Catatan Popular

Selasa, 28 Mac 2017

KITAB UYUB AL NAFSI WA DAWAA'UHA : Penyakit Kelapan Nafsu berlawanan dengan ketaaatan



(KITAB PENYAKIT NAFSU DAN PENAWARNYA)

Oleh Imam Abu Abdul Rahman Al-Sulamiy (325H-412H)

Penyakit Kelapan: Nafsu berlawanan dengan ketaaatan

Nafsu itu selama-lamanya tidak akan melahirkan kebenaran. Hal ini kerana amal ketaatan itu berlawanan dengan kehendak nafsu, bahkan akan lahirlah pula pertentangan yang lebih banyak apabila seseorang itu patuh mengikut kehendak hawa nafsu dan syahwat.


Rawatannya: Ialah keluar daripada kongkongan nafsu itu secara keseluruhan kemudian kembali kepada Allah secara mutlak. as-Sulami berkata, "Abul Qasim al-Basri berkata di Baghdad; Ibn Bazdan telah ditanya, "Atas dasar apakah seseorang itu keluar menuju kepada Allah?"

Katanya,"Keluar di atas dasar dia tidak akan kembali semula ke tempat asalnya, serta dia akan memelihara dan menumpukan seluruh perhatiannya kepada Allah." Abul Qasim al-Basri berkata, "Hal itu hanya melibatkan pencarian orang yang telah menemui hakikat ketuhanan Allah"

"Bagaimana pula keadaan orang yang masih belum menemui hakikat itu?" Jawabnya, "Kemanisan iman yang lahir dipermulaan langkah menuju Allah itu akan menjadi penawar yang sangat mujarab untuk mengharungi segala kepahitan di dalam pencarian hakikat ketuhanan itu di hari-hari yang mendatang."

Ahad, 26 Mac 2017

BAHAGIAN 24 : JENIS ROTI YANG DIMAKAN OLEH RASULULLAH SAW (KITAB ASY SYAMAIL)



Oleh Muhammad bin `Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dhahhak as-Sulami.
(Imam at-Tirmidzi)

 “Keluarga Nabi saw tidak pernah makan roti sya’ir sampai kenyang dua hari berturut-turut hingga Rasulullah saw wafat.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin al Matsani, dan diriwayatkan pula oleh Muhammad bin Basyar, keduanya menerima dari Muhammad bin Ja’far, dari Syu’bah, dari Ishaq, dari Abdurrahman bin Yazid, dari al Aswad bin Yazid, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

• Sya’ir,khintah dan bur, semuanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “gandum” sedangkan sya’ir merupakan gandum yang paling rendah mutunya. Kadang kala ia dijadikan makanan ternak, namun dapat pula dihaluskan untuk makanan manusia. Roti yang terbuat dari sya’ir kurang baik mutunya sya’ir lebih dekat kepada jelai daripada gandum.

• Abdurrahman bin Yazid dan al Aswad bin Yazid bersaudara, keduanya rawi yang tsiqat.”Rasulullah saw. tidak pernah makan di atas meja dan tidak pernah makan roti gandum yang halus, hingga wafatnya.”(Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari’Abdullah bin `Amr –Abu Ma’mar-,dari `Abdul Warits, dari Sa’id bin Abi `Arubah, dari Qatadah, yang bersumber dari Anas r.a.)

BAHAGIAN 23 : CARA MAKAN & MINUM RASULULLAH SAW (KITAB ASY SYAMAIL)



Oleh Muhammad bin `Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dhahhak as-Sulami.
(Imam at-Tirmidzi)

 “Sesungguhnya Nabi saw menjilati jari jemarinya (sehabis makan) tiga kali.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari`Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan,dari Sa’id bin Ibrahim, dari salah seorang anak Ka’ab bin Malik, yang bersumber dari bapak nya.)

• Nama Ibnul Ka’ab bin Malik (putera Ka’ab bin Malik r.a.) di sini tidak dijelaskan,sedangkan Ka’ab mempunyai anak dua orang,yaitu`Abdullah dan`Abdurrahman. Namun demikian keduanya punya tsiqat (dapat diterima periwayatannya),dan keduanya merupakan tabi’in besar.

“Bila Nabi saw selesai makan, beliau menjilati jari jemarinya yang tiga.”(Diriwayatkan oleh al Hasan bin `Ali al Khilali, dari `Affan, dari Hammad bin Salamah, dari Tsabit, yang bersumber dari Anas r.a.)

• Yang dimaksud jari yang tiga ,yakni: jari tengah, jari telunjuk dan ibu jari.

BAHAGIAN 22 : CARA BERTELEKAN RASULULLAH SAW (KITAB ASY SYAMAIL)



Oleh Muhammad bin `Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dhahhak as-Sulami.
(Imam at-Tirmidzi)

 “Aku masuk ke rumah rasulullah saw. tatkala beliau sedang sakit yang membawa ajalnya. Di kepalanya ada balutan kain kuning. Kepadanya ku ucapkan salam, kemudian beliau bersabda : “Wahai Fadlal, apa kabarmu?” Aku menjawab : “Baik wahai Rasulullah !” 

Rasulullah bersabda : “Kuatkan balutan yang ada di kepalaku ini !” Fadlal meneruskan ceritanya :”Maka kulakukan perintah Rasulullah saw. itu. Kemudian beliau duduk, lalu meletakkan tangannya di atas bahuku, kemudian beliau berdiri lalu masuk ke masjid.” 

Dan kisah selanjutnya terdapat dalam hadist perihal wafatnya Rasulullah saw.(Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari Muhammad bin al Mubarak, dari*`Atha’bin Muslim al Khaffaf al Halabi,dari Ja’far bin Furqan, dari `Atha’ bin Abi Rabbah,yang bersumber dari *al Fadlal bin `Abbas r.a.)

• Al Fadlal bin `Abbas r.a. adalah sahabat yang masyhur, ia adalah anak sulung `Abbas r.a. (paman Rasulullah saw.)


• ‘Atha’ bin Muslim al Khaffaf al Halabi, di dla’ifkan oleh Abu Daud, dan menurut Abu Hatim tidak boleh dipakai hujjah periwayatannya.
“Sesungguhnya Nabi saw. sedang dalam keadaan sakit. Beliau keluar (dari rumahnya) dengan bertelekan kepada Usamah bin Zaid. Waktu itu beliau memakai kain Qithri (buatan Qatar) yang diselempangkan. Kemudian Beliau shalat bersama mereka (para sahabat).”(Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari `Amr `Ashim, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid, yang bersumber dari Anas r.a.)

BAHAGIAN 21 : TEMPAT BERTELEKAN RASULULLAH SAW (KITAB ASY SYAMAIL)



Oleh Muhammad bin `Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dhahhak as-Sulami.
(Imam at-Tirmidzi)

“Aku pernah melihat Rasulullah saw.duduk bertelekan pada sebuah bantal di sebelah kirinya.”(Diriwayatkan oleh `Abbas bin Muhammad ad Dauri al Baghdadi,dari Ishaq bin Manshur,dari Israil, dari simak bin Harb, yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.)

“Rasulullah saw. bersabda : “Aku tak mau makan sambil bertelekan, aku tak mau makan sambil bertelekan.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar,dari`Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan,dari Ali bin al `Aqmar, yang bersumber dari Abu Juhaifah r.a.)


“Aku melihat Rasulullah saw. duduk bertelekan pada sebuah bantal.”
(Diriwayatkan oleh Yusuf bin `Isa, dari Waki’, dari Ismail, dari Simak bin Harb, yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.)