Catatan Popular

Rabu, 2 September 2015

PRINSIP DAN AMALAN TASAWWUF SIRI 3 : SUFI



FATHULLAH GULLEN (PENGASAS HIZMET TURKI)

"Sufi" adalah sebuah ungkapan yang disematkan kepada para ahli tasawuf. Saya yakin bahwa perbedaan pendapat dalam penggunaan istilah ini muncul dari asal kata ini sendiri. Ada yang mengatakan bahwa kata ini berasal dari kata "shûf", tapi ada pula yang menyatakan bahwa kata ini berasal dari kata "sophos", atau "shafâ`", atau "shafwah". Semua itu dipakai sebagai kiasan atas semangat keberagamaan yang kemudian membuat mereka menggunakan kata "sufi" (shûfi). Selain itu ada pula yang mengklaim bahwa kata ini berasal dari kata "sûfân", "saufânah", atau "shuffah".
Adapun pendapat yang masyhur di kalangan para ahli tasawuf adalah sebagai berikut:
Sufi berarti: Penempuh jalan menuju al-Haqq (al-sâlik ilâ al-haqq) yang mencapai tingkat kesucian pada kehidupan kalbu dan pada dimensi internalnya.
Sufi berarti: Manusia al-Haqq (rajul al-haqq) yang sama sekali tidak memiliki klaim atas apapun, karena dia selalu mengutamakan Allah al-Haqq s.w.t. berdasarkan ikhtiyarnya sendiri dan upayanya untuk menjernihkan dirinya dengan cara membersihkannya dair kotoran nafsu sampai akhirnya ia berhasil.
Sufi berarti: Penempuh jalan Hakikat Muhammadiyah (sâlik tharîq al-haqîqah al-ahmadiyyah) yang mengenakan pakaian berbahan wol (shûf) yang menjadi simbol penafian dunia, sikap tawaduk (rendah hati), ketenangan hati, dan ketenteraman nurani. Ia selalu mencintai kecintaan kepada Tuhan (hubb al-mahabbah); tidak pernah mengenyampingkan cinta kepada Tuhan dan tidak pernah mengenyampingkan para pecinta Tuhan; dan ia tidak pernah peduli kepada dunia yang ada di hadapannya serta tidak pernah menghadapkan wajah kepada hasrat duniawi.
Kebiasaan para sufi mengenakan kain wol (shûf), serta penisbahan mereka kepada jenis kain ini terjadi disebabkan kain wol memang mampu menampilkan kondisi dan tingkatan mereka. Selain itu juga karena kain wol merupakan pakaian para anbiya, para pengikut mereka, dan juga pakaian orang-orang yang membaktikan jiwa mereka hanya untuk beribadah.[1] Jadi, kalau memang benar kain wol (shûf) adalah jenis kain yang biasa dikenakan oleh para nabi dan para sahabat mereka, maka kata "sufi" (shûfi) memang benar-benar berasal dari kata "al-shûf" yang berarti "wol".
Sufi berarti: Para ksatria garis depan dalam perjalanan mendaki menuju puncak kemanusiaan yang sesungguhnya; kemanusiaan yang terhindar dari kotoran nafsu, memahami fitrah sejatinya, dan bersih dari berbagai noda kemanusiaan, sehingga membuat mereka berhasil bangkit sebagai kaki tangan Tuhan yang berjiwa suci dan berhati bersih.
Sufi adalah nama ideal bagi para Manusia Hati (rajul al-qalb) yang telah bersumpah untuk mencurahkan hidupnya dan mengerahkan segenap kemampuannya untuk dapat menyerupai para Ahlu Shuffah demi mewujudkan gelar agung mereka bagi dirinya.
Ada yang menyatakan bahwa kata "sufi" (al-shûfi) berasal dari kata "al-shaff" (saf). Dengan tetap memperhatikan adanya pelanggaran terhadap aturan derifasi kata dalam Bahasa Arab, namun ketelatenan mereka untuk selalu menunaikan ibadah dengan khusyuk tunduk di hadapan Allah al-Haqq s.w.t. telah memancing kita untuk memikirkan kemungkinan menerima pendapat ini meski terdapat kerancuan dalam penggunaan tata bahasa. Alasannya adalah karena besarnya tekad para sufi serta keteguhan hati mereka yang selalu bertawajjuh kepada Allah telah menjelaskan bahwa mereka memang layak disebut seperti ini, meski terdapat kesalahan dalam aturan derivasi kata.
Sebagian orang berpendapat bahwa kata "sufi" berasal dari kata "shophos" dalam Bahasa Yunani, atau berasal dari kata "sophia" dalam Bahasa Yunani Kuno yang berarti "kebijaksanaan". Tapi saya yakin bahwa pendapat ini adalah hasil rekayasa orang-orang asing, meski sebenarnya sebagian besar dari para sufi memang orang-orang bijak.
Tokoh pertama yang dijuluki "sufi" dalam sejarah Islam adalah seorang ahli zuhud bernama Abu Hasyim al-Kufi yang wafat di Baghdad pada tahun 150 hijriyah. Jadi dapat kita katakan bahwa kata "sufi" baru digunakan pada kurun kedua hijriyah atau sebelum berlalu dua ratus tahun dari hijrahnya Rasulullah s.a.w.. Ini berarti bahwa penggunaan kata "sufi" dengan pengertian seperti ini baru muncul setelah masa para sahabat Rasulullah dan tabiin Ridhwânullâh 'Alaihim Ajma'în.
Tasawuf yang kita kenal sebagai sebuah manhaj melalui tokoh zuhud Abu Hasyim, yang sejak awal kemunculannya memang telah menjadi maslak bagi para pemilik kalbu dan roh, selalu berjalan sesuati dengan nilai-nilai kesederhanaan dan kerendahan hati yang terdapat dalam kehidupan Rasulullah s.a.w. dan para sahabat beliau yang mulia. Selain itu ia juga selalu mengambil posisi yang tegas terhadap dunia yang berhadapan dengan jiwanya, dengan keterkaitan yang sangat erat dengan berbagai hal yang akan terjadi setelah kematian. Atas dasar ini, maka "tasawuf" selalu menjadi penuntun bagi kehidupan rohani manusia.
Jika ditinjau dari titik awal keberangkatannya, tujuan yang hendak dicapai tasawuf adalah: menghubungkan hati dengan al-Haqq Allah s.w.t. serta membakar hati dengan api cinta dan mahabbah. Di sepanjang sejarah, para sufi sejati telah menyenandungkan "akhlak baik" dan "adab" sembari berusaha mengikuti jejak para nabi dan rasul 'Alaihim al-Salâm. Hanya saja pada masa tertentu muncul penyimpangan dan kekeliruan yang memang nyaris tidak dapat dihindari oleh jalan hidup yang seperti apapun juga. Tapi sangatlah tidak adil jika kemudian kita hanya berkonsentrasi pada penyimpangan-penyimpangan itu serta mengecam jalan ini yang justru telah menjadi jalan orang-orang yang memiliki hati yang bersih.
Imam Qusyairi menyampaikan sebuah pernyataan singkat dalam penjelasannya tentang para sufi yang menempuh jalan tasauf dalam kehidupan rohaniah mereka: "Sesungguhnya sepeninggal Rasulullah s.a.w. semua pemuka kaum muslimin dari pada masa itu tidak menggunakan gelar apapun selain 'Sahabat Rasulullah s.a.w.'; yang tidak ada keutamaan lagi melebihi gelar itu, sehingga mereka pun disebut dengan gelar 'Sahabat'.  Gelar ini sama sekali tidak ikut dimiliki oleh siapapun juga yang hidup di luar masa itu. Ketika masa kedua tiba, kaum muslimin yang bersahabat dengan para sahabat disebut dengan gelar 'tabi'in', dan mereka menganggap bahwa gelar itu adalah gelar yang paling mulia. Generasi muslim yang muncul setelah masa itu kemudian disebut dengan gelar 'tabi'i al-tabi'in'."
Seiring dengan habisnya ketiga generasi mulia ini, serta munculnya berbagai fitnah pada masa itu, tampillah para ahli fikih dalam bidang fikih, para muhaddits dalam bidang hadits, dan para mutakallim dalam bidang akidah, yang mereka semua melakukan berbagai aktivitas mulia, sebagaimana pula halnya pada masa itu para sufi melahirkan berbagai pembaruan penting dalam bidang spiritualitas Islam (jihah al-Islâm al-rûhâniyyah).
Di sepanjang hidup mereka, para sufi selalu menerapkan gaya hidup yang sangat istikamah dan amat sederhana. Mereka terbebas dari segala bentuk penyimpangan dan kerusakan, serta menjadi manusia-manusia paling jauh dari hasrat jasmani dan syahwat fisik. Mereka selalu membuat diri mereka agar mampu menjalani kehidupan di dalam keluhuran untuk ibadah, zuhud, dan kefakiran. Mereka selalu berusaha menyerupai Rasulullah s.a.w. dan para pembesar Islam yang mulia. Itulah sebabnya dengan kejernihan hidup yang mereka jalani itu, para sufi tidak dapat dianggap sebagai orang-orang yang meneruskan tradisi para filsuf dan kaum bijak kuno, atau dikatakan bahwa mereka memiliki afiliasi dengan peribadatan kaum Nasrani, dengan para Yogi, atau bahwa mereka adalah penganut gaya hidup para fakir dalam Hinduisme; sebagaimana mereka juga tidak merepresentasikan para pemain akrobat yang hidup di masa kini yang tidak mengenal rasa takut kepada Allah s.w.t..
Pada hakikatnya, jika ditilik dari titik awal kemunculan dan orang-orang yang mempraktikkannya, tasawuf dapat dianggap sebagai: Ilmu hakikat hati ('Ilm haqîqah al-qalb), ilmu hal-hal yang di balik entitas (metafisika), atau ilmu tentang berbagai rahasia yang ada di dalam entitas. Sufi adalah murid dari ilmu ini serta sekaligus menjadi ksatria di medan perjuangannya untuk mencapai ujung jalan ini. Sufi selalu berjalan di sepanjang hidupnya menuju kaki langit paling ideal bagi setiap manusia, yaitu sesuatu yang disebut "Insan Kamil" (Manusia Paripurna). Ya. Perjalanan ini memang sebuah perjalanan tanpa akhir, karena ia memiliki tujuan yang tidak ada akhirnya. Ini adalah perjalanan berkesinambungan yang dilakukan dengan tekad yang tak pernah padam, serta tanpa pernah menoleh sedikit pun kepada yang lain. Inilah tasawuf yang sejati. Sufi adalah pejuang hebat yang mengimplementasikan semua itu.
Jika kita melihat masalah ini dari sudut pandang ini, maka akan tampak jelas di hadapan kita bahwa sufi sama sekali tidak memiliki hubungan dengan para filsuf dan kaum rohaniwan Nasrani atau pun para yogi. Demikian pula halnya tasawuf sama sekali tidak memiliki hubungan dengan filsafat atau pun spiritualisme Nasrani atau pun Hindu, dari segi apapun.
Ya. Adalah benar jika dikatakan bahwa filasafat Yunani dan Hindu memang juga menempuh jalan penyucian jiwa sejak masa sebelum kemunculan Islam. Para yogi dan pendeta juga banyak melakukan hal-hal yang mirip dengan yang dilakukan oleh para sufi. Akan tetapi, kedua jalan ini sama sekali berbeda baik jika dilihat dari segi akarnya maupun jika dilihat dari segi dasarnya. Kesimpulan ini dapat diketahui karena para sufi selalu melaksanakan penyucian jiwa dengan berpegang pada dasar-dasar zikir, ibadah, ketaatan, introspeksi (muhasabah al-nafs), tawaduk, dan penafian diri. Selain itu mereka juga selalu berupaya mengikuti garis pedoman ini hingga akhir hayat. Sedangkan penyucian jiwa yang dilakukan oleh para filsuf -kalau memang itu dapat disebut sebagai "penyucian"-, maka yang mereka lakukan adalah penyucian tanpa dasar yang di dalamnya sama sekali tidak terdapat nilai-nilai ibadah, ketaatan, muraqabah, tawaduk, atau pun penafian diri. Alih-alih, semua yang mereka lakukan selalu berisi kealpaan dan pemujaan ego yang mencapai tingkat memalukan dan dungu.
Kaum sufi terbagi menjadi dua golongan utama, yaitu:
Pertama: Para sufi yang berangkat dari keilmuan untuk menggapai sayap-sayap makrifat.
Kedua: Para sufi yang menempuh jalan suluk hanya demi mencari rasa(dzauq), ekstase (wajd), dan penyingkapan (kasyf).
Golongan pertama: Mereka selalu berkerumun di puncak spiritual dengan "Lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh" (Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali hanya pada Allah). Mereka menghabiskan hidup mereka mengguanakan sayap-sayap ilmu dan makrifat dalam sebuah perjalanan yang tiada akhirnya, dalam cakrawala "perjalanan ilallâh", "perjalanan fillâh", dan "perjalanan 'anillâh". Bagi mereka, segala yang mereka saksikan dalam bentuk siklus, perubahan, dan pembentukan di tengah segenap entitas, memberi mereka ratusan pesan yang berasal dari hadrah Kekuasaan dan Kehendak Allah s.w.t., dan setiap kejadian selalu membisikkan berbagai bentuk senandung yang beragam dengan berbagai lisan yang berbeda-beda.
Adapun golongan yang kedua: Mereka selalu mencari kasyf (penyingkapan), karamah, dzauq (rasa), wajd (ekstase), dan tawajud (mengundang ekstase)
Itulah sebabnya mereka dapat menghidupkan "kejauhan" (al-bu'd) di dalam wilayah "kedekatan" (al-qurb), karena terkadang mereka melupakan tujuan, meski mereka selalu serius dalam menempuh perjalanan, suluk, dan kezuhudan.
Jalan pertama: merupakan jalan para pemilik al-Wilâyah al-Kubrâ (Kewalian Agung) yang selalu berjalan di bawah naungan al-Qur`an yang mulia.
Jalan kedua: terkadang di dalamnya muncul bentuk-bentuk keinginan, perasaan, dan pencarian tertentu, meski pada dasarnya pusat orbitnya tetaplah al-Qur`an dan Sunnah Nabawiyah. Itulah sebabnya jalan ini lebih tidak aman dibandingkan jalan yang pertama.
Selain itu, para sufi biasa membagi manusia antarsesama mereka menjadi tiga golongan, yaitu:
*Golongan pertama: mereka adalah orang-orang yang disebut "al-Kâmilûn wa al-Wâshilûn" (Orang-orang peripurna dan Orang-orang yang sudah sampai). Golongan pertama ini kembali membagi golongan mereka menjadi dua golongan lagi, yaitu:
Pertama: Para nabi agung dan rasul-rasul yang mulia 'Alaihim al-Salâm.
Kedua: Para manusia paripurna yang telah mencapai al-Haqq Allah s.w.t. dengan keteguhan mereka mengikuti jejak para nabi dan rasul. Mereka inilah orang-orang yang paling berhasil menginterpretasikan sosok "Insan Kamil" (Manusia Paripurna) disebabkan ketinggian kualitas persiapan yang mereka lakukan. Akan tetapi, meski sebagian dari mereka telah mencapai keparipurnaan dalam diri mereka sendiri, terkadang orang-orang ini tidak menjadi mursyid bagi orang lain. Bahkan ada dari orang-orang yang sudah sampai (al-wâshilûn) ini yang tidak mampu menyelamatkan diri dari gelombang lautan al-jam' (kebersatuan) dan al-hairah (keterhenyakan). Yang terakhir ini akan terus berada pada kondisi ini dengan menggunakan perasaan dan pikiran mereka. Itulah sebabnya, hubungan dirinya dengan menjadi terputus sepenuhnya dari Alam Nasut (tabiat-tabiat manusia) dan tidak mampu melakukan bimbingan (irsyad) terhadap orang lain.
*Golongan kedua: mereka adalah orang-orang yang disebut "al-Sâlik" (penempuh jalan suluk). Mereka juga terbagi menjadi dua golongan, yaitu:
Pertama: Mereka yang hanya mengejar Allah s.w.t. semata tanpa memikirkan dunia dan akhirat.
Kedua: Mereka yang mengejar dunia -dengan cara yang sesuai syariat- dan sekaligus mengejar akhira dan surga. Mereka inilah para ahli zuhud, ahli ibadah, dan orang-orang yang merasa fakir kepada Allah.
*Golongan ketiga: Mereka adalah orang-orang yang pandangannya hanya tertuju pada dunia. Para sufi menyebut orang-orang ini dengan sebutan "al-Muqîmûn". Mereka inilah golongan yang jahat, sengsara, "golongan kiri", yang tidak pernah mau melihat, mendengar, dan memahami apapun.
Ada pula pendapat yang menyebut ketiga golongan ini dengan sebutan sebagai berikut:
"Al-Muqarrabûn" (orang-orang yang didekatkan) untuk golongan pertama; "Ashhâb al-Yamîn" (golongan kanan) untuk golongan kedua; dan "Ashhâb al-Syimâl" (golongan kiri) untuk golongan ketiga.

PRINSIP DAN AMALAN TASAWWUF : SIRI 2 ASAL USUL TASAWWUF



 FATHULLAH GULLEN (PENGASAS HIZMET TURKI)

Menurut pandangan sejarah ilmu-ilmu Islam, berbagai hukum syariat belum ditulis pada masa awal kelahiran agama ini. Pada saat itu kebanyakan kaum muslim menghapalkan berbagai bagian dari hukum-hukum syariat di dalam benak mereka saja, dan terus tersemat kuat di dalam pikiran mereka, sebagai bentuk akidah, ibadah, dan muamalah. Semua itu terus diulang dan diperkuat dengan praktik dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Dari perspektif ini, pengumpulan dan pencatatan hukum syariat tidak menemukan kesulitan yang berarti; sebab upaya semacam itu tidak lebih dari sekedar mengalihkan berbagai hal yang diingat dalam benak kita ke dalam catatan-catatan di atas lembaran kertas.
Dari sisi lain, berbagai cabang ilmu sengaja disebutkan di sini karena ia merupakan masalah-masalah nyata dalam kehidupan yang pasti dialami setiap muslim. Para ulama memiliki prioritas atas berbagai realitas yang tersimpan di dalam benak dan hati mereka untuk kemudian mereka menulis berbagai risalah dan buku-buku yang berhubungan dengan setiap masalah. Para ahli fikih sibuk menulis buku-buku fikih, para ahli hadits sibuk menulis dan menghapal Sunnah, para ulama Ilmu Kalam sibuk membahas berbagai masalah akidah, sementara para mufassir sibuk menyusun buku-buku tafsir dan ilmu-ilmu al-Qur`an. Setiap mereka mengerahkan segenap kemampuan mereka pada bidang masing-masing hingga melampaui cakrawala tertinggi untuk menunjukkan hakikat Islam yang luhur tanpa pernah membiarkan ada ruang bagi munculnya ketidakjelasan.
Di tengah semua itu, para sufi juga berkonsentrasi -mereka adalah orang-orang yang selalu memberi perhatian besar terhadap aspek spiritual dari al-Haqîqah al-Muhammadiyyah- mereka selalu berkonsentrasi -dengan mengandalkan sumber-sumber yang sama- kepada berbagai hal yang berhubungan dengan tasawuf, seperti jati diri manusia, dasar kehidupan dan segala yang ada di baliknya, esensi serta hakikat manusia dan alam semesta, dan berbagai masalah lainnya, sembari berusaha untuk menuntun perhatian semua manusia ke arah segala yang ada di balik semua entitas.
Para sufi itu lalu menambahkan riyadhah pribadi, kehidupan spiritual, penjernihan hati, dan penyucian jiwa yang mereka lakukan, ke dalam penafsiran para mufassir, riwayat para muhaddits, dan ijtihad serta istinbâth para mujtahidin. Singkatnya, mereka mengembangkan berbagai aliran dan jalan tasawuf dengan memahami agama secara komprehensif serta tidak terpisah-pisah. Di samping mereka juga senantiasa hidup, merasa, dan memahami agama dengan baik.
Demikianlah kehidupan spiritual Islam mendapatkan landasan ilmiahnya. Itulah kehidupan yang disandarkan pada landasan praktik yang berkaitan langsung dengan kondisi hati, seperti zuhudnya para ahli zuhud, ibadahnya para ahli ibadah, kepekaan spiritualnya para ahli warak, kelembutan perasaan orang-orang yang ikhlas, cinta dan kerinduan para pecinta, dan ketajaman pandangan orang-orang fakir yang menyadari kelemahan serta kefakiran mereka di hadapan Allah.
Dari sinilah kemudian muncul suatu ilmu yang disebut dengan istilah "Ilmu Tasawuf" dengan segala ciri khas yang dimilikinya dalam bentuk manhaj, maslak (jalan), masyrab (sumber), maudhu' (subjek), kaidah-kaidah, dan istilah-istilah. Jadi tidak diragukan lagi bahwa landasan Ilmu Tasawuf adalah inti-sari dan sari-pati dari al-Haqîqah al-Muhammadiyyah, meski kemudian muncul beberapa ketidak-samaan dan perbedaan di sana-sini di masa sekarang.
Namun merupakan sebuah fakta bahwa pada masa tertentu, ada sebagian ahli tasawuf yang mengira bahwa syariat yang mulia -yang merupakan satu entitas dengan dua wajah- memiliki perbedaan antara hukum-hukumnya (yang tampak) dari rohnya (yang tersembunyi), seperti dalam muraqabah, riyadhah, dan mujahadah. Masing-masing dari kedua sisi ini memiliki posisi yang saling berlawanan antarsatu sama lain, disebabkan adanya dugaan bahwa yang satu melekat pada aspek lahiriah dari syariat, sedangkan yang lain melekat pada aspek batiniah dari syariat. Pada hakikatnya, penyebab munculnya perbedaan ini -hingga batas tertentu- adalah karena para ahli fikih dan para pembuat fatwa merepresentasikan aspek teoretik dari syariat, sementara para sufi merepresentasikan aspek batiniah dari syariat. Padahal perbedaan ini dapat dianalisa dari perspektif bahwasannya masing-masing sisi memberikan satu jalan (al-maslak) yang cocok baginya.
Para ahli fikih, ahli hadits, dan para mufassir telah merujuk kepada al-Qur`an dan Sunnah di bawah naungan berbagai landasan dan kaidah yang menjadi dasar utama pada masa kerasulan yang cemerlang. Mereka lalu melahirkan jejak-jejak agung pada bidang mereka masing-masing. Sebagaimana pula halnya para sufi juga merujuk kepada al-Qur`an dan Sunnah, telah menunjukkan berbagai ijtihad mereka dalam pelbagai masalah yang mereka gali dari kedua sumber utama ini, yang berhubungan dengan riyadhah, mujahadah, muraqabah, hal, dan maqam. Selain itu mereka juga menuliskan kehidupan spiritual mereka beserta 'isyq, syauq, isytiyâq, wajd, jadzbah, dan injidzâb yang mereka alami, sembari berusaha menuntun siapapun yang terlalu menekankan aspek lahiriah menuju arah ini.
Pada hakikatnya, tujuan masing-masing kelompok yang berbeda ini adalah mencapai Allah dengan mematuhi semua perintah dan larangan-Nya. Akan tetapi, ketiadaan tolok ukur yang dapat digunakan untuk menakar jalan ke arah itu sesuai aturan syariat terkadang menyebabkan munculnya sikap ifrâthdan tafrîth; yang kemudian menjadi biang keladi munculnya begitu banyak perselisihan di masa kini. Padahal, sama sekali tidak ada pencetus perbedaan pada dasar dan sumber agama, sebagaimana halnya penulisan berbagai bagian dari agama secara terpisah tidak dapat disebut sebagai perselisihan. Demikian pula tidaklah dapat disebut sebagai perselisihan ketika fikih berkonsentrasi pada hukum-hukum ibadah dan muamalat, serta pengaturan pikiran dan amal manusia; sementara tasawuf berkonsentrasi pada upaya untuk mengangkat harkat hidup manusia menuju tataran hati dan roh melalui jalan tarbiyah rohani (tarbiyah al-rûh), penjernihan hati (tashfiyah al-qalb), dan penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs). Kalau itu terwujud, maka tidak akan ada perselisihan atau pun perpecahan. Alih-alih, kedua elemen ini justru masing-masing akan menjaga satu elemen penting dari syariat, karena tiap-tiap elemen sebenarnya setara dengan syariat secara keseluruhan. Elemen parsial itulah yang menginterpretasikan seluruh syariat, karena kesempurnaan syariat bergantung sepenuhnya pada kesempurnaan seluruh elemen tersebut.
Semua itu dapat terjadi karena salah satu elemen tersebut mengajarkan kepada manusia tentang bagaimana cara bersuci sebelum beribadah, tata-cara melaksanakan shalat, aturan puasa, aturan zakat, dan apa saja yang menjadi landasan dalam bermuamalat. Sedangkan elemen yang lain, menegaskan perhatian terhadap hubungan antarsemua jenis ibadah, ketaatan, dan muamalat, dengan hati dan roh, sehingga elemen ini membahas tentang jalan peningkatan manusia dari sosok manusia "penampilan" menjadi manusia "kepribadian" atau "konsepsi". Selain itu elemen yang satu ini juga mendorong manusia ke arah jalan yang akan membentuk mereka menjadi Insan Kamil (Manusia Paripurna). Berdasarkan semua ini, maka kita memang sama sekali tidak dapat menafikan salah satu di antara kedua elemen ini.
Akan tetapi, meski segelintir sufi yang kurang berpengetahuan telah melampaui batas dengan menyebut orang-orang yang bergelut dengan fikih dan Sunnah dengan sebutan "Arbâb al-Zhâhir" (Para Pemilik Lahiriah) atau "Ulamâ` al-Rusûm" (Para Ulama Penampilan), namun para sufi yang berpengetahuan lengkap selalu menggunakan kaidah-kadiah syariat dasar sebagai sumber rujukan mereka. Berbagai pemikiran dan pendapat yang mereka kemukakan baik berupa landasan maupun manhaj, selalu sesuai dengan al-Kitab dan Sunnah. Mereka merajut semua itu dengan sangat cermat berdasarkan syariat yang mulia. Buku-buku seperti al-Washâyâ dan al-Ri'âyah karya al-Muhasibi, al-Ta'arruf li-Madzhab Ahl al-Tashawwuf karya al-Kalabadzi, al-Lumma' karya al-Thusi, Qût al-Qulûb karya Abu Thalib al-Makki, dan al-Risâlah karya al-Qursyairi, merupakan sebagian kecil dari permata-permata yang lahir dari aktivitas ini.
Sebagaimana halnya di antara untaian permata ini terdapat beberapa karya tulis yang dibuat dengan pola yang sama seperti muhasabah dan penyucian jiwa, terdapat pula sejumlah besar karya tulis lain yang berisi berbagai macam topik yang beragam.
Terakhir, setelah munculnya berbagai tulisan hebat yang tak ternilai harganya itu, tampillah sang Hujjah al-Islam Imam Ghazali yang kemudian menulis bukunya yang luar biasa yang berjudul Ihyâ` 'Ulûm al-Dîn setelah sebelumnya ia terlebih dulu mengoreksi banyak jalan tasawuf dengan segala adab-adab, rukun-rukun, dan istilah-istilahnya. Ia mengukuhkan hal-hal yang diakui oleh para masyayikh, dan mengkritik hal-hal yang perlu dikritik. Al-Ghazali lalu mempertemukan kembali antara kedua aliran penuh berkah (fikih dan tasawuf, penj-) yang seakan-akan saling bertentangan ini, dan kemudian memadukan keduanya dengan sangat baik.
Setelah kemunculan al-Ghazali, banyak sufi yang menemukan bahwa ilmu mereka adalah salah satu bentuk serta menjadi bagian di antara ilmu-ilmu syariat. Maka terciptalah persatuan dan kerja-sama di mana-mana, sampai-sampai mereka juga berdamai dan bersatu dengan orang-orang yang menyebut mereka -sampai saat itu- dengan julukan "Ulama Penampilan" (al-'Ulamâ` al-Rusûm) dengan maksud meremehkan mereka. Khususnya ketika mereka berhasil membawa berbagai penjelasan yang terdapat di dalam ilmu tasawuf ke dalam ranah fikih, seperti misalnya berbagai realitas hati dan perasaan, dan seperti ilmu tentang hal ('Ilm al-Hâl), ilmu tentang bersitan hati ('Ilm al-Khâthir), ilmu tentang keyakinan ('Ilm al-Yaqîn), ilmu ikhlas ('Ilm al-Ikhlâsh), dan ilmu akhlak ('Ilm al-Akhlâq). Mereka menemukan titik-titik kesamaan yang sangat banyak yang menghantarkan mereka kepada kesatuan dan kesepahaman. Itu terjadi baik di kalangan ahli tasawuf maupun di antara para "ulama lahiriah".
Demikianlah, karena tasawuf adalah jalan menuju ibadah yang pusat konsentrasinya adalah batin, dan selalu bergelut dengan aspek rohaniah dari hukum-hukum syariat serta pengaruhnya terhadap hati, berikut kedalaman yang terdapat di dalam kalbu. Maka dibandingkan dengan jalan (maslak) yang lain, tasawuf adalah jalan yang paling dalam, bersifat ladunniyah, paling jauh jangkauannya, dan paling sukar dipahami. Tapi meski demikian, tasawuf tetap memiliki tujuan dan sekaligus titik awal yang berasal dari al-Kitab dan Sunnah serta tidak pernah menafikan semua jalan lain yang di dalam Islam. Bahkan sebagaimana halnya ilmu-ilmu syariat yang lain, tasawuf juga menegaskan esensi dari ilmu, makrifat, keyakinan, keikhlasan, ihsan, dan berbagai realitas lainnya, dengan mengandalkan sepenuhnya pada al-Kitab, Sunnah, dan berbagai ijtihad lurus yang dilakukan oleh para al-Salaf al-Shalih.
Adanya identifikasi terhadap tasawuf melalui berbagai nama berbeda yang disematkan padanya seperti Ilmu Batin ('Ilm al-Bâthin), Ilmu Rahasia-rahasia ('Ilm al-Asrâr), Ilmu Hal dan Maqam ('Ilm al-Ahwâl wa al-Maqâmât), Ilmu Suluk ('Ilm al-Sulûk), dan Ilmu Tarekat ('Ilm al-Tharîqah), tidak dapat serta-merta menjadikannya berbeda dari ilmu-ilmu syariat lainnya. Karena berbagai nama dan predikat itu muncul dari respon terhadap berbagai semangat dan kondisi beragam dari kehidupan yang ditegakkan di atas syariat dalam rentang masa yang sangat panjang yang dipersepsi dengan cara berbeda-beda. Itulah sebabnya, tasawuf kemudian dianggap sebagai penyimpangan dari kebenaran. Apalagi kemudian muncul kesan bahwa tasawuf memiliki dasar yang berbeda dari landasan pemikiran dan istinbath para ahli syariat.
Meski di setiap masa selalu saja ada kalangan sufi fanatik yang selalu berpegang pada hukum-hukum syariat seperti dari kalangan ahli fikih, ahli hadits, ahli tafsir, hanya saja para penempuh jalan lurus selalu lebih banyak diisi oleh orang-orang yang memiliki sikap ifrath dan tafrith. Atas dasar itu, maka tentu menjadi sebuah kesalahan jika masalah ini disikapi seolah-olah terdapat kontradiksi serius antara para pengikut kebenaran dari masing-masing pihak, seperti yang dapat kita lihat dari beberapa pernyataan dan pemahaman tidak pantas yang dilontarkan sebagian ahli fikih terhadap para sufi, atau dari beberapa pernyataan dan pemahaman serupa yang dilontarkan sebagian sufi terhadap para ahli fikih. Kesimpulan ini harus kita percaya karena jumlah orang-orang yang ikut mengobarkan pertikaian antara kedua kelompok ini sebenarnya hanya seperti setetes air di tengah lautan jika dibandingkan dengan mereka yang menempuh jalan toleransi, permaafan, dan perdamaian.
Sebenarnya semua ini sangatlah wajar, karena rujukan masing-masing pihak sebenarnya sama. Sebagaimana halnya para ahli fikih selalu merujuk kepada al-Kitab dan Sunnah dalam urusan hukum-hukum syariat, para sufi juga selalu menggunakan rujukan yang sama dalam berbagai aktivitas mereka.
Demikianlah, sesungguhnya dasar yang selalu ditegas-tegaskan oleh para sufi secara terus-menerus sebenarnya tidak banyak berbeda dengan apa yang terjadi di jalan fikih dan dilakukan para fukaha. Kedua golongan ini sama-sama menegaskan pentingnya amal saleh dan interaksi yang tulus. Hanya saja para sufi lebih sering berbicara tentang beberapa topik tertentu seperti macam-macam perbuatan baik, perbaikan akhlak, dan penyucian jiwa. Karena hanya dengan penyucian jiwalah hati manusia dapat selalu awas terhadap makrifat ilahiah. Dengan itulah kemudian manusia dapat bergerak ke arah jalan keikhlasan dan keridhaan Ilahi, untuk kemudian ia naik ke sebuah tingkatan yang membuatnya dapat menunaikan semua masalah syariat dengan kesadaran ubidiyah yang mendalam. Itu dapat terjadi karena ia telah berhasil mencapai satu bentuk "hati" lain yang jauh lebih dalam dari sekedar sebuah hati biasa, berhasil menjangkau satu bentuk "irfân" lain yang berada di balik irfân biasa, dan berhasil memahami satu bentuk "bahasa" lain yang lebih dalam dibandingkan bahasa biasa.
Ya. Sesungguhnya kemampuan untuk berakhlak dengan akhlak Ilahiah (al-Akhlâq al-Lâhûtiyyah) hanya dapat terwujud melalui amal saleh dan akhlak terpuji. Pada saat itu segala tabir akan tersibak dan segala tirai akan tersingkap melalui jalan mujahadah, khalwat, zikir, dan muraqabah; sehingga keimanan akan kembali bangkit -dengan kemampuan mengetahui segala yang ada di balik entitas- yang diperkuat oleh al-dzauq (rasa) dan al-kasyf (penyingkapan) yang setara dengan keyakinan yang berdasarkan persaksian (yaqîn syuhûdi).

PRINSIP DAN AMALAN TASAWWUF SIRI 1 TASAWWUF



FATHULLAH GULLEN (PENGASAS HIZMET TURKI)
Tasawuf adalah istilah yang digunakan untuk menyebut jalan yang menghubungkan kepada sang Mahabenar, Allah ta'ala, yang ditempuh oleh sufi dan para mutashawif. Tasawuf menampilkan aspek teoretik dari jalan kebenaran, dan al-tanassuk (al-tadarwusy) diartikan sebagai aspek praktik darinya. Selain itu, biasa dikenal pula istilah "Ilmu Tasawuf" untuk menyebut aspek teoretik dari jalan ini, sementara aspek praktiknya disebut "al-tanassuk".
Sebagian dari para penempuh kebenaran berpendapat bahwa tasawuf adalah tindakan Allah mematikan aspek kejiwaan dan ego manusia untuk kemudian membawanya naik menuju kehidupan lain dengan cahayanya. Dengan kata lain, tasawuf adalah: tindakan Allah mem-fana-kan manusia dengan kehendak-Nya, serta dorongan-Nya menuju amal dengan kehendak-Nya yang khusus dan pilihan-Nya sendiri
Dari pendekatan lain dikatakan bahwa tasawuf adalah mujâhadah (usaha keras) yang terus-menerus dan murâqabah (kesadaran akan pengawasan Allah) yang berkesinambungan, demi menghilangkan semua bentuk akhlak tercela dari seseorang dan mengosongkan dirinya dari semua itu, untuk kemudian mengisi dirinya dengan berbagai sifat terpuji yang luhur, serta mengisi dirinya dengan semua itu.
Junaid al-Baghdadi menjelaskan bahwa tasawuf adalah "al-fanâ` fî-Allâh" (fana dalam Allah) dan "al-baqâ` bi-Allâh" (kekal dengan Allah). Dapat disampaikan di sini ringkasan dari berbagai pernyataan al-Syibli bahwa tasawuf adalah kekal (al-baqâ`) dalam kebersamaan Ilahiyah (al-ma'iyyah al-ilâhiyyah) tanpa menoleh kepada semua yang lain. Sementara penjelasan Abu Muhammad al-Jariri menyatakan bahwa tasawuf adalah mengambil posisi waspada terhadap semua akhlak buruk dan berusaha meraih semua akhlak yang luhur.
Namun ada pula orang-orang yang mendefinisikan tasawuf sebagai: upaya menembus roh (inti) segala sesuatu dan segala entitas, menganalisa semua kejadian sesuai dengan tolok ukur makrifat Ilahiah, serta menganggap bahwa semua tindakan Allah adalah jalan menuju muraqabah dan pengawasan Allah s.w.t..
Dengan musyahadah internal, berbagai konsepsi akan naik tinggi melampaui batasan kuantitas (al-kam) dan kualitas (al-kaif). Sepanjang usia akan dihabiskan untuk berusaha melakukan mu'ayanah (observasi) dan musyahadah terhadap Allah s.w.t.. Seluruh kehidupan akan digunakan untuk khusyuk, tunduk, dan gerak berkesinambungan di mana kita dapat melihat seluruh hâl kita.
Kita dapat meringkas berbagai definisi tersebut di atas dalam sebuah kesimpulan, yaitu: Tasawuf adalah upaya untuk membebaskan diri dari sifat-sifat kemanusiaan demi meraih sifat-sifat malaikat dan akhlak Ilahi, serta menjalani hidup pada poros makrifatullah dan mahabbatullah sembari menikmati kenikmatan spiritual.
Dasar dari tasawuf adalah menjaga adab-adab syariat secara lahiriah dan berdiri di atas adab-adab tersebut secara batiniah. Seorang salik yang terampil menggunakan kedua sayap ini akan dapat melihat hukum-hukum (ketetapan) dari batin pada apa yang tampak secara lahir, dan ia juga dapat merasakan dan hidup secara lahir dengan hukum-hukum (ketetapan) yang ada di dalam batin. Berkat adanya musyahadah dan sensitivitas semacam ini, maka ia akan selalu dapat menempuh perjalannnya dengan adab menuju tujuannya, tanpa pernah jauh dari jalan kebenaran karena ia selalu berada di dekat jalan tersebut.
Tasawuf adalah sebuah jalan terbuka menuju makrifat rabbaniyah dan amal yang selalu baik. Di dalamnya sama sekali tidak ada ruang untuk senda-gurau, ketidakpedulian, main-main, dan kesia-siaan. Lagi pula bagaimana mungkin bisa demikian, sementara dasar dari tasawuf adalah penyerapan kesaksian makrifat uluhiyah yang dilanjutkan dengan menyematkannya di dalam hati, laksana lebah yang hilir-mudik dari sarangnya ke tempat bunga tumbuh; penyucian kalbu dari guncangan; penaklukan jiwa dari kecenderungan negatif; pengendalian sifat-sifat manusiawi dengan menutup sama sekali segala bentuk hasrat fisik-jasmaniah; selalu terbuka di hadapan nilai-nilai spiritual; penggunaan seluruh umur untuk mengikuti jejak langkah Sayyid al-Anâm Muhammad s.a.w.; pengosongan diri dari segala keinginan pribadi demi mengikuti keinginan Allah s.w.t.; dan kesadaran penuh akan kehadiran Allah s.w.t. yang diiringi pengetahuan bahwa sikap menyandarkan diri kepada Al-Haqq Allah s.w.t. adalah martabat yang tertinggi.
Selain itu kita juga harus mengetahui akar, dasar, subjek, manfaat, dan rukun-rukun tasawuf. Berikut ini penjelasannya:
Akar tasawuf adalah: Berpegang pada dasar-dasar agama sekuat-kuatnya, menjaga perintah serta larangan agama dengan cermat, dan menghindari dorongan nafsu sekuat tenaga dengan membiasakan kondisi lapar dan waspada.
Subjek tasawuf adalah: Mengangkat manusia ke derajat kehidupan spiritual-rohaniah, menyucikan hati, dan mengarahkan seluruh lathifah ke tempat kembalinya yang sejati.
Manfaat tasawuf adalah: Mendorong manusia untuk menumbuh-kembangkan anasir kemalaikatan (angelic qualities) yang ada dalam dirinya, serta mempertajam sentivitas keimanan yang komprehensif dan orisinal sekali lagi secara nyata dan dengan segenap perasaan, lalu hidup dengannya.
Dasar tasawuf adalah: Memperdalam kesadaran ubudiyah yang dangkal dan mengasahnya dengan usaha sungguh-sungguh dalam ibadah dan ketaatan, serta menjadikannya sebagai elemen penting bagi karakter manusia, kedewasaan spiritual -yang dianggap sebagai fitrah kedua bagi manusia-, dan perhatian terhadap dua wajah dunia yang menghadap ke arah akhirat dan nama-nama baik (al-asmâ` al-husnâ)yang dimiliki Ilahi, sembari menutup rapat terhadap wajah dunia yang fana yang menghadap ke arah jati diri dan hawa nafsunya.
Adapun rukun-rukun tasawuf dapat disusun peringkatnya sebagai berikut:
1-Pencapaian tauhid hakiki melalui jalan teoretik dan praktik.
2-Membaca serta mengamati perintah-perintah dari Hadrah Kekuasaan dan Kehendak Ilahiah, di samping mendengar dan memahami Yang Terhormat firman Ilahi.
3-Memenuhi diri dengan mahabbah kepada Al-Haqq Allah s.w.t.; melihat demi Dia kepada semua entitas dengan menganggapnya sebagai "persemaian ukhuwah"; serta melaksanakan interaksi yang baik dengan semua manusia, dan bahkan dengan segala sesuatu.
4-Beramal dengan semangat al-îtsâr (mengutamakan orang lain) di setiap saat, dengan selalu mengutamakan kepentingan orang lain dibandingkan diri sendiri sesuati kemampuan.
5-Mengutamakan kehendak Ilahi di atas kehendak pribadi serta berusaha menggunakan seluruh usia untuk mendaki ke puncak "al-fanâ` fî-Allâh" (fana dalam Allah) dan "al-baqâ` bi-Allâh" (kekal dengan Allah).
6-Terbuka terhadap al-'isyq (cinta), al-wajd (kerinduan spiritual), al-jadzb, dan al-injidzâb (ekstase).
7-Mampu menembus apa yang ada di dalam hati melalui ekspresi wajah, dan mampu membaca berbagai rahasia Ilahiah yang terdapat pada tampilan kejadian-kejadian.
8-Melakukan ziarah ke tempat-tempat yang dapat mengingatkan kepada akhirat dengan niat perjalanan untuk mendapatkan semangat hijrah.
9-Merasa cukup dengan berbagai perasaan dan kenikmatan yang berada di dalam lingkup syariat, serta bertekad untuk tidak melangkah sedikit pun ke arah kawasan di luar syariat.
10-Terus bermujahadah dan berjuang untuk melawan sikap panjang angan-angan (thûl al-amal) yang akan menimbulkan dugaan-dugaan tak berkesudahan.
11-Tidak pernah melupakan -meski hanya sesaat- bahwa tidak ada keselamatan yang dapat diraih selain hanya melalui jalan keyakinan, keikhlasan, dan ridha Ilahi, walaupun amal yang dilakukan adalah demi berkhidmat pada agama dan untuk menghantarkan umat manusia menuju Al-Haqq Allah s.w.t..
Selain semua yang telah dipaparkan di atas, kita masih dapat menambahkan beberapa poin berikut ini:
Membekali diri dengan ilmu-ilmu lahir dan ilmu-ilmu batin, serta mengikuti bimbingan dan tuntunan sang Insan Kamil. Kedua elemen ini dianggap sangat penting oleh para pengikut Tarekat Naqsyabandiyah.
Ketika kita membahas tentang tasawuf, memikirkan tentang tasawuf, dan menulis tentang tasawuf, kita tidak boleh melupakan beberapa masalah yang akan dijelaskan di bawah ini, yang serupa dengan tanda-tanda dari kristal mengkilap yang menuntun perjalanan dan dan suluk rohaniah. Ia mencakup makna luas dari semangat ad-darwasyah (at-tanassuk), dan dianggap sebagai dasar bagi buku-buku akhlak, adab, dan zuhud (asketisme). Bahkan ia juga dianggap sebagai titik pertemuan hati manusia -pada salah satu pengertiannya- dengan al-Haqiqah al-Muhammadiyyah.
Masalah pertama yang akan disampaikan adalah "keterjagaan" (al-yaqazhah) yang menjadi dasar bagi pemahaman sebuah hadits Rasulullah s.a.w.: "Sesungguhnya kedua mataku tidur, tapi hatiku tidak tidur." Dan sebuah ungkapan yang berbunyi: "Manusia tidur, ketika mereka mati, mereka terjaga."
Setelah keterjagaan (al-yaqazhah), berikutnya ada taubat, al-inâbah, al-muhâsabah, tafakkur, al-firâr, al-i'tishâm, khalwat, uzlah, al-hâl, hati, al-huzn, al-khauf (takut), al-rajâ` (harap), khusyuk, zuhud, takwa, al-warâ' (warak), ibadah, al-'ubûdiyyah (penghambaan), al-murâqabah, ikhlas, istiqamah, tawakal, al-taslîm, al-tafwîdh, al-tsiqah, al-khulq, tawaduk, al-futuwwah, al-shidq, al-hayâ` (malu), syukur, sabar, ridha, al-inbisâth, al-qashd, al-'azm, al-irâdah, al-murîd, al-murâd, yakin, zikir, ihsan, al-bashîrah (mata batin), al-farâsah (keperwiraan), al-sakînah (ketenteraman), al-thama`nînah (ketenangan), al-qurb (kedekatan), al-bu'd (kejauhan), makrifat, mahabah, al-'isyq (rindu), al-syauq, al-isytiyâq, al-jadzbah, al-injidzâb (ekstase), al-dahsyah, al-hîrah, al-qabdh, al-basth, al-faqr (kefakiran), al-ghinâ (kekayaan), al-riyâdhah, al-tabaddul, al-hurriyyah (kemerdekaan), al-ihtirâm, al-'ilm (ilmu), al-hikmah (hikmah kebijaksanaan), al-himmah, al-ghîrah, al-wilâyah, al-sîr, al-ghurbah (keterasingan, al-istighrâq (ketenggelaman), al-ghaib (gaib), al-qaliq (kegelisahan), al-waqt (waktu), al-shafâ` (kejernihan), al-surûr (kesenangan), al-talwîn, al-tamkîn, al-mukâsyafah, al-musyâhadah, al-tajalli, al-hayâh (kehidupan), al-sakar (mabuk), al-shahw, al-fashl (pemisahan), al-washl (penghubungan), al-fanâ`, al-baqâ`, al-tahqîq, al-talbîs, al-wujûd (entitas), al-tajrîd, al-tafrîd, al-jam', jam' al-jam', al-tauhîd (pengesaan).
Kami berharap untuk dapat menjelaskan sedikit dari berbagai istilah di atas di dalam buku kecil ini meski hanya sepintas. Wallâhu yaqûlu al-haqq wa huwa yahdî al-sabîl (Allah selalu menyampaikan kebenaran, dan dia selalu memberi petunjuk jalan yang benar).