Catatan Popular

Selasa, 20 Mac 2018

BUAH SEDEKAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN MAYAT


Imam Ahmad Syihabuddin Bin Salamah Al-Qulyuby.

Diceritakan dari Abi Qulabah, bahwasanya di dalam tidurnya ia melihat kuburan. Sepertinya kuburannya terbelah, dan mayat-mayat keluar dan duduk pada tepi kuburan. Sepertinya diantara tangan setiap satu orang dari mayat-mayat  itu terdapat mangkok dari cahaya. Ia melihat diantara mayat-mayat itu ada laki-laki dari tetangga-tetangganya  dan tidak melihat cahaya diantara tangannya. Lantas ia bertanya pada laki-laki tadi, dan berkata : “Aku tidak melihat cahaya diantara kedua tanganmu”. Lalu laki-laki itu menjawab : “Sesungguhnya mereka mempunya anak-anak dan teman-teman yang mendoakan mereka  dan bershodaqoh untuk mereka.

Dan cahaya ini dari sesuatu yang anak-anak dan teman-teman mereka kirimkan padanya. Dan padaku anak yang tidak sholeh, yang tidak mendoakan dan shodaqoh untukku maka tidak ada cahaya padaku. Dan sesungguhnya aku lebih memalukan darpada tetanggaku”. Ketika Abu Qulabah sadar,ia memanggil anak mayat laki-laki tadi serta memberitahukan padanya apa yang ia lihat.

Lalu anak itu berkata pada Abi Qulabah : “Aku akan bertobat dan tidaka akan mengulangi apa yang telah aku lakukan. Kemudian ia kembali taat dan berdoa serta bershodaqoh untuk ayahnya. Lalu setelah masa Abu Qulabah melihat kuburan itu pada keadaan mayat yang pertama kali, ia melihat diantara tangan laki-laki itu terdapat cahaya keagungan yang lebih terang daripada cahaya matahari dan lebih sempurna daripada cahaya selainnya.

Kemudian laki-laki itu berkata : “Hai Abu Qulabah, semoga Allah memberikan balasan padamu. Kemudian kamu tinggal menyelamatkan anakku dari neraka dan selamatlah aku dari rasa maluku diantara tetangga-tetangga.

BERDAGANG DENGAN ALLAH


Imam Ahmad Syihabuddin Bin Salamah Al-Qulyuby.

Diceritakan : pada suatu hari  dirumah Ali ada 5 jiwa : Fatimah, Hasan, Husain, Haris, mereka tinggal disitu tanpa makan, dan Fatimah punya selendang lalu ia berikan ke Ali, supaya menjualnya dengan harga enam dirham dan menyedaqahkannya pada orang fakir. 

Kemudian ditengah jalan ia bertemu dengan Jibril dengan bentuk manusia membawa unta dari surga. Lalu jibril berkata kepadanya : Hai bapaknya Hasan, belilah untaku lalu Ali berkata : aku tidak punya wang untuk membayar.

Jibril berkata : dengan dihutang. Lalu Ali berkata : berapa harganya ?. Jibril menjawab : seratus dirham. Lalu Ali membelinya dengan cara hutang dan memegang kendalinya. Lalu ia pergi. Di tengah jalan ia dihadapi dengan Mikail dengan wujud orang pedalaman.

Lalu Mikail berkata : apa kau jual unta ini hai bapaknya Hasan ?. Ali menjawab : benar. Kau dulu beli dengan harga berapa ? Tanya Mikail. “Seratus dirham”  jawab Ali. Lalu MIkail berkata : sekarang aku akan beli dengan harga seratus enam puluh dirham. Lalu Ali menjualnya dengan harga tersebut. Kemudian mikail membayarkan wangnya, lalu Ali mengambilanya kemudian pergi.

Ditengah jalan ia bertemu dengan penjual yang pertama yaitu jibril. Dia berkata : berikanlah hakku. Lalu Ali memberiakan seratus dirham kepadanya, dan masih mempunyai sisa enam puluh dirham. 

Kemudian wang itu ia bawa pulang kerumahnya disamping Fatimah. Kemudian Ali menggenggamkan wang tadi ditangan Fatimah.

Fatimah bertanya : Dari mana ini ?. Ali menjawab : Aku berdagang dengan Allah enam dirham dan Allah memberiku enam puluh dirham, masing-masing dirham itu sepuluh dirham. Lalu Ali datang kepada Nabi dan mengabarkan kisah tersebut. 

Lalu Nabi berkata : Ya Ali, penjual adalah jibril, pembeli adalah Mikail, sedangkan untanya adalah kendaraan Fatimah di hari kiamat. 

Lalu Nabi berkata : “Hai Ali. Aku memberikanmu tiga perkara yang selainmu tidak kuberikan :
1. Kau punya istri yang menjadi ratu perempuan surga
2. Kau punya anak dua yang menajdi raja surga semua
3. Kau menjadi menantu rajanya utusan.”

CAHAYA HATI DAN TAWAKKAL KEPADA ALLAH

Imam Ahmad Syihabuddin Bin Salamah Al-Qulyuby.

Dikisahkan : bahwasanya pada zaman Malik bin Dinar ada dua orang majusi yang menyembah api. Yang kecil berkata pada saudaranya yang besar : “ Hai saudaraku. Bahwasanya kamu telah menyembah api ini selama 63 tahun dan aku menyembah api selama 35 tahun. “

“Mari kita lihat apakah ia membakar kita seperti ia membakar selain kita yakni orang yang tidak menyembahnya ( api )?. Apabila ia tidak membakar kita maka kita meyembahnya dan jika ia membakar kita maka kita tidak meyembahnya. “

Kemudian mereka menyalakan api , lalu yang kecil berkata pada saudaranya yang besar : “ Apakah kamu yang akan meletakkan tanganmu sebelum aku atau aku yang meletakkan tanganku sebelum kamu ?. lalu yang besar berkata : “letakkanlah tanganmu “ yang kecilpun meletakkan tangannya.
Maka terbakarlah jari-jarinya, ia pun segera menarik tangannya seraya berkata : “Ah…, aku meyembahmu sekian tahun dan kamu menyakitiku”. Lalu ia berkata : “Ya saudaraku mri kita sembah Dzat yang meskipun kita berbuat dosa dan meninggalkannya selama 500 tahun kemudian dia mengampuni kita hanya dengan taat satu saat ataupun istighfar satu kali”.

Saudaranya menjawab hal tersebut dan berkata : “Ayo kita pergi kepada orang yang bisa menunjukkan kita pada jalan yang benar”. Mereka sepakat untuk pergi ke Malik bin Dinar. Kemudian mereka menuju ke Malik bin Dinar dan menemukannya dikerumunan orang-orang Basrah  sedang duduk untuk menghormati orang umum.

Ketika mereka melihat Malik saudara yang besar berkata pada saudaranya : “Telah jelas bagiku aku tidak Islam dan telah melewatkan banyak umurku dalam beribadah pada api. Maka ketika aku masuk Islam keluargaku melihat denga mencaciku dan api senang pada orang yang mencaciku. Lalu saudaranya yang kecil berkata kepadanya : “jangan kau lakukan. Karena sesungguhnya cacian mereka akan berlalu dan api itu selamanya tidak hilang”. Lalu ia tidak mendengar. Kemudian ia berkata keda kakaknya : “ terserah kamu hai syakiy ( celaka ).

Lalu yang besar pulang sedangkan yang kecil pergi ke raja Malik bin Dinar bersama anak-anak dan wanitanya dan duduk didekat Malik bin Dinar sampai tempat duduknya kosong. Lalu ia bediri dan menceritakan kisahnya pada Malik bin Dinar  serta meminta untuk menjelaskan padanya,  anak-anaknya dan istrinya tentang Islam. Kemudian jelaslah pada mereka tentang Islam. 

Kemudian seorang pemuda mengaharapkan untuk pulang pada keluarganya. Raja berkata padanya : “Sampai aku mengumpulkan ssuatu dari sahabatku untukmu”. Pemuda menjawab : “ Aku tidak mengharapkan apa-apa”.
Lalu ia pergi dan masuk ketempat reruntuhan. Menemukan  rumah yang ramai kemudian ia masuk kedalamnya. Ketika menjelang pagi istrinya berkata : “ Pergilah kepasar dan carilah pekerjaan serta belilah untuk kami sesuatu yang bisa kami makan dengan upahmu. Kemudian ia pergi kepasar dan tak seorangpun memberikan pekerjaan padanya.

Lalu ia berkata didalam hatinya : “ Aku beramal untuk Allah. Lalu ia masuk pada tempat reruntuhan yang lain dan sholat di dalamnya sampai maghrib, lalu ia pulang kerumahnya dengan tangan kosong. Istrinya berkata pada laki-laki tersebut : “Kamu tidak membawakan kami sesuatupun ?. Laki-laki itu menjawab : “ Aku beramal untuk raja ( Allah ) sehari dan ia tida memberiku sesuatu”.
Dan berkata : “ akan ku beri kau besok”. Kemudian mereka tidur dengan keadaan lapar. Ketika  sudah pagi laki-laki tersebut pergi ke pasar dan tidak mendapatkan pekerjaan, lalu ia melakukan seperti yang ia lakukan kemarin sore dan pulang pada istrinya dengan tangan kosong. Ia berkata pada istrinya : “ Bahwasanya raja berjanji padaku sampai hari jum’at”.

Ketika telah memasuki waktu pagi hari jum’at ia pergi kepasar dan tidak mendapatkan pekerjaan, lalu ia melakukan seperti yang ia lakukan sebelumnya. Kemudian pada sutu siang hari yang lain ia sholat dua rakaat, mengangkat tangannya kelangit  dan berkata : “Ya Rab. Jika kamu memulyakanku dengan Islam dan memahkotaiku dengan mahkota petunjuk, maka dengan kemulyaan agama ini dan kemulyaan hari yang diberkahi ini, hilangkanlah dari hatiku rasa ingin menafaqohi keluargaku sementara aku malu pada keluargaku dan takut kalau keadaan mereka berubah karena baru masuk Islam. Kemudian ketika menjelang pagi dan masuk waktu dhuhur, laki-laki itu pergi ke masjid.

Rasa laparpun menguasai anak-anaknya lalu dating sesorang kerumahnya dan mengetuk pintu. Kemudian perempuan itu keluar dan bertemu pemuda yang tampan yang pada tangannya terdapat nampan dari emas yang ditutupi sapu tangan dari emas.  Lalu pemuda tadi berkata pada perempuan itu : “Ambillah ini dan katakana pada suamimu ucapanku : “Ini adalah upah amalmu  selama dua hari, jika kamu mengharapkan tambaha maka akanku tambah”. Perempuan tadi menerima nampan tadi lalu tiba-tiba didalamnya terdapat seratus dinar. Lantas perempuan tadi mengambil satu dinar dan pergi ke Syairafi. Ada dua nasrani dalam Syairafi itu.

Nasrani tadi menimbang dinar dan menambah satu dan dua batu timbangan, dan melihat ukirannya dan diketahui bahwa dinar tadi dari petunjuk akhirat. Nasrani bekata pada perempuan tadi : “dari mana dan dimana kamu mendapatkan ini ?” lalu perempuan tadi menceritakan kisahnya. Nasrani berkata pada perempuan tadi : “ Aku berpaling dari Islam lalu akau masuk Islam”.

Kemudian nasrani memaksa perempuan tadi untuk menerima seribu dinar dan berkata : “Belanjakanlah dan ketika habis beritahulah aku”. Lalu perempuan tadi mengambil dinar darinya dan membuat makanan yang enak. Ketika suaminya sholat maghrib dan berharap akan pulang kerumahnya dengan tangan kosong, ia membentangkan karung dan sholat dua rakaat serta memenuhi karung dengan debu dan berkata dalam hatinya : “Ketika istriku bertanya kepadaku aku akan berkata kepadanya : “Ini tepung, kamu buatlah sesuatu dengan tepung ini”. Lalu laki- laki itu pulang kerumahnya dan menemukan perabot rumah yang bagus dan mencium bau makanan.

Lalu ia meletakkan karung pada pintu supaya istrinya tidak mengetahui karung tersebut. Kemudian ia bertanya pada istinya tentang keadaan dan  tentang perkara yang ia lihat ditempat tinggalnya. Istrinya menceritakan ceritanya pada laki-laki tadi. Lantas si laki-laki tadi sujud syukur karena Allah. Lalu perempuan itu bertanya pada suaminya tentang sesuatu yang di bawa suaminya dalam karung. Laki-laki tadi berkata pada istrinya : “Kamu tidak usah bertanya padaku tentang sesuatu itu” lalu laki-laki tadi pergi ke tempat ia meletakkan karung dan berniat akan membuang debu yang ada di dalamnya.

Kemudian ia membuka  karung dan melihat debu tadi telah berubah menjadi tepung dengan izin Allah. Lalu ia sujud syukur  untuk yang kedua kalinya karena Allah yang Maha Agung dan Luhur  atas sesuatu yang dengannya Allah memuliakan laki-laki itu. Dan laki-laki itu beribadah kepada Allah sampai akhir hayatnya. Semoga Allah merahmatinya

Rabu, 7 Mac 2018

SAAT SAKARATUL MAUT, TANDA BERHASIL ATAU TIDAKNYA KITA JALANI MISI IBADAH KITA

Kematian adalah suatu kepastian. Ia akan datang tepat waktu, tanpa dapat dimajukan atau diundurkan, kendati barang sedetikpun.
Saat menghadapi kematian, petugas pencabut nyawa, Malaikat Maut akan menyelesaikan tugasnya dengan sangat sempurna.

Jika Kita adalah orang yang berjaya menjalankan Misi Ibadah dan Visi Khalifah dengan baik ketika hidup di atas bumi Allah ini, maka Malaikat Maut datang dengan penampilan yang sangat sopan, berpakaian putih bersih dengan aroma harum kasturi.

Sambil tersenyum ia mencabut nyawa dari badan Kita dengan sangat hati-hati sehingga nyaris tidak Kita rasakan.

Ketika Kita menghembuskan nafas terakhir sambil mengucapkan لآ الــه الا اللــه orang-orang di sekitar Kita akan melihat wajah Kita yang berseri-seri sambil tersenyum simpul.

Kita boleh tersenyum karena mengetahui bahwa Kita adalah orang yang akan meraih Kejayaan Tanpa Batas, yakni akan masuk syurga, sedangkn orang disekitar kita menangis sejadi-jadinya karena merasa kehilangan orang yang baik, ikutan serta berhati mulia.

Sebaliknya, jika Kita adalah orang yang gagal menjalankan Misi Ibadah dan Visi Khalifah semasa mendapat peluang hidup di dunia, Izrail (Malaikat Maut) akan datang kepada kita dengan wajah yang marah, garang, hitam pekat dan berbau busuk.

Ia akan memperlakukan Kita dengan sangat kasar sambil membentak-bentak dan berkata : Wahai Hamba Allah, Inilah balasan awal dari kegagalanmu dalam menjalankan Misi Ibadah dan Visi Khalifah, karena kesombongan diri, pembangkangan dan kedurhakaan pada Tuhan Pencipta, Allah swt

Jika Kita bernasib seperti itu, Malaikat Maut akan mencabut nyawa Kita dengan kasar sekasar-kasarnya. Sulit untuk dibayangkan.
Dengan melihat keadaan Kita yang sedang sekarat, gelisah, meregang nyawa, tenggorokan Kita mengeluarkan suara yang menakutkan orang di sekeliling.

Kita membolak balikkan badan ke kiri dan ke kanan, serta mata yang terbelalak ketakutan. Wajah Kita mennunjukkan suasana sesungguhnya yang sedang Kita hadapi; ketakutan, kengerian dan putus asa.
masalahnya ialah Kita tidak boleh lari dari suasana itu. Kondisi dan suasana serta tingkat kesulitan yang sudah kita alami setimpal dengan tingkat kegagalan Kita menjalankan Misi Ibadah dan Visi Khalifah serta tingkat kedurhakaan Kita pada Tuhan Pencipta semasa Kita hidup di dunia.
Sebab itu, sering kita melihat orang-orang seperti ini ada yang nazaknya berjam-jam, bahkan berhari-hari dan berbulan-bulan.

Bagaimanapun sulitnya Kita menghadapi Sakratul maut dan melewati pintu Kematian, namun Kita pasti akan mati juga.

Karena kita mustahil dapat menghindair, apalagi kabur seperti ketika Kita masih hidup di dunia.

Dengan demikian, berakhirlah riwayat singkat kita di dunia tanpa meninggalkan kesedihan, kerinduan dan kecintaan dari orang yang tadinya sangat baik dan akrab dengan kita disebabkan hubungan yang dibangun hanya karena kepentingan pribadi atau mengharapkan sesuap nasi dari Kita.
Mungkin sebagian mereka ada yang merasa lega atas kepergian Kita, karena mereka tahu betul semasa di dunia Kita adalah orang yang suka berbuat keonaran, atau orang yang suka berhutang tapi enggan membayarnya, pemabuk, penrsmpsd tanah dan ladang masyarakat, atau suka berbuat curang dalam melaksanakan aktiviti sehari-hari.
Atau mungkin Kita suka mengadu domba antar kelompok masyarakat. Atau mungkin Kita tokoh masyarakat yang hanya mempedulikan nasib diri sendiri, keluarga dan orang terdekat, atau kita adalah golongan orang yang munafik yang manis ucapannya tapi buruk perbuatannya.

Kegagalan dan kesulitan yang Kita hadapi ketika menghadapi sakratul maut bisa saja karena saat hidup di dunia Kita adalah sebagai atasan yang suka menindas bawahan.

Atau mungkin Kita orang yang diberi Allah rezeki yang berkecukupan bahkan kaya raya namun mengabaikan anak yatim, fakir miskin, sanak saudara yang belum beruntung ekonominya dan tidak peduli terhadap derita kemiskinan yang melilit majoriti masyarakat.

Atau Kita seorang pejabat kerajaan yang dengan bangga dan angkuh menggunakan fasiliti kerajaan untuk kepentingan pribadi,
Atau Kita memakan wang rakyat dengan berbagai dalih alasannya.
Kegagalan dan kesulitan saat menghadapi kematian itu boleh juga karena Kita adalah pejabat dan pegawai kerajaan yang suka mempersulit masyarakat mengurus berbagai macam urusan dan keperluan mereka seperti mempersulit tanda tangan dan keperluan lainnya.

Kita sudah terbiasa memeras mereka dengan berbagai cara agar Kita memperoleh harta secara tidak halal, padahal Kita sudah digaji negara.
Kegagalan dan kesulitan yang amat dahsyat saat menghadapi kematian itu akan menimpa jika Kita adalah orang yang suka menyebar kebencian, suka menfitnah orang, suka mencuri, berjudi, atau berbuat hal lain yang menguntungkan diri walau mengorbankan nama kelompok.

Siapa saja Kita, bagaimanapun kehebatan, kekuatan dan kedudukan Kita semasa di dunia, Malaikat Maut tidak mempedulikan itu semua.
Yang pasti, Kita sudah bertekuk lutut di hadapannya dan hentakan petugas Tuhan Pencipta yang bernama Izrail atau Malaikat Maut itu.

Ia hanya fokus bagaimana ia mengakhiri sisa hidup Kita di dunia ini tepat pada waktunya dan dengan cara yang paling kasar dan menyakitkan.
Demikianlah dua jenis kematian yang dihadapi manusia.

Orang-orang yang semasa di dunia berhasil menjalankan Misi Ibadah dan Visi Khalifah, akan mendapat kemudahan dan sambutan yang begitu meriah dari malaikat yang bertugas mencabut nyawa manusia.

Bagi orang-orang yang gagal, akan melihat dan merasakan pula hasil kegagalan mereka.

Kalau demikian halnya, jangan sampai kita termasuk orang yang gagal dalam menjalankan misi ibadah dan visi khalifah, sehingga penyelasan di akhir hayat tiada gunanya. seperti yang Allah jelaskan dalam surat Al-Mukmin berikut :

Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: Ya Tuhan Penciptaku, kembalikan aku kembali (ke dunia) agar aku berbuat amal shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan.

Sebelum terlambat, mari kita awasi kematian dengan penuh keyakinan dan kesiapan.

Persiapkan diri dari saat ini, detik ini. Jangan tunggu nanti atau esok, karena ajal kita bukan berada di tangan kita, tapi di tangan Allah Rabbul Alamin.

Agar kita setiap saat siap mejemput kematian, ada beberapa hal yang perlu selalu kita benahi dan perbaiki, baik kualiti maupun kuantitinya :

1.     Nilai selalu akidah dan keimanan. Jangan sampai tercampur dengan syirik dan khurafat.
2.     Nilai selalu amal ibadah, apapun bentuknya; yang wajib maupun yang sunnah. Jangan tercampur dengan riya (ingin dilihat orang) atau bidaah (yang menyalahi sunnah Rasul Saw.)
3.     Nilai i selalu harta dan rezki yang kita peroleh. Jangan sampai tercampur aduk dengan yang haram dan syubhat (yang belum tau status halal atau haramnya).
4.     Nilai selalu anak dan isteri. Sudahkah mereka dipersiapkan menjadi orang-orang yang shaleh dan siap diselamatkan dari api neraka?
5.     Nilai ilmu dan pemahaman berkait dengan Islam. Jangan sampai tercampur dengan pemahaman atau pemikiran yang menyimpang dan tidak sejalan dengan Allah dan Rasul-Nya.
6.     Nilai gaya hidup, cara hidup dan tujuan hidup. Jangan sampai menyimpang dari ajaran Islam.
7.     Siapkan anugerah yang Allah berikan berupa nyawa, harta dan ilmu untuk diinfakkan di jalan Allah

Ahad, 4 Mac 2018

KITAB SELEPAS KEMATIAN 01Sakaratul Maut


Saudaraku yang dimuliakan Allah! Setiap orang pasti akan mati.
Sayangnya, banyak orang-orang yang tidak sadar bahwa mereka hidup di dunia ini hanya sesaat, mereka menyangka hidup ini akan terus menerus tidak ada kemantian. Kehidupan makhluk di dunia ini tidak kekal. 

Setiap kehidupan pasti diakhiri dengan kematian. Umur manusia tidak ada yang tahu kecuali Allah. Berapa banyak kita dengar berita orang meninggal secara tiba-tiba. Kalau sudah waktunya, mau tak mau harus menghadapi hal yang namanya kematian.

Maut dalam bahasa artinya mati atau terpisahnya ruh dari jasad atau badan.

Ruh dalam bahasa artinya jirim atau dzat yang tidak dapat dilihat atau diraba.

Sedangkan ruh atau jirim ini adalah makhluk yang kekal tapi ada yang mengkekalkanya yaitu Allah yang Maha Kekal.
Ruh adalah makhluk ghaib, makanya disaat keluarnya ruh dari jasad tidak ada seorangpun yang mengetahuinya.
Ruh bukan benda atau materi, makanya ia tidak terkena hukum kehancuran. Jika seseorang mati jasadnya hancur dimakan tanah di pekuburan, tapi ruhnya tidak mati, ia berpindah dari satu alam ke alam yang baru, dari alam dunia ke alam akhirat, ke alam ghaib yang disebut alam Barzakh  “Dan di hadapan mereka (ahli kubur) ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan “ Al-Mu’minun 100. jadi, dzat yang ghaib seperti ruh tempatnya di alam yang ghaib pula.

Menurut pendapat ahli tafsir, makna alam barzakh ialah suatu tempat di antara dunia dan akhirat sebelum manusia dikumpulkan di padang Mahsyar setelah hari kebangkitan atau boleh juga dikatakan alam barzakh adalah dinding pembatas antara waktu setelah kematian seseorang sehingga waktu dibangkitkannya.
Jadi siapa yang mati bermakna dia telah memasuki alam barzakh atau alam kubur.
Maut bukan akhir dari kehidupan. Maut adalah adalah awal kehidupan yang baru.
Jadi maut bukan kesudahan, kehancuran atau kemusnahan. Maut adalah suatu peralihan dari suatu dunia ke dunia lainnya. Jadi, kematian tidak bisa dihindari dari seseorang. Tetapi harus dihadapi.
Yang ditakutkan manusia bukan menghadapi kematian, tapi apa yang akan dihadapi setelah kematian itu datang.
Oleh karena itu orang yang semasa hidupnya banyak menabur dan menanam kebaikan, maka kematian baginya adalah sebuah pintu yang membawanya masuk kedalam kehidupan baru yang jauh lebih baik dan lebih indah dari kehidupan di dunia.
Itulah yang diyakini orang yang beriman dan sering berbuat baik, baginya kematian itu akan mengantarkan mereka ke taman surga Firdaus yang mengalir di bawahnya sungai sungai, sehingga kematian bagi mereka tidak terasa. Maka hadapilah kematian dengan iman, dan lakukanlah kebaikan sebelum kematian itu tiba.
Saudaraku yang dimuliakan Allah! Tentu sebelum datang kematian, manusia pasti mengalami sakaratul maut, artinya saat saat terpisahnya jasad dengan ruh.

Tatkala ajal seorang hamba telah sampai pada waktunya pasti dia akan merasakan dahsyat, ngeri, dan sakit yang luar biasa karena sakaratul maut, kecuali hamba-hamba-Nya yang diistimewakan.
Mereka tidak akan merasakan sakaratul maut kecuali sangat ringan. Sebagaimana firman Allah “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.” (Qaf: 19)
Rasa sakit sakaratul maut pasti akan dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup.
Oleh karena itu, tatkala Nabi saw menghadapi sakaratul maut, beliau berusaha menenangkan dirinya dengan mengusap wajah beliau dengan tangannya yang telah dicelupkan ke dalam bejana berisi air. Beliau mengusap wajahnya berkali-kali, sambil bersabda: “Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah. Sesungguhnya kematian itu disertai oleh rasa pedih (sakarat).” (Riwayat Imam Bukhari)

“Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejap saja, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri.”. Itu menurut gambaran Imam Ghozali tentang sakaratul maut.

Adapun menurut Nabi saw “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?”  (Riwayat Imam Bukhari)
Saudaraku yang dicintai Allah! Bila demikian dahsyatnya rasa sakit yang menimpa seorang mukmin ketika menghadapi sakaratul maut, maka bagaimana dengan diri kita?
Betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang menodai lembaran amal kita? Maka salah satu cara yang baik untuk menghadapai rasanya sakaratul maut dengan tenang, adalah dengan bertaubat dari kemaksiatan dan beristiqamah dalam ketaatan?
Simaklah kelanjutan hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Ibnu Majah yang menggambarkan saat saat seorang mukmin akan dicabut ruhnya oleh malaikat dan bagaimana saat saat seorang kafir akan mati:
Sesungguhnya bila seorang yang beriman hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Wajah mereka putih bercahaya bagaikan matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga. Selanjutnya mereka akan duduk sejauh mata memandang dari orang tersebut. Pada saat itulah Malaikat Maut menghampirinya dan duduk di dekat kepalanya.

Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: “Wahai jiwa yang baik, cepatlah keluar dari ragamu menuju kepada ampunan dan keridhaan Allah.”
Segera ruh orang mukmin itu keluar dengan begitu mudah bagaikan air yang mengalir dari mulut kendi. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat maut menyambutnya.

Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejappun berada di tangan Malaikat Maut.

Para malaikat segera mengambil ruh orang mukmin itu dan membungkusnya dengan kain kafan dan wewangian yang telah mereka bawa dari surga.
Dari wewangian ini akan tercium semerbak bau harum, bagaikan bau minyak misik yang paling harum yang pernah ada di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruhnya itu naik ke langit. ketika para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, mereka bertanya: “Ruh siapakah ini, begitu harum.” Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: “Ini adalah ruh Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terbaik yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya).”

Itulah gambaran seorang mukmin saat saat akan dicabut ruhnya oleh malaikat, dan sekarang silahkan menyimak bagaimana malaikat mencabut ruh seorang kafir.

Pada riwayat lain: Bila orang jahat hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Mereka berwajah hitam kelam, membawa kain yang kasar, dan selanjutnya mereka duduk darinya sejauh mata memandang. Pada saat itulah Malaikat Maut menghampirinya dan duduk di dekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: “Wahai jiwa yang buruk, cepatlah engkau keluar dari ragamu menuju kepada kebencian dan kemurkaan Allah.” Lalu ruh orang jahat itu menyebar ke seluruh raganya. Tanpa menunda-nunda malaikat maut segera mencabut ruhnya dengan kasar, bagaikan mencabut kawat bergerigi dari bulu domba yang basah. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat Maut menyambutnya. 

Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejappun berada di tangannya. Para malaikat segera mengambil ruh orang jahat itu dan membungkusnya dengan kain kasar yang telah mereka bawa. Dari kain itu tercium bau busuk bagaikan bau bangkai paling menyengat yang pernah tercium di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruh itu naik ke langit. Ketika para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, mereka bertanya: “Ruh siapakah ini, begitu busuk.” Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: “Ini adalah ruh Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terburuk yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya”

Itulah gambaran saat saat mausia akan meninggal. Maka agar hati hati kita menjadi lunak dan keimanan kita bertambah untuk menerima dan mengamalkan kebenaran, Habib Abdullah Alhaddad dalam kitabnya ”an-Nashaih ad-Diniyyah” selalu mengajarkan kita agar kita sering-sering mengigatkan diri kita akan kematian, mengingatkan kita agar selalu menyebut nyebut hadzimul ladzat yaitu pemisah kelezatan yang dimaksudkan disini adalah kematian dan kuburan. 

Karena ini merupakan akhir perjalanan manusia, cepat atau lambat kita pasti menjadi salah seorang dari penghuni kuburan.

Jumaat, 2 Mac 2018

TAWAKKAL ABU DARDA SAHABAT NABI SAW


ABU Darda’ ialah seorang sahabat yang akrab dengan Nabi Muhammad. Beliau bersikap rendah diri dan bertakwa kepada Allah. Beliau banyak mendapat hadis daripada Nabi Muhammad.

Antara hadis yang terkenal adalah mengenai manusia dianggap gagah apabila dapat menahan perasaan marah.

Hadis ini dilaporkan oleh Imam Tabrani dan Ibin Abid Dunya. Pada suatu hari, Abu Darda’ bertanya kepada Nabi Muhammad: “Wahai nabi, tunjukkanlah kepada saya amalan yang dapat membawa saya ke syurga.”

Kemudian Nabi Muhammad menjawab, “Janganlah kamu marah. Mereka yang dapat menahan perasaan marah adalah orang yang mengawal diri sendiri supaya patuh dan taat kepada Allah dan Nabi Muhammad”.

Abu Darda’ mendengar dengan teliti jawapan yang diberikan oleh Nabi Muhammad. Kemudian Abu Darda’ mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata: “Tahulah saya sekarang, orang yang dapat menahan perasaan marah adalah orang yang mulia dan dapat masuk syurga.”

Abu Darda’ juga ahli fikah yang masyhur antara para sahabat Nabi Muhammad. Beliau digelar ‘Hakimul ummah’ iaitu orang yang pandai dan bijak dalam hal berkenaan agama Islam.

Pada suatu hari, Abu Darda’ mendapat berita mengenai kebakaran yang berlaku di kawasan rumahnya. Pada masa itu, Abu Darda’ berada di tempat kerjanya. Perjalanan dari rumah ke tempat kerjanya agak jauh.

Kemudian, datang seseorang memberitahunya. “Ada rumah terbakar! Ada rumah terbakar! Semua rumah di kawasan tempat tinggal di kampung sebelah sana semua sudah terbakar!”

Abu Darda’ mahu mendapat kepastian mengenai berita kebakaran itu. Beliau menghampiri lelaki yang menyampaikan berita itu.

“Betulkah apa yang kamu cakap ini?” tanya Abu Darda’ kepada orang itu.

“Ya. Saya baru sahaja datang dari kawasan rumah itu. Api semakin marak dan menjilat rumah-rumah yang berada di kawasan itu!” terang orang itu.

Tidak lama kemudian, orang itu perasan Abu Darda’ adalah salah seorang penghuni di kawasan itu.

“Bukankah kamu tinggal di kawasan rumah itu? Mungkin rumah kamu juga turut terbakar. Segeralah pulang dan lihat keadaan rumah kamu itu. Mungkin ada apa-apa yang dapat diselamatkan,” kata orang itu kepada Abu Darda’.

“Terima kasih kerana memberitahu saya mengenai berita kebakaran ini,” kata Abu Darda’.

“Pergilah segera pulang ke rumah kamu. Selamatkan barang-barang kamu,” ulang orang itu lagi.

“Saya tidak dapat pulang ke rumah sekarang. LAgi pula, sekarang saya bekerja. Kerja ini sudah diamanahkan kepada saya. Saya perlu menyelesaikan kerja ini terlebih dahulu,” bisik Abu Darda’ sendiri.

Abu Darda’ langsung tidak terkejut dengan berita kebakaran itu. Malah, beliau tidak risau sekiranya rumah beliau sendiri yang terbakar. Lagi pula, rumah beliau berada jauh dari tempat beliau bekerja. Sebaliknya, Abu Darda’ segera menyelesaikan tugasnya.

“Saya bertawakal kepada Allah atas apa yang berlaku,” bisik Abu Darda’ lagi.

Abu Darda’ terus menyelesaikan pekerjaannya. Bagi Abu Darda’, beliau hanya dapat bertawakal kepada Allah. Sekiranya rumahnya musnah dijilat api, itu adalah takdir yang ditetapkan oleh Allah. Beliau dapat menerima kenyataan itu dengan tenang.

“Alhamdulillah, kerja saya hari ini sudah selesai. Saya mahu pulang ke rumah segera,” katanya sendiri.

Petang itu, selepas selesai bekerja, Abu Darda’ pulang ke rumahnya seperti biasa. Perjalanan ke rumahnya agak jauh.

Sampai sahaja di kawasan tempat tinggalnya, beliau melihat rumah-rumah yang ada di sana habis musnah terbakar. Tidak ada satupun rumah yang berdiri teguh dan terselamat daripada kebakaran itu.

“Habis semua rumah di sini terbakar di jilat api,” bisik Abu Darda’ selepas melihat rumah-rumah yang hangus terbakar itu.

Abu Darda’ meneruskan perjalanannya sehingga sampai ke rumahnya. Tiba-tiba, beliau melihat keadaan rumahnya masih elok.

“Subhanallah. Saya bersyukur kepada Allah. Rumah saya tidak terbakar,” kata Abu Darda’ gembira. Beliau terkejut dan gembira melihat rumahnya terselamat dan tidak terbakar sedikit pun.

Beginilah sifat orang yang sentiasa bertawakal kepada Allah atas setiap pekerjaan yang dilakukannya. Allah lebih mengetahui mengenai sesuatu perkara. Sekiranya Allah mahu sesuatu perkara itu berlaku, pasti ia berlaku dengan izin Allah juga.


BELAJAR BERSYUKUR DARI UMAR AL KHATTAB


Bersyukurlah, maka Allah akan melimpahkan Rahmat-Nya kepadamu.

Ada sebuah kisah yang sangat indah dari sahabat Rasulullah Umar bin Khattab.

Umar bin Khattab adalah sahabat Nabi sekaligus khalifah yang sangat zuhud dan pandai bersyukur pada Allah swt. Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Umar bin Khattab ini selalu bersyukur, baik ketika menerima nikmat atau pun sedang ditimpa musibah. Umar selalu mengucapakan hamdalah empat kali ketika ditimpa musibah.

Hamdalah pertama, kata Umar, ia bersyukur karena Allah tidak menurunkan musibah yang lebih berat dari musibah saat itu. Karena, kalau Allah berkehandak, bukankah Dia bisa mendatangkan bencana yang lebih berat dan lebih dahsyat dari itu?

Hamdalah kedua, Umar bersyukur karena Allah tidak menurunkan musibah itu terhadap agamanya. Karena bagi Umar, agama itu jauh lebih berharga dari pada dunia dan seisinya.

Hamdalah ketiga, Umar bersyukur karena Allah masih memberinya kesabaran dan terus memelihara kesabaran itu di dadanya. Karena Umar yakin Allah akan membalas kesabarannya dengan surga. Dan sungguh, surga lebih dirindukan oleh Umar dari pada dunia dan keindahannya.

Hamdalah keempat, Umar bersyukur karena Allah masih menolongnya untuk memperoleh kembali nikmat yang hilang. Karena Allah telah berjanji akan menggantikan setiap apa yang telah lepas darinya dengan rahmat dan kasih sayang Allah. Itu semua jauh lebih berharga dari pada apa yang telah lepas dari genggamannya. Sungguh Allah Maha Kaya, dan adalah mudah bagi-Nya untuk mengganti setiap yang hilang dari hamba-Nya dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih berharga.

BELAJAR IKHLAS DARI KHALID BIN WALID


Kisah sahabat nabi Muhammad SAW yang terkenal kepiawaiannya dalam perang ini, Khalid bin Walid, memiliki kadar keikhlasan yang luar biasa terhadap jabatan, pangkat dan ketenaran yang ia peroleh sebagai layaknya manusia biasa. Khalid bin Walid merupakan panglima perang kekholifahan Umar bin Khatab yang terkenal dengan ahli strategi perang, dicintai teman dan disegani musuh.

Beliau sosok pemuda yang menguasai medan perang, jitu dalam mengatur strategi dan berhasil menang dalam setiap peperangan yang dipimpin olehnya. Pada saat itu Khalid bin Walid adalah pemuda yang diidamkan banyak orang. Keberhasilannya dalam setiap perang menjadikan namanya tersohor, dipandang banyak orang dan dihormati masyarakat, bahkan musuh.

Ditengah puncak kemenangan dan populeritasnya, Umar bin Khatab mengirimkan surat kepada Khalid bin Walid tentang pemutasian jabatannya selaku panglima perang menjadi prajurit biasa. Hal ini dilakukan Umar bin Khatab bukan untuk menjatuhkannya, tapi justru mengingatkan dan menyelamatkannya dari kepamoran yang akan melenakannya. Banyak orang yang terkejut dengan keputusan Umar bin Khatab, namun justru tidak dengan Khalid bin walid. Khalid bin Walid sangat mengerti maksud sahabat Rosulullah tersebut, pemimpin mereka Umar bin Khatab. Padahal, penurunan pangkatnya ketika gemilang kemenangan perang Yarmuk di bawah kendali Khalid bin Walid.

Lebih dari pada itu, tanpa ada rasa sedih, kecewa bahkan jauh dari rasa marah, Khalid bin Walid menerima tugasnya sebagai prajurit biasa dan tetap berperang pada perang selanjutnya di bawah komando panglima baru, Abu Ubaidah. Pada saat ditanya oleh masyarakat mengenai hal tersebut, Khalid menjawab, “saya bukan hamba manusia, saya hamba Allah.” Dilain kesempatan Khalid menjawab, “saya berperang karena Allah, bukan karena Umar.”

Ada beberapa ibroh yang dapat diambil dari keteladanan Kahalid bin Walid dan kecintaan Umar terhadap sahabatnya. Pertama, apabila seseorang melakukan suatu tugasnya karena Allah SWT, maka dia akan ikhlas ketika pangkatnya diambil kembali dari dirinya, karena dia paham bahwa pangkat, harta dan jabayan hanyalah buah dari apa yang telah diperjuangkan (ditanam), bukan menjadikan segalanya sebagi tujuan. Kedua, ujian keikhlasan seseorang akan dapat dilihat pada saat seseorang kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam dirinya. Oleh karena itu, Khalid mengajarkan pada kita, manusia tidak akan merasa kehilangan kalau dia melakukan semuanya karena Allah dan sadar apa yang telah dititipkan selama ini hanyalah milik Allah SWT. “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan….” (An-Nisa :125)

Ketiga, kita dapat mengetahui perbedaan orang yang ikhlas dengan orang yang pura- pura ikhlas. Hal ini tampak pada Khalid tetap ikut serta jihad dalam perang berikutnya di bawah komando panglima pegantinya dan taat pada panglima baru tersebut. Keempat, kita merasa kagum kepada Umar atas cinta dan perhatiannya pada saudaranya seiman. Umar tahu bahwa apa yang dilakukannya hanya ingin menyelamatkan Khalid, khawatir timbul rasa ujub (sombong) dalam diri Khalid karena mengingat banyaknya masyarakat muslim yang mengelukan Khalid bin Walid pada saat itu.

Kelima, pelajaran tentang koneksivitas ukhuwah islamiyah anatara keduanya (Khalid bin Walid dan Umar bin Khatab) dikarenakan ketsiqohan (kepercayaan) antara sesama muslim (antara seorang kholifah dan panglima perang). Hal ini tercermin dalam penerimaan Khalid yang wajar dan paham atas keputusan Umar untuk menyelamatkannya dari gunung yang tinggi agar tidak terjatuh ke dalam jurang di balik gunung tersebut. Perasaan Khalid ini juga dikarenakan teladan Umar selama ini yang selalu dapat dipercaya oleh bawahannya dan masyarakat luas. Dengan ini, malah semakin membuat kedua sahabat tersebut saling mencintai karena Allah dan terus berjuang untuk menegakkan agama Alllah.

Dari merekalah kita dapat belajar bahwa harta, pangkat, dan jabatan adalah ujian atas iman dan keikhlasan kita. Oleh karena itu, hanya hati yang bersih dan niat karena Allah SWT yang mampu membuat kita ikhlas ketika apa yang kita miliki saat ini diambil kembali oleh Allah SWT melalui siapapun dan apapun.



BELAJAR IKHLAS DARI SYEIKH ALI ZAINAL ABIDIN RAHIMULLAH


       Hari itu, mendung kesedihan menyelimuti kota di mana Ali bin Husein tinggal. Penduduk kota kehilangan salah satu manusia shalih yang pernah hidup di dunia ini. Beliau adalah salah seorang tabi’in panutan di zamannya.

Selain karena garis keturunannya yang masih memiliki hubungan darah dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau juga tersohor akan keluhuran budi pekertinya yang begitu harum nan semerbak, siap memikat siapa saja yang pernah mengenalnya. Beliau adalah sosok yang telah mendapat tempaan khusus dari lingkungannya yang suci.

Sosok yang membalas keburukan tidak dengan keburukan tapi dengan kebaikan. Sosok yang apabila orang melihatnya niscaya ia akan berkata dalam hatinya, “Inilah keturunan Nabi yang sesungguhnya!”. Orang itu tidak lain adalah Ali bin Husein atau yang lebih dikenal sebagai Ali Zainal Abidin.
      Sebagaimana lazimnya seorang muslim ketika meninggal dunia, maka orang-orang muslim lainnya segera mengurus jenazahnya. Jasad mulia beliau diletakkan di tempat khusus untuk dimandikan. Orang-orang yang bertugas memandikan jenazah beliau pun telah siap untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim jika ada saudara seagamanya yang meninggalkan dunia ini.
      Tatkala jenazah beliau diletakkan di tempat khusus untuk dimandikan, dan orang-orang bersiap untuk memandikannya, terjadilah kehebohan yang luar biasa, “Apa ini…!?” Kata mereka secara serempak.
        Secara mengejutkan mata para petugas yang akan memandikannya terbelalak kaget melihat warna hitam di punggung Ali Zainal Abidin. Sungguh hal yang tidak lazim sekali. Pertanda apakah ini? Apakah bekas hitam yang mereka temukan di punggung beliau mengisyaratkan bahwa beliau wafat dalam keadaan dimurkai oleh Allah, sebagaimana yang banyak dikira oleh masyarakat awam? Tapi Ah.. mana mungkin kalau ini yang terjadi kepada orang seperti beliau. Lantas, kenapa punggung beliau berwarna aneh seperti itu…
      Ternyata, tatkala malam telah menyelimuti bumi, kala mata manusia telah hanyut dalam tidurnya, ada seseorang yang selalu menyusuri jalan di kota Madinah. Punggungnya yang lemah ia paksakan untuk mengangkut beban berat berupa karung yang berisi bahan makanan.

Secara diam-diam sosok misterius itu meletakkan bungkusan berisi bahan makanan di depan rumah penduduk yang ia anggap sebagai orang miskin namun ia menjaga dirinya dari menengadahkan tangan kepada orang lain. Hal ini berlangsung terus-menerus tanpa ada seorang pun yang mengetahui siapa pelakunya. Dan banyak sekali orang-orang miskin yang terbantu oleh perbuatan mulia sosok misterius ini.
       Hingga suatu ketika. Tersiar kabar bahwa tokoh panutan mereka, Ali Zainal Abidin, meninggal dunia, maka bahan makanan yang secara misterius selalu ada di depan rumah mereka kini tidak pernah muncul lagi.
Ketika para petugas yang akan memandikan jenazah beliau keheranan melihat bekas hitam di punggungnya, sadarlah penduduk kota siapa sesunggguhnya pahlawan misterius yang selalu memberikan orang-orang miskin bantuan bahan pangan di malam hari secara diam-diam.

Ternyata warna hitam di punggung Ali Zainal Abidin disebabkan karena saking seringnya beliau membawa karung di punggungnya lalu membawanya mengelilingi kota setiap malam untuk membagi-bagikan bahan makanan kepada orang yang membutuhkan.

Beban berat inilah yang akhirnya membekas di punggung beliau. Kini, masyarakat Madinah kehilangan sosok itu. Sosok yang telah memberikan bantuan tanpa pamrih kepada banyak keluarga di kota Madinah. Sosok yang mengamalkan ajaran kakeknya yang mengajarkan; apabila tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu…


AHLI SYURGA BERSANDAL JEPIT


Suatu hari, para sahabat Nabi Muhammad SAW sedang duduk di serambi masjid. Memang kebiasaan para sahabat itu berdiskusi sesudah berdzikir.

Mereka memperbincangkan ketauhidan dan kemashlahatan umat. Dan tentu saja Nabi Muhammad senang melihat kebiasaan mereka itu. Nabi pun turut serta berdiskusi dan menjadi narasumber.

Tiba-tiba, Nabi Muhammad SAW berkata, “Sebentar lagi akan ada seorang ahli surga yang mengenakan sandal jepit lewat di depan kita.”
Serentak semua sahabat kaget dan tertegun. Siapakah orang yang dimaksud nabinya? Mereka pun saling berpandangan dan menduga-duga keberadaan orang yang sangat mulia itu. 

Di tengah kegalauan itu, tiba-tiba muncullah seorang laki-laki berjalan di depan mereka dengan mengenakan sandal jepit yang nyaris tak dapat digunakan. Lalu, para sahabat pun berfikir, “Tak mungkin orang ini yang dimaksud Rasulullah SAW tadi.”

Lalu, mereka pun meneruskan menunggu kedatangan orang yang dimaksud Nabi Muhammad SAW. Siapakah gerangan lelaki yang dimaksud Nabi Muhammad itu SAW?

Di tengah kegalauan mereka, tiba-tiba seorang lelaki berjalan di depan mereka. Lelaki itu tak lain adalah lelaki yang melintas di depan mereka tadi. Lelaki itu masih terlihat mengenakan sandal jepit yang rusak itu.

Lagi-lagi, para sahabat berfikir, “Tak mungkin orang ini yang dimaksud Rasulullah SAW” Lalu, mereka pun meneruskan menunggu kedatangan orang yang dimaksud Nabi Muhammad. Siapakah gerangan lelaki yang dimaksud Nabi Muhammad SAW itu? Sekali lagi, para sahabat kurang yakin dengan semua yang dilihatnya. Maka, mereka – para sahabat – masih berusaha menunggu kedatangan lelaki lain seperti dimaksud Rasululullah SAW. Tak lama kemudian, lelaki tadi pun berjalan melintas di depan para sahabat. Maka, mereka pun baru yakin bahwa lelaki itu pastilah yang dimaksud Rasululllah SAW.

Setelah yakin dengan semua yang dialaminya, mereka pun berusaha mengorek lelaki asing tersebut. Siapakah lelaki ini? Di manakah dia tinggal? Apa saja keistimewaannya sehingga Rasulullah SAW menyebutnya sebagai ahli surga? Dan para sahabat itu berusaha menguntit lelaki itu untuk mengetahui dimana ia tinggal.

Tampaklah lelaki itu memasuki sebuah rumah. Terlihat rumah itu biasa-biasa saja alias memiliki kesamaan dengan rumah-rumah di sekitarnya. Tak ada yang istimewa dengan rumah itu. Ketika lelaki itu sudah masuk ke rumahnya, para sahabat pun berusaha mengikutinya. Lalu, masuklah mereka ke rumah lelaki itu.

“Assalaamu’alaikum” ucap sahabat di depan pintu.
Lelaki pemilik rumah itu langsung menjawab salam para sahabat dan menemuinya dengan ramah. Lalu, para sahabat pun bercerita tentang ucapan Nabi Muhammad SAW tadi. Tentunya para sahabat ingin menjadi ahli surga seperti lelaki itu. Agar dapat mengetahui kebiasaan-kebiasaan harian yang dilakukan lelaki itu, mereka - para sahabat itu - ingin tinggal selama tiga hari di rumah lelaki itu. Dan lelaki pemilik rumah itu mengizinkannya.

Hari pertama para sahabat tinggal di rumah lelaki itu, tak ada satu pun kebiasaan istimewa yang dilakukan lelaki itu. Shalat, mengaji, dzikir, sedekah, dan semua kebiasaan harian dilakukan biasa-biasa saja. Shalat ia lakukan di masjid seperti umumnya. Mengaji juga dilakukan hanya beberapa waktu. Dzikir juga dilakukan usai shalat fardlu. Sedekah dilakukan jika memiliki cukup harga. Tidak ada satu pun kebiasaan istimewa yang terlihat.

Semua yang dilihat dan diperhatikan hari pertama terjadi lagi pada hari kedua dan ketiga. Tidak ada satu pun kegiatan istimewa yang dilakukan lelaki itu. Semua berjalan biasa-biasa saja. Lalu, mengapa Rasulullah SAW mengatakan bahwa lelaki itu menjadi ahli surga? Apa yang menjadikannya sehingga menjadi lelaki yang begitu istimewa hingga seorang Muhammad SAW berani menjamin surga baginya?

Karena sudah tiga hari tinggal bersama dengan lelaki itu, para sahabat pun berusaha menggali informasi. Ketika kesempatan itu datang, para sahabat pun berkata kepada lelaki itu, “Wahai si Fulan, selama tiga hari kami sudah tinggal bersama Anda. Namun, kami tidak menemukan satu pun keistimewaan pada diri Anda. Lalu, mengapa sehingga Rasulullah SAW menyebutmu sebagai ahli surga?”

Mendengar pertanyaan para sahabat, lelaki itu pun menjawab bahwa dirinya dijamin menjadi ahli surga karena ikhlas menerima keadaan dan tidak memiliki sifat iri, apalagi dengki, sama sekali.

“Meskipun kehidupan keluarga kami seperti ini, kami menerima keadaan ini sebagai anugerah kami. Meskipun tetangga kami berkehidupan lebih baik daripada kami, itu sudah menjadi rezekinya. Dan kami menjauhi sifat iri kepadanya, apalagi dengki!”