Catatan Popular

Khamis, 29 Julai 2021

Empat Nasihat Imam Ahmad Bin Hanbal Agar Kita Selamat

Imam Ahmad bin Hanbal atau yang juga dikenal dengan nama Imam Hanbali merupakan salah satu imam mazhab dalam fikih Islam. Mazhabnya dikenal dengan nama mazhab Ahmad bin Hanbal atau mazhab Hanbali.


Imam yang dikenal sebagai pakar fikih, hadis, dan teologi dalam Islam itu lahir di Mary, Turkmenistan pada 780 M dan meninggal di Baghad pada 855 M.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah menyampaikan nasihatnya tentang bagaimana caranya agar manusia diberi keselamatan oleh Allah.

Adapun nasihat Imam Ahmad bin Hanbal tersebut berbunyi, "Allah mewahyukan kepada Isa AS, 'jika kau seorang diri jagalah hatimu, jika kau bersama orang jagalah lisanmu, jika kau berada di meja makan jagalah perutmu, dan jika kau berada di jalan jagalah matamu. Itu akan memberikanmu keselamatan," kata Imam Ahmad bin Hanbal

Doa Ampuh Imam Ahmad

 Suatu saat ibu Ali bin Abi Fizarah sakit, ia tidak bisa berdiri dengan kedua kakinya. Kemudian sang ibu pun menyuruh anaknya untuk meminta doa agar memperoleh kesembuhan kepada Imam Ahmad bin Hanbal.

Ali bin Abi Fizarah pun segera menuju rumah Imam Ahmad dan mengetuk pintu. Kemudian Imam Ahmad pun bertanya mengenai maksud dari kedatangannya. Ali bin Abi Fizarah pun menjawab, “sesungguhnya ibuku sedang sakit, ia tidak mampu berdiri dengan kedua kakinya, ia meminta doa kepada Anda”.

Imam Ahmad pun menyampaikan dengan penuh tawadhu`,”lalu siapa yang hendak mendoakan kami?”

Karena malu, Ali bin Abi Fizarah segera meninggalkan Imam Ahmad. Dan di saat ini ada seorang nenek tua keluar dari pintu rumahnya berkata kepada Ali bin Abi Fizarah,”Engkau meninggalkan Imam Ahmad, yang mendoakan ibumu?”

Ketika sampai di rumah dan menemui sang ibu, Ali bin Abi Fizarah mendapati ibunya berdiri dan tidak ada lagi rasa nyeri yang dirasakan. Ali bin Abi Fizarah pun amat bergembira waktu itu dan ia tahu bahwa itu karena keberkahan doa Imam Ahmad. 

Berkah dari Imam Ahmad bin Hanbal

Ibnu Jawzi menuturkan sebuah kisah : “bahwa pada suatau malam, Imam Syafi’i bermimpi bertemu Rasulullah saw. dan memerintahnya agar menyampaikan salam beliau kepada Imam Ahmad ibn Hanbal.

Kesokan harinya, Imam Syafi’i memerintahkan Rabî’- murid beliau- agar membawakan surat menemui Imam Ahmad ibn Hanbal. Rabî’ bergegas pergi menuju kota Baghdad dan menyerahkan surat tersebut, setelah membacanya, Ahmad meneteskan air mata.

Rabi’ bertanya kepadanya, ‘Ada apa di dalamnya wahai Abu Abdillah?’

Ahmad menjawab ‘Beliau menyebut bahwa beliau melihat nabi dalam mimpi dan berkata kepadanya, ’Tulislah surat kepada Abu Abdillah Ahmad ibn Hanbal dan sampaikan salamku kepadanya! Dan katakan, ‘Engkau akan diuji dan dipaksa mengatakan bahwa Alquran itu makhluq, maka jangan engka turuti permintaan mereka, Allah akan meninggikan derajatmu sebagai panutan di setiap masa hingga hari kiamat.

Rabi berkata, “Aku berkata, ‘Ini kabar gembira.’

Lalu Ahmad melepas baju dalamnya yang menyentuh badannya dan menyerahkannya kepadaku, aku mengambilnya dan akupun pulang menuju negeri Mesir bersama surat jawaban Ahmad.

Setelah aku serahkan kepada Imam Syafi’i, beliau bertanya, ‘Apa yang ia berikan kepadamu?’
Aku menjawab, ‘baju gamis yang langsung menyentuh badannya’

Imam Syafi’i berkata kepadaku, ‘Aku tidak ingin merampasnya darimu, tapi basahi dia dan serahkan kepadaku sisa air cuciannya agar aku juga dapat mendapat berkah sepertimu.

Maka, kata rabi’, ‘Aku mencucuinya, dan aku bawakan sisa air cuciannya kepadanya aku telakkan di botol, aku menyaksikan beliau setiap hari mengambil sedikit air darinya dan mengusapkannya ke wajah beliau, untuk mengambil keberkahan dari Ahmad ibn Hanbal.

Berebut Sepotong Roti Pemberian Imam Ahmad Bin Hanbal

Pada suatu pagi Ahmad bin Hanbal duduk di Masjid di hadapan murid-muridnya. Kemudian, seorang pengemis datang dan Ahmad bin Hanbal pun memberikan sepotong roti.


Salah seorang muridnya kemudian menghampiri pengemis tersebut dan berkata, "Berikan roti itu kepadaku, aku akan ganti dengan yang lain."

"Tidak mau," kata pengemis itu.

"Roti itu tidak senilai satu dirham," kata murid Imam Ahmad bin Hanbal.

Pengemis itu tetap tidak mau menyerahkan rotinya. Akhirnya, murid Imam Ahmad bin Hanbal berkata, "Aku akan memberimu lima puluh dirham!"

Pengemis itu manggut-manggut lalu berkata, 'Aku mengharapkan berkah darinya (Imam Ahmad bin Hanbal), sama seperti kamu yang juga mengharapkan berkah darinya," kata pengemis.

 

Anak Hafal Al Fatihah Abu Hanifah Beri Guru Ngaji 1000 Dirham

 IMAM Abu Hanifah mengundang seorang guru untuk mengajari putranya menghafal Al Qur`an. Maka tatkala sang putra berhasil menghafal Al Fatihah Imam Abu Hanifah memberikan kepada guru itu 1000 dirham.

“Anda menganggap sepele apa yang telah Anda ajarkan kepada anak saya, kalau seandainya aku memiliki lebih banyak dari itu maka aku akan memberikan kepada Anda sebagai bentuk pengagungan saya terhadap Al Qur`an”, kata Imam Abu Hanifah.

“Saya belum melakukan apa-apa, sehingga Anda perlu memberikan harta ini”, jawab sang guru takjub.

Abu Hanifah Menolak Jadi Hakim

Imam Abu Hanifah adalah pendiri mazhab islam terbesar didunia : Mazhab Hanafi. Mahzab ini terutama dianut di sebagian Timur tengah, India, Rusia, Tiongkok, Turki, Afghanistan, Pakistan, Bangladesh dan sebagainya. Berbeda dengan kita yang menganut Mahzab Syafii.

Abu Hanifah adalah seorang Ulama sekaligus Pedagang yang sukses. Kekayaannya memberikan dia kebebasan yang cukup luas sehingga bisa berpikir secara independen.

Memiliki otak yang cemerlang, kemampuan menghafal yang kuat, disertai kemampuan debat yang sulit ditandingi, Abu Hanifah disarankan untuk memperdalam ilmu agamanya dengan berguru pada ulama setiap hari. Dia belajar dari hampir 4000 orang guru, tapi guru yang punya peranan paling besar dalam hidup Abu Hanifah adalah Syaikh Hammad bin Abu Sulaiman. Syaikh Hammad untuk pendeknya.

Awalnya Syaikh Hammad tidak senang pada Abu Hanifah, karena dia bawel. Banyak tanya dan suka mendebat. Bahkan berani ngotot mempertahankan pendapatnya.

Tetapi perlahan bakat dan amalannya terhadap ilmu agama akhirnya malah membuat Syaikh Hammad jatuh sayang padanya. Abu Hanifah akhirnya berguru selama 18 tahun padanya, sampai Syaikh wafat.

Setelah Syaikh Hammad wafat, Abu Hanifah yang ketika itu berusia 40 tahun, menggantikan kedudukannya sebagai pengajar dan pemberi fatwa. Dan ini dijalankannya dengan sangat baik.

Kelebihannya adalah dia mampu menggabungkan hukum syara' dengan logika, antara sistem dengan substansi. Dalam masa hidupnya, sekitar 600.000 perkara fiqih diputuskannya. Ulama kecil sampai ulama besar semua merujuk padanya, bahkan sampai sekarang.

Metode Ijtihad Abu Hanifah sangatlah demokratis dan terasa sangat modern bahkan untuk ukuran kita sekarang. Dia akan melemparkan suatu topik permasalahan dalam sebuah forum terbuka, lalu menyampaikan pendapat dan argumentasinya mengenai masalah itu. Semua yang hadir boleh mendebatnya sepuas hati, bahkan sampai seharian.

Abu Hanifah menyatakan, "Kalau kalian berada di tengah masyarakat dan dihadapkan sebuah permasalahan, jawablah sesuai dengan pemahaman yang berkembang di masyarakat. Setelah itu, baru kemukakan pendapat pribadimu beserta argumentasinya". Suatu cara yang keren sekali menurut saya karena tidak memaksakan pemahaman dan pendapat sendiri pada orang yang berbeda.

Kemahsyuran Abu Hanifah sampai pada Khalifah Abu Ja'far Al-Mansur yang saat itu sedang mencari seorang Hakim Agung. Posisi istimewa yang kedudukannya hanya satu tingkat dibawah sang Khalifah sendiri. Tetapi ini berarti Abu Hanifah akan kehilangan kemandiriannya dan berada dibawah kekuasaan Khalifah.

Abu Hanifah merasa, tanpa kebebasan mutlak, akan sulit baginya menjadi hakim yang adil. Karenanya, setelah melakukan Sholat Istikharah, Abu Hanifah memutuskan untuk menolak permintaan Khalifah.

Khalifah Al-Mansur bukanlah seorang yang bisa menerima penolakan dengan baik, dengan murka dia menuntut penjelasan kepada Abu Hanifah :

"Kenapa kamu menolak tawaranku?"

"Maaf Baginda, saya tidak pantas menjabat sebagai Hakim," Jawab Abu Hanifa

"Pembohong!!" Khalifah berteriak murka

"Jika benar saya berbohong sesuai perkataan Yang Mulia, maka itu menjadi bukti bahwa saya tidak pantas menjadi Hakim Agung. Mana boleh Hakim Agung berbohong?"

Dengan marah Khalifah melemparkan Abu Hanifah kedalam penjara ditambah dengan hukuman cambuk. Tapi pengaruh Abu Hanifah saat itu masih cukup besar dikalangan umat, sehingga kemudian akhirnya dia dibebaskan.

Khalifah mencoba lagi membujuk Abu Hanifah dengan uang dalam jumlah besar, agar mau menjadi hakim. Tapi ditolak mentah-mentah, yang kembali menyebabkan Khalifah murka dan kembali menjebloskan Abu Hanifah ke penjara.

Pemarah sekali ya Khalifah ini? Tidak heran Abu Hanifah menolak bekerja padanya. Bagaimana bisa memutuskan dengan adil dibawah Khalifah seperti itu? Sementara sebagai seorang Imam, tentu beliau mengerti hukuman Allah berat sekali kepada Hakim yang tidak adil. Inilah mengapa Abu Hanifah bersikeras menolak jabatan tinggi dengan segala harta yang menyertainya.

Selama dipenjara Abu Hanifah tetap menerima murid, memberikan fatwa, dan tetap memiliki pengaruh kuat diantara umat. Penderitaan Abu Hanifah selama dipenjara menimbulkan kegelisahan rakyat, sehingga para mentri mengusulkan agar Khalifah melepaskan saja Abu Hanifah sebagai tahanan rumah.

Berdasarkan beberapa kisah, Khalifah memang melepaskan Abu hanifah, tapi sementara itu makanannya diracuni, sehingga akhirnya beliau meninggal diusia 68 tahun di tahanan rumah.

 

Kabarnya 50.000 orang mengiringi pemakaman Abu Hanifah, dengan 6 putaran sholat. Barulah setelah sholat Ashar beliau bisa dimakamkan, begitu penuhnya pemakaman beliau.

Demikianlah kisah hidup Abu Hanifah yang sangat mengesankan. Semoga teladannya bisa diikuti oleh hakim-hakim kita, tapi tentunya minus akhir yang tragis.

Abu Hanifah Mempermalukan Orang Sombong

Salah seorang ulama berada di masjid Rushafah hendak memamerkan kemampuan intelektualnya. Dengan sombongnya Ia berkoar di hadapan para hadirin, “aku siap menjawab pertanyaan sesulit apapun dari kalian!”. Tanpa Ia sadari bahwa di antara hadirin yang ia tantang untuk mengajukan pertanyaan kepadanya terdapat seorang alim pendiri madzhab Hanafi; Abu Hanifah. Seorang ulama yang yang jauh lebih lebih alim dan rendah hati.

Sejurus kemudian Abu Hanifah mengacungkan jari tangannya untuk mengajukan pertanyaan kepada ulama yang terbujuk itu. “Apa pertanyaanmu?”, tantang ulama sok alim tersebut. Abu Hanifah kemudian menyampaikan pertanyaannya, “semut yang berbicara dengan Nabi Sulaiman AS itu laki-laki apa perempuan?”. Mendengar pertanyaan Abu Hanifah yang sederhana namun sulit dijawab tersebut, orang sok alim tadi tidak bisa menjawab. Ia merasa malu dan hanya dapat menundukkan kepala.

Karena tidak mampu dijawab, Abu Hanifah menjawab pertanyaannya sendiri, “sesungguhnya semut tersebut berjenis kelamin perempuan”.

Ulama yang arogan tersebut penasaran dengan jawaban Abu Hanifah. lantas Ia menanyakan dalilnya kepada Abu Hanifah.

Dengan sigap dan cekatan Abu Hanifah menjelaskan:

“Dalilnya adalah firman Allah:

Bahwa dalam ayat tersebut fi’ilnya kata “namlah” berupa shighat mu’annats (qalat)  yang menunjukan bahwa semut yang berbincang dengan Nabi Sulaiman adalah perempuan”.

Setelah memberi jawaban sekaligus penjelasan dalilnya, Abu Hanifah memberi nasehat kepada ulama yang sok alim tersebut, “Sebenarnya saya tidak ingin bertanya kepadamu. Aku lebih suka untuk mengatakan kepadamu; janganlah kau terbujuk dengan kelebihan yang kau miliki”.

Demianlah akibat merasa paling benar sendiri. Sifat keakuan merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Sebab sifat tersebut dapat mendorong kepada kesombongan yang darinya timbul banyak kemafsadatan. Siapa yang tak kenal dengan Iblis? sosok makhluk yang ibadahnya rajin bahkan melebihi malaikat-malaikat penghuni surga. Hanya karena sifat keakuaannya, ia menjadi makhluk Allah yang celaka.

Abu Hanifah Khatam Al Quran 60 Kali Selama Ramadhan

Berbagai cara dilakukan umat Islam untuk mengisi bulan suci Ramadhan. Itu semata-mata untuk meningkatkan ibadah dan mencari keberkahan sebanyak-banyaknya, karena di bulan suci ini, Allah SWT memberikan pahala yang sangat besar.

Di bulan Ramadhan, akan terlihat banyak kegiatan buka puasa bersama, membagikan takjil (makanan berbuka puasa) kepada orang lain, bersedekah, tarawih, sholat sunat, serta membaca Al Qur'an. Bagian terakhir ini (membaca Al Qur'an) di bulan Ramadhan menjadi hal yang wajib dilakukan oleh sebagian besar umat Muslim. Bahkan, ada yang sudah berniat menamatkan (khatam) Al Qur'an di bulan Ramadhan kali ini.

Nu’man bin Tsabit, atau yang lebih dikenal sebagai Abu Hanifah, ulama pendiri Mazhab Hanafi, dalam kitab al-Tadwin fi Akhbar al-Qazwain, diceritakan bahwa di bulan Ramadan, Abu Hanifah mengkhatamkan Quran sebanyak dua kali setiap hari, satu kali di siang hari dan satu lagi di malam hari. 

“Ali bin Zaid berkata: Imam Abu Hanifah telah mengkhatamkan al-qur’an sebanyak 60 kali selama bulan ramadhan, beliau mengkhatamkan pada malam dan siang hari”

Di akhir hayatnya, seperti yang dikutip dalam Tarikh Ibn al-Wardi dan Tahdzib al-Kamal, Abu Hanifah mengkhatamkan Quran sampai 7 ribu kali sampai ia wafat. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Imam Malik bin Anas ketika ditanya oleh Imam al-Syafi’i,


ABU HANIFAH ULAMA PENENTANG PENGUASA ZALIM

Abu Hanifah bin Nu’man bin Tsabit adalah teladan sejarah dalam memiliki karakter dan yang berlandaskan pada agama. Dilahirkan di Kufah tahun 80 H. dan wafat di Baghdad tahun 150 H, dikenal sebagai tokoh Ahlul Ra’yi (aliran rasionalitas).

 

Pernah dua kali ditunjuk menjadi qadhi, pertama pada masa Bani Umayyah dan yang kedua, masa Abbasiyah. Namun keduanya ditolak. Sikap tegasnya pada khalifah Al-Manshur sangat masyhur. Semuanya mencerminkan karakter Abu Hanifah yang tidak mudah tunduk kepada tirani.

 

Takdir berbicara, bagaimana Abu Hanifah mendapat ujian akibat politik kezhaliman. Api pemberontakan terhadap penguasa Umawiyah yang sadis dan tiran berkobar di seantero negeri yang berakhir dengan pembantaian missal yang mengerikan. Dalam situasi kacau dan memprihatinkan itu, Imam Abu Hanifah didatangi utusan penguasa Irak yang durjana, Yazid bin Hubairah yang menawarkan jabatan qadhi bersama sejumlah ulama lainnya.

 

Sebagai seorang yang berilmu dan berfikiran tajam, Abu Hanifah sadar bahwa penguasa durjana dan para pemimpinnya yang biadab itu hanya bertujuan menjadikan dirinya dan para ulama lain sebagai justifikasi bagi perbuatan jahat mereka. Justifikasi para ulama ini akan dimanfaatkan para penguasa untuk mengelabui masyarakat, bahwa kebiadaban mereka sah dan didukung penguasa zhalim.

 

Dengan tegas Abu Hanifah mengumumkan penawan itu secara terbuka. Ia berkata bahwa, demi Allah, jika Ibnu Hurairah membuka pintu-pintu kota Wasith bagiku, aku akan menolak untuk memasukinya, maka bagaimana mungkin aku menerimanya, padahal ia hendak membunuh seorang laki-laki mukmin? Demi Allah, aku menolak selamanya.

 

Penolakan ini membuat pemimpin tirani berang. Ia menjebloskan Abu Hanifah ke penjara selama dua minggu dengan harapan, berubah fikiran. Selama dalam penjara, Abu Hanifah dicambuk 10 kali setiap hari selama 10 hari, hingga nyaris nyawanya terenggut.

 

Namun, Allah berkata lain, dinasti Umawiyah tumbang akibat kezalimannya yang melampau. Ketegasan sikap Abu Hanifah terhadap penguasa zhalim dinasti Umawiyah yang tercermin pada sosok Yazid bin Hubairah, juga beliau lakukan terhadap Abu Ja’far Al Manshur, penguasa Abbasiyah. Hal ini disadari logika pemikirannya bahwa seorang tiran yang zhalim harus diperangi, tak peduli apakah ia Umawiyah atau Abbasiyah.

 

Ketika itu, Al-Manshur menawarkan jabatan yang dulu pernah ditawarkan Dinasti Umawiyah, tetapi Abu Hanifah bersikukuh menolaknya. Keduanya sama-sama ngotot. Al-Manshur ngototmenawarkan agar Abu Hanifah menerima jabatan itu, bahkan ia bersumpah, sedang Abu Hanifah juga demikan halnya tetap menolak dan bersumpah untuk tetap dalam pendiriannya. Rabi’ bin Yunus, menteri Al Manshur berkata, “Tidakkah engaku lihat Khalifah bersumpah?” Abu Hanifah menjawab, “Ia lebih mampu membayar keffarat atas sumpahnya daripada aku!” akhirnya Abu Hanifah ditangkap lalu dipenjarakan. Namun setelah beberapa hari dia ditanya lagi, “Bersediakah engakau?” Abu Hanifah menjawab, “Aku tidak layak menjadi qadhi.” “Engaku dusta!”, sergah Al Manshur. “Engkau telah mengatakan aku pendusta, berarti aku tidak patut menjadi qadhi.

 

Kalaupun aku pendusta, aku tetap akan mengatakan, ‘tidak’” tukas Abu Hanifah tanpa beban. Al Manshur berang dan memvonis hukuman cambuk pada Abu Hanifah. Hukuman inilah akhirnya merenggut nyawanya, ia wafat setalah mendapat cambukan kali ke 130. Ruhnya yang suci melayang saat beliau sujud. Abu Hanifah wafat sebagai syuhada, sementara Al-Mashur menjalani hari-harinya dan dinyatakan oleh sejarah sebagai seorang penguasa zhalim dan durjana. Tepat di di tahun wafatnya 150 H, Imam Syafi’i juga lahir, dengan itu sering dikatakan bahwa imam yang satu pergi dan yang lain datang.

 

Karakter ketabahan dan konsistansi dalam mempertahankan kebenaran (istiqamah), melawan kezaliman yang dilakukan oleh penguasa tiran adalah sebuah karakter yang merupakan dasar dari ajaran Islam yang tidak diperselisihkan lagi kebenarannya.

 

 

Selasa, 27 Julai 2021

Imam Malik bin Anas dan Kisah muridnya yang Tak Takut Gajah

Ketika ruang pengajian Imam Malik bin Anas Rahimahullahu Ta’ala penuh dengan pelajar yang menimba ilmu darinya.

Tiba-tiba ada yang berteriak, “Hoiii, ada gajah!”.

Langsung semua murid yang ada dalam ruangan semburat keluar, sebab itu kejadian luarbiasa.

Kecuali murid Yahya bin Yahya al-Laysi al-Andalusi, ia tidak bergeming dan menunggu setia keterangan guru mulianya.

“Kenapa kau tidak keluar seperti teman-temanmu untuk melihat makhluk ajaib itu? Bukankah gajah tidak ada di negaramu?!” tanya Imam Malik penasaran.

“Anu guru, aku ke sini dari negaraku, hanya ingin melihat kejiadian ini. Belajar dari petunjuk dan ilmumu. Bukan untuk melihat gajah …”

Takjub Imam Malik atas jawaban muridnya ini.

Dan seterusnya Beliau menjuluki Yahya dengan ‘Aqil Ahli Andalus: Cendekiawan negara Andalus.

Panggilan sekaligus doa sang guru mustajab.

Kelak waktu pulang ke Negeranya, Andalusia Spanyol. Syaikh Yahya menjadi salah satu pemuka daerahnya. Penyebar madzhab Maliki.

Dan riwayat kitab Muwattha karya Imam Malik yang paling baik dan paling masyhur adalah melalui goresan tintanya!

Sekaligus menjadi ulama yang sangat disanjung di kalangan Umara Andalusia, dan doanya mustajab!

Beliau wafat pada tahun 234 H. dan dimakamkan di dekat Masjid Cordoba di kawasan pemakaman Ibnu Abbas.

Beginilah Ketika Imam Malik bin Anas Berbeda Pendapat dengan Gurunya

Suatu saat Ibnu Syihab Az Zuhri, Ibnu Rabi’ah dan Imam Malik berdiskusi.

Kala itu Ibnu Syihab Az Zuhri yang merupakan guru dari Imam Malik menyampaikan sebuah persoalan.

Ibnu Rabi’ah yang juga guru dari Imam Malik pun menjawab.

“Mengapa engkau tidak menjawab?” Ibnu Syihab bertanya kepada Imam Malik yang memilih diam.

“Ustadz telah menjawabnya”, jawab Imam Malik.

“Kita tidak akan berpisah sebelum hingga engkau menjawabnya”, kata Ibnu Syihab Az Zuhri.

Imam Malik pun menjawab berbeda dengan jawaban gurunya, Ibu Rabi’ah.

“Marilah kita ambil pendapat Malik”, jawab Ibnu Syihab.

 

Beginilah Imam Malik bin Anas Saat Disengat Kalajengking ketika Sampaikan Hadits

Suatu saat Imam Ibnu Mubarak duduk di majelis Imam Malik yang saat itu menyampaikan hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Dalam keadaan seperti itu, seekor kalajengking menyengat Imam Malik sebanyak 16 kali. Air muka Imam Malik terlihat berubah, namun ia tetap meneruskan menyampaikan hadits.

Tatkala majelis hadits berakhir sedangkan para hadirin sudah membubarkan diri, Imam Ibnu Mubarak segera menghampiri Imam Malik.

“Wahai Abu Abdillah, aku telah menyaksikan darimu sebuah keajaiban hari ini”, kata Ibnu Mubarak. Lalu ia menyampaikan perihal sengatan kalajengking itu.

“Sesungguhnya aku bersabar atasnya karena menghormati hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam”, jawab Imam Malik.

Begini Cara Imam Malik bin Anas Menemui Gurunya

IMAM MALIK suatu saat mengisahkan bagaimana ia menemui gurunya Nafi’.

Ia datang di tengah hari saat terik matahari terasa panas dan menunggu gurunya itu keluar tanpa ada tempat berteduh.

Jika Imam Nafi’ keluar maka, Imam Malik tidak langsung menemuinya, melainkan menunggu beberapa saat seakan-akan Imam Malik tidak bermaksud menemuinya. Baru kemudian Imam Malik menyalaminya, kemudian ia pun menunggu hingga sang guru hendak masuk ke rumah.

Jika Imam Nafi’ sudah handak masuk maka Imam Malik mengatakan,”Apa yang dikatakan Ibnu Umar dalam masalah ini dan ini?”

Imam Nafi’ pun menjawab pertanyaan itu sedangkan Imam Malik menulisnya.

Bagaimana Imam Malik dididik

Terbaca kisah bagaimana cara ibu bapa Imam Malik mendidik Imam Malik sehingga beliau sendiri memilih jalannya sendiri. Sewaktu kecil, Imam Malik adalah seorang budak yang minat menyanyi dan bermain dengan burung merpati sehingga sedikit waktu sahaja beliau habiskan untuk mengulangkaji pelajaran.

Berdasarkan keputusan dalam pengajian, beliau adalah dikalangan yang terkebelakang berbanding dengan saudara-saudaranya yang lain kerana tidak peduli dengan pelajaran dan sibuk dengan minatnya sendiri. Ibu dan ayahnya amat menaruh harapan Imam Malik akan mejadi seperti mendiang datuknya yang alim dan faqih dalam ilmu agama.

Sehinggalah pada suatu hari ayahnya mengambil keputusan untuk mengadakan pertandingan soal jawab ilmiah setiap kali selesai solat jumaat. Hasilnya, adik kepada Imam Malik jauh lebih kehadapan berbandingnya.

Ayahnya tersenyum melihatnya sambil berkata:

“Burung merpatimu telah lalaikan kamu daripada menuntut ilmu.”

Perkataan itulah yang hanya diucapkan oleh ayahnya. Bukan berbentuk arahan atau kerahan. Sebaliknya ialah petunjuk secara tidak langsung kepada anaknya. Selepas itu Imam Malik pun berkata:

“Aku berasa marah apabila adik mendahuluiku dan aku mengambil keputusan untuk menunjukkan kepada ayah pencapaianku dalam bidang lain. Aku membuat keputusan untuk berjaya dalam nyanyian.”

Disinilah pula kita dapat melihat peranan seorang ibu yang inginkan kejayaan anaknya ketika ia berkata:

“Wahai Malik, seorang penyanyi itu jika tidak mempunyai suara yang merdu walaupun baik paras rupanya tetap tidak akan dipandang manusia.”

Ibunya tidak melontarkan ucapan berunsur penghinaan. Ia tidak mengatakan bahawa suaranya buruk atau memberikan arahan sepertimana ibu bapa pada hari ini yang hanya mengeluarkan arahan kerahan dan paksaan kepada anak sendiri.

“Pergi minum!, Cepat makan!, Baca buku tu sekarang…..”

Ini bukanlah tarbiyah! Tarbiyah ialah dengan cara meningkatkan kemampuan anak. Kemudian Imam Malik berkata:

“Habis, apa yang patut saya lakukan?”

“Kamu tidak akan kehadapan dalam nyanyian, tetapi kamu mungkin akan kehadapan dalan ilmu.” kata ibunya.

Pada malam hari, sebelum tidur beliau berfikir sejenak. Pada keesokan harinya ibunya datang.

“Nak. Ini hadiah baju aku belikan untukmu.”

Ibunya menghadiahkan sepasang baju ulamak. Imam Malik memakai baju tersebut dan meletakkan songkok ulamak di atas kepala dan terus keluar dari rumah.

“Apabila aku keluar dengan pakaian begitu, orang ramai melihatku. Maka aku berasa hebat pada ketika itu.”

Terus Imam Malik masuk semula ke rumah seraya berkata:

“Aku mahu ilmu, aku mahu ilmu!”.

Lihatlah! Beliau sendiri yang meminta dan ingin menimba ilmu. bukan paksaan atau atas kemahuan ibu bapa atau orang lain. Tetapi ia adalah kehendak sendiri dan timbul dari kemahuan sendiri. Maka itulah yang menjadikan beliau seorang alim dan faqih dalam bidangnya.

“Pergilah kepada seorang alim di madinah bernama Rabi’ah. Tuntutlah adabnya dahulu sebelum ilmunya.” Kata ibunya.

 

Aliyah binti Syuraik Al Azadiyah Ibunda Imam Malik bin Anas

Biasanya seorang ibu mengandung bayinya selama kurang lebih sembilan bulan. Namun tidak begitu halnya dengan Aliyah binti Syuraik, ia mengandung bayinya, yang kelak diberi nama Malik, selama tiga tahun. Tentunya hal itu adalah sebuah pengorbanan yang tak terkira dan perjuangan yang tak ternilai.

Sembilan bulan saja telah Allah gambarkan perjuangan seorang ibu dengan ungkapan "wahnan 'ala wahnin", kecapekkan di atas kecapekkan, sedangkan ini tiga tahun. Barangkali bisa kita bayangkan seperti apa perjuangan jasmani maupun ruhani seorang ibu yang seperti itu.

Tentunya ini merupakan sebuah kelebihan tersendiri bagi imam malik dibanding umumnya manusia. Hal ini juga merupakan bukti kekuasaan Allah Ta'ala. Tidak ada yang mustahil bagi Allah untuk dilakukan. Jika sesuatu telah dikehendakinya maka pasti terjadi, sekalipun dalam pandangan manusia terlihat ganjil.

Malik bin Anas bin Malik Abu 'Amir al-Ashbuhi al-Yamani. Lahir di kota hijrah, Madinah Munawwarah, pada tahun 93 Hijriyyah, tahun meninggalnya Anas bin Malik, sahabat sekaligus pembantu Rasulullah Saw. Ia melalui masa kanak-kanaknya di tengah kemewahan keluarganya. Meski demikian orang tuanya tetap mendidiknya sebagaimana keluarga muslim lainnya mendidik anaknya. Hal pertama kali yang ditekankan kepada anaknya adalah menghafal al-Qur'anul Karim. Sehingga Imam Malik sudah menghafal al-Qur'an dalam usia yang masih dini.

Selesai menghafal al-Qur'an, maka langkah selanjutnya yang dilakukan oleh orang tua Imam Malik adalah menekankan kepadanya untuk menghafal hadits. Hal tersebut dilakoni Imam Malik dengan senang hati lantaran kondisi kota Madinah Munawwarah yang mendukung, lantaran masih kental dengan sunnah-sunnah Rasulullah Saw.

Remaja yang kelak menjadi salah satu imam madzhab yang terkenal itu memiliki semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu. Iapun berniat untuk ikut dalam majelis-majelis ilmu para ulama' yang terkenal hari itu.

Niat mulia itupun ia sampaikan kepada ibunya. Aliyah binti Syuraik segera menyiapkan pakaian yang paling bagus untuk buah hatinya tersebut dan memberinya surban sebelum pergi menuntut ilmu.

"Sekarang, pergilah kamu untuk menuntut ilmu, dan catatlah ilmu yang kamu dapat!" kata Aliyah binti Syuraik kepada buah hatinya.

Ia juga berkata kepada anaknya, "Pergilah kepada Rabi'atur Ra'yi, dan pelajarilah ilmunya sebelum kamu mempelajari adabnya!"

Sebuah ungkapan tulus yang tentu meneguhkan hati sang anak untuk tetap istiqamah dalam menimba ilmu pengetahuan.

Benar, ternyata Malik muda sangat antusias mendengar setiap yang disampaikan oleh gurunya. Dari Rabi'atur Ra'yi ia belajar Fiqhur Ra'yi. Semangatnya yang besar itu direkam dan diakui oleh orang-orang yang semasa dengannya. Mereka menyatakan, "Aku melihat Malik duduk di majelis ilmu Rabi'ah. Di telinganya ada semacam anting. Dan itu menunjukkan ketelatenannya dalam menyimak ilmu. Sejak kecil ia sangat telaten untuk menghafal setiap ilmu yang ditulisnya. Biasanya setelah menulis ilmu yang disampaikan ia berjalan menuju sebuah pohon. Di sana ia menghafal lagi apa yang ditulisnya itu. Melihat hal itu, kakak perempuannya segera mengadukan hal tersebut kepada bapaknya.

"Wahai puteriku, biarkan saja, dia sedang menghafal hadits-hadits Rasulullah Saw!" jawab sang bapak dengan bijak.

Sejarah mencatat sejarah perjalanan keilmuannya yang sungguh menakjubkan. Imam Malik mulai menimba ilmu agama setelah menghafal al-Qur'an pada usia kurang lebih sepuluh tahun. Setelah itu ia mahir dan cakap dalam berfatwa serta duduk di majelis untuk menyampaikan ilmunya pada usia dua puluh satu tahun.

Pada usia yang sangat muda belia sudah banyak jama'ah yang meriwayatkan hadits darinya. Pada akhir masa Khalifah Abu Ja'far al-Manshur dan masa-masa setelahnya banyak sekali orang-orang yang hadir di majelis ilmunya. Hingga pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid sampai ia meninggal semakin berduyun-duyun murid-muridnya).

Imam Malik. Al-Faqih. Syaikhul Islam. Hujjatul Ummah. Imam Darul Hijrah. Itulah gelar-gelar keilmuan yang disandangkan ummat Islam kepadanya. Dan semua itu dirintis berawal dari lingkungan keluarga yang sangat kental dengan tradisi keilmuan.