Catatan Popular

Isnin, 29 November 2021

KITAB ASH SHIDQ BAGIAN LAPAN : ZUHUD – FASAL 1

SYEIKH ABU SAID AL KHARRAZ (si tukang melubangi sepatu)

Allah s.w.t. telah menghinakan dunia, dan bahkan menamainya dengan pelbagai sebutan yang belum pernah diberikan kepada manusia. Hal ini sebagaimana yang disebutkan Allah s.w.t. dalam firman-Nya beriku ini:

اعْلَمُوْا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَ لَهْوٌ وَ زِينَةٌ وَ تَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَ تَكَاثُرٌ فِي الأَمْوَالِ وَ الأَوْلاَدِ

“Ketahuilah oleh kalian! Bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda-gurau, hiasan, dan bermegah-megahan di antara sesama, dan juga arena berlomba mengumpulkan harta kekayaan dan anak-anak….” (al-Ḥadīd 57: 20).

Dengan demikian, bukankah orang yang mempunyai pemikiran yang sehat semestinya harus merasa malu di hadapan Allah s.w.t., manakala Dia melihat dirinya sedang bersuka-cita dalam permainan dunia yang penuh tipu daya? Oleh karena itu, orang yang hatinya telah dipenuhi oleh cahaya kebijakan akan mampu menyimpulkan bahwa dunia adalah hawa nafsu dengan segala hasratnya. Kesimpulan ini dikuatkan pula dengan adanya bukti dari firman Allah s.w.t. berikut ini:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَ الْبَنِينَ وَ الْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَ الْفِضَّةِ وَ الْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَ الأَنْعَامِ وَ الْحَرْثِ ذلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Allah s.w.t. menjadikan manusia itu berkeinginan: cinta syahwat terhadap wanita, anak-pinak, kekayaan yang melimpah ruah dari emas-emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Semuanya adalah sekelumit kesenangan hidup di dunia.” (Āli ‘Imrān 3: 14)

Segala yang disebutkan dalam firman Allah s.w.t. di atas merupakan perkara-perkara yang ingin dicicipi dan dinikmati oleh hawa nafsu, sehingga ia akan lalai dari mengingat Akhirat dan ancamannya. Namun sebaliknya, apabila ada seorang hamba yang dapat menjauhi apa-apa yang diinginkan oleh hawa nafsu, niscaya ia pun akan mampu meninggalkan dunia.

Selain itu, terkadang ada pula seorang hamba fakir, yang tidak mempunyai apa-apa, senantiasa berharap akan memperoleh kemewahan dunia dan sangat ingin menikmatinya. Bahkan, kerap kali mengatakan, kalau bisa memperoleh apa-apa yang dicita-citakannya tersebut, niscaya ia akan memuaskan hawa nafsunya. Oleh karena itu, orang yang semacam ini bisa pula dikatakan sebagai orang yang mencintai dunia juga, meski ia akan menerima perhitungan (ḥisāb) yang lebih ringan dibandingkan dengan orang-orang yang sudah memperoleh kemewahan dunia dan meni‘mati kelezatannya.

Tingkatan Zuhud

Zuhud mempunyai beberapa tingkatan. Tingkatan pertama dan yang paling utama adalah zuhud dari memperturutkan keinginan hawa nafsu. Jika seorang hamba telah bisa menundukkan hawa nafsunya, niscaya ia tidak akan merasa keberatan dalam melaksanakan (‘ibādah) di kala siang mau pun malam. Dan jika jiwanya telah benar-benar mencintai Allah s.w.t., maka ia tidak akan merasa kesulitan untuk melawan dan mengekang kemauan hawa nafsunya. Baik dari mencari keinginan hawa nafsu, keni‘matan hidup, atau pun bergaul dengan teman-temannya yang lalai dan yang tenggelam dalam lautan kehendak hawa nafsu. (161)

Sebab ia menyadari bahwa malapetaka terbesar bagi seorang hamba adalah bersahabat dengan orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya. Oleh karena itu, seyogianya ia hanya mengambil yang secukupnya saja dari persoalan makanan, minuman, pakaian, rumah tangga, tidur, bicara, mendengar, meninggalkan angan-angan, serta menjauhkan diri dari keindahan dunia. Sebab hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muḥammad s.a.w.:

الدُّنْيَا خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ

“Dunia itu serba enak dan sangat memikat.”

Mengacu pada keterangan hadis di atas, seorang hamba semestinya selalu ingat bahwa dunia akan lenyap dan binasa. Karena itu, cita-cita dan harapannya akan kemewahan dunia adalah kecil. Dan bahkan sebaliknya, ia senantiasa mengingat kematian, dan bahwa kematian itu akan datang menjemputnya, sehingga ia senantiasa menyiapkan diri untuk kebahagiaan Akhirat dan menanti penuh harapan akan waktu kepindahannya ke Akhirat, negerinya yang abadi. Jika sudah mengingat semua ini, niscaya ia akan terus-menerus ber‘ibādah dengan bersungguh-sungguh. Oleh karena itu, ia harus menjauhi keinginan bersenang-senang dan selalu memikirkan persediaan untuk kehidupan di Akhirat serta bersungguh-sungguh dalam ber‘ibādah. Dan inilah yang disebut sebagai zuhud tingkat pertama.

Makna Zuhud

Sufyān ats-Tsaurī, Waqī‘ Ibn al-Jarrāḥ, dan Aḥmad Ibn Ḥanbal r.a. telah berkata, bahwa ma‘na zuhud yang sejati adalah tidak berpanjang angan-angan (thūl-ul-āmāl). Ujaran tersebut sesuai dengan yang dikatakan para waskita, bahwa barang siapa yang pendek angan dan cita-cita, niscaya tidak akan mampu merasakan keni‘matan hidup di dunia. Sebab, ia akan senantiasa sadar, dan tidak akan pernah lalai apalagi alpa. Dan menurut sebagian ‘ulamā’ yang lain, orang yang berzuhud dari masalah dunia berarti mencintai Akhirat, sebab ia telah melihat Akhirat dengan segala kondisinya seolah-olah berada di hadapannya. Ia seolah-olah telah dapat melihat siksa dan pahala, dan karena itu ia menjauhi dunia.

Suatu kali pernah diriwayatkan bahwasanya Rasūlullāh s.a.w. pernah bertanya kepada Ḥāritsah: “Bagaimana kondisimu hari ini, wahai Ḥāritsah?” Sebagai seorang Mu’min, wahai Rasūl,” jawab Ḥāritsah. “Apa hakikat imanmu?” tanya Rasūl lebih lanjut. Ḥāritsah menjawab: “Saya telah menjauhi dunia. Buktinya, saya berpuasa di siang hari dan berjaga di malamnya. Sekarang, saya seolah-olah bisa melihat Singgasana Allah dengan jelas; bisa melihat penghuni Surga yang sedang bersenang-senang; dan melihat penghuni Neraka yang menjerit meminta pertolongan.” Mendengar jawaban Ḥāritsah, maka Nabi pun bersabda: “Jawabanmu benar, seorang Mu’min adalah orang yang hatinya telah diberi cahaya oleh Allah. Karena itu, teruskanlah ‘amal perbuatanmu itu.”

Sebagian ‘ulamā’ berkata: “Hakikat zuhud adalah menyingkirkan semua keni‘matan dunia dan qalbu.” Dengan demikian, zuhud dari masalah dunia sangatlah rumit dan tidak bisa dianggap ringan. Karena itu, kezuhudan seorang hamba bergantung pada kadar pengenalan dan pengetahuannya akan Allah s.w.t., sehingga barang siapa yang menjauhkan hatinya dari keni‘matan dunia, ia pun bisa dikatakan sebagai orang yang telah mengenal zuhud. Dan sebaliknya, barang siapa yang mengikuti hawa nafsunya dan tidak mampu menahan segala kemauannya, maka ia belum bisa dikatakan telah menjauhi dunia dan mencintai Akhirat. Sementara itu, menurut sebagian ‘ulamā’ yang lain, seorang zāhid sejati adalah orang yang tidak pernah mencela dunia dan tidak pula memujinya. Bila dunia datang, ia tidak bergembira, dan bila dunia pergi, ia tidak merasa berduka cita. (172)

Dan menurut para wali – semoga Allah senantiasa mengasihi mereka semua, sebagaimana yang dikutip oleh Abū Sa‘īd, seorang manusia tidak bisa dikatakan sebagai seorang zāhid yang sempurna, manakala ia belum bisa memandang batu dan emas sebagai barang yang sama-sama tidak berharga baginya. Karena batu dan emas tidak akan bisa dianggap sama tidak bernilainya, sebelum ia memperoleh suatu “anugerah” dari Allah s.w.t., yang dengan “anugerah” tersebut ia bisa menjadikan batu menjadi emas. Dan apabila seorang hamba telah mencapai tingkat ini, maka dengan sendirinya kenikmatan dunia akan tersingkir dari lubuk hatinya. Dan konon, setelah wafatnya Rasūlullāh s.a.w. belum ada seorang sahabat pun yang bisa sampai pada derajat zuhud ini, kecuali Abū Bakar ash-Shiddīq r.a.

T: “Untuk tujuan apa seorang hamba harus berzuhud dari urusan dunia?”

J: “Ada banyak tujuan yang bisa ditempuh oleh seorang hamba,” jawab beliau: “Di antaranya adalah untuk mengosongkan hati dari segala usaha dan kerja dunia, dan mengisinya dengan keinginan untuk selalu menaati Allah s.w.t., mengingat-Nya serta beramal semata karena-Nya, sehingga Allah s.w.t. akan mencukupi segala kebutuhan hidupnya dengan tidak perlu bersusah-payah.” Hal ini, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi s.a.w.:

مَنْ جَعَلَ الْهَمَّ هَمًّا وَاحِدًا كَفَاهُ اللهُ سَائِرَ هُمُوْمِهِ

“Barang siapa yang menjadikan tujuannya hanya kepada Allah semata, niscaya Allah akan memenuhi segala kebutuhan yang lainnya.”

Dan pernah juga disebutkan bahwa Nabi ‘Īsā a.s. pernah berwasiat kepada para sahabatnya: “Aku pesankan kepada kalian semua untuk berlaku ikhlas dan jangan mencintai dunia. Sebab cinta dunia adalah induk dari segala dosa. Dan ingatlah! Dalam harta dunia itu terdapat banyak penyakit” Mendengar hal itu, maka para sahabatnya bertanya: “Wahai utusan Allah! Adakah obat penawarnya?” Nabi ‘Īsā menjawab: “Jangan turuti kehendaknya.” “Jika kami mengikutinya?” ucap mereka kembali bertanya: “Nanti akan timbul perasaan bangga dan sombong akan keni‘matan dunia.” Jawab Nabi ‘Īsā a.s. “Jika tidak sampai timbul rasa bangga dan kesombongan?” ujar mereka lagi. “Kelak ia akan menjauhkan kalian dari laku berdzikir kepada Allah s.w.t.” jawab Nabi ‘Īsā a.s.

Di samping itu, ada juga orang yang berzuhud bertujuan untuk meringankan tanggung jawabnya di Akhirat dan dapat meniti jembatan (ash-Shirāth) dengan segera, di kala orang-orang yang lainnya dikumpulkan untuk diperiksa dan diteliti tentang pelbagai harta kekayaannya.

Karena itu, pernah diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwasanya Nabi Muḥammad s.a.w. telah bersabda: “Di Padang Maḥsyar aku melihat para sahabatku sedang diperiksa, namun tidak tampak keberadaan ‘Abd-ur-Raḥmān Ibn ‘Auf bersama mereka. Dan ketika kemudian ia tiba, aku bertanya: “Apa yang menyebabkanmu tertahan? “Saya dihisab sesuai dengan kadar banyaknya harta milik saya, sampai-sampai saya bermandikan peluh. Dan jika seandainya air peluh tersebut diminum oleh tujuh ekor unta yang kehausan setelah memakan rumput yang pahit, niscaya akan tetap masih meninggalkan sisa.” Jawab ‘Abd-ur-Raḥmān Ibn ‘Auf.

Dari sumber lain, dikatakan bahwasanya Rasūlullāh s.a.w. telah bersabda: “Orang yang memiliki banyak harta di dunia, di Hari Kiamat akan menjadi orang yang paling sedikit memilikinya, kecuali yang menafkahkan hartanya dengan tanpa pandang bulu dan penuh keikhlasan kepada hamba-hamba Allah.” (183) Selain itu, ada juga sabda Nabi s.a.w. yang lainnya:

مَا مِنْ غَنِيٍّ وَ لاَ فَقِيْرٍ إِلاَّ وَدَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَّ اللهَ تَعَالَى كَانَ جَعَلَ رِزْقَهُ فِي الدُّنْيَا قُوْتًا

“Di Hari Kiamat, baik orang kaya mau pun yang miskin akan sangat berharap bahwasanya Allah s.w.t. akan memberikan rizki-Nya kepada mereka, meski hanya sekadar makanan pokok di dunia saja.” (194)

Di samping itu, dalam riwayat lain dari Abū Dzarr al-Ghiffārī r.a. dikatakan bahwasanya Rasūlullāh s.a.w. telah bersabda:

مَا يَسُرُّنِيْ أَنَّ لِيْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا أُنْفِقُهُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ تَعَالَى تَأْتِيْ عَلَيَّ ثَالِثَةٌ يَكُوْنُ مِنْهُ عِنْدِيْ شَيْءٌ إِلاَّ دِيْنَارٌ أَرْصُدُهُ لِدَيْنٍ

“Aku tidak akan merasa bergembira meski seandainya memiliki emas sebesar Gunung Uhud yang kubelanjakan di jalan Allah, dan ternyata pada hari ketiganya masih ada yang tersisa, kecuali satu dinar saja untuk dipakai membayar hutangku.” 

KITAB ASH SHIDQ BAGIAN TUJUH : MENCARI YANG HALAL - FASAL 3

SYEIKH ABU SAID AL KHARRAZ (si tukang melubangi sepatu)

Cukup banyak orang-orang yang berperilaku seperti itu, di mana mereka adalah orang-orang yang mempunyai pikiran yang jernih dan cukup mempunyai pengetahuan yang memadai tentang contoh-contoh tauladan di masa lalu. Misalnya, kala Nabi Muḥammad s.a.w. menganjurkan para sahabatnya untuk bersedekah, maka Abū Bakar menyambut anjuran tersebut dengan membawa semua harta kekayaannya untuk disedekahkan. Dan ketika ditanya oleh Nabi Muhammad s.a.w.: “Apa yang engkau tinggalkan untuk anak-anakmu kelak?” Beliau menjawab: “Allah dan Rasūl-Nya Mahatahu. Sebab, Allah niscaya akan membalasku dengan berlipat ganda.”

Dengan demikian, bukankah Abū Bakar r.a. telah mementingkan Akhirat daripada dunia, sebab betapa kuat hatinya menjunjung perintah Allah s.w.t. dan batinnya selalu tertuju kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya. Oleh karena itu, segala harta dunia tidak berharga baginya, karena balasan yang dijanjikan Allah s.w.t. jauh lebih berharga. Sehingga, kala beliau melihat kebesaran-Nya, maka tidak ada sedikit pun harta yang ditinggalkan, semuanya disedekahkan, seraya berujar: “Aku serahkan nasibku kepada Allah dan Rasūl-Nya.”

Sesudah itu, datang ‘Umar Ibn al-Khaththāb r.a. yang membawa setengah harta kekayaannya. Ketika ditanya oleh Nabi s.a.w.: “Apa yang engkau tinggalkan untuk anak-anakmu?” Beliau menjawab: “Separuh dari hartaku, dan Allah akan menambahkannya lagi.” Kemudian datang pula ‘Utsmān Ibn ‘Affān r.a. yang membiayai seluruh amunasi militer bagi para tentara miskin (jaysy al-usrah), di samping juga mendanai penggalian sungai yang disebut “Bi‘r al-Bayt”.

Dari contoh-contoh di atas dapat disimpulkan bahwa para sahabat telah menjadikan harta dan kekayaan mereka untuk disedekahkan di jalan Allah s.w.t., dan mereka tidak pernah sedikit pun terpengaruh oleh harta yang mereka miliki. Dan sebaliknya, mereka justru menjadikannya sebagai sarana untuk memperoleh rida Allah s.w.t.

Di samping itu, pernah juga diriwayatkan bahwasanya Rasūlullāh s.a.w. telah bersabda: “Segala yang kami, para nabi miliki tidak bisa diwariskan. Semuanya harus disedekahkan bagi kaum Muslimin.” Oleh sebab itu, tidak pernah diceritakan adanya seorang nabi yang menahan harta miliknya untuk dibelanjakan di jalan Allah s.w.t., bahkan semua harta peninggalan mereka tidak diwarisi keluarganya, namun disedekahkan di jalan Allah s.w.t. Mereka tidak pernah menyalahgunakan harta titipan Allah tersebut, dan tidak mewariskannya setelah mereka meninggal, namun dibaktikan semata kepada Allah, layaknya hidup mereka sendiri. Ini semua akan menjadi pegangan bagi orang-orang yang berpikiran sehat agar selalu menjunjung perintah Allah s.w.t.

Oleh karena itu, marilah kita ikuti akhlāq agung para sahabat nabi. Abū Bakar r.a., misalnya, adalah salah satu pilar utama Islam sesudah wafatnya Nabi Muḥammad s.a.w., menjadi anutan dan tauladan serta memegang kekuasaan pemerintahan. Bahkan, kala itu, dunia dengan segala kemewahannya datang menghinakan diri di hadapannya, namun beliau tidak pernah sekali pun menyombongkan diri dan bersikap takabbur. Justru dalam kesehariannya beliau hanya mengenakan pakaian yang banyak tambalan, sehingga digelari “Bapak orang berbaju robek.”

Kemudian, hayati pula akhlāq ‘Umar Ibn al-Khaththāb r.a. yang menggantikan Abū Bakar r.a. Beliau dikelilingi kemewahan dunia dari seluruh pelosok negeri, namun makanan beliau tetap saja roti kering dan minyak biasa, dan pada pakaian yang dikenakannya pun terdapat seribu tampalan dan setengahnya terbuat dari kain kasar, pada hal kala ini, negara-negara Romawi dan Persia telah ditaklukkan oleh pemerintahan Islam berikut harta kekayaannya.

Setelah itu, pemerintahan Islam berada dalam kepemimpinan ‘Utsmān Ibn ‘Affān r.a. Saat itu, keadaan beliau tidak jauh berbeda dengan dua orang pendahulunya, baik pakaian maupun sikapnya. Pernah diriwayatkan bahwa pada suatu hari beliau keluar dari kebunnya sambil memikul seikat kayu kering. Melihat hal itu, masyarakat bertanya: “Mengapa sampai sedemikian rupa menyiksa diri?” Beliau menjawab: “Aku ingin menguji diri, apakah sanggup menanggung kesulitan hidup.” Karena itu, renungkanlah sikap beliau tersebut yang tidak pernah lupa mendidik jiwa serta memaksanya dengan pekerjaan yang berat.

Di samping itu, renungkan pula akhlāq ‘Alī Ibn Abī Thālib r.a. yang menggantikan ‘Utsmān r.a. Diceritakan, beliau pernah membeli sehelai kain seharga empat dirham dan membeli baju seharga lima dirham. Setelah dicoba, ternyata lengan bajunya kepanjangan. Karena itu, beliau segera pergi ke tukang jahit dan meminjam gunting untuk memotong bagian bajunya yang kepanjangan dengan tangannya sendiri, pada hal kala itu segala kemewahan dunia berada dalam kekuasaannya.

Selain itu, perhatikan pula akhlak Zubair r.a., di mana ketika wafat, beliau meninggalkan hutang lebih dari dua ratus ribu dirham. Semua uang hasil pinjamannya tersebut disedekahkan dan diberikan kepada orang-orang yang memerlukannya. Perhatikan pula pribadi Talḥah Ibn ‘Ubaidillāh r.a., yang memberikan barang kesayangan istrinya kepada seorang pengemis.

Semua riwayat di atas menunjukkan bahwa para sahabat adalah orang-orang yang telah menepati perintah Allah s.w.t. yang terkandung dalam firman-Nya:

وَ أَنْفِقُوْا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُّسْتَخْلَفِيْنَ فِيْهِ

“Dan infaqkanlah sebagian harta yang telah Allah kuasakan kepadamu.” (al-Ḥadīd 57: 7).

Namun yang sungguh mengherankan adalah situasi yang terjadi pada zaman sekarang ini. Sebab banyak hamba-hamba Allah yang memiliki harta yang berlimpah berasal dan diperoleh dengan cara syubhat, pada hal mereka menyadari bahwa Allah s.w.t. mengetahui bagaimana harta tersebut mereka peroleh, dari mana asalnya, seberapa jauh hati mereka tertambat padanya, dan seberapa besar prioritas kepentingan yang mereka berikan padanya daripada kepada Allah s.w.t., serta lain-lain sebagainya. Semuanya ada dalam benak mereka dan dalam segala tingkah laku perbuatannya. (151)

Bahkan ada pula di antara mereka yang mengaku memiliki sifat-sifat yang mulia, seperti yang dipunyai oleh orang-orang terdahulu yang shāliḥ (as-Salaf-ush-Shāliḥ). Ia lalu berdalih dengan berbagai argumentasi untuk membenarkan kehendak nafsunya, meski pun sebenarnya menyalahi tradisi orang-orang terdahulu. Pada hal jika seorang hamba mengakui kelalaiannya terhadap Allah s.w.t., niscaya ia akan lebih selamat dari murka-Nya, dibandingkan dengan memohon kepada Allah s.w.t. untuk menonjolkan dirinya, sebagaimana yang sudah dilakukan Allah kepada orang-orang terdahulu. Dan hanya kepada Allah s.w.t. semata kita memohon taufīq dan petunjuk.

KITAB ASH SHIDQ BAGIAN TUJUH : MENCARI YANG HALAL - FASAL 2

SYEIKH ABU SAID AL KHARRAZ (si tukang melubangi sepatu)

Sebaliknya, bencana dan kesempitan yang ditimpakan oleh Allah s.w.t. kepada hamba-hambaNya adalah ujian, supaya si hamba mampu menanggungnya dengan penuh kesabaran, dan menunaikan segala yang diwajibkan oleh Allah atas dirinya. Dan dalam hal ini, sebagian ahli ḥikmah berkata: “‘Ilmu pengetahuan akan membawa bencana, kecuali bagi orang ber‘ilmu yang beramal dengan ‘ilmunya.” Hal ini sesuai dengan beberapa firman Allah s.w.t. berikut ini:

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَ الْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ

“Dia (Allah) yang menjadikan mati dan hidup untuk mengujimu.” (al-Mulk 67: 2)

وَ لَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِيْنَ مِنْكُمْ وَ الصَّابِرِيْنَ وَ نَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

“Dan sungguh Kami akan menguji kalian, sehingga Kami mengetahui siapa di antara kalian yang benar-benar berjuang dan bersabar, dan Kami akan menguji berita-berita kalian.” (Muḥammad 47: 31).

Tambahan Karunia adalah Ujian

Para nabi dan orang-orang shāliḥ sesudah mereka, telah diberitahu oleh Allah s.w.t. bahwa mereka sedang diuji dengan berbagai pemberian keni‘matan dan karunia dunia. Dengan demikian, mereka patuh dan tunduk kepada petunjuk Allah s.w.t. Mereka tidak pernah sedetik pun terpengaruh oleh hiasan dunia, dan justru sering merasa ragu dan bersedih atas semua pemberian Allah s.w.t. tersebut. Oleh karena itu, mereka senantiasa melaksanakan semua hak Allah s.w.t., dan tidak pernah melalaikan, menyalahgunakan, ataupun meletakkannya pada tempat yang tidak tepat yang bisa menimbulkan pemahaman yang salah. Selain itu, mereka pun tidak pernah menikmati kelezatan harta yang mereka miliki, mencintainya, atau pun menyombongkan diri sendiri lebih dari hamba-hamba Allah yang lain.

Hal ini dicontohkan Nabi Sulaimān a.s. yang telah diberikan Allah karunia kerajaan yang besar dan kenikmatan yang tidak ada taranya, seperti yang telah disebutkan dalam al-Qur’ān:

هذَا عَطَاؤُنَا فَامْنُنْ أَوْ أَمْسِكْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Inilah anugerah dari Kami! Boleh engkau berikan atau engkau tahan dengan tiada perhitungan.” (Shād 38: 39)

Menurut para ahli tafsir, yang maksud dengan “tiada perhitungan” adalah tidak ada pertanggungjawaban atasmu di Hari Akhirat, karena pemberian tersebut kecil di mata Allah s.w.t. sebagai bentuk penghormatan atas kedudukan Nabi Sulaimān a.s. Sebab, menurut para ‘ulamā’, setiap harinya Nabi Sulaimān a.s. menerima tamu dan selalu memberinya makan dengan tepung halus yang sudah diayak, dan beliau memberi makan putra-putranya sendiri tepung kasar yang belum diayak, sedangkan bagi dirinya sendiri, beliau hanya makan gandum yang belum ditumbuk.

Di samping ini, para ‘ulamā’ pun meriwayatkan pula, bahwa Nabi Ibrāhīm a.s. belum akan menyantap makanan, kecuali bersama-sama dengan para tamu. Beliau pernah tiga hari berturut-turut tidak makan, beliau berjalan sampai sejauh satu farsakh untuk menyambut datangnya seorang tamu.

Demikian pula Nabi Ayyūb a.s. tidak pernah mendengar orang bersumpah dengan menyebut nama Allah, melainkan beliau pulang ke rumah lalu mengeluarkan denda atas sumpah tersebut. (131) Selain itu, para ‘ulamā’ juga meriwayatkan bahwa Nabi Yūsuf a.s., bendaharawan negeri Mesir, tidak pernah mengenal kenyang semasa hidupnya. Dan jika ditanya alasannya, jawaban beliau adalah karena takut jika dirinya kenyang, akan melupakan orang-orang yang lapar.

Pada satu hari, menurut suatu riwayat, Nabi Sulaimān a.s. sedang diterbangkan angin dan diteduhi burung-burung dari panas sinar matahari dengan disertai oleh jin dan manusia. Kala itu, Nabi Sulaimān mengenakan pakaian serba baru yang menyelubungi badannya, dan beliau senang merasakan kehalusannya. Namun secara tiba-tiba, angin yang membawanya terbang berhenti dan menurunkannya ke bumi. Menyadari hal itu, Nabi Sulaimān marah dan segera bertanya pada angin: “Mengapa kamu menurunkanku?” Angin menjawab: “Saya diperintah untuk berkhidmat kepada anda selagi tuanku menaati Allah.” Mendengar jawaban angin, Nabi Sulaimān langsung merenungkan segala perbuatannya, hingga akhirnya beliau mengerti bahwa penyebab itu semua adalah pakaian barunya. Setelah itu, beliau bertaubat, dan angin pun lantas mengangkatnya kembali. Dan pernah juga diriwayatkan bahwa angin kerap sekali menurunkan Nabi Sulaimān ke bumi dalam setiap harinya, karena “kesalahan kecil” seperti telah disebutkan atau karena yang lain-lainnya.

Para nabi yang telah disebutkan di atas senantiasa menghindarkan diri dari meni‘mati segala kelezatan yang mereka miliki atas pemberian dan karunia Allah s.w.t. Mereka lebih suka menikmati dzikir kepada Allah dan beribadah kepada-Nya. Mereka tidak pernah terpikat dengan kekayaan yang mereka miliki, dan tidak pernah berduka atas kekayaan yang lenyap dari tangannya. Mereka tidak pernah merasa gembira dengan apa yang mereka miliki, sehingga tidak perlu berpikir panjang ketika hendak diberikan kepada orang lain. Mereka adalah sebagaimana yang dikatakan Allah s.w.t. dalam firman-Nya:

أُولئِكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah s.w.t dan terhadap petunjuk tersebut ikutlah!” (al-An‘ām 6: 90)

Sementara itu, Nabi Muḥammad s.a.w. sendiri pernah ditawari dengan segala kenikmatan dunia. Kala itu, malaikat Jibril a.s. sedang bersama Rasūlullāh s.a.w. Tiba-tiba parasnya berubah, karena datangnya seorang malaikat yang tidak akan pernah turun dari langit jika tidak membawa suatu tugas yang sangat penting. “Aku khawatir jangan-jangan malaikat itu membawa suatu tugas untukku.” kata Jibril. Namun kenyataannya, si malaikat tersebut terus berjalan menuju Rasūlullāh s.a.w. seraya menghaturkan salam dari Allah s.w.t. kepada beliau. Setelah sampai, malaikat itu berkata: “Saya membawa kunci-kunci perbendaharaan bumi untuk anda. Ambillah, jika anda berkehendak, niscaya semua yang anda kehendaki di atas bumi ini akan menjadi emas dan perak. Ia akan abadi bersamamu hingga Hari Kiamat, tanpa ada yang berkurang, sedikit pun dari segala sesuatu yang engkau miliki di sisi Allah s.w.t.” Mengetahui hal tersebut, Nabi Muḥammad s.a.w. tetap tidak memilih dunia yang ditawarkan Allah s.w.t. Beliau malah bersabda: “Biarlah saya terkadang lapar, dan terkadang merasakan kenyang.” (142).

Pada saat itu, Nabi Muḥammad s.a.w. menganggap tawaran Allah s.w.t. tersebut adalah semata-mata ujian, dan bukan sebagai pilihan. Sebab, andaikata beliau menganggapnya sebagai pilihan, niscaya beliau akan menerimanya. Lebih dari itu, beliau pun tahu bahwa kecintaan Allah s.w.t. akan diberikan kepada orang-orang yang meninggalkan dan menghindari keindahan dan kelezatan dunia. Dengan budi pekerti yang luhur inilah, Allah s.w.t. mendidik Nabi Muḥammad s.a.w. sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:

وَ لاَ تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ

“Dan janganlah engkau tergiur pandang oleh kesenangan yang Kami berikan kepada beberapa keluarga di antara mereka sebagai bunga kehidupan duniawi. Kami hendak menguji mereka dengan kesenangan itu.” (Thāhā 20: 131)

Di samping itu, pernah diriwayatkan bahwa pada suatu saat beliau mengenakan pakaian baru yang bermotif bagus, namun dengan tiba-tiba beliau menanggalkannya seraya berkata: “Motif pakaian ini hampir memikat hatiku. Kembalikan baju ini pada si pemberi dan tolong ganti dengan pakaian biasa saja.” Dalam riwayat lain, diceritakan bahwa beliau mempunyai sebuah cincin emas yang biasa dipergunakan untuk menciap surat-surat yang dikirimkan kepada siapa saja yang akan diberi peringatan atas perintah dari Allah s.w.t. Kala itu, sesaat beliau mengenakannya, dan sejurus kemudian melepaskannya, seraya berkata: “Ia mempunyai tempat tersendiri dalam hatiku, dan kalian mempunyai tempat tersendiri yang lain.” Selain itu, pernah diriwayatkan pula bahwa pernah tali sepatu lama beliau ditukar dengan yang baru, namun kala itu justru beliau memerintahkan untuk kembali menukarkannya lagi.

Demikian pula setiap orang yang hatinya bersih dan suci dengan fikiran yang senantiasa terfokus kepada Akhirat semata, seraya menyadari betapa banyak ni‘mat yang telah dicurahkan Allah kepadanya, niscaya akan selalu merasa tidak nyaman di kala dirinya terpikat kepada kelezatan dan keindahan dunia.