Catatan Popular

Rabu, 6 Mei 2020

BAHAGIAN 34 SYI’IR YANG DIBACA RASULULLAH SAW (KITAB ASY SYAMAIL)


Oleh Muhammad bin `Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dhahhak as-Sulami.
(Imam at-Tirmidzi)

Aisyah r.a. bertanya :”Apakah Rasulullah saw. pernah membaca syi’ir?” Ia menjawab : “Beliau pernah membaca Syi’ir Ibnu Rawahah r.a.dan juga pernah membaca syi’ir yang berbunyi: “Berita-berita akan datang kepadamu Dibawa oleh orang yang tak kau beri bekal.”(Diriwayatkan oleh `Ali bin Hujr, dari Syarik, dari al Miqdambin Syuraih, dari bapaknya,yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

• Permulaan baitnya berbunyi: Hari demi hari akan menyingkap kejelasan bagimu. Walau kau sebelumnya tidak tahu.
Rasulullah saw. bersabda :”Syi’ir yang terbaik (paling benar) yang pernah dibacakan seorang penya’ir adalah Syi’ir Labid* (bin Abi Rabi’ah al Amiri), yang berbunyi: “Ingat! Segala sesuatu selain Allah pasti binasa.” Dan hampir saja Ummayah bin Abis Shalt* menjadi muslim (karena syi’ir-syi’irnya) .”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari `Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan as Tsauri, dari `Abdul Malik bin`Umair,dari Abu Salamah,yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)

• Pada masa jahiliyah, Labid adalah seorang yang mulia demikian pula setelah ia masuk Islam. Ia merupakan penyair Arab yang terkenal saat itu. Namun setelah turun ayat-ayat Al-Qur’an ia berhenti membuat syi’ir dan ia hanya mencukupkan dengan al-Qur’an saja. Ia wafat pada tahun 41 H pada usia 140 tahun.

• Tentang Ummayah bin Abis Shalt, Rasulullah pernah bersabda: “Syi’irnya beriman, namun hatinya tetap kafir.”
“Aku pernah berada di belakang Nabi saw. (dibonceng), kepadanya kubacakan seratus qafiah (sajak) Syi’ir gubahan Ummayah bin Abis Shalt as Tsaqaf.Manakala kubacakan kepadanya sebait syi’ir, 

Nabi saw. bersabda : “Tambahkan lagi!” Sehingga kepadanya kubacakan seratus bait syi’ir, kemudian Nabi saw bersabda : “Sesungguhnya Ummayah itu hampir saja menjadi muslim.”(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Marwan bin Mu’awiyah*, dari `Abdullah bin `Abdurrahman at Thaifi, dari `Amr bin Syarid, yang bersumber dari ayahnya)

• Marwan bin Mu’awiyah bin Harits al kufi, ia dinyatakan tsiqat oleh jamaah. ia wafat tahun 193 H.
“Rasulullah saw. meletakkan mimbar untuk Hasan bin Tsabit di dalam masjid agar ia bersyi’ir yang membesarkan hati Rasulullah saaw., atau (perawi ragu) agar ia mempertahankan Rasulullah saw. Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya Allah swt. menolong Hasan lewat Jibril tatkala ia mempertahankan (atau membesarkan hati) Rasulullah saw. (dengan syi’irnya)” (Diriwayatkan oleh Isma’il bin Musa al Fazari, dan diriwayatkan oleh `Ali bin Hujr (semakna), keduanya menerima dari `Abdurrahman bin Zinad, dari Hisyam bin `Urwah, dari bapaknya (`Urwah), yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

BAHAGIAN 33 KELAKAR RASULULLAH SAW (KITAB ASY SYAMAIL)


Oleh Muhammad bin `Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dhahhak as-Sulami.
(Imam at-Tirmidzi)

“Sesungguhnya Rasulullah saw. bergaul akrab dengan kami, sehingga beliau bersabda kepada adikku yang masih kecil :”Wahai Abu `Umair (bapak Umair), apa yang dapat dikerjakan burung sekecil itu?”(Diriwayatkan oleh Hannad bin asSariyyi, dari Waki’, dari Syu’bah, dari Abit Tayyah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

• Ia adalah saudara seibu Anas bin Malik r.a., namanya adalah Ibnu Abi Thalhah Zaid bin Sahl al Anshari, sedangkan ibu bagi keduanya adalah Ummu Sulaim binti Malhan. Ibnu Abi Thalhah (Abu `Umair) wafat sewaktu masih kecil yakni dimasa Nabi saw. masih hidup.

• Imam Tirmidzi berkata :” Maksud Hadist ini, Rasulullah saw. bergurau. Di dalam pergurauannya, beliau memberi gelar kepada seorang anak kecil dengan sebutan bapak:”Wahai Abu `Umair (Wahai bapak `Umair). Pada hadist inipun terdapat suatu hukum,bahwa memberi mainan kepada anak-anak berupa burung tidak apa-apa.
Nabi saw.bersabda: “Wahai Abu `Umair apa yang dapat dikerjakan oleh burung sekecil itu ?”Maksudnya adalah : Anak kecil itu mempunyai burung kecil sebagai mainannya. Kemudian burung itu mati , maka anak tersebut berduka cita karenanya. Untuk mengobati dukanya Nabi saw bersenda gurau kepadanya.

“Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai Rasulullah! apakah Anda suka bergurau kepada kami?” Beliau bersabda : “Benar! Hanya saja apa yang kukatakan, tidak lain hanyalah kebenaran.”(Diriwayatkan oleh `Abbas bin Muhammad ad Duri, dari `Ali bin al Hassan bin Syaqiq, dari `Abdullah bin al Mubarak, dari Usamah Ibnu Zaid, dari Sa’id al Maqbari, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)

BAHAGIAN 32 MINYAK WANGI RASULULLAH SAW (KITAB ASY SYAMAIL)


Oleh Muhammad bin `Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dhahhak as-Sulami.
(Imam at-Tirmidzi)

“Rasulullah saw. bersabda :”Wewangian laki-laki ialah yang harum baunya dan tersembunyi warnanya. Sedangkan wewangian wanita ialah yang cemerlang warnanya dan tersembunyi baunya.”(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Daud al Hafariyyi, dari Sufyan, dari al Jurairi, dari Abi Nadhrah, dari seseorang*, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)

• Dalam riwayat lain yang juga bersumber dari Abu Hurairah r.a., sanadnya adalah:Diriwayatkan oleh `Ali bin Hujr, dari Isma’il bin Ibrahim, dari al Jurairi, dari Abi Nadhrah, dari at Thawafi, yang bersumber dari Abu hurairah r.a.

BAHAGIAN 31 CARA RASULULLAH SAW TERTAWA (KITAB ASY SYAMAIL)


Oleh Muhammad bin `Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dhahhak as-Sulami.
(Imam at-Tirmidzi)

“Betis Rasulullah saw kecil (tidak gemuk). Beliau tidak tertawa kecuali tersenyum.Bila aku memandang kepadanya, aku berkata (dalam hati); “Betapa hitam pelupuk matanya, padahal tidak dihitami.”(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari `Abbad bin al `Awwam, dari al Hajjaj –Ibnu Arthah-*, dari Simak bin Harb, yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.)

• Al Hajjaj (Ibnu Arthah) didla’ifkan oleh jamaah “Tiadalah tertawa Rasulullah saw kecuali tersenyum.”(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Khalid al Khilal, dari Yahya bin Ishaq, as Sailihani, dari Laits bin Sa’id, dari Yazid bin Abi Habib, yang bersumber dari`Abdullah bin al Harits r.a)

BAHAGIAN 30 CARA BICARA RASULULLAH SAW (KITAB ASY SYAMAIL)


Oleh Muhammad bin `Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dhahhak as-Sulami.
(Imam at-Tirmidzi)

“Rasulullah saw. tidak berbicara cepat sebagaimana kalian. Tetapi beliau berbicara dengan kata-kata yang jelas dan tegas. Orang yang duduk bersamanya akan dapat menghafal (kata-katanya)

(Diriwayatkan oleh Humaid bin Mas’adah al Bashriyyi, dari Humaid al Aswad, dari Usamah bin Zaid, dari Zuhri, dari `Urwah, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

“Rasulullah saw. suka mengulang kata-kata yang diucapkannya sebanyak tiga kali agar dapat difahami.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Yahya, dari Abu Qutaibah –Muslim bin Qutaibah-. dari `Abdullah bin al Mutsani, dari Tsumamah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

BAHAGIAN 29 TEMPAT MINUM RASULULLAH SAW (KITAB ASY SYAMAIL)


Oleh Muhammad bin `Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dhahhak as-Sulami.
(Imam at-Tirmidzi)

Anas bin Malik r.a. memperlihatkan kepada kami tempat minuman yang terbuat dari kayu. Tempat minuman itu tebal dan dililit dengan besi”. kemudian anas r.a.menerangkan : “Wahai Tsabit! Inilah tempat minum Rasulullah saw.”(Diriwayatkan oleh al Husain bin al Aswad al Baghdadi, dari `Amr bin Muhammad, dari `Isa bin Thuhman, yang bersumber dari Tsabit r.a.)

“Sungguh ke dalam cangkir ini telah kutuangkan berbagai minuman untuk Rasulullah saw., baik itu air, nabidz, madu ataupun susu.”(Diriwayatkan oleh Abdullah bin Abdurrahman,dari Hammad bin Salamah, dari Humaid dan Tsabit, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

• Nabidz adalah air kurma, yakni beberapa biji kurma dimasukkan ke dalam air kemudian dibiarkan (semalam) sampai airnya terasa manis.

BAHAGIAN 28 MINUMAN RASULULLAH SAW (KITAB ASY SYAMAIL)


Oleh Muhammad bin `Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dhahhak as-Sulami.
(Imam at-Tirmidzi)

“Minuman yang paling disukai Rasulullah saw adalah minuman manis yang dingin.”(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi `Umar, dari Sufyan, dari Ma’mar, dari Zuhairi, dari `Urwah,yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

BAHAGIAN 27 CARA MINUM RASULULLAH (KITAB ASY SYAMAIL)


Oleh Muhammad bin `Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dhahhak as-Sulami.
(Imam at-Tirmidzi)

“Sesungguhnya Rasulullah saw minum air zamzam sambil berdiri. “(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Husyaim, dari `Ashim al Ahwal dan sebagainya,dari Sya’bi, yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)

“Sesungguhnya Rasulullah saw menarik nafas tiga kali pada bejana bila Beliau minum. Beliau bersabda : “Cara seperti ini lebih menyenangkan dan menimbulkan kepuasan.”(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dan diriwayatkan pula oleh Yusuf bin Hammad,keduanya menerima dari `Abdul Warits bin Sa’id, dari Abi `Ashim, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

BAHAGIAN 27 DO’A RASULULLAH SAW. SEBELUM DAN SESUDAH MAKAN (KITAB ASY SYAMAIL)


Oleh Muhammad bin `Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dhahhak as-Sulami.
(Imam at-Tirmidzi)

“Pada suatu hari, kami berada di rumah Rasulullah saw, maka Beliau menyuguhkan suatu makanan. Aku tidak mengetahui makanan yang paling besar berkahnya pada saat kami mulai makan dan tidak sedikit berkahnya di akhir kami makan.” Abu Ayub bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimanakah caranya hal ini bisa terjadi?” Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya kami membaca nama Allah waktu akan makan, kemudian duduklah seseorang yang makan tanpa menyebut nama Allah, maka makannya disertai syetan.”(Diriwayatkan oleh Qutaibah Dari Ibnu Luhai’ah, dari Yazid bin Abi Habib, dari Rasyad bin Jandal al Yafi’I, dari Hubeib bin Aus, yang bersumber dari Abu Ayub al Anshari r.a.)

“Rasulullah saw bersabda : “bila salah seorang dari kalian makan,tapi lupa menyebut nama Allah atas makanan itu,maka hendaklah ia membaca :”Bismillahi awwalahu wa akhirahu.” (Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya).(Diriwayatkan oleh Yahya bin Musa, dari abu Daud, dari Hisyam ad Distiwai, dari Budail al Aqili, dari `Abdullah bin `Ubaid bin `Umair, dari Ummu Kultsum, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

• Ummu Kultsum binti `Uqbah bin Abi Mu’ith al Umawiyah, adalah salah seorang sahabat Rasulullah saw. dan ia merupakan saudara seibu `Utsman bin Affan r.a.”Apabila Rasulullah saw. selesai makan, maka Beliau membaca : “Alhamdulillahil ladzi ath’amana wa saqana wa ja’alana muslimin.” (Segala puji bagi Allah Yang memberi makan kepada kami, memberi minum kepada kami dan menjadikan kami orang-orang islam)(Diriwayatkan oleh Mahmud Ghailan, dari Abu Ahmad az Zubairi, dari Sufyan as Tsauri,dari Abu Hasyim, dari Ibnu Isma’il bin Riyah, dari bapaknya (Riyah bin `Ubaid), yang bersumber dari Abu Sa’id al khudri r.a.)

“Adapun Rasulullah saw, bila hidangan makan telah diangkat dari hadapannya,maka beliau membaca :”Alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ghaira muwadda’iw wa la mustaghnan `anhu Rabbana.” (Segala puji bagi Allah, puji yang banyak tiada terhingga. Puji yang baik lagi berkah padanya Puji yang tidak pernah berhenti. Dan puji tidak akan mampu lisan menuturkannya,ya Allah Rabbal `Alamin) (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Yahya bin Sa’id, dari Tsaur bin Yazid, dari Khalid bin Ma’danyang bersumber dari Abu Umamah r.a.)

BAHAGIAN 26 BUAH-BUAHAN YANG DIMAKAN RASULULLAH SAW (KITAB ASY SYAMAIL)


Oleh Muhammad bin `Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dhahhak as-Sulami.
(Imam at-Tirmidzi)

“Nabi saw memakan qitsa dengan kurma (yang baru masak).”(Diriwayatkan oleh Isma’il bin Musa al Farazi, dari Ibrahim bin Sa’id, dari ayahnya yang bersumber dari `Abdullah bin Ja’far r.a.)

• Qitsa adalah sejenis buah-buahan yang mirip mentimun tetapi ukurannya lebih besar (Hirbis) “Sesungguhnya Nabi saw memakan semangka dengan kurma (yang baru masak)”(Diriwayatkan oleh Ubadah bin `Abdullah al Khaza’i al Bashri, dari Mu’awiyah bin Hisyam,dari Sufyan, dari Hisyam bin `Urwah, dari bapaknya, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

BAHAGIAN 25 : LAUK PAUK YANG DIMAKAN RASULULLAH SAW (KITAB ASY SYAMAIL)


Oleh Muhammad bin `Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dhahhak as-Sulami.
(Imam at-Tirmidzi)

 “Sesungguhnya Rasulullah bersabda: “Saus yang paling enak adalah cuka.”
Abdullah bin `Abdurrahman berkata : “Saus yang paling enak adalah cuka.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Shal bin `Askar dan `Abdullah bin`Abdurrahman,keduanya menerima dari Yahya bin Hasan,dari Sulaiman bin Hilal, Hisyam bin Urwah, dari bapaknya yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

“Rasulullah saw bersabda : “Makanlah minyak zaitun dan berminyaklah dengannya. Sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi.”(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Ahmad az Zubair, dan diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim, keduanya menerima dari Sufyan, dari ` Abdullah bin `Isa, dari seorang laki-laki ahli syam yang bernama Atha’, yang bersumber dari Abi Usaid r.a.)

• Abi Usaid adalah `Abdullah bin Tsabit az Zarqi.

“Nabi saw  menggemari buah labu. maka (pada suatu hari) beliau diberi makanan itu, atau diundang untuk makan makanan itu (labu). Aku pun mengikutinya, maka makanan itu (labu) kuletakkan dihadapannya, karena aku tahu beliau menggemarinya. (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Muhammad bin Ja’far, dan diriwayatkan pula oleh Abdurrahman bin Mahdi,keduanya menerima dari Syu’bah, dari Qatadahyang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

“Nabi saw. menyenangi kue-kue manis (manisan) dan madu.”(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Ibrahim ad Daruqi, juga diriwayatkan oleh Salamah bin Syabib dan diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, mereka menerimanya dari Abu Usamah, dari Hisyam bin `Urwah yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

“Nabi saw diberi makan daging, maka diambilakan baginya bagian dzir’an.Bagian dzir’an kesukaannya. Maka Rasulullah saw Mencicipi sebagian daripadanya. “(Diriwayatkan oleh Washil bin `Abdul A’la, dari Muhammad bin Fudlail, dari Abi Hayyan at Taimi, dari Abi Zar’ah, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)

• Dzir’an adalah bagian tubuh binatang dari dengkul sampai bagian kaki.
“Daging yang paling baik adalah punggung.”(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Ahmad, dari Mis’ar, dari Syaikhan, dari Fahm,yang bersumber dari `Abdullah bin Ja’far r.a.)

• Namanya adalah Muhammad bin `Abdullah, disebut pula Muhammad bin `Abdurrahman, juga disebut Abu Hay.

Ahad, 19 April 2020

DUA KEHENDAK TIDAK BOLEH BERADA DALAM SATU HATI


Pada suatu masa Rabi'atul-'adawiyyah berpuasa selama lapan hari. Pada hari terakhir, beliau merasa lapar sedikit. Datang seorang hamba Allah membawa minuman yang manis dalam sebuah cawan. Rabi'atul'adawiyyah ambil minuman itu dan meletakkannya di atas lantai di satu penjuru rumahnya itu.

Beliau pun pergi hendak memasang pelita. Tiba-tiba datang seekor kucing lalu menumpahkan minuman dalam cawan itu. Melihat itu, terfikirlah Rabi'atul-'adawiyyah hendak minum air kosong sahaja untuk malam itu.

Tatkala ia hendak mencari bekas air (tempayan), pelita tiba-tiba ditiup angin dan ia pun terpadam. Bekas air itu jatuh kerana beliau tidak dapat melihat dengan jelas dan pecah. Airnya tumpah bertaburan di atas lantai. Beliau terduduk.

Rabi'atul'adawiyyah pun mengeluh sambil berkata,

"Tuhanku! Kenapa kau lakukan begini padaku?"

Terdengar suara ilham berkata,

"Rabi'atul-'adawiyyah, jika kamu hendakkan kurnia dunia, Aku boleh berikan padamu, tetapi Aku akan menarik balik darimu seksaan dan kesakitan yang Aku beri padamu. Kurnia dunia dan seksaan Aku tidak boleh duduk bersama-sama dalam satu hati."

"Wahai Rabi'atul-'adawiyyah! kamu hendak satu perkara dan Aku hendak satu perkara lain. Dua kehendak yang berlainan tidak boleh duduk bersama dalam satu hati."

Dengan serta merta beliau terasa seperti bayu lembut menghentam hatinya dan membuatnya sangat tenteram. Beliau pun membuangkan kehendak kepada keperluan hidup ini, seperti orang yang tidak berkehendakkan lagi perkara-perkara dunia ini semasa nyawa hendak bercerai dengan badan.

Tiap-tiap pagi beliau berdoa,

"Ya Allah ! Penuhilah masaku dengan menyembah dan mengingatMu agar orang lain tidak mengajakku dan menyibukkan aku dengan kerja-kerja lain."

Rujukan: Tazkiratul Auliyaa', Syaikh Fariduddin Al-Attar, terjemahan bahasa Melayu, Pustaka Aman Press.

Nota admin: Seperti yang telah diterangkan sebelum ini, musibah merupakan satu "hadiah" buat para nabi dan solihin termasuk para wali. Maka kefahaman orang Soleh tentang musibah jauh berbeza dengan kefahaman orang awam.

Orang awam menganggap musibah itu satu kecelakaan dan akan sentiasa merungut dan memaki hamun takdir serta menyalahkan semua di sekeliling kecuali dirinya.

Manakala para wali pula apabila berlaku musibah mereka akan bergembira kerana mereka telah menyerahkan diri mereka kepada Allah dan terserah Allah mahu lakukan apa sahaja kepada mereka, mereka redha dan anggap ia satu kehendak "kekasih".

Jika kekasih inginkan A, kita pula inginkan B, maka itu bukanlah kekasih. Kerana kekasih yang mencintai kekasihnya akan menuruti segala kehendak kekasih yang dia cintai.

Allah tidak perlu dan tidak berhajat kepada cinta kita, jadi tiada keperluan untuk Allah mengikut kehendak kita.

Kitalah yang berhajat kepada cinta Allah maka kitalah yang perlu mengikut kehendak Allah jika benar cinta kita pada Allah.

Setiap yang mengaku cinta Allah akan Allah uji dengan musibah, jika ia redha dan gembira, maka Allah akan kurniakan cintaNya itu kepada hamba tersebut. Dan jika ia tidak redha dan menyalahkan takdir, maka orang itu dikira "kafir tasawuf" yakni satu istilah yang digunakan para wali untuk menunjukkan seseorang itu telah dihalau keluar dari majlis Allah.

Tidaklah semua wali itu bermula Islah mereka dengan terus berjaya, setiap wali mempunyai pengalaman sendiri tentang musibah, misalnya kisah kali ini tentang Rabi'atul'Adawiyyah. Beliau juga ketika pada permulaan perjalanan Islah tidak dapat menahan tanggung kesakitan musibah sehingga beliau mengadu kepada Allah seperti yang telah diceritakan.

Namun atas kasih sayang Allah, Allah telah memberinya ilham dan menegurnya sehingga beliau telah berubah hatinya hanya teguh untuk mencintai Allah.

Mengapa orang lain yang merungut dengan musibah tidak dibantu Allah berupa ilham demikian?

Jawapannya adalah Ikhlas. Para wali ini sejak mula sangat ikhlas inginkan Allah. Bukan yang lain. Adapun orang lain, keikhlasan mereka diragui. Kadangkala mereka tiada langsung niat kerana Allah, lalu apabila musibah sampai, mereka dengan segera merungut. Jadi sejak awal lagi tiada hubungan dengan Allah, maka dihujung juga tiada hubungan dengan Allah.

Orang yang ikhlas, Allah akan sayang dan bantu.

Semoga Allah sayang kita semua.

MEMUKUL DIRI DENGAN KAYU GARA-GARA NAFSU


Telah menjadi kebiasaan Imam Al-Syibli membawa seikat kayu ke bilik tempat ibadatnya. Beliau akan memukul dirinya apabila sahaja fikiran-fikiran yang dipengaruhi oleh hawa nafsu datang menyelinap ke dalam khayalannya.

Apabila beliau keluar dari tempat ibadatnya itu, maka terlihatlah semua kayu-kayu itu telah habis patah. Apabila tidak ada kayu untuk dipatahkan lagi, beliau akan memukul tubuhnya ke dinding untuk mengawal fikirannya dari memberontak.

Beliau enggan bertemu dengan siapa pun jika sedang berada di biliknya itu.

Rujukan: Tazkiratul Auliyaa', Syaikh Fariduddin Al-Attar, terjemahan bahasa Melayu, Pustaka Aman Press.

Nota admin: Kisah sebegini banyak sekali diriwayatkan berlaku kepada para wali Allah. Sebelum mereka mencapai kewalian, mereka melakukan pengorbanan yang begitu dahsyat untuk menjinakkan nafsu mereka kerana mereka bukan nabi yang disinari Nur nubuwah sehingga tidak perlu kepada latihan sebegini. Mereka juga bukan para sahabat nabi dimana nabi yang agung berada di kalangan mereka sehingga Nur nubuwah itu juga terpancar ke dalam hati mereka sehingga darjat mereka menjadi semulia-mulia manusia hanya dengan sesaat bertemu Rasulullah atau sekilas pandangan kepada sang Rasul .

Para ulama bersepakat bahawa serendah-rendah darjat para Sahabat Rasulullah, adalah lebih tinggi daripada darjat setinggi-tinggi wali yang bukan di kalangan sahabat. Kerana para sahabat nabi dikurniakan sekurang-kurangnya "sesaat" untuk bersama nabi. Manakala setinggi-tinggi darjat wali yang bukan sahabat pula tidak diberi nikmat itu.

Maka "sesaat" menjadi sahabat Rasul, adalah lebih baik dari seluruh dunia dan akhirat seorang yang bukan sahabat.

Maka jika ada yang mengatakan "mengapa para wali begitu ekstrim dalam beribadah dan melawan nafsu sedangkan perkara itu jika baik, tentulah akan dilakukan terlebih dahulu oleh para sahabat nabi", maka jawapannya adalah seperti di atas.

Kita manusia biasa, bukan nabi, bukan pula sahabat. Darjat manusia biasa dengan nabi dan para sahabat sangat berbeza. 2 rakaat solat sunat sahabat nabi, darjatnya berganda lebih tinggi di sisi Allah berbanding 2 rakaat solat sunat yang dilakukan oleh jutaan umat Islam pada hari ini. Maka tidak ada keperluan untuk para sahabat berlaku "ekstrim" terhadap ibadat mereka kerana ibadat biasa mereka sahaja tidak ada seorang wali pun berjaya capai darjatnya.

Maka para wali yang bukan sahabat akan sering melakukan amalan yang ekstrim dengan harapan mereka dapat bersama nabi dan para sahabat di syurga kelak.

Ia umpama terdapat sekumpulan genius dari sebuah universiti dan ada pula sekumpulan kecil pelajar sekolah rendah yang ingin bersama genius tersebut. Namun disebabkan mereka masih kecil dan berbeza dari segala segi, mereka tidak mampu mencapai darjat para genius di universiti tersebut. Tetapi oleh kerana mereka sangat ingin untuk dikumpulkan bersama genius tersebut, maka mereka pun mula belajar secara ekstrim melebihi pelajar sekolah rendah yang lain sehingga ramai menganggap mereka ini gila.

Tidak ada misalan yang dapat kami fikirkan sejelas ini dan jika Allah berkehendak, Allah akan beri kefahaman tanpa perlu misalan pun. Tetapi jika Allah menghijab, maka sejuta misal pun tetap tidak akan difahami.

Semoga Allah beri kita faham sepertimana yang Dia sendiri kehendaki sesuatu itu difahami, bukan yang kita kehendaki sesuatu itu difahami.

Wallahua'lam.

MINTALAH TERUS DARIPADA ALLAH!


Imam Mumsyad Ad-Dinuri merupakan salah seorang sufi yang mahsyur.

Pada suatu hari, seorang darwisy (sufi) meminta Ad-Dinuri berdoa untuknya kepada Allah kerana mahsyur beliau seorang sufi yang mustajab doanya.

Entah mengapa beliau kurang menyenangi permintaan itu lalu menjawab,

"Pergilah kepada Allah dan terus memohon kepadaNya, kamu tidak perlu perantara."

Darwisy ity bertanya, "Di mana Dia?"

Beliau menjawab, "Apabila kamu tidak ada diri kamu (fana) di situlah Dia."

Mendengarkan itu, darwisy itu pun pergi ke tempat yang lengang dan di sana dia berdoa. Allah langsung kabulkan permohonannya. Beliau pun tinggalkan tempat itu.

Satu hari, bandar tempat Ad-Dinuri tinggal itu telah dibanjiri air. Ad-Dinuri tiba-tiba bertemu dengan Darwisy tersebut dan lihat darwisy itu sedang duduk atas tilam di permukaan air.

Ad-Dinuri terperanjat dan bertanya bagaimana dia dapat berbuat demikian hingga tidak ditenggelami air. Darwisy itu menjawab bahawa itu adalah hasil kumiaan Tuhan dan kerana patuh kepadaNya.

Allah telah jadikan dia dapat memohon terus kepadaNya tanpa perantara lagi, dan Allah kabulkan doanya terus langsung. Ianya menjadi tamparan hebat kepada ad-Dinuri kerana sebelum ini beliau seolah-olah memandang rendah kepadanya.

Semenjak itu Ad-Dinuri berhati- hati dan tidak pemah bersikap kasar kepada orang-orang darwisy.

Nota admin: Merupakan satu adat dan adab kebiasaan untuk meminta orang Soleh doakan kita seperti yang dilakukan oleh para sahabat Nabi kepada Nabi dan sesama mereka. Bahkan kisah yang mahsyur Saidina Abu Bakar dan Saidina Umar رضي الله عنهم telah meminta doa daripada Imam Uwais Al-Qarni رحمه الله walaupun beliau seorang tabiin (tidak pernah bertemu nabi, tapi pernah bertemu para sahabat).

Jadi ia dikategorikan sebagai amalan "sunnah" dalam kategori "taqririyyah" iaitu sesuatu yang dilakukan di hadapan nabi dan baginda mengakuinya sebagai baik serta tidak menghalangnya daripada dilakukan.

Termasuk sunnah taqririyyah ialah para wanita memakai niqab dan purdah. Ianya dikira "sunnah" walaupun baginda seorang lelaki dan tidak perlu berpurdah. Namun amalan itu diamalkan oleh isteri-isteri baginda yakni ibu-ibu kita dan baginda meredhainya serta tidak menghalang mereka bahkan memuji pula.

Para wali manusia biasa, adakala mereka juga terlalai, hanya para nabi dan Malaikat sahaja yang tidak berdosa dan sentiasa taat. Jadi apa yang berlaku kepada ad-Dinuri ini merupakan hal biasa.

Kata ulama, para nabi itu maksum (tidak melakukan dosa), para wali pula mahfuz (dilindungi dari dosa). Beza "tidak melakukan" dengan "dilindungi dari" sangat mudah kita fahami. Yakni yang maksum pastilah tiada dosa, yang dilindungi pula tentulah kadangkala ada yang "terbocor" terkeluar daripada perlindungan, kadang kala ianya untuk tarbiah orang Soleh itu sendiri.

Jadi peristiwa ini menjadi pengajaran buat beliau khas dari Allah supaya jangan memandang rendah pada sesiapa pun kerana kemungkinan yang datang kepada kita itu memang ahlullah atau wali Allah dan kita tidak akan mahu menyakiti mereka kerana menyakiti mereka beerti mengisytiharkan perang kepada Allah.

Amat sedih pada hari ini, para ulama dicemuh, orang sufi dituduh sesat dan bidaah, para solihin pula dianggap syirik dan dilontarkan pelbagai kata nista, fitnah dan dusta.

Semoga pelakunya segera bertaubat agar tidak "diperangi" oleh Allah. Jika orang jalanan pun tidak boleh kita sangka buruk atau pandang rendah, apatah lagi orang yang zahirnya Soleh.

AKU DIGAJI UNTUK MENJAGA KEBUN INI, BUKAN UNTUK MAKAN BUAHNYA

Seorang hamba Allah, tanpa mengetahui siapa Imam Ibrahim Adham, telah menggaji Ibrahim untuk menjaga kebunnya. Satu hari, tuannya itu menyuruh Ibrahim memetik buah delima yang manis. Ibrahim pun mengambil beberapa buah tetapi semuanya masam. Oleh itu, tuannya itu pun berkata,

"Kamu telah berbulan-bulan bekerja di kebunku tetapi kamu tidak juga tahu membezakan mana buah manis dan mana buah masam."

Ibrahim menjawab,

“Aku hanya digaji untuk menjaga buah-buahan itu, bukan untuk merasainya."

Tuan kebun itu berkata,

“Jadi, kamu ini pasti Ibrahim Adham?"

Ibrahim pun tidak menjawab dan menghilang dari situ.

Nota admin: Salah satu sifat kewalian ialah amanah dan takwa. Amanah juga salah satu sifat wajib bagi para nabi. Maka tidak hairanlah jika para wali ini pewaris para nabi kerana merekalah yang mewarisi sifat ini dan sebarkan ia di atas muka bumi, wujud mereka akan mengekalkan kewujudan sifat ini juga. Betapa ramai orang yang "beragama" atau "orang berilmu" yang tidak amanah di dunia ini seperti menyalahgunakan harta wakaf ataupun menggunakan harta yang bukan miliknya untuk kegunaan peribadi dan ia dianggap "halal" pula seperti menggunakan telefon pejabat untuk panggilan peribadi (jika tiada syarat bertulis atau lisan yang ia boleh digunakan untuk peribadi).

Dan sekiranya orang yang dianggap beragama pun bersifat demikian, maka orang awam dan orang biasa pula lebih berpuluh kali ganda dahsyat kerosakan yang berlaku ke atas mereka. Berapa ramai pekerja pejabat yang curi tulang. Waktu pejabat mereka keluar minum. Claim resit secara tipu, gunakan barang pejabat atau kerajaan untuk kegunaan peribadi dan lain-lain aktiviti haram yang sering dianggap "halal". Yang dianggap "haram" hanyalah jenayah besar seperti rasuah, gelapkan wang syarikat, penipuan dan lain-lain. Ini satu kerosakan yang besar!

Guru kami mengatakan, jika ulama berjaga, maka umat tidur (masih boleh dikejutkan), tapi jika ulama tidur, maka umat akan mati. Maka jika ahli agama rosak, itu petanda bahawa masyarakat awam sudah terlampau tenat kerana ulama itu datangnya dari orang awam/biasa. Orang awam yang rosak akan menghasilkan ahli agama yang rosak pula. Sama seperti pemimpin yang rosak dan khianat datangnya dari rakyat yang fasik dan jahat. Maka atas sebab itulah program Islah besar-besaran ke atas umat awam sangat penting dilakukan dari sekarang supaya generasi akan datang bakal melahirkan ulama yang Soleh dan pemimpin yang amanah.