Catatan Popular

Isnin, 26 Mac 2018

HIKAM ATHAILLAH SYARAH USTAZ BOEGIS KE 35 (A) : PUNCA SEGALA MAKSIAT DAN SYAHWAT DARI HAWA NAFSU


Menurut Kalam Hikmah ke 35 (A) Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:

 "Pokok dari semua maksiat, kelalaian dan syahwat itu, karena ingin memuaskan hawa nafsu. Sedangkan pokok segala ketaatan, kesadaran dan moral [budi pekerti], ialah karena adanya pengendalian terhadap hawa nafsu."

 Sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala: "Dan tidak aku membersihkan diriku, karena sesungguhnya nafsu menyuruh kepada kejahatan, kecuali orang yang dikasihani [mendapat rahmat] oleh Tuhan-ku, sesungguhnya Tuhan-ku itu pengampun, penyayang." [QS. Yusuf 53].

Abu Hafash berkata: "Barangsiapa yang tidak menuduh hawa nafsunya sepanjang waktu dan tidak menentangnya dalam segala hal, dan tidak menarik ke jalan kebaikan, maka sungguh ia telah tertipu. Dan barangsiapa melihat padanya dengan sebuah kebaikan, berarti ia telah dibinasakannya." Junaid al-Baghdadi berkata: "Jangan mempercayai hawa nafsumu, walaupun telah lama taat kepadamu, untuk beribadah kepada Tuhan-mu."
Al-Bushiry dalam Burdahnya berkata: "Lawan selalu hawa nafsumu dan syaitan serta jangan menuruti keduanya, walaupun keduanya itu memberi nasehat kepadamu untuk berbuat kebaikan, tetap engkau harus curiga dan waspada."

Menurut Kalam Hikmah ke 35 (B) Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary

 "Dan sekiranya engkau bersahabat orang bodoh yang tidak menurutkan hawa nafsunya, itu lebih baik dari pada bersahabat dengan orang berilmu [orang alim] yang selalu menurutkan hawa nafsunya. Maka ilmu apakah yang dapat diberikan bagi seorang alim yang selalu menurutkan hawa nafsunya itu, sebaliknya kebodohan apakah yang dapat disebutkan bagi seorang yang sudah dapat menahan hawa nafsunya."

Bagaimana akan dinamakan bodoh, seorang yang telah dapat menahan dan mengekang hawa nafsunya, sehingga membuktikan bahwa semua amal perbuatannya hanya semata-mata untuk keredhaan Allah dan bersih dari dorongan hawa nafsu. Sebaliknya apakah arti suatu ilmu yang tidak dapat menahan atau mengendalikan hawa nafsu dari sifat kebinatangan dan kejahatannya.
Dalam sebuah hadits ada keterangan: "Seorang akan mengikuti pendirian sahabat karibnya, karena itu hendaknya seseorang itu memperhatikan, siapakah yang harus diambil sebagai sahabat." Seorang penyair berkata: "Barangsiapa bergaul dengan orang-orang yang baik, akan hidup mulia. Dan barangsiapa yang bergaul dengan orang-orang yang rendah akhlaknya, pasti tidak akan mulia."

HIKAM ATHAILLAH SYARAH GURU LANANG KE 35 (A): ASAL MULA KEMAKSIATAN DAN KETAATAN


Menurut Kalam Hikmah ke 35 (A) Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:

Ashlu kulli ma’shiyati waghaflatin wasyahwatin arridha ‘aninnafsi wa ashlu kulli thaa’atin wayaqzhatin wa’iffatin ‘adamurridhaa minka ‘anhaa.

Artinya : "Asal dari semua maksiat, lupa kepada Allah dan rela menuruti syahwat yang mendatanginya dari hawa nafsu. Dan asal dari setiap ketaatan, kesadaran dan menjaga diri dari syahwat itu tidak ada kerelaan darimu dalam menuruti hawa nafsu”.

Menurut para ahli ma’rifat, bahwasanya asal mula timbulnya kemaksiatan yang dilakukan seseorang itu adalah karena mereka itu berpaling dari Allah dan menurutkan kehendak hawa nafsu. Padahal sebenarnya kalau manusia itu mau berfikir dengan hati dan akal yang sehat, niscaya dia akan tahu bahwa nafsu yang tidak terkendali selalu akan menyeret manusia kedalam jurang kehancuran, kebinasaan dan juga kehinaan.

Namun demikian, tidaklah bijak kalau itu kita lenyapkan begitu saja. Karena pada dasarnya, nafsu itulah yang mendorong manusia kea rah kemajuan. Dan dalam hal ini nafsu tersebut terbagi menjadi dua macam, yakni :
       1.                  Nafsu Amarah, yaitu nafsu yang cenderung untuk berbuat keburukan dan kejahatan. Perhatikan firman Allah dalam Al-Quran Surat Yusuf ayat 53, yang artinya :  dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhan, sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
       2.                  Nafsu Mutmainah, yaitu nafsu yang tenang dan dapat dikendalikan, sehingga tidak mempunyai kecenderungan untuk berbuat kejahatan atau kemaksiatan. Perhatikan firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-Fajr ayat 27-28, yang artinya : Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku”
       Adapun nafsu ammarah itu masih terbagi lagi menjadi enam macam. Yakni :
       1.                  Syahwat, yang harus diatasi dengan jalan mengerjakan amalan-amalan yang dapat menekatkan diri kepada Allah.
       2.                  Amarah, yang harus diatasi dengan sifat sabar.
       3.                  Thama’ yang harus diatasi dengan sifat qona’ah.
       4.                  Takabbur tau sombong, yang harus diatasi dengan sifat tawadhu’.
       5.                  Riya’, yang harus diatasi dengan sifat ikhlas.
       6.                  Dengki, yang harus diatasi dengan sifat pasrah dan menerima apa yang sudah menjadi bagiannya.
Keenam sifat itu buruk yang menjadi cabang dari nafsu amarah tadi haruslah diperangi dan diatasi dengan cara menanamkan sifat-sifat baik sebagaimana yang tersebut diatas yang sebenarnya merupakan cabang dari nafsu muthmainah

KITAB AL- HIKAM ATHAILLAH SYARAH GURU LANANG  KE 35 (B) : SEBAIK-BAIK SAHABAT DALAM BERGAUL

Menurut Kalam Hikmah ke 35 (B) Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:

Wala-an tashhaba jaahilaan laa yardhaa ‘an nafsihi khairun laka min an tashhaba ‘aalimaan yardhaa ‘an nafsihi ga-ayyu’ilmin li’aalimin yardhaa ‘an nafsihi wa-ayyu jahlin lijaahilin laa yardhaa ‘an nafsihi.

Artinya : "Demi sungguh, seandainya engkau bersabar dengan orang bodoh yang tidak rela mengumbar nafsu amarahnya itu lebih baik bagimu daripada engkau bersahabat dengan oaring alim (pandai) yang rela mengumbar nafsu amarahnya. Maka manakah ada ilmu bagi orang yang berilmu rela mengumbar nafsu amarahnya? Dan manakah kebodohan bagi orang yang bodoh yang ia tidak rela mengumbar nafsu amarahnya?”.

Dalam kehidupan bermasyarakat, seseorang tak akan terlepas dari pergaulan dengan sesamanya. Walaupun demikian, seseorang haruslah pandai memilih menentukan kawan dalam bergaul. Karena sesungguhnya pengaruh pergaulan itu amat besar bagi perkembangan jiwa seseorang.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah mengumpamakan sahabat yang baik itu seperti pembawa minyak wangi. Adakalanya kamu diberi dan ada kalanya pula kamu memberi. Dan yang pasti, kamu akan rasakan bau harum dari minyak wangi yang dibawanya. Sedangkan sahabat yang buruk diumpamakan sebagai peniup api. Kalau tidak terbakar pakaianmu, tentulah engkau akan mencium bau busuk darinya.

Perlu dikatahui pula, bahwa bergaul dengan orang bodoh tetapi tidak suka mengumbar hawa nafsunya, adalah lebih baik dari pada bergaul dengan orang alim (berilmu) tetapi suka mengumbar hawa nafsunya.

Dalam hal ini kita perlu memperhatikan kata-kata mutiara yang pernah diucapkan Khalifah Ali bin Abi Thalib sebagai berikut ini, sebagai pedoman dalam memilih sahabat: jangan bersahabat, kecuali dengan yang taqwa, terdidik, terhormat, cerdik, cendikiawan, tepat dengan janji-janjinya. Teguhkan keyakinanmu kepada Allah dalam setiap peristiwa, niscaya Tuhan akan menolongmu di setiap saat, dari kejahatan dengki tukang hasut”.


HIKAM ATHAILLAH SYARAH SYEIKH AL SYARQAWI KE 35 (A) : ASAL MAKSIAT DARIPADA NAFSU


Menurut Kalam Hikmah ke 35 (A)  Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:
 “Pangkal segala maksiat, kelalaian, dan syahwat adalah sikap puas terhadap keadaan diri sendiri. Pangkal segala ketaatan, kesadaran, dan kesucian adalah sikap tidak puas dengan keadaan diri sendiri”
                                     
Maksiat berarti menentang semua perintah dan larangan Allah. Kelalaian berarti hati tidak waspada dan tidak sadar tentang kehadiran Allah. Adapun syahwat berarti ketergantungan terhadap sesuatu yang menyibukkan diri dan membuat lupa dari Allah swt.

Menurut orang-orang ‘arif, sebab dari segala maksiat adalah sikap puas terhadap keadaan diri sendiri. Sikap tersebut akan selalu mendorong seseorang berusaha menutupi aib dan kesalahannya sehingga yang buruk akan dijadikannya baik. Siapa yang puas dengan keadaan dirinya akan menganggap baik semua kondisi pribadinya dan merasa nyaman dengan semua kondisi itu. Siapa yang menganggap baik semua kondisi pribadinya akan lalai dari Allah. Sehingga, hatinya tidak lagi mampu mengawasi dan mengendalikan bisikan-bisikan syahwatnya. Akibatnya, ia dikuasai oleh syahwat. Siapa yang dikuasai oleh syahwat, tentu akan mudah terjerumus maksiat.
           
Adapun ketaatan berarti melaksanakan segala perintah Allah. Kesadaran berarti perasaan tentang kehadiran Tuhan dan hal-hal yang diridai-Nya. Kesucian berarti ketinggian tekad dan kebersihan dari syahwat.
           
Pangkal dari segala ketaatan dan kesadaran adalah sikap tidak puas dengan keadaan diri sendiri. Jika seseorang tidak puas dengan keadaan dirinya sendiri, ia tidak akan menganggap baik semua kondisinya dan tidak akan tenang dengan semua itu. Siapa yang bersifat seperti ini maka ia akan selalu sadar dan waspada terhadap segala hal yang datang dan menyerang.
           
Dengan sikap waspada dan sadar diri ini, ia dapat menyelidiki dan mendeteksi secara dini bisikan-bisikan hatinya. Saat itu, api syahwatnya akan padam sehingga tidak bisa menguasai dirinya. Buahnya, ia akan menjadi suci. Dengan demikian, ia akan menjauhi semua larangan Allah dan menaati semua perintah-Nya. Itulah makna taat kepada Allah.
           
Sikap puas terhadap keadaan diri sendiri adalalah sikap orang-orang yang mempelajari ilmu lahir yang tidak mau mengakui aib diri sendiri. Oleh karena itu, Ibnu Atha’illah melarang kita untuk berteman dengan orang-orang semacam itu.



Menurut Kalam Hikmah ke 35  Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:
 “Berteman dengan orang bodoh yang tidak puas dengan keadaan dirinya lebih baik bagimu dari pada berteman dengan orang berilmu yang puas dengan keadaan dirinya. Di mana letak berilmunya orang berilmu yang puas dengan dirinya itu? Di mana pula letak bodohnya orang bodoh yang tidak puas terhadap dirinya itu?”


Orang bodoh ialah orang yang tidak memiliki ilmu lahir. Tidak puas dengan keadaan diri sendiri, misalnya dengan menganggap dirinya hina atau menyadari kekurangannya.
Tidaklah baik berteman dengan seseorang yang puas dengan keadaan
dirinya sendiri walaupun ia seorang yang alim (orang berilmu).

Bagaimanapun, pertemanan dapat mendatangkan pengaruh yang besar
padamu. Ketika kau berteman dengan alim yang sudah berpuas diri, kau bisa mendapatkan sifat buruknya sehingga ilmunya tidak berguna bagimu dalam melembutkan jiwamu. Kebodohan yang membuat orang alim puas diri itulah yang berbahaya bagimu. Seakan ia bukan orang yang berilmu karena rela dengan aib yang dimiliki dirinya.

Sebaliknya, berteman dengan orang bodoh yang tidak puas dengan
keadaan dirinya lebih baik dan lebih bermanfaat bagimu. Biasanya, tabiat seseorang didapat dari tabiat orang lain; nafsu selalu terdorong untuk mengikuti orang yang dianggap baik kondisinya. Oleh karena itu, kebodohan orang bodoh tidak akan berbahaya bagimu. Namun, ilmunya – yang membuatnya tidak puas terhadap keadaan dirinya – justru amat berguna bagimu.

Seakan ia bukan orang bodoh karena mengetahui kekurangan dirinya
sampai tidak merasa puas terhadap dirinya. Dengan demikian, orang
bodoh yang tahu kekurangan dirinya bisa disebut orang yang memiliki ilmu.
Oleh karena itu, bergaul dengan orang bodoh seperti ini akan bermanfaat dan lebih baik bagimu.


HIKAM ATHAILLAH SYARAH SYEIKH RIJAL KE 35 (A) : ASAL DARI MA’SIAT DAN KETAATAN


Menurut Kalam Hikmah ke 35 (A) Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary :

“ Asal dari semua masiat dan kelalaian serta syahwat ialah rela memuaskan hawa nafsu. Sedang asal dari segala ketaatan, kesadaran, dan menghargai diri sendiri adalah tidak adanya kerelaan mengumbar hawa nafsu “.

Orang yang rela (senang) pada diri sendiri, pasti menganggap apa saja yang berhubungan dengan dirinya adalah baik, walaupun sejatinya buruk ia akan berusaha untuk menutupinya  hingga ia lupa kepada Allah, ia tidak mau mengoreksi dan memperbaiki semua keburukan dirinya, hatinya dikuasai oleh hawa nafsu, dan akhirnya ia tidak bisa mendalikan diri dan mengumbar hawa nafsunya untuk berbuat ma’siat.

Sebaliknya, orang yang tidak senang pada dirinya, orang tersebut tidak mau menganggap bagus semua perbuatannya, tapi ia selalu mengoreksi dan memperbaiki keburukannya juga berusaha sepenuh tenaganya untuk mengekang hawa nafsunya. Maka akhirnya muncullah iffah (menghargai) dirinya yang telah mapan menjadi hamba Allah yang muslim dan beriman, akhirnya ia tidak berani melalaikan semua perintah Allah dan tidak berani melakukan larangan Allah.

Imam Al Bushiry berkata dalam burdah nya: “Tentanglah selalu hawa nafsu dan syaitan jga jangan mengikuti rayuan keduanya, meskipun keduanya memberi nasihat kepadamu untuk berbuat kebaikan, engkau harus tetap curiga dan waspada”.

Imam Hafsh juga berkata: “siapa yang tidak menuduh hawa nafsunya sepanjang masa, tidak menentangnya dalam segala hal, dan tidak menariknya ke jalan kebaikannya, maka ia telah tertipu. Dan siapa yang memandang (merasa) dirinya sudah baik, berarti ia telah dibinasakan oleh hawa nafsunya”.

HIKAM ATHAILLAH SYARAH SYEIKH RIJAL KE 35 (B) PERBEDAAN ORANG ALIM DAN ORANG BODOH

Menurut Kalam Hikmah ke 35 (B) Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary

“ Dan sekiranya engkau berteman dengan orang bodoh yang tidak menuruti hawa nafsunya, itu lebih baik daripada berteman dengan orang ‘alim yang senang menuruti hawa nafsunya. Maka ilmu apakah yang dapat digelarkan bagi orang ‘alim yang senang menuruti hawa nafsunya itu, sebaliknya kebodohan apakah yang dapat disebutkan bagi orang yang dapat mengekang (menahan) hawa nafsunya.”

Berteman, berkumpul dan bergaul dengan orang bodoh (yang tidak mengerti ilmu-ilmu tentang alam semesta), tapi orang yang bodoh itu tidak senang menuruti dan mengumbar hawa nafsunya. Hal demikian itu adalah lebih baik daripada berteman dan bergaul dengan orang ‘alim yang senang menuruti hawa nafsunya (selalu menganggap dirinya sudah baik) dan tidak mau memperbaiki kesalahannya.

Orang ‘alim yang membanggakan dirinya, menganggap semua perbuatannya baik dan tidak mau mengoreksi dirinya sama dengan orang yang tidak ‘alim, sebab ilmu orang ‘alim yang seperti ini tidak memberi manfaat pada dirinya dalam hal ma’rifat kepada Allah atau dalam hal meningkatkan keimanannya.

Sebaliknya, orang bodoh yang tidak mengerti ilmu-ilmu dzahir, tapi ia tidak pernah membanggakan dirinya, selalu mengoreksi dirinya serta mau memperbaiki kekurangannya dalam hal beragama, maka ia bukanlah orang bodoh, sebab setiap waktu ia bisa mengambil manfaat ilmunya walaupun tidak mengerti ilmu-ilmu yang dzahir (tentang alam).

HIKAM ATHAILLAH SYARAH HJ SALIM BAHRISEY KE 35 (A) : POKOK SEGALA MAKSIAT


Menurut Kalam Hikmah ke 35 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary

“ Pokok dari semua maksiat dan kelalaian serta syahwat itu, karena ingin memuaskan hawa nafsu. Sedangkan pokok dari segala ketaatan, kesadaran dan kesopanan akhlak budi, ialah karena ada pengekangan (penahanan) terhadap hawa nafsu.”

Sebagaimana firman Allah :

Dan Aku tidak mengakui kebersihan diriku, kerena hawa nafsu itu selalu mengajak (menyuruh) berbuat kejahatan, kecuali bagi siapa yang mendapat rahmat (perlindungan) Tuhan, sungguh Tuhanku maha pengampun lagi penyayang. (Yusuf : 53).

Abu Hafsh berkata :

Siapa yang tidak menuduh hawa nafsunya sepanjang masa, dan tidak menentangnya dalam segala hal, dan tidak menariknya ke jalan kebaikannya, maka ia telah tertipu. Dan siapa yang memandang padanya dengan merasa sudah baik, berarti telah membinasakannya.

Al-Junaid berkata :

Jangan mempercayai hawa nafsumu, meskipun telah lama taat kepadamu, untuk berbuat ibadat kepada Tuhanmu.

Al-Bushiry dalam Burdahnya berkata :

Tentang selalu hawa nafsu dan syaithan dan jangan menurutkan keduanya, meskipun keduanya itu memberi nasehat kepadamu untuk berbuat kebaikan, tetap engkau harus curiga dan berhati-hati.


Menurut Kalam Hikmah ke 35 (B) Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary

 “Dan sekiranya engkau berkawan seorang bodoh yang tidak menurutkan hawa nafsunya, lebih baik daripada berkawan seorang alim yang selalu menurutkan hawa nafsunya. Maka ilmu apakah yang dapat digelarkan bagi seorang alim yang selalu menurutkan hawa nafsunya itu, sebaliknya kebodohan apakah yang dapat disebutkan bagi seorang yang sudah dapat mengekang (menahan) hawa nafsunya.”


Bagaimana akan dinamakan bodoh, seorang yang telah dapat menahan dan mengekang hawa nafsunya, sehingga membuktikan bahwa semua amal perbuatannya hanya semata-mata untuk keridhaan Allah dan bersih dari dorongan hawa nafsu. Sebaliknya apakah arti suatu ilmu yang tidak dapat menahan atau memimpin hawa nafsu dari sifat kebinatangan dan kejahatannya.

Dalam sebuah hadits ada keterangan :

Seorang itu akan mengikuti pendirian sahabat karibnya, karena itu hendaknya seseorang itu memperhatikan, siapakah yang harus dikawaninya.

Ahli syair berkata :

Siapa bergaul dengan orang-orang yang baik, akan hidup mulia. Dan yang bergaul dengan orang-orang yang rendah akhlaqnya, pasti tidak mulia.


Rabu, 21 Mac 2018

Janji Bertemu Di Surga


Al-Mubarrid menyebutkan dari Abu Kamil dari Ishaq bin Ibrahim dari Raja’ bin Amr An-Nakha’i, ia berkata: “Adalah di Kufah, terdapat pemuda tampan, dia kuat beribadah dan sangat rajin.
Suatu saat dia mampir berkunjung ke kampung dari Bani An-Nakha’. Dia melihat seorang wanita cantik dari mereka sehingga dia jatuh cinta dan kasmaran.
Dan ternyata, si wanita cantik ini pun begitu juga padanya. Karena sudah jatuh cinta, akhirnya pemuda itu mengutus seseorang melamarnya dari ayahnya.
Tetapi si ayah mengabarkan bahwa putrinya telah dijodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, cinta keduanya tak bisa padam bahkan semakin berkobar.
Si wanita akhirnya mengirim pesan lewat seseorang untuk si pemuda, bunyinya, ‘Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji dengan kamu. Bila kamu setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku’. Dijawab oleh pemuda tadi melalui orang suruhannya, ‘Aku tidak setuju dengan dua alternatif itu:
”Sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabbku akan adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar. (Yunus: 15).
Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobarannya.’
Ketika disampaikan pesan tadi kepada si wanita, dia berkata: “Walau demikian, rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang yang lebih berhak untuk bertakwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk itu.”
Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mulai beribadah mendekatkan diri kepada Allah.
Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu pada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus dan kurus menahan perasaan rindunya, sampai akhirnya dia meninggal dunia karenanya.
Dan si pemuda itu seringkali berziarah ke kuburannya, dia menangis dan mendo’akannya. Suatu waktu dia tertidur di atas kuburannya. Dia bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan penampilan yang sangat baik. Dalam mimpi dia sempat bertanya: “Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?”
Dia menjawab: “Sebaik-baik cinta wahai orang yang bertanya adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat menggiring menuju kebaikan”.
Pemuda itu bertanya: “Jika demikian, kemanakah kau menuju?”
Dia jawab: “Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di Surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak.”
Pemuda itu berkata: “Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu.”
Dia jawab: “Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah Subhanahu wa Ta’ala) agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah.”
Si Pemuda bertanya: “Kapan aku bisa melihatmu?” Jawab si wanita: “Tak lama lagi kau akan datang melihat kami.” Tujuh hari setelah mimpi itu berlalu, si pemuda dipanggil oleh Allah menuju kehadiratNya, meninggal dunia.
Meninggalkan Suatu Perbuatan, Ikhlas Karena Allah Taala Maka Allah Keluarkan Dia Dari Masalah

Karena Kejujuran Cobaan Berubah Menjadi Nikmat


Dari Ibnu Syihab, dari Abdurrahman bin Abdullah bin Ka’ab bin Malik, diriwayatkan, bahwa Abdullah bin Ka’ab bin Malik dia adalah penuntun Ka’ab dari anak-anaknya saat Ka’ab menjadi buta berkata: “Saya mendengar Ka’ab bin Malik bercerita tentang kisahnya saat tidak ikut dalam perang Tabuk.
Ka’ab bercerita, ‘Saya tidak pernah absen dalam peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali perang Tabuk. Hanya saja, saya juga tidak ikut dalam perang Badar, tapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menegur orang-orang yang absen saat itu. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat itu hanya ke luar untuk mencegat kafilah onta yang membawa dagangan kaum Quraisy.
Dan tanpa ada rencana sebelumnya, ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala memper-temukan kaum muslimin dengan musuh mereka. Tapi saya pernah ikut bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam (Baiatul) Aqabah, saat itu kami mengadakan janji setia terhadap Islam. Dan peristiwa ini lebih saya senangi ketimbang peristiwa perang Badar, walaupun perang Badar itu lebih sering dikenang oleh banyak orang!’
Sehubungan dengan perang Tabuk, ceritanya begini. Saya tidak pernah merasa lebih kuat secara fisik dan lebih mudah secara ekonomi ketimbang saat saya absen dalam perang itu. Demi Allah, saya tidak pernah punya dua kendaraan (kuda), tetapi ternyata saat perang itu saya bisa mempunyai dua kendaraan.
Sebelum Tabuk, bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak para sahabat untuk perang, biasanya beliau selalu tidak menerangkan segala sesuatunya dengan jelas dan terang-terangan. Tetapi dalam perang ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berterus terang kepada para sahabat. Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan melangsungkan peperangan ini dalam kondisi cuaca yang sangat panas.
Beliau akan menempuh perjalanan yang jauh, melalui padang pasir yang begitu luas. Dan beliau juga akan menghadapi musuh dalam jumlah besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan semua ini pada para sahabat. Saat itu, jumlah kaum muslimin memang banyak. Tidak ada catatan yang menyebutkan nama-nama mereka secara lengkap.’
Ka’ab berkata, ‘Dari saking banyaknya, sampai-sampai tak ada seorang pun yang ingin absen saat itu kecuali dia menyangka tidak akan diketahui selagi wahyu tidak turun dalam hal ini.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melangsungkan perang Tabuk itu di saat buah-buahan dan pohon-pohon yang rindang tumbuh dengan suburnya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin telah bersiap-siap, hampir saja saya berangkat dan bersiap-siap dengan mereka. Tapi ternyata saya pulang dan tidak mem-persiapkan apa-apa. Saya berkata dalam hati, ‘Saya bisa bersiap-siap nanti.’ Begitulah, diulur-ulur, sampai akhirnya semua orang sudah benar-benar siap.
Di pagi hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkumpul bersama kaum muslimin untuk berangkat. Tetapi saya tetap belum mempersiapkan apa-apa. Saya berkata, ‘Saya akan bersiap-siap sehari atau dua hari lagi, kemudian saya akan menyusul mereka setelah mereka berangkat.’ Saya ingin bersiap-siap, tapi ternyata saya pulang dan tidak mempersiapkan apa-apa. Begitulah setiap hari, sampai akhirnya pasukan kaum muslimin benar-benar sudah jauh dan perang dimulai. Saat itu saya ingin berangkat untuk menyusul mereka, tapi sayang, saya tidak melakukannya. Saya tidak ditakdirkan untuk berangkat.
Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin keluar dari kota Madinah, aku keluar dan berputar-putar melihat orang-orang yang ada. Dan yang menyedihkan, yaitu bahwa saya tidak melihat kecuali yang dicurigai sebagai munafik atau orang lemah yang memang mendapat keringanan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebut-nyebut saya sampai beliau tiba di Tabuk.
Di sana, beliau duduk-duduk bersama para sahabat dan ber-tanya, ‘Apa yang diperbuat Ka’ab?’ Ada seseorang dari Bani Salamah yang menyahut, ‘Ya Rasulullah, dia itu tertahan oleh pakaiannya dan bangga dengan diri dan penampilannya sendiri.’ Mendengar itu Muadz bin Jabal berkata, ‘Alangkah jeleknya apa yang kamu katakan. Demi Allah ya Rasulullah, kami tidak mengetahui dari Ka’ab itu kecuali kebaikan.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diam.’
Ka’ab melanjutkan ceritanya, ‘Ketika saya mendengar bahwa beliau bersama pasukan kaum muslimin menuju kota Madinah kembali, saya mulai dihinggapi perasaan gundah. Saya pun mulai berfikir untuk berdusta, saya berkata, ‘Bagaimana saya bisa bersiasat dari kemarahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besok?’
Untuk itu, saya minta bantun saran dari keluarga saya. Setelah ada informasi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mulai masuk kota Madinah, hilanglah semua kebatilan yang sebelumnya ingin saya utarakan.
Saya tahu, bahwa tidak mungkin saya bisa bersiasat dari kemarahan beliau dengan berdusta. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tiba, dan biasanya bila beliau tiba dari suatu perjalanan, pertama kali beliau masuk ke masjid, lalu shalat dua rakaat, kemudian duduk-duduk menemui orang-orang yang datang.
Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk, berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut berperang menemui beliau. Mereka mengajukan berbagai macam alasan diikuti dengan sumpah jumlah mereka lebih dari 80 orang- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima mereka secara lahir dan membai’at mereka serta memintakan ampunan. Adapun rahasia-rahasia hati, semuanya beliau pasrahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Saya pun datang menemui beliau dan mengucapkan salam. Beliau tersenyum sinis, kemudian berkata, ‘Kemarilah!’ Saya berjalan sampai duduk di hadapan beliau. Lalu beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu tidak ikut serta? Tidakkah kau sudah membeli kendaraanmu?’ Saya jawab, ‘Ya benar. Demi Allah, sekiranya aku sekarang duduk di hadapan orang selain engkau dari seluruh pendu-duk dunia ini, tentu aku bisa selamat dari kemarahannya dengan mengemukakan alasan tertentu.
Aku telah di-karuniai kepandaian berdiplomasi. Akan tetapi, demi Allah, aku yakin, kalau hari ini aku berdusta kepada engkau dan engkau rela menerima alasanku, niscaya Allah akan menanamkan kemarahan diri engkau kepadaku. Dan bila aku berbicara jujur kepada engkau, maka engkau akan menjadi marah karenanya. Sesungguhnya aku mengharapkan pengampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala .
Tidak, demi Allah, sama sekali saya tidak mempunyai alasan apa pun secara fisik dan lebih lapang secara ekonomi daripada saat aku tidak ikut serta dengan engkau.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Orang ini telah berkata jujur, bangun dan pergilah sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keputusan dalam masalahmu ini!’ Saya pun berdiri dan pergi. Saat itu orang-orang dari Bani Salamah mengikutiku, mereka berkata, ‘Demi Allah, kami tidak pernah mengetahui bahwa engkau pernah berbuat kesalahan sebelum ini.
Mengapa engkau tidak mengajukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam alasan-alasan seperti yang dilakukan orang lain yang juga tidak ikut? Dan dosamu nanti akan hilang dengan istighfar (permintaan ampun) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untukmu.’ Mereka terus menerus mencerca saya sampai-sampai saya sempat berfikir untuk kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meralat pembicaraan saya yang pertama. Kemudian saya bertanya pada mereka, ‘Adakah orang yang mendapatkan perlakuan sama denganku?’ Mereka menjawab, ‘Ya, ada dua orang lagi yang mengatakan seperti apa yang kau katakan dan mendapatkan jawaban seperti jawaban yang kau terima.’ Saya bertanya lagi, ‘Siapa mereka?’ Mereka menjawab, ‘Murarah bin Ar-Rabi’ Al-Amry dan Hilal bin Umayyah Al-Waqify.’ Mereka menyebutkan nama dua orang yang pernah ikut perang Badar dan mereka bisa dijadikan anutan. Setelah mendengar dua nama yang mereka sebutkan itu saya terus pergi.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga di antara orang-orang yang tidak ikut bersama beliau. Akibatnya, orang-orang semua meninggalkan kami dan sikap mereka pun berubah, bahkan dunia ini pun seolah juga berubah, tidak sama dengan dunia yang saya kenal sebelumnya.
Kami merasakan hal demikian selama 50 hari. Selama itu, dua teman senasib saya hanya berdiam diri dan duduk di rumah masing-masing sambil menangis. Berbeda de-ngan saya, saya termasuk yang paling muda dan paling kuat menahan ujian ini. Saya pergi keluar dan ikut shalat berjamaah, tetapi tidak ada satu pun yang mau berbicara dengan saya.
Saya datangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan saya ucapkan salam kepada beliau saat berada di tempat duduknya seusai shalat. Saya berkata dalam hati, ‘Adakah Rasulullah menggerakkan kedua bibirnya untuk menjawab salamku atau tidak?!’ Kemudian saya shalat di dekat beliau, saya mencuri pandangan. Saat saya sedang shalat, Rasulullah melihat kepada saya. Tapi bila saya menoleh kepadanya, beliau berpaling dari saya.
Setelah cukup lama orang-orang meninggalkan saya, suatu saat saya pergi memanjat dinding kebun Abu Qatadah dia adalah sepupu saya dan termasuk orang yang paling saya cintai. Saya mengucapkan salam kepadanya, tetapi demi Allah dia tidak menjawab salam saya. Saya berkata, ‘Wahai Abu Qatadah! Demi Allah aku bertanya, adakah engkau tahu bahwa aku ini mencintai Allah dan RasulNya?’ Dia diam saja. Saya kembali bertanya tapi dia tetap diam. Saya bertanya sekali lagi, akhirnya dia juga menjawab, ‘Allah dan RasulNya sendiri yang lebih tahu.’ Air mata saya berlinang dan saya kembali memanjat dinding itu lagi.
Ketika saya berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba ada se-orang bangsawan dari Syam. Dia termasuk para pedagang yang datang membawa makanan untuk dijual di Madinah. Dia berkata, ‘Siapa yang dapat menunjukkan di mana Ka’ab bin Malik?’
Orang-orang yang ada di situ menunjukkannya. Setelah dia mendatangi saya, dia menyerahkan pada saya sebuah surat dari Raja Ghassan. Dalam surat itu tertulis, ‘Aku telah mendengar bahwa kawanmu (yaitu Nabi Muhammad) telah meninggalkanmu, sementara engkau tidaklah dijadikan oleh Allah berada pada derajat yang hina dan terbuang. Datanglah kepada kami, kami akan menghiburmu.’ Setelah membaca surat itu saya bergumam, ‘Ini termasuk rangkaian ujian Allah.’ Lalu saya bawa surat itu ke tungku dan membakarnya.
Setelah berlalu 40 hari dari total 50 hari , utusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada saya. Katanya, ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyuruhmu untuk menjauhi isterimu!’ Saya bertanya, ‘Apakah saya harus menceraikannya atau bagaimana?’, dia menjawab, ‘Tidak, jauhilah dia dan janganlah kau mendekatinya’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengirimkan utusan beliau kepada dua rekan senasib saya. Maka saya meminta pada isteri saya, ‘Pergilah kau ke tempat keluargamu. Menetaplah di sana sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala memutuskan masalah ini!’
Ka’ab berkata, ‘Isteri Hilal bin Umayyah datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, Hilal bin Umayyah itu sudah tua renta, dan dia tidak mempunyai pembantu. Apakah engkau keberatan bila aku melayaninya?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Tidak, tetapi jangan sampai dia mendekatimu!’ Isterinya menjawab, ‘Demi Allah, dia sudah tidak bisa bergerak lagi dan dia masih tetap menangis sejak dia mempunyai masalah ini sampai hari ini juga.’ Sementara itu sebagian keluarga saya berkata, ‘Bagaimana sekiranya engkau juga minta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah isterimu, agar dia bisa melayanimu seperti isteri Hilal bin Umayyah.’
Tetapi saya menjawab, ‘Demi Allah, dalam masalah ini aku tidak akan minta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila aku minta izin kepada beliau, sementara aku ini masih muda?!’
Saya berada dalam kondisi demikian selama sepuluh malam, sehingga jumlahnya 50 malam dari mulai pertama kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang untuk berbicara pada kami. Pada hari yang ke-50, saya menghadiri shalat Subuh, setelah itu saya duduk-duduk, sementara kondisi saya persis seperti yang digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, diri sendiri terasa sempit, begitu juga bumi yang luas ini terasa sempit bagi saya. Saat saya duduk dalam keadaan demikian, tiba-tiba saya mendengar suara orang yang berteriak dengan lantang di atas bukit, ‘Wahai Ka’ab, bergembiralah!’ Saat itu juga saya langsung sujud, saya tahu bahwa masalah saya akan berakhir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan datangnya taubat (pengampunan) Allah atas kami bertiga saat beliau selesai shalat Subuh.
Banyak orang pergi menemui kami untuk menyampaikan kabar gembira. Sebagian mereka ada yang menemui dua kawan senasib saya, dan ada seseorang yang ingin menemui saya dengan berkuda. Sementara itu ada seorang Bani Aslam yang hanya berjalan kaki, lalu dia naik ke bukit dan meneriakkan kabar gembira pada saya.
Ternyata suara itu lebih cepat dari pada kuda. Setelah orang yang naik ke bukit itu datang menemui saya untuk menyampaikan langsung, saya tang-galkan pakaian saya dan saya hadiahkan untuknya sebagai imbalan atas kabar gembiranya. Demi Allah, sebenarnya saya ini tidak mempunyai baju lagi selain itu. Akhirnya saya meminjam baju orang, kemudian berangkat menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang datang berduyun-duyun mengucapkan selamat atas kabar gembira ini. Mereka mengatakan, ‘Selamat atas pengam-punan Allah untukmu!’ Setelah itu saya masuk ke dalam mesjid, di situ terlihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk di kelilingi banyak orang. Tiba-tiba Thalhah bin Ubaidillah bangun dan menuju ke arah saya dengan setengah lari. Dia menjabat tangan saya dan mengucapkan selamat. Tidak ada seorang pun dari kaum Muhajirin yang bangun selain dia, dan saya tidak akan melupakannya.
Setelah saya mengucapkan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata dengan wajah bersinar penuh kegembiraan, ‘Bergembiralah dengan datangnya sebuah hari yang paling baik yang pernah engkau lalui semenjak kau dilahirkan oleh ibumu.’ ‘Dari engkau atau dari Allah, ya Rasulullah?’ tanya saya. Beliau menjawab, ‘Bukan dariku, tapi dari Allah.’ Dan demikianlah, bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang gembira, wajah beliau bersinar seperti bulan.
Kami semua tahu hal itu. Setelah aku duduk tepat di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sebagai pertanda taubat ini, aku akan melepas semua hartaku dan menjadikannya sebagai shadaqah untuk Allah dan RasulNya.’ Rasulullah menjawab, ‘Ambillah sebagian dari hartamu, ini lebih baik untukmu.’ Saya berkata, ‘Ya, aku akan mengambil jatahku yang aku dapatkan dari perang Khaibar.’ Setelah itu saya ungkapkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyelamatkan aku dengan kejujuran, dan sebagai pertanda taubatku kepada Allah, aku berjanji bahwa aku akan selalu berkata jujur selama hidupku. Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang muslim yang diuji oleh Allah dalam kejujuran kata-katanya melebihi ujian yang aku dapatkan.’
Dan sejak aku ungkapkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya tidak pernah berdusta sampai hari ini. Saya memohon semoga Allah tetap menjaga saya selama sisa hidup saya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firmanNya kepada RasulNya:
“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan. Setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepadaNya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allahlah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang jujur.” (At-Taubah: 117-119).
Demi Allah, tidak ada nikmat yang telah Allah karuniakan kepada saya setelah nikmat hidayah Islam- yang lebih besar dari nikmat kejujuran saya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya tidak ingin berdusta tapi kemudian binasa seperti binasanya orang-orang yang telah berdusta. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan komentar tentang orang-orang yang berdusta di dalam wahyu yang diturunkanNya- dengan kata-kata yang sangat keras dan jelek.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Kelak mereka akan bersumpah kepdamu denga nama Allah apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka itu berpalinglah dari mereka, karena mereka itu adalah najis dan tempat mereka adalah Jahannam, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepadamu agar kamu rela kepada mereka. Tetapi, jika sekiranya kamu rela kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak rela kepada orang-orang yang fasik itu.” (At-Taubah: 95-96).
Ka’ab berkata:
“Kami bertiga tidak memperhatikan lagi orang-orang yang diterima alasan mereka setelah bersumpah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau menyumpah mereka dan memintakan ampun buat mereka, sementara itu beliau menangguhkan urusan kami sampai Allah sendiri yang memutuskan. Oleh karena itu Alah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan,”(Dan Allah juga telah menerima taubat) tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka.”
Yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah tidak ikut sertanya kami bertiga dalam perang, tetapi yang dimaksud adalah ditangguhkannya taubat kami serta tidak diikutsertakannya kami pada kelompok orang-orang yang telah ber-sumpah dan mengemukakan alasan dan diterima oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Janji Bertemu Di Surga