Catatan Popular

Rabu, 9 Mac 2016

ABU AQIL AL ANIFI RIDHA, WALAUPUN MASIH LUKA PADA PERANG YAMAMMAH



Dari Ja’far bin Abdullah bin Aslam al-Hamdani r.a., dia berkata, “Ketika peperangan Yamamah, orang yang pertama kali terluka adalah Abu Aqil al-Anifi. Dia terkena panah di antara kedua pundak dan hatinya.

Kemudian anak panah tersebut dikeluarkan dari tubuhnya, dengan terlebih dahulu merobek bagian tubuhnya yang terkena panah tersebut. Sehingga bagian tubuhnya yang kiri menjadi lumpuh. Ketika itu waktu masih pagi, maka dia pun dibawa ke tempat peristirahatan orang-orang muslim.

Ketika peperangan memanas, orang-orang muslim kalah  dan mereka bersiap-siap mundur dengan tunggangan mereka.  Ketika itu Abu Aqil sedang dalam kondisi sakit karena lukanya.
Lalu dia mendengar Ma’n bin Adi berteriak memanggil orang-orang Anshar, “Allah, Allah, serang musuh kalian”. Dan Ma’n pun segera maju ke barisan depan pasukan muslim, ketika orang-orang Anshar berteriak, “Pilihlah kami, pilihlah kami”. Maka mereka memilih satu persatu dari mereka dan memisahkan diri.

Abdullah bin Umar berkata, “Kemudian Abu Aqil bangkit mendatangi kaumnya tersebut. Maka saya katakan kepadanya, “Apa yang akan engkau lakukan wahai Abu Aqil. Engkau tidak bisa berperang”.

Dia menjawab, “Seseorang telah memanggil nama saya”.

Ibnu Umar berkata, “Orang itu memanggil orang-orang Anshar yang tidak terluka”.
Abu Aqil berkata, “Saya adalah salah seorang Anshar, dan saya akan tetap memenuhi panggilan itu walaupun dengan merangkak”.

Ibnu Umar berkata, “Lalu Abu Aqil memakai ikat pinggangnya lalu mengambil pedangnya dan membawanya dengan tangan kanannya saja. Kemudian dia berseru, “Wahai orang-orang Anshar, mari kita lakukan kembali apa yang pernah kita lakukan dalam peperangan Hunain”.

Maka orang-orang Anshar pun berkumpul bersamanya dan berada di barisan depan orang-orang muslim lainnya dengan gagah berani. Lalu mereka menyerang musuh hingga menerobos kebun tempat pasukan Musailamah berlindung. Kemudian mereka pun berbaku hantam dan pedang-pedang mereka pun beradu”.

Ibnu Umar berkata, “Lalu saya melihat tangannya yang terluka telah putus hingga sampai pundak dan jatuh ke tanah. Sedangkan di tubuhnya terdapat empat belas luka, yang masing-masing dapat membuat seseorang terbunuh. Dan dia berhasil membunuh musuh Allah, Musailamah”.

Ibnu Umar berkata, “Lalu saya mendapati Abu Uqail yang terluka parah pada detik-detik menjelang kematiannya. Ketika saya bertanya kepadanya, “Engkau Abu Aqil?”
Dia menjawab, “Ya”.

Lalu dengan terbata-bata dia bertanya, “Pihak manakah yang kalah?”

Maka saya katakan, “Kitalah yang menang”. Dan dengan suara keras saya katakan kepadanya, “Musuh Allah telah terbunuh”. Lalu dia mengangkat jarinya ke langit dengan mengucap hamdalah lalu meninggal dunia”.

Ibnu Umar berkata, “Lalu saya memberitahu Umar Ibnul Khathab tentang Abu Uqail, maka Umar berkata, “Semoga Allah mengasihinya. Dia terus mencari syahid, walaupun saya tahu dia adalah salah satu sahabat Nabi saw. yang terbaik dan salah seorang yang masuk Islam lebih dahulu”.

ABDULLAH BIN UMAR IBN AL KHATTAB DAN KERIDHAANYA KEPADA ALLAH



Abdullah bin Umar bin Khathtab berkata, “Ayat berikut ini terlintas di hatiku, “

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan ( yang sempurna ), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai”. ( Ali Imran: 92 ). 

Lalu saya mengingat-ingat apa yang diberikan Allah kepadaku. Maka saya tidak ada yang lebih saya sukai dari seorang budak wanitaku yang bernama Rumaitsah.

Maka saya katakan kepadanya, “Engkau merdeka karena Allah semata”. Dan saya tidak ingin mengambil kembali apa yang saya berikan kepada Allah. Kalau bukan karena hal itu, pasti saya menikahinya”.

Lalu Ibnu Umar menikahkannya dengan maulanya, Nafi’, padahal budak wanita itu adalah ibu dari anaknya.

Saya ( penulis ) katakan, “Demikian para sahabat ketika turun firman Allah,

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan ( yang sempurna ), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai”. ( Ali Imran : 92 ).

Yang dimaksud dari kata al-Birr dalam ayat tersebut adalah syurga. Ketika ayat ini turun, masing-masing mereka pun segera mengeluarkan milik mereka yang paling mereka sukai karena Allah ‘azza wajalla, untuk mendapatkan sYurga yang Allah sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

ABDULLAH BIN UMAR RIDHA KEMATIAN ANAKNYA



Ibnu Abid Dunya meriwayatkan dari Nafi’ maula Ibnu Umar, dia berkata, “Suatu ketika anak Ibnu Umar merintih-rintih karena sakit parah. Hal itu membuat Ibnu Umar bersedih, hingga beberapa orang yang melihatnya berkata, ”Sungguh kami khawatir akan terjadi sesuatu pada diri orang tua ini”. 

Tidak selang lama sang anak pun meninggal dunia. Lalu Ibnu Umar keluar mengiring  jenazahnya dengan wajah yang tetap berseri, tidak seorang pun yang wajahnya lebih cerah dari dia kala itu. 

Orang pun bertanya-tanya karenanya. Maka Ibnu Umar berkata, “Kesedihan saya adalah kasih sayang baginya. Maka ketika keputusan Allah berlaku padanya saya ridha dengan keputusan itu”. 

Maksud dari perkataan Ibnu Umar tersebut adalah bahwa kesedihannya tatkala anaknya sakit merupakan curahan rasa kasih sayangnya terhadap sang anak. Itu adalah perasaan yang wajar, karena setiap manusia yang mencintai anak-anaknya akan merasakan hal itu.
Kemudian ketika anaknya meninggal dunia sesuai dengan keputusan Allah maka dia pun ridha terhadap keputusan itu. Demikianlah seharusnya sikap seorang mu’min terhadap keputusan Tuhannya yang Maha Agung. Dan sikap seperti itu tidak akan dimiliki oleh seorang pun kecuali dia ridha terhadap qadha dan qadar Allah.

ABDULLAH BIN HUDZAIFAH AS SHAHMI DAN RIDHA KEPADA QADHA ALLAH



Ibnu Asakir, di dalam Tarikhnya, menyebutkan bahwa Abu Rafi’ berkata, “Umar bin Khathab mengirim pasukan menuju Romawi. Di dalam pasukannya tersebut terdapat seseorang yang bernama Abdullah bin Hudzafah, salah seorang sahabat Rasulullah saw.. Ketika peperangan, pasukan Romawi berhasil menawan Abdullah bin Hudzafah dan membawanya menghadap raja mereka. Kemudian mereka berkata kepada sang raja, “Ini salah seorang sahabat Muhammad”.

Maka raja Romawi yang lalim tersebut berkata, “Apakah engkau mau masuk agama kami, agama nashrani, lalu engkau mendapatkan bagian dari kerajaan dan kekuasaanku?”

Abdullah menjawab, “Seandainya engkau berikan kepada saya semua yang engkau miliki dan semua yang dimiliki orang-orang Arab agar saya keluar dari agama yang dibawa Muhammad saw., saya sama sekali tidak mau melakukannya”.
Raja romawi itu berkata, “Kalau begitu saya akan membunuhmu”.
Abdullah menjawab, “Terserah apa yang akan kau lakukan”.

Maka sang raja pun memerintahkan agar Abdullah disalib. Kemudian dia berkata kepada para pemanahnya, “Panahlah di dekat kedua tangannya dan dan di dekat kedua kakinya, jangan sampai kena tubuhnya”. Hal itu dilakukan sang raja untuk menakut-nakuti Abdullah. Kemudian dia kembali menawarkan kepadanya untuk masuk agama Nashrani.
Namun Abdullah tetap teguh dengan pendiriannya. Lalu sang raja pun memerintahkan agar Abdullah diturunkan dari tempat penyaliban. Kemudian dia memerintahkan agar disiapkan sebuah panci besar, lalu diisi dengan air, kemudian di bawahnya dinyalakan api hingga airnya mendidih.
Kemudian sang raja memerintahkan agar didatangkan dua orang tawanan muslim, lalu salah satunya dimasukkan ke dalam air yang mendidih tersebut. Kemudian sang raja kembali menawarkan kepada Abdullah untuk masuk agama Nashrani. Namun Abdullah tetap teguh dengan pendiriannya. Maka sang raja pun memerintahkan agar Abdullah juga dimasukkan ke dalam air yang mendidih tersebut. Ketika dibawa mendekati panci tersebut, Abdullah menangis. Maka pengawal raja itu berkata, “Wahai Tuanku, dia menangis”.

Sang raja yang zalim itu pun berkata, “Dia ketakutan. Bawa dia ke mari”.
Kemudian sang raja kembali menawarkan agama Nashrani kepadanya, akan tetapi Abdullah tetap tidak mau.

Dengan heran sang raja pun bertanya, “Lalu apa yang membuatmu menangis?”
Abdullah menjawab, “Saya menangis, karena saya berkata pada diri saya sendiri, “Jiwaku, saat ini engkau dilemparkan ke dalam panci itu lalu engkau mati”. Sedangkan saya ingin sekali setiap rambut yang ada di dalam tubuhku mempunyai ruh yang masing-masing terbunuh fi sabilillah”.

Maka raja itu pun berkata, “Apakah engkau mau mencium kepalaku lalu engkau saya bebaskan?”

Abdullah menjawab, “Saya mau jika engkau bebaskan juga seluruh tawanan muslim”.

Ketika itu Abdullah berkata kepada dirinya sendiri, “Dia ini salah satu musuh Allah. Biarlah saya mencium kepalanya yang penting saya beserta seluruh tawanan muslim dibebaskan”.

Lalu Abdullah pun mendekati raja zalim tersebut, lalu mencium kepalanya. Kemudian raja tersebut membebaskan seluruh tawanan muslim. Lalu Abdullah membawa semua tawanan muslim tersebut menghadap Khalifah Umar bin Khathab. Lalu Umar berkata, “Sudah sepantasnya setiap muslim mencium kepala Abdullah bin Hudzafah. Dan saya yang akan memulainya”. Lalu Umar berdiri dan mencium kepala Abdullah”.

ABBAD BIN BISYAR DAN KERIDHAANYA KEPADA QADHA ALLAH



Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah r.a., dia berkata, “Kami berangkat dengan Rasulullah saw. dalam perang Dzaatu Riqaa` dari kebun kurma. Lalu seseorang dari kami mendapatkan seorang wanita dari orang-orang musyrik yang kala itu suaminya sedang tidak ada. Ketika Rasulullah saw. bersama tentara muslim pulang, suami wanita musyrik itu kembali ke rumahnya dan tidak mendapati isterinya. Ketika diberitahu tentang apa yang terjadi, dia bersumpah untuk membunuh sahabat Muhammad. Maka dia pun mengejar Rasulullah saw..
                         
Rasulullah saw. kemudian singgah di suatu tempat. Lalu beliau bertanya, “Siapakah yang akan menjaga kami malam ini?” Lalu seorang Muhajirin dan seorang Anshar menawarkan diri untuk berjaga-jaga malam itu. Keduanya berkata, “Kami wahai Rasulullah”.

Lalu Rasulullah saw. bersabda kepada mereka, “Kalau demikian, berjaga-jagalah di ujung jalan lembah ini”.

Kedua sahabat itu adalah Ammar bin Yasir dan Abbad bin Bisyr al-Anshari.
Ketika keduanya pergi menuju ujung jalan lembah itu, orang Anshar berkata kepada orang Muhajirin, “Engkau meinginginkan saya berjaga-jaga di awal malam atau di akhirnya?”

Dia menjawab, “Berjaga-jagalah di akhir malam”.
Maka orang Muhajirin itu pun merebahkan diri lalu tertidur, sedangkan Abbad bin Bisyr al-Anshari menunaikan shalat.

Lalu seorang lelaki datang. Ketika dia melihat seorang lelaki sedang berdiri, dia pun tahu bahwa dia adalah penjaga pasukan muslim. Lalu dia pun memanahnya. Maka Abbad al-Anshari mencabut panah yang menancap di tubuhnya lalu menjatuhkannya dengan tetap menunaikan shalat. Kemudian orang musyrik itu kembali memanahnya. Orang Anshar itu pun kembali mencabutnya dan meletakkannya dengan tetap menunaikan shalat. Kemudian dia ruku’ dan berkata kepada temannya, orang Muhajirin, “Bangunlah, saya terkena panah”.

Ketika melihat kedua orang tersebut, orang musyrik itu pun tahu bahwa orang yang dia panah telah mengetahuinya. Maka maka dia pun loncat dan langsung melarikan diri.

Ketika orang Muhajirin itu melihat darah mengalir dari orang Anshar tersebut, dia berkata, “Subhanallah, mengapa engkau tidak membangunkan saya ketika panah pertama mengenaimu?!”

Orang Anshar itu menjawab, “Ketika itu saya sedang membaca sebuah surah Al-Qur`an. Saya tidak ingin memotongnya sampai menyelesaikannya. Ketika panah-panah terus menerus mengenai saya, maka saya ruku’ dan saya memberitahu kamu. Demi Allah, seandainya bukan karena hilangnya sebuah gigi yang Rasulullah saw. perintahkan saya untuk menjaganya, pasti jiwa saya terputus terlebih dahulu sebelum saya memotong bacaan saya atau menyelesaikannya”.
Ketika itu Abbad bin Bisyr melakukan shalat dengan membaca surah al-Kahfi, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi di dalam kitab Dalaa`ilun Nubuwwah.

Sahabat tersebut tetap teguh di tempatnya berdiri menunaikan shalat walaupun anak-anak panah menembus dirinya. Dia ridha kepada qadha Allah. Ketika banyak anak panah yang mengenai dirinya, dia pun ruku’ untuk membangunkan sahabatnya.