Catatan Popular

Selasa, 13 Ogos 2019

TOBAT SESEORANG YANG BERMIMPI MELIHAT NABI SAW.


Ada seseorang salah satu tetangga Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah terjerumus dalam kemaksiatan. Suatu hari dia datang ke tempat pengajian Imam Ahmad bin Hanbal dengan mengucapkan salam.

Imam Ahmad pun menjawab salamnya dengan dingin dan tidak ada sambutan hangat, orang itu berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdullah, kenapa kamu bersikap dingin kepadaku? Sesungguhnya aku telah beralih dari apa yang dahulu kamu telah janjikan dengan sebuah mimpi yang telah aku mimpikan.”

    Imam Ahmad berkata,  “Apa yang telah kamu mimpikan?”

    Orang itu berkata, “Aku bermimpi melihat Nabi saw. di tempat yang tinggi dan orang-orang banyak sekali duduk di bawah beliau.”

    Orang itu bercerita, “Satu demi satu dari mereka bangun dan mendatangi beliau seraya berkata, ‘Doakan aku.’ Beliau pun mendoakannya sampai akhirnya tidak ada yang tersisa dari mereka kecuali aku sendiri. Aku ingin bangun tapi aku malu oleh kerena jeleknya perbuatanku selama ini.

Beliau berkata kepadaku,  ‘Wahai fulan, kenapa kamu tidak datang kepadaku dan memohon agar aku mendoakanmu?’

    Aku menjawab,  “Wahai Rasulullah, rasa malu yang menahanku karena jeleknya amal perbuatanku selama ini?”

    Beliau berkata, “Jika rasa malu yang menahanmu, bangunlah dan mintalah agar aku mendoakan kamu, dan sesungguhnya kamu tidak akan mencaci maki seseorang dari para sahabatku.”

    Orang itu bercerita, “Aku pun berdiri dan beliau mendoakanku lantas aku terbangun dan langsung saja Allah telah menjadikan diriku benci kepada apa yang selama ini aku lakukan.”


TOBAT SEORANG PEMUDA YANG INGAT ALLAH KETIKA HENDAK MELAKUKAN MAKSIAT

Yahya bin Ayyub berkata, “Di Madinah ada seorang pemuda yang kepribadiannya sangat dikagumi oleh Umar ibnul hthab r.a..

Pada suatu malam, ketika dia pulang dari shalat Isya, ada seorang wanita yang berdiri di hadapannya. Wanita itu menawarkan dirinya dan pemuda itu pun tergoda dan hingga mengikuti wanita itu sampai di depan pintu rumahnya.

Namun tiba-tiba timbul rasa cemas dan takut dari dalam hati pemuda itu dan dia langsung teringat ayat ini, ‘Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).’” (al-A’raaf: 201)

    Dia langsung pingsan. Wanita itu melihat ke pemuda itu sudah seperti orang mati. Maka, wanita itu dan budak perempuannya saling berjibaku untuk mengangkatnya dan membawanya ke depan pintu rumahnya. Ayah pemuda itu keluar dan dia melihat anaknya sedang tergeletak di depan pintu rumahnya. Ayahnya langsung mengangkat dan membawanya ke dalam dan pemuda itu akhirnya sadar. Sang ayah bertanya, “Wahai anakku, apa yang telah terjadi padamu?”

    Sang anak tidak mau memberitahukannya, tetapi sang ayah tetap terus bertanya sampai akhirnya dia bercerita kepadanya. Ketika dia membaca ayat tadi, dia menjerit histeris dengan satu jeritan yang membawa nyawanya keluar.

    Kisah pemuda itu pun sampai kepada Umar r.a., dia berkata, “Apakah kalian mengizinkanku untuk mengumandangkan azan atas kematiannya?” 

Umar lalu pergi sampai dia tiba di tempat pemakamannya. Dia memanggil, “Wahai fulan, ‘Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.’” (ar-Rahmaan: 46)

    Umar pun mendengar suara dari dalam kuburnya, “Tuhanku telah memberikannya wahai Umar

TOBAT SEORANG KAKEK TUA DI TANGAN RASULULLAH SAW


Tobat itu tidak mengenal umur dan tidak pula waktu tertentu. Allah swt. selalu menerima tobat para hamba-Nya dan memaafkan segala kesalahan mereka, kapan pun Anda mengatakan, “Wahai Tuhanku.” Allah pasti menjawab, “Aku datang memenuhi panggilanmu, wahai hamba-Ku.”

    Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan dari Makhul berkata, “Datang seorang kakek tua yang sudah uzur. Kedua alis matanya telah turun ke kedua matanya.

Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, seorang pengkhianat dan jahat, tidak pernah membiarkan hajat dan tidak pula keinginan kecuali dia menyambarnya dengan kanannya. Jika kesalahannya dibagi-bagikan kepada penduduk bumi ini, maka itu bisa menghancurkan mereka. Masih adakah jalan baginya untuk bertobat?’
  
Rasulullah saw. berkata, ‘Apakah kamu telah masuk Islam?’

Dia menjawab, ‘Adapun aku, sesungguhnya aku telah bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.’
   
Beliau berkata, ‘Sesungguhnya Allah Maha Pengampun pengkhianatanmu, kejahatanmu, dan akan mengganti kejelekanmu dengan kebaikan jika mau melakukan itu.’
   
Orang itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, semua pengkhianatan dan kejahatanku?’
   
Beliau kemudian berkata, ‘Semua pengkhianatan dan kejahatanmu.’
   
Orang itu pun berpaling sambil dia bertakbir dan bertahlil dengan mengatakan Allahu Akbar dan Lailaha Illallah.”


KISAH TOBATNYA PENYANYI ABU UMAR AL KINDI

Suatu hari Abdullah bin Mas’ud lewat di pinggiran Kufah. Ternyata di sana ada dua anak muda yang sedang berkumpul sambil minum-minum.

Bersama mereka ada pula seorang penyanyi yang dikenal dengan Zadzan. Dia sering memainkan gitar dan bernyanyi. Terlebih lagi dia memang memiliki suara yang bagus. Ketika Abdullah bin Mas’ud mendengar nyanyiannya, dia berkata, “Betapa indahnya suara ini jika digunakan untuk membaca Al-Qur’an.”

    Kemudian dia mengangkat sorbannya dan meletakkannya di atas kepalanya. Setelah itu dia pergi. Zadzan mendengar ucapan Abdullah bin Mas’ud seraya bertanya, “Siapa orang itu?”

    Mereka menjawab, “Dia adalah Abdullah bin Mas’ud sahabat Rasulullah saw..”

    Dia bertanya lagi, “Apa yang telah dia katakan?”
    Mereka menjawab,  “Dia telah mengatakan, ‘betapa indahnya suara ini jika digunakan untuk membaca Al-Qur’an.’”

    Zadzan pun segera bangkit kemudian membanting gitarnya hingga hancur. Lantas dia cepat-cepat mengejar Abdullah bin Mas’ud dan menemuinya. Dia langsung menangis di hadapannya. Ibnu Mas’ud kemudian memeluknya, sehingga mereka berdua sama-sama menangis. Lalu, Abdullah bin Mas’ud berkata, “Bagaimana aku tidak cinta kepada orang yang telah dicintai Allah?”

    Setelah itu Abu Umar al-Kindi pun bertobat dari bernyanyi selanjutnya dia mengikuti Ibnu Mas’ud untuk belajar Al-Qur’an hingga akhirnya dia menjadi salah seorang imam dan ulama pada zamannya. 
Semoga Allah merahmatinya.

Ahad, 21 Julai 2019

SIRRUL ASRAR : BAB 23 DOA DAN ZIKIR BERHUBUNG DENGAN JALAN SULUK


Sesiapa yang memilih untuk memisahkan dirinya daripada dunia
supaya dia dapat menghampiri Allah hendaklah tahu ibadat-
ibadat seperti doa dan zikir yang sesuai untuk tujuan tersebut.
Melakukan ibadat tersebut memerlukan suasana yang suci dan
sebaik-baiknya berada di dalam keadaan berpuasa. Bilik khalwat
biasanya berhampiran dengan masjid kerana syarat bagi salik
perlu meninggalkan bilik khalwatnya lima kali sehari bagi
mengerjakan sembahyang berjemaah dan pada ketika tersebut
hendaklah menjaga dirinya agar tidak menonjol,
menyembunyikan diri dan tidak berkata-kata walau sepatah
perkataan pun. Sesiapa yang di dalam suluk hendaklah
mengambil langkah tegas untuk lebih menghayati dan mematuhi
prinsip-prinsip, dasar-dasar dan syarat-syarat sembahyang
berjemaah.

Setiap malam, ketika tengah malam, salik mestilah bangun untuk
mengerjakan sembahyang tahajjud, yang bermaksud suasana
jaga sepenuhnya di tengah-tengah tidur. Sembahyang tahajjud
membawa symbol kebangkitan setelah mati. Bila seseorang
berjaya bangun untuk melakukan sembahyang tahajjud dia
adalah Pemilik hatinya dan pemikirannya bersih. Agar suasana
jaga ini tidak rosak dia tidak seharusnya melibatkan diri dengan
kegiatan harian seperti makan dan minum.

Sebaik sahaja bangun dengan menyedari dibangkitkan daripada
kelalaian kepada kesedaran, ucapkan:

“Alhamduli-Llahi ahyani ba’da ma amatani wa-ilaihin-
nusyur- Segala puji bagi Allah yang membangkitkan daku
setelah mengambil hidupku. Selepas mati semua akan
dibangkitkan dan kembali kepada-Nya”.

Kemudian bacakan sepuluh ayat terakhir surah al-‘Imraan, iaitu
ayat 190 – 200.

Sesungguhnya pada kejadian langit dan bum i, dan pada pertukaran malam dansiang, ada tanda-tanda (kekuasaan, kebijaksanaan, dan keluasan rahmat Allah)bagi orang-orang yang berakal;]
(Iaitu) orang-orang yang menyebut dan mengingati Allah semasa m ereka berdiri dan duduk dan semasa mereka berbaring mengiring, dan mereka pula memikirkan tentang kejadian langit dan bumi (sambil berkata): “Wahai Tuhan kami! Tidaklah Engkau menjadikan benda-benda ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab neraka.]
Wahai Tuhan kami! Sebenarnya sesiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka maka sesungguhnya Engkau telah menghinakannya, dan orang-orang yang zalim tidak akan beroleh seorang penolong pun;
Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya kami telah m endengar seorang Penyeru (Rasul) yang menyeru kepada iman, katanya: ` Berimanlah kamu kepada Tuhankamu ‘, maka kami pun beriman. Wahai Tuhan kami, ampunkanlah dosa-dosakami, dan hapuskanlah daripada kami kesalahan-kesalahan kami, dan matikanlahkami bersama orang-orang yang berbakti; Wahai Tuhan kami! Berikanlah kepada kami pahala yang telah Engkau janjikankepada kami m elalui Rasul-rasulMu, dan janganlah Engkau hinakan kami padahari kiam at; sesungguhnya Engkau tidak memungkiri janji”.


Maka Tuhan mereka perkenankan doa mereka (dengan firmanNya):
“Sesungguhnya Aku tidak akan sia-siakan amal orang-orang yang beramal darikalangan kamu, sam a ada lelaki atau perempuan, (kerana) setengah kamu(adalah keturunan) dari setengahnya yang lain; maka orang-orang yang berhijrah (kerana menyelamatkan ugamanya), dan yang diusir ke luar dari tempat tinggalnya, dan juga yang disakiti (dengan berbagai-bagai gangguan) kerana menjalankan ugamaKu, dan yang berperang (untuk m empertahankan Islam), danyang terbunuh (gugur Syahid dalam perang Sabil) – sesungguhnya Aku akan hapuskan kesalahan-kesalahan mereka, dan sesungguhnya Aku akan masukkan mereka ke dalam Syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, sebagai pahala dari sisi Allah. Dan di sisi Allah jualah pahala yang sebaik-baiknya (bagimereka yang beramal soleh)”.


Jangan sekali-kali engkau (wahai Muhammad) terpedaya oleh usaha gerakanorang-orang yang kafir di dalam negeri (yang m embawa keuntungan-keuntungankepada mereka).

(Semuanya) itu hanyalah kesenangan yang sedikit, (akhirnya akan lenyap),
kemudian tempat kembali mereka neraka Jahannam: dan itulah seburuk-buruktempat ketetapan.


Tetapi orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhan mereka, mereka beroleh
Syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal didalamnya, sebagai tempat sambutan tetamu (yang m eriah dengan nikmatpemberian) dari Allah. Dan (ingatlah) apa jua yang ada di sisi Allah adalah lebihbagi orang-orang yang berbakti (yang taat, yang banyak berbuat kebajikan).


Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab, ada orang yang beriman kepada Allahdan (kepada) apa yang diturunkan kepada kamu (Al-Quran) dan juga (kepada)apa yang diturunkan kepada mereka, sedang mereka khusyuk kepada Allahdengan tidak menukarkan ayat-ayat Allah untuk m engambil keuntungan duniayang sedikit. Mereka itu beroleh pahalanya di sisi Tuhan mereka. SesungguhnyaAllah Am at segera hitungan hisabNya.


Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu (m enghadapi segala
kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara yang berkebajikan), dan
kuatkanlah kesabaran kam u lebih daripada kesabaran musuh, di medan
perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan pertahanan di daerah-daerahsempadan) serta bertaqwalah kamu kepada Allah supaya, kamu berjaya(mencapai kemenangan).

Selepas itu mengambil wuduk dan berdoa:
“Kemenangan untuk Allah! Segala puji untuk-Mu. Tidak
ada yang lain daripada-Mu yang layak menerima ibadat.
Daku bertaubat dari dosaku. Ampuni dosaku, maafkan
kehadiranku, terimalah taubatku. Engkau Maha
Pengampun, Engkau suka memaafkan. Wahai Tuhanku!
Masukkan daku ke dalam golongan mereka yang
menyedari kesalahan mereka dan masukkan daku ke
dalam golongan hamba-hamba-Mu yang salih yang
memiliki kesabaran, yang bersyukur, yang mengingati
Engkau dan yang memuji Engkau malam dan siang”.
Kemudian dongakkan pandangan ke langit dan buat pengakuan:

“Aku naik saksi tiada Tuhan melainkan Allah, Esa, tiada
sekutu, dan aku naik saksi Muhamamd adalah hamba Allah
dan Rasul-Nya.
Daku berlindung dengan keampunan-Mu daripada azab-
Mu.
Daku berlindung dengan keredaan-Mu daripada murka-Mu.
Daku berlindung dengan-Mu daripada-Mu.
Aku tidak mampu mengenali-Mu sebagaimana Engkau
kenali Diri-Mu.
Aku tidak mampu memuji-Mu selayaknya.
Daku adalah hamba-Mu, daku adalah anak kepada hamba-
Mu.
Dahiku yang di atasnya Engkau tuliskan takdir adalah
dalam tangan-Mu. Perintah-Mu berlari menerusi daku.
Apa yang Engkau tentukan untukku adalah baik bagiku.
Daku serahkan kepada-Mu tanganku dan kekuatan yang
Engkau letakkan padanya.
Daku buka diriku di hadapan-Mu, mendedahkan semua
dosaku.
Tiada Tuhan kecuali Engkau, dan Engkau Maha
Pengampun, aku yang zalim, aku yang berbuat kejahatan,
daku menzalimi diriku.
Untukku kerana daku adalah hamba-Mu ampunkan dosa-
dosaku.
Engkau jualah Tuhan, hanya Engkau yang boleh
mengampunkan”.
Kemudian menghadap ke arah kiblat dan ucapkan:
“Allah Maha Besar! Segala puji untuk-Nya. Aku ingat dan
membesarkan-Nya”.
Kemudian ucapkan sepuluh kali:
“Segala kemenangan buat Allah”.
Kemudian ucapkan sepuluh kali:
“Segala puji dan syukur untuk Allah”.
Kemudian ucapkan sepuluh kali:
“Tiada Tuhan melainkan Allah”.
Kemudian lakukan sembahyang sepuluh rakaat, dua rakaat satu
salam. Nabi s.a.w bersabda,

“Sembahyang malam dua, dua”.

Allah memuji orang yang bersembahyang malam.

“Dan di sebahagian malam hendaklah engkau sembahyang
tahajjud sebagai sembahyang sunat untukmu, supaya
Tuhanmu bangkitkan kamu di satu tempat yang terpuji”.
(Surah Bani Israil, ayat 79).

“Renggang rusuk-rusuk mereka dari tempat tidur, dalam
keadaan menyeru Tuhan mereka dengan takut dan penuh
harapan, dan sebahagian daripada apa yang Kami kurniakan itu mereka belanjakan”. (Surah as-Sajadah,
ayat 16 & 17).

Kemudian pada akhir malam bangun semula untuk mengerjakan
sembahyang witir tiga rakaat, sembahyang yang menutup semua
sembahyang-sembahyang pada hari itu. Pada rakaat ketiga
selepas al-Faatihah bacakan satu surah dari Quran, kemudian
angkatkan tangan seperti pada permulaan sembahyang sambil
ucapkan “Allahu Akbar!” dan bacakan doa qunut. Kemudian
selesaikan sembahyang seperti biasa.

Setelah matahari terbit orang yang di dalam suluk perlu
melakukan sembahyang isyraq, sembahyang yang menerangi,
dua rakaat. Selepas itu melakukan sembahyang istihadha’ dua
rakaat, mencari perlindungan dan keselamatan daripada syaitan.
Pada rakaat pertama selepas al-Faatihah bacakan surah al-Falaq.
Dalam rakaat kedua selepas al-Faatihah bacakan surah an-Nas.
Bagi mempersiapkan diri untuk hari itu lakukan sembahyang
sunat istikharah, sembahyang meminta petunjuk Allah untuk
keputusan yang benar pada hari itu. Pada tiap rakaat selepas al-
Faatihah bacakan ayat al-Kursi. K emudian tujuh kali surah al-
Ikhlas.

Kemudian pagi itu lakukan sembahyang dhuha, sembahyang
kesalihan dan kedamaian hati. Lakukan enam rakaat. Bacakan
surah asy-Syams dan surah ad-Dhuha. Sembahyang dhuha
diikuti oleh dua rakaat kaffarat, sembahyang penebusan
terhadap kekotoran yang mengenai seseorang tanpa boleh
dielakkan atau disedari. Tersentuh dengan kekotoran walaupun
secara tidak sengaja masih berdosa, boleh dihukum. Ini boleh
berlaku walaupun di dalam suluk, misalnya melalui keperluan
tubuh badan. Nabi s.a.w bersabda,

“Jaga-jaga dari najis – walaupun ketika kamu kencing,
satu titik tidak mengenai kamu – kerana ia adalah
keseksaan di dalam kubur”.

Setiap rakaat, selepas membaca al-Faatihah bacakan surah al-
Kausar tujuh kali.

Satu lagi sembahyang – panjang, walaupun empat rakaat –
harus dilakukan dalam satu hari semasa khalwat atau suluk. Ini
adalah sembahyang tasbih – sembahyang penyucian atau
pemujaan. Jika seseorang itu mengikuti mazhab Hanafi dia
melakukannya empat rakaat satu salam. Jika dia berfahaman
Syafi’e dilakukannya dua rakaat satu salam, dua kali. Ini jika
dilakukan di siang hari. Jika dilakukan malam hari Hanafi dan
Syafi’e sependapat, dua rakaat satu salam, dua kali.

Nabi s.a.w memberitahu mengenai sembahyang ini kepada bapa
saudara baginda, Ibnu Abbas,

“Wahai bapa saudaraku yang ku kasihi. Ingatlah aku akan
berikan kepada kamu satu pemberian. Perhatikanlah aku
akan Sampaikan kepada kamu satu yang sangat baik.
Ingatlah aku akan berikan kepada kamu kehidupan dan
harapan baharu. Ingatlah aku akan berikan kepada kamu
sesuatu yang bernilai sepuluh daripada perbuatan-
perbuatan yang baik. Jika kamu kerjakan apa yang aku
beritahu dan ajarkan kepada kamu Allah akan ampunkan
dosa-dosa kamu yang lalu dan yang akan datang, yang
lama dan yang baharu, yang kecil dan yang besar.
Lakukan secara diketahui atau tidak diketahui, secara
tersembunyi atau terbuka”.

“Engkau kerjakan sembahyang empat rakaat. Pada tiap-
tiap rakaat selepas al-Faatihah kamu bacakan satu surah
dari Quran. Ketika kamu berdiri bacakan lima belas kali:
Subhana Llahi il-hamdu li-Llahi la ilaha illa Llahu wa-Llahu
akbar, w a-la hawla w a-la quwwata illa billahil l-‘Ali I-
‘Azim.

Bila kamu rukuk, tangan di atas lutut, bacakan sepuluh
kali. Ketika berdiri ulanginya sepuluh kali lagi.
Ketika kamu sujud bacakan sepuluh kali.
Bila kamu bangun dari sujud bacakan sepuluh kali.
Ketika duduk bacakan sepuluh kali.
Sujud semula bacakan sepuluh kali.
Duduk semula bacakan sepuluh kali.
Kemudian bangun untuk rakaat kedua.
Lakukan serupa untuk rakaat yang lain sehingga empat
rakaat”.

“Jika kamu mampu lakukan sembahyang ini setiap hari.
Jika tidak lakukan sekali sebulan. Jika tidak mampu juga
lakukan sekali setahun. Jika masih tidak mampu lakukan
sekali seumur hidup”.

Jadi, empat rakaat itu tasbih diucapkan sebanyak tiga ratus kali.
Sebagaimana Nabi s.a.w ajarkan kepada bapa saudara baginda
Ibnu Abbas, dianjurkan juga kepada orang yang bersuluk
melakukan sembahyang tersebut.

Selain daripada tugas tersebut orang yang di dalam suluk juga
dianjurkan membaca Quran sekurang-kurangnya sebanyak 200
ayat sehari. Dia juga hendaklah mengingati Allah secara terus
menerus dan menurut suasana rohani, samada menyebut nama-
nama-Nya yang indah secara kuat atau senyap di dalam hati.
Ingatan di dalam hati secara senyap hanya bermula bila hati
kembali jaga dan hidup. Bahasa zikir ini adalah perkataan rahsia
yang tersembunyi.

Setiap orang mengingati Allah menurut keupayaan masing-
masing. Allah berfirman:

“Hendaklah kamu sebut Dia sebagaimana Dia pimpin
kamu”. (Surah al-Baqarah, ayat 198
).

Ingatlah kepada-Nya menurut kemampuan kamu. Pada setiap
tahap kerohanian ingatan itu berbeza-beza. Ia mempunyai satu
nama lagi, ia mempunyai satu sifat lagi, satu cara lagi. Hanya
orang yang ditahap itu tahu zikir yang sesuai.

Orang yang di dalam suluk juga dianjurkan membaca surah al-
Ikhlas seratus kali sehari. Perlu juga membaca Selawat seratus
kali sehari. Dia juga perlu membaca doa ini sebanyak seratus
kali:

“Astaghfiru Llah al-‘Azim, la ilaha illa Huwa l-Hayy ul-Q ayyum –
mimma qaddamtu wa-ma akhkhartu wa-ma ‘alantu wa-ma
asrartu wa-ma anta a’lamu bihi minni. Anta l-Muqaddimu wa-
antal Muakhkhiru wa-anta ‘ala kulli syai in Qadir”.

Masa yang selebihnya setelah dilakukan ibadat-ibadat yang telah
dinyatakan, gunakan untuk membaca Quran dan lain-lain
pekerjaan ibadat.

SIRRUL ASRAR : BAB 22 PENGASINGAN DIRI DARI DUNIA DENGAN MEMASUKI KHALWAT DAN SULUK


Khalwat dan suluk harus dilihat secara zahir dan batin. Khalwat
zahir ialah apabila seseorang mengambil keputusan untuk
memisahkan dirinya daripada dunia, memencilkan dirinya di
dalam satu ruang yang terpisah daripada orang ramai supaya
manusia dan makhluk di dalam dunia selamat daripada kelakuan
dan kewujudannya yang tidak diingini. Dia juga berharap agar
dengan berbuat demikian sumber kepada kewujudan yang tidak
diingini, egonya dan hawa nafsu badannya akan terpisah
daripada bekalan hariannya dan terhenti juga segala yang
memuaskan dan mengenyangkannya. Seterusnya dia berharap
pengasingan itu akan mendidik egonya dan seleranya, memberi
peluang kepada perkembangan diri rohaninya.

Bila seseorang memutuskan demikian niatnya mestilah ikhlas.
Dalam satu segi dia seumpama meletakkan dirinya di dalam
kubur, dalam keadaan mati, mengharapkan semata-mata
keredaan Allah, berhasrat dalam hatinya melahirkan yang asli
dan beriman, yang boleh lahir daripada kewujudannya yang hina
ini. Nabi s.a.w bersabda,

“Yang beriman adalah yang orang lain selamat daripada
tangan dan lidahnya”.

Dia mengikat lidahnya dari berkata yang sia-sia kerana Nabi
s.a.w bersabda,

“Keselamatan manusia datang dari lidah dan
kebinasaannya juga dari lidah”.

Dia menutupkan matanya daripada yang diharamkan agar
pandangannya yang khianat dan menipu daya tidak jatuh ke atas
apa yang dimiliki oleh orang lain. Dia menutup telinganya dari
mendengar pembohongan dan kejahatan, dan mengikat kakinya,
membelenggunya dari pergi kepada dosa.

Nabi s.a.w bersabda menceritakan setiap anggota badan boleh
melakukan dosa sendirian,

“Mata boleh berzina” .

Bila salah satu daripada pancaindera berdosa satu makhluk hitam
yang hodoh diciptakan daripadanya dan pada hari pembalasan ia
menjadi saksi terhadap dosa yang kamu lakukan. Kemudian ia
dicampakkan ke dalam neraka.

Tuhan memuji orang yang menghindarkan dirinya daripada
kesalahan kerana yang demikian merupakan penyesalan yang
sebenar, taubat yang kuat.
“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya,
dan menegah diri daripada hawa nafsunya, maka
sesungguhnya syurga itu tempat kembalinya”. (Surah an-
Naazi’aat, ayat 40 & 41).

Orang yang takutkan Tuhannya dan bertaubat, mengeluarkan
kewujudannya yang hina daripada yang beriman dan
mengeluarkan keburukannya daripada imannya, ditukarkan di
dalam khalwatnya, sehingga jadilah ia jejaka tampan. Kewujudan
yang elok ini menjadi khadam kepada penghuni syurga.

Mengasingkan diri adalah benteng menghalang musuh bagi dosa
diri sendiri dan kesalahan. Di dalamnya, sendirian, seseorang
terpelihara di dalam kesucian. Firman Allah:

“Barangsiapa percaya akan pertemuan Tuhannya
hendaklah ia kerjakan amal salih dan janganlah ia
sekutukan seseorang jua dalam ibadat kepada Tuhannya”.
(Surah al-Kahfi, ayat 110).

Semua yang diceritakan hingga kini adalah maksud bagi suasana
khalwat zahir. Maksud khalwat batin pula ialah mengeluarkan
dari hati walaupun hanya memikirkan hal keduniaan, kejahatan
dan ego, meninggalkan makan, minum, harta, keluarga, isteri,
anak-anak dan perhatian serta kasih sayang semuanya.

Anggapan orang lain melihat atau mendengar tentangnya jangan
masuk kepada khalwat ini. Nabi s.a.w bersabda,

“Kebesaran dan apa yang diburunya adalah bala, dan
melarikan diri daripada kebesaran dan mengharapkan
pujian orang dan apa yang dibawanya adalah
keselamatan.”

Orang yang bercadang memasuki khalwat batin mestilah
menutupi hatinya daripada kemegahan, sombong, takabur,
marah, dengki, khianat dan yang seumpamanya. Jika sebarang
perasaan yang demikian masuk kepadanya di dalam khalwatnya
hatinya menjadi terikat. Ia tidak lagi terlepas daripada dunia dan
khalwat demikian tidak berguna. Sekali kekotoran memasuki hati
ia kehilangan kesuciannya dan semua kebaikan terbatal.

“Apa yang kamu bawa itu sihir, sesungguhnya Allah akan
membatalkannya (kerana) Allah itu tidak membaguskan
amal orang-orang yang berbuat bencana” . (Surah Yunus,
ayat 81).

Walaupun perbuatan seseorang itu kelihatan bagus pada
pandangan orang lain, bila sifat-sifat buruk memasukinya, orang
itu dianggap berlaku khianat dan menipu dirinya sendiri dan juga
orang lain. Nabi s.a.w bersabda,

“Sombong dan takabur mencemarkan iman. Fitnah dan
umpatan lebih buruk dari dosa zina” .

Juga, “Sebagaimana api membakar kayu dendam
membakar dan menghapuskan perbuatan baik seseorang”.

Juga, “Fitnah itu tidur, laknati ke atas siapa yang
mengejutkannya”.

Juga, “Orang yang bakhil tidak masuk syurga w alaupun dia
habiskan umurnya dengan ibadat”.

Juga, “Kepura-puraan adalah bentuk sembunyi
mengadakan sekutu bagi Tuhan”.

Juga, “Syurga menolak orang yang menolak orang lain”.

Banyak lagi tanda-tanda sifat buruk yang dikutuk oleh Rasulullah
s.a.w. Apa yang dinyatakan sudah memadai untuk menunjuk kan
kepada kita bahawa dunia ini adalah tempat yang memerlukan
berterusan di dalam berhati-hati dan berwaspada, perlu berjalan
melaluinya dengan penuh cermat dan perhatian. Matlamat
pertama jalan kerohanian ialah menyucikan hati dan langkah
untuk memperolehinya ialah membenteras keegoan dan
keinginan hawa nafsu. Di dalam khalwat, dengan berdiam diri,
bertafakur dan berzikir terus menerus, ego seseorang diperbaiki.
Kemudian Allah Yang Maha Tinggi menjadikan hati seseorang itu
bercahaya.

Tiada yang dilakukan di dalam khalwat secara perbuatan sendiri.
Apa yang perlu ialah cinta, ikhlas dan keyakinan yang sebenar.
Cara ini bukan cara orang tersebut sendiri. Dia menuruti cara
para sahabat Rasulullah s.a.w, cara orang-orang yang mengikuti
mereka dan cara orang yang mengetahui cara mereka dan
mengikutinya.

Bila orang yang yakin berada pada jalan ini menurut jalan taubat,
ilham dan menyucikan hatinya, Allah mencabut dari hatinya dan
dirinya segala yang merosakkan dan yang keji dan
melindunginya agar dia tidak kembali kepadanya. Wajahnya akan
menjadi cantik; perasaannya, samada dipendamkan atau
dizahirkan, menjadi tulen. Apa sahaja yang dia lakukan
dilakukannya dengan cara yang terpuji kerana dia berada di
dalam kehadiran Ilahi.

“Allah mendengar orang yang memuji-Nya” .

Jadi, Allah menjaganya. Allah menerima doanya, kerinduannya
dan puji-pujiannya dan mengabulkan segala keinginannya.

“Barangsiapa mahukan kemuliaan maka bagi Allah jualah
semua kemuliaan. Kepada-Nya naik perkataan yang baik,
amal yang salih itu Dia angkat” . (Surah Fatir, ayat 10).

Perkataan yang baik menyelamatkan lidah daripada perkataan
yang sia-sia. Lidah adalah alat yang baik untuk memuji Tuhan,mengulangi nama-nama-Nya yang indah, memperakui keesaan-
Nya. Allah memberi amaran terhadap perkataan yang sia-sia:

“Tidak sekali-kali! Sesungguhnya yang demikian
perkataan yang ia ucapkan padahal di belakang mereka
satu dinding hingga hari mereka dibangkitkan (mereka
tidak benar dalam perkataan mereka)”. (Surah
Mukminuun, ayat 100).

Allah mengurniakan keampunan-Nya, kasihan belas-Nya kepada
orang yang belajar dan mengamalkannya dengan niat yang baik.
Dia membawanya hampir dengan membawanya kepada darjat
yang lebih tinggi. Dia reda kepadanya, Dia maafkan
kesalahannya.

Bila seseorang telah dinaikkan kepada darjat itu hatinya menjadi
seperti laut. Bentuk dan warna laut itu tidak berubah kerana
sedikit Kekejaman dan penganiayaan yang orang ramai
Buangkan kepadanya. Nabi s.a.w bersabda,

“Jadilah seperti laut yang tidak berubah, tetapi di
dalamnya tentera gelap (ego) kamu akan lemas” ,

seperti Firaun lemas di dalam Laut Merah. Dalam lautan itu kapal
agama timbul dengan selamat dan sejahtera, ia berlayar di
dalam lautan yang luas itu. Roh orang yang di dalam khalwat
terjun ke dasarnya untuk mendapatkan mutiara kebenaran,
membawa ke permukaan mutiara kebijaksanaan (makrifat) dari
batu karang budi pekerti dan menyebarkannya ke tempat yang
jauh. Firman Allah:

“ Keluar daripadanya mutiara dan marjan (batu karang)”.
(Surah ar-Rahmaan, ayat 22).

Untuk memelihara lautan tersebut zahir kamu mestilah sama
dengan batin kamu, diri kamu mestilah sama dengan apa yang
kelihatan pada diri kamu. Suasana zahir dan suasana batin kamu
mestilah satu. Bila ini terjadi, tiada lagi penipuan, hasutan atau
kekacauan di dalam laut hati kamu. Tiada ribut nakal yang boleh
memabukkan di dalam lautan yang tenang itu. Orang yang
memperolehi suasana tersebut berada di dalam keadaan taubat
sepenuhnya; ilmunya luas dan bermanfaat, perbuatannya semuanya adalah khidmat untuk orang lain, hatinya tidak mengalir kepada kejahatan. Jika dia tersilap atau lupa dia dimaafkan kerana dia ingat bila dia lupa dan bertaubat bila dia bersalah. Dia berada dalam kehampiran dengan Allah dan dirinya sendiri.

SIRRUL ASRAR : BAB 21 MENYAKSIKAN YANG HAK MELALUI SUASANA KEDAMAIAN YANG DAT ANG DARIPADA PEL EPASAN SEGALA KEDUNIAAN DAN MELALUI ZAUK


Nabi s.a.w bersabda,

“Satu ilham Ilahi yang memutuskan seseorang daripada
dunia ini dan kurniaan atas seseorang akan kenyataan
atau cermin sifat-sifat Tuhan, menampakkan kepada
seseorang keesaan Ilahi, lebih baik daripada pengalaman
dunia dan akhirat”.

Dan, “Orang yang tidak mengalami zauk (keghairahan)
yang daripadanya menerima kenyataan makrifat Ilahi dan
yang hak adalah tidak hidup”.

Banyak ayat-ayat dan hadis-hadis serta perkhabaran daripada
wali-wali menceritakan suasana ini.

“Dan apakah orang yang Allah luaskan dadanya kepada
Islam, iaitu ia berjalan atas nur dari Tuhannya (sama
dengan yang beku hatinya?). Maka kecelakaan (adalah)
bagi mereka yang beku hatinya dari mengingat Allah.
Mereka itu (adalah) dalam kesesatan yang nyata. Allah
telah turunkan sebaik-baik perkataan, kitab yang
sebahagiannya menyerupai sebahagiannya, yang diulang-
ulangkan, yang seram lantarannya kulit-kulit badan orang
yang takut kepada Tuhannya. Kemudian jadi lemas kulit-
kulit mereka dan hati-hati mereka kepada mengingat
Allah. Yang demikian itu pimpiman Tuhan, yang Ia pimpin
dengannya siapa yang Ia kehendaki, dan barangsiapa
disesatkan oleh Allah maka tidaklah ada baginya sebarang
pimpinan”. (Surah az-Zummar, ayat 22 & 23).

Junaid al-Baghdadi berkata,
“Bila zauk (keghairahan) bertemu dengan kenyataan Ilahi di
dalam diri seseorang, dia itu berada di dalam keadaan samada
kelazatan yang amat sangat atau keharuman yang mendalam”.

Ada dua jenis zauk: zauk lahiriah dan zauk rohaniah.

Zauk lahiriah adalah hasil daripada ego diri. Ia tidak memberi
kepuasan secara rohaniah. Ia dipengaruhi oleh pancaindera.
Sering kali ianya kepura-puraan, berlaku agar dilihat atau
diketahui oleh orang lain. Zauk jenis ini tidak berharga sedikit
pun kerana ianya disengajakan, dengan kehendak atau niat:
orang yang mengalaminya masih merasakan yang dia boleh
berbuat dan memilih (tidak ada fana padanya). Tidak guna
menganggap penting pengalaman yang demikian.

Zauk kerohanian, bagaimanapun, keseluruhannya berbeza,
suasana yang dihasilkan oleh pengaliran tenaga kerohanian yang
melimpah ruah. Secara biasa, pengaruh luar – seperti puisi yang
indah yang dibaca, atau Quran dibaca dengan suara yang merdu,
atau keghairahan yang dicetuskan oleh upacara zikir sufi – boleh
mengakibatkan peningkatan kerohanian. Ini berlaku kerana pada
ketika itu penentangan lahiriah seseorang dihapuskan, kehendak
dan kekuatan akal untuk memilih diatasi. Bila kekuatan badan
dan fikiran sudah dilemahkan suasana zauk adalah semata-mata
bersifat kerohanian. Meneruskan perjalanan dengan pengalaman
yang demikian sangat besar gunanya bagi seseorang.

“Dan orang yang menjauhi berhala-hala daripada
menyembahnya dan kembali kepada Allah adalah bagi
mereka khabar yang menggirangkan. Oleh itu
girangkanlah hamba-hamba-Ku. Yang mendengar
perkataan lalu menurut yang sebaik-baiknya. Merekalah
orang-orang yang dipimpin oleh Allah dan mereka itu ialah
orang-orang yang mempunyai fikiran”. (Surah az-Z umar,
ayat 17 & 18).

Nyanyian merdu burung-burung, keluhan pencinta, adalah
sebahagian daripada penyebab luar yang menggerakkan tenaga
kerohanian. Dalam suasana tenaga kerohanian yang demikian
syaitan dan ego tidak boleh campur tangan; iblis bertindak di
dalam alam kegelapan perbuatan-perbuatan yang muncul
daripada ego diri dan tidak boleh berbuat apa-apa di dalam alam kemurahan dan keampunan yang bercahaya. Dalam alam
kemurahan dan keampunan Allah, syaitan menjadi cair laksana
garam di dalam air, sama seperti ia hilang apabila dibaca:

“La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azim” – Tiada
daya dan upaya melainkan dengan Allah Yang Maha
Tinggi, Maha Mulia.

Pengaruh-pengaruh yang merangsangkan zauk kerohanian
diterangkan oleh hadis,

“Ayat-ayat Quran, puisi yang berhikmah dan ajaib
mengenai cinta dan bunyi serta suara kerinduan
menyalakan wajah roh”.

Zauk sebenar adalah hubungan cahaya dengan cahaya bila
roh insan bertemu dengan cahaya Ilahi.

Allah berfirman:

Yang suci untuk yang suci pula”. (Surah an-Nuur, ayat
26).

Jika zauk datang dari rangsangan ego dan syaitan tiada cahaya
di sana . Di sana hanya ada kegelapan tanpa cahaya, ragu-ragu,
penafian dan kekeliruan. K egelapan menjadi bapa kepada
kegelapan. Dalam bahagian roh dan jiwa, ego tidak ada
bahagian. Firman Tuhan:

“Yang tidak suci untuk yang tidak suci pula”. (Surah an-
Nuur, ayat 26).

Penzahiran suasana zauk ada dua jenis: penzahiran zauk lahiriah
yang bergantung kepada kehendak diri sendiri dan penzahiran
zauk kerohanian yang di luar pilihan dan kehendak seseorang.

Dalam kes pertama yang nyata ialah disengajakan. Jika
seseorang menggeletar, bergoyang dan meraung walaupun
bukan di bawah pengaruh kesakitan atau gangguan dalam tubuh,
ia tidak dianggap sah. Apa yang sah ialah perubahan yang nyata pada keadaan lahiriah yang tidak disengajakan dan disebabkan
oleh keadaan batin seseorang.

Penzahiran yang tidak disengajakan adalah akibat tenaga
kerohanian yang tidak dapat dikawal oleh seseorang. Rohnya
yang di dalam zauk mengatasi pancaindera. Ia adalah umpama
keadaan meracau orang yang demam panas, agak tidak mungkin
mencegah orang yang demikian daripada terketar-ketar,
bergoyang dan menjadi kaku di dalam meracau itu kerana dia
tidak ada kuasa terhadap penzahiran yang keluar atau berlaku
kepadanya itu. Begitu juga bila tenaga kerohanian membesar
sehingga mengalahkan kehendak, fikiran dan tubuh badan, zauk
yang lahir daripada yang demikian adalah benar, jujur dan
bersifat kerohanian. Keadaan zauk kerohanian yang demikian,
yang di masuki oleh para sahabat akrab Allah di dalam
melakukan pergerakan dan pusingan pada upacara mereka,
adalah cara untuk menimbulkan keghairahan dan dorongan pada
hati mereka. Ini adalah makanan bagi mereka yang mengasihi
Allah; ia memberikan tenaga di dalam perjalanan mereka yang
sukar dalam mencari yang hak.

Nabi s.a.w bersabda,

“Upacara keghairahan yang dilakukan oleh para pencinta
Allah, tarian dan nyanyian mereka, merupakan kewajipan
bagi sebahagian, dan bagi sebahagian yang lain adalah
harus sementara bagi yang lain pula adalah bidaah. Ia
adalah kewajipan bagi manusia yang sempurna, harus
bagi kekasih Allah dan bagi yang lalai adalah bidaah” .

Dan, “Adalah sifat yang tidak sihat bagi orang yang tidak
merasa kelazatan berada bersama kekasih Allah: puisi
orang arif yang mereka nyanyikan, musim bunga, warna
dan keharuman bunga, burung dan nyanyiannya”.

Orang yang lalai, yang menganggapkan mencari zauk
kerohanian sebagai bidaah, orang yang tidak sihat
sifatnya yang tidak dapat menikmati kelazatan yang
indah, adalah sakit dan tidak ada penawar untuk penyakit
ini. Mereka lebih rendah daripada burung dan haiwan,
lebih rendah daripada keldai, kerana haiwan juga
menikmati irama. Bila Nabi Daud a.s melagukan suaranya

burung-burung terbang di sekelilingnya untuk menikmati
kemerduan suaranya. Nabi Daud a.s berkata,

“Orang yang tidak mengalami keghairahan tidak dapat
merasai agamanya”.

Terdapat sepuluh suasana zauk. Sebahagiannya ketara dan
tanda-tandanya kelihatan kepada orang lain, seperti kesedaran
rohani dan berzikir mengingati Allah dan membaca Quran dengan
senyap. Menangis, merasai penyesalan yang mendalam,
takutkan azab Allah, kerinduan dan kesayuan, malu terhadap
kelalaian diri; apabila seseorang menjadi pucat atau mukanya
berseri-seri kerana keghairahan daripada suasana dalaman dan
kejadian di sekelilingnya, membara dengan kerinduan terhadap
Allah – semua ini dan semua keganjilan pada lahiriah dan
rohaniah yang dihasilkan oleh perkara-perkara tersebut adalah
tanda-tanda zauk atau keghairahan.

SIRRUL ASRAR : BAB 20 HAJI KE MEKAH DAN HAJI ROHANI KE HAKIKAT HATI


Pekerjaan haji menurut syariat ialah mengunjungi ka’abah
di Makkah . Ada beberapa syarat berhubung dengan ibadat haji:
memakai ihram – dua helai kain yang tidak berjahit menandakan
pelepasan semua ikatan duniawi; memasuki Makkah dalam
keadaan berwuduk; tawaf keliling ka’abah sebanyak tujuh kali
tanda penyerahan sepenuhnya; lari-lari anak dari Safa ke
Marwah sebanyak tujuh kali; pergi ke Padang Arafah dan tinggal
di sana sehingga matahari terbenam; bermalam di Musdalifah;
melakukan korban di Mina; meminum air zamzam; melakukan
sembahyang dua rakaat berhampiran dengan tempat Nabi
Ibrahim a.s pernah berdiri. Bila semua ini dilakukan pekerjaan
haji pun sempurna dan balasannya diperakui. Jika terdapat
kecacatan pada pekerjaan tersebut balasannya dibatalkan.

Allah Yang Maha Tinggi berfirman:

“Sempurnakan haji dan umrah kerana Allah”. (Surah al-
Baqarah, ayat 196).

Bila semua itu telah selesai banyak daripada hubungan
keduniaan yang ditegah semasa pekerjaan haji dibolehkan
semula. Sebagai tanda selesainya pekerjaan haji seseorang itu
melakukan tawaf terakhir sekali sebelum kembali kepada
kehidupan harian.

Ganjaran untuk orang yang mengerjakan haji dinyatakan oleh
Allah dengan firman-Nya:

“Dan barangsiapa masuk ke dalamnya amanlah ia, dan
kerana Allah (wajib) atas manusia pergi ke rumah itu bagi
yang berkuasa ke sana ”. (Surah al-‘Imraan, ayat 97).

Orang yang sempurna ibadat hajinya selamat daripada azab
neraka. Itulah balasannya.

Pekerjaan haji kerohanian memerlukan persiapan yang besar dan
mengumpulkan keperluan-keperluan sebelum memulakan
perjalanan.

Langkah pertama ialah mencari juru pandu, pembimbing,
guru, seorang yang dikasihi, dihormati, diharapkan dan
ditaati oleh orang yang mahu menjadi murid itu.
Pembimbing itulah yang akan membekalkan murid itu bagi
mengerjakan haji kerohanian, dengan segala
keperluannya.

Kemudian dia mesti menyediakan hatinya. Untuk menjadikannya
jaga seseorang itu perlu mengucapkan kalimah tauhid “La ilaha
illa Llah” dan mengingati Allah dengan menghayati kalimah
tersebut. Dengan ini hati menjadi jaga, menjadi hidup. Ia
hendaklah mengingati Allah dan berterusan mengingati Allah
sehingga seluruh diri batin menjadi suci bersih daripada selain
Allah.

Selepas penyucian batin seseorang perlu menyebutkan nama-
nama bagi sifat-sifat Allah yang akan menyalakan cahaya
keindahan dan kemuliaan-Nya. Di dalam cahaya itulah seseorang
itu diharapkan dapat melihat ka’abah bagi hakikat rahsia. Allah
memerintahkan Nabi Ibrahim a.s dan anaknya Nabi Ismail a.s
melakukan penyucian ini:

“Janganlah engkau sekutukan Aku dengan sesuatu apa
pun dan bersihkan rumah-Ku untuk orang-orang tawaf,
dan yang berdiri, dan yang rukuk, dan yang sujud”. (Surah
al-Hajj, ayat 26).

Sesungguhnya ka’abah zahir yang ada di Makkah dijaga
dengan bersih untuk para pekerja haji. Betapa lebih lagi
kesucian yang perlu dijaga terhadap ka’abah batin yang ke
atasnya hakikat akan memancar.

Selepas persediaan itu pekerja haji batin menyelimutkan dirinya
dengan roh suci, mengubah bentuk kebendaannya menjadi
hakikat batin, dan melakukan tawaf ka’abah hati, mengucap di
dalam hati nama Tuhan yang kedua- “ALLAH”, nama yang
khusus bagi-Nya. Ia bergerak dalam bulatan kerana laluan rohani bukan lurus tetapi dalam bentuk bulatan. Akhirnya adalah permulaannya.

Kemudian ia pergi ke Padang Arafah hati, tempat batin yang
merendahkan diri dan merayu kepada Tuhannya, tempat yang
diharapkan seseorang dapat mengetahui rahsia

“La ilaha illa Llah”, “Yang Maha Esa, tiada sekutu”.
Di sana ia berdiri mengucapkan nama ketiga “HU” – bukan
sendirian tetapi bersama-Nya kerana Allah berfirman:

“ Dia beserta kamu w alau di mana kamu berada”. (Surah
al-Hadiid, ayat 4).

Kemudian dia mengucapkan nama keempat “HAQ”, nama
bagi cahaya Zat Allah dan kemudian nama kelima “HAYYUN” – hidup Ilahi yang darinya hidup yang sementara muncul.

Kemudian dia menyatukan nama Ilahi Yang Hidup Kekal
Abadi dengan nama keenam “QAYYUM” – Yang Wujud
Sendiri, yang bergantung kepada-Nya segala kewujudan.
Ini membawanya kepada Musdalifah yang di tengah-
tengah hati.

Kemudian dia di bawa ke Mina, rahsia suci, intipati atau hakikat,
di mana dia ucapkan nama yang ke tujuh “QAHHAR” – Yang
Meliputi Semua, Maha Keras . Dengan kekuasaan nama
tersebut dirinya dan kepentingan dirinya dikorbankan. Tabir
keingkaran ditiupkan dan pintu kebatilan diterbangkan.

Mengenai tabir yang memisahkan yang dicipta dengan Pencipta,
Nabi s.a.w bersabda,

“Iman dan kufur wujud pada tempat di sebalik arasy Allah.
Keduanya adalah hijab memisahkan Tuhan daripada
pemandang