Catatan Popular

Sabtu, 11 April 2020

KISAH IKTIBAR IDRIES SHAH : Putri yang Tidak Patuh



Konon, ada seorang raja yang berpikir bahwa semua pengetahuan dan keyakinannya adalah benar tanpa salah. Dalam banyak hal ia menunjukkan dirinya adil, tetapi ia juga seorang yang terbatas pikirannya.
Suatu hari berkatalah raja kepada ketiga putrinya:
"Segala milikku adalah milik kalian juga, atau akan jadi milik kalian. Dari aku, kalian memperoleh kemakmuran. Akulah yang menentukan masa depan kalian, dan pada gilirannya nasib kalian."
Dua dari tiga putri itu patuh dan setuju saja akan ucapan raja mereka.
Tetapi, putri ketiga berkata:
"Betapa pun situasi menuntutku untuk selalu taat pada hukum, ananda tidak bisa menerima bahwa nasib ananda harus senantiasa ditentukan oleh kehendak Yang Mulia Raja".
"Begitukah? Mari kita lihat saja," kata sang raja.
Raja mengurungnya dalam sebuah sel sempit, dan putri itu merana di sana selama bertahun-tahun. Sementara itu, sang raja dan kedua putrinya yang patuh menghambur-hamburkan bagian kekayaan yang dulunya diperuntukkan bagi putri ketiga itu.
Raja berkata kepada dirinya sendiri :
"Anak ini dipenjara bukan atas kehendaknya, melainkan kehendakku. Itu buktinya bahwa nasibnya diatur oleh kemauanku, bukan kemauannya."
Penduduk negeri itu, begitu mendengar keadaan putri raja yang dipenjara, berkata satu kepada yang lain:
"Tuan Putri pasti telah melakukan atau mengucapkan sesuatu yang salah sehingga Sang Raja, yang adalah hukum di negeri ini, tega menindak darah dagingnya sendiri sedemikian kejamnya." Sebab bangsa itu belum sampai pada pemahaman bahwa mereka perlu membantah kepongahan raja yang merasa dirinya benar dalam segala sesuatu.
Dari waktu ke waktu raja itu mengunjungi gadis malang itu. Meskipun penjara telah merenggut kecerahan dan kekuatan dari dirinya, tetapi putri itu tetap bersikukuh mempertahankan sikapnya.
Akhirnya, habislah kesabaran raja tersebut.
"Penolakanmu," kata raja kepada putri itu, "hanya mengusik aku sedikit, walaupun tampaknya melemahkan kekuasaanku, jika kau tetap tinggal dalam kerajaanku. Aku bisa saja membunuhmu, namun aku raja yang penuh kemurahan. Karena itu, kau akan kubuang ke hutan belantara di seberang wilayah kekuasaanku. Tak ada yang menetap di belantara liar itu kecuali binatang buas dan orang-orang sinting yang ditolak dari masyarakat kita yang beradab. Di sana akan kau lihat apakah kau mampu bertahan hidup di tengah-tengah keluargamu itu; dan, jika ternyata bisa, mungkin memang di sanalah tempatmu, bukan di sini, di dalam istanaku."
Titah sang raja langsung dikerjakan, dan gadis itu diantar ke perbatasan kerajaan itu. Putri itu mendapati dirinya asing di alam liar yang sungguh berbeda dengan suasana serba nyaman di istana ayahnya. Tetapi, tidak perlu waktu lama baginya untuk melihat bahwa sebuah gua bisa dijadikan sebuah rumah, bahwa biji-bijian dan buah yang tersedia di pepohonan sama seperti yang tersaji pada piring-piring emas, bahwa matahari memberinya kehangatan. Alam liar memiliki aturannya sendiri dan menyediakan segala kebutuhan untuk bertahan hidup.
Setelah beberapa waktu, ia sudah bisa menikmati hidupnya. Ia mengambil air dari mata air, memetik sayur-sayuran dari bumi, membuat api dari kayu-kayu kering.
"Di sini," katanya kepada dirinya sendiri, "adalah suatu kehidupan yang unsur-unsurnya saling mengisi, membentuk sebuah kelengkapan, namun tak satu pun dari unsur-unsur itu yang secara sendiri atau bersama tunduk kepada perintah ayahku."
Suatu hari seorang pengelana yang tersesat dia seorang kaya dan berbudi tinggi --tanpa sengaja bertemu dengan putri buangan itu, jatuh cinta kepadanya, dan membawanya pulang ke negerinya. Di sana mereka menikah.
Setelah sekian waktu, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke alam liar, kemudian mereka membangun sebuah kota yang megah dan makmur di mana kebijaksanaan, akal, dan keteguhan hati mereka sepenuhnya terpancar. Orang-orang 'sinting' dan orang buangan lainnya, banyak di antaranya dulu dianggap orang gila, hidup serasi dan saling membantu dalam berbagai hal.
Kota itu dan desa-desa di sekitarnya menjadi mashyur hingga ke seluruh dunia. Kekuatan dan keindahannya lebih cemerlang dari pada kerajaan ayah sang putri.
Dengan suara bulat, para penduduk di wilayah tersebut, sang putri, dan suaminya diangkat untuk memerintah atas kerajaan baru dan serba indah itu.
Pada akhirnya, ayah sang putri memutuskan untuk mengunjungi negeri asing dan penuh teka-teki itu, yang dibangun di alam liar, dan seperti yang didengarnya, dihuni oleh orang-orang buangan yang direndahkan olehnya dan sejawatnya.
Dengan kepala tertunduk, perlahan dihampirinya tahta pasangan penguasa muda itu. Ketika ditengadahkannya matanya untuk memandang mereka yang keadilan, kemakmuran, dan kebijaksanaannya harum mengungguli miliknya ia dapat mendengar kata-kata lembut putrinya:
"Kau lihat, Ayah, setiap laki-laki dan perempuan mempunyai nasib dan pilihannya sendiri."

Menurut sebuah naskah Sufi, Sultan Saladin bertemu guru agung Ahmad Al-Rifai, pendiri Tarekat Rifaiyyah, 'Kaum Darwis yang Menangis', dan mengajukan beberapa pertanyaan.
Cerita di atas dituturkan oleh Rifai untuk menjawab pertanyaan: "Apa alasanmu, jika pun ada, sehingga engkau menganggap bahwa pemberlakuan aturan hukum tidaklah memadai untuk melestarikan kebahagian dan keadilan?'
Pertemuan itu terjadi pada tahun 1174, tetapi kisah ini, yang juga dikenal dalam tradisi-tradisi lain selain dalam naskah sufi tersebut, telah dipakai untuk menjelaskan kemungkinan adanya suatu perbedaan keadaan kesadaran dalam diri manusia.

KISAH IKTIBAR IDRIES SHAH : Si Tolol, Si Bijak dan Kendi




Tolol merupakan sebutan bagi orang biasa, yang selalu saja keliru menafsirkan apa yang terjadi padanya, apa yang dikerjakannya, atau apa yang dilakukan oleh orang lain. Ia melakukan semua ini secara meyakinkan karena --baginya dan orang-orang sepertinya-- sebagian besar dari kehidupan dan pemikiran tampak masuk akal dan benar.
Seorang tolol semacam ini suatu hari diutus membawa sebuah kendi menemui seorang bijaksana untuk meminta anggur.
Di tengah jalan Si Tolol, karena kecerobohannya, menyebabkan kendi itu terbentur batu dan pecah. Sesampainya di rumah Si Bijak, ia memberikan pegangan kendi itu, dan berkata:
"Seseorang mengutus saya untuk mengirimkan kendi ini kepadamu, tetapi di tengah jalan sebongkah batu yang mengerikan mencurinya dari saya."
Karena geli dan ingin mendengar seluruh ceritanya, Si Bijak menyahut: "Bila kendi itu dicuri, mengapa pula kau bawa pegangan kendi itu kepadaku?'
"Saya tidak setolol sangkaan orang," jawab Si Tolol, "dan sebab itu pegangan kendi ini kubawa untuk membuktikan ceritaku."

Suatu pokok persoalan yang banyak diperbincangkan di kalangan para guru darwis adalah bahwa kemanusiaan umumnya tidak mampu mengenali kecenderungan tersembunyi dalam peristiwa-peristiwa yang memungkinkannya untuk memanfaatkannya bagi kepenuhan hidup. Mereka yang mampu melihat kecenderungan itu disebut Orang Bijak, sedangkan orang biasa dikatakan 'tertidur', atau disebut Orang Tolol.
Kisah ini, yang dalam bahasa Inggris dikutip oleh Kolonel Wilberforce Clarke (Diwan-I-Hafiz) merupakan cerita sejenis itu. Gagasannya konstruktif bahwa dengan menyerap ajaran ini lewat kisah-kisah sentilan, orang-orang tertentu mampu benar-benar "meningkatkan kepedihan" mereka terhadap kecenderungan tersembunyi tersebut.
Kutipan ini berasal dari koleksi darwis yang dikumpulkan oleh Pir-i-do-Sara, 'Yang memakai Jubah Bertambal', yang meninggal tahun 1790 dan dimakamkan di Mazar-i-Sharif, Turkistan

KISAH IKTIBAR IDRIES SHAH : Namus Si Agas dan Gajah



Sang Juru Bicara Tasawwuf di Barat


Pada suatu saat hiduplah seekor agas. Namanya Namus, dan ia dikenal, oleh sebab perasaannya yang halus, sebagai Namus Si Cerdik. Setelah menimbang-nimbang keadaannya, dan untuk sejumlah alasan yang baik serta masuk akal, Namus memutuskan pindah rumah. Tempat yang dirasa cocok dijadikan sarang baru adalah telinga seekor gajah.
Namus hanya perlu terbang dan tak lama kemudian sudah mendiami tempat tinggal yang luas dan cukup menarik. Waktu pun berlalu. Agas itu membesarkan beberapa keluarga agas, dan dikirimnya mereka ke dunia luar. Seiring bergantinya tahun, Namus mengalami saat-saat tegang dan santai, perasaan senang dan sedih, tantangan dan juga raihan yang lazim dijalani oleh seekor agas di berbagai tempat.
Telinga gajah itu adalah rumahnya; dan bukanlah hal yang mengejutkan bila ia merasa (perasaan itu terus menguat) bahwa terdapat hubungan yang sangat dekat antara kehidupannya, masa lalunya, hakikat dirinya, dan tempat itu. Telinga itu sungguh hangat, nyaman, benar-benar luas, latar dari sekian banyak pengalamannya.
Tentu saja, Namus tidak pindah ke rumah itu tanpa permisi dan sebelumnya ia meneliti dahulu situasi di sekitarnya. Pada hari pertama, tepat ketika ia hendak memasuki telinga gadjah itu, ia sudah berseru sekeras mungkin, dengan suaranya yang kecil, tentang keputusannya. "Wahai Gajah!" teriaknya, "ketahuilah bahwa aku, Namus Si Agas, yang dikenal sebagai Namus Si Cerdik, memohon untuk menjadikan tempat ini sebagai kediamanku. Karena ini telingamu, aku bersopan santun menyampaikan niatku ini kepadamu."
Gajah itu tidak keberatan.
Tetapi, Namus tidak tahu bahwa gajah itu sebenarnya tidak mendengar suaranya. Sedikit pun tuan rumah itu tidak sadar akan kehadiran, atau bahkan keluar masuknya, Namus beserta segenap keluarganya. Dengan kata lain, tidak terpikirkan sama sekali oleh gajah itu bahwa ada agas di telinganya.
Dan ketika tiba pula saatnya ketika Namus Si Cerdik hendak pindah rumah lagi, kali ini juga dengan alasan yang penting dan mendesak, ia merasa berkepentingan untuk berpamitan kepada gajah, pemilik rumahnya itu, sebagai bagian dari kesantunan. Ia menyiapkan dirinya untuk mengumumkan secara resmi tentang kepergiannya dari telinga gajah itu.
Dan begitulah, sesudah memutuskan dengan mantap dan melatih seperlunya apa yang harus ia katakan, Namus berseru sekali lagi di bawah telinga gajah itu. Ia berteriak sekali, dan tak ada jawaban. Kedua kali, gajah tetap diam. Kali ketiga, dengan sekuat tenaga dalam hasratnya yang sudah di ubun-ubun untuk menyampaikan kata-kata fasihnya, ia berteriak: "Wahai gajah, ketahuilah bahwa aku, Namus Si Cerdik, pamit untuk pergi dari rumahku dan tungku perapianku, meninggalkan kediamanku di telingamu ini yang telah kutempati sekian lama. Dan kepergianku ini karena alasan yang penting dan mendesak yang akan kukatakan juga kepadamu."
Sekarang akhirnya suara agas itu menyentuh saraf-saraf pendengaran gajah tersebut, dan seruan agas itu pun terdengar olehnya. Sementara gajah itu mencerna perkataan itu, Namus berteriak lagi: "Apa jawabmu atas beritaku ini? Bagaimana perasaanmu tentang keberangkatanku sebentar lagi?"
Gajah itu menengadahkan kepalanya yang besar itu dan mendengus pelan. Dalam dengusan itu terkandung kata-kata: "Pergilah dalam damai --sebab sesungguhnya kepergianmu sama menarik dan pentingnya bagiku seperti kedatanganmu."

Kisah Namus Si Cerdik sekilas barangkali tampak sebagai ilustrasi tajam tentang kesia-siaan hidup. Bagi seorang Sufi, penafsiran semacam itu hanya bisa muncul karena ketidakpekaan pembaca.
Yang hendak ditekankan di sini adalah kurangnya kesadaran manusia bahwa segala sesuatu dalam hidup ini memiliki arti penting yang relatif.
Manusia memperlakukan hal-hal yang penting sebagai tidak penting, dan segala yang remeh sebagai hal yang sangat perlu.

KITAB MINHAJUL ABIDIN BAB 2 TAHAPAN TOBAT (Bagian 5 Tamat)



(Bagian 5)
Oleh: Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali
Pasal: Kesimpulannya adalah bahwa apabila Anda mulai bertobat, bersihkan hati Anda dari keinginan berbuat dosa, dengan membulatkan tekad tidak akan kembali mengerjakan perbuatan dosa selamanya, kecuali apa yang ditakdirkan Allah dalam ilmu-Nya bahwa Anda akan berdosa. Allah s.w.t. Maha Mengetahui akan kebulatan tekad yang keluar dari hati yang bersih, kesungguhan mencari kerelaan orang yang dizalimi dan mengqadha kewajiban-kewajiban yang terlewatkan dengan sekuat tenaga, dan menyerahkan sepenuhnya akan dosa-dosa yang lain kepada Allah, sambil merendah dan menghinakan diri, memohon kepada-Nya agar kiranya segala usaha yang ditempuhnya itu cukup sebagai penebus dan pengampunan dosa-dosa Anda.
Kemudian pergilah mandi, cucilah pakaian Anda, pakailah pakaian yang suci, lalu kerjakan shalat empat rakaat sebagaimana mestinya serta bersujudlah, letakkan wajah Anda di atas tanah di tempat sepi yang tidak terlihat oleh seorang pun kecuali Allah. Benamkanlah wajah Anda yang merupakan anggota badan yang paling mulia itu ke tanah, sambil menangislah, alirkan air mata kesedihan dari lubuk hati yang terdalam, sebutlah satu persatu dosa-dosa Anda semampunya, caci makilah diri Anda yang telah melakukan kemaksiatan, katakan padanya: “Wahai diri, yang tidak tahu malu, belumkah sampai waktunya Anda bertobat? Kuatkah Anda menerima siksa Allah? Apakah Anda menginginkan kemurkaan Allah?”
Ucapkan pernyataan tersebut berulang-ulang sambil menangis, lalu tengadahkan kedua tangan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, seraya mengadu, sebagai berikut:
Artinya:
“Wahai Tuhanku, inilah hamba-Mu yang tersesat telah kembali di hadapan pintu-Mu, seorang hamba yang berlumuran dosa maksiat kembali kepada kebenaran, hamba-Mu yang berdosa datang menghadap kepada-Mu memohon ampunan. Ampunilah aku dengan kemurahan-Mu, dan terimalah aku dengan karunia-Mu, pandanglah aku dengan pandangan rahmat-Mu. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu, dan peliharalah sisa-sisa hidupku. Sungguh, segala kebaikan itu seluruhnya berada pada-Mu, Engkau bagi kami adalah Maha Pemurah dan Maha Pengasih kami.”
Selanjutnya bacalah doa untuk menghilangkan kegelisahan yang amat dalam, sebagai berikut:
Artinya:
“Wahai Dzat yang menampakkan persoalan-persoalan besar! Wahai Dzat yang menjadi tujuan kehendak orang-orang yang tercekam kegelisahan! Wahai Dzat yang apabila menghendaki suatu perkara, cukup berfirman “Jadilah” maka jadilah ia. Dosa-dosaku telah mengungkungku. Engkaulah Dzat yang kupilih untuk menanggulangi kesulitanku. Aku mengandalkan Engkau untuk menghadapi keadaan seperti sekarang ini. Maka terimalah tobatku, sungguh, Engkaulah Dzat Yang Maha Menerima tobat lagi Maha Penyayang.”
Lalu banyak-banyaklah menangis, rendahkanlah diri Anda dengan penuh kehinaan di hadapan Allah s.w.t. seraya berdoa:
Artinya:
“Wahai Dzat yang tidak pernah disibukkan oleh suatu perkara hingga mengabaikan perkara yang lain; tidak pula oleh suatu suara hingga tidak menghiraukan suara yang lain. Wahai Dzat yang tidak salah dengan banyaknya permintaan. Wahai Dzat yang tidak pernah merasa bosan menerima permintaan yang terus menerus, curahkanlah kepadaku kesejukan karena ampunan-Mu dan lezatnya ampunan-Mu dengan rahmat-Mu. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi. Engkau adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Selanjutnya, bacalah salawat buat Nabi Muḥammad s.a.w. dan keluarganya. Kemudian mohonkan ampunan bagi seluruh orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.
Kemudian berbaktilah kepada Allah ‘azza wa jalla, maka dengan begitu Anda telah melakukan tobat yang sungguh-sungguh dan semurni-murninya (taubatan nashūḥā). Sehingga Anda benar-benar bersih keluar dari dosa-dosa, sebagaimana ketika Anda dilahirkan dari rahim sang ibu. Dan Anda akan dicintai oleh Allah dan memperoleh pahala dari-Nya, Anda akan memperoleh berkah dan rahmat yang tidak dapat dijelaskan dan digambarkan oleh siapa pun. Anda juga mendapatkan ketenteraman dan kedamaian, selamat dari murka-Nya, terbebas dari kegetiran maksiat dan siksa-Nya, di dunia maupun di akhirat.
Dengan demikian, berarti Anda telah melewati tahapan ini (Tahapan Tobat) atas izin Allah s.w.t. Dialah Tuhan Pemberi hidayah, dengan karunia dan anugerah keutamaan-Nya.

KITAB MINHAJUL ABIDIN BAB 2 TAHAPAN TOBAT (Bagian 4)


(Bagian 4)
Oleh: Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali
Pasal: Selanjutnya, ketahuilah bahwa Tahapan Tobat ini, merupakan tahapan atau tanjakan yang sangat sulit ditempuh, tetapi sangat urgen dan besar bahaya yang merintanginya.
Telah sampai kepadaku, berita tentang orang yang sangat alim dan mengamalkan ilmunya. Abī Isḥāq al-Isfarayl berkata: “Aku telah berdoa kepada Allah s.w.t. selama 30 tahun agar aku dianugerahi tobat secara murni dan sungguh-sungguh (taubat nashūḥā). Hingga aku merasa heran dan berkata dalam hati: “Maha Suci Allah, aku telah memohon kepada Allah satu kebutuhan selama 30 tahun, namun sampai kini belum juga dikabulkan.” Lalu aku bermimpi, seakan-akan ada yang berkata kepadaku: “Apakah Anda merasa heran dengan hal tersebut. Tahukah Anda, apa yang Anda minta kepada Allah itu adalah agar Allah mencintai Anda. Bukankah Anda telah mendengar firman Allah s.w.t.:
Artinya:
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (al-Baqarah: 222).
Apakah Anda memandang bahwa hal itu merupakan hajat yang kecil dan rendah! Renungkanlah, betapa ketekunan para imam dan besarnya perhatian mereka dalam memperbaiki dan membersihkan hati serta mempersiapkan bekal pulang menghadap ke hadirat Allah di akhirat.
Adapun bahaya yang sangat mengkhawatirkan dari menunda-nunda tobat adalah bahwa dosa itu pada awalnya membuat hati menjadi keras, tetapi akhirnya – na‘ūdzu billāh – membuat kecelakaan dan kebinasaan yang sangat menghinakan.
Karenanya waspadalah, jangan sampai Anda lupa persoalan Iblis dan Bal‘am bin Ba‘ura, yang pada mulanya persoalan mereka berdua adalah dosa yang mengeraskan hati dan berakhir dengan kekafiran, sehingga mereka berdua celaka bersama orang-orang yang celaka selama-lamanya.
Maka sadarlah dan bersungguh-sungguhlah – semoga Allah merahmati Anda – pastikan Anda dapat mencabut akar kecerobohan perbuatan dosa dari hati dan membersihkan diri dari dosa-dosa. Dan janganlah Anda sekali-kali merasa aman dari kekerasan hati yang disebabkan dosa-dosa.
Renungkanlah kondisi diri Anda, sebagian orang saleh berkata bahwa hitamnya hati disebabkan oleh perbuatan-perbuatan dosa. Adapun tanda dosa hitamnya hati adalah ketika Anda tidak takut mengerjakan perbuatan dosa dan memandangnya sebagai hal biasa, terhadap ketaatan tidak memiliki gairah, apalagi dapat menikmatinya, dan kebal nasihat.
Janganlah Anda meremehkan dosa sekecil apapun, lalu menganggap diri Anda sudah bertobat, pada hal Anda terus menerus bergelimang dosa-dosa besar.
Kami pernah menerima keterangan dari Kahmas bin Ḥasan, ia berkata: “Aku pernah berbuat suatu dosa, lalu aku menangisinya selama empat puluh tahun.” Hingga ada yang bertanya: “Apa dosa Anda itu wahai Abā ‘Abdullāh?” Ia menjawab: “Pada suatu hari, ketika saudaraku sesama muslim berkunjung padaku, aku membeli ikan sebagai hidangan, lalu ia makan. Setelah itu aku beranjak menuju ke pagar tetangga mengambil segenggam tanah untuk membasuh tangan saudaraku itu.”
Oleh karena itu, segeralah introspeksi, lakukan evaluasi dan koreksi diri, lalu cepat-cepatlah bertobat. Sebab, ajal itu tidak diketahui kedatangannya, sedangkan dunia ini penuh dengan tipuan, nafsu dan setan senantiasa menjadi lawan yang tidak kenal menyerah. Merendah dirilah kepada Allah dengan sungguh-sungguh, ingatlah kisah Nabi Ādam a.s. yang diciptakan oleh Allah dengan tangan kekuasaan-Nya dan Allah meniupkan roh dalam jasadnya, lalu ia dibawa ke surga, dipikul oleh malaikat di atas pundak mereka. Ādam tidak berdosa kecuali hanya sekali, namun menyebabkan ia diturunkan ke dunia.
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Allah berfirman kepada Ādam: “Anda ini memandang apa berdekatan dengan Aku?” Ādam menjawab: “Engkau adalah tetangga yang paling baik bagiku, wahai Tuhan.” Allah berfirman: “Wahai Ādam, keluarlah (dari surga) jangan berdekatan dengan-Ku, lepaslah mahkota kemuliaan yang ada di kepala Anda, karena orang yang durhaka kepada-Ku tidak berhak menjadi tetangga-Ku.”
Menurut sebuah riwayat, setelah itu Nabi Ādam menangisi dosanya selama dua ratus tahun. Hingga Allah menerima tobatnya dan mengampuni satu dosa Adam a.s.
Begitulah kondisi Ādam setelah melakukan sekali dosa, padahal ia adalah seorang nabi pilihan Allah, lalu bagaimana halnya dengan orang biasa, yang bukan nabi dan mempunyai dosa yang tidak terhitung banyaknya?
Tangisan Nabi Ādam selama itu, adalah suatu sikap merendahkan diri sebagai orang yang bertobat kepada Allah. Lantas bagaimana keadaan orang yang terus menerus bergelimang dalam perbuatan dosa?
Betapa indah ucapan seorang penyair:
Artinya:
“Orang yang bertobat masih khawatir akan keselamatan dirinya lalu bagaimana halnya dengan orang yang tidak bertobat.”
Apabila Anda telah bertobat, lalu Anda merusaknya dengan melakukan dosa lagi, maka segeralah kembali kepada tobat, katakan pada diri Anda sendiri: “Kalau saja aku mati sebelum aku kembali melakukan dosa yang kali ini.” Begitu seterusnya, hingga ketika Anda mengulangi yang ketiga atau keempat kalinya. Sebagaimana juga manakala Anda sering berbuat dosa, maka Anda juga harus sering bertobat. Kemauan bertobat itu jangan sampai lebih lemah dari keinginan melakukan dosa. Janganlah sekali-kali berputus asa dan memberi kesempatan setan menghalangi dari bertobat. Karena kemauan dan semangat Anda untuk terus bertobat, sekalipun masih saja melakukan dosa adalah sebagai pertanda baik.
Bukankah Anda telah mendengar sabda Rasūlullāh s.a.w.:
Artinya:
“Sebaik-baik orang di antara Anda sekalian adalah orang yang sering terkena fitnah, dan banyak bertobat.”
Yakni, orang yang terkena cobaan melakukan dosa, lalu ia banyak bertobat kepada Allah dan kembali kepada-Nya, dengan menyesal dan beristigfar memohon ampunan.
Perhatikan firman Allah s.w.t.:
Artinya:
“Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampu lagi Maha Penyayang.” (an-Nisā’: 110)
Demikianlah, kepada Allah kita memohon taufiq dan pertolongan-Nya.

KITAB MINHAJUL ABIDIN BAB 2 TAHAPAN TOBAT (Bagian 3)


(Bagian 3)
Oleh: Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali
Agar dapat keluar dan terbebas dari dosa, maka ketahuilah bahwa dosa itu, secara garis besar ada 3 macam, yaitu:
Pertama: Dosa meninggalkan kewajiban-kewajiban yang telah diwajibkan oleh Allah kepada Anda, seperti meninggalkan shalat, puasa, kaffarat dan lain sebagainya. Maka Anda harus mengganti atau mengqadhakannya.
Kedua: Dosa Anda terhadap Allah s.w.t. seperti dosa minum khamar, bermain seruling (alat musik yang membuat lalai kepada Allah apalagi sampai disertai melakukan kemaksiatan), makan riba dan lain sebagainya. Maka Anda harus menyesali hal tersebut dan mengokohkan komitmen di dalam hati Anda untuk meninggalkan dosa ini dan tidak akan mengulanginya lagi.
Ketiga: Dosa Anda terhadap sesama hamba Allah. Bentuk dosa inilah yang paling berat dan paling sulit mentobatinya. Dosa yang ketiga ini, bermacam-macam bentuknya, adakalanya terkait dengan harta benda, jiwa, kehormatan maupun yang berhubungan dengan keagamaan.
Untuk dosa sesama hamba Allah yang terkait dengan harta benda, maka Anda berkewajiban mengembalikan padanya, jika memungkinkan. Jika Anda tidak memiliki kemampuan untuk mengembalikan, karena ketidakmampuan dan kefakiran Anda, maka Anda harus meminta kehalalan padanya. Jika Anda tidak dapat melakukan hal itu, karena tidak menemukan orangnya atau karena ia telah mati, sementara Anda mampu menyedekahkannya, maka sedekahkanlah untuknya. Apabila tidak memungkinkan bagi Anda menyedekahkan untuknya, maka perbanyaklah berbuat kebajikan, kembalikan persoalan itu kepada Allah. Berdoalah dan merendahlah di hadapan Allah dengan berharap agar Ia berkenan membuat orang itu ridha dan tidak melakukan tuntutan padanya di hari kiamat.
Adapun dosa yang menyangkut jiwa orang lain, maka hendaklah Anda mempersilakan kepadanya atau pada walinya untuk melakukan qisas, atau dengan memohon kehalalannya, sehingga persoalannya menjadi selesai. Jika Anda tidak mampu melakukan hal itu, maka serahkan persoalan itu sepenuhnya kepada Allah, dengan menjadikan orang itu ridha dan tidak melakukan tuntutan kepadanya kelak di hari kiamat.
Sedangkan yang menyangkut harga diri, seperti Anda menggunjing, menuduh dan memaki seseorang, maka seharusnya Anda memberitahukan kepada orang yang mendengar pergunjingan dan tuduhan Anda akan seseorang itu, bahwa apa yang Anda lakukan itu adalah kebohongan dan tidak benar. Atau jika memungkinkan mintalah maaf dan kehalalan orang yang Anda pergunjingkan dan caci maki itu. Yang demikian itu, apabila Anda tidak khawatir, justru ia akan bertambah marah karena keterusterangan Anda bahwa Anda telah menggunjing dan mencaci makinya. Tetapi jika Anda khawatir dia bertambah marah, masalahnya semakin runyam dan menimbulkan fitnah, maka hendaklah Anda menyerahkan kepada Allah. Berdoalah kepada Allah dengan sungguh-sungguh, agar orang itu rela kepada Anda, dan sebagai perimbangannya agar kiranya Anda menjadikan kebajikan yang banyak buat orang itu, serta mohonkanlah ia ampunan sebanyak-banyaknya kepada Allah.
Adapun dosa yang menyangkut kehormatan diri seseorang, seperti Anda telah melakukan pengkhianatan terhadap teman Anda berkenaan dengan istri, anak atau yang semisalnya, maka tindakan berterus terang dengan meminta maaf dan kehalalannya, kiranya tidaklah tepat, sebab hal itu akan menimbulkan fitnah dan kemarahan yang besar. Namun Anda harus tadharru‘ (merendahkan diri kepada Allah) dan memohon kepada Allah dengan sungguh-sungguh, agar Allah menjadikan orang itu rela kepada Anda dan menjadikan baginya kebaikan yang banyak sebagai perimbangannya. Jika Anda merasa aman dari fitnah, maka memohonlah kehalalannya. Namun tidak timbulnya fitnah dan kemarahan atas keterusterangan Anda itu, sangat langka.
Sementara dosa yang menyangkut soal keagamaan, seperti Anda menyatakan akan kekafiran seseorang atau menuduh orang lain membuat bid‘ah atau menuduhnya tersesat, maka untuk membebaskan diri dan bertobat dari dosa ini lebih sulit. Anda perlu menyatakan bahwa Anda telah melaksanakan kebohongan di hadapan orang yang ketika itu Anda melakukan kebohongan tersebut di hadapannya. Di samping itu Anda masih dituntut untuk meminta maaf dan kehalalan orang yang Anda tuduh itu, jika memungkinkan. Jika tidak memungkinkan, maka berdoalah, memohon kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan menyesali perbuatan Anda itu, agar kiranya orang tersebut dijadikan bisa merelakan dan memaafkan kesalahan Anda.
Kesimpulannya, manakala meminta maaf dan kehalalan atas kesalahan dan dosa Anda kepada orang yang bersangkutan itu memungkinkan, maka lakukanlah. Tetapi jika tidak memungkinkan, maka lakukanlah pendekatan kepada Allah secara benar dan sungguh-sungguh dengan berharap akan kebesaran anugerah dan kebaikan-Nya yang meliputi segala sesuatu secara umum, agar Ia membuat orang itu rela dan tidak melakukan tuntutan kepada Anda kelak di hari kiamat. Atas kehendak Allah, yang demikian itu mudah saja terjadi, ketika Allah mengetahui kebenaran dan kesungguhan hati hamba-Nya ini, sehingga Allah berkenan menjadikan orang itu rela, dengan memberikan kepadanya anugerah yang lebih besar dari gudang anugerah kelaziman, yang menjadi hak dan wewenang Allah. Oleh sebab itu Anda perlu mengetahui hal ini.
Apabila Anda telah melakukan, sebagaimana yang telah kami kemukakan tersebut, dan Anda benar-benar telah membebaskan hati dari keinginan melakukan dosa semisal di masa mendatang, maka Anda telah keluar dari semua dosa-dosa Anda. Bila Anda telah melepaskan (membersihkan) hati, sementara Anda belum mengqadhakan kewajiban-kewajiban Anda yang tertinggal, dan belum memperoleh kerelaan atas kezaliman Anda, maka Anda masih akan dituntut hingga Anda mendapatkan pengampunan dan kerelaannya. Persoalan ini, memerlukan pembahasan yang panjang lebar, tidak cukup memadai dikemukakan dalam kitab yang ringkas ini.
Mengenai masalah ini, Anda bisa melihat pada:
1. Kitab (Bab) Tobat dalam kitab Iḥyā’ Ulūmiddīn
2. Kitab al-Qurbah Ilallāhi ta‘ālā
3. Kitab al-Ghāyat-ul-Qashawa.
Maka Anda akan mendapatkan manfaat dan faedah yang besar dan penjelasan yang memadai di dalam kitab tersebut. Sementara yang kami kemukakan dalam kitab ini, hanyalah pokok-pokoknya terpenting yang menjadi keniscayaan saja. Kepada Allah kita memohon taufiq dan petunjuk.

KITAB MINHAJUL ABIDIN BAB 2 TAHAPAN TOBAT (Bagian 2)


(Bagian 2)
Oleh: Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali
Apabila dikatakan, bukankah Nabi s.a.w. bersabda:
Artinya: “Menyesali dosa adalah tobat.”
Dan beliau tidak menyebutkan syarat-syarat dan yang Anda kemukakan tersebut yang terasa begitu memberatkan?
Maka dikatakan padanya sebagai jawabannya, ketahuilah bahwa penyesalan (an-nadāmah) itu, tidak berada pada kekuasaan seorang hamba. Cobalah Anda renungkan, bisa saja seseorang merasa menyesal di dalam hatinya terhadap perkara yang diperbuatnya, padahal ia ingin hal itu tidak terjadi. Sedangkan tobat adalah diperintahkan bagi seorang hamba. Dengan demikian kita menjadi mengerti bahwa, seandainya seseorang menyesali dosa-dosa lantaran kehilangan kedudukan di antara manusia, atau kehilangan harta dan mata pencahariannya, maka hal itu, tidak diragukan lagi bukanlah suatu tindakan bertobat.
Dengan demikian, kirannya Anda menjadi tahu bahwa tidaklah cukup mengartikan hadis tersebut dari segi lahirnya saja. Hadis tersebut mengandung makna bahwa penyesalan itu harus dilakukan untuk mengagungkan Allah s.w.t. dan takut terhadap siksa-Nya, sehingga mendorong Anda untuk bertobat dengan yang sebenar-benarnya. Dan yang demikian itu merupakan sifat dan keadaan orang yang bertobat.
Apabila seseorang mengingat tiga hal yang menjadi perdahuluan tobat tersebut, maka dia akan merasa menyesal dan penyesalan itu sebagai pendorong untuk meninggalkan dosa-dosa. Penyesalan semacam itu, bila tetap bersemayam di dalam hatinya di waktu-waktu mendatang, tentu mendorongnya untuk menunduk dan merendah diri kepada Allah s.w.t. Ketika hal tersebut telah menjadi sebab-sebab tobat dan sifat-sifat orang yang bertobat, maka itulah yang dinyatakan oleh Rasulullah s.a.w. dengan nama tobat. Pahamilah hal itu dengan baik, insya Allah akan mendapatkan petunjuk dari Allah s.w.t.
Jika Anda bertanya, bagaimana mungkin manusia bisa tidak terjatuh pada perbuatan dosa sama sekali baik dosa kecil ataupun dosa besar, sedangkan para nabi yang merupakan manusia yang paling mulia dan pilihan Allah saja, di antara ahli ilmu terjadi kontroversi, apakah mereka memperoleh derajat tersebut (terbebas dan tidak pernah melakukan dosa) atau tidak.
Ketahuilah, bahwa hal itu (adanya manusia yang tidak pernah terjatuh dalam dosa) adalah mungkin dan bukan sesuatu yang mustahil. Untuk mewujudkan yang demikian itu mudah saja bagi Allah. Dialah yang memberikan keistimewaan rahmat-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki.
Selanjutnya, termasuk syarat tobat juga adalah hendaklah seseorang tidak memiliki kesengajaan untuk melakukan dosa. Adapun jika masih terjatuh pada perbuatan dosa karena kealpaan atau kesalahan semata, maka yang demikian itu dimaafkan, berkat anugerah keutamaan Allah ta‘ala. Dan hal ini mudah terjadi pada orang yang mendapatkan taufiq dari Allah s.w.t.
Jika Anda bertanya: sesungguhnya yang mencegah aku untuk bertobat adalah karena aku tahu bahwa diriku akan mengulangi dosa itu lagi dan aku tidak akan bisa melakukan tobat secara konsisten. Maka aku tidak bertobat, karena hal itu tidak ada gunanya.
Jika Anda menyatakan begitu, maka ketahuilah bahwa apa yang Anda katakan itu merupakan tipu daya setan. Dari mana Anda mengetahui kalau Anda akan mengulanginya lagi, karena bisa saja terjadi Anda akan mati dalam keadaan bertobat sebelum sempat mengulangi dosa itu lagi.
Ketakutan Anda untuk mengulangi dosa lagi hendaklah Anda hilangkan dengan kebulatan tekad dan kesungguhan memegang komitmen bahwa Anda tidak akan mengulangi dosa lagi. Jika begitu, maka adalah mudah bagi Anda untuk memberikan kesempurnaan rahmat dan anugerah-Nya kepada Anda, sehingga Anda tidak mengulangi dosa itu lagi. Jika Allah tidak memberikan kesempurnaan anugerah-Nya kepada Anda maka Anda sudah beruntung dengan diampuninya dosa yang pernah Anda lakukan, sehingga Anda telah terbebas dan bersih dari dosa Anda yang lampau, kecuali dosa yang baru Anda lakukan sekarang, setelah bertobat. Ini merupakan keuntungan dan faedah yang besar dan agung.
Oleh sebab itu, ketakutan kembali melakukan dosa lagi, jangan Anda jadikan sebagai alasan yang mencegah Anda untuk bertobat. Pastikan Anda bertobat selamanya, ketakutan Anda kembali pada dosa merupakan suatu hal yang baik pula, sebagai pendorong Anda untuk terus menerus bertobat. Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita.

KITAB MINHAJUL ABIDIN BAB 2 TAHAPAN TOBAT (Bagian 1)


(Bagian 1)
Oleh: Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali
Selanjutnya, wahai orang yang menempuh jalan ibadah  semoga Allah memberikan petunjuk kepada Anda  untuk bertobat.
Perintah bertobat ini, disebabkan dua hal, yaitu:
Pertama: Agar Anda mendapatkan petunjuk dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Karena kekejian dosa itu sebagai penghalang melakukan kebaktian dan untuk mendapatkan rahmat serta mengakibatkan kehinaan. Jeratan dosa-dosa itu, mencegah Anda untuk melakukan ketaatan dan sebagai jerat yang mencegah Anda untuk segera berkhidmat kepada-Nya. Karena beban dosa itu, menghalangi dan memperberat sikap ringan berbuat kebaikan dan semangat menjalankan ketaatan kepada Allah s.w.t.
Kecerobohan melakukan dosa-dosa merupakan penyebab hati jadi hitam, gelap dan keras, tidak memiliki keikhlasan, tidak ada setitik cahaya pun yang meneranginya, tidak dapat merasakan kelezatan dan kenikmatan manisnya ibadah. Jika tidak mendapatkan rahmat dari Allah s.w.t. hati yang demikian itu akan menyeret pemiliknya pada kekufuran dan kecelakaan. Maka betapa mengherankan, bagaimana bisa orang yang hatinya kotor dan keras semacam itu, ringan melakukan ketaatan? Bagaimana bisa memenuhi panggilan untuk berkhidmat, orang yang selalu saja bergelimang kemaksiatan, berlaku ingkar dan sombong? Bagaimana bisa bermunajat mendekatkan diri kepada Allah, sementara ia berlumuran dengan kotoran dan najis?
Disebutkan dalam sebuah hadis, bahwa Nabi s.a.w. bersabda:
Artinya:
“Apabila seorang hamba berdusta, maka dua malaikat (yang mengawalnya) menyingkir darinya, disebabkan karena kebusukan apa yang keluar dari mulutnya.”
Bagaimana lisan semacam ini, bisa berzikir kepada Allah ‘azza wa jalla? Orang yang terus menerus berlaku maksiat semacam itu, hampir dapat dipastikan tidak akan bisa menerima taufīq (petunjuk), dan anggota tubuhnya tidak akan merasa ringan untuk beribadah kepada Allah. Jika kebetulan melakukan ibadah, tentu terasa berat dan susah payah, tidak akan bisa merasakan manisnya ibadah dan tidak pula memiliki keikhlasan. Semua itu, disebabkan oleh kekejian dosa dan karena meninggalkan bertobat.
Sungguh benarlah orang yang berkata: “Jika Anda tidak kuat mengerjakan shalat malam dan puasa di siang hari, maka ketahuilah bahwa Anda terbelenggu dan terjerat oleh kesalahan dan dosa-dosa Anda.

Kedua: Keharusan bertobat itu, agar ibadah Anda diterima Allah s.w.t. Sebab yang berpiutang tidak mau menerima hadiah. Oleh sebab itu bertobat dari kemaksiatan dan meminta kerelaan terhadap yang Anda zalimi menjadi sebuah keharusan bagi Anda. Pada umumnya ibadah yang Anda lakukan berkedudukan sunah, bagaimana mungkin kesunahan yang Anda hadiahkan itu diterima, sementara utang Anda menumpuk belum terbayar.
Bagaimana bisa dikatakan baik, Anda meninggalkan yang halal dan yang mubah karena-Nya, sementara Anda masih terus melakukan pelanggaran dan menerjang yang haram. Bagaimana bisa Anda bermunajat, berdoa dan memuji kepada-Nya, sedangkan Dia murka kepada Anda. Demikianlah gambaran kondisi orang-orang yang durhaka yang senantiasa melakukan kemaksiatan. Kita memohon kepada Allah diberi kekuatan untuk dapat bertobat.
Jika Anda bertanya: “Apakah arti tobat nasuha itu, apa definisinya, dan apa pula hal-hal yang harus dilakukan oleh seseorang agar ia dapat keluar dari semua dosa-dosanya?”
Sebagai jawabannya, aku katakan bahwa tobat termasuk salah satu aktivitas hati. Menurut pendapat ulama, bahwa tobat adalah membersihkan hati dari dosa.
Guru kami memberikan batasan tentang tobat, yaitu: “Meninggalkan segala bentuk aktivitas yang membuat terulangnya kembali dosa yang pernah dilakukan dan yang semisal tingkatannya bukan dalam bentuknya, karena mengagungkan Allah dan takut kemurkaan-Nya.”

Dengan demikian, maka tobat itu memiliki empat syarat, yaitu:
Pertama: Meninggalkan setiap usaha yang mengakibatkan terjadinya dosa.
Memegang teguh komitmen di dalam hati dan memperbaiki niat untuk tidak melakukan dosa sama sekali. Adapun apabila ketika dia meninggalkan dosa namun di dalam hatinya masih terlintas bayangan mungkin ia akan mengulanginya lagi, atau bayangan itu tidak terlintas di dalam hatinya, namun hatinya bimbang mungkin dia akan mengulangi dosa itu lagi, sekalipun sementara dia meninggalkan berbuat dosa, maka dia bukanlah orang yang bertobat.
Kedua: Bertobat dari dosa yang pernah diperbuat, jika dosa yang semisal tidak pernah dilakukan, maka dia adalah orang yang bertakwa (takut) kepada Allah, bukan orang yang bertobat. Tidakkah Anda tahu bahwa perkataan yang benar mengenai Nabi s.a.w. adalah bahwa beliau merupakan orang yang takwa (takut) dari kekufuran, tidaklah benar kalau dikatakan bahwa beliau sebagai orang yang bertobat dari kekufuran. Karena Nabi s.a.w. tidak pernah kufur, tetapi beliau menghindar dan menjauh dari kekufuran.
Ketiga: Dosa yang pernah dilakukan itu, sama dengan dosa yang kini ditinggalkan, dari segi tingkat dan derajatnya, bukan pada bentuknya.
Perhatikanlah dengan seksama bahwa orang yang sudah tua renta yang dulunya pernah berzina dan sebagai penyamun, apabila ia ingin bertobat dari dosa-dosa itu, tentu masih mungkin, selama pintu tobat belum tertutup baginya. Tetapi tidak mungkin baginya berikhtiar meninggalkan zina dan menyamun, karena memang kondisinya saat ini, sudah tidak mungkin untuk melakukan hal itu, dan dia tidak memiliki kemampuan untuk meninggalkan ikhtiarnya. Maka dia tidak sah dinyatakan sebagai orang yang telah meninggalkan perbuatan terlarang itu, karena kondisi tubuhnya yang sudah sangat lemah dan tidak memungkinkan. Tetapi dia masih mampu melakukan perbuatan yang memiliki bobot yang sama dengan zina dan menyamun dari segi kedudukan dan derajatnya. Seperti meninggalkan berdusta, menuduh orang berzina, menggunjing, mengadu domba. Semua kemaksiatan itu, sekalipun masing-masing dosanya memiliki tingkat yang berbeda sesuai dengan kadarnya, tetapi dengan meninggalkan semua bentuk cabang kemaksiatan itu, bila terhimpun menjadi satu, berada di bawah kedudukan dosa bid‘ah, sementara dosa bid‘ah berada di bawah kedudukan dosa kufur. Oleh sebab itu, orang yang sudah tua renta tersebut, masih bisa bertobat dari dosa zina dan menyamun, dengan meninggalkan dosa-dosa yang memiliki kedudukan dan tingkat yang sama dengan semua dosa yang pernah di lakukan itu, sekalipun tidak sama bentuknya.
Keempat: Usaha maksimal yang dilakukan untuk meninggalkan dosa-dosa itu, semata-mata untuk mengagungkan Allah ‘azza wa jalla, takut dari kemurkaan dan kepedihan siksa-Nya. Bukan karena tujuan keduniaan atau takut terhadap manusia, mengharapkan pujian, agar terkenal atau demi pangkat dan kedudukan, atau bukan pula karena terdorong oleh kondisinya yang lemah dan miskin atau yang lainnya.
Demikian itulah syarat-syarat bertobat dan rukun-rukunnya, apabila syarat dan rukun tobat itu terpenuhi, itulah hakikat tobat yang sebenar-benarnya.
Sementara sebagai pendahuluan yang perlu dilakukan sebelum bertobat itu ada tiga, yaitu:
1. Mengenang akan kekejian dosa
2. Ingat akan kedahsyatan siksaan Allah s.w.t. dan kepedihan kemarahan serta kemurkaan-Nya yang tidak akan mampu Anda tanggung.
3. Ingat akan kelemahan agan minimnya rasa malu Anda dalam menghadapi hal tersebut. Karena orang yang menanggung sengatan terik matahari, tamparan polisi dan gigitan semut saja tidak kuat menanggungnya, bagaimana dia kuat menahan panasnya neraka Jahanam, hantaman pukulan malaikat Zabaniyah, sengatan ular yang sebesar leher unta, gigitan kalajengking sebesar kuda yang diciptakan dari api di dalam neraka tempat kemurkaan dan kecelakaan. Kita berlindung kepada Allah, sekali lagi berlindung kepada-Nya dari kemurkaan dan azab-Nya. Apabila Anda selalu mengingatnya hal tersebut siang dan malam, maka hal itu akan mendorong Anda untuk melakukan tobat secara murni dan sebenar-benarnya, dari segala dosa.