Catatan Popular

Memaparkan catatan dengan label Bertarekat Bertasawwuf. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Bertarekat Bertasawwuf. Papar semua catatan

Sabtu, 8 Oktober 2011

CARA BERABITHAH DALAM BERTAREKAT

Pengertian dan Cara Berabithah

Adalah merupakan suatu pandangan umum jika kita mengatakan bahawa akal dengan pemikiran positifnya dan juga negatifnya akan mempengaruhi manusia melakukan amal perbuatan selaras dengan apa yang difikirkannya. Ketika seseorang membayangkan fikiran yang kotor/negatif, maka bayangan itu akan mengantarkannya kepada perkara yang tidak suci. Sebaliknya memantapkan suatu bayangan positif dalam alam fikirannya akan mendorongnya kepada amal perbuatan yang bermanfaat. Kerana manusia adalah makhluk yang diberi cahaya akal untuk berfikir maka langkah awal adalah berfikir baru menerapkan kepada tindakan.

Manakala bayangan fikiran yang tak semestinya memasuki kedalaman hati manusia, maka fikiran-fikiran negatif dan syaitani akan menyebar benih, yang akan memusnahkan tanaman-tanaman indah hati. Tempatnya kemudian diganti dengan bayangan fikiran jahat. Pada akhirnya hasil-hasil fikiran jahat ini mempersiapkan manusia untuk melampiaskan berbagai bentuk kejahatannya, yang akan menghitamkan hati serta menghancurkan seluruh hidupnya.

Bayangan fikiran itu seperti pohon berkembang yang beransur-ansur, dan boleh menghasilkan buah yang manis atau pahit. Suatu bentuk bayangan fikiran yang baik adalah merupakan benih yang akan menghasilkan buah perbuatan yang baik dan harum. Dengan senantiasa memelihara bayangan fikiran yang baik, seiring berlalunya waktu, mereka melarikan akar-akar mereka di seluruh penjuru jiwanya dan tumbuh menjadi pohon besar dan kuat.

Melakukan rabithah diumpamakan seperti bercermin. Di hadapan cermin aplikasi perbuatan menyesuaikan diri dengan objek yang ada di hadapannya. Meskipun sifat atau karakter manusia yang telah terbentuk sulit diubah, tetapi apabila orang melakukan usaha-usaha yang tekun untuk menghapus ciri-ciri yang tak diinginkan itu maka keutamaan dan kebajikan secara beransur-ansur menghampirinya. Untuk itu diperlukan pusat perhatian kepada nilai-nilai kebaikan/terpuji, termasuk bayangan kepribadian yang boleh menjadi self-suggestion di setiap waktu dan tempat.

Rabithah ertinya ikatan atau berhubungan, yang bererti proses terjadinya hubungan atau ikatan ruhaniyah antara seorang murid dengan Guru Mursyidnya. Mengikat atau menghubungkan diri dengan Ilahiyah seperti yang diungkapkan Al-Quran:

"Wahai orang-orang yang memiliki iman, bersabarlah! jadikanlah kesabaran atasmu, berabithahlah (agar diteguhkan), dan takutlah kepada Allah, mudah-mudahan engkau termasuk orang-orang beruntung". (QS. Ali Imran[3]: 200)

Melakukan rabithah mengandung makna menghadirkan/ membayangkan rupa Syeikh atau Guru Mursyidnya yang Kamilah di dalam fikiran ketika hendak melaksanakan ibadah, lebih khusus ketika berdzikir kepada Allah Ta'ala.

Menurut beberapa Ulama sufi, berabithah itu lebih utama daripada zikirnya seorang Salik. Melaksanakan rabithah bagi seorang murid lebih berguna daripada zikirnya, kerana Guru itu sebagai perantara dalam wushul ke hadirat Allah Jalla wa ‘Alaa bagi seorang murid. Apabila bertambah rasa dekat dengan gurunya itu, maka akan semakin bertambah pula hubungan batinnya, dan akan segera sampai kepada yang dimaksud, yakni makrifat. Dan bagi seorang murid harus Fana dahulu kepada Guru Mursyidnya, sehingga akan mencapai Fana dengan Allah Ta'ala".[1]
 
Menurut Syekh Muhammad bin Abdulah Al-Khani Al-Khalidi dalam kitabnya Al-Bahjatus Saniyyah hal. 43, berabithah itu dilakukan dengan 6 (enam) cara:

1. Menghadirkannya di depan mata dengan sempurna.

2. Membayangkan di kiri dan kanan, dengan memusatkan perhatian kepada ruhaniyahnya sampai terjadi sesuatu yang ghaib. Apabila ruhaniyah Mursyid yang dijadikan rabithah itu tidak lenyap, maka murid dapat menghadapi peristiwa yang akan terjadi. Tetapi jika gambarannya lenyap maka murid harus berhubungan kembali dengan ruhaniyah Guru, sampai peristiwa yang dialami tadi atau peristiwa yang sama dengan itu, muncul kembali. Demikianlah dilakukan murid berulang kali sampai ia fana dan menyaksikan peristiwa ghaib tanda Kebesaran Allah. Dengan berabithah, Guru Mursyidnya menghubungkannya kepada Allah, dan murid diasuh dan dibimbingnya, meskipun jarak keduanya berjauhan, seorang di barat dan lainnya di timur. Selain itu akan membentenginya dari fikiran-fikiran yang menyesatkan sehingga memicu pintu ruhani yang batil memasuki dirinya (baik ruhani-ruhani ataupun i'tikad-i'tikad yang batil),

3. Mengkhayalkan rupa Guru di tengah-tengah dahi. Memandang rabithah di tengah-tengah dahi itu, menurut kalangan ahli Thariqat lebih kuat dapat menolak getaran dan lintasan dalam hati yang melalaikan ingat kepada Allah Ta'ala.

4. Menghadirkan rupa Guru di tengah-tengah hati.

5. Mengkhayalkan rupa Guru di kening kemudian menurunkannya ke tengah hati. Menghadirkan rupa Syekh dalam bentuk keempat ini agak sukar dilakukan, tetapi lebih berkesan dari cara-cara sebelumnya.

6. Menafikan (meniadakan) dirinya dan mentsabitkan (menetapkan) keberadaan Guru. Cara ini lebih kuat menangkis aneka ragam ujian dan gangguan-gangguan.

Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin, karangan Sayyid Abdurrahman bin Muhammad disebutkan: "Perkataan seorang mukmin yang menyeru ‘Wahai Fulan' ketika di dalam kesusahan, termasuk dalam tawasul yang diseru kepada Allah. Dan yang diseru itu hanya bersifat majaz bukan hakikat. Makna ‘Wahai Fulan! Aku minta dengan sebabmu pada Tuhanku, agar Dia melepaskan kesusahanku atau mengembalikan barangku yang hilang dariku, yang diminta dari Allah SWT. Adapun yang diucapkan kepada Nabi/Wali menjadi sebagai majaz (kiasan) dan penghubung, maka niat meminta kepada Nabi/Wali hanyalah sebagai sebab saja.

Dan diucapkan pada syara' dan adat, contohnya adalah seperti permintaan tolong kita kepada orang lain: ‘tolong ambilkan barang itu'. Maka apa yang sebenarnya adalah kita meminta tolong dengan sebab orang tadi, hakikatnya Tuhan Yang Kuasa atas segala sesuatunya. Apabila kita meyakini orang itu mengambil sendiri secara hakikatnya, maka barulah boleh dikatakan syirik. Maka begitu pulalah berabithah itu sebagai sebab yang menyampaikan bukan tujuan.

Berbicara mengenai sebab, telah banyak ayat Al-Quran dan Hadits Qudsi yang menyatakan bahwa segala perkara yang diperlukankan manusia dan makhlukNya didapati dan dikaruniakan oleh Allah Yang Kuasa, apakah itu makanan, minuman, pakaian, rezeki, kesembuhan, dan sebagainya. Maka untuk kesemuanya itu perlu adanya sebab yang menyampaikan. Penyampaiannya boleh cepat atau lambat. Dan seseorang yang menerima rezeki dari seseorang lainnya, sepatutnyalah berterima kasih kepadanya sebagai adab atas penyampaian rezekinya itu. Begitu pulalah seseorang meminta akan sesuatu hanya kepada sahabat atau lainnya, tentu ada adab-adab atau tatacara tertentu yang harus dilakukan, agar hajatnya itu terpenuhi sesuai dengan kehendaknya. Dan tidak hanya lahiriyyah saja, perkara-perkara ruhaniyahpun memiliki adab atau tatacaranya, agar tercapai penyampaian maksudnya ke Hadhirat Allah Yang Suci.

Maka penyampaian kehendak seseorang hamba kepada lainnya, yakni yang memerlukan sesuatu selain Allah adalah suatu bentuk majaz bukan hakikat. Kalau ia beri'tiqad memohon secara hakikat, maka jadilah syirik yang menyekutukan Tuhannya.

Syekh Muhammad Amin Al-Kurdi Al-Irdibiy Rhm. mengatakan:

"Sesungguhnya rasa dekat dengan Syekh Mursyid bukan kerana dekat zatnya, dan bukan pula kerana mencari sesuatu dari peribadinya, tetapi kerana mencari hal-hal yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya (kedudukan yang telah dilimpahkan Allah atasnya) dengan mengi'tiqadkan (meyakini) bahwa yang membuat dan yang berbekas hanya semata-mata kerana Allah Ta'ala seperti orang faqir berdiri di depan pintu orang kaya dengan tujuan meminta sesuatu yang dimilikinya sambil mengi'tiqadkan bahwa yang mengasihi dan memberi nikmat hanya Allah yang mempunyai gudang langit dan bumi, serta tidak ada yang menciptakan selain dari-Nya. Alasan ia berdiri di depan pintu rumah orang kaya itu kerana ia meyakini bahwa di sana ada salah satu pintu nikmat Allah yang mungkin Allah memberikan nikmat itu melalui sebab orang kaya itu". (Tanwirul Qulub : 527)

Dalam kitab Mafaahiim Yajiibu an Tus-haha karangan Syekh Muhammad ‘Alawi Al-Maliki Al-Hasani bahwa Al-Hafizh Ibnu Katsir menyebutkan:

"Sesungguhnya syi'ar kaum muslimin dalam peperangan Yamamah adalah: ‘Wahai Muhammad! (tolonglah kami)".

Rasulullah SAW bersabda:

"Jika telah menyesatkan akan kamu sesuatu atau ingin minta pertolongan, sedangkan dia berada di satu bumi yang tidak ada padanya kawan, maka hendaklah dia berkata: ‘Wahai hamba Allah, tolonglah aku!' Maka sesungguhnya bagi Allah itu ada hamba-hamba yang tidak dapat dilihat. Dan sungguh terbuktilah yang demikian itu". (HR. Thabrani)
Dan lagi sabda Rasulullah SAW:

"Sesungguhnya Allah memiliki malaikat selain Hafazhah yang menulis apa-apa yang jatuh dari pohon. Maka apabila menimpa kepincangan di bumi yang luas, hendaklah dia menyeru: ‘Tolong aku, wahai hamba Allah". (HR. Thabrani)
Firman Allah menyebutkan:

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya".
(QS. An-Nisa‘[4]: 59)
Ulil Amri yang kita patuhi adalah orang yang menjalankan syari'at Islam, bukan orang yang di luar kriteria itu, dan bukanlah pemimpin yang membawa kepada selain sistem yang diajarkan Nabi kita SAW.

Dikisahkan ketika anak-anak Ya'qub As. merasa bersalah (kerana berusaha mencelakakan Yusuf As.), mereka semua menghadap orang tuanya, dan memohon kepada Ya'qub As.

"Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)". Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Pengampun lagi Penyayang (kepada seluruh hamba-Nya)". (QS. Yusuf[12]: 96-98).

Inilah salah satu bukti bahwa permohonan do'a ampunan tidak hanya dilakukan si pemohon, tapi dapat dimintakan tolong kepada seseorang yang dianggap soleh atau dekat kepada Allah SWT.

BERTAWASSUL DALAM BERTAREKAT

Mereka yang Bertawasul (Mutawassilun)

(i) Rasulullah juga bertawasul
Bertawasul itu ternyata bukanlah semata-mata sebagai ilmu atau amalan yang dikembangkan oleh orang-orang yang berthariqat saja, tetapi Rasulullah SAW sendiri bertawasul, dan semua umat Islam bertawasul di dalam solatnya (yakni ketika bertasyahud). Kenyataan ini membuktikan bahwa landasan bertawasul tidak hanya menggunakan pijakan hadits Nabi yang perjalanannya sering diragukan keberadaannya (shahih atau tidak). Bahkan kaedah keshahihan menurut jumhur Ulama mulai dipermasalahkan oleh umat Islam sekuler.

Kita membaca do'a tasyahud dengan bacaan berikut:

"Yaa Allah berikan limpahan selawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah berikan itu semua kepada Nabi Ibrahim beserta keluarganya".


Dasar bertawasul yang dikemukakan di sini berdasarkan fakta peribadatan yang selalu kita lakukan sehari-hari. Rasulullah secara pribadi juga mengucapkan lafal yang sama dengan kita, bertawasul dengan maqam peribadi beliau yang telah ditentukan ketinggiannya di sisi Alah SWT.

Satu tela'ah lagi jika kita mahu merenung, yaitu tentang keberadaan Nabi Ibrahim dalam kalimat tasyahud tersebut. Beliau As yang memiliki rentang waktu ratusan abad sebelum Nabi kita SAW masih tetap dijadikan sosok utama di antara para Nabi/Rasul lainnya. Hal ini dikeranakan dari sulbi beliau melahirkan generasi para Nabi setelahnya yang sambung menyambung hingga kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalam pribadi Nabi Ibrahim As itu ternyata memiliki tauladan bagi orang-orang sesudahnya berkenaan masalah ketauhidan, yakni teguh dalam mempertahankan keyakinannya.

Demikian pula tersebut dalam suatu do'a Nubuwwah-nya beliau SAW pernah bersabda:
"Yaa Allah, sesungguhnya aku bermohon kepada Engkau dengan haq orang-orang yang bermohon kepada Engkau".

(ii) Para Nabi terdahulu melakukan tawasul

Ketika anak-anak Ya'qub As. merasa bersalah (kerana berusaha mencelakakan Yusuf As.), mereka semua menghadap orang tuanya, dan memohon kepada Ya'qub As.

"Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)". Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Pengampun lagi Penyayang (kepada seluruh hamba-Nya)". (QS. Yusuf[12]: 96-98).
 Inilah salah satu bukti Tawasul yang dilakukan pada masa dahulu.

(iii) Para sahabat bertawasul

Diriwayatkan oleh Utsman bin Hunaif: ‘Seorang lelaki tua datang kepada Rasulullah dan berkata: ‘Mohonkanlah kepada Allah agar menyembuhkanku'. Nabi SAW bersabda: ‘Jika engkau menghendaki aku akan mendo'akanmu, tapi jika engkau mau bersabar, maka itu lebih baik bagimu'. Orang itu berkata: ‘Do'akanlah!' Nabi kemudian memerintahkannya berwudhu dengan baik lalu solat 2 raka'at, dan membaca do'a: ‘Ya Allah, aku memohon kepadaMu dengan perantara NabiMu, Muhammad, Nabi Rahmat. Wahai Muhammad, dengan perantaraanmu aku memohon kepada Tuhan Allah agar mengabulkan hajatku. Ya Allah, terimalah syafa'atnya untukku....]

(iv) Orang-orang Yahudi pernah bertawasul dengan Nabi SAW

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan setelah datang kepada mereka Al-Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka], padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la'nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu". (Q.S. Al-Baqarah[3]: 89)
Berkata Ibnu ‘Abbas Ra.: Orang-orang Yahudi Khaibar pada masa dahulu memerangi suku Ghathafan, tetapi setiap bertempur, Yahudi menderita kekalahan. Merekapun berlindung dan memanjatkan do'a:

"Yaa Tuhanku, sesungguhnya kami memohon dengan haq (kebenaran) Nabi yang Ummy, yang dijanjikan kepada kami akan datang kepada kami di akhir zaman, agar Engkau menolong kami mengalahkan mereka (musuh kami)".

Setiap bertempur mereka berdo'a seperti ini sehingga akhirnya berhasil mengalahkan suku Gathafan. Namun setelah Nabi Muhammad SAW diutus kepada mereka, mereka (orang-orang Yahudi itu) mengingkarinya. Maka turunlah ayat tersebut di atas yang menyebabkan laknat Allah turun atas mereka (orang-orang Yahudi).

Dalam riwayat lainnya diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim, dari Said atau Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa orang-orang Yahudi Madinah biasa memohon kemenangan terhadap orang-orang Aus dan Khazraj atas nama kedatangan Rasulullah SAW sebelum kebangkitannya. Maka setelah Allah membangkitkannya dari golongan Arab, mereka kafir kepadanya dan membantah apa yang pernah mereka katakan mengenainya. Maka kata Muadz bin Jabal, Bisyr bin Barra, dan Daud bin Salamah kepada mereka: "Hai golongan Yahudi, takutlah kamu kepada Allah dan masuk Islamlah! Bukankah kalian selama ini meminta kedatangan Muhammad untuk membantu kamu terhadap kami, yakni sewaktu kami berada dalam kemusyrikan, kamu katakan bahwa ia akan dibangkitkan bahkan kamu lukiskan sifat-sifatnya!" Jawab Salam bin Misykum: "Ia tidak membawa ciri-ciri yang kami kenal, dan dia bukanlah seperti yang kami sebutkan kepadamu dulu". Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas.

(v) Para Ulama yang bertawasul
Banyak para Ulama yang mengamalkan tawasul, sehingga tidak mencukupi untuk dibentangkan di dalam tulisan yang terbatas ini. Namun cukup kiranya kami ungkapkan beberapa di antaranya, yaitu:

1. Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi, dalam permulaan kitabnya yang bernama Nafahat Syarah Waraqat disebutkan:

"Berkata saya Ahmad bin Abdillah al Khatib yang faqir kepada Allah, Tuhan yang memperkenankan do'a, Tuhan yang diharapkan ma'af dan ampunan-Nya, dengan kebesaran Rasul-Nya yang dikasihi".

2. Syekh Sayid Bakri Syatha (w. 1310 H), di akhir kitabnya I'anatut Thalibin menyebutkan:

"Saya tunduk merendah diri kepada Allah dan saya memohon karunia-Nya, bertawasul dengan Nabi-Nya yang mulia, supaya karangan ini berfaedah sebagaimana faedah yang telah dicapai oleh asalnya ...... "

3. Syekh Nawawi al Bantani, menyebutkan di akhir kitabnya Tijanud Darari:
"Dan kepada Allah saya bermohon dan dengan Nabi-Nya saya bertawasul, supaya dijadikan-Nya kitab ini ikhlas bagi wajah-Nya yang mulia".

Pengarang kitab Khulashatul Wafa mengatakan bahwa:

"Bahwasanya tawasul dan tasyaffu' (meminta syafa'at) dengan Nabi Muhammad dan dengan kebesaran-nya, dan dengan barakahnya adalah sunnah Rasul-rasul dan amal Ulama-ulama Salaf yang saleh".

MELIHAT WAJAH ULAMA’ DALAM BERTAREKAT

Keutamaan memandang wajah ulama

Mata yang memandang mempunyai pengaruh kuat dan berdampak signifikan terhadap aktiviti batiniyyah kita. Begitu kuatnya pengaruh itu sehingga mempengaruhi kekhusyu'kan seseorang untuk beribadah kepada Allah Ta'ala. Syekh Thahir bin Saleh Al-Jazairi dalam kitabnya: Jawahirul Kalamiyah menguraikan sebuah permasalahan:

‘Bagaimana mata mempunyai pengaruh, padahal mata itu hanya termasuk bahagian badan manusia yang lembut dan tidak ada hubungannya dengan sesuatu yang dilihat, dan tidak ada sesuatu yang keluar dari mata itu yang berhubungan dengan sesuatu yang dilihat?' Maka dijawab bahwa tidak ada yang menghalangi jika sesuatu yang lembut itu mempunyai pengaruh yang kuat, dan tidak diisyaratkan bahwa adanya pengaruh itu harus ada hubungannya, kerana sesungguhnya kita lihat sebahagian manusia yang mempunyai kewibawaan dan kekuasaan bila melihat kepada seseorang dengan pandangan yang mengandung amarah, kadang-kadang menyebabkan yang dipandang itu ketakutan dan gemetar, malah boleh menyebabkan kematiannya. Padahal pada lahirnya ia tidak memasukkan sesuatu pada yang dilihatnya dan tidak terjadi antara yang mempengaruhi dan yang dipengaruhi hubungan ataupun sentuhan. Kalau magnet mempunyai kekuatan dapat menarik besi padahal tidak ada hubungan antara magnet dan besi yang ditariknya itu dan tidak keluar sesuatu yang dapat menyebabkan menariknya itu. Bahkan benda-benda yang lembut lebih besar pengaruhnya daripada benda-benda yang kasar. Kerana sesungguhnya perkara-perkara yang besar adalah timbul dari kuatnya kehendak dan niat, sedangkan kehendak dan niat itu termasuk hal yang tidak tampak. Maka tidak menghairankan kalau mata mempunyai pengaruh terhadap yang dipandangnya sekalipun mata itu sangat lembut, dan tidak ada hubungan atau sesuatu yang keluar dari mata itu.

Kekuatan dan kecepatan pengaruh mata dalam memandang telah disinggung oleh Nabi SAW dalam suatu riwayat dari Ibnu Abbas Ra.:

"Pandangan mata adalah suatu kebenaran. Jika ada sesuatu yang dapat mendahului taqdir (ketetapan Allah), maka sungguh pandangan mata akan mendahuluinya". (HR. Muslim). Kerana itulah mata boleh membahayakan, seperti hipnotis, dll. dan Nabi SAW mengajarkan kepada kita suatu do'a:

"Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap syaitan, binatang buas, dan pandangan mata yang membahayakan".

Sari As-Saqathi Rhm. berkata: "Lidahmu adalah penyambung dari hatimu, dan wajahmu adalah cermin darinya. Pada wajahmu ditemukan apa yang ada di dalam hatimu"

Ketika anak-anak Ya'qub ingin pergi ke Mesir, menemui Yusuf As. yang ketika itu sudah menjadi Perdana Menteri, Ya'qub As. menasihati mereka:

"Hai anak-anakku, janganlah kamu bersama-sama masuk dari satu pintu gerbang, masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlainan!" (QS. Yusuf[17]: 67)
Qatadah mengatakan bahwa Ya'qub As. mengkhawatirkan mereka dari bahaya pandangan (Al-‘Ain) orang-orang yang melihat mereka kerana anak-anak Ya'qub As. tergolong orang-orang yang tampan dan berpenampilan menarik. Demikianlah Al-Quran mengisahkan tentang isyarat kuatnya pengaruh pandangan terhadap sesuatu yang diinginkan, yang difahami oleh sebahagian orang tertentu yang diberikan pengetahuan tentangnya.

Keutamaan pandangan kepada wajah seorang Ulama banyak sekali, di antaranya sebagaimana disabdakan oleh Nabi SAW:

"Barang siapa memandang kepada wajah orang Alim sekali dengan pandangan yang senang, niscaya Allah menjadikan pandangan tersebut malaikat yang memintakan ampun baginya hingga hari kiamat".
Imam Al-Hafizh Al-Mundziri meriwayatkan sebuah hadits dari 40 hadits berkenaan dengan keutamaan menuntut ilmu, yakni bersabda Rasulullah SAW:

"Pandangan sekali kepada orang Alim lebih Allah cintai daripada ibadah 60 tahun, berpuasa siang harinya dan berdiri ibadah pada malamnya". Kemudian sabda beliau SAW: "Jika tiada Ulama niscaya binasa (celaka)lah umatku".
Hadits tersebut menunjukkan betapa besarnya keutamaan memandang wajah orang Alim secara lahiriyyah, dikeranakan seseorang yang melakukannya akan mendapat pengaruh kekhusyu'kan dan ketenangan hati sehingga mendorongnya kepada Hubbul Akhirah. Tidak semua Ulama dikategorikan seperti makna hadits di atas, kerana kata ‘Ulama' menggunakan Isim Makrifah (Al-'Ulamaa-u), yang menandakan ketertentuan/kekhususan. Tentunya Ulama yang dimaksud di sini adalah Ulama yang telah mencapai kemakrifatan yang Hakiki, dimana pancaran jiwanya mampu melenyapkan sekat-sekat yang menutupi hati. Maka Rabithah, yakni memandang wajah Syeikh dengan mata hati lebih diutamakan dan memiliki tempat yang khusus di kalangan Ahli-ahli Thariqat, sebagai penyatuan ruhaniyah seorang murid yang dhaif lagi faqir, dengan Syeikhnya yang kamil menuju Hadhrat Allah Ta'ala.

Di dalam sebuah hadits dikatakan bahwa ada sebagian ahli dzikir yang dapat menyebabkan orang lain ingat kepada Allah. Yakni dengan memandang wajahnya saja, membuat mereka teringat untuk dzikrullah. Hadits lain menyebutkan bahwa ‘Sebaik-baik orang di antara kamu ialah seseorang yang apabila orang lain memandang wajahnya, maka ia ingat kepada Allah, jika mendengar ucapannya maka bertambah ilmunya, dan jika melihat amal perbuatannya maka tertariklah pada akhirat'. Atas dasar hadits ini para pembimbing dzikir (Syekh Shufi) terdahulu sangat menganjurkan untuk senantiasa mengenang wajah Syeikhnya sebagai alat untuk mempermudah dzikir (ingat) kepada Allah SWT, dan yang demikian itu akan membuat dirinya tenggelam dalam lautan mahabbah dzikir-Nya.

Berkata Syekh Mushthafa Al-Bakri Rahimahullaahu Ta'ala:

"Dan di antara apa yang diwajibkan atas seorang murid adalah rabithah hatinya dengan Gurunya dan maknanya bahawa murid senantiasa mengekalkan atas penyaksian akan rupa Syeikhnya. Inilah merupakan syarat yang dianjurkan bagi kaum Sufi yang mewariskan kepada maqam makrifat yang tinggi". (Hidayatus Salikin)

WASILAH POKOK DALAM TAREKAT

Bila di sebut Tariqat maka Mursyid adalah perkara yang amat mustahak. Tariqat ialah perjalanan menuju Allah Ta'ala manakala mursyid lah yang memimpinnya ke arah tujuannya itu. Kalau Tariqat di ibaratkan sebagai sampan manakala Mursyid pula di ibaratkan sebagai nakhodanya yang memimpin haluan sampan tersebut. Kedudukan Mursyid di dalam sesebuah jemaah tariqat tidak keterlaluan katakan adalah ibarat nyawa bagi sebuah jasad. Tidak hairanlah ada ahli sufi yang berpendapat : "Rahsianya(intipati perjalanan tariqat) itu adalah pada masya'ih bukannya pada zikir". Dan berkata Syeikh Tajaldin Naqsyabandi dan perkataan ulama-ulama sufi yang lain juga ada menyatakan senada dengannya iaitu : "Barang siapa tiada baginya syeikh(guru mursyid) maka syaitanlah syeikhnya". Perkataan di atas merujuk kepada guru kerohanian yakni yang menjalani jalan tariqat keruhanian.

Seseorang yang ingin bertariqat mungkin kurang di dedahkan atau tak tahu menahu kepentingan peranan salasilah. Sedangkan berguru tariqat yang tidak bersambung salasilahnya dengan ulama-ulama asalnya sehingga bersambung dengan Rasulullah s.a.w. hukumnya haram kerana terputus wasilah dalam menyampaikan matlamat.Sebab itu bukan mudah untuk kita berguru dengan seseorang kecuali telah di buktikan bahawa guru yang kita anggap sebagai guru itu memiliki sanad salasilah tariqat yang mutashil(bersambung) sehingga Rasulullah s.a.w. di samping kita melihat kepada faktor-faktor lain yang selari dengan adab syariat dan adab tariqat.


Apakah yang di maksudkan dengan salasilah tariqat dan mengapa salasilah tariqat itu penting ?

Seseorang yang di anggap mursyid ialah seseorang yang telah berguru sebelumnya dengan gurunya terdahulu dan sehinggalah bersusun sampailah kepada tabi'in kepada sahabat dan akhirnya bertemu kepada Rasulullah s.a.w. dan mestilah di dokumenkan dalam bentuk bertulis dan di sahkan oleh gurunya yang terdahulu dengan ‘memberi izin' bagi menjalankan atau menyebarkan tariqat tersebut serta mahsyur sanadnya mengikut adab tariqat.


Salsilah ini penting kerana beberapa sebab iaitu :

i. bagi menentukan seseorang murid menerima keberkatan (kesan ruhaniah) atau limpahan ruhani yang bersambung dengan syeikhnya itu terus bersambung sehinggalah persambungannya itu benar-benar dari puncanya yang sebenar dan teratasnya iaitu Rasulullah s.a.w. Sekiranya salasilahnya terputus atau tiada memiliki sanad salasilah yang sah maka bagaimana seseorang itu dapat menerima limpahan keberkatan imdad bir ruhaniah dari segala masya'ih yang terdahulu sehingga Rasulullah s.a.w yang dengannya menyampaikan kita kepada jazbah fillah(tarikan kepada Allah iaini zuk fana'fillah dan baqo'billah).

ii. Bagi yang terputus wasilah ruhaniahnya maka terputuslah apa yang di panggil rabithah mursyid(pertalian mursyid).Jika tiada baginya rabithah mursyid maka tiada terpelihara perjalanannya itu daripada tercedera terhadap gangguan musuh-musuh batin seperti iblis, syaitan jin dan segala perkara yang membahayakan perjalanan ruhaninya khususnya dalam meniti perjalanan di alam malakut.Sebab itu kita dengar bahaya-bahaya penipuan di alam ruhani yang sering kita dengar seperti membesarkan diri mengakui diri sudah capai ke martabat wali,martabat sultanul auliya, sudah dapat tahap yang tinggi dan suka menggelar diri , taa'sub , sudah pandai menilik dan di katanya sudah dapat kasyaf , pandai mengubat kerana sudah disangkanya dapat maunah dan akhirnya melalutlah kepada gila dan sebagainya. Sedangkan rukun bagi seseorang mursyid atau khalifah itu ialah sangat merendahkan diri (tawadhu') bagaimana pula dia nak mengaku dirinya lebih atau macam-macam lagi.Satu perkara lagi sifat orang yang terputus sanadnya iaitu suka kondem orang lain yang nyata kondemnya itu tidak jujur dan terlalu taasub dengan amalannya saja kononnya amalannya yang sah , betul dan orang lain itu semuanya tak betul kalau betul pun tak sempurna macam dia punya. Sebenarnya 2 perkara ini selalu dilakukan bagi orang yang lalai dalam zikrullah atau memang sudah ada cacat dalam perjalanannya.

iii. Sebagai bukti atau hujjah yang sah bahawa seseorang itu mendapat izin dari syeikhnya yang terdahulu bagi menyebarkan ajaran tariqatnya itu kerana sanad salsilah yang mahsyur dan mutashil dengan Rasulullah s.a.w. itu seumpama otoriti yang sangat berwibawa tanpa dapat di pertikaikan lagi dari sudut keizinan dan kelayakannya dalam memimpin murid.Dan inilah adab yang amat penting dalam tariqat.

iv. Salsilah juga adalah suatu keesahan yang menyatakan bahawa tiada berlaku perubahan atau pindaan atau saduran dari hal penyampaian ilmu Tariqat itu sendiri dan lazimnya salasilah ini di kepilkan bersama ajaran-ajaran,adab-adab serta segala keterangan maqam-maqam zikir tariqat yang di rekod bersama dari turun temurun supaya tidak berlaku sebarang penyelewengan atau di ciplak dari mana-mana ajaran yang bertentangan dengan asal .

Pesanan Ulama sufi yang muktabar dalam kepentingan mengetahui salsilah tariqat .

1. Kata Syeikh Amin Kurdi dalam kitabnya Dhiya'ul Iman :

"Ketahuilah bahawa seorang murid di jalan Allah yang mahu bertaubat dan menghilangkan sifat kelalaiannya wajiblah ia mencari seorang syeikh yang ada di zamannya. Iaitu seorang yang sempurna suluknya(perjalanannya) syariat dan haqiqat mengikut Al Qura'an dan Al Hadis juga sentiasa berpandukan para Ulama hingga sampai ke maqam ar-rijalul kamal. Syeikh itu telah sampai kepada keredhaan Allah dan suluknya juga adalah di bawah pimpinan seorang mursyid yang mempunyai persambungan salasilah hingga ke nabi s.a.w. Ia juga mestilah telah mendapat izin dari syeikhnya untuk menyampaikan ajarannya kepada orang lain. Ia juga mempunyai ilmu dan makrifah yang benar dan bukan jahil dan bukan kerana di dorong oleh keinginan nafsu dirinya.Oleh yang demikian syeikh yang arif yang mempunyai persambungan salasilah itu adalah merupakan wasilah kepada Allah bagi seseorang murid itu. Syeikh itulah juga merupakan pintu menuju kepada Allah yang akan di lalui oleh murid itu. Sesiapa yang tiada mempunyai syeikh yang memimpin dan mengasuhnya maka syeikhnya adalah syaitan".


2. Katanya lagi :

" Tidaklah boleh seseorang itu membuat bai'ah dan memimpin para murid kecuali setelah ia mendapat tarbiyah dan ke izinan mursyidnya seperti yang di tegaskan oleh para masya'ih. Orang yang berbuat kerja demikian itu padahal ia bukan ahlinya yang sebenar , akan lebih banyak merosakkan dari memberi kebaikan. Ianya akan menanggung dosa sebesar dosa seorang perompak kerana ia telah memisahkan murid dari syeikh yang arif sebenarnya".


3. Berkata Syeikh Amin Al Kurdi dalam kitab Dhiya'ul Iman fi Thariqah Ar Rahman pada membicarakan kepentingan salsilah iaitu:

"Adalah sangat wajar bagi para murid di jalan Allah itu untuk mengetahui salasilah para syeikh mereka itu hingga sampai kepada nabi Muhammad s.a.w. Bila kedudukan syeikh mereka jelas dan benar ada persambungan salasilah hingga kepada nabi s.a.w. maka jika para murid itu mahu mendapatkan pertolongan limpahan ruhaniah dari syeikh mereka itu mereka akan berhasil apa yang dimaksudkan . Orang yang salasilahnya tidak bersambung hingga kepada nabi s.a.w. maka orang itu adalah terputus dari limpahan ruhaniah tersebut. Oleh itu orang itu bukanlah menjadi waris bagi Rasulullah s.a.w. dan TIDAK boleh di ambil bai'ah dan ijazah daripadanya".



4. Kata Syeikh Abdul Wahab Asy Syaroni di dalam kitab Madarijus Salikin :

"Hai para murid ! Semoga Allah memberikan keredhaan Nya kepada kami dan kamu. Sesungguhnya orang yang tidak mengetahui bapanya dan datuknya di dalam jalan ini (ilmu Tariqat) ,maka ia adalah buta. Mungkin jua orang yang tersebut di nasabkan(di binkan) kepada orang lain yang bukan bapa sebenarnya. (jika begitu) maka bermakna ia termasuk ke dalam apa yang di sabdakan oleh nabi s.a.w. : ‘Allah melaknat orang yang dinasabkan kepada orang lain yang bukan bapanya yang sebenar".

Maksud bapa dan datuknya ialah para guru-guru yang terdahulu (para masya'ih) kerana guru mursyid kita ialah bapa ruhani manakala guru kepada guru kita adalah datuk ruhani kepada kita sehingga lah seterusnya sampai kepada Rasulullah s.a.w. iaitu sumber segala ruhani yakni benih sekelian alam dan induk rahmat Allah Ta'ala dengannya melimpah sekelian rahmat Allah atas setiap kejadian.


5. Kata Syeikh Abdul Qadir Al Jilani dalam kitabnya Sirrul Asrar :

"Syeikh Abdul Qadir Al Jilani berkata : Sahabat r.a. adalah ahli jazbah(ahli tarikan batin) kerana kekuatannya menemani nabi s.a.w. Tarikan batin tersebut menyebar kepada syeikh-syeikh tariqat dan bercabang lagi pada salasilah yang banyak sehingga semakin melemah dan terputus pada kebanyakkan umat, yang tinggal adalah orang-orang yang meniru-niru sebagai syeikh tanpa makna kedalaman dan tersebarlah kepada ahli-ahli bid'ah". Ini menunjukkan ‘karan' atau jazbah fillah akan turun kepada kita melalui susur jalur salasilah tariqat.


6. Kata Syeikh Abdul Qadir Al - Jilani lagi :

"Bagaimana cara menentukan Tasawuf yang benar ? Caranya dengan dua macam : (Pertama) lahiriahnya(Kedua) Batinnya.Lahiriahnya memegang teguh pada aturan syariat dalam perintah mahupun larangan.Batinnya mengikuti jalur suluk dengan pandangan hati yang jelas bahawa yang di ikuti adalah nabi s.a.w. dan nabi s.a.w. merupakan perantara antara dia dengan Allah.Dan antara dia dengan nabi adalah ruh ruhani Nabi Muhammad s.a.w. yang mempunyai jismani pada tempatnya dan ruhani pada tempatnya, sebab syaitan tidak akan menjelma menjadi nabi dan itu merupakan isyarat pada orang - orang salikin agar perjalanan mereka tidak dalam keadaan buta. Pada fasal ini terdapat tanda-tanda yang sangat halus untuk membezakan mana golongan yang benar dan yang salah , yang tidak dapat di temukan kecuali oleh ahlinya".


Maksud di atas ialah bagi menentukan tasawuf yang benar ialah zahirnya mengikut syariat dan batinnya mengikut jalur suluk (yakni perjalanan yang berantai salasilah sehingga berakhir kepada nabi s.a.w.) supaya hingga jelas hati murid mempertemukan kepada nabi Muhammad s.a.w. dan Nabi sebagai washitah(perantara) yang menyampaikan kepada Allah iaini makrifat terhadap Allah dengan sebenarnya.Kerana jika terputus salasilah bererti terputuslah wasilah dan akibatnya akan kelirulah perjalanannya dan payahlah seseorang itu membezakan dapatan ruhaniah yang haq dengan yang batil kerana perkara ini amat lah halus lagi sukar.Jangan di kata cahaya itu lah diri dan jangan disangka bayang itulah sebenar.Jangan dikata zauk itulah muktamad kerana syaitan masih boleh memberikan rasa zauk dan segala pembukaan yang palsu ! Maka berlindunglah kita kepada Allah dari segala tipudaya makhlukNya.Maka tiada yang mengetahuinya melainkan ahlinya yang berjalan mereka itu mengikut akan mengikut orang yang mengikut akan nabi s.a.w. pada zahir (syariat)dan batinnya(rabithah ruhaniah yakni tariqat yang menyampaikan haqiqat).Bak kata perpatah : Jauhari jua yang mengenal manikam.
SIMPULAN

Justru itu hendaklah kita fahami bilamana di katakana ‘Tariqat' maka disana ada di dalamnya beberapa perkara yang tidak terpisah ibarat ‘irama dan lagunya' iaitu :

1. Mursyid berkait dengan
2. salsilah dan keizinan berkait dengan
3. rabithah ruhaniah(pertalian) berkait dengan
4. adab-adab berkait dengan
5. zikir dan maqam-maqamnya berkait dengan
6. muraqabah dan musyahadah terhadapNya

Kesemuanya ini adalah wasilah pokok dalam Tariqat dan keenam-enam inilah di panggil ‘Tariqat'. Ke enam-enam perkara di atas juga ada yang di zahirkan dan di dokumentasikan dan ada yang di batinkan yakni tidak di nyatakan atau tidak di dokumentasikan khusus yang berkait dengan dapatan atau penemuan ruhaniah yang menjadi adab supaya tidak dinyatakan. Namun perkara seperti salasilah dan ke izinan adalah perkara yang wajib di nyatakan supaya di ketahui akan nasab ruhaniahnya dan supaya tidak kita di anggap anak yang tiada bernasab seperti yang dinyatakan oleh Syeikh Abdul Wahab Asy Syaroni r.h dan yang lebih di takuti kita menyeleweng dari usul dan kaedah kaum sufi secara tidak kita sedari.

Tidak ada keringanan dalam perkara salasilah ini , jangan pula ada pihak yang berkata salasilah ini tak penting yang pentingnya ialah haqiqatnya atau makrifatnya. Jika ada pihak yang berkata begitu , terus segera tinggalkan orang itu kerana orang itu telah mengajar suatu pemahaman yang tidak betul yakni menyalahi usul mengikut kaum sufi. Kerana bagaimana buah itu lahir tanpa pokok dan benihnya ? Sebab itu kata Ulama sufi : "Barangsiapa menyalahi ushul maka diharamkan dia daripada wushul(sampai kepada makrifat Allah Ta'ala dengan makrifat sebenarnya)". Iaini barang siapa menyalahi perkara-perkara yang telah di sepakati oleh kaum sufi maka terlerai dia daripada jalan mereka.Bersama kita berlindung dengan Allah Ta'ala daripada bahaya-bahaya ini dan tipudaya makhlukNya.