Catatan Popular

Isnin, 26 Februari 2018

KITAB MADARIJUS SALIKIN SIRI 38 : TAHDZIB DAN TASHFIYAH


TEMPAT-TEMPAT PERSINGGAHAN IYYAKA NABUDU WA IYYAKA NASTAIN

IMAM IBN QAYYIM AL JAUZIYAH

Tahdzib dan tashfiyah ini artinya melebur ubudiyah dalam tungku ujian, untuk menghilangkan segala kotoran dan kerak yang ada di dalamnya.
Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Tahdzib merupakan ujian bagi para pemula, yang merupakan salah satu aturan dalam riyadhah." Artinya, tahdzib ini cukup sulit bagi pemula, yang bisa diibaratkan ujian bagi-nya.

Tapi tahdzib ini merupakan jalan bagi orang-orang yang sudah melatih dirinya, sehingga mereka sudah terbiasa dengannya.
Menurutnya, tahdzib ini ada tiga derajat: 

1. Mendidik pengabdian, tidak memenuhinya dengan kebodohan, tidak mencampurinya dengan kebiasaan dan tidak menghentikan hasrat. Artinya, pengabdian harus dibersihkan dan dibebaskan dari tiga perkara ini: Memenuhinya dengan kebodohan, mencampurinya dengan kebiasaan dan menghentikan hasrat. Selagi kebodohan memenuhi ubudiyah, maka seorang hamba akan mendatangkan sesuatu yangtidak layak untuk didatangkan kepada ubudiyah, meletakkannya tidak pada tempatnya, mengerjakannya tidak seperti lazimnya, melakukan perbuatan-perbuatan yang diyakininya baik, padahal itu justru merusak pengadian dan ubudiyahnya. Jika pengabdian tidak disertai ilmu,maka ia akan menyimpang dari adab dan hak-haknya, yang justru bisa menjauhkan pelakunya, sekalipun sebenarnya dia bermaksud mendekatkan dirinya. Kalaupun dia tetap mendapatkan pahala dan balasannya, tapi minimal akan menjauhkan dirinya dari kedudukan taqarrub. Ubudiyah juga bisa dicampuri kebiasaan yang senantiasa dilakukan,yang kemudian kebiasaan ini dianggap sebagai taqarrub atau ketaatan, seperti seseorang yang terbiasa berpuasa dan dia terus-menerusberpuasa. Kemudian dia mengira bahwa kebiasaannya ini dianggap sebagai ubudiyah. Tandanya yang paling nyata, jika dia ditawari untuk melakukan ketaatan yang lebih ringan dan lebih mudah serta lebih nyata kemaslahatannya, maka dia menolaknya dan meremehkan-nya, karena dia sudah terbiasa berpuasa terus-menerus. 

Padahal ini hanya sekedar kebiasaan semata.Tanda menghentikan hasrat dalam pengabdian ialah melemahnya hasrat itu. Seorang hamba yang murni dan tulus tidak akan berhentimengabdi. Bahkan hasratnya lebih tinggi dari sekedar pengabdian,yaitu mendapatkan keridhaan tuannya. Jika hasrat hamba berhenti,maka akan merendahkan kedudukannya.

2. Mendidik keadaan, yaitu tidak mencondongkan keadaan kepada ilmu, tidak tunduk kepada rupa dan tidak menengok ke bagian.
Mencondongkan keadaan kepada ilmu ada dua macam: Terpuji dan tercela. Yang terpuji ialah memperhatikan apa yang diperintahkan ilmudan mengangkat ilmu sebagai hakim atas keadaan. Jika tidak adakecenderungan seperti ini, maka itu merupakan kecondongan yangtercela dan menjauhkan pelakunya dari Allah. Setiap keadaan yangtidak disertai ilmu, bisa dikhawatirkan merupakan tipuan syetan danjustru menjauhkannya dari Allah, karena dia tidak menghakimikeadaan dengan ilmu, hingga akhirnya dia menyimpang dari hakikatiman dan syariat Islam. Mereka inilah seperti yang dikatakan Al-Junaidbin Muhammad, yaitu ketika ada seseorang yang mengatakan kepadanya, bahwa di antara ahli ma'rifat ada yang tidak mau beramalkarena menganggapnya sebagai pengabdian dan taqarrub kepada Allah. 

Maka Al-Junaid berkata, "Ini adalah anggapan orang-orang yangmembebaskan amal anggota tubuh. Bagi saya ini merupakan masalahyang sangat besar. Orang yang mencuri dan berzina, jauh lebih baikkeadaannya daripada orang-orang ini. Sebab orang yang memilikima'rifat tentang Allah seharusnya mengambil amalan dari Allah danmengembalikan amal kepada-Nya. Andaikan saya hidup seribu tahun,maka saya tidak akan mengurangi pengabdian sedikit pun, kecuali jika memang saya tidak sanggup lagi mengerjakannya." Dia juga pernah berkata, "Semua jalan terhalang dari manusia, kecuali orang yangmengikuti jejak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam." Ada punkekeliruan yang mereka lakukan, karena hukum-hukum ilmu dikaitkan dengan ilmu, dan hukum-hukum keadaan dikaitkan dengan pengungkapan batin. Orang yang mengandalkan keadaan tidak bera-dadalam lingkup ilmu dalam menghadapi berbagai hal. 

Jika digunakantimbangan ilmu, muncul pertentangan antara ilmu dan keadaan. Sementara tidak ada hukum untuk menggugurkan salah satu di antara keduanya. Maka barangsiapa telah mencapai tingkatan pengungkapan batin, namun kemudian dia cenderung kepada hukum-hukum ilmu, berarti dia dipaksa untuk mundur ke belakang. Perhatikanlah ungkapan dan syubhat yang mengandung racun yang ganas ini, yang dapat mengeluarkan pelakunya dari ma'rifat dan agama tanpa terasa, seperti sehelai rambut yang ditarik dari tepung. Ketahuilah bahwa ma'rifat yang benar adalah ruh ilmu, dan keadaan yang benarmerupakan ruh amal yang lurus. Setiap keadaan yang bukan merupakanhasil amal yang lurus, sesuai dengan ilmu, maka keduduk-annya sepertiruh yang jahat. Memang tidak dipungkiri bahwa keadaan ruh ini bisabermacam-macam. Tapi yang harus dipertimbangkan adalah derajat dari keadaan itu. Selagi suatu keadaan bertentangan dengan salah satuhukum ilmu, maka keadaan itu rusak atau kurang dan sama sekali tidak lurus. Ilmu yang benar dan amal yang lurus merupakan timbangan ma'rifat yang benar dan keadaan yang benar. Keduanya seperti dua badan yang menjadi tempat ruh masing-masing. Tidak tunduk kepada rupa artinya tidak ada sedikit pun keduniaan yang menguasai hati dan hati itu tidak tunduk kepadanya. Orang yang mempunyai suatu keadaan hanya memohon kepada DzatYang Maha-hidup dan tidak selayaknya mengandalkan rupa-rupa yang gemerlap dari keduniaan.
Tidak menengok ke bagian artinya jika keadaan sudah menjadi sempurna, maka pelakunya tidak boleh larut dalam kegembiraan karenakeadaannya itu dan kenikmatannya, karena yang demikian ini merupakanbagian nafsu.

3. Mendidik tujuan, yaitu dengan membersihkannya dari kehinaan keterpaksaan,menjaganya dari penyakit loyo dan membantunya agar tidak terjebak dalam kontradiksi ilmu. Membersihkan tujuan dari kehinaan keterpaksaan artinya jangan lahdirinya digiring kepada Allah secara paksa, tak ubahnya buruh yang harus tunduk kepada juragan. Tapi seluruh relung hatinya dibawa kepada Allah dengan patuh, cinta dan suka, layaknya aliran air kepermukaan yang rendah. Inilah keadaan orang-orang yang mencinta secara tulus, bahwa ubudiyah mereka itu dilandasi cinta, ketaatan dan keridhaan, yang sekaligus merupakan kegembiraan, kesenangan hati dan kedamaian jiwa, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi waSallam,
"Dan, kegembiraanku dijadikan dalam shalat."
Begitu pula sabda beliau kepada Bilal, "Hai Bilal, buatlah kami beristirahatdengan shalat."
Tentang kehinaan paksaan di sini terkandung sentuhan makna yangamat lembut, bahwa orang yang taat karena terpaksa, melihat bahwa kalau tidak karena kehinaan paksaan dan hukuman tuannya, tentu dia tidak mau taat kepadanya. Dia membawa ketaatannya seperti orang yang hina di hadapan orang yang memaksanya. Berbeda dengan orang yang mencintai, yang menganggap ketaatan kepada kekasihnya se-bagai kekuatan dan kenikmatan serta tidak merasa hina sama sekali. Menjagatujuan dari penyakit loyo artinya menjaga agar tujuan itu tidakmelemah dan api pencariannya tidak padam. Hasrat merupakan ruhtujuan dan semangatnya seperti kesehatan. Sementara keloyoan-nya merupakan penyakit. Maka mendidik tujuan ialah menjaganya dari sebab-sebab penyakit.

Sedangkan membantu tujuan agar tidak terjebak dalam kontradiksi ilmu artinya membantu tujuan itu dengan penguasaan ilmu secaramen detail dan menghadapkan seluruh hati kepada Allah. Dengan kata lain, ilmu ini menuntut hamba untuk beramal, yang dilandasi ketaatan, suka rela, mengharapkan pahala dan takut akan siksa.

KITAB MADARIJUS SALIKIN SIRI 37 : IKHLAS


TEMPAT-TEMPAT PERSINGGAHAN IYYAKA NABUDU WA IYYAKA NASTAIN

IMAM IBN QAYYIM AL JAUZIYAH

Sehubungan dengan tempat persinggahan ikhlas ini Allah telah
befirman di dalam Al-Qur'an,
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah denganmemurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) aga-madengan lurus." (Al-Bayyinah: 5).
"Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) dengan(membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikanketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kcpunyaan Allahlah aga-mayang bersih (dari syirik)." (Az-Zumar: 2-3).
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa diantara kalian yang lebih baik amalnya." (Al-Mulk: 2).

Al-Fudhail berkata, "Maksud yang lebih baik amalnya di dalam ayatini adalah yang paling ikhlas dan paling benar."
Orang-orang bertanya, "Wahai Abu Ali, apakah amal yang paling
ikhlas dan paling benar itu?"Dia menjawab, "Sesungguhnya jika amal itu ikhlas namun tidakbenar, maka ia tidak akan diterima. Jika amal itu benar namun tidak ikhlas, maka ia tidak akan diterima, hingga amal itu ikhlas dan benar. Yang ikhlasialah yang dikerjakan karena Allah, dan yang benar ialah yang dikerjakanmenurut As-Sunnah." Kemudian dia membaca ayat,
"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, makahendaklah ia mengerjakan amal yangshalih dan janganlah iamempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya."(Al-Kahfi:110).
Allah juga telah befirman,
"Dan, siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlasmenyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakankebaikan?" (An-Nisa': 125).
Menyerahkan diri kepada Allah artinya memurnikan tujuan danamal karena Allah. Sedangkan mengerjakan kebaikan ialah mengikutiRasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Sunnah beliau.
Allah juga befirman,
"Dan, Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kamijadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan." (Al-Furqan: 23).
Amal yang seperti debu itu adalah amal-amal yang dilandaskanbukan kepada As-Sunnah atau dimaksudkan bukan karena Allah. NabiShallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada Sa'd bin AbiWaqqash,
"Sesungguhnya sekali-kali engkau tidak akan dibiarkan, hinggaengkau mengerjakan suatu amal untuk mencari Wajah Allah,melainkan engkau telah menambah kebaikan, derajat danketinggian karenanya."
Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Anas bin Malik RadhiyallahuAnhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Tiga perkara, yang hati orang Mukmin tidak akan berkhianat jika adapadanya: Amal yang ikhlas karena Allah, menyampaikan nasihat kepadapara waliyul-amri dan mengikuti jama'ah orang-orang Muslim,karena doa mereka meliputi dari arah belakang mereka."
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentangberperang karena riya', berperang karena keberanian dan berperang karenakesatriaan, manakah di antaranya yang ada di jalan Allah? Maka beliaumenjawab, "Orang yang berperang agar kalimat Allahlah yang palingtinggi, maka dia berada di jalan Allah."
Beliau juga mengabarkan tiga golongan orang yang pertama-tamadiperintahkan untuk merasakan api neraka, yaitu qari' Al-Qur'an, muja-hiddan orang yang menshadaqahkan hartanya; mereka melakukannya agardikatakan, "Fulan adalah qari', Fulan adalah pemberani, Fulan ada-lahorang yang bershadaqah", yang amal-amal mereka tidak ikhlas kare-naAllah.
Di dalam hadits qudsy yang shahih disebutkan,
"Allah befirman, 'Aku adalah yang paling tidak membutuhkan persekutuandari sekutu-sekutu yang ada. Barangsiapa mengerjakan suatuamal, yang di dalamnya ia menyekutukan selain-Ku, maka dia menja-dimilik yang dia sekutukannya dan Aku terbebas darinya'."
Di dalam hadits lain disebutkan,
"'Allah befirman pada hari kiamat, Pergilah lalu ambillah pahalamudari orang yang amalmu kamu tujukan. Kamu tidak mempunyai pahaladi sisi Kami'."
Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam, beliau bersabda,
"Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh kalian dan tidak pula rupakalian, tetapi Dia melihat hati kalian."
Banyak definisi yang diberikan kepada kata ikhlas dan shidq, namuntujuannya sama. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya menyendi-rikanAllah sebagai tujuan dalam ketaatan. Ada yang berpendapat, ikhlas artinyamembersihkan perbuatan dari perhatian makhluk. Ada yang berpendapat,ikhlas artinya menjaga amal dari perhatian manusia, termasuk pula dirisendiri. Sedangkan shidq artinya menjaga amal dari perhatian diri sendiri saja.
Orang yang ikhlas tidak riya' dan orang yang shadiq tidak ujub. Ikhlas tidakbisa sempurna kecuali dengan shidq, dan shidq tidak bisa sempurnakecuali dengan ikhlas, dan keduanya tidak sempurna kecuali dengansabar. Ada pula yang berpendapat, siapa yang mempersaksikan adanyaikhlas dalam ikhlas, berarti ikhlasnya membutuhkan ikhlas lagi.
Kekurangan orang yang mukhlis dalam ikhlasnya, tergantung daripandang-an terhadap ikhlasnya. Jika dia tidak lagi melihat ikhlasnya, makadialah orang yang benar-benar mukhlis. Ada pula yang berpendapat, ikhlasarti-nya menyelaraskan amal-amal hamba secara zhahir dan batin. Riya'ialah jika zhahirnya lebih baik daripada batinnya. Shidq dalam ikhlas ialahjika batinnya lebih semarak daripada zhahirnya.
Al-Fudhail berkata, "Meninggalkan amal karena menusia adalahriya'. Mengerjakan amal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlasialah jika Allah memberikan anugerah kepadamu untuk meninggalkankeduanya."
Al-Junaid berkata, "Ikhlas merupakan rahasia antara Allah danhamba, yang tidak diketahui kecuali oleh malaikat, sehingga dia menulisnya,tidak diketahui syetan sehingga dia merusaknya dan tidak pula diketahuihawa nafsu sehingga dia mencondongkannya."
Yusuf bin Al-Husain berkata, "Sesuatu yang paling mulia di duniaadalah ikhlas. Berapa banyak aku mengenyahkan riya' dari hatiku, tapiseakan-akan ia tumbuh dalam rupa yang lain."
Pengarang Manozi/us-Sa'irm berkata, "Ikhlas artinya membersihkanamal dari segala campuran." Dengan kata lain, amal itu tidak dicampurisesuatu yang mengotorinya karena kehendak-kehendak nafsu, entahkarena ingin memperlihatkan amal itu tampak indah di mata orang-orang,mencari pujian, tidak ingin dicela, mencari pengagungan dan san-jungan,karena ingin mendapatkan harta dari mereka atau pun alasan-alasan lainyang berupa cela dan cacat, yang secara keseluruhan dapat disatukansebagai kehendak untuk selain Allah, apa pun dan siapa pun.Menurut pengarang Manazilus-Sa'irin, ikhlas ini ada tiga derajat:1. Tidak melihat amal sebagai amal, tidak mencari imbalan dari amal dantidak puas terhadap amal.
Ada tiga macam penghalang dan perintang bagi orang yang beramaldalam amalnya: Pertama, pandangan dan perhatiannya. Kedua, keinginanakan imbalan dari amal itu. Ketiga, puas dan senang kepadan-ya.Yang bisa membersihkan hamba dari pandangan terhadap amalnya ialahmempersaksikan karunia dan taufik Allah kepadanya, bahwa amal itudatang dari Allah dan bukan dari dirinya, kehendak Allahlah yangmembuat amalnya ada dan bukan kehendak dirinya, sebagai-manafirman-nya,
"Dan, kamu sekalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendakiAllah, Rabb semesta alam." (At-Takkwir: 29).
Di sini ada yang sangat bermanfaat baginya, yaitu kekuasaan Allah,bahwa dirinya hanyalah alat semata, perbuatannya hanyalah sepertigerakan pohon yang terkena hembusan angin, yang menggerakkannyaselain dirinya, dia ibarat mayat yang tidak bisa berbuat apa-apa, yangandaikan segala sesuatu diserahkan kepadanya, maka tidak ada perbuatannyayang bermaslahat sama sekali, karena jiwanya bodoh danzhalim, tabiatnya malas, yang dipentingkannya adalah syahwat.
Kebaikan yang keluar dari jiwa itu hanya berasal dari Allah dan bukanyang berasal dari hamba, sebagaimana firman-Nya,
Sekiranya tidak karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamusekalian, niscaya tidak seorangpun dari kalian bersih (dari perbuatanperbuatankeji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkansiapa yang dikehendaki-Nya." (An-Nur: 21).
Semua kebaikan yang ada pada diri hamba semata karena karunia Allah,pemberian, kebaikan dan nikmat-Nya. Pandangan hamba terhadapamainya yang hakiki ialah pandangannya terhadap sifat-sifat Allahyang berkaitan dengan penciptaan, yang semua semata karena pemberianAllah, karunia dan rahmat-Nya. Jadi, yang bisa membersihkanhamba dari perintang ini adalah mengetahui Rabb-nya dan juga mengetahuidirinya sendiri.
Sedangkan yang bisa membersihkan hamba dari tujuan mencari imbalanatas amainya ialah menyadari bahwa dia hanyalah hamba semata.Seorang hamba (budak) tidak layak menuntut imbalan dan upah daripengabdiannya terhadap tuannya. Sebab imbalan hanya layak dimintaorang yang merdeka atau budak orang lain. Sedangkan yangmembersihkan hamba dari kepuasan terhadap amainya ada dua macam:
- Memperhatikan aib, cela dan kekurangannya dalam amal, yang didalamnya banyak terdapat bagian-bagian syetan dan nafsu. Jarangsekali ada amal melainkan syetan mempunyai bagian dalam amalitu. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang seseorangyang menengok saat mendirikan shalat. Maka beliau menjawab,"Itu adalah rampasan yang diambil syetan dari shalat hamba."
Jika ini berlaku untuk sekali tengokan yang hanya sesaat saja, lalubagaimana dengan hati yang menengok kepada selain Allah? Tentusaja bagian syetan lebih banyak lagi. Ibnu Mas'ud berkata, "Seseorangdi antara kalian tidak memberikan bagian kepada syetan darishalatnya, sehingga syetan itu melihat ada hak atas shalat tersebut,melainkan karena dia menengok ke arah kanannya."
- Mengetahui hak Allah atas dirinya, yaitu hak ubudiyah beserta adabadabzhahir dan batin serta memenuhi syarat-syaratnya, menyadaribahwa hamba itu terlalu lemah untuk dapat memenuhi hak-hak itu.Orang yang memiliki ma'rifat ialah yang tidak ridha sedikit pun terhadap amainya dan merasa malu jika Allah menerima amainya.
2. Malu terhadap amal sambil tetap berusaha, berusaha sekuat tenagamembenahi amal dengan tetap menjaga kesaksian, memelihara caha-yataufik yang dipancarkan Allah.
Hamba yang merasa malu kepada Allah karena amainya, karena diamerasa amal itu belum layak dilakukan karena Allah, tapi amal itutetap diupayakan. Allah befirman,
"Dan, orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan,dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnyamereka akan kembali kepada Rabb mereka." (Al-Mukminin: 60).
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda menjelaskan maksud ayatini,
"Dia adalah orang yang berpuasa, mendirikan shalat, mengeluarkanshadaqah, dan dia takut amal-amalnya ini tidak diterima."
Sebagian ulama berkata, "Aku benar-benar mendirikan shalat dua rakaat,namun ketika mendirikannya aku tak ubahnya seorang pencuriatau pezina yang tidak dilihat orang, karena merasa malu kepadaAllah."Orang Mukmin adalah orang yang memadukan kebajikan disertai ketakutandan buruk sangka terhadap dirinya, sedangkan orang yangtertipu dan munafik adalah orang yang berbaik sangka terhadap dirinyadan juga berbuat jahat.
Maksud memelihara cahaya taufik yang dipancarkan Allah, bahwa dengancahaya itu engkau bisa tahu bahwa amalmu semata karena karu-nia Allahdan bukan karena dirimu sendiri.
Derajat ini mencakup lima perkara: Amal, berusaha dalam amal, rasamalu kepada Allah, memelihara kesaksian, melihat amal sebagai pemberiandan karunia Allah.
3. Memurnikan amal dengan memurnikannya dari amal, membiarkanamal berlalu berdasarkan ilmu, tunduk kepada hukum kehendak Allahdan membebaskannya dari sentuhan rupa.
Perkataan, "Memurnikan amal dengan memurnikannya dari amal",ditafsiri dengan lanjutannya, yaitu membiarkan amal itu berlalu berdasarkan
ilmu dan engkau tunduk kepada hukum kehendak Allah.
Artinya, engkau menjadikan amalmu mengikuti ilmu, menyesuaikan diridengannya, berhenti menurut pemberhentiannya, bergerak menu-rutgerakannya, melihat hukum agama dan membatasi dengan batasanbatasannya,memperhatikan pahala dan siksa di kemudian hari.
Meskipun begitu engkau juga harus berlalu dengan memperhatikanhatimu, mempersaksikan hukum alam, yang di dalamnya terkandunghukum sebab akibat, yang tak sedikit pun lepas dari kehendak Allah.Sehingga seorang hamba bertindak berdasarkan dua perkara:
Perta-ma,perintah dan larangan, yang berkaitan dengan apa yang harus dikerjakannya dan apa yang harus ditinggalkannya. Kedua, qadha' dan qadar,yang berkaitan dengan iman, kesaksian dan hakikat. Dengan begitu diabisa melihat hakikat dan bertindak berdasarkan syariat. Dua perkarainilah ubudiyah seperti yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya,
" (yaitu) bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus.Dan, kamu sekalian tidak dapat menghendaki kecuali apabiladikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takkwir: 28-29).
Membiarkan amal berlalu berdasarkan ilmu merupakan kesaksian darifirman Allah, "Bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalanyang lurus", sedangkan pelakunya yang tunduk kepada hukum kehendakAllah merupakan kesaksian terhadap firman-Nya, "Kamusekalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah".Tentang perkataan, "Membebaskan amal dari sentuhan rupa", artinyamembebaskan amal dan ubudiyah dari selain Allah. Karena apa punselain Allah hanyalah rupa yang hanya tampak di luarnya saja.

KITAB MADARIJUS SALIKIN SIRI 36 : MEANGAGUNGKANYA APA YANG DIHORMATI DI SISI ALLAH



TEMPAT-TEMPAT PERSINGGAHAN IYYAKA NABUDU WA IYYAKA NASTAIN

IMAM IBN QAYYIM AL JAUZIYAH

Allah befirman tentang tempat persinggahan ini,
" Dan, barangsiapa mengagungkan apa-apa yang dihormati di sisi Allah,maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya." (Al-Hajj: 30).

Di antara para mufassir ada yang mengatakan bahwa hurumatullah disini adalah hal-hal yang dimurkai dan dilarang Allah. Sedangkan pengagungannyaialah dengan meninggalkannya. Menurut Al-Laits,hurumatullah adalah apa yang tidak boleh dilanggar. Ada pula yangberpendapat, artinya perintah dan larangan. Menurut Az-Zajjaj, hurumatartinya apa yang harus dilaksanakan dan tidak boleh diabaikan. Ada pulasego-longan ulama yang berpendapat, hurumat artinya manasik dantempat-tempat syi'ar haji, baik waktu maupun tempat. Pengagungannyaialah dengan memenuhi haknya dan menjaga kelestariannya.Menurut pengarang Manazilus-Sa'irin, mengagungkan hurumatullahini ada tiga derajat:
1. Mengagungkan perintah dan larangan, bukan karena takut kepadasiksaan sehingga menjadi perlawanan bagi nafsu, bukan karena untukmencari pahala sehingga pandangan hanya tertuju kepada imbalan,dan bukan karena menampakkan amal untuk riya', karena semua inimerupakan sifat penyembahan nafsu.
Masalah ini merupakan topik yang paling banyak dibicarakan manusia.Mereka mengagungkannya dan juga para pelakunya, dengan disertaikeyakinan bahwa ini merupakan derajat ubudiyah yang paling tinggi,yaitu tidak menyembah Allah, melaksanakan perintah dan larangan-Nya karena takut siksaan-Nya dan mengharapkan pahala-Nya. Cintayang sejati tidak menghendaki yang demikian ini, karena orang yangmencintai tidak menginginkan bagian dari orang yang dicintainya.Jika perhatiannya hanya tertuju kepada bagian yang diterimanya, makaitu merupakan cacat dalam cintanya. Jika dia hanya ingin merasakannikmatnya pahala, berarti dia merasa berhak mendapat-kan pahala dariAllah atas amal yang dikerjakannya. Dalam hal ini akanmendatangkan dua ujian: Perhatiannya hanya tertuju kepada pahala,dan muncul persangkaan yang baik terhadap amalnya sendiri.Tidak ada yang bisa melepaskan diri dari perhatian semacam ini kecualimemurnikan pelaksanaan perintah dan larangan dan segala aib.
Bahkan pelaksanaannya harus dilandasi pengagungan terhadap yangmemerintah dan yang melarang, bahwa Dia memang layak untuk disembahdan apa-apa yang dihormati di sisi-Nya harus diagungkan,sebagaimana yang disebutkan di dalam pepatah Isra'iliyat, "Sekira-nyaAku tidak menciptakan surga dan neraka, apakah Aku tidak layakdisembah?"
Jiwa yang tinggi dan suci ialah yang menyembah Allah, karena memangDia layak untuk disembah, dimuliakan, dicintai dan diagungkan.Seorang hamba tidak boleh seperti buruh yang jahat, jika upah sudahdiberikan dia baru mau bekerja, dan jika tidak diberikan, maka diatidak mau bekerja. Amal orang yang memiliki ma'rifat dimaksudkanuntuk mendapatkan kedudukan dan derajat, sedangkan amal paraburuh ialah untuk mendapatkan upah dan bayaran. Tentu saja perbedaandi antara keduanya sangat jauh.
Tapi ada golongan lain yang menganggap perkataan ini hanya sekedarbualan dan isapan jempol semata. Mereka berhujjah dengankeadaan para nabi, rasul dan shiddiqin. Mereka berdoa dan juga memohon.Mereka dipuji karena takut kepada neraka dan mengharapkansurga, sebagaimana firman Allah tentang hamba-hamba-Nya yangkhusus,
"Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam(mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepadaKami dengan harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami." (Al-Anbiya': 90).
Artinya, mereka mengharap apa yang ada di sisi Kami, dan mereka jugacemas karena adzab Kami. Orang-orang yang disebutkan dalam ayat iniadalah para nabi yang disebutkan dalam surat Al-Anbiya' ini.
Allah telah menyebutkan hamba-hamba-Nya yang khusus, orangorangyang memiliki ma'rifat dan orang-orang yang berpikir, bahwamereka semua memohon surga dan berlindung dari neraka. Begitu pulaIbrahim Al-Khalil. Firman Allah tentang sabda beliau,
"Dan, yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku padahari kiamat. Ya Rabbi, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlahaku ke dalarn golongan orang-orang yang shalih, dan jadikanlah akubuah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, danjadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yangpenuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena esungguhnya iaadalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlahEngkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hariharta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yangmenghadap Allah dengan hati yang bersih." (Asy-Syu'ara': 82-89).
Ibrahim memohon surga dan berlindung dari neraka atau penghinaanpada hari berbangkit. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam jugamemerintahkan umatnya agar memohon kedudukan yang tinggi disurga kepada Allah pada waktu yang tepat untuk pengabulan doa, yaitusetelah adzan, dan mengabarkan bahwa siapa yang meminta hal itu, makadia akan mendapatkan syafaat beliau.
Di dalam Ash-Shahih disebutkan hadits para malaikat yang mencatatamal manusia, bahwa Allah bertanya kepada para malaikat itu ten-tanghamba-hamba-Nya, dan Dia lebih tahu tentang keadaan mereka. Paramalaikat menjawab, "Kami datang kepada-Mu dari sisi hamba-hamba-Mu yang bertahlil, bertakbir, bertahmid dan memuliakan-Mu. Allahbertanya, "Apakah mereka melihat-Ku?" Malaikat menjawab, "Tidakwahai Rabbi. Mereka tidak melihat-Mu." Allah bertanya, "Bagaimanajika mereka melihat-Ku?" Malaikat menjawab, "Jika mereka melihat-Mu, nicaya mereka lebih memuliakan-Mu." Para malaikat berkata lagi,
"Wahai Rabbi, mereka memohon surga-Mu."
Allah bertanya, "Apakah mereka melihat surga itu?" Malaikatmenjawab, "Tidak. Demi kemuliaan-Mu, mereka tidak melihatnya."
Allah bertanya, "Bagaimana jika mereka melihatnya?' Malaikatmenjawab, "Jika mereka melihatnya, niscaya mereka lebihmengharapkannya." Para malaikat berkata, "Mereka berlindung kepada-Mu dari neraka."
Allah bertanya, "Apakah mereka melihatnya?" "Tidak. Demikemuliaan-Mu, mereka tidak melihatnya." Allah bertanya,"Bagaimana jika mereka melihatnya?" Malaikat menjawab, "Jikamereka melihatnya, niscaya mereka lebih keras melarikan diridarinya."
Allah befirman, "Aku bersaksi kepada kalian bahwa Aku telah mengampunidosa-dosa mereka, Kuberikan kepada mereka apa yang merekaminta dan Kulindungi mereka dari apa yang mereka mintakanperlindungannya."
Al-Qur'an dan As-Sunnah dipenuhi pujian terhadap hamba-hamba danwali-wali-Nya yang memohon dan mengharap surga, berlindung dantakut dari neraka. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernahbersabda kepada para shahabat,
"Berlindunglah kepada Allah dari neraka."
Beliau bersabda kepada seseorang yang memohon agar dapat menyertaibeliau di surga,
"Bantulah aku untuk kepentingan dirimu dengan memperbanyak sujud."
Jika kita meneliti apa yang disebutkan dalam As-Sunnah, tentu kitabanyak mendapatkan sabda beliau, "Siapa yang mengerjakan beginidan begitu, maka Allah akan memasukkannya ke surga." Hal ini dimaksudkansebagai sugesti agar mengamalkannya. Maka bagaimanamungkin amal untuk mendapatkan pahala dan takut dari siksa dikatakancela dan kurang? Padahal Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjaminsurga bagi orang yang melakukan ini dan itu dari berbagai amal shalih.
Di samping itu, Allah juga mencintai hamba-hamba-Nya yangmemohon surga dan berlindung dari neraka kepa-da-Nya. Allah sukauntuk dimintai dan murka kepada orang yang tidak mau memohonkepada-Nya. Permohonan yang paling agung adalah surga danperlindungan yang besar adalah neraka. Para nabi, rasul, shiddiqin,syuhada' dan shalihin juga memohon surga dan lari dari neraka.Yang mereka maksudkan, bahwa hamba beribadah kepada Rabb-nyasesuai dengan hak ubudiyah. Tak berbeda dengan hamba (budak). Jikaseorang hamba meminta imbalan dari tuannya atas pengabdiannya,maka dia adalah hamba yang paling bodoh dan tidak beharga di matatuannya, sekiranya dia tidak mendapat hukumannya. Penghambaannyaitu mengharuskannya untuk mengabdi. Jika pengabdiannyakepada seseorang untuk mendapatkan imbalan, maka itu bukan pengabdiankepada orang yang tidak tepat. Boleh jadi karena dia bukanhamba atau karena dia menjadi hamba bagi orang lain. Kalau memangdia benar-benar sebagai hamba bagi tuannya, berarti dia tidak mempunyaikemerdekaan dan tidak bisa menjadi hamba bagi selainnya,sehingga jika dia menuntut imbalan, berarti dia keluar dari kemur-nianpenghambaan. Manusia dalam hal ini ada empat macam:- Orang-orang yang tidak menghendaki Allah dan tidak menghendakipahala-Nya. Mereka adalah musuh-musuh yang sebenarnyadan yangmendapatkan adzab yang kekal. Mereka tidak menghendaki pahala-Nya, boleh jadi karena memang mereka tidak mempercayai Allah,atau karena mementingkan kemaslahatan dunia.- Orang-orang yang menghendaki Allah dan menghendaki pahala-Nya.Mereka adalah orang-orang yang khusus di antara makhluk-Nya.
- Allah berfirman,
"Dan, jika kamu sekalian menghendaki Allah dan Rasul-Nya serta(kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allahmenyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antara kalian pahala yang besar." (Al-Ahzab: 29).
Ini merupakan firman Allah yang ditujukan kepada para wanitapilihan di antara wanita-wanita di dunia, yaitu para istri NabiShallallahu Alaihi wa Sallam.- Orang-orang yang menghendaki pahala dari Allah dan tidak menghendakiAllah. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahuiAllah, yang hanya mendengar bahwa di sana ada surga dan neraka.Sementara di dalam hatinya hanya ada kehendak mendapatkan kenikmatansurga. Ini juga merupakan keadaan mayoritas teolog yangtidak mempercayai kenikmatan memandang Allah di surga. Di antaramereka juga ada yang berpendapat bahwa menghendaki Allah adalahsesuatu yang mustahil.
- Orang-orang yang menghendaki Allah dan tidak menghendaki pahaladari-Nya. Tentu saja ini sesuatu yang mustahil. Ini merupakan anggapanorang-orang yang disebutkan di atas dari kalangan orang-orang sufi,bahwa Allah-lah yang menjadi kehendak mereka dan tidak menghendakisedikit pun pahala dari-Nya, seperti yang dikisahkan dari Abu Yazid, diaberkata, "Aku pernah ditanya seseorang, "Apa yang engkau kehendaki?"
Maka aku menjawab, "Aku menghendaki untuk tidak menghendaki."Tentu saja ini sesuatu yang mustahil dari pertimbangan rasa dan rasio,fitrah dan syariah. Sebab kehendak merupakan keharusan makhlukhidup. Kehendak ini tidak ada selagi seseorang mabuk, pingsan atautidur. Memang kami tidak mengingkari pembebasan diri dari kehendakterhadap selain Allah yang dicampur dengan kehendak terhadap Allah.
Tapi bukankah seseorang juga menghendaki kedekatan dengan Allahdan ridha-Nya? Lalu adakah kehendak yang lebih tinggi dari kehendakini?
Perkataan pengarang Manazilus-Sa'irin, "Bukan karena menampakkanamal untuk riya'", ini merupakan rincian tersendiri. Menampakkanamal ini ada dua macam: Menampakkan amal untuk membangkitkanamal itu dan menguatkan pendorongnya, dan menampakkan amalyang tidak membangkitkan amal dan tidak pula menguatkan pendorongnya,sehingga tidak ada bedanya antara adanya amal itu atau tidakadanya. Boleh jadi engkau menampakkan amal di hadapan orang yanghendak belajar darimu. Engkau melakukannya secara ikhlas dan diadapat belajar darimu. Atau engkau menampakkan suatu amal agarditiru orang lain atau diketahui orang yang belum mengetahui amalitu. Ini termasuk riya' yang terpuji. Bahkan menampakkan amal itutidak bisa disebut riya'. Sebab Allah ada di dalam niat hati dan tujuannya.Sedangkan riya' yang tercela ialah yang dimaksudkan untukmendapatkan sanjungan dan pengagungan di hadapan orang lain,sehingga orang lain itu memujinya dan enggan kepadanya. Contohlain dari riya' yang terpuji, ada orang buta yang meminta keperluanhidupnya kepada segolongan orang.
Salah seorang di antara merekamenyadari, bahwa jika dia memberi peminta-minta itu secara sembunyi-sembunyi tanpa dilihat seorang pun, maka mereka tidak akanmenirunya dan tidak akan memberikan apa-apa kepada peminta-mintaitu. Tapi jika dia memberinya secara terang-terangan, maka merekaakan meniru tindakannya. Karena itu dia putuskan untuk memberinyasecara terang-terangan. Pendorong baginya untuk memberi secaraterang-terangan ialah kehendak agar peminta-minta itu untukmendapatkan yang lebih banyak lagi dari orang-orang yang ada ditempat itu. Ini termasuk penampakan amal yang terpuji. Tapipendorongnya tidak boleh karena ingin mendapat pujian dan sanjungan.
2. Menyampaikan pengabaran menurut zhahirnya, tidak membuat ka-jianyang menyimpang dari zhahirnya, tidak memaksakan ta'wil, tidakmembuat perumpamaan dan perkiraan.
Pengarang Manazilus-Sa'irin mengisyaratkan hal ini kepada pemeliharaankehormatan nash asma' dan sifat-sifat Allah, dengan menyampaikanpengabaran ini menurut zhahirnya dan menciptakan persepsipemahaman yang sama di tengah umat.
Malik pernah ditanya tentang firman Allah, "Yang Maha Pemurah, Yangbersemayam di atas 'Arsy". (Thaha: 5), "Bagaimana Dia bersemayam disana?"
Cukup lama Malik hanya menundukkan kepala. Keringat dingin sudahmembasahi tubuhnya. Akhirnya dia menjawab, "Bersemayamnya
Allah sudah jelas. Tentang bagaimana semayam-Nya, maka tidak bisadicapai akal manusia. Iman kepada semayamnya Allah ini wajib, danmenanyakan bagaimana semayamnya adalah bid'ah." Siapa yangmenanyakan firman Allah (kepada Musa dan Harun), "SesungguhnyaAku berserta kamu berdua, aku mendengar dan melihat", (Thaha: 46),
"Bagaimana cara Allah mendengar dan melihat?" Maka dapat dijawabseperti jawaban Malik di atas. Begitu pula siapa yang menanyakan sifatsifatAllah yang lain. Makna-maknanya sudah bisa dipahami. Tentangbagaimananya, maka tidak bisa dicapai akal manusia. Yang paling baikdalam masalah ini ialah mensifati Allah dengan sifat yang disifati Allahkepada Diri-Nya dan seperti yang disifati Rasulullah Shallallahu Alaihiwa Sallam, tanpa merubah dan menyim-pangkannya, tanpamenggambarkan caranya dan tidak pula membuat perumpamaan.Sedangkan ta'wil yang dimaksudkan di sini adalah ta'wil terminologis,yaitu mengalihkan lafazh dari zhahirnya, mengalihkan dari maknayang lazim ke makna yang tidak lazim. Para ulama sudah menyepakatihal ini.
Tidak membuat perumpamaan artinya menyerupakan dengan sifatsifatmakhluk.
3. Menjaga semangat agar tidak dikotori kelancangan, menjaga kegembiraanagar tidak dimasuki rasa aman, dan menjaga kesaksian agartidak ditentang sebab.
Derajat ini dikhususkan bagi orang-orang yang memiliki kesaksian,yang biasanya mereka itu penuh semangat dan merasakan kegembiraan.Semangat yang dikotori kelancangan ini bisa mengeluarkan seoranghamba dari adab ubudiyah dan membawanya kepada bualan,seperti orang yang berkata, "Subhani".4
4 Artinya: Mahasuci aku Yang berkata seperti itu adalah seorang tokoh sufi. Abu YazidAl-Busthamy. Kami tidak tahu apa alasan yang mendasari perkataan seperti ini.Menjaga kegembiraan agar tidak dimasuki rasa aman, artinya orangyang bersemangat dan memiliki kesaksian biasanya merasakan kegembiraanyang tidak terkira. Namun keadaannya ini tidak boleh membuatnyamerasa aman dari tipu daya. Kegembiraan dan kesenangannyaharus tetap dijaga dan dipelihara.Menjaga kesaksian agar tidak ditentang sebab artinya, boleh jadi orangyang memiliki kesaksian merasa lemah dalam mempersaksikan hakikattauhid, lalu dia menduga telah mendapatkan apa yang diinginkannyakarena suatu ijtihad dan ibadah yang mukhlis. Ini menunjukkanadanya kekurangan dalam tauhid dan ma'rifatnya. Sebab kesaksianini merupakan anugerah dan tidak muncul karena suatu usaha.

KITAB MADARIJUS SALIKIN SIRI 35 : MURAQABAH (ALLAH MENGAWASINYA)


TEMPAT-TEMPAT PERSINGGAHAN IYYAKA NABUDU WA IYYAKA NASTAIN

IMAM IBN QAYYIM AL JAUZIYAH

Kaitannya dengan tempat persinggahan muraqabah ini, Allah telah
befirman,
"Dan, Allah Maha Mengawasi segala sesuatu." (Al-Ahzab: 52).
"Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati." (Al-Mukmin: 19).

Masih banyak ayat-ayat lainnya yang menjelaskan bahwa Allahmengetahui segala sesuatu, melihat, mendengar, mengawasi yang lahirmaupun yang batin dan bahwa Allah senantiasa beserta manusia, di manapun mereka berada. Di dalam hadits Jibril disebutkan bahwa dia bertanyakepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang ihsan. Makabeliau menjawab, "Jika engkau menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."
Muraqabah artinya pengetahuan hamba secara terus-menerus dankeyakinannya bahwa Allah mengetahui zhahir dan batinnya. Muraqabahini merupakan hasil pengetahuannya bahwa Allah mengawasinya, melihatnya,mendengar perkataannya, mengetahui amalnya di setiap waktudan di mana pun, mengetahui setiap hembusan napas dan tak sedetik punlolos dari perhatian-Nya.
Muraqabah merupakan ubudiyah dengan asma'-Nya Ar-Raqib, Al-Hafizh, Al-Alim, As-Sami' dan Al-Bashir (Maha Mengawasi, Menjaga
Mengetahui, Mendengar dan Melihat). Siapa yang memahami asma' inidan beribadah menurut ketentuannya, berarti dia telah sampai ke tingkatmuraqabah.
Pengarang Manazilus-Sa'irin, mengatakan, "Muraqabah artinya terus-menerus menghadirkan hati bersama Allah. Ada tiga derajat muraqabah:
1. Muraqabah Allah terhadap perjalanan kepada-Nya secara terus-menerus,memenuhi hati dengan keagungan Allah, mendekat kepadaAllah sambil membawa beban dan pembangkit kesenangan. Jika hatisudah diisi keagungan Allah, maka ia akan mengesampingkanpengagungan terhadap selain-Nya dan tidak mau berpaling kepada-nya.
Pengagungan ini tidak akan terlupakan jika hati bersama Allah, disamping juga mendatangkan cinta. Setiap cinta yang tidak disertaipengagungan terhadap kekasih, menjadi sebab yang menjauhkannyadari kekasih. Dalam derajat ini mengandung lima perkara: Perjalanankepada Allah, kelanjutan perjalanan ini, hati yang bersama Allah, pengagungan-Nya dan berpaling dari selain-Nya.
Jika sudah ada kedekatan hati dengan Allah, maka akan Menghasilkankesenangan dan kenikmatan, yang tidak bisa diserupakan dengankesenangan di dunia dan tidak dapat dibandingkan, karena ini merupakansalah satu keadaan dari para penghuni surga. Di antara orangyang memiliki ma'rifat berkata, "Pada saat tertentu dapat kukatakan,'Sekiranya para penghuni surga seperti keadaan saat ini, tentu merekadalam kehidupan yang sangat menyenangkan." Tidak dapat diragukanbahwa kesenangan dan kenikmatan inilah yang membangkitkannyauntuk terus mengadakan perjalan kepada Allah, berusaha dan mencarikeridhaan-Nya. Siapa yang tidak merasakan kesenangan dankenikmatan ini, atau sebagian di antaranya, maka hendaklah diamencurigai iman dan amalnya. Karena iman itu mempunyaikemanisan. Siapa yang tidak dapat merasakan manisnya manis,hendaklah kembali untuk mencarinya, dengan mencari cahaya yangbisa mendatangkan manisnya iman. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallamtelah menyebutkan rasa iman dan cara mendapatkan manisnya iman.Rasa ini dikaitkan dengan iman. Sabda beliau,
"Yang dapat menikmati rasa iman adalah yang ridha kepada Allahsebagai Rabb, kepada Islam sebagai agama dan kepada Muhammadsebagai rasul."
Beliau juga bersabda,
"Tiga perkara, siapa yang tiga perkara ini ada pada dirinya, makadia akan merasakan manisnya iman, yaitu: Siapa yang Allah danRasul-Nya lebih dia cintai dari selain keduanya, siapa angmencintai seseorang, yangdia mencintainya hanya karena Allah,dan siapa yang tidak suka kembali kepada kekufuran setelah Allahmenyelamatkannya dari kekufuran itu, sebagaimana dia tidak sukadilemparkan ke neraka."
Saya pernah mendengar Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Jikaengkau tidak mendapatkan kemanisan dan kesenangan dari suatu amaldalam hatimu, maka curigailah ia. Karena Allah adalah MahaPenerima syukur. Artinya, Allah pasti akan memberi pahala kepadaseseorang di dunia karena amalnya, berupa kemanisan yang dirasakandi dalam hati, kesenangan dan kegembiraan. Jika dia tidakmerasakannya, berarti amal itu disusupi syetan."
2. Muraqabah Allah terhadap penolakan penentangan, yaitu denganberpaling dari bantahan.Ini merupakan muraqabah Allah terhadap dirimu untuk sifat yangkhusus, yaitu yang mengharuskan adanya pemeliharaan zhahir danbatin. Memelihara zhahir ialah menjaga semua gerakan zhahir, danmemelihara batin artinya menjaga lintasan sanubari, kehendak dangerakan-gerakan batin, yang dari gerakan batin inilah muncul penentanganterhadap perintah Allah. Batin harus dibersihkan dari segalasyahwat dan kehendak yang bertentangan dengan perintah-Nya, dibersihkandari segala kehendak yang bertentangan dengan kehendak-Nya,dibersihkan dari segala syahwat yang bertentangan dengan pengabaran-Nya, dibersihkan dari segala cinta yang mencampuri cinta kepada-Nya. Inilah hakikat hati yang sehat dan inilah hakikat pembebasan diri
orang-orang yang memiliki ma'rifat dan orang-orang yang taqar-rubkepada Allah.Adapun sebab penentangan yang harus dihindari hamba adalah bantahanatau sanggahan. Sebagaimana yang banyak terjadi di kalanganmanusia, bantahan ini ada tiga macam:
- Membantah asma' dan sifat-sifat Allah dengan berbagai dalih yangdisebut ketetapan akal oleh para pelakunya, yang pada hakikatnyaadalah hayalan-hayalan batil. Mereka membantah sifat-sifat Allahyang ditetapkan terhadap Diri-Nya dan juga merubah kalimat Allahdari tempatnya.
- Membantah syariat dan perintah-Nya dengan mengandalkan pikirandan analogi-analogi yang mereka buat, sehingga mereka menghalalkanyang haram dan mengharamkan yang halal. Mereka jugamembantah hakikat-hakikat iman dengan perasaan dan hayalanhayalanmereka. Mereka juga membantah syariat Allah denganmenerapkan hukum-hukum ciptaan manusia sebagai ganti hukumAllah dan Rasul-Nya. Mereka juga membantah perbuatan, qadha'dan qadar Allah. Tentu saja semua ini merupakan bantahan orangorangyang bodoh.
3. Muraqabah azal untuk menerima panji tauhid dan muraqabbah isya-ratazal yang muncul di setiap saat dan berlaku untuk selama-lama-nya.Artinya, mempersaksikan makna azal, yaitu sifat terdahulu yang menjadisifat Allah dan yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya atau yangmendahului-Nya. Jika seorang hamba memahami makna azal danmengetahui hakikatnya, maka pada saat itu tampak panji tauhid, laludia siap menerimanya, sebagaimana prajurit yang siap menerima panjipasukan perang.
Sedangkan makna muraqabah isyarat azal yang muncul di setiap saatdan berlaku untuk selama-lamanya, bahwa Allah yang azali juga memilikisifat yang abadi, mempunyai bentangan hidup antara keduanya.

KITAB MADARIJUS SALIKIN SIRI 34 : RI’AYAH (MEMPERHATIKAN ILMU DAN MENJAGANYA DENGAN AMAL)


TEMPAT-TEMPAT PERSINGGAHAN IYYAKA NABUDU WA IYYAKA NASTAIN

IMAM IBN QAYYIM AL JAUZIYAH

Di antara tempat persinggahan iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in adalah ri'ayah, yang artinya memperhatikan ilmu dan menjaganya dengan amal, memperhatikan amal dengan kebaikan dan ikhlas serta menjaganyadari hal-hal yang merusak, memperhatikan keadaan dengan penyesuaiandan menjaganya dari pemutusan. Jadi ri'ayah adalah penja-gaan danpemeliharaan.
Tingkatan-tingkatan ilmu dan amal itu ada tiga macam:
- Riwayah, yaitu hanya sekedar penukilan dan membawa apa yangdiriwayatkan.- Dirayah, yaitu memahami, mendalami dan menelaah maknanya.- Ri'ayah, yaitu beramal berdasarkan ilmu yang dimiliki dan keadaannya.
Hasrat para penukil tertuju ke riwayah, hasrat orang-orang yangberilmu tertuju ke dirayah, dan hasrat orang-orang yang memilikima'rifat ke ri'ayah. Allah telah mencela orang-orang yang tidakmemelihara gaya hidup ala kerahiban yang diciptakannya dan yang telahdipilihnya,
"Dan, Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya(Isa) rasa santun dan kasih sayang. Dan, mercka mengada-adakan rahbaniyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka,tetapi (mercka sendiri yang mengada-adakannya) untuk mencari kcridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya."(Al-Hadid: 27).
Dengan kata lain, Allah mencela orang yang tidak memeliharataqarrub yang diciptakan Allah dengan pemeliharaan yang semestinya.Lalu bagaimana dengan orang yang tidak memelihara taqarrub yang tidakdisyariatkan Allah, tidak diperkenankan dan tidak dianjurkan-Nya, sepertiorang-orang Nasrani yang menciptakan model kehidupan kerahiban?
''Orang-orang Nasrani menciptakan kerahiban, dengan anggapan bahwaitu merupakan sunnah Isa bin Maryam dan petunjuknya. Namun Allahmendustakan mereka dan menjelaskan bahwa merekalah yangPengarang Manazzilus-Sa’irin berkata, "Ri'ayah artinyamenjagayang disertai perhatian. Ada tiga derajat ri'ayah:
1. Memelihara amal. Artinya, memperbanyak amal itu denganmenghinakannya, melaksanakan amal itu tanpa melihat kepadanya danmenjalankan amal itu berdasarkan saluran ilmu.
Ada yang berpendapat, tanda keridhaan Allah kepadamu ialah jikaeng-kau mengabaikan keadaan dirimu, dan tanda diterimanya amalmuialah jika engkau menghinakan dan menganggap amalmu sedikit ser-takecil. Sehingga orang yang memiliki ma'rifat memohon ampun kepadaAllah dengan sebenar-benarnya setelah melakukan ketaatan. Setiapkali Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam usai mengucapkan salamdalam shalatnya, maka beliau memohon ampun kepada Allahsebanyak tiga kali. Allah juga memerintahkan hamb-hamba-Nyamemohon ampun setelah menunaikan haji.
2. Memelihara keadaan. Artinya, mencurigai usahanya sebagai riya',mencurigai keyakinannya sebagai kepura-puraan, dan mencurigaikeadaan sebagai bualan.
Dengan kata lain, dia harus mencurigai usahanya, bahwa usaha itudimaksudkan untuk riya' di hadapan manusia. Sedangkan mencurigaikeyakinan sebagai kepura-puraan, maka maksud kepura-puraan di siniialah membanggakan sesuatu yang tidak dimilikinya, seperti sabdaRasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Orang yangmembanggakan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya seperti orangyang mengenakan dua lembar pakaian yang palsu."
Sedangkan mencurigai keadaan sebagai bualan artinya bualan yangdusta. Hal ini harus dilakukan untuk membersihkan hati dari kebodohanbualan itu, membersihkan hati dari syetan. Hati yang senangkepada bualan adalah hati yang menjadi tempat bersemayamnya syetan.menciptakan model kehidupan itu, sementara Isa terbebas dari hal itu,karena yang demikian itu bertentangan dengan fitrah yang diberikanAllah kepada manusia, di samping Allah tidak mensyariatkan sesuatuyang bertentangan dengan fitrah. Karena itu mereka tidak akan bisa dansekali-kali tidak bisa memelihara kehidupan kerahiban itu secarasemestinya. Sebab tak seorang pun yang bisa merubah sunnatullah.Begitu pula orang-orang sufi yang juga meniru model kehidupanmereka.
3. Memelihara waktu. Artinya, berhenti pada setiap langkah, melepas-kandiri dari kesaksian kebersihan jiwanya, kemudian pergi tanpamembawa kotoran jiwanya.

KITAB MADARIJUS SALIKIN SIRI 33 : TABATTUL (PEMUTUSAN)


TEMPAT-TEMPAT PERSINGGAHAN IYYAKA NABUDU WA IYYAKA NASTAIN

IMAM IBN QAYYIM AL JAUZIYAH

Kaitannya dengan tempat persinggahan tabattul ini Allah telah
befirman,
"Dan sebutlah nama Rabbmu, dan beribadahlah kepada-Nya denganpenuh ketekunan." (Al-Muzzammil: 8).

Tabattul artinya pemutusan atau pemisahan, merupakan kata akti-vadari bail yang artinya putus atau pisah. Maryam disebut al-batul karena diaterpisah dari hubungan dengan suami mana pun, yang artinya perawanatau bujang, dan tidak ada seorang pun wanita yang dapat menandinginya, sehingga dia lebih unggul dan lebih dari semua wanitayang ada pada zamannya.
Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Tabattul artinya memisah-kandiri dari segala sesuatu agar bisa beribadah kepada Allah secara total.

Firman Allah, "Hanya bagi Allahlah (hak mengabulkan) doa yang benar", artinyaperlucutan secara total. Perlucutan ini artinya tidak memperhati-kanimbalan. Orang yang tabattul tidak bisa seperti buruh yang tidak mau bekerjakecuali untuk mendapatkan upah. Jika dia sudah mendapat upah itu, makadia akan meninggalkan pintu orang yang mengupahnya. Ber-beda denganhamba yang berbakti karena penghambaannya, bukan kare-na untukmencari upah. Dia tidak meninggalkan pintu tuannya kecuali karenamemang dia bermaksud untuk melarikan diri darinya. Sementara hambapelarian tidak memiliki kehormatan sama sekali sebagai hamba dan jugatidak mempunyai kemerdekaan.
Menurut pengarang Manazilus-Sa'irin, ada tiga derajat tabattul:
1. Memurnikan pemutusan hubungan dengan keinginan-keinginan terhadapdunia, karena takut, mengharap atau pun karena selalu memikirkan-Nya.
Menurut hemat saya, tabattul memadukan dua perkara, menyambungdan memisahkan. Tabattul tidak dianggap sah kecuali dengan duaperkara ini. Memisahkan artinya memutuskan hati dari segala sesuatuyang mencampuri kehendak Allah dan dari apa-apa yang mengarah-kanhati kepada selain Allah, entah karena takut kepada-Nya, mengharapkan-Nya, atau karena selalu memikirkan-Nya. Sedangkan menyambungtidak akan terjadi kecuali setelah memutuskan. Maksud-nyaadalah menyambung hati dengan Allah, menghadap kepada-Nya danmenghadapkan wajah kepada-Nya, karena mencintai, takut, ber-harapdan tawakal kepada-Nya.
2. Memurnikan pemutusan hubungan dari mengikuti nafsu, denganmenjauhi hawa nafsu, menghembuskan rahmat Allah dan memasukkankilat cahaya ilmu.
Perbedaannya dengan derajat pertama, bahwa derajat pertama pemutusanhubungan dengan makhluk, sedangkan derajat ini merupakanpemutusan hubungan dengan nafsu. Caranya ada tiga macam:- Menjauhi nafsu dan melarang dirinya mengikuti nafsu. Sebab parapengikut nafsu menghalangi tabattul. Menghembuskan rahmat Allah dan kasih sayang-Nya. Kedudukanrahmat bagi ruh seperti kedudukan ruh bagi badan. Jadi rahmat merupakansesuatu yang disenangi ruh. Rahmat ini bisa diperoleh denganmenjauhi nafsu. Pada saat irulah bisa dirasakan hembusan rahmat Allah.
Sebab jiwa itu membutuhkan gantungan. Ketika terputusketergantungan jiwa dengan hawa nafsu, maka jiwa tersebut akanmendapatkan ketentraman dengan bergantung kepada Allah.- Memasukkan kilat cahaya ilmu. Ilmu di sini bukan upaya mengungkapapa-apa yang di dalam batin manusia, tapi ini adalah ilmumengungkap tempat-tempatpersinggahan, mengungkap aib diri danamal serta mengungkap makna-makna sifat, asma' Allah dan tau-hid.
3. Memurnikan hubungan agar dapat terus maju ke depan, dengan caramembenahi istiqamah, tekun untuk mencapai tujuan dan melihat apayang terjadi saat berdiri di hadapan Allah.
Raja'Kaitannya dengan tempat persinggahan raja' (mengharap) ini, Allahtelah befirman,
"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepadaRabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) danmengharapkan rahmat-Nya dan takut adzab-Nya."(Al-Isra': 57).
Mencari jalan dalam ayat ini artinya mencari cara untukmendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan ubudiyah dan jugamencintai-Nya. Ada tiga sendi iman: Cinta, rasa takut dan berharap.Tentang harapan ini Allah telah menjelaskan,"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendak-lahia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia memperseku-tukanseorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya." (Al-Kahfi: 110).
"Mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah maha Pengam-punlagi Maha Penyayang." (Al-Baqarah: 218).
Di dalam Shahih Muslim disebutkan dari Jabir Radhiyallahu Anhu,diaberkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda, tiga hari sebelum wafat,
"Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal melainkan diaberbaik sangka terhadap Rabbnya."Juga dari Jabir disebutkan di dalam Ash-Shahih, Rasulullah ShallallahuAlaihi wa Sallam bersabda,
"Allah Azza wa Jalla befirman, 'Aku berada pada persangkaan hambaKukepada-Ku. Maka hendaklah dia membuat persangkaan kepada-Kumenurut kehendaknya."
Raja' merupakan ayunan langkah yang membawa hati ke tempatSang Kekasih, yaitu Allah dan kampung akhirat. Ada yang berpendapat,artinya kepercayaan tentang kemurahan Allah.Perbedaan raja' (mengharap) dengan tamanny (berangan-angan),bahwa berangan-angan disertai kemalasan, pelakunya tidak pernah bersungguh-sungguh dan berusaha. Sedangkan mengharap itu disertai denganusaha dan tawakal. Yang pertama seperti keadaan orang yang berangan-angan andaikan dia mempunyai sepetak tanah yang dapat dia tanamidan hasilnya pun dipetik. Yang kedua seperti keadaan orang yangmempunyai sepetak tanah dan dia olah dan tanami, lalu dia berharaptanamannya tumbuh. Karena itu para ulama telah sepakat bahwa raja'tidak dianggap sah kecuali disertai usaha. Raja' itu ada tiga macam; Duamacam terpuji dan satu macam tercela, yaitu:
1. Harapan seseorang agar dapat taat kepada Allah berdasarkan cahayadari Allah, lalu dia mengharap pahala-Nya.
2. Seseorang yang berbuat dosa lalu bertaubat dan mengharap ampunanAllah, kemurahan dan kasih sayang-Nya.
3. Orang yang melakukan kesalahan dan mengharap rahmat Allah tan-padisertai usaha. Ini sesuatu yang menipu dan harapan yang dusta.
Orang yang berjalan kepada Allah mempunyai dua pandangan:
Pandangan kepada diri sendiri, aib dan kekurangan amalnya, sehinggamembukakan pintu ketakutan, agar dia melihat kelapangan karunia Allah,dan pandangan yang membukakan pintu harapan baginya. Karena itu adayang mengatakan bahwa batasan raja' adalah keluasan rahmat Allah.Ahmad bin As him pernah ditanya, "Apakah tanda raja' pada dirihamba?" Dia menjawab, "Jika dia dikelilingi kebaikan, maka dia menda-patilham untuk bersyukur, sambil mengharap kesempurnaan nikmat dari Allahdi dunia dan di akhirat, serta mengharap kesempurnaan ampunan-Nya diakhirat."
Maka ada perbedaan pendapat, mana di antara dua macam raja'yang paling sempurna, ra/'a'-nya orang yang berbuat baik untuk mendapatkanpahala kebaikannya, ataukah ra/'a'-nya orang yang berbuat keburukanlalu bertaubat dan mengharapkan ampunan-Nya?Pengarang Manazilus-Sa'irin mengatakan, bahwa raja' merupakantempat persinggahan dan kedudukan yang paling lemah bagi orang yangberjalan kepada Allah, karena di satu sisi raja' menggambarkan perlawanan,dan di sisi lain menggambarkan protes.Memang kami mencintai Abu Isma'il yang mengarang Manazilus-
Sa'irin. Tapi kebenaran jauh lebih kami cintai daripada cinta kamikepadanya. Siapa pun orangnyaselain Rasulullah Shallallahu Alaihi waSallam yang ma'shum, perkataannya boleh diambil dan bolehditinggalkan. Kami berprasangka baik terhadap perkataan Abu Isma'il ini,tetapi kami akan menjabarkannya agar menjadi lebih jelas.
Perkataannya, "Raja' merupakan tempat persinggahan dan edudukanyang paling lemah bagi orang yang berjalan kepada Allah", hal itujika dibandingkan dengan tempat persinggahan lain seperti ma'rifat, cinta,ikhlas, jujur, tawakal dan lain-lainnya, bukan berarti keadaannya yanglemah dan kurang.
Sedangkan perkataannya, "Karena di satu sisi raja' menggambar-kanperlawanan, dan di sisi lain menggambarkan protes", karena raja'merupakan kebergantungan kepada kehendak hamba agar mendapatkan
pahala dan karunia dari Allah. Padahal yang dikehendaki Allah dari hambaialah agar hamba itu memenuhi hak Allah dan bermu'amalah dengan-Nyadengan hukum keadilan-Nya. Jika dalam mu'amalahnya dengan Allah,hamba mendasarkan kepada hukum karunia, maka hal ini terma-sukbentuk perlawanan. Seakan-akan orang yang berharap menggantunghatinya kepada sesuatu yang berlawanan dengan kehendak Penguasa.Berarti hal ini menajikan hukum kepasrahan dan ketundukan kepada-Nya.
Berarti raja' hamba itu berlawanan dengan hukum dan kehendak-Nya.Orang yang mencintai ialah yang mengabaikan kehendak dirinya sendirikarena mementingkan kehendak kekasihnya. Sedangkan dari sisi yangmenggambarkan protes, karena jika hati bergantung kepada raja', lalutidak mendapatkan apa yang diharapkan, maka ia akan protes. Kalau punhati mendapatkan apa yang diharapkan, ia tetap protes, karena apa yangdidapatkan tidak tepat dengan apa yang diharapkan. Toh setiap orang tentumengharap karunia Allah dan di dalam hatinya pasti melintas harap-an ini.
Ada sisi lain dari protes ini, yaitu dia protes kepada Allah karena apa yangdiharapkannya itu. Sebab orang yang berharap tentu meng-anganangankanapa yang diharapkannya dan dia terpengaruh olehnya. Yangdemikian ini berarti merupakan protes terhadap takdir dan menajikankesempurnaan kepasrahan dan ridha kepada takdir.Inilah yang dikatakan Abu Isma'il di dalam Manazilus-Sa'irin beser-tainterpretasinya yang paling baik. Hal ini dapat ditanggapi sebagai beri-kut,bahwa apa yang dikatakan itu dan sejenisnya merupakan ketergelin-cuauyang diharapkan diampuni karena kebaikan beliau yang banyak, iamemiliki kejujuran yang sempurna, mu'amalahnya dengan Allah benar,keikhlasannya kuat, tauhidnya murni tetapi tidak ada orang selain RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam yang terjaga dari kesalahan dankekurangan.
Ketergelinciran ini mendatangkan fitnah terhadap golongan orangorangyang kebaikan, kehalusan jiwa dan mu'amalahnya tidak sepertimereka. Lalu mereka pun mengingkari dan berburuk sangka terhadapgolongan ini. Bualan ini juga mendatangkan cobaan terhadap orangorangyang adil dan obyektif, yang memberikan hak kepada orang yangmemang berhak dan menempatkan segala sesuatu pada proporsinya, yangtidak menghukumi sesuatu yang benar dengan yang cacat atau kebalikannya.
Mereka menerima apa yang memang diterima dan menolak apayang memang harus ditolak. Bualan-bualan inilah yang ditolak dan diingkaripara pemuka ulama dan mereka membebaskan diri dari hal-halseperti ini serta akibat-akibat yang ditimbulkannya, seperti yang
diceritakan Abul-Qasim Al-Qusyairy, "Aku mendengar Abu Sa'id Asy-Syahham berkata, "Aku pernah bermimpi bertemu Abu Sahl Ash-Sha'lukyyang sudah meninggal dunia. Aku bertanya kepadanya (dalam mimpi),"Apa yang dilakukan Allah terhadap dirimu?" Abu Sahl menjawab, "Allahtelah mengampuni dosaku karena masalah-masalah yang ditanyakan orangorangyang lemah."
Tentang perkataan Abu Isma'il, "Raja' merupakan tempat Persinggahandan kedudukan yang paling rendah", maka ini tidak benar, bah-kanini merupakan tempat persinggahan yang agung, tinggi dan mulia.Harapan, cinta dan rasa takut merupakan inti perjalanan kepada Allah.Allah telah memuji orang-orang yang berharap dalam firman-Nya
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yangbaik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Al-Ahzab:21).
Disebutkan di dalam hadits shahih, dari Nabi Shallallahu Alaihi waSallam,
"Allah befirman, 'Wahai anak Adam, sesungguhnya selagi kamu ber-doadan berharap kepada-Ku, maka Aku mengampuni dosamu, apa punyang kamu lakukan dan Aku tidak peduli."
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihiwa Sallam, beliau bersabda,
"Allah befirman, Aku berada pada persangkaan hamba-Ku kepada-Kudan Aku besertanya. Jika dia mengingat-Ku di dalam dirinya, makaAku mengingatnya di dalam Diri-Ku. Jika dia mengingat-Ku di dalamkeramaian orang, maka Aku mengingatnya di dalam keramaian orangyang lebih baik dari mereka. jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal,maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika dia mendekat kepada-Kusehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. jika dia mendatangi-Ku dengan berjalan kaki, maka Aku mendatanginya dengan berlari lari kecil." (Muttafaq Alaihi).
Allah telah mengabarkan orang-orang khusus dari hamba-hamba-Nya, yang kemudian orang-orang musyrik beranggapan bahwa hambahambayang khusus ini bisa mendekatkan mereka kepada Allah. Padahalhamba-hamba yang khusus itu pun masih berharap kepada Allah dantakut kepada-Nya,
"Katakanlah, 'Panggillah mereka yang kalian anggap (tuhan) selainAllah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkanbahaya dari kalian dan tidak pula memindahkannya'. Orangorangyang mereka sent itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabbmereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) danmengharap rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya. Sesungguhnyaadzab Rabbmu adalah suatu yang (harus) ditakuti." (Al-Isra': 56-57).
Allah befirman, "Orang-orang yang kalian sembah selain-Ku adalahhamba-hamba-Ku, yang mendekatkan diri kepada-Ku dengan taatkepada-Ku, mengharap rahmat-Ku dan takut adzab-Ku. Lalu mengapakalian menyembah mereka?" Di sini Allah memuji keadaan hamba-hamba-Nya itu, yang memiliki cinta, rasa takut dan harapan.
Tentang perkataan Abu Isma'il, "Di satu sisi raja' menggambarkanperlawanan, dan di sisi lain menggambarkan protes", juga tidak bisa dianggapbenar. Sebab raja' merupakan ubudiyah dan bergantung kepadaAllah, karena di antara asma'-Nya adalah Al-Muhsin Al-Barr (Yang berbuatkebaikan dan kebajikan). Beribadah dengan asma' ini dan mengetahuiAllah merupakan pendorong bagi hamba untuk mengharap, entah diamenyadari atau tidak menyadarinya. Kekuatan harapan tergantung darikekuatan ma'rifat tentang Allah, sifat dan asma'-Nya, rahmat dan murka-Nya. Andaikata tidak ada ruh harapan, tentu banyak ubudiyah hati dananggota tubuh yang ditelantarkan, biara dan masjid dirobohkan, yang didalamnya nama Allah banyak disebut. Bahkan andaikata tidak ada ruhharapan, tentu anggota tubuh tidak mau bergerak untuk melakukanketaatan. Andaikata tidak ada angin harapan yang berhembus, tentuperahu amal tidak akan melaju di lautan kehendak.Kekuatan cinta menjadi gantungan kekuatan harapan. Setiap orangyang mencintai tentu berharap dan takut. Dialah orang yang palingmengharapkan apa yang ada pada diri kekasihnya. Begitu pula rasa takutnya,dia adalah orang yang paling merasa takut andaikan dirinya dipandangsebelah mata oleh kekasihnya, andaikan dia jauh darinya. Ketakutannyamerupakan ketakutan yang teramat sangat dan harapannya merupakancermin cintanya. Tidak ada kehidupan bagi orang yang jatuh cinta,tidak ada kenikmatan dan keberuntungan kecuali berhubungan dengankekasihnya. Setiap cinta tentu disertai rasa takut dan harapan. Seberapajauh cinta ini bersemayam di dalam hati orang yang mencintai, makasejauh itu pula rasa takut dan harapannya. Tapi ketakutan orang yangmencintai tidak disertai kekhawatiran seperti halnya orang yang berbuatkeburukan. Harapan orang yang mencintai tidak disertai alasan, berbedadengan harapan buruh atau upahan. Bagaimana mungkin harapan orangyang mencintai disamakan dengan harapan buruh, sementara perbedaankeadaan di antara keduanya amat jauh berbeda?
Secara umum, harapan merupakan sesuatu yang amat penting bagiorang yang ber jalan kepada Allah dan orang yang memiliki ma'rifat. Sebabtentunya dia tidak lepas dari dosa yang dia harapkan pengampunannya,tak lepas dari aib yang dia harapkan pembenahannya, tidak lepas dariamal shalih yang dia harapkan penerimaannya, tidak lepas dari istiqamahyang dia harapkan kekekalannya, tidak lepas dari kedekatan dengan Allahyang dia harapkan pencapaiannya. Maka bagaimana mungkin harapandikatakan sebagai tempat persinggahan dan kedudukan yang palinglemah?
Harapan merupakan sebab yang dengannya hamba bisa memperolehapa yang diharapkan dari Rabb-nya, bahkan ini merupakan sebabyang paling kuat. Sekiranya harapan itu mengandung perlawanan danprotes, tentunya doa dan permohonan lebih layak dikatakan sebagaibentuk perlawanan dan protes. Doa dan permohonan hamba kepada Rabbnyaagar Dia memberikan petunjuk, taufik, jalan lurus, menolongnyaagar tetap taat, menjauhkannya dari kedurhakaan, mengampuni dosadosanya,memasukkannya ke surga, menjauhkannya dari neraka, berartimerupakan bentuk perlawanan dan protes. Sebab hamba yang berdoa inimengharap dan menuntut apa yang diharapkannya, berarti dia lebih layakdikatakan melawan dan memprotes.
Harapan dan doa tidak mengandung perlawanan terhadap tindak-anPenguasa di dalam kekuasaan-Nya. Hamba hanya mengharap tindak-an-Nya, sesuai dengan sesuatu yang paling disukainya dari dua hal, kare-nasesungguhnya Allah lebih menyukai karunia daripada keadilan, Allah lebihmenyukai ampunan daripada dendam, Allah lebih menyukai teng-gangrasa daripada penelitian secara detail, dan yang rahmat-Nya mengalahkanmurka-Nya. Orang yang berharap mengaitkan harapannyadengan tindakan yang paling disukai dan diridhai-Nya.
Tentang protes hamba jika tidak mendapatkan apa yang diharapkannya,maka ini merupakan kekurangan dalam ubudiyah dan kebodohanterhadap Rububiyah. Hamba yang berharap dan berdoa mengharap suatulebihan yang sebenarnya bukan merupakan haknya dan tidak seharus-nyadia meminta imbalan. Kalau memang dia diberi, maka itu semata karenakarunia Allah. Jika dia tidak diberi, bukan berarti haknya tidak akandiberikan kepadanya. Maka protesnya ini merupakan cermin kebodohan.
Jadi memang tidak mendapatkan apa yang diharapkan dalam hak hambayang lurus tidak semestinya menimbulkan perlawanan dan protes.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menyampaikan tigapermintaan bagi umatnya kepada Allah. Dua dipenuhi dan satu ditolak.Beliau ridha terhadap apa yang diberikan Allah ini dan tidak mem-protesapa yang tidak diberikan.
Menurut pengarang Manazilus-Sa'irin, harapan itu ada tiga derajat:
1. Harapan yang bisa membangkitkan hamba yang beramal untuk berusaha,yang melahirkan kenikmatan dalam pengabdian, dan yangmembangunkan tabiat untuk meninggalkan larangan.
Dengan kata lain, harapan ini membuatnya semakin bersemangat untukberusaha dan mengharapkan pahala dari Rabb-nya. Siapa yangmengetahui kadar tuntutannya, maka dia akan menganggap remehusaha yang telah dilakukannya. Melahirkan kenikmatan dalam pengabdianartinya setiap kali hatinya merasakan buah pengabdian itu danhasilnya yang baik, maka dia menikmatinya. Yang demikian ini sepertikeadaan orang yang mengharapkan keuntungan yang me-limpah dalamperjalanannya, dengan membandingkan beratnya per-jalanan yangharus dilaluinya. Setiap kali hatinya menggambarkan hal ini, makasegala kesulitan dianggap enteng dan bahkan dia menik-mati kesulitanitu. Begitu pula keadaan orang yang mencintai secara tulus, yangberusaha mendapatkan keridhaan dan cinta kekasihnya, yangmenikmati segala usaha yang dilakukannya karena menggambarkan hasilkeridhaannya. Sedangkan tentang membangunkan tabiat untukmeninggalkan larangan, karena tabiat itu mempunyai gambar-angambaranyang menguasai hamba, yang tidak berkenan meninggalkangambaran-gambaran itu kecuali jika dia mendapatkan imbalan yanglebih disukainya. Jika ketergantungan hamba kepada imbalan yanglebih baik ini, maka tabiatnya menjadi lega. Jiwa tidak maumeninggalkan sesuatu yang dicintainya kecuali dia berikan kepadakekasih yang lebih dicintainya, atau jiwa itu akan mewaspadai sesuatuyang paling banyak mendatangkan kerusakan.
2. Harapan orang-orang yang biasa melatih jiwa, agar mereka mencapaisuatu kondisi yang dapat membersihkan hasrat, dengan menolakberbagai macam kesenangan, memperhatikan syarat-syarat ilmu danberusaha agar terlindung dari hal-hal yang dikhawatirkan akan mendatangkanmudharat di dunia dan di akhirat.
3. Harapan orang-orang yang dapat menguasai hati, yaitu harapan untukbersua Khaliq yang membangkitkan kerinduannya, yang tidakmenyukai kehidupan lebih lama dan yang zuhud di tengah makhluk. Inimerupakan jenis-jenis harapan yang paling baik dan paling tinggi. Inimerupakan harapan yang menjadi inti iman.