Catatan Popular

Isnin, 5 Mei 2025

PERTANYAAN KEENAM BELAS PASAL (3) : PAHALA PUASA ORANG HIDUP KEPADA ORANG SUDAH MATI.

PASAL Berkenaan dengan sampainya pahala puasa (yang dilakukan oleh orang hidup, kepada orang yang sudah mati), dalam dua kitab Sahih


Disebutkan sebuah hadis dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda,

 

“Barang siapa yang meninggal dunia dan dia menanggung puasa, walinya harus berpuasa atas namanya.”

 

Dalam dua kitab Sahih juga disebutkan sebuah riwayat. Dari Ibnu Abbas ra. yang berkata, 

“Suatu ketika seseorang datang menemui Rasulullah saw., lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal dunia sementara dia menanggung utang puasa satu bulan; apakah aku boleh mengqada puasa atas namanya?’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Ya! Karena utang kepada Allah jauh lebih berhak untuk dilunasi.’”

 

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa, suatu ketika seorang perempuan mendatangi Rasulullah saw. lalu berkata, 


“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal dunia sementara dia masih menanggung utang puasa nazar. Apakah aku dapat berpuasa atas namanya?” Rasulullah saw. menjawab, “Bukankah menurutmu jika ibumu menanggung utang lalu engkau melunasinya, maka itu akan melunasi utangnya itu?” Perempuan itu menjawab, “Ya!” Rasulullah saw. pun bersabda, “Maka berpuasalah engkau atas nama ibumu!”

 

Lafal hadis-hadis ini menurut riwayat Imam Bukhari.

 

Diriwayatkan dari Buraidah dia berkata: Aku duduk bersama Rasulullah saw., tiba-tiba beliau didatangi oleh seorang perempuan yang lalu berkata, 

“Sesungguhnya telah bersedekah kepada ibuku berupa seorang budak perempuan. Sekarang dia sudah meninggal.” Rasulullah saw. bersabda, “Telah ditetapkanlah pahalamu dan budak itu dikembalikan kepadamu sebagai warisan.” Perempuan itu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku menanggung puasa satu bulan. Apakah aku boleh berpuasa atas namanya?” Rasulullah saw. menjawab, “Berpuasalah engkau atas namanya!” Perempuan itu berkata, “Sesungguhnya dia belum pernah berhaji sekalipun. Apakah aku boleh berhaji atas namanya?” Rasulullah saw. menjawab, “Berhajilah atas namanya!” (HR. Muslim). Dalam lafal lain disebutkan, “Berpuasalah engkau dua bulan!”

 

Diriwayatkan dari Ibnu “Abbas ra. bahwa seorang perempuan mengarungi lautan lalu dia bernazar apabila Allah menyelamatkannya, dia akan berpuasa satu bulan. Ternyata Allah swt. menyelamatkannya tetapi dia tidak kunjung berpuasa sampai meninggal dunia. Anak perempuan atau saudara perempuan dari perempuan itu pun mendatangi Rasulullah saw. dan beliau memerintahkannya untuk berpuasa atas nama perempuan itu. Hadis-hadis ini diriwayatkan oleh penuli, as-Sunnan dan Imam Ahmad.

 

Demikian pula telah diriwayatkan dari Rasulullah saw. mengenai sampainya pahala amalan pengganti puasa yang dilakukan dengan memberi makanan. Dalam as-Sunan diriwayatkan dari Ibnu “Umar ra bahwa dia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang meninggal dunia dengan menanggung puasa satu bulan, maka hendaklah diberikan makanan atas namanya satu orang miskin untuk setiap satu hari.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

 

Tirmidzi menyatakan bahwa dia tidak mengetahui hadis-hadis ini berstatus marfuk, kecuali hanya dari jalur ini. Akan tetapi, yang sahih adalah riwayat dari Ibnu Umar yang pernyataannya berstatus maukuf.

 

Dalam Sunan Abu Dawud disebutkan riwayat dari Ibnu “Abbas ra, yang berkata, “Apabila seseorang sakit di bulan Ramadhan dan dia tidak berpuasa, hendaklah diberikan makanan atas namanya dan dia tidak harus melaksanakan qada. Apabila seseorang bernazar, yang melakukan qada atas namanya adalah walinya.”


PERTANYAAN KEENAM BELAS PASAL (2) : PAHALA SEDEKAH ORANG HIDUP KEPADA SI MATI

PASAL Adapun berkenaan dengan sampaikan pahala sedekah orang hidup kepada orang mati dalilnya terdapat dalam dua kitab Sahih.

 

Dari Aisyah ra. yang menyatakan bahwa suatu ketika seseorang mendatangi Rasulullah saw. lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara mendadak dan dia tidak meninggalkan wasiat. Aku menduga kalau saja dia bisa bicara dia pasti akan bersedekah. Apakah ibuku itu akan mendapatkan pahala apabila aku bersedekah atas namanya?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya!”

 

Dalam Sahih Bukhari disebutkan sebuah hadis. Dari “Abdullah bin “Abbas ra. yang menyatakan bahwa ibu dari Sa‘d bin ‘Ubadah meninggal dunia sementara Sa‘d tidak ada bersama sang ibu. Dia lalu mendatangi Rasulullah saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal dunia ketika aku sedang tidak bersamanya. Apakah akan bermanfaat bagi ibuku apabila aku bersedekah atas namanya? Rasulullah saw. menjawab, ‘Ya!’. Sa’d pun berkata, ‘Sesungguhnya aku mempersaksikanmu bahwa kebunku al-Mikhraf menjadi sedekah atas nama ibuku.’”

 

Dalam Sahih Muslim disebutkan sebuah riwayat dari Abu Hurairah ra. bahwa seseorang pernah berkata kepada Rasulullah saw.,

 

“Sesungguhnya ayahku meninggal dunia dengan meninggalkan harta tanpa dia berwasiat apa-apa. Apakah cukup baginya jika aku bersedekah atas namanya?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya”.

 

Dalam as-Sunan dan Musnad Ahmad disebutkan sebuah riwayat dari Sa‘d bin “Ubadah bahwa dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Umm Sa’d meninggal dunia. Apakah sedekah yang paling afdal?” Rasulullah saw. menjawab, “Air!” Maka Sa’d pun menggali sebuah sumur lalu berkata, “Ini adalah untuk Umm Sa’d!”.

 

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr, bahwa ‘Ash bin Wa‘il bernazar di masa jahiliah untuk menyembelih seratus ekor binatang kambing dan Hisyam bin ‘Ash menyembelih bagiannya lima puluh ekor, lalu ‘Umar ra. bertanya kepada Rasulullah saw. tentang itu. Beliau pun bersabda, “Berkenaan dengan ayahmu, apabila dia mengakui tauhid lalu engkau berpuasa dan bersedekah atas namanya, itu bermanfaat baginya.” (HR. Imam Ahmad).


PERTANYAAN KEENAM BELAS PASAL (1) : MANFAAT ORANG MATI BUKAN PERBUATAN SI MATI

PASAL Dalil yang menunjukkan diperolehnya manfaat pada orang mati dari sesuatu yang bukan merupakan perbuatan si orang mati yang bersangkutan terdapat di dalam al-Quran, sunah, ijmak, dan kaidah syariat.

 

Dalil tentang hal itu yang berasal dari al-Quran adalah firman Allah swt.,

 

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr [59]: 10)

 

Dalam ayat tersebut Allah swt. memuji istighfar permohonan ampun yang mereka panjatkan demi orang-orang mukmin yang sebelum mereka. Dengan demikian, Allah telah menunjukkan akan adanya manfaat yang didapat oleh “orang-orang mukmin sebelum mereka” dari istigfar permohonan ampunan yang dipanjatkan oleh orang-orang yang masih hidup.

 

Mungkin saja dapat dikatakan bahwa sebenarnya orang-orang sebelum mereka itu dapat peroleh manfaat dari istigfar yang dipanjatkan oleh mereka yang masih hidup karena mereka (orang-orang terdahulu) itu telah membuat sunah kebiasaan, berupa keimanan yang kemudian diikuti oleh generasi berikutnya karena mereka (generasi terdahulu) memang hidup sebelum mereka (generasi berikutnya). Ketika mereka (generasi berikutnya) mengikuti mereka (generasi terdahulu) pada sunah kebiasaan itu, mereka (generasi berikutnya) menjadi seperti sebab diraihnya segala kebaikan untuk mereka (generasi terdahulu). Akan tetapi. yang juga menjadi dalil akan diraihnya manfaat oleh orang mati melalui doa orang hidup merupakan kesepakatan umat Islam yang selaju mendoakan orang mati dalam pelaksanaan shalat Jenazah.

 

Dalam as-Sunan telah disebutkan sebuah hadis dari Abu Hurairah ra. yang menyatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila kalian shalat atas mayat, ikhlaskanlah doa kalian untuknya.

 

Dalam Sahih Muslim disebutkan sebuah hadis dari ‘Auf bin Malik yang menyatakan, “Rasulullah saw. melaksanakan shalat atas jenazah dan aku hafal doa beliau,

 

“Wahai Allah ampunilah dia, afiatkanlah dia, maafkanlah dia, muliakanlah tempatnya, lapangkanlah tempat masuknya, basuhlah dia dengan air, salju dan embun. Bersihkanlah dia dari dosa-dosa seperti dibersihkannya kain putih dari noda. Berilah ganti untuknya rumah yang lebih baik daripada rumahnya, keluarga yang lebih baik daripada keluarganya, pasangan yang lebih baik daripada pasangannya. Masukkanlah dia ke dalam surga. Lindungilah dia dari azab kubur dan dari azab neraka.”

 

Dalam as-Sunan disebutkan sebuah riwayat dari Watsilah bin Asqa yang berkata. Rasulullah saw. shalat atas seorang lelaki muslim dan kudengar beliau berujar, “Wahai Allah sesungguhnya Fulan bin Fulan dalam tanggungan-Mu dan kedekatanmu, maka lindungilah dia dari fitnah kubur dan siksa neraka. Engkau adalah pemilik penepatan Janji dan kebenaran. Ampunilah dia dan kasihilah dia. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

 

Doa-doa semacam ini banyak ditemukan dalam hadis-hadis. Bahkan doa itulah yang menjadi tujuan pelaksanaan shalat mayat. Begitu Pula halnya dengan doa untuk mayat setelah penguburan dilakukan.

 

Dalam as-Sunan disebutkan sebuah hadis dari ‘Utsman bin ‘Affan ra. yang berkata. Setiap kali Rasulullah saw. selesai menguburkan maya. beliau pun berdiri di atasnya lalu berucap, “Mohonkanlah ampunan untuk saudara kalian dan mohonkanlah keteguhan untuknya karena sesungguhnya sekarang dia sedang ditanyai.”

 

Demikian pula halnya dengan doa untuk orang-orang mati saat qj. lakukannya ziarah kubur. Seperti yang termaktub dalam Sahih Muslim berupa hadis-hadis dari Buraidah bin Hushaib, dia berkata, “Rasulullah saw. mengabari mereka jika mereka keluar menuju pekuburan agar me. reka mengucapkan,

 

“Salam atas kalian wahai penghuni kuburan dari kalangan mukminin dan muslimin. Sesungguhnya kami insyaallah akan bertemu dengan kalian. Kami memohon afiat kepada Allah untuk kami dan kalian.” Dalam Sahih Muslim dikatakan, Bahwa Aisyah ra. pernah bertanya kepada Rasulullah saw. apakah bacaan yang dirapalkannya jika dia ingin memohonkan ampunan untuk ahli kubur. Rasulullah saw. lalu menjawab, “Ucapkanlah,

 

“Salam atas penghuni kuburan dari kalangan mukminin dan muslimin. Allah merahmati orang-orang yang terdahulu dari kita dan orang-orang yang belakangan. Sesungguhnya kami insyaallah akan bertemu dengan kalian.’”

 

Dalam Sahih Muslim juga diriwayatkan sebuah hadis juga dari Aisyah ra. yang menyatakan bahwa Rasulullah saw. pernah keluar pada malam yang menjadi jatah Aisyah ra. di penghujung malam menuju Baqi’. Beliau lalu berucap,

 

“Salam atas kalian tempat orang-orang mukmin. Telah datang kepada kalian apa-apa yang kalian dijanjikan besok dengan tunda. Sesungguhnya kami insyaallah akan bertemu dengan kalian. Wahai Allah ampunilah penghuni Baqi’ Gharqad.”

 

Doa Rasulullah saw. bagi orang-orang yang sudah mati yang berbentuk praktik dan dalam bentuk pengajaran, sebagaimana doa yang dilakukan para sahabat, tabiin dan seluruh kaum muslimin dari generasi ke generasi terlalu banyak untuk dapat disebutkan dan terlalu dikenal luas untuk diingkari.

 

Ada dalil yang menyatakan bahwa suatu ketika Allah swt. meninggikan derajat seorang hamba-Nya di surga lalu si hamba itu bertanya, “Bagaimana mungkin aku dapat memperoleh semua ini?” Allah menjawab, “Karena doa anakmu untukmu.”

 


Kitab Ar Ruh Ibn Qayyim Al Jauziyah : Pertanyaan Keenambelas

Pertanyaan Keenam Belas: Apakah Ruh Orang-Orang yang Sudah Mati Dapat Memperoleh Manfaat dari Usaha yang Dilakukan Orang-orang Hidup ataukah Tidak?


JAWABAN ATAS pertanyaan itu, yaitu bahwa ruh orang-orang yang sudah mati dapat memperoleh manfaat dari usaha yang dilakukan oleh orang-orang yang masih hidup. Dasarnya yaitu dua perkara yang sudah disepakati oleh Ahli sunah dari kalangan ahli fikih, hadis, dan tafsir.

 

Pertama: Sesuatu yang menjadi jalan diperolehnya manfaat oleh orang mati, yakni yang dilakukannya semasa hidupnya.

 

Kedua: Doa orang-orang muslim untuk si orang mati, permohonan ampunan yang dilakukan oleh orang-orang muslim untuk si orang mati, sedekah dan haji, yang terdapat perbedaan pendapat dalam hal ini mengenai apakah sebenarnya yang dapat mencapai orang mati; apakah pahala infak ataukah pahala amal? Menurut jumhur ulama, yang mencapai si orang mati, yaitu pahala amal itu sendiri. Akan tetapi, menurut sebagian pengikut Mazhab Hanafi yang sampai kepada si orang mati, yaitu pahala infak.

 

Ada pula perbedaan pendapat mengenai ibadah-ibadah badaniah seperti puasa, shalat, baca al-Quran, dan zikir. lmam Ahmad dan jumhur ulama salaf menyatakan bahwa semua itu dapat mencapai orang mati. Ini juga menjadi pendapat sebagian dari pengikut Imam Abu Hanifah.

 

Hal ini disampaikan oleh Imam Ahmad dalam sebuah riwayat dari Muhammad bin Yahya al-Kahhal. Dia berkata, “Suatu ketika pernah ditanyakan kepada ‘Abdullah tentang seorang lelaki yang melakukan sebuah kebaikan berupa shalat, sedekah, dan sebagainya, lalu setengah dari amal itu dia peruntukkan kepada ayah atau ibunya. Apakah pahalanya bisa sampai?” “Abdullah menjawab, “Aku berharap seperti itu,” Dig lalu berkata, “Kepada orang mati dapat sampai segala sesuatu Seperti sedekah dan sebagainya.” Dia juga menyatakan, “Bacalah Ayat Kursi; tiga kali dan Qul huwallahu ahad (surah al-Ikhlash), lalu ucapkan

 

‘Wahai Allah sesungguhnya pahalanya untuk ahli kubur.’”

 

Pendapat yang masyhur dari Mazhab Syafi’i dan Maliki menyatakan bahwa hal-hal semacam itu tidak dapat sampai kepada orang mati

 

Sebagian pembuat bidah dan kalangan ahli Kalam menyatakan bahwa tidak ada sesuatu apa pun yang dapat sampai kepada orang mati, baik itu doa maupun yang lainnya.

 

Dalil yang menunjukkan bahwa manfaat dari apa yang dilakukan si orang mati semasa hidupnya dapat bermanfaat baginya setelah dia mati adalah hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dalam ash-Sahih dari hadis-hadis Abu Hurairah ra. yang menyatakan,

 

Bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seseorang meninggal dunia, terputuslah darinya amalnya kecuali tiga: sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya.”

 

Pengecualian yang Rasulullah saw. sampaikan pada ketiga amalan ini dari semua amal manusia menunjukkan bahwa semua itu berasal dari orang yang bersangkutan, sebab orang itulah yang menjadi sebab terjadinya amalan-amalan tersebut.

 

Dalam kitab Sunan karya Ibnu Majah terdapat hadis-hadis dari Abu Hurairah ra. yang berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya di antara perkara yang dapat sampai kepada orang mukmin dari amal dan kebaikan-kebaikannya setelah dia meninggal dunia adalah amal perbuatan yang dia mengajarkannya dan menyebarkannya, atau anak saleh yang ditinggalkannya, atau musaf yang diwariskannya, atau masjid yang dia dirikan, atau rumah untuk musafir yang dibangunnya, atau sungai yang dia alirkan, atau sedekah yang dia keluarkan dari hartanya dalam kondisi sehatnya dan hidupnya akan sampai kepadanya setelah kematiannya.”

 

Dalam Sahih Muslim juga disebutkan sebuah hadis dari Jarir bin ‘Abdullah, dia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang membiasakan di dalam Islam sebuah kebiasaan yang baik, dia memiliki pahala kebiasaan itu dan pahala orang yang mengamalkannya sepeninggalnya, tanpa dikurangi dari pahala mereka itu sedikit pun. Barang siapa yang membiasakan di dalam Islam sebuah kebiasaan yang buruk, dia harus menanggung dosanya dan dosa orang yang melakukannya sepeninggalnya, tanpa dikurangi dari dosa mereka itu sedikit pun.”(HR. Muslim)

 

Inilah pengertian dari apa yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. melalui beberapa jalur periwayatan yang berstatus sahih atau hasan.

 

Dalam al-Musnad disampaikan sebuah riwayat dari Hudzaifah, dia berkata, Seseorang mengemis pada masa Rasulullah saw. Orang-orang pun tidak memberinya. Lalu ada seseorang yang memberi orang itu, maka orang-orang pun memberi orang itu. Rasulullah saw. lalu bersabda, “Barang siapa yang membiasakan sebuah kebaikan, lalu itu menjadi kebiasaan, dia memiliki pahalanya dan dari pahala semua orang yang mengikutinya tanpa dikurangi dari pahala mereka semua itu sedikit pun. Barang siapa yang membiasakan sebuah keburukan, lalu itu menjadi kebiasaan, dia harus menanggung dosanya dan dosa-dosa orang yang mengikutinya tanpa dikurangi dari dosa-dosa mereka itu sedikit pun.” Hal ini telah ditunjukkan oleh sabda Rasulullah saw.,

 

“Tidak ada seorang pun yang dibunuh secara zalim kecuali anak Adam yang pertama harus menanggung dosa karena darah orang itu karena dialah yang membuat kebiasaan membunuh, ”

 

Apabila hal ini berlaku pada perkara adil dan hukuman, tentu saja hal ini jauh lebih layak untuk juga berlaku pada perkara keutamaan dan pahala.


Sambung……..


KITAB TERSOHOR ”ANA AL HAQ” : (20) PELBAGAI KATA-KATA (IRSYADAT)

Oleh Syekh Muhammad Ibrahim ‘Gazur-i-Illahi’ (Sufi Syatariyyah)


(Penjelasan terperinci mengenai beberapa istilah ini dapat ditemukan di Lampiran  tentang Kajian Tasawuf.)


ABJAD A


1. ‘Abd: ‘Abd yang pertama adalah Batasan Pertama Haqiqat-i-Muhammadi. Dalam aspeknya terhadap Ahdiyyat atau Yang Tak Terbatas, ia adalah Ahdiyyat itu sendiri, dan dalam aspeknya terhadap devolusi (limpahan kuasa) yang lebih rendah, ia adalah ‘abd. Ia adalah tahap Ana, ‘Aku’. Ketika aspek-aspek ini lenyap, hanya Zat yang tersisa.  

Tauhid adalah hakikat yang di dalamnya tidak ada Rab maupun ‘abd. Wahdat atau Haqiqat-i-Muhammadi adalah pemisah antara keduanya: 

“Dia telah membuat dua lautan mengalir bebas (sehingga) keduanya bertemu. Namun di antara keduanya ada penghalang, yang tidak dapat dilewatinya.” (Surah Ar Rahman : 19)


2. Abjad: Kronogram, cara menghitung angka dengan menggunakan huruf-huruf alfabet; ‘alif’ untuk menghitung satu; ‘ba’ untuk menghitung dua; ‘jim’ untuk menghitung tiga, dan sebagainya

Hanya tujuh huruf dalam bahasa Inggris yang memiliki nilai tersebut, yaitu LV.X.L.C.D. dan M. Ada yang mengatakan bahwa kata-kata dalam kronogram ini, yaitu, Abjad, Hawwaz, Hutti, Kaliman, Saghaz, Qarshat, Sakhiz, Zazigh adalah nama delapan putra penemu huruf Arab, Muramier bin Murra. Leksikon Qamis mengatakan bahwa enam huruf pertama adalah nama raja-raja Madyao (Midian) yang terkenal, dan dua huruf terakhir ditambahkan oleh orang-orang Arab.


3. Abrar: Orang-orang yang berbudi luhur, kaum sufi adalah orang-orang yang disebut dalam Al-Quran dengan nama ini serta dengan nama-nama Muqarrabin, Sabirin, dan Zuhad. 


4. ‘Abul-Waqt: Bapa Zaman. Seorang sufi yang tunduk kepada Waktu yang mengatur urusan dunia dengan kehendaknya. Ia juga disebut Qutbu’l-aqtab, berbeda dengan Ibnu’l-Waqt (Putra Zaman) yang berenang mengikuti arus Waktu. Nama sufi tidak populer selama dua ratus tahun setelah masa Nabi menurut ‘Awarifu'l-Ma‘arif. 


5. ‘Adum: Ketiadaan, kosong, tidak ada


6. Adub: Rasa hormat dalam menjaga perbedaan antara Keilahian dan Kemanusiaan. 


7. Af‘al: (jamak dari F‘il) Tindakan, perbuatan, kerja, lakuan.


8. Ahad: Satuan, sama. Tumpukan biji-bijian yang sejenis adalah Ahad, sejauh menyangkut jenisnya; ia adalah Wahid, sejauh menyangkut kesatuannya atau satunya.


9. Ahdiyyat: Tahap pertama di mana tidak ada apa pun kecuali Keheranan. Kata Allah di sini menunjukkan Wala, keheranan; dan pada tahap ke-3, Wahdiyyat, itu menunjukkan sesuatu yang berhak disembah (Elah).


10. Ahl-i-Mushahadah: Orang-orang yang menyaksikan atau memerhati, yaitu mereka yang terbiasa dengan amalan atau latihan (Mujahadah) untuk memerhati sifat-sifat Zat dalam setiap yang dijadikan atau ciptaan. 


11. Akhyar: Orang-orang baik; istilah yang digunakan untuk para sufi, seperti Abrar.


12. Ajsam: Tubuh; ‘Alam-i-ajsam adalah alam kebendaan atau kausal (sebab-akibat)


13. Alif: Huruf pertama dalam alfabet Arab. 


14, Amthal: Perumpamaan; misalan-misalan. 


15. ‘Ariff: Orang yang mempunyai makrifat (megenal).


16. ‘Arsh: Singgasana Tuhan. 


17. Arwah: Ruh atau Jiwa.


8. Ashghal (tunggal - Shaghal): Praktik-praktik sufi, misalnya, duduk dalam posisi tertentu, menarik nafas dengan La ilaha dan mengarahkannya (menghembuskannya) ke jantung dengan illa-llah, dan lain-lain.

Dalam Sultanul-ashghal, Nabi mendengarkan dengan telinganya di gua Hira selama enam tahun, dan mendengar suara-suara, hingga malaikat Jibril muncul di hadapannya. 


19. Asma’: Tunggal. Ism. Nama-nama (dengan ‘yang dinamakan’). 


20. Athar: Efek; kesan.


21. Asma’-i-Ilahi: Nama-nama Allah atau Sang Pencipta. 


22. Asma’-i-Kiyanl; Benda atau Objek-objek yang diciptakan atau duniawi. 


24. Asma’-i-Thubati: Nama-nama (dengan yang disebutkan) yang menunjukkan sifat-sifat positif, seperti ‘berkuasa,’ ‘mengetahui’. 


25. Asma’i Salabi: Nama-nama yang menunjukkan tidak adanya sifat-sifat seperti Suci, kudus.

26. A‘yan: Bentuk-bentuk fikiran dari potensi-potensinya sendiri dalam pengetahuan atau ilmu tentang Allah. 


27. Auliya: (tunggal. Wali). Orang-orang yang telah memperoleh kehampiran dengan Allah. Bentuk jamak digunakan untuk bentuk tunggal sebagai bentuk penghormatan. 


28. Ayniyyat: Kesamaan seperti es dan air, ombak dan laut, pedas dan lada, manis dan gula, masin dan garam.


ABJAB B


1. Banda: Yang terbatas; yang di dalamnya sifat atau atribut telah muncul dalam keterbatasan; makhluk. 


2. Batin: Aspek dalaman atau internal suatu hal. 


3. Barzakh: Sebuah penghalang pemisah antara dua hal atau keadaan, baik yang bersekutu atau tidak. 


4, Barzakh-Jami: Tahap Hakikat Muhammad. 


5. Baqa: Tahap kekekalan, setelah binasa diri (fana), dengan kenangan akan penglihatan alam yang lebih tinggi, yaitu amthal, arwah, wahdiyyat, dan lain-lain.


6. Baqi: Seseorang yang berada dalam kekekalan atau baqa. 


7. Bandaqi: Pengabdian; berasal dari Banda.


8. Bismillah: “Dengan menyebut nama Allah.” Judul setiap dari 114 Surah dalam Al-Quran, kecuali satu, yaitu Surah at Taubah.


9. Batil: Segala sesuatu yang tidak ada atau wujud. 


10. Buruz: Pengaruh satu Ruh atau jiwa terhadap jiwa lainnya; masing-masing berada di tempat mereka berada. 


11. Bay‘at: Tindakan kesetiaan, seperti kepada seorang raja atau panglima militer atau kepada seorang Mursyid atau Guru.


12. Bay-shara: Umat Muslim yang tidak menaati syariat Islam dengan saksama.


ABJAD D


5. Dewa: Tubuh mithali seseorang yang menguasai tubuh kasar orang lain, sesuai dengan filosofi Hindu. 


ABJAD E


1. Emin: Kepercayaan. 


ABJAD F


1. Faqih: Seseorang yang mengenal undang-undang atau hukum Islam; sebuah kanun. 


2. Fuqaha: Bentuk jamak dari Faqih.


3. Fayd-i-Aqdas: Manifestasi Zat pada dirinya sendiri. Di sini A‘yan dihargai tetapi menyatu dalam Zhat-i-batin dan hanya Zhat yang nyata. 


4, Fayd-i-Muqaddas: Manifestasi A‘yan dalam zahir, sebagai hasil dari operasi Asma-i-lahi atau Asma-i- Aiyani. 


5. Fawad: Tahap kedua dalam Malaikat. 


6. Fana: Binasa , musnah, hapus atau Penghancuran diri. 


7. Fani: Orang yang Fana. 


8. Farq: Pembeza ‘abd atau hamba dari Rabb dalam perjalanan turun dalam suluk.  


9. Fard: Salik yang telah mencapai tahap Jam‘, yang merupakan titik tertinggi dalam perjalanan ke atas dalam suluk; ia turun ke bawah dengan pengalaman. 

Ketika ia naik sekali lagi, tahap itu disebut Jam‘ul-Jam‘ (Mi‘raj). 


10. Fayd-i-Rahmani: Hembusan atau nafas dari Asma-i-lahi, yang memberikan manifestasi kepada Asma-i-Kiyani. 


11. Fikr: Renungan atau Tafakur yang mendalam terhadap sifat-sifat Allah.


ABJAD G


1. Ghayr: yang asing ; ‘Selain darri Allah, yang tidak wujud.


2. Ghayb: Yang tak terlihat. 


3, Ghayriyat: ke-lain-an ; ‘Yang Lain’, 


4. Ghawth: Secara teknis disebut Qutb- ul- -aqtab; orang yang memperhatikan keinginan dan permohonan orang. Dia adalah Ketua auliya dalam hierarki mereka yang mengatur dunia. 

Pangkat di bawahnya adalah Qutb, yang jumlahnya tidak kurang dari empat (4) pada satu waktu. 


5, Ghulat: Bentuk jamak dari Ghali: para ekstremis dari partai Syiah, yang percaya pada ‘Inkarnasi,’ penjelmaan, ‘Kembali,’ dan ‘Metempychosis’. 

Mereka memiliki pandangan pelampau dalam hal para Imam, yang mereka anggap memiliki kebajikan Ilahi. Mereka pertama kali berada di bawah kepemimpinan Sinbadh atau ahli sihir ; al-Muqanna sang Nabi Bercadar dari Khurasan; doktrin mereka memiliki tempat dalam gerakan Babi. 


ABJAD H


1. Haqq: Kebenaran. 


2, Haqiqat: Realiti atau kenyataan.

 

3. Hadits-i-Qudsi: Wahyu yang diungkapkan dalam kata-kata Nabi sendiri. Allah berbicara kepada Nabi dalam bentuk jasmani nabi, dalam bentuk Malaki Nabi, dan dalam bentuk Ruh nabi. 

Pada yang pertama, Allah berbicara dalam bahasa kata-kata, pada yang kedua dalam huruf-huruf yang diawali dengan surah tertentu (huraf-mugatta) dan pada yang ketiga, dalam bahasa Kerohanian atau spiritual. 

Yang pertama membentuk Hadits biasa, yang kedua, Hadits-i-Qudsi dan yang ketiga, Al- Quran.


4. Hulul: Penjelmaan aatu Inkarnasi. 


5 Haram: Hal yang terlarang. 


6 Halal: Hal yang dibolehkan. 


7 Hawaris: Para pengikut Nabi Isa. 


8 Hadi: Orang yang memberi petunjuk di jalan yang benar. 


9 Hal: Keadaan Dzauq. 


10. Hahut : Tahap tertinggi dari mana tanazzulat dimulai yang serupa dengan Ahdiyyat. 


11. Hu, Hu: Dia, Dia. 


12. Hukama: ahli Falsafah atau Filasuf 


13. Huwiyyyat: ‘Ke-Dia-an’: tahap Hahut. 


14. Hijab: Layar; tabir; dinding ; tudung.


ABJAD I


1. Ibnu’l-Waqt: Sufi atau salik yang berenang mengikuti arus waktu, bertindak sesuai dengan manifestasi berbagai- bagai sifat.


2. Iblis: Sangkaan atau Khayalan tentang ‘lain’ dari Allah. 


3. ‘Ilm-i-Sina: Ilmu atau Pengetahuan yang disampaikan dari hati ke hati , sebagian besar melalui tanda-tanda atau isyarat. 


4, ‘Ilm-i-Safina: Ilmu atau Pengetahuan yang disampaikan melalui risalah. 


5. llahi: ‘Ilahi’ seperti dalam asma-i-ilahi, Nama-nama Ilahi yang mewujudkan Asma-i-Kiyani (nama-nama duniawi.) 


6. Ilham: Inspirasi. 


7. Insan: Manusia, melalui Pendahuluan. 


8. Irshadat: Ucapan, obiter dicta. 


9. Isbat: Pernyataan positif. 


10, Ishraqin: Kaum Realis Plato, 


11. Istijla: Pengamatan kesempurnaan diri-Nya sendiri oleh Allah. 


12. I‘tibar; Hipostasis, anggapan, (jamak, I‘tibarat.) 


13. Ism: Nama yang menyiratkan ‘yang dinamai’ yang mendasarinya (jamak, Asma.)


14. Ittihad: Penyatuan dalam arti bahwa segala sesuatu tidak ada dan keberadaannya adalah wujud Allah. 


15. Ittisal: Berhubung ; bersambung ; Penggabungan. 


16. Infisal: Bercerai ; Pemisahan. 


17. ‘Irfan: Gnosis. ilmu atau kebijaksanaan yang lebih tinggi dari sekadar ilmu biasa, seperti ilmu ilmiah atau duniawi.



ABJHAD J 


1. Jalal: Agung atau Kemuliaan. Hilangnya sifat dalam Zat. 


2. Jamal: Keindahan. Manifestasi sifat. 


3. Jam‘-ba-Jam‘: Cinta Zat terhadap alam. Untuk mengamati ‘Satu’ dalam ‘banyak’ atau keberagaman dan sebaliknya. (banyak dalam satu)


4. Jabarut: Tahap di bawah Lahut dan di atas Malakut. 


5. Jahil: Murid palsu. 


6. Jadzba: Dzauq atau Ekstasi. 


7. Jihad: Perang untuk menyebarkan kebenaran. 



ABJAD K


1. Kashf: Ketajaman Kerohanian. Ada dua macam: yang kecil seperti kasyf kuburan, ‘alam-i-mitsal dan ‘Alam-i-arwah, surga dan neraka. Yang lebih besar adalah memandang Zat dalam makhluk atau penciptaan. 


2. Khatrat: Khawatir (jamak dari Khatra), bisikan hati ; Pengaruh hati. Apa pun yang turun ke hati dari dunia ghaib, melalui isyarat, saran atau dorongan.


3. Keramat: Tindakan luar baisa yang dilakukan oleh awliya, spontan dan tanpa kehendak atau kemahuan. 


4. Khalifah: Wakil. 


5. Kafir: Orang yang menyembunyikan kebenaran. 


6. Khidir: Dia dianggap sebagai yang bernama Baliya ibn Malakan, dan telah meminum air kehidupan. Para sufi memahami dengan istilah ini ‘perluasan hati’, kenalkan istilah ‘Ilyas’ yang bermaksud ‘Penyempitan hati’. 


7. Kalam-i-Zati: Kalam Zat ; Sama seperti Kalam-i-nafsi, ucapan tanpa kata-kata atau suara. 


8. Kalam-i-Tafsili : Sama dengan “Kalaim-i-lafzi : ucapan dalam kata-kata. 


9, Kitabu'l-Mubin: Tablet yang Dijaga (Lawh-i-Mahfuz.) 


10, Khatum : Yang menyimpulkan. 


11. Khatim : Meterai. 


12. Khafi: Rahasia. 


13. Kiyani: Duniawi



ABJAD L


1. Lahut: Ini adalah salah satu tahapan menuju ke atas. 

Nasut adalah tahapan jasmani; 

Asma adalah tahapan mitsal; 

Arwah; tahapan dari Malakut; 

Sifat; tahapan dari Jabraut; 

A‘yan adalah tahapan Lahut; 

Zat adalah tahapan dari Hahut. 


2. Liqa: Wajah, raut wajah, aspek. 


3. Lawh-i-Mahfuz: Tablet yang Diawetkan. 



ABJAD M


1. Mahiyyat: Bakat 


2. Ma‘iyyat: beserta Rabb: dengan ‘abd’ yang seperti es dengan air, atau tanah liat dengan kendi. 


3. Ma-siwallah: ‘Selain Allah atau ‘Lain dari Allah’,’ dan yang tidak wujud. 

. 

4. Mahjubin : ‘Yang terlindung’. Mereka yang tidak melihat sifat dan asma Allah dalam menifestasi alam ini.


5. Majzub : Orang yang ‘tenggelam dalam Allah.


6. Malamati: Golongan sufi yang menutupi diri mereka dengan kecelaan, dengan maksud menjauhi diri dari orang-orang duniawi. 


7. Ma‘lum-i-Ma‘dam: ‘Yang tidak ada dan tidak diketahui’, seperti titik. 


8. Ma‘lumat: (Hal-hal) yang diketahui. 


9. Ma‘rifat: Mengenal Allah melalui Allah (‘Araftu Rabbi-bi-Rabbi). 


10. Mashishasyin: Kaum Peripatetik; para pengikut Aristoteles, yang biasa berjalan-jalan (mash) saat menyampaikan wacana-wacananya. 


11. Mashayikh atau mashashakh: Bentuk jamak dari syekh, digunakan dalam arti tunggal untuk seseorang .Guru (agung), tuan, ketua, kepala, pemimpin, juga Imam (Besar).


12. Maqam: Stesen atau Posisi. Setiap nabi memiliki stesen posisinya dalam sifat yang dominan melalui kashf dan ketika ia dikukuhkan di dalamnya, stesen itu menjadi maqamnya. 


13. Ma‘ad: Hari akhirat; akhir dari proses pendakian (‘uruj) dalam kes setiap salik sesuai dengan kemajuannya naik ke atas.


14. Mash‘iyat: Takdir; pemberian ekspresi lahiriah kepada ‘bakat’ a‘yan, sebagaimana adanya beserta karakteristik dan kekhasannya. 


15. Mawahid: Orang yang mengesakan Allah atau Unitarian. 


16. M‘iraj: Pendakian tertinggi ‘abd+ atau hamba menuju Rabb. Pendakian nabi menuju Allah. 


17. Mithaq: Janji penegasan. Jiwa manusia mengakui rububiyyat Tuhan pada hari janji ini. 


18. Mithal: ‘Alam-i-mithal; alam perumpamaan. 


19. Mubda : Asal usul, punca, itulah Ahdiyyat atau Zat Allah.


20. Mulhid : Orang yang tidak mempedulikan syariat dan berpuashati dengan memperkatakan secara akal fikiran yang waras. Seorang bidaah.


21. Musyrik : Orang yang percaya wujud “Ghayr’


22. Mu‘tazilah; Para pemisah diri; Mazhab yang memisahkan diri dari Hasan al-Basri. Mereka adalah pengikut Wasil ibn ‘Ata (w. 131), yang memisahkan diri dari gurunya atas pertanyaan apakah orang yang melakukan ‘dosa besar’ adalah seorang mukmin atau tidak. Sebelum gurunya dapat memberikan jawaban, Wasil memisahkan diri dengan menegaskan posisi perantara. Ia meninggalkan lingkaran gurunya, dan membentuk mazhabnya sendiri, ketika Hasan berkata: I‘tazala ana’ dan, ‘Ia telah memisahkan diri dariku.’


23. Mutakallimin:  Ulama-ulama; ‘mereka yang berselisih’ sebagai lawan dari mereka yang menerima firman Tuhan tanpa bertanya bagaimana? (Bila-kayfa). 


24. Murid: Pengikut. 


25. Mujahadah : Proses berjuang mengatasi nafs atau nafsu atau kehendak.


26. Mujhulun-Nat: Sesuatu yang tak terlukiskan, tahap Zat. 


27. Muraqabah: Proses membebaskan hati dari khatrat Ma-siwallah (segala kejadian selain dari ALLAH)


28. Munqatu’l-Ishrat: Tahap Zhat di mana semua penunjuk atau isyarat atau indikasi dihapuskan. 


29. Mutasaffawi: Sufi palsu. 


30. Muhaqqaqin: Mereka yang meneliti ilmu batin atau esoterik. 


321. Mukmin: Orang yang beriman; orang yang beriman setelah yakin. 


32. Mushahadah: Melihat Tajalli atau pencerahan tanpa perantaraan objek. 


24, Mahjibin: ‘Yang terlindungi.’ Mereka yang tidak melihat sifat dan asma Tuhan dalam manifestasi alam semesta. 



ABJAD N


1. Nafs: Individu: Ruh, Dil dan Nafs adalah manifestasi berturut-turut dalam Zahir-ul-wujud, (keberadaan yang nyata). Ruh ialah penglihatan; Dil ialah ilmu ; Nafs ialah nafsu. 


2. Nafsani: Bentuk kata sifat dari nafs; berkaitan dengan nafs.


3. Nuzul : Penurunan.


6. Nafi: Penolakan terhadap sangkaan atau khayalan tentang wujud ‘yang lain’; seperti dalam ‘La ilaha il-Allah,’ “tidak ada Tuhan selain Allah”; ini adalah menafikan terhadap sangkaan khayalan bahwa ‘selain Tuhan’ wujud atau ada.


ABJAD P


1. Pir: Pembimbing Rohani atau spiritual. 



ABJAD Q


1. Qalib ; Tubuh. 


2. Qalb : Hati. 


3. Qadar: bakat a‘yan ; ukurannya. 


4. Qadha: Waktu dan keadaan di mana a‘yan diperintahkan. 


5. Qadim: Asli. 


6. Qalam: Pena. ‘Aql-i-kul dikenal sebagai Qalam-i-Aala. 


7. Qutb: Ghawth. 


8. Qurbat: Kedekatan; Tuhan dekat dengan hambanya atau ‘abd-nya, dalam artian bahwa air dekat dengan es. 


9. Qiyamat: Saat dimana hakikat ‘a’yannya mulai tampak pada diri setiap manusia.


ABJAD R


1. Rabb: Penyokong atau Penopang atau pelindung. Nama khusus Allah sehubungan dengan hubungan-Nya dengan A‘yan-i-Thabita, nama yang mengatur hubungan antara Asma-i-Ilahi dan Asma-i-Kajani. Allah adalah Rabb-ul-Arbab (Rabb dari para Rabb). 


2. Rasm: Athar atau kesan atau akibat; ‘Zat yang terbatas’ dengan sifat-sifatnya yang terbatas’. ‘Yang terbatas’ berasal dari ‘yang tidak terbatas’. Semua Ma-siwallah (selain Allah) adalah akibat atau kesan (athar) dari perbuatan tindakan dan sifat-sifat Allah. 


3. Rij‘at: Kembali; penjelmaan semula; reinkarnasi. 


4. Rububiyyat: Pemerintahan Ism-i-lahi atas Ism-i-Kiyt-nya yang berkaitan dengan Wahidiyyat, nama bersyarat. 


5. Ruhi’l-Qudus: Sebagian mengatakan ini sama dengan Ruh-i-Azam. Ruh memiliki lima tingkatan, Ruh mineral, Ruh nabati, Ruh hewani, Ruh manusia, dan Ruh-i-Qudsi yang juga disebut Haqiqat Muhammad, yang terakhir bukanlah Ruh yang diciptakan; ia tidak berada di bawah perintah ‘Jadilah’ (Kun). Ia merujuk pada 

“Kami tiupkan kepadanya (Adam) dari nafs Kami, (Surah saad : 72). 

“Ke mana pun engkau menghadap, di situlah wajah Tuhan.” (Surah al Baqarah : 115.)


ABJAD S


1. Salik: Pengembara dalam perjalanan; orang yang memasuki suluk ; orang yang menginginkan kedekatan dengan Allah.


2. Sama‘a: Muzik yang mendatangkan jazbah atau Dzauq atau ekstase. 


3. Sirr-i-Haqq: Tahap ‘ke-aku-an’ Tuhan. 


4. Shattariyah: Sebuah sekte sufi yang percaya pada ‘Ana’, (ke-aku-an) dalam penegasan diri sebagai manifestasi terbatas dari Diri Ketuhanan; dan membuang fana (pemusnahan) diri, karena diri palsu tidak wujud. 


5. Sifat: Atribut; bentuk jamak dari sifat. 


6. Shai: Benda. 


7. Salat: Doa formal. 


8. Shaykh: Pir; pembimbing rohani. 


9. Sharl‘at: Tata cara Islam. 


10. Syirik: Menyekutukan Tuhan. 


11. Syuhada: Ketaatan. 


12. Shan: Potensi. 


13. Sajdah: Sujud dalam shalat. 


14. Sukr: Keadaan lupa diri, sementara indra aktif.


15. Sahw: Keadaan yang muncul setelah Sukr menghilang; dalam hal ini kenangan akan Sukr masih ada. Istilah Sukr dan Sahw digunakan oleh Bayazid Tayfiri dari Bistam (meninggal 261 H); sebagaimana istilah Fana dan Baqa digunakan oleh Aba Sa‘id Karraz (meninggal 286 A.B). 


16. Siddiq: Seorang mukmin yang ikhlas, derajatnya di bawah seorang Nabi. Saidina Abu Bakr disebut ‘siddiq,’ karena ia sekaligus bersaksi tentang kebenaran mi‘raj Nabi, sementara sebagian yang lain ragu-ragu. 


17. Syir: Perjalanan salik dari satu keadaan ke keadaan lain. 


18. Syir-il-Allah: Perjalanan salik menuju Tuhan, yaitu perjalanan dari nafs menuju qalb atau hati; di sini tajalliyat asma diperhatikan. 


19. Syir-Fillah: Perjalanan dalam Allah, perjalanannya dari Asma ke Wahidiyyat; dalam hal ini, salik diselimuti oleh sifat Allah. 


20. Syir-Maallah: Perjalanan bersama Allah, dari Ahdiyyat; ke bawah adalah tahap Baqa; di mana ‘yang lain’ sepenuhnya lenyap; dan hanya penglihatan Allah yang nampak segala, sesuatu terlihat sebagai manifestasi sifat-sifat dan nama Allah.


ABJAD T


1. Tahrimah: Takbir pertama (menyebut ‘Allahu Akbar;) dalam shalat setelah niat (ekspresi yang terdengar atau di dalam hati, tentang niat untuk melibatkan diri dalam shalat) diucapkan. Takbir diucapkan saat mengorbankan hewan. Di sini diucapkan untuk mengorbankan nafs sendiri. 

Rumi berkata: 

Arti takbir adalah ini, wahai orang bodoh, 

“Ya Allah, aku mengorbankan diriku di hadapan-Mu.” 

Haram atau dilarang untuk melakukan hal lain setelah ‘niat’. ini telah dilakukan. 


2. Ta‘iyyinat: Bentuk jamak dari ta‘iyun ; keterbatasan. 


3. Tanazzulat: Penurunan; manifestasi hakikat secara bertahap mulai dari Ahdiyyat, Wahdat, Wahidiyyat, sifat, asma hingga manusia. 


4, Tajalli: (Jamak menjadi tajalliyat), pengambilan batasan oleh Zhat disebut tajalli. penerangan pada hati atau jantung salik disebut juga tajalliyat; tajalli biru atau hitam berasal dari nafs; tajalli pucat dari depan adalah tajalli Qalb; dari belakang, ialah Setan. Tajalli putih dari depan adalah tajalli Ruh, dan seterusnya. 


5. Tanzih : Zat tanpa manifestasi sifat, yaitu dengan sifat yang tersembunyi di dalamnya. Tiga tahap batin yang pertama dari Tanazzulat. Nirguna. 


6. Tashbih : Zat dengan perwujudan sifat-sifat. Tiga tahap zahir terakhir dari Tanazzulat. Sarguna.


7. Tariqat: Jalan suluk menuju Allah. 


8. Tawakkal: Ketergantungan kepada Tuhan. Melakukan tugas seolah-olah atas Ilham (ilham) dan atas perintah Allah, dan mengakui hasilnya apa pun sebagai kehendak Allah. 


9. Taqwa: Menjaga diri dari (kejahatan); kesalehan. 



ABJAD U


1. ‘Ulama: Para teolog terpelajar. (tunggal ‘Alim) 


2. Uluhiyyat: Tiga tahap batin yang pertama, Ahdiyyat, Wahdat, dan Wahidiyyat, terkait dengan nama-nama penjenisan dan syarat. 


3. ‘Urufa: Ahli-ahli Makrifat atau Gnostik (tunggal ‘ariff’). 


4. Umm-ul-Kitab: Ilmu Allah 


5, ‘Uruj: Pendakian salik dari ajsam (jasmani) ke mithal; dari mithal ke arwah dan dari arwah ke Haqiqat-i-Muhammadi; dan dari sana ke Zat. Ini bisa dalam penglihatan atau dalam ilmu atau keduanya. 


6. ‘Ubudiyyat: Kehambaan; Pengabdian; Keterbatasan. 



ABJAD W


1. Wahidiyyat: Bagian depan yang Terlihat. 


2. Wajib: Perlu, seperti dalam Wajibu’l Wujud, keberadaan yang perlu. 


3. Wadu: Wudhu sebelum shalat, yang menunjukkan pemisahan dari Dunia.


4. Wahy: Wahyu melalui malaikat. 


5. Wisal: Penyerapan; kehilangan diri dalam Allah. 


7. Wazifa: Mengingat atau mengulang-ulang nama Allah atau ayat-ayat Al-Quran pada waktu-waktu yang ditentukan. 


8. Wajid-i-Mutlaq: Keberadaan Mutlak. 



ABJAD Z


1. Zahir: Luar atau Eksternal. Manifestasi Allah dalam bentuk A‘yan beserta sifat-sifatnya. 


2. Zamir: Tahap pertama dalam Malakut; aspek batin Qalb (fikiran). 


3. Zahid: Orang saleh. Seorang sufi dikenal sebagai zahid, sebelum istilah sufi mulai digunakan. 


4. Zaqum: Pohon berduri di neraka, buahnya dikatakan sebagai kepala setan, yang akan dimakan oleh orang-orang terkutuk dalam neraka.


5. Zalim: Pertama-tama, orang yang meletakkan sesuatu bukan ditempatnya; kedua, orang yang menindas orang lain. 


6. Zat : ‘Yang’ menunjukkan sifat. Tidak dapat diperkatakan hakikatnya. Ada orang menganggap Zat serupa dengan wujud ; tetapi Wujud dikira antara hypotesis Wahdat iaitu ilmu, Nur, Wujud, Syuhud; agar Zat mesti atas lagi dari haypotesisi itu.

Zat: ‘Yang mana’ memperlihatkan sifat. Ia adalah realitI atau kenyataan yang tidak dapat didefinisikan. Sebagian orang menganggap Zat sama dengan Wujud; tetapi Wujud diperhitungkan di antara empat hipostasis wahdat, yaitu, ‘Ilmu (pengetahuan), Nur (cahaya), Wujud (Wujud), Shuhud (pengenalan terhadap ketiganya); jadi Zat harus berada di atas hipostasis-hipostasis ini. 


7. Zat-i-zahir : Zat i- zahir terdiri dari arwah, amthal, ajsam ; Zat i Batin terdiri dari Ahdiyyat, Wahdat dan Wahdiyyat.


8. Zakir : orang-orang yang berzikir 


9. Zikr: Mantra-mantra; bacaan zikir (mengulang-ulang nama-nama Allah.)


10. Zindiq: Seorang pengikut Mani atau Manes dari Persia, pendiri sekte Manichean (lahir tahun 215 atau 216 M); yang meyakini bahwa ada dua tuhan, satu pencipta kebaikan dan yang lainnya pencipta kejahatan. Istilah ini sekarang diterapkan kepada atheis dan bidaah di negara-negara Muslim. Kaum sifi menerapkannya kepada orang yang tidak memperhatikan karakteristik tingkatan Ujian yang berbeda, misalnya, orang yang menganggap makhluk sebagai tuhan maka mereka ini adalah zindiq. 

Setiap tingkatan memiliki sifat-sifatnya sendiri, 

Jika Anda tidak mem perdulikannya, anda menjadi zindiq. (Jami) 


KITAB TERSOHOR ”ANA AL HAQ” : (19) PERPINDAHAN RUH DARI BADAN KE BADAN LAIN (TANASUKH)

Oleh Syekh Muhammad Ibrahim ‘Gazur-i-Illahi’ (Sufi Syatariyyah)


1. Ada orang yang percaya bahawa Ruh manusia tidak bergantung pada dirinya sendiri. Kata mereka, kemerosotan dan kebinasaan tidak mengenainya. Apabila badan binasa Ruh itu pun pergi mencari badan yang lain sama ada sejenis atau jenis yang lebeh terrendah atau yang tertinggi dan menzhirkandirinya dalam badan itu tanpa memutuskanperkaitannya dengan badan terdahulu, ibarat menyalin buku dari satu kertas kepada kertas yang lain.


Pengarang “Gulsyan i Raz – Syeikh Mahmud Syabistari berkata:


“ Tanasukh itu kufur dan batil, kerana berdasarkan pandangan yang sempit”


Pertama, Pandangan yang sempit orang-orang yang percaya kepada tanasukh ini ialah mereka menumpukan pandangan mereka kepada badan ini sahaja tanpa mempedulikan alam mithal dan juga kerana tidak percaya kepada kemajuan ruh dalam alam ruh dengan lakuan-lakuan yang baik seperti dipandang oleh nabi-nabi.


Kedua, kata mereka ruh-ruh itu kekal abadi dan bilangannya terhad, dan ruh-ruh itu berpindah-pindah dalam berbagai-bagai badan. Mereka tidak tahu bahawa tiap-tiap keyika ada tajalli baru dan manifestasi, dan tajaliyyat Allah tidak dapat dikira dan tidak berulang-ulang.


Ketiga, mereka tidak tahu bahawa ruh-ruh itu bebas dari badan. Jalaluddin Rumi dalam Matnawi  berkata:

“Engkau itu badan tanpa badan, mengapa engkau takut bercerai nyawa dari badan”


Keempat, ruh bukanlah kepada yang keluar dari bada atau masuk ke dalam badan. Yang keluar dan masuk itu mempunyai kualiti-kuualiti jasmani atau Fizikal. 

Ruh  bukan badan, yang boleh pula keluar dari badan yang lain.


Kelima, ruh itu penggerak dan gerakanya terkhas bagi satu badan untuk baik atau untuk jahat.


Firman Allah SWT:

“Bagi kamu, apa yang kamu dapat dari kebaikan  dan bagi kamu apa yang kamu dapat dari kejahatan”  [Surah al baqarah: 286]


Syurga dan neraka adalah bentuk-bentuk yang dihantar oleh sesorang bagi dirinya dari dunia ini, dan yang akan menunggunya dalam alam mithal. Seseorang itu tidak akan kembali lagi ke dunia ini untuk megambil hasilnya.


Orang-orang Islam (kecuali mazhab-mazhab terentu dalam mazhab syiah) tidak percaya dengan TANASUKH iaitu perpindahan ruh dan ke satu badan yang lain. Ataupun. RIJ’AT ialah kepercayaan kepada kembalinya Ruh yang telah pergi ke dalam badan yang baru. atau HULUL ialah kepercayaan kepada Penjelmaan Allah dalam bentuk manusia. 


Ketiga-tiga fahaman diatas adalah TIDAK BENAR kerana ianya bertentangan dengan TAUHID dan mengujudkan ghayr. Kepercayaan ini BID’AH.


“Dan hidup di dunia ini tidaklah apa-apa selain dari permainan dan gurau senda dan sesungguhnya negeri akhirat itu adalah lebih baik bagi mereka yang bertqawa” [Surah al- An’am : 32] 


“ Oh Tuhan kami, keluarkan kami darinya (neraka yang disebutkan dalam ayat 103 dan 104 surah yang sama). Kemudian jika kami kembali kepada kejahatan, sesungguhnya kami zalim. Dia akan berkata : Pergi ke dalamnya, dan jangan bercakap kepada aku” [Surah Al Mukminum : 107-108]


Surah Al-Mukminun Ayat 107 & 108 adalah dalil bahawa seseorang tidak akan kembali ke dunia ini lagi untuk membaiki diri sendiri satelah Ruhnya kembali ke Rahmatullah. 


“Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang-orang beruntung.Siapa yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri. Mereka kekal di dalam (neraka) Jahanam.” [Surah Al Mukminum : 102-103)


Penganut faham Tanasukh (reinkarnasi) dalam Islam merupakan pendukung ajaran ini ialah golongan Ghulat dalam Mazhab Syiah (Abu Muslim Khurasan, Ahamd ibn Zakaria)


Mereka menemukan fahaman ini dalam beberapa penfasiran ayat al quran , tetapi memiliki makna berbeda.


"Kamu yang tadinya mati, kemudian Dia menghidupkanmu. Kemudian Dia mematikanmu, kemudian menghidupkanmu kembali. Setelah itu, kepada Dia kamu kembali.” [Surah Al Baqarah : 28]


“Kami bangkitkan kamu setelah kematian, agar kamu bersyukur,” [Surah Al Baqarah : 56]


“Mereka akan mengatakan ini sama seperti yang kami dapatkan sebelumnya, hal serupa juga akan diberikan kepada mereka, begitu juga dengan kawan yang murni.” [Surah Al Baqarah : 25]


“Namun mereka masih ragu-ragu tentang ciptaan baru. [Surah Qaf : 15]


“Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melampaui batas di antara kamu, maka Kami katakan kepada mereka: Jadilah mereka (seperti) kera yang hina dan dibenci.” [Surah Al Baqarah : 28]


Empat ayat pertama merujuk pada keadaan manusia di alam barzakh atau alam 'alam-i-mithal: dan ayat terakhir merujuk pada jelmaan akhlak atau moralnya dan bukan kembali ke dunia untuk ujian kali kedua. ‘


Manusia menciptakan bentuk-bentuk khayalan (hyakal-i-khiyali) di dunia ini; dan bentuk-bentuk ini menemani tubuh mithali-nya di alam barzakh; sebenarnya tubuh mithali-nya ini berbentuk. 

Tabiat atau Karakternya yang dominan adalah.

“Kera dan harimau” dapat menunjukkan dirinya dengan demikian. 


Bentuk-bentuk khayalan ini berlanjutan hingga hari Qiyamat ketika matahari terbit di Barat, yaitu, Ketika menyedari bahawa sifat-sifatnya adalah bayangan sifat-sifat Allah, dan berpuashati dengan sifat Jamali dan Jalali, mengikut hal masing-masing, kerana sifat-sifat akhirnya masuk atau menyatu dalam Zat.


Fahaman tentang buruz iaitu Ruh wali atau nabi yang telah meninggal dunia mempengaruhi kelakuan atau tabiat wali atau nabi yang lain seperti yang dipercayai oleh setengah-setengah sufi, tidak ada sangkut paut dengan tanasukh.


KITAB TERSOHOR ”ANA AL HAQ” : (18) QADHA DAN QADAR

Oleh Syekh Muhammad Ibrahim ‘Gazur-i-Illahi’ (Sufi Syatariyyah)

1. Taqdir (Ketentuan) dari benda atau objek-objek ada hubungan dengan tangan a‘yan mereka; karena, ilmu Allah tentang objek-objek bergantung pada hakikat objek-objek itu sendiri. Salam pengertian ini, tidak memiliki kekuatan untuk mengubah hakikat-hakikat yang mana adalah bakat-bakatnya atau kemampuan-Nya sendiri. 

Hakikat-hakikat itu terpendam, dan Allah memberikan manifestasi-manifestasi kepada mereka; lakuan-Nya tidak menghasilkan athar (kesan)-nya sendiri. 

Ilmu atau pengetahua dalam proses mengetahui bergantung pada yang ‘diketahui’, sedangkan yang diketahui tidak bergantung pada pengetahuan. 

Tukang pewarna kain hanya mencelup kain tetapi menjadikan celup itu.

Dengan demikian a‘yan dalam takdir adalah para penguasa dan Allah yang diperintah.

Allah memerintah sesuai dengan persyaratan a‘yan, dan dengan demikian menjadi Pencipta A’yan. 

A‘yan-i-kharija (a‘yan atau objek-objek zahir) bergantung pada hakikat-hakikat mereka dalam ilmu dan hakikat-hakikat itu sendiri bergantung pada Shuyunat (keupayaan atau potensi) mereka. 

Shuyunat tidak bergantung pada Zat dalam manifestasi (penzahiran), tetapi Zat bergantung pada Syuyunat dalam proses manifestasinya. 

Manifestasi hanya tampilan dan bukan mengeluarkan dari ketiadaan, sebagaimana yang dikatakan oleh Mutakallimin (ahli ilmu kalam).

Zat adalah qadim (tanpa awal) dan shuyanat serta sifat-sifatnya juga qadim. 

Manifestasi hanyalah mengeluarkan dari batin menuju zahir (dari tidak nampak kepadsa nampak); tidak ada mengeluarkan dari kosong dalam prosesnya. 

A‘yan tidak dapat menampilkan diri mereka sendiri; Sang Penzahir atau pewujud tidak dapat mewujudkan diri mereka sendiri; dan pewujud ini adalah Allah; 

Syeikh Gulshan-i-Raz berkata: 

Allah adalah yang mengetahui, a‘yan dan objek adalah ‘yang diketahui’, Yang diketahui’ adalah penguasa, dan yang ‘mengetahui’ yang diperintah. 

Qadha bergantung pada Qadar; dan Qadar pada shuyunat; dan Zat dalam manifestasinya bergantung pada shuyunat. 

Qadha adalah perintah zahir dan qadar adalah keperluan batin dalam ilmu.

Shuyunat masuk dalam ilmu sebagaimana mereka berada di Zat. 

Taqdir adalah ukuran dalam ilmu (pengetahuan). 

Segala sesuatu diukur dan ditimbang dalam ilmu ini adalah yang asli. 

Ukuran ini bergantung pada shuyunat, yang masuk ke dalam ilmu sebagaimana ia berada dalam Zat. 

Ilmu hanyalah mengetahui ukuran asli, ini yang zahir ke luar. 

Yang terzahir keluar hanyalah alat atau agen dan bukan pelaku.

Taqdir berada di tangan a'yan dan bukan di tangan Allah. 

Sang Pencinta berada di tangan yang dicintai. 

Hag cinta menzahirkan menurut tuntutan a'yan-Nya (bakat-Nya), dan membentuk rupa-rupa mereka dalam ilmu-Nya dan mengzahirkan keluar; dan menyembah aspek keindahan-Nya sendiri; dan proses ini berlangsung dan akan berlangsung selamanya. 

Dia menjadi cermin-Nya sendiri dan menampilkan diri-Nya, dan mengamati diri-Nya dan menikmati pengamatannya; dan tidak ada ‘ghayr’ (yang lain).


2. Iradat (Kehendak) adaalah dalam Allah, dan manusia tidak memiliki kehendaknya sendiri. 

Kekuasaan bergantung pada wujud. Oleh karena itu, tidak ada tidak memiliki kekuasaan. 

Tuhan menciptakan anda dengan kehendak-Nya, dan kehendak itu nyata dalam diri anda. 

Anda belum menjadi ‘yang dijadikan’ dengan kehendak anda.  Anda katakan anda telah melakukannya dengan kehendak anda. 

Anda tidak sadar bahwa anda tidak berkuasa dan qanda bukanlah seorang agen. 

Kaum Mu‘tazilah (Menggunakan akal) mengatakan bahwa mereka adalah pencipta lakuan mereka sendiri. 

Allah telah berfirman:

“Wallahu khalaqakum wu ma taqmalun.”

 ‘Allah telah mejadikan kamu dan perbuatan kamu.” [Surah Saffat : 96]

Baik penganut kehendak bebas maupun penganut keharusan sama-sama salah.

Allah adalah pelaku, ‘ghayr’ tidak bebas mahupun di bawah ketentuan.


3. Qadr terdiri dari ‘bakat-bakat’ diri-Nya (yaitu,) a’yan dan Qadha adalah perintah-Nya kepada ‘bakat-bakat’ atau a‘yan untuk menyatakan diri mereka pada waktu dan tempat tertentu. 

A‘yan menyatakan diri mereka dengan cara mereka sendiri, dan sesuai dengan bakat mereka sendiri, dan bukan sebaliknya.

Telinga tidak dapat melakukan kerja mata dan kacang almond tidak berasa seperti anggur; Buah durian tidak berasa rambutan.

Qadha tertakluk pada ilmu Allah yang kekal dan ilmu yang kekal itu tertakluk kepada A’yan (bakat)

a‘yan dalam keadaan terpendam (sebelum masuk dalam ilmu) ada dalam Zat.

Segala sesuatu meminta (berdoa) dizahirkan dengan lidah ‘bakat-bakat’-nya dan Allah mengabulkannya. 

“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkanmu” [Surah Al Mukmin : 60]. 

A‘yan tidak diciptakan oleh ciptaan oleh Sang Pencipta.  

Nama ‘Mudhil’ (yang menyesatkan) tidak mendatangkan keburukan akhlak dan Rohani; dan nama ‘Mahdi’ (yang menuntun ke jalan yang benar) membawa ketinggian akhlak dan rohani.

‘Bakat-bakat’ itu asli dan asal muasal asma dan sifat; ialah adalah hakikat-hakikat Zat, dan tidak dapat diubah. 

Tuhan memberikan penzahiran kepada mereka dan ini adalah Masyiyat-Nya (kurnia) Nya). Ini adalah keadilan pada awalnya. 

A‘yan mengambil bentuknya sebagaimana dalam ilmu. Ilmu (pengetahuan), iradat (kehendak), dan kudrat (kekuatan) Allah tidak mengganggu manifestasi mereka. 

Sebaliknya, a‘yan dalam ilmu (dan bukan dalam terpendam, terbuni) adalah para penguasa dan Allah yang diperintah; 

Allah adalah ‘yang mengetahui’ dan a‘yan ‘yang diketahui’. 

Seorang petani menanam tanamanya menurut keadaan benda-benda yang ditanam itu. Menanam pokok getah lain caranya dan tempatnya dari menanam padi. Begitu juga jenis tanam-tanaman yan lain.

Jika ia tidak tahu membezakan antara getah dan padi, maka itu menunjukkan ia jahil. Ilmunya memberi mereka pernyataan menurut kualiti-kualiti mereka, dan mereka wujud menurut apa yang ada pada mereka.

Firman Allah SWT : 

“Tidak ada perubahan dalam perkataan-perkataan Allah” [Surah Al An’am : 34]


4. Sebagian orang adlah penganut Qadariah (kehendak bebas) sebagian lagi adalah penganut Jabariah (keharusan) dan sebagian lagi berada di antara keduanya. 

Yang benar adalah Zat Allah dengan sifat-sifatnya telah mezahirkan Dirinya sendiri dengan Dirinya sendiri, dan bukan  ‘yang lain’ yang tidak wujud. 

“La illaha illa Hua.’ (Tidak ada Tuhan selain Dia.) 

Jika ‘yang lain’ ini ada, maka itu adalah keharusan.

Orang salik melihat semua agama adalah satu. 

“Sesungguhnya aku beragama dengan agama Rab-ku.” 

Pandangan salik diangkat di atas ‘yang lain,’ 

“Sesungguhnya, kamu (Wahai, Nabi) tidak dapat memberi petunjuk dengan benar kepada siapa yang kamu sukai tetapi Allah dapat memberi petunjuk dengan benar kepada siapa yang Dia sukai.” [Surah Qasas : 56.]

“Kamu tidak dapat memberi petunjuk dengan benar kepada siapa yang disesatkan Allah, dan kamu tidak dapat menyesatkan siapa yang diberi petunjuk oleh Allah ke jalan yang benar.” Hadits-i-Qudsi : 

“Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka merekalah orang-orang yang rugi.” [Surah Al-A’raf: 178].

Ketika salik sampai pada haq atau kebenaran, hubungan itu pun sirna; dan didapati Allah sebagai Hadi (Yang memberi petujuk) tanpa campur tangan perantaraan (orang tengah).


Ahad, 4 Mei 2025

KITAB TERSOHOR ”ANA AL HAQ” : (17) MUKJIZAT

Oleh Syekh Muhammad Ibrahim ‘Gazur-i-Illahi’ (Sufi Syatariyyah)


1. Mukjizat terjadi ketika ‘ariff turun dari tahap Lahut; karena pada tahap itu ia diserap oleh dirinya sendiri, dan sifat-sifatnya dilenyapkan. 

Jika terjadi mukjizat di sana, ia sama sekali tidak menyadarinya; itu terjadi meskipun ia tidak menginginkannya. 

Mukjizat yang terjadi dalam kesadaran untuk menyebarkan kebenaran berasal dari Jabarut. 

Mukjizat para anbiya dan awliya yang merupakan manifestasi khusus, berasal dari asma-i-jamali, Al-Hadi, Ar-Rashid, dan yang lain-lain, dari ini disebut Istidraj berasal dari asma-i-jalali, Al-Mudhil, dan lain-lain. 

Mukjizat bagaikan pena di tangan seorang penulis, tujuannya untuk menunjukkan kekuatan dan kebijaksanaan Allah; karenanya sebab dan akibat tidak ada di sana. 

Kebijaksanaan adalah manifestasi nama Allah, Al Hakim. Lakuan perbuatan Allah ditunjukkan dalm makhluk dalam perbatasan. Makhluk tidak ada kuasa,

Jika tidak ada batasan, tindakan akan terjadi dalam skala tak terbatas, dan tidak akan bergantung pada urutan sebab dan akibat. 

Manfaat Riyadat dan Mujahadat adalah untuk menghilangkan kegelapan keterbatasan ini dari cermin Qalb, dan membuat jiwa menjadi bergilap; sehingga lakuan terjadi dalam skala tak terbatas. 

Sifat Mutlak menjadi sifat terbatas; ketika keterbatasan dihilangkan, sifat terbatas atau terhad kembali menjadi mutlak.

Penghapusan keterbatasan ini terjadi pada salik di jabarut dan bukan di Lahut atau Malakut atau Nasut.

Al-Ghazali tidak percaya pada keberadaan sebab dan akibat dalam dua tahap pertama. Bersamanya adalah:

Lautan dalam keberadaannya memiliki gelombang dan ombak.

Syaikh Gazur-i-Ilahi dan Syaikh Muhiyyudin Ibn Arabi menelusuri sebab dan akibat hingga manifestasi nama Ilahi. 

Al-Hakim yang Bijaksana, sebagaimana semua fenomena lainnya ditelusuri hingga manifestasi nama-nama Ilahi lainnya. 

Artinya, mereka berpendapat bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan rencana yang ditetapkan secara ilahi dalam tahap Asma.


Mukjizat dan Keramat  hanya berbeda dalam hal ini, bahwa dalam mukjizat penampakannya dilakukan oleh nabi; dan dalam Keramat kerahasiaannya diperhatikan oleh para awliya.

Jika kerahasiaan itu disingkirkan, keramat menjadi mukjizat, sebagaimana wilayat menjadi kenabian, saat ia diperlihatkan. 

Para nabi lebih unggul daripada waliyyat, hanya karena hal ini, dan atas perintah Ilahi untuk mengajak manusia kepada kebenaran. 

Oleh karena itu, para waliyyat mengikuti para nabi, oleh karena itu:

“Barangsiapa mencari jalan yang berlawanan dengan jalan Nabi, Tidak akan pernah sampai ke tujuannya.” [Sadi]


Dikatakan: ‘Wilayat lebih baik atas kenabian” ; namun, tidak dikatakan bahwa seorang Wali lebih unggul daripada seorang nabi; karena nabi memiliki tugas tambahan untuk mengajak manusia ke jalan Allah.


2. Dalam Qurb-i-Farayad, Allah adalah aktor dan hamba adalah instrumen-Nya.

“Ketika kamu melemparkan segenggam debu (dalam perang Badar), bukan kamu yang melemparkannya, tetapi Allah sendiri.” [surah al Anfal : 17]


Pada pandangan awam, Nabi yang melontar.

Nabi Ibrahim memanggil keempat burung yang telah dicincang dan dibagi-bagikan dan ditempatkan di puncak bukit yang berbeda, untuk membuktikan hidup selepas mati (Hidup di akhirat). 

Bacalah surah Al Baqarah ayat 260 tentang cerita ini.

Dalam Qurb-i-Nawafil, prosesnya terbalik, si hamba membungkus dirinya dengan sifat-sifat Allah, misalnya, membungkus dirinya dengan sifat hidup, maka yan mati itu dihidupkannya . Ini adalah tahap Wilayat dan bukan Nubuwat atau kenabian.


3. Allah meniupkan RuhNya ke dalam Adam, maka Adam pun hidup; dan Nabi Isa meniupkan nafasnya ke dalam burung dari tanah liat; dan maka burung itu pun hidup. 

Yang meniupkan nafas adalah sama dalam kedua kasus tersebut.

“Kita semua adalah buluh, dan Dia adalah peniup seruling.”

Semua gerak atas perintah-Nya. Semua gerak di Dunia adalah manifestasiNya.


“Setiap hari Dia dalam keadaan (keagungan).” [Surah Rahman ; 29].

“Di dalam syariat ada sekatan undang-undang atau hukum, Karena Dia telah menetapkan sifat-sifat-Nya sendiri.”

Zat anda adalah ‘adum; ‘adum tidak dapat dibatasi. Engkau telah dianugerahi Zat-Nya, sifat-Nya, dan af‘al-Nya, (tindakan-tindakan) yang anda hanya manifestasiNya. 

Gerak Haqq terwujud dalam makhluk : 

“Dia menciptakan mu dan perbuatan mu.” [ Surah Saffat : 96.]

Mukjizat dan keramat para nabi dan awliya sebenarnya adalah lakuan-lakuan Allah; mereka tidak memiliki kemampuan untuk melakukan Mukjizat dan Kerama ini, mereka hanya fanadalm Allah untuk waktu itu.

Dalam Qurb-i-Farayad, salik menjadi Fana dalam dirinya sendiri dan Haqq menjadi hakikatnya dan sifat salik menjadi instrumen Haq. 

Dalam Qurb-i-Nawafil, sifat salik muncul sebagai sifat Haqq. 
Artinya, salik muncul sebagai hakikat Haq dan Haqq menjadi instrumennya. 
Dalam yang satu, Samudra menjadi hakikat buih, sifat samudranya hilang, dan kehambaab (ubdiyat) menjadi ciri khasnya; 

dalam kes lain, ketika buih menjadi hakikat samudra, Ketuhanan menjadi bidangnya. 
Dalam kes pertama, seekor gajah berjalan dengan kaki seekor semut; dan dalam kes kedua, seekor semut berjalan dengan kaki seekor gajah. 

Semua mukjizat adalah hasil dari proses terakhir ini.
 
Dalam kes pertama, seolah-olah seorang atlet menusuk dengan jarum, dan hasilnya tidak berapa nampak, tindakan tergantung pada instrumen; dalam kes kedua, seorang bayi memotong dengan pedang, hasilnya luar biasa karena alasan yang sama. 

Salik menjadi telinganya. Dia mendengar suara-suara yang jauh dan melihat objek-objek yang jauh, 
Nabi Musa mendengar suara Allah dengan pendengaran Allah dan ini dari semua arah. 
Ketika hamba mendengar melalui Allah, dia mendengar suara-suara dari timur dan barat pada saat yang sama. 

Ketika dalam perang Badar, Nabi melemparkan segenggam debu ke musuh, itu adalah 
“bukan kamu yang melemparkannya, itu adalah Allah sendiri.” 

“Meskipun Al-Quran berasal dari bibir Nabi, Siapa pun yang mengatakan "Allah tidak berbicara" maka ia menjadi kafir.” (Mathnawi)

Ini adalah contoh-contoh Qurb i-Farayad. 

Mukjizat adalah contoh-contoh dari Qurb-i-Nawafil.

KITAB TERSOHOR ”ANA AL HAQ” : (16) KENAIKAN (URUJ)

Oleh Syekh Muhammad Ibrahim ‘Gazur-i-Illahi’ (Sufi Syatariyyah)


1. “Dan barangsiapa yang buta di dunia ini, maka ia akan buta di akhirat dan lebih tersesat dari jalannya.” [Surah Bani Israil : 72]

Barangsiapa yang belum menjalankan tajalliyat (Pembukaan pengalaman kerohanian) di dunia ini, maka ia tidak mungkin menjalankannya di akhirat nanti. Dunia ini adalah ladang untuk akhirat, 


2. ‘Aziz Musaffi berkata bahwa hakikat surga adalah apa yang menguntungkan kita; dan hakikat neraka adalah apa yang tidak menguntungkan; yang satu adalah kebahagiaan dan yang lainnya adalah kecelakaan. 

Ada beberapa pintu menuju surga dan neraka. Semua tindakan dan perkataan yang terpuji adalah pintu menuju surga, dan semua tindakan yang tidak terpuji adalah pintu menuju neraka; karena kebahagiaan diperoleh dalam satu kes, dan ketidakbahagiaan dalam kes yang lain. 

Ini adalah sumber-sumber ‘kebangkitan kembali perumpamaan-perumpamaan’ di akhirat nanti. 

Hal-hal baik seperti tawakal dan ketakwaan terbentuk; dan hal-hal jahat seperti kekufuran dan dosa juga terbentuk.


3. “Masuk ke dalam kekufuran sejati dan keluar dari Islam metaforis.” 

Islam metaforis adalah syirik-i-khafi. Berhala yang paling agung yang disembah adalah ‘ke-aku-an’ anda, yang dianggap sebagai wujud anda.

Nafs adalah berhala yang paling besar, dan kewujudannya adalah syirik zat. 

Kekufuran sejati adalah pembubaran ‘ke-aku-an’ dalam ‘ke-aku-an’ Tuhan, ‘Kufur’ secara harfiah berarti ‘menutupi’. Sebagaimana petani menutupi benih dengan tanah, maka ia adalah seorang kafir. 

Proses kekufuran ini disebut ‘Fad-filiah’, meskipun dalam syara’ merupakan proses bekerja melawan ketetapan dan hukum. 


4, Ada dua kelompok sufi  iaitu Malamati dan Salamati. 

Yang pertama secara lahiriah adalah orang-orang kufur, tetapi di dalam hati, mereka adalah Muslimin dan taat beribadah. 

Sementara kekufuran secara harfiah berarti menyembunyikan benih di bawah tanah; di sini berarti fana atau penghapusan jati diri salik, di bawah bayang-bayang keberadaan Tuhan yang menutupi segalanya. 

Manakala Salamati dikuasai oleh ketaatan lahiriah, Hazrat Ghawth berkata: 

‘‘ Orang-orang berdosa terlibat dalam dosa mereka dan orang-orang yang taat dibayang-bayangi oleh ketaatan mereka, para pencinta Allah terbebas dari keduanya.”” 

Oleh karena itu Abu ‘Ali Sina menulis kepada Aba Sa‘id Abul-Khair:

“Keluar dari Islam metaforis dan masuk ke dalam kekufuran sejati.” 

Jika Anda menginginkan Kebenaran, tinggalkan adat istiadat. Bahkan jika Anda makan sepuluh pounds anggur, anda tidak akan pernah mabuk. 

Ketika daging buahnya matang, kulitnya tidak ada gunanya. 


5. Syaikh Yahya Munir menulis bahwa cara-cara awliya tidak seragam. 

Yang satu makan dengan lahap, dan tidur nyenyak; yang lain kelaparan dan berjaga malam. 

Yang satu bergaul dengan orang-orang, dan yang lain menyendiri. 

Yang satu berpakaian compang-camping, dan yang lain berpakaian sutra dan linen halus; 

dan yang satu diam dan yang lain ikut berbicara; 

yang satu menyembunyikan keadaannya, yang lain mengungkapkannya. 

Yang satu melayani semua orang, baik yang taat maupun yang berzina; dan yang lain tidak menjawab salam yang terakhir. 

Yang satu menerima hadiah tanpa meminta; yang lain tidak menerimanya.


6. Dalam fana (binasa), pengetahuan tentang Fana tetap ada, dan seseorang mencapai di dalamnya Baqa (keabadian) bersamanya. 

Dalam Fana-ul-Fana (binasa dari binasa), pengetahuan tentang Fana itu sendiri menghilang dan seseorang mencapai di dalamnya Baqa tanpa pengetahuan ini. 

Dalam kes pertama, ia tidak hancur dalam Zat-nya sendiri, dan dalam kes kedua, Haqq tetap abadi dengan pengetahuan tentang dirinya sendiri,  Baqa (keabadian) dan Fana tentang 'ghair'-Nya; (yang lain).

'Adum (ketiadaan) tidak memiliki pengetahuan tentang 'ketiadaan'-nya, 


7. Sebagian orang lebih mengutamakan ilmu daripada amal, dan sebagian lagi mengabaikan proses ini. 

Yang benar adalah bahwa amal adalah ilmu dalam berbentuk. 

Lampaui keduanya dan raihlah ‘hal’ (keadaan dzauq), yang merupakan puncak dari keduanya. 

Para orang-orang Allah tidak menyibukkan diri mereka dengan hal lain selain pemikiran Tauhid, ilmu, amal dan Hal datang secara berurutan. 

Amal yang benar muncul dari ilmu yang benar di bawah bimbingan seorang guru.


8. Dalam Fana, salik menemukan semua ta‘iyyunat (keterbatasan) sebagai tajalliyat (sinaran) Allah dan dirinya sendiri dari mereka; dan ketika mencapai tahap baqa ia menemukannya taiyyunat sebagai miliknya sendiri.

Jadi dalam fana, ilmu salik menghilang dalam ilmu Allah dan dalam yang terakhir, ilmu Allah menghilang dalam ilmu si salik. 

Sekarang ia tahu bahwa ia adalah ‘yang diketahui’ sendiri dengan ilmunya sendiri, dan bukan oleh pengetahuan ‘ghayr’ karena ‘ghayr’ dengan ilmunya telah menghilang. 

Pengetahuan dan keberadaan Haqq telah menghilang dalam pengetahuan dan keberadaan Diri. 

Di sini ia menemukan dirinya sebagai Kebenaran, dan sisanya (dunia) sebagai keberadaan oleh pengetahuannya sendiri. 

Salik dalam dualitinya menganggap dirinya ada oleh keberadaan Tuhan; ketika ghayriat (‘keberbedaan’) menghilang, ia menemukan dirinya ada dengan keberadaannya sendiri 

Kemudian ia mengetahui dirinya sebagai seorang yang mengetahui dengan ilmu tentang Allah, kini ia menjadi seorang yang mengetahui dengan ilmunya sendiri, 

Maulana Ma‘nawi berkata: 

“Ilmu Allah menghilang dalam ilmu sufi, Bagaimana orang awam bisa percaya pada hal ini,”

Hilangnya ilmu sufi dalam ilmu Allah mengharuskan fana dan lenyapnya ilmu Allah dalam ilmu sufi mengharuskan baqa.

Ketika ilmu sufi lenyap dalam ilmu Allah, maka Ilmu sufi menjadi ilmu Allah itu sendiri. 

Maka dalam kenaikan (‘uruj) sufi menemukan dirinya sebagai Haqq, karena di sini sufi dan ilmunya sama-sama fana atau musnah. 

Ketika ilmu Allah lenyap dalam ilmu sufi, maka itu baqa. 

Ilmunya menjadi ilmu sufi itu sendiri. 

Di sana, ketika buih itu sendiri menjadi hakikat laut, maka ia tidak lagi menjadi buih. 

Ketika laut menjadi hakikat buih, maka buih itu menjadi laut itu sendiri dan menemukan hakikat itu sendiri. 

Sekali lagi, sufi berada di bawah keterbatasan ilmu dan wujud; ketika ia melarutkan dirinya, maka ilmunya menjadi tak terbatas. Inilah Fana. 

Ketika ilmu Allah berada di bawah keterbatasan ilmu sufi, maka ilmunya menjadi ilmu yang terbatas. Inilah Baqa,—laut yang menghilang dalam buih.

Ini adalah tahap penurunan (nuzul). 

Mathnawi berkata:

“Ada matahari di setiap zarrah atom, 

Seekor singa yang indah di bawah kulit seekor domba.”


Pada tahap pertama, seorang sufi menemukan laut yang tak terbatas dalam batasan keberadaan; yang tak terbatas dalam batasan dirinya ; matahari di dalam atom. 

Ketika ia menemukan ilmu dan keberadaan mutlak yang terbatas dalam dirinya, ia berkata:

"Ilmu Allah telah menghilang dalam ilmu sufi.”

Fana adalah binasanya sufi dan terdirinya Haqq; 

Baqa adalah kebalikannya. 

Karena ‘keberbedaan’ di sini menghilang; dan, dalam kondisi ini seluruh dunia ditemukan terdiri dari Tajalliyat-nya sendiri semua sebagai manifestasi dari nama-nama dan sifat=sifatnya. 

Hukum-hukum syari‘at dan tariqat ditiadakan dalam tahap ini. 

Fana adalah binasa diri yang tidak nyata (rumah ‘aku’ kosong, seperti yang mereka katakan) dan Baqa adalah timbulnya diri yang nyata dalam satu dan semua. 

Dzikir Zat adalah dzikir ana (aku), maka mereka mengatakan ‘Aku adalah Hag’ (Ana’l-Haqq). Dalam kondisi ini ‘keberbedaan’ menghilang. 

Hu (Dia) adalah kata ganti orang ketiga; tidak ada keharusan untuk ini, ketika orang tersebut hadir. 

Ketika Allah berbicara sendiri, Dia mengatakan ‘Aku adalah Kebenaran’’Ana‘l- Haqq, “‘akulah yang Maha Suci” (Subhani).

Allah itu kekal dalam Zat sufi, dan ilmu tentang Allah itu kekal dalam ilmu sufi. 

Ketika sang sufi turun ke tahap yang dijadikan, ia berkata: Hu-al-Haqq (Dia adalah Allah) mengacu pada tahap yang pernah dilaluinya sebelumnya. 

Zikir hamba adalah ‘Dia adalah Allah”, dan memberikan kepada-Nya sifat-sifat-Nya dan wazifa atau zikir khusus berarti memberikan sifat-sifat kepada Diri-Nya sendiri.

Ketika Syah ‘Alam mengulang-ulang nama Allah, ia menjadi ‘yang dinamai’ itu sendiri, misalnya Jalali (atau agung) atau jamali (cantik).

Ketika ia mengucapkan nama Al-Jabbar atau Al-Qahar, ia akan muncul dalam bentuk seekor singa atau seekor gajah, dan para pengikutnya akan lari darinya; 

ketika ia mengucapkan nama Al-Jamil, ia akan muncul seperti pemuda yang tampan. 


9. “Langit tanpa tiang adalah mukjizat sang ‘ariff” 

Dari sini, fahamilah apa itu ‘Ariff. 

Wujud-i-Mutlak (keberadaan mutlak) adalah Zat murni dari Ariff; jabarut adalah alam sifatnya, malakut adalah alam perbuatannya; dan Nasutr adalah alam athar (akibatnya). 

Sebenarnya, ‘keseluruhan’ adalah Ariff itu sendiri. 

“Alhamdu lilahi Rabbil ‘alamin” (segala puji bagi Tuhan semesta alam) yang disebutkan di atas. 

Seluruh ciptaan dari Aql-i-kul hingga ke bumi memohon perlindungan-Nya. 

Jalan lurus (sirati’l-mustaqim) asma (nama-nama) dan para nabi ada bersamanya. Yang mengetahui (‘ariff) dan yang diketahui (ma‘riif) adalah sama.


10. Api cinta menjadi cahaya makrifat dalam jangka panjang; dan ketika hal itu terjadi, ia kehilangan kehangatannya dan mengembalikan kedamaian fikiran, kemudahan, dan kenikmatan. 

Matsnawi berkata: 

Pada tahap itu pencarian keempat , jangan tinggal di situ kecuali berbicara dengan Allah. Rasa tenang ahli makrifat adalah lebih tinggi derjatnya dari cinta”

Panas cinta membakar satu kali, dan panas makrifat membakar beberapa kali: 

Ahli makrifat menjadi fana dan kemudia menjadi baqa setiap gerakan; 

kenikmatan kekasih bergantung pada keberadaannya sendiri dan kenikmatan ahli makrifat yang fana bergantu pada Haqq. 

Ia menjadi halwa (manisan) itu sendiri; dan pembedaan kenikmatan tidak ada dalam dirinya. 


Jami berkata: 

“Setiap orang hanya mati satu kali, dan orang miskin Jami mati beberapa kali.” 

Cinta adalah tajalli milik Jalal dan makrifat adalah tajalli jamal. 

Dalam yang mula, sang kekasih menjadi binasa dan menjadi fana; dan dalam yang lain, sang makrifat menjadi tetap dan baqa. 

Dalam yang mula, itu adalah: 

“Engkau tidak dapat melihat-Ku,” [Surah Al Araaf : 143] dan dalam yang lain, 

‘Lihatlah Tuhanmu” [Surah Al Furqan : 45 ]

dan 

“Segala puji bagi-Nya, yang membawa hamba-Nya pada suatu malam dari masjid haram ke masjid Aqsa.” [Surah bani Israil :1] 

Dalam satu kes, sang kekasih naik atas kemauannya sendiri, dan dalam yang lain, sang makrifat dipelawa oleh Allah

Tuhan berbicara kepada Nabi Musa dari ‘semak yang menyala’, karena Musa sedang mencari api. 

Jika dia menampakkan diri dalam bentuk lain, Musa pasti sudah berpaling. 

Bagi manusia berpaling kepada hal yang telah menjadi niat tujuan hatinya. 

Bagi sebagian orang, Allah menampakkan diri dalam bentuk ‘pemuda tanpa janggut’; 

Bagi Syaikh Bahauddin Naqsbandi, Dia menampakkan diri dalam bentuk Syaikh Nizimuddin Awliya; 


Bagi Fatima, putri Nabi dalam bentuk Nabi Muhammad (saw). 


Tajaliyat yang terbit di benak fikiran ‘orang-orang yang berhati’ tidak memiliki bentuk. 


11. (Segala puji bagi Dia yang telah melakukan perjalanan hamba-Nya di malam hari—mi‘raj). 

Di sini intinya adalah bahwa hamba itu tidak pergi, tetapi disuruh pergi. 

Bentuk nominatif dari kata kerja adalah ‘Dia’. 

Dalam kes Nabi Musa, itu adalah (Musa datang pada waktu yang Kami tentukan); dan 

dia menjawab: "Lan tara ni." (Kamu tidak dapat melihat-Ku.) 

[Surah Al Araf : 143]

Adapun orang yang dipanggil, jawabannya adalah, 'Alam yalamu bi annalaha yara." (Apakah dia tidak tahu bahwa sesungguhnya Allah melihat.) [surah al alaq : 14]

'Kalimat di malam hari' juga menunjukkan bahwa mata Nabi ditutup dari 'yang lain' (yakni dunia), ketika dia dibawa ke hadirat Allah, sehingga yang melihat dan yang terlihat menjadi Haq. 

“Mata (Nabi) tidak berpaling, tidak pula melampaui batas.” {Surah an Najm : 17)

Sebelumnya, Nabi adalah yang melihat dan Tuhan yang terlihat; dia adalah pendengar, dan Tuhan yang berbicara. 

Sekarang keadaan telah berbalik. 

Kemudian perintahnya adalah: “Qiff ya Muhammad alana Rabbika yusalla.” (Berhentilah, wahai Muhammad, Tuhan sedang mengucapkan namaz kepadamu.) “

Sebelumnya, kamu mengucapkan pujian kepada Tuhan: sekarang Dia mengucapkan pujianmu (yaitu, “Dia mengucapkan pujian kepada Nafs-Nya yang pertama.) Sebelumnya, kamu adalah yang memuji, sekarang, kamu adalah yang dipuji (Muhammad).”

Doa ada dua macam : Sederhana dan Tersusun. 

Setiap objek di dunia ini berada dalam doa sederhana. 

‘“Yusabbihu lahu ma fis samawati wal ard.” [‘Apa pun yang ada di langit dan di bumi memuji-Nya menyatakan keagungan-Nya.’’) [surat al hasr : 24}

Doa tersusun adalah doa para ahli ibadah dan ‘ariff.


12. Keterbatasan bukanlah ‘ghayr’ Allah, karena keterbatasan tidak memiliki wajib wujud. 

Oleh karena itu ketika sālik mencapai fana, ia mencapai wujud selain Wajibul wujud Zat yaitu, ia mencapai wujud sifat.

Oleh karena itu, Mir Hasan Sa‘adat berkata dalam Tanzihatu’l-Arwah bahwa dengan usaha, ‘yang terbatas’) menjadi wali dan bukan Allah.

Jadi, ‘Ana’l-Haqq’ Mansur al Hallaj dan ‘Subhani’ (‘Aku Suci’) bagi Bayazid Bustami hanyalah keterbatasan belaka. 

Ini adalah manifestasi dari sifat kalam, yang melaluinya Dia berbicara: “‘Lisanahul ladhi yutakallimu biha.” (Lidah-Nya yang Dia gunakan untuk berbicara.)

Suara dari pohon Sinai: ‘‘Inni anallahu la ilaha illa ana.’ (Aku adalah Tuhanmu; tidak ada Tuhan selain Aku) termasuk dalam kategori yang sama. 

Mereka ini, yaitu, Mansur, Bayazid dan ‘Pohon-pohon menjadi pengejawantahan firman Tuhan; mereka hanyalah alat Allah dan bukan Allah itu sendiri. 

Dalam Fana, kesadaran salik menghilang; kesadaran berarti ilmu tentang berbagai hal dan penegasan ghayr; 

Objek-objek menjadi ada dengan sendirinya di hadapannya. 

Jika keadaan ini berlangsung selamanya, ia menjadi seorang majzub atau orang yang gila dalam Allah,


13, Ali berkata: ‘Aku memiliki ilmu dalam fikiranku sehingga jika aku mengungkapkannya, kamu akan gemetar seperti tali panjang yang diturunkan ke dalam sumur yang dalam.’ 

Ibn ‘Abbas berkata: “Jika aku memberikan komentar ayat:
‘Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah menciptakan tujuh langit yang sama?’ kamu akan melempariku dengan batu sampai mati.’


14. Tajalli ada dua macam: Tajalli Allah (Rahmani), dan Tajalli Jiwa (Rohani). 
Beberapa sālik telah tersesat di jalan yang terakhir, setelah menerima kenikmatan dan kepuasan darinya, ketika hal itu menyadarkan mereka. 

Karena tajalli ini pun menyatakan ''Ana'l Haqq'', (Akulah Kebenaran), mendapati seluruh ciptaan bersujud di hadapan singgasananya; tetapi ia bersifat sementara, yakni, tidak memiliki kipas sejati di dalamnya; dan ketika ia menghilang, kualiti hewani muncul kembali, dan nafs menegaskan kembali kekuatannya atas manusia dengan kekuatan yang lebih besar. 

Dalam Tajalli-i-Rahmani, gunung nafs hancur berkeping-keping seperti halnya Sinai, ketika Tuhan muncul di atasnya.

Dalam Tajalli Jiwa, keraguan sering menyerang hati, dan kenikmatan ilmu Ilahi tidaklah lengkap. 
Kesombongan menemukan tempat di hati; dan ‘ke-aku-an’ seseorang semakin ditegaskan; dan seseorang melepaskan belenggu syari‘at. 

Dalam Tajalli Ilahi, semua ini terbakar habis.

“Ketika tajalli jatuh di gunung dataran,

Ia hancur berkeping-keping seperti wol yang disisir.

Ketika jatuh di gunung wujud,

Wujud itu lenyap seperti debu di jalan.”

Dalam hal ini, wujud salik berubah menjadi tidak wujud dan ia tidak pernah wujud lagi, seperti gunung Sinai, yang tidak pernah kembali ke bentuk sebelumnya. 
Oleh karena itu, ketika Musa yang masih berada berdoa untuk melihat Allah, ia diarahkan untuk melihat gunung yang hancur berkeping-keping. Seperti gunung, Musa tidak dapat menahan tajalli ini, yang masih berada; dan karena itu ia jatuh pingsan,
Dalam Tajalli Rahmani, salik menemukan ‘ke-aku-an’-nya binasa, dan tidak pernah mendapatkannya. 
Dalam hal ini, keinginan untuk melihat Allah menjadi semakin kuat. 

Tajalli Ilahi terdiri dari tiga jenis, yaitu, tajalli perbuatan, tajalli sifat, dan tajalli Zat. 
Tajali Zat sangat langka; di dalamnya tidak ada apa pun kecuali ketiadaan dan musnahnya, serta hilangnya diri. 

Oleh karena itu, kita akan membahas tajalli perbuatan (af‘al) dan atribut (sifat). 
Dalam tajalli sifat aktif, salik melihat dalam fikirannya, dirinya dan objek sebagai cermin dari sifat aktif Allah. Dia menemukan Allah sebagai mendengar, melihat dan berbicara melalui telinganya, melalui matanya dan melalui lidahnya; dan dengan demikian melenyapkan Zat benda-benda lain dalam Zat Allah.

Banyak atau Multiplicity menghilang darinya. 
Dengan demikian, dia melihat satu Zat dan satu keberadaan dengan matanya, dan bukan hanya melalui ilmu dan imajinasi, dan kehilangan pandangan tentang diri dan objek. 

Ini menjadi ilmu tentang Allah, oleh karena itu dia berkata: 

‘‘Inni anallahu la ilaha illa ana.’ (Aku adalah Allah dan tidak ada Allah selain Aku) 

Maulana Ma‘nawi telah mengungkapkannya demikian:

“Ilmu tentang Allah menghilang dalam ilmu sufi,
Bagaimana orang awam bisa memahami ini?”

Ketika sufi menjadi Haqq, ‘yang lain’ menghilang; hilanglah ‘DIA’ dari sufi itu dan timbulah ‘AKU’. Orang yang dirasuki dewa akan mengatakan dirinya dewa meskipun dia bukan dewa.
Hal tidak ada gunanya di sini. 

Bayazid Bistami berkata: 
“Setiap orang memiliki Hal yang merupakan hasil imajinasi; tetapi seorang ‘ariff adalah orang kashf, jika ia tidak dibatasi oleh imajinasi.”

Seorang sufi dari mazhab Syatariyah tidak mempraktikkan suluk, dan tidak berada dalam jazbah (Dzauq), ia melihat dirinya sendiri dalam semua keadaan. 
Bayazid tidak menginginkan Kenabian; ia menemukan dirinya sebagai ketuhanan.

‘‘Sufi melihat hal yang sama pada seekor unta,
Seperti pada keindahan Cina dan Chagil.”

Dosa dan tidak berdosa menjadi satu baginya.

Nabi bersabda:

“Semua Keindahan adalah bagian dari keindahan Allah.”
‘Allah itu indah, dan Dia mencintai keindahan.”

Dia adalah Keindahan Mutlak.
Sebuah hadis mengatakan: “Ketika kamu melihat wanita cantik, ingatlah bidadari surga; dan rujuk dirimu dari dunia ini ke akhirat dan dari akhirat, rujuk dirimu kepada Allah, dan Dialah Keindahan Mutlak.”

Di melihat Lahu dalam Nasut tanpa menunggang Burraq,


15. Dalam Uruj, salik menemukan kebendaan hingga Al-‘Arsh (Singgasana); dari sana kebendaan mengambil warna mithal karena kehalusan, berubah menjadi Nur. 
Dan kemudian di alam Ruh, dia memakai warna Ruh.
Ketika salik mencapai tahap atyan, ia menemukan dirinya sebagai ‘ayn, yaitu, suatu bentuk dalam ilmu, dan kemudian akhirnya mencapai Hagqiqat-i-Insani. 
Ketika tajalli Zat muncul, semua tahap ini terbakar dan musnah dan semuanya menjadi Mutlak. 
Kemudian ia turun melalui semua tahap ini ke tingkat debu, ketika ia menjadi Khalifah atau khalifah Allah yang sempurna. 
Ini disebut Sayir-i-Kabir. 
Dalam Sayir-i-Saghir, rahmat Allah tiba-tiba turun kepada salik, Ketika Ruh, fikiran, nafs dan tubuh semuanya menerima warna Haq - tubuh menjadi mithal, dan mithal menjadi Ruh dan sebagainya.


16. Fana adalah lenyapnya keterbatasan Wujud. Seorang sufi yang sempurna menemukan wujudnya dan Zatnya lenyap.

Ia menyadari ‘Kullu shayin halikun illa wajhahu.” (Segala sesuatu binasa kecuali wajah-Nya.)
Ketika ia turun dari keadaan ini, ia turun dengan sifat-sifat Allah di Baqā.
Orang-orang seperti itu disebut nabi di zaman dahulu; dan disebut Qutub, Aqtab, dan Ghawth di zaman sekarang; dan mereka menjadikan Muhammad (saw) sebagai pusat mereka.


17. Faqir adalah orang yang Fāna (dimusnahkan) di dalam Allah; dan karenanya seluruh dunia adalah miliknya. 

Pada suatu hari, seorang Qutub sedang dalam perjalanan; ia mengambil seekor anak kuda dari sebuah ladang dan mulai menungganginya.

Sayyid Muhammad Gaysudaraz, yang menemaninya dalam perjalanan itu menegurnya kerana perbuatan yang salah. Faqir itu berkata : “Tidakkah kamu melihat aku tidak mengambil harta ghyar (yang lain)”

Begitu juga Junaid al Bghadadi, Nuri, Ruwaim megambil barang di gerai bazar di Baghdad tanpa meminta kebenaran dahlu. Kerana mereka fana dalam Allah.


18. Mi‘raj: “Hual khuruj an kulli shayin siwallah’ (yaitu, mengosongkan diri dari semua ma-siwa-llah (selain Tuhan), 

Ada dua jenis: Kecil dan Besar. Yang pertama adalah keluar dari diri sendiri melalui suluk dan mujahada, memutusan nafs; dan ini adalah cara orang yang beribadah
Mi‘raj Besar terdiri dari nafi (penolakan) dan ithbat (penegasan)—menafikan ‘ghayr’ (yang lain) dan mengisbatkan Haqq, sehingga seseorang menjadi binasa mati sebelum mati dalam diri sendiri, dan kekal dalam Haqq.

Di bawah bimbingan Guru, seseorang menukarkan liqanya (aspek keberadaan) menjadi liqa Allah (liqa adalah aspek wujud); dan tidak ada kebutuhan Fana diri untuk dia seperti dalam kes orang-orang Syatariyah.

Pertanyaan yang diajukan: Ketika tidak ada 'ghayr', apa yang yang dinafikan? Nafi di sini hanyalah pernyataan tentang suatu fakta; karena yang tidak wujud pada akhirnya adalah yang tidak wujud.


19. Ittihad (penyatuan Allah dengan makhluk) bukanlah penyatuan satu hal dengan yang lain. 
Karena segala sesuatu tampak dengan kewujudan Allah, maka ada ittihad dari segala sesuatu dengan Allah.

Inilah makna Ma'iyyat (bergandingan, meliputi, hamper danlain-lain). 
Ini seperti penyatuan kata-kata berhuruf dengan tinta dan tinta dengan kata-kata berhuruf. 
Para Sufi menggunakan misalan ini apabila terjumpa perkataan ittihad, qurbat, ma'iyyat muncul dalam Al-Qur'an. 
Kata-kata 'makhluk' dan 'sifat' memiliki penjelasan yang sama.


20, Menurut Syaikh Junaydullah, melihat Allah diperoleh melalui hijab (jilbab) yang tipis; dan tabir tipis ini adalah ilmu yang dimiliki seseorang tentang penglihatan itu. 
Jika hijab ini terangkat, pengamat dan yang diamati menjadi Haq. Ini disebut Fana-i-ilmi.



21. ‘Katakanlah, Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu” (Qul Rabbi zidni ilmon).! 
Setiap tajalli semakin banyak memberikan cahaya kepada siapa pun yang ditujunya, hingga akhir zaman.



22. Ketika hamba mencapai fana, ia mencapai Maqam-i-Mahmud (maqam terpuji), di mana ia dianugerahi dengan sifat-sifat Allah, dan menjadi Penguasa Segalanya, dan Khalifah Allah. 
“Sesungguhnya Kami telah menjadikanmu seorang khalifah di bumi.” [Surah al Baqarah : 30]
Dengan demikian, Qutub dan Ghawth adalah penguasa sejak dari keterbatasan pertama hingga ke debu: 
‘Namun,’ kata Al-Ghazzali, “jangan membuat dua kali tuntutan”.
Seorang hamba menunggang kuda, kuda itu tidak menjadi miliknya. 
Mereka yang mengatakan Ana’ Haqq (Akulah Kebenaran) bagaikan pohon (‘semak yang terbakar’) di Gunung Sinai, yang mengatakan:

‘Meskipun Al-Quran berasal dari bibir Nabi, 
siapa pun yang mengatakan ‘Allah tidak berbicara’ adalah kafir.”
Siapa pun yang mengatakan: ‘‘La ilaha illa ana”(Tidak ada Tuhan selain ‘Aku’) meniadakan hakikat ‘ghayr’ (‘yang lain’), dan menetapkan hakikat pada Allah.

Arafa Rabbi bi Rabbi.

Aku mengenal Tuhan ku melalui Tuhan ku. ‘Ariff juga adalah ‘ghayr’.
Anal-Haqq adalah pembukkan rahsia Mutlaq, Siapakah ada di samping Allah yang b oleh berkata Ana al haq” —(Gulshan-i-Raz)


23. Syaikh Muhiyuddin Ibn Arabi dalam Risalatu’l-Anwar berkata: 
“Sebagian Mashayakh percaya pada melihat Allah di dunia ini; dan sebagian percaya melihat Allah itu di akhirat. 

Syaikh percaya pada yang pertama.


24, ‘‘Al-ilmu hijab al-akbar.” (Ilmu adalah hijab besar.) Inilah ilmu yang diperoleh melalui pengamatan, yang mengarah pada Keheranan.! 
Ilmu yang diperoleh dari Dzauq mengarah pada penteraman hati yang timbul dari keheranan ini. 
Yang mula itu seperti ilmu, melalui pengamatan madu dan yang lainnya, ilmu melalui rasa manisan madu. 


25. Ketika sālik yang dimulai dari Nasut (alam badan atau benda) terus ke  Malakut (alam lakuan) dan Jabarut (alam sifat), dan kemudian melalui Asmā (nama-nama Ilahi) dan A‘yan (hskikst benda) dan menuju Zāt, mak Zat-i-tajalli Allah (pencerahan pribadi) Allah menyingsing padanya; dan hamparan kemutlakan yang luas, di mana semua indikasi dihapuskan, terbuka di hadapannya. Inilah Fana. 
Kemudian mendapatkan kembali kesadaran dalam keadaan Baqa-billah, ia turun dari Tahap ini melalui tingkatan-tingkatan terbalik dan sampai pada kesadaran akan sifat (Jabarut) dari ketidaksadaran Zat (Lahut), dan menemukan dirinya dalam Wahdat (Hakikat Muhammad) di mana ia menyadari hakikat manusia (Adam) yaitu Wahidiyyat; dan menemukan kewujudan dan pengetahuan turunannya yang memenuhi syarat dengan sifat-sifat Ilahi (Wahi) dan kemanusiaan (kiyani), dan dirinya sebagai penzahir dari perwujudan dari yang sama. 

Orang seperti itu disebut Ghawth dan Qutub pada zamannya dan khalifah Muhammad. 
Inilah Mi‘raj-i Muhammad (sayir-kabir) atau perjalanan yang lebih besar. Dalam perjalanan yang lebih kecil (sayir-i-saghir), tajalli personal muncul padanya dalam Wahidiyyat yang merupakan hakikat Kemanusiaan; dan ia menemukan Zatnya memenuhi syarat dengan sifat Ilahi dan Manusiawi dan dirinya sebagai penzahiran dan perwujudan dari Ulihiyyat hingga titik terendah. 
Ia kemudian disebut fard (individu). 

Kadang-kadang dari fana ini, ia kembali ke Baqa dan menemukan dirinya sebagai instrumen manifestasi sifat Allah atau Allah sebagai instrumen tindakannya. 
Dengan demikian, ia melihat hakikatnya sebagai hakikat kolektif semua objek, atau melihat Allah sebagai hakikat-hakikat kolektifnya. 
Ia melihat aktivitas objek sebagai sifatnya, dan mengeluarkan Ana’l-Haqq (Kebenaran); atau melihatnya sebagai aktiviti Allah dan menyerukan Hua’l-Haqq (Dia adalah kebenaran). 
Di ibaratkan dia berdiri di pabrik atau kilang tuannya seperti seorang pekerja, atau memiliki kekuatan penuh dari tuannya dan dia menjadi tuannya.


26. Kata “Wilayat” berasal dari ‘‘Wila’’ yang berarti kedekatan, persahabatan. 
Ada dua jenis: umum dan khusus. Wilayat umum adalah hak istimewa semua orang beriman (mukmin).

Allah telah berfirman:

“Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman, Dia membawa mereka keluar dari kegelapan menuju Cahaya atau terang.” [Surah al Baqarah : 257]

Wilayat khusus islah untuk para salik yang telah memfanakan diri mereka dalam Allah
Fana-ul-abd fil-Haqq. 

Fana adalah akhir Sayir ilallah (perjalanan mwnuju Allah) dan Baqa adalah awal dari Sayir-fillah (perjalanan dalam Allah),

Penghalang dalam Sayir-ilallah (perjalanan) yang disebutkan pertama adalah gangguan salik dari persyaratan bakat mineral, nabati, hewani, dan malaikat, yang tertanam dalam dirinya, dan yang telah menguasai dirinya dengan kuat dan memberinya kenyamanan. 
Setelah pemurnian dari ini, ia melenyapkan diri; dan tidak pernah kembali kepada mereka seperti halnya dengan majzub tertentu. 

Ia memakai warna yang berbeda dan keluar dari semua perbatasan, lalu menjadi mutlak.
Ketika seseorang telah menyelesaikan perjalanan pertama ini, ia memasuki perjalanan kedua (sayir- fillah). 

Setelah memfanakan diri, ia menjadi baqa dalam Allah.
Ia tidak menyadari Zat-nya sebagai dirinya, tetapi menyadari Zat-nya sebagai penzahir, perwujudan, dan dizahirkan.


27. Ada berbagai jenis Fana: fana dalam lakuan; fana dalam sifat; dan fana dalam Zat. Seseorang itu boleh fana dalam lakuan tetapi tidak dalam dua lainnya; demikian pula halnya dengan baqa.


28. Kesentosaan yang sejati adalah kebebasan dari syirik, yang merupakan penyebab kita dipanggang dalam api Neraka.