Catatan Popular

Memaparkan catatan dengan label Percik Kisah Hikmah. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Percik Kisah Hikmah. Papar semua catatan

Sabtu, 26 September 2020

MELIHAT KESALAHAN DIRI SENDIRI

Di masa sebelum diutusnya Rasulullah SAW, ada seorang lelaki saleh dari Bani Israil yang mempunyai amalan yang sungguh luar biasa. Telah tujuhpuluh tahun lamanya ia berpuasa dan hanya berbuka setiap tujuh hari sekali. Dalam beberapa waktu terakhir, ia selalu berdoa kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana cara syaitan menyesatkan manusia. Ia berharap, dengan mengetahui hal itu ia bisa menghindari jalan dan cara yang digunakan syaitan tersebut.

Beberapa waktu lamanya berdoa, bahkan ia menambah beberapa aktivitas ibadahnya tetapi Allah belum juga mengabulkannya. Sebagai seorang yang saleh, ia menyadari bahwa ada yang salah dengan dirinya, yakni sikap batinnya dalam berdoa, maka ia berkata kepada dirinya sendiri, “Jika saja aku bisa melihat dosa dan kesalahan antara aku dan Tuhanku, tentulah hal itu lebih baik daripada apa yang aku minta (yakni melihat syaitan)…!!”

Kemudian Allah SWT mengutus salah satu malaikat, dan sang malaikat berkatanya, “Sesungguhnya Allah mengutus aku kepadamu, dan Allah berfirman : Sesungguhnya perkataan (terakhir) yang engkau katakan itu jauh lebih baik daripada seluruh ibadah yang telah engkau lakukan di masa lalu….”

Malaikat itu melanjutkan, “Karena hal itulah Allah mengijinkanmu untuk melihat, maka sekarang lihatlah apa yang engkau inginkan….!!”

Lelaki Bani Israil itu melihat bagaimana tentara-tentara iblis mengitari bumi, bergerak antara langit dan bumi dengan bebas dan cepatnya. Tidak ada seorang manusiapun kecuali setan-setan itu mengitarinya untuk menggelincirkannya, layaknya sekelompok serigala yang mengitari seekor kambing untuk disantap menjadi makanannya. Ia berkata seperti putus asa, “Wahai Tuhanku, siapakah yang bisa selamat dari semua itu?”

Allah berfirman, “Yang bisa selamat adalah orang-orang yang wara’ dan bersikap lemah lembut kepada sesamanya!!”

Makna wara’ sangat luas, tetapi secara ringkas bisa dikatakan sebagai sikap waspada dan hati-hati, berusaha menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang bisa membuatnya jatuh ke dalam dosa.

MAKNA SEBUAH TAWAKKAL

Ahmad bin Isa al Kharraz, atau lebih dikenal dengan nama kunyahnya Abu Said al Kharraz adalah seorang sufi yang tinggal di Baghdad pada abad 3 hijriah, wafat pada tahun 277 H atau 890 M. Suatu ketika ia melakukan perjalanan melintasi padang pasir, dan tiba di kota Kufah dalam keadaan lapar. Seketika ia teringat temannya di kota itu bernama Al Jarari, yang mempunyai kedai makanan. Langsung saja ia melangkahkan kaki menuju ke rumahnya, tetapi ternyata Al Jarari sedang keluar. Tidak jauh dari kedai itu ada sebuah surau, maka Abu Said memutuskan untuk menunggu temannya di sana.

Ketika melangkah masuk ke dalam surau itu, ia berkata : Bismillaahirrahmaanirrahiim, Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin, wa salaamun ‘alainaa wa’alaa ‘ibaadillahil mutawakkiliin

Makna dari ucapannya itu adalah : Dengan nama Allah yang Maha pengasih dan Maha Penyayang, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, salam sejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang bertawakkal

Setelah shalat seperlunya, ia duduk berdzikir sambil sesekali menengok ke kedai kalau-kalau Al Jarari telah datang. Tetapi tidak lama kemudian datang seseorang yang tidak dikenalnya masuk ke surau dengan berkata, “Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin, Subhaana man akhlil ardhi minal mutawakiliin, wa salaamun ‘alainaa wa’alaa jamii’il kaadzibiin…”

Makna dari ucapannya itu adalah : Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Maha Suci (Allah) yang telah mengosongkan bumi dari orang-orang yang bertawakkal, salam sejahtera atas kami dan atas orang-orang yang berdusta.

Tentu saja Abu Said terkejut dengan ucapannya itu, yang jelas-jelas menyindir dirinya. Tetapi belum sempat ia berkata apa-apa, lelaki itu berkata lagi, “Wahai Abu Said yang mengaku tawakkal, tawakkal itu apabila engkau berada di padang pasir atau di bukit dan pegunungan, bukan di dalam kota sambil menanti datangnya Al Jarari…”

Abu Said berusaha menengok  untuk melihat lebih jelas siapa lelaki itu, tetapi ternyata ia tidak mendapati seorangpun di dalam surau itu kecuali dirinya sendiri. Segera saja ia tersadar kalau ia telah melakukan kesalahan saat pertama kali memasuki surau itu, dan ia menangis penuh penyesalan sambil mulutnya tidak lepas dari ucapan istighfar kepada Allah.

 

KEUTAMAAN BERZIKIR KEPADA ALLAH

             Ada sekelompok malaikat yang sehari-harinya berkeliling menyusuri jalan-jalan di seluruh penjuru bumi. Mereka ini memang ditugaskan Allah untuk mencari majelis dzikr ataupun orang-orang yang sedang berdzikr kepada Allah, dan tetap tinggal di tempat itu selama dzikr masih berlangsung. Jika telah menemukannya, mereka akan berseru kepada para malaikat kelompoknya, “Kemarilah, di sini ada yang kalian cari!!”

            Maka mereka berkumpul di tempat itu sambil membentangkan sayapnya hingga mencapai langit dunia. Kemudian Allah akan berfirman kepada para malaikat itu, “Apakah yang sedang dicuapkan hamba-Ku itu??”

            Tentunya pertanyaan itu diberikan bukannya karena Allah tidak tahu, sungguh Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Tetapi pertanyaan itu diberikan kepada para malaikat sebagai pemuliaan kepada manusia, sekaligus pembuktian akan keutamaan manusia dibanding malaikat. Bukankah para malaikat sempat ‘memprotes’ Allah ketika akan menciptakan Nabi Adam AS sebagai manusia pertama, sekaligus sebagai khalifah di bumi (lihat QS Al Baqarah 30) ?

            Para malaikat itu menjawab, “Mereka mensucikan-Mu, membesarkan-Mu, memuji-Mu dan mengagungkan-Mu!!”

            Allah berfirman lagi, “Apakah mereka melihat Aku?”

            Para malaikat itu menjawab, “Demi Allah, mereka belum pernah melihat Engkau!!”

            Allah berfirman lagi, “Bagaimana jika mereka melihat Aku??”

            Para malaikat itu menjawab, “Seandainya mereka pernah melihat Engkau, tentulah mereka akan lebih giat beribadah kepada Engkau, lebih giat mengagungkan Engkau, lebih giat lagi mensucikan Engkau…!!”

            Allah berfirman lagi, “Apakah yang mereka minta?”

            Para malaikat itu menjawab, “Mereka meminta surga kepada Engkau!!”

            Allah berfirman, “Apakah mereka pernah melihat surga?”

            Para malaikat itu menjawab, “Demi Allah, mereka belum pernah melihatnya!!”

            Allah berfirman, “Bagaimana seandainya mereka pernah melihat surga?”

            Para malaikat itu menjawab, “Seandainya mereka pernah melihatnya, tentulah mereka akan lebih semangat beribadah untuk mencapainya, lebih giat untuk memohonnya, dan mereka lebih sangat mengharapkannya!!”

            Allah berfirman lagi, “Dari apakah mereka berlindung diri?”

            Para malaikat itu menjawab, “Mereka berlindung diri dari api neraka!!”

            Allah berfirman, “Apakah mereka pernah melihat neraka?”

            Para malaikat itu menjawab, “Demi Allah, mereka belum pernah melihatnya!!”

            Allah berfirman, “Bagaimana seandainya mereka pernah melihat neraka?”

            Para malaikat itu menjawab, “Seandainya mereka pernah melihatnya, tentulah mereka akan lebih menjauhkan diri dari neraka itu, mereka akan lebih takut kepadanya!!”

            Akhirnya Allah berfirman, “Maka saksikanlah oleh kalian bahwa Aku telah mengampuni dosa-dosa mereka itu!!”

            Salah satu dari malaikat itu berkata, “Ya Allah, dalam majelis itu ada seseorang yang tidak termasuk ahli dzikr (dalam riwayat lainnya : yang banyak berbuat dosa). Ia datang ke tempat itu hanya karena ada suatu kepentingan (sekedar lewat dan singgah)!!”

            Allah berfirman, “Mereka semua adalah termasuk ahli dzikr, tidak ada seorangpun yang duduk bersama mereka akan mendapatkan siksaan (celaka)!!”

KETIKA TAKUT KEPADA ALLAH

Ibrahim bin Ahmad bin Ismail, nama kunyahnya Abu Ishaq, atau lebih dikenal dengan Ibrahim al Khawwas, adalah seorang tokoh sufi yang sezaman dengan Junaid al Baghdadi dan Abul Husain an Nuri. Beliau sangat kuat dalam tawakal dan sangat gencar dalam riyadhah, beliau wafat karena sakit perut ketika riyadhahnya, pada tahun 291 H (atau 904 M) di Ar Ray. Salah satu nasehat beliau adalah tentang obat hati yang lima, yang sekarang ini banyak dijadikan bahan lagu pujian, tembang dan lagu-lagu rohaniah (Islam tentunya).

Suatu ketika Ibrahim al Khawwash sedang dalam suatu perjalanan atau perantauan bersama beberapa orang lainnya. Menjelang malam di dekat suatu hutan, mereka beristirahat dan bersiap tidur, tetapi tiba-tiba datang seekor harimau yang duduk bersimpuh di dekat mereka. Tentu saja mereka lari menyelamatkan diri dengan naik ke sebuah pohon yang tidak jauh letaknya. Mereka duduk, mungkin juga sampai tertidur di cabang pohon itu hingga pagi tiba, tetapi anehnya, Ibrahim bin Khawwash dengan tenangnya tidur tanpa perasaan takut dan khawatir akan ancaman harimau itu.

Ketika fajar menjelang, sang harimau meninggalkan tempat itu begitu saja, tanpa ada insiden penyerangan. Setelah melaksanakan shalat subuh, mereka melanjutkan perjalanan. Pada malam harinya, mereka tiba di suatu masjid dan bermalam di sana. Tengah malam, ketika semua orang sedang asyiknya tertidur, tiba-tiba terdengar teriakan Ibrahim bin Khawwash, semacam teriakan ketakutan yang membangunkan semua orang di masjid itu. Salah seorang bertanya, “Wahai Abu Ishaq, apa yang terjadi dengan dirimu?”

Ibrahim berkata, “Seekor kepinding jatuh tepat di wajahku, yang membuatku terkejut dan ketakutan!!”

Mereka berkata, “Sungguh ajaib, kemarin engkau tidur bersebelahan dengan harimau tetapi engkau tenang-tenang saja, tertidur tanpa terganggu. Tetapi hanya karena seekor kepinding, kali ini engkau berteriak membangunkan orang semasjid!!”

Ibrahim berkata, “Kemarin itu aku sedang diliputi perasaan takut kepada Allah dan bergantung kepadanya, sehingga aku ‘terambil’ dari diriku sendiri. Kali ini aku dikembalikan kepada diriku sehingga aku merasa takut walau hanya terhadap kepinding!!”        

KEKUATAN IMAN YANG LUAR BIASA

Di suatu masa sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, ada seorang Raja yang mempunyai seorang ahli sihir (as sahir) sebagai penasehatnya. Raja ini ‘mentahbiskan’ dirinya sebagai Tuhan, sebagaimana terjadi pada Namrudz pada masa Nabi Ibrahim AS, dan Fir’aun pada masa Nabi Musa AS. Ketika sang sahir telah tua, ia meminta Raja untuk mengirimkan kepadanya seorang pemuda pilihan yang cerdas, yang akan dididiknya menjadi seorang ahli sihir, sehingga kelak bisa menjadi penasehat raja sebagai pengganti dirinya. Pemuda terpilih tersebut diperintahkan Raja untuk menemui as sahir setiap harinya.

Beberapa hari berlalu, di perjalanannya ke rumah as sahir Pemuda ini melihat seorang Rahib sedang mengajarkana agama Islam (keimanan kepada Allah sesuai dengan syariat Nabi yang diutus waktu itu) di rumahnya. Ia tertarik dan duduk pada majelis sang Rahib itu sehingga terlambat menemui as sahir dan mendapat siksaan. Ia mengalami kebimbangan, ajaran Rahib jelas lebih baik dan lebih tepat baginya, tetapi tidak mungkin ia begitu saja mengabaikan as sahir dan meninggalkan ajarannya. Bisa jadi Raja akan menghukumnya bahkan memerintahkan ia dibunuh karena keimanannya kepada Allah.

Ketika pemuda ini menyampaikan permasalahannya pada Rahib dan mengeluhkan siksaan yang dialaminya dari as sahir, Rahib berkata, “Berikan alasan pada sahir bahwa kamu terlambat karena ditahan oleh ibumu, dan jika ibumu menanyakan terlambatnya pulangmu, katakan kalau ditahan oleh as sahir…!!”

Begitulah berlalu beberapa lamanya sehingga pemuda ini makin mahir dalam dua bidang ilmu yang bertentangan itu. Suatu ketika ia melihat orang-orang terhenti pada suatu jalan karena ada binatang buas yang menghalangi. Mereka tidak berani melewatinya karena binatang itu tampak siap menyerang siapapun yang mendekatinya. Pemuda itu berkata dalam hati,”Hari ini aku akan mengetahui, ajaran sahir ataukah rahib yang lebih baik!!”

Sambil memungut batu kecil dan melemparkannya kepada binatang buas itu, ia berdoa, “Ya Allah, jika ajaran Rahib lebih Engkau sukai daripada ajaran sahir, bunuhlah binatang buas itu agar orang-orang bisa berjalan lagi ..!!

Dan ternyata binatang buas itu seketika mati ketika terkena batu tersebut. Sang pemuda menceritakan pengalamannya itu kepada Rahib, yang kemudian berkata, “Wahai anakku, engkau kini lebih utama daripada aku. Tetapi ketahuilah, sesungguhnya engkau akan mendapat cobaan (bala’) karena keutamaanmu ini. Maka apabila bala’ itu datang padamu, janganlah sekali-kali engkau menunjuk (mengaitkan) aku.”

Allah memang memberikan karunia yang besar kepada pemuda tersebut, ia bisa mengobati berbagai macam penyakit, dan atas izin Allah menjadi sembuh. Bahkan penyakit yang menurut banyak orang tidak bisa disembuhkan seperti buta, belang, lepra dan berbagai penyakit lainnya. Pada mulanya hal itu tidak terlalu menarik perhatian, karena Raja dan masyarakat beranggapan pemuda itu memperoleh kehaliannya itu itu dari sahir.  Sampai pada suatu ketika ada seorang lelaki, kawan sang Raja yang telah lama mengalami kebutaan, mendatangi pemuda itu dan berkata, “Jika engkau bisa menyembuhkan penyakitku hingga aku bisa melihat lagi, maka aku akan memberikan apapun yang engkau minta, sebanyak apapun yang engkau inginkan..!!”

Pemuda itu berkata, “Aku tidak bisa menyembuhkan, tetapi hanya Allah yang memberikan kesembuhan kepada siapapun yang dikehendakiNya. Jika engkau percaya kepada Allah, aku akan berdoa dan semoga Allah memberikan kesembuhan kepadamu…!!”

Lelaki itu segera menyatakan keimanannya kepada Allah, dan setelah sang Pemuda selesai berdoa, seketika ia bisa melihat kembali. Karena gembiranya, tanpa memperhitungkan apa yang akan terjadi, lelaki itu hadir kembali di majelis pertemuan Raja sebagaimana ia hadir sebelum mengalami kebutaan. Sang Raja sangat takjub dengan keadaannya dan berkata, “Siapakah yang menyembuhkan matamu?”

Mendengar pertanyaan itu, barulah lelaki itu sadar bahaya apa yang akan menimpanya jika ia berkata jujur. Tetapi tampaknya lelaki ini telah merasakan manisnya iman walau baru saja memasuki agama Islam, dengan tegas ia berkata, “Tuhanku yang menyembuhkanku!!”

Sang Raja berkata, “Apakah engkau percaya tuhan selain aku?”

Lelaki itu berkata, “Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah!!”

Raja sangat marah dengan perkataannya itu. Ia memerintahkan prajuritnya untuk menyiksa lelaki itu untuk mencari tahu darimana ia memperoleh pengajaran tersebut, dan memaksanya untuk kembali kepada ajaran jahiliah, yang mempertuhankan dirinya. Bagaimanapun beratnya siksaan yang ditimpakan, ia tidak bergeming dari keimanan kepada Allah. Tetapi dalam puncak penderitaannya ia tidak bisa mengelak sumber pengajaran keimanannya, dan ia menunjuk pemuda itu sebagai ‘gurunya’.

Raja makin marah, pemuda yang dikadernya untuk menjadi penasehat kerajaan justru menjadi orang yang menentang ketuhanannya. Ketika pemuda itu didatangkan, Raja berkata, “Wahai pemuda, sungguh sihirmu telah mencapai puncaknya sehingga bisa menyembuhkan buta dan berbagai penyakit lainnya….”

Belum sempat Raja meneruskan ucapannya, sang Pemuda berkata, “Bukan saya yang menyembuhkan, tetapi Allah, Tuhanku dan Tuhanmu yang menyembuhkan!!”

Bukan main marahnya Raja, dan segera memerintahkan para prajuritnya untuk menyiksa pemuda tersebut. Berbagai macam siksaan ditimpakan tetapi pemuda itu tetap kokoh dengan keimanannya kepada Allah. Harta kekayaan, jabatan dan berbagai kenikmatan dunia ditawarkan agar ia bersedia kembali pada agama jahiliahnya, tetapi sama sekali ia tidak bergeming dari keimanannya kepada Allah. Tetapi pada akhirnya ia tidak bisa menutupi kalau yang mengajarkan keimanan itu adalah sang Rahib.

Sang Rahib ditangkap dan disiksa habis-habisan, tetapi seperti dua orang yang mengikuti pengajarannya, sama sekali ia tidak bisa dipengaruhi untuk mengubah keimanannya. Maka didatangkan sebuah gergaji besar, dan sang rahib dibelah menjadi dua, dari kepala hingga kakinya. Didatangkan lagi kawan raja, ketika ia tetap teguh dengan keimanannya kepada Allah, ia dibelah seperti halnya sang Rahib. Waktu pemuda didatangkan, sang Raja tidak segera memerintahkan pembunuhan dengan gergaji, tampaknya dia masih berharap pemuda itu menuruti kemauannya dan menempatkannya sebagai penasehat kerajaan. Ia berkata kepada sekelompok prajuritnya, “Bawalah pemuda ini ke atas gunung, dan tawarkan untuk kembali pada agamanya semula. Jika tetap menolak, lemparkanlah ia ke bawah hingga mati….!!”

Berangkatlah para prajurit itu memenuhi perintah raja. Ketika sampai di puncak gunung, pemuda itu berdoa, “Allahummak fiihim bimaa syi’ta (Ya Allah, hindarkanlah aku dari mereka ini sekehendak Engkau).”

Seketika gunung itu berguncang, dan para prajurit raja jatuh bergelimpangan hingga tewas. Sebenarnya bisa saja pemuda itu pergi menghindari raja demi keselamatannya, tetapi setelah melihat nasib yang dialami rahib dan kawan raja itu ‘jiwa dakwah’-nya justru muncul. Ia ingin lebih banyak lagi orang yang beriman, karena itu ia mendatangi lagi sang Raja, yang tentu saja kaget melihatnya dalam keadaan selamat. Raja berkata, “Mana para prajurit yang membawa kamu?”

Ia berkata, “Allah telah menghindarkan (menyelamatkan) aku dari rencana mereka!!”

Raja memerintahkan beberapa prajuritnya untuk membawa pemuda itu ke tengah laut dengan sebuah perahu. Setelah jauh dari daratan, mereka diperintahkan untuk menawarkan kepada pemuda itu kembali pada agama jahiliahnya, agama sang Raja. Jika menolak, hendaknya pemuda itu dilemparkan ke lautan hingga mati tenggelam.

Mereka segera berangkat sesuai perintah Raja, tetapi ketika sampai di tengah lautan, Sang Pemuda kembali berdoa, “Allahummak fiihim bimaa syi’ta (Ya Allah, hindarkanlah aku dari mereka ini sekehendak Engkau).”

Seketika perahu itu berguncang dengan hebatnya, para prajurit itu terjatuh ke dalam air dan semuanya tewas tenggelam, tinggal pemuda itu sendirian. Ia membawa perahu itu kembali ke daratan dan menghadap raja sebagaimana sebelumnya. Sang Raja berkata, “Mana para prajurit yang membawa kamu?”

Ia berkata, “Allah telah menghindarkan (menyelamatkan) aku dari rencana mereka!!”

Sebelum Raja sempat membuat makar (rencana) lain untuk membunuh dirinya, pemuda itu berkata, “Wahai Raja, engkau tidak akan bisa membunuhku kecuali menurut cara yang aku ajarkan kepadamu.”

“Bagaimana caranya?”

Pemuda itu berkata, “Engkau kumpulkan semua rakyat di suatu tanah lapang, ikatlah aku pada suatu pohon dan panahlah aku dengan panah dan busurku. Sambil melepaskan anak panahnya, katakan : Bismilahir rabbil ghulam (Dengan nama Allah, Tuhannya pemuda ini). Jika itu engkau lakukan, maka engkau akan bisa membunuhku!!”

Tanpa menyadari apa rencana dan tujuan sang Pemuda memberikan saran seperti itu, sang Raja segera memerintahkan untuk melaksanakanmya. Mendengar perintah Raja untuk berkumpul dalam rangka mengeksekusi mati sang Pemuda, rakyat sangat antusias mendatangi tanah lapang kerajaan. Selama ini mereka telah mendengar dan melihat kehebatan pemuda itu sejak berhasil membunuh binatang buas hanya dengan batu kecil, sampai lolos dari kematian dari para prajurit yang siap membunuhnya. Mereka ingin tahu, kekuatan apa yang dimiliki oleh pemuda itu.

Pada waktu yang ditentukan, Raja mengarahkan anak panah pada pemuda yang telah diikat pada sebuah pohon, sambil melepaskannya ia berkata, “Bismilahir rabbil ghulam!!”

Panah itu mengenai pelipis sang Pemuda, rakyat melihat penuh tanda-tanya apa yang akan terjadi. Akankah ia lolos dari kematian seperti sebelumnya? Pemuda itu meletakkan tangannya di pelipisnya yang terluka, darah mengalir dari sela-sela jemarinya. Tidak ada kata yang terucap, sama sekali tidak tampak rasa kesakitan dan ketakutan di wajahnya, justru yang terlihat adalah ketenangan dan kesejukan yang mempesona rakyat yang mengamati wajahnya yang bersimbah darah. Perlahan ia melemah dan akhirnya meninggal, syahid dalam dalam mempertahankan dan mendakwahkan keimanannya kepada Allah.

Setelah Raja dan para prajuritnya meninggalkan tempat tersebut, beberapa orang dari rakyat kerajaan itu berkata, “Aamanna birabbil ghulam.”

Sedikit demi sedikit orang-orang mengikutinya, sehingga akhirnya hampir merata orang-orang di tanah lapang itu beriman kepada Allah. Hal itu terus berkembang sehingga makin banyak orang yang beragama Islam, yang sebenarnya sangat ditakutkan Raja akan terjadi di kerajaannya. Sesuatu yang tanpa disadarinya terjadi karena ‘ambisinya’ sendiri, yakni membunuh sang Pemuda untuk mempertahankan ‘ketuhanannya’. Ia tidak sadar bahwa tanpa sengaja ia telah menunjukkan jalan keimanan kepada Allah.

Ketika hal itu dilaporkan kepada sang Raja, ia memerintahkan untuk membuat parit besar di setiap persimpangan jalan, di dalamnya dinyalakan api yang membara. Setiap orang yang lewat ditanya kepercayaannya, jika ia beriman kepada Allah, ia akan diperintahkan untuk murtad. Jika menolak, ia akan didorong masuk ke dalam parit api tersebut. Banyak sekali yang disiksa dan tewas dalam parit api itu karena mempertahankan keimanan kepada Allah. Mereka lebih baik mati syahid sebagaimana dicontohkan sang Pemuda, daripada harus kembali pada agama jahiliahnya. Bahkan ada seorang ibu yang menggendong bayinya, ketika hampir menyerah karena anak kesayangannya akan dilempar ke dalam api, tiba-tiba sang bayi itu berkata, seperti halnya Nabi Isa AS yang berbicara ketika bayi, “Wahai ibu, bersabarlah, karena sesungguhnya engkau dalam kebenaran yang sesungguhnya (al haq)..!!”

Peristiwa ini disitir dalam Al Qur’an Surah Al Buruuj ayat 4-9, “Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.”

 

KERANA TIDAK MENUNAIKAN ZAKAT

            Sekelompok tabiin (mereka yang berguru pada sahabat Nabi SAW) mengunjungi seorang tabiin lainnya yang bernama Abu Sinan. Tetapi belum sempat berbincang, Abu Sinan berkata, “Mari ikut bersamaku bertakziah pada tetanggaku yang saudaranya meninggal!!”

            Mereka segera beranjak ke rumah tetangga Abu Sinan, dan mendapati lelaki itu menangis mengeluhkan keadaan saudaranya yang telah meninggal dan dimakamkan. Para tabiin itu berusaha menghibur dan menyabarkannya dengan berkata, ”Tidakkah engkau tahu bahwa kematian itu adalah sebuah jalan dan kepastian yang tidak bisa dihindarkan??”

            Lelaki itu berkata, “Memang benar, tetapi aku menangisi saudaraku yang kini menghadapi siksa kubur!!”

            Sesaat mereka saling berpandangan, kemudian berkata, “Apakah Allah memperlihatkan kepadamu tentang berita ghaib??”

            Ia berkata, “Tidak, tetapi saat selesai memakamkannya dan orang-orang meninggalkan kuburnya, aku duduk sendirian meratakan tanah kuburan sambil mendoakannya Tiba-tiba terdengar suara dari dalam tanah : …aach, mereka meninggalkan aku sendirian menghadapi siksa ini, padahal aku benar-benar telah berpuasa, aku benar-benar telah melaksanakan shalat….”

            Sesaat lelaki itu terdiam berusaha menahan isak tangisnya, lalu berkata lagi, “Mendengar perkataan itu, aku jadi menangis dan menggali lagi kuburannya untuk melihat apa yang sedang dihadapinya. Aku melihat api menjilat-jilat di sana, dan di lehernya melingkar sebuah kalung dari api. Rasa sayang dan kasihan membuatku ingin mengurangi deritanya, maka aku mengulurkan tangan untuk melepas kalung api itu, tetapi tangan dan jari-jemariku justru tersambar api sebelum sempat menyentuhnya….!!”

            Ia menunjukkan tangannya yang tampak menghitam bekas terbakar, dan berkata lagi, “Aku segera menutup kembali kuburnya, dan terus menerus bersedih, menangis dan menyesali keadaan dirinya….!!”

            Mereka berkata, “Sebenarnya apa yang telah dilakukan saudaramu di dunia hingga mendapat siksa kubur seperti itu??”

            Ia berkata, “Dia tidak mengeluarkan zakat hartanya!!”

            Salah seorang dari para tabiin itu yang bernama Muhammad bin Yusuf al Qiryabi berkata, “Peristiwa itu membenarkan firman Allah SWT : Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Ali Imran 180)… Sedangkan saudaramu itu disegerakan siksanya di alam kubur hingga hari kiamat tiba….”

            Para tabiin itu berpamitan, dan mereka mengunjungi sahabat Nabi SAW, Abu Dzarr al Ghifari. Mereka menuturkan kisah lelaki tetangga Abu Sinan itu, dan menutup ceritanya dengan pertanyaan, “…. Kami telah banyak melihat orang-orang Yahudi, Nashrani dan Majusi mati, tetapi kami tidak pernah mendengar cerita yang seperti ini!!”

            Abu Dzarr berkata, “Mereka (kaum Yahudi, Nashrani dan Majusi) telah jelas tempatnya di neraka, adapun Allah memperlihatkan keadaan orang-orang yang beriman (yang mengalami siksa) itu kepada kalian, agar kalian dapat mengambil ibarat (pelajaran). Bukankah Allah telah berfirman : Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka Barang siapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barang siapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudaratannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara kamu. (QS al An’am 104)….!!”  

KEADILAN LEBIH BAIK DARIPADA KEINDAHAN

Anu Sirwan adalah salah satu Kisra (Kaisar) Persia yang cukup terkenal karena keadilan dan kearifan (kebijaksanaan)nya kepada rakyatnya. Ia hidup jauh sebelum diutusnya Nabi SAW, tetapi kisah-kisah keadilannya cukup terkenal dan menyebar di kalangan masyarakat Arab, walau sebenarnya ia dan rakyatnya adalah penyembah api, yakni beragama Majusi. 

            Salah satu kisahnya adalah ketika Anu Sirwan akan melakukan pembangunan untuk meluaskan istananya. Ketika ia melakukan penggusuran dan pembebasan tanah beberapa orang rakyatnya, ternyata ada seorang wanita tua dengan gubug reotnya yang menolak untuk menjual. Berbagai upaya, ancaman dan rayuan, cara halus hingga keras dilakukan tetapi wanita itu tetap bertahan. Wanita itu berkata, “Saya tidak akan menjual walau akan dibayar dengan sekeranjang uang emas. Tetapi kalau dia (yakni Kisra Anu Sirwan) akan menggusurnya, dan dia memang mampu melakukannya, maka terserah saja!!”

            Para pelaksana pembangunan perluasan istana itu melaporkan hal itu kepada Anu Sirwan, dan berencana menggusur gubug reot wanita tua itu, karena posisinya memang tepat di tengah-tengah istana itu, di bagian depan pula. Tetapi Anu Sirwan berkata, “Jangan lakukan itu, biarkan saja gubug itu di tempatnya, tetapi tetap laksanakan perluasan pembangunan!!”

            Pembangunan terus dilaksanakan, hanya saja ada pembengkokan untuk menghindari gubug wanita tua. Ketika telah selesai dan tamu-tamu datang untuk menghadiri undangan Kisra Abu Sirwan dalam suatu acara di istana, banyak sekali yang berkomentar, “Alangkah indahnya istana ini jika saja tidak ada bengkoknya (yakni gubug wanita tua itu)!!”

            Mendengar komentar-komentar seperti itu, Anu Sirwan berkata, “Justru dengan kebengkokan itulah perkaranya menjadi lurus, dan keindahannya semakin sempurna!!”

            Walau secara penampilan memang ‘kurang indah’, tetapi itulah memang yang benar dan lurus. Keadaan dan ‘keindahan’-nya menjadi sempurna karena memang tidak ada satu pihakpun, walau sangat lemah dan tidak berdaya, yang merasa didzalimi dengan sikap sang penguasa.

            Peristiwa yang hampir sama terjadi ketika Mesir masuk menjadi wilayah Islam setelah terlepas dari Rumawi pada masa khalifah Umar bin Khaththab. Gubernur Mesir saat itu, Amr bin Ash bermaksud mendirikan sebuah masjid (yang kini dikenal dengan nama Masjid Amr bin Ash), tetapi seorang wanita Qibhti beragama Nashrani menolak ketika gubug reotnya akan dibeli/diganti dengan harga berapapun. Hanya saja Amr bin Ash tetap memerintahkan untuk menggusur rumah wanita Qibhti itu agar pembangunan masjidnya segera selesai.

            Wanita Qibthi yang merasa didzalimi oleh tindakan sang gubernur itu berjalan kaki menuju Madinah untuk mengadukan persoalannya kepada khalifah. Mendengar pengaduan itu, Umar mengambil pecahan tembikar, dan menulis dengan pedangnya, “Kita lebih berhak (wajib) berbuat keadilan daripada Kisra Anu Sirwan!!”

            Umar memerintahkan wanita Qibhti itu menyerahkan ‘surat’ pecahan tembikar itu kepada Gubernur Amr bin Ash. Ia juga memberikan perbekalan yang berlebih kepada wanita beragama Nashrani itu, agar bisa sampai kembali ke Mesir dengan selamat. Ketika Amr bin Ash menerima ‘surat’ dari Umar itu, ia langsung meletakkan pecahan tembikar tersebut di atas kepalanya, sambil menangis memohon ampunan kepada Allah. Ia memerintahkan para pelaksana pembangunan untuk mendirikan kembali gubug wanita Qibhti itu, dan membelokkan bangunan masjid, sehingga bentuknya membengkong.

KASIH SAYANG ALLAH PADA YAUMUL HISAB

Ketika Allah telah menegakkan Mizanul Amal (Timbangan Amal) pada hari perhitungan (Yaumul Hisab) kelak, ada seorang hamba yang amal kebaikannya tidak bisa melampaui amal kejelekan yang dikerjakannya, timbangan itu sejajar, karena itu ia tidak bisa masuk ke surga ataupun dimasukkan ke neraka. Maka Allah berfirman kepadanya, “Pergilah kamu kepada semua umat manusia, mungkin engkau akan menemukan seseorang yang mau memberikan satu kebaikan kepadamu, yang dengan satu kebaikan itu Aku akan memasukkan engkau ke surga!!”

            Orang itupun berjalan berkeliling ke seluruh penjuru makhsyar, menemui setiap orang untuk meminta satu kebaikan saja, tetapi ia tidak berhasil. Ketika ia menyampaikan maksudnya, ia selalu memperoleh jawaban yang hampir sama, “Saya takut kalau timbangan amal kebaikan saya kurang berat, saya masih sangat membutuhkan nilai kebaikan itu daripada anda!!”

            Memang, dalam suatu riwayat disebutkan bahwa pada yaumul hisab itu hampir setiap orang akan merasa menyesal. Bukan hanya orang-orang kafir atau orang muslim yang sedikit sekali berbuat kebaikan, tetapi orang-orang yang biasa berbuat kebaikan juga akan menyesal. Mereka ini menyesal mengapa ketika hidup di dunia tidak lebih banyak menyempatkan waktu untuk berbuat kebaikan. Karena di saat itu (yakni saat yaumul hisab), ia baru menyadari bahwa amal kebaikan sedikit saja yang dilakukan karena Allah, walau sekedar dua rakaat shalat sunnah, menghilangkan halangan (duri, kaca dll.) dari jalan karena bisa membahayakan orang lain, atau bahkan sekedar tersenyum pada tetangga atau orang-orang yang ditemuinya, ternyata pahalanya sangatlah besarnya. Itulah sebabnya pada saat itu hampir setiap orang akan mempertahankan amal kebaikan yang telah dilakukannya. Mereka berharap dengan kebaikannya itu mereka akan selamat dari huru hara dan fitnah pada yaumul hisab tersebut.

            Ketika orang itu telah melintasi lautan manusia dan hampir putus asa untuk memperoleh sekedar satu kebaikan yang kecil saja, ada seorang lelaki yang datang menghampiri dan berkata, “Apakah yang sedang engkau cari?”

            Orang itu menceritakan keadaanya di hadapan Allah, dan akhirnya berkata, “Saya telah menemui ribuan orang dari berbagai kaum, yang mereka itu memiliki beribu-ribu kebaikan, tetapi mereka semua bakhil terhadap saya, mereka tidak mau memberikan walau hanya satu kebaikan kecil saja!!”

            Lelaki itu tampak ikut bersedih mendengar cerita tersebut, tetapi kemudian ia berkata, “Saya telah bertemu dengan Allah, dan saya tidak menemukan amal kebaikan dalam lembaran amal saya kecuali hanya satu saja. Saya kira satu kebaikan itu tidak akan cukup untuk menjadi sebab masuk surga, karena itu ambillah kebaikan itu sebagai pemberianku kepadamu!!”

            Lelaki itu sangatlah gembira, setelah mengucap terima kasih ia segera kembali menghadap kepada Allah, yang menyambutnya dengan firman-Nya, “Bagaimana? Apa yang terjadi?”

            Lelaki itu berkata, “Saya telah gagal memperoleh satu kebaikan dari banyak orang yang memiliki ribuan bahkan jutaan kebaikan, tetapi ada seseorang yang hanya mempunyai satu kebaikan dan ia memberikannya kepada saya. Ia beranggapan bahwa satu kebaikannya itu tidak akan cukup untuk menyelamatkannya!!”

            Mendengar ceritanya itu, dan sungguh Allah lebih Maha Mengatahui tentang hal itu, maka Allah berfirman, “Kemuliaan-Ku lebih luas dari kemuliaan engkau dan dirinya. Karena itu pegang tangan saudaramu itu, dan ajaklah ia berangkat ke surga bersamamu!!”

 

Kasih Sayang Allah pada Yaumul Hisab (2)

Pada yaumul hisab kelak, setelah menghadapi pengadilan dan mizan (penimbangan amal) di hadapan Allah, seorang lelaki diperintahkan untuk berjalan ke arah neraka. Walau ia seorang muslim, tetapi timbangan kebaikannya tidak bisa mengalahkan (lebih berat daripada) amal-amal keburukannya, dan Allah SWT tidak atau belum berkenan untuk memberikan ampunan kepadanya.

Lelaki itupun berjalan ke arah neraka, tetapi pada jarak sepertiganya ia berhenti sebentar dan menoleh ke belakang, setelah itu berjalan lagi. Pada jarak setengahnya, ia berhenti lagi dan menoleh ke belakang, tetapi tidak lama berselang ia berjalan lagi. Pada jarak dua pertiganya, atau sepertiga lagi akan sampai di pintu neraka, dan ia mulai merasakan panasnya yang membara, lagi-lagi lelaki itu berhenti dan menoleh ke belakang, tetapi tidak lama ia telah berjalan lagi menuju ke neraka.

Melihat perilaku aneh lelaki itu, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Allah memerintahkan seorang malaikat untuk membawa lelaki itu kembali ke hadapan-Nya. Setelah dibawa kembali, Allah berfirman kepadanya, “Wahai Fulan, mengapa engkau sampai menoleh tiga?”

Lelaki itu berkata, “Ya Allah, setelah hamba sampai di sepertiga jarak ke neraka, hamba teringat akan firman-Mu : Warabbukal ghafuuru dzur-rahmah (QS al Kahfi 58, artinya : Dan Tuhanmu Maha Pengampun lagi penuh rahmah/kasih sayang). Maka hamba berhenti dan menoleh, sangat berharap akan datangnya ampunan dan rahmat-Mu. Tetapi karena tidak muncul juga, hamba meneruskan perjalanan…”

Lelaki itu meneruskan, “Pada jarak setengah perjalanan, hamba teringat akan firman-Mu : Wa man yaghfirudz dzunuuba illallaah (QS Ali Imran 135, artinya : Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?), maka besarlah harapan hamba akan ampunan-Mu, karena sesungguhnya hamba telah berputus asa dari siapapun kecuali hanya Engkau. Tetapi karena tidak juga terlihat wujudnya harapan itu, hamba berjalan lagi…”

Ia meneruskan, “Ketika sampai pada jarak dua pertiga, hamba teringat akan Firman-Mu : Qul yaa ‘ibaadiyal-ladziina asrafuu ‘alaa anfusihim laa taqnathuu min rahmatillah (QS Az Zumar 53, yang artinya : Katakanlah, hai hamba-hamba-Ku yang melewati batas (dholim) kepada dirinya sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah). Maka bertambahlah harapan hamba atas maghfirah dan rahmat-Mu, ya Allah, tetapi karena tidak juga ada panggilan-Mu, hamba berjalan lagi, hingga salah seorang malaikat-Mu membawa hamba kembali ke sini!!”

            Setelah penjelasannya itu, Allah berfirman, “Pergilah engkau (ke surga), sesungguhnya Aku telah mengampuni engkau!!”

DUA BUTIR KURMA YANG MENGHALANGINYA

 Abu Ishaq Ibrahim bin Adham bin Manshur adalah seorang sufi, yang sebelumnya adalah putera seorang penguasa (Raja) di wilayah Balkh, termasuk wilayah Khurasan, Persia. Setelah memutuskan untuk meninggalkan kemewahan hidupnya di Balkh, ia memilih hidup zuhud dan berjalan kaki mengarungi padang sahara menuju Makkah. Ia tinggal di sana beberapa waktu lamanya bersama Sufyan Tsauri dan Fudhail bin Iyadh, dan akhirnya pindah ke Syam (Syria) hingga wafatnya pada tahun 161 H atau 778 M.

Ketika tinggal di Makkah, setiap tahunnya Ibrahim bin Adham mempunyai ‘kebiasaan’ berziarah ke Masjidil Aqsha untuk berkhalwat, dan i’tikaf semalaman di ruangan atau bagian masjid yang disebut Qubbatus Shahra. Menurut riwayat, Qubbatus Shahra ini adalah batu besar yang dijadikan pijakan Nabi SAW dan malaikat Jibril ketika akan naik ke langit melakukan Mi’raj.

Batu besar (Shahra=batu karang atau batu besar yang keras) tersebut sempat ikut ‘terbang’ dan naik mengikuti mereka berdua, tetapi kemudian diketahui oleh malaikat Jibril dan diperintahkan turun kembali. Dengan terpaksa sang batu turun kembali, tetapi ia ‘ngambek’ tidak mau menyentuh tanah dan ‘menggantung’ beberapa meter tingginya. Setelah berlalunya waktu, dibangunlah sebuah penyangga sehingga batu besar itu menjadi semacam kubah di Masjidil Aqsha tersebut. Wallahu A’lam.

Suatu ketika ia berangkat ke Masjidil Aqsha seperti kebiasaannya. Saat itu ada peraturan bahwa di malam hari tidak boleh ada yang tinggal atau menginap di dalam masjid, karena malam hari menjadi ‘bagian’ dari para malaikat untuk beribadah di dalamnya. Karena itu Abdullah bin Adham harus sembunyi-sembunyi agar tidak dikeluarkan oleh petugas, dan bisa melakukan amalan istiqomah tahunannya, yakni i’tikaf di Qubbatus Shahra di malam hari.

Malam telah larut dan Ibrahim telah lolos dari pengawasan petugas, ia mulai melaksanakan amalan-amalannya untuk mendekatkan diri (taqarub) kepada Allah. Para malaikat mulai datang, dan salah satunya berkata, “Ternyata di dalam masjid ini masih ada manusia!!”

Tidak ada penjelasan apakah Ibrahim bin Adham melihat kehadiran para malaikat itu, tetapi ia bisa mendengar pembicaraannya. Malaikat lainnya berkata, “Ya benar, dia adalah Ibrahim bin Adham, seorang ahli ibadah yang berasal dari kota Khurasan…”

Malaikat lainnya berkata, “Ya, dia adalah seorang ahli ibadah yang semua amal ibadahnya langsung naik ke langit dan diterima setiap harinya!!”

Salah malaikat lainnya langsung menyahuti, “Ya, memang benar seperti itu, tetapi dalam setahun ini amal ibadahnya terhenti dan tertahan di langit. Begitu juga dengan doa-doanya, kini tertunda pengabulannya hanya karena dua biji kurma yang pernah dimakannya sekitar satu tahun yang lalu!!”

Ibrahim langsung tersentak kaget dengan perkataan malaikat yang terakhir itu. Konsentrasi dan fokus amalannya langsung buyar, ia berfikir keras dan mencoba mengingat-ingat tentang dua butir kurma itu. Kurma bisa dikatakan sebagai makanan pokok sehari-hari di Makkah dan daerah jazirah Arabia lainnya saat itu, sehingga ia agak kesulitan untuk mengingat dua butir kurma mana yang menjadi ‘penghalang’ diterimanya amal ibadah dan doa-doanya dalam setahun ini.

Setelah lama berfikir ia mulai ingat, suatu kali ia membeli kurma dari seorang lelaki yang sudah sangat tua. Ketika proses berlangsung dan sudah ‘deal’ harganya, akad jual-beli juga sudah diucapkan, ada dua butir kurma jatuh di dekat kakinya. Tanpa berfikir panjang Ibrahim mengambil dan memakannya, karena ia merasa kurma itu bagian dari yang telah dibeli dan kemudian dibayarnya. Ia berkata dalam hatinya, “Tentulah dua butir kurma itu yang dimaksudkan oleh malaikat tersebut!! Aku harus meminta ridho (kerelaan) dari pemiliknya…”

Keesokan harinya Ibrahim bin Adham langsung kembali ke Makkah. Setelah berhari-hari berjalan kaki mengarungi padang pasir, ia sampai di Makkah dan langsung ke tempat penjual kurma yang dimaksudkan. Tetapi lelaki tua yang menjual kurma itu tidak ada, digantikan oleh seorang pemuda. Ibrahim berkata, “Sekitar setahun yang lalu, ada seorang penjual kurma yang sudah tua di sini, tolong beritahu aku dimana dia sekarang berada?”

Sang pemuda berkata, “Dia adalah ayahku, beliau telah meninggal dunia!!”

Tampak kesedihan yang amat dalam di wajah Ibrahim, melihat reaksinya itu, sang pemuda berkata, “Apakah yang telah terjadi antara tuan dengan ayahku sehingga tuan begitu bersedih!!”

Ibrahim menceritakan peristiwa dua butir kurma yang terjadi setahun yang lalu, dan ia meminta kehalalannya karena telah terlanjur dimakannya. Sang pemuda tampaknya juga merasa kaget sekaligus heran dengan sikap Abdullah bin Adham tersebut. Hanya karena dua butir kurma itu, dampaknya begitu ‘luar biasa’, ia berkata, “Baiklah, saya memberi ridha (kehalalan) pada tuan atas dua butir kurma itu. Hanya saja, bukan hanya saya saja ahli waris dari ayah, tetapi ada ibu dan saudara perempuan saya. Mungkin tuan ingin juga meminta kehalalan dari mereka berdua!!”

“Baiklah, “ Kata Ibrahim.

Setelah memperoleh informasi tempat tinggalnya, Ibrahim bin Adham segera menemui mereka, yang tentu saja tidak berkeberatan menghalalkan dua butir kurma yang terlanjur dimakan olehnya. Setelah itu Ibrahim bin Adham kembali mengarungi padang pasir menuju Baitul Maqdis, ia i’tikaf lagi di Qubbatus Shahra, walau dengan sembunyi-sembunyi seperti sebelumnya. Saat malam telah larut dan malaikat mulai berdatangan, ia mendengar percakapan mereka. Salah satunya berkata, “Ternyata di dalam masjid ini masih ada manusia!!”

Malaikat lainnya berkata, “Dia adalah Ibrahim bin Adham, amal ibadahnya yang setahun itu tertahan di langit, dan doa-doanya yang tertunda pengabulannya, kini telah diterima oleh Allah karena ia telah meminta kehalalan dari dua butir kurma yang telah dimakannya dengan cara tidak benar!!”

Mendengar pembicaraan itu Ibrahim langsung sujud syukur, ia sampai menangis karena gembiranya. Sejak saat itu ia sangat berhati-hati ketika akan makan, dan itupun dilakukannya hanya sekali dalam seminggu

BERBUAT BAIK WALAU DIZALIMI

 Muhammad bin Himyar adalah seorang yang saleh dan wara’, hari-harinya lebih banyak diisi dengan puasa sunnah dan shalat malam, tentunya setelah menyempurnakan ibadah fardhunya. Ia juga sangat senang membantu siapa saja yang mengalami kesulitan, sejauh ia mampu melakukannya. Tetapi ternyata tidak semua pihak senang dengan perbuatan baik yang dilakukan seseorang, mungkin karena dengki, persaingan, memusuhi atau karena alasan lainnya, begitu juga yang pernah dialaminya.

            Suatu ketika ia berburu di hutan, tiba-tiba datang seekor ular dan berkata seperti menghiba, “Hai Muhammad bin Himyar, tolonglah aku, semoga Allah akan menolongmu!!”

            Ia sempat terkejut dan heran karena ular itu berbicara seperti dirinya, tetapi karena permintaannya itu yang tampak mendesak, ia mengabaikan keheranannya dan jiwa ‘penolong’nya yang lebih tampil. Ia berkata, “Dari siapakah aku harus menolongmu!!”

            Ular itu berkata, “Dari musuhku yang ingin membunuhku!!”

            “Dimanakah musuhmu?” Tanyanya lagi.

            “Ia mengejar di belakangku!!” Kata ular itu lagi.

            Ibnu Himyar sempat waspada dengan berkata, “Dari umat siapakah engkau ini?”

            “Umat Nabi Muhammad SAW!!”

            Lalu ia membuka serbannya dan berkata, “Masuklah engkau di sini!!”

            Ular itu berkata, “Aku akan dapat dilihat oleh musuhku itu!!”

            Kemudian ia melonggarkan ikat pinggangnya dan berkata, “Masuklah ke dalam bajuku, engkau akan aman di sana!!”

            Ular itu berkata lagi, “Ia masih akan bisa menemukanku di situ!!”

            “Apa yang harus aku lakukan untuk bisa menolongmu!!”

            Ular itu berkata, “Jika memang ingin menolongku, bukalah mulutmu, dan aku akan bersembunyi di dalam perutmu!!”

            Ia berkata, “Aku khawatir engkau akan membunuhku!!”

            Ular itu berkata, “Demi Allah aku tidak akan membunuhmu, Allah menjadi saksi atas janjiku ini, begitu juga dengan para malaikat dan para Nabi-Nya, Halamatul Arsyi (malaikat yang menyangga Arsyi) dan semua penduduk langit!!”

            Mendengar janjinya itu, tanpa ragu lagi Muhammad bin Himyar membuka mulutnya dan masuklah ular itu ke dalam perutnya. Tidak lama berselang, datang seorang lelaki dengan pedang terhunus dan berkata, “Apakah engkau melihat musuhku!!”

            Ibnu Himyar berkata, “Siapakah musuhmu itu?”

            Ia berkata, “Seekor ular!!”

            “Tidak!!” Kata Ibnu Himyar, tetapi dalam hatinya ia terus menerus mengucap istighfar karena kebohongannya berkata ‘tidak’ itu, walau hal itu yang diperbolehkan, yakni berbohong untuk menyelamatkan nyawa orang lain atau mahluk lainnya.

            Setelah orang bersenjata pedang terhunus itu berlalu dan tidak terlihat lagi jejak kehadirannya, Ibnu Himyar berkata, “Wahai ular, keluarlah karena musuhmu telah pergi jauh, sekarang ini telah aman!!”

            Tetapi ia amat terkejut ketika mendengar ular itu tertawa dan berkata, “Wahai Muhammad, engkau pilih satu di antara dua hal, apakah aku akan merobek-robek hatimu atau aku akan melobangi jantungmu, dan aku biarkan engkau (tubuhmu) tanpa ruh!!”

            Ia berkata, “Subkhanallah, dimanakah janji dan sumpahmu itu, begitu cepatnya engkau melupakannya!!”

            Lagi-lagi terdengar ular itu tertawa dan berkata, “Wahai Muhammad, mengapa engkau melupakan permusuhanku dengan bapakmu, Adam, yang aku telah mengeluarkannya dari surga. Mengapa pula engkau berbuat baik kepada orang yang curang dan tidak mengenal budi!!”

            Tentu saja Muhammad bin Himyar tidak menyangka bahwa ular itu adalah penjelmaan Iblis ataupun syaitan terkutuk. Tipikal Rasulullah SAW sebagai Rahmatal lil ‘alamin yang menjadi acuannya untuk berbuat baik kepada siapa saja termasuk bangsa binatang. Karena tidak ada pilihan lain maka ia hanya berpasarah diri kepada Allah, dan berkata kepada ular itu, “Jika engkau memang harus membunuhku, mau apa lagi, mungkin sudah menjadi jalan dan suratan takdirku untuk mati di tanganmu. Tetapi berilah waktu untukku menuju bukit itu untuk mengatur dan menyiapkan tempat matiku.”

            “Terserah padamu!!” Kata ular di dalam perutnya itu.

            Muhammad bin Himyar berjalan menuju bukit di maksud, tetapi sambil berjalan mulutnya tidak henti-hentinya melantunkan doa, layaknya orang sedang bersyair atau bersenandung :

            Ya lathif ya lathief, ulthuf bi luthfikal khofiyyi

            Ya lathif, as’aluka bil qudratil  latis-tawaita biha ‘alal arsyi

            Falam ya’rifil arsyu aina mustaqarraka minhu

            Illa kafaitani haadzihil hayyaati

            Makna dari doanya tersebut adalah : Ya Lathif ya Lathif (salah satu Asma Allah, Yang Maha Halus/Lembut), berilah aku karunia-Mu yang samar (lembut) itu, Ya Lathif, dengan kekuasaan-Mu ketika Engkau meliputi arsyi, sehingga arsyi itupun tidak mengetahui di manakah Engkau, aku memohon hendaklah Engkau hindarkan aku dari kejahatan ular (dalam perutku) ini.

            Tak henti-hentinya ia melafalkan doanya itu, sampai ia bertemu dengan seseorang yang sangat harum baunya dan bersih sekali penampilannya. Lelaki itu mengucap salam, dan setelah dijawab salamnya, ia berkata lagi, “Wahai saudaraku, mengapa wajahmu tampak berubah (yakni jadi memucat)?”

            Muhammad bin Himyar berkata, “Karena musuh yang berlaku kejam terhadapku!!”

            “Di manakah musuhmu itu,“ Tanya lelaki itu lagi.

            “Di dalam perutku!!”

            “Bukalah mulutmu!!”

            Ibnu Himyar membuka mulutnya, dan lelaki itu memasukkan sebuah daun hijau, mirip dengan daun zaitun, sambil berkata, “Kunyahlah dan telanlah!!”

            Ibnu Himyar segera mematuhinya, dan tidak berapa lama kemudian ia merasa sakit perut, disusul dengan keluarnya potongan-potongan ular yang berada di perutnya, melalui duburnya. Ia langsung mengucap syukur kepada Allah, dan sambil memegang tangan lelaki itu ia berkata, “Wahai Fulan, siapakah engkau ini, yang Allah telah menolongku dengan perantaraan engkau?”

            Lelaki itu tertawa dan berkata, “Apakah engkau tidak mengenal aku??”

            “Tidak!!” Kata Ibnu Himyar.

            Ia berkata lagi, “Wahai Muhammad bin Himyar, ketika terjadi peristiwa antara engkau dan ular itu, hingga akhirnya engkau berdoa, suara doa para malaikat di langit bergemuruh untuk memohonkan keselamatan atasmu. Maka Allah berfirman : Demi Kemuliaan dan Kebesaran-Ku, sungguh Aku telah melihat semuanya. Kemudian Allah memerintahkan aku pergi ke surga untuk mengambil satu daun hijau, dan memberikannya kepadamu. Namaku Al Ma’ruf, dan tempatku di langit ke empat!!”

            Ibnu Himyar makin banyak mengucap syukur kepada Allah, karena dari ‘musibah’ yang dialaminya, justru Allah memberikan karunia dengan mempertemukannya dengan Malaikat Al Ma’ruf dalam wujud manusia.

            Malaikat Al Ma’ruf itu berkata lagi, “Hai Muhammad bin Himyar, tetaplah engkau berbuat dan berbudi baik, karena dengan sikapmu itu dapat menghindarkan berbagai kejahatan dan kebinasaan. Meskipun tidak dibalas (diterima dan ditanggapi) dengan kebaikan oleh orang yang engkau berbuat baik kepadanya, tetapi tidak akan pernah disia-siakan oleh Allah SWT!!”