Catatan Popular

Khamis, 22 Ogos 2019

Belajar Menjadi Istri Shalehah dari Kisah Syeikh Syaqiq Al-Balkhi


Pernah suatu hari katanya Syekh Syaqiq membeli sebuah semangka untuk istrinya. Ketika sang istri menyantap buah semangka tersebut ternyata rasanya hambar. Rupanya istrinya marah karena semangka yang dibawa pulang suaminya tidak enak.

Respons Syekh Syaqiq sungguh luar biasa. Ia menanggapinya dengan penuh ketenangan atas amarah istrinya. Setelah selesai mendengar amarah istrinya ia malah bertanya dengan nada santun dan halus, "wahai istriku tercinta, kepada siapakah engkau marah? Kepada pedagang buahnyakah? Atau kepada pembelinya? Atau kepada petani yang menanamnya? Ataukah kepada yang telah menciptakan buah semangka itu?"

"Istri beliaupun terdiam dan dengan sunggingan sebuah senyuman, Syeikh Syaqiq melanjutkan perkataannya. Biasanya seorang pedagang tidak menjual sesuatu kecuali yang terbaik. Sedangkan pembelipun pasti akan memilih sesuatu yang terbaik pula. Bahkan begitu pula seorang petani, tentu saja dia akan merawat tanamannya agar bisa menghasilkan yang terbaik," katanya.

Teungku Fakhrurrazi melanjutkan ulasannya, "Maka sasaran kemarahanmu wahai istriku tercinta berikutnya yang tersisa, tidak lain hanyalah kepada yang menciptakan semangka itu..!"

Rupanya pertanyaan Syeikh al-Imam Syaqiq menembus ke dalam hati sanubari istrinya. Tanpa terasa, terlihat butiran air mata menetes perlahan di kedua pelupuk matanya.

Syeikh al-Imam Syaqiq al-Balkhi pun melanjutkan ucapannya dengan penuh lembut dan santun, "bertaqwalah wahai istriku. Terimalah apa yang sudah menjadi ketetapan-Nya. Ini semua agar Allah SWT memberikan keberkahan pada kita,” sambung Teungku Fakhrurrazi pada kisah hubungan Syekh Syaqiq dan istrinya.

Beliau melanjutkan kisah, setelah mendengar nasehat suaminya itu. Sang istri pun sadar, menunduk dan menangis mengakui kesalahannya dan meridhai dengan apa yang telah Allah SWT tetapkan.

PELAJARAN BERHARGA DARI DIALOG ANTARA SYAQIQ AL-BALKHI DAN HATIM AL-ASHAM


Pada kajian kali ini, akan ditengahkan dialog antara dua ulama besar yang sering kali dibawakan juga oleh ulama-ulama yang lainnya. 

Mereka berdua merupakan guru dan murid. Mereka adalahSyaqiq Al-Balkhi dan Hatim Al-Asham. Mereka berdua merupakan rujukan para ulama, bahkanHatim Al-Asham mendapatkan julukan Lukman Al-Hakim nya umat ini. Karena begitu banyak kata-kata hikmah yang beliau ucapkan.

Hatim Al-Asham merupakan murid dari Syaqiq Al-Balkhi, dan beliau sangat terpengaruh dengan gurunya ini. Suatu ketika, saat mereka sudah lama merajut hubungan guru dan murid. Maka Syaqiq Al-Balkhi bertanya kepada muridnya tersebut: “Engkau telah mendampingi diriku bertahun-tahun lamanya, apa yang telah engkau pelajari dariku?”. Maka Hatim Al-Asham menjawab: “Ada delapan perkara (yang sangat berkesan bagiku).”

– Yang pertama, aku melihat setiap manusia memiliki hal yang mereka sukai dan cintai. Namun, ketika ia meninggal dunia, maka orang-orang yang mencintainya meninggalkannya begitu saja. Oleh karena itu, aku menjadikan amal-amal baikku sebagai hal yang aku sukai dan cintai agar ia dapat mendampingiku di kubur nanti.
– Yang kedua, aku membaca firman Allah Ta’ala:

“Dan orang yang menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS An-Naziat [79]: 40-41)
Dari kebersamaanku denganmu, aku benar-benar mengetahui makna dari ayat ini. Dikisahkan bahwa Syaqiq Al-Balkhi merupakan orang yang benar-benar menahan hawa nafsunya.

SYAQIQ AL BALKHI DAN SERBA ZUHUDNYA

Abu Ali Syaqiq bin Ibrahim al Balkhy (wafat 139 H./810 salah seorang di antara tokoh tokoh besar Khurasan. Ia adalah guru dari Hatim al Asham.

Dikisahkan, tentang penyebab zuhudnya, bahawa ia adalah salah seorang dari anak kalangan orang-orang berada. Suatu ketika ia melakukan lawatan ke Turki untuk suatu kepentingan perniagaan. Dan kepergiannya itu merupakan yang pertama kali baginya. Suatu saat ia masuk ke pura patung. Penjaga pura itu, rambut dan janggutnya dicukur, pakaiannya dari jenis sutera arjuwaniyah.

Syaqiq berkata kepada si penjaga, “Bukankah anda mempunyai PenciptaYang Maha Hidup, Maha Tahu, dan Maha Kuasa, maka sembahlah Dia. Jangan menyembah patung patung yang tidak membahayakan atau memberi manfaat kepada diri anda!” Penjaga itu pun menjawab, “Bila Dia sebagaimana Anda ucapkan, tentu Dia dapat memberi rezeki kepada diri anda di negara anda sana. Mengapa anda bersusah payah datang kemari untuk berniaga?” Seketika Syaqiq pun menjadi sedar, dan sejak saat itu ia mengambil jalan zuhud.

Dikisahkan, di antara penyebab zuhudnya, bahawa la melihat seorang budak yang sedang bermain-main dengan penuh suka ria di musim kemarau dan kering. Orang-orang sangat prihatin kala itu. Syaqiq bertanya, “Apa yang membuatmu bersuka cita seperti itu? Bukankah engkau melihat kesengsaraan manusia di musim kemarau dan kering ini?” Budak itu menjawab, “Bagiku kesengsaraan itu tidak ada. Tuanku berada di suatu desa yang bersih, siapa saja masuk di sana dan apa pun yang kami inginkan dicukupi.” Sejenak Syaqiq sedar, dan berkata pada diri sendiri, “Kalau tuannya berada di suatu desa, dan ia tergolong makhluk yang fakir, sementara dirinya tidak peduli terhadap rezeki, lalu layakkah seorang Muslim mementingkan rezekinya, sedangkan Tuannya Maha Kaya?”

Hatim al Asham berkata, “Syaqiq al Balkhy tergolong kaya raya. Ia menghidupi para pemuda pada masanya. Sedangkan Gabenor Balkh kala itu adalah Ali bin Isa bin Mahan. Sang gabenor ini sangat menyayangi anjing pemburu miliknya. Suatu saat salah satu anjingnya hilang. Lantas anjing itu ditemukan berada di tempat seseorang laki-laki yang menjadi tetangga Syaqiq. Laki-laki itu pun dicari, namun ia lari dan bersembunyi di rumah Syaqiq. Lantas Syaqiq pergi ke rumah gubernur, dan berkata, ‘Tolong beri jalan. Soal anjing itu ada dirumahku, kukembalikan tiga hari lagi.’ Para pengawal gabenor menyilakan Syaqiq, dan setelah itu Syaqiq kembali pulang.

Pada hari ketiga, seorang sahabat Syaqiq yang sudah lama menghilang dari Balkh datang. Sahabat itu menemukan anjing yang lehernya berkalung di jalan, lantas anjing itu pun dibawanya. Lebih baik, anjing ini kuberikan saja kepada Syaqiq, sebab ia sibuk dengan kaum muda,’ kata si sahabat tersebut. Ketika Syaqiq melihatnya, ternyata anjing tersebut adalah anjing gabenor. Syaqiq amat girang, dan anjing itu tepat pada hari ketiga dibawa kepada gabenor, dan ia bebas dari beban. Allah swt. kemudian melimpahkan rezeki kesadaran, dan Syaqiq bertobat dari perilaku sebelumnya, kemudian menempuh jalan zuhud. “

Hatim al Asham menceritakan kisahnya ketika bersama Syaqiq, “Kami pernah bersama dengan Syaqiq dalam satu barisan tempur ketika memerangi orang-orang Turki. Saat itu tidak terlihat kecuali kepala-kepala manusia yang aneh, busur-busur panah yang patah dan pedang-pedang yang putus. Syaqiq berkata kepadaku, ‘Bagaimana dengan dirimu, hari ini, wahai Hatim? Apakah engkau melihatnya seperti kejadian semalam ketika engkau diusir oleh isterimu?’ Aku berkata, ‘Tidak, demi Allah!’ Syaqiq berkata, ‘Namun, bagiku, demi Allah, pada hari ini sama dengan dirimu pada malam itu.’ Kemudian Syaqiq tidur di antara dua rak, berbantalkan perisai, hingga terdengar gerit-geritnya.”

Di antara ucapan Syaqiq, “Bila Anda ingin mengenal seseorang, maka kenalilah; apakah ia memilih janji Allah swt. atau memilih janji manusia. Lebih condong ke mana orang tersebut, maka akan kelihatan peribadinya.”

Katanya pula, “Takwa seseorang diketahui atas tiga hal: Mengambil, mencegah dan berbicaranya.”

Kisah Syaqiq al Balkhi dan Ibrahim ibn Adham


Syaqiq al Balkhi seorang pengusaha kaya, anak dari seorang yang juga pengusaha kaya.

Suatu ketika, ia melakukan perjalanan niaga ke luar daerah. Di tengah perjalanan ia beristirahat di sebuah tempat ibadah milik agama penyembah berhala, dan menjumpai penjaga tempat ibadah itu sedang mencukur rambut dan jenggotnya, lalu mengenakan pakaian sembahyang. Syaqiq seorang muslim yang taat. Dan tentu saja, bagi seorang muslim, berhala adalah benda mati yang tak patut dijadikan sesembahan.

"Kau memiliki Pencipta Yang Mahahidup, Mahatahu, Mahakuasa,” kata Syaqiq kepada penjaga itu, setelah melihatnya telah rapi. “Dialah yang seharusnya kausembah, bukan benda mati bernama berhala yang tak bisa berbuat apa apa itu."

"Jika benar demikian," kata si penjaga tempat ibadah itu, "jika benar Dia Mahakuasa, kenapa Dia tak berkuasa memberimu harta di daerahmu sendiri sehingga kau tak perlu jauh jauh berniaga mencarinya di daerah orang? Kenapa pula kau capek capek mencari harta jika Dia berkuasa memberikannya untukmu?"

Rupanya tanggapan yang tak terduga itu menghunjam hati Syaqiq. Syaqiq terdiam, merenung. Ia kemudian memutuskan kembali ke daerahnya, urung melanjutkan perjalanan niaga. Ia berniat menjalani hidup zuhud, meninggalkan segala kemewahan, dan menghabiskan waktu untuk beribadah.

Keyakinan Syaqiq untuk menempuh hidup zuhud semakin teguh setelah mendapat pelajaran dari seekor burung. Suatu ketika, ia melihat seekor burung yang tak lagi sempurna kedua sayapnya, sendirian di atas tanah. Syaqiq bertanya dalam hati: bagaimana burung ini bisa bertahan hidup jika tidak punya sayap yang sempurna untuk terbang dan mencari makan? Tak lama kemudian datang seekor burung lain terbang merendah membawa makanan di paruhnya, mendekati burung bersayap tak sempurna itu, lalu menyuapinya.

"Hmmm … Begitutah?" kata Syaqiq dalam hati.

Suatu hari, Syaqiq berada di tempat ia biasa menghabiskan waktunya untuk beribadah. Sampai kemudian Ibrahim ibn Adham mendatanginya. Sama seperti Syaqiq, Ibrahim juga berasal dari daerah Balakh—bagian dari wilayah Khurasan, bahkan ayah Ibrahim adalah penguasa Balakh. Sama seperti Syaqiq pula, Ibrahim adalah orang kaya yang kemudian memilih menjalani hidup zuhud.

"Kenapa kau memilih hidup seperti ini?" tanya Ibrahim.

Syaqiq lalu menceritakan perihal burung itu, burung yang ditunjukkan kepadanya seolah untuk memberikan ilham.

"Burung itu tak lagi punya sayap yang sempurna, namun tetap bisa mendapatkan makanan," kata Syaqiq. "Dia yang memberi rezeki untuk burung dengan sayap tak sempurna itu adalah Dia pula yang akan memberikan rezekiku. Burung itu telah mengajariku bertawakal. Maka, waktuku akan kuhabiskan untuk beribadah kepada Allah."

“Syaqiq!” kata Ibrahim. "Kenapa kau memilih menjadi burung dengan sayap tak sempurna yang hanya bisa menengadahkan paruhnya untuk mendapatkan makanan?! Kenapa kau tak memilih menjadi burung dengan sayap sempurna sehingga mampu mencari rezeki sendiri dan bahkan membantu yang lain mendapatkan rezekinya?!"

Hati Syaqiq terhunjam untuk kali yang kedua. Syaqiq segera meraih tangan Ibrahim. "Kau guruku!" kata Syaqiq berkali kali seraya menciumi tangan Ibrahim.

SYEIKH SYAQIQ AL-BALKHI DI DEPAN KHALIFAH HARUN AR-RASYID


Syaqiq al-Balkhi mengadakan perjalanan ke Mekkah, untuk menunaikan ibadah haji. Ketika sampai di kota Baghdad, Harun Ar-Rasyid memanggilnya untuk menghadap.

Setelah menghadap, bertanyalah Harun ar-Rasyid kepada Syaqiq al-Balkhi : “Engkahkah Syaqiq al-Balkh pertapa?”

“Aku adalah Syaqiq al-Balkhi, tetapi aku bukan seorang pertapa,” jawab Syaqiq al-Balkhi.“Berilah petuah kepadaku!.” Perintah Harun.

“Jika demikian, dengarkanlah!”, Syaqiq al-Balkhi memulai. “Allah

yang Maha Besar telah memberi kepadamu kedudukan Abu bakar yang setia dan Dia menghendaki kesetiaan yang sama darimu. Allah telah memberi kedudukan “Umar yang dapat membedakan kebenaran dari kepalsuan, Dia menghendaki engkau dapat pula
membedakan kebenaran dari kepalsuan. Allah telah memberimu kedudukan Utsman yang memperoleh cahaya kesedarhaan dan kemuliaan, dan Dia menghendaki agar engkau juga bersikap sederhana dan Mulia. Allah telah memberikan kepadamu
kedudukan ‘Ali yang diberkahi-Nya dengan kebijaksanaan dan sikap adil, Dia menghendaki agar engkau bersikap bijaksana dan adil pula.”
“Lanjutkanlah!”, pinta Harun.
“Allah mempunyai tempat yang diberi nama neraka,” Syaqiq al-Balkhi meneruskan. “Dia telah mengangkatmu menjadi penjaga pintu neraka dan mempersenjatai dirimu dengan tiga hal; kekayaan,pedang dan cemeti. Allah memerintahkan : “Dengan kekayaan, pedang dan cemeti ini usirlah ummat manusia dari neraka. Jika ada orang yang datang mengharapkan pertolonganmu, janganlah engkau bersikap kikir. Jika ada orang yang menentang
perintah Allah, perbaikilah dirinya dengan cemeti ini. Jika ada yang membunuh saudaranya, tuntutlah pembalasan yang adil dengan pedang ini! Jika engkau tidak melaksanakan perintah Allah itu, niscaya engkau akan menjadi pemimpin orang-orang yang masuk ke dalam neraka itu.”
“Lanjutkanlah!.” Desak Harun lagi.
“Engkau adalah sebuah telaga dan anak buahmu adalah anak-anak sungainya. Apabila telaga itu airnya bening, niscaya ia tidak akan cemar karena kekeruhan anak-anak sungai tersebut. Apabila telaga itu keruh, betapakah mungkin anak-anak sungai tersebut akan bening?.”
“Lanjutkanlah!.”
“Seandainya engkau hampir mati kehausan di tengah padang pasir dan pada saat itu ada seseorang menawarkan seteguk air, berapakah harga yang berani engkau bayar untuk mendapatkan air itu?.”
“Berapapun yang dimintanya,” jawab Harun.
“Seandainya ia baru menjual air itu seharga setengah kerajaanmu?.”
“Aku akan menerima tawarannya itu,” jawab Harun.
“Kemudian andaikan air yang telah engkau minum itu tidak dapat keluar dari dalam tubuhmu sehingga engkau terancam binasa,” Syaqiq al-Balkh melanjutkan, “Sesudah itu datang pula seseorang menawarkan bantuannya kepadamu : “Akan ku sembuhkan
engkau tetapi serahkanlah setengah dari kerajaanmu kepadaku,” Apakahjawabanmu?”
“Akan kuterima tawarannya itu,” jawab Harun.
“Oleh karena itu, mengapa engkau membanggakan diri dengan sebuah kerajaan yang harganya hanya seteguk air yang engkau minum lantas engkau keluarkan kembali.?”

Harun menangis dan melepas Syaqiq al-Balkhi dengan penuh kehormatan.

KISAH TAUBAT SYEIKH SYAQIQ AL BALKHI


Syaqiq al-Balkh adalah seorang ahli dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan dan banyak buku yang telah ditulisnya. Ketika ia belajar jalan kesufian dari Ibrahim bin Ad-ham, dalam waktu bersamaan ia juga mengajar Hatim Si Orang Tuli. Syaqiq al-Balkh mengAkui bahwa ia telah belajar dari 1700 orang guru dan memiliki buku sebanyak beberapa pemikulan unta.

Dimulai dari sewaktu Syaqiq al-Balkhi mengadakan suatu ekspedisi dagang ke Turkistan, Di dalam perjalanan itu ia berhenti untuk melihat-lihat sebuah kuil.

Di dalamnya ia lihat ada seorang yang sedang menyembah berhala dengan penuh khusyuk.

Syaqiq al-Balkhi menegur si penyembah berhala itu : “Sesungguhnya yang menciptakan engkau adalah Yang Maha Hidup, Maha Kuasa serta Maha Tahu,sembahlah Dia. Hendaklah engkau malu dan jangan menyembah sebuah berhala yang tak dapat mendatangkan kebajikan maupun aniaya kepadamu.”

“Jika benar kata-katamu itu,” jawab si penyembah berhala, “mengapakah Dia tidak sanggup memberikan nafkahmu sehari-hari
di kota kediamanmu sendiri? Masih perlukah engkau melakukan perjalanan sejauh ini?”.

Kata-kata ini membuka hati Syaqiq al-Balkhi. Ia lalu bertemu oroester yang kebetulan menuju kota yang sama. Ia bertanya kepada Syaqiq al-Balkhi : “Apakah usahamu?.”

“Berdagang,” jwab Syaqiq al-Balkhi.

“Jika engkau mencari rezeki yang belum ditakdirkan untukmu, sampai kiamat sekalipun engkau tidak memperrolehnya. Tetapi jika engkau hendak mencari rezeki yang telah ditakdirkan untuk mu, engkau tidak perlu pergi ke mana-mana, karena rezeki itu akan datang sendiri.”

Ucapan ini semakin menyadarkan Syaqiq al-Balkhi dan kecintaannya terhadap kekayaan dunia semakin pudar.

Akhirnya sampailah Syaqiq al-Balkh ke kota Balkh. Sahabat-sahabatnya menyambut kedatangannya dengan hangat karena ia terkenal dengan kemurahan hatinya.

Pada masa itu yang menjadi pangeran di kota Balkh adalah ‘Ali bin ‘Isa bin Haman, yang memelihara beberapa ekor anjing pemburu. Kebetulan pada saat itu seekor anjingnya hilang.

“Anjing itu ada di rumah tetangga Syaqiq al-Balkhi,” orang-orang melaporkannya kepada si pangeran.

Maka ditangkaplah tetangga Syaqiq al-Balkhi itu dengan tuduhan telah mencuri seekor anjing. Ia dipukuli. Akhirnya meminta perlindungan kepada Syaqiq al-Balkhi. Maka pergilah Syaqiq al-Balkhi menghadap sang pangeran lelu memohon : “Berikanlah kepadaku waktu tiga hari untuk mengembalikan anjingmu itu. Tetapi bebaskanlah sahabatku itu.”

Si pangeran membebaskan tetangga Syaqiq al-Balkh. Tiga hari kemudian secara kebetulan seseorang menemukan seekor
anjing. Orang itu berkata di dalam hatinya : “Anjing ini akan kuberikan kepada Syaqiq al-Balkh. Syaqiq al-Balkhi adalah seorang yang pemurah, tentu ia akan memberikan imbalan kepadaku.”

Anjing itu dibawanya kepada Syaqiqal-Balkhi. Kemudian Syaqiq al-Balkh menyerahkan binatang itu kepada si pangeran dan terpenuhilah janjinya. Setelah peristiwa itu Syaqiq al-Balkh bertekad untuk benar-benar berpaling dari urusan duniawi.

Di kemudian hari, terjadi bencana kelaparan di kota Balkh, sampai begitu parah sehingga manusia mengganyang sesamanya. Di sebuah pasar Syaqiq al-Balkhi melihat seorang hamba yang
tertawa-tawa dengan gembira. Syaqiq al-Balkhi bertanya kepadanya : “Apakah yang membuatmu segembira ini? Tidak kau lihatlah betapa semua orang menanggungkelaparan?.”

“Apa perduliku?!”, jawab si hamba.“Tuanku memiliki sebuah desa dan mempunyai banyak persediaan gandum. Ia tidak akan membiarkan aku kelaparan.”Mendengar jawaban si hamba ini,Syaqiq al-Balkhi tidak dapat menahan dirinya, maka berserulah ia kepada Allah : “Ya Allah, budak ini sangat gembira karena tuannya mempunya gandum. Engkau adalah Raja di antara sekian raja, dan telah berjanji akan memberikan makanan kami sehari-hari. Jika demikian, mengapakah kami harus gelisah.?”

Setelah peristiwa itu ditinggalkanya segala urusan duniawi lalu bertaubat dengan sepenuh hatinya. Ia melangkah di atas jalan Allah dan memasrahkan diri kepada-Nya. Syaqiq al-Balkhi sering
berkata : “aku adalah murid dari seorang hamba.”

Hatim Al Asam mengisahkan : Aku danSyaqiq al-Balkhi ikut berperang. Suatu hari terjadi pertempuran yang begitu seru. Kedua pasukan saling berbentur rapat dan yang kelihatan hanya ujung-ujung tombak saja, sedang anak panah meluncur bagaikan hujan. Syaqiq al-Balkh berseru kepadaku : “Hatim! Bagaimanakah engkau menikmati pertempuran ini? Apa seperti malam terakhir ketika engkau bergaul bersama isterimu?.”

“Sama sekali tidak,” jawabku.

“Dengan nama Allah, mengapa tidak?,

Syaqiq al-Balkh berseru. “Begitulah yang kurasakan saat ini. Aku merasa seperti yang engkau rasakan malam itu di tempat tidurmu.”
Ketika malam tiba, Syaqiq al-Balkhi membaringkan tubuhnya dan dengan berselimutkan jubahnya ia pun tertidur.

Sedemikian sempurna kepasrahannya kepada Allah, sehingga walau terkurung oleh pasukan musuh yang sangat banyak itu, ia masih dapat tertidur pulas.

Suatu hari ketika Syaqiq al-Balkhi sedang memberikan ceramah, terdengarlah berita bahwa pasukan kafir telah berada di gerbang kota. Syaqiq al-Balkh segera menyerbu ke luar, mengobrak-abrik pasukan musuh dan kembali ke tempat semula. Salah seorang muridnya menaruh seikat bunga di sajadahnya. Syaqiq al-Balkh memungut kembang-kembang itu lalu menciuminya. Melihat perbuatan Syaqiq al-BalkhI ini, seorang yang tak tahu kejadian tadi berseru : “Pasukan musuh sudah berada di gerbang kota tetapi imam
kaum Muslimin masih mencium-cium bunga!”

“Si munafik hanya melihat bunga-bunga yang diciumi tetapi tak melihat betapa orang-orang kafir telah dikucar-kacirkan,” balas Syaqiq al-Balkhi.


KETIKA SYEIKH SYAQIQ AL BALKHI BERADA DI TENGAH TENGAH PERTEMPURAN


SUATU saat Syaqiq Al Balkhi, Hatim bin Al Asham beserta sejumlah sahabat mereka tengah berada di wilayah pertempuran tentara Turki yang saat itu belum dikuasai oleh Muslim. Suasana sangat mencekam, tidak ada pemandangan di sekitar mereka kecuali kepala-kepala manusia yang terpotong serta pedang- pedang serta busur-busur yang patah.

Saat itu, Syaqiq Al Balkhi bertanya kepada Hatim Al Asham,”Bagaimana suasana hatimu saat ini? Apakah seperti malam dimana engkau menikahi istrimu?” Hatim Al Asham pun menjawab,”Demi Allah tidak”. Syaqiq Al Balkhi pun mengatakan,”Akan tetapi, demi Allah, aku merasakan malam ini seperti malam aku menikahi istriku”. Di suasana yang cukup menakutkan itu, Syaqiq Al Balkhi akhirnya tidur pulas hingga suara dengkurannya terdengar.

Setelah itu datanglah salah satu sahabat mereka yang menangis karena saudaranya ditangkap pasukan Turki dan dibunuh. Hatim Al Asham pun menyampaikan,”Tidak perlu ditangisi, saudaramu telah memperoleh bagiannya. Ia kembali kepada Allah dan memperoleh keridhaa-Nya”. Si sahabat pun menjawab,”Aku menangis bukan bersedih karena kehilangannya, namun karena melihat kesabaarannya karena Allah ketika pedang menebasnya”.

Di malam itu tentara Turki juga berhasil menangkap Hatim Al Asham, dan si tentara sudah membaringkan tubuh Hatim Al Asham untuk siap-siap disembelih. Hatim Al Asham pun mengisahkan,”Pada waktu itu hatiku sibuk dengan mengingat Allah. Aku menunggu yang Allah telah takdirkan selanjutnya. Namun di saat tentara itu mencari pisaunya di sarungnya, sebuah anak panah dari seorang tentara penyerang membununya, kemudian ia menyembelihnya dan melempar tubuhnya jauh dariku”.

SYAH BIN SYUJA AL KIRMANI PANDANG ALLAH KETIKA TIDUR


Selama 40 tahun Al-Kirmani tidak tidur. Apabila dia rasa mengantuk dia ambil garam dan dibubuhnya ke dalam matanya. Pada suatu hari, dia tertidur. Dalam tidur itu, terlihat olehnya Allah.

Dia berkata, 'Ouh Tuhanku! Aku cariMu selama ini tanpa tidur tetapi Engkau datang dalam tidurku'. Suara ketuhanan itu berkata, 'Inilah hasil dari engkau berjaga selama 40 tahun itu'.

Semenjak itu dia ingin tidur dan berharap mendapat pandangan itu lagi. Dia sangat suka tidur.

Bahkan katanya, jika seluruh dunia ini kepunyaannya, hendak rasanya menukarnya dengan tidur sebentar agar dapat 'memandang' Allah. Dia selalu menyanyi begini, 
"Kita ini ibarat daging yang dipanggang kepada besi pemanggang. Sekejap dipusing ke sebelah sana dan sekejap lagi ke sebelah sini untuk dipanggang'.

BELAJAR TAWAKAL DARI PUTRI RAJA


Kisah tentang seorang putri raja yang akan dinikahkan dengan seorang Sufi, namun nyaris gagal hanya karena sepotong roti kering. 
Mari kita simak bersama :
Raja Syah bin Syuja’ al-Kirmani (Iran) mempunyai seorang putri. Para pangeran Kirmani telah datang untuk melamarnya. Namun, Syah bin Syuja’ al-Kirmani minta kelonggaran selama tiga hari sebelum memberi keputusan.
Kemudian ia pergi menjelajah dari masjid ke masjid, akhirnya terlihatlah olehnya seorang guru sufi yang sedang shalat dengan khusyu’. Syah bin Syuja’ al-Kirmani dengan sabar menanti si guru sufi selesai dengan shalatnya. Kemudian ia bertanya :
“Apakah engkau telah berkeluarga?”.
“Belum”, jawab sang guru sufi
“Maukah engkau seorang istri yang bisa membaca Al-Qur’an?,” tanya Syah
“Siapakah yang mau menikahkan putrinya kepadaku? Sedang harta kekayaanku hanya tiga dirham”. sahut sang guru sufi
“Akan kuserahkan putriku kepadamu,” jawab Syah
“Dari tiga dirham yang engkau miliki itu belanjakanlah satu dirham untuk roti, satu dirham untuk minyak mawar dan selebihnya untuk pengikat tali perkawinan (mahar)”. jelas Syah.
Akhirnya mereka sepakat. Malam itu juga Syah bin Syuja’ al-Kirmani mengantarkan putrinya ke rumah si guru sufi. Ketika memasuki rumah itu terlihatlah oleh sang putri sepotong roti kering di dekat sekendi air.
“Roti apakah ini?” tanya sang putri
“Roti kemarin yang kusimpan untuk hari ini,” jawab sang guru sufi.
Mendengar jawaban itu, sang putri hendak meninggalkan rumah sang guru sufi.
“Sudah kusadari bahwa putri Syah bin Syuja’ al-Kirmani takkan sanggup hidup bersama diriku yang miskin seperti ini”. ucap sang guru sufi
Putri itu menjawab, “Aku meninggalkanmu bukan karena sedikit hartamu, tetapi karena sedikit iman dan kepercayaanmu sehingga engkau menyimpan roti kemarin dan tidak percaya, bahwa Allah akan memberikan rezeki kepadamu setiap hari. Aku jadinya heran kepada ayahku, dua puluh tahun lamanya ia memingitku dan mengatakan, “Akan kunikahkan engkau dengan seseorang yang taqwa kepada Allah,” Tetapi ternyata ia menyerahkan aku kepada seseorang yang tidak pasrah kepada Allah untuk makanannya sehari-hari”.
Sang guru sufi pun bertanya, “Apakah kesalahanku ini dapat diperbaiki?”.
“Dapat, pilihlah satu di antara dua, aku atau roti kering itu”. jawab sang putri.

SIRRUL ASRAR : BAB 26 PENUTUP


Pengembara di atas jalan kepada kebenaran mestilah mempunyai
kebijaksanaan, kefahaman dan pengertian yang mendalam akan
fitnah sesuatu. Ini semua merupakan kelayakan awal yang perlu
dimilikinya.

“Allah ciptakan hamba bijaksana dan berkebolehan yang
meninggalkan dunia tempat huru hara mereka ke laut
yang hanya ombak menjadi ujian mereka perbuatan baik
adalah kapal yang menempuh gelombang”.

Orang memasuki jalan ini kerana ada matlamat yang dia tuju.
Perhatiannya tetap teguh kepada matlamat namun, dia tidak
boleh abaikan pentingnya persiapan untuk pengembaraan ini.
Bila dia mempersiapkan diri dia mesti berjaga-jaga jangan ditipu
oleh rupa yang menawan dan dia mesti tidak membebankan
dirinya dengan muatan atau menjadikan perhentian atau stesen
kerohanian sebagai matlamat terakhir.

Orang yang berada pada jalan kerohanian mengatakan segala
perbuatan kepunyaan Yang Menciptakannya, manusia tidak
sepenuhnya bertanggungjawab; di dalam tangannya perbuatan
boleh kelihatan lain daripada apa yang sebenarnya. Allah
berfirman:

“Apakah mereka (berasa) aman (daripada) percubaan
Allah? Kerana tidaklah ada yang berasa aman daripada
percubaan Allah melainkan kaum yang muflis”. (Surah al-
A’raaf, ayat 99).

Inilah dasar bagi jalan ini; meninggalkan semua muatan di
belakang dan bergantung kepada Allah semata-mata, tidak
dibingungkan oleh rangsangan pada stesen-stesen di sepanjang
perjalanan. Dalam hadis Q udsi Allah berfirman:
“Wahai Muhammad! Sampaikan khabar gembira kepada
pendosa-pendosa yang Aku Maha Pengampun. Tetapi
sampaikan kepada mereka yang benar-benar kepunyaan-
Ku dan ikhlas pada niatnya untuk-Ku bahawa Aku sangat
cemburu (terhadap apa yang mereka inginkan di samping
Aku)”.
Kekeramatan yang zahir pada mereka yang hampir dengan Allah
dan Stesen kerohanian yang mereka nyatakan adalah benar.
Tetapi orang-orang yang seperti ini masih tidak terlepas daripada
rangsangan Allah dan ujian-Nya merangsang kepada dosa –
kadang-kadang mereka diberi kejayaan bila mereka mula
berbuat dosa, jadi mereka fikir suasana atau keadaan mereka
adalah milik mereka dan kekeramatan itu juga milik mereka.
Hanya nabi-nabi dan mukjizat mereka yang bebas daripada ujian
demikian. Adalah dikatakan ketakutan kehilangan iman ketika
tercabut nyawa dari badan adalah satu-satunya penjagaan yang
akan menjamin iman pada saat akhir.

Hassan al-Basri pernah berkata bahawa kepada orang yang
hampir dengan Allah berjaya melalui ketakutan mereka terhadap
Allah. Di dalam diri mereka takut jauh lebih kuat daripada harap
kerana mereka tahu bahayanya diperbodohkan oleh sifat semula
jadi manusia. Tipu daya ini menarik manusia keluar daripada
jalan tanpa mereka menyedarinya. Dia juga berkata orang yang
sihat takutkan penyakit dan harapannya adalah sedikit,
sementara orang yang berpenyakit tidak lagi takutkan ditimpa
penyakit dan harapannya untuk sihat bertambah.
Nabi s.a.w bersabda,
“Jika ditimbang takut dan harap pada orang beriman
kedua-duanya adalah sama” .
Dengan rahmat Allah, ketika saat akhir kita, Allah lebihkan
harapan kita daripada ketakutan. Nabi s.a.w bersabda,
“ Semua umatku akan menghembuskan nafas terakhirnya
dengan kepercayaan dan harapan kepada rahmat Allah” ,
kerana Allah menjanjikan,
“Keampunan-Ku meliputi segala-galanya” , dan,
“Rahmat-Ku mendahului murka-Ku”.
Allah Maha Pemurah, Penyayang dan Pengampun, tentu sekali
para hamba boleh bergantung kepada-Nya. Namun pengembara
pada jalan kerohanian mesti takut dan menyelamatkan dirinya
daripada kemurkaan Allah. Untuk itu perlu dia serahkan semua
yang dimilikinya – dirinya sendiri, kewujudannya – letakkan
segala-galanya di kaki-Nya dan berlindung dengan-Nya di dalam-
Nya.

Wahai pencari. Duduklah di atas lutut kamu di hadapan Tuhan
kamu! Akui dan bertaubat terhadap kesalahan-kesalahan kamu!
Tanggalkan daripada diri kamu segala kewujudan kebendaan!
Akui dan bertaubat daripada dosa-dosa kamu yang lalu dan
nantikan di pintu keampunan-Nya tanpa membawa apa-apa,
dalam keadaan berhajat penuh kepada-Nya! Jika kamu lakukan
ini tentunya kamu akan menerima rahmat-Nya, berkat-Nya,
makrifat-Nya, kasih-Nya dan belas kasihan-Nya; dan semua
dosa-dosa kamu dan kekotoran kamu akan hancur dan terlucut
daripada kamu. Kerana Dia jualah Maha Besar, Pemurah,
Penyayang, Tuhan yang kekal abadi, Maha Berkuasa!
Kami memohon keselamatan dan kesejahteraan ke atas
penghulu kami Nabi Muhamamd s.a.w, keturunan baginda,
sahabat-sahabat baginda dan sekalian pengikut baginda. Segala
puji dan syukur kepunyaan Allah; kami serahkan segala-galanya
ke dalam tangan-Nya.
AMIN!

SIRRUL ASRAR : BAB 25 PENGIKUT - PENGIKUT JALAN KEROHANIAN

Orang-orang yang mengikuti jalan kerohanian terbahagi kepada
dua bahagian atau golongan.
Golongan pertama ialah yang termasuk ke dalam
kumpulan Sunnis; mereka yang mengikuti peraturan
Quran dan amalan serta peraturan yang berasal daripada
kelakuan dan perbuatan Rasulullah s.a.w. Mereka ikuti
peraturan ini dalam perkataan, perbuatan, pemikiran dan
perasaan, dan mereka mengikuti maksud batin agama – iaitu
mereka mengerti bukan ikut secara taklid buta. Mereka beramal
dan hidup menurut peraturan agama, merasainya dan
menikmatinya, bukan semata-mata menanggung sesuatu yang
dipaksakan ke atas mereka. Inilah jalan kerohanian yang mereka
ikut. Inilah persaudaraan hamba-hamba Allah yang berkasih
sayang. Sebahagian daripada mereka dijanjikan syurga tanpa
hisab, yang lain akan menderita sedikit azab hari kiamat dan
kemudian masuk syurga. Namun ada juga sebahagian yang
memasuki neraka beberapa ketika yang singkat untuk
menyucikannya daripada dosa sebelum masuk syurga. Tiada
yang akan kekal di dalam neraka. Yang akan kekal di dalam
neraka ialah orang kafir dan munafik.

Golongan kedua terdiri daripada kumpulan-kumpulan yang
bidaah. Nabi s.a.w telah memberi peringatan ,
“ Kamu, seperti Bani Israil sebelum kamu, seperti umat
Isa anak Maryam, akan dibahagikan dan dipisahkan di
antara satu sama lain. Sebagaimana mereka mereka-reka
dan mengubah-ubah, kamu juga akan mengadakan
bidaah. Dengan masa berlalu dalam bidaah, tentangan dan
dosa, kamu akan jadi seperti mereka dan berbuat yang
sama. Jika mereka masuk ke dalam lubang ular yang
berbisa kamu juga akan mengikuti mereka. Kamu patut
tahu Bani Israil berpecah kepada tujuh puluh satu
kumpulan. Kesemuanya dalam kesesatan kecuali satu. Dan
orang Nasrani berpecah kepada tujuh puluh dua
kumpulan, dan semuanya sesat kecuali satu. Aku bimbang
umatku akan dipecahkan kepada tujuh puluh tiga
kumpulan. Ini terjadi kerana mereka mengubah yang
benar kepada yang salah dan yang haram kepada yang
halal menurut pertimbangan mereka sendiri, untuk
muslihat dan keuntungan mereka, kecuali satu, semua
kumpulan itu akan ke neraka, dan kumpulan yang satu itu
akan selamat.”

Bila ditanya siapakah yang satu diselamatkan itu baginda
bersabda,
“Mereka yang mengikuti kepercayaan dan perbuatanku
serta para sahabatku”.
Di bawah ini dinyatakan sebahagian daripada jalan bidaah yang
dipegang dan diikuti oleh orang-orang yang mengakui diri
mereka orang kerohanian:
• Hululiyya – percaya kepada penjelmaan dalam bentuk
makhluk atau manusia, mendakwa halal melihat tubuh dan wajah
yang cantik, samada perempuan atau lelaki, siapa sahaja
samada isteri-isteri atau suami-suami, anak-anak perempuan
atau saudara-saudara perempuan orang lain. Mereka juga
bercampur dan menari bersama-sama. Ini jelas bertentangan
dengan peraturan Islam dan menjaga kesucian dan kehormatan
di dalam peraturan tersebut.

• Haliyya – mencari kerasukan zauk dengan cara menari,
menyanyi, menjerit dan bertepuk tangan. Mereka mendakwa
syeikh mereka berada dalam suasana yang mengatasi batasan
hukum agama. Jelas sekali mereka terpesung jauh daripada
perjalanan Nabi s.a.w yang dalam tindak tanduk mematuhi
hukum agama.
• Awliya’iyya – mendakwa mereka berada dalam kehampiran
dengan Allah dan mengatakan bila hamba hampir dengan Tuhan
semua kewajipan agama terangkat daripada mereka. Seterusnya
mereka mendakwa seorang wali, orang yang hampir dengan
Allah, menjadi sahabat akrab-Nya, mempunyai kedudukan yang
lebih tinggi daripada nabi. Mereka mengatakan ilmu sampai
kepada Rasulullah s.a.w melalui Jibrail sementara wali menerima
ilmu secara langsung dari Tuhan. Pandangan salah tentang
suasana mereka dan apa yang mereka sifatkan kepada diri
mereka adalah dosa mereka yang paling besar yang membawa
mereka kepada bidaah dan kekufuran.
• Syamuraniyya – percaya dunia ini kekal abadi, dan sesiapa
yang mengucapkan perkataan abadi akan terlepas daripada
tuntutan agama, lagi mereka tidak ada hukum halal dan haram.
Mereka menggunakan alat musik dalam upacara ibadat mereka.
Mereka tidak memisahkan lelaki dengan perempuan. Mereka
tidak membezakan dua jantina itu. Mereka adalah kumpulan kafir
yang tidak boleh diperbetulkan lagi.
• Hubiyya – mengatakan bila manusia sampai ke peringkat
cinta mereka bebas daripada semua kewajipan agama. Mereka
tidak menutup kemaluan mereka.
• Huriyya – seperti Haliyya, enggan menjerit, menyanyi, menari
dan bertepuk tangan, mereka menjadi kerasukan dan di dalam
suasana kerasukan itu mereka mendakwa mengadakan
hubungan jenis dengan bidadari; bila keluar dari kerasukan
mereka mandi junub. Mereka dimusnahkan oleh pembohongan
mereka sendiri.
• Ibahiyya – enggan mengajak kepada kebaikan dan melarang
kemungkaran. Mereka menghukumkan haram sebagai halal.
Mereka memahatkan pendapat ini kepada kaum perempuan. Bagi
mereka semua perempuan halal bagi semua lelaki.
• Mutakasiliyya – menjadikan prinsip kemalasan dan meminta
sedekah dari rumah ke rumah sebagai cara mendapatkan
keperluan harian mereka. Mereka mendakwa telah meninggalkan
segala hal ehwal dunia. Mereka gagal dan terus gagal di dalam
kemalasan mereka.
• Mutajahiliyya – berpura-pura jahil dan dengan sengaja
berpakaian tidak sopan, cuba menunjukkan dan berkelakuan
seperti orang kafir, sedangkan Allah berfirman,
“Jangan cenderung kepada yang berbuat dosa”. (Surah
Hud, ayat 113) .
Nabi s.a.w bersabda,
“Sesiapa yang cuba berlagak seperti satu kaum dia
dianggap salah seorang dari mereka”.
• Wafiqiyya – mendakwa hanya Allah yang boleh kenal Allah.
Jadi, mereka membuang jalan kebenaran. Kejahilan yang
disengajakan membawa mereka kepada kemusnahan.
• Ilhamiyya – berpegang dan mengharapkan kepada ilham,
meninggalkan ilmu pengetahuan, melarang belajar, dan berkata
Quran adalah hijab bagi mereka, dan fikiran puisi adalah Quran
mereka. Mereka meninggalkan Quran dan sembahyang,
sebaliknya mengajarkan anak-anak mereka puisi.
Pemimpin-pemimpin dan guru-guru dari kumpulan Sunni
mengatakan para sahabat, dengan berkat kehadiran Rasulullah
s.a.w di tengah-tengah mereka, berada dalam suasana zauk dan
keghairahan kerohanian yang sangat tinggi. Pada zaman
kemudian peringkat kerohanian yang demikian tidak tercapai lagi
oleh orang ramai dan ia menjadi semakin hilang. Yang masih
tinggal diturunkan kepada pewaris-pewaris kerohanian pada jalan
kebenaran Ilahi, yang kemudiannya terbahagi kepada banyak
cabang-cabang. Ia berpecah kepada terlalu banyak kumpulan
sehingga kebijaksanaan dan tenaganya menjadi sangat
berkurangan dan berselerak. Dalam banyak kes segala yang
tinggal hanyalah rupa yang dibaluti oleh pakaian guru kerohanian
tanpa sebarang makna, kekuatan dan tenaga di bawah pakaian
tersebut. Walaupun dalam suasana kosong itu ia masih juga
berpecah dan berganda, bertukar menjadi bidaah. Sebahagian
menjadi Qalandari – peminta sedekah yang mengembara. Yang
lain menjadi Haydari dan berpura-pura menjadi wira. Yang lain
pula menamakan diri mereka Adhami dan berpura-pura
mengikuti wali Allah Ibrahim Adham yang meninggalkan takhta
kerajaan dunia ini. Masih ramai lagi yang lain.

Dalam zaman kita mereka yang mengikuti jalan kebenaran
sesuai dengan hukum agama menjadi semakin berkurangan.
Pengikut-pengikut yang benar pada jalan ini boleh dikenali
melalui dua kenyataan.

Pertama, kenyataan zahir, yang menunjukkan keadaan
kehidupan harian mereka yang dibentengi oleh hukum dan
amalan agama. Kedua kenyataan dalaman, contoh teladan yang
si pencari itu ikuti dan lahirkan dan dengan apa yang dia
dibimbingkan. Sesungguhnya tiada yang lain untuk diikuti
melainkan Nabi Muhamamd s.a.w, yang menjadi teladan, yang
pada satu masa dahulu baginda sendiri berada dalam suasana
mencari dan kebenaranlah yang baginda cari. Tanpa ragu-ragu
roh suci baginda sahaja yang menjadi perantaraan. Itulah
undang-undang yang mesti dipatuhi oleh orang yang beriman
bagi penerusan kehidupan agama dalam kehidupan. Cara lain,
wali yang memiliki pesaka kerohanian Nabi s.a.w boleh
memberkati si pencari dengan kewujudan kebendaannya.
Sesungguhnya syaitan tidak boleh mengambil rupa Nabi s.a.w.
Waspadalah wahai pengembara pada jalan kerohanian, orang
buta tidak boleh memimpin orang buta. Perhatian kamu mesti
bersungguh-sungguh agar kamu dapat membezakan kebaikan
yang paling kecil daripada kejahatan yang paling kecil

SIRRUL ASRAR : BAB 24 MIMPI-MIMPI


Mimpi yang dimimpikan di antara masa seseorang hampir lena
hingga dia tidur lena adalah benar dan berfaedah. Mimpi-mimpi
ini selalunya merupakan pembawa pembukaan dan perantaraan
kepada yang luar biasa. Bukti kebenaran mimpi dinyatakan oleh
Allah dengan firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah akan buktikan mimpi itu benar
kepada Rasul-Nya, kamu akan masuk Masjidil Haram jika
dikehendaki Allah dengan aman”. (Surah al-Fath, ayat 27).
Dan memang benar Nabi s.a.w memasuki kota Makkah yang
masih dikuasai oleh musuh-musuh baginda, tahun sesudah
baginda bermimpi. Contoh lain ialah mimpi Nabi Yusuf a.s:
“Tatkala Yusuf berkata kepada bapanya, ‘Wahai bapaku,
sesungguhnya aku melihat sebelas bintang dan matahari
serta bulan – aku lihat – bersujud kepadaku”. (Surah
Yusuf, ayat 4).
Nabi s.a.w bersabda,
“ Tidak ada nabi yang datang selepas aku tetapi boleh
datang pembukaan-pembukaan yang lain. Orang yang
beriman akan melihat pembukaan itu dalam mimpi mereka
atau pembukaan itu akan ditunjukkan kepada mereka
menerusi mimpi”.
“Bagi mereka pembukaan tentang khabar baik dalam
dunia ini dan di akhirat”. (Surah Yunus, ayat 64).
Mimpi datangnya dari Allah tetapi kadang-kadang ada juga yang
datang dari syaitan. Nabi s.a.w bersabda,
“Sesiapa yang melihatku di dalam mimpi sesungguhnya
dia benar-benar melihatku kerana syaitan tidak dapat
mengambil bentukku” .
Syaitan juga tidak dapat mengambil bentuk mereka yang
mengikut iman, jalan kebenaran, makrifat, kebenaran dan
cahaya Nabi s.a.w. Orang arif mentafsirkan hadis Nabi s.a.w di
atas dengan mengatakan syaitan bukan sahaja tidak dapat
mengambil bentuk Nabi s.a.w malah syaitan juga tidak dapat
berpura-pura mengakui seseorang atau sesuatu yang ada sifat
kemurahan dan kebaikan atau kasih sayang dan lemah lembut
dan beriman. Sesungguhnya Nabi-nabi, wali-wali, malaikat,
Masjidil haram, matahari, bulan, awan putih, Quran yang suci,
merupakan kewujudan yang ke dalamnya syaitan tidak boleh
masuk juga tidak dapat mengambil bentuk mereka. Ini kerana
syaitan adalah tempat dan keadaan yang menzahirkan
kekerasan, hukuman dan kesengsaraan. Ia hanya boleh
menggambarkan kekeliruan dan keraguan. Bila seseorang sudah
memiliki di dalam dirinya kenyataan nama Allah, ‘Pembimbing
Mutlak Kepada Kebenaran’, bagaimana sifat yang membawa
kekacauan itu boleh menyata dalam dirinya? Sifat-sifat yang
bertentangan satu sama lain tidak boleh bertukar tempat, seperti
air dengan api. Kemurkaan tidak dapat mengambil tempat
kemurahan, juga tidak boleh api menyerupai air. Mereka
menolak sesama mereka, mereka berjauhan, mereka kepunyaan
ruang yang berlainan. Allah Pisahkan kebenaran daripada
kepalsuan:
“Demikianlah Allah nyatakan kebenaran dan kepalsuan…
dengan misalan dan ibarat…”. (Surah ar-Ra’d, ayat 17).
Tetapi syaitan boleh mengaku menjadi Allah dan menipu
manusia, membawa mereka menjadi sesat. Ini hanya boleh
dilakukan dengan izin Allah. Allah mempunyai banyak sifat-sifat
yang kelihatan bertentangan satu sama lain. Misalnya sifat-Nya
Yang Gagah dan Keras kelihatan berlawanan dengan sifat-Nya
Yang Indah dan Lemah-lembut. Syaitan dilaknati hanya boleh
berpura-pura mengambil watak kemarahan dan keperkasaan
kerana ia secara kejadian asalnya adalah bentuk menyatakan
kekerasan Allah. Allah memiliki kedua-dua sifat, Pembimbing
Mutlak kepada kebenaran dan juga Pembawa kepada kesesatan.
Syaitan tidak boleh menjelma dengan watak sifat yang
mengandungi nilai pembimbingan. Jika syaitan berpura-pura
menjelmakan sebarang sifat Allah, ia lakukannya dengan
kehendak dan izin Allah, bagi membimbing orang yang beriman
kepada kebaikan dengan menentang kejahatan, membawanya
kepada kebenaran dengan cara menentang kepalsuan. Dalam
kenyataannya syaitan tidak ada sebarang kuasa untuk merampas
iman daripada seseorang yang beriman; ia hanya boleh
mengambilnya jika orang yang beriman itu sendiri
mencampakkan imannya.
Allah memerintahkan Nabi-Nya supaya:
“Katakanlah: ‘Inilah jalanku, yang aku dan orang-orang
yang mengikuti daku menyeru (manusia) kepada Allah
dengan basirah (penyaksian yang jelas). Maha Suci Allah!
Dan bukanlah aku dari golongan musyrikin”. (Surah Yusuf,
ayat 108).
Dalam ayat ini ‘orang yang mengikuti daku’ adalah manusia
sempurna, guru kerohanian yang sebenar yang akan datang
selepas Nabi Muhamamd s.a.w, yang akan mewarisi ilmu batin
baginda dan kebijaksanaan baginda dan yang akan berada
hampir dengan Allah. Manusia yang demikian digambarkan
sebagai ‘pelindung dan pembimbing sebenar’. (Surah al-Kahfi,
ayat 17).
Ada dua jenis mimpi; subjektif (memberi pandangan atau
perasaan sendiri) dan objektif (bermatlamat), masing-masing
dibahagi kepada dua jenis.
Jenis pertama mimpi subjektif ialah bayangan atau gambaran
suasana kerohanian yang tinggi dan hasil daripada keharmonian,
dan kelihatan dalam gambar seperti matahari, bulan, bintang,
pemandangan padang pasir putih bermandikan cahaya, taman
syurga, mahligai, roh yang cantik dalam bentuk malaikat dan
lain-lain. Ini semua adalah sifat-sifat hati yang murni.
Jenis kedua mimpi subjektif mengandungi gambaran yang
berkaitan dengan suasana seseorang yang bebas daripada
keresahan, yang mengenal diri dan menemui ketenteraman
fikirannya. Gambaran-gambaran ini adalah kelazatan yang dia
akan temui dalam syurga, bau-bauan dan suara di dalam syurga.
Dia akan bermimpikan beberapa jenis haiwan dan burung yang
menyerupai yang paling cantik yang jenisnya ada dalam dunia.
Haiwan yang dilihat di dalam mimpi itu adalah haiwan syurga.
Misalnya, unta adalah haiwan syurga. Kuda dihantar sebagai
haiwan yang membawa tentera suci di dalam peperangan
menentang orang-orang kafir di sekelilingnya dan di dalamnya.
Lembu jantan kepada Nabi Adam a.s bagi menenggala tanah
untuk ditanam gandum. K ambing biri-biri datangnya dari madu
syurga, unta diciptakan dari cahaya syurga, kuda daripada
selasih manis di dalam syurga, biri-biri daripada kunyit syurga.
Baghal menggambarkan suasana terendah seseorang yang
menemui hati dan fikiran yang tenang. Bila dia mimpikan baghal
itu tandanya dia cuai dan malas di dalam melakukan ibadat
sebab hawa nafsu badannya menahan, dan usaha kerohaniannya
tidak memberi hasil. Kemudian dia harus bertaubat dan teruskan
melakukan kebajikan supaya dia akan mendapat hasil.
Keldai diciptakan dari batu syurga dan diberikan untuk
berkhidmat kepada Nabi Adam a.s dan keturunannya. Keldai
adalah lambang jasad dan keperluan kebendaannya, ego dan
pentingkan diri sendiri. Jasad adalah haiwan yang membawa
beban, membawa roh. Jika seseorang menjadi hamba kepada
jasad dia adalah umpama orang yang memikul keldai di atas
bahunya, tetapi manusia sebenar menunggangi keldai jasad
kebendaannya. Jadi, keldai melambangkan cara atau alat dia
mengarahkan urusan akhiratnya di dalam dunia ini.
Berkata-kata dengan jejaka tampan dengan wajah yang berseri-
seri adalah tanda kenyataan Ilahi sampai kepada seseorang itu
kerana mereka yang sudah memperolehi makrifat kepada
kenyataan Ilahi di dalam syurga akan muncul di dalam rupa yang
cantik. Nabi s.a.w menggambarkan orang demikian sebagai
berkeadaan serba-kena, serba-elok, lemah lembut dan
mempunyai mata kehitaman yang indah. Baginda bahkan
mengatakan, “Aku lihat Tuhanku dalam rupa jejaka tampan”.
Kerana Allah tidak menyerupai sesuatu, hadis ini dimengertikan
sebagai kenyataan sifat-sifat Allah Yang Maha Indah
digambarkan di dalam cermin roh yang suci. Gambaran ini
dinamakan bayi bagi hati. Rupa kebendaan, badan, adalah
cermin kepada kebijaksanaan ketuhanan yang mengajarkan dan
membentuk kita. Gambaran ini juga adalah perhubungan di
antara hamba dengan Tuhan. Saidina Ali r.a berkata,
“Jika aku tidak dibentuk oleh Tuhanku aku tidak akan mengenal-
Nya”.
Bagi pembentukan kerohanian, seseorang itu memerlukan
petunjuk, bimbingan dan teladan daripada pembimbing yang
masih hidup. Guru-guru yang menjadi pembimbing adalah nab-
nabi dan orang-orang yang hampir dengan Allah yang mewarisi
kebijaksanaan nabi-nabi. Melalui pengajaran mereka hati dan diri
seseorang diterangi cahaya, menerangi perjalanan mereka. Murid
menemui roh yang diilhamkan di dalam dirinya melalui mereka
yang menjadi guru kerohanian tersebut.
“Dia jualah yang tinggi darjat-Nya, yang memiliki arasy.
Dia kirimkan roh (dari perintah-Nya) kepada sesiapa yang
Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya buat Dia ancam
dengan hari pertemuan”. (Surah Mukmin, ayat 15).
Untuk keselamatan hati kamu mestilah mendapatkan guru yang
mengilhamkan kamu dengan roh itu.
Imam al-Ghazali berkata,
“ Tidak menjadi kesalahan bagi seseorang melihat Allah
dalam mimpinya sebagai gambaran yang indah. Gambaran
itu adalah symbol menurut peringkat kerohanian
seseorang. Apa yang dilihat tentu sekali bukan Z at Yang
Maha Suci yang tidak serupa dengan sesuatu. Begitu juga
Nabi s.a.w tidak dapat dilihat dalam rupa baginda yang
asli, kecuali mereka yang menjadi w aris kepada hikmah
kebijaksanaan baginda, ilmu dan amalan baginda, dan
yang mengikuti baginda secara keseluruhan. Yang lain,
bila mereka mimpikan Rasulullah s.a.w, mimpikan simbol
menurut kemampuan dan suasana mereka, tetapi mereka
tidak sebenarnya melihat baginda”.
Kata qil (kata orang bijak pandai),
“Dibolehkan melihat Allah di dalam mimpi sebagai cahaya atau
rupa manusia”.
Dia menyatakan Diri-Nya dalam bentuk sifat-sifat-Nya. Kepada
Nabi Musa a.s Dia kelihatan sebagai api pada pokok jujube yang
terbakar. Itu adalah penzahiran tentang Kalam Suci yang Nabi
Musa a.s dengan sebagai Belukar Terbakar, mengatakan,
“Wahai Musa, apakah di tangan kamu?’ (Surah Ta Ha, ayat
15).
Apa yang kelihatan kepada Musa a.s sebagai api adalah cahaya
Ilahi. Dia melihatnya sebagai api menurut peringkat dan
hasratnya, kerana dia sedang mencari api. Bagi manusia,
peringkat kewujudan terendah pada dirinya ialah tumbuh-
tumbuhan, kemudian haiwan. Apakah yang ganjil jika manusia
yang telah menyucikan dirinya daripada tahap-tahap rendah itu
sehingga menjadi manusia sempurna, melihat kenyataan Tuhan
dizahirkan sebagai Belukar Terbakar. Bagi manusia sempurna
yang lain Allah menzahirkan Kalam-Nya sebagai perkataan
mereka sendiri, keluar daripada mulut mereka. Bayazid al-
Bustami berkata, “Zatku adalah Yang Maha Mulia. Betapa
besarnya kemuliaan daku” . Kalam Suci keluar daripada mulut
Junaid al-Baghdadi, “Tiada yang lain kecuali Allah di dalam
jubahku” . Terdapat rahsia-rahsia besar di dalam peringkat
seperti ini yang dicapai oleh manusia sempurna. Terlalu sukar
untuk menerangkannya dan terlalu panjang untuk
menghuraikannya. Ia hanya berkaitan dengan mereka yang
menghabiskan hayatnya mengejar ilmu batin.
Untuk menjadi penerima penzahiran Ilahi dan untuk berhubung
dengan roh Nabi s.a.w, seseorang mesti diajar dan dididik dan
dibawa ke peringkat kerohanian tersebut. Orang yang baharu
memasuki perjalanan kerohanian tidak boleh berharap dapat
berhubung dengan Allah dan Rasul-Nya. Di antara guru yang suci
yang hampir dengan Allah dan Rasul-Nya ada hubungan yang
mengatasi zahiriah. Jika Nabi s.a.w masih hidup seseorang boleh
mengambil ilmu secara langsung daripada baginda dan tidak
perlulah kepada perantaraan. Tetapi oleh kerana baginda sudah
wafat dan berpindah kepada alam baqa, baginda berpisah
dengan keadaan keduniaan dan kebendaan. Jadi, seseorang tidak
dapat berhubung secara langsung dengan baginda. Hal yang
sama juga terjadi pada guru yang benar. Bila mereka meninggal
dunia orang ramai tidak boleh lagi belajar dengan mereka.
Kamu akan faham jika kamu mempunyai pengertian yang
mendalam, jika kamu mencari bukan untuk menjadi luar
biasa. Mencari untuk memperolehi kefahaman ini dengan
renungan mendalam, agar kamu melepasi kegelapan ego diri
kamu dengan cahaya yang dinyalakan. Kamu perlu cahaya untuk
melihat, untuk mengerti. Kamu tidak boleh melihat di dalam
kegelapan. Cahaya itu hanya jatuh pada tempat yang sesuai,
yang teratur dan suci, tempat yang mulia. Orang yang baharu,
dengan dirinya sendiri, tidak dapat meletakkan dirinya dalam
kesesuaian dan sebab itu memerlukan guru.
Guru yang masih hidup mestilah ada hubungan dengan Nabi
s.a.w – iaitu jika dia benar-benar pewaris suasana Nabi s.a.w.
Dalam perjalanannya dia menerima bimbingan daripada Nabi
s.a.w dan diajarkan untuk menjadi hamba Allah yang sabar.
Dengan bantuan ini dia menjadi alat bagi penerusan jalan batin.
Selebihnya adalah rahsia. Hanya orang yang layak mengalaminya
akan mengalaminya.
“Bagi Allah jualah kemuliaan dan bagi Rasul-Nya dan bagi
orang mukmin”. (Surah Munafiquun, ayat 8).
Suasana yang mulia ini adalah rahsia.
Latihan kerohanian bukanlah perkara mudah. Roh kebendaan
berada di dalam tubuh dan dilatih dengannya. Tempat roh
kerohanian di dalam hati. Tempat roh sultan adalah pusat hati.
Tempat roh kudus (roh suci) adalah rahsia. Rahsia itu adalah
jalan yang menghubungkan yang hak dengan orang yang
beriman. Ia adalah juru bahasa, menterjemahkan yang hak
kepada si pencari, kerana rahsia itu kepunyaan Allah, adalah
hampir dengan-Nya dan amanah-Nya.
Ada juga mimpi akibat kelakuan buruk. Ia menunjukkan sifat-
sifat ego yang menguasai atau kesedaran terhadap kesalahan
tetapi dia tidak mampu menghentikannya.
Malah dalam suasana yang lebih baik bila seseorang diingatkan
oleh Allah tentang kesalahan dan dosanya dia mimpikan haiwan
liar seperti harimau dan singa, serigala dan beruang, anjing dan
babi jantan, dan haiwan-haiwan kecil – musang, arnab, kucing
ular, kala jengking dan haiwan yang memakan daging dan juga
haiwan berbisa, haiwan yang merosakkan.,
Untuk menyatakan sebahagian kecil kejahatan yang ditunjukkan
oleh gambaran-gambaran itu: Harimau adalah simbol; ujub dan
besar diri serta takabur yang sampai kepada peringkat angkuh
dengan Allah:
“Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan tidak
mahu terima dia, maka tidak akan dibuka pintu-pintu
langit dan tidak akan mereka masuk syurga sehingga unta
boleh masuk ke lubang jarum”. (Surah al-A’raaf, ayat 40).
Hukuman yang sama juga bagi mereka yang angkuh dengan
sesama manusia.
Serigala adalah simbol kasihkan diri yang melampau dan
inginkan pujian. Beruang melambangkan kemarahan dan
keberangan dan kezaliman ke atas orang yang dia kuasai.
Serigala melambangkan kerakusan tanpa memperdulikan haram
dan halal, bersih atau kotor. Anjing melambangkan kasihkan
dunia dan huru harinya. Babi melambangkan kedinginan, cita-
cita tinggi, berendam dan hawa nafsu yang kuat. Musang
menunjukkan penipuan, pembohongan, menipu dalam urusan
dunia. Arnab menunjukkan kelakuan yang sama, kecuali
dilakukan secara tidak sedar dan dalam kelalaian. Harimau
bintang – usaha yang digunakan tanpa pertimbangan dan
menyakitkan hati, juga ingin menjadi terkenal. Kucing –
kebakhilan dan memutar belit. Ular – berbohong, mengata-
ngata, membuat tuduhan palsu dan menyakitkan orang lain
dengan perkataannya. Kala jengking – kritik yang tidak sihat,
mempersendakan orang dan tidak menerima mereka. Tebuan –
bahasa kesat yang menyakitkan hati orang.
Jika seseorang bermimpi berlawan dengan salah satu daripada
haiwan tersebut tetapi tidak dapat mengalahkannya dia perlu
memperkuatkan lagi usaha, ibadat dan ingatan secara sedar,
sehingga sekali pukul binatang itu dapat dihapuskan. Jika
bermimpi membunuh binatang itu bermakna dia telah berhenti
melakukan kesalahan dan menyakitkan hati orang lain. Allah
berfirman:
“ Dia akan hapuskan daripada mereka kejahatan dan Dia
akan perbaiki keadaan mereka”. (Surah Muhammad, ayat
2).
Jika dia bermimpi salah satu daripada binatang itu berubah
menjadi manusia itu tandanya suasananya yang salah dahulu
telah diperbetulkannya dan taubatnya diterima, kerana tanda
sebenar taubat diterima ialah ketidak-upayaan melakukan
kesalahan yang sama.
“Kecuali orang yang bertaubat dan beriman dan
mengerjakan akal salih, maka mereka itu Allah tukarkan
kejahatan mereka dengan kebaikan…” (Surah al-Furqaan,
ayat 70).
Bila seseorang diselamatkan daripada kejahatan dan kesalahan
dia mesti menjaganya sungguh-sungguh, jangan berasa sudah
selamat, kerana hawa nafsu dan ego mendapat kembali
kekuatannya melalui ingatan yang sedikit terhadap keingkaran,
bangkangan dan kejahatan, dan membawa seseorang kembali
kepada cara lama. Suasana roh yang sejahtera dengan mudah
akan hilang. Tujuan Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya
menahan diri daripada yang haram adalah mengwujudkan
amaran yang berterusan untuk menjaga seseorang agar sentiasa
berwaspada.
Ego jahat yang memerintah kadang-kadang kelihatan dalam
mimpi sebagai orang kafir; diri yang mengkritik diri sendiri boleh
kelihatan sebagai orang Yahudi; diri yang berperangsang
kadang-kadang kelihatan sebagai orang Kristian.