Catatan Popular

Jumaat, 29 Oktober 2021

SYEIKH BISYIR AL HARITS DAN PENGHUNI MISTERI DI GUNUNG

Dari Bisyir bin Al-Harits, dia berkata;


Saya melihat seorang lelaki di jalan menuju Syam, di atas tubuhnya terdapat jubah yang dia ikat seperti model orang badui.

 

Saya pun bertanya kepadanya, "Dari mana engkau datang?"

 

Dia menjawab, "Dari sisi-Nya."

 

"Ke mana engkau akan pergi?"

 

"Kepada-Nya"

 

"Bagaimana jalan untuk selamat?"

 

"Dengan bertaqwa dan selalu muraqabah terhadap keridhaan Tuhan yang engkau harapkan."

 

"Berikanlah saya nasihat"

 

"Menurutku, engkau tidak mau menerima nasihatku."

 

"Tolonglah, saya akan terima nasihatmu."

 

Ia berkata, "Larilah dari mereka, dan jangan merasa nyaman bersama mereka. Merasa asinglah dari dunia, karena dia mengantarkanmu kepada bencana. Siapa yang mengenal dunia, dia akan tidak akan merasa tenang dengannya. Siapa yang mengetahui bahaya dunia, dia akan menyiapkan obat penyembuhnya. Siapa yang mengenal akhirat, dia akan bersungguh-sungguh mengejarnya. Siapa yang membayangkan akhirat, dia akan merindukan kenikmatan yang ada di dalamnya.

 

Dan dia akan merasa ringan untuk beramal saleh.

 

"Bagaimana jika engkau membayangkan siapa yang memiliki dunia dengan segala perhiasannya.

 

Dia yang memerintah, 'Jadilah,' maka jadilah dia. Dia juga yang memerintahkan dunia, 'Tampil indahlah,' maka dunia pun tampil indah. Kerinduan terhadap pemilik dunia adalah lebih utama bagi orang-orang yang merindukan.

 

Dan, dia lebih indah bagi kehidupan orang-orang yang mencari ketenangan.

 

"Mereka merasa tenang dengan Rabb mereka. Hubungan mereka dengan- Nya dalam kedamaian, mereka memurnikan perhatian mereka untuk-Nya, dan mereka mencurahkan seluruh daya pikir mereka untuk-Nya. Maka, Dia pun memberikan mereka minuman kecintaan-Nya. Sehingga mereka pun merasakan dalam kehausan mereka perasaan kepuasaan, sambil mereka tetap haus terhadap cinta Rabb mereka"

 

"Hai saudaraku, apakah engkau memahami apa yang saya katakan? Jika tidak, jangan ikuti saya lagi"

 

Saya menjawab, "Tentu saja, saya memahami seluruh yang engkau telah katakan. Semoga Allah merahmatimu."

 

Dia berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kefahaman kepadamu, dan saya melihat kebahagiaan di wajahmu. Ambillah untukmu perhatian orang yang tidak pernah lelah untuk menghiasai hati mereka dengan cinta Ilahi, karena hikmah selalu mengalir dan bersambung ke hati mereka.

 

Mereka adalah bejana penerima hikmah yang tidak dikotori oleh keserakahan, dan tidak terputus hubungannya dengan Allah, mereka terlihat sederhana dalam penampilan mereka, namun kaya raya dalam ketawakalan mereka. Mereka bersikap teguh dalam menghadapi pelbagai perubahan dalam kehidupan. Mereka merasa tertusuk dengan kerinduan kepada Allah dan merasa asing di dunia ini. Kenikmatan mereka adalah keyakinan, roh mereka adalah kedamaian, mereka adalah makhluk yang paling lembut dalam tindak tanduknya, paling pemalu dalam gerak geriknya, dan paling mulia tujuan hidupnya.

 

Mereka tidak terpesona dengan gemerlap dunia. Mereka juga tidak berlebihan dalam segala hal. Mereka adalah orang-orang pilihan dari sekian makhluk Allah.

 

Serta cahaya dari sekian hamba-hambaNya yang saleh.

 

Hati manusia-manusia yang penuh cinta kepada Allah, akan terputus perhatiannya dari selain ini. Semoga Allah memberikan kemanfaatan bagi kami dan engkau sesuai ilmu yang Dia berikan kepada kita, dan menyelamatkan kami dan engkau sesuai ilmu yang telah Dia berikan. Wassalamu alaika warahmatullah."

Syeikh Bisyir berkata; Saya pun meminta dia agar mengizinkan saya menemaninya. Namun dia menolak.

 

Dia berkata; 'Saya tidak melupakanmu, maka jangan lupakan saya.'

 

Dia kemudian meneruskan jalannya dan meninggalkanku.

 

Bisyir berkata; Saya menjumpai Isa bin Yunus, dan saya pun menceritakan kepadanya tentang orang tadi. Dia menjawab, "Dia telah bersikap akrab denganmu.

 

Orang saleh itu adalah seorang yang sangat baik, yang memilih tinggal di gunung. Dia hanya datang ke kota untuk shalat Jumaat, dan pada hari itu dia menjual kayu bakar yang hasilnya mencukupi kebutuhan hidupnya hingga Jumaat berikutnya. Sangat aneh sekali jika dia telah berbicara kepadamu, dan engkau mengingat kata-katanya yang bagus tadi."

KISAH BAPA RASULULLAH SAW DAN SEORANG PEREMPUAN

Abui Fayyadh Al-Khats'ami bercerita;

Pada suatu hari Abdulah bin Abdul Muthalib berjalan melewati seorang perempuan dari suku Khats'am yang bernama Fathimah binti Murr.

Dia adalah perempuan yang sangat cantik, masih muda, dan sangat menjaga kemuliaan dirinya. Dia juga perempuan yang terpelajar dan membaca banyak buku.

Karena itu, para pemuda Quraisy banyak berbicara tentang dirinya. Kemudian perempuan itu melihat cahaya kenabian pada wajah Abdullah.

Maka dia bertanya kepada Abdullah, "Pemuda, siapa namamu?" Dan Abdullah pun menerangkan siapa dirinya.

Perempuan itu kembali berkata kepadanya, "Apakah engkau mahu meniduriku, dan nanti saya berikan engkau seratus ekor unta?"

Abdullah memandangnya, kemudian berkata, "Jika engkau mengajakku melakukan perbuatan yang terlarang, maka kematian lebih saya pilih. Jika itu perbuatan yang dilakukan dalam kehalalan, maka harus difikirkan terlebih dahulu. Tentang bagaimana hari esok, apa yang engkau rencanakan."

Kemudian dia pergi menemui istrinya, Aminah binti Wahab. Saat itu istrinya sedang bersamanya. Maka Abdullah menceritakan tentang perempuan dari Khatsamiah itu, serta kecantikannya dan tawarannya.

Berikutnya dia kembali menemui perempuan Khats'amiyah, namun kali ini perempuan itu tidak menyingkapinya dengan penuh semangat, sebagaimana yang dia lakukan dahulu.

Maka Abdullah bertanya kepadanya, "Apakah engkau sungguh-sungguh dengan tawaranmu dahulu?"

 

Perempuan itu menjawab, "Waktu itu saya menawarkannya kepadamu. Sedangkan hari ini tidak. Karena saya tidak ada keinginan lagi terhadapmu.

Kemudian perempuan itu bertanya, "Apa yang engkau telah lakukan selepas bertemu denganku sebelumnya?"

Dia menjawab, "Saya meniduri istriku, Aminah binti Wahab."

Perempuan itu berkata, "Demi Tuhan! Saya bukanlah orang yang peragu. Tapi waktu itu saya melihat cahaya kenabian di wajahmu. Maka saya ingin agar cahaya itu masuk ke tubuhku. Namun Tuhan berkehendak lagi, dan meletakkannya sesuai yang Dia kehendaki."

Kejadian itu kemudian menjadi pembicaraan para pemuda Quraisy.

Bahwa perempuan Khats'amiyah itu menawarkan dirinya kepada Abdullah, namun Abdullah menolaknya.

 

Maka, mereka pun membicarakan dirinya dengan buruk sehingga perempuan itu menjawab, menerangkan sebab perbuatannya itu,

"Saya melihat, padanya ada cahaya yang bersinar Yang menyinari semesta dengan cahaya berpendar"

Urwah dan lainnya mengatakan, bahwa perempuan itu bernama Qatilah binti Naufal, saudari Waraqah bin Naufal.

 

Apakah Cahaya yang bersinar itu?

 

ALLAH MENYELAMATKAN RAJA PEMBANGKANG RABBNYA

Syeikh Bakr bin Abdillah Al-Muzanni berkata;

 

Di antara umat sebelum kalian ada seorang raja, yang membangkang terhadap Rabbnya Dia kemudian diperangi oleh kaum muslimin dan dijadikan tawanan.

 

Para tentara berkata,

"Bagaimana cara kita menghukum mati dia?" Kemudian mereka bersepakat untuk meletakkannya di sebuah belanga besar, dan selanjutnya di bawahnya dinyalakan api. Mereka tidak membunuhnya hingga mereka membuat dirinya merasakan pedihnya adzab. Dan mereka pun melakukan rencana tersebut.

 

Saat dia berada di tempat itu, dia pun memohon kepada tuhan-tuhannya satu persatu. Dia memanggil; hai fulan, sebagaimana saya menyembahmu, beribadah kepadamu dan menyapu wajahmu, selamatkanlah saya dari situasi ini.

 

Ketika dia melihat bahwa tuhan-tuhan sembahan dia itu tidak dapat memberi manfaat baginya sama sekali, dia pun mengangkat pandangannya ke langit Dan berkata, "Tidak ada tuhan kecuali Allah."

 

Selanjutnya dia memohon kepada Allah dengan ikhlas. Maka Allah menurunkan hujan dari langit dan menyiram tempatnya dengan hujan, sehingga api pun padam. Kemudian datanglah angin yang besar, yang menerbangkan tempatnya itu sehingga dia berputar-putar di antara langit dan bumi, sambil dia mengucap, "La ilaha illallah."

 

Selanjutnya Allah menurunkannya di tempat orang-orang yang tidak menyembah Allah. Sambil dia tetap mengucapkan, "La ilaha illallah."

 

Mereka pun mengeluarkannya dari belanga besar, dan mereka bertanya, "Celaka engkau, apa yang terjadi denganmu?"

 

Dia menjawab, "Saya adalah raja dari kerajaan bani fulan." Kemudian dia menceritakan keadaannya dan bagaimana dia ditangkap, dan berikutnya bagaimana dia selamat. Mendengar penuturannya, orang-orang itu pun beriman."

 

 

SYEIKH ABU TURAB AN NAKHSYABI DAN TUKANG CUKUR

Dari Ahmad bin Jafar Al-Hadzdza', dia berkata;

 

Saya mendengar Abu Ali Husain bin Khairan Al-Faqih berkata,

 

"Abu Turab An-Nakhsyabi pergi kepada seorang tukang cukur. Dia pun berkata kepadanya, "Apakah engkau mau mencukur rambutku karena Allah.

 

Ia menjawab, "Duduklah" Abu Turab pun duduk. Dan ketika dia mencukur rambutnya, lewatlah seorang gubernur wilayah tersebut. Dan dia bertanya kepada para pendampingnya, "Bukankah ini Abu Turab?"

Mereka menjawab, "Benar."

 

Dia bertanya, "Berapa banyak dinar yang kalian bawa?"

Seorang asistennya menjawab, "Saya membawa satu kantung berisi seribu dinar."

Gubernur pun memerintahkan kepada asistennya, "Jika Abu Turab selesai cukur, berikanlah dinar-dinar itu kepadanya dan mintalah maaf kepadanya, karena dinar yang kita bawa hanya ini saja."

 

Asistennya itu datang menemui Abu Turab. Dan berkata kepadanya, "Gubernur mengucapkan salam kepadamu.

 

Dan memberikan dinar ini. Dia minta maaf karena dinar yang dibawa hanya ini."

 

Abu Turab menjawab, "Berikan dinar itu kepada tukang cukur."

 

Tukang cukur berkata, "Apa yang akan saya perbuat dengan dinar itu?"

 

Abu Turab menjawab, "Ambillah."

 

Ia menjawab, "Demi Allah, meskipun dia berjumlah seribu dinar, saya tidak akan mengambilnya."

 

Abu Turab kemudian berkata kepada asisten gubernur itu, "Kembalilah kepada gubernur, dan katakan bahwa tukung cukur tidak mau mengambilnya. Maka ambillah dinar ini untuk engkau gunakan bagi keperluanmu."

 

Manusia dalam Genggaman Allah

Abu Bakar al-Kaimi dalam kitabnya meriwayatkan bahwa syeikh Abu Bakar Ad-Daqqaq bercerita:

Pada mulanya, dahulu aku adalah seorang kusir unta dengan rutin jalan dari Jailan-Makkah.

 

Pada suatu ketika, aku menghantarkan seseorang dari Jailan untuk menunaikan ibadah haji.

 

Seseorang itu merasa ajalnya sudah dekat, dan ia berkata padaku, “Ambillah jubah ini, di dalamnya ada 10 dinar. Ambil juga baju ini dan serahkanlah kepada Syeikh Abdul Qadir al-Jailani. Mohon kepadanya untuk memohonkan rahmat kepadaku.”

Setibanya di Bagdad, muncul niat jahat didalam hatiku untuk menguasai semua harta yang diamanahkan kepadaku. Sebab, selain Allah tidak ada yang mengetahui antara aku dan orang jailan tersebut.

Selama beberapa saat aku hanya berjalan-jalan di kota Bagdad. Hingga pada suatu hari, aku bertemu dengan Syeikh Abdul qadir, aku segera mengucapkan salam dan menjabat tangan beliau.

Beliau memegang tanganku dan berkata, “Wahai, orang miskin, hanya karena 10 dinar engkau telah mengkhianati Allah dan amanah yang diberikan orang asing kepadamu dan merampokku.”

Aku sangat terkejut hingga pingsan. Ketika sadar, Syeikh sudah berlalu dariku. Aku segera pulang dan mengambil emas serta baju tersebut, kemudian pergi menemui Syeikh.

Sesungguhnya manusia dalam genggaman Allah, Dia yang menyingkapi dan Dia yang menutupnya.

Abu Bakar Muhammad ad-Daqqaq wafat pada tahun 489 Hijriyah.

Jenazahnya dikenang banyak orang dan mereka mengkhatamkan bacaan Alquran beberapa kali di makamnya. 

AMPUNAN LEBIH DICINTANYA

SYEIKH ABU AL HASAN ALI BIN ISA adalah muhaddits shalih yang diangkat menjadi menteri di Baghdad.

Suatu saat ia dipecat dari jabatannya lalu diasingkan di Makkah.

Saat menjalankan ibadah haji dikala cuaca amat panas, Abu Al Hasan mencampakkan badannya dan mengatakan, ”Aku ingin minum minuman yang dingin karena es!”

Tak lama kemudian mendung berkumpul dan petir menyambar-nyambar lalu turunlah salju dari langit cukup banyak. Seorang budak pun mengumpulkannya.

Saat itu, Abu Al Hasan sedang berpuasa, Muhaddits Abu Sahl Al Qaththan pun membawa minuman dingin dari budak itu kepada Abu Al Hasan saat ia berbuka.

Abu Al Hasan pun memberi minuman kepada mereka yang berada disekitarnya baru kemudian ia meminum.

Kemudian ia pun berkata,”Kalau saja seandainya aku tadi mengharap ampunan…”

KARAMAH SAYYID ABUL ABBAS AL MURSI

Nama sebenarnya Sayid Ahmad bin Umar Al Ansari berasal dari Maghribi dan berhijrah ke Mesir dan menetap di Iskandariah.

Beliau adalah seorang ahli kasyaf yang terkenal.

Diriwayatkan oleh Imam Syarani RA bahawa Sayyid Abul Abbas pernah dihidangkan dengan makanan oleh Sultan dengan niat untuk menguji karamahnya.


Hidangan itu berupa dua ekor ayam. Ayam yang satu disembelih secara halal dan satu lagi dipulas lehernya. Kemudian kedua-duanya dimasak dan dihidangkan bersama.


Abul Abbas pun berkata kepada pelayan yang membawa makanan itu: "Angkatlah hidangan ini, kerana Allah telah mengharamkan bangkai. Jika ayam yang halal itu tidak bercampur dengan bangkai nescaya saya akan memakannya".

****
Pada suatu masa penduduk Iskandariah keluar berjaga-jaga bahawa ada musuh yang hendak menyerang Iskandariah. Abul Abbas berkata :"Semoga mereka tidak menyerang Iskandariah selama aku masih berada disini."

 

Kenyataan Abul Abbas Al Mursi itu diizinkan Allah ini kerana Kota Iskandariah itu tidak diserang musuh sepanjang hayatnya.

Syeikh Hasan Al Adawi dalam kitabnya "Syahrul Burdah" berkata :"Bahawa aku pernah solat di belakang Abul Abbas .

 

Katanya :"Aku lihat tubuhnya bercahaya hingga aku tidak dapat mempastikan kehadirannya dengan jelas."

Abul Abbas pernah berkata :"Selama 40 tahun aku tidak putus berjumpa dengan Rasulullah saw. Jika aku tidak dapat melihatnya aku merasa aku bukan lagi daripada umatnya."


Sayyid Abul Abbas wafat pada tahun 686 H. Makamnya di Iskandariah dikunjungi oleh ramai orang setiap hari.



WALI TERSEMBUNYI

IMAM ABDULLAH BIN MUBARAK mengkisahkan, “Kala itu aku berada di Makkah, dan para penduduknya tertimpa kekeringan. Mereka pun keluar menuju Masjid Al Haram untuk melakukan shalat istisqa, namun meski demikian, hujan pun belum kunjung turun.”


Ibnu Mubarak melanjutkan, ”Saat itu, di sampingku duduk seorang berkulit hitam yang berdoa,’Ya Allah, sesungguhnya mereka telah berdo’a kepada-Mu, namun kenapa Engkau menutupi? Dan sesungguhnya aku bersumpah atas-Mu agar Engkau menurunkan hujan untuk kami.’ Tak lama kemudian hujan pun turun.”

 

Laki-laki hitam itu pun pergi dan Ibnu Mubarak diam-diam mengikutinya, hingga laki-laki itu masuk ke sebuah rumah diantara rumah-rumah para penjahit. Keesokan harinya Ibnu Mubarak mendatangi kembali rumah itu mencari laki-laki berkulit hitam yang telah ia lihat.

Ditemuilah seorang laki-laki yang berdiri di depan pintu rumah yang dimasuki oleh laki-laki hitam tersebut, ”Aku ingin bertemu dengan pemilik rumah ini”. Orang itu pun menjawab,”Aku sendiri”. Ibnu Mubarak pun menyampaikan,”Aku ingin membeli budakmu.”


Akhirnya, laki-laki itu mengeluarkan 14 budaknya, namun tidak terlihat seorang pun dari mereka laki-laki berkulit hitam yang dicari oleh Ibnu Mubarak.

 

Ibnu Mubarak bertanya,”Masih ada yang tersisa?” Laki-laki itu pun menjawab,”Masih ada, budak yang sakit.”

Lantas laki-laki mengeluarkan seorang budak yang ternyata merupakan laki-laki hitam yang dicari oleh Ibnu Mubarak.

 

Ibnu Mubarak pun menyatakan,”Juallah ia padaku.” Si pemilik menyetujuinya dan Ibnu Mubarak menyerahkan 14 dinar kepada pemilik budak.

 

Setelah budak itu menempuh perjalanan dengan Ibnu Mubarak, ia pun bertanya,”Wahai tuan, mengapa anda memperlakukan saya seperti ini, sedangkan saya sakit?”

Maka Ibnu Mubarak pun menjawab,”Karena aku menyaksikan apa yang terjadi kemarin petang.”

 

Setelah mendengar apa kata Ibnu Mubarak, budak itu pun menyandarkan diri di tembok seraya berdoa,”Ya Allah, Engkau telah membuka hakikat diriku, maka ambillah aku untuk menghadap-Mu”.

Setelah itu, Ibnu Mubarak pun menyaksikan laki-laki hitam itu menghembuskan nafasnya dan beliau menilai bahwa penduduk Makkah menderita kerugian dengan kematiannya (Shifat Ash Shafwah, 2/295,296).

 

Hikmah yang boleh diambil dari kisah ini salah satunya adalah, hendaklah kita jangan sampai meremehkan seorang pun dikarenakan pandangan manusia terhadapnya.

 

Boleh jadi di mata menusia seseorang dianggap rendah namun sejatinya ia memiliki derajat di pandangan Allah.*

 

KISAH LELAKI MENDAPAT HIDAYAH

Syeikh Abdul Wahid bin Zaid adalah seorang wali Allah yang suka mengembara dan berdakwah ke satu tempat khususnya tempat yang belum pernah dia sampai. Pada suatu hari dia mengembara ke suatu tempat dengan menaiki sebuah perahu layar. Apabila sampai di tengah lautan tiba-tiba datang ribut taufan sehingga menghanyutkan perahunya dan dia terdampar ke sebuah pulau.


Di pulau itu Syeikh Abdul Wahid berjumpa dengan seorang lelaki yang asyik menyembah berhala. Setelah menunggu agak lama beliau akhirnya berkesempatan berkenalan dengan lelaki tersebut dan berbual serta bertukar-tukar fikiran.

Setelah memperkenalkan dirinya Syeikh Abdul Wahid bertanya kepada lelaki itu : "Wahai lelaki ! Apakah yang engkau sembah tu ? "Tegur Syeikh Abdul Wahid.


"Aku menyembah Tuhanku ini", jawab lelaki itu sambil tangannya menunjukkan sebuah berhala yang berada tidak jauh dari situ.

"Siapa yang buat berhala Tuhanmu ini ?", tanya Syeikh Abdul Wahid.

"Aku sendiri yang membuatnya", lelaki itu menjawab secara spontan.

"Kalau begitu engkau sendirilah yang membuat tuhanmu itu ? Akupun boleh buat benda seperti yang engkau sembah ini, bahkan lebih banyak daripada itu pun aku mampu", perli Syaikh Abdul Wahid.


"Berhala ini engkau sendiri yang membuatnya, engkau pula yang menyembahnya. Wahai lelaki, berhentilah daripada perbuatan yang sia-sia ini,"sambung beliau lagi.


Lelaki itu yang pada mulanya merasa bangga dengan tuhannya, mulai bingung apabila tetamu yang tidak diundang itu seolah-olah menghalang perbuatannya menyembah berhala selama ini.

"Lalu siapa yang engkau sembah?" Lelaki itu minta kepastian daripada Syeikh Abdul Wahid.

"Aku menyembah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Dia yang menghidupkan dan Dia juga yang mematikan. Namanya sangat Agung dan mulia dan Dialah Tuhan yang sebenar-benarnya yang wajib kita sembah", terang Syeikh Abdul Wahid.

"Wahai Tuan Syeikh, siapakah yang mula-mula mengajar kamu mengenal Tuhanmu itu ?" tanya lelaki penyembah berhala itu.

"Tuhanku telah mengutuskan seorang Rasul; pesuruhNya kepada kami, beliaulah yang mengajar kami tentang Dia" terang Syeikh Abdul Wahid.

"Lalu apa yang dibuat oleh Rasul tadi?", tanya lelaki itu ingin tahu.

"Setelah Rasul itu menyampaikan semua wahyu yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Agung itu dengan sempurna dan lengkap maka dia pun wafat", Syeikh Abdul Wahid menerangkan kepada lelaki tadi.

"Adakah tanda-tanda atau peninggalan Rasul itu padamu sekarang?"Penyembah berhala itu bertanya kepada Syeikh Abdul Wahid.

Syeikh Abdul Wahid berkata; "Ya ada. Tuhan Yang Maha Agung itu telah menurunkan kitab suci al-Qur'an kepadanya untuk dijadikan pedoman dan panduan hidup umat manusia di dunia dan di akhirat."

"Cuba engkau tunjukkan kitab itu kepadaku, biasanya kitab seorang raja itu sangat indah dan menarik", lelaki itu berkata seorang diri apabila meminta kitab al-Qur'an daripada Syeikh Abdul Wahid.

Syeikh Abdul Wahid yang sentiasa membawa kitab suci al-Qur'an ke mana-mana segera memberikannya. Lelaki penyembah berhala itu membelek-belek Mushaf tersebut sambil memerhatikan tulisan dan hurufnya satu persatu walaupun dia tidak dapat membacanya kerana beliau tidak mengenali huruf-huruf Arab.

"Wahai Sheikh, aku tidak tahu apa isi kandungan di dalamnya, bolehkah engkau membacakan untukku?" Pinta lelaki itu.

Kemudian Syeikh Abdul Wahid membacakan sebahagian daripada surah di dalam kitab al-Qur'an tersebut. Sedang lelaki penyembah berhala itu mendengar dengan khusyu', tiba-tiba dia menangis tersedu-sedu sehinggalah Syeikh Abdul Wahid sempat menghabiskan bacaan surah tersebut. Tangisannya tidak dapat ditahan-tahan lagi.

"Wahai Tuan Syeikh, aku mohon maaf, Kalam itu betul-betul menyentuh hati sanubariku. Maka tidak patut kita berpaling daripadaNya",katanya sebaik saja Syeikh Abdul Wahid selesai membaca al-Qur'an tersebut.

Ekoran daripada peristiwa itu, terbukalah pintu hati penyembah berhala tersebut, dengan turunnya hidayah Allah kepadanya. Demi kebesaran Tuhan Yang Maha Agung diapun secara sukarela memeluk Islam dengan mengucapkan dua kalimah syahadah di hadapan Syeikh Abdul Wahid.

Sejak lelaki itu memeluk Islam Syeikh Abdul Wahid mengajar syariat Islam seperti tauhid, ibadah, akhlak, membaca al-Qur'an dan sebagainya. Ajaran-ajaran itu diikuti dan dikerjakannya dengan tekun dan sabar sehinggalah dia menjadi seorang penganut Islam yang sangat taat akan ajarannya dan seorang yang salih.

Apabila mengerjakan ibadat sembahyang , dia biasanya berjemaah bersama-sama Syeikh Abdul Wahid.

 

Pada suatu malam sesudah mengerjakan sembahyang Isya', dia bersama-sama Syeikh Abdul Wahid bersiap-siap untuk tidur, tiba-tiba dia berkata:" Wahai tuan Syeikh, apakah Tuhan yang tuan perkenalkan kepadaku itu tidur juga di waktu malam?"

"Wahai hamba Allah! Ketahuilah bahawa Tuhan Allah itu Maha Agung, Dia Yang Maha Hidup, Dia tidak pernah mengantuk dan tidak sekali-kali tidur." Terang Syeikh Abdul Wahid.


"Wahai hamba Allah ! alangkah buruknya menjadi hamba seperti kita yang sentiasa mengantuk dan tidur sedangkan Tuhan kita tidak pernah mengantuk dan tidur, "jelas lelaki itu.

Syeikh Abdul Wahid sangat kagum terhadap kata-kata lelaki itu. Baru saja masuk Islam, ruh keislamannya sudah begitu meresap di lubuk hatinya sehingga dapat mengeluarkan kata-kata seperti seorang ahli sufi.

Setelah beberapa lama tinggal di pulau itu, tibalah masanya Syeikh Abdul Wahid ingin kembali ke negeri asalnya. Apabila beliau menyampaikan hasratnya kepada lelaki itu, ternyata lelaki itu merasa sedih di atas kepulangan Syeikh Abdul Wahid dan minta dia dibawa bersama.

Setelah melihat kesungguhan lelaki itu mahu mengikutinya, mahu tidak mahu terpaksa juga dibawanya saudara baru itu pulang bersama-sama dengannya. Tatakala sampai ke negerinya, lalu Syeikh Abdul Wahid memperkenalkannya kepada saudara-saudara Islam yang lain.

"Wahai teman-teman sekalian ! Ini adalah saudara baru kita yang baru saja memeluk agama Islam", kata Syeikh Abdul Wahid.

Kaum muslimin yang lain mengalu-alukan dan mengucapkan selamat kepada saudara baru tersebut dan di atas kesedaran ukhuwah Islamiah, mereka mengutip derma untuk diberikan kepada lelaki tersebut.

"Eh..apa ini?" Tanya lelaki itu kepada Syeikh Abdul Wahid ketika kutipan derma tersebut diserahkan kepadanya.

"Ini ada sedikit derma untuk perbelanjaan engkau", jawab salah seorang daripada hadirin.

............., kamu semua telah menunjukkan aku ke jalan yang benar dan jalan yang diredhai oleh Allah, yang mana sebelum ini aku tinggal di sebuah pulau, Dia Tuhan yang tidak pernah mengabaikan aku, sekalipun ketika itu aku menyembah selain daripadaNya (berhala). Sekarang ini setelah kamu semua tunjukkan aku ke jalanNya dan aku mengenalNya, apakah dia akan mengabaikan aku begitu saja?" tanya lelaki itu dengan penuh perasaan.

Semua hadirin termasuk Syeikh Abdul Wahid tertunduk kagum akan kekuatan iman lelaki ini, kerana dia sekali-kali tidak sudi menerima kutipan derma tersebut kerana anggapannya selama ini Allah sentiasa memeliharanya walaupun ketika itu dia menyembah berhala. Inikan pula dia sudah menjadi seorang Islam yang kuat berpegang dengan ajaran-ajarannya, apakah Allah akan mensia-siakannya. Dengan kata lain dia sekali-kali tidak mengharapkan bantuan lain selain daripada Allah.

Tiga hari selepas peristiwa itu ada orang datang menyampaikan berita bahawa lelaki itu sedang sakit. Mendengar berita itu Syeikh Abdul Wahid dan kaum muslimin yang lain pun datang menziarahinya.

"Wahai hamba Allah, apakah engkau ada sesuatu hajat yang perlu disampaikan kepadaku? "Tanya Syeikh Abdul Wahid.

"Semua hajatku telah tertunai dengan kedatanganmu ke pulau itu", suara lelaki itu tersekat-sekat menahan sebak.

Tiba-tiba Syeikh Abdul Wahid merasa mengantuk dan tertidur di sisinya. Dalam tidurnya itu dia bermimpi melihat sebuah taman yang sangat indah dengan tanam-tanaman yang sentiasa menghijau. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah kubah yang di dalamnya disediakan sebuah katil yang siap ditunggu oleh bidadari-bidadari yang tidak ada tolok banding cantik dan indahnya.

Tiba-tiba bidadari itu bersuara : Dengan nama Allah ! Alangkah baiknya kalau dia segera datang kepadaku. Aku sungguh rindu kepadanya.

Syeikh Abdul Wahid terjaga daripada tidurnya dan didapati lelaki itu baru saja meninggal dunia di sisinya. Dengan perasaan yang sangat sedih beliau segera memanggil kaum mislimin bagi pengurusan jenazahnya.

Di sebelah malamnya Syeikh Abdul Wahid bermimpi lagi, dia melihat taman yang sama sebagaimana mimpinya yang pertama. Dalam taman tersebut juga terdapat kubah yang sangat indah yang di dalamnya terdapat sebuah katil yang ditunggu oleh para-bidadari. Tapi bertambah terkejutnya Syeikh Abdul Wahid kerana kali ini bidadari-bidadari tersebut sedang mendampingi lelaki yang baru meninggal petang tadi. Masya Allah...

Sambil bermesra dengan bidadari-bidadari itu lelaki tadi membaca firman Allah Subhanahu Wata'ala dalam surah Ar-Ra`d, ayat 23-24 :

"Sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan) : Salamun `Alaikum Bima Shabartum (Keselamatan atas berkat kesabaranmu)." Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu."


Begitulah jika Allah menghendaki sesuatu kebaikan terhadap hambaNya, ternyata dalam sekelip mata saja seorang saudara baru, yang sebelumnya, penyembah berhala boleh menjadi kekasihNya buat selama-lamanya.