Catatan Popular

Selasa, 2 September 2014

KISAH IKTIBAR IDRIES SHAH : Mengapa Burung yang Terbuat dari Tanah Liat Dapat Terbang



Ketika masih kanak-kanak, suatu hari Yesus, putra Maryam, membentuk burung-burung kecil dari tanah liat. Anak-anak sebayanya yang gagal melakukan hal serupa, lari kepada orang tua mereka dan bercerita, mengadu apa adanya. Lalu, sampailah berita itu ke telinga para pemuka agama. Kata mereka: "Perbuatan itu tidak dibenarkan dilakukan pada hari Sabat." Hari itu adalah hari Sabtu.
Mereka pun pergi ke kolam menemui putra Maryam sedang duduk-duduk. Kepadanya mereka bertanya di mana gerangan burung-burung tanah liat itu. Sebagai jawabannya, Yesus pun menunjuk ke arah burung-burung yang telah selesai dibuatnya, dan burung-burung itu pun terbang pergi.
"Dia tidak melanggar hari Sabat, sebab bukan dia yang membuat burung-burung itu. Mustahil seorang dapat membuat burung yang bisa terbang," kata seorang tua-tua.
"Keterampilan yang sangat mengagumkan. Aku akan mempelajarinya," kata yang lain.
"Bukan. Itu bukan keterampilan, itu tipuan," kata yang ketiga.
Dengan demikian, tidak ada pelanggaran terhadap hari Sabat, dan keterampilan itu pun tidak bisa diajarkan kepada orang lain. Perihal penipuan, para tua-tua sebagaimana juga kanak-kanak tersebut telah menipu diri sendiri, sebab mereka tidak mengetahui maksud dari pembuatan burung-burung itu.
Alasan mengapa orang tidak bekerja pada hari Sabat sudah dilupakan. Manakah yang tipuan dan mana yang bukan, serta segala pengetahuan tentang hal itu merupakan sebuah kecacatan dari para pemuka agama tersebut. Maksud dan tujuan dari suatu keterampilan dan tindakan tidak diketahui oleh mereka, itu pula yang terjadi dalam peristiwa pemanjangan papan kayu.
Lebih lanjut dikisahkan bahwa suatu hari Yesus, putra Maryam, sedang berada di tempat kerja Yusuf, Si Tukang Kayu. Ketika sepotong papan dirasa kependekan, Yesus menariknya, dan entah bagaimana kayu itu, dengan cara tertentu, menjadi lebih panjang.
Ketika kisah ini terdengar oleh khalayak, sebagian berkata, "Yang Ia lakukan itu mukjizat, niscaya anak ini akan menjadi orang suci."
Kata yang lain, "Kami tidak mempercayainya, kecuali jika kami melihatnya dengan mata kami sendiri.
"Kelompok ketiga berkata, "Mukjizat itu tidak mungkin benar adanya, karena itu harus dihapuskan dari buku-buku."
Ketiga kelompok itu, dengan perkiraan masing-masing, mendapat jawaban yang sama sebab tak ada dari mereka yang mengetahui tujuan dan arti sesungguhnya yang terkandung dalam pernyataan: "Ia memanjangkan sepotong papan."

Para pengarang Sufi sering kali menganggap Yesus sebagai Jalan (a Master of the Way).Sebagai tambahan, ada banyak sekali tradisi lisan tentang Yesus di Timur Tengah sekarang, yang menunggu seorang penulis. Kisah ini ditemukan, dengan sedikit perbedaan bentuk, dalam lebih dari satu koleksi Darwis. Para Sufi berkata bahwa 'Anak seorang Tukang Kayu' dan penamaan berdasarkan profesi lainnya yang disandangkan pada karakter-karakter dalam Injil merupakan penyebutan belaka dan tidak secara memadai menerangkan pekerjaan seseorang.

KISAH IKTIBAR IDRIES SHAH : Pukullah pada Tanda Ini



Dzun-Nun, orang Mesir itu, menulis tentang cara menemukan pengetahuan yang tersembunyi dalam prasasti-prasasti peninggalan Firaun dengan perumpamaan.
Ada sebuah patung dengan jari menunjuk, dan di situ terpahat tulisan "Pukullah pada tanda ini untuk harta karun." Tak ada orang yang tahu awal mula patung tersebut, tetapi dari masa ke masa orang-orang pun datang kesana untuk menggali tempat yang ditunjuk oleh jari patung itu. Sebab lokasi harta itu terbuat dari batu pilihan, penggalian orang-orang itu pun sia-sia, dan rahasia harta karun itu tetap terselimut misteri.
Suatu siang kala sedang khusuk merenung, tertangkaplah oleh Dzun-Nun bahwa bayangan telunjuk itu ternyata sejajar dengan sebuah garis di lantai di bawah patung tersebut. Hal ini tidak diketahui selama berabad-abad.
Ia pun segera menandai tempat itu, lalu bergegas mengumpulkan peralatan. Dengan alat pahat, dibongkarnya batu ubin besar itu. Perkiraan Dzun-Nun tepat tempat itu adalah pintu masuk di langit-langit sebuah gua bawah tanah. Di dalam gua itu terdapat berbagai macam alat pertukangan; dari benda-benda inilah Dzun-Nun mampu menarik kesimpulan tentang ilmu pengetahuan mereka, yang sudah lama lenyap, dan karenanya ia mendapatkan harta karun dan hal-hal berharga lainnya yang memang seharusnya menyertainya.

Kisah yang bisa dibilang serupa dengan apa yang telah dituturkan oleh Paus Sylvester II, yang membawa pengetahuan dari "Negeri Arab". Termasuk matematika, dari Sevilla, Spanyol, pada abad kesepuluh.
Dikenal sebagai seorang penyihir karena kemampuannya dalam bidang teknik, Gerbert (begitulah ia disapa) 'menginap bersama seorang filsuf dari sekte Saracen'. Kuat dugaan, disinilah Gerbert mendengar tentang kisah Sufi tersebut.
Konon cerita ini juga pernah dikisahkan oleh Khalifah Abu Bakar, yang wafat tahun 634.

KISAH IKTIBAR IDRIES SHAH : Kandil Besi



Konon, ada seorang janda miskin sedang melihat keluar jendela rumahnya, ketika dilihatnya seorang darwis bersahaja menyusuri jalan. Darwis itu tampak sangat letih, dan jubahnya yang compang-camping sangat kotor. Jelas sekali bahwa darwis itu membutuhkan pertolongan.
Wanita itu pun segera menghampiri sang darwis dan berkata, "Darwis yang mulia, aku tahu bahwasannya engkau adalah salah satu dari Yang Terpilih, tetapi tentu ada saatnya ketika orang biasa seperti saya pun memiliki kesempatan untuk membantu Para Pencari. Datang dan bermalamlah di rumahku, sebab bukankah ada dikatakan: "Barangsiapa menolong Para Sahabat akan ditolong, dan siapa yang menyakiti mereka akan disakiti, meskipun cara dan waktunya adalah suatu misteri."
"Terima kasih, wanita baik," kata darwis itu. Maka, ia pun masuk ke gubuk tersebut. Di sana ia beristirahat selama beberapa hari.
Wanita ini mempunyai seorang anak bernama Abdullah, yang hidupnya begitu-begitu saja sebab ia menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk menebang kayu dan menjualnya di pasar setempat. Abdullah tak dapat menambah pengalaman hidupnya yang niscaya bisa digunakannya untuk menolong ibunya dan dirinya sendiri.
Darwis itu berkata kepadanya, "Anakku, aku seorang yang berilmu, meskipun tampak tidak berdaya. Tuan, ikutlah aku berkelana dan akan kutunjukkan padamu kesempatan-kesempatan besar. Hal ini tentu bila ibumu setuju."
Ibu Abdullah sangat senang mengizinkan putranya mengadakan perjalanan bersama orang bijak itu, dan mereka pun segera berangkat.
Ketika mereka telah berkelana menyusuri banyak negeri dan mengalami segala hal berdua, darwis itu pun berkata, "Abdullah, kita telah mencapai akhir dari sebuah jalan. Sekarang aku hendak melakukan upacara tertentu yang bila berhasil, akan menyebabkan bumi terbuka dan memunculkan sesuatu yang hanya diberikan pada sedikit orang. Ini adalah harta karun, tersembunyi di sini berpuluh-puluh tahun lamanya. Kau takut?"
Abdullah setuju untuk mencoba, dan berjanji tidak akan panik, apa pun yang terjadi.
Darwis itu pun melakukan gerakan-gerakan aneh, sambil mulutnya komat-kamit, diikuti oleh Abdullah dan bumi terbuka.
Darwis itu berseru, "Sekarang, Abdullah, dengar baik-baik & perhatikan dengan seksama. Kau turunlah ke dalam lubang yang menganga di depan kita itu. Tugasmu adalah mengambil sebuah kandil yang terbuat dari besi. Di sepanjang lorong menuju kandil itu kau akan melihat harta karun yang sangat jarang dilihat oleh manusia. Jangan kau ambil satu pun darinya selain kandil besi yang menjadi tujuanmu. Segera setelah mendapatkannya, bawalah kemari."
Abdullah pun masuk ke lubang harta itu; di sana dilihatnya begitu banyak permata berkilauan, piring-piring dari emas, harta karun yang demikian menakjubkan sehingga tak terkatakan sebab memang tak ada kata-kata yang bisa melukiskannya. Pemuda itu betul-betul terkesima. Tanpa pikir panjang dipenuhinya tangannya dengan benda paling gemerlap yang dilihatnya. Ia melupakan pesan sang darwis.
Dan kemudian dilihatnya kandil besi itu. Berpikir bahwa sebaiknya ia membawa kandil itu pada sang Darwis, dan bahwa ia dapat menyembunyikan cukup emas untuk dirinya sendiri di balik jubahnya, ia mengambil juga kandil itu, lalu mendaki kembali menuju permukiman bumi. Tetapi ketika ia keluar dari lubang, tiba-tiba didapatinya dirinya berada di dekat gubuk ibunya, dan sang darwis tak ada di situ.
Ketika ingin ditunjukkannya emas dan perhiasan yang diambilnya itu kepada ibunya, benda-benda tersebut seperti meleleh dan lenyap. Hanya sisa kandil besi itu. Abdullah memeriksanya. Kandil itu memiliki dua belas cabang, dan pada salah satunya ia nyalakan lilin. Tiba-tiba satu sosok menyerupai seorang darwis muncul. Hantu itu berputar sebentar, kemudian menaruh sekeping koin kecil di lantai dan menghilang kembali.
Abdullah pun menyulut dua belas lilin pada masing-masing cabang kandil. Dua belas darwis mewujud, bergerak seirama satu jam lamanya dan melemparinya dengan koin sebelum mereka lenyap pergi.
Ketika Abdullah dan ibunya telah pulih dari keheranannya, mereka menyadari bahwa mereka bisa hidup cukup baik dengan hasil dari kandil itu, sebab dari "tarian para darwis" mereka memperoleh dua belas keping perak setiap harinya. Namun tak lama berselang, Abdullah teringat pada kekayaan tak ternilai yang ditemukannya di gua bawah tanah, dan ia memutuskan untuk mencoba mendapatkan kesempatan untuk mengambil harta itu bagi dirinya sendiri.
Ia mencari dan mencari, tetapi belum juga menemukan tempat pintu masuk gua. Ia telah terobsesi untuk menjadi kaya. Maka, pergilah ia mengembara ke seluruh dunia hingga tiba di sebuah istana yang ternyata adalah kediaman darwis miskin yang waktu itu dilihat ibunya sedang terhuyung-huyung di dekat gubuk mereka.
Pencariannya ini sudah berlangsung berbulan-bulan, dan Abdullah bukan main senangnya ketika diantar ke depan sang darwis, yang didapatinya berpakaian layaknya seorang raja dan dikelilingi oleh sekumpulan pengikutnya.
"Sekarang," kata darwis itu, "kau yang tak tahu berterima kasih! Akan kutunjukkan padamu untuk apa kandil ini." Ia mengambil tongkat dan memukul kandil itu. Dari setiap cabangnya muncul harta berlimpah ruah, jauh melebihi yang dilihat anak muda itu di gua. Sang darwis pun memberikan emas, perak, dan permata kepada orang-orang berjasa, dan lihatlah, kandil itu sudah seperti semula, siap digunakan lagi.
"Enyahlah dari hadapanku," kata darwis itu, "sebab kau tak bisa dipercaya untuk melakukan tugasmu dengan benar, dan sebab kau sudah mengkhianati kepercayaanku. Tetapi, sebagai balasan karena mengembalikan kandilku, bawalah bersamamu seekor onta dan sekantong emas."
Abdullah bermalam di istana itu, dan paginya ia berhasil menaruh kandil itu di pelana onta. Segera setelah ia tiba di rumah, ia menyalakan lilin, dan dipukulnya kandil itu dengan tongkat.
Tetapi, ia tidak sepenuhnya memperhatikan cara memukul kandil itu; alih-alih memegang tongkat dengan tangan kanan, ia pakai tangan kiri. Kedua belas darwis tadi serta-merta muncul, merebut emas dan permata pemberian darwis agung, memelanai onta, merampas kandil, dan lenyap. Tinggallah Abdullah dalam keadaan lebih melarat dari pada sebelumnya, sebab ia kini dibebani oleh ingatan akan tindakannya yang bodoh dan tamak, serta betapa ia nyaris menjadi kaya.
Namun, tak ada lagi kesempatan lain baginya, dan pikirannya tak pernah lagi bisa tenteram.

Kisah ini disampaikan di sebuah madrasah Sufi, sebagai suatu 'latihan-pengembangan' bagi para murid yang dianggap terlalu berpikir harafiah. Cerita ini mengacu dalam bentuk tersamar pada latihan-latihan tertentu bagi para darwis, dan hendak menunjukkan bahwa kerugian atau kesia-siaan mungkin saja menimpa mereka yang melakukan cara mistik tanpa sebelumnya bisa mengatasi kecenderungan-kecenderungan pribadi tertentu.

KISAH IKTIBAR IDRIES SHAH : Emas yang Beruntung



Konon hiduplah seorang saudagar bernama Abdul Malik. Ia dikenal sebagai orang baik dari Khorasan karena ia menggunakan kekayaannya yang berlimpah untuk berderma dan mengundang orang-orang miskin untuk makan.
Tetapi pada suatu hari, ia begitu saja memberikan sebagian besar hartanya, dan merasakan kelegaan yang jauh lebih nikmat dibandingkan ketika ia memberi hanya sebagian kecil dari segala kepunyaannya. Kelegaan itu membuatnya memutuskan untuk mendedikasikan tiap sen miliknya demi kesejahteraan umat manusia. Dan ia melakukan keputusannya itu.
Tak lama setelah membebaskan hatinya dari segala kekayaan duniawi --dan berserah diri pada takdir kehidupannya-- ketika sedang bersembahyang, Abdul Malik melihat sosok gaib muncul dari lantai kamarnya. Sosok itu ternyata seorang lelaki; jubah perca di tubuhnya jelas jubah seorang darwis.
"Wahai Abdul Malik, manusia murah hati dari Khorasan!" sapa sosok itu. "Aku adalah dirimu sendiri, yang sekarang ini hampir nyata bagimu karena engkau telah berbuat kebajikan yang sungguh mulia; oleh karena itu, semua laku baikmu di masa lalu jadi tampak kerdil. Sebab itu, dan sebab engkau mampu melepaskan dirimu dari kekayaan tanpa merasa dirimu hebat, aku menganugerahkan kamu dari sumber anugerah yang sejati."
"Setiap hari dengan cara ini aku akan muncul di depanmu. Saat itu pukullah aku, dan aku akan berubah menjadi emas. Ambillah emas itu sebanyak yang engkau mau. Tak usah khawatir engkau menyakitiku, sebab yang kau ambil akan diganti dari sumber segala anugerah."
Setelah berkata demikian, sosok itu pun lenyap.
Keesokan harinya, Abdul Malik sedang duduk-duduk bersama seorang teman, Bay-Akal, ketika hantu darwis itu mulai menunjukkan diri. Hantu itu pun jatuh ke tanah sebab dipukul oleh Abdul Malik dengan tongkat, dan berubah jadi emas. Abdul Malik mengambil bagiannya dan memberikan emas itu juga untuk tamunya.
Kini Bay-Akal, tanpa mengerti kejadian sebelumnya, mulai berpikir alangkah baiknya bila ia dapat melakukan keajaiban serupa. Ia mengetahui bahwa kaum darwis punya kekuatan tertentu dan menyimpulkan bahwa ia pun hanya perlu memukul mereka untuk mendapatkan emas.
Jadi, diadakanlah sebuah pesta lalu diundangnya semua darwis untuk hadir dan bersantap. Ketika mereka sudah makan kenyang, Bay-Akal pun mengeluarkan sebilah besi dan dengan tanpa ampun dihantamnya setiap darwis di dekatnya hingga mereka tersungkur di tanah.
Para suci yang luput segera menangkap Bay-Akal dan membawanya kepada hakim. Mereka mengadukannya bersama para darwis yang luka sebagai bukti. Bay-Akal pun bercerita tentang kejadian di rumah Abdul Malik dan ia hanya mencoba menirukan mukjizat tersebut.
Maka dipanggillah Abdul Malik, dan dalam perjalanan ke pengadilan sosok emas itu membisikkan kepadanya apa yang harus ia katakan.
"Inilah pernyataan saya," katanya, "Menurut saya, orang ini sudah tidak waras, atau sedang berusaha menutup-nutupi hobinya menyiksa orang tanpa alasan. Memang saya mengenalnya, tetapi yang ia ceritakan tentang kejadian di rumah saya tidak lebih dari akal-akalannya belaka."
Bay-Akal pun dimasukkan ke rumah sakit jiwa sampai ia menjadi lebih tenang. Para darwis yang luka sudah sehat kembali melalui ilmu pengobatan yang mereka miliki. Dan tak ada yang percaya bahwa peristiwa menakjubkan seperti seorang manusia berubah menjadi patung emas --setiap hari demikian-- bisa terjadi.
Selama berpuluh-puluh tahun kemudian, hingga ia dikumpulkan bersama para para leluhurnya, Abdul Malik terus memecahkan patung emas yang adalah dirinya, dan membagi-bagikan harta itu, yang adalah dirinya, kepada barangsiapa yang tak dapat ia tolong dengan cara lain kecuali dengan materi.

Ada pendapat bahwa para pendeta menyampaikan ajaran moral dengan memakai perumpamaan, tetapi kaum darwis mampu menyamarkan pengajaran mereka secara lebih sempurna; sebab hanya melalui usaha untuk mengerti dan kecerdikan seorang gurulah yang sungguh-sungguh mampu mempengaruhi pendengar.
Kisah ini lebih condong pada bentuk perumpamaan daripada kebanyakan kisah sejenis. Namun, sang darwis yang menceritakannya di sebuah pasar di Peshawar pada awal tahun 1950-an menasihati: "Pusatkan perhatian pada bagian awal cerita, bukan pada pesan moralnya. Itu menunjukkan padamu tentang metode."