Catatan Popular

Sabtu, 14 Oktober 2017

RISALAH AL QUSYAIRI BAB 49 : SIMA’ (MENDENGAR)



Allah swt. berfirman :

“Sebab itu sampaikanlah berita-berita gembira itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya.” (Qs. Az-Zumar :17-8).

Huruf Alif dan Laam pada kata al-Qaul di atas mengandung pengertian umum dan menyeluruh (ta’mim wal istighraq). Sedangkan dalil di atas menekankan bahwa Alalh swt. memuji kepada mereka karena mengikuti kata-kata paling baik.

Allah swt. berfirman :

“Maka, mereka berada dalam taman surga, senantiasa bergembira.” (Qs. Ar-Ruum:15).

Dalam sebuah tafsir, ditegaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan dalilnya Sima’ (mendengarkan dan menyimak).
Ketahuilah, bahwa mendengar (sima’) syair dengan anda yang indah, apabila pendengar tidak meyakini, syair itu tidak menjurus pada hal-hal yang haram, dan tidak mendengarkan sebagai obyek yang tercela dalam syariat, tidak pula menarik pada emosi hawa nafsu, tidak pula memberi peluang pada nafsunya, maka penyimakan tersebut diperkenankan secara umum.
Tidak ada perbedaan pandangan, adanya beberapa syair yang didendangkan di hadapan Rasulullah saw. Rasul saw. menyimaknya, bahkan tidak mengingkari mereka dalam mendedangkan syair tersebut. Apabila menyimaknya tanpa nada yang indah diperkenankan, hukum pun tidak berubah, yakni didendangkan dengan nada yang indah. Inilah realitas situasionalnya. Lalu, bagi para penyimak terdorong mencintai kepatuhan dan mengingat apa yang telah dijanjikan Allah swt. bagi hamba-Nya yang bertakwa, dalam derajat-derajat yang lebih tinggi. Penyimak tersebut dimungkinkan sekali agar bisa menjaga dari kesalahan-kesalahan, menyampaikan kepada hatinya seketika, sebagai kejernihan intuitif, dicintai oleh Agama, dan dipilih oleh syariat. Sebab pernah ada sabda Rasulullah saw. yang mendekati bait-bait syair, walaupun Rasul saw, tidak bermaksud membaut syair.
Anas bin Malik r.a. berkata : “Ketika orang-orang Anshar menggli parit-parit, mereka mendendangkan syair :
Kamilah orang-orang baiat
Kepada Muhammad
Untuk berjuang sepanjang hayat.
Kemudian Rasulullah saw. menjawab :
Duhai Allah, tiada kehidupan sejati
Melainkan kehidupan akhirat.
Muliakanlah orang-orang Anshar
Dan Muhajirah.”
Wanacan yang keluar dari Rasul saw. tersebut bukanlah wacana syair, tetapi mendekati bahasa syair. Sejumlah ulama salaf dan para tokohnya terbiasa mendengarkan bait-bait syair yang didendangkan dengan lagu.Di antara yang memperbolehkan mendendangkan dengan lagu adalah Imam Malik bin Anas, dan Ulama Hijaz. Mereka semua memperkenankan nyanyian.
Sedangkan nyanyianyang digunakan oleh penggembala untuk gembalanya (hida’) mereka sepakat atas kebolehannya. Banyak haids dan atsar sahabat yang berkaitan dengan nyanyian tersebut. Sebuah riwayat dari Ibnu Jurayj, bahwa dia memperkenankan Sima’. Lalu dikatakan padanya : “Bila kelak hari kiamat engkau dendangkan, kemudian didatangkan kebajikan dan keburukanmu, maka pada dua sisi yag mana posisi sima’ Anda?” Beliau menjawab : “Bukan dalam kebajikan, juga bukan dalam keburukan.” Artinya, Jurayj menggolongkan sebagai perbuatan mubah.
Sementara Imam Asy-Syafi’y r.a. tidak mengharamkan penyimakan lagu-lagu syair. Hanya saja makruh bagi orang awam, walaupun lagunya tidak digubah, atau sepanjang penyimakannya diarahkan untuk permainan yang bsia menolak kesaksian, digunakan untuk hal-hal yang bsia menjatuhkan harga diri, dan tidak dipertautkan untuk hal-hal yang diharamkan, maka tetap makruh. Namun, yang dimaksud dengan Sima’ oleh kalangan Sufi bukannya demikian. Sebab mereka jauh dari penyimakan yang bersifat main-main untuk kesenangan, atau duduk untuk kegiatan penyimakan dengan hati yang alpa, ataupun dalam hatinya mengandung khayalan kehampaan, bahkan tidak melakukan penyimakandalam bentuk yang tidak proposional.
Ibnu Umar meriwayatkan beberapa haids seputar diperbolehkannya Sima’. Riwayat lain dari Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib, dan riwayat dari Umar – semoga Allah swt. meridhai mereka. Lagu-lagu untuk gembala dan yang lain juga diperbolehkan. Beberpa syair didendangkan di hadapan Nabi saw. dan Beliau tidak menolaknya. Bahkan dari riwayat Nabi saw. pernah mendendangkan beberapa syair.
Dalam riwayat masyhur yang jelas, Nabi saw. pernah memasuki tempat Aisyah r.a. dan didalam rumah itu ada dua jariyah yang sedang menyanyi. Nabi pun tidak melatangnya.
Sebuah riwayat dari Aisyah r.a. bahwa Abu Bakr r.a. memasuki rumah Aisyah, sementara di rumah itu ada dua penyanyi wanita yang menyanyikan lagu tentang kalangan Anshar yang bertikai dalam perang Bu’ats. Abu Bakr r.a. berkata : “Seruling-seruling setan! Seruling-seruling setan! Latas Nabi saw. bersabda : “Biarkan saja kedua penyanyi itu wahai Abu Bakr, karena setiap bangsa memiliki perayaan. Dan perayaan kita adalah hari ini.” (H.r. Bukhari).
Juga riwayat dari Aisyah r.a. bahwa suatu ketika kerabat dari sahabt Anshar menikah, kemudian Nabi saw. datang, dan bertanya : “Kau hadirkan gadis-gadis?” Aisyah menjawab : “Benar” Nabi saw. bertanya : “Engkau suruh orang yang menyanyi?” Aisyah menjawab : “”Tidak” Maka Nabi saw. bersabda : “(Betapa indahnya) seandainya engkau suruh orang yang mendendangkan : “Kami telah datang untuk kalian, kami telah datang untuk kalian; maka kehidupan kami adalah menyemarakkan kehidupan kalian.”
Rasulullah saw. bersanda :
“Baguskanlah Al-Qur’’an melalui suara-suara kamu sekalian. Sebab suara yang bagus akan menambah kebagusan Al-Qur’an.” (H.r. Ibnu ‘Azib, dan ditakhrij ad-Daramy).
Semua ini menunjukkan keutamaan suara yang indah. Rasulullah saw. juga bersabda : “Setiap sessuatu memiliki perhiasan, sedangkan perhiasan Al-Qur’an adalah suara yang indah.” (H.r. Anas dan dikeluarkan oleh adh-Dhiya’ Abdurrazaq dalam kumpulan hadisnya).
Sabdanya lagi : “Dua suara yang dilaknati : Suara umpatan “Celaka” ketika sedang mendapati musibah, dan suara seruling yang menghanyutkan.” (H.r. Al-Bazzar dan adh-Dhiya’ dari Anas bin Malik).
Pengertiannya, bahwa nada indah dierbolehkan kecuali dalam dua suara tersebut. Jika tidak demikian, pengecualiannya dibatalkan. Hadis-hadis soal ini cukup banyak. Bila menambah kadar dengan menyebutkan sejumlah riwayat-riwayat yang ada, akan mengesampingkan maksud ikhtisar ini.
Diriwayatkan ada seseorang yang mendendangkan syair di depan Rasulullah saw.
Kuterima kebahagiaan untuknya
Dua bentangan bagai manik hitam
Ia kembali, dan kukatakn apdanya
Sedang hati dalam nyala membara
Salahkah aku, berdosakah
Jika kurindukan dia?
Maka Rasulullah saw. menjawab : “Tidak”.
Inilah, bahwa keindahan suara termasuk nikmat Allah swt. pada pemiliknya. Allah swt. berfirman : “Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya.” (Qs. Faathir : 1). Dalam tafsir dijelaskan bahwa tambahan pada ciptaan-Nya itu adalah suara merdu.
Allah swt. mencela suara yang buruk. Firman-Nya : “Sesungguhnya, seburuk-buruk suara adalah suara himar.” (Qs. Luqman :19).
Hati selalu menikmati dan merindu pada suara yang merdu, rasa tenteram akan muncul karena suara merdu, sesuatu yang tak bisa diinkgari. Si bocah akan tenang bila mendengar nyanyian yang merdu. Begitu pula unta akan berjalan ringan walaupun membawa beban berat. Bila mendengarkan suara-suara yang menghiburnya. Allah swt. berfirman : “Apakah mereka tidak melihat bagaimana unta diciptakan?” (Qs. Al-Ghaasyiyah :17). Dan Rasulullah saw. juga bersabda :
“Allah swt. belum pernah mengizinkan terhadap sesuatu apap pun sebagaimana pemberian izi terhadap seorang Nabi, yang melaggikan bacaan Al-Qur’an.” (H.r. Abu Hurairah, dan dikeluarkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i dan Ahmad dalam Musnad-nya).
Dikisahkan, bahwa nabi Daud as. Ketika sedang membaca kitab Zabur, manusia dan jin, burung dan binatang buas selalu menyimaknya.
Rasulullah saw. bersabda tentang Abu Musa al-Asy’ary : “Dia telah diberi seruling dari seruling Daud.” Dan Mu’adz berkata kepada raslullah saw. : “Bila engkau tahu, engkau mendengar, niscaya aku akan memperindahkannya untukmu dengan perhiasan yang benar-benar indah.”
Abu Bakr Muhammad ad-Dinawary ad-Duqqy mengisahkan : “Aku sedang berada di apdang pasir, kebetulan aku berjumpa dengan kabilah Arab. Salah seorang di antara mereka menjamuku. Kulihat di sana ada seorang budak berkulit hitam sedang diikat, dan aku juga melihat beberapa unta yang mati di halaman rumah. Budak itu berkata padaku : “Anda malam ini sebagai tamu. Dan Anda di mana tuanku sungguh mulia. Karena itu tolonglah aku. Dia pasti tidak bisa menolak.” Maka kukatakan kepada pemilik rumah : “Aku tau menyantap makananmu, kecuali Anda mau melepaskan ikatan pada budak ini.” Maka tuan si budak itu menjawab : “Si budak ini telah memiskinkan dan menghancurkan hartaku.” Aku bertanya : “Apa yang dilakukan?” Dia menjawab : “Budakku ini memiliki suara yang merdu. Sedangkan aku hidup dari tenaga unta-unta ini. Lalu unta ini dibebani dengan beban yang amat berat, dan berjalan kencang hingga menempuh perjalanan yang seharusnya ditempuh tiga hari, hanya ssehari saja ditempuhnya. Ketika beban-beban itu diturunkan unta-unta itu pun mati semua. Tapi terserah apdamu!” Tali yang mengikat budak itu pun di lepas. Esok harinya aku ingin mendengarkan suaranya yang konon merdu itu. Si budak itu diperintah untuk menghalau unta dengan nyanyian merdunya, menuju sebuah sumur di ujung sana yang bisa untuk tempat minumnya. S budak itu pun menghalaunya. Dan unta itu pun menoleh ke arah wajahnya, sembari memberot tali yang mengikatnya hingga putus. Sungguh aku tak menduga, kalau aku telah mendengarkan suara  yang amat merdu, kemudian unta itu menderum ke arahku, sampai akhirnya si budak itu mengisyaratkan agar diam.”
La-Junayd ditanya : “Bagaimana suasana orang yang kondisinya tenang, lalu ketika mendengarkan sima’ tiba-tiba hatinya risau.” Maka, al-Junayd menjawab : “Sesungguhnya Allah swt. ketika berfirman kepada benih dalam perjanjian yang pertama, melalui firman-Nya, -- Bukankah aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab : “Benar (Engkau Tuhan kami) --- sehingga arwah menjadi segar mendengarkan Kalam. Ketika mereka mendengarkannya, ingatan akan sima’ tersebut telah menggerakkan mereka.”
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata : “Sima’ itu haram bagi orang awam, karena nafsunya masih ada. Sementara diperbolehkan bagi orang-orang zuhud, sebab dengan dima’ mereka meraih mujahadahnya. Seperti bagi kalangan kita, sangat dianjurkan, karena bisa membuat hati merasa hidup.”
Al-Harits bin Asad al-Muhashiby berkata : “Tiga perkara, bila kita menjumpai, kita merasa nikmat, dan apda ketiganya kita telah kehilangan : “Wajah yang bagus dengan disertai perlindungan; suara merdu disertai sikap religius; dan persaudaraan yang baik disertai tepat janji.”
Dzun Nuun al-Mishry ketika ditanya tentang suara merdu, beliau menjawab : “Perkataan-perkataan dan isyarat-isyarat yang dititipkan Alalh kepada setiap laki-laki yang baik dan perempuan yang baik.” Ditanya pula tentang sima’, jawabnya : “Bisikan Haq yang membangkitkan kalbu kepada Yang Haq. Siapa yang menyimak penuh perhatian dengan sebenarnya akan nyata benar. Dan siapa yag menyimak dengan nafsu, akan menjadi Zindiq.”
Al-Junayd berkata : “Kasih sayang akan turun kepada orang-orang fakir dalam tiga tempat ketika sedang sima’. Sebab mereka tidak menyimak kecuali dari suara yang benar dan mereka tidak berbicara kecuali dari intuisi. Dan ketika mereka makan-makanan, mereka tidak makan kecuali ketika lapar; ketika mereka sedang meraih ilmu, mereka tidak mengingat-ingat kecuali ingat pada sifat para wali.”
Al Junayd berkata : Sima’ bisa menjadi fitnah bagi yang berambisi. Dan menjadi ringan bagi yang menjumpainya.” Dia juga berkata : “Sima’ butuh tiga hal : Zaman, tempat dan sejumlah teman.”
Dulaf as0Syibly ditanya mengenai Sima’, dia menjawab : “Secara llahiriah adalah fitnah, sedangkan batinnya adalah pelajaran. Siapa yang mengenal isyarat, ia boleh menyimak pelajaran. Jika tidak, berarti ia mengundang fitnah dan menawarkan terhadap bencana.”
Dikatakan : “Sima’ tidak layak, kecuali pada orang yang nafsunya telah mati dan hatinya telah hidup. Nafsunya disemebelih dengan pedang mujahadah, sedang hatinya dihidupkan oleh cahaya keserasian (Dengan Allah swt).”
Abu Ya’qub Ishhaq an-Nahrajury ditanya soal sima’, dia menjawab : “Suatu tingkah aku yang mendorong kembali kepada rahasia jiwa dari sisi peleburan.”
Dikatakan : “Sima’ merupakan nuansa lembut di sisi arwah bagi ahli ma’rifat.”
Saya mendengar syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. lberkata : “Sima’ adalah watak, kecualid ari arah syariat, dan asing kecuali dari yang benar, dan fitnah kecuali dari sisi pelajaran.”
Disebutkan, sima’ ada dua macam : “Sima’ dengan syarat adanya pengetahuan dan kesadaran. Di antara syarat pemiliknya adalah mengenal Asma’ dan Sifa-sifat. Bila tidak, sima’ akan emnceburkan dalam kekufuran murni. Dan berikutnya adalah sima’ dengan syarat adanya tingkah ruhani. Syarat penyimaknya haruslah fana’ dari segala tingkah laku kemanusiaan, dan bersih dari pengaruh-pengaruh duniawi, dengan menampilkan aturan-aturan hukum hakikat.”
Diriwayatkan dari Ahmad bin Abdul Hawary, yang mengatakan : “Aku bertanya kepada Abu Sulaiman tentang sima’, maka beliau menjawab : “Di antara dua yang paling kucintai dibanding satu.”
Abu Husain an Nury ditanya tentang Sufi, maka jawabnya : “Siapa yang mendengar sima’, dan memberi pengaruh kepada sebab-sebab yang ada.”
Abu Utsman Said al-Maghriby berkata : “Siapa yang mengaku telah melakukan penyimakan, sementara dia tidak mendengar suara burung dan gerat-gerit pintu, serta guncangan angin, maka dia itu adalah si fakir yang mengaku-aku.”
Ibnu Zair mempunyai seorang syeikh utama dari salah seorang murid al-Junayd. Ketika aedang menghadiri majelis sima’ maka bila berkenan ia membeberkan sarungngya dan duduk. Lantas berkata : “Sfi beserta hatinya, walaupun tidak menganggap kebaikannya.” Dia juga berkata : “Sima’ hanya bagi yang memiliki nurani hati.” Sambil berkata bagitu dia berjalan dan mengambil sandalnya.
Ruwaym bin Ahmad ditanya mengenai ekstase para Sufi ketika sedang sima’, dia berkata : “Mereka menyaksikan makna-makna yang lenyap dari yang lain, lalu Anda mengisyaratkan kepada mereka yang tertuju padaku. Lantas mereka mencegah agar tidak terlalu gembira. Kemudian datanglah tangis, sehingga kegembiraan itu berubah tangisan. Di antara mereka ada yang merobek bajunya, ada pula yang berteriak, ada yang menangis; masing-masing menurut kadar keterikatan hatinya (dengan Tuhannya).”
Al-Hushry berkata : “Apa yang harus kulakukan dengan simma’ yang terputus, apabila orang yang sedang menyimak memutuskannya?” Karrena itu selayaknya dalam penyimakan Anda selalu bersambung, tidak terputus.” Dia juga berkata : “Syogyanya ia merasa dahaga selamanya, minum (ruhani) selamanya. Bila minumnya bertambah, bertambah pula dahaganya.”
Mujahid dalam menafsirkan firman Alalh swt. : “Maka mereka dalam tamansurga, senantiasa bergembira.” (Qs. Ar-Ruum :15). Maksudnya adalah sima’ terhadap bidadari dengan suara-suaranya yang merdu sekali : “Kami adalah bidadari-bidadari yang abadi, tak akan pernah mati selamanya. Kami adalah kenikmatan-kenikmatan yang tak pernah putus selamanya.”
Dikatakan, sima’ adalah panggilan, sedangkan ekstase adalah tujuan.
Abu Utsman Sa’id ash-Sha’luky berkata : “Orang yang menyimak berada di antara tirai dan ketampakkan : Tirai mendorong rasa dahaga, sedangkan penampakkan mewariskan rasa riang. Tirai telah melhirkan gerakan para penempuh, yaitu wahana kelemahan dan ketakberdayaan. Sementara penampakkan, melahirkan ketenangan orang-orang yang sampai kepada-Nya, yaitu wahana istiqamah dan ketenangan. Itulah sifat menghadirkan di hadirat Ilahi. Di dalamnya tiada lagi kecuali layu di bawah bisikan-bisikan rasa takut bercampur hormat.” Allah swt. berfirman :
“Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata : “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)>” (Qs. Al-Ahqaf : 29).
Abu Utsman Sa’id al-Hiry berkata : “Sima’ ada tiga arah : satu arah bagi para murid dan para pemula, mereka sama-sama meminta kemuliaan dengan tingkah laku ruhaninya, dan kami khawatir mereka terkena fitnah dan riya’. Arah kedua bagi mereka yang menepati kebenaran, yang menuntut nilai tambah dalam ihwal kondisi ruhaninya, dan mereka menyimak dari semuanya agar serasi dengan waktu-waktu mereka. Arah ketiga bagi ahli istiqamah dari kalangan orang-orang yang ma’rifat. Mereka sama sekali tidak memilih atas apa yang datang dari Allah dalam hatinya berupa gerak ataupun diam.”
Abu Sa’id Ahmad al-Kharraz berkata : “Barangsiapa mengaku dirinya terliputi ketika sedang memahami, yakni dalam sima’ dan gerakan-gerakan selali bersifat naluriah baginya, maka tanda-tandanya adalah dia memperbaiki tempat duduk yang di sana dia menemukan ekstase.”
Syeikh Abu Abdurrahman berkata : “Aku menyebut hikayat ini kepada Sa’id al-Maghriby. Lantas beliau berkata : “Inilah yang terindah. Tanda-tandanya yang benar, tak tersisa dalam suatu majelis kecuali rasa riang dengan majelis tersebut, dan tak ada yang membatalkan di dalamnya kecuali dia merasa tidak senang darinya.”
Bundar ibnul Husain berkata : “Sima’ terdiri tiga dimensi : Di antara mereka ada yang menyimak melalui wataknya; ada pula yang menyimak melalui kondisi ruhaninya; dan ada yang menyimak melalui Allah swr. Orang yang menyimak melalui watak, ada dari kalangan awam maupun khusus. Sebab salah sati watak manusiawi adalah merasa nikmat mendengarkan suara merdu. Sedangkan yang menyimak melalui kondisi ruhani, adalah dia yang merenungkan apa yang tiba padanya, berupacacian dan khitab, bertemu atau pisah, dekat ataupun jauh, rasa kecewa terhadap apa yang hilang atau haus terhadap keinginan di masa depan, menepati janji atau membenarkan/meyakini janji, merusak terhadap janji ataupun ingat kesusahan, merasa rindu atau takut berpisah, senang bertemu dan takut berpisah, atau yang sejenisnya. Sedangkan yang menyimak langsung melalui Allah swt. maka dia menimak bersama dan hanya bagi Alalh set. Sima’ yang terakhir ini tidak bisa diuraikan dengan kondisi-kondisi ruhani tersebut yang masih tercampur oleh kepentingan manusiawi, dan masih memunculkan berbagai sebab-sebab langsung. Maka, bagi kategori yang terakhir tersebut, saling menyimak dari dimensi kemurnian tauhid terhadap Allah swt. dan sama sekali tidak disertai kepentingan makhluk.”
Dikatakan : “Ahli sima’ itu ada tiga tahapan : Pertama, generasi hakikat yang kembali dalam sima’nya bagi dialog Allah swt. kepada mereka. Selanjutnya ada yang berbicara kepada Allah swt, melalui hatinya disertai makna-makna yang telah didengarnya. Mereka dituntut untuk bersikap benar dan jujur terhadap apa yang diisyaratkan menuju kepada Allah swt. Dan terakhir, adalah si fakir yang menyendiri, yang memutus hubungan dunia dan bencana. Mereka mendengarkan melalui kemerduan hatinya, dan mereka lebih dekat dengan keselamatan.”
Abu Ali Ahmad ar-Rudzbary ditanya tentang sima’ : “Mukasyafah terhadap rahasia batin, dan musyahadah terhadap Sang Kekasih.” Jawabnya.
Ibrahim al-Khawwa ditanya : “Bagaimana mengenai orang yang bergerak ketika sima’ terahdap selan Al-Qur’an, sementara gerakan gerakan itu memang tidak ditemui dalam penyimakan Al-Qur’an?” Ibrahaim menjawab : “Sebab sima Al-Qur’an merupakan hentakan, dimana seseorang tidak mungkin bergerak dalam sima’ disebabkan oleh dahsyatnya kekuatannya. Sedangkan sima’ terhadap ucapan membuatnya riang dan karenanya ia bergerak dalam sima’ tersebut.”
Al-Junayd berkata : “Bila Anda melihat si penempuh mencintai Sima’, ingatlah bahwa di dalamdirinya ada sisa-sisa kebatilan.”
Sahl bin Abdullah berkata : “Sima’ adalah ilmu yang dipilih oleh Allah swt. dan tiada yang mengetahui kecuali hanya Dia.”
Dikatakan : “Ketika Dzun Nuun al-Moshry memasuki Baghdad, para Sufi berkumpul padanya. Di antara mereka ada yang biasa berbicara. Mereka meminta izin agar diperkenankan membacakan syair sedikit di hadapannya. Dzun Nuun pun menyilahkan. Lantas orang tersebut membacakan syairnya :
Kecil asmaramu telah menyiksaku
Bagaimana dengan asmara yang perkasa?
Engkau telah mengumpulkan dari kalbuku
Cinta yang benar-benar berpadu
Sedang yang kuwarisi, bagi yang berduka
Bila tertawa sunyi
Jadilah pecah tangisnya.
Tiba-tiba Dzun Nuun berdiri dan membenamkan wajahnya. Sementara darah menetes dari keningnya, namun tidak mentes ke tanah.
Ibrahim al-Maristany ditanya mengenai gerak dalam sima’ : “Sampai kepaaku kisah Musa as. Yang bercerita tentang Bani Israil. Di antara mereka ada yang merobek bajunya. Lantas Allah swt. menurunkan wahyu kepada Musa as. : “Katakan padanya : “Robeklah hatimu buat Diri-ku, dan janganlah engkau robek bajumu.”
Abi Ali al-Maghazaly pernah mengutarakan kepada Dulaf asy-Syibly : “Terkadang pendengaranku terketuk oleh suatu ayat dari Kitab Allah swt. sehingga menggiringku untuk meninggalkan segala yang ada, berpaling dari dunia, kemudian aku kembali pada ihwal ruhaniku dan kepada orang pada umumnya.” Maka Dulaf mengomentari : “Apa yang membuatmu tertarik kepada-Nya adalah hubungan dari-Nya kepadamu dan merupakan kelembutan. Dan apa yang engkau kembalikan kepada dirimu, adalah kepedulian dari-Nya atas dirimu. Sebab tidak dibenarkan bagimu berbakti yang muncul dari daya dan kekuatan ketika menghadap kepada-Nya.
Ahmad bin Muqatil al-‘ikky berkata : “Aku bersama Dulaf asy-Syibly di sebuah masjid pada salah satu malam Ramadhan yang penuh berkat. Dia sedang shalat di belakang imam, sementara aku di sampingnya. Imam membaca sebauh ayat :
“Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami Wahyukan kepadamu.” (Qs. Al-Israa’ :87).
Tiba-tiba Asu-Syibly menjerit dengan satu jeritan. Bisa kukatakan, seakan-aan ruhnya terbang dalam keadaan menggigil.” Ahmad salalu menyampaikan kisah ini kepada teman-temannya, dan seringkali diulanginya.
Al-Junayd mengisahkan : “Suatu hari aku masuk ke tempat Sary as-Saqathy dan kulihat ada seorang lelaki yang pingsan di sisinya. Aku bertanya : “Mengapa dia?” Sary menjawab : “Gara-gara mendengarkan suatu ayat dari Kitab Allah swt.” Aku katakan : “Coba ulangi bacaan ayat tersebut untuk kedua kalinya.” Lantas Sary membacanya, dan lelaki itu pun sadar. Sary bertanya padaku : “Dari mana Anda mengetahui hal itu?” Aku katakan : “Sesungguhnya baju Yusuf as. Telah membutakan mata Ya’qub, kemudian mata itu sehat kembali karena baju itu. Aku mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut.”
Abdul wahid bin Alwan berkata :”Ada seorang pemuda yang berguru kepada al-Junayd. Bila mendengarkan suatu dzikir dia selalu menjerit. Suatu hari Junayd berkata padanya. “Bila kamu lakukan hal itu sekali lagi, kamu jangan berguru pada saya lagi.” Sejak saat itu pemuda itu bila mendengar sesuatu, selalu berubah dan tampak mengekang dirinya, sampai setiap ujung bulu di badannya meneteskan keringat. Pada suatu hari ia berteriak sekaut tenaga, hingga meninggal dunia.”
Abu Nashr as-Sarraj berkata : “Sebagian teman-temanku meriwayatkan kisah padaku, dari Abul Husain ad-Darraj, yang mengatakan : “Dari Baghdad aku bertujuan ke tempat Yusuf ibnul Husain ar-Razy. Ketika sampai di Ray, aku menanyakan tempat tinggalnya. Setiap orang yang kutanya selalu balik bertanya kepadaku, ‘ Apa yang akan Anda lakukan dengan manusia zindik itu? Sampai akhirnya hatiku gelisah, sehingga aku bermaksud untuk kembali saja. Lantas aku menginap di sebuah masjid malam itu. “Aku sudah datang ke negeri ini, tidak da jeleknya kalau aku mengunjunginya.” Kataku dalam hati. Selanjutnya aku terus bertanya tentang Yusuf, dan akhirnya sampai di masjidnya. Yusuf sedang dduduk di mahrab, dan di depannya ada seseorang. Tampak Yusuf sedang membaca mushaf Al-Qur’an. Ternyata dia adalah seorang Syeikh yang amat kharismatik, tampan dan bagus jenggotnya. Aku mendekatinya, dan mengucapkan salam padanya. Dia pun menjawab salamku. “Anda datang dari mana? Tanyanya padaku.” Dari Baghdad, bermaksud ziarah ke tampat syeikh.” Kataku.” “Jika ada orang yang berkata padamu di sebagian daerah. “Kamu menetap saja di tempatku, nanti kubelikan rumah atau budak-budak wanita.” Apakah tawaran itu akan mencegahmu untuk ziarah padaku?” tanya syeikh tersbut. “Wahai tuanku, Allah tidak mengujiku dengan sesuatu seperti itu. Namun seandainya aku menerima tawaran  mereka, aku tidak tahu bagaimana keadaanku.” Jawabku. “Baiklah, ucapkan saja sesuatu.” Kata syeikh itu. “Ya” kataku. Lantas kudendangkan syair :
Kulihat dirimu membangun penuh ketekunan
Di tanah pinjamanku
Bila aku punya tanah yang tinggi
Tentu robohlah apa yang engkau bangun.
Syeikh itu lalu menutup mushaf, terus menerus menangis, sampai baju dan jenggotnya basah. Aku sampai merasa kasihan padanya, karena terlalu banyak menangis.
Beliau lantas berkata padaku, “Anakku, jangan engkau cela penduduk Ray, mengenai ucapan mereka tentang diriku yang zindiq. Sejak waktu shalat tiba, inilah aku sedang membaca Al-Qur’an. Namun tidak setets pun air mata yang jatuh dari mataku. Kiamat benar-benar telah tiba dari rumah ini.!.”
Abul Husain ad-Darraj berkata : “Aku bersama Ibnula Fauthy sedang berjalan melewati Dajlah.” Antara Basrah dan Ubulan. Tiba-tiba kami melihat vila indah. Di sana ada laki-laki, dan dihadapannya ada jariyah yang sdang menyanyikan lagu.:
Bagi jalan Allah ada cinta
Yang datang dariku untukmmu, kelak diganti
Setiap hari kau ikuti
Hanya saja, denganmu lebih indah.
Ternyata ada seorang pemuda yang mendengarkan di bawah jendela tampak memandang, sambil membawa bejana kulit dan baju tambalan. Pemuda itu berkata.” Hai Jariyah, demi kehidupan tuanmu, ulangi kata-kata : Setiap hari kau ikuti. Hanya saja, denganmu lebih indah. Ucapkan lagi kata-kata itu!.” Jariyah tadi mengulangi kembali baitnya. Sedang si ffakir itu berkata : “Inilah, demi Allah, ucapan yang mengikatkan ddiriku bersama Al-Haq.” Lalu pemuda itu menjerit dengan sekali jeritan yang menyebabkan ruhnya lepas dari tubuhnya. Seketika pemilik vila itu berkata pada jariyah : “Kamu telah merdeka --- karena Allah swt.”
Para penduduk Bashrah keluar dan mengurus pemakaman pemuda itu, serta menshalatinya. Pemilik vila tersebut berkata : “Bukankah kalian semua mengenalku? Aku bersaksi di hadapan kalian semua, bahwa segala milikkku hanya untuk jalan Allah swt. Semua budak-budakku merdeka.” Kemudian mereka memakai sarung dan berkain. Vilanya pun disedekahkan. Selanjutnya ia pergi begitu saja. Sebab setelah peristiwa tersebut ia tidak menampakkan dirinya, dan tidak pernah terdengar namanya disebut-sebut.
Abu Sulaiman ad-Dimasyqi mendengarkan panggilan orang yang sedang thawaf : “Duhai, terimalah penghormatanku untuk-Mu!.” Lalu Abu Sulaiman jatuh pingsan. Saat sadar ia ditanya, lalu menjawab : “Aku kira ia berkata : “Terimalah, kau lihat penghormatanku padamu.”
Utbah al-Ghulam mendengar seseorang bermunajat : “Maha Suci Allah, Tuhannya langit, sungguh sang pecinta selalu dalam tawanan.” Utbah menyahut : “Kamu benar.” Lantas mendengarkan orang lain mengucapkan akta-kata yang sama. Utbah menyela : “Bohong kamu!” Masing-masing individu menyimak dari segi proporsinya.
Ruwayma bin Ahmad ditanya mengenai para syeikh yang mereka temui dalam sima’. Ruwaym menjawab : “Seperti sekawanan domba yang kepergok harimau.”
Riwayat dari Abu Sa’id Ahmad al-Kharraz yang berkata : “Aku melihat Ali ibnul Muwafiq dalam sima’, beliau berkata : “Beddirikan aku!.” Merekapun membangkitkan, dan ia pun berdiri, lalu mengalami ekstase dan berkata : “Akulah syeikh para penari.”
Dikatakan, Ibrahim ar-Raqqy bangkit semalam suntuk hingga subuh. Banun dan jatuh di rumah itu. Sedangkan orang-orang bangkit sembari menangis. Sedang bait-bait yang dibacakan adalah :
Demi Allah, tolaklah hati yang duka
Tiada lagi pengganti
Dari kekasihnya.
Al-Husain bin Muhammad bin Ahmad berkata : “Aku berbakti kepada Sahl bin Abdullah bertahun-tahun. Aku tidak pernah melihat perubahan pada dirinya, ketika menyimak sesuatu baik dari dzikir maupun bacaan Al-Qur’an, ataupun yang lain. Ketika akhir hayatnya, dibacakan suatu ayat :
“Maka pada hari ini tidak diterima tebusan.” (Qs. Al-Hadid :15).
Tiba-tiba kulihat ia berubah dan gemetar, hampir saja ia jatuh. Ketika sudah sadar, aku bertanya padanya, lalu ia berkata : “Duhai kekasih, betapa lemahnya kami....”
Saya mendengar Syeikh Abu Abdurrahman as-Sulamy berkata : “Aku masuk ke tampat Abu Utsman Sa’id al-Maghriby, dan ia sedang mengambil air minum dari sumur melalui kerekan timba, lantas dia berbicara : “Hai Abu Abdurrahman, tahukah engkau apa yang diucapkan oleh kerekan ini? Kukatakan : “Tidak!” Dia berkata : “Kerekan ini berbunyi : Allah—Allah.”
Ruwaym berkata : “Riwayat dari Ali Bin Abu Thalib r.a. bahwa beliau mendengarkan suara lonceng. Lalu beliau bertanya pada para sahabtnya : Apakah kalian mengerti apayang diucapkan oleh lonceng itu? Mereka menjawab : “Tidak! Ali berkata : “Sebenarnya lonceng itu mengucapkan : “Subhanallah, benar, benar, sungguh Tuhan Kekal Abadi.”
Ahmad inbul Karkhy berkata : “Suatu hari jamaah sufi  berkumpull di rumah al-Hasan al-Qazzaz. Di antara mereka ada beberapa penyair, yang mendedangkan syairnya sembari ekstase. Lalu Mumsyad ad-Dinawary datang mereka pun terdiam. Mumsyad berkata : “Kalian terus saja seperti semula! Seandainya seluruh alat permainan dunia dikumpulkan dalam telingaku, sama sekali tidak mempengaruhi hatiku, atau dijejalkan di mulut dan gerahamku tiak berpengaruh sama sekali.” Ibnul karkhy melanjutkan : “Aku mendengar pula ar-Rudzbary berkata : “Kami sampai pada masalah ini, bagaikan berada di atas mata pedang, sedikit kita terlena ke sana kemari, kita tercebut di neraka.”
Khayr an-Nassaj berkta : “Mua bin Imran – semoga shalawat dan salam Allah terlimpah padanya – mengisahkan pada kaumnya, suatu kisah. Salah satu di antara mereka ada yang menjerit. Kemudian Muasa as. Membentaknya. Lalu Allah menurunkan wahyu : “Hai Musa, dengan bau Ku, mereka rasakan semerbak, dengan cinta-Ku mereka membuka, dan dengan kerinduan-Ku mereka berteriak. Mengapa engkau ingkari semua itu terhadapTuhanku?”
Dikatakan : “Dulaf asy Syibly mendengar seseorang berkata, : “Plilihan kebaikan itu sepuluh dibanding seperenam dirham.” Lalu asy-Syibly berteriak sembari mengatakan : “Bla kebaikan itu sepuluh  dibanding seperenam dirham, bagaimana dengan kejahatan-kejahatan.”
Dikatakan : “Aun bin Abdullah punya seorang jariyah yang memiliki suara merdu, Aun menyuruh mendendangkan lagu. Jariyah itu mendendangkan lagu dengan sura yang memilukan, sampai seluruh orang yang hadir menangis.”
Abu Sulaiman ad- Darany ditanya tentang sima’. Dia menjawab : “Setiap kalbu yang menginginkan suara berlagu, berati hati yang lemah yang perlu diobati, sebagaimana anak kecil yang diobati dengan lagu-lagu agar segera tidur.” Abu Sulaiman berkata selanjutnya : “Suara merdu sama sekali tidak merasuk kalbu. Yang menggerakkan kalbu itu adalah apa yang ada di dalam kalbu.”
Ahmad al-Jurairy berkata : “Jadilah kalian ini para Rabbaniyyun : Yakni orang-orang yang menyimak dari Allah dan mengucapkan dengan Alah swt.”
Sebagian Sufi ditanya soal sima’, jawabnya : “Kilatan yang melintas, kemudian padam. Cahaya yang tampak kemudian suram. Betapa manusianya bila menetap bersama pemiliknya, walaupun sekejap mata.” Kemudian ia membaca syair :
Bisikan dalam jiwa, yang mengusik
Bagai gerak kilat yang berkelebat
Lalu hilang
Disa bagimu, jika menuju rahasia batinku
Dan tercela bagimu, jika kau lakukan itu.
Dikatakan : “Sima’ memiliki bagian setiap anggota tubuh. Bila tiba di mata, mata pun menangis. Bila sampai pada lisan, berteriaklah dia. Ila menyentuh tangan, ia merobek dan memukul. Dan Bila sampai di kaki, ia akan menari-nari.”
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata : “Abu Amr bin Nujayd berkumpul bersama Nashr Abadzy serta para pengikutnya dalam suatu tempat An-Nashr Abadzy mengatakan : “Kukatakan, bila orang-orang Sufi berkumpul, satu angkat bicara, yang lain diam, itu lebih baik daripada menggunjing seseorang.” Lantas Abu Amr berkata : “Anda menggunjing selama tigapuluh tahun, lebih menyelamatkan diri Anda dibanding Anda menampakkan ruhani dalam sima’ yang sebenarnya bukan pada Nada.” Lalu Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. berkata : “Manusia dalam sima’ terbagi tiga katagori : Berupaya menyimak (mutasammi’), menyimak penuh perhatian (Mustami’) dan pendengar (saami’). Mutasammi’ menyimak dengan waktu, dan Mustami’ menyimak dengan kondisi ruhani, sedangkan Saami’ menyimak dengan Allah swt.”
Saya bertanya pada Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. tidak hanya sekali, menegnai adanya suatu yang menyerupai keringanan dalam sima’, dan beliau mengupayakan padaku dengan menekankan adanya pengendalian dalam sima’. Kemudian setelah beberapa waktu, beliau berkata : “Sebenarnya para syeikh Sufi berkata : “Sepanjang hatimu disatukan dengan Allah swt. maka tidak apa-apa.”
Dari Abbas r.a. yang berkata : “Allah swt. mewahyukan kepada Musa as. : “Aku jadikan dalam dirimu sepuluh ribu pendengaran, sehingga kamu mendengarkan Kalam-Ku. Dan yang lebih Kucintai apa yang aa padamu bagi-Ku dan lebih mendekatkan apda-Ku, apabila kamumemperbanyak shalawat kepaa Muhammad saw.”
Abul Harits al-Aulasy berkata : “Aku melihat iblis – semoga Allah swt. melaknatnya – dalam mimpi, berada di atas benteng Aulas. Aku pun di atas atap. Di tangan kana  iblis ada jamaah, begitu pula di tangan kirinya. Mereka memakai pakaian yang bersih-bersih. Iblis berkata kepada kelompok di antara mereka : “Bicaralah kalian!.” Mereka pun berbicara dan menyanyikan lagu. Sungguh menegjutkan kemerduan suara-suaranya, sampai aku ingin meleparkan diriku dari atap. Kemudian Iblis bicara : “Menarilah kalian semua!” Mereka pun menari dengan tarian yang paling indah. Lantas Iblis berkata padaku : “Hai Abul Harits, tak satu pun yang tepat, yang kumasukkan pada kalian, kecuali yang ini tadi.”
Abdullah bin Ali berkata : “Aku berkumpul semalam bersama Dulaf asy-Syibly r.a. Tiba-tiba ia berkata : “Para penyair itu adalah sesuatu.” Maka Syibly berteriak dengan ekstase sambil duduk. Maka kepadanya dikatakan: “Wahai Abu Bakr, ada apa Anda duduk di tengah-tengah jamaah ini?” Asy-Syibly langsung berdiri dan mengalami ekstase kembali. Lalu mendendangkan syair :
Bagiku dua kemabukkan, sedang
Teman-teman mabukku hanya punya satu
Sesuatu yang disitimewakan bagiku
Di antara mereka,
Adalah kesendirianku.
Abu Ali ar-Rudzbary berkata : “Aku melewati suatu vila. Tiba-tiba kulihat pemuda yang tampan tergeletak di tengah-tengah orang yang berkumpul di sana. Aku bertanya pada mereka tentang anak muda itu. Mereka menjawab : “Pemuda ini melewati vila tersebut, dan di dalam vila itu ada seorang jariyah yang mendedangkan lagu :
Betapa besar cita-cita hamba
Yang berambisi memandang-Mu
Ataukah karena tiada pertimbangan bagi mata
Untuk melihat orang yang benar-benar melihat-Mu.
Lalu, tiba-tiba pemuda ini menjerit dan mati.

RISALAH AL QUSYAIRI BAB 48 : MENJAGA PERASAAN HATI SYEIKH



Allah swt. berfirman dalam kisah Nabi Musa as. Bersma al-Khidhr as. :

“Musa berkata kepada Khidhr : “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepada ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu.” (Qs. Al-Kahfi :66).

Al-Junayd berkata : “Ketika Musa ingin berguru kepada Khidr, beliau menjaga syarat-syarat etika. Pertama, mohon izin dalam berguru, lantas al-Khidhr memberi syarat kepadanya agar tidak menentangnya dalam segala hal, dan tidak mengajukan protes atas keputusannya. Namun ketika Musa as. Mulai kontra terhadapnya, dibiarkanlah sikapnya yang pertama dan kedua. Tetapi kontra untuk ketiga kalinya – dan yang ketiga merupakan batas minim dari jumlah banyak dan awal dari batas banyak – maka terjadilah perpisahan.

Khidhr berkata :

“Inilah perpisahan antara aku dan antara kamu.” (Qs. Al-Kahfi:78).

Rasulullah saw. bersabda : “Orang muda yang tidak menghormati seorang guru (Syeikh) karena usianya, melainkan Allah akan menakdirkan baginya, kelak orang akan menghormati dirinya saat usianya sudah tua.” (H.r. Tirmidzi).
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. berkata : “Awal segala perpisahan adalah pertentangan. Yakni, orang yang kontra dengan syeikhnya, berarti ia tidak menetapi tharikatnya. Hubungan antara keduanya telah terputus, walaupun keduanya terkumpul dalam satu bidang tanah. Barangsiapa berguru kepada salah satu syeikh, kemudian dalam hatinya ada kinflik, maka janji pertalian guru dan murid telah rusak, dan ia wajib bertobat.”

Salah satu syeikh berkata : “Menyakiti para guru, tidak ada lagi tobatnya.”
Saya mendengar Abu Abdurrahman as-Sulamy berkata : “Aku pergi ke Marw apda saat syeikhku, Abu Sahl ash-Sah’luky masih hidup. Sebelum aku keluar dulu, pada hari-hari Jum;at pagi selalua da majelis Khtamul Qur’an. Tetapi ketika aku kembali, majelis tersebut telah tiada. Diganti dengan suatu forum diskusi yang dipimpin oleh Abul Ghaffany. Kenyataan itu membuatku gelisah, dan aku berkata padaku : “Hai Abu Abdurrahman, apa yang diperbincangkan banyak orang tentang diriku?” Aku berkata padanya : “Mereka mengatakan; majleis Al-Qur’anul Karim telah dihilangkan dan diganti majelis diskusi.” Lantas syeikh berkata : “Siapa saja yang berrkata kepada gurunya : “Mengapa? Maka dia tak akan bahagia selamanya.”

Uccapan yang populer dari al-Junayd antara lain : “Aku memasuki rumah Sary as-Saqathy pada suatu hari. Dia memerintahkan sessuatu padaku, dan au bergegas memenuhi kebutuhannya. Maka di saat aku kembali kepdanya, ia memberikan secarik kerts, sembari berkata : “Inilah kedudukan pemenuhamu atas kebutuhanku yang begitu cepat.” Lalu kubaca pada kertas itu, ternyata di sana tertulis :
Aku mendengar orang yang berjalan di apdang pasir menyanyi,
Aku menangis, dan tahukah nekgau, mengapa?
Aku menangis karena ketakutan
Bila engkau memisahkan diriku
Bila engkau memisahkan ikatan-ikatan hatiku
Bila engkau menghindar dariku.”

Diriwayatkan dari Abul Hasan al-Hamdzany al-Alawy yang berkata : “Suatu malam aku berada di tempat Ja’far al-Khuldy. Padahal waktu itu aku diperintah untuk menggantungkan burung di atas dapur. Hatiku sangat berkait dengan burung itu. Ja’far berkata padaku : “Bangunlah malam ini.” Aku merasa ada yang mengganjal dan aku pun pulang. Kukeluarkan burung dari dapur dan kuletakkan di sisiku. Tiba-tiba ada anjing masuk dari arah pintu. Anjing itu langsung meraih burung, di saat orang-orang yang hadir alpa. Ketika esok paginya aku datang ke Ja’far, sejenak pandang matanya tertuju padaku, dan berkata : “Siapa yang tidak menjaga perasaan hati para syeikh, ia akan dipaksa oleh anjing yang menyakitinya.”

Abdullah arRazy mendengar  Abu Utsman Sa’id al-Hiry sedang menjelaskan sifat Muhammad ibnul Fadhl al-Balkhy, dan memuji-memijinya. Tiba-tiba Abdullah sangat rindu pada al-Balkhy, kemudian pergi berziarah pdanya. Namun hatinya tidak berkenan pada Muhammad ibnul Fadhl. Lalu ia kembali ke Abu Utsman, dan Abu Utsman bertanya : “Bagaimana, Anda sudah menemuinya?” Abdullah menjawab : “Aku tak menemui apa-apa sebagaimana kuduga.” Lantas Abu Utsman berkata : “Karera Anda mengaanggapnya arendah. Dan tak seorag pun yang menganggap rendah seseorang melainkan ia terhalang dari sari faedah. Kembalilah padanya dengan penuh hormat.” Abdullah pun kembali kepadanya dan banyak mengambil manfaat dari ziarahnya itu.

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. berkaa : “Ketika penduduk Balkh mengusir Muhammad ibnul Fadhl dari daerahnya, dia mendoakan meraka : “Ya Allah, cegahlah kejujuran dari mereka.” Maka seteah itu tak seorang jujur pun yang muncul dari daerah Balkh.
Saya mendengar Ahmad bin Yahya al-Abiwady – rahimahullah ta’ala – berkata : “Barangsiapa syeikhnya ridha, ia tidak akan menyimpang pada saat hidupnya, dengan maksud agar rasa ta’zimnya kepda syeikh tersebut tidak hilang. Apabila syeikh telah meninggal dunia Allah swt. akan menampakkan balasan ridhanya syeikh kepadanaya. Namun, barangsiapa membuat hatinya syeikh berubah, maka ia tak akan menyipang pada zaman syeikh tersebut hidup, karena ia tak ingin membelenggunya. Mereka senantiasa memiliki karakter untuk menghormati. Apabila syeikh tersebut meninggal dunia, maka pada saat itulah muncul suatu penyimpangan sepeninggalnya.”