(AWAL DALAM JENJANG KEWALIAN)
Hazrat Khwaja Farīduddīn
Mas'ūd Ganjshakar
Sayyidi Syaikh Abdul Wahhab as Sya’rani
Rhm bercerita: “Aku melihat Nabi SAW di dalam tidurku, maka aku berkata: ‘Ya
Rasulullah! Bahwasanya hamba sekarang ini seperti kanak-kanak yang baru belajar
Ilmu Tasawuf”.
Maka sabda Nabi SAW: “Baca (perhatikan)
olehmu akan perkataan kaum Ahlus shufi itu, maka bahwasanya orang yang mubtadi
(pemula) yang baru belajar Ilmu Tasawuf itu, yaitu Wali Allah. Adapun orang
yang berilmu Tasawuf ini, maka yaitu seperti bintang yang tiada dapat
dihinggakan akan dia (ketinggiannya)”.
Imam al Ghazali menukil dalam kitab Ihya’nya daripada perkataan sebagian
‘Arifin:
“Barang siapa yang tiada mengetahui
bagian-bagian dari Ilmu kaum Shufi dikhawatirkan mati dalam keadaan Su-ul
Khatimah dan sekurang-kurangnya bagian itu adalah membenarkan (Tashdiq)
dan berserah diri terhadap ahlinya (Taslim)”.
Syaikh Junaid al Baghdadi Rhm berkata:
“Orang
yang membenarkan Ilmu kami ini (yakni Ilmu Tasawuf ini adalah termasuk daripada
Wali Allah yang kecil”.
Syaikh Abu Yazid al Busthami Qs. Berkata:
“Jika engkau melihat seseorang
berhusnuz-zhan dengan perkataan Ahli Thariqah ini (Shufi), maka katakanlah agar
engkau dido’akan, karena sesungguhnya ia menjadi mustajab do’anya”.
Ruwaim Rhm berkata:
“Barang siapa mempercayai perkataan kami
ini (Ahli Shufi) ini meskipun ia berada di belakang 70 hijab (dinding), maka
sesungguhnya ia termasuk daripada Ahlinya”.
Syaikh Zakaria Khandalawi dalam kitab Fadhilah Tabligh-nya mengemukakan
beberapa keterangan hadits:
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Luqman al Hakim berkata kepada anaknya:
'‘Wahai anakku, hendaknya engkau menyertai para Ulama dan dengarkan
ucapan-ucapan ahli, karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati
dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan tanah yang mati dengan air
hujan”.
Seorang sahabat bertanya kepada
Rasulullah SAW: “Siapakah sahabat yang paling baik bagi kami?” Jawabnya:
“Seseorang yang apabila kamu melihatnya,
kamu akan teringat kepada Allah. Apabila
kamu mendengar pembicaraannya, pengetahuanmu mengenai Islam akan bertambah. Dan
apabila kamu melihat kelakuannya, kamu akan teringat hari kiamat”.
Dalam hadits lain disebutkan bahwa hamba
Allah yang terbaik adalah orang yang apabila kamu melihatnya, kamu akan
teringat kepada Allah, Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu
kepada Allah dan hendaklah kamu bersama Shiddiqin (orang-orang yang benar)”.
(At Taubah: 119)
Para ahli tafsir telah menafsirkan bahwa orang-orang Shiddiqin dalam ayat ini
maksudnya adalah para Ulama Ahli Shufi dan para kekasih Allah (Awliya). Karena
barang siapa berdekatan dengan mereka dan berkhidmah kepada mereka, akan
mendapatkan tarbiyah dan kekuatan iman.
Dan masih banyak lagi keutamaan orang-orang yang menjalani Ilmu Tasawuf itu,
yang tak dapat diuraikan di sini, dan mencukupilah kiranya apabila kita lihat
uraian imam al Ghazali dalam kitab-kitabnya.
(Hikayat)
Syaikh Abdul Wahhab as Sya’rani di dalam kitabnya Madarijus Salikin
mengisahkan suatu suatu peristiwa yang terjadi pada diri Syaikh Junaid Rhm,
bahwa suatu jama’ah yang menuntut ilmu di Baghdad meninggalkan Guru fiqihnya,
dan bergabung duduk bersama dalam halaqah Sufi al Junaid, sehingga membuat
marah gurunya itu, sampai-sampai menghina dengan kata-katanya atas golongan
Shufi. Maka disuruhlah gurunya itu untuk datang kepada al Junaid.
Maka berkatalah al Junaid kepada guru tersebut: “Wahai saudaraku, jika seorang
hamba yang ingin bermaksud bertemu dengan kekasihnya memiliki 2 pilihan, ada
yang sampai kepada kekasihnya dengan perjalanan kira-kira 30 tahun lamanya dan
pilihan lainnya sampai kepada kekasihnya itu dengan waktu singkat kira-kira
setahun lamanya. Maka manakah yang anda pilih?” Guru syariat itu berkata: “Tentu
aku memilih jalan yang paling dekat dan cepat”. Berkata al Junaid: “Benar”.
Lalu berkata guru tersebut: “Thariqah (jalan) kami adalah jalan yang paling
dekat kepada Hadhrat Allah Ta’ala Al Haqq daripada thariqah (jalan)mu”. Maka
berkatalah al Junaid: “Jalan dzikir kepada Allah itu lebih dekat/ mudah sampai
kepada Allah daripada jalan mengetahui hukum-hukumNya, dikarenakan jalan
syariat itu berhubungan dengan makhluk, sedangkan ‘jalan’ dengan dzikrullah itu
berhubungan langsung dengan Allah Ta’ala Al Haqq”.
Guru syariat itu akhirnya berkata: “Apakah bukti kebenaran ucapan kamu itu?”
Maka seru al Junaid kepada yang hadir: “Ambillah batu ini dan lemparlah kepada
orang-orang Sufi yang faqir yang sedang berdzikir”. Maka ketika dilempar,
berteriaklah mereka disertai ucapan ‘Allah, Allah’, dikarenakan asyiknya akan
dzikrullah. Kemudian al Junaid memerintahkan mengambil batu yang lain untuk
dilempar ke tengah-tengah jama’ah fuqaha. Dan ketika dilempari batu itu, maka
terlihatlah jama’ah itu marah semuanya sambil berkata: ‘Tidak boleh engkau
melakukan pelemparan seperti tadi, perbuatanmu itu haram!’
Menyaksikan perbedaan mencolok tadi, akhirnya sang guru syariat mengakui
keunggulan dan kebenaran al Junaid: ‘Aku mohon ampun kepada Allah atas apa-apa
yang menyalahi akan engkau, sekarang benarlah perbuatanmu tadi’. Lalu ia
menjadi sahabat al Junaid dan mengambil thariqah daripada al Junaid, sampai ia
menjadi sahabatnya yang paling dekat.
************
Imam Qusyairi mengatakan: “Manusia
adakalanya terpukau pada ayat dan hadits, adakalanya cenderung pada penggunaan
akal dan pikirannya. Bagi manusia pada umumnya, sesuatu yang tampak ghaib bagi
mereka menjadi tampak jelas bagi kalangan Shufi. Bagi khalayak, pengetahuan
merupakan tumpuan, namun bagi kalangan Shufi pengetahuan itu didapat dari Al
Maujud, Allah Al Haq. Mereka adalah sekumpulan hamba yang senantiasa
berjumpa dengan Allah SWT (Ahlul Wishal), sementara manusia pada umumnya
berpihak pada pencarian bukti (Ahlul Istidlal). Para Shufi itu adalah
sebagaimana yang diungkapkan penyair:
Malamku, bersama WajahMu, cemerlang
Sedang kegelapan menyelimuti manusia
Manusia dalam kegelapan yang gulita
Sedang kami dalam cahaya siang benderang.
Tidak satupun zaman dalam periode Islam,
melainkan selalu ada seorang Syeikh dari para tokoh Shufi ini, yang mempunyai
ilmu tauhid dan kepimpinan spiritual. Tokoh-tokoh panutan umat dari kalangan
para ulama pada waktu itu benar-benar telah berpasrah diri kepada Syeikh
tersebut, bertawadhu’ dan menyerap barakah darinya. Kalau saja tiada keistimewaan
dan citra khususiyyahnya niscaya akan terjadilah persoalan sebaliknya. Inilah
yang dialami oleh Imam Ahmad bin Hanbal ketika bersama asy Syafi’i Ra.
Datanglah Syaiban ar Ra’yi.
Ahmad bin Hanbal berkata: “Wahai Abu Abdullah , aku ingin mengingatkan orang ini
akan kekurangan ilmunya, agar mau tekun meraih sebagian pengetahuan”. Maka asy
Syafi’i berkata, “Jangan anda lakukan!” Namun Ahmad tetap saja berupaya. Ahmad
berkata kepada Syaiban, “Apa pendapatmu bila ada orang lupa akan shalatnya dari
shalat lima waktu sehari semalam. Sementara ia tidak mengerti shalat mana yang
terlupakan? Apa kewajiban bagi orang tersebut, wahai Syaiban?” Syaiban
menjawab, “Wahai Ahmad, itulah hati yang lupa kepada Allah SWT. Kewajibannya ia
harus belajar adab, sehingga ia tidak lupa Tuannya”. Seketika itu pula Ahmad
pingsan mendengar jawaban Syaiban. Ketika sadar, as Syafi’i berkata kepada
Ahmad, “Bukankah sudah kukatakan, jangan mengganggunya! Syaiban ini orang yang
buta huruf. Apabila orang yang buta huruf seperti dia dari kalangan mereka
(kaum Shufi)) saja demikian itu, lalu bukankah betapa hebat imam-imam mereka?”
************
Dikisahkan bahwa Ahmad bin Hanbal sangat
sering mengunjungi Bisyr Harits al Hafi. Ia begitu mempercayai kata-kata Bisyr
sehingga murid-muridnya pernah mencela sikapnya itu.
“Pada saat ini tidak ada orang yang menandingimu di bidang hadits, hukum,
teologi, dan setiap cabang ilmu pengetahuan, tetapi saat engkau menemani
seorang berandal. Pantaskah perbuatanmu itu?”
“Mengenai setiap bidang yang kalian sebutkan tadi, aku memang lebih ahli
daripada Bisyr”, jawab Ahmad bin Hambal, “Tetapi mengenai Allah ia lebih ahli
daripadaku”.
************
Diriwayatkan bahwa ada seorang ahli
fiqih dari kalangan Fuqaha besar mempunyai majelis halaqah yang berdekatan
dengan halaqah Dulaf asy Syibli di Masjid al Manshur. Faqih besar itu dipanggil
dengan nama Abu Amran, yang meremehkan halaqah dan ucapan-ucapan asy Syibli.
Suatu hari para murid Abu Amran bertanya kepada asy Syibli tentang masalah
haid, dengan tendensi (maksud) ingin mempermalukannya.
Asy Syibli menjawab dengan berbagai
pandangan ulama mengenai masalah tersebut serta menyebutkan soal khilafiyah
dalam masalah haid. Abu Amran langsung berdiri, mencium kepala asy Syibli
sambil berkata, “Wahai Abu Bakar , engkau telah menyerap sepuluh pandangan
tentang masalah haid yang belum pernah aku dengar sama sekali. Sedangkan yang
kuketahui hanya tiga pandangan saja”.
Dikatakan, “Abul Abbas Suraij adalah seorang ulama fiqih yang pernah menghadiri
majelis al Junaid Ra. Dan mendengarkan penuturannya. Kemudian Abul Abbas
ditanya, “Apa pendapatmu tentang ucapan itu?” Ia menjawab, “Aku tidak mengerti
apa yang diucapkan al Junaid. Namun aku tahu ucapan itu merupakan lompatan,
yang bukan tergolong lompatan kebatilan”.
Dikatakan kepada Abdullah bin Sa’id bin Kilab, Anda berbicara pandangan
masing-masing ulama. Lalu di sana ada seorang tokoh yang dipanggil dengan nama
al Junaid. Lihatlah, apakah anda kontra atau tidak?” Abdullah lalu menghadiri
majelis al Junaid. Ia bertanya kepada al Junaid tentang tauhid, lalu Junaid
menjawabnya. Namun Abdullah kebingungan. Lantas kembali bertanya kepada al
Junaid, “Tolong anda ulang ucapan tadi bagiku!”
Al Junaid mengulangi, namun dengan
ungkapan yang lain. Abdullah lalu berkata, “Wah, ini lain lagi, aku tidak mampu
menghafalnya. Tolonglah anda ulangi sekali lagi!” Lantas al Junaid pun
mengulanginya, tetapi dengan ungkapan yang lain lagi. Abdullah berkata, “Tidak
mungkin bagiku memahami apa yang anda ucapkan. Tolonglah anda uraikan untuk
kami!” Al Junaid menjawab, “Kalau anda memperkenankannya, aku akan
menguraikannya”. Setelah dijelaskan dengan uraian panjang lebar, lalu Abdullah
berdiri, dan berkata akan keutamaan al Junaid beserta keunggulan moralnya.
“Apabila prinsip-prinsip kaum Shufi merupakan prinsip yang paling shahih, dan
para Syeikhnya merupakan tokoh besar manusia, ulamanya adalah yang paling alim
di antara manusia.
Bagi para murid yang tunduk kepadanya,
jika sang murid itu termasuk ahli salik dan penempuh tujuan mereka, maka para
Syeikh inilah yang menjaga apa yang teristimewa, berupa terbukanya keghaiban.
Karenanya, tidak dibutuhkan lagi bergaul (terkait) dengan orang yang ada di
luar golongan ini. Bila ingin mengikuti jalan Sunnah, sementara dirinya tidak
sanggup untuk mandiri dalam hujjah, lalu ingin menahapi wilayah bertaklid agar
bisa sampai pada kebenaran, hendaknya ia bertaklid kepada Ulama salafnya. Dan
hendaknya melintasi jalan generasi Shufi ini, sebab mereka lebih utama dari
yang lain”.
Al Junaid berkata, “Jika anda mengetahui bahwa Allah memiliki ilmu di bawah
atap langit ini yang lebih mulia daripada ilmu Tasawuf, di mana kita berbicara
di dalamnya dengan sahabat-sahabat dan teman kita, tentu aku akan berjalan dan
mencari ilmu tadi”.
************
Adapun tujuan utama mendalami Tasawuf
adalah untuk mencapai Ma’rifatullah yang sebenar-benarnya (hakiki), dan
faedahnya sampai kepada Allah Ta’ala dengan tersingkapnya hijab (dinding) yang
membatasi dirinya yang dhaif dengan Allah Yang Quddus. Jadi bisa dikatakan
bahwa tujuan terakhir dan utama dari semua pelaksanaan ibadah seorang hamba
adalah mengenal Tuhan yang sebenar-benarnya yang dikatakan sebagai
Makrifatullah.
Dan dengan mempelajari ilmu Tasawuf
itulah merupakan kunci mengenal Allah melalui pengenalan dirinya yang dhaif
lagi faqir.
Adapun jalan untuk bermakrifat itu ada 2 cara:
1. Mulazamatudz Dzikri, terus menerus berada dalam dzikir (ingat) akan
Alah Ta’ala.
2. Mukhalafa, yakni terus menerus menghindarkan diri dari segala sesuatu
yang dapat melupakan Allah Ta’ala.
Sebagian ahli Tasawuf berkata: “Permulaan Tasawuf adalah ilmu pengetahuan,
pertengahannya kekal mengerjakan ibadah dan akhirnya adalah mauhibiyyah, yaitu
turunnya pemberian/ karunia Allah”.
Maka ilmu pengetahuan itu untuk membukakan kehendak. Amal ibadah menolong
segala apa yang dimaksud. Dan pemberian (anugerah Allah) menyampaikan kepada
apa yang dicita-citakan.
Nama-nama lain ilmu Tasawuf itu antara lain: ilmu Batin, ilmu Qalbi (hati),
ilmu Laduni, ilmu Mukasyafah, ilmu Asrar, ilmu Maknun, ilmu Hakikat, dan
lain-lain.