Sambungan
Bab 4
Di sini akan saya huraikan cara-cara mujahadah
terhadap penyakit hasad, dengki, pemarah dan gila dunia.
Sebelum itu akan dijelaskan bahwa dalam berusaha melawan nafsu itu,
kita hendaklah menempuh tiga tingkat:
1. Takhalli (Mengosongkan atau
membuang atau membersihkan)
2. Tahalli (Mengisi atau menghiasi)
3. Tajalli (Terasa kebesaran dan
kehebatan Allah)
1. Takhalli
Di tingkat takhalli kita mesti melawan dan membuang semua kehendak-kehendak
nafsu yang rendah dan dilarang Allah. Selagi kita tidak mahu membenci, memusuhi
dan membuangnya jauh-jauh dari diri kita, maka nafsu itu akan selalu menguasai
dan menghambakan kita.
Sabda Rasulullah SAW:
Terjemahannya: Sejahat-jahat musuhmu ialah nafsumu yang terletak di antara dua
lambungmu.
(Riwayat Al Baihaqi)
Kerana kejahatannya itu telah banyak manusia yang ditipu dan diperdaya untuk
tunduk, bertuhankan hawa nafsu. Itu diceritakan oleh Allah dengan
firman-Nya:
Terjemahannya: Apakah tidak engkau perhatikan orang-orang yang mengambil hawa
nafsu menjadi Tuhan lalu dia disesatkan Allah.
(Al Jaatsiah: 23)
Apabila nafsu dibiarkan menguasai hati, iman tidak
memiliki tempat. Bila iman tidak ada, manusia bukan lagi menyembah Allah, Tuhan
yang sebenar-benarnya tetapi menyembah hawa nafsu.
Oleh itu usaha melawan hawa nafsu jangan dianggap ringan. Itu adalah satu jihad
yang sangat besar. Ingatlah sabda Rasulullah SAW pada sahabat-sahabatnya ketika
pulang dari satu medan peperangan:
Terjemahannya: Kita baru kembali dari satu peperangan
yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar. Sahabat bertanya,
"Peperangan apakah itu?" Baginda berkata, "Peperangan melawan
hawa nafsu."
(Riwayat Al Baihaqi)
Melawan hawa nafsu sangat susah. Mungkin kalau nafsu itu ada di luar jasad kita
dan boleh kita pegang, mudahlah kita menekan dan membunuhnya sampai mati.
Tetapi nafsu kita itu ada di dalam diri kita, mengalir bersama aliran darah dan
menguasai seluruh tubuh kita. Kerana itu tanpa kesedaran dan kemahuan yang
sungguh-sungguh kita pasti dikalahkan untuk diperalat sekehendaknya.
Seseorang yang dapat mengalahkan nafsunya akan meningkat ke taraf nafsu yang
lebih baik. Begitulah seterusnya hingga nafsu manusia itu benar-benar dapat
ditundukkan kepada perintah Allah.
Untuk lebih jelas akan saya sebutkan tingkat-tingkat nafsu manusia sebagaimana
iman itu pun bertingkat-tingkat. Saya sebutkan dari tingkat yang
serendah-rendahnya iaitu nafsu amarah, nafsu lawwamah, nafsu mulhamah, nafsu
mutmainnah, nafsu radhiah, nafsu mardhiah dan nafsu kamilah.
Kita yang berada pada tingkat iman ilmu, berada di taraf nafsu yang kedua yakni
nafsu lawwamah. Kita mesti berjuang melawan nafsu itu hingga tunduk sepenuhnya
kepada perintah Allah. Paling minimal mencapai nafsu mulhamah dan nafsu
mutmainnah, iaitu nafsu yang ada pada diri seseorang beriman ayan.
Di tingkat iman itu saja kita akan dapat menyelamatkan diri dari siksaan
Neraka. Itu dinyatakan sendiri oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
Terjemahannya: Hai jiwa yang tenang (nafsu mutmainnah) kembalilah kepada
Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diredhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah
hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam Syurga-Ku.
(Al Fajr 27-30)
Nafsu jahat dapat dikenal melalui sifat keji dan kotor yang ada pada manusia.
Dalam ilmu tasawuf, nafsu jahat dan liar itu dikatakan sifat mazmumah. Di
antara sifat-sifat mazmumah itu ialah sum’ah, riya', ujub, cinta dunia, gila
pangkat, gila harta, banyak bicara, banyak makan dan mengumpat.
Sifat-sifat itu melekat pada hati seperti daki melekat pada badan. Kalau kita
malas menggosok sifat itu akan semakin kuat dan menebal pada hati kita.
Sebaliknya kalau kita rajin meneliti dan kuat menggosoknya maka hati akan
bersih dan jiwa akan suci.
Bagaimana pun membuang sifat mazmumah dari hati tidaklah semudah membuang
daki di badan. Hal itu memerlukan latihan jiwa yang sungguh-sungguh, didikan
yang terus menerus dan petunjuk yang berkesan dari guru yang mursyid yakni guru
yang dapat membaca dan menyelami hati murid-muridnya hingga ia tahu apakah
kekurangan dan kelebihan murid itu. Malangnya di akhir zaman ini, kita tidak
memiliki guru yang mursyid.
Nasib kita hari ini seperti nasib anak-anak ayam yang kehilangan pedoman. Tidak
ada yang akan menunjukkan jalan kebaikan yang ingin kita tempuh. Meraba-rabalah
kita dalam kegelapan.
Tetapi bagi orang yang mempunyai keinginan yang kuat untuk membersihkan
jiwanya, ia tidak akan kecewa bila tidak ada orang yang boleh mendidik dan
memimpinnya. Ia akan sanggup berusaha demi kesempurnaan diri dan hidupnya
sendiri.
2. Tahalli
Tahalli bererti menghias, lawan kata bagi takhalli. Sesudah kita mujahadah
yakni mengosongkan hati dari sifat terkeji atau mazmumah, kita mesti segera
menghias hati dengan sifat-sifat terpuji atau mahmudah.
Supaya mudah difahami mari kita gambarkan hati kita sebagai sebuah mangkuk.
Selama ini mangkuk itu berisi sifat-sifat mazmumah. Setelah kita mujahadah maka
sifat itu keluar meninggalkan mangkuk kosong. Waktu itulah kita masukkan ke
dalam mangkuk itu sifat mahmudah.
Di antara sifat-sifat mahmudah yang patut menghias hati kita ialah jujur,
ikhlas, tawadhuk, amanah, taubat, bersangka baik, takut pada Allah, pemaaf,
pemurah, syukur, zuhud, timbang rasa, redha, sabar, rajin, berani, lapang dada,
lemah lembut, kasih sayang sesama mukmin, selalu ingat mati dan tawakal.
Untuk menghias hati dengan sifat mahmudah kita sangat memerlukan mujahadah.
Saya tegaskan sekali lagi bahwa bila dalam tingkat mujahadah kita masih terasa
berat dan susah, maknanya belum ada ketenangan dan kelezatan yang sebenarnya.
Insya Allah kalau kita sungguh-sungguh, lama kelamaan akan beryatu dengan hati
kita dan akan terasalah lazatnya.
Cara-cara mujahadah dalam tahalli sama seperti kita
mujahadah untuk takhalli. Misalnya kita mahu mengisi hati dengan sifat pemurah,
maka kita mujahadah dengan mengeluarkan harta atau barang kita terutama yang
kita sukai dan sayangi untuk diberikan kepada yang memerlukan. Awalnya tentu
terasa berat dan susah tetapi janganlah menyerah. Kita mesti melawan. Tanamkan
dalam hati bagaimana orang-orang muqarrobin berebut untuk mendapat pahala
sedekah.
Sayidatina Aisyah r.a. di waktu tidak memiliki apa-apa untuk dimakan, beliau
mencuba untuk mendapatkan hanya sebelah kurma untuk disedekahkan. Begitu besar
keinginan mereka pada pahala dan rindu kepada Syurga. Mereka berlomba-lomba
menyahut pertanyaan Allah SWT:
Terjemahannya: Siapakah yang mahu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang
baik nanti Allah akan melipat gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya dan dia
akan memperoleh pahala yang banyak.
(Al Hadid: 11)
Setiap kali kita merasa sayang pada harta kita setiap
itu pula kita mengeluarkannya. Insya Allah lama-kelamaan kita akan memiliki
sifat pemurah. Begitu juga dengan sifat-sifat yang lain seperti kasih sayang,
berani, tawadhuk, pemaaf, zuhud dan semua sifat-sifat mahmudah yang lain perlu
kita miliki. Untuk itu mesti bermujahadah. Jika tidak, iman akan ikut tiada
sebab iman berdiri di atas sifat-sifat mahmudah.
3. Tajalli
Sebagai hasil mujahadah dalam takhalli dan tahalli kita memperoleh tajalli
iaitu sejenis perasaan yang datang sendiri tanpa memerlukan usaha lagi.
Agak sukar untuk ditulis apa erti tajalli sebenarnya, sebab merupakan sejenis
perasaan (zauk) yang hanya mungkin difahamkan oleh orang-orang yang
merasakannya. Seperti manisnya gula, tidak dapat digambarkan dengan tepat
kecuali dengan merasakan sendiri gula tersebut.
Tajalli secara ringkas ialah perasaan tenteram, tenang dan bahagia. Hati
seakan-akan terbuka, hidup, melihat dan merasa kehebatan Allah. Hati selalu
teringat dan rindu pada Allah. Harapan dan pergantungan tidak pada selain
Allah. Seluruh amal bakti adalah kerana dan untuk Allah semata-mata. Apa pun
masalah hidup, dihadapi dengan tenang dan bahagia. Kesusahan apa pun tidak
terasa dalam hidupnya sebab semua itu dirasakan sebagai pemberian dari
kekasihnya, Allah SWT.
Akhirnya bagi orang-orang yang beriman, dunia ini sudah terasa bagai Syurga.
Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan sejati dan abadi iaitu kebahagiaan hati. Firman Allah:
Terjemahannya: Hari kiamat iaitu hari di mana harta
dan anak-anak tidak berguna kecuali mereka yang datang menghadap Allah dengan
hati yang selamat sejahtera.
(Asy Syuara': 88-99)
Setelah kita menghuraikan tentang proses pembersihan hati, marilah kita melihat
cara-cara untuk mujahadah terhadap beberapa penyakit hati.
1. HASAD DENGKI
Hampir semua orang dihinggapi penyakit hasad dengki. Cuma bezanya banyak atau
sedikit, bertindak atau tidak. Bahkan ulama-ulama pun terkena penyakit itu
bahkan lebih berat lagi. Hasad dengki membuat jiwanya menderita, kecewa dan
sakit jiwa. Hatinya merasa tidak selamat di dunia apalagi di akhirat.
Hadits telah menceritakan tentang enam golongan manusia yang akan tercampak ke
dalam Neraka dengan enam sebab. Salah satu dari mereka adalah ulama kerana
hasadnya.
Allah SWT menjelaskan tentang orang-orang yang hasad dengki dalam surah
Muhammad:
Terjemahannya: Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya
mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Dan kalau Kami
kehendaki niscaya Kami tunjukkan mereka padamu sehingga kamu benar-benar dapat
mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal
mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan kamu.
(Muhammad: 29-30)
Tanda adanya hasad dengki dalam diri kita ialah
apabila orang lain mendapat kejayaan, maka kita akan sakit hati dan bila orang
lain mendapat bencana kita akan merasa senang.
Bahaya hasad dengki adalah seperti apa yang
disabdakan oleh Rasulullah SAW:
Terjemahannya: Sesungguhnya hasad itu memakan
amalan kebaikan seperti api memakan ranting kayu kering.
Bila kita saling hasad dengki, kita akan hina-menghina, fitnah-memfitnah,
benci-membenci, dendam-mendendam, jahat sangka dan mengadu domba. Kesemuanya
akan mendatangkan dosa-dosa dan menghapuskan kebaikkan lainnya.
Seseorang yang membiarkan dirinya berada dalam hasad
dengki adalah penjahat dan perosak serta pemecah-belah persaudaraan antara
manusia. Dia juga seorang yang paling biadab dengan Allah SWT. Sedar atau tidak,
dia sebenarnya benci kepada Allah. Walau sebanyak apa pun solatnya, puasanya,
hajinya dan hebat perjuangannya tetapi di sisi Allah tetaplah dia ahli Neraka.
Pernah sahabat-sahabat bertanya Rasulullah SAW:
Terjemahannya: Sesungguhnya ada seorang wanita yang
berpuasa siang harinya dan di malam harinya shalat tahajjud tetapi selalu
menyakiti tetangga dengan lidahnya. Jawab baginda Rasulullah: "(Tidak ada
kebaikan lagi baginya) dia adalah ahli Neraka."
Orang yang banyak bertahajjud dan berpuasa sunat pun masuk Neraka kerana hasad
dengki, apalagi kita yang tidak bertahajjud, puasa sunat, masih cinta dengan
hasad dengki dan umpat-mengumpat.
Kalau betul kita beriman kepada Allah dan takut akan Neraka, insaflah akan
kejahatan hati kita itu dan marilah kita memperbaikinya dengan melakukan
mujahadatunnafsi.
Allah berfirman:
Terjemahannya: Hai orang yang beriman, janganlah satu kaum menghina kaum
yang lain (kerana) boleh jadi mereka (yang dihina) lebih baik dari mereka (yang
menghina) dan janganlah pula wanita-wanita menghina wanita-wanita lain (kerana)
boleh jadi wanita (yang dihina) itu lebih baik dari mereka (yang menghina) dan
janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelaran yang buruk. Seburuk-buruk
panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman (seperti hai fasik, kafir
dan lain lain) dan barangsiapa yang tidak bertaubat maka mereka itulah
orang-orang yang zalim.
(Al Hujurat: 11)
Terjemahannya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah
dari banyak prasangka. Sesungguhnya sebahagian dari prasangka itu adalah dosa
dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian
kamu mengumpat sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu
memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik
kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menerima
Taubat lagi Maha Penyayang.
(Al Hujurat: 12)
Begitulah pujukan Allah pada kita supaya kita tidak lagi hasad dengki,
mengumpat dan buruk sangka.
Langkah-langkah yang mesti kita lakukan untuk
mujahadah terhadap hasad dengki diantaranya ialah:
- Setiap kali orang yang kita dengki itu
memperoleh kejayaan,
kita kunjungi dia untuk
mengucapkan tahniah (selamat) dan
bergembira bersamanya.
Sebaliknya apabila orang itu
mendapat bencana, kita
kunjungi juga untuk mengucapkan
takziah(turut berduka) dan
ikut bersedih bersamanya.
- Sanjung dan pujilah kebaikan dan
keistimewaan orang yang
kita hasad dengki itu di
belakangnya dan kalau ada kesalahan
dan keburukannya kita
rahsiakan.
- Selalu datang dan berilah hadiah kepada
orang yang kita
dengki itu.
- Kalau ada orang mencuba menjatuhkan
orang yang kita dengki
itu, kita mesti membelanya.
Jangan melayani orang atau
syaitan yang hendak
merosakkan mujahadah kita.
- Berdoalah pada Allah SWT agar
memudahkan kita mengubati
penyakit dengki yang ada
dalam diri kita itu.
Ingatlah selalu firman-Nya:
Terjemahannya: Dan mereka yang bermujahadah pada jalan Kami niscaya Kami
tunjukkan jalan-jalan Kami itu.
(Al Ankabut: 69)
Timbulnya hasad dengki kita pada seseorang adalah kerana orang itu mempunyai
keistimewaan dan kelebihan yang lebih daripada apa yang ada pada diri kita.
Bila kita terasa orang itu telah mengalahkan kita dalam perjuangan atau
perlombaan maka datanglah rasa dengki itu. Sebaliknya tidak akan terjadi
begitu, kalau kita beriman dengan Allah, yakin akan keadilan-Nya mengatur
pemberian kepada hamba-hamba-Nya, kita tidak akan merasa dengki lagi.
Firman Allah:
Terjemahannya: Janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikurniakan Allah
kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.
(An Nisa’: 32)
Allah yang melebihkan dan mengurangkan pemberian-Nya kepada seseorang. Dan
Allah Maha Adil atas pemberian yang lebih dan kurang itu. Dia bermaksud menguji
kita. Siapa yang sedar bahwa dirinya adalah hamba, ia akan senantiasa bersyukur
pada nikmat yang diperoleh, redha dengan takdir dan sabar menghadapi ujian.
Dalam hadits Qudsi Allah berfirman:
Terjemahannya: Barangsiapa tidak redha terhadap takdir yang terjadi dan tidak
sabar terhadap bala (cubaan) dari-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku.
(Riwayat: At Tabrani)
Dalam Al Quran Allah berfirman:
Terjemahannya: Dialah yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu
siapa antara kamu yang lebih baik amalnya dan Dia maha Perkasa lagi Maha
Pengampun.
(Al Mulk: 2)
Itulah maksud Allah menjadikan hidup yang sementara.
Firman-Nya lagi:
Terjemahannya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setitis mani
yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan)
kerana itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.
(Al Insan: 2)
Kalau Allah melebihkan seseorang dari kita, ertinya Allah mahu menguji apakah
kita sabar dan redha dengan kekurangan yang Allah takdirkan. Dan kalau Allah
melebihkan kita daripada seseorang, ertinya Allah mahu menguji kita, apakah
kita bersyukur terhadap nikmat itu atau sebaliknya sombong, bongkak, dan lupa
diri sebagai hamba Allah.
Kalau begitu mengapa hasad dengki? Kalau kita masih hasad dengki ertinya kita
tidak redha dengan Allah. Kita tidak senang dengan peraturan-Nya dan tidak
menerima kehendak-Nya. Sebab itu orang yang hasad dengki bukan saja bermusuhan
dengan orang lain tetapi juga bermusuhan dengan Allah. Biadab dengan manusia
dan biadab dengan Allah maka layaklah menjadi ahli Neraka.
2. PEMARAH
Sifat pemarah berasal dari sifat sombong (ego). Semakin besar ego seseorang itu
semakin besar pemarahnya. Itu berkaitan pula dengan kedudukan seseorang.
Kalau tinggi kedudukannya, besar pangkatnya, banyak hartanya, ramai pengikutnya
maka makin tinggi egonya dan pemarahnya makin menjadi-jadi. Sebaliknya
seseorang yang rendah taraf kedudukannya akan kurang rasa egonya, maka kurang
juga sifat pemarahnya.
Lihatlah perbezaan antara seorang ayah dengan anaknya. Jarang kita dengar bahwa
anak memarahi ayah. Yang selalu terjadi adalah ayah memarahi anak. Atau antara
tuan rumah dengan pembantunya. Tidak pernah pembantu marah pada tuannya tetapi
tuan sering marah pada pembantunya. Atau seperti murid dengan guru. Murid tidak
pernah marah pada gurunya tetapi guru sering marah pada muridnya.
Sebagai contoh yang lain, ketua pejabat dengan pegawainya. Jarang pegawai marah
pada 'boss'nya tetapi boss sering marah pada anak buahnya. Begitulah
seterusnya. Jarang kita temui seorang ayah, guru, ketua pejabat, tuan rumah dan
seorang pemimpin yang tidak bersifat pemarah terhadap orang-orang di bawah
mereka.
Pendeknya sifat pemarah itu ada pada setiap diri kita seperti halnya hasad
dengki. Pemarah adalah sifat mazmumah yakni sifat terkeji. Pemarah boleh
memecah-belahkan hati manusia. Sebab itu seorang yang pemarah adalah seorang
yang biadab terhadap Allah SWT.
Kenapa mesti marah? Cuba kita renungkan sebuah syair gubahan seorang mujahid:
Takdir Allah sudah putus dan keputusan Allah sudah terjadi. Istirihatkan hati
dari kata-kata 'barangkali' dan 'kalau'.
Setiap kesalahan dan kelemahan manusia pada kita adalah ujian Allah untuk kita.
Allah mahu melihat siapa yang mampu menahan rasa malunya kepada Allah sambil
mengucapkan,"Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun." Mari kita lihat
bagaimana tindakan seorang mukmin sejati terhadap takdir-takdir buruk yang
menimpa hidupnya:
Ahnaf bin Qais adalah seorang yang lemah lembut. Beliau ditanya orang, dengan
siapakah beliau belajar berlemah lembut itu?
Ahnaf menjawab: Dengan Qais bin Asim, iaitu pada suatu hari
ketika Qais bin Asim sedang beristirahat masuklah jariahnya (hamba) membawakan
Qais panggang besi berisi daging panggang yang masih panas. Belum sempat
diletakkan di depan Qais tanpa sengaja besi pemanggang itu jatuh menimpa anak
kecil Qais. Anak itu menjerit-jerit kesakitan dan kepanasan hingga
meninggal dunia.
Qais dengan tenang melihat kejadian yang menyayat hati itu dan berkata kepada
hamba yang pucat mukanya, "Aku bukan saja tidak marah kepada kamu, tetapi
mulai hari ini aku memerdekakan kamu."
"Begitulah sopan santun dan lemah lembutnya Qais bin Asim," kata
Ahnaf bin Qais mengakhirkan ceritanya.
Bukannya Qais tidak sayang pada anaknya tetapi hatinya senantiasa melihat
pengaturan Allah dan senantiasa merasakan setiap kejadian adalah takdir dari
Allah. Ia senantiasa sabar dengan Allah, redha dengan Allah serta merasa
kehambaan pada Allah. Rasa malu, hina dan takut dengan kekuasaan Allah membuat
Qais tenang menghadapi kematian anak yang disebabkan kelalaian hambanya.
Hati Qais memandang kejadian itu sebagai ujian
Allah ke atas dirinya. Barangkali untuk penghapusan dosa atau untuk mengangkat
derajatnya di sisi Allah SWT. Kerana itu hatinya tenang. Dia (Qais) redha
dengan ujian itu malah dengan ujian itu ia merasakan mendapat peluang untuk
mendekatkan lagi hatinya pada Allah SWT. Sebab itu dia tidak nampak lagi
kesalahan hambanya.
Bukan saja dia tidak marah bahkan merasa kasihan
pada jariah yang ketakutan itu, memaksa Qais untuk membebaskan hambanya. Dia hanya
nampak ketentuan Allah yang wajib diterima tanpa tanya jawab (alasan) dan tanpa
'kalau' lagi. Demikianlah rasa kehambaan yang menghias hati dan roh Qais,
seorang yang cukup berakhlak terhadap Allah SWT dan terhadap manusia
(hambanya).
Demikianlah rasa marah itu lahir dari perasaan
'ketuanan' yang ada dalam hati kita. Kita merasa kita yang lebih besar,
lebih mulia, lebih hebat dari orang lain. Tanpa perasaan-perasaan itu tidak
mungkin kita menjadi pemarah. Kita akan berlemah lembut, memaafkan kesalahan
orang dan bertimbang rasa dengan sesama manusia.
Sesama manusia mempunyai asal yang sama. Kita datang ke dunia
melalui jalan yang gelap, lubang kencing yang hina tanpa sedikitpun harta,
dalam keadaan busuk, amis, bodoh, dungu, tuli, bisu, buta, lemah dan hina
sekali.
Firman Allah:
Terjemahannya: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak
mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati.
Moga-moga kamu bersyukur.
(An Nahl: 78)
Kemudian Allah juga mencantikkan kita dan memberi
sedikit kelebihan. Kepandaian dan keistimewaan itu Allah pinjamkan sebentar
saja. Tujuannya supaya kita dapat beribadah dan berbakti menurut kehendak-Nya
(bersyukur). Bukan supaya kita merasa lebih mulia, lebih hebat, hingga datang
perasaan-perasaan sombong, riya', bengis dan pemarah kepada orang lain yang
agak kurang dari kita.
Sebaiknya bila kita merasa mempunyai kelebihan, kita menjadi takut pada
Allah. Takut kalau nikmat itu digunakan secara salah sehingga derhaka kepada
Allah Taala dan berdosa pada manusia. Takut kalau nikmat itu menjadikan hati
kita merasa 'tuan' sehingga timbul sifat ego yang besar, yang akan
melahirkan bermacam-macam mazmumah yang sangat dibenci oleh Allah. Firman-Nya:
Terjemahannya: Dalam hati mereka terdapat penyakit kemudian Allah tambahkan
penyakit mereka.
(Al Baqarah: 10)
Kita mesti mengubati penyakit hati kita. Ertinya kita mesti membuang rasa
'ketuanan' kita iaitu dengan melakukan mujahadatunnafsi.
1. Mula-mula kita mesti rasa malu kepada Allah. Perbandingannya adalah kalau
ada orang penting di rumah kita, sanggupkah kita memarahi isteri kita di depan
orang itu? Tentu tidak. Terlebih lagi terhadap Allah, kerana Allah senantiasa
melihat bahkan senantiasa bersama kita.
Kalau kita yakin akan hal itu tentu kita tidak akan menjadi pemarah sebab kita
tahu Allah tidak suka kita menjadi pemarah. Rasa malu dan takut kepada Allah
akan membuat kita senantiasa berlemah-lembut dan memaafkan kesalahan orang
kepada kita.
2. Bila datang rasa hendak marah, maka katakan pada diri kita,"Ya Allah,
aku tahu pemarah itu adalah hina di sisiMu. Tolonglah pelihara diriku dari
kejahatan nafsu dan selamatkan aku dari api Neraka."
3. Sesudah itu kita diam. Jangan marah tetapi banyakkan zikir dan ingat
kebesaran Allah. Allah Tuhan yang Maha Besar itu pun bersifat sangat pemaaf.
Kalau begitu layakkah kita menjadi pemarah? Bukankah kita hamba yang hina dina?
4. Kita harus insaf bahwa setiap manusia termasuk diri kita sendiri, memiliki
kelemahan dan kekurangan. Kalau hari ini orang bersalah pada kita, maka tidak
mustahil bahwa satu saat nanti kita akan bersalah dengan orang lain.
Kalau kita bersalah kita tidak suka orang lain memarahi kita. Begitulah juga
kalau orang lain yang bersalah dengan kita, dia tentu tidak suka kalau dimarahi.
Karena itu tegurlah dengan lemah lembut dan kasih sayang.
Firman Allah:
Terjemahannya: Maka katakanlah (hai Musa dan Harun) kepadanya (Firaun) dengan
kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat dan takut
(Thaha: 44)
Sebegitu jahat dan kufurnya Firaun terhadap Allah, namun Allah masih
perintahkan kepada Nabi-Nya supaya berlemah lembut. Sebab hanya dengan lemah
lembut, hati manusia menjadi lembut, insaf dan takut.
Sebaliknya kalau kita kasar bukan saja orang yang lain tidak menerima teguran
kita bahkan dia akan benci dengan kekerasan kita. Di sisi Allah kekerasan kita
akan tercatat. Dan di sisi Allah kita akan tercatat sebagai orang yang tidak
berakhlak dan tidak berhikmah, padahal Allah memerintahkan kita supaya
berhikmah:
Terjemahannya: Serulah (semua manusia) kepada Tuhanmu
dengan hikmah (bijaksana) dan pengajaran yang baik dan berhujjahlah dengan
mereka secara yang paling baik.
(An Nahl: 125)
3. GILA DUNIA
Gila dunia adalah penyakit hati atau satu mazmumah yang menghalangi kita untuk
mendekatkan hati dengan Allah (yakni menghalang untuk mencapai darjat
kerohanian yang tinggi).
Seorang pencinta dunia adalah seorang yang hatinya dipenuhi keinginan untuk
meluaskan serta memperbanyak ketinggian dan kekayaan di dunia sehingga
fikirannya senantiasa bekerja untuk tujuan itu dan secara lahir ia bekerja
keras untuk itu.
(Dunia ialah segala sesuatu yang tidak ada
manfaatnya untuk Akhirat. Sebaliknya perkara apa saja yang boleh digunakan
untuk akhirat maka tidak lagi disebut dunia).
Lawan dari penyakit gila dunia adalah sifat zuhud yaitu hati yang tidak
memiliki keinginan kepada sesuatu yang tidak bermanfaat untuk akhirat.
Firman Allah:
Terjemahannya: Itulah negara Akhirat (syurga) yang Aku jadikan (syurga itu)
untuk orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian dan kerusakan di muka bumi
ini.
(Al Qashash: 83)
Hati yang tidak memiliki keinginan untuk menjadi
'tuan' dan tidak pula ingin untuk melakukan kejahatan (kerosakan) di dunia,
itulah hati yang selamat dan itulah hati penghuni syurga.
Firman Allah:
Hari Qiamat (hari manusia meninggalkan dunia)
adalah hari di mana harta dan anak-anak tiada memberi manfaat kecuali mereka
yang datang menghadap Allah membawa hati yang selamat.
(Asy Syuara’: 88-89)
Mungkin kita bertanya,"Bagaimana saya bisa membuang keinginan kepada dunia
yang indah?" Sebab kita hidup di kelilingi oleh tarikan dunia yang amat
menarik dan hati kita pun sangat cinta padanya?
Pertama, ketahuilah bahwa di dunia ini ada yang diharamkan dan wajib kita
jauhi. Selain itu ada yang dihalalkan dan tidak berdosa kalau diambil
asalkan tidak berlebih-lebihan atau lebih dari keperluan.
Rasulullah SAW pernah menyatakan benci kepada dunia, karena dua
perkara.
Sabda baginda:
Terjemahannya: Halalnya akan dihisab dan haramnya disiksa (dalam Neraka).
Satu hari ketika baginda berjalan bersama
sahabat-sahabat, terlihat oleh Rasulullah seekor bangkai kambing. Baginda
bertanya kepada sahabat, "Mengapa bangkai itu dibuang oleh tuannya?"
Sahabat menjawab, "Kerana ia tidak berguna lagi
maka ia dibuang dan tidak dihiraukan oleh tuannya."
Maka bersabda Rasulullah SAW:
"Demi Allah yang menguasai diriku, maka dunia itu lebih rendah pada
pandangan Allah daripada bangkai kambing pada pandangan tuannya."
Seterusnya baginda bersabda:
"Dunia itu terkutuk dan terkutuk pula apa-apa
yang ada di dalamnya kecuali yang digunakan untuk mencari keredhaan
Allah."
Kerana itu ketahuilah bahwa mengambil dunia lebih dari keperluan atau bukan
untuk mencari keredhaan Allah adalah tidak sunnah hukumnya. Dunia akan menjadi
hijab antara kita dengan Allah yakni akan membutakan hati dan memisahkan kita
dari Allah.
Bagi orang yang menyedari hakikat itu tentu mereka tidak cinta lagi kepada
dunia. Dunia yang nampaknya indah itu ternyata buruk sifatnya. Ibarat bunga
hiasan plastik, rupa dan warnanya sungguh menarik hati tetapi tidak ada baunya.
Atau ibarat perempuan cantik yang jahat tingkah lakunya tentu tidak ada
gunanya.
Sebagai orang awam yang tidak kenal sifat dunia
ini, tentu kecantikan dunia akan menawan hati kita. Tetapi bagi bijak pandai,
iaitu orang-orang arif seperti Nabi dan Rasul, para muqarrobin dan solihin,
mereka sangat kenal pada dunia ini, terutama tentang keburukan dan kehinaannya.
Sebab itu mereka zuhud terhadapnya. Mereka mengambil sebagian dari dunia, yaitu
yang tidak boleh tidak mesti diambil. Selebihnya adalah seperti najis pada
mereka, sebab itu mereka membuangnya.
Tugas kita sekarang adalah mujahadah dengan nafsu gila dunia itu. Kita lawan
keinginan rendah itu hingga ia tewas. Barulah keinginan kita kepada Allah dan
hari Akhirat akan timbul dan menyala dalam dada kita.
Langkah-langkah yang perlu diambil antaranya:
- Harta, wang, pakaian, makanan, kenderaan, tempat tempat
tinggal dan lain-lain kekayaan kita yang halal, yang
kita
letakkan di bank selama ini hendaklah kita gunakan
untuk
mencari keredhaan Allah.
- Kedudukan kita, jabatan, pangkat, nama yang masyhur,
pengaruh dan ketinggian apa saja yang memungkinkan
kita
merasa 'tuan' di dunia ini hendaklah digunakan untuk
mencari keredhaan Allah, baik untuk menegakkan hukum
Allah, menggiatkan dakwah Islamiah, berlaku adil dan
ikhlas
dalam mengatur kegiatan dakwah serta membuka peluang-
peluang untuk Islam dan umatnya.
- Hentikan dari usaha-usaha mencari kekayaan dan ketinggian
dunia hanya karena keindahan duniawi tetapi arahkan
usaha
itu kepada agama Allah untuk negara Akhirat yang kekal
abadi.
- Bagikan isi dunia yang datang pada kita untuk hamba-hamba
Allah yang lebih memerlukannya.
- Kosongkan hati kita dari keinginan kepada kekayaan dan
ketinggian duniawi.
- Mohonlah selalu hidayah dan taufik dari Allah agar kita
menjadi seorang yang zahid yang berilmu, menolak dunia
kerana Allah sebagaimana telah yang disunnahkan oleh
junjungan mulia Muhammad SAW.
Sabda baginda:
Dua rakaat solat seorang alim yang hatinya zuhud lebih baik dan lebih
disukai Allah dari ibadah orang-orang abid yang dilakukan selama umur dunia
kerana ibadah tanpa ilmu tiada bernilai.
Firman Allah SWT:
Terjemahannya: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia berbagai keinginan
kepada wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di
dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (Syurga).
Katakanlah, mahukah aku khabarkan kepadamu apa yang lebih
baik dari yang demikian itu. Untuk orang-orang yang bertaqwa terhadap Tuhan
mereka ialah Syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di
dalamnya. Dan (ada pula) isteri-isteri yang disucikan serta mendapat keredhaan
Allah dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
Mereka itu selalu berdoa, "Ya Tuhan kami sesungguhnya
kami telah beriman maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari
siksa Neraka."
(Ali Imran: 14-16)
Bersabda Rasulullah SAW maksudnya:
Sesungguhnya Allah suka memberi keduniaan dengan sebab amalan Akhirat tetapi
kalau amalnya khusus untuk dunia maka tidak akan diberi Akhirat.