Catatan Popular

Isnin, 31 Ogos 2020

KITAB MUKASYAFATUL QULUB BAB 36 KEUTAMAAN SHALAT (MENYINGKAP RAHSIA KALBU)

HUJJATUL ISLAM IMAM AL GHAZALI

 

Shalat merupakan ibadah yang utama. Berulang kali kami membahas dan menyerukan dengan dasar Kitab Allah Yang Agung. Masalah keutamaannya ada sebagian tambahan penjelasan, sabda Nabi SAW:

 

"Tiada seorang hamba yang dianugerahi pemberian yang lebih baik daripada diberi izin untuk shalat 2 raka'at".

 

Kata Muhammad Ibnu Sirin RA:

"Andaikan aku disuruh memilih antara 2 raka'at shalat dengan surga, pasti aku memilih shalat, karena dalam shalat 2 raka'at terdapat ridho Allah SWT dan dalam surga terdapat Ridho-Ku".

Dikatakan:

 

Sesungguhnya Allah SWT ketika membuat 7 langit, Dia memenuhi dengan para malaikat yang beribadah shalat pada-Nya tanpa berhenti sesaatpun. Dia menjadikan penghuni 1 langit dengan 1 macam ibadah. Ada penghuni langit yang ibadahnya selalu sujud, ada yang merendahkan sayapnya karena takut kepada Allah SWT; malaikat penghuni illiyyin dan penghuni 'Arsy selalu berdiri mengelilingi Arsy sambil bertasbih memuji Allah dan memohonkan ampun buat orang-orang di bumi. Kemudian Allah mengumpulkan semua ibadah itu dalam ibadah shalat yang dikerjakan orang mukmin dan mereka jelas memperoleh bagian ibadah penduduk langit. Allah menambahkan keterangan dalam Al Quran bahwa mereka selalu mengucapkan dalam shalat. Allah pun menyerukan agar mensyukuri dan mendirikan shalat sesuai batas dan syarat-syaratnya.

  

Allah SWT berfirman:

 

"Yakni orang-orang beriman terhadap yang ghaib, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizkinya,,, (QS.2 Al Baqarah:3)".

 

Firman-Nya:

 

"Dan dirikanlah shalat,,, (QS.11:114)".

 

Firman-Nya:

 

"dan kalian dirikanlah shalat,,, (QS.73:20)".

Firman-Nya:

 

"Dan mereka yang mendirikan shalat,,, (QS.4:162)".

 

Dan tidak akan ingat kepada-Nya dalam shalat pada tempat-tempat yang diturunkan kecuali shalat yang didirikan selalu ingat pada-Nya.

 

"Setelah menerangkan orang-orang munafik Dia berfirman; 'Maka celakalah bagi orang-orang shalat; yakni mereka yang shalatnya selalu lalai (tidak khusuk). (QS.107 Al Ma'un:4-5)".

 

 

Mereka menamakan 'Orang-Orang Shalat' dan orang-orang mukmin, 'mereka yang mendirikan shalat'. Agar mereka mengerti bahwa 'Orang Shalat' itu banyak dan 'Orang yang mendirikan' amat sedikit. Mereka selain lalai tidak khusuk, mereka shalat hanya kebiasaan saja, mereka tidak mengingat pada hari dimana amal-amal manusia akan dihadapkan kepada Allah; diterima atau tidak.

  

Diriwayatkan:

 

Sabda Nabi SAW:

"Sesungguhnya diantara shalat kalian ada yang tidak ditulis shalatnya kecuali hanya sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya atau seperenam saja, sampai beliau SAW menjelaskan sepersepuluhnya. Maksudnya; tidaklah ditulis shalat seseorang kecuali apa yang dia angan-angankan".

 

Diriwayatkan:

 

Bahwa Nabi SAW bersabda:

 

"Barangsiapa yang shalat 2 raka'at dengan hati penuh menghadap kepada Allah, maka dosa-dosanya lepas seperti ia baru dilahirkan oleh ibunya".

 

Agungnya shalat karena langsung berhubungan dengan Allah SWT. Manakala seseorang tidak mengerjakan shalat atau tidak khusuk, laksana ia berdiri didepan pintu raja untuk memohon ampunan dari kesalahannya. Orang itu menoleh ke kanan atau ke kiri (tidak menghormati atau mengagungkan sang raja), maka raja pun tidak akan mengabulkan permohonannya. Si Raja hanya menerima menurut ukuran perhatian orang-orang tersebut terhadap sang raja. Demikianlah pula shalat; kalau seseorang shalat tidak khusuk pasti tidak diterima. Ketahuilah, shalat ibarat sebuah pesta yang diselenggarakan oleh sang raja.

 

Dalam pesta disediakan makanan dan minuman yang ada kelezatan yang amat bermanfaat, kemudian raja mengundang para manusia. Demikian juga shalat, Tuhan mengundang para manusia untuk shalat dengan beberapa perbedaan dan dzikir yang bermacam-macam, dimana macam-macam itu untuk menghadirkan kelezatan yang tidak membosankan. Perbuatan itu ibaratnya makanan dan dzikirnya ibarat minuman.

  

Dikatakan:

 

Dalam shalat terdapat 12.000 tingkat dan 12.000 itu diringkas menjadi 12 hal. Maka barangsiapa yang memelihara shalat harus menjaga 12 hal tersebut agar shalatnya menjadi sempurna; yakni 6 hal ada sebelum shalat dan 6 hal lagi ketika shalat.

 

Ilmu

 

Ada sabda Nabi SAW:

 

"Amal sedikit didasari dengan ilmu lebih baik daripada amal banyak dalam kebodohan".

 

Wudhu

 

Ada sabda Nabi SAW:

 

"Shalat seseorang tidak sah kecuali dengan bersuci".

 

Pakaian

 

Karena ada firman Allah SWT:

 

"Ambillah pakaianmu di setiap masjid. (QS.Al A'raf:31)".

Maksudnya: pakailah pakaianmu ketika shalat.

 

Menjaga waktu

 

Karena ada firman Allah SWT:

 

"Sesungguhnya shalat bagi seorang mukmin sudah ditentukan waktunya. (QS.4 An Nisa:103)".

 

Menghadap kiblat

 

Karena ada firman Allah SWT:

 

"Maka hadapkanlah wajahmu ke Masjidil Haram, dan dimana saja kamu berada hadapkan wajahmu kearah sana. (QS.2 Al Baqarah:150)".

 

Niat

 

Ada sabda Nabi SAW:

 

"Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya, dan bagi tiap-tiap orang sesuai apa yang diniatkan".

 

Takbir

 

Karena ada sabda Nabi SAW:

 

"Memuliakan shalat dengan takbir dan menghalalkannya dengan salam".

 

Berdiri

 

Sebab ada firman Allah SWT:

 

"Dan berdirilah untuk Allah dengan khusuk,,, (QS.2 Al Baqarah:238)".

 

Membaca Al Fatihah

 

Ada firman Allah SWT:

 

"Maka bacalah apa yang mudah dari Al Quran. (QS.73 Al Muzammil:20)".

 

Ruku'

 

Ada firman Allah SWT:

 

"Dan ruku'-lah,,, (QS.Al Baqarah:43)".

 

Sujud

 

Ada firman Allah SWT:

 

"Dan sujudlah,,, (QS.41 As Sajadah:37) (QS.22:77)".

 

Duduk

 

Ada sabda Nabi SAW:

"Ketika seorang lelaki mengangkat kepalanya dari duduk dan tasyahud akhir, sungguh telah sempurna shalatnya".

 

Apabila ke 12 hal tersebut sudah dikerjakan, maka masih dibutuhkan kunci utama, ialah ikhlas, untuk menyempurnakan shalat. Ada firman Allah SWT:

"Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agamamu kepada-Nya. (QS.39 Az Zumar:2)".

 

 

Mengenai ilmu Ada 3 macam:

 

Harus mengetahui kefardhuan dan kesunnahan shalat,

Harus mengetahui apa yang dalam wudhu, misalnya masalah kesunnahan dan kefardhuannya, sebab masih ada hubungan dengan kesempurnaan shalat.

Mengerti tipu daya syetan, lalu punya hasrat untuk memerangi (memusuhi) dengan sungguh-sungguh.

 

Mengenai Wudhu Kesempurnaan ada 3 hal;

 

Harus mensucikan hati dari rasa dendam, dengki, serta menipu.

Membersihkan badan dari dosa.

Membasuh anggota badan dengan sempurna tanpa berlebihan menggunakan air.

 

Kesempurnaan

 

Ada 3 hal:

Sumber hidup dari barang halal.

Suci dari barang najis.

Harus sepadan dengan sunnah, tidak boleh sombong atau congkak.

 

Memelihara Waktu

 

Ada 3 cara:

 

Pedomanmu terhadap matahari, bulan, bintang dan selalu meneliti datangnya waktu.

Mengarahkan pendengaran ke adzan.

Hatimu berfikir dan mengamati waktu shalat.

Menghadap Kiblat

Ada beberapa macam kesempunaan:

Harus mengerti shalat apa yang dikerjakan.

Harus mengerti dan menghayati bahwa kamu menghadap kearah Allah. Dia melihatmu, akhirnya engkau takut.

Harus mengerti bahwa Dia mengetahui apa yang dalam hatimu, sehingga kamu punya hasrat untuk mengosongkan hati dari masalah duniawi.

 

Takbir

 

Ada beberapa macam kesempurnaan:

Takbir dengan cara yang benar,

Mengangkat 2 tangan sampai batas telinga,

Menghadirkan hati (ketika takbir) sehingga takbirmu bisa mengagungkan-Nya.

 

Berdiri

 

Ada 3 kesempunaan:

Arahkan pandangan ke tempat sujud.

Tegakkan hatimu menghadap Allah, dan

Jangan menoleh ke kanan atau ke kiri.

 

Bacaan

 

Ada 3 kesempurnaan:

Harus membaca Al Fatihah dengan benar, tartil, tanpa merusakkan bacaan.

Membaca sambil berfikir dan merenungkan setiap arti yang terkandung, dan

Menyelenggarakan apa yang kamu baca.

 

Sujud

 

Ada 3 kesempurnaan:

Meletakkan 2 telapak tangan tepat kearah 2 telingamu.

Tidak melebarkan kedua sikumu, dan

Tumakninah sekaligus bertasbih mengagungkan-Nya.

 

Duduk

 

Ada 3 kesempurnaan:

Duduk diatas kakimu sebelah kiri dan mendirikan kaki kanan,

Tasyahud dengan mengagungkan dan berdo'a untuk dirimu dan para orang mukmin, dan

Salam dengan sempurna.

Menyempurnakan salam harus dengan memperbaiki niat dalam hatimu, bahwa salam kamu ditujukan buat orang di sebelah kananmu; para malaikat, orang lelaki atau wanita. Juga demikian ketika menoleh ke kiri. Dan pandanganmu jangan sampai jauh melampaui pundakmu.

 

Kesempurnaan Ikhlas

 

Ada 3:

Lantaran shalatmu harus mengharap ridho Allah SWT, bukan mencari ridho (pujian) manusia.

Harus mempertimbangkan Taufiq Allah SWT, dan

Harus menjaga shalat (dari kekacauan gambaran hati) sehingga kamu bisa membawa bekal buat hari kiamat.

 

Karena ada firman Allah SWT:

"Barangsiapa yang membawa kebajikan. (QS.28 Al Qashash:84)".

 

Dia tidak berfirman:

"Man 'amila bil hasanatin. (Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan)".

KITAB MUKASYAFATUL QULUB BAB 35 KEUTAMAAN WUDHU (MENYINGKAP RAHSIA KALBU)

 HUJJATUL ISLAM IMAM AL GHAZALI

 

Rasulullah SAW bersabda:

"Barangsiapa yang wudhu dengan menyempurnakan wudhu-nya lalu shalat 2 raka'at tanpa dirinya membicarakan sesuatu tentang urusan dunia, maka keluarlah dosa-dosanya laksana baru dilahirkan ibunya".

Dalam lafadz lain disebutkan:

"Dalam shalat 2 raka'at selalu khusuk (tidak lupa), maka dosa-dosa masa lampau akan diampuni".

 

 

Nabi SAW bersabda:

"Maukah kuceritakan suatu amalan, dimana amalan itu Allah akan menghapus semua kesalahan dan akan diangkat derajatnya; ialah amalan menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang tidak disuka, melangkahkan kaki menuju masjid menanti shalat setelah shalat sunnah; demikianlah yang disebut ikatan (masih ada hubungan). Dan Nabi SAW mengucapkan 3X".

 

 

Nabi SAW melakukan wudhu sekali-kali, dan beliau SAW bersabda:

"Inilah wudhu-ku dan Allah tidak akan menerima shalat seseorang kecuali dengan wudhu seperti ini; 2X, 2X".

Dan beliau SAW bersabda:

"Barangsiapa yang wudhu 2X, 2X, maka Allah akan memberi pahala 2X".

Nabi SAW wudhu 3X, 3X, kemudian Nabi SAW bersabda:

"Inilah wudhu-ku, wudhu-nya para Nabi sebelumku, dan wudhu-nya Nabi Ibrahim Kholilulloh".

 

 

Nabi SAW bersabda:

"Barangsiapa yang ingat Allah ketika wudhu-nya, maka semua tubuhnya akan dibersihkan Allah SWT. Dan barangsiapa yang tidak ingat Allah ketika wudhu', maka Allah tidak akan mensucikan kecuali yang kena air saja".

Nabi SAW bersabda:

"Barangsiapa yang wudhu masih dalam keadaan suci, maka akan mencatatnya 10 kebajikan".

Sabda Nabi SAW:

"Barangsiapa yang wudhu diatas wudhu sebelumnya (artinya masih suci), maka sama dengan cahaya diatas cahaya".

Dan semua ini diserukan untuk memperbaruhi wudhu.

 

 

Sabda Nabi SAW:

"Apabila seorang muslim wudhu, berkumur, maka keluarlah kesalahan-kesalahannya dari mulutnya. Barangsiapa yang menghisapkan air ke hidung, maka kesalahannya akan keluar dari hidung. Ketika membasuh wajahnya, maka keluarlah kesalahan dari wajahnya sampai pada batas-batas tepi 2 matanya. Ketika membasuh 2 tangan, maka keluarlah dosa-dosanya dari 2 tangannya sampai pada batas dibawah kuku-kukunya. Ketika mengusap rambut pada bagian kepalanya, maka keluarlah dosa-dosanya dari kepalanya sampai dibawah telinganya. Ketika membasuh 2 kakinya, maka keluarlah dosa-dosanya dari kakinya sampai pada batas-batas dibawah kuku-kuku kakinya. Kemudian dia berjalan menuju masjid dan dia mengerjakan shalat sunnah".

 

 

Diriwayatkan:

Sesungguhnya keadaan orang suci laksana orang yang puasa. Nabi SAW bersabda:

Barangsiapa yang wudhu dan menyempurnakan, lalu menengadah ke langit dan berdo'a:

"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sesuatupun yang menyekutukan Dia. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba sekaligus Utusan-Nya)".

Maka akan dibukakan 8 pintu surga dan dia boleh memilih masuk melewati yang mana saja.

 

 

Kata Umar RA:

"Sesungguhnya wudhu-nya orang shaleh mampu menolak syetan".

Imam Mujahid berkata:

"Barangsiapa yang mampu semalam dalam keadaan suci, dzikir, istighfar, maka kerjakanlah; sebab roh-roh dibangkitkan lagi sama dalam keadaan ketika dicabut'.

 

 

Diriwayatkan:

Umar bin Khattab RA mengirim utusan dari kalangan sahabat Nabi SAW ke Mesir untuk mengurus Kiswah Ka'bah. Lelaki utusan tersebut singgah di daerah Syam pada kuil pendeta diantara para pendeta Syam, pendeta tersebut sangat alim. Umar RA sangat tertarik dengan pendeta itu. Umar RA hendak menuntut ilmu, ia pun datang kesana dan mengetuk pintunya, namun si pendeta tidak membuka pintu amat lama sekali. Umar RA bertemu dengan pendeta dan bertanya, pendeta kemudian memberikan penjelasan-penjelasan. Dan ilmu sang pendeta sangat mengagumkan. Dan Umar RA bertanya mengenai lamanya dia menanti didepan pintu, pendeta menjawab:

"Sesungguhnya kami sudah melihatmu ketika kamu berangkat disertai keagunganmu, dan kami pun takut padamu. Sesungguhnya kami menahanmu di pintu karena Allah SWT telah berfirman pada Nabi Musa AS:

"Hai Musa, bila kamu takut pada seorang penguasa, maka wudhulah dan perintahkan keluargamu untuk wudhu; karena barangsiapa yang wudhu akan selalu dalam keamanan-KU dari apa yang ditakutkan, maka kami sekeluarga mengunci pintu sampai seisi rumah melakukan wudhu, kemudian shalat dan disitulah kami merasa aman. Baru kami membukakan pintu untukmu".

 

KITAB MUKASYAFATUL QULUB BAB 34 KEUTAMAAN Membantu Kebutuhan Sesama Muslim (MENYINGKAP RAHSIA KALBU)

 OLEH HUJJATUL ISLAM IMAM AL GHAZALI


Allah SWT berfirman: "Dan saling tolong menolonglah kalian dalam hal kebajikan dan taqwa. (QS.5 Al Maidah:3)"

.Nabi SAW bersabda:"Barangsiapa yang berusaha menolong saudaranya untuk memberikan kemanfaatan, maka pahala untuknya seperti berjuang dijalan Allah".

 

Nabi SAW bersabda:

"Sesungguhnya Allah punya beberapa makhluk yang tugasnya untuk memenuhi kebutuhan sesama manusia. Dia bersumpah demi Dzat-Nya, tidak akan menyiksa mereka di neraka. Bila datang hari kiamat diletakkan mimbar yang dibuat dari cahaya, mereka mampu berhubungan dengan Allah, padahal lainnya tengah dihisab".

Nabi SAW bersabda:

"Barangsiapa yang berjalan (berusaha) demi kebutuhan sesama muslim, padahal akhirnya mampu memenuhi kebutuhan tersebut atau tidak mampu, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa masa lampau dan dosa yang akan datang, juga akan diberi 2 kebebasan; bebas dari neraka dan bebas dari sifat munafik".

 

Dari Annas RA katanya bahwa Nabi SAW bersabda:

"Barangsiapa yang berusaha memenuhi kebutuhan saudara muslim, maka Allah mencatat setiap langkah ditulis 70 kebaikan dan dihapus 70 kejahatan. Jika kebutuhan itu terpenuhi, maka dia lepas dari dosa-dosanya laksana baru lahir dari ibunya. Bila ia mati pada saat itu, maka dia masuk surga tanpa hisab".

 

Hadits melalui Ibnu Abbas bahwa Nabi SAW bersabda:

"Barangsiapa yang berjalan sesama saudara muslim untuk memenuhi kebutuhan saudaranya dengan i'tiqad baik, maka Allah akan menjauhkan neraka dari dia sejauh 7 buah parit, dimana jarak setiap paritnya sejauh langit dan bumi".

 

Dari Ibnu Umar RA katanya bahwa Nabi SAW bersabda:

"Sesungguhnya Allah memiliki banyak kenikmatan yang diberikan pada beberapa kaum. Dia tetap memberikan pada mereka selama mereka memenuhi kebutuhan sesama manusia dan tidak bosan-bosan untuk itu. Bila mereka sudah bosan, maka Allah akan memindahkan pada selain mereka".

 

Dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bersabda:

"Mengertikah kau apa yang disuarakan srigala dalam aungan-nya".

Mereka menjawab:

"Allah dan utusan-Nya lebih mengetahui".

Nabi SAW menjawab:

Ia berkata:

"Ya Allah, janganlah Engkau menghendaki orang-orang baik menguasai aku".

 

Dari Ali bin Abi Thalib RA (hadits marfu'):

"Bila kalian menghendaki sesuatu sebaiknya berangkat pada hari kamis, bila engkau keluar dari tempat tinggalmu hendaklah membaca ayat terakhir dari Surat Al Imran, ayat Kursi, dan surah 'Innaa Anzal-naahu fii lailatil qodr,,,,,' dan membaca Ummul Kitab (surah Al-Fatihah); sebab dalam surah-surah tersebut ada hajat untuk memenuhi kebutuhan dunia dan akherat".

 

Abdullah bin Hasan RA berkata:

Aku mendatangi pintu rumah Umar bin Abdul Aziz untuk memenuhi suatu hajat, dia berkata:

"Bila kamu punya keperluan padaku, utus saja seorang kurir atau kirim saja surat buatku, sebab aku malu kepada Allah bisa Dia melihatmu mengetuk pintu".

 

Dari Ali bin Abi Thalib RA:

Sesungguhnya dia berkata:

"Demi Tuhan, dimana pendengaran-Nya mampu mendengarkan semua suara; tak seorangpun mampu memasukkan kebahagiaan dalam hati, kecuali Allah akan menciptakan kegembiraan dengan cinta kasih. Bila datang bencana dalam hati, cinta kasih itu berlari pergi menerjang bencana sebagaimana air terjun dan dia mampu menghalangi bencana itu laksana terhalangnya unta-unta asing".

 

Ali bin Abi Thalib RA berkata:

"Tertundanya suatu keperluan lebih ringan daripada mencari pada orang yang bukan ahlinya".

Dia berkata lagi:

"Janganlah engkau memperbanyak menuntut kebutuhan sesama muslim, karena anak lembu pun kalau terlalu banyak mengisap puting susu induknya pasti sang induk akan menanduknya".

 

Amat bagus syair ini:

"Sekali-kali engkau jangan memutuskan kebiasaan berbuat baik terhadap seseorang selagi engkau mampu; hari-hari tetap silih berganti. Ingatlah akan perbuatan Allah, sebab diciptakannya kepadamu dan tiada harapan sesama manusia akan beberapa kebutuhan".

Ada syair lain:

"Penuhilah kebutuhan orang lain selama engkau mampu, jadilah engkau sebagai orang yang suka mengentas kesedihan sesama saudara sebagaimana orang menghilangkan. Maka sebaik-baik hari bagi seorang pemuda ialah hari dimana ia mampu memenuhi kebutuhan orang lain".

 

Rasulullah SAW bersabda:

"Untung sekali orang yang masih mampu melaksanakan kebajikan buat orang lain, dan amat celaka orang yang masih suka melakukan kejahatan di sekitar mereka".

 

BAB 34 MEMBANTU HAJAT SESAMA SAUDARA MUSLIM

 

Allah swt. Berfirman : “dan tolong menolonglah anda dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya.  (QS. Almaidah : 2)

 

Nabi Muhammad saw. Bersabda : “ Barangsiapa yang berjalan dalam rangka untuk menolong dan memberikan kemanfaatan kepada saudaranya, maka baginya pahala seperti orang yang berperang dijalan Allah.”

Rasulullah saw. Bersabda : “ Sesungguhnya Allah mempunyai beberapa mahluk yang diciptakan-NYA dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia. Dia bersumpah kepada zat-NYA untuk tidak menyiksa mereka dengan neraka. Apabila telah datang hari kiamat, diletakkanlah mimbar-mimbar dari cahaya untuk mereka, mereka berbicara kepada Allah sementara manusia masih berada dalam hisab.”

 

Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang berjalan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan saudara sesama muslimnya, sehingga kebutuhannya menjadi terpenuhi atau tidak, maka Allah mengampuni dosa yang telah lalu dan yang akan datang, lebih dari itu ditulis baginya dua pembebasan, yaitu bebas dari neraka dan bebas dari kemunafikan.”

 

Abu Nu’aim meriwayatkan dalam Al-Hiyah, bahwa Rasulullah saw. Bersabda : “ Barangsiapa yang memenuhi suatu kebutuhan bagi saudaranya yang muslim, maka aku akan berdiri disamping timbangan amalnya, jika timbangan amal kebaikannya yang menang, maka sudahlah begitu, jika tidak, maka aku akan meberikan syafaat kepadanya.”

 

Dari Anas, dia berkata Rasulullah pernah bersabda : “ Barangsiapa berjalan dalam rangka memenuhi kebutuhan saudaranya sesama muslim, maka setiap langkah kakinya Allah menulis baginya 70 kebaikan dan menghapus darinya 70 kejahatan. Jika kebutuhan saudaranya itu terpenuhi, maka dia keluar dari dosa-dosanya seperti saat ibunya melahirkannya, dan jika dia mati pada pertengahan itu, maka dia akan masuk syurga tanpa dihisab.”

 

Dari Ibnu Abbas ra. Dia berkata Rasulullah saw. Bersabda : “Sesungguhnya Allah memiliki kenikmatan yang diletakkannya dihadapan beberapa kaum, dia menetapkan dan menyediakan kenikmatan itu disamping mereka, selama mereka peduli terhadap kebutuhan-kebutuhan manusia, sebelum mereka jemu memberikan bantuan. Apabila mereka telah bosan, maka Allah akan memindahkan kenikmatan itu kepada selain mereka.”

 

Abu Hurairah ra. Ia berkata, sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda : “tahukah anda yang dikatakan Serigala dalam kaumnya?” Mereka menjawab : “Allah dan Rasulnya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda : “ Dia itu adalah orang yang berkata, Ya Allah janganlah Engkau kuasakan kepadaku seorangpun dari orang-orang yang ahli kebaikan.”

 

Diriwatkan dari Ali Bin Abu Talib ra., suatu hadis yang dinilainya marfu’: “Apabila anda menghendaki sesuatu, hendaklah Anda berangkat pada hari kamis, dan hendaklah waktu keluar dari tempat tinggal membaca ayat terkahir dari surat Ali-Imran, ayat Kursi, Al-Qadr, dan Alfatihah. Karena didalam surat itu terdapat kebutuhan-kebutuhan dunia dan akhirat.”

 

Diriwayatkan dari Abdullah bin Al-Hasa ra. Ia berkata : “ aku datang didepan pintu Umar bin Abdul Aziz dalam suatu hajat, lalu ia berkata: ‘Jika anda memiliki keperluan kepadaku, maka utuslah seorang kurir atau kirimlah surat kepadaku. Karena susungguhnya aku malu kepada Allah kalau Dia melihat Anda mengetuk pintuku.” Dari Ali bin Abu Thalib ra., sesungguhnya dia berkata: “ Demi Tuhan yang pendengarannya meliputi segala macam suara, tidaklah ada seorangpun yang memasukkan kegembiraan dalam suatu hati, kecuali Allah akan menjadikan kegembiraan itu sebagai belas kasih. Lalu apabila datang sebuah bencana dihatinya, berlarilah belas kasih itu menyambut bencana, sebagaimana air terjun, sehingga bencana itu menjadi bertolak, sebagaimna dihalanginya unta asing dari sekumpulan unta.”

 

Ali bin Abu Talib juga berkata: “ Terbengkalainya suatu hajat adalah lebih ringan daripada mencarinya kepada orang yang bukan ahlinya.” Ali bin Abu talib berkata lagi: “ Janganlah engkau memperbanyak kebutuhan kepada saudaranya, karna sesungguhnya anak lembu apabila terlalu menghisap puting susu induknya tentu induk itu akan menanduknya.”

Alangkah bagusnya ucapan seorang penyair :

Janganlah sekali-kali anda memutuskan kebiasaan berbuat kebaikan dari seseorang, selagi anda mampu dan hari-hari ini tetap datang silih berganti. Dan ingatlah akan keutamaan perbuatan Allah, Jika ia menghendaki mambalik posisi Anda tengadakan hajat itu dihdapan manusia.

 

Penuhilah beberapa kebutuhan seseorang selagi anda mampu dan jadilah Anda sebagai orang yang menggembirakan kesusahan saudara Anda. Maka sungguh, sebaik-baik hari bagi seorang pemuda adalah hari yang didalamnya dia dapat memenuhi kebutuhan orang lain.”

 

Nabi Muhammad saw. Bersabda: “Sungguh beruntung orang yang dapat menghadirkan kebaikan dihadapan seseorang, dan sungguh celaka orang yang menghadirkan kejahatan di hadapan seseorang.