Catatan Popular

Sabtu, 7 April 2018

BANTUAN HARIAN KEPADA UMAR..


Umar juga hidup dengan berniaga. Apabila beliau dilantik menjadi khalifah selepas Saidina Abu Bakar, beliau pun mengumpul orang ramai dan berkata kepada mereka: “Aku menyara hidupku dengan berniaga. Disebabkan kamu semua telah melantikku sebagai khalifah, aku tidak dapat lagi pergi berniaga. Jadi bagaimana dengan saraanku sekarang?”.
Berbagai saranan diberikan agar bayaran harian daripada Baitul Mal diberikan kepadanya. Ali r.a tidak berkata apa-apa. Lalu Umar pun meminta pandangannya: “Wahai Ali! Apakah pendapat kamu?” Beliau menjawab: “Aku cadangkan agar sejumlah wang diambil mencukupi bagi keperluan keluargamu”. Umar menerima cadangannya dan jumlah bayaran harian yang sederhana ditetapkan untuknya. Kemudian beberapa orang termasuk Ali, Uthman, Zubair dan Talhah mencadangkan agar bayaran itu ditambah kearana bayaran sebelum itu jauh daripada mencukupi. Tetapi tiada seorang pun yang berani mengesyorkannya kepada Umar r.a.

Mereka pun berjumpa dengan Ummul Mukminin Hafsah, anak perempuannya dan memintanya mendapatkan persetujuan daripada Umar tanpa menyebutkan nama orang-orang yang mengesyorkannya. Apabila perkara ini dibawa oleh Hafsah, Umar menjadi begitu marah dan berkata: “Siapakah yang mengesyorkan perkara ini?” Hafsah menjawab: “Berikan pendapatmu dahulu”. Umar: “Jika aku mengetahui mereka, nescaya aku akan ku tampar muka mereka. Hafsah! Ceritakanlah kepadaku pakaian Rasulullah yang terbaik yang ada di rumahmu?” Hafsah: “Sepasang kain kemerah-merahan yang dipakai oleh Rasulullah pada hari Jumaat atau tatkala menerima perutusan”. Umar: “Apakah jenis makanan yang terbaik yang pernah dimakan oleh Rasulullah di rumahmu?” Hafsah: “Kami makan roti barli biasa. 

Pada suatu hari daku telah menyapu sekeping roti daripada bekas minyak sapi dan baginda makan dengan penuh selera dan menyungguhkannya kepada orang lain”. Umar: “Apakah jenis hamparan tidur yang terbaik yang digunakan oleh Rasulullah di rumahmu?” Hafsah: “Sehelai kain tebal. Pada musim panas ia dilipat empat dan pada musim sejuk ia dilipat dua, sebahagian dijadikan selimut untuk menutupinya”. Umar: “Hafsah! Pergilah beritahu orang-orang ini bahawa Rasulullah telah menunjukkan satu tauladan peribadinya. Aku mesti ikut teladan itu.
Perumpamaan bagi kami bertiga yakni aku, Rasulullah dan Abu Bakar adalah seumpama tiga orang yang bermusafir melalui sebatang jalan yang sama”. Orang yang pertama (Rasulullah) yang memulakannya dengan perbekalan dan telah mencapai matlamatnya. Yang kedua (Abu Bakar) mengikuti jejaknya dan telah bertemu dengannya. Sekarang orang yang ketiga sedang dalam perjalanan. Jikalau dia menuruti jejak mereka nescayalah dia juga akan bertemu dengan mereka. Jika tidak menyimpanglah dia.

Suatu ketika beliau terlewat untuk solat Jumaat lalu beliau memberitahu jemaah : “Maafkan aku tuan-tuan semua. Aku terlewat disebabkan pakaianku sedang dibasuh dan aku tidak punya pakaian lain”.

Suatu ketika beliau sedang menghadapi makanan, seorang sahabat ‘Utbah bin Abi Farqad meminta izin untuk berjumpa dengannya. Beliau mengizinkannya dan menjemputnya makan bersamanya. ‘Utbah pun mulalah makan tetapi roti terlalu kasar sehinggalah beliau tidak dapat menelannya. Beliau pun bertanya: “Kenapa tuan tidak menggunakan tepung yang lebih baik untuk rotimu wahai Umar?” Beliau berkata: “Adakah setiap orang Islam mampu memperolehi tepung yang baik untuk membuat rotinya?” Lalu ‘Utbah menjawab: “Tidak. Tidak semua orang Islam mampu untuk berbuat sedemikian”. Umar berkata lagi: “Oh! Kamu ingin agar aku mengecapi segala kelazatan ketika aku masih di dunia”.

Begitulah antara kisah mengenai kezuhudan para sahabat nabi. Dengan menjadikan sahabat nabi sebagai contoh, sekurang-kurangnya kita merasa malu untuk berlumba-lumba di antara satu sama lain dalam mengejar kemewahan duniawi.


AKU ADALAH PELAYAN


Siang hari yang terik menggersangkan padang pasir di seluruh penjuru kota. Tidak seorang pun yang kuat menahan panasnya. Unta-unta pun berteduh di bawah bayangan masjid.

Lewatlah sesosok lelaki yang berjalan terburu-buru sambil menutup mukanya menembus panas terik dan angin berdebu. Mungkinkah ia lelaki asing yang sedang mencari tempat berlindung?

Tidak lama kemudian lelaki itu kembali lagi menantang terik matahari yang menyengat. Namun, kali ini ia menyeret seekor sapi yang enggan melakukan perjalanan sulit tersebut. Utsman bin Affan r.a yang mengamati keseluruhan peristiwa sejak awal dari jendela rumahnya tergerak untuk menolong orang tersebut.

Sungguh tak habis pikir, di saat orang lain beristirahat di dalam rumah yang teduh dan hewan-hewan piaraan memilih untuk bermalas-malasan, tetapi orang ini rela berpanas-panasan. Ada apa gerangan? Siapakah orang itu? Semua pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Utsman r.a.

Ketika Utsman r.a. menyapa orang tersebut, betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa lelaki yang sedang kesusahan di hadapannya adalah Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab r.a. Utsman r.a pun segera menyambutnya dan bertanya, "Apa yang kau lakukan, wahai Amirul Mukminin?"

"Tidakkah kaulihat aku sedang menyeret sapi?" jawab Umar r.a.

Sebenarnya bukan jawaban itu yang diharapkan Utsman r.a. Sudah tentu ia mengetahui sahabatnya sedang menyeret sapi, tetapi mengapa ia melakukannya di siang terik? Bukanlah karakter sahabatnya jika mengkhawatirkan harta bendanya hingga seperti ini. Utsman r.a kembali bertanya, "Mengapa kau menggiring sapi itu di siang terik seperti ini? Begitu mendesakkah keadaanmu?"

Umar r.a kembali menjelaskan, "Ini adalah salah satu sapi sedekah kepunyaan anak-anak yatim yang tiba-tiba terlepas dari kandangnya dan lari ke jalanan. Aku langsung mengejarnya dan alhamdulillah dapat kutangkap!"

Utsman r.a tersentak mendengar jawaban sang Amirul Mukminin, "Tidakkah ada orang lain yang dapat melakukan pekerjaan itu? Bukankah kau seorang khalifah? Kau bisa menyuruh orang lain untuk melakukannya?" tanya Utsman r.a.

Umar r.a menggeleng dan berkata tegas, "Apakah orang itu bersedia menanggung dosaku di hari perhitungan kelak? Maukah ia memikul tanggung jawabku di hadapan Allah? Kekuasaan itu adalah amanah bukan kehormatan."

"Berisitirahatlah dulu di tempatku hingga panas meredup, lalu kau bisa melanjutkan perjalananmu," tawar Utsman r.a dengan hati bergetar setelah mendengar penjelasan sang Khalifah.

"Kembalilah ke tempatmu bernaung, sahabatku. Biarkan aku menyelesaikan kewajibanku." Umar r.a kembali menyeret sapinya sambil terseok-seok menempuh perjalanan di bawah terik matahari.

Utsman r.a. hanya bisa memandangi sahabatnya berlalu dari hadapannya dengan rasa haru mendalam. "Engkau adalah cerminan seorang pemimpin negara. Dan kau memberi contoh yang sulit diikuti oleh penerusmu," gumamnya.

Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa Ali bin Abi Thalib r.a mendapati Amirul Mukminin Umar bin Khaththab r.a berjalan terburu-buru di Medinah. Ia bertanya kepada Umar r.a, "Hendak ke mana, wahai Amirul Mukminin?"

Sambil terus berjalan, Umar r.a menjawab singkat, "Seekor unta sedekah kabur!"

"Tidak adakah orang lain yang bisa mencarinya selain dirimu?" tanya Ali r.a.

Kemudian Umar r.a menjawab, "Demi Allah yang mengutus Muhammad dengan kebenaran. Seandainya ada seekor kambing kabur ke sungai Efrat, Umar-lah yang akan dimintai pertanggungjawaban atasnya di akhirat kelak!"

Ali r.a. berkata, "Kau telah memberikan teladan yang melelahkan bagi penerusmu."

Pada riwayat yang lain dikisahkan pula bahwa di musim panas yang terik membakar tanah padang pasir dan mengembuskan angin kering, utusan dari Irak yang dipimpin oleh Ahnaf bin Qais r.a mendatangi Umar bin Khaththab r.a.

Mereka mendapati Amirul Mukminin tengah melepas sorban dan berbalut selendang untuk mengurus unta sedekah. Salah seorang dari utusan tersebut berkata, "Tidakkah sebaiknya engkau memerintahkan seorang hamba sahaya untuk mengurus unta sedekah sehingga engkau tidak perlu melakukan hal ini?"

Umar r.a menjawab dengan rendah hati, "Hamba mana yang lebih menghamba daripadaku? Barangsiapa yang memegang wewenang atas urusan kaum muslimin, ia bertanggung jawab atas mereka. la memiliki kewajiban atas mereka sebagaimana kewajiban seorang hamba kepada tuannya, yaitu memberi nasihat dan menyampaikan amanat!"

Ahad, 1 April 2018

NIAT BURUK


Al-Ashmu'i menuturkan bahwa Ibnu Abi Burdah selalu mendekati Umar bin Abdul Aziz r.a. dan beribadah sebaik-baiknya di hadapannya. la menyempurnakan ruku' dan sujudnya dalam shalat berjemaah bersama kaum muslimin lainnya.

Ketekunannya menarik perhatian Umar r.a. Kemudian Umar r.a. memanggil asistennya, Al-Ala' bin Al-Mughirah r.a. yang juga orang kepercayaannya.

Umar r.a. menceritakan tentang hamba Allah yang taat beribadah tersebut, lalu sang asisten diperintahkan untuk mencari tahu tentang ketulusan orang tersebut dalam beribadah.

Al-Ala' r.a. menyanggupinya, "Aku akan membawa berita tentang orang itu kepada engkau, wahai Amirul Mukminin."

Ketika orang tersebut sedang shalat sunnah antara Magrib dan Isya', Al-Ala' r.a. berkata kepadanya, "Segerakanlah shalatmu! Aku memerlukanmu!"

Setelah ia selesai shalat, Al-Ala' r.a. berkata kepadanya, "Engkau tahu bahwa aku adalah orang terdekat Amirul Mukminin. Aku mengusulkan kepadanya agar engkau diangkat menjadi gubernur Irak. Apakah ada yang hendak kau sampaikan kepadanya?"

Orang itu menjawab, "Tugasku hanya selama satu tahun dan gajiku seratus dua puluh ribu."

Al-Ala' r.a. meminta agar orang tersebut menuliskan permintaannya. la pun langsung menuliskannya. Kemudian tulisan itu dibawa Al-Ala' r.a. untuk diserahkan kepada Umar bin Abdul Aziz r.a.

Ketika membacanya, Umar r.a. berkata, "Kita pernah tidak percaya dengan ketakwaan Bilal. la adalah budak yang hitam legam, tetapi ternyata sangat bertakwa. Dan kami nyaris teperdaya oleh ketakwaan orang tersebut.

Setelah kami selidiki ternyata isi hatinya adalah keburukan semua."


HAKIM IYAS RA MENGECOH PENGHIANAT


Seorang lelaki menitipkan wang kepada setiausha Hakim lyas r.a. sebelum berangkat melakukan perjalanan. Namun, ketika ia kembali dan hendak mengambil titipannya, setiausha itu membantah telah menerima titipan tersebut.

Lelaki itu merasa tertipu, akhirnya melaporkan kepada atasan setiausha tersebut, yaitu Hakim lyas r.a.

Laporan tersebut didengar lyas r.a. dengan saksama dan berjanji akan menanganinya dengan segera. la tidak menyangka bawahannya akan berlaku curang dan picik seperti itu.

Lalu, ia bertanya kepada orang tersebut, "Apakah engkau memberi tahu stiausahaku bahwa engkau akan menemuiku?"

"Tidak," jawab lelaki itu.

"Apakah engkau sudah memperkarakan masalah ini kepada orang lain?" tanya lyas r.a. kembali.

"Belum," jawabnya lagi.

lyas r.a. kemudian berpesan, "Pergilah sekarang, rahsiakan masalah ini dan kembalilah menemuiku dua hari lagi."

Lelaki itu pun pergi, sementara lyas r.a. memanggil setiaushanya yang telah menggelapkan harta titipan orang lain seraya berkata, "Telah sampai kepadaku sejumlah besar harta benda dan aku ingin menitipkan kepadamu, apakah kiranya engkau dapat menjaga harta benda itu di rumahmu?"

la menjawab senang, "Tentu, Tuanku,"

Dua hari berlalu, lelaki yang wangnya digelapkan oleh si setiausaha datang kembali menemui lyas r.a. sesuai kesepakatan. lyas r.a. berkata, "Sekarang datanglah kepada setiaushaku dan mintalah wangmu kembali. Jika ia memberikannya, ambillah. Namun, jika ia mungkir, katakanlah kepadanya bahwa kau akan melaporkan masalah itu kepadaku."

Lelaki itu pun segera menemui setiausaha itu dan melakukan apa yang disarankan oleh lyas r.a. la berseru, "Kembalikanlah wangku atau kau akan aku laporkan kepada atasanmu!"

Tanpa perlu menunggu lama, setiausaha itu langsung mengembalikan wangnya tanpa menunda. Lelaki itu pun senang bukan main dan merasa penasaran dengan taktik lyas r.a. yang membuat setiausha itu mau mengembalikan wangnya.

Ketika ditanya, lyas r.a. menjawab, "Aku telah menawarkan kepadanya titipan harta yang berlimpah dan ia menyanggupinya. la takut perkaranya denganmu akan mengurangi kepercayaanku kepadanya. Maka ia segera mengembalikan wangmu dengan harapan kau tidak melaporkan perkara tersebut kepadaku."

Lelaki itu pun kagum akan kecerdasan Hakim lyas r.a. Sementara itu, setiausha yang berhati busuk datang menemui lyas r.a. untuk mengambil harta benda yang hendak dititipkan kepadanya.

Namun, kedatangannya disambut dengan gertakan atasannya, "Menjauhlah dariku, wahai pengkhianat!"


TANYAKKALAH HAL YANG BERMANFAAT


Al-Mazni menuturkan, "Jika ada seseorang yang dapat mengeluarkan keraguan yang ada dalam hatiku dan yang melekat dalam benakku tentang Dzat Tuhan, kiranya orang itu adalah Imam Syafi'i.

Kemudian aku pergi menemuinya pada saat ia sedang berada dalam masjid di Mesir.

Ketika telah duduk di hadapannya, kemudian aku berkata, 'Wahai Sang lmam, telah terbetik dalam benakku satu masalah mengenai Dzat Tuhan. Aku pun sadar bahwa tidak ada orang yang lebih berpengetahuan, melainkan engkau. Apakah kautahu masalah tersebut?'

Imam Syafi'i marah mendengar pertanyaanku itu seraya berkata, 'Tahukah di mana engkau sekarang? Ini negeri tempat Allah menenggelamkan Fir'aun! Apakah engkau pernah mendengar bahwa Rasulullah memerintahkan agar engkau menanyakan masalah itu?'

Aku menjawab, 'Tidak.'

'Apakah ada sahabat Nabi yang membicarakan itu?' tanyanya kembali.

'Tidak', jawabku.

'Tahukah engkau ada berapa bintang di langit?'

'Tidak.'

Kemudian ia berkata, 'Sesuatu yang dapat engkau lihat dengan mata telanjangmu saja engkau tidak tahu, mengapa engkau berbicara tentang Dzat Penciptanya?'

Selanjutnya, ia menanyakan kepadaku masalah wudu dan aku salah menjawab pertanyaannya, begitu pula dengan empat masalah yang ia tanyakan, aku tidak bisa memberikan penjelasan dengan benar.

Kemudian ia berkata, 'Sesuatu yang engkau butuhkan dalam satu hari lima kali saja engkau tidak tahu. Mengapa engkau berbicara tentang Dzat Sang Pencipta? Jika terbetik dalam hatimu masalah itu, kembalikanlah kepada Allah dan pada firman-Nya, "Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah [2]: 163). Lalu, ia menunjukkan bukti-bukti yang menunjukkan kebenaran Sang Khaliq.

Setelah itu, ia berkata, 'Janganlah engkau menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak terjangkau oleh akalmu, carilah sesuatu yang bermanfaat bagimu!'

Aku pun bertobat atas masalah itu."


ABU HANIFAH DAN MURIDNYA


Abu Hanifah r.a. memiliki seorang murid bernama Abu Yusuf yang sedang sakit keras. Terakhir kali ia menjenguk, ia melihat keadaan Abu Yusuf makin parah sakitnya. Sepulangnya dari kediaman muridnya, Abu Hanifah r.a. berkata, "Aku pernah berharap agar ia menjadi imam bagi kaum muslimin setelahku. Jika orang-orang sampai kehilangan orang itu, sungguh banyak ilmu menjadi mati!"

Atas izin Allah SWT, Abu Yusuf dikaruniai kesembuhan dan lepas dari penyakitnya. la pun mendengar perkataan guru tentang dirinya. Akhirnya, semangatnya bertambah untuk mengajarkan ilmu hingga perhatian orang-orang pun tertuju kepadanya.

Lalu, ia mengadakan majelis sendiri untuk membahas Fiqih. Namun, sangat disayangkan karena kini ia jarang menghadiri majelis pengajian gurunya, Abu Hanifah r.a.

Berita bahwa muridnya yang dulu sakit telah sembuh dan kini menyelenggarakan majelis pengajian sendiri terdengar oleh Abu Hanifah r.a. la menyayangkan keangkuhan muridnya yang merasa telah cukup ilmunya sehingga tidak mau belajar lebih dalam lagi.

la pun mengutus seorang lelaki untuk menyadarkannya. la meminta tolong kepada lelaki tersebut agar menghadiri majelis muridnya untuk menanyakan pendapatnya tentang kisah seseorang yang membawa kain untuk dicelup dan diberikan kepada tukang celup dengan biaya satu dirham.

Lalu, setelah beberapa hari ia datang kembali untuk mengambil kainnya, tetapi tukang celup itu mengingkari bahwa ia telah mendapat kain untuk dicelupnya seraya berkata, "Tidak ada satu potong kain pun milikmu yang ada padaku."

Pemilik kain pun merasa ditipu. Kemudian di lain waktu ia mencoba datang lagi untuk meminta kembali kainnya. Ternyata kali ini tukang celup itu mau mengembalikan kainnya yang telah dicelup.

Kemudian Abu Hanifah r.a. berpesan kepada lelaki itu, "Nah, tanyakanlah kepadanya, apakah tukang celup itu harus dibayar? Jika Abu Yusuf menjawab harus dibayar, katakan kepadanya, 'Kamu salah!' Jika ia menjawab tidak harus dibayar, katakan juga kepadanya 'Kamu salah!'"

Singkat cerita, lelaki itu mendatangi majelis Abu Yusuf r.a. dan bertanya tentang masalah yang diceritakan oleh Abu Hanifah r.a. kepadanya. Kemudian Abu Yusuf r.a. menjawab, "Tentu saja ia harus dibayar!"

Lelaki itu berkata sesuai pesan Abu Hanifah r.a., "Kamu salah!"

Abu Yusuf r.a. terkejut dan segera meralat jawaban-nya, "la tidak harus dibayar!"

Lelaki itu kembali menjawab, "Kamu salah!"

Karena bingung, Abu Yusuf r.a. segera mendatangi gurunya untuk menanyakan perihal tersebut. Seakan tahu tujuan kedatangan muridnya tersebut, Abu Hanifah r.a. lantas menasihati, "Engkau datang ke sini hanya untuk menanyakan masalah tukang celup? Bagaimana mungkin orang yang duduk memberi fatwa kepada orang-orang dalam satu majelis tentang agama Allah tidak dapat menjawab permasalahan tentang upah?"

Abu Yusuf r.a. langsung menyadari bahwa ilmunya masih sangat kurang untuk menjawab persoalan yang muncul di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, ia meminta gurunya mengajarinya.

Abu Hanifah r.a. menjawab, "Tukang celup tersebut tidak harus dibayar jika ia mencelup pakaian setelah ia berusaha menggelapkannya karena ia mencelup pakaian untuk dirinya sendiri. Akan tetapi, jika ia mencelup pakaian sebelum ia menggelapkannya, upahnya harus dibayar karena ia melakukan pencelupan untuk pemiliknya."

Setelah menjelaskan hukum kes tersebut, Abu Hanifah r.a. kembali berkata, "Barangsiapa merasa tidak perlu belajar, hendaklah ia menangisi dirinya sendiri."


KEPEKAAN SEORANG ISTERI


Ummu Sulaim r.a. adalah ibu Anas r.a. hasil perkawinannya dengan Malik bin Nadhar pada zaman jahiliah. Setelah suaminya meninggal, ia pun menjanda. Abu Thalhah yang pada saat itu masih musyrik hendak melamar Ummu Sulaim r.a. yang telah menjadi seorang muslimah.

Terang saja ia menolak lamaran tersebut sambil berkata, "Abu Thalhah, apakah engkau tidak tahu bahwa yang kamu sembah itu adalah batu yang tidak dapat memberi manfaat atau mudharat kepadamu? Jika kamu bersedia masuk Islam, aku pun bersedia menikah denganmu."

Nasihat tersebut mendorong Abu Thalhah r.a. untuk masuk Islam dan ia menjadikan keislamannya sebagai mahar untuk menikahi Ummu Sulaim r.a.


Dari hasil pernikahannya, mereka dikaruniai putra bernama Abu Umair yang begitu dicintai dan disayangi oleh ayahnya, Abu Thalhah r.a. Begitu pula, Rasulullah saw juga menyayanginya sehingga selalu menemani Abu Umair untuk bercanda dan bermain.

Hingga suatu hari, Ummu Sulaim r.a. mendapati Abu Umair telah meninggal akibat sakit yang dideritanya ketika sang ayah sedang pergi keluar rumah. Bisa dibayangkan perasaan seorang ibu ketika putra tercintanya yang begitu disayang suami dan Rasulullah saw telah tiada meninggalkan mereka.

Namun, ia sama sekali tidak meraung-raung menangis melihat putranya terbaring tak bernyawa. la ikhlas menyadari bahwa putranya itu hanyalah titipan Allah SWT. Justru ia memikirkan perasaan suaminya yang pasti akan sedih mengetahui kepergian putra tercintanya.

Dengan penuh kasih sayang, Ummu Sulaim r.a. memandikan dan mengafani jasad putranya seorang diri, kemudian jenazah anaknya ia baringkan di atas tempat tidur.

Ummu Sulaim r.a. pun mempersiapkan menu buka puasa untuk dihidangkan pada sang suami yang sedang berpuasa. la juga berhias mempercantik diri dan menambah wewangian pada pakaiannya untuk menyambut kepulangan sang suami.

Ketika Abu Thalhah r.a. pulang, Ummu Sulaim r.a. mengajaknya untuk berbuka puasa dengan hidangan istimewa yang telah ia persiapkan. Setelah menyantap hidangan berbuka, Abu Thalhah r.a. teringat akan anaknya dan bertanya, "Ummi, bagaimana keadaan anak kita?"

"Alhamdulillah, ia baik-baik saja. Tidak usah kau risaukan," jawab sang istri menenangkan. Ummu Sulaim r.a. sedang mengatur waktu yang tepat untuk memberitahukan tentang berita duka tersebut kepada suaminya.

Pada malam harinya, Ummu Sulaim r.a. melayani sang suami dan menanti sang suami bangun dari lelapnya. Ketika Abu Thalhah r.a. terbangun, Ummu Sulaim r.a. melihat keadaan suaminya yang tenang dan sepertinya siap untuk menerima keadaan yang mungkin bisa menghancurkan hatinya. Dengan lembut Ummu Sulaim r.a. berkata, "Wahai suamiku, aku mempunyai pertanyaan untukmu."

"Apakah itu?" tanya Abu Thalhah r.a.
"Seandainya seseorang menitipkan suatu barang, kemudian ia ingin mengambilnya, haruskah orang yang dititipi mengembalikan barang tersebut kepada pemiliknya?"
"Tentu saja. Dia harus mengembalikannya. la tidak berhak untuk menyimpannya!" jawab suaminya mantap.
Ummu Sulaim r.a. melanjutkan, "Wahai suamiku, Allah SWT telah menitipkan Abu Umair kepada kita dan Dia telah mengambilnya kembali."

Abu Thalhah r.a. terkejut mendengar berita itu. Kesedihan langsung merasuk ke dalam sukmanya. "Mengapa engkau tidak mengatakannya sejak tadi malam?" sesal Abu Thalhah r.a.

Peristiwa itu Abu Thalhah r.a. ceritakan kepada Rasulullah saw. Namun, beliau langsung mendoakan mereka berdua, "Semoga Allah SWT memberkahi hubungan kalian berdua tadi malam."

Salah seorang sahabat Anshar memberi kesaksian, "Saya menyaksikan berkah dari doa Rasulullah saw. tersebut. Ummu Sulaim r.a. melahirkan Abdullah bin Abu Thalhah r.a. dari hubungan tersebut. Abdullah bin Abu Thalhah r.a. memiliki sembilan orang anak yang seluruhnya hafiz Al-Qur'an." Subhanallah.


NASIHAT ULAMA UNTUK PARA GURU DAN ANAK - ANAK


Amr bin Utbah berkata kepada guru anaknya, "Hendaklah yang pertama engkau lakukan dalam memperbaiki anakku adalah terlebih dahulu memperbaiki dirimu sendiri.

Sebab pandangan matanya terikat dengan pandangan matamu. Jadi, yang baik bagi mereka adalah apa yang engkau lakukan dan yang buruk baginya adalah yang engkau tinggalkan."

"Ajarilah ia kitab Allah dan janganlah dipaksakan agar ia tidak jemu padanya. Namun, janganlah sampai ditinggalkan Kitab Allah itu agar ia tidak menjauhinya."

"Ajarilah ia hadis Nabi saw. dan juga sastra. Janganlah berpindah dari satu ilmu ke ilmu lain sebelum ia benar-benar menguasainya. Sebab menumpuknya pengetahuan di kepala akan membuat kesibukan di mulut."

"Ajarilah kata-kata mutiara dari orang-orang bijak dan jauhkan dari pergaulan dengan perempuan."

"Terhadap anak didik, jadilah seperti dokter yang segera menyediakan obat hingga penyakit diketahui. Jangan memasrahkan segalanya kepadaku karena takut disalahkan sebab aku telah memasrahkan kepercayaan kepadamu."

Al-Hajjaj juga memberikan pesan kepada guru anak-anaknya dengan berkata, "Ajarilah mereka renang sebelum diajari menulis. Sebab mereka dapat menemukan orang yang dapat menuliskan untuk mereka, tetapi tidak dapat menemukan orang yang dapat renang untuk mereka."

Adapun Umar bin Khatthab r.a. menulis surat kepada penduduk Syam untuk menghimbau agar mendidik anak-anak mereka dengan berkata, "Ajarilah anak-anak kalian renang, memanah, dan naik kuda. Ajarilah mereka kata-kata mutiara yang berlaku di tengah mereka dan juga puisi yang baik."

Sedangkan, nasihat orang tua kepada anaknya, antara lain sebagai berikut.

Urwah bin Zubair r.a. berpesan kepada anak-anaknya, "Wahai anakku, tuntutlah ilmu meskipun kalian masih kecil sebab kalianlah yang akan menjadi tokoh nantinya. Siapakah yang lebih jelek dari seorang tua renta yang bodoh?"

Di antara wasiat Luqman Al-Hakim kepada anaknya,

"Wahai anakku, duduklah bersama para ulama dan mendekatlah kepada mereka dengan kedua lututmu karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati-hati (manusia) dengan cahaya hikmah, sebagaimana Allah menghidupkan bumi yang mati (kering) dengan hujan yang deras."


PENYEBAB GAGAP AL JUWAINI, IMAM MAZHAB SYAFII


Syekh Dr. Muhammad Al-'Arifi menukil sebuah cerita dari Imam Adz-Dzahabi ketika beliau mengisahkan tentang Imamul Haramain, Abdul Malik bin Abdullah Al-Juwaini r.a., katanya, "Konon Al-Juwaini jika berkhotbah atau berdebat, kadang mengalami kesulitan bicara atau gagap dan tertegun sejenak. Lidahnya seakan kelu dan kaku, tak mampu melanjutkan ucapannya. Jika hal itu terjadi, ia berkata kepada orang-orang, Demi Allah, aku tahu sebab dari kegagapanku ini."

"Apa sebabnya?" tanya mereka.
la menjawab, "Dahulu, ayahku adalah seorang saleh dan berilmu. la berprofesi sebagai mu'alim (guru atau syekh).

Ayahku sungguh berhati-hati dalam mencari penghasilan halal. la tidak pernah memasukkan sesuatu pun ke dalam rumahnya, kecuali yang diyakini benar kehalalannya. la melarang ibuku untuk menyusukanku kepada wanita lain".

Ayah memberi alasan kepada ibu, "Aku yakin bahwa makanan, minuman, dan pakaianmu semua halal. Namun, wanita lain aku tak tahu, dari mana suaminya menafkahinya.

Jadi, hati-hatilah jangan sampai anak ini disusui atau diberi makan orang lain!" perintah ayah kepada ibuku.

Namun, pada suatu hari, aku ditinggalkan di ruang depan oleh ibuku yang sedang berada di dalam rumah. Aku pun mulai merengek dan menangis. Tiba-tiba masuklah seorang sahaya wanita milik tetangga yang baru saja melahirkan dan sedang menyusui.

la pun menggendongku dan menyusuiku hingga tangisku reda. Ketika itu pula, datanglah ayahku dan langsung merebutku dari buaian hamba sahaya tersebut. la langsung memasukkan jarinya ke dalam tenggorokanku hingga kumuntahkan apa yang ada di dalam perutku.

Ayahku berkata kepadanya, "Engkau adalah sahaya wanita milik tetangga kami. Seluruh bagianmu adalah milik mereka, sedangkan kami belum meminta izin kepada mereka mengenai air susu darimu!"

Demi Allah, aku mendengar sendiri cerita ini dari ayahku dan aku yakin bahwa kegagapanku ini ialah karena air susu yang masih tersisa dalam perutku," kata Al-Juwaini r.a. mengakhiri kisahnya.

Juga hal itu juga menimpa Abu Hanifah r.a. sehingga ia juga mengalami sulit bicara.


Isnin, 26 Mac 2018

HIKAM ATHAILLAH SYARAH USTAZ AHMAD MUNTAHA AM KE 35 (A) : Mawas Diri Dalam Islam


Kadang di hati terbersit, ‘Mengapa kita begitu mudah melakukan maksiat? Mengapa kita sering melalaikan Tuhan? Mengapa kita sangat berhasrat memenuhi segala syahwat?’ Sementara orang lain tampak khusu’ dalam ketaatan beribadah, kesadaran mengingat Tuhan dan sangat terjaga dari maksiat?

Dalam konteks ini Ibn Abdilah as-Sakandari menyampaikan hikmah:

Menurut Kalam Hikmah ke 35 (A) Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary   

“Asal setiap maksiat, kelalaian dan syahwat adalah kerelaan menuruti nafsu; dan asal setiap ketaatan, kesadaran dan terjaga maksiat adalah dirimu ketidakrelaan menuruti nafsu.”

Kenapa bisa demikian? Merujuk penjelasan Ibn ‘Abbad ar-Randi (Syarh al-Hikam, 31), sebab orang yang memandang dirinya sebagai orang baik niscaya tidak akan melihat berbagai aib dan kekurangannya, sehingga akan menuruti berbagai syahwat, semakin lupa dengan Tuhan dan terus terjebak dalam kenikmatan maksiat yang semu belaka. Jauh dari sikap mawas diri.

Lain halnya dengan orang selalu mawas diri yang memandang dirinya sebagai pribadi yang penuh kekurangan, niscaya akan selalu curiga terhadap dirinya, tidak menuruti berbagai rayuan nafsu untuk mencicipi maksiat, sehingga selalu menyadari pengawasan Tuhan serta asik khusu’ dalam ketaatan terhadap Sang Pencipta, selaras syair populer karya Abdullah bin Mu’awiyyah (w. 129 H/746 M) yang didendangkan dari penjara:

“Pandangan kerelaan membutakan dari setiap kekurangan dan pandangan kebencian akan menampakkannya.”

Kita Orang Baik?
Karenanya, masihkah kita PD (percaya diri) menganggap diri kita sebagai orang baik, shaleh, alim dan suci, sementara Allah telah menfirmankan:

“Maka jangan anggap diri kalian suci. Allah Maha Mengetahui siapa orang yang bertakwa.”  (QS. an-Najm: 32)

Baca Juga: Nabi: Segar Jasmani dan Ruhani untuk Melihat Allah (Hikam-33)

Begitu pula Nabi Muhammad —shallallahu ‘alaihi wa sallam— bersabda:
 “Ada tiga (3) hal yang membinasakan manusia: “Kekaguman orang pada dirinya sendiri, kikir yang diikuti dan hawa nafsu yang dituruti.” (HR. al-Baihaqi dan selainnya. Dha’if)

Teladan Ulama
Selain itu, banyak pula teladan ulama yang sampai kepada kita, bagaimana mereka sibuk meneliti aib dan kekurangan diri, serta selalu mawas diri dari penyimpangan nafsu.

Dalam hal ini Abu Hafsh Umar bin Maslamah al-Haddad (w. 264 H)—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

“Sejak 40 tahun lalu, aku meyakini diriku bahwa Allah memandangku dengan pandangan kemurkaan dan berbagai amalku memang menunjukkan demikian.”

Sementara Siri as-Saqathi (w. 253 H/867 M), sufi agung guru sekaligus paman Imam al-Junaid al-Baghdadi berkata:

“Sungguh tiap hari aku (bercermin) melihat wajahku berulang kali, sebab khawatir wajahku menjadi hitam pekat karena siksaan yang akan aku terima.”

Bila demikian kekhawatiran ulama terhadap diri mereka, bagaimana dengan kita? Apakah kita selalu mawas diri?

Menurut Kalam Hikmah ke 35 (B) Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary   

Manfaat Utama Pergaulan
“Pergaulanmu dengan orang bodoh yang tidak menuruti nafsunya lebih baik dari pergaulanmu dengan orang pandai yang menuruti nafsunya. Karenanya, ilmu mana sebenarnya yang dimiliki orang pandai yang menuruti nafsunya? Kebodohan mana sebenarnya yang dimiliki orang bodoh yang tidak menuruti nafsunya?”
Ini berangkat dari manfaat utama pergaulan dalam persektif para sufi, yaitu bagaimana pergaulan dapat semakin mendekatkan seseorang kepada Allah. Karenanya sangat penting memilih teman sejati, sesui sabda Nabi Muhammad —shallallahu ‘alaihi wa sallam— :
“Seseorang identik dengan agama kekasihnya, maka lihatlah salah seorang dari kalian siapa yang menjadi kekasihnya.” (HR. at-Tirmidzi dan ia nilaih hasan)

Seiring pula dengan untaian kata penyair kenamaan asal Damaskus Syiria, ‘Adi bin Zaid (w. 95 H/714 M):

“Jangan tanya langsung seseorang, tapi tanyalah temannya. Sebab setiap orang akan mengikuti orang yang menjadi temannya.”

Dalam Syarh al-Hikam (32-33) Ibn ‘Abbad lebih lanjut menjelaskan, bergaul dengan orang yang sering menuruti hawa nafsu meskipun alim merupakan bahaya besar dan tidak ada manfaatnya sama sekali. Sebab ilmunya tidak bermanfaat bagi dirinya sendiri. Kebodohan yang menggiringnya hingga sering menuruti bujukan nafsu pun sangat membahayakan. Dalam kondisi seperti ini, seolah-olah ia tidak berilmu.

Sebaliknya, bergaul dengan orang bodoh yang tidak menuruti hawa nafsu merupakan kebaikan yang sangat nyata, sebab kebodohannya tidak membahayakan, sementara pengetahuan yang mengarahkannya untuk tidak menuruti nafsu sangat bermanfaat, baik untuk dirinya maupun teman sepergaulannya. Karennya, dalam kondisi seperti ini seolah-olah ia tidak bodoh sama sekali.

Hikmah Utama
Karenanya, yuk kita belajar sedikit demi sedikit untuk tidak mudah menuruti rayuan nafsu, belajar mawas diri, agar semakin ingat terhadap Ilahi dan semakin mudah melakukan ketaatan diri. Beruntung sekali bila mendapatkan atau menjadi teman sejati, teman yang menginspirasi. Semakin mawas diri semakin menginspirasi.

HIKAM ATHAILLAH SYARAH SYEIKH PASANTREN KE 35 (A) : POKOK SEGALA MAKSIAT


Menurut Kalam Hikmah ke 35 (A) Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary   

 “ Pokok dari semua maksiat dan kelalaian serta syahwat itu kerana redha kepada (ingin memuaskan) hawa nafsu. Sedang pokok dari semua keta’atan, kesedaran dan kesopanan akhlak budi ialah kerana engkau tidak redha kepada (mengekang/tidak ingin memuaskan) hawa nafsu.

Mengekor Hawa Nafsu

Mengikuti hawa nafsu ialah berjalan di belakang mengikuti keinginan nafsu. Sedangkan menurut syara’ mengikuti hawa nafsu ialah berjalan di belakang kehendak nafsu dan ambisinya tanpa pengendalian akal. Bahkan terkadang tidak rasional atau tanpa selaras dengan syara’ dan tidak diperhitungkan akibatnya.
Mengikuti hawa nafsu akan membawa manusia kepada kerusakan. Akibat pemuasan nafsu jauh lebih mahal ketimbang kenikmatan yang didapat darinya. Hawa nafsu yang tidak dapat dikendalikan juga dapat merusak potensi diri seseorang.
Hawa nafsu, suatu kata yang sering sekali kita mendengarnya di kehidupan kita. Al Imam Asy Sya’bi rahimahullah berkata: “Sesungguhnya kenapa dinamakan hawa nafsu adalah karena dia menyeret seorang hamba ke dalam neraka.
Banyak sekali celaan dan hinaan bagi para pengikut, penghamba, pengekor hawa nafsu, shahabat yang mulia Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: “Tidaklah Allah menyebutkan kata hawa di berbagai tempat di dalam Al Qur’an kecuali mencelanya!”

Mengekor kepada hawa nafsu menjadikan seseorang tenggelam kedalam keasyikan memenuhi selera rendahnya tanpa mempertimbangkan resiko yang akan diperolehnya. Orang-orang yang mengekor apa yang dimaui oleh hawa nafsu menjadikan mereka lupa diri bahwa apa yang diperbuatnya dalam memenuhi keinginan-keinginan dan kehendak-kehendak nafsunya tidak akan merasa pernah terpuaskan kecuali ajal datang menjemput. Banyak kejadian yang menimpa orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu berakhir pada ujung yang hanya memberikan kesengsaraan dan penyesalan. Berapa banyak orang-orang yang tertimpa penyakit akibat perzinahan , berapa banyak orang yang menjadi korban dari minuman keras dan narkoba, berapa banyak korban akibat tindakan korupsi, berapa banyak orang yang menjadi korban perjudian, dan berapa banyak orang-orang yang menjadi korban berbagai kasus karena hanya memenuhi tuntutan hawa nafsu.
Maka sungguh akibat yang dihasilkan oleh hawa nafsu sangat merugikan di dunia dan di akhirat, di dunia dia terhalang dari kebenaran sebagaimana yang telah dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu: “Dua perkara yang aku takutkan akan menimpa kalian panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu, karena sesungguhnya panjang angan-angan melupakan kita dari akhirat adapun mengikuti hawa nafsu menghalangi seseorang dari kebenaran.”
Bahkan dengannya bisa menyeret seseorang ke dalam neraka sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam tentang seorang hakim (pengambil keputusan) ketika di dalam menjalankan tugas dan mengambil keputusan dia dikalahkan oleh hawa nafsunya, Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
Sunan Abu Daud 3102: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hassan As Samti telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Khalifah dari Abu Hasyim dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Hakim itu ada tiga; satu orang di Surga dan dua orang berada di Neraka. Yang berada di surga adalah seorang laki-laki yang mengetahui kebenaran lalu menghukumi dengannya, seorang laki-laki yang mengetahui kebenaran lalu berlaku lalim dalam berhukum maka ia berada di Neraka, dan orang yang memberikan keputusan untuk manusia di atas kebodohan maka ia berada di Neraka." Abu Daud berkata, "Hadits ini adalah yang paling shahih dalam hal tersebut, yaitu Hadits Ibnu Buraidah yang mengatakan; Hakim ada tiga…."
Dampak Mengikuti Hawa Nafsu

Mengikuti hawa nafsu bisa berdampak negatif, membahayakan dan bahkan bisa mencelakakan terhadap manusia Adapun dampak negatif tersebut, adalah :

1.Hilangnya keta’atan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan rasul-Nya.
Sesungguhnya, orang yang mengikuti hawa nafsu akan bersikap kaku, bahkan congkak, tidak mau taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Segala perintah syari’at diabaikan sedangkan larangan larangan syari’at yamng semestinya ditinggalkan malah jadi pekerjaan sehari-hari.

2.Tidak dapat lagi membedakan mana-mana yang halal yang dibolehkan syari’at dan mana-mana yang haram yang tidak boleh dikerjakan.

3.Menimbulkan penyakit hati, angkuh dan menjadi mati.
Seorang hamba nafsu akan tenggelam ke dalam kemaksiatan, dari ujung kepala hingg ujung kaki, hingga menimbulkan bekas yang buruk dan berbahaya pada hatinya (qalbunya). Sehingga bisa menjadi penyakit.

4.Hina dengan dosa-dosa.
Manusia yang telah menjadi budak nafsu, yang telah beku dan kaku hatinya, yang telah mati perasaannya akan menjadi terhina. Dia menjadi orang yang tidak peduli terhadap dosa dan maksiat.

5.Tidak menerima nasihat dan petunjuk
.Sungguh, tidaklah bakal ada kebaikan dalam suatu masyarakat apabila tidak saling menasihati, memberi petunjuk dan menerima petunjuk. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
 Maka jika mereka tidak menjawab (panggilan) ketahuilah bahwa sesung- guhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesung- guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS.Al Qashash :50).

6.Melakukan bid’ah dalam agama Allah.
Sesunggguhnya budak hawa nafsu itu lebih dekat kepada perbuatan yang membahayakan. Mereka tidak menyukai cara beragama yang benar sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan agar apa yang menjadi kecenderungan nafsu mereka bisa terlaksana, maka mereka melakukan perbuatan bid’ah (mengada-ada) dalam urusan agama. Mereka membuat aturan-aturan sendiri, diluar syari’at yang telah digariskan. Asalkan sesuai dengan hawa nafsu atau selera mereka.

7.Sesat dan tiadanya hidayah kepada jalan yang lurus.
Orang yang mengikuti hawa nafsu sangat mudah diperlakukan oleh syahwat dan berbagai keinginannya. Maka, diapun akhirnya bersikap menyimpang dari petunjuk agama.

8.Menyesatkan manusia, menjauhkan dari jalan-Nya.
Bahaya lain yang ditimbulkan pelaku yang mengikuti hawa nafsu,yaitu bisa menular kepada orang lain sehingga menambah jumlah para pelaku ittiba’ul hawa.

9.Akhir dari semua perbuatan mengikuti hawa nafsu adalah berujung kepada masuk kedalam neraka jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Mengontrol dan Melawan Hawa Nafsu
.
Dalam kitabnya Manejemen Qalbu Ulama salaf Syaikh DR. Ahmad Farid mengemukakan bahwa cara mengatasi dominiasi nafsu amarah terhadap hati orang mukmin adalah dengan cara mengontorolnya dan melawannya. Disebutkan pula bahwa Imam Ahmad ada meriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab radhyallahu’anhu berkata : Hisablah dirimusebelum kamu dihisab. Timbanglah amalmuj sebelum kami ditimbang. Karena akan lebih mudah bagimu kelak pada waktu dihisab itubila sedkarang kamu memngisab dirimu sendiri. Dan berhiaslah untuk menghadapi hari dimana kamu akan ditampilkan di muka umum tanpa ada sedikit pun yang tersembunyi darimu.
Kemudian dikemukakan pula bahwa Al-Hasan berkata : “Orang mukmin adalah orang yanmg selalu mengendalikan nafsunya. Ia mengontrol n afsunya karena Allah. Sesungguhnya hisab ( perhitungan amal ) pada hari kiamat akan terasa ringan bagi orang yang menyikapi masalah ini dengan penuh perhitungan.
Lebih lanjut disebutkan bahwa mengontor nafsu itu ada dua macam yaitu sebelum dan sesudah berbuat. Kontrol yang pertama adalah berhenti pada awal memikirkan dan menginginkan sesuatu. Ia tidak tergesa-gesa berbuat sebelum ia mendapat kepastian bahwa melakukannya lebih baik daripada meninggalkannya.
Al-Hasan rahimahullah berkata : “ semoga Allah menyayangi orang yang berhenti pada keinginannya; bila ternyata untuk Allah, ia akan melaksanakannya dan bila ternyata untuk selain Allah, ia akan mundur “
Sedangkan kontrol yang kedua adalah mengontrol nafsu setelah melakukan sesuatu tindakan. Ini dibedakan menjadi 3 macam yaitu :

1.Mengontrol nafsu atas ketaatan ( baca : ibadah ) yang dilaksanakannya dengan tidak semestinya, dimana dalam pelaksaan ibadahnya ia telah mengurangi hak Allah di dalamnya. Antara lain mungkin ia tidak ikhlas, tidak mengikuti sunnah. Jadi dalam hal ini ia mengontrol nafsunya apakah ia telah memenuhi hak Allah tersebut. Dan apakah ia menunaikan hak-hak tersebut di dalam ketaatan.

2.Mengontrol nafsunya atas setiap amal perbuatan yang sebenarnya lebih baik ditinggalkan dari pada dilakukan.

3. Mengontrol nafsu atas perbuatan mubah yang dilakukannya, mengapa ia melakukannya ? Apakah perbuatan itu ditujukan untuk meraih ridha Allah dan kebahagiaan di akhirat, sehingga ia menjadi orang yang beruntung ? Ataukah ditujukan untuk kepentingan dunia, sehingga ia merugi dan tidak dapat keuntungan dari apa yang dikerjakannya tersebut.

Selain itu ada pula orang yang teledor, tidak melakukan control , lepas kendali, meremehkan masalah dan beradaptasi dengannya. Kondisi semacam ini akan berakhir dengan kebinasaan. Ini adalah kondisi orang yang terlena, menutup matga terhadap apa yang terjadi di kemudian hari dan mengandalkan hanya pengampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sehingga ia tidak mau mengontrol nafsunya dan enggan melihat akibat perbuatannya.

Inti dari seluruh apa yang diutarakan diatas adalah bahwa setiap orang harus mengontrol nafsunya terlebih dahulu dalam melaksanakan ibadah-ibadah yang fardhu. Jika diketemujkan kekurangan, ia harus menambalnya dengan perbaikan. Kemudian ia mengontrol nafsunya dalam hal larangan –larangan, jika ternyata terdapat perbuatan yang melanggar larangan ia harus menambalnya dengan taubat, istighfar dan melaksanakan kebajikan –kebajikan yang bisa menghapus keburukan.

Setelah itu ia harus mengontrol nafsunya atas kelalaiannya. Jika ia telah lalai dari tujuan diciptakannya manusia , ia harus menambalnya dengan dzikir dan menghadap Allah subhanahuj wa ta’ala . Selanjutnya ia harus mengontrol nafsunya atas apa yang diucapkannya, langkah yang dijalani kakinya, kekerasan yang dilakukan tangannya, atau apa yang didengar telinganya ; apa yang diinginkannya dengan perbuatan itu? Untuk apa ia melakukannya? Dan Bagaimana ia melakukannya ?

HIKAM ATHAILLAH SYARAH SYEIKH PASANTREN KE 35 B

Dan sekiranya engkau berkawan seorang bodoh yang tidak menurutkan hawa nafsunya, lebih baik daripada berkawan dengan orang alim yang selalu menurutkan hawa nafsunya. Maka ilmu apakah yang dapat digelarkan bagi seorang alim yang selalu menurutkan hawa nafsunya itu, sebaliknya kebodohan apakah yang dapat disebutkan bagi seorang yang sudah dapat mengekang (menahan) hawa nafsunya.

Sufyan Astsaury berkata, 

“Siapa yang bergaul dengan orang banyak harus mengikuti mereka, dan siapa mengikuti mereka harus bermuka-muka pada mereka, dan siapa yang bermuka-muka kepada mereka, maka binasalah seperti mereka pula.”

Hati-hatilah atau tinggalkan sahaja sahabat seperti di bawah:
1.    Sahabat yang tamak   : ia sangat tamak, ia hanya memberi sedikit dan meminta      yang banyak, dan ia hanya mementingkan diri sendiri.
2.    Sahabat yang hipokrit: ia menyatakan bersahabat berkenaan dengan hal-hal lampau, atau hal-hal mendatang; ia berusaha mendapatkan simpati dengan kata-kata kosong; dan jika ada kesempatan membantu, ia menyatakan tidak sanggup.
3.    Sahabat pengampu    : Dia setuju dengan semua yang kamu lakukan tidak kira betul atau salah, yang parahnya dia setuju dengan hal yang tidak berani untuk menjelaskan kebenaran, di hadapanmu ia memuji dirimu, dan di belakangmu ia merendahkan dirimu.
4.    Sahabat pemboros dan suka hiburan: ia menjadi kawanmu jika engkau suka pesta, suka berkeliaran dan ‘melepak’ pada waktu yang tidak sepatutnya, suka ke tempat-tempat hiburan dan pertunjukan.


KITAB AL- HIKAM ATHAILLAH SYARAH SYEIKH ABDEL MAGUUEB AL AZHARY KE 35 : ASAL MUASAL MAKSIAT


Menurut Kalam Hikmah ke 35 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary

Asal setiap dosa, pengawasan, dan keinginan, sukacitanya dengan diri sendiri, dan asal-usul setiap ketaatan, wawasan dan kesucian adalah rasa tidak puas hati dengannya. Untuk mengiringi rasa tidak puas hati sendiri dan buta terhadap faedah anda lebih daripada mengiringi seorang ulama sendiri gembira. Apa ilmu tidak seorang ulama yang gembira dengan dirinya ? dan bagaimana dia jahil rasa tidak puas hati yang buta  dengan dirinya?

Mengenai diri sendiri dengan kepuasan , kandungan dan keseronokan memerlukan menghadap kelemahan dan berpura-pura keburukan adalah baik. Sebagai rasa tidak puas hati dan tidak berpuas hati dengan ia adalah yang berlawanan, dan ia berkata:

Mata kandungan adalah buta kepada setiap kecacatan
dan mata rasa tidak puas hati memaparkan semua kesilapan.

Sesiapa yang berpuas hati dengan dirinya akan suka apa keadaan ia  dan akan meluluskan segala-galanya ia. Dia akan mengabaikan Tuhan, dan hatinya akan mengabaikan Tuhan-Nya, dan keinginan akan mengatasi dan dia pasti akan melampaui batas dan sesat, kerana kekurangan pemantauan dan kawalan dari hati.
Pengawasan dan keinginan adalah untuk dosa sebagai sebab kepada kesan dan begitu juga adalah wawasan dan kesucian kepada ketaatan. Mengingatkan diri kepada apa yang dikehendakiNya Tuhan dan kesucian menaikkan wasiat di atas nafsu.
Mereka kedua-duanya membawa kepada ketaatan, berikutan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Rasa senang dengan diri adalah asal-usul setiap dosa dan maksiat.
Diri ini menghasut kepada kejahatan, dan sentiasa ada musuh yang sentiasa menemani, seperti dalam Hadis: "Musuh terburuk anda adalah diri anda yang berada di antara dua lambung anda".

Dan merenungkan apa yang  Nabi Yusuf as berkata: "Aku tidak membebaskan diriku dan sesungguhnya jiwa sentiasa menghasut kepada kejahatan,, ... [00:53]".
Dan semoga Tuhan memberkati Al-Buseiry yang berkata:
Dan menentang diri dan syaitan dan mereka menderhaka
dan jika kedua-dua menasihati anda, menjadi yang mencurigakan,
dan tidak taat kepada mereka, sama ada sebagai musuh atau sebagai hakim untuk anda tahu  musuh dan hakim-hakim.

Senang dengan keputusan diri dari ilmu duniawi yang tidak menunjukkan kelemahan diri ini.
Mengiringi yang rasa tidak puas hati sendiri buta faedah anda lebih daripada untuk mengiringi seorang sarjana dalam ilmu duniawi yang gembira dengan 'diri' beliau.
Pahala dari persahabatan hasil daripada pengetahuan Kehebatan Tuhan, Mungkin, dan Kemuliaan, yang menyebabkan dari mengetahui diri dan kelemahan dan kekurangannya.
Apa ilmu yang bermanfaat tidak seorang sarjana ilmu duniawi yang gembira dengan diri beliau mempunyai? Dan apa kejahilan berbahaya mempunyai buta huruf yang tidak puas hati dengan dirinya mengetahui kelemahan dan kekurangannya? Walaupun pengetahuan adalah terhad, ia pasti akan berkembang dengan masa.
Mureed perlu hanya menemani dia yang mengetahui kecacatan dirinya dan ketidaksempurnaan dan rasa tidak puas hati dengan itu, untuk mengikuti bimbingan beliau dalam perbuatan, kerana tabiat dalam berjangkit. Sebagai sebahagian berkata:
tidak menanyakan tentang orang itu tetapi bertanya tentang kawannya
untuk setiap teman berikut syarikatnya
dan jika anda adalah antara orang-orang, kemudian menemani terbaik
dan janganlah kamu mengikuti terburuk mereka supaya kamu tidak binasa dengan mereka yang jahat

HIKAM ATHAILLAH SYARAH PROF KH DR WALY KE 35 : Pokok Pangkal Taat dan Maksiat


Menurut Kalam Hikmah yang ke 35, Al-Imam Ibnu Atha'illah Askandary:

"Pokok pangkal setiap maksiat, setiap syahwat dan setiap kelalaian itu ialah redha terhadap nafsu. Dan pokok pangkal setiap taat, terpelihara dari dari syahwat dan bangun pada taat iaitu tidak redha anda terhadap nafsu.

Demi sesungguhnya jika anda bersahabat dengan orang jahil yang tidak redha ia terhadap nafsu adalah lebih baik bagimu daripada bersahabat dengan orang alim yang menjadikan nafsu sebagai tunggangan."

Definisi maksiat ialah:
"perlanggaran terhadap perintah Allah yang wajib."
Misalnya Allah memerintahkan kita mengerjakan sembahyang, puasa dan lain-lain, tetapi tidak dipatuhi, ia dikatakan sedang bermaksiat, iaitu durhaka terhadap perintah Allah.

Namun apabila tidak mengakui bahawa itu perintah Allah, maka hukumnya bukan sekadar maksiat sahaja tetapi telah kufur. Maka berhati-hati dalam hal ini.

Definisi Syahwat ialah :
"melepaskan keinginan (berserta nafsu) pada mencari sesuatu yang dirasakan enak dan lazat."

Jadi yang dimaksud dengan syahwat ialah lepas hati dan perasaan dari tanggungjawab terikat dengan agama. Ayat paling mudah dijelaskan ialah, setiap keinginan berpunca dari syahwat, ia mesti dikawal mengikut kehendak agama. Syahwat keinginan bersetubuh, dikawal melalui pernikahan.

Boleh tidur sepuas-puasnya tetapi dikawal dalam landasan agama dengan tidak mengabaikan solat dan kewajiban lainnya.

Definisi Al-Ghaflatu (kelalaian) ialah:
"melengahkan segala hak yang diwajibkan."

Perkataan paling mudah ialah tidak ada perhatian terhadap hak-hak agama, baik yang sifatnya sunnat maupun yang disifatkan wajib. Dan semua hak itu dianggap sebagai tidak ada, kerana dorongan hawa nafsu yang menimbulkan malas untuk beramal dan beribadat.

Apabila kita telah tahu definisi maksiat, syahwat dan kelalaian, dari manakah pokok pangkalnya tiap-tiap hal keadaan ini?

Pokok pangkalnya ialah apabila kita redha kepada hawa nafsu, menurut hawa nafsu, memenuhi tuntutannya diluar landasan agama.

Pada ketika itu kita tidak melihat kekurangan diri, keaiban diri dan ini akan menyebabkan :

1) kita akan merasa diri kita sentiasa benar.
2) kita sayang pada diri dan bukan sayang pada agama dan kepentingan masyarakat.

HIKAM ATHAILLAH SYARAH USTAZ BESTARI KE 35 : AKAR PUNCA KEPATUHAN DAN KEINGKARAN


Menurut Kalam Hikmah ke 35 Al - Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:

Mafhumnya : Asal usul setiap maksiat atau keengkaran, setiap keinginan syahwat dan setiap kelalaian ialah redha atau berpuas hati dengan runtunan nafsu.Sementara itu asal usul setiap kepatuhan,pengendalian keinginan nafsu dan kesedaran batin adalah lantaran ketidakrelaan anda terhadap runtunan nafsu.

Justeru itu seandainya anda bertemankan seseorang yang jahil yang tidak redha dengan runtunan nafsunya adalah lebih baik daripada anda bertemankan  seorang yang ‘alim tetapi  yang tunduk kepada keinginan nafsunya. Sehubungan ini manakah ilmu yang boleh memberi manfaat kepada seseorang yang ‘alim tetapi masih redha dengan nafsunya. Demikian juga apakah jenis kejahilan yang boleh merosakkan orang yang jahil, tetapi dia tidak redha dengan runtunan nafsunya.

 •      Maksiat atau keengkaran menurut istilah syara’ ialah;
Ertinya : Pelanggaran terhadap perintah Allah yang wajib dilaksanakan.
•       Syahwat pula ialah :
Bermaksud: Melepaskan keinginan beserta nafsu di dalam mengejar sesuatu yang dirasakan enak dan lazat.
•       Al-Ghaflah atau kelalaian ialah :
bererti : Mengabaikan dari melaksanakan hak-hak yang wajib dan sunat akibat daripada digoda oleh hawa nafsu.

•       Tiga tanda bahawa seseorang itu telah ditimpa oleh penyakit redha dan cenderung mengikut runtunan nafsu yang mengaibkan itu;
1.     Keegoan atau keakuan yang menyebabkan seseorang itu sentiasa menyangka dirinya benar.
2.     Mementingkan diri lebih daripada menyayangi agama dan masyarakat.
3.     Selalu memaafkan diri walaupun telah bergelumang dengan kemaksiatan tanpa merasa kesal,jauh sekali daripada usaha untuk bertaubat.
 •      Kepatuhan atau ketaatan ialah :
Maknanya:  Mengakuri dan merelai segala perintah Allah yang meliputi perkara-perkara wajib dan sunat.
•       Al-’Iffah pula ialah :
Ertinya : Sentiasa memelihara diri daripada sifat-sifat yang merendahkan mertabat serta daripada sifat-sifat yang hina dan tercela atau meninggikan hemah daripada semua syahwat
•       Al-Yaqazah ialah  :
Ertinya : Memasuki pekarangan hadirat Allah dan sentiasa berkesedaran untuk mencapai keredhaanNya.
•       Al-Quran mengemukakan garis panduan untuk mengenalpasti siapakah yang berjaya mengendalikan nafsu ? dan siapa pula yang kecundang menghadapinya ?

Antara firman Allah SWT yang sejajar dalam hal ini ialah ;
 1.Maksudnya: Adapun orang yang yang takutkan keadaan semasa dia berdiri di mahkamah Tuhannya untuk dihisab,serta dia menahan dirinya dari menurut hawa nafsu,maka sesungguhnya syurgalah tempat kediamannya ( di akhirat kelak ).(Surah al-Nazi’at ayat 40-41).

Mafhumnya : Dengan yang demikian,bagaimana fikiranmu ( wahai Muhammad ) terhadap orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan yang dipatuhinya,dan dia pula disesatkan oleh Allah kerana diketahuinya bahawa dia tetap kufur engkar,dan dimeterikan pula atas pendengarannya dan hatinya,serta diadakan lapisan penutup atas penglihatannya ? Maka siapakah lagi yang dapat memberi hidayah pertunjuk kepadanya  selain daripada Allah ? Oleh itu ,mengapakah kamu wahai orang-orang yang engkar tidak mahu beringat dan insaf ? ( Surah al-Jathiah aya 23 )

Mafhumnya : Dan tiadalah aku berani membersihkan diriku;sesungguhnya nafsu manusia itu sangat menyuruh melakukan kejahatan,kecuali orang-orang yang telah diberi rahmat oleh Tuhanku.Sesungguhnya Tuhanku amat pengampun,lagi amat mengasihani.” ( Surah Yusuf ayat 53 ).

Mafhumnya : Dan aku bersumpah  dengan nafsu lawwamah ( bahawa kamu akan dibangkitkan semula selepas mati ) Surah al-Qiyamah ayat 2.

 •      Orang yang wajar kita mengikat tali persahabatan dengannya perlu memiliki kreiteria berikut ; *Sentiasa menginsafi diri dan bertaubat*Tidak bersifat sombong dan membesarkan diri*Berjuang dan bermujahadah untuk mencari kebenaran dengan kaedah yang betul dan sahih.
•       Ammar bin Yasir r.a. menyatakan hakikat keimanan akan terkumpul ke atas diri seseorang,antaranya;*Menginsafi diri*Mengucapkan salam kepada orang yang dikenal atau tidak dikenal sekalipun*Membelanjakan harta pada jalan Allah.
Apabila seseorang memiliki pergaulan yang sedemikian,iaitu menurut kod etika atau akhlak di atas ,hasilnya ialah ;*Pergaulannya membawa rahmat*Tenteramlah jiwanya dari sebarang gangguan duniawi*Selamatlah kehidupannya di dunia dan akhirat.

•       Sahl bin Abdullah rh memperingatkan kita dalam soal pergaulan dan persahabatan, katanya ; Maksudnya : Hindarilah diri anda dari bergaul dengan tiga golonan manusia,iaitu;
1.     Orang yang mengerti tentang agama tetapi mencampuradukkan hak dan batil
2.     Orang yang mengamalkan tasawuf tetapi jahil dalam ilmu-ilmu keagamaan
3.     Golongan penguasa yang lalai daripada menunaikan hak keagamaan dan kemasyarakatan.

•       Abul Abbas Basyruq rh ketika menjelaskan intisari sebenar ilmu dan amal dengan katanya ;
Maksudnya : Cukuplah bahawa takut akan kemurkaan Allah itu sebagai ilmu pengetahuan yang hakiki dan cukuplah sifat lalai dan tertipu yang menyingkirkan kita dari jalan Allah itu sebagai kejahilan.
•       Syair berikut menjelaskan hakikat persahabatan ;
Maksudnya : Janganlah anda bertanya seseorang itu tentang dirinya tetapi tanyalah sahabatnya,lantaran seorang teman itu sentiasa mengikut gelagat temannya.Apabila anda berada ditengah sekelompok manusia,bersahabatlah dengan orang yang terbaik daripada kelompok itu,dan janganlah anda memilih teman dari kalangan yang tidak baik dari kelompok itu,maka anda akan menempuh kebinasaan bersama dengan orang-orang yang binasa.