Catatan Popular

Sabtu, 11 April 2020

KITAB MINHAJUL ABIDIN BAB I TAHAPAN ILMU DAN MA’RIFAT (Bagian 3 Tamat)


(Bagian 3)

Oleh: Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali
Diriwayatkan bahwa Allah s.w.t. memberikan wahyu kepada Nabi Dāūd a.s. Ia berfirman: “Wahai Dāūd, belajarlah ilmu yang bermanfaat.” Daud berkata: “Wahai Tuhanku, apakah ilmu yang bermanfaat itu?” Allah berfirman, “Ketahuilah akan keagungan dan kebesaran-Ku, kesempurnaan kekuasaan-Ku atas segala sesuatu, karena hal itu akan mendekatkan Anda kepada-Ku.”

Diriwayatkan dari ‘Alī Karramallāhu Wajhah, ia berkata: “Tidaklah menggembirakanku, seandainya aku mati dalam keadaan masih anak-anak, lalu dimasukkan ke dalam surga sebelum dewasa dan mengenal Tuhanku. Sesungguhnya manusia yang paling mengenal Allah adalah yang paling takut kepada-Nya, yang paling banyak ibadah dan yang paling bagus dalam menjalin hubungan baik dengan-Nya, di antara mereka.”

Adapun kesulitan dalam melewati tanjakan ilmu ini, adalah mencurahkan keikhlasan jiwa Anda di dalam mencari ilmu, dan hendaklah pencarian itu terfokus pada ilmu pengetahuan, bukan berorientasi untuk mengejar kedudukan dan popularitas.
Ketahuilah, adalah menjadi kekhawatiran yang sangat membahayakan bagi orang yang menuntut ilmu agar menjadi pusat perhatian manusia, bisa duduk bersama para penguasa, menjadi public figure yang membanggakan, untuk mencari kekayaan dan kedudukan, ahli dalam perdebatan yang mengalahkan lawannya. Maka usaha dan perniagaannya semacam itu akan bangkrut dan mengalami kerugian yang besar. Perhatikan sabda Rasūlullāh s.a.w. berikut ini:
Artinya:
“Barang siapa yang mencari ilmu, agar bisa membanggakan diri dengan ilmunya terhadap ulama, atau agar bisa berdebat memamerkan ilmunya terhadap orang-orang yang bodoh, atau agar menjadi perhatian manusia (public figure), maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.”
Abū Yazīd al-Bisthāmī r.a. berkata: “Aku telah melakukan mujāhadah selama 30 tahun, namun aku tidak mendapatkan sesuatu yang lebih berat bagiku daripada menuntut ilmu dan menghindari bahayanya.”

Waspadalah terhadap ucapan manis mulut setan yang hendak menipu Anda: “Jika dalam menuntut ilmu itu terdapat bahaya yang besar, maka lebih baik tinggalkan saja.” Sekali-kali janganlah Anda menduga ucapan setan itu benar.
Diriwayatkan dari Rasūlullāh s.a.w., bahwa beliau bersabda:
Artinya:
“Pada malam Mi‘rāj, aku diperlihatkan neraka, ternyata aku melihat bahwa mayoritas penghuninya adalah orang-orang fakir.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasūlullāh, apakah mereka miskin (fakir) harta?” Beliau menjawab: “Tidak, tetapi mereka fakir ilmu.”
Barang siapa yang tidak mempelajari ilmu, tentu dia tidak mengerti hukum-hukumnya dan aturan-aturan ibadah, sehingga tidak bisa menjalankan hak-hak ibadah sebagaimana mestinya. Seandainya seseorang beribadah kepada Allah, sebagaimana ibadahnya malaikat di langit, tanpa didasari ilmu, maka dia termasuk, golongan orang-orang yang merugi.

Oleh sebab itu, singsinglah lengan baju Anda, bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu, dengan melakukan kajian-kajian, belajar dengan rajin dan tekun, jauhilah kemalasan dan kejenuhan. Jika tidak, maka Anda berada dalam bahaya kesesatan. Semoga Allah ‘azza wa jalla, melindungi dan menjauhkan kita dari bahaya kesesatan itu.
Walhasil, apabila Anda melihat petunjuk-petunjuk pada ciptaan Allah, lalu Anda melakukan perenungan, maka Anda menjadi tahu, bahwa kita mempunyai Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Hidup, Maha Berkehendak, Maha Mendengar, Maha Melihat, Yang berfirman, kalam-Nya suci dan bukan bersifat baru, begitu pula ilmu dan kehendak-Nya. Dia Maha Suci dari segala kekurangan dan cacat, Dia tidak bersifat sebagaimana sifat-sifatnya hal-hal baru (makhluk), Dia tidak mungkin terkena sesuatu yang mungkin terjadi pada makhluk. Dia tidak serupa dengan sesuatu pun dari makhluk ciptaan-Nya, dan tidak pula ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Dia tidak menempati tempat dan tidak pula diliputi arah, tidak mengalami perubahan dan tidak pula terkena afat(kebinasaan).

Ketika Anda merenungkan mukjizat-mukjizat Rasūlullāh s.a.w. dan tanda-tanda kenabiannya, tentu Anda menjadi tahu bahwa beliau adalah Rasūlullāh, kepercayaan Allah untuk mengemban wahyu-Nya. Dan kiranya Anda pun tahu apa yang dii‘tiqadkan oleh orang-orang saleh terdahulu (salafush-shāliḥ), bahwa Allah s.w.t. dapat dilihat di akhirat nanti, Dia adalah ada, namun tidak menempati tempat dan ruang, serta tidak pula arah tertentu.

Sesungguhnya al-Qur’ān itu adalah Kalam Allah bukan makhluk, bukan yang berupa huruf-huruf yang terpisah-pisah, dan tidak pula berupa suara. Karena jika demikian, maka berarti ia tergolong makhluk. Dan tidaklah terjadi di alam malak dan malakūt getaran yang tergerak di hati dan sorot pandangan mata, kecuali atas qadha dan qadar Allah serta kehendak-Nya.
Segala yang baik dan yang buruk, yang bermanfaat dan yang bahaya, keimanan dan kekafiran adalah daripada-Nya pula. Allah tidak berkewajiban berbuat sesuatu pun buat makhluk-Nya. Barang siapa yang diberi pahala oleh Allah s.w.t. itu semata-mata karena anugerah Allah, dan barang siapa yang disiksa oleh-Nya, adalah semata-mata karena keadilan-Nya.

Apa saja yang datang melalui lisan pembawa syari‘at, Rasūlullāh s.a.w. mengenai perkara akhirat, seperti penghimpunan makhluk di padang Maḥsyar, hari kebangkitan, adanya siksa kubur, pertanyaan Mungkar dan Nakir, mengenai neraca amal (mīzān), dan jembatan (shirāth). Semua itu merupakan perkara gaib yang diyakini oleh semua ulama salaf yang saleh (salaf-ush-Shāliḥ), dan mereka selalu pegang teguh keyakinan itu. Hal itu juga menjadi konsensus para ulama (ijma‘) sebelum lahirnya berbagai jenis bid‘ah, munculnya dominasi hawa nafsu. Semoga Allah melindungi kita dari sikap membuat-buat bid‘ah di dalam agama dan menurut kemauan nafsu tanpa didasari dalil.
Kemudian renungkanlah mengenai aktivitas hati dan kewajiban-kewajiban batin dan larangan-larangannya yang akan dikemukakan di dalam kitab ini, agar Anda memperoleh ilmu tentang hal itu. Hingga secara garis besar Anda akan dapat mengetahui apa yang Anda perlukan untuk diamalkan, sebagaimana halnya bersuci (thahārah), puasa, shalat dan lain sebagainya.

Dengan demikian, berarti Anda telah menunaikan kefardhuan yang diwajibkan oleh Allah kepada Anda. Di mana pelaksanaan kefardhuan ibadah Anda itu menuntut Anda untuk berilmu, dan Anda telah menunaikan, serta melaluinya. Maka jadilah Anda sebagai ulama umat Nabi Muḥammad s.a.w. (ulamā’-ul-ummah), sebagai ulama yang berilmu tinggi dan kuat. Jika Anda mengamalkan ilmu, dan memfokuskan orientasi untuk meramaikan negeri tempat Anda pulang (akhirat), maka jadilah Anda sebagai seorang hamba yang alim dan mengamalkan ilmu karena Allah ta‘ala dengan penuh kewaspadaan, tidak bodoh dan tidak pula ikut-ikutan serta bukan pula sebagai orang yang lalai.

Anda menyandang kemuliaan yang besar, ilmu Anda bernilai tinggi dan mendapatkan pahala yang agung. Anda telah melewati tanjakan atau tahapan ini (Tahapan Ilmu). Anda telah menguasainya dan memenuhi hak-haknya atas izin Allah s.w.t. Kepada-Nya kita tengadah memohon pertolongan, karena Dia-lah sebaik-baik pemberi pertolongan dan kemudahan. Dia-lah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Tiada daya dan kekuatan melainkan atas pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.


Selasa, 7 April 2020

KITAB MINHAJUL ABIDIN BAB I TAHAPAN ILMU DAN MA’RIFAT (Bagian 2)


(Bagian 2)

Oleh: Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali
Kedua: Alasan kedua mengapa ilmu harus didahulukan, adalah karena ilmu yang bermanfaat akan membuahkan rasa takut kepada Allah dan mengagungkan-Nya.
Allah s.w.t. berfirman:
Artinya:
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah ulama.” (Fāthir: 28)
Demikian itu karena orang yang tidak mengenal Allah dengan baik dan yang sebenar-benarnya, maka dia tidak akan takut kepada-Nya dengan ketakutan yang sebenarnya, dan tidak pula dia mengagungkan-Nya dengan yang sebenar-benarnya. Dengan ilmu dia bisa mengenal dan mengagungkan-Nya. Maka ilmu menjadi membuahkan segala ketaatan dan menjauhkan dari segala kemaksiatan, berkat pertolongan dan petunjuk Allah s.w.t. Selain dua hal itu, bukanlah merupakan maksud dan tujuan bagi seorang hamba dalam menjalankan ibadah kepada Allah s.w.t.
Maka, adalah menjadi keharusan bagi Anda untuk menuntut ilmu terlebih dahulu – semoga Allah menunjukkan kepada Anda – wahai orang yang menempuh jalan menuju akhirat, sebelum Anda beribadah. Dialah Allah yang memberikan pertolongan, petunjuk, anugerah dan rahmat.
Mungkin Anda bertanya tentang hadis Nabi s.a.w.:
Artinya:
“Menuntut ilmu itu, wajib bagi setiap Muslim.”

Ilmu apakah yang wajib dipelajari? Bagaimana batasan akan ilmu yang harus dikuasai oleh seorang hamba dalam urusan ibadah?
Ketahuilah, sesungguhnya ilmu yang wajib dipelajari itu, secara garis besar ada tiga, yaitu:
1.    Ilmu Tauḥīd
2.    Ilmu Sirri, yakni ilmu yang berhubungan dengan hati dan pekerjaan-pekerjaannya.
3.    Ilmu Syarī‘ah
Sedangkan batasan kewajiban dari masing-masing ilmu itu, ialah:
Pertama: Yang wajib dipelajari dari ilmu tauhid itu, setidaknya adalah mengetahui pokok-pokok ilmu agama (ushūluddīn). Anda harus tahu bahwa Anda mempunyai Tuhan, Allah Yang Maha Kuasa, Maha Berkehendak, Yang Maha Hidup dan berfirman, Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah Tuhan yang bersifat dengan sifat-sifat yang sempurna. Maha Suci dari kekurangan dan kerusakan juga suci dari segala indikasi sebagai yang baru (diciptakan), Dia Maha Dahulu tanpa adanya penciptaan dan pendahuluan.

Dan sesungguhnya Muḥammad s.a.w. adalah seorang hamba dan Rasūl-Nya yang benar dan tepercaya yang datang dengan membawa risalah dari Allah ta‘ala, kebenaran dan keorisinalan berita yang disampaikan melalui lisannya akan kehidupan akhirat adalah hak. Kemudian masalah-masalah yang terkait dengan syi‘ar sunah wajib Anda ketahui, janganlah Anda membuat bid‘ah dalam urusan agama Allah s.w.t. apabila perkara itu tidak dijelaskan di dalam al-Qur’ān, Sunah dan Atsar, agar Anda tidak berada dalam sebuah kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

Semua dalil-dalil Tauhid, pokoknya bersumber dari al-Qur’ān. Semuanya telah diterangkan oleh guru-guru kami di dalam kitab-kitab yang ditulisnya, mengenai pokok-pokok keagamaan (Ushūl-ud-Diyanāt). Walhasil, setiap hal yang membuat Anda merasa tidak aman dari kerusakan, karena ketidaktahuan, maka mengetahui ilmunya. Demikianlah, semoga Allah memberikan pertolongan dan taufiq kepada kita.

Kedua: Ilmu Sirri, atau ruang lingkup ilmu hati yang wajib Anda ketahui adalah mengetahui kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan bagi hati, sehingga Anda berhasil, benar-benar mengagungkan Allah, berlaku ikhlas kepada-Nya, niat dan amal Anda selamat. Semua ini, akan kami jelaskan di dalam kitab ini, insya Allah ‘azza wa jalla.

Ketiga: Ruang lingkup ilmu syari‘at yang wajib Anda ketahui segala ilmu yang memungkinkan bagi Anda untuk dapat melakukan kefardhuan yang wajib Anda lakukan, seperti bersuci (thahārah), shalat dan ilmu puasa. Sementara yang berkenaan dengan haji, zakat dan jihad, jika memang telah nyata Anda wajib melakukannya, maka Anda pun dituntut harus mengetahui ilmunya, agar Anda dapat melakukannya dengan benar, jika tidak, maka tidaklah wajib bagi Anda.

Inilah batasan atau ruang lingkup yang menjadi keharusan bagi seseorang untuk mengetahui ilmu akan sesuatu yang fardhu, agar ia memiliki ilmunya dan dapat menunaikan hal itu dengan yang semestinya.

Jika Anda bertanya, apakah aku wajib mempelajari sesuatu dari ilmu tauhid yang dapat aku gunakan untuk menghancurkan semua agama-agama yang kafir, dan menanamkan hujjah Islam terhadap mereka, serta menghancurkan semua bentuk bid‘ah, lalu menanamkan argumentasi sunah kepada mereka.

Ketahuilah, sesungguhnya yang demikian itu adalah fardhu kifāyah. Yang pasti Anda berkewajiban membenahi dan membenarkan akidah Anda di dalam persoalan pokok-pokok agama (ushūluddīn), bukan yang lainnya.

Demikian pula, tidak menjadi keharusan bagi Anda untuk mengetahui cabang-cabang ilmu tauhid, kedalaman dan kerumitannya serta masalah-masalahnya secara detil dan terperinci. Ya, jika Anda menghadapi persoalan subhat, dalam pokok-pokok agama, sementara Anda takut hal itu akan mengotori i‘tikad dan keyakinan Anda, maka nyatalah bagi Anda keharusan untuk memperoleh solusi dan jawaban yang benar terhadap masalah yang membingungkan Anda itu, tanpa harus melewati perdebatan yang sengit, pembicaraan yang meluap-luap, karena hal itu akan mengundang penyakit yang tidak ada obatnya. Jagalah dan tahanlah diri Anda sekuat tenaga agar tidak melakukan dekat kusir, karena perdebatan semacam itu tidak akan menguntungkan, kecuali bila Allah menganugerahkan rahmat dan kehalusan kasih sayang-Nya.

Kemudian ketahuilah, sesungguhnya apabila di setiap daerah telah ada seorang da‘i dari golongan Ahlus Sunah yang memberikan penerangan dan penjelasan mengenai masalah-masalah yang tidak jelas dan membingungkan (syubhat) dan menghadapi ahli bid‘ah, dia memiliki kemampuan yang cukup dalam menangani masalah ini, sehingga dapat menjaga dan memelihara kemurnian ahli kebenaran dari gangguan ahli bid‘ah, maka gugurlah kewajiban bagi yang lainnya dalam menyelesaikan masalah tersebut, karena hukumnya adalah fardhu kifāyah.

Begitu pula, Anda tidak berkewajiban mengetahui secara mendalam ilmu sirri dan semua kejelasan akan keajaiban-keajaiban hati, kecuali hal-hal yang dapat merusak ibadah Anda. Terhadap hal-hal yang dapat merusak ibadah Anda, maka Anda berkewajiban untuk mengetahuinya, agar Anda dapat menjauhinya. Dan akan hal-hal yang menjadi keharusan bagi Anda untuk melakukannya, seperti ikhlas, memuji syukur, tawakal dan lain sebagainya, maka Anda harus mengetahuinya, agar Anda bisa merealisasikannya. Adapun yang selain itu, tidaklah wajib bagi Anda.

Demikian pula, Anda juga tidak berkewajiban mengetahui semua bab-bab dalam pembahasan ilmu fikih, seperti bab jual beli (buyū‘), sewa-menyewa, pernikahan, dan tindak pidana. Karena menguasai masing-masing dari semua itu adalah fardhu kifāyah.

Jika Anda bertanya, bahwa kadar pengetahuan akan ilmu tauhid yang demikian itu, apakah dapat dihasilkan melalui perenungan manusia tanpa melalui proses belajar dari guru?

Maka, ketahuilah bahwa kedudukan guru adalah sebagai pembuka dan orang yang mempermudah, proses menghasilkan ilmu tersebut bersama guru jauh akan lebih mudah dan lebih enak. Guru itu hanyalah sebagai perantara, berkat rahmat dan anugerah Allah, Dia menjadikan seseorang di antara para hamba-Nya, yang Dia kehendaki menjadi berilmu, sementara pada hakikatnya Dialah Allah s.w.t. sebagai gurunya.

Kemudian ketahuilah, bahwa tahapan ilmu ini merupakan tahapan yang sulit dan melelahkan. Tetapi melewati tahapan ini, dapat dihasilkan apa yang dimaksud dan dicita-citakan. Manfaatnya begitu besar, tetapi sulit menempuhnya dan besar pula resikonya, betapa banyak orang yang melaluinya, tetapi kemudian menyimpang; betapa banyak orang yang menempuhnya, namun tergelincir; betapa banyak orang yang kebingungan melaluinya, banyak pula yang terputus di tengah jalan dalam waktu yang singkat, akhirnya ia mondar-mandir pada tanjakan yang sulit ini selama tujuh puluh tahun. Semua perkaranya berpulang pada kekuasaan Allah s.w.t.

Adapun manfaat ilmu, sebagaimana yang telah kami kemukakan, merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi manusia, atau dasar untuk memenuhi kebutuhan semua perintah ibadah yang diperintahkan kepadanya, utamanya ilmu tauhid dan ilmu sirri (ilmu yang berkenaan dengan hati).

KITAB MINHAJUL ABIDIN BAB I TAHAPAN ILMU DAN MA’RIFAT ((Bagian 1)

(Bagian 1)


Oleh: Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali

Mengawali pembahasan pada tahap pertama jalan yang harus ditempuh orang-orang yang beribadah, yaitu Tahapan Ilmu, dengan memohon taufiq kepada Allah s.w.t. Selanjutnya, wahai orang yang menginginkan keselamatan dan hendak menempuh jalan ibadah, semoga Allah memberikan petunjuk dan ilmu kepada Anda, karena ilmu merupakan pangkal dan sumber segala kebaikan.
Ketahuilah, sesungguhnya ilmu dan ibadah adalah permata. Karena keduanya, Anda bisa melihat dan mendengar kitab-kitab karya tulis pada pengarang, pengajaran para pengajar, nasihat para penasihat dan pemikiran para pemikir. Bahkan karena ilmu dan ibadah diturunkan kitab-kitab suci dan diutuslah para utusan. Juga karena keduanya langit dan bumi serta segala makhluk yang ada padanya diciptakan. Renungkanlah dua ayat di dalam kitab suci al-Qur’ān berikut ini.
Pertama, firman Allah s.w.t.:
Artinya:
“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (ath-Thalāq: 12).
Cukuplah ayat ini sebagai dalil atas kemuliaan ilmu, utamanya ilmu tauhid. Sedangkan ayat yang kedua adalah firman Allah s.w.t.:
Artinya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (adz-Dzāriyāt: 56).

Dan ayat ini, cukuplah kiranya sebagai dalil atas kemuliaan ibadah dan keharusan untuk menunaikannya. Atas kemuliaan dan perkara itulah tujuan diciptakan dunia dan akhirat. Karenanya sudah semestinya bagi seorang hamba untuk tidak menyibukkan diri melainkan terfokus pada keduanya, tidak pula berpayah-payahan kecuali demi keduanya dan tidak pula berpikir kecuali berpikir dalam kerangka ilmu dan ibadah.
Ketahuilah, sesungguhnya segala perkara selain keduanya adalah batil, tidak ada kebaikan padanya, dan merupakan kesia-siaan yang tiada urgensinya. Ketika Anda telah mengetahui hal itu, maka ketahuilah bahwa ilmu adalah merupakan permata yang paling berharga dan mulia.
Oleh karena itulah, Nabi s.a.w. bersabda:
Artinya:
“Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah, sebagaimana keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara umatku.”

Dan Nabi s.a.w. bersabda:
Artinya:
“Sekali pandang terhadap wajah orang alim, lebih aku sukai daripada ibadah satu tahun, berupa puasa di siang hari dan menunaikan shalat malam di malam harinya.”

Nabi s.a.w. juga bersabda:
Artinya:
“Perhatikanlah, akan aku tunjukkan kepada Anda ahli surga yang paling mulia.” Para sahabat bertanya: “Ya, baiklah ya Rasūlullāh.” Beliau bersabda: “Mereka itu adalah para ulama dari umatku.”

Dengan demikian jelaslah bagi Anda sesungguhnya ilmu adalah permata yang lebih mulia daripada ibadah, tetapi merupakan keharusan bagi seorang hamba untuk menunaikan ibadah dengan didasari ilmu. Karena ilmu bagaikan posisi pohon, sementara ibadah menduduki kedudukan buah dan pohon itu. Maka keutamaan ada pada pohon karena ia merupakan asal atau pokok, tetapi pemanfaatan yang dihasilkan, didapatkan dari buahnya. Karenanya, seorang hamba harus memiliki keduanya. Ilmu dan ibadah dengan baik dan benar.
Oleh sebab itu Ḥasan Bashrī berkata: “Tuntutlah ilmu tanpa mengesampingkan aspek ibadah dan beribadahlah tanpa mengesampingkan aspek ilmu.”

Ketika ilmu dan ibadah menjadi keharusan bagi seorang hamba, maka terlebih dahulu yang harus diprioritaskan penguasaannya adalah ilmu, karena ia merupakan dasar dan petunjuk dalam menjalankan ibadah. Karenanya, Nabi s.a.w. bersabda:
Artinya:
“Ilmu adalah imam (pemimpin) bagi amal, sedangkan amal mengikutinya.”

Ilmu menjadi pokok yang harus dijadikan panduan, maka menjadi keharusan bagi Anda untuk mendahulukannya daripada ibadah, karena dua alasan, yaitu:
Pertama: Agar ibadah Anda membuahkan hasil dan selamat, maka terlebih dahulu Anda wajib mengetahui siapa yang disembah. Barulah kemudian Anda menyembah-Nya. Bagaimana mungkin Anda menyembah seseorang (tuhan) yang tidak Anda ketahui asma dan sifat-sifat zatnya, apa sifat wajib dan apa pula yang mustahil baginya. Bisa jadi Anda meyakini tuhan yang Anda sembah itu dengan suatu sifat yang bertentangan dengan yang semestinya, sehingga mengakibatkan ibadah Anda sia-sia belaka.

Kami telah menerangkan hal yang mengandung kekhawatiran yang amat besar semacam itu, di dalam penjelasan kami tentang makna “sū’-ul-khātimah” pada bab “Al-Khauf” di dalam kitab Iḥyā’ Ulūmiddīn.

Selanjutnya, Anda harus mengetahui kewajiban-kewajiban syari‘at yang wajib Anda lakukan, dengan cara yang semestinya sebagaimana yang diperintahkan kepada Anda untuk melakukannya. Dan Anda juga harus mengetahui larangan-larangan syari‘at yang wajib Anda tinggalkan. Jika tidak, bagaimana bisa Anda melakukan ketaatan, sementara Anda tidak mengetahui ketaatan-ketaatan itu, dan apa yang harus ditaati dan bagaimana cara Anda melakukan ketaatan? Dan bagaimana pula Anda bisa menjauhi kemaksiatan, sementara Anda tidak mengetahui bahwa ia adalah kemaksiatan, sehingga Anda tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan.
Ibadah-ibadah yang diperintahkan menurut syari‘at Islam itu, seperti bersuci, shalat, puasa dan kewajiban-kewajiban lain yang harus Anda ketahui hukum-hukum dan syarat-syaratnya, sehingga Anda dapat menunaikannya secara benar.
Adalah mungkin, Anda telah melakukan sesuatu bertahun-tahun dan sepanjang waktu, ternyata apa yang Anda lakukan itu membatalkan thahārah (kesucian) dan shalat Anda, serta menjadikan keduanya keluar dari koridor sunah yang telah ditetapkan secara syar‘i, sementara Anda tidak mengetahuinya. Mungkin Anda menemukan suatu masalah, sedangkan Anda tidak menemukan orang yang dapat Anda tanyai mengenai persoalan itu, padahal Anda tidak mengetahui hukumnya.

Hal yang sama dalam persoalan ini, dalam aspek ibadah secara batin yang terjadi di dalam hati yang harus Anda ketahui, seperti tawakal, berserah diri, ridha, sabar, tobat, ikhlas dan lain sebagainya yang akan kami jelaskan kemudian, in syā’ Allāh.

Dan Anda juga wajib mengetahui masalah-masalah larangan batin yang menjadi kebalikan dari hal tersebut, seperti marah, lamunan, riya’, sombong dan lain sebagainya yang harus Anda jauhi. Terhadap hal-hal yang fardhu Allah telah menetapkan perintah agar dijalankan. Dan melarang yang sebaliknya. Sebagaimana yang disebutkan di dalam al-Qur’ān dan hadits Nabi s.a.w.
Allah s.w.t. berfirman:
Artinya:
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (al-Mā’idah: 23)

Dan firman Allah s.w.t.:
Artinya:
“Dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya saja kamu menyembah.” (al-Baqarah: 172)

Dan firman Allah s.w.t.:
Artinya:
“Bersabarlah (hai Muḥammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (an-Naḥl: 127)

Dan firman Allah s.w.t.:
Artinya:
“Dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (al-Muzzammil: 8)

Yakni, beribadahlah kepada-Nya dengan penuh keikhlasan.
Dan ayat-ayat yang lain, seperti nash yang menjelaskan tentang perintah shalat, puasa. Bagaimana halnya dengan sikap Anda yang menerima perintah shalat dan puasa, sementara Anda meninggalkan kefardhuan-kefardhuan yang lain (seperti perintah tawakal, sabar, ikhlas dan lain sebagainya). Padahal perintah itu semuanya dari Tuhan yang sama, yaitu Tuhan Yang Maha Esa (Allah), melalui kitab yang sama (al-Qur’ān).

Bahkan Anda cenderung melalaikan perintah yang berkaitan dengan perlakuan hati, sehingga Anda tidak mengetahui sesuatu pun daripadanya, karena Anda terkecoh dengan omongan orang-orang yang menggebu-gebu kecintaannya terhadap dunia, yang membuat pandangannya menjadi terbalik, di mana yang baik dinyatakan mungkar dan yang mungkar dipandang baik.

Barang siapa yang meremehkan ilmu yang oleh Allah di dalam al-Qur’ān dinamakan sebagai cahaya (nūr), hikmah dan petunjuk, lalu menghadapkan diri pada aktivitas dan usaha yang haram, berarti ia memburu pembakaran api yang menyala-nyala (neraka).
Wahai orang yang menginginkan petunjuk, tidakkah Anda takut menyia-nyiakan sebagian kewajiban atau bahkan sebagian besar dari kewajiban-kewajiban? Sementara Anda sibuk melakukan shalat dan puasa sunah, maka Anda pun tidak memperoleh suatu apapun.
Mungkin juga Anda bersikap ceroboh melakukan kemaksiatan yang menyebabkan Anda masuk ke dalam neraka, sementara di sisi lain Anda meninggalkan hal-hal yang mubah, seperti makan, minum atau tidur dengan alasan untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka jadilah Anda tidak mendapatkan sesuatu apapun.
Dan yang lebih parah dari itu semua adalah Anda memanjangkan lamunan sesuatu yang tidak patut, padahal lamunan semacam itu adalah murni kemaksiatan, sementara Anda menduganya sebagai niat yang baik, karena kebodohan Anda untuk dapat membedakan antara lamunan dan niat baik, yang pada sebagian perkara batas antara keduanya memang tipis.
Demikian pula halnya dengan sikap Anda, yang mengeluh dan membenci (protes) terhadap qadha Allah, sementara Anda menduganya hal itu sebagai sikap mendekatkan diri dan merendahkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla.

Dan terkadang Anda bersikap riya’ anshiḥ (riya’ dalam memberi nasihat), sementara Anda mengira sebagai bentuk pujian Anda kepada Allah s.w.t. atau ajakan terhadap manusia pada kebaikan. Anda pun menghitung-hitung kemaksiatan itu, sebagai ketaatan kepada Allah, dan mengira memperoleh pahala yang besar di tempat-tempat sumbernya siksaan. Jika demikian, sungguh Anda berada dalam ketertipuan yang besar dan kelalaian yang keji. Sungguh hal ini, merupakan musibah dan petaka yang sangat tragis bagi orang-orang yang beramal tanpa ilmu.
Di samping itu, sesungguhnya aktivitas ibadah lahiriyyah itu, memiliki hubungan secara batin yang bisa memperbaiki atau merusaknya, seperti ikhlas, riya’, sombong, menghitung-hitung kebaikan pada orang lain (undat-undat) dan lain sebagainya. Barang siapa yang tidak mengetahui persoalan aktivitas batin dan pengaruhnya terhadap amal lahir, dan bagaimana memelihara amal-amal lahir dari keburukan perbuatan batin, maka kecil kemungkinan amal lahirnya selamat, sehingga ia harus kehilangan pahala ketaatan secara lahir dan batin, maka yang tersisa di tangannya hanyalah kecelakaan dan kecemaran. Inilah suatu kerugian yang amat nyata.

Rasūlullāh s.a.w. bersabda menjelaskan tentang keutamaan orang yang berilmu, sebagai berikut:
Artinya:
“Tidur dengan didasari atas ilmu lebih baik daripada ibadah secara bodoh (tanpa didasari ilmu).”

Karena sesungguhnya orang yang beramal tanpa didasari ilmu, lebih banyak merusak amalnya daripada membaguskannya. Rasūlullāh s.a.w. bersabda:
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beruntung diilhami dengan ilmu, dan orang-orang yang celaka dihalangi dari ilmu.”

Hadis tersebut mengandung makna, bahwa ilmu itu adalah milik Allah. Dialah yang akan memberikan ilham berupa ilmu kepada seseorang atau sebaliknya. Tetapi kecelakaan seseorang disebabkan karena ia tidak mau belajar, dia berlelah-lelah melakukan ibadah tanpa didasari ilmu hingga menyimpang dari yang semestinya, maka tidaklah berarti ibadah yang dilakukan itu, melainkan hanyalah mendapatkan kepenatan dan kelelahan saja. Semoga Allah melindungi kita dari ilmu dan amal yang tidak bermanfaat.
Oleh sebab itu, para ulama yang zuhud dan mengamalkan ilmunya menaruh perhatian yang sangat besar terhadap ilmu dan mengajarkannya kepada manusia. Karena ilmu merupakan poros atau sumbu ibadah dan kekuatannya dalam berkhidmat kepada Allah Tuhan semesta alam. Demikianlah pandangan orang-orang yang berilmu dan berpikir serta mendapatkan petunjuk.
Ketika hal yang demikian itu, telah jelas bagi Anda, bahwa kebaktian seorang hamba tidak akan membuahkan hasil dan selamat kecuali dengan ilmu, maka menjadi keharusan bagi Anda untuk mendahulukan ilmu sebelum beribadah.

KITAB MIHAJUL ABIDIN IMAM AL GHAZALI PENDAHULUAN DAN DAFTAR ISI

KITAB MIHAJUL ABIDIN IMAM AL GHAZALI 

PENDAHULUAN DAN DAFTAR ISI


Oleh: Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali

Segala puji tetap bagi Allah SWT. Yang penuh Hikmah, Pemurah, MuLlia, Penyayang , Tuhan yang menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, d an yang menciptakan langit dengan Kudrat-Nya, Mengatur segala urusan dengan Hikmat-Nya, dan tiada Ia menciptakan jin dan manusia melainkan untuk ibadah kepada-Nya.
Jadi, jalan kepada-Nya jelas bagi siapa yang bermaksud, begitu pula bukti yang menunjuk kepada-Nya bagi siapa yang berfikir, namun Allah jua menyesatkan siapa yang ditakdirkan-Nya sesat, dan Ia Pula memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, karena Ia lebih tahu akan orang–orang yang beroleh hidayah.
Semoga sholawat serta salam melimpah atas penghulu segala Rosul beserta keluarganya yang baik-baik lagi suci, semoga Alah SWT. Menyelamatkan dan memuliakan mereka hingga hari pembalasan.


Ketahuilah, saudara-saudaraku semoga Allah membahagiakan anda dan aku dengan keridoan-Nya, bahwa ibadah itu adalah buah dari ilmu, faedah dari umur, hasil usaha dari hamba-hamba Allah yang kuat-kuat, berang berharga dari para aulia, jalan yang ditempuh oelh mereka yang bertaqwa, bagian untuk mereka yang mulia. Tujuan dari orang-orang yang berhimmah, syiar dari goloongan terhormat, pekerjaan dari orang-orang yang berani berkata jujur, pilihan dari mereka yang waspada, jalan menuju surga.


Allah SWT. Berfirman:


“ dan Aku Tuhan kamu sekalian, berbaktilah kepada-Ku”
dalam firman lainya

 “ ini adalah ganjaran bagi kamu, atas usaha kamu yang bersyukur”

hal ibadah telah cukup kami pikirkan, telah pula kami teliti jalanya dari awal hingga tujuan akhirnya yang diidam-idamkan oleh para penempuhnya. Ternyata suatu jalan yang amat sukar, banyak tanjakan-tanjakan (pendakian-pendakiannya), sangat payah, dan jauh perjalanannya, besar bahayanya, tidak sedikit pula halangan dan rintangannya, samar dimana tempat celaka dan akan binasa, banyak lawan dan penyamun, sedikit teman dan penolongnya.
Memang seharusnya begitu, sebab ibadah itu ialah jalan ke surga, jadi semua ini sesuai dengan sabda Rosulullah SAW.

“ Perhatikanlah surga itu dikepung oleh segala macam kesukaran sedangkan neraka dikelilingi oleh segala hal yang menarik.”

Rosulullah bersabda pula,:

 “ Perhatikan jalan kesorga itu penuh rintangan dan menanjak sedangkan jalan keneraka itu mudah dan rata.”

Semua itu ditambah dengan kenyataan bahwa manusia itu lemah, sedangkan jaman sudah payah, urusan agama mundur, kesempatan kurang, banyak tugas, umur pendek , penguji amat teliti, ajal dekat, perjalanan jauh, taat satu-satunya jadi bekal, karena itu harus taat, tidak dapat tiada.
Namun waktu telah berlalu, tak dapat dipanggil kembali, pendeknya siapa yang taat, dialah yang beruntung, bahagia selama-lamanya. Tetapi siapa yang tidak mau taat, maka rugi dan celakalah dia.
Kalau begitu soalnya sulit dan bahayanya besar, karena itulah maka jarang sekali orang yang memilih jalan ini, diantara yang telah memillihnyapun jarang sekali yang benar-benar menempuhnya.
Diantara yang menempuhnya juga jarang pula yang sampai kepada tujuannya dan berhasil mencapai apa yang dikejarnya. Mereka yang berhasil itulah orang-orang mulia pilihan Allah SWT. Untuk ma’rifat dan mahabbah kepada-Nya. Diberinya taufik dan pemeliharaan terhadap mereka, dan disampaika-Nya dengan penuh karunia kepada keridoan-Nya.
Kita bermohon semoga Allah SWT. Memasukan kita kedalam golongan yang beruntung dengan memperoleh rahmat-Nya.
Oleh karena kami lihat jalan kearah ini begitu keadaannya, kamipun berpikir dan merenungkan bagai mana cara menampuhnya, alat dan perlangkapan apa yang diperlukan si penempunhnya, dengan ilmu dan amal, mudah-mudahan saja ia dapat menempuhnya dengan taufik Ilahi dalam keadan selamat, tidak terhenti dalam tanjakan-tanjakannya sehingga patah disitu dan masuk golongan yang celaka binasa, na’uzubillah.
Itulah sebabnya maka kami berusaha menyusun beberapa kitab tentang jalan kearah itu dan cara menempuhnya, seperti antara lain kitab Ihya, Al Qurbah dsb, akan tetapi , kitab-kitab tersebut banyak mengandung soal-soal yang halus, mendalam sekali, sukar untuk dimengerti oleh kebanyakan orang, sehingga akhirnya mereka benci dan mencela, mengecam apa saja yang mereka belum paham dalam-kitab-kitab tersebut.
Namaun kita tidak harus heran, karena kitab mana yang lebih mulia dan lebih baik dari Al Qur’an, tetapi kitab suci tersebut masih saja dicela oleh orang-orang yang tidak mau menerima, mereka katakan hanya dongengan-dongengan kuno belaka.


Zainal Abidin, Ali bin Ali bin Abu Tholib r. a pernah berkata:

“diantara ilmu-ilmuku, johar mutu manikamnya kusembuyikan, agar tiada terlihat orang yang tidak mampu, karena akhirnya ia akan tersesat.


Hal ini memang telah dipesankan oleh Abu Hasan kepada Husain dan Hasan. Karena terkadang ada johar ilmu yang kalau dibuka tabirnya pasti ada orang yang akan menuduh aku musyrik, dan menghalalkan jiwaku untuk dibunuh, karena dikiranya perbuatan keji itu suatu amal yang baik.”

Keadaan seperti itu menuntut para ulama agar memandang mereka dengan rasa belas kasih, tidak berbantah-bantahan.
Karena itu, lalu aku bermohon kepada Allah Swt. Minta diberi-Nya taufik agat dapat menyusun sebuah kitab yang cocok bagi mereka. Permohonanku itu diluluskan-Nya, diilhami-Nya sehingga dapat mengarang sebuah kitab dengan suatu susunan yang indah, belum pernah kudapat dalam karangan-karanganku sebelumnya, kitab baru itu, ialah (kitab minhajul A’bidin) yang kusajikan sekarang ini.
Adapun hamba Allah itu bila mulai bangun dan ingat untuk ibadah, ia tajarrud dengan membulatkan hati menempuh jalan ibadah, mula-mula ialah karena ada suatu lintasan dihatinya yang suci. Itu adalah pemberian dari Allah Swt. Dengan taufik yang khusus dari Dia, dan ini adalah yang dimaksud dengan firman Allah :

“apakah orang yang dilapangkan dadanya oleh Allah untuk menerima Islam, ia dikarunia Allah dengan suatu nur (apakah dia itu lebih baik atau tidak?)dan telah diisyaratkan pula hal tadi oleh Rosulullah Saw.
Sabda beliau :


“ Nur itu apabila sudah masuk dihati manusia, menjadi lapang dan menjadi lega hatinya.”


Disini ada yang bertanya kepada Rosulullah :


“ Ya Rosulullah, ! apa yang seperti itu ada tandanya sampai bisa diketahui tanda itu?”jawab beliau:

 “ Ada tandanya, yaitu menjauhkan diri dari negri palsu (dunia) dan kembali ke negri kelanggengan serta bersiap untuk mati sebelum mati.”


Apabila hal ini terlintas di hati seseorang maka mula-mula ia akan berkata (kepada dirinya) :
“ Oh ! aku sekarang merasa bahwa diriku ini dikaruniai dengan bermacam-macam kenikmatan oleh Allah, seperti nikmat hidup, nikmat mempunyai sifat kudrat (kekuasan) bisa berbuat apa-apa, bisa berfikir, bisa bicara, dan hal yang mullia lainnya, dan ada padaku kenikmatan, kesenangan, disamping selamatnya aku dari bermacam-maccam ujian dan musibah, banyak musibah yang terhindar dari aku dan aku tahu seemua ini ada pemberinya yang menuntut supaya aku bersyukur kepada-Nya, dan berhidmat kepadanya, dan apabila aku lalai, lupa, tidak bersyukur dan tidak berhidmat, pasti dia akan hilangkan nikmat-Nya dan pasti aku diberi hukkuman dan balasan, dan dia sudah mengutus kepadaku seorang Rosul ( namanya : Muhammad Saw.) dia menndukung rosul itu dan menguatkannya dengan mu’jizat yang luar biasa, diluar kemampuan mannusia..


Rosul itu memberitakan kepadaku bahwa aku hanya mempunyai satu Tuhan yang Maha Mulia, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Hidup, Maha Berkehendak, Berbicara, Menyurh, Melarang dan Kuasa Menghukum apabila aku durhaka kepada-Nya dan Ia akan mamberi ganjaran apabila aku taat kepada-Nya, Dia tahu segala rahasiaku, dan tahu apa saja yang terlintas dipikiranku, dan Dia sudah menjanjikan sesuatu, dan Dia telah memerintahkan agar aku taat pada hukum-hukum syari’at.
Apabila seseorang sudah berkata begitu dihatinya dia itu faham bahwa ini mungkin, tidak mustahil, ia dengar berita-berita dari

Rosulullah S.A.W (melalui ulama-ulama yang menyampaikan kepadanya) Ia berkata dihatinya :
“ ini mungkin, tidak mustahil, tidak ada kemustahilan bagi yang demikian itu dalam akal, sepintas lalu saja sudah bisa dimengerti. “


disini dia kuatir tentang nasib dirinya karena rasa takut.
Ini namanya lintasan hati yang membawanya takut tetapi engkau sudah mengerti sekarang engkau terikat.
Untuk memutuskan diri daripadanya, tidak ada alasan, apalagi unutk berayal-ayalan, sehingga mendorong dia dengan keras untuk berfikir tetapi berusaha dan mencari jalan keselamatan, bagaimana? Dia ketakutan, bagaimana supaya merasa aman dari apa yang sudah masuk dihatinya atau yang sudah didengar oleh telinganya sendiri?


Tidak ada jalan lain lagi dihadapannya selain dengan otaknya yang sehat, memikirkan dan mencari bukti.
Mula-mula terhadap adanya buatan yang menunjukan adanya si pembuat, adanya alam semesta, ini juga buatan, yang menunjukan adanya si pembuat, yaitu Allah SWT. Agar ada baginya ilmu yakin dan tidak syak wasangka lagi akan hal-hal yang ghaib. Benar, Allah itu tidak dapat dilihat, tetapi bukti akan perbuatannya, yaitu alam semesta yang indah dan unik, yang menandakan adanya Allah.


Disini dia akan yakin bahwa memeng dia mempunyai Tuhan yang memerintah dan melarangnya.


Inilah tanjakan yang pertama, pendakian yang pertama, yang dihadapinya dalam perjalanan ibadah. Yaitu tanjakan ILMU & MA’RIFAT.



DAFTAR ISI:

VII  Tahapan

Pendahuluan

BAB I : Tahapan Pertama: ILMU DAN MAKRIFAT

BAB II : Tahapan Kedua: T O B A T

BAB  III: Tahapan Keempat: KENDALA-KENDALA DI JALAN IBADAH  

BAB  IV: Tahapan Ketiga: GODAAN-GODAAN                  

BAB  V :  Tahapan Kelima: DORONGAN DAN MOTIVASI

BAB VI : Tahapan Keenam: MENGHINDARI PERUSAK IBADAH

BAB  VII : Tahapan Ketujuh : PUJIAN DAN SYUKUR