Catatan Popular

Isnin, 14 Mei 2018

KITAB NASHAIHUL IBAAD : ENAM KUNCI SURGA

Karya Muhammad Nawawi bin 'Umar Al-Jawi  (IMAM NAWAWI NUSANTARA)

"Barangsiapa mengumpulkan enam perkara,berarti ia telah
berusaha meraih surga dan menjauhi neraka,yaitu :


1. Mengetahui Allah,kemudian mentaati-Nya.
2. Mengetahui setan,kemudian mendurhakainya.
3. Mengetahui (kebahagiaan)akhirat,lalu berusaha mencarinya.
4. Mengetahui dunia,lalu meninggalkannya kecuali sebatas
untuk bekal kembali keakhirat.
5. Mengetahui yang benar lalu mengikutinya.
6. Mengetahui yang salah,lalu menjauhinya

Ahad, 6 Mei 2018

WASPADA TIGA PERKARA KETIKA MENDAPAT NIKMAT ALLAH SWT


SYARAH AL HIKAM ATHAILLAH

1.   Apabila anda bertambah dalam ketaatan kepada Allah SWT, jagalah ketaatan tersebut daripada perkara takbur dan riak, jika tiada lagi nilai ketaatan maka binasalah kamu.

2.   Jika nikmat dunia bertambah, takutilah kebinasaan yang terkandung dalam nikmat dunia tersebut seperti tidak membayar zakat dan penyalahgunaan nikmat Allah SWT ke jalan maksiat. Maka binasalah kamu.

3.   Jika mendapat pujian manusia, maka jangan lupa sifat sebagai hamba kepada Allah SWT. Bersyukurlah di atas nikmat pemberian yang mendapat pujian manusia, takutilah kepada Allah SWT yang akan membuka rahsiamu di hadapan manusia jika kamu tidak bersyukur dan termakan pujian tersebut sehingga Allah SWT membinasakan kamu.

TIGA PERKARA YANG KAMU KASIHI ADALAH BUKAN UNTUK ANDA


1.   Kamu mengasihi diri kamu, sebenar adalah untuk hawa nafsu.

2.   Kamu mengasihi roh, sebenarnya kamu mengasihi Allah SWT.
3.   Kamu mengasihi harta, sebenarnya kamu mengasihi semua pewaris harta yang kamu tinggalkan.


TIGA SIKAP YANG MENGHANCURKAN KEHIDUPAN KAMU


1-Tamak dalam sesuatu perkara.

2-Takbur.

3-Pemarah

JANGAN LENYAPKAN TIGA PERKARA PENTING DALAM KEHIDUPAN ANDA


1-Tomakninah atau melakukan sesuatu perkara dengan tenang.

2-Mempunyai cita-cita.

3-Bersikap benar.

TIGA FAEDAH HARTA KEPADA MANUSIA


Sabda Rasul Junjungan:

Seorang hamba berkata, sesungguhnya hartanya memberi faedah kepada tiga perkara:

1.   Apa yang dimakannya akan habis atau apa yang dipakai akan buruk serta akan binasa.

2.    Atau apa yang dia beri atau derma maka dia akan menerima pahalanya.

3.    Dan harta yang baki selainnya akan berpindah kepada orang lain.

TIGA CABARAN KEPADA ORANG YANG SABAR


Beberapa faktor yang boleh mengilang dan mengikis sifat sabar pada diri seseorang ialah seperti berikut;

1. Sikap isti’jal, ingin cepat gopoh.

Biasanya tindakan ingin cepat(gopoh) di sebut sebagai tidak sabar. Allah swt menjadikan manusia dengan salah satu sifat manusia ialah suka cepat. Firman Allah swt; al-Anbia’:37.
  
Maksudnya; "Manusia Telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera."

Kerana itulah orang beriman perlu mujahadah untuk melawan sifat isti’jal dan bersabar dalam menunggu hasil sesuatu usaha sebagai para rasul sentiasa sabar dalam usaha dakwah walaupun tidak ramai yang menyambut dakwah yang disampaikan.

Firman Allah swt; al-Ahqaf:35

Maksudnya; "Maka Bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul Telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka."

Sabda Rasulullah s.a.w;



Maksudnya; "Berhati-hati itu daripada Allah dan tergesa-gesa itu daripada syaitan."

Sabda Rasulullah s.a.w;


Maksudnya; "Tergopoh-gapah itu tindakan syaitan kecuali dalam lima perkara, iaitu mengawinkan anak perawan, membayar hutang, menguruskan mayat, melayani tetamu dan bertaubat daripada dosa.”

2. Marah.

Apabila seseorang marah maka hilang sifat sabar dalam dirinya. Apabila seseorang marah maka di akan melakukan perbuatan yang diluar dari batas-batas kesabaran. Kerana itulah apabila kita dapat menahan dari sifat marah, kita menjadi orang yang sabar.

Firman Allah swt;

Maksudnya; "Maka Bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)."
(al-Qalam:48)

3. Putus Asa.

Apabila kita berputus asa bererti kita tidak sabar atas ujian yang menimpa. Kerana itulah haram bagi orang beriman berputus asa. Orang yang putus asa tidak sabar atas apa yang berlaku lalu menyalahkan orang lain dan tidak redha dengan ketetapan Allah swt.

Firman Allah swt;

Maksudnya; "Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (darjatnya), jika kamu orang-orang yang beriman."
( Ali-Imran:139)


KITAB NASHAIHUL IBAAD : ENAM YANG HARUS DITAKUTI SESEORANG MUKMIN


Karya Muhammad Nawawi bin 'Umar Al-Jawi  (IMAM NAWAWI NUSANTARA)

Uthman bin Affan r.a berkata : Seorang mukmin seharusnya takut kepada enam perkata iaitu :
1. "Takut kepada ALAH SWT, jangan-jangan ALLAH SWT mencabut keimanannya sewaktu nazak".
2. "Takut kepada malaikat pencatat amal, jangan-jangan mereka menulis amal kita dengan catatan yang sangat memalukan jika diumumkan pada hari Kiamat nanti".
3. "Takut kepada syaitan,jangan-jangan syaitan itu berjaya merosak amal yang kita kerjakan".
4. "Takut kepada malaikat Izrail,jangan-jangan ia mencabut nyawa kita ketika kita lupa kepada ALLAH SWT".
5. "Takut kepada dunia,jangan-jangan dunia itu membuat kita terlena sehingga kita melupakn urusan akhirat kita". dan
6. "Takut kepada keluarga sendiri,jangan-jangan mereka telah menyibukkan kita untuk memenuhi urusan mereka sehingga kita melupakan ketaatan kepada ALLAH SWT".

KITAB NASHAIHUL IBAAD : ENAM PERKARA ALLAH MENYEMBUNYIKAN DALAM ENAM PERKARA YANG LAIN

Karya Muhammad Nawawi bin 'Umar Al-Jawi  (IMAM NAWAWI NUSANTARA)

Umar radhiyallahu 'anhu berkata:

"Allah ta’ala menyembunyikan enam perkara dalam enam perkara yang lain, yaitu:

1.Allah menyembunyikan keridhaan-Nya dalam ketaatan kepada-Nya.
2.Allah menyembunyikan kemurkaan-Nya dalam kemaksiatan seorang hamba-Nya.
3.Allah menyembunyikan Lailatul Qodar dalam bulan Ramadlan.
4.Allah menyembunyikan para wali diantara manusia.
5.Allah menyembunyikan kematian dalam umur.
6.Allah menyembunyikan Ash-sholatul wustha’ (shalat yang paling utama) dalam shalat lima waktu."


Allah merahasiakan enam hal tersebut dalam enam hal yang lain maksudnya adalah:

1. Agar manusia bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ketaatan kepada-Nya, sehingga tidak sepantasnya bagi siapapun untuk meremehkan ketaatan meskipun sangat kecil, sebab boleh jadi justru disitulah ada ridha Allah;

2. Agar manusia mau menjauhi segala bentuk kemaksiatan dan takut terjerumus kedalamnya,sehingga tidak sepantasnya meremehkan kemaksiatan meskipun sangat kecil, sebab boleh jadi justru disitulah ada murka Allah;

3. Agar ada kesungguhan dalam ‘menghidupkan’ seluruh hari pada bulan Ramadlan, sebab -sebagaimana disebutkan dalam hadist- pahala ibadah sunnah dalam bulan Ramadlan sama dengan pahala ibadah wajib pada bulan selainnya; dan agar bersungguh-sungguh dalam mencari Lailatul Qadar, sebab nilainya lebuh baik daripada 1000 bulan (83 tahun 4 bulan);

4. Agar manusia mau menghormati setiap orang dan tidak meremehkannya, sebab kalau seseorang meremehkan orang lain, boleh jadi orang yang diremehkannya itu justru wali Allah;

5. Agar manusia selalu mempersiapkan diri untuk menyambut kematiannya; dan

6. Agar seorang muslim betul-betul memelihara semua shalat wajibnya.

KITAB NASHAIHUL IBAAD : ENAM PERKARA YANG MENGEPUNG MANUSIA


Karya Muhammad Nawawi bin 'Umar Al-Jawi  (IMAM NAWAWI NUSANTARA)

Abu Bakar Ash-Shidiq Rodhiallohu ‘anhu berkata:
1.   “Iblis selalu berdiri dihadapanmu;
2.   Hawa nafsu (amarah) selalu berada di kananmu;
3.   Ambisi berada di sebelah kirimu;
4.   Dunia sealu berada di belakangmu;
5.   Anggota badanmu ada di sekelilingmu;dan
6.   Allah Yang Mahaperkasa ada di atasmu.

Iblis La’natullah ‘alaih mengajakmu ntuk meninggalkan agama. Hawa nafsu (amarah) mengajakmu untuk melakukan kemaksiatan. Ambisi mendorongmu untuk memuaskan keinginannya. Dunia mendorongmu untuk mementingkan urusan dunia daripada akhirat. Anggota tubuh senantiasa mengajakmu untuk berbuat dosa. Sementara Allah Yang Mahaperkasa mengajakmu untuk meraih surga dan ampunan-Nya. Dia berfirman,’Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.’
Barangsiapa memenuhi panggilan iblis, maka hilanglah agamanya. Barangsiapa memenuhi panggilan hawa nafsu (amarah),maka hilanglah akhiratnya. Barangsiapa memenuhi keinginan ambisinya, maka hilanglah ruhnya. Barangsiapa memenuhi bujukan dunianya, maka hilanglah akhiratnya. Barangsiapa memenuhi keinginan anggota tubuhnya, maka hilanglah surga darinya. Barangsiapa memenuhi panggilan Allah, maka hilanglah kejelekan dirinya dan dia akan memperoleh segala kebaikan.”

KITAB NASHAIHUL IBAAD : ENAM ORANG TERKUTUK


Karya Muhammad Nawawi bin 'Umar Al-Jawi  (IMAM NAWAWI NUSANTARA)

Rasulullah saw bersabda:
"Ada enam golongan manusia yang aku kutuk dan Allah pun mengutuk mereka. Setiap nabi yang do'anya diijabahi juga mengutuk mereka. Mereka yang dikutuk itu adalah:

1. Orang yang menambah-nambahi (ayat) dalam kitab Allah ta'ala;
2. Orang yang mendustakan ketentuan Allah;
3. Penguasa yang otoriter, sehingga dia memuliakan orang yang dihinakan Allah dan menghinakan orang yang dimuliakan Allah;
4. Orang yang menghalalkan perkara yang diharamkan Allah;
5. Orang yang menghalalkan perbuatan yang telah diharamkan Allah terhadap ahli baitku; dan
6. Orang yang meninggalkan Sunnahku.

Maka pada hari Kiamat nanti Allah tidak akan melihat dengan pandangan rahmat." (HR. Tirmidzi dan Hakim)

KITAB NASHAIHUL IBAAD : ENAM KEANEHAN YANG NYATA


Karya Muhammad Nawawi bin 'Umar Al-Jawi  (IMAM NAWAWI NUSANTARA)

Rasulullah SAW bersabda:
Ada enam hal yang aneh di enam tempat, yaitu:
1) Masjid terasa aneh (asing) jika berada di tengah-tengah masyarakat yang tidak suka melakukan sholat didalamnya.
2) Mush-haf terasa aneh (asing) jika berada di rumah orang yang tidak suka membacanya.
3) Al-Qur’an terasa aneh (asing) jika berada di hati orang fasiq.
4) Wanita muslimah yang sholihah terasa aneh (asing) jika berada dalam kekuasaan suami yang dhalim, yang buruk akhlaknya.
5) Lelaki muslim yang sholih terasa aneh (asing) jika berada dalam kekuasaan wanita yang hina dan buruk akhlaqnya.
6) Orang ‘alim terasa aneh (asing) jika berada di tengah-tengah masyarakat yang tidak mau mendengarkan nasihatnya.”

Beliau lalu bersabda: “sesungguhnya kelak pada hari kiamat Allah tidak akan melihat mereka yang tidak mau mendengar nasihat orang ‘alim dengan pandangan rahmat”.
Rasulullah bersabda pula: “Orang yang paling Aku cintai diantara kalian adalah orang yang paling baik budi pekertinya, yang lembut perangainya lagi murah hati, yaitu mereka yang ramah lagi simpatik”.
Budi pekerti yang baik adalah ringan pembawaannya, manis perangainya, tidak mudah marah, dan halus perangainya.
Ahli balaghah berkata: “Orang yang baik budi pekertinya selalu tenang dan orang yang berada disekitarnya merasa aman, sedangkan orang yang jelek budi pekertinya selalu membuat orang yang berada disekitarnya merasa terancam dan dia sendiri keberadaannya sangat susah.”

Sabtu, 5 Mei 2018

KISAH ABDULLAH BIN HUDZAFAH RADHIYALLAHU ANHU BERSAMA HERAKLIUS


Abdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu adalah salah seorang panglima kaum muslimin yang ikut serta dalam pembebasan negeri Syam. Dia diserahi misi penting untuk memerangi penduduk Kaisariah, sebuah kota benteng di wilayah Palestina, tepatnya di tepi Laut Tengah. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan Abdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu gagal dalam salah satu pertempuran, sehingga akhirnya ia ditangkap oleh tentara Romawi.

Heraklius merasa berkesempatan untuk menyakiti dan menyiksa kaum muslimin. Lalu ia mendatangkan Abdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu ke hadapannya. Ia ingin menguji seberapa kuat agamanya dan ingin menjauhkannya dari Islam. Heraklius memulai dengan memberikan bujukan dan penawaran. Ia menawarkan kepada Abdullah radhiyallahu ‘anhu beberapa tawaran yang menggiurkan.

Heraklius berkata kepadanya, “Masuklah ke dalam agama Nasrani, maka engkau akan mendapatkan harta yang engkau inginkan.” Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu menolak tawaran ini. Kemudian Heraklius menambahkan, “Masuklah ke dalam agama Nasrani, maka saya akan menikahkanmu dengan putriku.” Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu juga menolak tawaran kedua. Lantas Heraklius berkata lagi, “Masuklah ke dalam agama Nasrani, maka saya akan merekrutmu menjadi orang penting dalam kerajaanku.” Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu pun menolak tawaran ketiga ini.

Heraklius menyadari bahwa ia tengah berhadapan dengan bukan sembarang lelaki. Maka ia pun memberikan penawaran keempat. Ia berkata kepadanya, “Masuklah ke dalam agama Nasrani, maka saya akan memberikan kepadamu separuh dari kerajaanku dan separuh hartaku.” Lantas Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu memberikan jawaban yang tegas dan mematikan, “Meskipun kamu memberikan kepadaku semua harta yang kamu miliki dan semua harta yang dimiliki oleh orang Arab, saya tidak akan kembali meninggalkan agama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun hanya sekejap mata.”

Setelah Heraklius gagal dalam memberikan penawaran dan bujukan, maka ia menekan Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu dengan cara memaksa, menyiksa, mengintimidasi, dan mengancamnya. Maka, Heraklius berkata kepadanya, “Kalau demikian, saya akan membunuhmu?” Heraklius tidak menyadari bahwa orang yang tidak tergiur dengan tawaran dan bujukan, tentunya juga tidak akan menyerah menghadapi paksaan dan siksaan. Orang yang menginjak dunia dengan kedua kakinya, tidak akan kikir untuk menyerahkan nyawa untuk menebus agamanya. Ia berkata kepada Heraklius, “Silakan kamu melakukan hal itu.”

Kemudian Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu dijebloskan ke dalam penjara dan tidak diberi makan dan minum selama tiga hari. Setelah itu ia disuguhi arak dan daging babi agar ia memakannya. Akan tetapi, Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu menolak mencicipinya. Akhirnya sampai berhari-hari ia tidak menyentuh makanan dan minuman sehingga ia hampir mati. Kemudian Heraklius mengeluarkannya dan bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu enggan minum arak dan makan daging babi padahal engkau dalam kondisi terpaksa dan kelaparan?” Ia menjawab, “Ketahuilah! Kondisi darurat memang telah menjadikan hal tersebut halal bagi saya dan tidak ada keharaman bagi saya memakannya. Akan tetapi, saya lebih memilih untuk tidak memakannya, sehingga saya tidak memberikan kesempatan kepadamu untuk bersorak melihat kemalangan Islam.”

Kemudian Heraklius memerintahkan kepada anak buahnya agar mereka menyalib Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu dan mengikatnya pada kayu. Para pemanah siap-siap melesakkan anak panah dari posisi yang dekat darinya. Ia pun tetap bertahan. Heraklius masih menawarkan agar ia memeluk agama Nasrani, tetapi ia tetap menolak. Kemudian ia diturunkan. Heraklius memerintahkan agar disiapkan air di dalam kuali besar dan dinyalakan api di bawahnya. Ketika air di dalam kuali telah mendidih, didatangkanlah seorang tawanan muslim, lalu ia diceburkan ke dalamnya, maka dagingnya pun meleleh sehingga tinggal tulang kerangka. Kemudian tawanan muslim yang kedua diceburkan di dalamnya sedangkan Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu melihatnya.

Kemudian Heraklius memerintahkan agar Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu dilemparkan ke dalam air mendidih. Ketika mereka memegang Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu untuk dilemparkan ke dalam air mendidih, maka ia menangis. Lantas dilaporkan kepada Heraklius bahwa Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu menangis. Heraklius mengira bahwa Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu menangis karena ia takut mati serta menunjukkan bahwa ia mundur dari posisinya dan membatalkan ketetapan hatinya dan ia akan mengabulkan keinginan Heraklius. Lantas Heraklius memanggilnya dan memberi tawaran kepadanya agar ia memeluk agama Nasrani. Ia pun tetap menolaknya. Lalu Heraklus bertanya kepadanya, “Kalau demikian mengapa engkau menangis?” Lalu ia memberikan jawaban yang menakjubkan, benar-benar melemahkan, dan menetapkan kegagalan dan kekalahan Heraklius, “Saya menangis karena saya hanya memiliki jiwa sebanyak rambut saya, pastilah saya korbankan untuk menebus agamaku. Sehingga, semuanya mati di jalan Allah.” Akhirnya Heraklius mengakui kekalahannya di hadapan Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu. Kekalahannya yaitu bahwa ia memiliki harta, pangkat, kekuatan, dan dunia berhadapan dengan seseorang muslim yang tidak bersenjata dan tidak menyandang apa-apa. Lantas ia memberikan tawaran terakhir sebagai bentuk kekalahan.

Demi menjaga martabatnya, Heraklius berkata, “Hai Ibnu Hudzafah! Maukah kamu mengecup kepalaku? Saya akan membebaskanmu dan melepaskanmu?” Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Baiklah, dengan syarat engkau harus melepaskan semua tawanan kaum muslimin yang berada di dalam penjara kalian saat itu ada lebih dari 300 tawanan.” Lantas Umar radhiyallahu ‘anhu berdiri menghampiri Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu dan mengecup kepalanya, lalu para sahabat lainnya mengikutinya.


AKIBAT IRI HATI

Terdapat riwayat bahwa seorang laki-laki meninggalkan dua anak setelah ia meninggal dunia. Ia meninggalkan untuk keduanya harta benda yang tidak seberapa. Mereka berdua membagi harta peninggalan tersebut dan masing-masing dari keduanya menggunakan harta tersebut sesuai haknya. Anak bungsu menyibukkan diri dengan berdagang dan mengikhlaskan amalnya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ia banyak bersedekah dan tidak kikir kepada hamba-hamba Allah dengan jalan membagi nikmat yang ia dapatkan, sehingga perdagangannya berkembang dan hartanya semakin bertambah. Ia pun menjadi orang kaya raya. Di samping itu, ia tidak mempunyai musuh, sehingga harta bendanya pun terjaga dan tidak ada yang iri kepadanya.

Sebaliknya, sang kakak memilih untuk menempuh jalan yang keliru sehingga ia menghabiskan kekayaannya untuk minum arak, judi, dan zina. Akhirnya, hartanya pun ludes. Ia pun menjadi orang fakir, tidak mempunyai makanan pokok yang dapat dimakan. Sementara itu, adiknya tetap sayang kepadanya. Ia memberinya tempat tinggal, menyediakan makanan dan pakaian yang mencukupinya. Sayangnya, ia tidak merasa cukup dengan kasih sayang adiknya itu. Bahkan, ia mulai iri hati kepada adiknya. Ia memutar otak untuk menguras kekayaan adiknya sehingga menjadi fakir sama seperti dirinya. Dengan demikian, hatinya akan merasa tenang karena orang-orang tidak akan mengejeknya lagi karena kemiskinannya sementara di pihak lain orang-orang menyanjung reputasi adiknya. Akhirnya, ia berusaha keras untuk meraih tujuan hina tersebut.

Akhirnya, ia mendapat bisikan dari Iblis agar mendatangi tukang dengki yang sudah terkenal dengan kedengkiannya. Sedikit sekali orang yang dapat selamat dari kedengkiannya. Si tukang dengki ini matanya rabun dan nyaris tidak dapat melihat kecuali dalam jarak yang sangat dekat. Kemudian sang kakak tersebut mendatangi si tukang dengki yang sudah terkenal ini. Ia meminta kepada tukang dengki agar ia mendengki harta adiknya dengan iming-iming imbalan yang akan diberikan ketika kekayaan saudaranya telah ludes.

Si tukang dengki pun diajak ke sebuah jalan yang biasa dilewati oleh dagangan saudaranya. Lalu sang kakak tersebut mengingatkan si tukang dengki agar bersiap-siap untuk segera beraksi dengan berkata, “Bersiap-siaplah! Dagangan saudaraku sudah mendekat. Posisinya sekitar satu mil dari kita.”

Maka dengan penuh rasa dengki si tukang dengki berkata, “Alangkah dahsyatnya pandangan matamu! Apakah kamu benar-benar dapat melihat barang dagangan saudaramu pada jarak sejauh itu? Duhai kiranya saya mempunyai pandangan mata yang tajam seperti matamu.” Tiba-tiba, sang kakak merasa sakit kepala, matanya menjadi gelap, dan seketika itu menjadi buta. Akhirnya, barang dagangan adiknya tersebut dapat melintasinya 

BALASAN KEBAIKAN ADALAH KEBAIKAN


Pada suatu hari ada seorang pemabuk yang mengundang sekelompok sahabatnya. Mereka pun duduk, kemudian si pemabuk memanggil budaknya, lalu ia menyerahkan empat dirham kepada pembantunya dan menyuruhnya agar membeli buah-buahan untuk teman-temannya tersebut. Di tengah-tengah perjalanan, si pembantu melewati seseorang yang zuhud, yaitu Manshur bin Ammar. Beliau berkata, “Barangsiapa memberikan empat dirham kepadanya.

Selanjutnya Manshur bin Ammar bertanya, “Doa apa yang Anda inginkan?” Lalu ia menjawab, “Pertama, saya mempunyai majikan yang bengis. Saya ingin dapat terlepas darinya. Kedua, saya ingin Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan empat dirham untukku. Ketiga, saya ingin Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat majikan saya. Keempat, saya ingin Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ampunan untukku. Ketiga, saya ingin Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat majikan saya. Keempat, saya ingin Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ampunan untukku, untuk majikanku, untukmu, dan orang-orang yang hadir di sana.” Kemudian Manshur mendoakannya.
Pembantu itu pun berlalu dan kembali kepada majikannya yang gemar menghardiknya. Majikannya bertanya kepadanya, “Mengapa kamu terlambat dan mana buahnya?” Lantas ia menceritakan bahwa ia telah bertemu sang ahli zuhud bernama Manshur dan bagaimana ia telah memberikan empat dirham kepadanya sebagai imbalan empat doa. Maka, amarah sang majikan pun redam. Ia bertanya, “Apa yang engkau mohonkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Ia menjawab, “Saya mohon untuk diriku agar saya dibebaskan dari perbudakan.” Lantas majikannya berkata, “Sungguh, saya telah memerdekakanmu.

Kamu sekarang merdeka karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apa doamu yang kedua?” Ia menjawab, “Saya memohon agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan empat dirham buatku.” Majikannya berkata, “Bagimu empat dirham. Apa doamu yang ketiga?” Ia menjawab, “Saya memohon agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubatmu.” Lantas si majikan menundukkan kepalanya, menangis, dan menyingkirkan gelas-gelas arak dengan kedua tangannya dan memecahkannya. Lalu ia berkata, “Saya bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Saya tidak akan mengulanginya lagi selamanya. Lalu apa doamu yang keempat?” Ia menjawab, “Saya memohon agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ampunan untukku, untukmu, dan orang-orang yang hadir di sini.” Sang majikan berkata, “Yang ini bukan wewenangku. Ini adalah wewenang Dzat Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Ketika sang majikan tidur pada malam harinya, ia mendengar suara yang mengatakan, “Engkau telah melakukan apa yang menjadi wewenangmu. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan ampunan kepadamu, si pelayan, Manshur bin Ammar, dan semua orang-orang yang hadir.”