Catatan Popular

Jumaat, 31 Ogos 2012

KISAH WALI QUTUB AL GHAUTH : SYEIKH AHMAD AL BADAWIY R.A

Setiap hari, dari pagi hingga sore, ia menatap matahari, sehingga kornea matanya merah membara. Apa yang dilihatnya bisa terbakar, khawatir terjadinya hal itu, saat berjalan ia lebih sering menatap langit, bagaikan orang yang sombong. Sejak masa kanak kanak, ia suka berkhalwat dan riyadhoh, pernah empat puluh hari lebih perutnya tak terisi makanan dan minuman. Ia lebih memilih diam dan berbicara dengan bahasa isyarat, bila ingin berkomunikasi dengan seseorang. Ia tak sedetikpun lepas dari kalimat toyyibah, berdzikir dan bersholawat. Dalam perjalanan riyadhohnya, ia pernah tinggal di loteng negara Thondata selama 12 tahun, dan selama 8 tahun ia berada diatas atap, riadhoh siang dan malam. Ia hidup pada tahun 596-675 H dan wafat di Mesir, makamnya di kota Tonto, setiap waktu tak pernah sepi dari peziarah.

Pada usia dini ia telah hafal Al-Qur’an, untuk memperdalam ilmu agama ia berguru kepada Syeikh Abdul Qadir al-Jailani dan syeikh Ahmad Rifai. Ia adalah Waliullah Qutbol Gaust, Assayyid, Assyarif Ahmad al Badawi. Suatu hari, ketika sang Murid telah sampai ketingkatannya, Sjech Abdul Qodir Jaelani, menawarkan kepadanya ; ”Manakah yang kau inginkan ya Ahmad Badawi, kunci Masriq atau Magrib, akan kuberikan untukmu”, hal yang sama juga diucapkan oleh gurunya Sayyid Ahmad Rifai, dengan lembut, dan menjaga tatakrama murid kepada gurunya, ia menjawab; ”Aku tak mengambil kunci kecuali dari Al Fattah (Allah )”.

Suatu hari datang kepadanya, seorang janda mohon pertolongan, anak lelakinya ditahan di Perancis, dan sang ibu ingin agar anak itu kembali dalam keadaan selamat. Oleh Sayyidi Ahmad Al Badawi, janda itu disuruhnya untuk pulang, dan berkata sayidi : “Insya Allah anak ibu sudah berada dirumah”. Bergegas sang ibu menuju rumahnya, dan betapa bahagia, bercampur haru, dan penuh keheranan, ia dapati anaknya telah berada di rumah dalam keadaan terbelenggu. Sayyidi al badawi banyak menolong orang yang ditahan secara Dholim oleh penguasa Prancis saat itu, dan semua pulang ke rumahnya dalam keadaan tangannya tetap terbelenggu.

Pernah suatu ketika Syaikh Ibnul labban mengumpat Sayyidi Ahmad Badawi, seketika itu juga hafalan Al-Qur’an dan iman Syaikh Ibnul labban menjadi hilang. Ia bingung dan berusaha dengan beristighosah dan meminta bantuan do’a, orang orang terkemuka di zaman itu (agar ilmu dan imannya kembali lagi), tetapi tidak satupun dari yang dimintainya doa, berani mencampuri urusannya, karena terkait dengan Sayyidi Ahmad Badawi. Padahal diriwayatkan, saat itu Sayyidi Al Badawi telah wafat. Orang terkemuka yang dimintainya doa, hanya berani memberi saran kepada Syaikh Ibnul labban, agar dia menghadap Syeikh Yaqut al-‘Arsyiy, waliullah terkemuka pada saat itu, dan kholifah sayyidi abil hasan Assadzili. Ibnu labban segera menemui Sjech Yaqut dan minta pertolongannya, dalam urusannya dengan sayyidi Ahmad Al badawi.
Setelah dimintai pertolongan oleh Syaikh Ibnul labban, Syeikh Yaqut Arsyiy berangkat menuju ke makam Sayyidi al-Badawi dan berkata : “ Wahai guru, hendaklah tuan memberi ma’af kepada orang ini!”. Dari dalam makamnya, terdengar jawaban “Apakah kamu berkehendak untuk mengembalikan tandanya orang miskin itu ? ya…sudah, tapi dengan syarat ia mau bertaubat”. Syeikh Ibbnul Labbanpun akhirnya bertaubat, dan tidak lama kemudian kembalilah ilmu dan imannya seperti sedia kala dan ia juga mengakui kewalian Syeikh Yaqut, karena peristiwa tersebut. Ia kemudian dinikahkan dengan putrinya Syeikh Yaqut. (Di ambil dari kitab al-Jaami’).

Syeikh Muhammad asy-Syanawi menceritakan, bahwa pada waktu itu ada orang yang tidak mau menghadiri dan bahkan mengingkari peringatan maulidnya Syeikh Ahmad Badawi, maka seketika hilanglah iman orang itu dan menjadi merasa tidak senang terhadap agama Islam. Orang itu kemudian berziarah ke makamnya Sayyid Badawi untuk minta tolong dan memohon maaf atas kesalahannya. Kemudian terdengarlah suara sayyidi Badawi dari dalam kubur : “iya, saya ma’afkan, tapi jangan berbuat lagi. Na’am (iya) jawab orang itu, spontan imannya kembali lagi. Beliau lalu meneruskan ucapannya : “Apa sebabnya kamu mengingkari kami semua”.Dijawabnya : “Karena di dalam acara itu banyak orang laki-laki dan perempuan bercampur baur menjadi satu” (tanpa ada garis pembatas). Sayyidi Badawi lalu mengatakan : “Di tempat thowaf sana, dimana banyak orang yang menunaikan ibadah haji disekitar Ka’bah, mereka juga bercampur laki-laki dan perempuan, kenapa tidak ada yang melarang”. Demi mulianya Tuhanku, orang-orang yang ada untuk menghadiri acara maulidku ini tidaklah ada yang menjalankan dosa kecuali pasti mau bertaubat dan akan bagus taubatnya. Hewan-hewan di hutan dan ikan-ikan di laut, semua itu dapat aku pelihara dan kulindungi diantara satu dengan lainnya sehingga menjadi aman dengan idzin Allah. Lalu, apakah kiranya Allah Ta’ala, tidak akan memberi aku kekuatan untuk mampu menjaga dan memelihara keamanannya orang-orang yang menghadiri acara maulidku itu ?”

Suatu ketika Syeikh Ibnu Daqiqil berkumpul dengan Sayyidi Badawi, dan ia bertanya kepada beliau : “Mengapa engkau tidak pernah sholat, yang demikian itu bukanlah perjalanannya para shalihin“. Lalu beliau menjawab : “Diam kamu! Kalau tidak mau diam aku hamburkan daqiqmu (tepung)”. Dan di tendanglah Syeikh Daqiqil oleh beliau hingga berada disuatu pulau yang luas dalam kondisi tidak sadarkan diri. Setelah sadar, iapun termangu karena merasa asing dengan pulau tersebut. Dalam kebingungannya, datanglah seorang lelaki menghampirinya dan memberi nasehat agar jangan mengganggu orang type al-Badawi, dan sekarang kamu berjalanlah menuju qubah yang terlihat itu, nanti jika sudah tiba di sana kau berhentilah di depan pintu hingga menunggu waktu ‘ashar dan ikutlah shalat berjamaah dibelakangnya imam tersebut, sebab nanti Ahmad Badawi akan ikut di dalamnya.

Setelah bertemu dia ucapkanlah salam, peganglah lengan bajunya dan mohonlah ampun atas ucapanmu tadi. Ia menuruti kata-kata orang itu yang tidak lain adalah Nabiyullah Khidir a.s. Setelah semua nasehatnya dilaksanakan, betapa terkejutnya ia karena yang menjadi imam sholat waktu itu adalah Sayyidi Badawi. Setelah selesai sholat ia langsung menghampiri dan menciumi tangan dan menarik lengan Sayyidi al-Badawi, sambil berkata seperti yang diamanatkan orang tadi. Dan berkatalah Sayyidi Badawi sambil menendang Syeikh Daqiqil,” Pergilah sana murid-muridmu sudah menantimu dan jangan kau ulangi lagi!. Seketika itu juga ia sudah sampai di rumahnya dan murid-muridnya telah menunggu kedatangan Syeikh Daqiqil. Dijelaskan bahwa yang menjadi makmum sholat berjamaah dengan Sayyidi Badawi pada kejadian itu adalah para wali.

Syekh Imam al Munawi berkata : “Ada seorang Syeikh yang setiap akan bepergian selalu berziarah di makamnya Syeikh Ahmad al Badawi untuk minta ijin, lalu terdengar suara dari dalam kubur dengan jelas :”Ya pergilah dengan tawakkal, Insya Allah niatmu berhasil, kejadian tersebut didengar juga oleh Syeikh abdul wahab Assya’roni, padahal saat itu Syeikh Ahmad al Badawi sudah meninggal 200 tahun silam, jadi para aulia’ itu walaupun sudah meninggal ratusan tahun, namun masih bisa emberi petunjuk.

Berkata Syeikh Muhammad al-Adawi : Setengah dari keindahan keramat beliau ialah, pada saat banyaknya orang yang ingin berusaha membatalkan peringatan maulidnya beliau, dimana orang-orang tersebut menghadap dan meminta kepada Syeikh Imam Yahya al-Munawiy agar beliau mau menyetujuinya. Sebagai orang yang berpengaruh dan berpendirian kuat pada masa itu, Syeikh Yahya tidak menyetujuinya, akhirnya orang-orang tersebut melapor kepada sang raja azh-Zhohir Jaqmaq. Sang rajapun berusaha membujuk agar Syeikh Yahya bersedia memberi fatwa untuk membatalkan maulidnya Sayyidi Badawi. Akan tetapi Syeikh Yahya tetap tidak mau dan hanya bersedia memberikan fatwa melarang keharaman-haraman yang terjadi di acara itu. Maka acara maulid tetap dilaksanakan seperti biasa. Dan Syeikh Yahya bekata kepada sang raja: “Aku tetap tak berani sama sekali berfatwa yang demikian, karena Sayyidi Badawi adalah wali yang agung dan seorang fanatik (malati = bahasa jawanya). Hai raja, tunggu saja, kamu akan tahu akibat bahayanya orang-orang yang berusaha menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Badawi.

Memang benar, tak lama kemudian mereka yang bertujuan menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Badawi tertimpa bencana. Orang-orang tersebut ada yang dicopot jabatannya dan diasingkan oleh rajanya. Ada yang melarikan diri ke Dimyath akan tetapi kemudian ditarik kembali dan diberi pengajaran, dirantai dan dipenjara selama setengah bulan. Bahkan diantara mereka yang mempunyai jabatan tinggi dikerajaan itu lalu banyak yang ditangkap, disidang dengan kelihatan terhina, disiksa dan diborgol besi di depan majlis hakim syara’ lalu dihadapkan raja yang kemudian dibuang di negara Maghribi.

Sayyidi Ahmad Badawi pernah berkata kepada seseorang : “Bahwa pada tahun ini hendaknya kamu menyimpan gandum yang banyak yang tujuanmu nanti akan kau berikan kepada para fakir miskin, sebab nanti akan terjadi musim paceklik pangan. Kemudian orang tadi menjalankan apa yang diperintahkan beliau, dan akhirnya memang terbukti kebenaran ucapan Sayyidi Badawi.

Berkata al-Imam Sya’roni : “Pada tahun 948 H aku ketinggalan tidak dapat menghadiri acara maulidnya Sayyidi Badawi. Lalu ada salah satu aulia’ memberi tahu kepadaku bahwa Sayyidi Badawi pada waktu peringatan itu memperlihatkan diri di makamnya dan bertanya : “Mana Abdul Wahhab Sya’roni, kenapa tidak datang ?” Pada suatu tahun, al-Imam Sya’roni juga pernah berkeinginan tidak akan mendatangi maulid beliau. Lalu aku melihat beliau memegang pelepah kurma hijau sambil mengajak orang-orang dari berbagai negara. Jadi orang-orang yang berada dibelakangnya, dikanan dan kirinya banyak sekali tak terhingga jumlahnya.

Terus beliau melewati aku di Mesir, sayyidi Badawi berkata : “Kenapa kamu tidak berangkat ?”. Aku sedang sakit tuan, jawabku. Sakit tidak menghalang-halangi orang cinta. Terus aku diperlihatkan orang banyak dari para aulia’dan para masayikh, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, dan orang-orang yang lumpuh semua berjalan dengan merangkak dan memakai kain kafannya, mereka mengikuti dibelakang sayyidi Badawi menghadiri maulid beliau. Terus aku juga diperlihatkan jama’ah dan sekelompok tawanan yang masih dalam keadaan terbalut dan terbelenggu juga ikut datang menghadiri maulidnya. Lalu beliau berkata: lihatlah ! itu semua tidak ada yang mau ketinggalan, akhirnya aku berkehendak untuk mau menghadiri, dan aku berkata : Insya Allah aku hadir tuan guru ?. Kalau begitu kamu harus dengan pendamping, jawab sayyidi Badawi.

Kemudian beliau memberi aku dua harimau hitam besar dan gajah, yang dijanji tidak akan berpisah denganku sebelum sampai di tempat. Peristiwa ini kemudian aku ceritakan kepada guruku Syeikh Muhammad asy-Syanawi, beliau lalu menjelaskan: memang pada umumnya para aulia’ mengajak orang-orang itu dengan perantaraan, akan tetapi sayyidi Ahmad Badawi langsung dengan sendirinya menyuruh orang-orang mengajak datang. Sungguh banyak keramat beliau, hingga al-Imam Sya’roni mengatakan,”Seandainya keajaiban atau keramat-keramat beliau kalau ditulis di dalam buku tidaklah akan muat karena terlalu banyaknya. Tetapi ada peninggalan Syeikh ahmad Badawi yang sangat utama, yaitu bacaan sholawat badawiyah sughro dan sholawat badawiyah kubro.

Rabu, 29 Ogos 2012

RAHSIA AL QURAN 7:TUJUAN MEMBELANJAKAN HARTA

Salah satu amal ibadah yang terpenting yang dapat membersihkan kotoran kebendaan dan

keruhanian, dan sebagai latihan bagi ruhani sehingga seseorang dapat mencapai derajat akhlak yang tinggi sehingga Allah akan ridha kepadanya adalah membelanjakan harta di jalan Allah. Allah telah berfirman kepada Nabi saw. agar mengambil zakat dari harta benda orang-orang beriman untuk membersihkan dan menyucikan harta tersebut.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan
dan menyucikan mereka.” (Q.s. at-Taubah: 103).

Meskipun demikian, perbuatan membelanjakan harta yang dapat membersihkan dan

menyucikan orang-orang adalah jika dilakukan berdasarkan ketentuan yang telah disebutkan dalam al-Qur’an. Orang-orang beranggapan bahwa mereka telah menunaikan tugas mereka ketika mereka memberikan sejumlah uang yang sangat sedikit yang diberikan kepada pengemis, memberikan pakaian bekas kepada orang miskin, atau memberi makan kepada orang yang lapar. Tidak diragukan lagi bahwa perbuatan-perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang akan memperoleh pahala dari Allah jika niatnya untuk mencari ridha Allah. Namun sesungguhnya ada batas-batas yang telah ditentukan dalam al-Qur’an. Misalnya, Allah memerintahkan manusia agar menginfakkan apa saja yang melebihi keperluannya:

“Mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, ‘Yang lebih
dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu
berpikir.” (Q.s. al-Baqarah: 219).

Manusia hanya memerlukan sedikit saja untuk memenuhi keperluan hidupnya di dunia. Harta

benda yang di luar keperluan seseorang adalah harta yang berlebih. Yang terpenting bukan jumlah yang diberikan, tetapi apakah ia memberikannya dengan ikhlas atau tidak. Allah mengetahui segala sesuatu dan Dia telah memberi hati nurani kepada manusia untuk menetapkan hal-hal yang sesungguhnya tidak diperlukan. Menginfakkan harta benda merupakan bentuk ibadah yang mudah bagi orang-orang yang tidak dihinggapi ketamakan terhadap dunia dan yang tidak mengejar dunia,

tetapi merindukan akhirat. Allah telah memerintahkan kita untuk menginfakkan sebagian dari harta kita untuk menjauhkan cinta dunia. Menginfakkan harta benda merupakan sarana untuk membersihkan diri dari sifat tamak. Tidak diragukan lagi bahwa bentuk ibadah ini sangat penting bagi orang-orang yang beriman dalam kaitannya dengan perhitungan di akhirat. Rasulullah saw. Juga bersabda bahwa orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah akan dirahmati Allah:

“Dua manusia akan dirahmati: Yang pertama adalah orang yang diberi oleh Allah al-Qur’an dan ia hidup berdasarkan al-Qur’an itu. Ia menganggap halal apa saja yang dihalalkan, dan menganggap haram apa saja yang diharamkan. Yang lain adalah orang yang diberi harta oleh Allah, dan harta itu dibelanjakannya kepada sanak keluarga dan dibelanjakan di jalan Allah.

 

Manusia Harus Memberikan Apa yang Ia Cintai kepada Orang Miskin

Orang sering kali cenderung memberikan sesuatu jika sesuatu yang diberikan itu tidak

merugikan kepentingannya. Misalnya, ketika seseorang memberikan harta bendanya kepada orang miskin, sering kali ia memberikan sesuatu yang tidak lagi diperlukannya dan tidak disukainya, sudah ketinggalan mode, atau tidak layak pakai. Tampaknya orang merasa berat untuk memberikan harta benda yang dicintainya, padahal sesungguhnya kedermawanan seperti ini sangat penting untuk membersihkan diri dan agar mencintai amal kebajikan. Ini merupakan rahasia penting yang diungkapkan Allah kepada umat manusia. Allah telah menyatakan bahwa tidak ada cara lain untuk mencapai kebajikan bagi manusia kecuali melalui:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan sebelum kamu menafkahkan
sebagian dari harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Q.s. Ali Imran: 92).

 
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik
dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu
memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Q.s. al-Baqarah: 267).

 

Membelanjakan Harta di Jalan Allah sebagai Sarana Agar Dekat Dengan-Nya

 
Bagi orang yang beriman, tidak ada sesuatu pun yang lebih dirindukan daripada memperoleh
keridhaan Allah dan dicintai oleh-Nya. Orang yang beriman berusaha mencari asbab untuk
mendekatkan diri kepada Allah dalam hidupnya. Tentang hal ini, Allah menyatakan sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan carilah jalan yang
mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, supaya kamu mendapat
keberuntungan.” (Q.s. al-Ma’idah: 35).

 
Sebagai sebuah rahasia dan berita gembira bagi orang-orang beriman, Allah mengungkapkan
dalam al-Qur’an bahwa apa yang dibelanjakan akan menjadi asbab untuk mencapai kedekatan
dengan-Nya. Dengan demikian bagi orang yang beriman, memberikan apa yang ia cintai dan yang melebihi keperluannya kepada orang-orang miskin tidaklah sulit, tetapi merupakan kesempatan berharga untuk membuktikan bahwa ia adalah orang yang taat dan cinta kepada Allah. Tentang hal ini Allah menyatakan sebagai berikut:

“Dan diantara orang-orang Arab Badui ada orang yang beriman kepada Allah dan hari
Kiamat, dan memandang apa yang dinafkahkannya itu sebagai jalan mendekatkannya
kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya
nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri. Kelak Allah akan
memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.” (Q.s. at-Taubah: 99).

 
Apa Saja yang Dinafkahkan di Jalan Allah akan Memperoleh Balasan yang Baik

 
Rahasia lain yang diungkapkan tentang membelanjakan harta seseorang di jalan Allah
menurut al-Qur’an adalah, bahwa apa saja yang dinafkahkannya itu pasti akan memperoleh balasan. Ini merupakan janji Allah. Orang-orang yang menafkahkan harta mereka di jalan Allah tanpa takut akan menjadi miskin, akan memperoleh rahmat yang menakjubkan dalam kehidupan mereka. Apa saja yang dibelanjakan di jalan Allah akan diganjar sepenuhnya. Sebagian ayat yang menceritakan janji tersebut adalah sebagai berikut:

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allahlah
yang memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang
kamu nafkahkan, maka pahalanya itu untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu
membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya.” (Q.s. al-Baqarah: 272).

 
“Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup
kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya.” (Q.s. al-Anfal: 60).

 
“Katakanlah,‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa saja yang
dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.’ Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Q.s. Saba’: 39).

 
Orang-orang yang beriman hanya mengharapkan keridhaan Allah dan surga ketika mereka
memberikan harta mereka; tetapi sebagai rahasia yang diungkapkan oleh Allah, apa saja yang
mereka nafkahkan akan dikembalikan lagi kepada mereka. Pengembalian ini merupakan rahmat di dunia, dan di atas segalanya, Allah menyediakan surga bagi orang-orang yang beriman. Dalam pada itu, berkebalikan dengan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, Allah akan mengurangi rezeki orang-orang yang bakhil dalam menafkahkan kekayaan mereka, atau orang yang suka mengumpulkan kekayaan yang lebih banyak dan mengabaikan batasan-batasan Allah. Salah satu ayat yang berkaitan dengan masalah ini menceritakan tentang keadaan orang-orang yang memakan riba:

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap
orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (Q.s. al-Baqarah: 276).

Allah memberitahukan tentang keberuntungan yang akan didapatkan oleh orang-orang yang
memberikan harta mereka sebagai berikut:

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan
sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah
melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi
Maha Mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah: 261).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan sedekahmu dengan
menyebut-nyebutnya dan menyakitinya, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya
kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu
menjadilah ia bersih. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari
keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di
dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Q.s. al-Baqarah: 265).

Dalam setiap ayat tersebut terdapat rahasia yang diungkapkan Allah kepada orang-orang yang
beriman dalam al-Qur’an. Orang-orang yang beriman memberikan harta benda mereka hanya untuk mencari keridhaan dan rahmat Allah dan surga-Nya. Namun, menyadari tentang rahasia-rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an, mereka juga mengharapkan rahmat dan karunia Allah. Semakin

KITAB MADARIJUS SALIKIN SIRI 4 : HAKIKAT ASMA’ ALLAH

SIRI 4

IBNU QAYYIM AL JAUZIYYAH

Pembuktian asma' Allah yang lima (Allah, Ar-Rabb, Ar-Rahman, Ar-
Rahim dan Al-Malik), dilandaskan kepada dua dasar:

Dasar Pertama:

Asma' Allah menunjukkan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Asma' ini
merupakan sifat, yang semuanya baik, husna. Sebab jika asma' itu hanya
sekedar lafazh yang tidak mempunyai makna apa pun, maka ia tidak bisa
disebut husna dan tidak menunjukkan kesempurnaan, lalu akan terjadi
kerancuan antara dendam dan marah yang menyertai rahmat dan ihsan,
sehingga kalau berdoa kita harus mengucapkan, "Ya Allah, sesungguh-nya
aku menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah aku karena Engkau
pendendam". Penafian makna Asma'ul-husna termasuk kufur yang terbesar.
Jika Allah mensifati Diri-Nya Al-Qawiyyu, berarti memang Dia benarbenar
mempunyai kekuatan. Begitu pula sifat-sifat lainnya.
Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,
beliau bersabda,
"Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak seharusnya Dia tidur. Dia
merendahkan timbangan dan meninggikannya. Amalpada malam hari
disampaikan kepada-Nya sebelum siang hari, dan amal slang hari disampaikan
kepada-Nya sebelum malam hari. Hijab-Nya adalah cahaya,
yang andaikan hijab ini disingkap, maka kemuliaan Wajah-Nya benar-
benar membakar pandangan makhluk yang memandang-Nya."
Menafikan makna asma'-Nya juga termasuk kufur yang paling besar.
Gambaran kufur lainnya adalah menamakan berhala dengan asma'
Allah, sebagaimana mereka menamakannya alihah (sesembahan). Ibnu
Abbas dan Mujahid berkata, "Mereka mengambil asma' Allah lalu menamakan
berhala-berhala mereka dengan asma'-Nya, dengan sedikit mengurangi
atau menambahi. Mereka mengambil nama Lata dari Allah, Uzza
dari Al-Aziz, Manat dari Al-Mannan."


Dasar Kedua:

Satu dari berbagai asma' Allah, di samping menunjukkan kepada
Dzat dan sifat yang disesuaikan dengannya, maka ia juga menunjukkan
dua bukti lainnya yang sifatnya kandungan dan keharusan. As-Sami'
menunjukkan kepada Dzat Allah dan pendengaran-Nya, juga kepada Dzat
semata dan kepada pendengaran yang menjadi kandungannya. Begitu pula
sifat-sifat lainnya.
Jika sudah ada kejelasan tentang dua dasar ini, maka asma' Allah
menunjukkan kepada keseluruhan Asma'ul-husna dan sifat-sifat yang
tinggi. Hal ini menunjukkan kepada Ilahiyah-Nya, dengan penafian kebalikannya.
Maksud sifat-sifat Ilahiyah adalah sifat-sifat kesempurnaan, yang
terlepas dari penyerupaan dan permisalan, aib dan kekurangan. Karena
Allah menambahkan semua Asma'ul-husna ke asma'-Nya yang agung ini
(Allah).
Asma' "Allah" layak untuk semua makna Asma'ul-husna dan menunjukkan
kepadanya secara global. Sedangkan Asma'ul-husna itu sendiri
merupakan rincian dari sifat-sifat Ilahiyah yang berasal dari asma'"Allah".
Asma' "Allah" menunjukkan keadaan-Nya sebagai Dzat yang disembah.
Semua makhluk menyembah-Nya dengan penuh rasa cinta, pengagungan
dan ketundukan. Hal ini mengharuskan adanya kesempurnaan Rububiyah
dan rahmat-Nya, yang juga mencakup kesempurnaan kekuasaan dan puji-
Nya.
Sifat keagungan dan keindahan lebih dikhususkan untuk nama
"Allah". Perbuatan, kekuasaan, kesendirian-Nya dalam memberi manfaat
dan mudharat, memberi dan menahan, kehendak, kesempumaan kekuatan
dan penanganan urusan makhluk, lebih dikhususkan untuk nama " Ar-
Rabb". Sifat ihsan, murah hati, pemberi dan lemah lembut lebih dikhususkan
untuk nama "Ar-Rahman". Masing-masing disesuaikan dengan kaitan sifat.
Ar-Rahman artinya yang memiliki sifat rahmat. Sedang-kan Ar-Rahim
adalahyang mengasihi hamba-hamba-Nya. Karena itu dik-takan dalam firman-
Nya, "Dia Ar-Rahim (Maha Pengasih) terhadap hamba-hamba-Nya", dan
tidak dikatakan, "Ar-Rahman (yang memiliki sifat rahmat) terhadap
hamba-hamba-Nya".
Perhatikanlah kaitan penciptaan dan urusan dengan tiga asma' ini,
yaitu Allah, Ar-Rabb dan Ar-Rahman, yang dari tiga asma' ini ada penciptaan,
urusan, pahala dan siksa, bagaimana makhluk dihimpunkan dan
dipisah-pisahkan.
Asma' Ar-Rabb memiliki cakupan yang menyeluruh terhadap semua
makhluk. Dengan kata lain, Dia adalah pemilik segala sesuatu dan
penciptanya, yang berkuasa terhadapnya dan tidak ada sesuatu pun yang
keluar dari Rububiyah-Nya. Siapa pun yang ada di langit dan bumi merupakan
hamba-Nya, ada dalam genggaman dan kekuasaan-Nya. Mereka
berhimpun berdasarkan sifat Rububiyah dan berpisah dengan sifat Ilahiyah.
Hanya Dialah yang disembah, kepada-Nya mereka tunduk, bahwa
Dialah Allah yang tidak ada sesembahan selain-Nya. Ibadah, tawakal,
berharap, takut, mencintai, pasrah, tunduk tidak boleh diperuntukkan
kecuali bagi-Nya semata.
Berangkat dari sinilah manusia terbagi menjadi dua golongan: Golongan
orang-orang musyrik yang berada di neraka, dan golongan orangorang
muwahhidin yang berada di surga. Yang membuat mereka terpi-sah
adalah Ilahiyah, sedangkan Rububiyah membuat mereka bersatu. Agama,
syariat, perintah dan larangan berasal dari sifat Ilahiyah. Penciptaan,
pengadaan, penanganan urusan dan perbuatan berasal dari sifat Rububiyah.
Pahala, balasan, siksa, surga dan neraka berasal dari sifat Al-Malik. Artinya,
Dialah yang menguasai hari pembalasan. Dia memerin-tahkan mereka
berdasarkan Ilahiyah-Nya, menunjuki dan menyesatkan mereka berdasarkan
Rububiyah-Nya, memberi pahala dan siksa berdasarkan kekuasaan dan
keadilan-Nya. Setiap masalah ini tidak bisa dipisah-kan dari yang lain.
Disebutkannya asma'-asma' ini setelah al-hamdu (pujian) dan pengaitan
al-hamdu dengan segala cakupannya, menunjukkan bahwa memang
Dia adalah yang terpuji dalam Ilahiyah-Nya, terpuji dalam Rububiyah-
Nya, terpuji dalam Rahmaniyah-Nya, terpuji dalam kekuasaan-Nya, Dia
adalah sesembahan yang terpuji, ilah dan Rabb yang terpuji, Rahman yang
terpuji, Malik yang terpuji. Dengan begitu Dia memiliki seluruh
kesempumaan; kesempumaan dalam asma' Allah secara sendirian dan
kesempumaan dalam asma'-asma' lainnya secara sendirian serta kesempumaan
dalam penyertaan satu asma' dengan asma' lain. Karena itu sering
disebutkan dua asma' secara berurutan, seperti: Wallahu ghaniyyun hamid,
-wallahu alimun hakim, wallahu ghafurur rahim. Al-Ghaniyyu merupakan
sifat kesempurnaan dan Al-Hamid merupakan sifat kesempurnaan
pula. Penyertaan dua asma' ini merupakan kesempurnaan-Nya, begitu
pula penyertaan sifat-sifat yang lain.

Selasa, 28 Ogos 2012

54 RIBU KALI LATIHAN DALAM SHALAT

Baik secara individu maupun secara institusi, pelatihan saat ini menjadi sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakat luas sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Tetapi sebetulnya ada semacam pelatihan yang sangat diperlukan oleh manusia sebagai bahagian dari masyarakat luas. Yang dengan pelatihan tersebut insya Allah manusia akan meningkat derajatnya baik di dunia ini, maupun di akhirat nanti.

Pelatihan tentang apa? iaitu tentang kejujuran. Sebab masalah kejujuran sekarang ini menjadi sangat langka. Semua orang kepingin jujur, tetapi ketika terbentur pada sesuatu, mereka lebih baik memilih sikap tidak jujur. Padahal semua orang mengerti bahwa tidak jujur atau dusta, atau bohong adalah salah satu dari sifat yang dibenci oleh Allah.

Kata Rasulullah saw ;
Empat macam sifat, siapa yang ada padanya keempat macam sifat itu, maka ia betul-betul munafik tolen. Siapa yang ada padanya salah satu sifat itu, ia mempunya sifat nifaq, sampai ia meninggalkannya. Keempat macam sifat itu ialah Jika berkata ia bohong atau dusta, jika berjanji ia menyalahi janji, jika akad ia cidera, dan jika berdebat ia curang.
(HR. Bukhari, Muslim)

Berkatalah yang benar, karena benar itu akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menuntun ke dalam surga. Berhati-hatilah terhadap dusta, karena dusta itu menuntun kepada curang, dan curang itu akan menuntun ke dalam neraka....
(HR. Bukhari, Muslim)

Tentu yang dimaksud dengan perkataan benar tersebut adalah perkataan yang bukan dusta, yang bukan bohong. Artinya seseorang haruslah berlaku jujur. Bagaimana seseorang agar terus terpelihara kejujurannya?

Marilah kita lihat perilaku shalat kita. Shalat yang dicontohkan dan diajarkan oleh junjungan kita rasulullah saw, adalah begitu indahnya, begitu bermaknanya. Mulai dari gerakan-gerakannya, sampai dengan do'a-do'a yang diucapkan sungguh sangat sesuai.

Shalat memiliki sembilan gerakan. Terdiri dari delapan gerakan fisik dan satu gerakan metafisik. Gerakan-gerakan itu ialah :
1. Takbiratul ihram ( fisik )
2. Menundukkan kepala ( fisik )
3. Tangan bersedakap ( fisik )
4. Harmonisasi indera dan hati ( meta fisik )
5. I'tidal ( fisik )
6. Rukuk ( fisik )
7. Sujud ( fisik )
8. Duduk bersimpuh ( fisik )
9. Salam ( fisik )

Dalam gerakan yang ke empat, terjadi harmonian gerakan yang sangat halus dan indah. Di sini terjadi perpaduan antara panca indera dan qalbu yang menyatu membentuk perilaku khusyu'

Setelah melakukan gerakan ke satu, dua dan tiga, maka bersamaan dengan memulainya shalat, panca indra seseorang yang sedang khusyu' juga bergerak dengan halus dan lembut agar tercapai suatu keadaan yang tenang, damai dan teduh dalam audensinya dengan Allah Swt.

Dalam gerakan yang sangat lembut ini semua panca indra dan qalbu berpadu meyakini do'a yang diucapkan oleh bisikan bibir, mulai dari takbiratul ihram, do'a iftitah, bacaan umul kitab, ayat-ayat al-qur'an, sampai kepada salam di akhir shalat.

Disinilah terjadi perpaduan yang sangat harmonis dan sangat indah, yang menimbulkan kekuatan luar biasa, bagaikan manusia yang bisa bergerak laksana cahaya untuk menuju Allah. Sehingga jarak yang jauh antara seorang hamba dengan Khaliqnya bisa ditempuh dengan begitu cepatnya. Jarak yang semula dianggap jauh oleh manusia, dengan kekhusyu'an shalat, manusia bisa " bertemu" dengan Allah dengan cepat karena jarak antara seorang hamba dengan sang Khaliq menjadi begitu dekatnya.

QS. Al – Baqarah : 186
Dan apabila hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku memperkenankan permohonan seseorang bila ia memohon kepadaKu. Karena itu hendaklah ia mentaati segala perintahKu dan beriman kepadaKu, semoga la selalu dalam kebenaran.

QS. Al- Waqi'ah : 85
Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat.

QS. Qaf : 16
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.

Mari kita renungkan, manfaat apa yang dapat kita ambil dari gerakan harmoni tersebut? Tiada lain adalah tentang nilai KEJUJURAN.

Seorang yang khusyu' dalam shalatnya, ialah yang bisa memadukan gerakan bathinnya dan gerakan panca inderanya yang menyatu dan dipersembahkan hanya untuk Allah Swt.

Dan apabila dalam kehidupan sehari-hari "pelatihan kejujuran" ini diterapkan dengan sebaik-baiknya, tentulah sangat indah kehidupan seeorang. Apa yang diucapkan selalu sama dengan hatinya, apa yang dilihatnya selalu sama dengan apa yang didengarnya, sehingga dalam kehidupannya seseorang akan memegang nilai kejujuran dengan sepenuh hatinya.

Perhatikanlah gerakan–gerakan dalam shalat yang khusyu'. Ketika bibir berbisik memanjatkan do'a-do'a dalam shalat, maka :
Hati nurani mendengarkan dan sekaligus membenarkan setiap ucapannya. Bersamaan itu telinga mendengarkan dengan seksama. Pada saat itu pula mata tunduk tawadhu' takut akan siksaNya. Dan pada saat itu pula nafas bergetar halus mengikuti ritme pujian do'a yang sangat agung dan indah. Dan pada saat itu pula seluruh perasaannya tenteram, teduh dan tenang, sebuah gambaran jiwa yang muthmai'nah.

Pelajaran yang sangat berharga dari gerakan ini ialah, bahwa setiap apa yang diucapkan oleh mulut, akan dibenarkan oleh hati. Dan kemudian disaksikan oleh mata, pendengaran maupun hirupan setiap nafasnya.

Ertinya, seorang muslim setiap ia melakukan shalat diajari dan dilatih oleh shalatnya untuk melakukan kejujuran. Apa saja yang disaksikan oleh mata dan telinganya pastilah akan sama dengan apa yang diucapkan bibirnya, yang sekaligus akan dibenarkan pula oleh qalbunya.

Agar lebih terasa dan lebih bermakna pelajaran tersebut, marilah kita berhitung. Misalnya, seorang muslim yang sudah berusia 40 tahun, apabila ia melakukan shalat secara rutin sejak umur 10 tahun, maka untuk shalat wajib saja dapat dihitung sebagai berikut :
Pada saat ia berusia 40 tahun, berarti ia telah melakukan shalat selama 30 tahun. Jika dihitung maka ia telah melakukan shalat wajib sebanyak,
 
30 X 360 hari X 5 waktu = 54.000 kali.
Artinya ketika ia sudah berumur 40 tahun, ia telah diberi pelajaran dan dilatih oleh shalatnya tentang KEJUJURAN sebanyak 54.000 kali, selama 30 tahun, subhaanallah ......

Ironisnya, banyak sekali orang yang berusia 40 tahun bahkan lebih tua lagi, ia masih bisa mengatakan putih, padahal mata dan pendengarannya menyaksikan bahwa itu sebenarnya hitam. Kadang mulut mengatakan "tidak ada", padahal pandangannya baru saja menyaksikan "ada"

Rasanya kita sudah cukup fantastik mengikuti "PELATIHAN" sebanyak 54. 000 kali dalam waktu 30 tahun,...subhaanallah..

Ssemoga dengan menyadari akan hal ini kita semua akan kembali pada fitrah kita sebagai manusia yang tawadhu' dan menjunjung tinggi nilai kejujuran. Kata Rasulullah saw : " ...berkatalah yang benar, jika tidak dapat maka diamlah, karena ltulah yang akan lebih menyelamatkan kamu..."

RAHSIA HATI KITA : TANDA-TANDA HATI KITA KERAS

Hati adalah sumber ilham dan pertimbangan. Ia juga adalah tempat lahirnya cinta dan benci, keimanan dan kekufuran, taubat dan sikap degil serta ketenangan dan kebimbangan.

Hati merupakan sumber kebahagiaan jika kita mampu membersihkannya namun sebaliknya ia merupakan sumber bencana jika kita gemar menodainya. Aktiviti yang dilakukan sering berpunca daripada lurus atau bengkoknya hati.

Abu Hurairah r.a. berkata, "Hati adalah raja, sedangkan anggota badan adalah tentera.
Jika raja itu baik, maka akan baik pula lah tenteranya. Jika raja itu buruk, maka akan buruk pula tenteranya".

Hati yang keras mempunyai tanda-tanda yang boleh dikenali, di antara yang terpenting adalah seperti berikut:

1. Malas melakukan ketaatan dan amal kebajikan

Terutamanya malas untuk melaksanakan ibadah, malah mungkin memandang ringan. Misalnya tidak serius dalam menunaikan solat, atau berasa berat dan enggan melaksanakan ibadah-ibadah sunat.

Allah telah menyifatkan kaum munafik dalam firman-Nya yang bermaksud, "Dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan." (Surah At-Taubah, ayat 54)

2. Tidak berasa gerun dengan ayat al-Quran

Ketika disampaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan janji dan ancaman Allah, hatinya tidak terpengaruh sama sekali. Mereka juga lalai daripada membaca al-Quran serta mendengarkannya. Bahkan enggan dan berpaling daripadanya.

Sedangkan Allah S.W.T memberikan peringatan, "Maka beri peringatanlah dengan al-Quran orang yang takut dengan ancaman-Ku." (Surah Al-Qaf, ayat 45)

3. Berlebihan mencintai dunia dan melupakan akhirat

Segala keinginannya tertumpu untuk urusan dunia semata-mata. Segala sesuatu ditimbang dari segi keperluan dunia. Cinta, benci dan hubungan sesama manusia hanya untuk urusan dunia sahaja. Penghujungnya jadilah dia seorang yang dengki, ego, individulistik, bakhil serta tamak terhadap dunia.

4. Kurang mengagungkan Allah

Sehingga hilang rasa cemburu dalam hati, kekuatan iman menjadi lemah, tidak marah ketika larangan Allah diperlekehkan orang lain, tidak mengamal yang makruf serta tidak peduli terhadap segala kemaksiatan dan dosa.


MAKTUBAT IMAM RABBANI : SHARIAT SAYYIDINA MUHAMMAD SAW ADALAH INTIPATI SEMUA SHARIAT


 SURAT IMAM AHMAD SIRHINDI (PENDIRI TAREKAT NAQSYABANDIYYAH MUJADIDIYYAH)

 JILID PERTAMA - SURAT KE-79

MAKTUBAT IMAM RABBANI

Surat ini, ditulis kepada Jabbari Khan, kata Din yang cemerlang ini telah membawa semua Din yang lalu bersama-sama dan mematuhi Din ini bermakna patuhi semua Din yang sebelumnya.

Semoga Allahu Ta'ala memberkati kami dengan banyak mematuhi Shariat cemerlang yang dibawa oleh Sayyidina Muhammad (SALL Allahu 'alaihi wa sallam), membuat kemajuan dalam perjalanan ini benar, sekali gus mencapai persetujuan dan cintaNya! Allahu Ta'ala telah terkumpul semua (bayang-bayang) yang paling matang dan atasan Nama-Nya dan sifat-sifat di Hadrat Muhammad (SALL Allahu 'alaihi wa sallam), yang adalah hamba-Nya yang paling tercinta dilahirkan dan RasulNya. Semua sifat-sifat ini atasan muncul kepadanya dalam apa cara yang sesuai dengan seorang hamba yang dilahirkan. Buku apa yang diturunkan kepadanya, Al-Quran, adalah intipati semua buku-buku yang telah diturunkan kepada semua Nabi-nabi lain. Apa yang telah diisytiharkan dalam semua mereka wujud di dalamnya juga. Shariat yang telah diberikan kepada Nabi besar ini adalah seperti krim diekstrak dari semua Shariats lalu. Tiap-tiap tindakan yang diisytiharkan oleh Shariat ini benar dan soleh telah dipilih dan diperolehi daripada tindakan dan perbuatan yang telah diisytiharkan dalam Shariats sebelumnya. Selain itu, terdapat perbuatan yang dipilih atau diperolehi dari tingkah laku malaikat. Sebagai contoh, satu kumpulan malaikat diperintahkan untuk melakukan RUKUK [rukuk semasa solat namaz.].

Ramai daripada mereka telah diperintahkan supaya sujud, dan beberapa yang lain diperintahkan untuk menunaikan qiyam, yang menyembah oleh kedudukan. Begitu juga, beberapa daripada Ummats lepas hanya diperintahkan untuk melaksanakan solat pagi. Lain diperintahkan untuk menunaikan solat masa-masa lain. Apa yang ditapis dan dipilih daripada ibadat dan perbuatan yang Ummats lepas dan malaikat lebih dekat kepada Allahu Ta'ala telah dimasukkan ke dalam 

Din ini. Atas sebab ini, untuk mengesahkan, untuk mempercayai ini Din dan mematuhi arahan ini Din akan bermakna untuk mengesahkan dan patuhi semua Din lalu. Ini bermakna untuk mengatakan bahawa orang-orang yang menepati ini Din akan menjadi pemurah yang paling dan terbaik daripada Ummats. Dan sesiapa yang ingkar dan tidak suka ini Din dan yang enggan mematuhi yang beriman serta taat tiada Dins sebelumnya. Dengan cara yang sama, orang yang ingkar Hadrat Muhammad (SALL Allahu 'alaihi wa sallam) dan yang bercakap sakit Nabi yang hebat, yang tertinggi dari semua orang dan umat pilihan yang baik, akan mengingkari perfectness yang dan keunggulan Nama-nama dan sifat-sifat Allahu Ta'ala. Untuk mempercayai 'alaihi-s-salatu wa-s-salam' Rasulullah, untuk merealisasikan keunggulan bermakna sedar dan percaya dalam semua sifat-sifat atasan. Ini bermakna untuk mengatakan bahawa orang yang tidak percaya ini Nabi dimuliakan dan yang tidak suka Din, yang ia dibawa, adalah yang paling teruk, yang basest ummats dan orang. Ia telah diisytiharkan dalam ayat 98 surah-ul-Tawba: "kekufuran dan irreligiousness yang mereka yang buta huruf adalah lebih keras daripada orang lain."

Maksud dua syair Parsi:
Muhammad ('alaihi's-salam), yang dilahirkan di Saudi,
Beliau yang dikasihi di sini dan di akhirat!
Membiarkan mereka menjadi bawah tanah, hancur, hancur
Jika tidak mahu menjadi debu dan tanah pintu!
Terima kasih kepada Allahu Ta'ala, yang menghantar semua rahmat dan pertolongan, untuk ia dilihat yang anda suka dan teliti beriman ini Shariat dan Rasul (Sayyidina Muhammad), dan bahawa kamu bertaubat untuk tingkahlaku yang tidak sesuai anda. Mei Allahu Ta'ala meningkatkan kesedaran ini kamu! Amin.

Terima kasih adalah untuk Allahu Ta'ala bahawa kepercayaan yang sangat baik dan pemikiran untuk Islam dan untuk pemilik (alaihissalatu wassalamu wattahiyya) dilihat pada anda sangat mudah, dan taubat yang berterusan bagi perbuatan yang tidak sesuai anda jatuh ke dalam banyak anda. Semoga Allahu Ta'ala memberikan anda lebih.

Kedua, saya ingin menambah bahawa Shaikh Mustafa, yang telah membawa surat ini kepada anda, datang dari keluarga Qadi Sharih. Kanak-kanak daripada keluarga yang tulen telah mencintai dan dihormati di negara ini. Material, mereka telah membawa kehidupan yang mudah. Shaikh Mustafa, yang disebut di atas, tidak mempunyai gaji. Atas sebab ini, beliau dalam perjalanan ke arah menjadi seorang askar. Beliau mempunyai kertas yang perlu rasmi dengan dia. Adalah diharapkan bahawa dia akan menghapuskan masalah ini dengan bantuan anda dan mendapatkan ketenangan jiwa. Biar saya tidak memberikan anda sakit kepala dengan menulis lebih. Beritahu wazir besar masalah itu tepat dan meminta beliau untuk menyelesaikan bahawa dia akan menyingkirkan perselisihan ini dan mempunyai ketenangan dalaman. Wassalam wal Iqram.

MAKTUBAT IMAM SIRHINDI : UBAT TERBAIK UNTUK MENULENKAN HATI ADALAH MEMATUHI SHARIAT (MAKTUBAT IMAM RABBANI)


SURAT IMAM AHMAD SIRHINDI RABBANI (PENDIRI TAREKAT NAQSYABANDIYYAH MUJADIDIYYAH)


JILID  1, SURAT 42

Ubat yang terbaik untuk menulenkan hati adalah mematuhi  Shariat


Surat Ini, ditulis kepada Shaikh Darwish, menerangkan bahawa ubat yang terbaik untuk membersihkan karat mencintai orang lain dari hati adalah untuk berpegang kepada saniyya Sunnat-i
​​(Shariat).
Moga Allahu Ta'ala memberi anda keselamatan! Selagi sebagai seorang yang masih disertakan dengan pelbagai perkara hatinya tidak boleh disucikan.
Selagi ia masih busuk ia akan kekal kehilangan dan jauh dari kebahagiaan. Cintakan perkara-perkara lain daripada Allahu Ta'ala adalah titik hitam dalam hati kamu, yang dipanggil Haqiqat-i-Jamia [Bahawa yang telah terkumpul segala-galanya dalam dirinya sendiri.]. Noda ini perlu dibersihkan.
Pembersih terbaik untuk diikuti, untuk mentaati, Sunnat-i ​​saniyya-i Mustafawiyya (ala masdariha-ssalatu adalah-salami wattahiyya). Berikutan saniyya Sunnat-i ​​menghapuskan dengan tabiat dan keinginan nafs yang menyebabkan hati menjadi gelap.
Betapa bertuahnya bagi mereka yang berbangga dengan menerima berkat ini! Malu apabila orang-orang yang tidak berpeluang untuk nasib tinggi ini! Moga Allahu Ta'ala memberi keselamatan kepada anda dan kepada orang-orang yang mengikuti jalan yang benar!
[Perkataan "Sunnat" mempunyai tiga makna dalam agama kita. Apabila "Buku dan Sunnat" dikatakan bersama-sama, "Kitab" ertinya "al-Quran" dan "Sunnat" ertinya "hadis-hadis."
Apabila disebut sebagai "Fard dan Sunnat" Fard bermaksud "perintah Allah" dan "Sunnat" ertinya " Sunnat Nabi, iaitu, perintahnya".
 Apabila perkataan "Sunnat" digunakan secara bersendirian, ia bermakna "Shariat, iaitu, semua kaedah-kaedah Islam".
Buku fiqh mengatakan bahawa ini adalah demikian. Sebagai contoh, ia ditulis dalam buku Mukhtasar al-Quduri, "Sesiapa yang mengetahui Sunnat terbaik menjadi imam [Apabila umat Islam melaksanakan namaz dalam jemaah (Jamaat), salah seorang daripada mereka membawa, menjalankan namaz Beliau dipanggil imam. ].
" Dalam menjelaskan hal ini, Kitab Jawhara  berkata, "Di sini, 'Sunnat' bermaksud 'Islam."
Adalah difahamkan bahawa adalah perlu untuk mematuhi Islam untuk menulenkan qalbu Mentaati Shariat bermakna melakukan perintah-perintah dan menjauhkan diri dari larangan dan bidaah
Bidaah bermaksud sesuatu yang dicipta selepas itu. Mengadakan  perkara-perkara yang tidak wujud semasa zaman Nabi dan 'Anhum Radi-Allahu' khalifah empat yang telah direka dan dilakukan di atas nama ibadat. Sebagai contoh, ia adalah perlu untuk membaca (dipanggil ayat) Ayat-al-Kursi [Ayat di dalam Al-Qur'an dipanggil ayat. Terdapat 6236 ayat di dalam Al-Quran. "Ayat-ul-kerusi" adalah salah satu daripada mereka.
Ia menerangkan kebesaran Allah dan bahawa kuasa-Nya adalah tak terhingga.] Serta-merta selepas namaz (solat lima waktu dipanggil), ia adalah bidaah untuk membaca (sembahyang diistilahkan) ['Solatan Tunjina' solat perkataan bermakna kedua-dua namaz dan doa.
Orang Islam menghantar doa-doa mereka kepada Allah supaya pangkat Nabi akan naik dan beliau akan diberi lebih rahmat.
Solat sedemikian itu dipanggil solat, terlalu. Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berdoa demikian.
Dia menyelamatkan mereka daripada masalah. Solatan Tunjina bermakna untuk meminta satu rahmat kepada Nabi untuk menyingkirkan masalah.] Atau untuk mengatakan solat lain.
Ini mesti akan dibacakan selepas Ayat-ul-Kursi dan memberitahu  tasbihs [Selepas namaz, adalah tabiat Rasulullah saw, jadi ia adalah Sunnat, membaca "Ayat-ul-kerusi", sekali, untuk mengatakan "Subhanallah" 33 kali , yang bermaksud, 'tidak ada kecacatan kepada Allah, "alhamdulillah" 33 kali, yang bermaksud,' hamd, , syukur yang dilakukan kepada semua orang telah dilakukan kepada-Nya, kerana Dialah yang Satu-satunya yang menghantar memihak kepada  ' "Allahu akbar" 33 kali, yang bermaksud, 'kebesaran Allah tidak boleh difahami melalui fikiran, melalui pengetahuan atau melalui fikiran.'
Prosedur ini dipanggil "memberitahu tasbihs seseorang itu," atau mengira manik pada tasbih 3x33 = 99 manik.]. Ia adalah bidaah sujud dan kemudian selepas tamat namaz dan berkata dua (peribadi, doa individu.) Ia adalah bidaah untuk memanggil azan [Pada waktu solat yang ditetapkan, (pagi, tengahari, petang, petang dan malam), seorang Muslim pergi ke menara dan menyeru semua umat Islam untuk berdoa.
Ini dipanggil "azan"] melalui pembesar suara. Setiap jenis perubahan dan pembaharuan dalam agama adalah bidaah. Sebaliknya, ia tidak bidaahuntuk menggunakan garpu dan sudu, memakai hubungan, untuk minum kopi atau teh, atau untuk menghisap rokok, kerana mereka tidak memuja, tetapi tabiat, dan mereka adalah mubah.
Mereka tidak haram. Kenyataan yang dibuat oleh ulama-ulama Islam mengenai merokok disebut dan diterangkan secara terperinci dalam buku (Turki) Se'adet-i ebediyye.
Terdapat tiga jenis bidaah:
1 - Ia adalah bidaah terburuk menggunakan perkara-perkara yang Islam berkata adalah simbol kekufuran.
2 - Jenis-jenis kepercayaan yang tidak mematuhi dengan apa yang ulama Ahl as-Sunnat berkomunikasi juga bidaah buruk.
3 - Pengubahsuaian dan pembaharuan yang dilakukan sebagai ibadat bidaah dan dosa-dosa kubur].