Catatan Popular

Rabu, 18 Januari 2017

SUKA DUKA MALAIKAT MAUT SAAT MENCABUT NYAWA



Allah SWT pernah bertanya kepada Malaikat Maut,

"Apakah kamu pernah menangis ketika kamu mencabut nyawa anak cucu Adam?"

Maka malaikat pun menjawab,
"Aku pernah tertawa, pernah juga menangis, dan pernah juga terkejut dan kaget."
"Apa yang membuatmu tertawa?"
"Ketika aku bersiap-siap untuk mencabut nyawa seseorang, aku melihatnya berkata kepada pembuat sepatu, Buatlah sepatu sebaik mungkin supaya bisa dipakai selama setahun."

"Aku tertawa karena belum sempat orang tersebut memakai sepatu, dia sudah kucabut nyawanya."

Allah SWT bertanya, "Apa yang membuatmu menangis?"
Maka malaikat menjawab,

"Aku menangis ketika hendak mencabut nyawa seorang wanita hamil di tengah padang pasir yang tandus, dan hendak melahirkan. 

Maka aku menunggunya sampai bayinya lahir di gurun tersebut. Lantas kucabut nyawa wanita itu sambil menangis karena mendengar tangisan bayi tersebut yang tak seorangpun mengetahui hal itu."

"Lalu apa yang membuatmu terkejut dan kaget?"
Malaikat menjawab,

"Aku terkejut dan kaget ketika hendak mencabut nyawa salah seorang ulama Engkau. Aku melihat cahaya terang benderang keluar dari kamarnya. Setiap kali aku mendekati cahaya itu, semakin menyilaukanku seolah ingin mengusirku. 

Lalu aku cabut nyawanya disertai cahaya tersebut."
Allah SWT bertanya lagi,
"Apakah kamu tahu siapa lelaki itu?"
"Tidak tahu, ya Allah."

"Sesungguhnya lelaki itu adalah bayi dari ibu yang kau cabut nyawanya di gurun pasir gersang itu. 

Akulah yang menjaganya dan tidak membiarkannya."

Itulah kisah Malaikat Pencabut Nyawa yang dengan jujur mengatakan kepada kita semuanya melalui kitan Tadzkirah sebuah karya karangan Imam al-Qurthubi.

Ahad, 15 Januari 2017

AKU HANYA IKUT RENTAK BURUNG

    Syeikh Abu Bakar Asy-Syibli, seorang tokoh sufi terkemuka yang sedang duduk di bawah sebatang pokok sambil berseru: “Hu..hu..hu..hu..hu..”

    Akibatnya, orang ramai menyangka bahwa Asy-Syibli telah mengamalkan ajaran sesat kerana berzikir dengan kata-kata yang tidak ada nashnya. “Engkau telah berzikir yang tidak ada nashnya!” kata teman-temannya.

    “Mana ada?” bantah Asy-Syibli.

    “Engkau berzikir dengan hu hu hu hu hu…itu dari mana sumbernya?” tanya mereka.

    “Burung merpati di atas pokok itu telah menyanyi dengan bunyi “ku..ku..ku…..” maka aku mengikuti rentaknya dengan hu..hu..hu..” jawab Asy-Syibli.

    Beberapa orang teman Asy-Syibli telah datang mengunjungi beliau yang telah dimasukkan ke rumah orang sakit jiwa kerana telah dituduh gila.

    “Siapa kalian?” tanya Asy-Syibli.

    “Kami ini sahabat-sahabatmu…” jawab mereka.

    Ketika itu juga Asy-Syibli membaling mereka dengan beberapa ketul batu, maka larilah lintang pukang teman-temannya. “Kalian pembohong!
Apakah orang yang mengaku sahabat akan lari bertempiaran hanya kerana beberapa ketul batu? Sikapmu ini membuktikan bahwa kamu adalah sahabatmu sendiri, bukan sahabatku.” kata Asy-Syibli


SYEIKH JUNAID AL BAHGDADI DAN SI BAHLUL

Syeikh Junaid al Baghdadi, seorang sufi terkemuka, pergi ke luar kota Baghdad. Para muridnya juga ikut dengannya. Syeikh itu bertanya tentang Bahlul.

Mereka menjawab, “Ia adalah orang gila, apa yang guru butuhkan darinya?”
“Cari dia, kerana aku ada perlu dengannya,” kata Syeikh Junaid.

Murid-muridnya lalu mencari Bahlul dan bertemu dengannya di gurun.
Mereka lalu mengantar Syeikh Junaid kepadanya.

Ketika Syeikh Junaid mendekati Bahlul, ia melihat Bahlul sedang gelisah sambil menyandarkan kepalanya ke tembok. Syeikh itu lalu menyapanya. Bahlul menjawab dan bertanya padanya, “Siapakah engkau?”

“Aku adalah Junaid al Baghdadi,” kata syeikh itu.

“Apakah engkau Abul Qasim?” tanya Bahlul. “Ya!” jawab syeikh itu.

“Apakah engkau Syekh Baghdadi yang memberikan petunjuk kerohanian pada orang-orang?” tanya Bahlul.

“Ya!” jawab syeikh.

“Apakah engkau tahu bagaimana cara makan?” tanya Bahlul.

Syeikh itu lalu menjawab, “Aku mengucapkan Bismillaah (Dengan nama Allah). Aku makan yang ada di hadapanku, aku menggigitnya sedikit, meletakkannya di sisi kanan dalam mulutku, dan perlahan mengunyahnya. Aku tidak menatap suapan berikutnya. Aku mengingat Allah sambil makan. Apa pun yang aku makan, aku ucapkan Alhamdulillaah (Segala puji bagi Allah). Aku cuci tanganku sebelum dan sesudah makan.”

Bahlul berdiri, menyibakkan pakaiannya, dan berkata, “Kau ingin menjadi guru kerohanian di dunia, tetapi kau bahkan tidak tahu bagaimana cara makan!” Sambil berkata demikian, ia berjalan pergi.

Murid Syeikh itu berkata, “Wahai Syeikh! Ia adalah orang gila.”

Syeikh itu menjawab, “Ia adalah orang gila yang cerdas dan bijak. Dengarkan kebenaran darinya!”

Bahlul mendekati sebuah bangunan yang telah ditinggalkan, lalu ia duduk. Syeikh Junaid pun datang mendekatinya.
Bahlul kemudian bertanya, “Siapakah engkau?”

“Syeikh Baghdadi yang bahkan tak tahu bagaimana caranya makan,” jawab Syeikh Junaid.

“Engkau tak tahu bagaimana cara makan, tetapi tahukah engkau bagaimana cara berbicara?” tanya Bahlul.
“Ya!” jawab syeikh.

“Bagaimana cara berbicara?” tanya Bahlul.

Syeikh itu lalu menjawab, “Aku berbicara tidak kurang, tidak lebih, dan apa adanya. Aku tidak terlalu banyak bicara. Aku berbicara agar pendengar dapat mengerti. Aku mengajak orang-orang kepada Allah dan Rasulullah. Aku tidak berbicara terlalu banyak agar orang tidak menjadi bosan. Aku memberikan perhatian atas kedalaman pengetahuan lahir dan batin.” Kemudian ia menggambarkan apa saja yang berhubungan dengan sikap dan etika.

Lalu Bahlul berkata, “Lupakan tentang makan, kerana kau pun tak tahu bagaimana cara berbicara!”
Bahlul pun berdiri, menyibakkan pakaiannya, dan berjalan pergi.

Murid-muridnya berkata, “Wahai Syeikh! anda lihat, ia adalah orang gila. Apa yang kau harapkan dari orang gila?!”

Syeikh itu menjawab, “Ada sesuatu yang aku butuhkan darinya. Kalian tidak tahu itu.”

Ia lalu mengejar Bahlul lagi hingga mendekatinya. Bahlul lalu bertanya, “Apa yang kau inginkan dariku? Kau, yang tidak tahu bagaimana cara makan dan berbicara, apakah kau tahu bagaimana cara tidur?”

“Ya, aku tahu!” jawab syeikh itu. “Bagaimana caramu tidur?” tanya Bahlul.

Syeikh Junaid lalu menjawab, “Ketika aku selesai salat Isya dan membaca doa, aku mengenakan pakaian tidurku.” Kemudian ia ceritakan cara-cara tidur sebagaimana yang lazim dikemukakan oleh para ahli agama.

“Ternyata kau juga tidak tahu bagaimana cara tidur!” kata Bahlul seraya ingin bangkit.

Tetapi Syeikh itu menahan pakaiannya dan berkata, “Wahai Bahlul! Aku tidak tahu. Karenanya, demi Allah, ajari aku!”

Bahlul pun berkata, “Sebelumnya, engkau berkata bahwa dirimu berpengetahuan dan berkata bahwa engkau tahu, maka aku menghindarimu. Sekarang, setelah engkau mengakui bahwa dirimu kurang berpengetahuan, aku akan mengajarkan padamu.

Ketahuilah, apa pun yang telah kau gambarkan itu adalah permasalahan kuran penting. Kebenaran yang ada di belakang memakan makanan adalah bahwa kau memakan makanan halal. Jika engkau memakan makanan haram dengan cara seperti yang engkau gambarkan, dengan seratus sikap pun, maka itu tak bermanfaat bagimu, melainkan akan menyebabkan hatimu hitam!”

“Semoga Allah memberimu pahala yang besar,” kata sang syeikh.

Bahlul lalu melanjutkan, “Hati harus bersih dan mengandung niat baik sebelum kau mulai berbicara. Dan percakapanmu haruslah menyenangkan Allah. Jika itu untuk duniawi dan pekerjaan yang sia-sia, maka apa pun yang kau nyatakan akan menjadi malapetaka bagimu. Itulah mengapa diam adalah yang terbaik.

Dan apa pun yang kau katakan tentang tidur, itu juga bernilai kurang penting. Kebenaran darinya adalah hatimu harus terbebas dari permusuhan, kecemburuan, dan kebencian. Hatimu tidak boleh tamak akan dunia atau kekayaan di dalamnya, dan ingatlah Allah ketika akan tidur!”

Syeikh Junaid lalu mencium tangan Bahlul dan berdoa untuknya.

Sahabatku. Orang zaman sekarang masih ada yang beribadah tanpa memahami isi makna. Mereka hanya mengikuti apa-apa yang dilakukan oleh nenek moyangnya tanpa kemampuan memaknai. Maka tak heran jika amal yang dilakukan, ibadah yang dilakukan, akan terasa kering.

Tidak menyerap di hati. Bahkan shalat sudah tak mampu mencegah kemungkaran. Kenimatan beribadah sangat sulit mereka dapatkan. Dalam cerita di atas, bahlul mencoba membeberkan beberapa kasus yang sehari-hari ditemui. Semoga dengan cerita di atas kita dapat memaknai setiap amal yang kita lakukan, sehingga makan, bicara dan tidurmu menjadi cahaya.

KISAH ASHABUL UKHDUD (ORANG BERIMAN DI BAKAR DALAM PARIT)

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim berkenan dengan kisah ashabul ukhdud, dari Shuhaib radiyallahu ‘Anhu,

“Ada seorang raja pada umat sebelum kalian. Ia punya tukang sihir. Ketika tukang sihir itu sudah mulai tua, ia berkata kepada raja, “Aku sudah tua, kirimkan kepadaku anak muda agar aku ajari sihir! Maka raja itu pun mengirimkan satu anak muda agar diajari sihir. Di tengah jalan yang ditempuh anak muda ini, terdapat seorang rahib, maka anak muda itu pun duduk mendengarkan ucapan rahib dan merasa tertarik. Akhirnya tiap datang ke tukang sihir ia melewati rahib, ia mampir untuk belajar darinya, sehingga jika datang ke tukang sihir ia dipukul, maka ia adukan hal itu kepada rahib. Rahib mengatakan, “Jika kamu takut kepada tukang sihir itu, katakan keluargaku menahanku. Dan jika kamu takut pada keluargamu maka katakan tukang sihir menahanku”.

Pada suatu hari yang biasa ia lalui, ada seekor binatang besar yang menghalangi manusia, menutupi jalan. Maka ia bergumam dalam hati, ”Hari ini aku tahu apakah tukang sihir yang lebih utama ataukah rahib, ia mengambil batu kemudian berkata, ”Ya Allah jika urusan rahib yang lebih Engkau cintai dari pada tukang sihir, maka bunuhlah binatang besar ini, supaya manusia bisa melewati jalan itu”. Kemudian ia melempar batu tersebut ke arah binatang tersebut dan mati, manusia pun bisa melewati jalan itu. Kemudian ia mendatangi rahib dan menceritakan kisah tersebut, rahib berkata kepadanya, “Wahai anakku, sekarang kamu lebih baik daripadaku, urusanmu telah mencapai tingkatan seperti yang aku lihat, dan kamu pasti akan mendapat cobaan, jika kamu diuji maka jangan menunjukkan tentangku (jangan bawa-bawa aku).

Anak muda ini bisa mengobati orang buta sejak lahir, dan penyakit kulit serta mengobati manusia dari berbagai penyakit. Orang dekat raja yang buta mendengar tentang anak muda ini, maka ia mendatanginya dengan membawa banyak hadiah. Ia berkata, ”Semua ini aku kumpulkan untukmu jika kamu bisa menyembuhkan aku.” anak muda itu menjawab ‘Sesunggunhnya aku tidak mampu menyembuhkan siapapun, tetapi Allah yang menyembuhkan, jika kamu beriman kepada Allah, maka aku akan berdo’a agar Allah menyembuhkanmu.” Orang dekat raja itu pun beriman, dan Allah menyembuhkan kebutaannya. Ia datang menghadap raja, duduk sebagaimana biasa, raja bertanya,”Siapa yang menyembuhkanmu?” ia menjawab,”Rabb ku”, raja bertanya, ”Apa kamu punya tuhan selain aku?” ia menjawab “Rabb ku dan Rabb mu”, maka ia menghukum dan menyiksa orang itu hingga ia menunjukkan perihal anak muda tersebut.

Anak muda itu pun dibawa menghadap. Raja bertanya, ”Apakah sihirmu sudah bisa menyembuhkan orang yang buta sejak lahir? penyakit kulit dan lain-lain?” ia menjawab,”Aku tidak bisa menyembuhkan siapapun yang menyembuhkan hanyalah Allah. ”Maka anak muda ini di hukum dan disiksa hingga menunjukkan perihal rahib, dan akhirnya rahib itu didatangkan dan diperintahkan, “Kembaliah (keluarlah) dari agamamu sekarang!” Rahib itu menolak dan diletakkan sebuah gergaji, diletakkan tepat diatas kepalanya, kemudian dibelah hingga terbelah. Kemudian orang dekat raja di datangkan lagi dan di katakan ”Tinggalkan agamamu!” Dia menolak, maka diletakkan gergaji diatas kepalanya dan dibelah.

Lalu didatangkan lagi anak muda itu dikatan kepadanya, ”Keluarlah dari agamamu!” dan ia menolak, maka raja itu memerintahkan pasukannya untuk membawanya ke puncak gunung , mereka menyeretnya ke puncak gunung,” Jika kalian sudah sampai di puncak gunung, sampaikan kepadanya untuk meninggalkan agamanya. Jika menolak ,maka lemparkan ke bawah!” Mereka membawa anak muda itu ke puncak gunung, sedang ia berdo’a ”Ya Allah cukupkanlah aku dari mereka dengan apapun yang Engkau kehendaki” Gunung bergoncang dan mereka berjatuhan, maka ia berjalan kembali pulang menuju istana raja. Raja bertanya, ”Apa yang dilakukan rombongan padamu?” Ia menjawab, “Allah mencukupkan aku dari mereka”

Raja kembali memerintahkan orang-orang untuk membawanya, “Bawalah ia ke dalam sebuah kapal kecil (sampan), seret hingga ke tengah laut!” Mereka membawa anak muda itu ke laut dalam sampan kecil, ia berdo’a  “Ya Allah cukupkanlah aku dari mereka dengan apa saja yang Engkau mau” Tiba-tiba kapal mereka terbalik dan mereka tenggelam. Kembali ia berjalan menuju raja. Raja bertanya, ”Apa yang terjadi dengan rombonganmu?” Ia menjawab, ”Allah mencukupkan aku dari mereka” kemudian ia berkata, ”Kamu tidak akan bisa membunuhku hingga aku perintahkan kamu” Raja bertanya, ”Siapa itu?” Ia menjawab, ”Kumpulkan semua manusia dalam satu tempat lapang, salib aku di atas pohon kurma, kemudian ucapkan, ”Dengan nama Allah, Rabb anak muda ini” lalu lepaskan anak panah itu, jika kamu melakukan itu maka kamu akan bisa membunuhku.”

Raja mengumpulkan rakyatnya dalam tempat lapang, dan anak muda tersebut telah disalib di atas pohon kurma, kemudian ia mengambil anak panah dari tempat anak panah pemuda itu, meletakkannya tepat di tengah busur, kemudian membaca, ”Dengan nama Allah, Rabb anak muda ini.” kemudian melepaskannya dan anak panah itu tepat mengenai pelipisnya. Anak muda itu meletakkan tangannya di pelipis pada anak panah yang menancap, lalu ia mati.

Orang-orang yang hadir berteriak, ”Kami beriman kepada Rabb anak muda ini. Kami beriman kepada Rabb anak muda ini. Kami beriman kepada Rabb anak muda ini!”

Raja diberitahu, ”Tahukah anda bahwa apa yang anda takutkan? Demi Allah apa yang anda khawatirkan telah terjadi. Manusia telah beriman kepada Allah.” Maka raja ini memerintahkan untuk menggali parit di mulut-mulut besi. Maka dibuatlah, kemudian dinyalakan api.  Lalu ia berkata, “Siapa yang tidak kembali dari agamanya maka bakar mereka! Perintah itupun dilaksanakan, hingga giliran Ibu muda dengan bayinya, wanita ini merasa ragu dan takut dilemparkan ke dalam parit yang menyala, maka bayinya berkata “Hai ibu, sabarlah, karena engkau diatas kebenaran.”

Dalam satu riwayat, “Dibawalah seorang wanita menyusui, dikatakan kepadanya, “Tinggalkan agamamu, jika tidak maka kami akan lempar kamu juga bayimu! Ibu itu merasa kasihan dengan bayinya dan berniat hendak kembali dari agamanya, maka bayi itu berkata kepadanya, “Hai Ibu, tetaplah di atas kebenaran, sesungguhnya jika kembali kepada kekufuran, adalah aib dan kehinaan. Maka mereka melemparkannya juga bayinya ke dalam api.” (HR. Muslim)

Mereka membunuh para wali Allah sementara Allah memerintah mereka untuk bertaubat.Allah ta’ala berfirman ,

“Sungguh, orang-orang yang mendatangkan cobaan (bencana, membunuh, menyiksa) kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan lalu mereka tidak bertobat, maka mereka akan mendapat azab jahannam dan mereka akan mendapat azab (neraka) yang membakar.”  (Qs. Al-Buruuj: 10)

Yakni, mereka menyiksa dan membakar orang-orang mukmin karena keteguhan mereka mempertahankan iman, dan menolak kembali ke agama kufur, kemudian mereka tidak bertaubat atas apa yang telah mereka lakukan kepada kaum mukminin dan mukminat, maka bagi mereka siksa neraka jahannam, dan mereka akan dibakar di dalam neraka. Yang dimaksudkan mereka di sini, bisa ashabul ukhdud secara khusus, dan yang dimaksud dengan mukminin adalah orang-orang yang terfitnah (diuji) dengan dilemparkan ke dalam parit, bisa juga orang-orang yang menyakiti kaum mukminin dengan siksaan secara mutlak, tanpa dibatasi dengan ashabul ukhdud saja, mereka termasuk di sini sejak semula.


    Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan “Lihatlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuhi para wali-Nya sementara Allah mengajak mereka untuk bertaubat dan ampunan.”

KISAH SALIH AL MAZY DAN MIMPINYA

Pada suatu malam bertepatan malam Jumaat Salih Al Mazi pergi ke masjid jamik untuk mengerjakan solat subuh.

Kebiasaannya ia berangkat awal sebelum masuk waktu subuh dan melalui sebuah pekuburan. Di situ Salih duduk sekejap sambil membaca apa-apa yang boleh mendatangkan pahala bagi ahli kubur memandangkan waktu subuh masih lama lagi.

Tiba-tiba dia tertidur dan bermimpi melihat ahli-ahli kubur keluar beramai-ramai dari kubur masing-masing. Mereka duduk dalam kumpulan-kumpulan sambil berbual-bual sesama mereka. Al Mazy ternampak seorang pemuda ahli kubur memakai baju kotor serta tidak berkumpul dengatn ahli-ahli kubur yang lain. Dia duduk seorang diri di tepi kuburnya dengan wajah murung, gelisah kerana sedih.

Tidak berapa lama kemudian datang malaikat membawa beberapa talam yang ditutup dengan saputangan. Seolah-olah seperti cahaya yang gemerlapan. Malaikat mendatangi para ahli kubur dengan membawa talam-talam itu, tiap seorang mengambil satu talam dan dibawanya masuk ke dalam kuburnya. Semua ahli kubur mendapat satu talam seorang sehingga tinggallah si pemuda yang kelihatan sedih itu seorang diri tidak mendapat apa-apa. Dengan perasaan yang sedih dan duka dia bangun dan masuk semula ke dalam kuburnya.

Tapi sebelum dia masuk Al Mazy yang bermimpi segera menahannya untuk bertanyakan keadaannya. “Wahai hamba Allah ! Aku lihat engkau terlalu sedih mengapa ?” tanya Salih Al Mazy.

“Wahai Salih, adakah engkau lihat talam-talam yang dibawa masuk oleh malaikat sebentar tadi?” tanya pemuda itu.

“Ya aku melihatnya. Tapi apa benda di dalam talam-talam itu ?” tanya Al Mazy lagi.

Si pemuda menerangkan bahwa talam-talam itu berisi hadiah orang-orang yang masih hidup untuk orang-orang yang sudah mati yang terdiri dari pahala sedekah, bacaan ayat-ayat suci Al Quran,bacaan Ratib-Ratib dan doa. Hadiah-hadiah itu selalunya datang setiap malam Jumaat atau pada hari Jumaat.

Si pemuda kemudian menerangkan tentang dirinya dengan panjang lebar. Katanya dia ada seorang ibu yang masih hidup di alam dunia bahkan telah berkahwin dengan suami baru.Akibatnya dia lupa untuk bersedekah untuk anaknya yang sudah meninggal dunia sehingga tidak ada lagi orang yang mengingati si pemuda. Maka sedihlah si pemuda setiap malam dan hari jumaat apabila melihat orang-orang lain menerima hadiah sedangkan dia seorang tidak menerimanya.

Al-Mazy sangat kasihan mendengarkan cerita si pemuda. lalu ia bertanya nama dan alamat ibunya ia dapat menyampaikan keadaan anaknya. Si pemuda menerangkan sifat sifat  ibunya.

Kemudian Al Maizy terjaga.

Pada sebelah paginya Al Maizy terus pergi mencari alamat ibu pemuda tersebut. Setelah mencari kesana kemari beliaupun berjumpa ibu si pemuda tersebut lantas menceritakan perihal mimpinya.

Ibunya menangis mendengar keterangan Al maizy mengenai nasib anaknya yang merana di alam barzah. Kemudian ia berkata :”Wahai Salih ! Memang betul dia adalah anakku. Dialah belahan hatiku, dia keluar dari dalam perutku. Dia membesar dengan minum susu dari dadaku dan ribaanku inilah tempat dia berbaring dan tidur ketika kecilnya.”

Al Maizy turut sedih melihat keadaan ibu yang meratap dan menangis penuh penyesalan kerna tidak ingat untuk mendoakan anaknya selama ini. “Kalau begitu saya mohon minta diri dahulu.” kata Al maizy lalu bangun meninggalkan wanita tersebut. Tatkala dia cuba untuk melangkah si ibu menahannya agar jangan pulang dahulu.
Dia masuk kedalam biliknya lalu keluar dengan membawa wang sebanyak seribu dirham. “Wahai Salih, ambil wang ini dan sedekahkanlah untuk anakku, cahaya mataku. Insya Allah aku tidak akan melupakannya untuk berdoa dan bersedekah untukya selama aku masih hidup.”

Salih Al Maizy mengambil wang itu Lalu disedekahkannya kepada fakir miskin sehingga tidak sesenpun dari seribu dirham itu yang tinggal. Dilakukannya semua itu sebagai memenuhi amanah yang diberi kepadanya oleh ibu pemuda tersebut.

Pada suatu malam Jumaat di belakang selepas itu, Al Maizy berangkat ke masjid jamik untuk solat jamaah. Dalam perjalanan sebagaimana biasa ia singgah di perkuburan. Di situlah ia terlena sekejap dan bermimpi melihat ahli-ahli kubur keluar dari kubur masing2. Si pemuda yang dulunya kelihatan sedih seorang diri kini keluar bersama-sama dengan memakai pakaian putih yang cantik serta mukanya kelihatan sangat bercahaya dan gumbira.

Pemuda tersebut mendekati Salih Al Maizy seraya berkata : “Wahai tuan Salih, aku ucapkan terima kasih kepadamu. Semoga Allah membalas kebaikanmu itu. Hadiah dari ibuku telah ku terima pada hari jumaat.” katanya lagi.

“Eh, Engkau boleh mengetahui hari Jumaat ?” tanya Al Maizy.

“Ya, Tahu.”

“Apa tandanya?”

“Jika burung-burung di udara berkicau dan berkata “Selamat selamat pada hari yang baik ini, yakni hari Jumaat.” Salih Al Maizy terjaga dari tidurnya. Ia cuba mengingati mimpinya dan merasa gumbira kerana sipemuda telah mendapat rahmat dari Allah disebabkan sedekah dan doa dari ibunya.


Semoga kisah ini bermanfaat untuk semuanya.

KERAMAT SEORANG WANITA

Syeikh Sariy Saqaty r.a adalah seorang alim dan ulamak yang abrar.

Murid-muridnya terdiri daripada pelbagai kaum yang datang dari merata pelusuk. Salah seorang daripada muridnya adalah seorang wanita yang solihah, jujur dan sentiasa taat dan patuh kepada perintah Allah.  Wanita ini mempunyai seorang anak yang bernama Muhammad. Anaknya telah diserahkan kepada seorang guru untuk mempelajari ilmu-ilmu agama dan mengaji Al-Quraan.

Pada suatu hari guru agama ini pergi ke tepi sungai Dajlah bersama-sama anak wanita tadi untuk megambil angin sambil bersiar-siar.  Ketika guru itu duduk sambil berehat,  anak wanita tadi bermain-main di tebing sungai dan tidak di sedari bahawa anak itu telah terun ke dalam sungai itu. Setelah di sedari oleh guru itu dan belum sempat guru itu untuk menarik anak itu ke darat, tiba-tiba anak itu tenggelam ke dalam sungai. Dengan perasaan cemas guru itu mencari-cari anak itu tetapi tidak berjumpa. Setelah puas mencari guru itu tidak dapat berbuat apa-apa dan beliau berfikir mungkin anak itu telah mati dan di bawa arus.

Guru tersebut merasa kesal di atas perbuatannya kerana mengajak anak tersebut bersiar di tepi sungai. Fikirannya buntu tidak dapat memikirkan bagaimana untuk memeberi tahu emaknya tentang kehilangan anak tersebut, dia takut dimarahi oleh wanita itu di atas kecuaiannya.  Dengan perasaan yang tidak menentu itu, tiba-tiba ia teringat tentang syeikh Sariy seorang ulamak tempat ibunya mengaji, mungkin syeikh tersebut boleh membantu menyelesaikan masalah ini.  Tanpa membuang masa guru itu terus kerumah Syeikh Sariy untuk memohon bantuannya menyelasaikan masalah kehilangan anak kepada wanita, muridnya.

Setibanya di sana Guru itu menceritakan kepada Syeikh Sariy tentang kehilangan anak kepada wanita itu, dia memohon supaya mencari jalan bagaimana untuk memberi tahu ibunya tentang kehilangan anaknya.  Syeikh Sariy mengajak kawannya Al-Junid yang kebetulan berada disitu untuk pergi ke rumah wanita itu dan sama-sama membantu supaya wanita itu tidak mengamuk atau memaki hamun guru itu diatas kecuaian yang menyebabkan anaknya tenggelam di dalam sungai.

Apabila tiba di rumahnya Syeikh Sariy dan Al-Junid mengajarnya tentang kesabaran yang perlu dihadapi kerana ia adalah dugaan Allah, jika sesuatu musibah yang menimpanya ia adalah takdir Allah semata-mata. Wanita itu kehairanan tentang tingkah laku Syeikh Sariy dan kawannya Al Junid. Wanita itu berkata kepada Syeikh Sariy "Apakah sebenarnya yang berlaku? sehingga tuan-tuan menceritakan tentang perkara yang telah saya ketahui".  Syeikh Sariy berterus terang dan menceritakan tentang kehilangan anaknya yang telah tenggelam ke dalam sungai semasa anaknya bermain-main bersama-sama gurunya di tebing sungai Dajlah.

Mendengar keterangan tersebut wanita itu berkata dengan perasanan tenang "Insya Allah, Tuhan tidak akan membuat sedemikian kepada aku". Wanita itu mengajak mereka supaya menunjukkan tempat kehilangan anaknya.  Mereka menuju ke tebing sungai dan apabila sampai di sana guru itu menunjukkan tempat anaknya tenggelam.  

Kata wanita itu "Apakah kamu pasti bahawa anakku hilang di sini" Jawab guru itu "Benar di sinilah dia tenggelam dan saya tidak sempat untuk mememegang tangannya ketika ia tenggelam". Lalu wanita itu menyeru nama anaknya "Hai anakku Muhamammad" beberapa kali, tidak lama kemudian anaknya menjawab "Ibu, Saya ada disini". wanita itu terus turun kedalam sungai lalu menghulurkan tangannya ke dalam air dan menarik keluar anaknya. Syeikh Sariy, Aljunid dan Gurunya hanya terpegun melihat keajaipan yang berlaku di hadapan matanya. Syeikh Sariy berkata "jika kita memberi tahu kepada orang, tentu mereka tidak percaya". Jawab Aljunid "Benar kata tuan, keajaipan tidak diperolehi oleh semua orang, kecuali mereka yang benar-benar takwa dan patuh kepada Allah , maka Allah akan mengurniakan kelebihan kepada mereka".


Wanita tadi memeluk anaknya dangan penuh kegembiraan. Mereka terus beredar dari situ untuk pulang kerumahnya dan tinggallah Syeikh Sariy, Aljunaid dan Guru di situ. 

mereka berbincang- bincang tentang keramat yang diberikan Allah kepada wanita itu. 

Syeikh Sariy berkata "Wanita itu telah mendapat alamat bahawa anaknya masih hidup semasa ia berkata bahawa Allah tidak akan membuat sedemikian kepadanya" Mereka bertiga pun beredar dari situ dengan membawa kenangan yang tidak dapat di lupakan dan mereka bersyukur kepada Allah diatas kebesaran dan kekuasaanNya dan  segala yang berlaku diatas muka bumi ini adalah di atas ketentuanNya.

HABUK KAYU BERTUKAR MENJADI TEPUNG GANDUM

Kisah ini diceritakan sendiri oleh Atha' bin Al-Azraq.

Pada suatu hari isteri Atha' menyuruhnya pergi ke pasar untuk membeli gandum kerana gandum di rumahnya telah kehabisan. Isterinya memberi wang sebanyak 2 dirham. Atha' mengambil karung guni dan berjalan menuju ke pasar. Di dalam perjalanan dia ternampak seorang hamba sahaya sedang menangis. Orang ramai yang lalu lalang di situ tidak memperdulikan akan hamba tersebut. Oleh kerana kasihan melihat keadaan hamba tersebut Atha' menghampiri hamba yang sedang menangis lalu bertanya "Kenapakah kamu menangis ditepi jalan ini?". Hamba itu memberitahu "Aku diberi wang sebanyak 2 dirham oleh tuanku supaya membeli barang keperluan di pasar", sambungnya lagi "Apabila tiba di sini aku dapati wangku sudah tidak." hamba tadi sambil menangis lebih kuat lagi dan berkata "Mungkin wang itu tercicir semasa dalam perjalanan ke mari".

Atha' menanya lagi "Kenapa kamu tidak pulang saja dan memberitahu tuanmu tentang kehilangan wang tersebut?." Sambil menangis hamba tadi menjawab "Jika aku pulang dan memberitahu tentang kehilangan tersebut, tentulah aku dimarahi dan dipukul dengan teruknya". Atha' merasa hiba diatas penjelasan hamba itu lalu berkata "Ambil wang ini dan belilah barang-barang yang di pesan oleh tuanmu". Hamba tadi mengambil wang itu dan mengucapkan terima kasih kepada Atha' dan beredar dari situ menuju ke pasar untuk membeli barang-barang yang di pesan oleh tuanya.

Setelah hamba tadi beredar dari situ Atha' berkata dalam hatinya "Bagaimanakah aku hendak membeli gandum yang di pesan oleh isteriku sedangkan wang 2 dirham telahku berikan kepada hamba tadi". "Dari mana aku hendak mencari wang sebanyak itu" sambungnya lagi. Untuk menenangkan fikirannya Atha' menuju ke sebuah masjid yang berhampiran untuk menunaikan solat sunat. Atha' berada di dalam masjid agak lama, sehingga ia sempat bersolat Asar di situ sambil berdoa supaya Allah memberikan sesuatu rezeki kepadanya.

Setelah selesai solat Asar, Atha' menuju ke rumah kawannya kerana ia takut dimarahi oleh isterinya kerana pulang tanpa membawa gandum yang di pesanya. Pada mulanya Atha' ingin menceritakan dan meminta bantuan daripada kawannya tetapi apabila tiba dirumah kawanya, ia tidak tergamak untuk memberitahu hajatnya. Apabila kawannya melihat Atha' membawa karung kosong, lalu kawanya bertanya " Apa tu, karung kosong?" jawab Atha' "Ya" "Kalau begitu isilah habuk kayu ini dan bawalah pulang untuk di jadikan bahan bakar" kata kawannya. Atha' tanpa bacakap apa-apa mengisi karung guni dengan habuk kayu yang diberikan oleh kawannya dan terus pulang ke rumahnya.


Apabila tiba dirumahnya Atha' meletakkan guni yang berisi habuk kayu tadi di rumahnya dan beredar dari situ dengan senyap-senyap kerana takut isterinya meleter di sebabkan karung tersebut di isi dengan habuk kayu. Atha' menuju ke masjid, lama juga ia berada di sana sehingga hampir larut malam barulah dia pulang. Sesampainya di rumah dia tercium bau harum roti yang sedang dibakar. Atha' kemudiannya masuk ke dapur dan melihat isterinya sedang membakar roti lalu berkata "Harumnya baru roti ini" jawab isterinya "Memanglan kerana gandum ini dari kualiti yang baik". Atha' bertanya lagi "Dari mana kamu dapat tepungnya" "Dari mana lagi, dari karung yang awak bawa baliklah" jawab isterinya. 

Atha' kehairanan lalu berkata di dalam hatinya "Dari mana datangnya gandum itu sedangkan karung tadi berisi dengan habuk kayu, ajaib sungguh!". Atha' bertanya kepada isterinya "Mana karungnya biar aku lihat?" Isterinya menghulurkan karung tadi dan dilihatnya "Memang benar, karung tadi yang berisi habuk kayu telah bertukar menjadi gandum yang berkualiti baik" kata Atha' di dalam hatinya.. Atha' hanya mampu memandang sahaja sedangkan dia sendiri tidak tahu dari mana datangnya gandum tersebut. Begitulah jika kita berserah dan kembali kepada qudrat dan iradat Allah tidak ada yang mustahil.

WASIAT ABBAD BIN ABBAD AL-KHAWWASH KEPADA AHLU AS-SUNNAH WAL-JAMA'AH

Abbad bin Abbad Al-Khawwash Asy-Syami Abu Utbah berkata,
"Amma ba'du.

Berfikirlah, karena akal adalah nikmat yang bisa berubah menjadi penyesalan. Karena tidak tertutup kemungkinan orang yang mempunyai akal itu menyibukkan hatinya dengan memperdalam sesuatu yang madharatnya lebih banyak daripada manfaatnya, hingga la menjadi pelupa.

Al-Qur"an adalah anutan Rasulullah SAW,, dan beliau adalah anutan sahabat sahabatnya, serta para sahabatnya adalah anutan bagi generasi-generasi sesudah mereka.

Mereka orang-orang yang terkenal dan berasal dari negeri yang berbeda. Mereka sepakat menolak orang-orang yang menuruti hawa nafsu, kendati di sisi lain terjadi perbedaan pendapat dikalangan mereka, dan kendati orang-orang yang menuruti hawa nafsunya berlarut-larut mengandalkan pendapatnya dalam hal yang beragam dan menyimpang dari Jalan yang lurus.

Karena ulah mereka, orang-orang yang paling bingung di antara mereka tersesat di tempat rawan bahaya, kemudia mereka memikirkan hal-hal tersebut dengan sewenang-wenang. Setiap kali syetan menciptakan bidah untuk mereka dalam kesesatan mereka, mereka pindah dari satu bitlah kepada bld'ah yang lain, karena mereka tidak mau mencari jejak generasi salaf, dan tidak meniru kaum Muhajirin.

Disebutkan dari Umar bin Khaththab Radhtyattahu Anhu yang berkata kepada Zayyad, Tahukah engkau apa saja yang menghancurkan Islam? (Yang menghancurkan Islam) ialah kesalahan ulama, mendebat orang munafik dengan Al Qur"an dan para pemimpin yang sesat.'

Bertakwalah kepada Allah dan terhadap ghibah, adu domba, dan si dua mulut dan dua wajah (orang munafik) pada para qari kalian, dan orang-orang masjid kalian  Disebutkan, bahwa barangsiapa bersikap dua wajah (munafik) di dunia, la pun bersikap dua wajah di neraka.

Allah. Allah. Lindungilah kesucian orang-orang yang tidak hadir di sini dan jagalah lidahmu dari mereka kecuali perkataan yang baik. Berilah nasihat Allah pada ummat kalian sebab kalian adalah pengemban Al-Kitab (Al-Quran) dan Sunnah. Sesungguhnya Al-Kitab (Al-Quran) Itu tidak berbicara hingga ia diucapkan (dibaca) dan sesungguhnya Sunnah itu tidak bisa beramal hingga ia diamalkan.

Kapan orang bodoh bisa belajar Jika orang berilmu memilih diam, la tidak melarang kemungkaran yang terlihat, dan tidak menyuruh pengerjaan kebaikan yang tidak diamalkan?

Sungguh Allah telah membuat perjanjian dengan Ahli Kitab agar mereka menjelaskan Al-Kitab kepada manusia dan tidak menyembunyikannya. Bertakwalah kepada Allah, karena sekarang kalian sedang berada pada zaman dimana sifat wara' semakin menipis, sifat khusyu' semakin berkurang, dan yang membawa Ilmu itu Justru orang-orang yang merusaknya. Mereka lebih senang dikenal sebagal orang-orang yang mengemban Ilmu dan tidak suka dikenal sebagai oang-orang yang menyia-nyiakannya. Mereka berbicara Imu berdasarkan hawa nafsu ketika mereka memasukkan kesalahan di dalam Ilmu tersebut. Mereka merubah Al-Kittab (Al-Qur"an), meninggalkan kebenaran, dan mengamalkan kebatilan. Dosa-dosa mereka tidak akan diampuni dan kelalaian mereka tidak akan diakui.

Bagaimana orang yang ingin mendapatkan petunjuk bisa mendapatkan petunjuk, jika dalilnya saja membingungkan?
Orang yang mengamalkan kebenaran itu senantiasa berkata, kendati ia diam.

Disebutkan, bahwa Allah Ta 'ala befirman,
'Sesungguhnya Aku tidak menerima semua ucapan orang bijak, namun Aku melihat kepada keinginannya dan hawa nafsunya. Jika keinginannya dan hawa nafsunya untuk-Ku, Aku menjadikan diamnya sebagai pujian dan ketenangan, kendati ia tidak berbicara.'

Allah Taata ber-firman,

'Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.' (Al-Jumu'ah: 5).

Allah Ta'ala befirman,
'Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu." (Al-Baqarah: 63).

Maksud ayat di atas, amalkan apa saja yang ada di dalamnya! Terhadap Sunnah, kalian Jangan hanya berkata tanpa mengamalkannya, karena mengakui Sunnah tanpa mengamalkannya adalah perkataan bohong dan menyia-nyiakan ilmu. Kaitan Jangan mencela bid'ah dengan maksud mempercantik diri dengan aibnya, karena kerusakan ahli bidah Itu tidak menambah kebalkan kalian. Kalian jangan pula mencela bidah tersebut karena ingin mendzalimi pelaku bidah, karena kedzaliman adalah termasuk kerusakan jiwa kalian

Seorang dokter tidak etis mengobati pasien dengan obat yang membuatnya sakit, karena jika pasien tersebut sakit, dokter lebih sibuk memperhatikan penyakitnya daripada mengobatinya. Namun seyogyanya dokter tersebut mencari kesehatan untuk dirinya, agar ia mampu mengobati pasiennya. Hendaklah sesuatu yang kalian larang dari saudara-saudara kalian itu berangkat dari penglihatan kalian terhadap diri kalian, nasihat kalian kepada Rabb kalian, dan rasa iba kalian kepada saudara-saudara kalian.

Selain Itu, hendaklah kalian lebih sibuk memperhatikan aib kalian daripada memperhatikan aib orang lain, hendaklah sebagian dari kalian memberi nasihat kepada sebagian lain, dan memuliakan orang yang memberi nasihat kepada kalian dan menertnanya dari kalian. Umar bin Khaththab R.A pernah berkata,

"Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan aib-aibku kepadaku."

Curigailah ucapan kalian dan ucapan orang-orang zaman kalianl Periksalah sebelum bicaral Belajarlah kalian sebelum mengajari Karena akan datang suatu zaman dimana kebenaran dan kebatilan terlihat sama-samar didalamnya, kebaikan di dalamnya menjadi kemungkaran, dan kemungkaran di dalamnya menjadi kebaikan. Di antara kalian ada orang yang bertaqarub (mendekat) kepada Allah dengan sesuatu yang malah menjauhkannya dari Allah, dan di antara kalian ada orang yang ingin meraih cinta-Nya dengan sesuatu yang malah membuatnya dlbenci Allah. Allah Taata befirman.

'Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)? (Fathir: 8).

Hendaklah kalian bersikap menunggu dalam masalah-masalah syubhat, hingga kebenaran terlihat jelas dengan bukti nyata, karena orang yang masuk ke dalam sesuatu yang tidak diketahuinya itu berdosa. Barangsiapa melihat kepada Allah, Allah pun melihat kepadanya. Hendaklah kalian berpegang teguh kepada Al-Quran, berimamlah kepadanya, menjadi pemimpwi dengannya, dan carilah jejak orang-orang salaf di dalamnya.

Jika para rahib dan pendeta tidak melindungi hilangnya kedudukan mereka, dan rusaknya status mereka dengan melaksanakan Al-Kitab dan menjelaskannya kepada manusia, mereka tidak akan merubah Al-Kitab
tersebut dan tidak menyembunyikannya. Namun, mereka menentang Al-Kitab dengan amal perbuatan mereka, dan menipu kaumnya dengan amal perbuatan mereka karena takut kedudukan mereka hilang, dan kerusakan mereka terlihat oleh manusia.


Untuk Itu, mereka merubah Al-Kitab dengan penafsiran dan ayat-ayat yang tidak mampu mereka rubah mereka menyembunyikannya. Mereka diam terhadap perbuatan diri mereka untuk menjaga eksistensi kedudukan mereka dan diam terhadap amal perbuatan kaumnya untuk bermain mata dengan mereka. Sungguh Allah telah mengambil perjanjian dari orang-orang Ahli Kitab agar mereka menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya. Tragisnya, mereka berpaling daripadanya, dan menjadi teman bagi mereka di dalamnya." 

WASIAT SUFYAN ATS-TSAURI KEPADA ABBAD BIN ABBAD AL-KHAWWASH AL-ARSUFI

Sufyan Ats-Tsauri Rahimahutlah menulis surat kepada Abbad bin Abbad Al-Khawwash. Dalam surat-nya, Sufyan Ats-Tsauri berkata.

"Amma ba’du’.

Ketahulah, bahwa sekarang ini engkau berada di zaman di mana sebelumnya para sahabat Rasulullah Shallaltahu Ataihi wa Sallam meminta perlindungan dari berada pada zaman tersebut.

Mereka mempunyai ilmu yang tidak kita miliki, dan mempunyai keberanian yang tidak kita mtlkl. Maka bagaimana jika kita berada pada zaman tersebut, sementara kita hanya bermodalkan ilmu yang pas-pasan, sedikit kesabaran, sedikit pendukung dalam kebaikan manusia sedang rusak berat, dan dunia sedang keruh?

Hendaklah engkau berpegang teguh kepada ilmu, dan merahasiakan diri, karena sekarang zamannya merahasiakan diri. Hendaklah engkau melakukan uzlah, dan tidak banyak bergaul dengan manusia.

Sebelum ini, jika manusia bertemu, maka sebahagian dari mereka mendapatkan manfaat dari sebahagian yang Lain.

Sedang zaman kita sekarang, itu semua tidak ada lagi, dan menurut pendapatku jalan keselamatan ialah dengan tidak bergaul dengan mereka.

Engkau Jangan mendekat kepada para penguasa dan menjalin hubungan dengan mereka dalam urusan apa pun.

Jangan tertipu, kemudian dikatakan kepadamu, "Belalah! Lindungi orang yang teraniaya dan kembalikan barang yang diambil dengan tidak hakl" Karena itu semua adalah tipuan iblis yang dijadikan sebagal tangga oleh para ulama yang bejat.

Dulu pernah dikatakan, Takutlah fitnah ahli Ibadah yang bodoh, dan orang berilmu yang berdosa, karena fitnah keduanya adalah fitnah bagi siapa saja yang terkena fitnah.

Jika engkau mendapatkan permasalahan dan fatwa, maka manfaatkan baik baik, dan jangan bersaing dengan manusia di dalamnya. Janganlah engkau menjadi seperti orang yang Ingin ucapannya diamalkan, ucapannya disebarluaskan, dan ucapannya didengar. Jika Itu semua tidak dilakukan, maka membekas dalam dirinya."

Jangan berambisi kepada jabatan, karena jika seseorang lebih mencintai jabatan daripada emas dan perak, karena jabatan tersebut adalah pintu yang tidak Jelas yang tidak bisa diketahui kecuali oleh para ulama. Periksalah dirimu dan beramallah sesuai dengan niatnya. Ketahuilah, bahwa telah mendekat kepada manusia sesuatu di mana seseorang ingin mati karenanya. 

WASIAT ALI BIN ABU THALIB KEPADA KUMAIL BIN ZIYAD BIN NAHIK AN-NAKH'I

Kumail bin Zaiyad An-Nakha'i berkata, bahwa Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu menggandeng tanganku kemudian mengajakku keluar ke arah dataran tinggi. Ketika kami telah berada di tempat yang tinggi,Ali bin Abu Thalib duduk kemudian menarik nafas panjang, la berkata, "Hal Kumal bwi Zayyad. sesungguhnya hati adalah wadah, dan hati yang paling baik ialah hati yang paling sadar. Jagalah apa yang saya katakan kepadamu.


Manusia itu terbagi ke dalam tiga kelompok; ulama Rabbani, penuntut ilmu di atas Jalan keselamatan, dan orang-orang Jelata pengikut semua penyeru.

Kelompok terakhir miring bersama dengan hembusan angin, tidak bersinar dengan cahaya Imu dan tidak bersandar pada tiang yang kokoh.

Ilmu lebih baik daripada harta. Ilmu menjagamu, sedang engkau menjaga harta. Ilmu berkembang biak dengan diamalkan, sedang harta berkurang dengan infak, dan mencintai Ilmu adalah agama. Ilmu membuat ulama ditaati sepanjang hidupnya dan dikenang sepeninggalnya, sedang kebalkan karena harta Itu hilang bersamaan dengan hilangnya harta. Para penyimpan harta telah mati, padahal sebenarnya mereka masih hidup, sedang para ulama abadi sepanjang zaman. Diri mereka telah sirna, namun suri tauladan mereka tetap melekat di dalam hati.


Ha..haa. Sesungguhnya di sini -sambil menunjuk ke dadanya  ada ilmu, jika aku menerimanya dengan benar.


Namun, sayang sekali, aku menerimanya dengan cepat memahaminya namun tidak amanah di dalamnya, mempergunakan alat agama untuk membeli dunia, meminta diperlihatkan hujjah-hujjah Allah terhadap Kttab-Nya, nikmat- nikmat- Nya terhadap hamba-hamba-Nya, atau diberikan kepada orang-orang yang benar yang tidak mempunyai hujjah nyata di dalamnya.


Sifat ragu-ragu membekas dalam hati sejak awal syubhat yang datang kepadanya, la tidak termasuk kelompok ini dan kelompok itu.

la tidak mengetahui di mana kebenaran berada? Jika ia berkata, ia salah. Jka ia salah, ia tidak mengetahui kesalahannya, la hanya suka terhadap hal-hal yang hakikatnya tidak la ketahui, la menjadi fitnah bagi orang yang terkena fitnahnya.


Sesungguhnya puncak kebalkan adalah orang yang dikenalkan Allah kepada agama-Nya, dan cukuplah seseorang dikatakan bodoh jika ia tidak mengenal agamanya, la tenggelam dalam kenikmatan,mudah dipengaruh syahwat, tergoda mencari harta dan menumpuknya, serta bukan termasuk dai-dai agama. Sesuatu yang paling mirip dengan mereka yaitu hewan ternak. Begitulah, ilmu mati dengan kematian orang-orang yang mengembannya.'


Ya Allah, betul sekail bahwa dunia tidak pernah sepi dari orang yang membela Allah dengan hujjah-hujjah-Nya, agar hujjah-hujjah Allah dan keteranganketerangan- Nya tidak terkalahkan. Mereka jumlahnya tidak seberapa banyak, namun mereka orang-orang yang paling berat timbangannya di sisi Allah.


Dengan mereka, Allah membela hujjah-hujjah-Nya hingga mereka menunaikannya kepada orang-orang yang semisal dengan mereka, dan menanamkannya ke dalam hati orang-orang yang seperti mereka. Dengan mereka, ilmu menghadapi segala persoalan kemudian mereka menganggap enteng apa yang dianggap sulit oleh orang-orang yang hidup mewah dan tidak takut terhadap apa saja yang ditakutkan orang-orang bodoh. Mereka berada di dunia dengan badan mereka, sedang ruh mereka berada di tempat yang tinggi. Mereka adalah khalifah-khalifah Allah di bumi-Nya dan dai-dai-Nya kepada agama-Nya.



Ha..Haa. Aku ingin rindu Ingin melihat mereka. Aku meminta ampunan kepada Allah untukku dan untuk-mu. Jika engkau mau, berdirilah"