Catatan Popular

Memaparkan catatan dengan label Wali Dzun Nun Al Misri. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Wali Dzun Nun Al Misri. Papar semua catatan

Ahad, 11 November 2012

TOKOH SUFI KLASIK (11) : DZUN NUN DENGAN PEMUDA YANG MECEMOHNYA

Ada seorang pemuda yang seringkali mencemoohkan kaum sufi. Suatu hari Dzun Nun melepaskan cincin di jarinya kemudian memberikan cincin itu kepada si pemuda sambil berkata:

"Bawalah cincin ini ke pasar dan gadaikanlah dengan harga satu dinar".

Si pemuda membawa cincin itu ke pasar tetapi tak seorang pun mau menerimanya dengan harga di atas satu dirham. Si pemuda kembali dan menyampaikan hal itu kepada Dzun Nun.

"Sekarang bawalah cincin ini kepada pedagang permata dan t any akan harganya", Dzun Nun berkata kepada si pemuda.

Ternyata pedagang-pedagang permata menaksir harga cincin itu seribu dinar. Ketika si pemuda kembali, Dzun Nun berkata kepadanya:

"Engkau hanya mengetahui kaum sufi seperti pemilik-pemilik warung di pasar tadi mengetahui harga cincin ini".

Si pemuda bertaubat dan ia tak mau lagi mencemooh para sufi.

TOKOH SUFI KLASIK (10 ): DZUN NUN DENGAN BATU ZAMRUD

Pada suatu ketika seorang lelaki datang kepada Dzun Nun dan berkata:

"Aku mempunyai hutang tetapi aku tidak mempunyai wang  untuk melunasinya",

Dzun Nun memungut sebuah batu. Batu itu berubah menjadi zamrud. Dzun Nun menyerahkannya kepada lelaki itu. Ia membawa-nya ke pasar dan menjualnya dengan harga empat ratus dirham kemudian ia melunasi hutangnya.

TOKOH SUFI KLASIK (9) : DZUN NUN DENGAN MEMBERI CONTOH

Kisah berikut ini diriwayatkan oleh Abu Ja'far yang bermata satu. 

Aku bersama Dzun Nun dengan sekelompok murid-muridnya berada di suatu tempat. Mereka sedang membicarakan bahwa sesungguhnya manusia dapat memerintah benda-benda mati,
"Inilah sebuah contoh", kata Dzun Nun, "bahwa benda-benda mati mematuhi perintah-perintah manusia-manusia suci. Jika kukatakan kepada sofa itu 'menarilah mengelilingi rumah ini maka ia pun menari".
                                                              
"Belum lagi Dzun Nun selesai dengan kata-katanya, sofa itu mulai bergerak kemudian mengelilingi rumah lalu membalik ke tempatnya semula. Seorang pemuda yang menyaksikan peristiwa ini tidak dapat menahan ledakan tangisnya dan tak berapa lama kemudian menemui ajalnya. Mereka memandikan mayat si pemuda di atas sofa itu kemudian menguburkannya.

TOKOH SUFI KLASIK (8) : DZUN NUN BERDAKWAH KEPADA RAJA

Dzun Nun berkisah sebagai berikut:

Selama tiga puluh tahun aku mengajak manusia untuk bertaubat, tetapi hanya seorang yang telah menghampiri Allah dengan segala kepatuhan. Beginilah peristiwanya:
Pada suatu hari sewaktu aku berada di 'pintu sebuah masjid, seorang pangeran beserta para pehgiringnya lewat di depanku. Ku-ucapkan kata-kata: "Tak ada yang lebih bodoh daripada si lemah yang bergulat me la wan si kuat".

Si pangeran bertanya kepadaku: "Apakah makna kata-katamu itu?"
"Manusia adalah makhluk yang lemah, tetapi ia bergulat me-lawan Allah Yang Maha Kuat", jawabku.
Wajah si pangeran remaja itu berubah pucat. Ia bangkit lalu meninggalkan tempat itu. Keesokan harinya ia kembali menemuiku dan bertanya: "Manakah jalan menuju Allah?"

"Ada jalan yang kecil dan ada jalan yang besar, yang manakah yang engkau sukai?. Jika engkau menghendaki jalan yang kecil, tinggalkanlah dunia dan hawa nafsu, setelah itu jangan berbuat dosa lagi. Jika engkau menghendaki jalan yang besar, tinggalkanlah segala sesuatu kecuali Allah lalu kosongkanlah hatimu".
"Demi Allah akan kupilih jalan yang besar", jawab si pangeran.

Esoknya ia mengenakan jubah yang terbuat dari bulu domba dan mengambil jalan mistik. Di kemudian hari ia menjadi seorang manusia suci.

Sabtu, 27 Oktober 2012

TOKOH SUFI KLASIK (7) : KISAH DZUN NUN DENGAN PEMUDA


Pada suatu hari seorang anak lelaki menghampiri Dzun Nun lalu berkata: "Aku mempunyai wang seribu dinar. Aku ingin menyum-bangkan uang ini untuk kebaktianmu kepada Allah. Aku ingin agar uangku ini dapat digunakan oleh murid-muridmu dan para guru sufi".
"Apakah engkau sudah cukup umur?", tanya Dzun Nun. "Belum", jawab anak itu.
"Jika demikian engkau belum berhak untuk mengeluarkan wang tersebut. Bersabarlah hingga engkau cukup dewasa", Dzun Nun men-jelaskan.
Setelah dewasa, anak itu kembali menemui Dzun Nun. Dengan pertolongan Dzun Nun ia bertaubat kepada Allah dan semua wang dinar emas itu diberikannya untuk para guru sufi, sahabat-sahabat Dzun Nun.
Suatu ketika para guru sufi itu mengalami kesulitan sedang mereka tak memiliki apa-apa lagi karena wang telah habis dipergunakan.
Anak lelaki yang telah menyumbangkan uangnya itu berkata: "Sayang sekali, aku tak mempunyai wang seratus ribu dinar lagi untuk membantu manusia-manusia berbudi ini". Kata-kata ini terdengar oleh Dzun Nun, maka sadarlah ia bahwa anak tersebut belum menyelami kebenaran sejati dari kehidupan rrristik karena kekayaan dunia masih penting dalam pandangannya.
Anak itu dipanggil Dzun Nun dan berkata kepadanya:
"Pergilah ke tabib Anu, katakan padanya bahwa aku menyuruh dia untuk menyerahkan obat seharga tiga ribu dirham kepadamu".
Si pemuda segera pergi ke tabib itu dan tak lama kemudian ia telah kembali lagi.
"Masukkanlah obat-obat itu ke dalam lumpang dan tumbuklah sampai lumat", Dzun Nun menyuruh si pemuda.. "Kemudian tuang-kanlah sedikit minyak sehingga obat-obat itu berbentuk pasta. Kemudian kepal-kepallah ramuan itu menjadi tiga buah butiran, dan dengan sebuah jarum lobangilah ketiga-tiganya. Setelah itu bawalah ketiga butirnya kepadaku".
Si pemuda melaksanakan seperti yang diperintahkan kepadanya. Setelah selesai, ketiga butiran itu dibawanya kepada Dzun Nun. Butir-butir tersebut diusap-usap oleh Dzun Nun kemudian ditiupnya, tiba-tiba butir-butir itu berubah menjadi tiga buah batu mirah delima dari jenis yang belum pernah disaksikan manusia. Kemudian Dzun Nun berkata kepada si pemuda:
"Bawalah permata-permata ini ke pasar dan tanyakanlah harga-nya, tetapi jangan engkau jual".
Si pemuda membawa batu-batu permata itu ke pasar. Ternyata setiap butirnya berharga seribu dinar. Si pemuda kembali untuk mengabarkan hai ini kepada Dzun Nun. Dzun Nun berkata: "Seka-rang masukkanlah permata-permata itu ke dalam lesung, tumbuklah sampai halus dan setelah itu lemparkanlah ke dalam air".
Si pemuda melakukan seperti yang disuruhkan, melemparkan tumbukan permata itu ke dalam air. Setelah itu Dzun Nun berkata kepadanya: "Anakku, para guru sufi itu bukan lapar karena ke-kurangan. Semua ini adalah kemauan mereka sendiri".
Si pemuda bertaubat lalu jiwanya terjaga. Dunia ini tak berharga lagi dalam pandangannya.

TOKOH SUFI KLASIK (6) : DZUN NUN MENANGIS


Suatu hari sahabat-sahabatnya mendapati Dzun Nun sedang menangis.

"Mengapa engkau menangis?", tanya mereka.

"Kemarin malam ketika bersujud di dalam shalat, mataku tertutup dan aku pun tertidur. Terlihat olehku Allah dan Dia berkata kepadaku: 'Wahai Abul Faiz, Aku telah menciptakan semua makhluk terbagi dalam sepuluh kelompok. Kepada mereka aku berikan harta kekayaan dunia. Semuanya berpaling kepada kekayaan dunia kecuali satu kelompok. Kelompok ini terbagi pula menjadi sepuluh kelompok. Kepada mereka Aku berikan surga. Semuanya berpaling kepada surga kecuali satu kelompok.

Kemudian kelompok ini terbagi pula menjadi sepuluh kelompok. Kepada mereka aku tonjukkan neraka. Semua lari menghindar kecuali satu kelompok yaitu orang-orang yang tidak tergoda oleh harta kekayaan dunia, tidak mendambakan surga dan tak takut pada neraka. Apakah sebenarnya yang kalian kehendaki?' Semuanya menengadahkan kepalanya sambil berseru: "Sesungguhnya Engkau lebih mengetahui apa yang kami kehendaki!".

Rabu, 24 Oktober 2012

TOKOH SUFI KLASIK (5) : DZUN NUN AL MISRI DENGAN SANG PERTAPA


Dzun Nun mengisahkan: Ketika aku sedang berjalan-jalan di gunung, terlihat olehku sekumpulan orang-orang yang menderita sakit. Aku bertanya kepada mereka: "Apakah yang telah terjadi terhadap kalian?"
Mereka menjawab: "Di dalam pertapaan yang terletak di tempat ini berdiam seorang yang saleh. Setahun sekali ia keluar dari pertapaannya, meniup orang-orang ini lalu semuanya sembuh. Setelah itu ia pun kembali ke dalam pertapaannya dan setahun kemudian barulah ia keluar lagi".
Dengan sabar aku menantikan si pertapa itu ke luar dari dalam pertapaannya. Ternyata yang kusaksikan adalah seorang lelaki ber-wajah pucat, berbadan kurus dan bermata cekung. Tubuhku gemetar karena kagum memandang dirinya. Dengan penuh kasih si pertapa memandangi orang banyak itu, kemudian menengadahkan pandang-annya ke atas. Setelah itu semua orang-orang yang menderita sakit itu ditiupnya beberapa kali. Dan semuanya sembuh dari penyakitnya.
Ketika si pertapa hendak kembali ke dalam pertapaannya, aku segera meraih pakaiannya dan berseru:
"Demi kasih Allah engkau telah menyembuhkan penyakit-penyakit lahiriah, tetapi sembuhkanlah sekarang penyakit di dalam batinku ini".
Sambil memandang diriku si pertapa berkata:
"Dzun Nun lepaskanlah tanganmu dariku. Sang Sahabat sedang mengawasi dari puncak kebesaran dan keagungan. Jika Dia lihat berapa engkau bergantung kepada seseorang selain daripada-Nya, pasti Dia akan meninggalkan dirimu bersama orang itu maka celaka-lah engkau di tangan orang itu".
Setelah berkata demikian ia pun kembali ke dalam pertapaannya.

Jumaat, 19 Oktober 2012

TOKOH SUFI KLASIK 4 : DZUN NUN DAN SEORANG MURID YANG SALEH

DZUN NUN DAN SEORANG MURID YANG SALEH

Dzun Nun mempunyai seorang murid yang telah bertapa selama empat puluh kali, masing-masing selama empat puluh hari. Empat puluh kali ia telah berdiri di Padang Arafah dan selama empat puluh tahun ia telah mengendalikan hawa nafsunya.

Suatu hari si murid datang menghadap Dzun Nun dan berkata:
"Semua itu telah kulakukan. Tetapi untuk semua jerih payahku Sang Sahabat tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun dan tidak pernah memandang diriku. Dia tidak memperdulikanku dan tak mau memperlihatkan keghaiban-keghaiban-Nya padaku. Semua itu kukatakan bukan untuk memuji diriku sendiri, aku semata-mata menyatakan hai yang sebenarnya. Aku telah melakukan segala sesuatu yang dapat dilakukan oleh diriku yang malang ini. Aku tidak mengeluh kepada Allah. Aku hanya menyatakan hai yang sebenarnya bahwa aku telah mengabdikan jiwa ragaku untuk berbakti kepada-Nya. Aku hanya menyampaikan kisah sedih dari nasibku yang malang ini, kisah ketidakberuntungan diriku ini. Semua itu ku-kemukakan bukan karena hatiku telah jemu untuk mematuhi Allah. Aku kuatir jika masa-masa mendatang aku mengalamt hai yang sama. Seumur hidup aku telah mengetuk dengan penuh harap, namun tak ada jawaban. Sangat berat bagiku untuk lebih lama menanggungkan. Karena engkau adalah tabib bagi orang-orang yang sedang berduka dan penasehat tertinggi bagi orang-orang suci, sembuhkanlah duka citaku ini".
"Malam ini niakanlah dengan sepuas-puasnya", kata Dzun Nun menasehati "Tinggalkanlah shalat 'Isa dan tidurlah dengan nyenyak sepanjang malam. Dengan demikian jika Sang Sahabat selama ini tidak memperlihatkan diri-Nya dengan kebajikan, maka se tidak -tidaknya Dia akan memperlihatkan diri-Nya dengan penyesalan terhadapmu. Jika selama ini Dia tidak mau memandangmu dengan kasih sayang maka Dia akan memandangmu dengan kemurkaan".
Si murid pun pergi dan pada malam itu ia makan dengan sepuas-puasnya. Tetapi untuk melalaikan shalat 'Isa hatinya tidak mengizin-kan. Ia tetap melakukan shalat dan setelah itu ia pun tidur. Malam itu di dalam mimpinya ia bertemu dengan Nabi dan berkata kepadanya:
"Sahabatmu mengucapkan salam kepadamu. Dia berkata: 'Hanya seorang malang yang lemah serta bukan manusia sejatilah yang datang ke hadirat-Ku dan cepat merasa puas. Inti permasalahan adalah hidup lurus tanpa keluhan'. Allah Yang Maha Besar menyatakan: 'Telah Ku-berikan empat puluh tahun keinginan kepada hatimu dan Aku jamin bahwa engkau akan memperoleh segala sesuatu yang engkau harapkan dan memenuhi segala keinginanmu itu. Tetapi sampaikan pula salam-Ku kepada Dzun Nun, si manusia bajingan dan suka berpura-pura itu. Katakanlah kepadanya. wahai manusia pen-dusta yang suka berpura-pura, jika tidak Aku bukakan malumu kepasa seluruh penduduk kota, maka Aku bukanlah Tuhanmu. Awas, janganlah engkau sesatkan kekasih-kekasihku yang malang dan janganlah engkau jauhkan mereka dari hadirat-Ku".
Si murid terjaga dari tidurnya lalu menangis. Kemudian ia pergi kepada Dzun Nun dan mengisahkan segala sesuatu yang disaksikan dan didengarnya dalam mimpi itu. Ketika Dzun Nun mendengar kaa-kata 'Tuhan mengirim salam dan menyatakan bahwa engkau adalah seorang pendusta yang suka berpura-pura', ia pun berguling-guling kegirangan dan menangis penuh kebahagiaan.

Rabu, 17 Oktober 2012

TOKOH SUFI KLASIK 3 : DZUN NUN DITANGKAP DAN DI BAWA KE KOTA BAGHDAD


Dzun Nun telah mencapai tingkat keluhuran yang tinggi tetapi tak seorang pun menyadari ini. Orang-orang di negeri Mesir bahkan sepakat mencap dirinya bid'ah dan melaporkan segala perbuatannya kepada khalifah al-Mutawakkil. Mutawakkil segera mengirim para perwiranya untuk membawa Dzun Nun ke kota Baghdad. Ketika memasuki istana khalifah, Dzun Nun berkata: "Baru saja kupelajari Islam yang sebenarnya dari seorang wanita tua dan sikap satria tulen dari seorang kuli pemikul air".
"Bagaimana?", tanya mereka kepadanya.

Dzun Nun menjawab: "Sesampainya di istana khalifah dan menyaksikan kemegahan istana dengan para pengurus dan pelayan yang hilir mudik di koridor-koridornya, aku berpikir alangkah baik-nya seandainya terjadi sedikit perubahan pada wajahku ini. Tiba-tiba seorang wanita tua dengan sebuah tongkat di tangannya meng-hampiriku. Sambil menatapku dengan tajam ia berkata kepadaku: 'Jangan engkau takuti jasad-jasad yang akan engkau hadapi, karena mereka dan engkau adalah sama-sama hamba Allah Yang Maha Besar. Kecuali apabila dikehendaki Allah, mereka tidak dapat berbuat sesuatu pun terhadapmu".

"Di tengah perjalanan tadi aku bertemu dengan seorang pemikul air. Aku diberinya seteguk air yang menyegarkan. Kepada seorang teman yang menyertaiku aku memberi isyarat agar ia memberikan sekeping uang dinar kepadanya. Tetapi si pemikul air menolak, tidak mau menerima uang itu dan berkata kepadaku: 'Engkau adalah seorang yang terpenjara dan terbelenggu. Bukanlah suatu kekesatriaan yang sejati apabila menerima sesuatu dari seseorang yang terpenjara seperti engkau ini, seorang asing yang sedang terbelenggu' ".
Setelah itu diperintahkan supaya Dzun Nun dijebloskan ke dalam penjara. Empat puluh hari empat puluh malam lamanya ia mendekam dalam kurungan itu. Setiap hari saudara perempuannya mengantarkan sekerat roti yang telah dibelinya dengan upah dari pekerjaan memintal benang. Ketika Dzun Nun dibebaskan, ditemu-kan empat puluh potong roti di kamar kurungannya dan tak satu pun di antara roti-roti itu yang telah disentuhnya. Ketika saudara perempuan Dzun Nun mendengar hal ini, ia menjadi sangat sedih.
"Engkau tahu bahwa roti-roti itu adalah halal dan tidak ku-peroleh dengan jalan meminta-minta. Mengapa engkau tidak mau memakan roti-roti pemberianku itu?"
"Karena pinggannya tidak bersih", jawab Dzun Nun. Yang di-maksudkannya dalah bahwa pinggan tersebut telah terpegang oleh penjaga penjara.
Ketika keluar dari penjara itu, Dzun Nun tergelincir dan dahi-nya terluka. Diriwayatkan bahwa lukanya itu banyak mengeluarkan darah tetapi tak setetes pun yang mengotori muka, rambut maupun pakaiannya. Setiap tetes darah yang terjatuh ke tanah, seketika itu juga lenyap dengan izin Allah.
Kemudian Dzun Nun dibawa menghadap khalifah. Ia diharuskan menjawab tuduhan-tuduhan yang memberatkan dirinya. Maka dijelaskannyalah doktrin-doktrinnya sedemikian rupa sehingga Mutawakkil menangis tersedu-sedu sedang menteri-menterinya terpesona mendengar kefasihan Dzun Nun. Khalifah menganugerahi-nya dengan kehormatan yang besar.

 

Selasa, 16 Oktober 2012

TOKOH SUFI KLASIK 2 : DZUN NUN AL MISRI DENGAN SOSEJ

Telah 10 tahun lamanya Zun Nun ingin memakan sosej, tetapi keinginan itu tidak pernah dipenuhi. Kebetulan esok adalah Hari Raya dan hatinya berkata:

"Bagaimana jika esok engkau memberi kami sesuap sosej sekadar untuk menyambut Hari Raya?"

"Wahai hatiku, jika demikian yang engkau kehendaki, maka biarkanlah aku membaca seluruh ayat Al-Quran di dalam solat sunat dua rakaat malam nanti."

Hatinya mengizinkan. Keesokan harinya Zun Nun meletakkan sosej di depannya. Ia telah membasuh tangan tetapi sosej itu tidak jadi dimakannya; ia segera menunaikan solat.

"Apa yang telah terjadi?" seseorang yang menyaksikan hal itu bertanya kepada Zun Nun.

"Baru sebentar tadi, hatiku berkata kepadaku," jawab Zun Nun.

"..akhirnya setelah sepuluh tahun lamanya kau beribadah barulah tercapai keinginanku!" Tetapi segara ku menjawab:"Demi Allah, keinginanmu tidak akan tercapai"

Yang meriwayatkan kisah ini mengatakan ketika Zun Nun mengucapkan kata-kata itu, masuklah seorang yang membawa semangkuk sosej ke hadapannya dan berkata:

"Guru, aku datang ke mari bukan kehendakku sendiri, tetapi sebenarnya sebagai utusan. Baiklah kujelaskan perkara sebenarnya kepadamu. Aku mencari nafkah sebagai seorang buruh untuk menanggung beberapa orang anakku. Mereka telah lama meminta sosej kepadaku, oleh itu kerana aku menyimpan wang. Malam semalam kubuatkan sosej ini untuk menyambut Hari Raya. Tadi aku bermimpi melihat wajah Rasulullah SAW yang bercahaya menerangi bumi. Rasulullah berkata kepadaku:

"Jika engkau ingin melihatku di hari akhirat nanti, berilah sosej itu kepada Zun Nun dan katakan kepadanya bahawa Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutalib telah memohon ampun untuknya agar ia dapat menenangkan hatinya dan memakan sosej ini hanya sekadarnya"

"Aku taati" kata Zun Nun sambil menangis