Tingkat-tingkat
Iman (Imam Al-Ghazali):
• Iman Awami: letaknya di lisan.
• Iman Mutakalimin: didukung dengan
hujjah.
• Iman ‘Arifin (Nur Iman): Cahaya Allah
yang memancar di qalb orang yang Allah kehendaki bersih dari segala sesuatu
yang tidak disukai-Nya (dosa).
Jenis iman berupa cahaya Allah inilah
hakikat iman yang sebenarnya. Dan hanya iman jenis ini saja yang akan dibicarakan
dalam pembahasan-pembahasan selanjutnya. Asma dari Allah yang segera dapat
terlihat di sini, antara lain, adalah: al-Ghafur (Maha-Pengampun), al-Rahiim
(Maha-Rahim), al-Rahman (Maha-Rahman), al-Nuur (Maha-Cahaya), al-Mu’miin
(Maha-Memiliki-Keimanan).
Iman
Cahaya
Allah menyatakan bahwa Dia merupakan Wali
(pengayom, pelindung) bagi mereka yang beriman:
“Allah wali orang-orang beriman. Dia
mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya, …”1
Cahaya merupakan lawan dari kegelapan:
“… dan Allah mengeluarkan orang-orang
itu dari gelap-gulita kepada cahaya dengan seizin-Nya
dan menunjuki mereka kepada shirath al-mustaqiim”2
“… supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan menuju cahaya …”3
“… Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang
Dia kehendaki …”4
Adalah Allah, An-Nuur yang
merupakan Cahaya bagi lelangit dan bumi, tiada sumber cahaya lain:
“… barangsiapa tidak diciptakan baginya
cahaya oleh Allah maka tiada baginya cahaya sedikitpun.”5
Cahaya keimanan merupakan
sesuatu yang terus dibawa ketika nafs melakukan perjalanan menembus berbagai
alam. Inilah cahaya yang “bersinar di hadapan mereka”:
“… pada hari ketika kamu melihat orang
beriman laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan
di sebelah kanan mereka …”6
“Dan apakah orang yang sudah mati
kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang
dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah manusia, serupa dengan
orang yang keadaannya berada dalam gelap-gulita yang sekali-kali tidak dapat
keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang-orang al-kafiriin itu
memandang baik apa yang mereka lakukan.”7
Pada sebuah haditsnya dengan seorang
sahabat anshar, Haritsah r.a., Rasulullah s.a.w. menerangkan tentang keimanan
berupa cahaya atau ‘iman billah ini:
Suatu ketika Rasulullah s.a.w. sedang
berjalan-jalan. Beliau bertemu dengan seorang sahabat Anshar bernama Haritsah.
Rasulullah s.a.w. bertanya, “Bagaimana keadaanmu, yaa Haritsah?” Haritsah
menjawab, “Hamba sekarang benar-benar menjadi seorang mukmin billah.”
Rasulullah menjawab, “Yaa Haritsah, pikirkanlah dahulu apa yang engkau ucapkan
itu, setiap ucapan itu harus dibuktikan …!” Haritsah menjawab, “Yaa Rasulullah,
hawa-nafsu telah menyingkir, kalau malam tiba hamba berjaga untuk beribadah
kepada Allah SWT, dan di waktu siang-hari hamba berpuasa… Sekarang ini hamba
dapat melihat al-‘Arsy Allah tampak dengan jelas di depan hamba… Hamba dapat
melihat orang-orang di al-Jannah saling kunjung-mengunjungi. Hamba dapat
melihat penghuni an-Naar berteriak-teriak …” Maka Rasulullah s.a.w. berkata,
“Engkau menjadi orang yang imannya dinyatakan dengan terang oleh Allah SWT
di-qalb-mu.”8
Tempat Iman Cahaya itu di Qalb
Ayat berikut ini menjelaskan bahwa iman
itu bukan sekedar pernyataan di lisan seseorang, melainkan apa yang Allah
berkenan untuk dilimpahkan-Nya kepada qalb seseorang.
Orang-orang Arab Badwi berkata, “Kami
telah beriman.”Katakanlah, “Kalian belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah
berserah diri’ (aslamna), karena iman itu belum masuk ke dalam qulub kalian,
dan jika kalian ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi
(pahala) amal-amal kalian sedikitpun. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.” 9
Maka apakah orang-orang yang dibuka
Allah shudur-nya untuk berserah diri lalu ia mendapat nuur dari Rabb-nya (sama
dengan orang yang membatu hatinya?) Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka
yang telah membatu qalb-nya untuk dzikril’lah (mengingat Allah). Mereka itu
dalam kesesatan yang nyata. 10
Pembukaan dada untuk berserah diri yang
kemudiaan diikuti dengan pencahayaan oleh Allah An-Nuur itu memperlihatkan
proses pengimanan awal, yang dijelaskan tanda-tandanya oleh Rasulullah s.a.w.
berikut ini:
Tatkala Rasulullah s.a.w. membaca
firman Allah Ta’ala: “Barangsiapa dikehendaki Allah memberi petunjuk kepadanya,
niscaya dibuka-Nya shudur orang itu untuk berserah diri…” 11
Lalu bertanya seseorang kepada Nabi
s.a.w., “Apakah pembukaan itu?”
Nabi s.a.w. menjawab, “Sesungguhnya
cahaya (nuur) itu apabila diletakkan dalam qalb, maka terbukalah dada (shudur)
menerima cahaya tersebut dengan seluas-luasnya.” Berkata lagi orang itu,
“Adakah tanda-tandanya?” Nabi s.a.w. menjawab, “Ya, ada! Merenggangkan diri
dari negeri tipu daya, kembali ke negeri kekal dan bersedia untuk mati sebelum
datangnya mati.” 12
Keberhasilan proses pensucian nafs pada
tingkatan-tingkatan berikutnya kemudian diikuti dengan pelimpahan-pelimpahan
cahaya keimanan yang lebih lanjut:
“… Allah menjadikan kamu cinta kepada
keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam qalb-mu …”13
“… agar bertambah keimanan mereka
bersama keimanan yang telah ada …” 14
Pengimanan paripurna yang Allah
anugerahkan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tergolong mereka yang
dikasihi-Nya, ditandai dengan ayat berikut:
“… mereka itulah orang-orang yang telah
dituliskan dalam qulub mereka al-‘Iman.”15
Hanya qalb-lah satu-satunya perangkat
pada manusia yang dapat menerima pencahayaan pengimanan, sebagaimana dirumuskan
dalan Hadits Qudsi yang terkenal ini:
“… tidak cukup untuk-Ku bumi-Ku dan
langit-Ku, tetapi yang cukup bagi-Ku hanyalah qalb hamba-Ku yang mukmin.”16
Qalb yang diterangi cahaya iman itu
terang bagaikan rembulan. Sehingga mulai tampaklah langit (samaai’ = nafs =
jiwa), dan permukaan bumi (ardh = jasad).
Fungsi
Iman
• Sebagai sarana diturunkannya petunjuk
(hudan).
“… dan barangsiapa yang beriman billah,
niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada qalb-nya …”17
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman
dan beramal-shaleh diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanan mereka …”18
“… dan sesungguhnya Allah
Pemberi-petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada shiraath al-mustaqiim.”19
• Melalui iman cahaya Allah mengajarkan
kebenaran ayat-ayat-Nya (baik yang qur’aniyah maupun yang kauniyah) kepada
hamba-hamba yang dikehendaki-Nya, sehingga ia dapat menyaksikan kerajaan langit
(alam malakut atau alam jiwa), menyaksikan ayat-ayat Allah tanpa terbatasi
ruang dan waktu, dengan seizin-Nya; serta dapat memahami pelik-pelik dan
hakikat-hakikat agama dengan penuh keyakinan.
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka
ayat-ayat Kami di dalam segenap ufuk dan di dalam diri mereka sendiri, sampai
jelaslah bagi mereka bahwa itu adalah al-Haqq.”20
“Sebenarnya itu adalah ayat-ayat yang
nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu …”21
“Tidak menyentuhnya melainkan yang
disucikan (al-muthaharuun)”22
• Dengan bantuan cahaya-cahaya-Nya
Allah memperkenalkan Diri-Nya, dan memperlihatkan cahaya-cahaya kesucian,
sehingga seorang mukmin dapat ma’rifat kepada-Nya serta beriman kepada utusan-utusan
(rasul-rasul)-Nya.
“Dan orang-orang yang beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya, mereka itulah para shiddiqiin dan syuhada di sisi Rabb
mereka …”23
Bagaimana peran iman cahaya ini dalam
menerima dan menyikapi apa-apa yang Allah turunkan dilukiskan dalam uraian
seorang sahabat, Ibnu Umar r.a., berikut ini:
“Kita telah hidup sekejap mata. Ada
diantara kita memperoleh iman sebelum Al-Qur'an, lalu turunlah surat Al-Qur'an
itu. Maka dipelajarinya lah yang halal dan yang haram, yang disuruh dan yang
dilarang, dan apa yang dia harus berhenti sampai di situ. Aku sudah melihat
beberapa orang. Salah seorang diantara mereka didatangkan Al-Qur'an sebelum
iman, maka dibacanya lah semuanya, dari permulaan sampai ke penghabisan Kitab
Suci, dengan tidak diketahuinya apa penyuruhnya dan apa pelarangnya. Dan apa
yang seyogyanya dia berhenti padanya. Maka dihamburkannya apa yang dibacanya
itu seperti menghamburkan kurma busuk.”
“Adalah kami para sahabat Nabi s.a.w.
diberikan kepada kami iman sebelum Al-Qur'an. Dan akan datang sesudah kamu,
suatu kaum yang diberikan Al-Qur'an sebelum iman. Mereka menegakkan huruf-huruf
Al-Qur'an dan menyia-nyiakan batas-batas dan hak-hak dari Al-Qur'an, dengan
mengatakan: ‘Kami sudah baca, siapakah yang lebih banyak membaca daripada kami?
Kami sudah tahu, siapakah yang lebih tahu daripada kami?’ Maka begitulah nasib
mereka.”24
Sekilas
Mengenai Petunjuk
Salah satu asma Allah adalah Al-Hadi
(Yang Maha Menunjuki). Petunjuk ini merupakan faktor yang memilah manusia
menjadi golongan yang beruntung dan yang merugi.
“Barangsiapa mendapat petunjuk Allah
maka dialah yang menerima petunjuk (al-muhtadi), dan barangsiapa yang
disesatkan Allah maka merekalah orang-orang yang merugi (al-khasiruun).”25
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka
mendapat petunjuk, tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang
dikehendaki-Nya …”26
“… sesungguhnya petunjuk Allah adalah
petunjuk yang benar …”27
“…barangsiapa mendapat petunjuk, maka
sesungguhnya itu bagi kebaikan diri (nafs)-nya sendiri, dan barangsiapa sesat
maka itu mencelakakan dirinya sendiri …”28
“Dan barangsiapa ditunjuki Allah maka
dialah al-muhtadi, dan barangsiapa Dia sesatkan maka sekali-kali kamu tidak
akan mendapat penolong bagi mereka selain dari Dia …”29
Persoalan petunjuk ini merupakan
sesuatu yang sangat penting dan diwartakan untuk menjadi pegangan sedari awal
sejarah manusia di Bumi, sebagaimana dijelaskan dalam ayat yang turun kepada
penghulu manusia, Adam a.s. ini:
“Katakanlah, turunlah kalian berdua
bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika
datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia
tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”30
“… barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku,
niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula bersedih-hati.”31
“Mereka itulah yang tetap atasnya
mendapat petunjuk dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang
beruntung.”32
CATATAN
1. QS Al Baqarah [2]: 257.
2. QS Al Maai-dah [5]: 16.
3. QS Al Ahzab [33]: 43.
4. QS An Nuur [24]: 35.
5. QS An Nuur [24]: 40.
6. QS Al Hadiid [57]: 22.
7. QS Al An’aam [6]: 122.
8. Hadist Nabi s.a.w.
9. QS Al-Hujurat[49]: 14.
10. QS Az-Zumar [39]: 22.
11. QS Al-An’am[6]: 125.
12. Hadits Nabi s.a.w. Ihya’ Ulumiddin
jilid I hal. 287.
13. QS Al-Hujurat [49]: 7.
14. QS Al-Fat-h [48]: 4.
15. QS Al Mujaadilah [58]: 22.
16. Hadits Qudsi.
17. QS At Taghaabun [64]: 11.
18. QS Yunus [10]: 9.
19. QS Al Hajj [22]: 54.
20. QS Fushshilat [41]: 53.
21. QS Al Ankabuut [29]: 49.
22. QS Al Waaqi’ah [56]: 79.
23. QS Al Hadiid [57]: 19.
24. Ihya ‘Ulumiddin jilid I, h. 285 –
286.
25. Al A’raaf [7]: 178.
26. QS Al Baqarah [2]: 272.
27. QS Al Baqarah [2]: 120.
28. QS Yunus [10]: 108.
29. QS Al Israa’ [17]: 97.
30. QS Thaahaa [20]: 123.
31. QS Al Baqarah [2]: 38.
32. QS Al Baqarah [2]: 5.