Catatan Popular

Ahad, 12 Julai 2020

KITAB RISALAH AL QUSYAIRI BAB 2 TERMINOLOGI TASAWWUF (NAFSU)


Al-Faqih ila-Llah Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi

(IMAM AL QUSYAIRI)

25. NAFSU

Nafsu syai’ dalam bahasa Arab adalah wujud sesuatu (jati diri). Sedangkan menurut kaum Sufi, “Ucapan kata nafs bukan dimaksudkan sebagai wujud, acuan masalah.” Yang mereka maksudkan dangan nafs adalah sesuatu yang tercela dalam sifat-sifat hamba, akhlak dan perbuatannya.

Perilaku tercela dari sifat-sifat hamba tebagi menjadi dua : Pertama, bersifat upaya dari hamba, seperti perbuatan maksiat dan pengingkaran terhadap perintah dan larangan. Kedua, budi pekertinya yang buruk dalam dirinya yang tercela. Maka terapi dan penyembuhannya pada diri hamba adalah berjuang melawan kehinaan perilaku tersebut yang telah menjadi kebiasaan sehari-hari.

Pada sifat yang pertama, termasuk hukum-hukum nafsu adalah hal-hal yang dilarang setara dengan keharaman atau larangan yang besifat dibenci. Sedangkan pada sifat kedua, berupa keburukan dan kehinaan akhlak. Inilah batasan globalnya. Kemudian rinciannya, seperti takabur, amarah, dendam, dengki, buruk akhlak, sedikit bersyukur, dan yang lainnya. Yang tergolong akhlak tercela.

Hukum nafsu terburuk adalah berupa khayalan bahwa sesuatu perbuatan yang muncul dari nafsu dianggap baik. Atau perbuatan nafsu itu sebagai bagian takdir. Karena itulah perbuatan nafsu seperti itu tergolong syirik khafy atau syirik yang samar. Karena itu, terapi akhlak dalam menyingkirkan nafsu lebih penting daripada berlapar-lapar, haus atau berjaga (tanpa tidur) dan sebagainya yang mengandung unsur penyusutan kekuatan fisik. Walaupun cara seperti itu juga termasuk meninggalkan kesenangan nafsu.

Nafsu itu sendir merupakan nuansa lembut yang ada dalam hati, sebagai tempat akhlak yang tercela. Sebagaimana ruh yang merupakan nuansa lembut dalam hati, namun sebagai tempat akhlak terpuji. Dalam gambaran yang umum, masing-masing saling meundukkan. Semuanya, merupakan bagian dari kesatuan manusia. Eksistensi ruh dan nafsu tergolong wadag lembut dalam rupa, sebagaimana eksistensi malaikat dan setan, dengan sifat-sifat kelembutan.

Seperti benarnya mata sebagai tempat memnadang, telinga sebagai tempat mendengar, hidung sebagai tempat penciuman, mulut sebagai tempat rasa, maka, begitu pun orang yang mendengar, yang melihat, yang mencium dan yang merasakan, semuanya termasuk dalam bagan manusia. Demikian pula, tempat sifat-sifat yang terpuji, tempatnya adalah hati dan ruh. Sedangkan sifat-sifat tercela tempatnya adalah nafsu. Nafsu sendiri sebagai bagian dari keseluruhan tersebut, begitu pula hati, hukum dan nama, kembali pada keseluruhan kesatuan sosok manusia.

KITAB RISALAH AL QUSYAIRI BAB 2 TERMINOLOGI TASAWWUF (SYAAHID)


Al-Faqih Ilallah Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi

(IMAM AL QUSYAIRI)

24. SYAAHID

Kebaynyakan yang berlaku dalam ucapan ulama, bahwa kata asy-Syaahid itu semakna dengan ucapan kita : Si Fulan menyaksikan ilmu (yusyaahid al-ilm); Si Fulan menyaksikan ekstase (yusyaahid –al-wujd) dan si Fulan menyaksikan keadaan-keadaan ruhani (yushaahid al-haal).

Mereka mengartikan kata Syaahid adalah sesuatu yang hadir dalam hati manusia. Sesuatu yang pada umumnya teringat, seakan-akan ia melihat dan memandangnya, walaupun obyek tidak ada di hadapannya. Setiap yang dominan dalam hatinya, berarti ia menyaksikannya. Bila yang dominan adalah ilmu, maka ia menyaksikan ilmu. Begitu juga bila yang dominan adalah ekstase, berarti ia menyaksikan al-wujd.

Arti asy=Syaahid adalah yang hadir (al-haadhir). Jadi setiap yang hadir dalam hati Anda berarti yang menjadi bukti Anda.

Asy-Syibly ditanya tentang musyahadah. Katanya, “Dari mana kita mendapatkan musyahadah al-Haq? Padahal Allah Yang Maha Haq menyaksikan kita.” Beliau mengisyaratkan, dengan kata, “Allah swt. yang menyaksikan.” Dengan menggunakan faktor dominan dalam hatinya. Dan yang dominan pada dirinya adalah dzikir kepada Allah swt. Sedangkan yang hadir dalam hati senantiasa juga dzikir kepada Allah swt. Siapa pun yang memperoleh sesuatu dari sesama makhluk, maka hatinya akan berkait. Dikatakan, “Ia menjadi saksinya.” Artinya, hatinya hadir. Rasa cinta mendorong seseorang untuk selalu ingat kepada sang kekasih dan mengutamakan kekasihnya dibanding dirinya.

Sebagian Sufi sangat jeli dalam mencari akar kata asy-Syaahid ini.

Disebutkan demikian karena bermula dari asy-Syaahid. Seakan-akan jika melihat sosok dengan sifat-sifat keindahannya – apabila sifat manusiawinya gugur dari dirinya, dan tidak disibukkan oleh penyaksian pada keadaan sosok tokoh, dan tidak pula ada pengaruh persahabatan di dalamnya dalam satu sisi – maka ia disebut saks “bagi”” sosok tersebut karena ke-fana’an dirinya. 

Tetapi bila ada pengaruh di dalam menyertai sosok tersebut, ia disebut sebagai saksi “atas” ssosok itu, sedangkan dirinya masih ada, dan masih menegakkan hukum naluri manusia, baik sebagai saksi bagi sosok atau saksi atas sosok di atas. Dalam kontens inilah relevan dengan sabda Nabi saw. “Aku melihat Tuhanku pada malam Mi’raj, dalam rupa yang paling bagus. Yakni rupa paling bagus yang kulihat malam itu. Sama sekali tidak menyakitkan diriku untuk melihat-Nya. Bahkan aku melihat Perupa dalam rupa, dan Kreator dalam kreasi.” (H.r. Thabrani, riwayat dari Ubaidullah bin Au Rafi’ dan ayahnya dan dari Ibnu Abbas. Demikian pula riwayat dari Ummu Thufail dari Mu’adz bin ‘Afra’).

Yang dimaksud hadits tersebut adalah penglihatan ilmu, bukan penglihatan mata.

KITAB RISALAH AL QUSYAIRI BAB 2 TERMINOLOGI TASAWWUF (W A R I D)


Al-Faqih Ilallah Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi

(IMAM AL QUSYAIRI)

23. W A R I D

Al-Warid (bisikan terpuji) adalah bisikan dalam hati, berupa bisikan terpuji, tanpa diduga oleh seorang hamba. Tergolong kategori ini, adalah hal-hal yang tidak termasuk sisi dari bisikan (khawathir).

Warid kadang-kaang datang dari Allah swt. dan terkadang juga dari intuisi pengetahuan. Bisikan-bisikan terpuji (al-waridaat) ini lebih umum dibnding al-khawathir. Sebab bisikan khawathir, hanya khusus bagi macam perintah, atau yang se-arti dengannya. Sementara warid, lebih sebagai bisikan kegembiraan, atau kesedihan, genggaman dan keleluasaan Ilahi, dan sejenisnya.


KITAB RISALAH AL QUSYAIRI BAB 2 TERMINOLOGI TASAWWUF (ILMUL YAQIN, ‘AINUL YAQIN DAN HAQQUL YAQIN)

Al-Faqih Ilallah Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi

(IMAM AL QUSYAIRI)


22. ILMUL YAQIN, ‘AINUL YAQIN DAN HAQQUL YAQIN

Ungkapan di atas merupakan wacana ilmu yang sudah jelas.

Yaqin adalah ilmu yang tidak merasuki seseorang yang menyebabkan keraguan sepenuhnya. Al-Yaqin tidak diucapkan dalam sifat Allah swt. karena memang tidak relevan. 

Sedangkan Ilmu Yaqin adalah Yaqin itu sendiri. Termasuk katagori Yaqin adalah ‘Ainul Yaqin dan Haqqul Yaqin.

Ilmu Yaqin menurut disiplin terminologi ulama, adalah sesuatu yang ada dengan syarat adanya bukti. 

Sedangkan ‘Ainul Yaqin, sesuatu yang ada dengan disertai kejelasan. Haqqul Yaqin, adalah sesuatu yang ada dengan sifat-sifat yang menyertai kenyataan.

Ilmu Yaqin, diperuntukkan bagi mereka yang cenderung rasional, ‘Ainul Yaqin, diperuntukan bagi para ilmuwan. Sedangkan Haqqul Yaqin, hanya bagi orang-orang yang ma’rifat.

KITAB RISALAH AL QUSYAIRI BAB 2 TERMINOLOGI TASAWWUF (AL-KHAWATHIR)


Al-Faqih ila-Llah Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi

(IMAM AL QUSYAIRI)

21. AL-KHAWATHIR

Al-Khawathir (bisikan-bisikan jiwa) adalah bisikan yang menghujam ke dalam rasa; terkadang muncul dari Malaikat, terkadang dari setan, atau sekedar ungkapan nafsu, dan bahkan pula bisikan langsung dari Allah swt. Yang Maha Benar.

Apabila bisikan datang dari malaikat, disebut Ilham. Jika muncul dari hawa nafsu disebut Hawajis. Dan bila datang dari setan disebut Haswas. Sedangkan bisikan jiwa yang langsung dari Allah swr. Disebut Bisikan Kebenaran (Khathir Haq).

Indikasi secara keseluruhan, apabila bisikan datang dari para malaikat, bisa diketahui kebenarannya bila bisikan itu sesuai dengan ilmu pengetahuan. Karena itu, para Ulama Sufi berkata : “Setiap bisikan yang tidak bisa disaksikan kebenarannya secara lahir, adalah bisikan batil.” Apabila bisikan itu datang dari setan, rata-rata mengandung pada kemaksiatan. Begitupun yang datang dari nafsu, lebih cenderung mengajak pada sikap menurut syahwat, atau rasa takabur.

Para syeikh Sufi bersepakat, bahwa orang yang terlalu banyak makan makanan haram, tidak akan bisa membedakan mana bisikan yang bersifat ilham dan mana yang waswas.

Saya mendengar Syeikh Abu ali ad-Daqqaq berkata : “Siapa yang makanan utamanya diketahui (keharamannya), ia tidak akan bisa membedakan antara ilham dan waswas. Sementara orang yang menghindari hasrat nafsunya, dengan cara mujahadah yang benar, kejelasan ucapan batinnya akan tampak melalui perlawanan terhadap nasunya.”

Para syeikh sepakat, bahwa nafsu itu tidak bisa dibenarkan. Sedangkan kalbu tidak bisa ditipu. Apabila Anda mujahadah semaksimal mungkin, agar ruh membisikan kepada Anda, pastilah ruh tidak akan membisikan sesuatu kepada Anda.

An-Junayd membedakan antara bisikan nafsu dan bisikan setan : bahwa naffsu itu, apabila menuntut Anda terhadap suatu perkara, ia akan menempel, dan akan kembali lagi walaupun berlalu dalam jarak waktu, sampai bisikan nafsu itu benar-benar meraih kemauannya dan mencapai tujuannya. Kecuali bagi orang-orang yang mujahadahnya benar, maka bisikan itu tidak akan kembali. Kemudian nafsu itu selalu memusuhi Anda. Sementara setan, ketika menjerumuskan Anda melalui godaannya, kemudian Anda menentangnya, maka setan akan kembali mempengaruhi Anda dengan godaan lainnya. Sebab, secara keseluruhan, sikap kontra adalah sama. Yang penting bagi setan, Anda bisa mengikuti ajakannya yang menjerumuskan. Dan baginya, tidak ada peringatan dalam penjerumusan  itu.

Dikatakan : “Setiap bisikan yang datang dari para malaikat, kadang-kadang cocok di hati si penerima bisikan, terkadang juga tidak. Namun apabila bisikan langsung dari Allah swt. sama sekali si hamba tidak menetang-Nya.”

Para Syeikh memperbincangkan soal bisikan berikutny. “Apabila bisikan dari Allah swt. apakah bisikannya alebih kuat dibanding bisikan pertama.” Al-Junayd berkata : “Bisikan pertama lebih kuat, sebab, apabila bisikan itu masih ada, orang yang mendapat bisikan kembali pada refleksinya, dan dalam kaitan ini, perlu persyaratan ilmu pengetahuan. Meninggalkan bisikan pertama berarti melemahkan bisikan kedua.”


KITAB RISALAH AL QUSYAIRI BAB 2 TERMINOLOGI TASAWWUF (N A F A S)


Al-Faqih Ilallah Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi

(IMAM AL QUSYAIRI)

20. N A F A S

Nafas adalah hembusan kalbu melalui kelembutan-kelembutan kegaiban. Orang yang memiliki nafas (ruhani), lebih lembut dan lebih jernih dibading yang memiliki ahwal ruhani. Pemilik waktu adalah pemula, dan pemilik nafas, adalah pangkalnya. Pemilik tingkah kesufian (ahwal) berada di antara keduanya. Orang-orang yang berada pada tahap awal adalah pemelihara ruh, sedangkan pemilik nafas adalah ahli dalam rahasia-rahasia Ketuhanan.

Para Sufi berkata : “Sebaik-baik ibadat adalah menghitung nafas (hati) bersama Allah swt.”

Mereka juga berkata : “Allah swt. menciptakan kalbu, dan dijadikan kalbu itu sebagai tambang ma’rifat. Allah swt. mencipta rahasia di balik kalbu, dan dijadikan sebagai tempat tauhid. Setiap nafas yang tidak muncul dari bukti-bukti ma’rifat dan setiap isyarat tauhid dalam bentangan kerumitan, adalah mayat, yang pemiliknya akan dimintai pertanggungjawaban.”

Syeikh Abu Ali ad. Daqqaq r.a. berkata : “Bagi orang Arif” nafas tidak berserah kepadanya, karena tidak ada toleransi yang mengalir menyertainya. Sedangkan bagi sang pecinta, nafas adalah keharusan. Kalau tidak ada nafas, pastilah ia akan musnah.”


KITAB RISALAH AL QUSYAIRI BAB 2 TERMINOLOGI TASAWWUF (SYARIAT DAN HAKIKAT)


Al-Faqih ila-Llah Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi

(IMAM AL QUSYAIRI)

19. SYARIAT DAN HAKIKAT

Syariat adalah disiplin ubudiyah, sedangkan hakikat adalah musyahadah Ketuhanan. (Musyahadah Ketuhanan (rububiyah) : artinya melihat dengan kalbu. Hal ini terungkap bahwa syariat merupakan sarana mengetahui penempuhan jalan Allah swt. Sedangkan Hakikat adalah kelestarian memandang kepada-Nya. Tharikat adalah menempuh jalan syariat tersebut, yakni mengamallkan aturan-aturannya). Catatan kaki).

Setiap syariat yang tidak dikukuhkan dengan hakikat, tidak bisa diterima. Sebaliknya Hakikat yang tidak dikukuhkan dengan syariat, tidak akan suskes.

Syariat turun dengan tugas-tugas dari Sang Khalik, sementara hakikat merupakan implementasi pelaksanaan kebenaran. Syariat berarti Anda menyembah-Nya, sedangkan Hakikat berarti Anda Menyaksikan-Nya. Syariat berarti bangkit sesuai dengan apa yang diperintahkan, sementara Hakikat adalah menyaksikan apa yang di qadha-kan dan ditakdirkan, apa yang tersembunyi dan apa yang tampak.

Saya mendengar Syeikh Abi Ali ad-Daqqaq berkata  “(Kepada-Mu kami menyembah)” adalah menjaga syariat, dan “(Kepada-Mu kami meohon pertolongan)” adalah ikhtiar dengan hakikat.

Perlu diketahui, syariat itu sendiri adalah hakikat, bila dilihat bahwa syariat adalah keharusan melalui perintah-Nya. Begitu pun hakikat adalah syariat, dari segi bahwa ma’rifat kepada-Nya, karena perintah-Nya.

KITAB RISALAH AL QUSYAIRI BAB 2 TERMINOLOGI TASAWWUF (QURB DAN BU’D)

Al-Faqih ila-Llah Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi

(IMAM AL QUSYAIRI)

18. QURB DAN BU’D

Awal tahap dalam taqarrub atau al-qurb (kedekatan) adalah kedekatan hamba dalam taatnya dan disiplin waktu melalui ibadat-ibadatnya. Sedangkan tahap al-bu’d (penjauhan) adalah pengotoran diri dengan menentang dan menghampakan diri terhadap taat kepada Allah swt. Awal dari bu’d adalah jauh dari taufiq, kemudian jauh dari pembenaran (tahqiq). Bahkan jauh dari taufiq adalah jauh dari tahqiq itu sendiri.

Dalam Hadits Qudsi dijelaskan, Nabi.s aw. Mengabarkan dari Allah swt.
“Para hamba senantiasa bertaqarrub kepada-Ku, sebagaimana aturan yang Aku wajibkan kepada mereka. Dan seorang hamba senantiasa bertaqarrub kepada-Ku melalui ibadat-ibadat sunnah, sampai si hamba menyintai-Ku dan Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, Diri-ku sebagai pendengaran dan penglihatan baginya. Maka dengan-Ku ia melihat, dan dengan-Ku ia mendengar.” (H.r. Bukhari dan Tirmidzi).

Kedekatan hamba pada Tuhannya, mula-mula dengan iman dan pembenarannya. Kemudain kedekatannya melalui ihsan dan hakikatnya. Sedang kedekatan Al-Haq saat di dunia ini didapati melalui kema’rifatan. Kelak di akhirat, hamaba dimuiakan untuk menyaksikan-Nya secara nyata. Di antara masing-masing kedekatan itu, melalui kelembutan dan anugerah.

Kedekatan hamba kepada Allah swt. tidak akan terwujud kecuali kajuhan hamba dari makhluk. Predikat ini ada dalam hati, bukan hukum-hukum fisikal lahriah dan alam.

Kedekatan Allah swt. termanifestasi melalui sifat Ilmu dan Qudrat yag bersifat universal dan umum. Sedangkan melalui Maha Lembut dan Maha Penolong-Nya, sifatnya hanya khusus bagi orang-orang beriman. Kemudian dengan pemberian anugerah “Kesukacitaan ruhani”, kedekatan-Nya tertentu bagi para Wali-Nya. Allah swt. berfirman : “Dan kami lebih dekat kepadanya dibanding urat lehernya.” (Qs. Qaaf : 16) dan firman-Nya pula : “Dan kami lebih dekat kepadanya dibanding diri kamu (sendiri).” (Qs. Al-Waqi’ah : 85). Pada ayat lain : “Dan Dia bersama kamu, di mana pun kamu berada.” (Qs. Al-Hadid : 4) “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, kecuali Dia-lah yang keempatnya.” (Qs. Al-Mujaadilah : 7). Siapapun yang secara hakiki dekat dengan Allah swt. minimal ia harus muraqabah kepada-Nya. Karena dengan Muraqabah, sang hamba akan senantiasa mawas iri dengan takwa, kemudian mawas diri pada hukum Allah swt. dan kesetiaan, disusul kemawasan tehadap rasa malu. Mereka mendengarkan nada-nada syair :
Seakan si Raqib menjaga getaran hatiku
Yang lain menjaga pandangan dan ucapanku
Tak ada selayang pandang di kedua mataku
Yang memburamkan Diri-Mu
Melainkan engkau katakan
Benar-benar engkau memandang-Ku

Tiada yang cemerlang kata yang meluncur
Dari mulutku selain Diri-Mu
Melainkan Engkau katakan, benar, engkau mendengar
Dengan pendengaran-Ku
Tiada getar hati dalam rahasia
Getran selain Diri-Mu
Melainkan engkau telah naik dengan pertolongan-Ku
Sahabatku telah membosankan ucapannya
Aku membisu dari mereka, pandangan dan lisanku
Bukanlah pelarianku dari dunia
Yang melupakan diriku dari mereka
Hanya saja aku telah tenggelam dalam penyaksianku
Di mana pun jua

Salah seorang syeikh menguji para santrinya. Masing-masing santrinya diberi seekor burung. Kata syeikh itu : “Sembelihlah burung ini, namun jangan diketeahui oleh siapa pun !.” Mereka pun pergi ke suatu tempat, dimana tak seorang pun melihatnya, lalu disembelihlah burung itu di tempat yang sepi. Namun ada salah seorang yang datang menghadap kepada syeikh tersebut, dengan membawa burungnya semula, tanpa disembelih. Syeikh itu menanyakan kepada si murid, mengapa hingga ia tidak menyembelih burung tersebut. Ia menjawab, “Engkau memerintahkan diriku untuk menyembelih burung itu, dengan syarat tidak diketahui siapa pun. Tetapi tidak satu pun tempat, kecuali Allah swt. melihatnya.” Syeikh itu berkata, “Dengan ini, kehormatan kuberikan kepada muridku ini. Sebab pada umumnya di antara kalian hanya bertumpu pada makhluk. Sedangkan ia tidak melalaikan Allah swt. Dan memandang kedekatan berarti hijab bagi kedekatan itu sendiri.”

Siapa yang memandang dirinya sebagai tempat berpijak atau bernafas, maka dirinya terkena makar. Karena itu para Sufi berkata “Semoga Allah swt. menjagamu dari kedekatan-Nya.” Yakni, mengisyaratkan atas musyahadah Anda karena dekat-Nya.” Yakni, mengisyaratkan atas musyahadah Anda karena dekat-Nya, apabila Anda menemui-Nya. Hal ini mengingat bahwa anugerah kebahagiaan spiritual yang disebabkan kedekatan-Nya merupakan perlambang keagungan. Karena Allah swt, itu sendiri berada di belakang setiap puncak kebahagiaan. Sedangkan wilayah-wilayah hakikat mengharuskan munculnya kedahsyatan dan keleburan ruhani.
Mereka bersyair :
Cobaanku padamu, bahwa diriku
Tak peduli dengan cobaanku
Dekatmu bagai jauhmu
Kapankah tiba, waktu istirahatku?
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. sering menyenandungkan bait-bait ini :
Kinasihmu adalah perpisahan
Cintamu adalah kebencian
Dekatmu adalah jauh
Damaimu adalah perang

Abu Husain an.Nury sebagaian murid Abu Hamzah : “Apakah Anda salah seorang murid Abu Hamzah yang mengisyaraktkan pada al-Qurb? Kalau Anda bertemu dengan belaiu sampaikan, bahwa Abul Husain an-Nury berkirim salam, dan mengatakan kepadanya : “Dekatnya dekat dalam perspektif kamia dalah setelah jauh (al-bu’d). Jika yang dimaksud adalah dekat dengan Dzat, maka, Allah Maha Luhur (jauh) dari segala Kedekatan seperti itu. Karena Allah Maha Suci dari segala batas dan wilayah, pangkal dan ukuran Allah tidak berssentuhan dengan makhluk, begitu juga tidak terpisah dengan sesuatu yang didahului. 

SIfat keagungan Shamadiyah-Nya jauh dari temu dan pisah. Dekat sebagaimana kedekatan materi, dalah mustahil. Sedangkan dekat di sini adalah keharusan sifat-Nya yaitu dekat melalui Ilmu dan Pandangan. Dekat adalah kewenangan dalam Sifat-Nya, yang dikhususkan kepada hamba yang dikehendaki-Nya, yakni dekat dalam perspektif keutamaan melalui sifat kelembutan

KITAB RISALAH AL QUSYAIRI BAB 2 TERMINOLOGI TASAWWUF (TALWIN DAN TAMKIN)


Al-Faqih ila-Llah Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi

(IMAM AL QUSYAIRI)

17. TALWIN DAN TAMKIN

Talwin merupakan sifat orang-orang yang memliki tingkah laku tahapan.Tamkin adalah sifat ahli hakikat. Seorang hamba yang masih berjalan sepanjang jalan menuju Allah, maka dialah pemilik talwin. Sebab, dalam perjalanannya masih menjumpai tahap demi tahap, berpindah dari satu predikat ke predikat lain, keluar dari terminal ke persimpangan jalan. Tetapi jika telah sampai, mereka akan mencapai ketenangan (tamakkun).
Senantiasa rasa cintamu tiba ingin di suatu tempat
Bimbangkan jiwa, di mana tempat menetap
Orang yang berada di tahap talwin selalu mendapat tambahan. 

Sedangkan pada tahap tamkin, berarti telah sampai (wushul) kemudian sambung (ittishal). Tanda sampai itu : Ia, dengan keseluruhan dari keseluruhan.

Salah seorang syeikh berkata : “Berakhirlah penggembaraan para pencari menuju kemenangan dalam jiwanya. Apabila telah sampai kemenangan dalam jiwanya, berarti mereka telah samapi.”

Mereka berharap demikian, sebagai pengunduran hukum-hukum kemanusiaan dan termanifestasi oleh kerajaan hakikat. Manakala hamba menetap abadi dalam kondisi itu, dialah pemilik tamkin itu.

Syeikh Abu ali-ad-Daqqaq r.a. berkata : “Musa a.s. adalah pemilik mawam talwin, kemudian kembali dari mendengarkan Kalam, dan berharap untuk menutup wajahnya. Sehingga ada pengaruh bagi tingkah laku. Sedangkan Nabi kita Muhammad saw. adalah pemilik tahap tamkin, kemudian kembali sebagaimana ia pergi. Sebb, apa yang disaksikan pada malam itu, tidak berpengaruh. Kisah demikian juga dimetaforakan pada kisah wanita-wanita yang melihat Yusuf as. Ketika mereka secara bersamaan memotong jemari tangannya, saat melihat raut muka Yusuf as. Dengan tampang yang menghanyutkan dan mengejutkan. Sementara isteri Raja Aziz, jiwanya lebih sempurna ketimbang mereka dalam mengekang tragedi tersebut. Kemudian sejak hati itu ia tidak berubah, karena ia telah memiliki ketenangan (tamkin) dalam peristiwa Yusuf as.

Ketahuilah, bahwa perubahan hati dalam diri hamba karena satu dari dua persoalan : Kalau tidak karena adanya kekuatan yang tiba, atau justru karena kelemahan dirinya. Sedangkan ketenangan atau kediaman dari hamba juga karena dua hla : Karena kekuatan atau karea kelemahan sesuatu yang tiba itu.

Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad.-Daqqaq r.a. berkata : “Prinsip kaum Sufi dalam memperbolehkan kelangsungan tamkin, terpaku pad dua hal.Pertama, tidak ada jalan lain kepadanya, sebagaimana sabda Rasul saw. dalam Hadits Qudsi :
“Apabila kamu mengabdi sebagaimana adanya kamu dalam kebakaan itu di sisi-Ku, niscaya para Malaikat akan menjabat tangan kamu.” (H.r. Handzalah bin ar-Rabi’al Usaidi, dan ditakhrij oleh Imam Muslim serta Tirmidzi).

Sabdanya pula :
“Aku punya waktu (khusus) yang tidak dapat leluasa di dalamnya kecuali Tuhanku.” (H.r. Tirmidzi).

Kedua, sah berada dalam kondisi kelanggengan, mengingta ahli hakikat melakukan tahapan dari sifat yang mempengaruhi melalui berbagai jalan. Sementara kalimat dalam hadits di atas, “ ... Niscaya para malaikat akan menjabat tangan kamu.” Sama sekali bukan hal yang mustahil. Jabat tangan dari Malaikat tidak apda kalangan pemula, mendasarkan pada Hadits Nabi saw. “Sesungguhnya Malaikat meletakkan sayapnya pada pencari ilmu, sebagai rasa ridha terhadap apa yang dilakukan.” (H.r. Tirmidzi, an-Nasa’i Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Daraquthny dan Baihaqi).

Sedangkan sabdanya : “Aku punya waktu (khusus).” Dikondisikan menurut persepsi pendengar. Namun dalam seluruh tingkah laku Nabi saw. senantiasa berdiri di atas hakikat.

Yang pertama, bisa dikatakan : Seorang hamba, sepanjang masih menaiki tahapan-tahapan, ia disebut pemilik talwin. IA sah-sah saja bila predikatnya bertambah dan berkurang. Apabila telah sampai pada Yang Haq dengan meninggalkan hukum-hukum kemanusiaan, Allah mendudukkannya dengan cara tidak dikembalikan pada penyakit-penyakit nafsu, maka ia disebut Mutamakkin dalam haliyah (Perilaku ruhani)-nya menurut proporsi dan haknya. Kemudain Allah swt. mendudukkannya pada setiap jiwa, dan tidak ada batas bagi kekuasaan-Nya. Karenanya, jika hamba senantiasa dalam tahap yang bertambah ia selalu talwin, dan dalam prinsip haliyah-nya ia tamkin. Selamanya ia menempati tahapnya lebih tinggi lagi dari sebelumnya, bahkan lebih tinggi lagi. Karena tiada lagi pangkal bagi kekuasaan-Nya pada jenis manapun. Sedangkan orang yang merasuk dalam musyahadahnya, dan secara universal relevan dengan rasanya, maka tiada batas tempat bagi kemanusiaan. Karena itu, batallah keseluruhan, diri dan rasanya. Begitu juga berkaitan dengan jagad raya seisinya, jika kegaiban ini abadi padanya, ia tersinarkan (mahw). 

Dan karena itu, tidak ada tahap talwin maupun tamkin, tidak ada maqam ataupun haal. Sepanjang ia berada pada predikat tersebut, ia tak terbebani tugas (takliff) ataupun pemuliaan. Sungguh, kecuali jika ia dikembalikan menurut kondisi di luar itu semua, maka ia berada dalam situasi dimana dugaan-dugaan makhluk berlaku, terpalingkan dari posisi tahqiq.
Alalh swt. berfirman :

“Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka itu tidur dan Kami balik-balikan mereka ke kanan dan ke kiri.” (Qs. Al-Kahfi:18)