Catatan Popular

Khamis, 10 Ogos 2017

BUKTI MUKJIZAT DARI AL QURAN DAN HADIS Mukjizat Ke-2 : Manusia Bersumber dari Tulang Sulbi

Para dokter ilmu kandungan menemukan, bahwa dasar diciptakannya manusia bersumber dari tulang sulbi, yaitu tulang belakang laki-laki dan tulang dada perempuan, yaitu tulang rusuk perempuan. Penemuan ini selaras dengan yang diberitakan Allah dalam Al-Qur'an dalam surat Ath-Thariq. Dia berfirman;

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan” ( Ath-Thariq: 5-7)

BUKTI MUKJIZAT DARI AL QURAN DAN HADIS Mukjizat 1 : Penciptaan Manusia dari air mani

Allah swt telah menceritakan proses penciptaan manusia di dalam Al-Qur'an secara rinci. Allah berfirman dalam surat Al-Mukminun;

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (Al-Mukminun : 12-14)

Dokter kandungan paling hebat di dunia membuktikan bahwa semua yang disebutkan di dalam Al-Qur'an dan hadits-hadits Rasululullah saw tentang proses penciptaan manusia adalah sesuai dengan yang ditemukan pada ilmu modern.

Inilah cendikiawan paling besar dalam ilmu kandungan, doktor Kanada, Keith Moore. Dia memiliki sebuah buku yang diterjemahkan ke dalam delapan bahasa; dipelajari di kebanyakan universitas-universitas dunia. Dia menyampaikan pidato dengan tema, “Keselarasan Ilmu Kandungan dengan sesuatu yang Terdapat dalam Al-Qur'an dan As-Sunah” di Universitas al-Malik Faishal.

Dia berkata, “Sesungguhnya ilmu pengetahuan ini, yang terdapat dalam Al-Qur'an datang kepada Muhammad dari sisi Allah, sebagaimana juga memberikan bukti kepadaku bahwa Muhammad adalah pasti seorang rasul yang diutus dari sisi Allah.”

Dia juga berkata dalam pidatonya, “Manusia ketika pertama kali diciptakan dalam perut ibunya berbentuk segumpal darah, kemudian setelah itu ciptaannya meningkat menjadi segumpal daging, kemudian berubah menjadi tulang-belulang, dan kemudian dibungkus dengan daging,. “Semua yang kami dapatkan dalam penelitian-penelitian kami, maka kami mendapatkannya tertera di dalam Al-Qur'an.”

Seorang doktor Amerika, professor dalam bidang ilmu kandungan berkata pada muktamar yang diselenggarakan oleh Kerajan Arab Saudi di Riyadh, “Nash-nash Al-Qur'an memaparkan rincian yang lengkap bagi proses pertumbuhan manusia, dimulai semenjak tahap setetes mani sampai tahap pertumbuhan menjadi tulang dan tubuh.” Dan katanya, ”Belum ada dalam sejarah manusia, ditemukan paparan tentang proses pertumbuhan manusia yang gamblang seperti ini.”




KEZUHUDAN SEORANG PEMIMPIN NEGARA YANG TAQWA

Umar Ibn Abdul Aziz kisah Kezuhudan Dan Kesahajaan Seorang Pemimipin Negara Yang Taqwa)
Umar ibn Abdul Aziz oleh para ahlul ilmi terhitung dalam jajaran ulama ‘amilin (yang beramal) dan khulafaur rasyidin” (adz-Dzahabi).
Bercerita tentang seorang khalifah yang ahli ibadah, zuhud dan khulafaur rasyidin yang kelima ini adalah sebuah cerita yang lebih harum daripada bau misk (kasturi), lebih indah dari sepetak taman…
Sirah (perjalanan hidup)-nya yang indah dan mulia adalah kebun yang subur, dimanapun anda menempatinya, pasti akan menemukan sebuah tanaman yang segar…bunga yang indah…dan buah yang ranum.
POTRET 1
Adapun potret yang pertama, maka yang telah meriwayatkan kepada kita adalah Salamah ibn Dinar, seorang ‘alim Madinah, qadli dan syaikhnya. Ia menuturkan, “Aku mendatangi khalifah muslimin Umar ibn Abdul Aziz, ia berada di “Khunashirah” daerah bagian “Halab.” Umurku telah lanjut dan sudah lama aku tidak menemuinya. Aku mendapatkannya berada di depan rumah, hanya saja aku tidak mengenalinya karena keadaannya telah berubah tidak seperti yang pernah aku kenal ketika ia menjabat sebagai gubernur Madinah. Ia kemudian mengucapkan selamat datang kepadaku dan berkata, “Mendekatlah kepadaku wahai Abu Hazim.”
Tatkala aku mendekat kepadanya, aku berkata, “Bukankah engkau amirul mukminin Umar ibn Abdul Aziz?”
“Ya…” jawabnya.
Aku berkata, “Apa yang telah terjadi denganmu?!! Bukankah wajahmu (dahulu) berseri, kulitmu segar dan kehidupanmu penuh kenikmatan.”
“Ya…” jawabnya.

Aku berkata, “Lalu apakah yang telah merubah penampilanmu setelah engkau memiliki emas dan perak, dan engkau menjadi seorang amir bagi kaum muslimin?”
“Apa yang telah berubah pada diriku wahai Abu Hazim?!” tanyanya.
Aku menjawab, “Badanmu (menjadi) kurus…kulitmu kasar…wajahmu menguning…dan pancaran kedua matamu sayu.”

Ia lantas menangis dan berkata, “Maka bagaimana bila kamu melihatku di dalam kubur setelah tiga hari?!…Kedua mataku meleleh di atas pipi…perutku terputus-putus dan robek-robek…dan ulat (belatung) bergerak menyantap badanku. Sesungguhnya apabila kamu melihatku pada saat itu –wahai Abu Hazim- niscaya kamu akan lebih terheran lagi dengan keadaanku daripada harimu ini.”
Ia kemudian mengangkat pandangannya kepadaku dan berkata, “Tidakkah kamu ingat sebuah hadits yang pernah kamu katakan kepadaku di Madinah wahai Abu Hazim?”
Aku menjawab, “Aku telah menyampaikan kepadamu banyak hadits wahai amirul mukminin…(hadits) manakah yang engkau maksudkan?.”
“Ia adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah” jawabnya.
“Ya…aku mengingatnya wahai amirul mukminin” kataku.

Ia berkata, “Ulangilah untukku, sesungguhnya aku ingin mendengarnya darimu.”
Aku berkata, “Aku mendengar Abu Hurairah menuturkan, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di depan kalian ada jalan mendaki yang sulit dilalui, penuh dengan bahaya, tidak ada yang mampu melewatinya kecuali setiap orang yang berbadan kurus (karena banyak beribadah dan berjihad).”

Umar kemudian menangis dengan begitu kerasnya hingga aku merasa takut kalau ulu hatinya menjadi pecah.
Ia lalu mengusap air matanya dan menoleh kepadaku seraya berkata, “Apakah kamu akan mencelaku wahai Abu Hazim apabila aku menguruskan badanku untuk jalan mendaki lagi sukar tersebut, dengan harapan aku bisa selamat darinya…sedangkan aku tidak menganggap diriku bisa selamat.”

POTRET 2
Adapun potret kedua dari potret kehidupan Umar, maka ath-Thabari telah meriwayatkannya kepada kita dari ath-Thufail ibn Mirdaas, ia menuturkan, “Sesungguhnya amirul mukminin Umar ibn Abdul Aziz ketika menjabat sebagai khalifah, ia menulis surat kepada Sulaiman ibn Abi as-Sariy wakilnya di “ash-Shughd”, ia berkata padanya, “Dirikanlah penginapan-penginapan di negerimu untuk menerima tamu-tamu muslimin, apabila ada salah seorang dari mereka yang melewatinya maka jamulah ia sehari semalam dan layanilah dengan baik serta jagalah kendaraannya. Apabila ia mengeluh kelelahan maka jamulah selama dua hari dua malam dan bantulah ia. Apabila ia adalah orang yang terputus perjalanannya, tidak memiliki bekal serta kendaraan yang bisa mengangkutnya, maka berilah kepadanya apa yang bisa menutupi hajatnya dan sampaikanlah ia ke negerinya.”
Wali tersebut melaksanakan perintah amirul mukminin, ia mendirikan losmen-losmen yang diperintahkan untuk menyiapkannya. Berita tersebut tersebar di setiap tempat. Mulailah orang-orang di belahan timur dan barat negeri Islam menceritakan tentangnya dan memuji-muji keadilan khalifah dan ketakwaannya.
Tidaklah orang-orang penduduk “Samarkand” (mendengarnya) kecuali mereka segera mengutus delegasi kepada gubernur Samarkand yaitu Sulaiman ibn Abi as-Sariy dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya pendahulumu “Qutaibah ibn Muslim al-Bahiliy” telah menjajah negeri kami tanpa ada peringatan terlebih dahulu, dan di dalam memerangi kami ia tidak menempuh jalan seperti apa yang kalian tempuh wahai sekalian kaum muslimin…sungguh kami telah mengetahui bahwa kalian menyeru musuh kalian untuk masuk Islam…bila mereka menolak, kalian menyeru mereka untuk membayar jizyah…dan bila mereka menolak, kalian mengumumkan perang kepada mereka. Sungguh kami telah melihat keadilah khalifah kalian dan ketakwaannya hal mana ini membuat kami bersemangat untuk mengadukan pasukan kalian kepadamu…dan meminta pertolongan denganmu atas apa yang ditimpakan kepada kami oleh salah seorang panglima dari panglima-panglimamu. Maka, ijinkah kami –wahai amir- untuk mengutus delegasi kepada khalifahmu, dan agar kami bisa mengangkat kedzaliman-kedzaliman yang menimpa kami. Bila kami memiliki hak, maka kami akan diberinya…dan bila tidak, maka kami akan kembali ke tempat semula.”
Sulaiman mengijinkan delegasi mereka untuk mendatangi khalifah di Damaskus, sesampainya di rumah khalifah, mereka mengangkat (mengadukan) perkara mereka kepada khalifah muslimin Umar ibn Abdul Aziz.
Khalifah kemudian menulis surat kepada walinya yaitu Sulaiman ibn Abi as-Sariy yang berisi, “Amma ba’du…apabila suratku telah sampai kepadamu, maka tempatkanlah seorang qadli ke penduduk “Samarkand” untuk menangani pengaduan mereka…Apabila ia memutuskan kemenangan untuk mereka, maka perintahkan pasukanmu untuk meninggalkan kota mereka…serulah kaum muslimin yang tinggal di antara mereka untuk meninggalkan negeri mereka…dan kembalilah kalian sebagaimana semula dan (sebagaimana) mereka dahulu sebelum Qutaibah ibn Muslim al-Bahiliy masuk ke negeri mereka.”
Tatkala delegasi tersebut datang kepada Sulaiman ibn Abi as-Sariy dan menyerahkan surat amirul mukminin kepadanya…ia segera menempatkan seorang qadli qudlat (hakim agung) untuk mereka yaitu Jumai’ ibn Haadlir an-Naaji.
Ia (Jumai’) melihat kepada keluhan mereka dan meneliti berita mereka…ia mendengarkan persaksian sekelompok tentara muslimin dan panglima mereka. Sehingga teranglah baginya kebenaran klaim (dakwaan) penduduk Samarkand. Ia pun memutuskan kemenangan mereka.
Di saat itulah, sang wali memerintahkan pasukan muslimin untuk mengosongkan rumah-rumahnya untuk mereka, dan agar kembali ke perkemahan, dan memerangi mereka kali yang lain. Entah mereka (muslimin) memasuki negeri mereka dengan perdamaian…entah mereka memenangkannya dengan peperangan dan entah kemenangan tidak mereka dapatkan.
Ketika para pembesar kaum mendengar keputusan qadli qudlat muslimin untuk mereka. Mereka berkata satu sama lainnya, “Celaka kalian…sungguh kalian telah berbaur (berinteraksi) dengan mereka, kalian telah tinggal bersama mereka. Kalian telah melihat budi pekerti mereka, keadilan dan kebenaran mereka apa-apa yang kalian telah lihat…Maka, biarkan mereka (muslimin) tetap tinggal di sisi kalian…dan tenanglah dengan bergaul dengan mereka…dan berbahagialah dengan berteman dengan mereka.”

POTRET 3
Adapun potret ketiga dari potret kehidupan Umar ibn Abdul Aziz adalah seperti yang diriwayatkan kepada kami oleh Ibn Abdil Hakam dalam kitabnya yang berharga, yang berjudul “Sirah Umar ibn Abdul Aziz.” Ia menuturkan, “Ketika kematian mendatangi Umar, Maslamah ibn Abdul Malik masuk menemuinya dan berkata, “Sesungguhnya engkau –wahai Amirul Mukminin- telah melarang mulut anak-anakmu dari harta ini. Alangkah baiknya bila kamu berwasiat kepadaku untuk mereka atau kepada orang yang engkau kehendaki dari keluargamu.”
Setelah Maslamah selesai dari perkataannya, Umar berkata, “Dudukkan aku.” Mereka kemudian mendudukkannya, dan ia berkata, “Sesungguhnya aku telah mendengar apa yang kamu katakan, adapun perkataanmu “Sesungguhnya aku telah melarang mulut anak-anakku dari harta ini…Demi Allah sesungguhnya aku tidak melarang mereka dari apa yang menjadi hak mereka, dan aku tidak pernah memberikan kepada mereka sesuatu yang bukan menjadi haknya. Adapun perkataanmu “seandainya kamu berwasiat kepadaku untuk mereka atau kepada orang yang engkau kehendaki dari keluargamu”, maka hanyalah yang menjadi penerima wasiatku dan waliku pada mereka adalah Allah yang telah menurunkan al-Kitab dengan haq, dan Dia-lah yang menjaga orang-orang shalih. Ketahuilah wahai Maslamah, bahwa anak-anakku adalah salah satu dari dua orang; entah orang yang shalih dan bertakwa, maka Allah akan mencukupkannya dengan karunia-Nya dan menjadikan jalan keluar bagi urusannya…dan entah orang yang thalih (jahat dan durhaka) dan gemar melakukan maksiat, maka aku tidak akan menjadi orang pertama yang membantunya dengan harta atas maksiat kepada Allah ta’ala.”
Ia kemudian berkata, “Panggilkan anak-anakku.”
Ia (Maslamah) memanggil mereka yang berjumlah sekitar sembilan belas orang.

Ketika (Umar) melihat mereka berlinanglah air matanya dan ia berkata, “Sungguh…aku akan meninggalkan mereka sebagai pemuda yang fakir tidak memiliki sesuatupun.” Ia menangis hingga tidak terdengar suaranya…kemudian menoleh kepada mereka dan berkata, “Wahai anak-anakku…sesungguhnya aku telah meninggalkan kebaikan yang banyak untuk kalian…sesungguhnya tidaklah kalian melewati seorang pun dari kaum muslimin atau ahli dzimmah kecuali mereka melihat kalian memiliki hak atas mereka. Wahai anak-anakku, sesungguhnya di depan kalian ada dua pilihan, entah kalian menjadi kaya dan ayah kalian masuk neraka…atau kalian menjadi fakir dan ayah kalian masuk surga. Aku tidak menyangka kecuali kalian akan mendahulukan untuk menyelamatkan ayah kalian dari neraka daripada kekayaan.”
Kemudian ia memandang kepada mereka dengan penuh kasih sayang dan berkata, “Bangkitlah, semoga Allah menjaga kalian…bangkitlah semoga Allah memberikan rizki kepada kalian….”
Maslamah menoleh kepadanya dan berkata, “Aku mempunyai yang lebih baik dari itu wahai amirul mukminin.”
“Apa itu?!” katanya.
Ia menjawab, “Aku mempunyai tiga ratus ribu dinar…dan sesungguhnya aku menghibahkannya kepadamu, maka bagilah untuk mereka…atau engkau bersedekah dengannya bila engkau kehendaki.”

Umar berkata kepadanya, “Bukankah ada yang lebih baik dari itu wahai Maslamah?”
“Apa itu wahai Amirul Mukminin?” tanya Maslamah.

Ia menjawab, “Engkau mengembalikannya kepada orang yang telah kamu ambil darinya, karena sesungguhnya kamu tidak punya hak.”
Kedua mata Maslamah berkaca-kaca, ia berkata, “Semoga Allah merahmatimu –wahai amirul mukminin- dalam keadaan hidup dan mati…engkau telah melembutkan hati kami yang keras…engkau telah mengingatkannya di saat ia lupa…dan engkau telah meninggalkan kenangan untuk kami dalam kumpulan orang-orang shalih.”
Orang-orang kemudian mengikuti berita tentang anak-anak Umar sepeninggalnya. Mereka melihat bahwa tidak ada seorangpun dari mereka yang merasa butuh dan fakir…

Maha benar Allah Yang Maha Agung ketika berfirman, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (Surat an-Nisaa: 9). 

Khamis, 3 Ogos 2017

SAYYIDINA AL-IMAM ALI ZAINAL ABIDIN AS-SAJAD,RA

“Wahai nafsu hentikanlah kecondonganmu kepada dunia dan kecenderungan untuk meramaikanya, tidaklah engkau menjadikan sebagai pelajaran terhadap para pendahulumu yang telah ditelan bumi serta para ssahabatmu yang telah membuatmu bersedih karena kepergianya, demikian juga kawan-kawanmu yang telah berpindah ke dalam tanah, mereka sekarang telah berada didalam perut bumi, dibalik permukaanya, kebaikan-kebaikan mereka ikut lebur menyatu didalamnya, sudah berapa banyak manusia-manusia yang telah dibinasakan oleh kekejaman masa dari abad ke abad, serta beberapa banyak manusi-manusia yang telah dirusak oleh bumi dengan bencana-bencananya, lalu merka ditenggelamkan di dalam gumpalan tanhnya, dari berbagai jenis manusia yang pernah engkau ajak bergaul dan kemudian mereka kamu antarkan ke dalam kuburnya.”

“Betapa banyak manusia yang telah ditipu oleh dunia dari mereka yang justru mendiaminya, dan betapa banyak manusia yang telah dibanting oleh dunia dari mereka yang justru menempatinya, lalu dunia itu tidak mau mengangkatnya lagi dari keterpelesetanya, tidak menyelamatkanya dari kebinasaanya, tidak menyembuhkan dari kepedihanya, tidak membebaskanya dari penyakitnya, dan tidak melepaskanya dari penderitaanya.”

“Amal yang paling utama disisi Allah SWT, adalah sesuatu yang dilakukan menurut sunnah Rasulullah SAW.”


“Orang-orang yang menjadi pimpinan para manusia adalh orang-orang yang  bermurah hati dan bertaqwa, sedangkan diakhirat nanti, yang mulia adalah orang-orang ahli agama, ahli keutamaan dan orang ahli ilmu yang bertaqwa, karena sesungguhnya ulama adalah ahli waris para nabi.”

AIR MATA KESABARAN URWAH BIN ZUBAIR

Abu Abdillah atau Urwah bin Zubair bin Al-Awwam adalah di antara sederet tabiin yang memiliki kucuran mata air hikmah untuk generasi umat sesudah beliau. Adik dari Abdullah bin Zubair ini memberikan pelajaran tentang nilai sebuah kesabaran.

Suatu hari cucu Abu Bakar Ash-shiddiq ini mendapat tugas untuk menemui khalifah Al-Walid bin ‘Abdil Malik di ibukota kekhalifahan, yaitu Damaskus di negeri Syam. Bersama dengan rombongan, ‘Urwah akan menempuh perjalanan dari Madinah menuju Damaskus yang saat ini menjadi negara Yordania.
Ketika melewati Wadil Qura, sebuah daerah yang belum jauh dari Madinah, telapak kaki kiri beliau terluka. Tabiin yang lahir pada tahun 23 Hijriyah ini menganggap biasa lukanya. Ternyata, luka tersebut menanah dan terus menjalar ke bagian atas kaki Urwah.
Setibanya di istana Al-Walid, luka di kaki kiri Urwah tersebut sudah mulai membusuk hingga betis. Urwah pun mendapatkan pertolongan dari Khalifah Al-Walid yang memerintahkan sejumlah dokter untuk memberikan perawatan.
Setelah melalui beberapa pemeriksaan, para dokter yang memeriksa salah seorang murid dari Aisyah binti Abu Bakar ini mempunyai satu kesimpulan. Kaki kiri Urwah harus dipotonf, agar luka yang membusuk tidak terus menjalar ke tubuh.

Urwah menerima keputusan tim dokter ini. Dan dimulailah operasi potong. Seorang dokter menyuguhkan Urwah semacam obat bius agar operasi potong tidak terasa sakit. Saat itu, Urwah menolak dengan halus.
Beliau mengatakan, “Aku tidak akan meminum suatu obat yang menghilangkan akalku sehingga aku tidak lagi mengenal Allah, walaupun untuk sesaat.”
Mendengar itu, para dokter pun menjadi ragu untuk melakukan pemotongan. Saat itu juga, Urwah mengatakan, “Silakan kalian potong kakiku. Selama kalian melakukan operasi, aku akan shalat agar sakitnya tidak sempat kurasakan.”
Mulailah tim dokter memotong kaki Urwah dengan gergaji. Selama proses operasi itu, tabiin yang boleh mengkhatamkan Alquran selama dua hari ini tampak khusyuk dan tegar. Tidak sedikit pun suara rintihan keluar dari mulut beliau.

Melihat pengalaman yang tidak mengenakkan dari seorang cucu sahabat terkenal itu, khalifah Al-Walid menghampiri Urwah yang masih terbaring. Ia mencoba untuk menghibur.
Tapi, dengan senyum Urwah mengucapkan sebuah kalimat, “Ya Allah, segala puji hanya untuk-Mu. Sebelum ini, aku memiliki dua kaki dan dua tangan, kemudian Engkau ambil satu. Alhamdulillah, Engkau masih menyisakan yang lain. Dan walaupun Engkau telah memberikan musibah kepadaku namun masa sehatku masih lebih panjang hari-hari sakit ini. Segala puji hanya untuk-Mu atas apa yang telah Engkau ambil, dan atas apa yang telah Engkau berikan kepadaku dari masa sehat.”
Mendengar itu, Khalifah Al-Walid bereaksi, “Belum pernah sekali pun aku melihat seorang tokoh yang kesabarannya seperti dia.”
Beberapa saat setelah itu, tim dokter memperlihatkan potongan kaki yang diamputasi itu kepada Urwah. Melihat potongan kakinya, beliau mengatakan, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui, tidak pernah sekalipun aku melangkahkan kakiku itu ke arah kemaksiatan.”
Ujian yang Allah berikan kepada Urwah tidak sampai di situ. Malam itu juga, bersamaan dengan telah selesainya operasi pemotongan kaki, Urwah mendapat kabar bahwa salah seorang putra beliau yang bernama Muhammad -putra kesayangannya- meninggal dunia. Muhammad meninggal karena sebuah kecelakaan: ditendang oleh kuda sewaktu sedang bermain-main di dalam kandang kuda.

Dalam keheningan malam itu, Urwah berucap pada dirinya sendiri, “Segala puji hanya milik Allah, dahulu aku memiliki tujuh orang anak, kemudian Engkau ambil satu dan masih Kau sisakan enam. Walaupun Engkau telah memberikan musibah kepadaku, hari-hari sehatku masih lebih panjang dari masa pembaringan ini. Dan walaupun Engkau telah mengambil salah seorang anakku, sesungguhnya Engkau masih menyisakan enam yang lain.”
Kedekatan Urwah bin Zubair dengan doa kepada Allah memang sudah menjadi karakter dalam kehidupnya. Suatu kali, ia pernah mendapati seorang yang shalat kemudian berdoa dengan tampak tergesa-gesa .
‘Urwah memberi nasihat kepada orang itu, “Wahai saudaraku, tidakkah engkau memiliki kebutuhan kepada Rabb-mu dalam shalatmu? Adapun aku, aku selalu meminta sesuatu kepada Allah, hingga jika aku menginginkan garam sekalipun.”

Selain doa, Urwah pun begitu dekat dengan Alquran. Sudah menjadi kebiasaan putera Asma bintu Abu Bakar ini membaca seperempat Alquran di siang hari, kemudian membaca seperempatnya lagi di saat shalat malam. Kebiasaan berlama-lama dalam shalat malam ini terus dilakukan hingga operasi amputasi yang ia alami. Karena sejak itu, ia tidak lagi bisa berdiri seperti sebelumnya.
Walaupun ketika ia melakoni di antara kesibukannya di sebuah kebun, Urwah selalu dekat dengan Alquran. Setiap kali masuk kebun, ia selalu membaca surah Al-Kahfi ayat 39.

Allah berfirman,
Dan Mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu ‘Maa syaa Allaah, laa quwwata illaa billaah’ (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap Aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (Al Kahfi: 39)

Seperti itulah di anta hikmah yang diajarkan Urwah bin Zubair. Sabar dan yakin terhadap ayat-ayat-Nya, merupakan kunci sukses seseorang meraih kepemimpinan di dalam agama ini. Sebuah kepemimpinan dalam mengarahkan umat kepada jalan yang lurus sesuai dengan rambu-rambu agama yang telah digariskan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rabu, 2 Ogos 2017

KESABARAN MENAHAN LAPAR YA ABU HURAIRAH RA..MASHA ALLAH



Abu Hurairah ra pernah mengatakan, “Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, aku pernah menempelkan lambungku di atas tanah karena rasa lapar. Aku juga pernah mengikatkan beberapa batu di perutku karena rasa lapar. Pada suatu hari, aku pernah duduk di jalan yang biasa para sahabat lewati. Kemudian lewatlah Abu Bakar ra lalu aku bertanya tentang ayat dari Kitabullah (Al-Quran) dan aku tidaklah menanyakannya selain agar Abu Bakar menjamuku, namun ia tidak melakukannya. Setelah itu, lewatlah Umar bin Khattab ra, kemudian aku bertanya kepadanya tentang ayat dari Kitabullah (Al-Quran) dan aku tidaklah menanyakannya selain agar Umar menjamuku, namun ia tidak melakukannya. Setelah itu lewatlah Abul Qasim (Rasulullah Saw). Ketika melihatku, beliau tersenyum dan mengetahui apa yang tergambar di wajah dan hatiku. Beliau lalu bersabda, “Wahai Abu Hurairah,”. Aku menjawab, “Aku penuhi panggilanmu, wahai Rasulullah Saw.” Beliau bersabda, “Ikutlah,”. Lalu aku mengikuti beliau. Aku lalu meminta izin untuk masuk dan beliau mengizinkanku. Ternyata, aku mendapatkan susu di dalam mangkuk,” (HR Al- Bukhari, Shahih Bukhari, Juz 4, No 6452)

Hadits berisikian penuturan sederhana dari periwayat hadits ini, Abu Hurairah memberikan gambaran tentang perasaan hayaa’ (malu) meminta kepada manusia. Betapapun sang imam sangat merasakan lapar, beliau tidak serta merta meminta untuk dijamu atau diberi makanan. Beliau justeru mengalihkan keadaan dengan mengajukan pertanyaan kepada dua khalifah tentang suatu ayat, dan dua sahabat itupun rupanya belum peka terhadap rasa lapar luar biasa yang dirasakannya.

Allah Swt akhirnya Maha Mengetahui apapun yang dirasakan para hamba-Nya. Melalui Rasulullah Saw—yang juga tahu bahwa Abu Hurairah ra kelaparan, beliau dengan santun memberi semangkuk susu tanpa harus bertanya apakah ia lapar atau tidak. Sebab biasanya, orang lapar tergambar dari raut wajahnya.

Betapapun, melalui hadits ini, Abu Hurairah mengajarkan kita tiga kesabaran yaitu: sabar menahan lapar, sabar untuk tidak meminta kepada manusia dan sabar (sebab Allah tidak tinggal diam) menunggu jamuan-Nya.

Sikap dan sifat Abu Hurairah ra ini tak lepas dari akhlak yang diajarkan Rasulullah ra ajarkan kepada para sahabat. Rasulullah adalah utusan-Nya yang paling malu dalam meminta kepada selain-Nya. Bahkan dalam suatu hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah Saw terbiasa untuk berpuasa jika tidak memiliki makanan yang dapat dimakan hari itu. Bukan karena Rasulullah Saw irit dan miskin, beliau justeru memilih untuk tidak banyak mengisi perut untuk menghindari kekenyangan. Sebab, banyak dampak ketika kita terlalu kenyang.

KISAH KESABARAN NABI AYYUB AS


Ingatlah akan hamba-Ku Ayyub, ketika dia berseru kepada tuhanNya: Sesungguhnya aku telah diganggu syaitan sehingga susah dan terseksa.” (Surah Shad ayat 41)

Bahawa Nabi Ayyub bin ‘Ish bin Ishaq a.s adalah bangsa Roma, sedangkan ibunya adalah anak puteri Nabi Luth a.s. Dan Nabi Ayyub adalah seorang laki-laki yang pandai, bersih, sopan santun serta bijaksana. Sedangkan ayahnya seorang yang kaya raya, memiliki ternak, unta, lembu, domba, kuda, keldai dan himmar, tidak seorang pun di negeri Syam (Syria) yang dapat menyainginya dalam hal kekayaan.

Ketika dia meninggal dunia, maka semua harata kekayaannya itu diwariskan kepada Nabi Ayyub a.s. Nabi Ayyub telah berkahwin dengan Siti Rahmah anak puteri Afrayin putera Nabi Yusuf a.s. Dan Allah telah menguniakan 12 kali kehamilan yang tiap2 kali hamil melahirkan 2 orang anak, seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Kemudian dia diutuskan Allah kepada kaumnya, dan mereka adalah penduduk Hauran dan Tiih. Allah swt menyempurnakanya dengan budi pekerti yang baik, lemah lembut selama orang tidak menyalahi, mendustakan, dan mengingkarinya dalam kemuliaan dirinya dan kedua orang tuanya, ayah dan ibunya.

Maka dia menyampaikan beberapa syariat serta membangun beberapa rumah ibadat untuk mereka. Dan Nabi Ayyub a.s mempunyai meja makan yang khusus disediakan untuk tamunya iaitu orang fakir miskin dan tamu lainnya.

Dan Nabi Ayyub, terhadap anak  yatim itu ibarat seorang ayah yang kasih dan penyayang, terhadap janda seperti sang suami yang memperhatikan kasih sayangnya dan terhadap orang-orang yang lemah seperti halnya saudara yang mencintai dengan kasihnya.

Dan demikian juga dia (Nabi Ayyub) telah memerintahkan kepada para wakilnya serta orang-orang kepercayaannya supaya tidak menghalang halangi tanam tanaman serta buah-buahannya diambil dan dipetik(dari orang-orang yang mahu memetiknya/mengambilnya).

Dan adalah ternakanya setiap tahun beranak kembar atau dua-dua namun demikian dia tidak bergembira dengan hal itu sedikitpun dan dia berkata: “Tuhanku, ini semua adalah pemberian Engkau kepada para hamba-Mu di penjara dunia ini, maka bagaimanakah pemberian Engkau di syurga kepada para ahli karamah yang mendapat kemuliaan dari Engkau, di kampong (Hari yang tiada akhirnya) di mana disediakan hidangan?”

Dengan itu semua, Nabi Ayyub a.s tampak tidaklah lupa sedikitpun hatinya bersyukur atas nikmat yang diperolehinya serta lidahnya tidak lupa berzikir kepada Tuhannya.

Maka Iblis dengki kepadanya, seraya berkata: “Sungguh Ayyub telah berhasil di dunia dan di akhirat dan Iblis ingin merosak salah satu atau kedua-duanya; dunia dan akhirat tersebut.

Lalu Iblis terkutuk, di saat itu naik ke langit yang ke tujuh dan berhenti dimana dia dapat sampai, pada suatu hari dia naik sebagaimana biasa, maka Allah Yang Maha Perkasa berfirman kepadanya: “Hai Iblis terkutuk! Bagaimana engkau melihat hambaKu Ayyub? Apaka engkau dapat mengambil daripadanya manfaat walaupuan sedikit?”

Kata Iblis: “Tuhanku, sesungguhnya Ayyub mahu menyembahMu kerana engkau telah memberinya kelapangan hidup(harta yang berlimpah) dan kesihatan; kerana tidak kerana hal itu tentu dia tidak menyembahMu, maka dia sebenarnya hamba kesihatan.” Firman Allah swt kepada Iblis: “Engkau dusta! Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui, bahawa sesungguhnya dia menyembah Aku serta berterima kasih kepadaKu, walaupun dia tidak mempunyai kelapangan rezeki di dunia.
Kata Iblis: “Tuhanku, berilah aku kekutan untuk menggoda Ayyub; maka perhatikanlah bagaimana saya membuat dia lupa mengingatiMu dan menyibukan dia dari berbuat ibadat kepadaMu.”

Maka Allah pun memberikan kekuasaan kepada Iblis terhadap sesuatunya, kecuali jiwa(hati) dan lidah(ucapanya) Nabi Ayyub.

Maka Iblis kembali dan menuju ke tepi laut lalu berseru dengan seruan yang sangat keras, sehingga semua bangsa Jin baik laki-laki dan wanita berkumpul di sisinya seraya berkata: “Apakah gerangan yang menimpa engkau?” Iblis menjawab: “Sesungguhnya saya mendapat kesempatan yang belum pernah saya perolehi seperti hal ini, semenjak saya telah berhasil mengeluarkan Adam dari syurga. Maka oleh sebab itu, bantulah saya dalam memperdayakan Ayyub.”

Maka mereka cepat-cepat bertebaran dan membakar serta merosakan semua harta kekayaan Nabi Ayyub a.s. Lalu Iblis pergi menemui Nabi Ayyub a.s yang dia sedang berdiri menunaikan solat di dalam rumah ibadahnya.

Kata Iblis: “Apakah engkau tetap menyembah Tuhanmu dalam keadaan yang kritikal ini, sesungguhnya Dia Tuhanmu telah menuangkan api dari langit, yang memusnahkan semua harta kekayaanmu, sehingga semuanya menjadi abu?” Nabi Ayyub tidak menjawabnya, sampai dia selesai merampungkan solatnya, lalu berkata: “Alhamdulillah! Dia yang telah memberikan kurnia lalu mengambilnya pula dari saya.” Lalu dia bangkit kembali memulai solatnya.

Maka Iblis pun pulang dengan tangan hampa, serta merasa terhina dan menyesali terhadap kegagalannya. Dan Nabi Ayyub itu mempunyai 14 orang anak, lapan lelaki dan enam orang wanita, dan mereka makan setiap harinya di rumah-rumah saudaranya, sedangkan waktu itu mereka sedang di rumah saudaranya yang terbesar, namanya Hurmula.

Maka berkumpullah para syaitan dan mengelilingi rumah itu serta melemparkan kepada anak-anak Nabi Ayyub a.s sehingga mereka itu mati semuanya di satu meja makan. Di antara mereka, ada yang sedang memasukan sesuap makanan ke dalam mulutnya dan ada pula yang sedang memegang gelas di tanganya.

Maka Iblis pergi kepada Ayyub, sedangkan dia(Ayyub) dalam keadaan berdiri menunaikan solat. Kata Iblis: “Apakah engkau tetap menyembah Tuhanmu! dan sesungguhnya Dia telah melempar ke rumah di mana anak-anak mu berada, sehingga mereka mati semuanya?”

Nabi Ayyub tidak menjawab sedikitpun, sampai dia selesai mengerjakan solatnya. Lalu Nabi Ayyub berkata: “Hai Iblis terkutuk,
Alhamdulillah! Dia telah member dan mengambilnya pula dari saya. Semua harta dan anak adalah fitnah untuk laki-laki dan wanita, maka Dia (Allah) mengambilnya dari saya, sehingga saya dapat bersabar lagi tenang untuk beribadah kepada Tuhan saya.”

Iblis pun kembali dengan tangan hampa, rugi besar dan terkutuk. Lalu Iblis datang kembali, sedangkan Nabi Ayyub sedang mengerjakan solat. Maka ketika Nabi Ayyub sujud, Iblis meniupkan di hidung dan mulutnya sampai badan Nabi Ayyub a.s berkembang dan berpeluh banyak sekali dan dia merasa badannya menjadi berat.

Berkata isterinya Rahmah: “Ini semua adalah dari sebab dari kesusahanmu terhadap harta yang telah musnah dan anak-anak yang telah mati, sedangkan engkau tetap beribadah di waktu malam dan berpuasa di siang hari tanpa henti-hentinya, walaupun satu saat dan masih juga tidak merasa cukup.” Lalu Nabi Ayyub a.s terkena penyakit kudis seluruh tubuhnya, mulai dari kepala sampai ke kakinya, bahkan mengalir dari badannya darah bercampur nanah serta berulat yang berjatuhan dari kudis di badannya. Sampai-sampai sanak keluarganya dan teman-temannya menjauhkan diri daripadanya.

Nabi Ayyub a.s mempunyai tiga isteri; maka yang dua minta cerai dan diapun menceraikannya dan tinggal satu iaitu Rahmah, yang selalu melayaninya siang malam sehingga datanglah para wanita tetangganya seraya berkata: “Hai Rahmah! Kami semua takut kalau penyakit suamimu Ayyub akan menjalar kepada anak-anak kami. Maka keluarkanlah dia dari lingkungan kita bertetangga ini dan kalau tidak maka kami akan mengeluarkan engkau disini dengan cara paksa!!”

Maka Siti Rahmah pergi dengan membungkus pakaiannya, serta membawanya (Nabi Ayyub a.s) dan berseru dengan suara yang keras: “Duhai,berat nian, kami harus pergi merantau dan berpisah; mereka telah mengusir kami dari negeri kami dan kampong kami.” Dan dia mendukung Nabi Ayyub di punggungnya sedangkan air mata mengalir di pipinya, serta pergi jauh sambil menangis ke bekas rumah yang sudah rosak yang dijadikan tempat pembuangan sampah dan meletakkan Nabi Ayyub di atas sampah. Lalu keluarlah penduduk desa itu dan mereka melihat keadaan Nabi Ayyub, maka mereka berkata: “Bawalah suamimu itu jauh-jauh dari kami, kalau tidak maka akan kami bawakan anjing-anjing kami biar memakannya.”

Siti Rahmah pun membawanya sambil menangis ketempat yang jauh dan meletakkannya di tempat itu, kemudian datang lagi dengan membawa kapak dan tali temali, untuk membuat rumah dari kayu. Kemudian dia datang lagi dengan membawa rajutan tikar dan menghamparkannya di bawah Nabi Ayyub dan diambilkannya pula batu untuk bantalnya dan membawa tempat air yang biasa digunakan oleh para penggembala untuk minum binatang-binatang ternak mereka.

Kemudian Siti Rahmah pergi ke sebuah desa, maka Nabi Ayyub memanggilnya: “Kembalikan engkau, dan saya berpesan kepadamu, seandainya engkau hendak pergi bebas dariku dan akan meninggalkan aku di sini.” Kata Siti Rahmah: “Engkau jangan khuatir, wahai suamiku, sesungguhnya saya tidak akan m eninggalkan engkau selama hayat di kandung badan.”
Siti Rahmah lalu pergi ke sebuah desa dan bekerja setiap hari memotong roti dan dia dapat memberi makan suaminya Ayyub. Lalu hal itu diketahui oleh penduduk desa itu, bahawa dia adalah isteri Ayyub. Maka mereka tidak mahu lagi memberinya pekerjaan, malahan mereka berkata: “Pergilah engkau jauh-jauh kerana kami merasa jijik kepadamu.”

Maka Siti Rahmah menangis dan berdoa: “ Ya Tuhanku, Engkau talah melihat keadaanku, sesungguhnya terasa sempit dunia ini bagiku, sedang orang-orang telah merendahkan kami di dunia ini, maka janganlah Engkau kiranya merendahkan kami di akhirat kelak, ya tuhanku. Mereka telah mengusir kami dari Rumah Engkau kelak di hari kiamat.”

Siti Rahmah pun pergi kepada seorang penjual roti sambil berkata: “Sesungguhnya pujaanku Ayyub telah lapar, maka sudilah kiranya engkau memberikan hutang kepada saya berupa roti?” kata wanita itu: “Pergilah engkau jauh-jauh dari saya, supaya suamiku tidak melihatmu, tetapi berilah ikatan sanggulmu.” Siti Rahmah mempunyai dua belas kepang rambut yang panjangnya sampai ke tanah. Panjang rambutnya yang ikal itu indah sekali, sama dengan yang didapatkan oleh Nabi Yusuf a.s.

Nabi Ayyub sangat senang sekali dengan sanggul ikal tersebut. Maka datanglah wanita penjual roti dengan membawa gunting dan memotong kepang rambut serta memberikan 4 potong roti kepada Siti Rahmah. Kata Siti Rahmah: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya perbuatanku ini hanya lah kerana ketaatanku kepada suami dan untuk memberi makan kepada Nabi Mu, maka telah ku jual rambutku.”
Maka ketika Nabi Ayyub melihat roti yang masih segar serta utuh, dia sangat memperhatikannya dan menyangka bahawa isterinya telah menjual dirinya maka dia bersumpah, seandainya Allah telah menyembuhkannya, dia akan memukul isterinya 100 jilid.

100 jilid itu seperti yang kemudian difirmankan Allah swt sebagai tebusan dari sumpahnya:
“Dan ambillah dengan tanganmu seikat rumput, lalu pukulkanlah kepadanya(isterimu) dan kamu tidak terkena sumpah.”

Ketika hukuman itu telah dilaksanakan, maka Nabi Ayyub menangis seraya berkata: “Wahai tuhanku! Telah hilang daya upaya ku, sehingga sampai sebuah persoalan, isteri Nabi Mu telah menjual rambutnya, semata-mata untuk memberi nafkah untuk diriku.”

Kata Siti Rahmah: “Wahai suamiku, janganlah engkau bersusah hati pada hari ini, sesungguhnya rambut ku itu akan tumbuh kembali dengan lebih baik(indah) daripada yang sudah.” Lalu Siti Rahmah memotong roti dan memberikan makan kepadanya serta duduk disampingnya.

Adalah Nabi Ayyub, tiap-tiap ada ulat yang terjatuh dari badannya, maka diambilnya dan diletakkannya kembali dibadanya dan dia berkata: “Makanlah olehmu setiap apa-apa yang telah direzekikan kepadamu oleh Allah swt.” Maka tidak tertinggal dagingnya dan hanyalah tinggal tulang-belulang yang dilapisi kulit dengan jaringan saraf saja yang Nampak.
Apabila matahari menyinarinya, maka sinar itu seakan-akan tembus dari bahagian badannya yang tetap utuh adalah hati dan lidahnya. Hatinya tidak pernah kosong dari rasa syukur kepada Allah dan lidahnya tidak pernah diam dari zikir kepada Allah.Ada diriwayatkan bahawa Nabi Ayyub mengalami sakit seperti itu selama 18 tahun.

Pada suatu hari Siti Rahmah berkata kepada Nabi Ayyub: “Engkau adalah seorang Nabi yang mulia terhadap Tuhanmu, seandainya engkau berdoa kepada Allah swt supaya Dia (Allah) menyembuhkanmu?” Kata Nabi Ayyub a.s kepada Siti Rahmah: “Lapan puluh tahun.” Kata Nabi Ayyub: “Sesungguhnya saya merasa malu kepada Allah swt, untuk meminta kepadaNya sebab waktu cubaanNya belumlah memadai dibandingkan masa senangku.”

Dan ketika pada badan Nabi Ayyub sudah tidak ada lagi daging yang akan dimakan, maka ulat-ulat itu saling memakan di antara mereka, hingga akhirnya tinggal 2 ekor ulat yang selalu berkeliaran di badan Nabi Ayyub dalam usaha mencari makan daging, tidak mereka dapatkan kecuali hati dan lidahnya. Maka yang satu pergi ke hati dan memakan hatinya dan satu lagi pergi ke lidah dan menggigitnya.

Disaat itulah Nabi Ayyub a.s berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya aku telah ditimpa bahaya yang dahsyat, sedangkan Engkau Zat Yang Maha Pengasih.”Hal ini tidaklah termasuk dalam kategori keluh kesah dan tidak pula bererti keluar dari golongan orang yang sabar. Oleh kerana itu Allah swt berfirman: “Sesungguhnya dia Kami dapatkan sebagai orang yang sabar.”

Kerana sesungguhnya, Nabi Ayyub itu tidak bersusah hati terhadap hartanya dan anak-anaknya, yang telah hilang musnah, bahkan dia merasa susah kerana cemas terputus “dari syukur dan zikir” kepada Allah swt. Maka seakan akan dia berkata: “Tuhanku, aku bersabar atas segala cubaanMu selama hatiku masih sibuk untuk bersyukur kepada Mu dan lidahku dapat berzikir kepada Mu, dan apabila keduanya itu telah rosak (hilang) daripadaku, bererti terputuslah cintaku dan zikirku pada Mu. Maka aku tidak menjadi bersabar terhadap terputusnya keduanya itu, sedangkan engkau Zat Yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

Kemudian Allah swt memberikan wahyu kepadanya: “Ya Ayyub, lidah, hati dan ulat adalah milik Ku, sedangkan rasa sakitpun milik Ku, apakah ertinya susah?”

Diterangkan pula: “Bahawa Allah swt memberikan wahyu kepadanya: “Sesungguhnya ada 70 orang Nabi yang meminta, seperti halmu ini kepada Ku, dan Aku hanya memilih engkau sebagai tambahan kemuliaanmu dan ini hanya bentuk lahirnya saja bencana, akan tetapi hakikatnya cinta-kasih.” Dan sesungguhnya Nabi Ayyub merasa susah kalau hati dan lidahnya dimakan ulat, kerana dia selalu sibuk bertafakkur dan berzikir kepada Allah swt, kalau keduanya dimakan, maka dia tidak dapat lagi bertafakkur dan berzikir kepadaNya.

Lalu Allah swt menjatuhkan kedua ulat itu dari diri Nabi Ayyub, maka yang satu jatuh di air, kelak menjadi lintah yang dapat menyebabkan orang sakit kekurangan darah dan yang satu lagi jatuh di darat yang kelak menjadi lebah yang mengeluarkan madu yang mengandungi ubat untuk manusia.

Kemudian datanglah Malaikat Jibril a.s dengan membawa 2 buah delima dari syurga. Kata Nabi Ayyub a.s : “Ya Jibril, apakah Tuhanku masih ingat kepadaKu?” Kata Jibril: “Ya, dan Dia mengirimkan salam kepadamu, serta menyuruh mu memakan kedua buah delima ini, maka akan sembuh normal daging dan tubuhmu.”

Ketika Nabi Ayyub memakan kedua delima itu, Jibril a.s berkata: “Berdirilah dengan izin Allah!” Maka Nabi Ayyub pun berdiri. Jibril berkata lagi: “Berjalanlah dengan kedua kakimu.” Maka Nabi Ayyub memukulkan kakinya yang kanan ke tanah sehinggalah keluar air hangat dan dia lalu mandi dengan air itu, kemudian dari kakinya yang kiri terpancarlah air dingin, sehingga dia minum dari air tersebut.

Kemudian, hilanglah segala penyakitnya, baik yang dibahagian luar mahupun di bahagian dalam. Dan tunuhnya menjadi lebih gagah tegap dari semula, wajahnya lebih bersinar daripada bulan purnama. Sebagaimana firman Allah swt:
“ Maka Kami terima dan kabulkan doanya, dan Kami hilangkan semua penyakit yang membahayakan dan Kami kembalikan semua keluarganya dan seperti mereka dahulu bersama-sama dengannya.”

Kata Imam Muqattil: Allah telah menghidupkan mereka dan member rezeki kepada Nabi Ayyub semula.
Kata Adh Dhahhak: Allah swt member wahyu kepadanya: “Apakah kamu ingin supaya mereka (anak-anakmu) Kami bangkitkan?” Kata Nabi Ayyub: “Ya Tuhanku, biarkanlah mereka itu disyurga”, maka dengan ini, maka datanglah keluarganya di akhirat, dan Allah swt memberikan kepadanya, hal-hal seperti yang diberikan kepada mereka di dunia, dengan telah lahirnya beberapa orang anak, yang demikian itu sebagai “Rahmat” atau “Nikmat” dari Kami”, untuk Nabi Ayyub dan “sebagai peringatan”, atau nasihat bagi orang-orang yang beribadah”, supaya mereka mengetahui bahawa bala bencana atau cubaan yang paling hebat itu kepada para Nabi, lalu kepada para Wali, kemudian kepada yang sepertinya dan demikian seterusnya. Maka hendaklah mereka berbuat seperti mereka telah perbuat dan bersabar seperti mana mereka yang telah bersabar.

Dari sini dapatlah diketahui bahawa jalan kepada Allah untuk perbuatan yang baik itu lebih dekat daripada pemberian yang baik.

Maka tamatlah sudah kisah Kesabaran Nabi Allah Ayyub a.s.

Selasa, 1 Ogos 2017

KITAB NASHAIHUL IBAAD : LIMA MACAM KEGELAPAN DAN PENERANGNYA



Karya Muhammad Nawawi bin 'Umar Al-Jawi  (IMAM NAWAWI NUSANTARA)

Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata:
"Kegelapan itu ada lima dan lampu penerangnya pun ada lima, yaitu:
  1. Cinta dunia adalah suatu kegelapan, sedangkan lampu penerangnya adalah ketaqwaan.
  2. Berbuat dosa adalah suatu kegelapan, sedangkan lampu penerangnya adalah bertobat.
  3. Kubur adalah kegelapan, sedangkan lampu penerangnya adalah bacaan: 'Laa ilaaha illallooh Muhammadur Rosuulullooh.'
  4. Alam akhirat itu penuh kegelapan, sedangkan penerangnya adalah amal shalih.
  5. Shirath (jembatan penyeberangan di atas neraka) sangat gelap, sedangkan penerangnya adalah yaqin."
Berkaitan dengan poin 1, Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Cinta dunia adalah biang segala kesalahan." (HR. Baihaqi, dari Hasan Al-Bashri)

Imam Al-Ghazali mengomentari Hadits di atas sebagai berikut: "Sebagaimana dikatakan bahwa mencintai dunia itu adalah biang segala kesalahan, maka membenci dunia adalah biang segala kebaikan."

Nabi s.a.w. juga bersabda:
"Sungguh, tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena ketaqwaan kepada Allah s.w.t, melainkan Allah akan memberi ganti dengan yang lebih baik kepadamu." (HR. Ahmad dan Nasa'i)


Berkaitan dengan poin 2, Nabi s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya bila seorang hamba melakukan dosa satu kali, maka di dalam hatinya timbul satu titik noda hitam. Apabila ia berhenti dari perbuatan dosanya dan memohon ampun serta bertobat, maka bersihlah hatinya. Jika ia kembali berbuat dosa, maka bertambah hitamlah titik nodanya itu sampai memenuhi hatinya. Inilah arroon (penutup hati) sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah dalam (QS. Al-Muthaffifiin (83): 14): 'Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya dosa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.'" (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa'i, Ibnu Hibban, dan hakim)


Berkaitan dengan poin 3, Nabi s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya Allah ta'ala mengharamkan masuk neraka bagi orang yang membaca laa ilaaha illallooh dengan niat semata-mata karena Allah ta'ala." (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah s.a.w. juga bersabda:
"Barangsiapa membaca dengan ikhlas kalimat laa ilaaha illallooh, maka ia akan masuk surga." Para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, apa wujud keikhlasannya?" Beliau menjawab: "Kalimat laa ilaaha illallooh tersebut dapat mencegah kalian dari segala sesuatu yang diharamkan Allah kepada kalian." (HR. Al-Khatib)

Dikatakan bahwa ada tujuh hal yang dapat menerangi alam kubur, yaitu:
  1. ikhlas dalam beribadah;
  2. berbakti kepada kedua orang tua;
  3. senang bersilaturrahmi;
  4. tidak menyia-nyiakan umur untuk melakukan kemaksiatan;
  5. tidak menuruti kehendak hawa nafsu;
  6. bersungguh-sungguh dalam taat kepada Allah; dan
  7. memperbanyak dzikir kepada Allah.

Berkaitan dengan poin 4, amal shalih, Nabi s.a.w. pernah bersabda:
"Sesungguhnya Allah suka jika rukhshah-Nya dilaksanakan sebagaimana Allah suka jika 'azimah-Nya dilaksanakan. Sesungguhnya Allah telah mengutus aku dengan membawa agama yang mudah, yaitu agama Nabi Ibrahim a.s." (HR. Ibnu Asakir)

('Azimah adalah aturan pokok dari Allah yang harus dikerjakan, seperti shalat Zhuhur harus dikerjakan sebanyak 4 raka'at. Rukhshah adalah bentuk keringanan dari Allah yang boleh dikerjakan, seperti menqashar shalat Zhuhur menjadi 2 raka'at bagi musafir -edt.)

Rasulullah s.a.w. juga bersabda:
"Kerjakanlah 'azimah dan terimalah rukhshah. Biarkan orang lain (mau mengerjakan 'azimah dan menerima rukhshah atau tidak); dengan begitu kalian akan dihindarkan dari keburukan mereka." (HR. Al-Khatib)

Rasulullah s.a.w. juga bersabda:
"Barangsiapa tidak menerima rukhshah dari Allah, maka baginya dosa sebesar gunung 'Arafah." (HR. Ahmad)


Berkaitan dengan poin 5, penerang shirath adalah yaqin. Yaqin adalah membenarkan dengan sepenuh hati segala hal ghaib dengan menghilangkan segala bentuk keraguan.