Catatan Popular

Memaparkan catatan dengan label Kisah Para Sahabat. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Kisah Para Sahabat. Papar semua catatan

Selasa, 13 Oktober 2020

Doa Abu Salamah untuk isterinya

Dia juga mengikuti perang pada masa Rasulullah Saw, yakni perang badar dan perang Uhud. Bahkan Rasulullah Saw pernah mengutusnya memimpin perang yang tidak diikuti oleh beliau.

Ketika banyak cobaan dan penyiksaan dialami oleh kaum muslimin, Abu Salamah beserta istrinya Ummu Salamah ikut berhijrah meninggalkan Makkah bersama beberapa sahabat lainnya menuju ke Habasyah (sekarang disebut Ethiopia), tepatnya pada bulan Rajab tahun kelima kenabian, pada saat itu Rasulullah Saw memang mengizinkan para sahabat beliau hijrah ke Habasyah Etiopia ( Afrika).dengan membawa bekal keimanannya. Di negeri inilah Ummu Salamah melahirkan keempat anaknya.

Kemudian mereka mendengar berita bahwa Makkah telah dikuasai oleh orang muslim kemudian keduanya bersama keempat anak-anaknya kembali ke Makkah. Tetapi ternyata kabar tersebut tidakah benar, sehingga mereka kemudian harus hijrah kembali ke Madinah. Ada suatu kisah ketika mereka hendak kembali berhijrah ke Madinah. Pada saat itu keluarga dari Ummu Salamah melarang mereka untuk membawa putranya Salamah berhijrah.

Keluarga Ummu Salamah kemudian mengambil dan membawa Salamah secara paksa sampai salah satu tangan anak mereka Salamah cedera.

Peristiwa tersebut membuat Abu dan Ummu Salamah bersedih, tetapi tidak lama kemudian datanglah bantuan dari seseorang yang kasihan melihat keduanya, sehingga Salamah akhirnya bisa kembali kepangkuan kedua orang tuanya.

Setelah peristiwa tersebut, berangkatlah Abu Salamah bersama seluruh anggota keluarganya berhijrah ke Madinah dan membangun hidup berdampingan dengan Rosulullah Saw.

Tidak lama setelah mereka tinggal di Madinah, kemudian berkecamuklah perang Badar. Saat perang tersebut Abu Salamah juga ikut andil sebagai salah satu pahlawan yang gagah berani membela dan berjuang demi kebenaran ajaran Islam. Sehingga perang Badar dimenangkan oleh kaum muslimin meski dengan jumlah pasukan yang lebih sedikit dari kaum kafir. Kemudian dalam perang Uhud, kembali Abu Salamah ikut terlibat dalam kancah peperangan.

Dalam perang Uhud tersebut, Abu Salamah mendapatkan luka yang cukup serius pada lengannya karena terkena panah. Luka tersebut kemudian dapat diobati hingga satu bulan lamanya. Meski belum mendapatkan kesembuhan secara total, Abu Salamah ikut dalam barisan bersama seratus lima puluh orang lainnya ke Qathan pada bulan Muharram. Sepulangnya dari Qathan, Abu Salamah merasakan sakitnya kambuh lagi.

Dalam kondisi tersebut, Ummu Salamah sang istri terus mendampinginya hingga kemudian Abu Salamah meninggal pada bulan Jumadil Akhir tahun 4 Hijriyah di kota Madinah.

Sebelum Abu Salamah meninggal, Ummu Salamah pernah berkata kepadanya:” Aku telah mendengar bahwa seorang wanita yang suaminya tiada dan suami itu termasuk ahli surga kemudian wanita tersebut tidak menikah lagi sepeninggal suaminya, maka akan Allah mengumpulkan mereka berdua di surga.

Mari kita saling berjanji agar engkau tidak menikah lagi sepeninggalku dan akupun tidak akan menikah lagi sepeninggalmu.”   

Mendengar perkataan istrinya tersebut Abu Salamah kemudian berkata:” Apakah engkau mau taat kepadaku?” Kata Ummu Salamah “Ya.”

Abu Salamah berkata lagi “Kalau aku kelak tiada menikahlah! Ya Allah berikan pada Ummu Salamah sepeninggalku nanti seseorang yang lebih baik dari padaku yang tidak akan membuat berduka dan tidak akan menyakitinya.”

Ummu Salamah memang perempuan yang setia, setelah Abu Salamah wafat meninggalkannya, Ummu Salamah selalu berkata: “Siapakah yang lebih baik bagiku daripada Abu Salamah?”

Meninggalnya Abu Salamah memang menyisakan duka yang mendalam di hati Ummu Salamah.

Ketika Abu Salamah meninggal Rasulullah Saw melayat kematiannya dan memejamkan matanya dengan tangan Beliau. Rasulullah Saw juga memberi kabar gembira bahwa kelak Abu Salamah di mahsyar adalah yang pertama kali mendapat daftar dengan tangan kanannya.

Sepeninggal Abu Salamah, dan begitu masa iddah selesai dilaluinya, banyak para sahabat yang mengetuk pintu rumah Ummu Salamah untuk melamarnya, diantaranya adalah Abu Bakar Al-Shiddiq dan Umar bin Khattab.

Tetapi Ummu Salamah menolaknya secara baik-baik. Setelah para sahabat ini ditolak oleh Ummu Salamah, kemudian datanglah seseorang yang kembali mengetuk pintu rumahnya, tidak lain adalah Rasulullah Saw.

Beliau juga hendak meminang Ummu Salamah, kepada Rasulullah Saw, Ummu Salamah berkata: “Wahai Rasulullah sesungguh aku adalah wanita yang sudah cukup berumur dan aku juga memiliki anak-anak yatim, lagi pula aku adalah wanita yang sangat pencemburu.

Kemudian Rasulullah menjawab:”Dari segi usia aku lebih tua daripadamu, Adapun anak-anak maka Allah akan mencukupinya. Sedangkan kecemburuanmu mk aku akan berdoa kepada Allah agar Allah menghilangkannya.”

Setelah itu menikahlah Ummu Salamah dengan Rasulullah. Akhirnya doa Abu Salamah sebelum meninggal bahwa dia berharap agar istrinya dapat menikah lagi dengan orang yang lebih baik daripadanya terjawab.

Pernikahan ini sempat membuat salah satu istri Rasulullah Aisyah RA merasa cemburu.

Karena Ummu Salamah memang dikenal dengan seorang perempuan yang mempunyai paras yang cukup cantik dan menarik. Ummu Salamah adalah termasuk Ummul Mukminin (ibu dari orang-orang yang beriman), dia juga termasuk salah seorang yang banyak meriwayatkan hadis. Ummu Salamah juga orang yang diberi karunia umur yang panjang. Dia meninggal pada tahun 61 Hijriyah pada masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah di usianya yang ke 84.

Ummu Salamah meninggal tidak lama setelah mendengar kematian Husain bin Abi Thalib.

 

Abu Lubabah RA Mengikat dirinya di tiang masjid kecuali Rasulullah melepaskannya

Ketika Nabi SAW mneyiapkan pasukan ke Tabuk, ada beberapa orang tertinggal atau tidak mengikuti beliau dalam pertempuran tersebut. Sebagian besar memang orang-orang yang tertuduh sebagai kaum munafik, mereka ini berjumlah sekitar delapan puluh orang.

 Ada juga sejumlah sahabat yang tidak memperoleh tunggangan dan perbekalan untuk berangkat, seperti sekelompok sahabat yang dipimpin Abdullah bin Ma'qil al Muzanni. Termasuk juga  sepuluh orang dari Bani Muqrin. Mereka ini datang kepada Nabi SAW, tetapi beliau tidak memiliki apa-apa lagi untuk bisa memberangkatkan mereka, baik kendaraan atau perbekalan.

 

Mereka pulang dengan berlinang air mata karena tidak bisa menyertai beliau berjihad.  Namun demikian ada enam atau tujuh sahabat lainnya, yang tertinggal karena berbagai alasan yang tidak tepat, namun mereka menyadari kesalahannya ini, antara lain adalah Abu Lubabah.

 

Setelah beberapa hari berlalu sejak Nabi SAW dan pasukannya meninggalkan Madinah menuju Tabuk, Abu Lubabah beserta tiga (atau dua, dalam riwayat lainnya) temannya menyadari kesalahannya. Mereka menyesal, tetapi tidak mungkin untuk mengejar atau menyusul pasukan tersebut. Abu Lubabah berkata, "Kita di sini berada di naungan pohon yang sejuk, hidup tentram bersama istri-istri kita, sedangkan Rasulullah beserta kaum muslimin sedang berjihad…sungguh, celakalah kita…."

Tak habis-habisnya mereka menyesal, mereka yakin bahwa bahaya akan menimpa karena ketertinggalannya ini. Untuk mengekspresikan penyesalannya ini, Abu Lubabah berkata kepada kawannya, "Marilah kita mengikatkan diri ke tiang masjid, kita tidak akan melepaskan diri kecuali jika Rasulullah sendiri yang melepaskannya…!!"

Teman-temannya, Aus bin Khudzam, Tsa'labah bin Wadiah dan Mirdas (atau tanpa Mirdas, pada riwayat dua orang temannya) menyetujui usulan ini. Mereka tetap terikat pada tiang tersebut sampai Nabi SAW pulang, kecuali ketika mereka akan melaksanakan shalat. Ketika Nabi SAW pulang dari Tabuk dan masuk ke Masjid, beliau berkata, "Siapakah yang diikat di tiang-tiang masjid itu?"

"Abu Lubabah dan teman-temannya yang tidak menyertai engkau berjihad, ya Rasulullah," Kata seorang sahabat, "Mereka berjanji tidak akan melepaskan diri, kecuali jika tuan yang melepaskannya…!!"

Nabi SAW bersabda, "Aku tidak akan melepaskan mereka kecuali jika mendapat perintah dari Allah…!!"

Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa Nabi SAW bersabda tentang mereka, "Aku tidak akan melepaskannya sampai saatnya ada pertempuran lagi…!!"

Suatu hari menjelang subuh, ketika itu Nabi SAW sedang berada di rumah Ummu Salamah, tiba-tiba beliau tertawa kecil. Ummu Salamah heran dengan sikap beliau ini dan berkata, "Apa yang engkau tertawakan, Ya Rasulullah?"

"Abu Lubabah dan teman-temannya diterima taubatnya…!!" Kata Nabi SAW.

Saat itu Nabi SAW memang menerima wahyu, Surah Taubah ayat 102, yang menegaskan diterimanya taubat mereka yang berdosa karena ketertinggalannya menyertai jihad bersama Nabi SAW. Ummu Salamah berkata, "Bolehkah aku memberitahukan kepada Abu Lubabah, ya Rasulullah..?"

"Terserah engkau saja..!!" Kata Nabi SAW

Ummu Salamah berdiri di depan pintu atau jendela kamarnya yang memang menghadap masjid dan berkata, "Hai Abu Lubabah, bergembiralah karena telah diampuni dosamu, telah diterima taubatmu…!!"

Mereka bergembira, begitu juga dengan para sahabat yang telah berkumpul di masjid untuk shalat shubuh. Mereka ini ingin melepaskan ikatan Abu Lubabah dan teman-temannya, tetapi Abu Lubabah berkata, "Tunggulah sampai datang Rasulullah dan melepaskan sendiri ikatanku…!!"

Nabi SAW masuk masjid dan melepaskan sendiri ikatan-ikatan mereka. Pagi harinya, Abu Lubabah dan tiga temannya menghadap Nabi SAW sambil membawa harta yang dipunyainya. Ia berkata, "Ya Rasulullah, inilah harta benda kami, shadaqahkanlah atas nama kami, dan tolong mintakan ampunan bagi kami…."

Nabi SAW bersabda, "Aku tidak diperintahkan untuk menerima harta sedikitpun (berkaitan dengan penerimaan taubat ini)…!!"

Tetapi tak lama berselang, Nabi SAW memperoleh wahyu, Surah Taubah ayat 103, yang memerintahkan agar beliau untuk menerima shadaqah dari Abu Lubabah dan teman-temannya, dan mendoakan mereka. Beliau melaksanakan perintah ayat tersebut, dan itu membuat Abu Lubabah dan teman-temannya menjadi lebih gembira dan tentram hatinya.

Riwayat lain menyebutkan, peristiwa Abu Lubabah mengikatkan diri di tiang Masjid Nabi bukan berkaitan dengan Perang Tabuk, tetapi dengan Perang Bani Quraizhah.

Setelah berakhirnya Perang Khandaq (parit) atau Perang Ahzab karena pasukan kaum kafir Quraisy dan sekutu-sekutunya diporak-porandakan oleh angin dan badai di waktu subuh, Nabi SAW dan kaum muslimin segera kembali ke Madinah. Angin dan badai tersebut sebenarnya adalah pasukan malaikat yang dikirim Allah untuk membantu kaum muslimin, dan di waktu dhuhur, Jibril yang menjadi pimpinan pasukan malaikat menemui Nabi SAW sambil berkata, “Wahai Muhammad, mengapa engkau meletakkan senjata sedangkan kami belum meletakkan senjata. Serulah mereka untuk menuju Bani Quraizhah, dan kami akan berada di depanmu. Akan aku guncangkan benteng mereka dan aku susupkan ketakutan di hari mereka…!!”

Bani Quraizhah adalah kaum Yahudi di Madinah yang terikat perjanjian damai dan kerjasama dengan Nabi SAW dalam Piagam Madinah. Tetapi ketika terjadi pengepungan Madinah oleh pasukan kafir Quraisy dan sekutunya, mereka justru berpihak kepada pasukan musuh dan memasok kebutuhan makanannya. Mereka juga berencana menyerang penampungan kaum wanita dengan mengirim seorang mata-mata terlebih dahulu. Untung saja, berkat keberanian bibi Rasulullah SAW, Shafiyyah binti Abdul Muthalib, mereka membatalkan rencananya itu. Shafiyah berhasil membunuh mata-mata tersebut dan menggelindingkan mayatnya ke arah pasukan Bani Quraizhah yang siap menyerang, karena itu mereka beranggapan bahwa ada pasukan muslim yang menjaga para kaum wanitanya, padahal tidak ada.

Segera saja Nabi SAW memerintahkan Bilal untuk menyerukan panggilan jihad, “Siapa saja yang tunduk dan patuh, janganlah melaksanakan shalat ashar kecuali di Bani Quraizhah!!”

Dalam kondisi baru tiba (pulang) setelah mempertahankan diri dari pengepungan kaum kafir Quraisy dan sekutunya selama satu bulan, ternyata tidak mudah untuk mengumpulkan seluruh pasukan. Karena itu Nabi SAW memerintahkan agar mereka yang telah siap, walau dalam kelompok yang kecil, agar segera berangkat. Kelompok demi kelompok akhirnya berkumpul di tempat Bani Quraizhah ketika telah menjelang waktu isya’, dan pada saat itulah  mereka melaksanakan shalat ashar sesuai perintah Nabi SAW.

Kaum muslimin melakukan pengepungan selama beberapa hari lamanya, dan akhirnya pemimpin Bani Quraizhah, Ka’b bin Asad mengirim utusan kepada Nabi SAW sebagai tanda menyerah. Tetapi mereka juga meminta Nabi SAW mengirim Abu Lubabah untuk melakukan pembicaraan dan mendengar pendapatnya. Abu Lubabah memang sekutu terbaik kaum Yahudi Bani Quraizhah sebelum Islam datang, bahkan saat itu harta kekayaan dan anak Abu Lubabah ada yang masih tinggal (tertinggal) di wilayah kaum Yahudi tersebut. Dan ternyata, dalam situasi yang seperti itu Nabi SAW memenuhi permintaan mereka.

Ketika Abu Lubabah memasuki benteng dan perkampungan Bani Quraizhah, mereka mengelu-elukan dirinya, para wanita dan anak-anak menangis di hadapannya. Hal itu membuat Abu Lubabah terharu dan merasa kasihan. Ka’b berkata, “Wahai Abu Lubabah, apakah kami harus tunduk kepada keputusan Muhammad??”

“Begitulah!!” Kata Abu Lubabah, tanpa sadar ia memberi isyarat dengan tangannya yang diletakkan di lehernya, isyarat bahwa mereka akan dihukum mati. Mungkin karena suasana yang dilihatnya atau rasa kedekatannya selama ini yang membuat ia bersikap seperti itu.

Tetapi seketika itu ia menyadari apa yang dilakukannya, yang sama artinya bahwa ia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Tanpa bicara apa-apa lagi ia berlari keluar, bukannya kembali menghadap Nabi SAW, tetapi menuju masjid Nabawi dan mengikatkan dirinya di tiang masjid sembari bersumpah tidak akan pernah memasuki Bani Quraizhah, dan juga tidak akan melepaskan ikatannya kecuali Nabi SAW sendiri yang melepaskannya.

Rasulullah SAW menunggu-nunggu kedatangan Abu Lubabah, karena tidak datang juga, beliau mengirimkan seorang utusan lainnya. Setelah mendengar tentang apa yang dilakukannya, beliau bersabda, “Andaikata ia datang kepadaku, tentu aku akan memaafkannya. Tetapi karena ia telah berbuat seperti itu (yakni dengan diikuti sumpah), maka aku tidak bisa melepaskannya kecuali jika ia benar-benar bertaubat kepada Allah!!”

Aku Menangis Terlambat Masuk Islam

Dua puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Peristiwa-peristiwa mulia yang ditempuh kaum Muslimin bersama Rasulullah begitu saja berlalu. Indahnya masa-masa turunnya wahyu, gegap gempita kemenangan di medan perang, derap kaki-kaki kuda di dalam perjalanan menuju jihad, isak tangis yang mengiringi para syuhada menuju kampung akhirat, lautan ilmu di majelis-majelis Rasulullah semuanya terlambat ia rasakan.

Ketika tengah hamil tua, ibunya masuk ke dalam Kakbah untuk suatu keperluan. Lalu ia merasakan perutnya mulas-mulas. Orang-orang segera mengambil alas dari kulit binatang. Tak lama kemudian, bayi laki-laki tampan dan sehat pun lahir ke dunia. lalah Hakim bin Hizam bin Asad bin Abdul Ghazi.

Usianya yang hanya lima tahun lebih tua dari Muhammad menjadikannya tak sulit untuk bersahabat karib dan melewati masa remaja bersama. Apalagi ketika Muhammad menjadi suami dari bibinya, Khadijah binti Khuwailid.
Kecintaannya kepada Muhammad pun telah membenih semenjak kanak-kanak, bahkan ia mengatakan, “Muhammad adalah orang yang paling aku cintai semasa jahiliah.” la pula yang membeli Zaid bin Haritsah, lalu ia berikan pada Khadijah. Zaid lantas dihadiahkan oleh Khadijah kepada Rasulullah dan ia menjelma menjadi pejuang Islam yang tinggi derajatnya dengan syahid.

Namun sayang, semua itu tak juga membuat sinar hidayah menembus hatinya. Ketika ia mulai condong kepada Islam, ia selalu melihat keteguhan dan keuletan para pembesar Quraisy dalam mempertahankan agama nenek moyang. Akibatnya, hidayah kembali menjauh darinya. Apa yang diucapkan Rasulullah menjadi kenyataan. Usianya menginjak 70-an tahun. Hakim mengucapkan kalimat syahadat bersama orang-orang Quraisy yang tak berkutik melawan tentara Muslim dalam peristiwa Fathu Makkah. Hakim menangis dengan air mata mengalir deras hingga anaknya heran dan bertanya. “Mengapa engkau menangis, wahai ayahku?” tanyanya.

Penyesalan Hakim bin Hizam tak terbendung lagi. Padahal sejak kanak-kanak ia telah akrab dengan sang calon rasul mulia.

“Aku menangis terlambat masuk Islam, Anakku. Hingga begitu banyak peristiwa berharga terlewatkan, yang tak mungkin bisa aku dapatkan dengan kepingan emas dan perak.”

Hakim tak putus asa. Sekuat tenaga ia mengejar ketertinggalannya. Harta berlimpah yang ia miliki, ia sedekahkan untuk membela agama Allah dan Rasul-Nya. Pada haji pertamanya, Hakim menggiring 100 ekor unta untuk disembelih di Makkah.

Haji yang kedua, ia membawa 100 budak dengan tulisan yang tergantung di leher mereka, “Dibebaskan oleh Hakim untuk Allah”.

Lalu pada haji yang ketiga, ia menggiring 1000 ekor kambing untuk disembelih dan dibagikan kepada fakir miskin di Mina. Tak cukup di situ, Hakim tak puas dengan infak-infak sebelumnya. Maka ia menjual Darun Nadwah, sebuah bangunan megah miliknya yang biasanya digunakan untuk rapat-rapat penting kaum Quraisy. Uang hasil penjualan bangunan itu ia infakkan di jalan Allah Ketika seseorang bertanya tentang hal itu, Hakim menjawab, “Sesungguhnya aku menggantinya dengan membeli sebuah rumah di surga dan engkaulah yang menjadi saksinya,” jawab Hakim.

Pengorbanan Hakim ia berikan dengan talus dan ikhlas. la seorang dermawan sejati yang selalu merindukan kedua tangannya mengulurkan sedekah. Saking cintanya kepada sedekah, ia pernah berkata, “Tidaklah pagi datang padaku tanpa seseorang di depan pintuku untuk meminta sedekah, kecuali itu adalah musibah yang aku mintakan Allah pahala darinya.” 

Haritsah bin Nu’man Saat Sahabat Melihat Malaikat Jibril ketika bersama Rasulullah

Syahdan, dialah salah satu sahabat Nabi yang masyhur sebagai sahabat yang paling berbakti kepada sang ibunda terkasih. Dan hanya sahabat Utsman bin Affan saja yang mampu menandingi kebaktiannya terhadap orangtua. Demikian Siti Aisyah pernah bersaksi dalam sebuah hadits. Ia Haritsah bin Nu’man. Lelaki kalangan Anshor dari kabilah Khazraj, keturunan Bani Najjar.

          Dalam satu riwayat dikisahkan, saking berbaktinya pada Ibunda, Haritsah senantiasa membersihkan kotoran  (kutu dan lain-lain) di kepala ibundanya. Ia juga menyuapi langsung ibundanya. Bahkan, ia tidak pernah membantah ibundanya sedikitpun saat ia diperintah. Malah ia senantiasa bertanya kepada ibundanya setelah ia keluar: “ Apayang engkau inginkan, ibuku ? “ Lebih dari itu, ia juga kerapkali bertanya kepada orangyang bertemu dan bicara dengan ibunya untuk mengetahui aakah ibunya senang atau marah kepadanya, “ Apa yang dikatakan ibuku ? “ Begitulah papar Mahmud Al-Mishry dalam Ashab al-Rosul yang dikutip Muhammad Rahi Hasan Kinas.

          Dan tahukan Anda, berkat kebaktian tiada jemu dan keluh itu. Haritsah menuai anugerah luarbiasa? Tidak tanggung-tanggung, Nabi Muhammad saw sendiri sebagai saksinya. Sebagaimana diriwayatkan ‘Aisyah, Nabi Muhammad saw pernah bersabda: “ Aku masuk ke surga. Lalu, aku mendengar alunan bacaan Qur’an (seseorang). Aku bertanya: “Siapa ini?” mereka (malaikat) menjawab: “Dialah Haritsah bin Nu’man”. Kemudian, Nabi bersabda: “Seperti itulah (balasan) ketaatan (kebaktian).”

          Tetntu saja, anugerah indah yang menaungi Haritsah bukan semata-mata bakti kepada ibunda, tapi juga bakti yang dilakoni setelah ia berbakti kepada Alloh swt dan Rosululloh saw semasa hidupnya. Hati Haritsah begitu lapang dan legawa.

Ia sahabat Nabi yang kerap mengosongkan rumahnya untuk rosululloh, baik saat Nabi menikah maupun untuk kepentingan Rosulullloh lainnya. Hal ini karena salah satu rumahnya berdekatan dengan rumah Nabi saw di Madinah.

          Selain itu, Haritsah termasuk salah satu sahabat Nabi yang begitu mencintai al-Qur’an, rajin membacanya dan giat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Akhlaknya kepada orang lain pun begitu luhur: ia menyukai orang yang selalu berbuat baik, tidak membenci, mendengki dan mendendam kepada siapapun. Ia pun sangat dermawan kepada fakir-miskin atau sesiapa yang berada dalam kesulitan. Sebaliknya, ia akan menjauhi orang yang selalu berbuat onar dan kekerasan. Tak aneh, bila Haritsah mampu mewujudkan bakti terbaik terhadap sang ibunda. Logikanya: bila kepada yang lainnya saja ia begitu berbudi, apalagi kepada perempuan yang pernah mengandung dan melahirkannya.

          Hati Haritsah yang putih begitu mempesona.

Terlebih, dalam sebuah riwayat hadits, Allah membuka mata lahiriahnya. Ia bisa melihat malaikat Jibril yang senantiasa mendatangi Baginda Nabi saw.

Berikut kisahnya:

          “ Aku berpapasan dengan Rasululloh saw dan bersama beliau kulihat malaikat Jibril as tengah duduk di bangku. Kuucapkan salam kepda beliau dan aku merasa cukup. Ketika aku kembali, Nabi saw berpaling kepadaku dan bertanya;

“ Apakah kau melihat seseorang bersamaku? “

          “Ya” Jawabku.

          “Dia adalah Jibril. Ia menjawab salammu.”

          Sementara itu, dalam riwayat Ibnu Abbas dikisahkan lain lagi.

Syahda, Haritsah bertemu Nabi muhammad saw saat malaikat Jibril as tengah membisiki beliau. Kala itu, Haritsah tidak megucapkan salam hingga Jibril as berkata: “ Apa yang membuatnya tidak mengucpakan salam ? “

          Rasulullah saw pun bertanya kepada Haritsah: “Apa yang membuatmu tidak mengucapkan salam ketika melintas”?

          “Aku melihat orang yang bersamamu sedang berbisik hingga aku tidak mau mengusik pembicaraan Baginda Rosul.”

          “Apa benar kau melihatnya ?”

          “Benar.”

          “Dia adalah Jibril. Dan ia berkata, “ Andai saja ia mengucapkan salam, pasti aku akan menjawabnya.”. “

          Haritsah kembali bertanya kepada Nabi saw: “Bagaimana jika ia adalah tsamanun ? “

          “ Apa itu tsamanun ? “ Tanya Rosululloh.

          “Orang-orang akan menghidarimu kecuali tsamanun. Mereka tetap bersamamu, mereka dan anak-anaknya hanya mengharapkan rezeki dari Allah di Surga.“

Lalu, Haritsah pun diberitahukan Nabi saw ihwal tersebut. Demikianah, Siapa nyana buah kebaktian Haritsah bin Nu’man menyimpan senarai kebajikan yang luar biasa.

 

KISAH RASULULLAH MENYELESAIKAN MASALAH JABIR BIN ABDULLAH

Ayahnya, Abdullah bin Amr bin Haram atau dikenal dengan nama Abu Jabir, gugur di Uhud dengan meninggalkan hutang, maka Jabir datang kepada Nabi SAW untuk minta tolong membebaskan hutang-hutangnya.

 

Beliau-pun menyampaikan permintaan Jabir tersebut, tetapi para pemberi hutang tersebut enggan untuk memenuhinya.

 

Karena itu Nabi SAW bersabda pada Jabir, “Pergilah, atur kurmamu yang bermacam-macam itu, ajwah sebagian, azqa zaid sebagian, dan beberapa lainnya. Beritahukanlah kepadaku jika selesai!"

 

Jabir melaksanakan apa yang diperintahkan Nabi SAW dan segera diberitahukannya kepada beliau setelah selesai.

 

Beliau memerintahkan Jabir untuk memanggil semua orang yang menghutangi ayahnya. Ketika mereka semua telah berkumpul, beliau duduk di atas atau di tengah-tengah kurma tersebut dan beliau bersabda kepada Jabir, "Takarlah, dan bayarkan kepada mereka yang berpiutang kepada ayahmu…!"

 

Mereka yang menagih hutang ayahnya maju satu persatu, Jabir menakar dan memberi tambahan secukupnya, sehingga semua tanggungan ayahnya dapat diselesaikan, dan anehnya kurma-kurmanya yang berada di sekitar Nabi SAW duduk tidak berkurang sedikitpun.

 

Sungguh suatu peristiwa menakjubkan dimana mu’jizat Nabi SAW membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh keluarga Jabir bin Abdullah.

Sahabat Yang Memiliki Wajah Mirip Dengan Malaikat Jibril

Dialah Dihyah al Kalbi RA, seorang sahabat yang mempunyai wajah, janggut, dan perawakan serta usia yang menyerupai Malaikat Jibril AS saat berwujud sebagai manusia.

Usai perang Khandaq, dimana Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beristirahat, datanglah Malaikat Jibril ‘alaihi sallam dalam wujud manusia menemui Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan berkata, “Apakah engkau telah meletakkan senjata? Jangan demikian! Para malaikat sama sekali belum meletakkan senjata! Keluarlah engkau menuju Bani Quraizhah, dan perangilah mereka!”

Ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam melewati Bani Ghanm, penduduk sekitar masjid yang dilewati kalau menuju rumah beliau, beliau bertanya tentang siapa yang baru saja lewat, merekapun berkata, “Telah melewati kami, Dihyah bin Kalbi!”

Dalam riwayat lain disebutkan, saat itu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersama istri beliau, Ummu Salamah ra, Malaikat Jibril datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam wujud manusia. Setelah Malaikat Jibril berlalu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada istrinya itu tentang siapa tamu yang baru datang, Ummu Salamah menjawab, “Dia adalah komandan tentara, Dihyah…”

Nabi shalallahu ‘alahi wa sallam tersenyum dan menjelaskan bahwa tamu tersebut adalah Malaikat Jibril AS.

Inilah kesaksian tentang kesamaan Dihyah al Kalbi dengan penjelmaan Malaikat Jibril sebagai manusia

Cinta Dzul Bijadain Kepada Rasulullah Melebihi Dunia Dan Seisinya

Dzul Bijadain adalah anak yatim yg diasuh oleh pamannya.

Suatu ketika, jiwanya tergerak untuk mengikuti Rasulullah. Maka ia pun berusaha bangkit, namun sia-sia penyakit menghalanginya untuk bangkit, sehingga ia hanya bisa duduk mengamati pamannya.


Sewaktu kesehatannya sudah benar-benar pulih, kesabarannya benar-benar sudah habis. Naluri cintanya berseru kepada jiwanya:

"Sampai kapan ia terus terpenjara dan mengeluhkan kesempitan......

Bebaskanlah ia, boleh jadi ia akan menemukan jalannya"....

Kemudian Dzul Bijadain berkata:" Wahai pamanku, lama ku nanti engkau masuk Islam, namun aku tidak melihat engkau memiliki semangat untuk itu". Pamannya lantas berseru:" Demi Allah, jika kamu memeluk Islam maka akan ku ambil lagi semua yg telah ku berikan kepadamu !. 

Mendengar ucapan pamannya itu kerinduannya kepada Rasulullah seakan meneriakkan:"

 

Melihat Muhammad lebih aku sukai dari pada dunia dan seisinya".

Ketika Dzul Bijadain bersi kukuh untuk menemui Rasulullah maka pamannya pun melucuti semua pakaiannya. Dari itulah Ibundanya memberinya sehelai kain, yang kemudian dipotongnya menjadi dua bagian untuk mengharungi perjalanannya, sebagian digunakan untuk menutupi bagian bawah tubuhnya dan sebagian lainnya digunakan untuk menutupi bagian atas tubuhnya.

Ketika seruan jihat dikumandangkan ia merasa puas walapun bergabung di barisan belakang . Karena seorang pecinta takkan peduli dengan berat dan jauhnya perjalanan yg harus ditempuh, sebab tujuan yg ingin diraih adalah (Mati Syahid) telah meringankan langkahnya.

Pada saat Dzul Bijadain meninggal dunia Rasulullah sendiri yg mempersiapkan liang lahadnya, lalu Belia betdo'a untuknya,

Ya Allah sesungguhnya Aku ridha kepadanya maka ridhailah dia.

Mendengar do'a Rasulullah Ibnu Mas'udpun berseru:" aduhai seandainya saja aku yg menghuni kubur ini".

Demikianlah tentang Dzul Bijadain sahabat yg mulia.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari cerita ini betapa semangat dan cintanya kepada Nabi Muhammad shollahu 'alaihi wa sallam. Semoga kita bisa mencoba meniru perilaku yang langka ini walaupun sulit kita mampu akan tetapi kita berusaha mendekati semangat mereka walaupun tidak biasa sama.
Sebagaimana yang di katakan di di dalam sebuah sya'ir arab, Jika kamu tidak mampu seperti mereka maka syerupailah mereka..
Karna menyerupai orang yang baik adalah sebuah kebaikan juga.

Hassan ibnu Tsabit Penyair pembela Rasulullah

Ibnu Abuz Zanad meriwayatkan dari ayahnya, dari Abu Hurairah r.a, dari Aisyah r.a, bahawa Rasulullah S.a.w telah meletakkan sebuah mimbar di dalam masjid khusus buat Hassan ibnu Tsabit r.a, tempat untuk bersyair bagi membela Rasulullah S.a.w; dan Rasulullah S.a.w berdoa untuknya;

 

"Ya Allah, perkuatkanlah Hassan dengan Ruhul Qudus (Malaikat Jibril), sebagaimana dia berjuang membela Nabi-Mu (melalui syair-syairnya)."

 

Lafaz hadis ini yang dari Imam Bukhari secara ta'liq. Akan tetapi, Imam Abu Daud meriwayatkannya pula di dalam kitab Sunan-nya dari Ibnu Sirin, dan Imam Turmudzi meriwayatkannya dari Ali ibnu Hujr dan Ismail ibnu Musa Al-Fazzari. Ketiga-tiganya mengenengahkan hadis ini dari Abu Abdur Rahman ibnu Abuz Zanad, dari ayahnya dan Hisyam ibnu Urwah; keduanya meriwayatkan hadis ini dari Urwah, dari Aisyah dengan lafaz yang sama. Imam Turmudzi mengatakan bahawa sanad hadits ini berstatus hasan atau sahih, yakni hadits Abuz Zanad.

 

Di dalam kitab Shahihain disebutkan dari hadits Sufyan ibnu Uyainah, dari Az-Zuhri, dari Sa'id ibnul Musayyab, dari Abu Hurairah r.a, bahawa Khalifah Umar ibnul Khattab melewati Hassan ibnu Tsabit yang sedang mendendangkan syair di dalam masjid, maka Umar r.a mendesaknya, lalu Hasan berkata, 

 

"Sesungguhnya aku pernah mendendangkan syair di dalam masjid ini, sedangkan di dalamnya terdapat orang yang lebih baik daripada kamu (yakni Nabi Saw.)." 

 

Kemudian Umar ibnul Khattab r.a. menoleh kepada Abu Hurairah dan berkata, "Kumohon atas nama Allah, pernahkah engkau mendengar Rasulullah S.a.w bersabda;

 

"Perkenankanlah bagiku, ya Allah, kuatkanlah dia (Hassan) dengan Ruhul Qudus (Malaikat Jibril)?" 

 

Maka Abu Hurairah menjawab, "Allahumma, na'am (ya)." 

 

Menurut sebahagian riwayat, Rasulullah S.a.w pernah bersabda kepada Hassan; 

 

"Seranglah mereka atau hinakanlah mereka dengan syairmu, semoga Jibril membantumu."

 

Di dalam syair Hassan terdapat ucapan berikut;

 

Dan Jibril utusan Allah berada bersama kami,
dia adalah Ruhul Qudus yang tidak diragukan lagi. 

Khabbab Ibnul Arats, Lihatlah Ini Kain Kafanku!

Khabbab ibnul Arats menyertai Rasulullah saw dalam semua peperangan dan pertempurannya, dan selama hayatnya ia tetap membela keimanan dan keyakinannya.

Ketika Baitulmal melimpah ruah dengan harta kekayaan di masa pemerintahan Umar dan Utsman radliyallahu’anhuma, maka Khabbab beroleh gaji besar, karena termasuk golongan Muhajirin yang mula pertama masuk Islam.

Penghasilannya yang cukup ini memungkinkannya untuk membangun sebuah rumah di Kufah, dan harta kekayaannya disimpan pada suatu tempat di rumah itu yang dikenal oleh para shahabat dan tamu-tamu yang memerlukannya, hingga bila di antara mereka ada sesuatu keperluan, ia dapat mengambil wang yang diperlukannya dari tempat itu.

Walaupun demikian, Khabbab tak pernah tidur nyenyak dan tak pernah air matanya kering setiap teringat akan Rasulullah saw dan para shahabatnya yang telah membaktikan hidupnya kepada Allah.

Mereka beruntung telah menemui-Nya sebelum pintu dunia dibukakan bagi Kaum Muslimin dan sebelum harta kekayaan diserahkan ke tangan mereka.

Dengarkanlah pembicaraannya dengan para pengunjung yang datang menjenguknya ketika ia dalam sakit yang membawa ajalnya.

Kata mereka kepadanya, “Senangkanlah hati anda wahai Abu Abdillah, karena anda akan dapat menjumpai teman-teman sejawat anda!”

Maka ujarnya sambil menangis, “Sungguh, saya tidak merasa kesal atau kecewa, tetapi tuan-tuan telah mengingatkan saya kepada para shahabat dan sanak saudara yang telah pergi mendahului kita dengan membawa semua amal bakti mereka, sebelum mereka mendapatkan ganjaran di dunia sedikit pun juga.

Sedang kita, kita masih tetap hidup dan beroleh kekayaan dunia, hingga tak ada tempat untuk menyimpannya lagi kecuali tanah.”

Kemudian ditunjuknya rumah sederhana yang telah dibangunnya itu, lalu ditunjuknya pula tempat untuk menaruh harta kekayaan.

Ia katanya, “Demi Allah, tak pernah saya menutupnya walau dengan sehelai benang, dan tak pernah saya halanginya terhadap yang meminta….!”

Dan setelah itu ia menoleh kepada kain kafan yang telah disediakan orang untuknya.

Maka ketika dilihatnya mewah dan berlebih-lebihan, katanya sambil mengalir air matanya, “Lihatlah ini kain kafanku!

Bukankah kain kafan Hamzah paman Rasulullah saw ketika gugur sebagai salah seorang syuhada hanyalah burdah berwarna abu-abu, yang jika ditutupkan ke kepalanya terbukalah kedua ujung kakinya, sebaliknya bila ditutupkan ke ujung kakinya, terbukalah kepalanya….”

Tatkala Kebencian Menjadi Kecintaan

Sejak memeluk Islam, taubat memasuki segala rongga nadi dan hati Ikramah. Setiap hari dia membaca al-Quran, sembahyang dan mengerjakan ibadah lainnya. Pada musim haji, Rasulullah mengangkat Ikramah menjadi ketua pemerintahan di Hawazin.

Namun, Ikramah dapat merasakan kenikmatan iman di samping Rasulullah sebentar sahaja disebabkan beliau kembali ke rahmatullah.

Selepas kewafatan Rasulullah, ramai yang murtad dan mengaku menjadi nabi.

Cerita keislaman berawal dari kebencian Ikramah terhadap Nabi Muhammad yang semakin menebal selepas ayahnya terbunuh dalam Perang Badar. Semasa tentara Islam memasuki kota Mekah, Ikramah dan pasukan tentaranya berazam menewaskan Rasulullah tetapi berjaya dikalahkan oleh pasukan tentera yang dipimpin oleh Khalid bin Walid.

Kerana merasa takut dibunuh oleh tentera Islam yang menakluk Kota Mekah, Ikramah bin Abu Jahal melarikan diri ke Yaman tetapi kedatangannya tidak disenangi oleh penduduk negeri itu.

Kemudian, beliau meminta bantuan daripada raja Habsyah. Dalam pelayaran menuju ke Habsyah, kapal yang dinaikinya dipukul ribut dan hampir karam. Ketika itu, Ikramah bernazar sekiranya terselamat daripada bencana itu, dia kembali ke Mekah menemui Nabi Muhammad.

Akhirnya, dia terselamat daripada bencana itu. Kemudian, Ikramah kembali ke Mekah lalu menemui Nabi Muhammad.

Beliau tertarik melihat keperibadian Nabi Muhammad yang mulia. Rasulullah tidak membenci ataupun membalas dendam kepada Ikramah walaupun dia pemah menyatakan beliau adalah musuh utamanya.

Ikramah kagum dengan keperibadian Rasulullah yang pemaaf dan pengampun. Saat diajak masuk Islam oleh Rasulullah, Ikramah bin Abu Jahal meminta waktu untuk berfikir dahulu kerana tidak mau dituduh masuk Islam kerana takut ataupun dipaksa. Rasulullah pun setuju dengan permintaan Ikramah.

Sampai Akhirnya ia memeluk Islam dan dipilih sebagai pemimpin pasukan tentara untuk perang ke Yamamah yang dilantik oleh Khalifah Abu Bakar.

Di sana, lkramah memperlihatkan kehebatannya dengan kemurnian iman, dengan memberikan ajaran selayaknya kepada kaum Bani Hanifah. Sekembalinya dari Yamamah, Ikramah meneruskan perjuangan ke Maharah dan di sana juga dia memberi pengajaran kepada kaum yang murtad. Hingga akhirnya gerakan pembersihan kepada kaum murtad selesai.

KISAH TAWAR MENAWAR ANTARA RASULULLAH DENGAN ANDULLAH BIN AMR DALAM BERIBADAH....

Terjadilah “tawar-menawar” antara Abdullah dan Rasulullah SAW soal ibadahnya. Umumnya, manusia meminta izin beribadah seringan & sesedikit mungkin,

Abdullah meminta izin beribadah sebanyak dan seberat mungkin.

Soal puasa misalnya, Nabi SAW menyarankannya agar berpuasa 3 hari dalam sebulan. Abdullah minta tambahan, diberi 2 hari seminggu. Masih minta tambahan lagi, akhirnya ditetapkan Nabi SAW sehari berpuasa sehari berbuka. Puasanya Nabi Dawud as.

Juga mengkhatamkan Al Qur’an. Pertama, Nabi SAW menyarankannya khatam sebulan sekali saja. Abdullah menawar, Nabi SAW menetapkan 20 hari sekali, kemudian 10 hari sekali, seminggu sekali.

Tetapi Ibnu Amr bin Ash masih meminta lebih lagi, akhirnya Nabi SAW menetapkannya khatam Al Qur’an setiap 3 hari sekali (dalam riwayat lain, 5 hari sekali).

Juga soal shalat malam. Beliau melarang Abdullah menghabiskan waktu malam shalat sunnah terus-menerus. Harus ada waktu mengistirahatkan tubuhnya tidur, dan mempergauli istrinya.

Walau telah dinasehati langsung Nabi SAW, semangatnya beribadah tidak segera mengendor begitu saja, tetapi ia tidak melalaikan kewajiban dan hak-hak keluarga, badan, tamu dan lain-lainnya. Ibadahnya dengan intensitas tinggi masih saja berlangsung, tanpa bisa dihalangi lagi.

Melihat itu, Nabi SAW akhirnya bersabda, “Sesungguhnya engkau tidak tahu, bisa jadi Allah akan memanjangkan umurmu…!”

Benarlah apa yang disabdakan Nabi SAW, ia mencapai usia tua, tubuhnya mulai lemah dan tulangnya seakan tak mampu menyangga tubuhnya dalam waktu lama. Ia susah payah menetapi amal istiqomah yang telah “dijanjikannya” kepada Nabi SAW di masa mudanya.

Ia jadi menyesal mengapa tidak menerima nasehat beliau saat mudanya itu. Ia seringkali berkata, “Aduhai malangnya nasibku, mengapa tidak aku ikuti keringanan yang diberikan Rasulullah SAW…!”

Ahad, 9 Julai 2017

KISAH BADUI, SAHABAT RASULULLAH SAW NAK MENGHISAB ALLAH



Seorang lelaki Badui telah memeluk Islam, tetapi karena keadaan ekonominya yang terbatas dan tempat tinggalnya yang sangat jauh dari Madinah, ia belum pernah menghadap dan bertemu langsung dengan Nabi SAW.

Ia hanya berbai’at memeluk Islam dan belajar tentang peribadatan dari para pemuka kabilahnya yang pernah mendapat pengajaran Nabi SAW. Tetapi dengan segala keterbatasannya itu, ia mampu menjadi seorang mukmin yang sebenarnya, bahkan sangat mencintai Rasulullah SAW.

Suatu ketika ia mengikuti rombongan kabilahnya melaksanakan ibadah umrah ke Makkah. Sambil thawaf sendirian, terpisah dari orang-orang lainnya, si badui ini selalu berdzikir berulang-ulang dengan asma Allah, "Ya Kariim, ya Kariim….."

Ia memang bukan orang yang cerdas, sehingga tidak mampu menghafal dengan tepat doa atau dzikr yang idealnya dibaca ketika thawaf, sebagaimana diajarkan Nabi SAW.
Karena itu ia hanya membaca berulang-ulang asma Allah yang satu itu. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang mengikuti berjalan di belakangnya sambil mengucap juga, “Ya Kariim, ya Kariim!!”

Si Badui ini berpindah dan menjauh dari tempat dan orang tersebut sambil meneruskan dzikrnya, karena ia menyangka lelaki yang mengikutinya itu hanya memperolok dirinya. Tetapi kemanapun ia berpindah dan menjauh, lelaki itu tetap mengikutinya dan mengucapkan dzikr yang sama.

Akhirnya si Badui berpaling menghadapi lelaki itu dan berkata, "Wahai orang yang berwajah cerah dan berbadan indah, apakah anda memperolok-olokkan aku, Demi Allah, kalau tidak karena wajahmu yang cerah dan badanmu yang indah, tentu aku sudah mengadukan kamu kepada kekasihku…"

Lelaki itu berkata, “Siapakah kekasihmu itu”

Si Badui berkata, “Nabiku, Muhammad Rasulullah SAW!!”

Lelaki itu tampak tersenyum mendengar penuturannya, kemudian berkata, "Apakah engkau belum mengenal dan bertemu dengan Nabimu itu, wahai saudaraku Badui"

"Belum..!!" Kata si Badui.

Lelaki itu berkata lagi, “Bagaimana mungkin engkau mencintainya jika engkau belum mengenalnya? Bagaimana pula dengan keimananmu kepadanya?"

Si Badui berkata, "Aku beriman atas kenabiannya walau aku belum pernah melihatnya, aku membenarkan kerasulannya walau aku belum pernah bertemu dengannya…!!"

Lagi-lagi lelaki itu tersenyum dan berkata, "Wahai saudaraku orang Badui, aku inilah Nabimu di dunia, dan pemberi syafaat kepadamu di akhirat…!!"

Memang, lelaki yang mengikuti si Badui itu tidak lain adalah Rasulullah SAW, yang juga sedang beribadah umrah. Sengaja beliau mengikuti perilaku si Badui karena beliau melihatnya begitu polos dan ‘unik’, menyendiri dari orang-orang lainnya, tetapi tampak jelas begitu khusyu’ menghadap Allah dalam thawafnya itu.
Si Badui tersebut memandang Nabi SAW seakan tak percaya, matanya berkaca-kaca. Ia mendekat kepada beliau sambil merendah dan akan mencium tangan beliau.
Tetapi Nabi SAW memegang pundaknya dan berkata, "Wahai saudaraku, jangan perlakukan aku sebagaimana orang-orang asing memperlakukan raja-rajanya, karena sesungguhnya Allah mengutusku bukan sebagai orang yang sombong dan sewenang-wenang.
Dia mengutusku dengan kebenaran, sebagai pemberi kabar gembira (yakni akan kenikmatan di surga) dan pemberi peringatan (akan pedihnya siksa api neraka) …"
Si Badui masih berdiri termangu, tetapi jelas tampak kegembiraan di matanya karena bertemu dengan Nabi SAW. Tiba-tiba Malaikat Jibril turun kepada Nabi SAW, menyampaikan salam dan penghormatan dari Allah SWT kepada beliau, dan Allah memerintahkan beliau menyampaikan beberapa kalimat kepada orang Badui tersebut, yakni : "Hai Badui, sesungguhnya Kelembutan dan Kemuliaan Allah (yakni makna asma Allah : Al Karim) bisa memperdayakan, dan Allah akan menghisab (memperhitungkan)-nya dalam segala hal, yang sedikit ataupun yang banyak, yang besar ataupun yang kecil….."

Nabi SAW menyampaikan kalimat dari Allah tersebut kepada si Badui, dan si Badui berkata, "Apakah Allah akan menghisabku, ya Rasulullah??"

"Benar, Dia akan menghisabmu jika Dia menghendaki…" Kata Nabi SAW.

Tiba-tiba si Badui mengucapkan sesuatu yang tidak disangka-sangka, "Demi Kebesaran dan Keagungan-Nya, jika Dia menghisabku, aku juga akan menghisab-Nya….!!"

Sekali lagi Nabi SAW tersenyum mendengar pernyataan si badui, dan bersabda, "Dalam hal apa engkau akan menghisab Tuhanmu, wahai saudaraku Badui?"

Si Badui berkata, "Jika Tuhanku menghisabku atas dosaku, aku akan menghisab-Nya dengan maghfirah-Nya, jika Dia menghisabku atas kemaksiatanku, aku akan menghisab-Nya dengan Afwan (pemaafan)-Nya, dan jika Dia menghisabku atas kekikiranku, aku akan menghisab-Nya dengan kedermawanan-Nya…."

Nabi SAW sangat terharu dengan jawaban si Badui itu sampai menangis meneteskan air mata yang membasahi jenggot beliau.
Jawaban sederhana, tetapi mencerminkan betapa "akrabnya" si Badui tersebut dengan Tuhannya, betapa tinggi tingkat ma’rifatnya kepada Allah, padahal dia belum pernah mendapat didikan langsung dari Nabi SAW.
Sekali lagi Malaikat Jibril AS turun kepada Nabi SAW dan berkata, "Wahai Muhammad, Tuhanmu, Allah As Salam mengirim salam kepadamu dan berfirman : Kurangilah tangismu, karena hal itu melalaikan malaikat-malaikat pemikul Arsy menjadi lalai dalam tasbihnya. Katakan kepada saudaramu, si Badui, ia tidak usah menghisab Kami dan Kami tidak akan menghisab dirinya, karena ia adalah (salah satu) pendampingmu kelak di surga….!!!"