya. Begitu pula harta benda orang-orang miskin tidak akan dirampas Fudhail. Untuk setiap korbannya, ia selalu meninggalkan sebagian dari harta bendanya yang dirampas. Sebenarnya semua kecenderungan Fudhail tertuju kepada perbuatan yang baik.

Pada awal petualangannya, Fudhail tergila-gila kepada seorang wanita. Fudhail selalu menghadiahkan hasil rampasannya kepada wanita kekasihnya itu. Karena mabuk asmara, Fudhail sering memanjat, dinding rumah si wanita tanpa perduli keadaan cuaca yang bagaimana pun juga. Sementara berbuat demikian, ia selalu menangis.

Suatu malam ketika ia sedang memanjat rumah kekasihnya itu, lewatIah sebuah kafilah dan di antara mereka ada yang sedang membacakan ayat-ayat al-Qur’an. Terdengarlah oleh Fudhail ayat yang berbunyi: “Belum tibakah saatnya hati orang-orang yang percaya merendah untuk mengingat Allah?”

Ayat ini bagaikan anak panah menembus jantung Fudhail, seolah sebuah tantangan yang berseru kepadanya: “Wahai, Fudhail, berapa lama lagikah engkau akan penjahat para kafilah? Telah tiba saatnya kami akan membegalmu!”

Fudhail terjatuh dan berseru: “Memang telah tiba saatnya, bahkan hampir terIambat!”

Fudhail merasa bingung dan malu. Ia berlari ke arah sebuah puing. Ternyata di situ sedang berkemah sebuah kafilah. Mereka berkata: “Marilah kita melanjutkan perjaIanan”, tetapi salah seorang di antara mereka mencegah: “Tidak mungkin, dhsedang menanti dan akan menghadang kita”.

Mendengar pembicaraan mereka itu dhberseru: “Berita gembira Fudhail telah bertaubat!”.
Setelah berseru demikian iapun pergi. Sepanjang hari ia berjalan sambil menangis. Hal ini sangat menggembirakan orang-orang yang membenci dirinya. Kepada setiap orang di antara sahabat-sahabatnya, Fudhail meminta agar janji setia di antara mereka dihapuskan. Akhirnya hanya tersisa seorang Yahudi di Baward; Fudhail meminta agar janji setia di antara mereka berdua dihapuskan namun si Yahudi tidak mau dibujuk.

“Sekarang kita dapat memperolok-olokkan pengikut Muhammad”, si Yahudi berbisik kepada teman-temannya sambii tergelak-gelak.

“Jika engkau menginginkan aku untuk menghapuskan janji setia yang telah kita ikrarkan itu, maka ratakanlah bukit itu’’, si Yahudi berkata kepada Fudhail sambil menunjuk ke arah sebuah bukit pasir.

Bukit itu tidak mungkin dapat dipindahkan Oleh seorang manusia, kecuali untuk waktu yang sangat lama. dhyang malang mulai mencangkul bukit itu sedikit demi sedikit, tetapi bagaimanakah tugas tersebut dapat diselesaikan?

Pada suatu pagi, ketika Fudhail sangat letih, sekonyong-konyong datanglah angin kencang yang meniup bukit pasir tersebut hingga rata. Setelah melihat betapa bukit pasir itu telah menjadi rata, si Yahudi yang sangat merasa takjub itu berkata kepada Fudhail:
”Sesungguhnya aku telah bersumpah, bahwa aku tidak akan menghapuskan janji setia kita sebelum engkau memberikan uang kepadaku. oleh karena itu masuklah ke dalam rumahku, ambil segenggam uang emas yang terletak di bawah permadani dan berikan kepadaku. Dengan demikian sumpahku akan terpenuhi dan janji setia di antara kita dapat dihapuskan”.
Fudhail masuk ke dalam rumah si orang Yahudi. Sesungguhnya si Yahudi telah menaruh gumpalan-gumpalan tanah ke bawah permadani itu.

 Tetapi ketika Fudhail meraba ke bawah permadani itu dan menarik tangannya keluar, ternyata yang diperolehnya adalah segenggam penuh dinar emas. Dinar-dinar emas ini diserahkannya kepada si orang Yahudi.
“Islamkanlah aku!”, si Yahudi berseru kepada Fudhail. Fudhail mengislamkannya dan jadilah ia seorang Muslim.

Kemudian si Yahudi berkata kepada Fudhail: “Tahukah engkau mengapa aku mau menjadi seorang Muslim? Hingga sesaat yang lalu aku masih ragu, yang manakah agama yang benar. Aku pernah membaca di dalam Taurat: ‘Jika seseorang benar-benar bertaubat, kemudian menaruh tangannya ke atas tanah, maka tanah itu akan berubah menjadi emas’. Sesungguhnya ke bawah permadani tadi telah kutaruhkan tanah untuk membuktikan taubatmu. Dan ketika tanah itu berubah menjadi emas karena tersentuh oleh tanganmu, tahulah aku bahwa engkau benar-benar telah bertaubat dan bahwa agamamu adalah agama yang benar”.

 Fudhail memohon kepada seseorang “Demi Allah, ikatlah kaki dan tanganku, kemudian bawalah aku ke hadapan sultan agar ia mengadiliku karena berbagai kejahatan yang pernah kulakukan”.

Orang itu memenuhi permohonan Fudhail. Ketika sultan melihat Fuzail, terlihatlah olehnya tanda-tanda manusia berbudi pada dirinya.
“Aku tidak dapat mengadilinya”, sultan berkata. Kemudian ia memerintahkan agar Fudhail diantarkan pulang dengan segala hormat dan ketika sampai di rumahnya Fuzail mengeluarkan sebuah tangisan yang keras.
“Dengarlah Fudhail yang sedang berteriak-teriak itu! Mungkin ia sedang disiksa”, orang-orang berkata.
“Memang benar, aku sedang disiksai”, Fudhail menjawab.
“Apamukah yang dipukuli?”, mereka bertanya.
“Batinku!”, jawab Fudhail.
Kemudian Fudhail menjumpai isterinya. “Isteriku”, katanya,
“aku akan pergi ke rumah Allah. Jika engkau suka, engkau akan kubebaskan”.
Tetapi isterinya menjawab: “Aku tidak mau berpisah dari sisimu. Ke mana pun engkau pergi aku akan menyertaimu”.
Maka berangkatlah mereka ke Mekkah. Allah Yang Maha Kuasa telah menggampangkan perjalanan mereka. Di kota Makkah mereka tinggal di dekat Ka’bah dan dapat bertemu dengan beberapa orang-orang suci. Untuk beberapa lama Fuzail bergaul rapat dengan imam Abu Hanifah.

Dan mengenai kekerasan disiplin diri Fudhail telah banyak kisah-kisah yang dituliskan orang. Di kota Mekkah ini terbukalah kesempatan bagi Fudhail untuk berkhotbah dan penduduk kota senantiasa berbondong-bondong untuk mendengarkan kata-katanya. Nama Fudhail segera menjadi buah bibir di seluruh pelosok dunia, sehingga sanak keluarganya meninggalkan Bavard menuju Mekkah untuk menemuinya. Mereka mengetuk pintu rumah Fudhail namun Fudhail tidak menjawab. Mereka tidak mau meninggalkan tempat itu, maka naiklah Fudhail ke atap rumahnya dan dari sana ia berseru kepada mereka:
“Wahai penganggur-penganggur, semoga Allah memberikan pekerjaan kepada kalian!”.
Berkali-kali Fudhail mengucapkan kata-kata pedas seperti itu sehingga semua sanak keluarganya menangis dan lupa diri. Akhirnya karena putus asa untuk dapat bercengkerama dengan Fudhail, mereka pun meninggalkan tempat itu. Fudhail masih tetap di atas atap dan tidak mau membukakan pintu rumahnya.