Catatan Popular

Selasa, 20 Februari 2018

ASMA BINTI ABU BAKAR : PEREMPUAN PEMILIK DUA SELENDANG

Asma' binti Abu Bakar adalah Puteri dari amirul muminin Abu Bakar ash-Shiddiq, Ia salah seorang wanita mulia yang turut serta dalam hijrah ke Madinah. Dia dikenal sebagai wanita terhormat yang menonjol dalam kecerdasannya, kemuliaan diri, dan kemauannya yang kuat. Asma' binti Abu Bakar mendapat gelar atau julukan "dzaatun nithaaqain" (perempuan pemilik dua selendang) oleh Rasulullah SAW.

‘Asma bertutur “Aku membuat makanan untuk Rasulullah dan ayahku ketika mereka hendak bertolak ke Madinah untuk berhijrah. Aku berkata kepada ayah, ‘aku tidak membawa sesuatu untuk mengikat makanan kecuali selendang pinggangku ini.’ Ayahku berkata, ‘Belahlah selendangmu menjadi dua,’ Aku mengikuti perkataannya, maka aku dijuluki dzaatun nithaaqain” (HR Bukhari).

Asma' binti Abu Bakar  lahir pada 27 tahun sebelum Hijrah. Asma' lebih tua sepuluh tahun dari Aisyah Ummul Mukminin, saudara perempuannya. Dia juga saudara kandung Abdullah bin Abu Bakar. Asma’ telah masuk Islam sejak di Makkah setelah 17 orang lainnya masuk Islam sebelum dirinya. Dia juga ikut membai’at (mengucapkan janji setia) Nabi SAW dan beriman dengan apa yang diajarkan padanya. Imannya kokoh pengamalan Islamnya baik.

Di antara tanda keislamannya yang baik yakni, suatu ketika Qatilah binti Abdul Uzza mengirimkan pada anak perempuannya, Asma' binti Abu Bakar Ash-Shiddiq—Abu Bakar telah menceraikan Qatilah pada masa jahiliyah—beberapa hadiah, kismis (anggur kering), mentega dan anting-anting. Namun dia menolak menerima hadiah yang diberikan dan tidak mengizinkan ibunya masuk ke dalam rumah.


Bersuami dengan Zubair bin Awwam

Asma’ menikah dengan Zubair bin Awwam, seorang yang tidak mempunyai harta benda, tidak pula kekuasaan, atau sesuatu lainnya kecuali kudanya. Maka Asma' mengurus kuda itu, menyediakan makanan dan memberinya minumannya.

‘Asma mendampingi Az Zubair selama 28 tahun. Ia memiliki putra dan putri Abdullah, Urwah, Al Mundzir, Ashim, Al Muhajir, Khadijah Al Kubra, Ummul Hasan, dan Aisyah dalam pernikahannya bersama Lelaki Surga itu.

Suatu ketika Zubair bersikap keras terhadapnya, maka Asma' datang kepada ayahnya dan mengeluhkan hal itu. Abu Bakar berkata, "Wahai anakku, bila seorang perempuan mempunyai seorang suami yang saleh kemudian meninggal, dan si perempuan tidak lagi menikah setelahnya, keduanya akan dikumpulkan oleh Allah di surga."

Setelah perceraian dengan Az Zubair, sejarah ‘Asma binti Abu Bakar adalah sejarah perjuangannya bersama putra-putranya. Ia tidak pernah menikah lagi. Keputusan ini karena perkataan ayahnya di atas.


Peran dalam perjuangan Islam

Asma' turut serta dalam Perang Yarmuk bersama suaminya, Zubair bin Awwam, dan menunjukkan keberaniannya. Dia membawa sebilah belati dalam pasukan Said bin Ash di masa fitnah, lalu meletakkannya di balik lengan bajunya.

Asma’ meriwayatkan sekitar 58 hadits dari Rasulullah SAW, riwayat lain mengatakan 56 hadits. Bukhari dan Muslim sepakat terhadap 14 hadits. Sedangkan 4 hadits lainnya diriwayatkan oleh Bukhari sendirian, sedangkan Muslim juga meriwayatkan sejumlah yang diriwayatkan Bukhari. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa hadits-hadist Asma yang sudah ditakhrij mencapai 22 hadits. Di antara yang telah disepakati Bukhari dan Muslim sebanyak 13 hadits. Selain itu, Bukhari meriwayatkan 5 hadits dan Muslim meriwayatkan 4 hadits.

Asma' juga dikenal sebagai penyair dan pengarang prosa, mempunyai logika berpikir yang baik dan jelas. Ketika suaminya, Zubair bin Awwam, dibunuh oleh Amru bin Jarmuz Al-Mujasyi'i di Wadi As-Siba' (5 mil dari Basrah) ketika kembali dari Perang Jamal, Asma' melantunkan sebait syair:

Esok datang Ibnu Jarmuz dengan seekor kuda penuh semangat
Di hari kegembiraan meski tanpa nyanyian
Wahai Amru, bila kau perhatikan, tentu kau dapatkan
Jangan sembrono, hingga menggetarkan hati
Jangan kau biarkan tanganmu sembarangan
Karena ibumu akan kehilanganmu
Bila kau terbunuh, jadilah seorang yang muslim
Semoga terbebas dari siksaan yang telah dijanjikan

Dan ketika putranya, Abdullah bin Zubair, terbunuh ia berujar:

Tiada bagi kekuasaan Allah yang tidak mungkin terjadi
Setelah suatu kaum membunuh 
antara zam-zam dan maqam Ibrahim
Mereka terbunuh oleh kekeringan yang mencekik
Membusuk, dengan berbagai penyakit dan kusta

Asma' mempunyai jiwa yang dermawan dan mulia tidak pernah menunda sesuatu hingga esok hari. Pernah suatu ketika dia jatuh sakit, kemudian dia segera membebaskan (memberikan) seluruh harta yang dipunyainya. Dulu dia pernah berkata  pada anak-anak dan keluarganya, "Berinfaklah kalian, dan bersedekahlah, dan jangan kau menunda keutamaan. Jika kalian menunda keutamaan, kalian tidak akan pernah mendapatkan keutamaan. Dan jika kalian memberi sedekah, kalian tidak akan kehilangan." 


Wafatnya Asma' binti Abu Bakar

Asma' binti Abu Bakar meninggal dunia pada tahun ke 73 Hijriyah. Adz Dzahabi berkata, “Asma adalah orang terakhir yang meninggal di antara golongan kaum Muhajjirin.”

Allah menakdirkannya berusia 100 tahun. Ia tidak pikun, giginya tidak satupun yang tanggal, pikirannya pun tetap kuat dan prima. Begitu pun keimanannya masih tetap teguh dalam ketakwaan.


ASMA BINTI YAZID BIN SAKAN AL ANSHARIYAH : AHLI PIDATO PARA WANITA


Kuniyah (panggilan) nya adalah Ummi Amiral-Ausiyah al Asyhaliyah. Ia putri paman Mu’adz bin Jabal. Dia telah berbai’at kepada Rasulullah Saw. Asma binti Yazid bin Sakan bertanya banyak masalah kepada Rasulullah Saw dan menyampaikan pertanyaan dengan detail dalam masalah fiqih. Dialah yang pernah bertanya kepada beliau, ”Apakah wanita terzhihar karena haidh?”
                          
Asma binti  Yazid adalah seorang  ahli pidato yang ulung yang datang kepada Rasulullah Saw berkenaan dengan tawanan wanita ujarnya, ”Wahai Rasulullah, seorang utusan datang setelah aku dari kalangan kaum wanita beriman yang semuanya berkata sesuai perkataanku dan mereka sependapat denganku, bahwa Allah Ta’ala telah mengutus engkau untuk kaum pria dan wanita, lalu kami beriman dan mengikuti agama engkau. Namun kami sebagai kaum wanita terbatas langkahnya, tinggal di rumah, mengurus suami dan melahirkan anak-anak mereka, sementara kaum pria diberi kelebihan dengan berkumpul, menghadiri jenazah dan berjihad. Manakala mereka keluar untuk jihad, kami pelihara harta mereka, kami didik anak-anaknya, kami juga ingin mendapat pahala seperti yang mereka dapatkan itu.”

Rasulullah Saw bersabda kepada para sahabatnya,

 ”Sudikah kalian mendengar ucapan wanita yang menyampaikan pertanyaan paling baik tentang agamanya selain dari dia?”

Para sahabat menjawab, ”Ya, kami mendengarnya wahai Rasulullah!”
Maka Rasulullah Saw menanggapi ucapan Asma sebagai berikut, ”Wahai Asma, pergilah dan sampaikanlah kepada teman dan saudar-saudaramu dari kalangan wanita bahwa berbakti kepada suami dan berusaha meraih redhanya serta mematuhinya, pahalanya sebanding dengan pahala yang didapat kaum pria yang engkau sebutkan itu.” (HR. Hakim)

Asma binti Yazid pernah menjadi pelayan Rasulullah Saw. Ujarnya,”Sungguh, aku telah memegang tali unta Rasulullah saat turun kepadanya Surat Al-Maidah seluruhnya. Karena turunnya surat tersebut nyaris memecahkan leher unta beliau.

Dan Asma juga bercerita,”Sekali waktu Rasulullah Saw menjumpai aku bersama sekelompok kaum wanita. Lalu beliau mengucap salam dan kami menjawabnya.  Dan Aku telah ikut dalam banyak peperangan untuk mengobati tentara yang terluka terutama pada perang Yarmuk.”
Semoga Allah meredhai Sayidatina Asma binti Yazid

ASMA BINTI UMAIS ; WANITA CERDAS DAN DAYA FIKIR YANG TINGGI

Asma binti Umais adalah seorang wanita yang cerdas dan memiliki daya fikir yang tinggi, juga seorang yang penyabar.

Beliau Istri dari Ja’far bin Abi Thalib, Abu Bakar ra, Ali bin Abi Thalib.


Pernikahan

Suami pertama Asma binti Umais adalah Jafar bin Abi Talib, dari pernikahannya melahirkan tiga putra yakni Abdullah, Muhammad dan Aunan. [kitab Nisaa’ Haular Rasuul, karya Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi]

Ibn Katsir menulis di dalam kitabnya Bidayah wan Nahiyah. Asma binti Umais bin Maadd bin Tamin al Khatsamiyyah adalah isteri Khalifah Abu Bakar ra yang sebelumnya diperisterikan oleh Jafar bin Abi Talib.

Perkahwinannya dengan Abu Bakar ra melahirkan Muhammad bin Abu Bakar ra. Setelah Abu Bakar ra meninggal dunia beliau menikah dengan Ali bin Abi Thalib, adik suaminya yang pertama. [Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a.Oleh H.M.H. Al Hamid Al Husaini] Beliau adalah isteri ke enam bagi Ali ra.

Dari pernikahannya dengan Ali, Asma melahirkan Yahya dan Muhammad al Ashgar. Ibn Katsir mengambil riwayat ini dari Ibnul Kalbi. Bagaimanapun Ibn Katsir mengatakan al Waqidi mengatakan “ Beliau memperoleh dua orang putra darinya, Yahya dan Aun, adapun Muhammad al Ashghar berasal dari ummul walad [Ummul walad adalah hamba wanita]. Dalam hal ini kita dapati ada perselisihan pendapat penulis sejarah.


Ikut berhijrah

Peristiwa hijrah yang pertama ke Habsyah yang dilakukan oleh sekelompok kaum muslimin atas perintah Rasulullah SAW adalah ujian berat bagi keimanan mereka. Hidup dinegeri orang yang jauh dari sanak famili dan belum memiliki kepastian hidup dinegeri asing. Apalagi perjalanan yang sangat berat dengan berlayar membelah lautan. Semata mata hal itu dilakukan karena taat kepada Allah dan RasulNya. Amir rombongan yang memimpin hijrah adalah Ja’far bin Abi Thalib. Dialah yang menjadi juru bicara dalam menyampaikan keinginan kaum muslimin kepada Raja Najasyi untuk mendapat ijin tinggal di negeri Habsyah.

Istri dari Ja’far bin Abi Thalib juga ikut didalam rombongan hijrah ini. Namanya Asma binti Umais. Di negeri Habsyah beliau melahirkan tiga putra yakni Abdullah, Muhammad dan Aunan. Adapun putra beliau yaitu Abdullah sangat mirip dengan ayahnya, sedangkan ayahnya sangat mirip dengan Rasulullah SAW, sehingga hal itu menggembirakan hati beliau dan menumbuhkan perasaan rindu untuk melihat Rasulullah SAW.

ARWA’ BINTI ABDUL MUTTALIB : PEMBELA RASULULLAH SAW DENGAN LISANNYA


Arwa binti Abdul Muthalib adalah bibi Rasulullah SAW. Ia adalah putri Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad. Arwa masuk Islam di Makkah dan turut hijrah ke Madinah.

Sebelum masuk Islam, dia juga mendukung Nabi SAW. Disebutkan juga bahwa anaknya, Kalib bin Umair, masuk Islam di Darul Arqam bin Abu Al-Arqam Al-Makhzumi.

Usai masuk Islam, Kalib mengunjungi ibunya, Arwa binti Abdul Muthalib, kemudian berkata, "Aku mengikuti Muhammad dan masuk Islam karena Allah."

"Sungguh benar jika kau mendukung dan membantu sepupumu Muhammad. Demi Allah, kalau saja kita mampu apa yang dilakukan oleh para lelaki itu mendukungnya, tentu kita akan mengikutinya dan membelanya," kata ibunya.

"Lalu apa lagi yang menghalangimu untuk masuk Islam, dan mengikuti Muhammad. Padahal saudaramu Hamzah telah juga masuk Islam?"

"Aku sedang melihat apa yang diperbuat oleh saudara-saudara perempuanku, kemudian aku akan menjadi salah seorang dari mereka."

"Maka sesungguhnya aku memintamu karena Allah, agar kau mau datang pada Muhammad, masuk Islam, membenarkannya dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai utusan Allah," pinta Kalib.

Kemudian Arwa masuk Islam dan termasuk salah seorang yang mendukung Nabi SAW. Ia juga mengajak anaknya untuk menolong Rasulullah SAW dan mengerjakan apa yang diajarkan oleh beliau.

Pernah suatu kali Abu Jahal dan beberapa pembesar Quraiys bersikap keras hingga menyakiti Nabi SAW. Kalib bin Umair sengaja datang ke tempat Abu Jahal dan memukulnya dengan keras di kepalanya, kemudian orang-orang yang ada di sekitar Abu Jahal segera meringkusnya dan memegangnya kuat-kuat. Kemudian Abu Lahab mendekatinya hingga melepaskannya.

Kemudian kejadian itu, mereka berkata kepada Arwa, "Apakah kau tidak melihat anakmu si Kalib itu sekarang menjadi kasar berdekatan dengan Muhammad?"

Arwa menjawab, "Aku melihat bahwa beberapa hari ini dia semakin baik setelah dia mengisi harinya dengan selalu membela sepupunya Muhammad. Sungguh Muhammad membawa ajaran yang benar dari sisi Allah."

"Apakah kau juga telah menjadi pengikut Muhammad?" tanya mereka.

"Benar," jawab Arwa.

Kemudian sebagian mereka keluar menemui Abu Lahab dan memberi kabar tentang keislaman Arwa. Menerima kabar tersebut, Abu Lahab beranjak menemui Arwa dan berkata, "Sungguh mengherankan dirimu ini, hai Arwa. Mengapa kau menjadi pengikut Muhammad dan kau tinggalkan agama Abdul Muthalib?"

"Memang seperti itulah keadaannya," kata Arwa. "Maka cobalah kau dukung keponakanmu itu,bantu dan bela dirinya. Bila dia memberikan suatu ajaran, maka kau punya dua pilihan, apakah kau masuk ke dalam Islam bersamanya atau kau tetap memegang agamamu itu. Apabila dia yang benar, maka aku minta maaf karena telah memilih masuk ke dalam golongan keponakanmu Muhammad."

"Kami mempunyai kekuasaan dan kekuatan besar di Arab yang secara bersama-sama menentang kedatangan agama baru," kata Abu Laha lalu beranjak pergi.

Arwa begitu sedih dengan kematian Nabi SAW, hingga dia menulis puisi:
Wahai Rasulullah, bukankah kau harapan kami
Kehadiranmu bagi kami adalah kebaikan
Dan jangan kau biarkan menjadi kering
Setiap detak jantungku hanya mengingat Muhammad
Dan betapa kesedihan menahan rindu
Terkumpul dalam diriku setelah kau tiada, wahai Nabi.


Arwa binti Abdul Muthalib meninggal dunia sekitar tahun 15 Hijriyah.

AMAH BINTI KHALID : TERLAHIR DI NEGARA RANTAU


Kedua orang tuanya adalah orang Quraisy yang termasuk generasi awal kaum beriman di kalangan para sahabat Rasululah SAW. Kedua orang tuanya termasuk orang-orang pertama yang merespons dakwah Rasulullah SAW, kemudian mendapat petunjuk melalui petunjuk beliau dan merupakan batu bata pertama di bangunan agama yang lurus ini.

Ketika sekelompok orang Quraisy berbondong-bondong untuk menjadi penganut agama yang mulia ini, di antara adalah Khalid bin Sa’ad bin Al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abu Manaf bin Qusyai dan istrinya Umainah binti Khalaf bin As’ad bin Amir Al-Khuzaiyah. Kedua orang mulia dan terhormat inilah orang tua Amah.

Ketika beragam siksa mulai menimpa kaum Mukminin dan bermacam penganiayaan mendera mereka, Rasulullah SAW memerintahkan mereka untuk hijrah ke Habasyah. Di Habasyah, kaum Mukminin mendapatkan keamanan, kedamaian, dan kesejahteraan.

Khalid dan istrinya pun berangkat ke Habasyah dengan berpegang teguh pada kesabaran. Di antara para sahabat yang hijrah ke Habasyah ialah Utsman bin Affan bersama istrinya, Ruqaiyah binti Muhammad SAW.

Khalid dan istrinya menceritakan kisah keislaman keduanya kepada putri mereka. Amah binti Khalid mendengar kisah menarik kedua orang tuanya dengan serius. Kisah tersebut membekas dan terpatri di hati Amah binti Khalid yang masih kecil.

Suatu ketika Amah kecil bertanya kepada ayahnya, "Ayah, kapan engkau masuk Islam?"

Khalid bin Sa'ad mendekap putrinya ke dadanya, sambil berkata, "Aku termasuk orang-orang yang pertama kali diberi kenikmatan iman. Orang yang masuk Islam bersamaku ialah pamanmu dari jalur aku, Amr bin Sa'ad. Dia sekarang ada bersamaku di Habasyah sedang hidup enak karena perlindungan Najasyi. Namun pamanmu dari jalurku yang lain, Aban bin Sa'ad, belum masuk Islam hingga sekarang."

Amah binti Khalid bertanya kepada ayahnya tentang nasib kakeknya, Abu Uhaihah, “Ayah, bagaimana dengan kakekku? Apakah Allah memberinya petunjuk untuk masuk Islam ataukah tetap berada pada kekafirannya?"

"Putriku, kakekmu tetap berada pada kekafiran dan kesombongannya," jawab Khalid bin Sa'ad, penuh kecintaan seorang ayah. "Kakekmu meninggal dunia dalam keadaan kafir. Sungguh aku selamat dengan Islam dan mengikuti Nabi Muhammad SAW."

Kaum Muhajirin dari Makkah menetap di Habasyah selama sepuluh tahun lebih, sedangkan Amah binti Khalid hanya hidup beberapa tahun di sana. Setelah itu, kaum Muhajirin kembali ke Madinah. Mereka pun bertemu Rasulullah SAW di Khaibar. Beliau berhasil menaklukkan Khaibar pada tahun ketujuh Hijriyah. Rasulullah kemudian memberi bagian rampasan perang kepada kaum Muhajirin dari Habasyah. Setelah itu, mereka pulang ke Madinah di bawah pimpinan Rasulullah SAW.

Di Madinah, putri-putri sahabat yang lahir di Habasyah mendapatkan perhatian dan asuhan Rasulullah SAW. Amah binti Khalid termasuk putri-putri sahabat yang belajar kepada Rasulullah SAW, mendapatkan kehormatan agung di sisi beliau, dan menjadi sahabiyah beliau. Amah binti Khalid ternasuk putri sahabat dan shahabiyah. Amah binti Khalid dikenal dengan nama panggilan Ummu Khalid. Ia dipanggil seperti itu, ketika Rasulullah SAW mengenakan pakaian baru kepadanya.

Sungguh Rasululah SAW amat memerhatikan putri dan putra sahabat dan menyayangi mereka. Itu sebagai salah satu bentuk penghargaan kepada salah seorang dari orang tua mereka, atau kedua orang tua mereka. Amah binti Khalid termasuk orang yang dihormati Rasulullah SAW. Beliau juga menghormati kedua orang tua Amah dan mengetahui bahwa keduanya masuk Islam sejak dulu dan berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dalam riwayat Bukhari disebutkan, suatu ketika para sahabat membawa beberapa pakaian yang di dalamnya terdapat baju yang diberi garis-garis (dengan sutra atau wol) kepada Rasulullah SAW. Kemudian beliau bersabda,
 "Menurut kalian, siapa yang paling layak kita beri pakaian ini?"

Orang-orang diam, kemudian Rasululah SAW bersabda,
"Bawa kemari Ummu Khalid."

Ummu Khalid pun dibawa ke hadapan Nabi SAW, kemudian beliau mengenakan pakaian tersebut kepadanya dengan tangan beliau langusng, sambil bersabda, "Kenakan pakaian ini hingga lusuh, kenakan pakaian ini hingga lusuh!"

Di antara makna perkataan tersebut ialah semoga hidup Amah binti Khalid panjang, hingga pakaian yang dikenakan Nabi SAW tersebut lusuh.

Di antara yang membuat Amah binti Khalid termasuk wanita-wanita mulia dan mempunyai kedudukan di antara para sahabat ialah karena ia termasuk salah seorang dari putri-putri sahabat yang meriwayatkan hadits dari Nabi SAW. Amah binti Khalid meriwayatkan tujuh hadis dari Rasulullah SAW.

Bukhari meriwayatkan dua hadits Amah binti Khalid. Ada dua orang di antara para penulis sunan yang meriwayatkan haditsnya, yaitu Abu Dawud dan Nasa'i. Mereka yang meriwayatkan hadis dari Amah binti Khalid adalah Sa'ad bin Amr bin Sa'ad bin Al-Ash, yang tidak lain adalah anak pamannya dari jalur ayah, Amr. Begitu juga Musa bin Uqbah, Ibrahim bin Uqbah, Karib bin Sulaim, Al-Kindi, dan lain-lain.

Ketika Amah binti Khalid menginjak usia dewasa, ia dinikahi pendekar Islam dan kepala keluarga Zubair bin Awwam, yang merupakan sahabat setia Rasulullah SAW. Dari hasil pernikahannya dengan Zubair bin Awwam, Amah binti Khalid mempunyai dua anak laki-laki; Umar dan Khalid. Amah binti Khalid dipanggil dengan anaknya yang bernama Khalid tersebut sehingga namanya menjadi Ummu Khalid. Kedua anaknya termasuk anak-anak para sahabat terbaik dan tabi’in terbaik pula. Ia sendiri juga salah satu putri-putri sahabat dan istri-istri para sahabat terbaik.

Amah binti Khalid merupakan salah seorang putri sahabat yang berumur panjang. Hal ini tidak lepas dari keberkahan doa Rasululah SAW, ketika beliau mengenakan pakaian yang bergaris-garis sutra tidak lama setelah kedatangannya dari Habasyah.

Ibnu Hajar berkata, "Ummu Khalid (Amah binti Khalid) hidup lama sekali, yakni hidup hingga zaman Musa bin Uqbah."

Sedangkan Adz-Dzahabi berkata, "Ia hidup hampir 90 tahun. Saya berpendapat bahwa Amah binti Khalid adalah shahabiyah yang terakhir meninggal dunia, karena ia hidup hingga zaman Sahl bin Sa'ad."

Al KHANSA : PENYAIR DAN IBUNDA PARA SYUHADA


Tumadhar binti ‘Amr bin Syuraid bin ‘Ushayyah As-Sulamiyah atau yang dikenal dengan Al Khansa (dari bahasa Arab yang berarti 'kijang') adalah seorang sahabat wanita yang mulia dan sangat terkenal sebagai penyair, syair-syairnya yang berisi kenangan kepada orang-orang tercinta yang telah tiada. Terutama kepada kedua orang saudara lelakinya, yaitu Muawiyah dan Sakhr yang telah meninggal dunia. Selain itu ia dikenal sebagai ibu para syuhada karena telah berhasil mendidik keempat putranya menjadi syuhada di medan Perang Qadisiyah.

Khansa menikah dengan Rawahah bin Abdul Azis As-Sulami. Dari pernikahan itu ia mendapatkan empat orang anak laki-laki : Yazid, Mu'awiyah, 'Amr, dan 'Amrah, semuanya memeluk Islam.


Masuk Islamnya Al Khansa

Al Khansa binti Umar bin Kharis bin Syarit masuk Islam di saat mendatangi Nabi Muhammad SAW bersama dengan Bani Syulaim. Semua pakar keilmuan telah sepakat bahwa tak ada seorang wanita pun, baik sebelum Khansa’ maupun sesudahnya, yang dapat menandingi kepiawaiannya dan bersyair. Ia dinobatkan sebagai penyair paling mahir di Arab secara mutlak.

Dan setelah ia masuk Islam, ia pun berujar “dulu aku menangisi kehidupanku, namun sekarang, aku menangis karena takut akan siksa neraka.” Keempat anaknya pernah diberi hadiah oleh Umar bin Khathab, masing-masing dari mereka sebanyak 400 dirham.

Keadaannya berubah total setelah ia masuk Islam, ujian yang dialaminya menjadi kesabaran yang didasari iman dan dihiasi oleh takwa, hingga ia tidak lagi merasa sedih ketika kehilangan apa pun dari kenikmatan duniawi ini.


Syaidnya keempat putra kandung Al-Khansa’

Ketika Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berangkat ke Qadisiyah di masa Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu, Al-Khansa’ turut berangkat bersama keempat puteranya untuk menyertai pasukan tersebut.

Empat putera kandung Al-Khansa’ bergabung dengan pasukan muslim yang ditugaskan menyerang Qadisiyah. Sehari sebelum perang, Al-Khansa’ ra. Menyampaikan beberapa wasiat kepada putera-puteranya,

“Hai Putra-putraku, kalian semua memeluk Islam dengan suka rela dan berhijrah dengan senang hati. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya kalian adalah keturunan dari satu ayah dan satu ibu. Aku tidak pernah merendahkan kehormatan dan merubah garis keturunan kalian. Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan dunia yang fana.
Putra-putraku, sabarlah, tabahlah, bertahanlah, dan bertakwalah kepada Allah. Semoga kalian menjadi orang-orang yang beruntung. Jika kalian melihat genderang perang telah ditabuh dan apinya telah berkobar, maka terjunlah ke medan laga dan serbulah pusat kekuatan musuh, pasti kalian akan meraih kemenangan dan kemuliaan, di dalam kehidupan abadi dan kekal selama-lamanya”.
Keesokkan harinya, mereka terjun ke medan laga dengan gagah berani. Jika ada seorang di antara mereka yang semangatnya mulai surut, maka saudara-saudaranya langsung mengingatkannya dengan nasihat Ibunda mereka yang telah tua renta, dengan begitu semangatnya berkobar kembali dan menyerbu musuh seperti singa yang mengamuk. Serangan-serangannya seperti siap melumat musuh-musuh-Nya. Mereka tetap berjuang dengan penuh semangat, hingga satu persatu berguguran menjadi syuhada.

Ketika sang Ibunda mendengar berita kematian empat puteranya dalam hari yang sama, ia menerima berita duka itu dengan penuh keimanan dan kesabaran.

“Alhamdulillah yang telah memberiku kemuliaan dengan kematian mereka. Aku berharap, Allah akan mengumpulkanku dengan mereka di tempat limpahan kasih sayang-Nya”, harap Al-Khansa’.

Di masa jahiliyah, Al-Khansa’ ra. Memenuhi dunia dengan tangisan dan keluh kesah atas kematian saudara kandungannya, Shakhr. Setelah ditempa oleh Islam dengan luar biasa ia sanggup merelakan empat putera kandungnya sendiri untuk meraih mati syahid dalam perang Qadisiyyah.

Ia begitu tulus dan tabah dengan pengorbanan besarnya itu demi meraih anugrah menjadi penghuni surga, karena Rasulullah Saw. pernah bersabda,

“Siapa yang merelakan tiga orang putra kandungnya (meninggal dunia), maka dia akan masuk surga. Seorang wanita bertanya, bagaimana jika hanya dua putra?, Rasulullah Saw. kemudian menjawab: ‘begitu juga dua putra”. (Diriwayatkan oleh Nasa’I dan Ibnu Hibban dari Anas radhiyallahu’anhu dalam kitab Al-Albani Shahiihul Jaami’ no 5969).

Khansa wafat pada permulaan pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, pada tahun ke-24 Hijriyah.

Al-Khansa: Ibu Para Syuhada (bag-1)


Pada masa Jahiliyah tersebutlah seorang penyair wanita ulung bernama al-Khansa. Syair-syairnya begitu memikat. Simaklah syiar ratapan terbaik yang pernah diciptakannya, sesaat setelah kematian saudaranya yang bernama  Shakr:

"Air mataku terus bercucuran dan tak pernah mau membeku
ketahuilah... mataku menangis
karena kepergian Sakhr, sang dermawan
ketahuilah... mataku menangis
karena kepergian sang gagah berani
ketahuilah... mataku menangis
karena kepergian pemuda yang agung"


Al-Khansa bernama Tamadhar binti Amru bin al-Haris bin asy-Syarid. Cahaya Islam yang ditebarkan Rasulullah di Jazirah Arab telah mengetuk pintu kesadarannya. Bersama beberapa orang dari kaumnya, sang penyair menghadap Rasulullah SAW. Ia menyatakan keislamannya dan bertekad membangun aqidah tauhid.

Sang penyair pun menjadi seorang Muslimah yang baik. Ia pun menjadi salah seorang Muslimah teladan sekaligus  figur yang cemerlang dalam keberanian dan kemuliaan diri. Al-Khansa menjadi teladan mulia bagi para ibu Muslimah.

Suatu ketika Rasulullah SAW memintanya bersyair. Pemimpin terbaik sepanjang zaman itu mengagumi bait-bait syair al-Khansa'. Ketika al-Khansa sedang bersyair, Rasulullah SAW berkata, "Aduhai, wahai Khansa, hariku terasa indah dengan syairmu."

Suatu ketika Adi bin Hatim dan saudarinya, Safanah binti Hatim datang ke Madinah dan menghadap Rasulullah SAW, mereka berkata, “Ya Rasulullah, dalam golongan kami ada orang yang paling pandai dalam bersyair dan orang yang paling pemurah hati, serta  orang yang paling pandai berkuda.”

Rasulullah SAW bersabda, "Siapakah mereka itu. Sebutkanlah namanya." Adi menjawab, "Adapun yang paling pandai bersyair adalah Umru’ul Qais bin Hujr, dan orang yang paling pemurah hati adalah Hatim Ath-Tha’i, ayahku. Dan yang paling pandai berkuda adalah Amru bin Ma’dikariba."

Rasulullah SAW berkata, “Apa yang telah engkau katakan itu salah, wahai Adi. Orang yang paling pandai bersyair adalah Al-Khansa binti Amru, dan orang yang paling murah hati adalah Muhammad Rasulullah SAW, dan orang yang paling pandai berkuda adalah Ali bin Abi Thalib."

Al-Khansa: Ibu Para Syuhada (bag 2)


Al-Khansa menikah dengan Rawahah bin Abdul Aziz As Sulami. Dari pernikahan itu ia mendapatkan empat orang anak lelaki. Dan melalui pembinaan dan pendidikan di bawah naungannya, keempat anak lelakinya ini telah menjadi pahlawan-pahlawan Islam yang terkenal. Al-Khansa sendiri terkenal sebagai ibu dari para syuhada.

Ia adalah seorang ibu yang tegar. Al-Khansa telah berhasil mendidik keempat anaknya. Kelak keempat anak lelakinya gugur syahid di medan Qadisiyah. Sebelum peperangan dimulai, terjadilah perdebatan yang sengit di rumah al-Khansa.

Keempat anaknya itu ingin turut berperang melawan tentara Persia. Mereka saling berdebat menentukan siapa yang harus tinggal di rumah mendampingi sang bunda. Perdebatan itu akhirnya sampai di telinga al-Khansa.

Syahidnya keempat putra kandung Al-Khansa’
Ketika Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berangkat ke Qadisiyah di masa Amirul Mukminin Umar bin Khaththab RA, al-Khansa akhirnya berangkat bersama keempat putranya untuk menyertai pasukan tersebut.

Di medan peperangan, sesaat dua para pasukan siap berperang, al-Khansa mengumpulkan keempat putranya. Ia  memberikan petuah, bimbingan serta mengobarkan semangat jihad fi sabilillah dan buah hatinya tetap istiqamah berperang di jalan Allah dan mengharapkan syahid.

Dengan penuh ketegaran al-Khansa bertutur,'' “Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian telah masuk Islam dengan ketaatan dan tanpa paksaan, kalian telah berhijrah dengan sukarela dan Demi Allah, tiada Illah selain Dia.''  Ia lalu melepas anak-anaknya dengan penuh haru dan ikhlas.

Hingga akhirnya, berita syahidnya empat bersaudara itu sampai di telinganya. Kesabaran dan keikhlasan tak membuatnya sedih ketika mendengar kabar itu. “Segala puji bagi Allah yang memuliakan diriku dengan syahidnya mereka, dan aku berharap kepada Rabb-ku agar Dia mengumpulkan diriku dengan mereka dalam rahmat-Nya”.

Umar bin Khattab paham betul keutamaan al-Khansa dan putra-putranya. Khalifah Umar senantiasa memberikan bantuan yang menjati jatah keempat anaknya kepada al-Khansa, hingga ibu para syuhada itu wafat. Al-Khansa meninggal dunia pada masa permulaan kekhalifahan Utsman bin Affan RA, pada tahun ke-24 Hijriyah.

AISYAH BINTI ABU BAKAR ISTERI NABI YANG PALING BANYAK MERAWIKAN HADITS


Aisyah bin Abu Bakar dikurniakan kemuliaan semasa hidup dan selepas meninggal dunia. Dia bukan sahaja menjadi isteri Rasullulah saw di dunia tetapi di akhirat. Ketika wahyu turun kepada Rasullulah saw jibrail membawa khabar bahawa Aisyah adalah isterinya di dunia dan diakhirat sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadis daripada Aisyah,
"Jibrail datang membawa gambarnya pada sepotong sutera hijau kepada Nabi saw , kemudian berkata, ini adalah isterimu di dunia dan akhirat."
(HR At-Tarmizi)
Dia menjadi penyebab turunnya firman Allah swt yang menerangkan kesuciannya dan membebaskannya daripada fitnah orang munafik pada peristiwa Hadithul Ifki.
Aisyah dilahirkan empat tahun sesudah Nabi saw diutus menjadi rasul. Semasa dia bermain-main dengan lincah dan ketika dinikahi Rasullulah saw usianya belum genap 10 tahun.
Dalam sebahagian besar riwayat disebutkan bahawa Rasullulah saw membiarkannya bermain-main bersama teman-temannya. Dua tahun setelah Siti Khadijah wafat , wahyu turun kepada Rasullulah saw untuk menikahi Aisyah Rasullulah saw berkata kepada Aisyah :
"Aku melihatmu dalam tidurku tiga malam berturut-turut. Malaikat datang menemui dalam membawa gambarmu pada selembar sutera dengan berkata,"Ini adalah isterimu." Ketika aku membuka tabirnya wajahmu kelihatan. Kemudian aku berkata kepadanya,"Jika ini benar daripada Allah swt nescaya akan terlaksana."
Mendengar khabar itu, Abu Bakar dan isterinya sangat gembira. Tambahan pula Rasullulah saw bersetuju menikahi puteri mereka,Aisyah. Baginda datang ke rumah mereka dan berlangsunglah pertunangan yang diberkati itu. Setelah pertunangan selesai , Rasullulah saw berhijrah ke Madinah bersama para sahabat sementara isteri baginda ditinggalkan di Mekkah . Setelah Baginda meninggalkan Madinah Baginda mengutus seseorang untuk menjemput mereka termasuk Aisyah.
Dengan izin Allah swt, Rasullulah saw menikahi Aisyah dengan mas kahwin 500 dirham. Aisyah tinggal di bilik yang bersebelahan dengan Masjid Nabawi. Banyak wahyu diturunkan di bilik itu sehinggakan bilik itu disebut juga sebagai tempat turunnya wahyu.

Kisah Rasullulah SAW dengan Aisyah
Dalam hati Rasullulah saw kedudukan Aisyah sungguh istimewa dan tidak dialami oleh isteri-isteri baginda yang lain. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dikatakan:
"Cinta pertama yang terjadi dalam islam adalah cinta Rasullulah saw kepada Aisyah ra"
Dalam riwayat at-Tarmizi dinyatakan ada seseorang yang menghina Aisyah di hadapan Ammar bin Yasir sehinggakan Ammar berkata kepadanya :
"Sungguh celaka kamu. Kamu telah menyakiti isteri Rasullulah saw yang tercinta."
Walaupun isteri-isteri Rasullulah saw mempunyai perasaan cemburu yang kuat kepada Aisyah , mereka tetap menghargai kedudukan Aisyah . Bahkan ketika Aisyah wafat, Ummu Salamah berkata :"Demi Allah swt dia adalah manusia yang paling Baginda cintai selain ayahnya (Abu Bakar). "
Antara isteri-isteri Rasullulah saw , Saudah bin Zumah sangat memahami keutamaan-keutamaan Aisyah sehinggakan dia merelakan seluruh malam bahagiannya untuk Aisyah. Dengan itu, dapat dikatakan bahawa Aisyah sangat memerhatikan sesuatu yang menjadikan Rasullulah saw rela. Dia menjaga agar jangan sampai baginda berasa sesuatu yang tidak menyenangkan daripadanya. Salah satu cara membuatkan baginda rela ialah Aisyah sentiasa memakai pakaian yang cantik dan selalu berhias untuk Rasullulah saw.
Rasullulah saw meminta izin kepada isteri-isterinya untuk beristirehat di rumah Aisyah selama Baginda sakit sehinggalah Baginda wafat. Dalam hal ini, Aisyah berkata :"Ia merupakan kenikmatan bagiku kerana Rasullulah saw wafat dipangkuanku."
Bagi Aisyah , Rasullulah saw tinggal di biliknya sepanjang Baginda sakit yang mana merupakan penghormatan buat dirinya menjaga Baginda sehingga ke akhir hayat. Rasullulah saw dimakamkan di bilik Aisyah di tempat yang sama Baginda wafat.
Aisyah pernah bermimpi melihat tiga bulan jatuh dalam biliknya. Ketika dia memberitahu hal ini kepada ayahnya, Abu Bakar berkata:"Jika yang kamu lihat itu benar maka dirumahmu akan dimakamkan tiga orang yang paling mulia di muka bumi."
Ketika Rasullulah saw wafat , Abu Bakar berkata :"Baginda berkata,"Baginda adalah orang yang paling mulia antara ketiga-tiga bulanmu." Ternyata Abu Bakar dan Umar dimakamkan di rumah Aisyah.
Selepas Rasullulah saw wafat, Aisyah sentiasa berhadapan dengan dugaan yang sangat besar . Namun, dia menghadapi semua dugaan dengan itu dengan hati yang sabar, penuh kerelaan terhadap takdir Allah swt dan selalu berdiam diri di dalam rumah semata-mata taat kepada Allah swt.
Rumah Aisyah sentiasa dikunjungi orang ramai daripada segenap penjuru untuk menimba ilmu untuk menziarahi makam Nabi saw. Ketika isteri-isteri Nabi saw hendak mengutus Usman menghadap Khalifah Abu Bakar untuk menanyakan harta pusaka peninggalan Nabi saw yang merupakan bahagian mereka, Aisyah justeru berkata:"Bukankah Rasullulah saw berkata:"Kami para Nabi tidak meninggalkan harta pusaka  Apa yang kami tinggalkan itu adalah sedekah."
Dalam menetapkan hukum, Aisyah kerap menemui wanita yang melanggar syariat islam. Dalam Tabaqat Ibnu Saad mengatakan bahawa Hafsah binti Abdirrahman menemui Ummu Mukminin Aisyah ra. Ketika itu Hafsah memakai tudung nipis. Aisyah menarik tudung wanita tersebut sepantas kilat dan menggantikannya dengan tudung tebal.
Aisyah tidak pernah mengambil ringan tentang hukum kecuali jika sudah jelas dalilnya daripada al-Quran dan sunnah. Aisyah merupakan orang yang paling dekat dengan Rasullulah saw sehingga dia dapat menyaksikan banyak wahyu yang turun kepada Baginda. Aisyah juga berpeluang untuk terus bertanya kepada Rasullulah saw jika menemui sesuatu perkara yang tidak difahami tentang sesuatu ayat. Dengan itu, Aisyah memperolehi ilmu dengan cepat daripada Rasullulah saw.
Aisyah termasuk wanita yang banyak menghafal hadis-hadis Nabi saw sehingga para ahli hadis menempatkan dia pada urutan kelima daripada para menghafal hadis setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik dan Ibnu Abbas.
Dalam hidupnya yang penuh jihad Aisyah meninggal pada usia 66 tahun, dalam bulan ramadan tahun ke 58 Hijrah dan dimakamkan di Baqi. Kehidupan Aisyah penuh dengan kemuliaan , kezuhudan, tawaduk dan pengabadian sepenuhnya kepada Rasullulah saw .
Dia juga selalu beribadah serta sentiasa melaksanakan solat malam.
Selain itu, Aisyah banyak mengeluarkan sedekah sehinggakan dalam rumahnya tidak ada wang 1 dirham atau 1 dinar pun yang tinggal.
Rasullulah saw pernah bersabda:
"Jagalah diri kamu daripada api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma."
"Aisyah merupakan orang yang paling dekat dengan Rasullulah saw sehingga dia dapat menyaksikan banyak wahyu yang turun kepada Baginda."

Selasa, 13 Februari 2018

KEUTAMAAN SEDEKAH PADA MAYAT DI HARI JUMAAT


Imam Ahmad Syihabuddin Bin Salamah Al-Qulyuby.

Dikisahkan dulu ada seorang laki-laki yang tinggal di Samarkand. Pada suatu hari ia sakit dan bernazar: apabila ia diberi kesembuhan Allah maka ia akan menyodaqohkan semua amalnya untuk ibunya  di hari jum’at, lalu ia diberi umur panjang dan melakukan.

Pada suatu hari ia berkeliling di sepanjang waktu siang ia belum mendapatkan sesuatu yang di sadaqahkan, lalu ia minta fatwa pada sebagian ulama. Lalu ulama berkata kepadanmya : keluarlah dan carilah kulit semangka lalu cucilah dengan air, lalu kau keluarlah lewat jalan orang abangan, lalu lemparkanlah kulit semangka itu ke himar mereka, dan jadikanlah pahalanya untuk kedua orang tuamu. Maka nazarmu akan selesai.

Kemudian laki-laki tadi menjalankan apa yang disarankan ulama itu. Pada hari sabtu malam ia melihat kedua orang tuanya, memegangnya dan berkata padanya : Hai anakku kau amal bersama kami setiap hari dalam kebaikan, sehingga engkau memberikan makanan pada kami sebuah semangka, semoga Allah meridhoimu.

Dalam mimpinya dia melihat khurosan ( bapaknya) lalu ia berkata kepadanya : hai pemimpin. Bapanya menjawab : kau jangan panggil aku pemimpin, karena kepemimpinan telah hilang. Tapi ucapkanlah : Hai tawanan. Hai anakku bila engkau makan daging, lalau kau berikan pada kami makanan dengan cara melemparkan daging itu diantara kucing dan daging dan kau jadikan padanya untuk kami maka kami senang.

Karena itulah dikatakan ruh-ruh pada malam jum’aat berkumpul di tempat tinggal mereka mengharap doa orang yang masih hidup dan sedekahnya.

FADHILAH MANDI PAHA HARI JUMAAT


Imam Ahmad Syihabuddin Bin Salamah Al-Qulyuby.

Diceritakan bahwasanya nabi Isa ibnu Maryam AS berjalan-jalan  kemudian bertemu dengan pemburu. Yang mana pemburu tersebut memasang jerat, lalu terjeratlah seekor kijang betina pada jerat tersebut. Ketika kijang betina tersebut melihat nabi Isa, Allah membuat kijang betina itu bisa bicara.

Kijang betina berkata pada nabi Isa : “Ya Ruhulloh, Sesungguhnya aku mempunyai anak-anak kecil, aku terperangkap pada jerat ini selama tiga hari, maka tolong mintakanlah ijin pada pemburu agar aku boleh menyusui mereka dan kembali.

Lalu nabi Isa mengabarkan hal tersebut pada pemburu. Pemburu berkata pada Isa : “Dia tidak boleh pulang”. Nabi Isa pun memberitahukan pada kijang betina hal tersebut. Kijang betina itu berkata : “Sesungguhnya jika kau tidak pulang maka aku lebih buruk daripada orang-orang yang menemukan air pada hari juma’at dan tidak  mandi”. Kemudian ia memegang janji lalu pergi dan kembali dengan rasa takut menyalahi janji.

Lalu nabi Isa pergi dan menemukan batu bata dari emas yang merah. Lalu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyerahkan batu bata tersebut pada pemburu. Lalu pemburu tersebut menerimanya dan Isa mendapati pemburu telah menyembelih kijang betina. Lalu Isa berseru sambil berkata : “Allah telah menghilangkan barokah dari amal si pemburu”. Dan itulah yang terjadi.

TENGANG ZUHUD, JUJUR DAN ADIL


Imam Ahmad Syihabuddin Bin Salamah Al-Qulyuby.

Menurut cerita bahwasanya Raja KIsro adalah raja paling adil. Diceritakan ada seorang laki-laki yang membeli rumah dari lelaki lain. Kemudian ia menemukan didalamnya harta yang terpendam. Lalu ia mendatangi penjual tadi dan mengatakan tentang harta tersebut. Kemudian penjual itu berkata pada lelaki tadi : “ Seseungguhnya aku menjual kepadamu rumah yang tak kuketahui didalamnya terdapat harta terpendam, maka harta tersebut bagimu”. Lalu pembeli berkata : “Kamu harus mengambil harta tersebut karena harta tersebut tidak termasuk perkara yang kubeli”. 

Perdebatan diantara keduanya menjadi panjang, kemudian mereka meminta keputusan kepada raja Kisro.
Sesampainya dihadapan  raja Kisro mereka meceritakan perihal harta terpendam tersebut. Raja kisro terdiam sejenak lalu berkata kepada keduanya : “Apakah kalian mempunyai anak ?”. Penjual menjawab : “Aku mempunyai seorang anak laki-laki yang sudah baligh”.  

Pembeli mengatakan : “Aku juga mempunyai seorang anak perempuan baligh”. kemudian raja Kisro berkata :  “Kuperintahkan kalian untuk menikahkan keduanya serta menafaqohkan harta tersebut demi kebaikan keduanya”. Kemudian  mereka melakukannya sesuai dengan perintah raja.
Dikatakan bahwasanya dia si raja mengangkat amil pada sebagian negara, lalu amil memerintahkan pada sebagian negara tersebut untuk menambah ufeti yang biasa pada setiap tahun.
Ketika perkara tersebut sampai pada raja Kisro, raja Kisro memerintahkan untuk mengembalikan tambahan  tersebut pada pemiliknya serta memerintahkan untuk menyalib amil tersebut dan berkata : “Setiap raja yang mengambil sesuatu dari rakyatnya secara dholim maka tidak akan beruntung selamanya, akan hilang barokah darinya, dan bencana baginya”.

Kemudian ia berkata : “Raja dengan raja, raja dengan tentara, tentara dengan harta, harta dengan keramaian kota, keramaian kota dengan adil didalam mengatur”.  والسلام  . Sebagian hukama’ berkata ketika ditanyai : “Lebih utama mana bagi seorang raja berani atau adil ?”. Kemudian ia berkata : “Ketika seorang raja itu adil maka ia tidak membutuhkan keberanian”.  (Allah Dzat yang dimintai pertolongan ).


KEMURAHAN HATI DAN AMPUNAN DENGAN ILMU


Imam Ahmad Syihabuddin Bin Salamah Al-Qulyuby.

Diceritakan : sesungguhnya raja Bahramjur keluar pada suatu hari untuk beburu, kemudian tampaklah olehnya seekor keledai kemudian keledai tersebut menjauhkan diri. Kemudian raja mengikutinya sampai dia bersembunyi dari pasukannya. Kemudian keledai tersebut menampakkan diri, dan raja menangkapnya, kemudian raja turun dari kudanya untuk menyembelih keledai tersebut.
Kemudian tampaklah olehnya seorang penggembala di hadapannya. Kemudian raja berkata kepadanya : “ Hai, penggembala tolong peganglah kudaku sampai aku menyembelih keledai ini. Maka sang penggembala memegangnya,
Ketika raja sibuk menyembelih keledai tersebut timbullah suatu perhatian olehnya penggembala tersebut sedang mencoba menggambil intan yang ada pada sabuk kuda yang terbuat dari kulit. Kemudian raja memalingkan pandangannya sampai si penggembala mengambil intan tersebut. Raja berkata :” sungguh melihat suatu cacat dari suatu cacat”. Kemudian raja menaiki kudanya dan kembali menemui pasukannya,
Lalu seorang menteri bertanya kepada sang raja : “Wahai Raja yang beruntung, dimanakah intan yang ada pada sabuk kuda anda?”, kemudian raja tersenyum dan berkata : “ Seseorang telah mengambilnya dan tidak mengembalikannya aku telah melihat orangnya.  Jangan memfitnahnya dan barang siapa dari kalian melihat intan itu bersama orang tersebut maka janganlah menindaknya dengan sebab tadi !”

KERAJAAN NABI SULAIMAN


Imam Ahmad Syihabuddin Bin Salamah Al-Qulyuby.

Diceritakan: Sesungguhnya beberapa burung yang jumlahnya 70.000 berkumpul kepada Nabi Sulaiman. Burung-burung tersebut berhenti diatas kepala Nabi Sulaiman seperti awan. Kemudian Nabi Sulaiman bertanya kepada mereka tentang kehidupannya.:”Dimanakah kalian bertelur dan menetas?”. Mereka menjawab: ”Diantara kami ada yang bertelur dan menetas di udara, diantara kami ada yang bertelur di kedua lengan sampai menetas, ada diantara kami yang menyimpan telurnya di paruh sampai menetas, ada diantara kami yang tidak bersetubuh dan tidak bertelur dan keturunan kami akan selalu ada.
As-Suda berkata:”Permadani Nabi Sulaiman terbuat dari tenunan jin, ada yang terbuat dari sutera dan emas, permadani tersebut memuat beberapa pasukan Nabi Sulaiman, memuat beberapa hewan melata, beberapa kuda, unta, seluruh manusia, jin, binatang liar dan burung.
Pasukan Nabi Sulaiman satu juta yang mencapai satu farsah dan diikuti satu juta lagi. Nabi Sulaiman berjalan diantara langit dan bumi yang dekat dengan awan. Nabi Sulaiman membawa permadani tersebut ke tempa-tempat yang dia inginkan dengan cepat atau pelan, sesuai dengan kehendaknya. Kekuatan anginnya tidak merusak pepohonan, tumbuh-tumbuhaan dan lainnya.
Kursi Nabi Sulaiman terbuat dari emas yang ditempeli dengan beberapa yaqud dan intan, dan di sekitarnya terdapat tiga ribu kursi, ada yang mengatakan enam ratus kursi.
Berdasarkan keterangan Ulama’, menteri-menteri dan pembesar-pembesar Bani Israil, pasukan Nabi Sulaiman mencapai 100 farsah, 25 farsah manusia, 25 farsah jin, 25 farsah binatang liar, dan 25 farsah burung. Jin mengeluarkan mutiara dan intan dari laut untuk Nabi Sulaiman. Dan di dapurnya Nabi Sulaiman setiap harinya berkurban seratus ribu kambing, empat puluh ribu sapi, dan tidak seorangpun yang memakannya kecuali ia hanya memakan roti kering.
Ada yang mengatakan, sesungguhnya Nabi Sulaiman mengendarai permadaninya di dalam suatu arak-arakan yang sangat besar dan beliau melihat sesuatu pemberian Allah dan menundukkannya maka membuat kagum Nabi Sulaiman A.S.

TENTANG BERBAKTI KEPADA ORANG TUA


Imam Ahmad Syihabuddin Bin Salamah Al-Qulyuby.

Diceritakan bahwa Nabi Sulaiman terbaang diantara langit dan bumi di atas langit. Pada suatu hari melewati di atas laut yang dalam, dia melihat laut tersebut bergelombang luar biasa besarnya beserta angin. Kemudian Nabi Sulaiman memerintah angin tersebut untuk diam, maka diamlah angin tersebut, kemudian Nabi Sulaiman memerintahkan beberapa syeitan untuk menyelam ke laut tersebut untuk melihat apa yang ada di dalamnya.

Lalu menyelamlah syetan tersebut satu demi satu, mereka menemukan kubah dari zamrud yang berwarna putih yang tidak ada pintunya, mereka mengabarkan hal tersebut kepada Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman memerintahkan untuk mengeluarkan kubah tersebut, lalu mereka mengeluarkannya dan meletakkannya diantara kedua tangan Nabi Sulaiman, dan kagumlah Nabi Sulaiman terhadap kubah itu. Nabi Sulaiman memohon kepada Allah lantas terbelahlah kubah tersebut dan terbukalah sebuah pintu, tiba-tiba didalamnya terdapat seorang pemuda yang sedang sujud kepada Allah. Kemudian,
Nabi Sulaiman bertanya       : “Kamu dari golongan malaikat atau jin? “
Pemuda menjawab : “Bukan, aku dari golongan manusia.”
Nabi Sulaiman bertanya       : “Sebab apa kamu memperoleh karomah ini?”
Pemuda menjawab : “Sebab berbakti kepada kedua orang tua, karena aku mempunyai seorang ibu yang sudah kanjut usia yang aku selalu menggendongnya, sedangkan dia selalu berdoa untuk aku yang bunyinya “Ya Allah, berikanlah dia rejeki yang membahagiakan dan buatkanlah tempat untuknya setelah matiku, tidak di bumi dan tidak di langit.Ketika ibuku meninggal, aku menyusuri pantai, kemudian aku melihat kubah dari zamrud yang berwarna putih. Ketika aku mendekatinya terbukalah kubah itu dengan kekuasaan Allah. Kemudian aku tidak tahu berada di bumi, di udara atau di langit. Dan Allah memberikan rejeki kepadaku di dalam kubah tersebut.
Nabi Sulaiman bertanya : “Bagaimana Allah memberikan rezeki kepadamu di  dalam kubah tersebut?”.
Pemuda menjawab : “Ketika aku merasa lapar maka keluarlah dari kubah tersebut sebuah tanaman yang mengeluarkan buah, dan keluar mata air dari pohon tersebut yang mengeluarkan air berwarna putih seperi susu yang lebih manis daripada madu, dan lebih dingin daripada salju, maka aku memakan dan meminumnya, kemudian ketika aku sudah merasa kenyang dan segar maka hilanglah semua itu”.
Kemudian, Nabi Sulaiman bertanya: “Bagaimana kamu mengetahui malam dan siang ?”
Pemuda menjawab : “Ketika fajar terbit maka kubah itu berwarna putih dan bersinar, dan ketika terbenam maka kubah itu berubah menjadi gelap kemudian aku mengetahui pergantian siang dan malam”
Kemudian Nabi Sulaiman memohon kepada Allah lantas kubah itu  menutup dan menjadi seperti sebuah telur yang menyerupai kulit selaput otak dan kembali ke tempatnya di dasar laut.
Allah Berkuasa atas segala sesuatu.


TENTANG SIFAT KURSI NABI SULAIMAN AS


Imam Ahmad Syihabuddin Bin Salamah Al-Qulyuby.

Diceritakan : Nabi Sulaiman A.S ketika hendak duduk untuk memutuskan  suatu hukum, beliau memerintahkan kepada syeitan untuk mempersiapkan sebuah kursi yang elok. Sekiranya jika orang yang salah dan saksi yang berdusta melihat kursi tersebut akan menggigil ketakutan. Maka syetan membuat kursi tersebut dari…..dan mereka menghiasinya dengan beberapa intan, yaqud, mutiara dan beberapa perhiasan.
Mereka menggemerisik dengan pepohnan seperti  pohon anggur dari logam dan empat pohon kurma dari emas yang tangkainya terbuat dari perak. Yang setiap pucuk pohon kurma tersebut terdapat burung merak yang terbuat dari emas, dan dua pucuk pohon yang lain terdapat burung elang yang terbuat dari emas. Dan ujung setiap pohon kurma tersebut terdapat tiang dari zamrud yang berwarna hijau serta setiap sisinya terdapat dua ekor harimau yang terbuat dari emas dan dibawahnya tedapat dua  batu besar yang dibuat untuk kantor.
Ketika Nabi Sulaiman A.S menaikkan bagian bawahnya berputarlah kursi tersebut beserta seluruh isinya seperti berputarnya angin. Burung elang dan merak membentangkan kedua sayapnya dan harimau menjulurkan tangannya dan memukul tanah bersama dengan ekornya, ketika kedua sayap sampai diatas mahkotanya menaburkan minyak misik dan berbau harum. Ketika Nabi Sulaiman A.S duduk maka beliau mengambil intisari dari kitab zabur dan membacakannya kepada manusia.
Ulama Bani Israel duduk pada kursi yang terbuat dari emas di sebelah kanannya dan pembesar-pembbesar jin berada pada sisi kirinya pada kursi yang terbuat dari perak dan Nabi Sulaiman A.S memulai untuk siding. Ketika datang seorang saksi untuk memberikan kesaksiannya maka berputarlah kursi beserta isinya seperti angin. Kemudian harimau, elang, dan merak melakukan hal seperti tadi maka saksi tersebut menjadi takut memberikan kesaksiannya kecuali kesaksian yang benar. Ketika Nabi Sulaiman A.S meninggal …..