Catatan Popular

Ahad, 22 Disember 2019

PENJELASAN: contoh-contoh hati serta tentara batiniahnya.


Ketahuilah, bahwa dua tentara: tentara marah dan tentara nafsu syahwat, kadang-kadang keduanya tunduk kepada hati dengan sempurna.
Lalu yang demikian itu dapat menolong hati kepada jalan yang akan ditempuhnya. Dan baguslah pengawanan keduanya dalam perjalanan yang dilaksanakan oleh hati.
Kadang-kadang keduanya (tentara marah dan nafsu syahwat) itu mendurhakai hati dengan memberontak dan menantang. Sehingga keduanya itu memiliki hati dan memperbudakkannya.
Pada yang demikianlah, kebinasaan dan terputusnya hati dari perjalanannya, yang menyampaikannya kepada kebahagiaan abadi.
Dan hati mempunyai tentara lain, yaitu: ilmu, hikmah kebijaksanaan dan pemikiran, sebagaimana akan datang uraiannya.
Dan menjadi hak hati untuk meminta pertolongan pada tentara ini.
Sesungguhnya tentara ini adalah tentara Allah Ta’ala (hizbullah) terhadap dua tentara yang tersebut diatas.
Sesungguhnya dua tentara tadi, kadang-kadang berhubungan dengan tentara setan. Kalau hati itu tidak meminta pertolongan dan tentara marah dan nafsu syahwat menguasai atas dirinya, niscaya hati itu pasti binasa dan memperoleh kerugian yang nyata.
Begitulah keadaan kebanyakan makhluk manusia. Akal pikirannya tunduk kepada nafsu syahwatnya dalam mencari daya upaya memenuhi nafsu syahwat itu. Dan adalah seyogyanya bahwa nafsu syahwat itu tunduk kepada akal pikirannya, mengenai sesuatu yang diperlukan oleh akal pikiran.

Kami akan mendekatkan yang demikian kepada pemahaman anda dengan 3 contoh:

Contoh pertama: kami berkata: bahwa jiwa manusia dalam tubuhnya kami maksudkan jiwa halus yang tersebut dahulu, adalah seperti raja dalam kota dan kerajaannya.
Sesungguhnya tubuh itu kerajaan jiwa (nafsu), alamnya, tempat ketetapannya dan kotanya.
Dan anggota-anggota tubuh dan kekuatannya adalah seperti tukang-tukang dan pekerja-pekerja.
Dan kekuatan ‘aqliah (kelezatan keakalan) yang berpikir baginya itu adalah, seperti: penunjuk yang menasehati dan menteri yang berakal pikiran.
Nafsu syahwatnya adalah seperti budak jahat, yang menghela makanan dan makanan simapanan (al-mirah) ke kota.
Kemarahan dan kepanasan hati karena kemarahan itu adalah seperti orang yang mempunyai polisi. Dan budak yang menghela makanan al-mirah itu pembohong, pengicuh, penipu yang keji, yang membentuk dirinya dengan bentuk penasehat.
Dan dibawah nasehatnya itu kejahatan yang menakutkan dan racun yang membunuh. Sifat dan kebiasaannya itu bertentangan bagi menteri yang menasehati dalam semua pendapat dan pengaturannya. Sehingga tidak terlepas sesaatpun daripada perlawanan dan penantangannya.
Sebagaimana raja dalam kerajaannya, apabila ia merasa cukup dalam pengaturannya dengan menterinya dan ia bermusyawarah dengan menterinya itu dan menolak isyarat budak yang keji tadi, berdalilkan dengan isyaratnya, bahwa yang benar adalah yang berlawanan dengan pendapat budak itu, niscaya raja itu telah dituntun oleh kepala polisinya dan bertindak bijaksana bagi menterinya.
Ia menjadikan menterinya tempat musyawarahnya, yang berkuasa dari pihaknya terhadap budak yang keji itu, pengikut-pengikutnya dan pembantu-pembantunya. Sehingga budak itu disiasati, tidak menyiasati, disuruh dan diatur, tidak menyuruh dan mengatur. Luruslah urusan negeri raja tersebut. Dan dengan sebab demikian, teraturlah keadilan.
Maka begitulah an-nafs (diri), manakala ia meminta tolong pada akal dan memperoleh tuntunan dengan penjagaan marah.
Dan an-nafs itu menguasakan kekerasan marah atas keinginan (syahwat). Dan meminta tolong dengan yang satu kepada yang lain. Sekali dengan menyedikitkan derajat marah dan meluap-luapnya dengan menantang syahwat (keinginan) dan menaikkannya setingkat ke setingkat.
Dan sekali dengan mencegah dan memaksakan syahwat dengan berkuasanya marah kepanasan hati kepadanya. Dan memandang keji kehendak-kehendak syahwat itu. Niscaya berlaku adillah semua kekuatan diri (an-nafs) dan baguslah tingkah-lakunya.
Orang yang berpaling dari jalan ini, adalah seperti orang yang difirmankan oleh Allah Ta’ala:
“Adakah engkau lihat orang yang mengambil keinginan (nafsunya) menjadi tuhannya ? dan Allah membiarkannya sesat menurut pengetahuan”. S 45 Al Jaatsiah ayat 23.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan menurutkan kemauan hawa nafsunya. Perumpamaannya sebagai anjing: kalau engkau halau, diulurkannya lidahnya dan kalau engkau biarkan saja, diulurkannya juga lidahnya”. S 7 Al A’raaf ayat 176.
Dan Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman tentang orang yang mencegah nafsunya dari keinginan hawa nafsu:
“Dan adapun orang yang takut dihadapan kebesaran Tuhannya dan menahan nafsunya (dirinya) dari keinginan yang rendah (hawa nafsu). Sesungguhnya sorga tempat kediamannya”. S 79 An Naazi’aat ayat 40-41.
Dan akan datang cara perjuangan tentara-tentara tersebut dan cara sebahagian daripadanya menguasai akan sebahagian yang lain pada “Kitab Latihan Diri” insya Allah Ta’ala.

Contoh kedua: ketahuilah bahwa tubuh itu seperti kota. Dan akal. Yakni: yang mengetahui dari manusia adalah seperti raja, yang mengatur kota itu. Kekuatan manusia yang mengetahui, yang terdiri dari pancaindra zahiriah dan batiniah, adalah seperti tentaranya dan pembantu-pembantunya. Anggota badannya adalah seperti rakyatnya. Nafsu yang menyuruh kepada kejahatan (nafsu ammarah), ialah nafsu syahwat. 
Dan amarah adalah seperti musuh yang menantangnya dalam kerajaannya. Dan yang berusaha membinasakan rakyatnya. Maka jadilah badannya seperti pasukan dan benteng. Dan nafsunya seperti orang yang menetap dalam benteng, yang menjaga pasukan. Kalau ia berjuang menghadapi musuhnya dapat menghancurkan dan memaksakan musuh itu menurut keinginannya, niscaya akibatnya terpuji, apabila ia kembali ke hadirat Tuhan, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala: “……dan orang-orang yang berjuang di jalan Allah, dengan harta dan dirinya.

Allah melebihkan tingkatan orang-orang yang berjuang dengan harta dan dirinya dari orang-orang yang tinggal duduk”. S 4 An Nisaa’ ayat 95.

Kalau ia menghilangkan bentengnya dan menyia-nyiakan rakyatnya, niscaya tercelalah akibatnya. Maka ia dituntut balas dari perbuatan tersebut di sisi Allah Ta’ala. Dikatakan kepadanya pada hari kiamat: “Hai pemimpin jahat ! engkau makan daging dan minum susu. Engkau tidak mengembalikan benda yang hilang dan tidak menampalkan yang pecah. Pada hari ini, engkau dituntut balas, sebagaimana tersebut pada hadits. Kepada jihad (perjuangan) inilah, yang ditujukan oleh sabda Nabi saw: “Kita kembali dari jihad (perjuangan) kecil kepada perjuangan besar”.

Contoh ketiga: akal itu seperti pengendara kuda, yang pergi berburu. Nafsu syahwatnya adalah seperti kudanya. Dan marahnya adalah seperti anjingnya. Manakala pengendara kuda itu cerdik, kudanya terlatih dan anjingnya terdidik, diberi ajaran, niscaya layaklah ia memperoleh kemenangan.

Dan manakala ia sendiri tidak pandai bekerja, kudanya liar melawan dan anjingnya buas, lalu kudanya tidak bangun mematuhi perintahnya dan anjingnya tidak dilepaskan dengan mematuhi petunjuknya, maka layaklah ia mendapat kebinasaan. Lebih-lebih lagi daripada ia mencapai apa yang dicarinya. Tidak pandainya bekerja pengendara kuda itu, adalah seperti bodohnya manusia. Kurang kebijaksanaannya dan tumpul pandangannya. Dan melawannya kuda itu adalah seperti kerasnya nafsu syahwat, lebih-lebih syahwat perut dan kemaluan. Dan buasnya anjing itu adalah seperti kerasnya dan berkuasanya kemarahan. Kita bermohon kepada Allah akan taufiq yang baik dengan kasih sayangNya !

PENJELASAN: tentara hati.

Allah Ta’ala berfirman:
“Tiadalah yang mengetahui tentara Tuhanmu, selain Ia sendiri”. S 74 Al Muddatstsir ayat 31.
Allah swt mempunyai tentara yang terkumpul banyak dalam hati, dalam roh dan dalam alam-alam yang lain.
Hanya Allah sendiri yang mengetahui hakikat/maknanya dan penguraian bilangannya. Dan kami sekarang mengisyaratkan kepada sebahagian tentara hati.
Maka itulah yang menyangkut dengan maksud kami. Hati itu mempunyai dua tentara: tentara yang dapat dilihat dengan mata kepala dan tentara yang tidak dapat dilihat, kecuali dengan mata hati.
Hati itu berkedudukan raja.
Dan tentara itu berkedudukan pelayan dan pembantu. Inilah arti tentara.
Adapun tentara hati yang dapat disaksikan dengan mata, ialah: tangan, kaki, mata, telinga, lidah dan anggota-anggota tubuh lainnya, yang zahir dan yang batin.
Semuanya itu pelayan hati dan yang bekerja cuma-cuma untuk hati.
Hatilah yang menggunakannya dan yang pulang pergi kepadanya. Semua anggota itu dijadikan secara naluri patuh kepada hati. Tiada sanggup menyalahinya dan mendurhakainya. Apabila hati menyuruh mata dibuka, niscaya dia terbuka. Apabila hati menyuruh kaki bergerak, niscaya ia bergerak. Apabila hati menyuruh lidah berkata-kata dan ia yakin akan hukum yang akan diperkatakan, niscaya lidah itu berkata-kata. Dan begitulah dengan anggota-anggota badan lainnya.
Kepatuhan anggota-anggota tubuh dan pancaindra kepada hati, dapat diserupakan dari segi kepatuhan para malaikat kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya malaikat secara naluri itu patuh, tiada sanggup menyalahiNya. Bahkan, mereka tiada mendurhakai Allah akan apa yang disuruh oleh Allah.
Mereka berbuat, apa yang disuruh. Hanya keduanya itu, berbeda pada satu hal. Yaitu: bahwa para malaikat as itu, mengetahui dengan ketaatan dan kepatuhannya. Dan pelupuk mata itu mematuhi hati tentang terbuka dan tertutupnya, dengan jalan: terjadinya demikian (taskhir).
Tiada berita baginya dari dirinya dan dari kepatuhannya kepada hati. Sesungguhnya, hati itu memerlukan kepada tentara tersebut, sebagaimana perlunya kepada kendaraan dan perbekalan perjalanannya, yang karena itulah, dia dijadikan. Yaitu: perjalanan kepada Allah swt dan dilampaui tempat-tempat untuk menemuiNya. Maka karena itulah, hati itu dijadikan.

Allah Ta’ala berfirman:
“Tidaklah Aku jadikan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah (memperhambakan diri) kepadaKu”. S 51 Adz Dzaariyaat ayat 56.
Sesungguhnya kendaraan hati itu tubuh.
Dan perbekalannya ilmu.
Dan sesungguhnya sebab-sebab yang menyampaikannya kepada perbekalan dan yang menetapkannya dari perbekalan itu ialah: amal shalih.
Dan tidak mungkin hamba itu sampai kepada Allah swt selama badannya tidak tenang. Dan ia tidak melewati (meninggalkan) dunia. Sesungguhnya tempat yang terdekat tak boleh tidak- dilewati, untuk sampai ke tempat yang terjauh.
Dunia adalah tempat bercocok tanam bagi akhirat.
Dan salah satu tempat petunjuk. Dinamakan dengan dunia, karena dia itu yang terdekat dari dua tempat tersebut. Maka perlulah menyiapkan perbekalan dari dunia (alam) ini.

Maka badan itu, kendaraannya, yang menyampaikannya kepada alam ini.
Maka ia memerlukan kepada persiapan badan dan memeliharakannya. Sesungguhnya badan itu dipelihara, dengan menarikkan kepadanya makanan dll yang sesuai dengan dia. Dan menolak daripadanya, sebab-sebab kebinasaan, yang meniadakan badan itu.
Maka ia memerlukan kepada dua tentara untuk menarik makanan itu.
Yaitu: tentara batin, ialah: nafsu syahwat dan tentara zahir, ialah: tangan dan anggota-anggota badan yang menarik makanan.
Maka dijadikan didalam hati, apa yang dihayatinya, dari keinginan-keinginan. Dan dijadikan anggota-anggota badan yang menjadi alat keinginan-keinginan itu.
Maka diperlukan dua tentara untuk menolak bahaya yang membinasakan: tentara batin. Yaitu: marah yang menolak segala yang membinasakan dan menuntut balas dari musuh.
Dan: tentara zahir, yaitu: tangan dan kaki, dimana dengan tangan dan kaki itu dapat bekerja menurut kehendak marah. Semua itu, dengan hal-hal yang diluar badan. Maka anggota-anggota dari badan itu, adalah seperti alat senjata dan lainnya.
Kemudian, orang yang memerlukan kepada makanan, selama ia tidak mengenal makanan itu, niscaya tidak bermanfaat kepadanya, keinginan dan kesukaan kepada makanan itu.
Maka ia memerlukan kepada dua tentara untuk mengenalnya: tentara batin. Yaitu: pancaindra pendengaran, penglihatan, penciuman, penyentuhan dan perasaan lidah.
Dan: tentara zahir, yaitu: mata, telinga, hidung dll. Penguraian segi keperluan dan segi hikmah padanya itu, panjang. Dan tidak sampai kepada banyak jilid. Dan telah kami isyaratkan kepada bagian yang sedikit daripadanya, pada “Kitab Syukur”. Maka hendaklah dicukupkan dengan itu !.

******
Maka jumlah tentara hati itu, dihinggakan oleh 3 jenis:

Jenis kesatu, pembangkit dan pendorong.
{nafsu syahwat, marah, kemauan.}
Adakalanya kepada penarikan yang bermanfaat, yang sesuai, seperti: nafsu syahwat.
Dan adakalanya kepada penolakan yang mendatangkan melarat, yang tidak bermanfaat, seperti: marah.
Kadang-kadang dikatakan tentang penggerak itu: kemauan.

Jenis kedua, yaitu: penggerak anggota badan untuk menghasilkan maksud-maksud itu.
Dan dikatakan tentang yang kedua ini: kekuasaan. Yaitu: tentara yang berkembang pada anggota-anggota badan yang lain. Lebih-lebih sendi-sendi dan anggota-anggota badan yang tumbuh pada sendi-sendi badan.

Jenis ketiga, yaitu: yang mengetahui dan yang ingin mengenal semua perkara, seperti: mata-mata.
Yaitu: kekuatan penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan dengan lidah dan penyentuhan. Dan itu berkembang pada anggota-anggota badan tertentu. Dan disebutkan tentang ini: ilmu dan perasaan.
Dan bersama masing-masing tentara batin ini, ada tentara zahir. Yaitu: anggota-anggota badan yang tersusun dari: lemak, daging, urat, darah dan tulang, yang menyediakan perkakas untuk tentara itu.
Maka sesungguhnya kekuatan menggenggam, ialah dengan anak-anak jari. Kekuatan melihat dengan mata. Dan begitulah kekuatan-kekuatan lainnya.
Kami tidak memperkatakan tentang tentara zahir, yakni: anggota-anggota badan. Karena dia termasuk ‘alamul-mulki was-syahadah (penyaksian tubuh di alam dunia).
Dan yang kami perkatakan sekarang, ialah: apa yang diperkuatkan dengan tentara-tentara yang tiada engkau melihatnya.
Jenis yang ketiga ini, ialah yang mengetahui keseluruhan ini, yang terbagi kepada: yang menempati tempat-tempat zahiriah, yaitu:
pancaindra yang lima. Yakni:
pendengaran,
penglihatan,
penciuman,
perasaan lidah dan
penyentuhan.
Dan kepada: yang menempati tempat-tempat batiniah.
Yaitu: rongga-rongga otak. Dan itu juga lima.
Maka sesungguhnya manusia, sesudah melihat sesuatu itu, memejamkan kedua matanya. Maka ia memperoleh bentuknya dalam dirinya. Yaitu: khayal.
Kemudian bentuk itu kekal padanya, disebabkan sesuatu yang menjagakannya. Yaitu: tentara penjaga.
Kemudian, ia bertafakkur pada yang dijagakannya.
Lalu disusunnya sebahagian yang demikian, kepada yang sebahagian. Kemudian ia mengingati apa yang telah dilupakannya dan ia kembali kepadanya.
Kemudian, dikumpulkannya sejumlah pengertian dari yang dirasakan, dalam khayalannya, dengan perasaan yang bersekutu diantara yang dirasakan dengan pancaindra itu.
Dalam batin ada perasaan yang bersekutu, khayalan, pemikiran, ingatan dan hafalan.
Jikalau tidak dijadikan oleh Allah, kekuatan hafalan, pikiran, ingatan dan khayalan, niscaya adalah otak itu kosong daripadanya.
Sebagaimana kosongnya tangan dan kaki daripadanya. Maka kekuatan-kekuatan itu juga tentara batiniah dan tempatnya juga batiniah.
Inilah segala macam tentara hati ! uraiannya sehingga dapat diketahui oleh paham orang-orang yang lemah dengan memberikan contoh-contoh itu akan panjang.
Dan maksud kitab yang seperti ini adalah untuk dimanfaatkan oleh orang-orang kitab yang seperti ini dan adalah untuk dimanfaatkan oleh orang-orang yang kuat pemahamannya dan oleh ulama-ulama yang terkemuka. Akan tetapi kami berusaha sungguh-sungguh untuk memberi pengertian kepada orang-orang yang lemah, dengan mengemukakan contoh-contoh, supaya yang demikian itu, mendekatkan kepada pemahaman mereka.

PENJELASAN: arti hati, roh, nafsu, dan akal dan apa yang dimaksudkan dengan nama-nama itu.


Ketahuilah, bahwa nama-nama yang  ini dipakai pada bab-bab ini. Dan sedikitlah dalam kalangan ulama-ulama yang terkemuka, yang mendalam pengetahuannya tentang nama-nama ini, tentang perbedaan pengertian-pengertiannya, batas-batasnya dan apa yang dinamakan dengan nama-nama tersebut. 

Kebanyakan kesalahan itu terjadinya karena kebodohan dengan arti nama-nama ini dan persekutuannya diantara apa yang dinamakan itu yang bermacam-macam. Dan kami akan menguraikan arti nama-nama tersebut, yang menyangkut dengan maksud kami.

***** 
Perkataan pertama: perkataan hati.
Dan itu ditujukan kepada dua pengertian:

Pertama: daging yang berbentuk buah sanaubar, tertetak pada pinggir dada yang kiri. 
Yaitu: daging khusus. Dan didalamnya ada lobang. Dalam lobang itu darah hitam. Itulah sumber nyawa dan bahannya.
Dan kami tidak bermaksud sekarang menguraikan bentuknya dan caranya. Karena itu menyangkut dengan maksud dokter-dokter. Dan tiada menyangkut dengan maksud-maksud keagamaan. Hati itu ada pada hewan. Bahkan ada pada orang mati.

Dan apabila kami menyebutkan secara mutlak, perkataan hati (al-qalb) dalam kitab ini, maka tidaklah kami maksudkan yang demikian. Karena itu adalah sepotong daging, yang tidak berharga. Dan itu termasuk sebahagian dari alam yang dapat diperintah dan dilihat (‘alamul-mulki wasy-syahadah), karena hewanpun dapat mengetahuinya dengan pancaindra melihat, lebih-lebih lagi manusia.

Kedua: yaitu: yang halus (lathifah), ketuhanan (rabbaniyah), kerohanian (ruhaniyah).

Dia dengan: hati yang bertubuh (al-qalbi al-jismany) itu, mempunyai hubungan. Yang halus itu, ialah hakikat/makna manusia.
Dialah yang merasa, yang mengetahui, dan mengenal, dari manusia. Dialah yang ditujukan dengan pembicaraan, yang disiksa, yang dicaci dan yang dicari.
Ia mempunyai hubungan dengan hati yang bertubuh.
Akal kebanyakan manusia, heran untuk mengetahui cara hubungannya. Karena hubungannya itu menyerupai, hubungan sifat (‘aradl) dengan tubuh. Hubungan sifat dengan yang bersifat (maushuf). Atau hubungan pemakai alat dengan alatnya. Atau hubungan orang bertempat dengan tempatnya.

Dan menguraikan yang demikian itu, termasuk apa yang kami takuti, karena dua pengertian:

Pertama: bahwa yang demikian itu menyangkut dengan Mukasaffah (Ilmu Diminta untuk mengetahuinya saja). Dan tidaklah maksud kami dari Kitab ini, selain: Ilmu Mu’amalah (pengurusan/perniagaan/yang diminta mengetahuinya hendaklah diamalkan).

Kedua: bahwa mencari hakikat/maknanya itu meminta disiarkan rahasia roh (nyawa). Dan yang demikian itu termasuk hal yang tidak diperkatakan oleh Rasulullah saw.
Maka tidaklah bagi orang lain, bahwa memperkatakannya.  Yang dimaksudkan: bahwa apabila kami menyebutkan perkataan hati (al-qalb) dalam kitab ini, maka yang kami maksudkan, ialah: yang halus (lathifah) itu.
Dan maksud kami, ialah menyebutkan sifat-sifat dan keadaannya, bukan menyebutkan hakikat/maknanya pada zatnya. Dan Ilmu Mu’amalah (yang diminta mengetahuinya hendaklah diamalkan) itu menghendaki mengenal sifat-sifat dan keadaan nya. Dan tidak menghendaki kepada menyebutkan hakikat/maknanya.

******
Perkataan kedua: nyawa (ruh). 
Dan juga ditujukan pada yang menyangkut, dengan jenis maksud kami, karena dua pengertian:

Pertama: tubuh halus (tubuh lathif). Sumbernya itu lobang hati yang bertubuh.

Lalu bertebar dengan perantaraan urat-urat yang memanjang, ke segala bahagian tubuh yang lain. Mengalirnya dalam tubuh, membanjirnya cahaya hidup, perasaan, penglihatan, pendengaran dan penciuman daripadanya kepada anggota-anggotanya itu, menyerupai membanjirnya cahaya dari lampu yang berkeliling pada sudut-sudut rumah.
Sesungguhnya cahaya itu tidak sampai kepada sebahagian dari rumah, melainkan terus disinarinya. Dan hidup itu adalah seperti cahaya yang kena pada dinding. Dan nyawa itu adalah seperti lampu. Berjalannya nyawa dan bergeraknya pada batin, adalah seperti bergeraknya lampu pada sudut-sudut rumah, dengan digerakkan oleh penggeraknya.
Dokter-dokter, apabila menyebutkan secara mutlak perkataan: nyawa, maka yang dikehendaki oleh mereka, ialah: pengertian ini. Yaitu: wap yang halus, yang dimasakkan oleh kepanasan al-qalb (hati).

Dan tidaklah uraiannya menjadi maksud kami. Karena yang menyangkut dengan itu, adalah maksud dokter-dokter yang mengobati tubuh. Adapun maksud dokter-dokter agama, yang mengobati hati, sehingga terbawa ke sisi Tuhan Semesta alam, tidaklah sekali-kali menyangkut dengan uraian nyawa itu.

Pengertian kedua: yaitu: yang halus dari manusia, yang mengetahui dan yang merasa. Dan itulah yang kami uraikan tentang salah satu pengertian hati.

Dan itulah yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala dengan firmanNya:
“Jawablah ! nyawa (roh) itu termasuk urusan Tuhanku”. 
S 17 Al Israa’ ayat 85.

Dan itu adalah urusan ketuhanan yang menakjubkan, yang melemahkan kebanyakan ajal dan paham daripada mengetahui hakikat/maknanya.

***** 
Perkataan ketiga: nafsu. 
Dia juga bersekutu diantara beberapa pengertian.

Dan yang menyangkut dengan maksud daripadanya adalah dua pengertian:

Pertama: bahwa yang dimaksudkan dengan yang demikian itu, ialah pengertian yang menghimpunkan bagi: kekuatan marah dan nafsu syahwat pada manusia, sebagaimana akan datang uraiannya.

Pemakaian ini adalah yang biasa pada ahli tasawwuf/ahli suffi. Karena mereka maksudkan dengan nafas (nafsu) itu, ialah: pokok yang menghimpunkan sifat-sifat tercela pada manusia. Lalu mereka berkata: tak boleh tidak melawan nafsu dan menghancurkannya. 
Ke situlah isyaratnya sabda Nabi saw:
“Musuhmu yang terbesar, ialah nafsumu yang berada diantara dua lembungmu”.

Pengertian kedua: yaitu: yang halus (lathifah) yang telah kami sebutkan di atas, dimana pada hakikat/maknanya: itulah manusia. Yaitu: diri manusia dan zatnya.

Tetapi disifatkan dengan bermacam-macam sifat, menurut bermacam-macam keadaannya. Apabila dia itu tenang, dibawah perintah dan jauh dari kegoncangan disebabkan penantangan nafsu syahwat, maka dinamakan: nafsu muthmainnah (diri atau jiwa yang tenang).
Allah Ta’ala berfirman tentang contohnya: 
“Hai jiwa yang tenang tentram ! kembalilah kepada Tuhanmu, merasa senang (kepada Tuhan) dan (Tuhan) merasa senang kepadanya”. S 89 Al Fajr ayat 27-28.

Jiwa (nafsu) dengan pengertian pertama, tidaklah tergambar kembalinya kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya dia itu menjauh dari Allah. Dan dia itu termasuk golongan setan.
Apabila tidak sempurna ketenangannya, akan tetapi jadi pendorong kepada nafsu syahwat dan penantangnya, maka dinamakan: nafsu lawwamah (jiwa yang mencela).
Karena jiwa itu mencela tuannya ketika teledor pada menyembah Tuhannya. Tuhan berfirman: 
“Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat mencela (kejahatan)”. S 75 Al Qiyaamah ayat 2.

Kalau nafsu (jiwa) itu meninggalkan tantangan, tunduk dan patuh, menurut kehendak nafsu syahwat dan panggilan setan, maka dinamakan: nafsu yang menurut kepada yang jahat (an-nafsul-ammarah bis-suu-i).

Allah Ta’ala berfirman, menceritakan tentang Yusuf as atau isteri seorang pembesar (Mesir yang membujuk Yusuf as): “Dan aku tidaklah membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu suka menyuruh kepada yang buruk”. S 12 Yusuf ayat 53.
Kadang-kadang boleh dikatakan bahwa yang dimaksud dengan suka menyuruh kepada yang buruk itu, ialah: nafsu dengan pengertian pertama.
Jadi, nafsu dengan pengertian pertama itu, sangat tercela. Dan dengan pengertian kedua itu, terpuji. Karena dia adalah nafsu (diri) manusia. Artinya: zat dan hakikat/maknanya, yang mengetahui Allah Ta’ala dan pengetahuan-pengetahuan lainnya.

********
Perkataan keempat: akal. 
Itu juga bersekutu dengan pengertian yang bermacam-macam, yang telah kami sebutkan pada “Kitab Ilmu”. 
Dan yang menyangkut dengan maksud kami dari jumlah pengertiannya, ialah dua pengertian:

Pertama: sesungguhnya, kadang-kadang ditujukan dan dimaksudkan dengan akal itu: pengetahuan tentang hakikat/makna segala keadaan.
Maka akal itu, ibarat dari sifat-sifat ilmu, yang tempatnya hati.

Pengertian kedua: sesungguhnya, kadang-kadang ditujukan dan dimaksudkan dengan akal itu: ialah yang memperoleh pengetahuan itu. Dan itu adalah: hati. Ya’ni: yang halus itu.

Kita mengetahui, bahwa tiap-tiap orang yang berilmu, maka ia mempunyai wujud pada dirinya. Yaitu: pokok yang berdiri dengan sendirinya. Dan ilmu itu suatu sifat yang bertempat padanya. Dan sifat itu, bukan benda yang disifatkan.
Kadang-kadang akal itu ditujukan dan dimaksudkan: sifat orang yang berilmu.
Dan kadang-kadang ditujukan dan dimaksudkan: tempat pengetahuan. Yakni: yang mengetahui.
Dan itulah yang dimaksudkan dengan sabda Nabi saw: “Yang pertama-tama dijadikan Allah, ialah akal”.
Sesungguhnya ilmu itu sifat (‘aradl), yang tidak tergambar bahwa dia itu makhluk pertama. Tetapi, tak boleh tidak, bahwa adalah tempat itu, yang dijadikan sebelum ilmu atau bersama ilmu. Dan karena tidak mungkin ditujukan perkataan kepada ilmu.
Pada hadits, Allah Ta’ala berfirman kepada akal: “Menghadaplah !”. Lalu ia menghadap. Kemudian Allah berfirman kepada akal: “Membelakanglah !”, lalu ia membelakang……..sampai akhir hadits.

Jadi, sesungguhnya telah terbuka kepada kita, bahwa pengertian nama-nama tersebut itu ada.
Yaitu:
hati-jismani (hati yang terbentuk tubuh),
roh-jismani (berbentuk tubuh),
nafsu syahwat dan
ilmu.

Maka inilah 4 pengertian yang ditujukan kepada 4 perkataan.

Dan pengertian yang ke-5, yaitu: yang halus dari manusia, yang mengetahui dan yang merasa. Dan perkataan 4 itu keseluruhannya, banyak kali datang pemakaiannya kepada yang halus itu.

Maka pengertian itu 5 dan perkataannya 4.

Tiap-tiap perkataan, ditujukan kepada dua pengertian. Dan kebanyakan ulama, telah meragukan kepada mereka, perbedaan kata-kata tersebut dan kebiasaan pemakaiannya.

Maka anda akan melihat mereka, memperkatakan tentang gurisan-gurisan hati (al-khawaathir).
Dan mereka mengatakan: ini gurisan akal, ini gurisan jiwa, ini gurisan hati dan ini gurisan nafsu (diri).
Dan orang yang memperhatikan, tiada akan tahu perbedaan pengertian nama-nama itu. Dan untuk menyingkap tutupnya dari yang demikian itu, kami telah dahulukan uraian nama-nama tersebut. Bilamana tersebut perkataan hati dalam Alquran dan Sunnah, maka yang dimaksudkan, ialah: penguraian yang dipahami dari manusia.
Dan yang mengetahui hakikat/makna segala sesuatu. Kadang-kadang secara tidak langsung (dengan jalan kinayah), disebutkan tentang hati itu, akan hati yang di dalam dada.
Karena diantara yang halus itu dan antara tubuh hati, ada hubungan khusus.
Dan yang halus itu, walaupun ada sangkutannya dengan seluruh tubuh dan dipakai untuk seluruh tubuh, akan tetapi ia bersangkutan dengan tubuh itu, dengan perantaraan hati.
Maka sangkutannya yang pertama, ialah dengan hati.
Dan seolah-olah hati itu, tempatnya yang halus tersebut, kerajaannya, alamnya dan binatang kendaraannya.
Dan karena itulah, Sahl At-Tusturi menyerupakan hati dengan ‘Arasy dan dada dengan Kursi. Ia mengatakan: hati itu ialah ‘Arasy. Dan dada ialah Kursi. Dan tidak ada yang menyangka, bahwa dia itu berpendapat, bahwa itu ‘Arasy Allah dan KursiNya. Karena demikian itu mustahil. Tetapi ia bermaksud dengan demikian, bahwa hati itu kerajaanNya dan saluran pertama untuk mengatur dan memperlakukannya.

Maka keduanya (hati dan dada) dibandingkan kepada manusia, adalah seperti ‘Arasy dan Kursi dibandingkan kepada Allah Ta’ala. Dan juga penyerupaan ini tidak lurus, kecuali dari beberapa segi. Dan juga uraian itu tidak layak dengan tujuan kita sekarang. Maka dari itu, hendaklah kita lampaui saja.

PENDAHALUAN KITAB URAIAN KEAJAIBAN HATI.


(Iaitu: Kitab Pertama dari Rubu’ “Yang Membinasakan”)
Segala pujian bagi Allah, yang heranlah segala hati dan segala gurisan hati, tiada sanggup mengetahui dengan mendalam akan keagungan Allah.
Dan merasa dahsyatlah segala mata dan pandangan tentang dasar-dasar kecemerlangan NurNya. Ia Yang Melihat segala rahasia yang tersembunyi. Ia Yang Mengetahui segala kandungan jiwa yang tertutup. Ia Yang Tidak Memerlukan kepada perundingan dan pertolongan pada mengatur kerajaanNya. Ia Yang Membalik-balikkan semua hati. Ia Yang Mengampunkan segala dosa, Ia Yang Menutup semua kekurangan. Dan Ia Yang Melapangkan segala kesempitan.

Rahmat kepada penghulu rasul-rasul, yang mengumpulkan yang bercerai-berai dari agama dan yang memotong pembelakangan orang-orang yang ingkar. Dan kepada keluarganya yang baik dan suci. Dan anugerahilah kiranya kesejahteraan yang sebanyak-banyaknya !

Adapun kemudian, maka kemuliaan dan keutamaan manusia yang mengatasi sejumlah dari bermacam-macam makhluk yang lain, adalah disebutkan persediaannya mengenal Allah (ma’rifah kepada Allah) Yang Maha Suci, dimana mengenal Allah itu didunia adalah keelokan, kesempurnaan dan kebanggaan nya manusia.

Dan diakhirat adalah alat dan simpanannya. Sesungguhnya manusia itu menyediakan diri bagi ma’rifah/mengenal, adalah dengan hatinya.
Tidak dengan salah satu anggota badannya.
Maka hatilah yang mengetahui Allah.
Dialah yang mendekati kepada Allah. Dialah yang bekerja karena Allah.
Dialah yang berjalan kepada Allah.
Dan dialah yang membuka apa yang di sisi Allah dan yang padaNya.

Dan sesungguhnya anggota badan itu, adalah pengikut, pelayan dan alat yang dipergunakan oleh hati.

Dan yang dipakainya, laksana pemilik memakai budaknya, pemimpin menerima layanan rakyatnya dan pekerja bagi perkakas nya. Hatilah yang diterima di sisi Allah apabila ia selamat sejahtera dari selain Allah. Dan hati itu terdinding (terhijab) dari Allah, apabila ia tenggelam dengan selain Allah.

Hatilah yang mencari. Hatilah yang berbicara. Dan hatilah yang mencaci. Dan dialah yang berbahagia dengan dekat kepada Allah. 

Maka ia memperoleh kemenangan, apabila ia mensucikannya. Dan memperoleh kekecewaan dan kesengsaraan, apabila ia mengotorkan dan merusakkannya. 

Hatilah pada hakikat/maknanya yang taat kepada Allah Ta’ala. Dan sesungguhnya ibadah-ibadah yang berkembang pada anggota badan, adalah cahayanya. Hatilah yang durhaka, yang mengingkari Allah Ta’ala. Sesungguhnya yang berjalan pada anggota badan, dari kekejian-kekejian adalah bekas-bekasnya hati. Dengan gelap dan bersinarnya hati, lahirlah segala kebaikan zahiriah dan keburukannya. Karena tiap tempat air itu, kena percikan dengan apa yang ada didalamnya. Hatilah apabila dikenal oleh manusia, maka sesungguhnya manusia itu telah mengenal dirinya.

Dan apabila manusia telah mengenal dirinya, maka ia telah mengenal akan Tuhannya.

Dan hati itu, apabila tidak dikenal oleh manusia, maka manusia itu tidak mengenal akan dirinya.

Dan apabila manusia itu tidak mengenal dirinya, maka ia tidak mengenal akan Tuhannya. Dan barangsiapa tidak mengenal hatinya, maka ia lebih tidak mengenal lagi akan lainnya.

Karena kebanyakan manusia itu, tidak mengetahui hatinya dan dirinya. Dan telah terdinding di antara mereka dan diri mereka. Sesungguhnya Allah Ta’ala mendindingkan diantara manusia dan hatinya. Pendindingan itu, dengan mencegahnya daripada bermusyahadah/bersaksi, bermuraqabah (memperhatikan, mengintip, menjaga) mengenal sifat-sifatNya dan cara berbalik-baliknya diantara dua anak jari dari anak-anak jari Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan bagaimana ia sekali turun ke tingkat yang paling bawah dan merendah sejajar dengan setan-setan.

Dan bagaimana pada kali yang lain, ia meninggi ke tingkat yang paling tinggi, naik ke alam malakut yang dekat dengan Tuhan.

Orang yang tiada mengenal hatinya untuk bermuraqabah (menjaga dan mengintip) apa yang tampak dari dan dalam gudang alam malakut, maka orang tersebut termasuk dalam golongan orang yang difirmankan oleh Ta’ala:
“Mereka yang lupa kepada Allah, lalu Allah melupakan mereka kepada dirinya sendiri. Itulah orang-orang yang fasiq”. S 59 Al Hasyr ayat 19.

Maka mengenal hati dan hakikat/makna sifat-sifatnya itu pokok agama dan sendi jalan orang-orang salik (orang-orang yang berjalan kepada Allah).

Ketika kita telah selesai dari bahagian pertama dari Kitab ini, yaitu: dari memperhatikan ibadah-ibadah dan adat kebiasaan yang berlaku pada anggota badan dan itu adalah Ilmu Zahir dan kita menjanjikan akan menguraikan pada bahagian kedua: sifat-sifat yang membinasakan (al-muhlikat) dan yang melepaskan (al-munjiyat) yang berlaku pada hati  dan itu adalah Ilmu batin, maka tak boleh tidak, bahwa kita dahulukan padanya: dua kitab lebih dahulu: Kitab tentang uraian keajaiban sifat-sifat dan tingkah laku hati dan: Kitab tentang cara latihan hati dan pendidikan tingkah lakunya.

Kemudian, sesudah itu, kita bertolak, pada menguraikan: sifat-sifat yang membinasakan dan yang melepaskan. Sekarang marilah kita sebutkan uraian keajaiban hati, dengan jalan membuat contoh-contoh, yang mendekatkan kepada pengertian. Karena penegasan segala keajaiban dan rahasia hati, yang masuk dalam jumlah alam-malakut, adalah diantara yang menumpulkan kebanyakan paham daripada mengetahuinya.