Catatan Popular

Rabu, 12 Julai 2017

RIYADHUS SHALIHIN Bab 22 Nasihat

KITAB RIYADHUS SHALIHIN (TAMAN ORANG-ORANG SHALIH)

IMAM NAWAWI

Allah Ta'ala berfirman:

"Hanyasanya sekalian orang yang beriman itu adalah sebagai saudara-saudara." (al-Hujurat:10)

Allah Ta'ala berfirman sebagai pemberitahuan tentang keadaan Nuh a.s.:

"Dan saya memberikan nasihat kepadamu semua." (al-A'raf: 62)

Dan tentang Hud a.s. firmanNya:

"Dan saya adalah penasihat untukmu semua yang terpercaya." (al-A'raf: 68)



Adapun Hadis-hadisnya ialah:


182. Pertama: Dari Abu Ruqayyah yaitu Tamin bin Aus ad-Dari r.a. bahwasanya Nabi
s.a.w. bersabda:
"Agama itu adalah merupakan nasihat."
Kita semua bertanya: "Untuk siapa?"
Beliau s.a.w. menjawab: "Bagi Allah, bagi kitabNya, bagi rasulNya, bagi pemimpinpemimpin kaum muslimin serta bagi segenap umumnya ummat Islam." (Riwayat Muslim)

Keterangan:
Sendi pokok dan tiang utama dalam Agama Islam adalah nasihat. Kata "nasihat" itu meliputi seluruh makna dan pengertian yang tujuannya adalah untuk mendapatkan kebahagiaan bagi orang yang dinasihati.
Dalam Hadis di atas dijelaskan intisari dan pengertian nasihat itu, yakni:
Bagi Allah yakni dengan iman pada Allah dan tampaknya tanda-tanda kemuliaan Allah, bagi kitab Allah yakni dengan mengenang-ngenangkan arti-artinya serta mengamalkan, apa saja yang tercantum di dalamnya. Bila ini sudah diamalkan, maka orang
itu telah dinasihati oleh jiwanya sendiri.
Bagi Rasul Allah yakni dengan mengikuti segala perintah-perintahnya serta tunduk dan menjauhi larangan-larangannya. Bagi pemimpin-pemimpin Islam yakni dengan meminta nasihat-nasihat dan fatwa-fatwa mereka yang mengenai hukum-hukum agama yang
semuanya itu tentu diambil dari pokok-pokoknya yakni al-Quran dan Hadis, dan bagi segenap ummat Islam yakni memimpin mereka ini pada jalan yang benar serta diridhai Allah,juga menunjukkan kepada mereka ini mana-mana yang baik (benar) dan mana-mana yang jelek (salah).


183. Kedua: Dari jarir bin Abdullah r.a., katanya: "Saya membaiat kepada Rasulullah s.a.w. untuk mendirikan shalat, memberikan zakat dan memberi nasihat kepada setiap orang Islam." (Muttafaq 'alaih)


184. Ketiga: Dari Anas 14 r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Tidak sempurnalah keimanan seseorang itu sehingga ia mencintai kepada saudaranya - sesama musliminnya - perihal apa apa yang ia mencintai untuk dirinya sendiri." (Muttafaq 'alaih)

Keterangan:
Saudara yang dimaksud di sini, kalau menurut uraian Ibnul 'Imaad ialah bukan hanya sesama Islam saja, tetapi umum, sehingga orang kafirpun masuk di dalamnya, yakni harus kita cintai sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri. Cinta kepada saudara yang kafir ialah
dengan menginsafkan dan agar segera masuk Islam supaya selamat dirinya, di dunia dan akhirat. Karena itu disunnahkan mendoakan orang kafir itu agar mendapat petunjuk.

Adapun cinta pada saudara yang muslim ialah dengan terus-menerus ikut mengusahakan agar ia senantiasa tetap dalam keIslamannya.

14 Salah seorang sahabat Nabi s.a.w. yakni Sayidina Anas r.a. itu pernah menjadi khadam Rasulullah s.a.w.
Mula-mulanya ialah, pada suatu ketika ibunya datang pada beliau s.a.w. sewaktu beliau baru datang di Madinah. Ibunya berkata: "Wahai Rasulullah, ambillah dia (Anas) sebagai khadam yang akan melayani Tuan."
Nabi s.a.w. lalu menerimanya. Usia Anas saat itu kira-kira 9 atau 10 tahun. Anas berkata: "Aku melayani Rasulullah s.a.w. selama 9 atau 10 tahun. Selama masa yang sekian itu belum pernah beliau berkata pada saya:"Mengapa engkau kerjakan ini?" atau: "Mengapa tidak engkau lakukan itu?" Tetapi beliau selalu bersabda:

"Allah yang menakdirkan, apa yang dikehendaki olehNya, pasti akan dilakukan dan yang ditakdirkan pasti terjadi!"

RIYADHUS SHALIHIN Bab 21 Tolong-menolong Dalam Kebaikan Dan Ketaqwaan

KITAB RIYADHUS SHALIHIN (TAMAN ORANG-ORANG SHALIH)

IMAM NAWAWI

Allah Ta'ala berfirman:
"Dan tolong-menolong engkau semua atas kebaikan dan ketaqwaan." (al-Maidah: 2)


Allah Ta'ala juga berfirman:
"Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amatan shalih, juga suka sating pesan-memesan dengan kebenaran sertasaling pesan-memesan dengan saling kesabaran." 13 (al-'Ashr: 1-3)
Imam as-Syafi'i rahimahullah mengucapkan suatu uraian yang
maksudnya ialah bahwasanya seluruh manusia atau sebagian besar dari mereka itu terlalai untuk memikir-mikirkan isi kandungan surat ini.


178. Dari Abdur Rahman bin Zaid bin Khalid al-Juhani r.a., katanya: "Nabiullah s.a.w.bersabda:
"Barangsiapa yang memberikan persiapan - bekal - untuk seseorang yang berperang fisabilillah,maka dianggaplah ia sebagai orang yang benar-benar ikut berperang - yakni sama pahalanya dengan orang yang ikut berperang itu. Dan barangsiapa yang meninggalkan kepada keluarga orang yang berperang - fi-sabilillah - berupa suatu kebaikan - apa-apa yang dibutuhkan untuk kehidupan keluarganya itu, maka dranggap pulalah ia sebagai orang yang benar-benar ikut berperang." (Muttafaq 'alaih)


179. Dari Abu Said al-Khudri r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. mengirimkan suatu pasukan sebagai utusan untuk memerangi Bani Lihyan dari suku Hudzail, lalu beliau bersabda: "Hendaklah dari setiap dua orang berangkat salah seorang saja dari keduanya itu -
maksudnya setiap golongan supaya mengirim jumlah separuhnya, sedang separuhnya yang tidak ikut berangkat adalah yang menjamin kehidupan keluarga dari orang yang ikut berangkat berperang itu, dan pahalanya adalah antara keduanya - artinya pahalanya sama antara yang berangkat dengan yang menjamin keluarga yang Derangkat tadi." (Riwayat Muslim)


180. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. bertemu dengan sekelompok orang yang berkendaraan di Rawha' - sebuah tempat di dekat Madinah, lalu beliau bertanya "Siapakah kaum ini?" Mereka menjawab: "Kita kaum Muslimin."
Kemudian mereka bertanya: "Siapakah Tuan?" Beliau menjawab: "Saya Rasulullah."
Kemudian ada seorang wanita yang mengangkat seorang anak kecil di hadapan beliau lalu bertanya: "Adakah anak ini perlu beribadat haji?" Beliau menjawab: "Ya dan untukmu -wanita itu - juga ada pahalanya." (Riwayat Muslim)

13 Saling pesan-memesan dengan kebenaran, yakni tetap dalam ketaatan, keimanan dan keislaman, sedang pesan-memesan dengan kesabaran, yakni sabar untuk melakukan berbakti kepada Tuhan, melaksanakan perintah-perintahNya, juga sabar meninggalkan kemaksiatan, kemungkaran serta menjauhi laranganlaranganNya.


181. Dari Abu Musa al-Asy'ari r.a. dari Nabi s.a.w. bahwasanya beliau s.a.w. bersabda:
"Juru simpan yang Muslim dan dapat dipercaya yang dapat melangsungkan apa yang diperintahkan padanya, kemudian memberikan harta yang disimpannya dengan lengkap  dan cukup, juga memberikannya itu dengan hati yang baik - tidak kesal atau iri hati pada orang yang diberi, selanjutnya menyampaikan harta itu kepada apa yang diperintah padanya, maka dicatatlah ia - juru simpan tersebut - sebagai salah seorang dari dua orang yang bersedekah - juru simpan dan pemiliknya." (Muttafaq 'alaih) Dalam riwayat lain disebutkan:

"Yang memberikan untuk apa saja yang ia diperintahkan." Para ulama lafaz almutashaddiqain dengan fathah qaf serta nun kasrah, karena tatsniyah atau sebaliknya -kasrahnya qaf serta fathahnya nun, karena jamak. Keduanya shahih.

RIYADHUS SHALIHIN Bab 20 Memberikan Petunjuk Kepada Kebaikan Dan Mengajak Ke Arah Hidayat Atau Ke Arah Kesesatan

KITAB RIYADHUS SHALIHIN (TAMAN ORANG-ORANG SHALIH)

IMAM NAWAWI

Allah Ta'ala berfirman:
"Dan berdakwahlah menuju jalan Tuhanmu." (al-Haj 76 atau al-Qashash)

Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Dan berdakwahlah menuju jalan Tuhanmu dengan kebijaksanaan dan nasihat yang baik."(an-Nahl: 125)

Allah Ta'ala juga berfirman:
"Dan tolong-menolonglah engkau semua atas kebajikan dan ketaqwaan." (al-Maidah: 2)

Allah Ta'ala berfirman pula:
"Hendaklah ada di antara engkau semua itu suatu golongan yang berdakwah menujukebaikan." (ali-lmran: 104)


Hadis-hadis sperti berikut:

174. Dari Abu Mas'ud yaitu 'Uqbah bin 'Amral-Anshari al-Badri r.a., katanya:
"Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang memberikan petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah seperti pahala orang yang melakukan kebaikan itu." (Riwayat Muslim)


175. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang mengajak ke arah kebaikan, maka ia memperoleh pahala sebagaimana pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi sedikitpun dan dari pahala-pahala mereka yang mencontohnya itu, sedang barangsiapa yang mengajak
kearah keburukan, maka ia memperoleh dosa sebagaimana dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi sedrkitpun dari dosa-dosa mereka yang mencontohnya itu."
(Riwayat Muslim)


176. Dari Abul Abbas yaitu Sahl bin Sa'ad as-Sa'idi r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda pada hari perang Khaibar: "Niscayalah saya akan memberikan bendera ini esok hari kepada seseorang yang Allah akan memberikan kemenangan di atas kedua tangannya. Ia
mencintai Allah dan RasulNya dan ia juga dicintai Allah dan RasulNya."
Malam harinya orang-orang - para sahabat - sama bercakap-cakap berbisik-bisik,siapa di antara mereka yang akan diberi bendera itu. Setelah pagi hari menjelma, orang orang sama pergi ke tempat Rasulullah s.a.w. semuanya mengharapkan agar supaya
bendera itu diberikan padanya. Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Di manakah Ali bin Abu Thalib?" Kepada beliau dikatakan: "Ya Rasulullah, ia sakit kedua matanya." Beliau bersabda
lagi: "Bawalah ia kemari." Ali didatangkan di hadapan beliau s.a.w. kemudian Rasulullah s.a.w. berludah ke kedua matanya dan mendoakan untuk kesembuhannya, lalu iapun sembuhlah - kedua matanya, seolah-olah tidak pernah sakit sebelumnya. Selanjutnya
beliau s.a.w. memberikan bendera itu padanya. Ali r.a. berkata: "Ya Rasulullah, apakah saya wajib memerangi mereka hingga mereka menjadi seperti kita semua - yakni masuk Islam?"
Beliau s.a.w. menjawab: "Berjalanlah perlahan-lahan - tidak tergesa-gesa, sehingga engkau datang di halaman perkampungan mereka. Kemudian ajaklah mereka itu untuk masuk Islam dan beritahukanlah kepada mereka apa-apa yang wajib atas diri mereka dari
hak-haknya Allah Ta'ala yang perlu dipenuhi. Demi Allah, niscayalah jikalau Allah memberikan petunjuk dengan sebab usahamu akan seseorang - satu orang saja, maka hal itu lebih baik bagimu daripada memiliki unta-unta yang merah-merah - kiasan harta yang amat
dicintai oleh bangsa Arab." (Muttafaq 'alaih)


177. Dari Anas r.a. bahwasanya seorang pemuda dari suku Aslam berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya saya ini ingin mengikuti peperangan, tetapi saya tidak mempunyai sesuatu yang saya gunakan sebagai persiapan - bekal." Beliau s.a.w. lalu
bersabda: "Datanglah pada si Fulan itu, sebab ia telah bersiap-siap - dengan bekalnya – tetapi kemudian sakit." Pemuda itu mendatangi orang tersebut dan berkata: "Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. mengucapkan salam padamu," dan pemuda itu berkata lagi: "Berikanlah kepada saya bekal-bekal yang telah Tuan siapkan." Orang tersebut lalu berkata- kepada isterinya: "Hai Fulanah,berikanlah pada orang ini apa-apa yang telah saya siapkan untuk bekal - dalam perang. Janganlah bekal itu engkau tahan sedikitpun,demi Allah, janganlah bekal itu engkau tahan sedikitpun, supaya engkau memperoleh berkah dalam bekal - yang

diberikan tadi." (Riwayat Muslim)

RIYADHUS SHALIHIN Bab19 Orang Yang Memulai Membuat Sunnah Yang Baik Atau Buruk

KITAB RIYADHUS SHALIHIN (TAMAN ORANG-ORANG SHALIH)

IMAM NAWAWI

Allah Ta'ala berfirman:

"Orang-orang yang beriman itu berkata: "Ya Tuhan kita, karuniakanlah kepada kita, isteriisteridan keturunan kita menjadi cahaya mata - menggembirakan hati - danjadikanlah kita pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa." (al-Furqan: 74)


Allah Ta'ala berfirman pula:

"Kami menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk – ummat manusia - dengan perintah Kami." (al-Anbiya': 73)


Hadis-hadis ialah

172. Dari Abu 'Amr yaitu Jarir bin Abdullah r.a., katanya: "Kita pernah berada di sisi Rasulullah s.a.w. pada tengah siang hari. Kemudian datanglah kepada beliau itu suatu kaum yang telanjang, mengenakan pakaian bulu harimau - bergaris-garis lurik-lurik-atau
mengenakan baju kurung, sambil menyandang pedang, umumnya mereka itu dari suku Mudhar, atau memang semuanya dari Mudhar, maka berubahlah wajah Rasulullah s.a.w.karena melihat mereka yang dalam keadaan miskin itu. Kemudian beliau masuk - rumahnya,
lalu keluar lagi, terus menyuruh Bilal untuk berazan. Selanjutnya Bilal berazan dan beriqamat lalu bersembahyang, kemudian beliau berkhutbah. Beliau s.a.w. mengucapkan ayat – yang artinya: "Hai sekalian manusia, bertaqwalah engkau semua kepada Tuhanmu yang
menjadikan engkau semua dari satu diri - Adam," sampai ke akhir ayat yaitu - yang artinya:
"Sesungguhnya Allah itu Maha Penjaga bagimu semua." (an-Nisa': 1).

Beliau membacakanpula ayat yang dalam surat al-Hasyr - yang artinya: "Hai sekalian orang-orang yang beriman,bertaqwalah engkau semua kepada Allah dan hendaklah seseorang itu memeriksa apa yang akan dikirimkannya untuk hari esoknya."

Disaat itu ada orang yang bersedekah dengan dinarnya, dengan dirhamnya, dengan bajunya, dengan sha' gandumnya, juga dengan sha' kurmanya, sampai-sampai beliau bersabda: "Sekalipun hanya dengan potongan kurma - juga baik." Selanjutnya ada pula orang
dari kaum Anshar yang datang dengan suatu wadah yang tapak tangannya hampir-hampir tidak kuasa mengangkatnya, bahkan sudah tidak kuat. Selanjutnya beruntun-runtunlah para manusia itu memberikan sedekahnya masing-masing, sehingga saya dapat melihat ada dua tumpukan dari makanan dan pakaian, sampai-sampai saya melihat pula wajah Rasulullah s.a.w. berseri-seri, seolah-olah wajah beliau itu bercahaya bersih sekali. Kemudian beliau bersabda:
"Barangsiapa yang memulai membuat sunnah dalam Islam berupa amalan yang baik,maka ia memperoleh pahalanya diri sendiri dan juga pahala orang yang mengerjakan itu sesudah -sepeninggalnya - tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka yang
mencontohnya itu. Dan barangsiapa yang memulai membuat sunnah dalam Islam berupa amalan yang buruk, maka ia memperoleh dosanya diri sendiri dan juga dosa orang yang mengerjakan itu sesudahnya - sepeninggalnya - tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka yang mencontohnya itu." (Riwayat Muslim)

Sabda Nabi s.a.w. Mujtabin nimar, yaitu dengan jim dan sesudah alif ada ba' bertitik satu. Annimar adalah jama'nya Namirah (Jadi Namirah itu mufrad), artinya pakaian dari bulu yang bergaris-garis (bagaikan macan lurik), sedang makna Mujtabiha ialah me-ngenakannya sesudah melobangi di bagian kepala orang-orang yang memakainya. Ini berasal dari kata Aljaub,artinya memotong, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
"Dan kaum Tsamud yang memahat dan memotong (menembus) batu-batu besar di lembah (tanah rendah)."

Sabda beliau s.a.w. Tama'-'ara, dengan 'ain muhmaiah, artinya berubah (wajah serta sikapnya).

Adapun kata Rawi (yang meriwayatkan Hadis ini): Ra-aitu kaumaini, boleh
difathahkan kafnya dan boleh pula didhammahkan, artinya "Saya melihat dua buah tumpukan atau dua buah gundukan."

Sabda Nabi s.a.w.: Ka-annabu mudzhabah, itu dengan menggunakan dzal mu'jamah dan fathahnya ha' serta ba' muwahhadah. Demikianlah yang dikatakan oleh al-Qadhi 'lyadh dan lain-lain. Tetapi sebagian alim-ulama ada yang menulisnya lalu diucapkan Mud-hanah
dengan menggunakan dal muhmaiah dan dhammahnya ha' serta nun. Demikian ini yang dibenarkan oleh al-Humaidi. Tetapi yang shahih serta masyhur ialah yang pertama. Adapun artinya menurut kedua macam itu sama saja yakni bersih serta bercahaya.


173. Dari Ibnu Mas'ud r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Tiada seseorangpun yang dibunuh secara penganiayaan, melainkan atas anak Adam - manusia yang pertama melakukannya itu -mempunyai tanggungan dari darahnya-semua jiwa yang terbunuh secara

penganiayaan, sebab sesungguhnya ia adalah pertama-tama orang yang memulai membuat sunnah membunuh - yang dimaksudkan ialah Qabil putera Nabiullah Adam a.s. yang membunuh saudaranya yakni Habil." (Muttafaq 'alaih)

RIYADHUS SHALIHIN Bab 18 Larangan Terhadap Kebid'ahan-kebid'ahan Dan Perkaraperkara Yang Diada-adakan

KITAB RIYADHUS SHALIHIN (TAMAN ORANG-ORANG SHALIH)

IMAM NAWAWI

Allah Ta'ala berfirman:
"Maka apa yang ada di luar kebenaran itu, tiada lain hanyalah kesesatan belaka." (Yunus: 32)

Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Tidaklah Kami alpakan sedikitpun dalam al-Kitab- maksudnya: Tidak perlu ditambah yang
baru, sebab dalam al-Kitab sudah cukup." (al-An'am: 38)

Allah Ta'ala berfirman pula:
"Jikalau engkau semua berselisih dalam sesuatu hal, maka kembalikanlah itu kepada Allah, dan RasulNya." Yakni al-Kitab dan as-Sunnah. (an-Nisa': 59)

Juga Allah Ta'ala berfirman:
"Dan sesungguhnya inilah jalanKu yang lurus, maka ikutilah. Dan janganlah engkau semua
mengikuti jalan-jalan - yang lain-lain, karena nanti engkau semua dapat terpisah dari jalan Allah."(al-An'am: 153)

Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Katakanlah - hai Muhammad: "Jikalau engkau semua mencintai Allah, maka ikutilah saya,
maka Allah pasti mencintai engaku semua dan pula mengampuni dosa-dosamu." (ali-lmran: 31)
Ayat-ayat dalam bab ini amat banyak sekali.

Adapun Hadis-hadis yang menguraikan bab ini amat banyak pula, juga masyhur .

Maka itu akan kami ringkaskan dengan mengutip beberapa Hadis saja, di antaranya ialah:


169. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang mengada-adakan dalam perkara - agama -kita ini akan sesuatu
yang semestinya tidak termasuk dalam agama itu, maka hal itu wajib ditolak."(Muttafaq
'alaih)

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang mengamalkan sesuatu amalan yang atasnya itu tidak ada perintah
kami - maksudnya perintah agama, maka amalan itu wajib ditolak."


Keterangan:

Wajib ditolak, artinya samasekali tidak boleh diterima, karena merupakan hal yang bathil, sebab memang tidak termasuk urusan agama, tetapi diada-adakan sendiri oleh manusia.

Hadis ini menunjukkan bahwa sesuatu yang tidak diberi keterangan oleh Allah dan RasulNya, lalu diada-adakan itu wajib tidak kita terima atau wajib kita tolak mentah-mentah.
Ini apabila bersangkutan dalam soal peribadatan. Kalau dalam urusan keduniaan, maka Nabi s.a.w. sendiri telah memberi kebebasan untuk mengikhtiarkan mana yang terbaik dalam anggapan kita, asalkan tidak melanggar hal-hal yang diharamkan oleh Allah.

Nabi Muhammad s.a.w. telah bersabda:

"Engkau sekalian adalah lebih mengerti tentang urusan duniamu."


170. Dari Jabir r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. itu apabila berkhutbah maka merah padamlah kedua matanya, keras suaranya, sangat marahnya, sehingga seolah-olah beliau ituseorang komandan tentara yang menakut-nakuti, sabdanya: "Pagi-pagi ini musuh akan menyerang engkau semua," atau "sore ini musuh akan menyerang engkau semua." Beliau bersabda pula: "Saya diutus sedang jarak terutusku dengan tibanya hari kiamat itu bagaikan dua jari ini." Beliau merapatkan antara jari telunjuk dan jari tengah. Beliau bersabda pula:
"Amma ba'd. Maka sesungguhnya sebaik-baik uraian adalah Kitabullah - al-Quran - dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad s.a.w., sedang seburuk-buruk perkara -agama - ialah hal-hal yang diada-adakan sendiri dan semua kebid'ahan itu adalah sesat."

Selanjutnya beliau s.a.w. bersabda: "Saya adalah lebih berhak terhadap setiap orang mu'min daripada dirinya sendiri. Barangsiapa meninggalkan harta, maka itu adalah hak dari keluarganya, tetapi barangsiapa yang meninggalkan hutang atau tanggungan - keluarga dan anak-anak yang ditinggalkan, maka itu adalah kepadaku atau menjadi tanggunganku."
(Riwayat Muslim)


171. Dari al-'Irbadh bin Sariyah r.a., yaitu Hadisnya yang terdahulu - lihat Hadis nomor 157 - dalam bab Memelihara Sunnah.

Ahad, 9 Julai 2017

KISAH PEREMPUAN QUR’ANI YANG MENAKJUBKAN



Syeikh Abdullah bin Mubarak r.a. menuturkan bahwa ketika pergi haji ke Baitullah Al-Haram dan berziarah ke masjid Nabi saw, ia berjumpa dengan seorang perempuan tua memakai kerudung wol.

Ibnu Mubarak r.a. menyapanya, "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."

Perempuan tua itu menjawab, "Salam, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang." (QS. Yasin [36]: 58)

Ibnu Mubarak r.a. berkata, "Semoga Allah merahmati engkau. Apa yang kau lakukan di tempat ini?"

Perempuan tua itu menjawab, "Barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah maka tidak ada yang mampu memberi petunjuk ...." (QS. Al-A'raf [7]: 186)

Mendengar jawabannya, Ibnu Mubarak r.a. mengerti bahwa perempuan itu tersesat di jalan. Lalu, ia pun bertanya, "Ke mana engkau hendak pergi?"


Perempuan tua itu menjawab, "Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Al-lsra' [17]: 1)

Ternyata perempuan itu baru selesai mengerjakan haji dan ia ingin kembali ke Baitul Maqdis (Palestina). Ibnu Mubarak r.a. berkata, "Sejak berapa lama kau berada di sini?"

Perempuan tua itu menjawab, "... selama tiga malam ...." (QS. Maryam [19]: 10)

Ibnu Mubarak r.a. berkata, "Aku tidak melihat makanan di sekitarmu, lalu engkau makan apa?"

Perempuan itu menjawab, "Dan yang memberi makan dan minum kepadaku." (QS Asy-Syu'ara' [26]: 79)

Ibnu Mubarak r.a. berkata, "Sekarang bukan bulan Ramadan."

Perempuan tua itu menjawab, "... Dan barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan makaAllah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui." (QS Al-Baqarah [2]: 158)

Ibnu Mubarak r.a. berkata lagi, "Kita diperbolehkan puasa ketika dalam perjalanan."

Perempuan tua itu kembali menjawab, "... dan puasamu itu tebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS Al-Baqarah [2]: 184)

Ibnu Mubarak r.a. bertanya, "Mana air wudumu?"

la menjawab, "... sedangkan kamu tidak mendapat air maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik (suci) ...." (QS An-Nisa'[4]: 43)

Ibnu Mubarak r.a. kembali bertanya, "Mengapa engkau tidak berbicara seperti bicaraku?"

la kembali menjawab, "Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (QS Qaf [50]: 18)

Ibnu Mubarak r.a. makin penasaran, "Siapakah sebenarnya kau ini?"

Perempuan tua itu menjelaskan, "Dan janganlah kamu mengikuti sesuotu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS Al-lsra' [17]: 36)

Ibnu Mubarak r.a. berkata, "Aku telah melakukan kesalahan, berilah aku jalan keluar."

"Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu. Dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang. (QS Yusuf [12]: 92), " balas perempuan tua itu.

Ibnu Mubarak berkata, "Maukah engkau mengendarai untaku ini agar dapat menyusul rombonganmu?"

Perempuan itu menjawab, "... Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya ...." (QS Al-Baqarah [2]: 197)

Kemudian Ibnu Mubarak r.a. mendudukkan untanya. Perempuan tua itu pun berkata, "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya ...." (QS An-Nur [24]: 30)

Lalu, Ibnu Mubarak r.a. memalingkan pandangannya dari perempuan itu dan berkata, "Sekarang naiklah!"

Ketika hendak naik, unta itu tiba-tiba bangun dan kabur sehingga kain pakaian perempuan tersebut sobek. Perempuan itu berkata, "Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri...." (QS Asy-Syura [42]: 30)

Ibnu Mubarak r.a. berkata, "Bersabarlah, hingga aku dapat menjinakkan dan mengikat unta itu."

Perempuan tua itu berkata, "Dan Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat)...." (QS Al-Anbiya'[21]: 79)

Akhirnya, unta itu pun dapat dikuasai oleh Ibnu Mubarak r.a., lalu ia menawarkan kembali, "Sekarang, naiklah!"

Perempuan tua itu naik dan berkata, "Mahasuci (Allah) yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesunsguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami." (QS Az-Zukhruf [43]: 13-14)

Lalu, Ibnu Mubarak pun memegang kendali untanya dan memacu larinya sambil berteriak keras. Perempuan itu menegurnya, "Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai." (QS Luqman [31]: 19)

Ibnu Mubarak r.a. pun berjalan pelan-pelan sambil mendendangkan bait-bait syair. Lagi-lagi perempuan itu menanggapi, "... bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an ...." (QS Al-Muzzammil [73]: 20)

Ibnu Mubarak r.a. berkata, "Engkau telah dianugerahi kebaikan yang sangat banyak."

Perempuan itu berkata, "... Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat." (QS Al-Baqarah [2]: 269)

Ibnu Mubarak r.a. berkata, "Apakah engkau mempunyai suami?"

Perempuan tua itu menjawab, "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hat-hal yang jika diterangkan kepadamu (justru) menyusahkan kamu ...." (QS Al-Maidah [5]: 101)

Akhirnya, Ibnu Mubarak r.a. diam, tidak mengajaknya bicara lagi hingga rombongannya terlihat dan ia dapat menyusulnya. la bertanya kepada perempuan tua itu, "Itukah kafilahmu? Siapa saudaramu dalam kafilahmu?"

Perempuan itu menjawab, "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia ...." (QS Al-Kahfi [18]: 46)

Perempuan itu mengatakan bahwa ia telah memiliki anak. Ibnu Mubarak r.a. pun menanyakan keberadaan mereka, "Bagaimana keadaan mereka pada waktu ibadah haji?"

la menjawab, "Dan (Dia menciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang mereka mendapat petunjuk." (QS An-Nahl [16]: 16)

Ibnu Mubarak r.a mengerti dengan jawabannya bahwa mereka bekerja sebagai penunjuk jalan dengan melihat kubah-kubah, bangunan-bangunan, dan letak bintang. Kemudian Ibnu Mubarak r.a. kembali bertanya, "Siapakah yang berada di dalam sana?"

Perempuan tua itu menjawab, "Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan- (Nya). (QS An-Nisa' [4]: 125); ... Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung, (QS An-Nisa' [4]: 164); Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh .... (QS Maryam [19]: 12)"

Lalu, Ibnu Mubarak r.a. memanggil ketiga nama itu, "Hai, Ibrahim! Musa! Yahya!"

Para pemuda yang dipanggil namanya segera menyambut panggilannya. Perempuan tua itu berkata, "Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, dan bawalah sebagian makanan itu untukmu ...." (QS Al-Kahfi [18]: 19)

Kemudian salah seorang dari mereka pergi, lalu kembali membawa makananan dan disuguhkan untuk Ibnu Mubarak r.a. Perempuan tua itu pun mempersilakannya untuk makan, "Makan dan minumlah dengan nikmat karena amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu." (QS Al-Haqqah [69]: 24)

Setelah makan, Ibnu Mubarak r.a. memandang muka ketiga pemuda itu karena rasa penasaran yang makin kuat. Dia berkata, "Aku ingin tahu tentang ibu kalian ini."

Mereka menjawab bahwa sejak empat puluh tahun yang lalu ia tidak berbicara selain dengan ayat-ayat Al-Qur'an karena khawatir salah bicara.

Ibnu Mubarak r.a. menanggapi, "... Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui." (QS Al-Maidah [5]: 54)

KITAB AL- LAMAAT CAHAYA : CAHAYA KEEMPAT : Risalah Minhaj As-Sunnah (Konsep Sunnah)



KARYA BADIUZZAMAN SAID NURSI DALAM KITAB INDUK “RISALAH NUR”

Risalah Minhaj As-Sunnah (Konsep Sunnah)

•Catatan Pertama: Kebaikan dan kasih sayang RasulullahSAW. terhadap umatnya
•Catatan Kedua: Keharmonisan antara tugas kerasulanSAW. dengan persoalan-persoalan sekunder
•Catatan Ketiga: Tafsir Firman Allah, “kecuali kasih sayang
terhadap keluarga”
•Catatan Keempat: Kekhalifahan, antara Ahlu Sunnah Waal-Jamaah dan Syiah


MESKIPUN persoalan imamah merupakan persoalan yangbersifat furu(cabang) namun karena sering menjadi perhatian, iakemudian dimasukkan ke dalam salah satu kajian keimanan dalambuku-buku ilmu kalam dan ushuluddin. Dari sisi ini ia memilikikorelasi dengan tugas pokok kita untuk mengabdikan diri pada al-Quran dan masalah iman. Karena itu, di sini saya juga sedikit
membahasnya.

Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummusendiri. la merasa sakit dengan penderitaanmu, begitu perhatianterhadapmu, serta amat kasih dan sayang terhadap orang-orangmukmin. Jika mereka berpaling, katakanlah, Cukuplah Allahbagiku. Tidak ada Tuhan selain-Nya. Hanya kepada-Nya akubertawakkal. Dia adalah Tuhan Pemilik arasy yang agung.
(At-Taubah [9]: 128-129)

Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atasseruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan . (Asy-Syura [42]:23)
Kami akan menunjukkan sejumlah hakikat agung yangtersimpul dalam ayat-ayat mulia di atas dalam dua bagian.


A. BAHAGIAN KESATU

Bahagian ini memuat empat catatan:

1. Catatan Pertama

Ayat di atas menggambarkan sifat Rasul SAW. yang begitupengasih dan penyayang terhadap umatnya. Ya, memang adabeberapa riwayat sahih yang menjelaskan sifat kasih sayang beliau
yang sempurna terhadap umatnya. Contohnya adalah pada saatseluruh manusia dibangkitkan nanti, ketika itu beliau menyerudengan berkata, “Umatku, umatku”

Padahal di saat tersebut setiaporang, bahkan para nabi sekalipun, menyeru dengan ungkapan,“Diriku, diriku”.

Mereka mengucapkan hal tersebut karena situasiyang mencekam dan menakutkan. Dalam riwayat lain, di saatkelahirannya, ibu beliau juga mendengar beliau mengucapkan,“Umatku, umatku”. Riwayat ini dibenarkan oleh para waliyullahyang telah mencapai tingkat kasyaf.

Demikianlah, keseluruhanperjalanan hidup beliau yang harum semerbak yang memancarkan keluhuran akhlak bermahkotakan kasih sayang menjelaskan kepadakita tentang kecintaan dan kasih sayang beliau yang sangatsempurna. Selain itu, beliau memperlihatkan rasa cinta yang begitubesar tadi dengan menampakkan rasa butuh beliau yang takterhingga terhadap kiriman salawat dari umatnya. Salawat tersebutmenggambarkan sebegitu besar ikatan kasih beliau terhadap merekasemua.

Maka itu, sikap berpaling dari sunnah beliau yang mulia betul-betul merupakan satu bentuk kekufuran yang sangat besar, bahkanhal itu menjadi indikasi atas matinya hati nurani seseorang.

2. Catatan Kedua

Rasul SAW. telah memperlihatkan rasa cintanya yang besarterhadap sesuatu yang remeh dan bersifat khusus, padahal misikenabian yang beliau bawa bersifat umum dan komprehensif. Secaralahiriah, kelihatannya rasa cinta dan kasih sayang terhadap sesuatuyang remeh dan bersifat khusus itu tidak sesuai dengan tugaskenabian beliau yang agung.

Namun sebenarnya, unsur yang kelihatannya remeh dan khusus tersebut menggambarkan satu tepidari sebuah rangkaian yang pada masa selanjutnya akan meng-emban seluruh misi kenabian.Contohnya adalah sikap Rasul SAW. yang menunjukkan rasacinta dan perhatiannya yang besar kepad Imam Hasan dan Husein di saat mereka masih muda belia bukan semata-mata karena nalurikasih sayang dan rasa cinta yang muncul dari adanya hubungankeluarga. Akan tetapikarena keduanya (Hasan dan Husein) merupa-kan pangkal dari rangkaian cahaya yang membawa salah satu misikenabian beliau yang agung. Keduanya menjadi sumber dari sebuahkomunitas agung yang mewarisi kenabian, serta menjadi cermindan teladan kenabian.Ya, sikap Rasul SAW. yang memeluk Hasan ra. serta menciumkepalanya dengan penuh kasih disebabkan oleh karena banyaksekali para pewaris kenabian, pembawa syariat agung, yang berasaldari anak cucu Hasan serta bersumber dari keturunannya yangbersinar dan penuh berkah itu. Di antara mereka adalah SyaikhAbdul Qadir al-Jailani

Dengan penglihatan kenabian, Rasul SAW.telah menyaksikan tugas suci yang diemban oleh orang-orang itudi masa mendatang. Sehingga beliau menghargai dan menghormati jasa dan pengabdian mereka. Beliau mencium kepala Hasan ra.sebagai bentuk penghormatan dan sokongan.

Lalu, ketika Rasul SAW. memberikan perhatian dan cinta yangbegitu mendalam terhadap Husein ra. sebetulnya hal itu diper-untukkan bagi keturunannya. Yaitu para imam agung yang berposisi sebagai pewaris kenabian yang hakiki seperti Zainal Abidin danJa’far ash-Shodiq. Ya, beliau telah mencium leher Husein ra., sertabeliau telah memperlihatkan kasih sayang dan perhatian yang besarkepadanya demi orang-orang nurani bagaikan mahdi yang akanmeninggikan panji Islam dan mengemban tugas kerasulan sesudah beliau.Dengan kalbu beliau yang mengetahui hal gaib, Rasul SAW.dapat menyaksikan padang mahsyar padahal beliau masih beradadi dunia. Beliau bisa menyaksikan surga di langit yang tinggi sertamenyaksikan malaikat yag terdapat nun jauh di sana padahal beliauberada di bumi. Beliau juga bisa melihat berbagai peristiwa yangtertutup tirai masa lalu yang gelap sejak zaman Nabi Adam as.Bahkan penglihatan beliau dapat menyaksikan Allah Taala. Denganbegitu tidak aneh kalau kemudian penglihatan beliau yang bersinaserta mata batin beliau yang menembus masa depan bisa menyaksi-kan para tokoh agung dan para imam pewaris kenabian yang berasaldari keturunan Hasan dan Husein. Atas dasar itulah, beliau mencium kepala keduanya atas nama mereka semua. Ya, dalam ciuman RasulSAW. terhadap Hasan ra. terdapat bagian besar yang dimiliki olehSyaikh Abul Qadir al-Jailani.


3.Catatan Ketiga

Pengertian dari firman Allah yang berbunyi, (kecuali kasih sayang terhadap keluarga), menurut sebuah pendapatadalah dalam mengemban misi kerasulan, Nabi SAW. tidak pernahmeminta upah dari seseorang. Yang beliau minta hanyalah kecintaanterhadap keluarganya.Barangkali ada yang bertanya-tanya bahwa dalam pengertianayat di atas upah diberikan atas dasar kedekatan keturunan.Sementara, ayat al-Quran berikut ini:

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisiAllah ialah orang yang paling bertakwa. (Al-Hujurat [49]: 13)

Menunjukkan bahwa tugas kerasulan terus berlangsungberdasarkan kedekatan seseorang kepada Allah, bukan berdasarkankedekatan keturunan.Jawaban terhadap pendapat di atas adalah sebagai berikut.

Rasul SAW., dengan pandangan kenabian yang menembus alamgaib, mengetahui bahwa keturunannya akan berkedudukan sepertipohon yang bersinar terang dan besar di seluruh dunia Islam.Mereka yang mengantarkan berbagai lapisan masyarakat muslimkepada petunjuk dan kebaikan serta yang menjadi contoh pribadimanusia sempurna, sebagian besarnya akan berasal dari keluargabeliau.

Beliau juga mengetahui pengabulan doa umatnya yang terkaitdengan ahlul bait seperti terdapat dalam tasyahhud berikut ini:YaAllah limpahkan salawat atas Muhammad dan atas keluargaMuhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan salawatatas Ibrahim dan keluarga Ibrahim.

Artinya, sebagaimana sebagian besar para pembimbing danpemberi petunjuk atas agama Ibrahim itu terdiri dari para nabi yangberasal dari keturunan dan keluarganya, demikian pula para tokohahlul bait berposisi seperti para nabi Bani Israil bagi umatMuhammad. Mereka melaksanakan tugas agung dengan mengabdikepada Islam dalam berbagai aspek. Karena itu, Rasul SAW. diper-intahkan untuk berkata, “Katakan, Aku tidak meminta kepadamu upah
apa pun atas dakwahku kecuali kasih sayang terhadap keluarga”.
La meminta kepada umat ini agar mencintai keluarga beliau (ahlul bait).Hal ini didukung oleh beberapa riwayat lain. Nabi SAW. pernahbersabda, “Wahai manusia, aku telahmeninggalkan untuk kaliansesuatu yang jika kalian berpegang padanya kalian takkan tersesat.

Yaitu kitabullah (al-Quran) dan keturunanku (ahlul bait)”

Sebab,ahlul bait merupakan sumber dari Sunnah Nabi yang muliasekaligus pemelihara dan pihak pertama yang harus komitmenpadanya.Dengan demikian hakikat hadits di atas menjadi jelas. Yaituia berisi perintah untuk mengikuti al-Quran dan as-Sunnah yangmulia.

Jadi, yang dimaksud dengan ahlul baitdi sini—ditinjau darisisi tugas kerasulan adalah mengikuti sunnah Nabi SAW. Dengandemikian, orang yang meninggalkan sunnah yang mulia sebenarnyatidak termasuk ahlul bait. Ia juga tidak termasuk pengikut ahlulbait yang hakiki.Kemudian hikmah yang bisa dipetik dari keinginan Nabi SAW.untuk mengumpulkan seluruh umatnya di sekitar ahlul bait adalahkarena beliau mengetahui dengan izin Tuhan bahwa ketuunanahlul baitakan bertambah banyak seiring perjalanan waktu, semen-tara Islam akan kembali melemah. Dengan kondisi semacam itu,harus ada komunitas yang saling mendukung dan saling menopangdalam jumlah dan kekuatan besar guna menjadi pusat dan sentraldunia Islam secara moral. Rasul SAW. telah mengetahui hal itu.Maka, beliau menginginkan umatnya berkumpul di sekitar keturunannya.Meskipun ada individu-individu dari kalangan ahlul baityang tidak lebih unggul dari lainnya dalam masalah iman dan keyakinan.Namun mereka adalah orang-orang yang jauh lebih dulu tunduk,berkomitmen, dan mendukung Islam.

Sebab secara fitrah, secara tabiat, dan keturunan, mereka memang telah loyal terhadap Islam,Loyalitas alamiah tersebut tak pernah hilang walaupun beradadalam kondisi lemah, tak dikenal, atau bahkan walaupun berada dalam kebatilan. Jika demikian, bagaimana dengan loyalitasterhadap sebuah hakikat yang dimiliki oleh nenek moyang mereka,yang demi hakikat tersebut mereka rela mengorbankan jiwanya hingga memperoleh kemuliaan. Hakikat tersebut benar-benar15 ) berada dalam puncak kekuatan, kemuliaan, dan di atas kebenaran.Maka, mungkinkah orang yang secara spontan merasakan kebenaran loyalitas alamiah tersebut akan meninggalkannya?Dengan komitmen fitri mereka yang sangat kuat terhadapIslam, ahlul baitmemandang sebuah petunuk Islam yang sederhana sekalipun sebagai bukti yang kuat. Sebab mereka memangtelahmemilikiloyalitas fitri terhadap Islam. Adapun orang lain, merekabaru memberikan komitmen setelah adanya bukti yang kuat.

4. Catatan Keempat

Terkait dengan catatan ketiga di atas ada sebuah isyaratsingkat yang mengarah pada masalah yang sangat besar sampai-sampai ia masuk ke dalam pembahasan buku-buku akidah dantermuat bersama pokok-pokok keimanan. la adalah masalah yangmemicu perselisihan antara kalangan Ahlu Sunnah dan Syiah.Masalah tersebut adalah sebagai berikut:

Kalangan Ahlu Sunnah berpendapat bahwa Imam Ali ra.merupakan khalifah yang keempat di antara para Khulafa ar-Rasyidin.
Abu Bakar ash-Shiddiq ra. lebih utama dan paling berhak terhadapkekhalifahan. Karena itu, dialah yang pertama-tama menerimatongkat kekhalifahan.Namun menurut kalangan Syiah, “Hak kekhalifahan tersebutberada di tangan Ali ra. Hanya saja ia kemudian dizalimi. Ali lahyang paling utama dari semua khalifah yang ada”. Kesimpulan darikeseluruhan argumen mereka adalah bahwa banyak sekali haditsyang menyebutkan keutamaan Sayyidina Ali
ra. Ia merupakanrujukan bagi sebagian besar wali dan jalan-jalan sufi sehingga iadisebut sebagai Sultanul awliya (pemimpin para wali). Selain itu, iamemiliki berbagai kemuliaan baik dalam hal pengetahuan, kebe-ranian, dan ibadah. Terlebih lagi, Rasul SAW. telah memperlihatkanhubungan yang sangat kuat dengannya dan dengan ahlul baityangberasal dari keturunannya. Semua itumenjadi petunjuk bahwa Alira. adalah yang paling utama. Jadi, kekhalifahan merupakan haknya,hanya saja kekhalifahan itu kemudian dirampas darinya.
Jawaban dari pernyataan di atas adalah sebagai berikut:

Pengakuan berulang kali yang diberikan oleh Sayyidina Ali ra. Danpara pengikutnya terhadap tiga khalifah sebelumnya, pengangkatandirinya sebagai Syaikhul qudhot (Hakim Tertinggi)selama 20 tahunlebih, merupakan kenyataan yang membantah klaim kalangan Syiah.Apalagi berbagai kemenangan Islam dan perjuangan melawan paramusuh berlangsung di masa tiga khalifah sebelumnya. Sementarapada masa kekhalifahan Ali ra. terjadi banyak fitnah. Hal ini tentujuga membantah klaim Syiah dari sisi kekhalifahan. Artinya, klaimyang diberikan oleh kalangan Ahlu Sunnah adalah benar.

Barangkali ada yang berpendapat bahwa golongan Syiah(pendukung dan pengikut Ali ra.) terbagi dua: Ada Syiah wilayah(yang menempatkan Ali sebagai rujukan para wali) dan ada pula Syiah khilafah (yang meyakini Ali sebagai orang yang paling layaksebagai khalifah). Salahnya golongan kedua karena tercampurnya antara politik dan kepentingan-kepentingan tertentu dalam klaimmereka. Golongan pertama, yang justru terbebas dari  percampuran tersebut.  

Anggaplah golongan yang kedua ini bersalah karenamasalah politik dan kepentingan telah bercampur dalam klaimmereka. Akan tetapi pada golongan pertama tidak terdapatkepentingan atau keinginan politis apa pun. Tapi pada gilirannya,Syiah wilayah juga tercampur dengan kelompok Syiah khilafah. Maksudnya, segolongan wali yang mengarungi jalan sufi meman-dang bahwa Sayyidina Ali ra. sebagai orang yang paling utama.Sehingga mereka juga membenarkan klaim Syiah khilafah yang memasuki wilayah politik.

Jawaban atas pendapat tersebut adalah bahwa Imam Ali ra.harus dilihat dari dua sisi: Yang pertama, sisi kepribadian beliauyang mulia dan kedudukan pribadi beliau yang tinggi. Sedangkanyang kedua adalah sisi keadaan beliau sebagai cerminan dari sosokahlul bait. Tentu saja sebagai sosok ahlul bait ia memantulkansubstansi Rasul SAW.Dilihat dari sisi yang pertama, semua ahli hakikat—termasukImam Ali ra. sendiri yang berada di garda terdepan—telah memulia-kan Abu Bakar ra. dan Umar ra. Mereka menganggap keduanyasebagai orang yang lebih utama dalam pengabdian mereka terhadapIslam dan kedekatan mereka kepada Ilahi.Lalu dilihat dari sisi yang kedua di mana Imam Ali ra.dipandang sebagai cerminan sosok ahlul bait 16
. Sebagai sosok ahlulbait yang mencerminkan hakikat Muhammad SAW., ia sama sekali tak boleh dibandingkan dengan siapapun. Dan jika ditinjau dari sisiyang kedua ini telah banyak hadits-hadits Nabi SAW. yang isinyamemuji Imam Ali ra. serta menjelaskan berbagai keutamaannya. Diantaranya adalah hadits sahih yang berbunyi, “Keturunan setiapnabi berasal darinya (Adam as.), sementara keturunanku berasaldari Ali”

Adapun berbagai riwayat yang terkait dengan kepribadianAli ra. dan pujian terhadapnya yang jumlahnya lebih banyakdaripada khalifah-khalifah lainnya hal itu disebabkan oleh karenakalangan ahlu sunnah telah menyebarkan berbagai riwayat yangterkait dengan Imam Ali ra. guna menghadapi serangan dan celaankaum Umayyah dan kaum Khawarij yang ditujukan kepadanya.
Sementara para khulafa ar-Rasyidin lainnya tidak mengalami kritikandan celaan seperti itu. Dengan begitu, tidak ada alasan yangmendorong mereka untuk menyebarkan hadits-hadits yang terkaitdengan keutamaan para khalifah lainnya.

Kemudian, Rasul SAW. melihat dengan kacamata kenabianbahwa Sayyidina Ali ra. akan menghadapi berbagai peristiwamenyakitkan dan berbagai fitnah internal. Karena itu, beliaumenghibur Ali ra. sekaligus mengajarkan umat Islam dengan hadits-hadits yang mulia. Misalnya, “Siapa yang aku sebagai walinya, makaAli juga walinya”.

Hal ini untuk menolong Ali ra. dari keputus-asaan, serta untuk menyelamatkan umat ini agar jangan sampaimempunyai prasangka buruk erhadapnya.Kecitaan berlebih yang ditampakkan oleh golongan Syiahwilayah kepada Sayyidina Ali ra. dan sikap mereka yang meng-utamakan Ali ra. atas yang lain dari sisi tarekat tidak menjadikanmereka memikul pertanggungjawaban yang sama besarnya denganyang dipikul oleh golongan syiah khilafah.

Sebab, para wali tersebutmemandang Ali ra. dengan pandangan cinta seorang muridterhadap mursyidnya. Dan biasanya orang yang sedang mabuk cintamempunyai sikap yang berlebihan dengan memandang kekasihnya.Begitulah sebenarnya pandangan mereka.

Gejolak cinta berlebihanyang ditunjukkan oleh para wali itu masih berpeluang untukdimaafkan dengan syarat sikap mereka yang lebih memuliakanImam Ali ra. tersebut tidak sampai ke tingkat mencela dan memu-suhi para Khulafa ar-Rasyidin lainnya. Serta, tidak sampai keluar dariprinsip-prinsip dasar Islam.Adapun golongan Syiah khilafah, karena sudah bergelutdengan kepentingan politis, mereka tidak mungkin lepas dari sikappermusuhan dan kepentingan pribadi sehingga tidak mendapat hakuntuk ditoleransi. Bahkan mereka justru menunjukkan sikapdendamnya terhadap Umar ra. yang dibungkus dalam kecintaan terhadap Ali ra.Sebabnya, bangsa Iran merasa telah
disakiti oleh Umar ra. Sampai-sampai sikap mereka itu sesuaidengan sebuah ungkapan yang berbunyi, “Sebetulnya bukan karenacinta pada Ali, tetapi karena benci ada Umar”.

Tindakan Amru ibnal-Ash yang melawan Ali ra., serta tindakan Amru ibn Sa’ad yangmemerangi Sayyidina Husein ra dalam perang yang memilukan danmenyakitkan telah mewariskan kebencian dan permusuhan yangsangat hebat bagi kalangan Syiah terhadap nama yang berbau Umardan sejenisnya.Sementara golongan Syiah willayah mereka tidak pernahmengkritik kalangan Ahlu Sunnah. Sebab, kalangan Ahlu Sunnahtidak merendahkan kedudukan Ali ra. bahkan mereka secara tulussangat mencintainya. Hanya saja mereka menghindarkan sikap cintaberlebihan sebab hal itu berbahaya seperti yang disebutkan dalamhadits. Adapun pujian Nabi SAW. terhadap kelompok pengikut Alira. sebagaimana yang terdapat dalam beberapa hadits, sebetulnyahal itu mengarah kepada kalangan Ahlu Sunnah. Sebab, merekaadalah orang-orang yang mengikuti Sayyidina Ali ra. secara konsis-ten. Karena itu, mereka juga disebut sebagai Syiah (pengikut) ImamAli ra.Ada sebuah hadits yang secara tegas menjelaskan bahwa sikap berlebihan dalam mencintai Sayyidina Ali ra. sangat berbahaya samaseperti bahaya yang menimpa orang-orang Nasrani ketika merekaberlebihan dalam mencintai Isa as.

Apabila golongan Syiah wilayah berpendapat bahwa jikaImam Ali ra. telah diakui mempunyai keutamaan yang luar”. Ali berkata,“maka sikap yang melebihkan Abu Bakar ra. di atas Ali ra. tidak bisaditerima, pernyataan tersebut dapat dijawab sebagai berikut:Apabila keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq, dan Umar ra., danjasa-jasa mereka berdua yang begitu agung dalam mewarisi kenabi-an diletakkan dalam sebuah sisi timbangan. Lalu keistimewaan Alira. yang luar biasakerja kerasnya memimpin kekhalifahan, berbagaipeperangan internal berdarah-darah yang terpaksa dilakukannya,serta prasangka buruk yang diterima sebagai akibatnya, diletakkandi sisi timbangan lainnya, pastilah timbangan Abu Bakar ash-Shiddiqra., timbangan Umar ibn al-Khattab, atau timbangan Dzun-NurainUtsman ibn Affan ra. akan lebih berat. Inilah yang diakui olehkalangan Ahlu Sunnah dan ini pula yang menyebabkan merekamelebihkan ketiganya.

Seperti yang telah kami sebutkan dalam kalimat ketiga belasdan kedua puluh empat pada buku al-Kalimat, martabat kenabianjauh lebih mulia dan lebih tinggi daripada derajat kewalian bahwasatu gram kenabian lebih berat daripada satu kilokewalian.

Darisisi ini, bagian yang dimiliki oleh Abu Bakar dan Umar ra. dalammewarisi kenabian dan menegakkan hukum-hukum Islam lebihbesar. Kedamaian yang terjadi pada masa kekhalifahan mereka bagikalangan Ahlu Sunnah menjadi buktinya. Keutamaan pribadi Alira. tidak membuat jatuh kedudukan mereka itu. Imam Ali ra. telahmenjadi Syaikhul Qudhot (Hakim Tertinggi) bagi kedua tokoh ter-sebut di masa kekhalifahan mereka. Dan ia menghormati keduanya.

Bagaimana mungkin kelompok yang benar, yaitu kalanganAhlu Sunnah, yang mencintai dan menghormati Sayyidina Ali ra.,tidak akan mencintai dua orang yang dicintai dan dihormati olehSayyidina Ali ra.? dan Kami akan memperjelas masalah ini dengan sebuah contoh.Seorang yang sangat kaya membagi-bagikan warisan dan hartanyayang berlimpah kepada para anaknya. Salah satu dari anaknya itudiberi dua puluh pound perak dan empat pound emas. Sementara yang kedua diberi lima pound perak dan lima pound emas. Laluyang ketiga diberi tiga pound perak dan lima pound emas.

Tentu saja, meskipun kuantitas atau jumlah yang didapatkan oleh dua anakyang terakhir lebih sedikit dari yang pertama, tetapi dari segi kualitas apa yang mereka dapatkan lebih berharga.Dengan contoh di atas, maka sedikit kelebihan yang dimilikioleh Abu Bakar dan Umar yang berupa emas hakikat kedekatanIlahi yang berasal dari pewarisan kenabian dan penegakan hukum-hukum Islam lebih berat jika dibandingkan dengan banyaknyakeutamaan pribadi, essensi kewalian, dan kedekatan ilahi yangdimiliki oleh Ali ra. Karena itu, dalam menimbang dan memberikan.penilaian, hendaknya sisi ini harus diperhatikan. Namun, gambarantentang hakikat tersebut akan berubah manakala penilaiannya hanya terbatas pada sisi keberanian dan pengetahuan pribadi, serta hanyaterbatas pada sisi kewalian.

Selanjutnya, sebagai cerminan sosokahlul bait yang tampak dalam kepribadiannya, dari sisi pewarisankenabian, kedudukan Sayyidina Ali ra. tidak bisa ditandingi olehsiapapun. Sebab, rahasia agung yang dimiliki oleh Rasul SAW.terletak pada sisi ini. Adapun golongan Syiah  khilafah, sepantasnya mereka maluterhadap kalangan Ahlu Sunnah. Sebab sebenarnya mereka telahmerendahkan kedudukan Sayyidina Ali ra. dengan pengakuanmereka yang berlebihan dalam mencintainya dan memberikangambaran yang buruk tentang akhlak Ali ra. Mereka berkata, “Sayyidina Ali ra. senantiasa mengikuti Abu Bakar ash-Shiddiq ra.dan Umar al-Faruq meskipun keduanya salah. la selalu menjaga diridari sesuatu yang ia takuti dari keduanya”. Sikap inilah yang olehkelompok disebut dengan istilah taqiyyah. Artinya, Sayyidina Alira. takut kepada ke duanya (Abu Bakar dan Umar) serta selalubersikap riya terhadap keduaya dalam beramal.

Demikianlahgambaran yang mereka berikan terhadap pahlawan Islam angagung yang bergelar “Singa Allah” yang telah menjadi pemimpinbagi prajurit ash-Shiddiq dan telah menjadi menteri bagi keduanya.Menurutku, tindakan mereka yang telah menggambarkan Sayyidina Ali ra. sebagai orang yang bersikap riya, takut, pura-pura cinta pada orang yang sebenarnya tak dicintainya, serta taat dan tunduk kepadadua tokoh yang berbuat salah selama lebih dari dua puluh tahunkarena rasa takut sama sekali bukanlah bagian dari cinta. SayyidinaAli ra. berlepas diri dari kecintaan yang semacam itu.
Sementara itu, kelompok al-haq (Ahlu Sunnah) tidak pernahmerendahkan martabat Sayyidina Ali ra. dari sisi mana pun pula.Mereka juga tidak memberikan tuduhan yang buruk terhadapnya,serta tidak pernah menggambarkan sang pahlawan pemberani itusebagai penakut. Mereka berpendapat, “Seandainya Sayyidina Alira. tidak melihat kebenaran pada Khulafa ar-Rasyidinsemenit pun iatidak akan memberikan loyalitasnya kepada mereka. Dan takmungkin ia akan tunduk pada pemerintahan mereka”. Artinya, Alira. telah mengetahui bahwa mereka (Khulafa ar-Rasyidin) berada diatas kebenaran. Ia juga mengakui kemuliaan merek sehingga maumengorbankan keberaniannya yang luar biasa karena cinta pada kebenaran.Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sikap ekstrim dan berlebihan dalam hal apapun juga tidaklah baik. Sikap istiqamahadalah sikap pertengahan yang dipilih oleh kalangan Ahlu Sunnah.

Akan tetapi sayang sekali, sebagaimana beberapa pemikirankelompok Khawarij dan Wahabiah dibungkus dengan lebel AhluSunnah, segolongan orang yang tertarik dengan politik dansegolongan orang yang menyimpang mengkritik Sayyidina Ali ra.dengan berkata, “Ia (Ali ra.) sama sekali tidak tepat untuk memimpinkekhalifahan sebab ia bodoh dalam masalah politik. Karena itu, iatidak bisa memimpin umat di masanya”.

Tuduhan batil semacam itu tentu saja membangkitkankemarahan dan ketidaksenangan kalangan Syiah terhadap kalanganAhlu Sunnah. Padahal prinsip dan landasan pendirian Ahlu Sunnahtidak seperti itu bahkansebaliknya, Karenaitu, Ahlu Sunnah takbisa dirusak dengan memasukkan pemikiran-pemikiran yangbersumber dari kalangan Khawarij dan orang-orang yang menyimpang itu. Bahkan, kalangan Ahlu Sunnah merupakan orang-orangyang lebihloyal dan lebih cinta terhadap Sayyidina Ali ra. dibanding-kan dengan kalangan Syiah. Dalam setiap ceramah dan dakwahnya,mereka selalu menyebutkan pujian dan kemuliaan yang pantas di-miliki oleh Sayyidina Ali ra. Apalagi para wali dan para sufi sebagianbesarnya berasal dari kalangan Ahlu Sunnah. Mereka menjadikanSayyidina Ali ra. sebagai mursyid dan pemimpin mereka. Karenaitu,sepantasnya kalangan Syiah meninggalkan kaum Khawarij dankelompok sempalan yang sebenarnyamerupakan musuh Syiah dansekaligus Ahlu Sunnah dan tidak beroposisi dengan kalangan AhluSunnah. Sampai-sampai ada sebagian dari kalangan Syiah yangsengaja meninggalkan sunnah Nabi SAW. karena benci terhadapAhlu Sunnah.Bagaimanapun, kami telah membahas masalah ini secarapanjang lebar. Masalah tersebut juga telah banyak dikaji di antarapara ulama.Wahai kelompok al-haq, yaitu kalangan Ahlu Sunnah wal Jama ah!

Wahai kalangan Syiah yang telah menjadikan kecintaan padaahlul bait sebagai jalan kalian!

Buanglah segera konflik yang tak ada artinya, batil danberbahaya antara kalian. Jika kalian tidak membuang konfliktersebut, maka kaum kafir yang saat ini berkuasa secara kuat akanmenyibukkan kalian dengan saling bertengkar antara yang satudengan yang lain. Serta, mereka juga akan mempergunakan salahsatu di antara kalian sebagai alat untuk membinasakan lainnya.

Setelah kelompok tadi binasa, alat itupun akan ikut hancur binasa.Karena itu, kalian harus cepat-cepat membuang hal-hal sepeleyang bisa menimbulkan konflik. Sebab kalian adalah ahli tauhid.

Pada kalian ada ratusan ikatan suci yang bisa menjadi faktorpendorong bagi terwujudnya persaudaraan dan persatuan.

B. BAGIANKEDUA

Bagian kedua

ini akan dikhususkan untuk menjelaskan ayat al-Quran yang berbunyi:

Bagian ini telah ditulis dalam bagian tersendiri. Yaitu dalam cahaya yang
Ke sebelas.

Jika mereka berpaling (dari keimanan), katakanlah, CukuplahAllah bagiku. Tidak ada Tuhan selain-Nya. Hanya kepadaNya akubertawakkal. Dia adalah Tuhan yang memiliki arasy yang agung .(at-Taubah [9]: 129)