Catatan Popular

Memaparkan catatan dengan label Nasihat Ad Din. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Nasihat Ad Din. Papar semua catatan

Ahad, 19 Mei 2013

27 NASIHAT DALAM KITAB TAURAT

Wahab Bin Munahib RA berkata :

Di dalam kitab Taurat terdapat 27 nasehat:

1. "Barangsiapa mau memperbanyak bekal di dunia (untuk perjalanan menuju akhirat dengan ketaqwaan) maka kelak di hari qiamat ia akan menjadi kekasih Allah SWT."

2. "Barangsiapa mau menahan amarahnya maka ia akan di tempatkan disisi Allah SWT."
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

"Barangsiapa mampu menahan amarahnya maka Allah SWT akan melindunginya dari siksaan."
3. "Barangsiapa tidak mencintai kesenangan hidup di dunia maka kelak di hari Qiamat akan selamat dari siksa Allah SWT."

4. "Barangsiapa meninggalkan sifat hasud maka kelak di hari Qiamat ia akan dipuji oleh para makhluk."

5. "Barangsiapa meninggalkan rasa cinta menjadi penguasa (mencintai kedudukan) maka kelak di hari Qiamat akan dimuliakan disisi Dzat yang merajai lagi Maha Perkasa."

6. "Barangsiapa meninggalkan kebiasaan berlebih-lebihan maka ia akan mendapat keluasan rizki bersama orang-orang yang baik."

7. "Barangsiapa meninggalkan sifat bakhil maka kelak ia akan disebut namanya didepan para malaikat."

8. "Barangsiapa di dunia meninggalkan bersantai=-santai maka kelak di hari Qiamat akan mendapatkan kebahagiaan di surga."

9. "Barangsiapa meniggalkan hal-hal yang diharamkan maka kelak di hari Qiamat dijadikan tetangga para Nabi AS."

10. "Barangsiapa di dunia meninggalkan penglihatan dalam hal-hal yang diharamkan maka kelak di hari Qiamat Allah SWT akan membahagiakanmatanya di surga."

11. "Barangsiapa di dunia meninggalkan hidup kaya dan memilih hidup faqir maka di hari Qiamat Allah SWT akan membangunkannya bersamaan dengan para Wali dan para Nabi."

12. "Barangsiapa di dunia mau membantu memenuhi kebutuhan manusia, niscaya Allah SWT akan mencukupi segala kebutuhannya di dunia dan di akhirat."

13. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
"Barangsiapa mau mencukupi kebutuhan saudaranya yang muslim maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahalanya orang yang baru haji dan umrah."

14. "Barangsiapa mau mencukupi kebutuhan saudaranya yang muslim maka ia mendapatkan
pahala sebagaimana pahalanya orang yang baru beribadah kepada Allah SWT seumur hidup."

15. "Barangsiapa mengharapkan ketenangan di alam kubur maka hendaknya ia bangun di waktu malam kemudian mengerjakan shalat sunnah meskipun kiranya satu rakaat."

16. "Barangsiapa mengharapkan tempat di bawah naungan Arsy-Nya Dzat yang Maha Penyayang maka berlakulah hidup zuhud (hatinya berpaling dari nikmat duniawi)."

17. "Barangsiapa mengharapkan hisabnya diperingan maka lebih baik ia mau menasehati dirinya dan saudaranya."

18 "Barangsiapa mengharapkan para malaikat mau menziarahinya maka lebih baik ia memiliki sifat wara'."

19. "Barangsiapa mengharapkan dirinya berada di tengah-tengah surga maka lebih baik berdzikir kepada Allah SWT di waktu malam dan siang hari."

20. "Barangsiapa mengharapkan masuk surga dengan tanpa hisab maka lebih baik bertaubatlah kepada Allah SWT dengan taubat yang sebenar-benarnya (nasuha)."

21. ""Barangsiapa mengharapkan kekayaan maka lebih baik ia ridla terhadap sesuatu yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya dan orang lain baik berupa harta, jabatan dan lain sebagainya."

22. "Barangsiapa mengharapkan menjadi orang yang ahli ilmu fiqh (agama) maka lebih baik ia senantiasa bersikap khusu' dalam menghadapi masalah agama (orang yang mau mengikuti dan mau menerima kebenaran yang diucapkan oleh siapapun)."

23. "Barangsiapa mengharapkan menjadi orang ahli hikmah maka lebih baik ia terlebih dahulu menjadi orang yang berilmu."

"Barangsiapa mengharapkan keselamatan dari kejelekan orang lain maka janganlah menyebut salah satu dari mereka kecuali dengan kebaikan dan lebih baik berfikirlah tentang dirimu sendiri darimana dirimu dibuat dan untuk apa dirimu diciptakan."

24. "Barangsiapa mengharapkan derajat luhur di dunia dan akhirat maka lebih baik pilihlah urusan akhirat dengan meninggalkan urusan dunia (dengan gambaran keseluruhan waktu dipergunakan untuk menjalankan ibadah)."

"Barangsiapa mengharapkan surga Firdaus dan kenikmatannya yang tidak pernah rusak (abadi) maka janganlah kau sia-siakan umur dengan melakukan kemaksiatan."

25. "Barangsiapa mengharapkan surga dunia dan akhirat maka berbaik hatilah dengan suka memberi, sesungguhnya suka memberi dapat mendekatkan dirimu ke surga dan menjauhkanmu dari neraka."

26. "Barangsiapa mengharapkan hatinya tersinari oleh cahaya yang sempurna maka sebaiknya ia sering bertafakur dalam sifat keagungan Allah SWT dan mengambil hikmah dari kematian."

27. "Barangsiapa mengharapkan untuk memiliki badan yang sabar. lisan yang selalu berdzikir, dan hati yang khusu' maka sebaiknya ia memperbanyak memohon ampunan kepada Allah SWT untuk orang islam."


Isnin, 5 November 2012

KALAM HIKMAH BABAB 1

Indahnya Wajah dan Bagusnya Akhlak


Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:"Hendaklah bagi para pemilik wajah yang rupawan untuk tidak memperburuknya dengan perilakunya yang buruk, dan hendaknya bagi yang memiliki wajah yang buruk untuk tidak menggabungkan dua keburukan dalam dirinya (keburukan rupa dan perilaku)." (Al-Adab asy-Syar'iyyah: 3/125)

Wasiat pembawa keselamatan

Hakim berkata kepada anaknya:Wahai anakku, aku akan berwasiat kepadamu dengan beberapa hal, jagalah wasiat-wasiat tersebut niscaya engkau selamat; jangan engkau bergabung dnegan pencemburu buta, jangan tingga dengan pendengki, jangan bertetangga dengan orang bodoh, jangan bersaudara dengan orang yang riya dan jangan bersahabat dengan orang yang pelit." (Nashaaih al-Imaniyah) 

Kesalahan dalam ijtihad

Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata:”Jika salah seorang imam keliru dalam berijitihad, maka tidak sepantasnya kita melupakan kebaikan-kebaikannya dan menutup ilmu pengetahuannya, akan tetapi ita memintakan ampun untuknya dan memaafkannya.” (Siyar A’laamin Nubala 18/157)

Tanda Berpalingnya Allah Ta’ala dari Hamba

قال الحسن : من علامة إعراض الله عن العبد أن يجعل شغله فيما لا يعنيه .
Al-Hasan pernah berkata, “Diantara tanda berpalingnya Allah Ta’ala dari seorang hamba adalah Dia menjadikan kesibukan (hamba tersebut) dalam perkara-perkara yang tidak bermanfaat baginya.”

Jangan Mencela dan Mengajak Debat Kepada Temanmu

إذا احببت أخاً في الله فلا تماره ولا تشاره ( أي لا تجادله ولا تعيبه ) ولا تسأل عنه أحداً فلربما أخبرك بما ليس فيه فحال بينك وبينهمعاذ بن جبل رضي الله عنه.

“Apabila engkau mencintai saudaramu (temanmu) karena Allah, maka janganlah engkau mencelanya, janganlah engkau mengajaknya debat, jangan pula engkau menanyakan tentangnya kepada seseorang karena bisa jadi dia akan mengkhabarkan kepadamu sesuatu yang tidak ada pada diri temanmu tersebut, maka akan ada penghalang antara dirimu dengan dirinya.” (Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu)
Bahaya Menyia-Nyiakan Waktu

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Menyia-nyiakan waktu adalah lebih berbahaya dari kematian, karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari Allah dan hari Akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari Dunia dan penghuninya.”

Bid’ah Pertama Setelah Wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Bid’ah pertama yang terjadi setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: bid’ah kenyang, sesungguhnya suatu kaum ketika perut-perut mereka telah kekenyangan maka hati-hati mereka menjadi tunduk dan condong kepada Dunia.”

Berbanggalah dengan Mendiamkan Lisan

Luqman berkata kepada anaknya, “Wahai anakku apabila manusia berbangga dengan ucapan-ucapan mereka, maka berbanggalah engkau dengan berdiam diri (membiarkan lisan tidak berbicara kecuali kebaikan), lisan berkata setiap pagi dan petang kepada anggota tubuh lainnya: Bagaimana keadaan kalian? Maka mereka menjawab, “kami senantiasa dalam kebaikan jika engkau meninggalkan kami”.

Hasad, tidak sabar dan buruknya akhlak

‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Tidak ada ketentraman bagi orang yang suka hasad (pendengki), tidak ada persahabatan bagi orang yang kurang penyabar (cepat bosan), dan tidaklah ada orang yang senang kepada orang yang buruk akhlaknya.”

Hasad adalah Dosa Pertama di Lagit dan Bumi

Sebagian Ulama Salaf rahiamhumullah berkata, “ Hasad adalah dosa pertama yang dengannya Allah Ta’ala dimaksiati di Langit, yaitu hasadnya Iblis kepada Nabi Adam ‘alaihis salam, dan hasad adalah juga dosa pertama yang dengannya Allah Ta’ala dimaksiati di Bumi, yaitu hasadnya anak Adam kepada saudaranya sehingga ia membunuhnya.”

Memuliakan Ulama dan Umara

Sahl bin 'Abdillah at-Tasturi rahimahullah Ta'ala berkata:"Manusia senantiasa dalam keadaan baik selama memuliakan pemimpin dan 'Ulama. Maka jika mereka memuliakan keduanya niscaya Allah akan memperbaiki dunia dan Akhirat mereka dan jika mereka meremehkan keduanya, maka mereka telah merusak dunia dan Akhirat mereka." (Tafsir al-Qurthubi)

Jauhilah Menunda-Nunda Amal Perbuatan

Al-Hasan rahimahullah berkata, “jauhilah oleh kalian menunda-nunda (amal perbuatan), karena sesungguhnya engkau adalah dengan harimu (hari dimana engkau menemuinya), dan bukan dengan hari besokmu; dan jika engkau berada pada hari esokmu maka jadikanlah hari itu sebagaimana hari dimana engkau berada, sehingga jika engkau tidak menemui hari esok engkau tidaklah menyesal dari apa yang lewatkan di hari itu.”

Ijtihad Pelaku Bid’ah

Ayyub As-Sakhtiyani rahimahullah berkata : “Tidaklah seorang pelaku bid’ah itu semakin menambah ijtihadnya atau kesungguhannya dalam (kebid’ahannya) melainkan hal itu akan semakin menjauhkan dirinya dari Allah ‘Azza wa Jalla”. [Talbis Iblis, karya Ibnul Jauzi rahimahullah, hal: 22]
Kalian Penghilang Kesedihanku

Syu'bah radhiyallahu 'anhu berkata:"Suatu hari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu keluar menemui shahabat-shahabatnya, lalu berkata:'kalian adalah penghilang kesedihanku.'" (Al-Ikhwan, Ibnu Abi Dunya)

Bersalaman

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:"Saling bersalaman (dengan seama jenis) menambahkan rasa cinta." (Al-Muntaqa min Kitabi Makarimil Akhlaq)

Mayat Hidup

Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu ‘anhu ketika ditanya tentang mayat yang hidup, beliau berkata, “Yaitu orang yang tidak mengingkari kemungkaran yang ada dihadapannya dengan tangannya, tidak pula dengan lisannya, dan tidak juga dengan hatinya.”


Rasa takut yang membawa kepada kebaikan

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Barang siapa yang takut kepada Allah Ta’ala niscaya rasa takut tersebut akan menuntunnya kepada setiap kebaikan.”

Wasiat Ibnu 'Abbas

'Utsman bin Hadir rahimahullah berkata:"Aku menemui Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, lalu kau berkata:"Berilah aku wasiat." Maka beliau berkata:"Ya, hendaklah engkau bertakwa kepada Allah dan beristiqomahlah. Ikutilah sunnah (Itiba') dan janganlah membuat bid'ah." (Riwayat Imam ad-Darimi rahimahullah) 


NASIHAT BESAR IMAM SYAFII : JADILAH FAQIH DAN AHLI SUFI

Sultan al-Malik al-Kamil Muhammad bin al-Malik al-`Adil Abu Bakar bin Ayyub daripada Dinasti Ayyubi yang memerintah Mesir satu ketika dahulu telah membangun sebuah kubah indah menaungi makam Sulthanul A-immah Muhammad bin Idris asy-Syafie radhiyaAllahu `anhu.

Atas kubah tersebut dibangun suatu lambang berbentuk kapal atau bahtera dan bulan sebagai isyarat bahawa di bawah kubah tersebut bersemadinya "Bahrul `Ulum" [Lautan Ilmu Pengetahuan], Sulthanul A-immah, Imam al-Muthallibi, Muhammad bin Idris asy-Syafie radhiyaAllahu `anhu.
Keluasan ilmu dan wawasan Imam asy-Syafie diibaratkan seperti lautan yang tidak bertepi. Sebahagian ulama tatkala menziarahi makam Imam besar ini telah mendendangkan syair yang berbunyi:-
Telah kudatangi kuburnya asy-Syafi`i untuk kuziarahi
Kudapati bahtera padanya tanpa samudera di sisi
Maka kukatakan: Maha Tinggi Allah, inilah isyarat menunjuki
Bahawasanya samudera telah ditelan oleh kuburnya Syafi`i

Imam besar ini telah menghabiskan umur beliau di dunia dengan sebaik-baiknya, penuh kesalihan dan manfaat bagi sekalian umat Junjungan Nabi shallaAllahu `alaihi wa sallam. Umur beliau yang berkat itu juga ditutup dengan khatimah yang baik, hari Jumaat akhir bulan haram, Rajab. Diceritakan bahawa Imam az-Za'faarani radhiyaAllahu `anhu memberitakan yang beliau mendengar Imam Ahmad radhiyaAllahu `anhu berkata:

"Aku telah bermimpi seakan-akan Junjungan Nabi shallaAllahu `alaihi wa sallam wafat dan banyak orang melayat jenazah Rasulullah. Maka tatkala pagi harinya, kami dapati bahawa Imam asy-Syafie yang telah wafat pada hari tersebut."

Imam asy-Syafie radhiyaAllahu `anhu adalah seorang imam dalam berbagai lapangan ilmu - ilmu Islam dan beliau juga adalah seorang yang berjalan atas landasan tasawwuf dalam kehidupan sehariannya. Bahkan, beliau berpesan agar seseorang itu menjadikan dirinya orang yang faqih lagi sufi dan bukan hanya faqih dan hanya sufi semata-mata.

Ini adalah karana faqih yang tidak berjalan atas landasan tasawwuf, maka hatinya akan menjadi keras akibat penyakit-penyakit hati yang bersarang dalamnya, manakala sufi yang tidak mempedulikan ilmu fiqh, akan menjadi seorang yang jahil akan hukum-hukum dan ketentuan agamanya. Perkara ini dinyatakan oleh Imam asy-Syafi`i, antaranya, dalam bait-bait syair yang beliau gubah. Bait-bait ini termaktub dalam diwannya yang masyhur. Namun perlu diberi perhatian bahwa dalam sesetengah cetakan "Diwan al-Imam asy-Syafi`i" dan yang dalam bentuk e-book, bait-bait ini telah digugurkan oleh mereka-mereka yang anti kepada sufi dan tasawwuf sebagaimana yang telah mereka lakukan dalam karangan panutan mereka sendiri, Ibnu Taimiyyah, dalam himpunan fatwanya. Berbalik kepada "Diwan al-Imam asy-Syafi`i" maka pada halaman 47, Imam asy-Syafi`i radhiyaAllahu `anhu bersyair dengan katanya:-

Faqih lagi sufi, Engkau jadikan dirimu
Kedua-duanya sekali, Jangan hanya salah satu
Demi Allah, Sungguh - sungguh aku menasihatimu
Faqih semata tiada merasa takwa, kerna hatinya membatu
Manakala semata sufi itu jahil, Kurang faham, tiada ilmu
Justru bagaimana si jahil, menjadi baik sholih lagi bermutu ?


Oleh itu, janganlah meremeh-remehkan ilmu fiqh dengan mengganggapnya tidak penting karana itu adalah kulit saja. Berusaha menjadikan diri kita orang yang faqih dan sufi sebagaimana nasihat dan pesanan Imam kita asy-Syafi`i tersebut.
Insya-Allah, kita memperolehi keselamatan dan laba di akhirat nanti.

Jangan jadi sesetengah manusia zaman ini,
Dengan thoriqat dia menisbah diri
Saban hari berkhayal dirinya wali
Namun lalai syariat Ilahi
Majlis ilmu ia jauhi
Para ulama tiada ia hampiri
Rasa dirinya sudah mencukupi
Lagi pula guru thoriqatnya wali
Kalau pun sungguh bagai yang dirasai
Maka yang wali itu si gurunya tadi
Sang Guru wali
Ilmunya penuh amalnya selari
Memadaikah bagi si murid hanya dengan bangga diri

Sumber: Bahrus Shofa

Sabtu, 27 Oktober 2012

10 MUTIARA EMPAT KHALIFAH RASYIDIN

Terjemah dari kitab "Nashaihul ‘Ibad fiy Bayaani Alfadh Munabbihatin ‘alaal-Isti’daadi li-Yaumil Ma’ad

Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq radliyallahu ‘anh mengatakan,

“Tiada seorang hamba yang dianugerahi 10 hal, melainkan ia akan selamat dari berbagai bencana dan penyakit, dia sederajat dengan Muqarrabin serta akan mendapatkan derajat Muttaqin, iaitu ;


1. Jujur yang terus-menerus disertai hati yang qana’ah,
2. Kesabaran yang sempurna disertai dengan rasa syukur yang terus-menerus,
3. Kefaqiran yang abadi yang diikuti dengan sifat zuhud,
4. Berfikir yang terus-menerus disertai dengan perut yang lapar,
5. Keprihatinan yang abadi disertai dengan rasa takut yang terus-menerus,
6.
Kerja keras yang terus-menerus disertai dengan sikap rendah diri,
7. Keramahan yang terus-menerus disertai dengan kasih sayang,
8. Cinta yang terus-menerus disertai dengan rasa malu,
9. Ilmu yang bermanfaat diikuti dengan pengamalan yang terus-menerus,
10. Iman yang langgeng yang disertai dengan akal yang kuat.”


Sayyidina Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anh berkata,

 “10 hal belum menjadi baik tanpa dibarengi dengan 10 hal lainnya, iaitu ;


1. Akal belum baik tanpa dibarengi dengan sikap wira’i,
2. Amal (perbuatan) belum baik tanpa dibarengi dengan ilmu,
3. Keberuntungan belum baik tanpa dibarengi dengan takwa kepada Allah,
4. Penguasa belum baik tanpa dibarengi dengan keadilan,
5. Reputasi belum baik tanpa dibarengi dengan adab (kesopanan),
6. Kesenangan belum baik (nyaman) tanpa dibarengi dengan keamanan,
7. Kekayaan belum baik tanpa dibarengi sikap dermawan,
8. Kefaqiran belum baik hingga disertai dengan sikap qana’ah,
9. Ketinggian nasab belum baik tanpa dibarengi dengan sikap tawadhu’,
10. Perjuangan menuju kebenaran belum baik tanpa di iringi taufik Allah.”


Sayyidina Utsman bin Affan radliyallahu ‘anh berkata,

 “10 hal yang paling disia-siakan, iaitu ;


1. Orang alim yang tidak dapat dijadikan tempat bertanya,
2. Ilmu yang tidak diamalkan,
3.
Pendapat yang benar yang tidak diterima,
4. Senjata yang tidak dipakai,
5. Masjid yang tidak digunakan shalat,
6. Mushhaf (Al-Qur’an) yang tidak dibaca,
7. Harta yang tidak di infakkan,
8. Kuda yang tidak ditunggangi,
9. Ilmu zuhud yang ada pada hati orang yang cinta dunia,
10. Umur panjang yang tidak digunakan sebagai bekal untuk bepergian (menuju akhirat).”


Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib Karramallahu wajhah berkata,


1. Ilmu adalah sebaik-baiknya warisan,
2. Etika adalah sebaik-baiknya pekerjaan,
3. Takwa adalah sebaik-baiknya bekal,
4. Ibadah adalah sebaik-baiknya perdagangan,
5. Amal shaleh adalah sebaik-baiknya penuntun (menuju surga),
6. Akhlak terpuji adalah sebaik-baiknya teman (dunia akhirat),
7. Al-Hilmu (rendah diri) adalah sebaik-baiknya penolong,
8. Qana’ah adalah sebaik-baiknya kekayaan,
9. Taufiq adalah sebaik-baiknya pertolongan,
10. Kematian adalah sebaik-baiknya pendidik menuju perangai yang terpuji.”

Jumaat, 19 Oktober 2012

MUTIARA HIKMAH (1) : BERPEGANG DENGAN AL QURAN DAN SUNNAH

BAB 1 : Berpegang Dengan Al Quran Dan As Sunnah, Mengikuti Atsar Salafus Shalih, Dan Menjauhi Bid’ah

1. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim. Dan berpeganglah kamu semua dengan tali Allah dan jangan berpecah-belah. Dan ingatlah nikmat Allah terhadapmu ketika kamu saling bermusuhan maka Dia satukan hati kamu lalu kamu menjadi bersaudara dengan nikmat-Nya dan ingatlah ketika kamu berada di bibir jurang neraka lalu Dia. selamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat-Nya agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran : 102-103)

2. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
“Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia dan jangan kamu ikuti jalan-jalan (lainnya) sebab jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Allah berwasiat kepada kamu mudah-mudahan kamu bertaqwa.” (QS. Al An’am : 153)

3. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Berpeganglah dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang terbimbing, gigitlah dengan gerahammu dan hati-hatilah kamu terhadap perkara yang baru karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR. Ahmad 4/126, At Tirmidzy 2676, Al Hakim 1/96, Al Baghawy 1/205 nomor 102)

4. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
Sesungguhnya Allah meridlai tiga perkara untuk kamu --di antaranya beliau bersabda-- : “ ... dan hendaknya kamu semua berpegang dengan tali Allah.” (Hadits dikeluarkan oleh Al Baghawy 1/202 nomor 101)

5. Hudzaifah bin Al Yaman radliyallahu 'anhu berkata :
“Hai para Qari’ (pembaca Al Quran) bertaqwalah kepada Allah dan telusurilah jalan orang-orang sebelum kamu sebab demi Allah seandainya kamu melampaui mereka sungguh kamu melampaui sangat jauh dan jika kamu menyimpang ke kanan dan ke kiri maka sungguh kamu telah tersesat sejauh- jauhnya.” (Al Lalikai 1/90 nomor 119, Ibnu Wudldlah dalam Al Bida’ wan Nahyu ‘anha 17, As Sunnah Ibnu Nashr 30)

6. Ibnu Mas’ud radliyallahu 'anhu berkata :
“Ikutilah dan jangan berbuat bid’ah! Sebab sungguh itu telah cukup bagi kalian. Dan (ketahuilah) bahwa setiap bid’ah adalah sesat.” (Ibnu Nashr 28 dan Ibnu Wudldlah 17)

7. Imam Az Zuhry berkata, ulama kita yang terdahulu selalu mengatakan :
Berpegang dengan As Sunnah itu adalah keselamatan. Dan ilmu itu tercabut dengan segera maka tegaknya ilmu adalah kekokohan Islam sedangkan dengan perginya para ulama akan hilang pula semua itu (ilmu dan agama).” (Al Lalikai 1/94 nomor 136 dan Ad Darimy 1/58 nomor 16)

8. Ibnu Mas’ud radliyallahu 'anhu berkata :
“Berpeganglah kamu dengan ilmu (As Sunnah) sebelum diangkat dan berhati- hatilah kamu dari mengada-adakan yang baru (bid’ah) dan melampaui batas dalam berbicara dan membahas suatu perkara, hendaknya kalian tetap berpegang dengan contoh yang telah lalu.” (Ad Darimy 1/66 nomor 143, Al Ibanah Ibnu Baththah 1/324 nomor 169, Al Lalikai 1/87 nomor 108, dan Ibnu Wadldlah 32)

9. Dan ia juga mengatakan bahwa :
“Sederhana dalam As Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh di dalam bid’ah.” (Ibnu Nashr 30, Al Lalikai 1/88 nomor 114, dan Al Ibanah 1/320 nomor 161)

10. Sa’id bin Jubair (murid dan shahabat Ibnu Abbas) berkata --mengenai ayat- - :
“Dan beramal shalih kemudian mengikuti petunjuk.” (QS. Thaha : 82)

Yaitu senantiasa berada di atas As Sunnah dan mengikuti Al Jama’ah. (Al Ibanah 1/323 nomor 165 dan Al Lalikai 1/71 nomor 72)

11. Imam Al Auza’i berkata :
“Kami senantiasa mengikuti sunnah kemanapun ia beredar.” (Al Lalikai 1/64 nomor 47)

12. Imam Ahmad bin Hambal berkata :
“Berhati-hatilah kamu jangan sampai menulis masalah apapun dari ahli ahwa’ sedikit atau pun banyak. Dan berpeganglah dengan Ahli Atsar dan Sunnah.” (As Siyar 11/231)

13. Umar bin Abdul Aziz dalam risalahnya untuk salah seorang aparatnya mengatakan :
Dari Umar bin Abdul Aziz Amirul Mukminin kepada Ady bin Arthaah :
“Segala puji hanya bagi Allah yang tidak ada sesembahan yang haq kecuali Dia.
Kemudian daripada itu :
Saya wasiatkan kepadamu, bertaqwalah kepada Allah dan sederhanalah dalam (menjalankan) perintah-Nya dan ikutilah sunnah Nabi-Nya Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan tinggalkanlah apa yang diada-adakan ahli bid’ah terhadap sunnah yang telah berlalu dan tidak mendukungnya, tetaplah kamu berpegang dengan sunnah karena sesungguhnya ia telah diajarkan oleh orang yang tahu bahwa perkara yang menyelisihinya adalah kesalahan atau kekeliruan, kebodohan, dan keterlaluan (ghuluw). Maka ridlailah untuk dirimu apa yang diridlai oleh kaum itu (shahabat) untuk diri mereka sebab mereka sesungguhnya berhenti dengan ilmu dan menahan diri dengan bashirah yang tajam dan mereka dalam menyingkap hakikat segala perkara lebih kuat (mampu) apabila di dalamnya ada balasan yang baik. Jika kamu mengucapkan bahwa ada suatu perkara yang terjadi sesudah mereka maka ketahuilah tidak ada yang mengada-adakan sesuatu sesudah mereka melainkan orang-orang yang mengikuti sunnah yang bukan sunnah mereka (shahabat) dan menganggap dirinya tidak membutuhkan mereka. Padahal para shahabat itu adalah pendahulu bagi mereka. Mereka telah berbicara mengenai agama ini dengan apa yang mencukupi dan mereka telah jelaskan segala sesuatunya dengan penjelasan yang menyembuhkan, maka siapa yang lebih rendah dari itu berarti kurang dan sebaliknya siapa yang melampaui mereka berarti memberatkan. Maka sebagian manusia ada yang telah mengurangi hingga mereka kaku sedangkan para shahabat itu berada di antara keduanya yaitu di atas jalan petunjuk yang lurus.” (Asy Syari’ah 212)

14. Ibnu Baththah berkata :
“Sungguh demi Allah, alangkah mengagumkannya kecerdasan kaum itu, betapa jernihnya pikiran mereka, dan alangkah tingginya semangat mereka dalam mengikuti sunnah nabi mereka dan kecintaan mereka telah mencapai puncaknya hingga mereka sanggup untuk mengikutinya dengan cara seperti itu. Oleh sebab itu ikutilah tuntunan orang-orang berakal seperti mereka ini --wahai saudara- saudaraku-- dan telusurilah jejak-jejak mereka niscaya kalian akan berhasil menang dan jaya.” (Al Ibanah 1/245)

15. Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma berkata :
“Tetaplah kamu beristiqamah dan berpegang dengan atsar serta jauhilah bid’ah.” (Al I’tisham 1/112)

16. Al Auza’i berkata :
“Berpeganglah dengan atsar Salafus Shalih meskipun seluruh manusia menolakmu dan jauhilah pendapatnya orang-orang (selain mereka) meskipun mereka menghiasi perkataannya terhadapmu.” (Asy syari’ah 63)

Selasa, 2 Oktober 2012

7 NASIHAT DARI IBRAHIM BIN ADHAM

Ibrahim bin Adham berkata,
"Telah datang kepadaku beberapa orang tamu,
dan saya tahu mereka itu adalah seorang ulama sufi. Saya berkata kepada mereka, berikanlah nasihat yang berguna kepada saya, yang akan membuat saya takut kepada Allah S.W.T.Lalu mereka berkata,
"Kami wasiatkan kepada kamu 7 perkara, iaitu :
1) Orang yang banyak bicaranya janganlah kamu harapkan kesedaran hatinya.
2) Orang yang banyak makan janganlah kamu harapkan kata-kata hikmah darinya.
3) Orang yang banyak bergaul dengan manusia janganlah kamu harapkan kemanisan ibadahnya.
4) Orang yang cinta kepada dunia janganlah kamu harapkan khusnul khatimahnya.
5) Orang yang bodoh janganlah kamu harapkan akan hidup hatinya.
6) Orang yang memilih berkawan dengan orang yang zalim janganlah kamu harapkan kelurusan agamanya.
7) Orang yang mencari keredhaan manusia janganlah harapkan akan keredhaan Allah padanya."
Siapakah Ibrahim bin Adham?
Ibrahim bin Adham. Beliau seorang Sultan/ Raja yg sanggup meninggalkan pangkat, keluarga, kemuliaan dunia, harta dan sebagainya.. demi menjadi hamba Allah yang sebenarnya.
Seorang Sultan atau Raja yang mencari  Jalan kebenaran. Akhirnya, beliau menjadi seoarang Ahli Tasawuf yg hebat. Perjalanan beliau mencari kebenaran amat sukar.. seorang tokoh yang hebat.

Ahad, 16 September 2012

KALAM NAN HIKMAH BAHAGIAN II (DUA)


Wasiat Seorang Wanita Badui

Al-'Utabi rahimahullah berkata:"Aku mendengar seorang perempuan Arab badui berwasiat kepada anaknya: 'wajib bagimu menjaga rahasia, dan jauhilah olehmu adu domba, karena sesungguhnya dia tidak membiarkan kecintaan kecuali akan merusaknya dan tidaklah membiarkan rasa dendam kecuali akan dibakarnya." (Al-'Arba'uuna Haditsan fii al-Akhlaq hal 140)

Duduk-Duduk Bersama Ahlul Bid’ah

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan, “Janganlah kalian duduk-duduk bersama ahlul ahwaa’ (ahli bid’ah) karena sesungguhnya duduk-duduk bersama mereka adalah penyebab sakitnya hati.”

Taubat Nasuha

Muhammad bin Ka'ab al-Qurazhi rahimahullah berkata: "Taubat yang benar terkumpul di dalamnya empat hal: istighfar dengan lisannya, meninggalkan dosa dengan badannya, meniatkan untuk tidak mengulanginya dan meninggalkan teman-teman buruknya." (an-Nadhratu an-Na'im)

Kebathilan Penyebab Munculnya Kerusakan

Imam Malik rahimahullah berkata : “ Apabila nampak kebathilan di atas kebenaran maka niscaya akan tampaklah kerusakan di muka bumi”.

Hakekat Cinta Allah

Yahya bin Mu'adz rahimahullah berkata: "Telah berdusta orang yang mengaku mencintai Allah akan tetapi tidak menjaga aturan-aturan Allah."(al-Arba'uuna haditsan fii al-Akhlaq hal.30)

Saudara Sejati

Bilal Bin Sa’id rahimahullah berkata: “Seorang saudara yang ketika berjumpa denganmu ia mengingatkanmu akan kewajibanmu kepada Allah ‘Azza Wajalla adalah lebih baik bagimu daripada seorang sudara yang ketika bertemu denganmu ia memberikan uang dinar kepadamu” (Az-Zuhd, karya Imam Ahmad, hal: 533)
Dinar Dirham Adalah Berhala

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: "Setiap ummat memiliki berhala yang disembah, dan berhala ummat ini adalah Dinar (uang dari emas) dan Dirham (uang dari perak)."(Al-Adab asy-Syar'iyyah, Ibnu Muflih jilid 3 hal 291)

Harta

Hasan al Bashri rahimahullah berkata:”Kalau engkau ingin melihat dari mana seseorang mendapatkan harta, maka lihatlah untuk apa dia membelanjakkan harta tersebut. Karena sesungguhnya harta yang kotor dibelanjakkan untuk perbuatan hura-hura.”(al-Amtsal wal Hikam 264) 

Kelapangan Rizki

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:”Bukanlah kelapangan rizki dan pekerjaan dilihat dari banyaknya, dan bukan pula panjangnya umur dilihat dari banyaknya bulan dan tahun, akan tetapi kelapangan rizki adalah dengan adanya keberkahan di dalamnya.”(Ad-Daa’ wa ad-Dawaaa’ hal.132)

Fungsi Bintang

Imam Qatadah berkata: Allah Ta 'ala menciptakan bintang-bintang untuk 3 tujuan; sebagai perhiasan langit, pelempar syaithan, dan sebagai petunjuk, maka barangsiapa yang mena’wilkannya selain 3 hal di atas maka ia telah salah, menghilangkan kebahagiaannya dan membebani diri dengan ilmu yang tidak diketahuinya.”
(Shahih al-Bukhari)

Teman yang buruk

‘Ali radhiyallahu berkata: ”Tidak ada kebaikan berteman dengan orang yang terkumpul dalam dirinya sifat-sifat berikut; Apabila dia berbicara berdusta kepadamu, apabila engkau memberinya amanah dia mengkhianatimu, apabila dia memberimu amanah dia akan menuduhmu, apabila engkau memberi kebaikan kepadanya dia mengingkari kebaikanmu, dan bila dia memberikan kebaikan kepadamu dia akan mengungkit-ungkitnya.”(al-Adab asy-Syar’iyyah Ibnu Muflih hal 537) 

Hati yang penuh keimanan

Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata: ”Tiga hal yang apabila berada dalam diri seseorang, Allah akan memenuhi hatinya dengan keimanan: Bersahabat dengan orang faqih, membaca al-Qur’an dan berpuasa.”(al-Aadab asy-Syar'iyyah Ibnu Muflih jilid 3 halaman 544)

Bahaya Sombong dan Takabbur 

Abu Hatim Al-Bastiy rahimahullah mengatakan, “Tidaklah saya melihat seorangpun yang takabbur (sombong dan membanggakan diri) terhadap orang yang dibawahnya (status sosialnya) melainkan pasti Allah Ta’ala memberikan bala’ kepadanya dengan kehinaan terhadap orang yang diatasnya (status sosialnya)”. (Raudhatul ‘Uqalaa’, karya Ibnu Hibban : 62)

Hari-Hari yang Paling Utama di Dunia

Syaikul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ditanya tentang sepuluh hari pertama di bulan Dzul Hijjah dan sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan mana yang lebih utama di antara keduanya..? beliau rahimahullah menjawab, “Sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah adalah lebih utama daripada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, dan malam-malam sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan adalah lebih utama daripada malam-malam sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah”.

Kebebnaran dan Pengamalan

Abu Darda radhiyallahu 'anhu berkata: "Tidaklah orang yang berkata kebenaran dan mengamalkannya lebih baik daripada orang yang mendengarkan kebenaran lalu menerimanya." (al-Adab asy-Syar'iyyah Ibnu Muflih) 

Ulama yang Sesungguhnya

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Demi Allah, Bukanlah seorang yang ‘alim (ulama) itu adalah orang yang mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, akan tetapi orang yang ‘alim itu adalah: ‘Orang yang mengetahui kebaikan kemudian ia mengikutinya (mengamalkan kebaikan tersebut), dan mengetahui keburukan lalu ia meninggalkan keburukan tersebut karena Allah Ta’ala’.” (Az-Zuhd, karya Imam Ahmad, hal: 246)

Bakhil

Al-Hasan bin ‘Ali radhiyallahu'anhuma ditanya tentang bakhil/pelit, maka beliau menjawab : ”Yaitu seseorang menganggap bahwa apa yang dia infakkan adalah sirna (tidak mendapat pahala) dan apa yang dia tahan (tidak diinfakkan) adalah kemuliaan.”(Al-Adab asy-Syar’iyah Ibnu Muflih)

Hasad

Mu’awiyah radhiyallahu 'anhu berkata: ”Setiap orang aku bisa membuatnya ridho/rela kepadaku kecuali orang hasad, karena sesunnguhnya tidak ada yang bisa membuat dia ridho kecuali hilangnya nikmat yang ada padaku.”

Hamba Allah Paling Baik

Dikatakan kepada Sa’id bi Jubair rahimahullah: ”Siapa hamba Allah yang paling baik?” Beliau menjawab: ”Seorang laki-laki yang melakukan dosa dan setiap kali mengingat dosanya dia menganggap kecil amalan ibadahnya

Sabtu, 15 September 2012

KALAM NAN HIKMAH BAHAGIAN I (SATU)


Indahnya Wajah dan Bagusnya Akhlak

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:"Hendaklah bagi para pemilik wajah yang rupawan untuk tidak memperburuknya dengan perilakunya yang buruk, dan hendaknya bagi yang memiliki wajah yang buruk untuk tidak menggabungkan dua keburukan dalam dirinya (keburukan rupa dan perilaku)." (Al-Adab asy-Syar'iyyah: 3/125)

Wasiat pembawa keselamatan

Hakim berkata kepada anaknya:Wahai anakku, aku akan berwasiat kepadamu dengan beberapa hal, jagalah wasiat-wasiat tersebut niscaya engkau selamat; jangan engkau bergabung dnegan pencemburu buta, jangan tingga dengan pendengki, jangan bertetangga dengan orang bodoh, jangan bersaudara dengan orang yang riya dan jangan bersahabat dengan orang yang pelit." (Nashaaih al-Imaniyah) 

Kesalahan dalam ijtihad

Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata:”Jika salah seorang imam keliru dalam berijitihad, maka tidak sepantasnya kita melupakan kebaikan-kebaikannya dan menutup ilmu pengetahuannya, akan tetapi ita memintakan ampun untuknya dan memaafkannya.” (Siyar A’laamin Nubala 18/157)

Tanda Berpalingnya Allah Ta’ala dari Hamba

Al-Hasan pernah berkata, “Diantara tanda berpalingnya Allah Ta’ala dari seorang hamba adalah Dia menjadikan kesibukan (hamba tersebut) dalam perkara-perkara yang tidak bermanfaat baginya.”
Jangan Mencela dan Mengajak Debat Kepada Temanmu

“Apabila engkau mencintai saudaramu (temanmu) karena Allah, maka janganlah engkau mencelanya, janganlah engkau mengajaknya debat, jangan pula engkau menanyakan tentangnya kepada seseorang karena bisa jadi dia akan mengkhabarkan kepadamu sesuatu yang tidak ada pada diri temanmu tersebut, maka akan ada penghalang antara dirimu dengan dirinya.” (Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu)
Bahaya Menyia-Nyiakan Waktu

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Menyia-nyiakan waktu adalah lebih berbahaya dari kematian, karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari Allah dan hari Akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari Dunia dan penghuninya.”

Bid’ah Pertama Setelah Wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Bid’ah pertama yang terjadi setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: bid’ah kenyang, sesungguhnya suatu kaum ketika perut-perut mereka telah kekenyangan maka hati-hati mereka menjadi tunduk dan condong kepada Dunia.”

Berbanggalah dengan Mendiamkan Lisan

Luqman berkata kepada anaknya, “Wahai anakku apabila manusia berbangga dengan ucapan-ucapan mereka, maka berbanggalah engkau dengan berdiam diri (membiarkan lisan tidak berbicara kecuali kebaikan), lisan berkata setiap pagi dan petang kepada anggota tubuh lainnya: Bagaimana keadaan kalian? Maka mereka menjawab, “kami senantiasa dalam kebaikan jika engkau meninggalkan kami”.

Hasad, tidak sabar dan buruknya akhlak

‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Tidak ada ketentraman bagi orang yang suka hasad (pendengki), tidak ada persahabatan bagi orang yang kurang penyabar (cepat bosan), dan tidaklah ada orang yang senang kepada orang yang buruk akhlaknya.”

Hasad adalah Dosa Pertama di Lagit dan Bumi

Sebagian Ulama Salaf rahiamhumullah berkata, “ Hasad adalah dosa pertama yang dengannya Allah Ta’ala dimaksiati di Langit, yaitu hasadnya Iblis kepada Nabi Adam ‘alaihis salam, dan hasad adalah juga dosa pertama yang dengannya Allah Ta’ala dimaksiati di Bumi, yaitu hasadnya anak Adam kepada saudaranya sehingga ia membunuhnya.”

Memuliakan Ulama dan Umara

Sahl bin 'Abdillah at-Tasturi rahimahullah Ta'ala berkata:"Manusia senantiasa dalam keadaan baik selama memuliakan pemimpin dan 'Ulama. Maka jika mereka memuliakan keduanya niscaya Allah akan memperbaiki dunia dan Akhirat mereka dan jika mereka meremehkan keduanya, maka mereka telah merusak dunia dan Akhirat mereka." (Tafsir al-Qurthubi)

Jauhilah Menunda-Nunda Amal Perbuatan

Al-Hasan rahimahullah berkata, “jauhilah oleh kalian menunda-nunda (amal perbuatan), karena sesungguhnya engkau adalah dengan harimu (hari dimana engkau menemuinya), dan bukan dengan hari besokmu; dan jika engkau berada pada hari esokmu maka jadikanlah hari itu sebagaimana hari dimana engkau berada, sehingga jika engkau tidak menemui hari esok engkau tidaklah menyesal dari apa yang lewatkan di hari itu.”

Ijtihad Pelaku Bid’ah

Ayyub As-Sakhtiyani rahimahullah berkata : “Tidaklah seorang pelaku bid’ah itu semakin menambah ijtihadnya atau kesungguhannya dalam (kebid’ahannya) melainkan hal itu akan semakin menjauhkan dirinya dari Allah ‘Azza wa Jalla”. [Talbis Iblis, karya Ibnul Jauzi rahimahullah, hal: 22]
Kalian Penghilang Kesedihanku

Syu'bah radhiyallahu 'anhu berkata:"Suatu hari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu keluar menemui shahabat-shahabatnya, lalu berkata:'kalian adalah penghilang kesedihanku.'" (Al-Ikhwan, Ibnu Abi Dunya)

Bersalaman

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:"Saling bersalaman (dengan seama jenis) menambahkan rasa cinta." (Al-Muntaqa min Kitabi Makarimil Akhlaq)

Mayat Hidup

Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu ‘anhu ketika ditanya tentang mayat yang hidup, beliau berkata, “Yaitu orang yang tidak mengingkari kemungkaran yang ada dihadapannya dengan tangannya, tidak pula dengan lisannya, dan tidak juga dengan hatinya.”

Rasa takut yang membawa kepada kebaikan

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Barang siapa yang takut kepada Allah Ta’ala niscaya rasa takut tersebut akan menuntunnya kepada setiap kebaikan.”

Wasiat Ibnu 'Abbas

'Utsman bin Hadir rahimahullah berkata:"Aku menemui Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, lalu kau berkata:"Berilah aku wasiat." Maka beliau berkata:"Ya, hendaklah engkau bertakwa kepada Allah dan beristiqomahlah. Ikutilah sunnah (Itiba') dan janganlah membuat bid'ah." (Riwayat Imam ad-Darimi rahimahullah) 

Berbicara adalah Ibarat Obat

‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhu berkata, “Berbicara adalah ibarat obat, jika engkau menyedikitkannya (menggunakan sesuai dosisnya) maka ia akan memberikan manfaat, dan jika engkau memperbanyak darinya (melebihi dosis) maka ia mematikan.”

Meraih Derajat Surga Tertinggi dengan Berakhlak Mulia

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya seorang hamba dapat mencapai derajat tertinggi di dalam surga dengan berakhlak mulia walaupun dia bukan seorang ahli ibadah, dan seorang hamba akan mendapatkan tempat terendah di neraka jahannam akibat akhlak buruknya walaupun dia seorang ahli ibadah.”

Perbedaan antara Yakin dan Tawakkal

Ditanyakan kepada sebagian ahli hikmah, ‘Apa perbedaan antara yakin dan tawakkal…?’ mereka menjawab, “Adapun yakin adalah engkau membenarkan Allah Ta’ala tentang perkara-perkara yang menyebabkan teraihnya Akhirat, sedangkan Tawakkal adalah engkau membenarkan Allah Ta’ala tentang perkara-perkara yang menyebabkan teraihnya dunia.”
Pentingnya Memiliki Akhlak Mulia

Fudhail Ibn ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Sungguh seorang fajir (pelaku maksiat) yang berakhlak mulia menemaniku lebih aku sukai dari pada seorang ‘abid (pelaku ibadah) yang buruk akhlaknya menemaniku..”

Perbedaan antara Dermawan dan Bakhil

Sebagian Ulama Salaf berkata, “Orang yang dermawan itu dekat dengan Allah Ta’ala, dekat dengan manusia dan jauh dari neraka; dan orang yang bakhil itu jauh dari Allah Ta’ala, jauh dari manusia dan dekat dengan neraka”.

Bahaya Meninggalkan Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar

“Abu Darda’ radhiallahu ‘anhu berkata, “Menyerulah kalian kepada yang ma’ruf dan cegahlah oleh kalian perbuatan mungkar, atau Allah akan menjadikan pemimpin bagi kalian seorang pemimpin yang zhalim; tidak dimuliakan orang-orang tua diantara kalian dan tidak disayangi anak-anak kecil (yang lebih muda) diantara kalian; orang-orang baik (shalih) diantara kalian berdoa kepadaNya akan tetapi tidak diijabahi; kalian meminta pertolongan maka kalian tidak ditolong; dan kalian meminta ampunan maka tidaklah diampuni.”

Alqur’an Menunjuki kalian Penyakit dan Obatnya

Qotadah rahimahulah berkata, “Al-Qur’an menunjukkan kepada kalian atas penyakit kalian dan obatnya; adapun penyakit kalian adalah dosa-dosa sedangkan obatnya adalah istighfar”.

Buah ilmu dan Buah Kejahilan

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Seluruh apa-apa yang tersebut dalam al-Qur’an berupa pujian kepada seorang hamba hal itu adalah buah dari ilmu, dan seluruh apa-apa yang tersebut dalam al-Qur’an berupa celaan kepada seorang hamba itu adalah buah dari kejahilan (kebodohan)”.

Menghadap Allah dengan Menghadirkan Hati

Haram bin Hayyan rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang hamba menghadap Allah Ta’ala dengan menghadirkan hatinya, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla akan menghadapkan kepadanya hati kaum mukminin hingga Allah memberikan kecintaan mereka kepadanya”
Menasehati dengan cara tersembunyi

Dahulu para salaf apabila ingin menasehati seseorang maka mereka akan menasehatinya secara sembunyi-sembunyi, sampai sebagian mereka berkata: "Barangsiapa yang menasehati saudaranya antara dirinya dengan saudaranya (secara pribadi) maka dia telah memberi nasehat, dan barangsiapa yang menasehatiinya di hadapan orang banyak maka dia hanyalah ingin mencelanya."(Al-'Arba'uuna Haditsan fii al-Akhlaq hal 109)

Cinta Butuh Bukti
Rabi' bin Anas mengatakan sebuah ungkapan dari sebagian sahabatnya, “Tanda cinta kepada Allah adalah banyak berdzikir/mengingat kepada-Nya, karena sesungguhnya tidaklah kamu mencintai apa saja kecuali kamu pasti akan banyak-banyak menyebutnya.” (Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, hal. 559).
Lidah

Fudhail rahimahullah berkata: "Tidak ada organ tubuh yang paling dicintai oleh Allah dibandingkan lidah apabila dia jujur, dan tidak ada organ yang paling dibenci oleh Allah dibandingkan lidah apabila dia pendusta."

Meluruskan Niat

Al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Mudah-mudahan Allah Ta’ala merahmati seorang hamba berhenti dari keinginannya, jika keinginan tersebut dalam rangka untuk Allah maka ia melakukannya, dan jika hal tersebut dalam rangka untuk selain Allah maka ia menundanya (meninggalkannya)”.

Manusia Diciptakan Memiliki Aqal dan Syahwat

Sebagian Ulama salaf mengatakan, “Allah Ta’ala menciptakan malaikat dan memberinya akal tanpa syahwat, menciptakan hewan dan memberinya syahwat tanpa akal, dan Allah menciptakan anak Adam dan memberinya akal dan syahwat, maka barangsiapa sisi akal sehatnya mendominasi syahwatnya maka ia menyerupai malaikat, dan barang siapa yang syahwatnya lebih dominan dari pada sisi akal sehatnya maka ia menyerupai hewan.” 

Ghibah

Dikatakan kepada al-Hasan al-Bashri rahimahullah: "Sesungguhnya Fulan telah mengghibahmu (menggunjing)." Maka beliaupun memberikan hadiah kepada yang menggunjing beliau semangkuk ruthab (kurma segar), kemudian laki-laki itu datang dan berkata kepada beliau: 'Aku telah menggunjingmu, tapi engkau malah memberi hadiah kepadaku?' Maka al-Hasan berkata: 'Engkau telah menghadiahiku, maka aku ingin membalasnya.'"(Al-'Arba'uuna Haditsan fii al-Akhlaq hal 137-138)