Catatan Popular

Sabtu, 23 Julai 2016

KEZUHUDAN ABU BAKAR AS SIDDIQ R.A BAHAGIAN 2

Abdurraman bin Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu bercerita kepada kami,” pada suatu ketika, saat Rasulullah Shallahu ‘alaihi Wa sallam usai melaksanakan shalat subuh, tiba-tiba beliau mengarahkan pandangannya ke arah para sahabatnya seraya mengatakan,” Adakah di antara kalian yang hari ini ia berpuasa?”

Umar bin Khottob radhiyallahu ‘anhu menjawab,” Wahai Rasulullah aku tidak berniat untuk berpuasa pada hari ini, sehingga di pagi ini aku tidak berpuasa.”

Lalu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata,” Aku berpuasa wahai Rasulullah, sebab sejak semalam aku telah berniat puasa, sehingga di pagi ini aku pun berpuasa.”

Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” Adakah salah satu dari kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?”

Umar menjawab,” Wahai Rasulullah, usai menjalankan shalat tentunya kami masih berada di sini, lantas bagaimana kami bisa menjenguk orang sakit?”

Abu Bakar berkata,” Telah sampai kabar kepadaku bahwa saudaraku Abdurrahman bin Auf sedang mengeluhkan sakit yang dialaminya, sehingga dalam perjalananku menuju masjid ini aku telah menyempatkan diri menjenguknya.”

Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” Adakah salah satu dari kalian yang hari ini ia bershodaqoh?”

Umar menjawab,” Wahai Rasulullah, usai menjalankan shalat tentunya kami masih berada di sini.”

Abu Bakar berkata,” Saat aku memasuki masjid, aku melihat seorang pengemis minta-minta, ketika itu aku mendapati sepotong roti gandum tengah berada di genggaman tangan Abdurrahman(salah seorang putranya), lalu aku pun memintanya untuk aku berikan kepada pengemis itu.”

Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” Bergembiralah engkau(wahai Abu Bakar) dengan syurga.”

Lantas Umar menghela nafas dengan seraya berkata,” Oh...oh...betapa indahnya syurga.” Selanjutnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan perkataan yang membuat umar merasa lega, sebab umar menyadari bahwa segala kebaikan-kebaikan telah didahului seluruhnya oleh Abu Bakar.

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa Rasulullah kemudian bersabda,” Semoga Allah menyayangi Umar, semoga Allah menyayangi Umar, sebab segala kebaikan yang diinginkannya telah didahului seluruhnya oleh Abu Bakar.”(H.R. At-Thobroni)

Suatu ketika Rasulullah memerintahkan kepada para shahabat untuk bershodaqoh. Pada saat itu pula Umar bergumam,” Aku berharap hari ini aku bisa menandingi amalan Abu Bakar dengan menginfakkan setengah dari hartaku.”

Akan tetapi, ternyata Abu Bakar datang kepada Rasulullah dengan membawa seluruh harta yang beliau miliki untuk dishodaqohkan, sehingga Rasulullah bertanya kepadanya,” Wahai Abu Bakar, tidakkah engkau sisakan hartamu untuk keluargamu?”

Abu Bakar menjawab,” Untuk mereka, aku sisakan Allah dan Rasul-Nya.”
Maka Umar berkata,” aku selamanya tidak akan mampu mengalahkanmu dalam hal kebaikan.” Dalam riwayat lain,” aku selamanya tidak akan bisa mendahuluinya sedikitpun.”(H.R. Abu Daud)

Sejak sebelum masuk islam, Abu Bakar sudah dikenal sebagai orang yang rendah hati dan tidak menyombongkan diri, tidak rakus terhadap harta dunia. Begitu pula setelah masuk islam, ia tidak pernah menampakkan perilaku takabbur dalam segala bentuknya, bahkan saat beliau menjadi kholifah sekalipun. Beliau adalah sosok yang sangat menghawatirkan sisi agamanya, serta sangat berhati-hati sekali agar tidak jatuh pada kesombongan.

Suatu ketika Abu Bakar mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” Barangsiapa yang memanjangkan bajunya dengan kesombongan, maka Allah tidak berkenan memandangnya di hari Kiamat kelak.”(mutafaqqun ‘alaih dan yang lainya)

Lalu Abu Bakar berkata,” Wahai Rasulullah, salah satu sisi pakaianku ini menjulur ke bawah, sehingga aku harus memeganginya agar tidak menjulur.”

Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” Sungguh engkau tidak termasuk orang yang berperilaku sombong.”

Kerendahan hati Abu Bakar yang lain yaitu, beliau sangat perhatian terhadap tetangga beliau. Anisah radhiyallahu ‘anha mengatakan,” Abu Bakar tinggal di sekitar tempat tinggal kami selama 3 tahun lamanya. 2 tahun sebelum menjabat khalifah dan 1 tahun setelah menjabat khalifah. Saat itu para tetangga  di sekitar tempat tinggalnya seringkali datang kepada Abu Bakar dengan membawa kambing-kambingnya, sehingga Abu Bakar pun memerahkan susu dari kambing-kambing itu untuk mereka.”(Isnadnya shohih, diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad)


Sungguh ini adalah contoh dari kerendahan hati dan bentuk khidmat dari seorang pemimpin yang belum pernah ada bandingannya kapan pun.!

KEZUHUDAN ABU BAKAR AS SIDDIQ R.A BAHAGIAN 1

Dikeluarkan oleh al Bazar dari Zaid bin Arqam r.a. katanya: Ketika kami bersama dengan Abu Bakar r.a. ia meminta air, lalu air itu dan madu dihidangkan untuknya. Ketika ia memegang air dan madu itu dengan tangannya, ia pun menangis sehingga kami mengira sesuatu telah terjadi kepadanya. Setelah ia selesai menangis, kami pun bertanya kepadanya, “Apakah yang menyebabkan engkau menangis, ya khalifah Rasulullah?”

Ia menjawab “Ketika aku bersama-sama dengan Rasulullah saw., aku melihat baginda saw. menghalau sesuatu tetapi aku tidak dapat melihat benda yang dihalau olehnya. Maka aku pun berkata, “Ya Rasulullah, Apa yang engkau halau sedangkan aku tidak dapat melihatnya?” Baginda saw. pun bersabda, ‘Dunia mengulurkan tangannya kepadaku, lalu aku berkata kepadanya supaya meninggalkan aku. Maka dunia berkata kepadaku, ‘Bukankah Engkau mau memegangku lama-lama.’”

Abu Bakar r.a. berkata, “Aku merasa takut dengan penjelasan baginda saw. itu sekiranya aku telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Rasulullah saw., sekiranya dunia telah dapat menguasaiku.”

Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim di dalam kitab al Hilyah dari Zaid bin Arqam bahwa Abu Bakar r.a. meminta air, lalu di bawahkan kepadanya air dan madu di dalam satu wadah. Ketika ia mengangkat air hampir ke mulutnya, ia menangis. Tangisannya menyebabkan orang-orang yang berada di sekililingnya turut menangis. Kemudian ia terdiam dan berhenti menangis. Tetapi orang-orang di sekililingnya  masih menangis. Kemudian ia menangis lagi sehingga mereka mengira bahwa mereka tidak dapat menanyakan masalahnya. Kemudian ia menyapu mukanya dan berhenti menangis dan kembali seperti biasa, mereka berkata, “Apakah yang menyebabkan engkau menangis?”

Maka dinyatakan hadits lebih kurang seperti di atas dengan tambahan:  Setelah menghalau dunia itu, dunia berkata, “Walaupun kamu telah berhasil keluar dari perangkapku tetapi orang-orang selepasmu tidak akan bebas dari godaanku.”

Begitulah yang diriwayatkan oleh al Hakim dan al Baihaqi, sebagaimana dalam al Kanz.

Dikeluarkan oleh Ahmad di dalam kitab az Zuhd dari ‘Aisyah r.ha. katanya: Ketika Abu Bakar r.a. meninggal dunia, ia tidak meninggalkan satu dinar atau satu dirham pun. Sebelum kematiannya, ia telah mengambil semua hartanya dan memberikannya kepada Baitul Mal.”

Dalam riwayat Ahmad juga dalam kitab az Zuhd dari Urwah bahwa sesungguhnya setelah Abu Bakar r.a. dilantik menjadi Khalifah, ia menyimpan semua hartanya di dalam Baitul Mal kaum muslimin. Maka tidak tinggal satu dirham atau satu dinar pun, melainkan semuanya telah disimpan olehnya di Baitul Mal. Ia berkata, “Aku telah menjalankan perniagaan danaku telah mencari harta itu. Ketika aku dilantik sebagai khalifah, jabatan itu telah menjadikan aku sibuk. Maka aku tidak dapat menjalankan perniagaan dan berusaha mencari rejeki dengannya.” (al Kanz)

Dalam riwayat Ibnu Sa’ad dari Atha bin ash Shaib katanya: Takkala Abu Bakar r.a. diba’iat, keesokkan harinyaia pergi ke pasar. Ia menyandang di atas bahunya bungkusan kain-kain untuk dijual.

Di pertengahan jalan, ia bertemu Umar r.a. lalu Umar r.a. berkata kepadanya, “Hendak ke manakah engkau?”

Umar r.a. bertanya lagi, “Apakah yang engkau lakukan? Bukankah engkau telah dilantik untuk mengurus keperluan kaum muslimin?”

Sebaliknya Abu Bakar r.a. bertanya kepada Umar r.a., “Karena itulah, bagaimanakah aku akan memberi makan ahli keluargaku?”

Umar r.a. pun berkata, “Pergilah, Abu Ubaidah akan menetapkan sejumlah tunjangan untukmu yang diambil dari harta Baitul Mal.”

Kemudian mereka berdua pergi menemui Abu Ubaidah r.a. dan Abu Ubaidah r.a. berkata, “Aku akan menentukan bagi engkau tunjangan dalam jumlah yang biasa diberikan kepada seorang lelaki dari kalangan muhajirin, tidak lebih dan tidak kurang, beserta pakaian musim dingin dan panas. Jika pakaian itu lusuh, engkau boleh mengembalikannya dan mendapat ganti yang baru.”

Kemudian Abu Bakar r.a. diberi setengah ekor kambing setiap hari dan kain untuk mengikat kepala dan perut.”

Dalam riwayat Ibnu Sa’ad juga, dari Hamid bin Hilal katanya: Ketika Abu Bakar r.a. dilantik sebagai khalifah, sahabat-sahabat Rasulullah saw. menetapkan untuknya tunjangan dalam jumlah yang mencukupi untuknya. Mereka berkata, “Ya. Dua helai kain selimut yang apabila telah lusuh, kain itu boleh dikembalikan dengan mendapat ganti yang baru dan binatang tunggangan yang boleh digunakan dalam suatu perjalanan. Begitu juga nafkah anak-anaknya dalam jumlah yang biasa diberikannya kepada mereka sebelum ia dilantik menjadi khalifah.”


Abu Bakar r.a. berkata, “Aku ridha dengan semua ini.” (al Kanz)

Selasa, 19 Julai 2016

KITAB IMAM AL QURTHUBI : FASAL KEMATIAN (BAB 1 - INGAT MATI DAN BERSIAP SEDIA MENYAMBUTNYA)

"Kitab Al Taskirat bi Awali al Mauta wal Umur al Akhirat"

Oleh Imam al Qurthubi Andalusia (Mahaguru Tafsir)

BAB 1 - INGAT MATI DAN BERSIAP SEDIA MENYAMBUTNYA

Dari riwayat an-Nasa'i ra dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda yang maksudnya " Selalulah bagimu mengingati akan sesuatu yang melenyapkan nikmat-nikmat " iaitu Kematian.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan at Tarmidzi. Kemudian dari riwayat al Hafizh Abu Naaim dengan sanat yang jelas Malik bin Anas, dari Yahya bin Sa'id, dari Sa'id ibnu Musayyaib dari Umar ibnu Khathaab, ia mendengar Rasulullah bersabda "Selalu selalulah kamu ingat akan sesuatu yang dapat melenyapkan nikmat-nikmat"... kami bertanya "Ya Rasulullah, apa itu sesuatu yang dapat melenyapkan nikmat-nikmat ?" Beliau manjawab "Kematian".

Diriwayatkan oleh at Thabrani dan Ibnu Majah dari Umar bahawa ia berkata, " Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah, tiba-tiba muncul seorang sahabat Ansar, setelah mengucapkan salam ia pun bertanya " Rasulullah, siapakah orang mukmin yang terbaik ? Rasulullah menjawab, "Yang paling baik akhlaknya". Kemudian ia bertanya lagi, "Siapakah orang mukmin yang paling bijak sekali ? Rasulullah menjawab, " Yang selalu mengingati kematian dan yang mempunyai persiapan terbaik untuk menyambut apa yang akan terjadi sesudahnya". Hadis ini juga diriwayatkan oleh Malik. Diriwayatkan oleh at Tarmidzi ( Ibnu Majah, Ahmad dan at Thabrani) dari Syahdad bin Aus, mengatakan bahawa Rasulullah bersabda, "Orang bijak ialah orang yang selalu muhasabah dirinya sendiri dan beramal untuk Alam Akhirat nanti.

Manakala orang yang bodoh itu ialah orang yang mengikuti hawa nafsunya tetapi mengharap-harap pertolongan (redha) Allah". Diriwayatkan oleh at Tarmidzi dari Anas bahawa Rasulullah bersabda, "Selalulah kamu mengingati kematian. kerana sesungguhnya hal ini dapat membersihkan dosa-dosa dan dapat membentuk dirimu zuhud kepada dunia ". Hadis riwayat Hitsami dan at Thabrani (dhaif) disebut bahawa sesseorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah, apakah diakhirat nanti ada seseorang yang dikumpulkan bersama-sama para syuhada ?. Rasulullah menjawab, "Ada... iaitu orang yang selalu mengingati kematian sebanyak 20 kali sehari semalam".

Firman Allah swt didalam surah al Mulk ayat 2 yang mafhumnya "Yang menjadikan hidup dan mati, supaya dapat diuji siapa diatara kamu yang yang lebih baik amalannya". Kemudian berkata seorang abadi bernama Abdul Rahman al Suda " yang dimaksudkan dengan orang yang paling banyak mengingat kematian itu ialah orang yang mempunyai persiapan paling baik dan yang paling takut kepada penciptanya".

Menurut Ijma' para Ulama ASWJ, maksud hadis Nabi berkenaan "Selalulah kamu mengingati sesuatu yang dapat melenyapkan nikmat-nikmat" adalah sebuah ungkapan yang ringkas tetapi penuh dengan pesanan dan nasihat. Orang-orang yang selalu mengingat kematian akan sedar akan hakikat nikmat sebenar yang sedang dirasai dikala hidupnya sehinggakan dia tidak banyak berharap nikmat itu kekal bersamanya selama-lamanya kerana ia boleh ditarek semula oleh Maha Pencipta Nikmat itu pada bila-bila masa sahaja. Kemudian ia bersikap zuhud terhadap apa yang diharapkan daripadanya, iaitu ia mengenal benar mengapakah nikmat itu hadir, yang diberi oleh Allah swt kepada dirinya maka ia mempersiapkan diri dengan banyak amalan dan sunat untuk menyambut kedatangan kematiannya pula.

Manakala manusia yang berhati lalai itu pula amat perlukan nasihat yang terperinci dan pengajaran yang panjang. Jika sesorang mukmin itu mendengar Sabda Baginda Rasullah saw "Selalulah kamu mengingati sesuatu yang dapat melenyapkan nikmat-nikmat", kemudian ia pula menbaca al Quran didalam surah Ali Imran ayat 185, firman Allah yang mafhumnya "Tiap - tiap jiwa itu akan merasakan kematian", sudah tentu bergoncang jiwanya, keluh kesah hati dan perasaannya, tidak lelap matanya kerana takut teramat sangat akan azab Allah pada Sharakatulmaut dan seksaan seterusnya itu tampa henti diAlam Barzah dan Akhirat nanti. Sehingga disuatu ketika Allah "matikan" ia beberapa ketika dan "memperlihatkan" kepadanya semua amal perbuatannya dari ia dilahirkan hingga kehari itu (seperti wayang gambar) kemudian didatangkan Malaikat Maut Izraail dengan wajah mengerunkan dengan segala persoalannya yang sudah tentu tidak dapat dijawabnya. Begitulah Allah datangkan pengajaran kepada mereka yang dikehandakiNya supaya mereka sedar dan insaf akan perbuatan mereka kemudian berubah menjadi mukmin yang taat.

Amirul mukminin Umar ibnu al Khathab selalu membaca bait syair ini,

"Tidak ada suatu pun yang kamu lihat germerlapan itu kekal abadi, kerana yang abadi itu hanya Allah. Harta dan anak-anak mu juga akan lenyap. Hurmuz (Qarun) pada suatu hari juga tidak perlukan lagi harta kekayaannya. Kaum 'Aaad juga pernah ingin kekal abadi... tetapi gagal. Begitu juga Sulaiman as, pengandali angin, manusia, jin dan semua binatang, Raja terkaya dunia... mana dia raja yang dahulu pernah menjadi manusia paling berjaya dimuka bumi ini ???... diakhirat kelak semua akan tunduk dan tidak mampu berbohong...."

Daripada keterangan diatas, maka ketahuilah oleh mu bahawa mengingati kematian itu adalah perbuatan Sunnah yang akan menimbulkan perasaan cemas dan takut untuk meninggalkan kehidupan dunia yang fana ke Alam Akhirat yang kekal abadi. Jika sesorang yang sedang berhadapan penderitaan hidup yang keras, dengan mengingat akan kematian maka dia akan tenang kerana kematian itu jauh lebih keras penderitaannya. Manakala mukmin yang sedang menikmati dunia akan menjadikan ia tidak lupa diri dengan mengingat kematian. Perhatikan bait syair ahli abadi ini,

"Ingatlah kematian yang akan melenyapkan seluruh kenikmatan, bersiap sedialah menghadapi kematian yang pasti akan hadir kepada mu".

"Ingatlah kematian... nascaya kamu akan mendapat nikmat mengingat kematian. Ingat akan kematian akan dapat mematahkan angan-angan kosong".

Semua telah bersetuju bahawa kematian itu tidak mengenal umur, masa atau penyakit tertentu. Ini bermaksud supaya manusia semua bersedia untuk menghadapi kematian. Dahulu ada seorang abadi yang alim dikota Madinah yang saban hari akan menaiki bangunan tinggi disana dan berseru (berteriak) "... Ayoh berangkat.... Ayoh berangkat" pada suatu ketika tiada lagi kedengaran suara seruannya itu maka ditanya oleh Wali Kota Madinah mana perginya seruan itu, setelah diberitahu akan kematiannya beliau pun berkata " Dia yang setiap malam berseru supaya mengingat kematian dimana semua unta-unta juga turut gementar dipintu rumahnya... sekarang telah meninggal dunia !...tiada lagi ketakutan kepada yang tiada ingat akan kematian ". Seorang Waliallah bernama Yazid ar Raqasyi pernah dilihat selalu berkata-kata kepada dirinya serta memukul-mukul badannya "Yazid...Yazid.. celakalah kamu, setelah kamu mati nanti siapa yang mahu solat atas namamu (bagipihak kamu) ?... siapa yang sudi berpuasa atas namamu ?... dan siapa pula yang bersedia meminta keridhaan Allah untuk mu ?".... " Wahai manusia, kenapa tidak kamu menangis meratapi sisa hidup kamu yang tinggal beberapa waktu cuma ??? Kamu akan dijemput Maut dan menantimu kuburan yang beralaskan tanah dan bertemankan cacing -cacing..." Gementar tubuhnya dek cengkaman rasa takut teramat sangat, pucat lesi wajahnya lalu Yazid pun meraung menangis hingga jatuh pengsan.

Khalifah Omar bin Abdul Aziz pernah mengumpulkan para Ulama-ulama dan mereka bercerita tentang mengingati kematian, kiamat dan akhirat. Disaat tertentu mereka akan meraung menangis seolah-olah kematian orang yang mereka cintai. Berkata at Taimi (seorang cendiakawan Islam) "Ada dua hal yang pasti akan melenyapkan kenikmatan dunia dariku, iaitu ingat kematian dan ingat ketika berada dihadapan Allah swt ". Kata Abu Na'im "Jika Sufian at Tsauri mengingat kematian, berhari-hari ia akan kelihatan sangat sedih, wajahnya murung. Setiap kali ia ditanya tentang sesuatu pekara, ia hanya akan menjawab "tidak tahu... tidak tahu " (menjadikan dirinya kebas, alpa dan kosong ). Berkata Asbatah..." suatu hari Nabi mendengar beberapa orang sahabatnya sedang memuji-muji kehebatan seseorang. Nabi lalu bertanya kepada mereka "Adakah ia selalu mengingati kematian ? ", mereka menjawab " Tidak "... Maka Nabi bersabda " Maka ia tidak sehebat yang kalian katakan !".

Berkata pula Ad Daqqaq (ahli fikir dan flasafah Islam) " Barang siapa selalu ingat kematian, ia akan dimuliakan dalam 3 pekara. Iaitu cepat bertaubat, hatinya menjadi Qana'ah (redha akan pemderian Allah) dan bersemangat untuk beribadat... barang siapa yang lupa akan kematian, ia akan diberi seksa dalam 3 pekara, iaitu lambat bertaubat, tidak puas dengan pemberian Allah dan malas beribadah". Oleh itu hendaklah kamu semua memikirkan soal kematian dirimu sendiri, jangan kamu fikir kematian itu hanya akan datang kepada orang lain. Apabila ia telah amat hampir kepada mu baharulah kamu rasa tertipu dengan nikmat dan keindahan dunia yang fana ini.

Segala-galanya akan diperlihatkan kepada mu dengan jelas sekali. Kematian pasti akan hadir jua pada mu walau sejauh mana kamu ingin lari darinya. Ia adalah hakim yang adil, ia adalah tangisan, ia juga perpisahan dan pelenyap kepada semua kenikmatan dunia. Kematian adalah pemutus segala harapan dan angan-angan. Pernakkah kamu memikirkan akan kematian dirimu sendiri ??? Ia adalah saat perpisahan dari tempat kamu didunia yang luas kepada liang lahad yang sangat sempit, saat tiada lagi kawan-kawan yg selalu berhibur bersamamu, mereka menghianati mu tampa dapat kamu berbuat apa-apa, saat perpisahaan dari saudara mara, sahabat taulan, malah keluarga kamu yang tercinta. Saat kamu mengantikan pakaian mewah mu dengan kafan, pakaian tanah yang kotor.

Wahai orang yang selalu mengumpulkan kekayaan dan berlawan untuk mendirikan bangunan pencakar langit. Disaat itu kamu sudah tidak punya daya upaya dan harta kekayaan mu itu tidak dapat menolong mu. Kamu hanya berteman kain kafan yang bakal akan rosak sedikit masa nanti. Tubuh mu yang kamu belai saban hari akan hancur dimakan bumi.

Dimanakah harta yang kamu kumpulkan itu ??? Ia menjadi pertelagahan, pergaduhan semua waris mu yang tidak tahu berterima kasih kepada mu. Malahan memaki hamun kepada mu sepanjang hari. Lalu kamu ajukan semua dosa-dosa mu kehadrat Allah swt yang sudah tentu tidak akan menerima akan semua alasan-alasan kamu. Sesuai dengan firmanNya didalam surah al Qashash ayat 77 yang mafhumnya " Carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri Akhirat...". Amat bijak jika seseorang itu memahamkan ayat ini dengan berkata "Carilah olehmu syurga di negeri Akhirat pada apa yang telah Allah kurniakan kepadamu semasa di dunia". Ia bermaksud sesorang manusia harus mengurus pekara dunia untuk akhiratnya bukan sebaleknya. Janganlah kamu lupa bahawa kamu akan meninggalkan keseluruhan hartamu dan akan hanya dibaluti dua lapis kain kafan sahaja. Seorang penyair Islam bermadah...

"Bagaian dari seluruh harta yang telah kamu kumpulkan sepanjang hidupmu, hanyalah dua lapis kain kafan yang membungkus tubuhmu dan sebutir ubat pengawet (kapur barus)."

"Adalah sifat Qa'anah (redha) yang biasa kamu carikan gantinya, disitu ada banyak kenikmatan, disitu ada yang dapat menyenangkan badan... lihat, orang yang paling kaya didunia sekalipun, adakah ia akan diusung kekuburan tampa kain kafan ???".

Yang dimaksudkan dengan sabda Nabi saw dengan sabdanya yang bermaksud "Orang yang bijak adalah orang yang selalu meneliti dirinya sendiri " Ia bermaksud orang yang bijak adalah orang yang suka musahabah dirinya, memandu hawa nafsunya dengan mudah untuk beribadah kepada Allah serta beramal untuk persediaan akhirat nanti. Kemudian ia akan pula meneliti dirinya dan mempergunakan masa dan waktu yang masih ada untuk ibadah dan amal-amal soleh. Itulah bekalan utama rohani bagi setiap manusia untuk menuju kealam akhirat yang kekal abadi.

Manakala manusia yang tertipu ialah mereka yang lalai dan asyik dengan nikmat dunia serta berbuat dosa tampa meninggalkan satu amal kebijikan pun, tetapi berkata " aku telah berbaik sangka kepada Tuhanku". Sudah nyata sekali ia berbohong terhadap Allah kerana berbaik sangka itu bermaksud mengerjakan amal kebajikan kehadrat Allah semasa didunia. Maka dibawanya pula beberapa ayat sebagai nas akan perbuatannya itu yang terang-terang tidak memehak kepadanya, malahan ia dianggap penipu dan pembohong.

Berkata Sa'id bin Jubir "Yang dimaksudkan menipu Allah itu ialah jika seseorang yang melakukan maksiat dan dosa-dosa besar tetapi berkeras kepala mengharapkan keampunan Allah". Manakala didalam peristiwa yang lain pula, Baqiyah ibnu Walid mengatakan, "Abu Umairah ash Shuri berkiram surat dengan temannya yang isinya menyebutkan, "Amma ba'du, Selama ini kamu hanya memikirkan dunia, masih saja mengharapkan Allah dengan perbuatanmu yang buruk itu. Ia samalah dengan perbuatan mengetuk besi yang sejuk , sekian wassalam ". Maka diharap kalian semua dapat pengajaran dari riwayat dan sirah ini.

PENYAIR NABI Abdullah Ibn al Rawahah (Penyair Nabi dan Syuhada

Perang Muktah

      Ia bernama lengkap Abdullah bin Rawaha bin Tsa’labab al-Anshary al-Khazraji. Panggilannya Abu Muhammad. Paman daripada Nu’man bin Basyir. Wafat pada tahun 8 Hijriah'. Ia masuk Islam pada masa Bait al-'Aqabah al-Ula. Dikisahkan bahwa sewaktu Rasulullah saw. sedang duduk di suatu tempat dataran tinggi kota Mekah, menghadapi para utusan yang datang dari kota Madinah, dengan bersembunyi-sembunyi dari kaum Quraisy. Mereka yang datang ini terdiri dari duabelas orang utusan suku atau kelompok yang kemudian dikenal dengan nama Kaum Anshar.(penolong Rasul).

Mereka sedang dibai'at Rasul (diambil Janji sumpah setia) yang terkenal pula dengan nama Bai'at al-Aqabah al-Ula (Aqabah pertama). Merekalah pembawa dan penyi'ar Islam pertama ke kota Madinah, dan bai'at merekalah yang membuka jalan bagi hijrah Nabi beserta pengikut beliau, yang pada gilirannya kemudian, membawa kemajuan pesat bagi Agama Allah yaitu Islam. Maka salah seorang dari utusan yang dibai'at Nabi itu, adalah Abdullah bin Rawahah.

     Pada tahun berikutnya, Rasulullah saw. membai'at lagi 73 (tujuhpuluh tiga) orang Anshar dari penduduk Madinah pada bai'at 'Aqabah kedua, maka tokoh Ibnu Rawahah ini pun termasuk salah seorang utusan yang dibai'at itu. Setelah selesai pembaiatan Aqabah yang kedua, ia berdiri di samping Rasulullah. Kemudian bertanya kepada Rasulullah; “Wahai Rasulullah, silahkan Engkau beri aku syarat yang diinginkan Allah dan Rasul-Nya.” Pernyataan ini merupakan ekspresi keberterimaan dan ketundukan penuh Abdullah bin Rawahah terhadap Islam dan Rasulullah.

       Pada waktu Rasulullah melakukan hijrah ke Madinah, ia termasuk orang terdepan yang menyambut kedatangan Rasulullah. Ia mengambil pelana onta Rasululllah, kemudian berkata; “Selamat datang wahai Rasulullah, Engkaulah pembawa kejayaan dan perintah.” Pada masa kebersamaannya dengan Rasulullah di Madinah, Abdullah bin Rawahah menumpahkan berbagai kemampuan, termasuk kepenyairannya, untuk membela Islam dan mengukuhkan sendi-sendinya. Ialah yang paling waspada mengawasi sepak terjang dan tipu muslihat Abd ullah bin Ubay (pemimpin golongan munafik) yang oleh penduduk Madinah telah dipersiapkan untuk diangkat menjadi pemimpin Madinah sebelum Islam hijrah ke sana, dan yang tak putus-putusnya berusaha menjatuhkan Islam dengan tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan yang ada. Berkat kesiagaan Abdullah bin Rawahah yang terus-menerus mengikuti gerak-gerik Abdullah bin Ubay dengan cermat, maka gagalah usahanya, dan maksud-maksud jahatnya terhadap Islam dapat di patahkan.

      Abdullah Ibnu Rawahah dikenal pula sebagai penulis karena kepandaian dalam bidang tulis baca. Ia juga seorang penyair yang lancar, untaian syair-syairnya meluncur dari lidahnya dengan kuat dan indah didengar. Semenjak masuknya ke dalam Islam, dibaktikannya kemampuannya bersyair itu untuk mengabdi bagi kejayaan Islam. Rasullullah menyukai dan menikmati syair-syairnya dan sering beliau minta untuk lebih tekun lagi membuat syair.

      Pada suatu hari, beliau duduk bersama para sahabatnya, tiba-tiba datanglah Abdullah bin Rawahah, lalu Nabi bertanya kepadanya: "Apa yang anda lakukan jika anda hendak mengucapkan syair?" Jawab Abdullah: "Kurenungkan dulu, kemudian baru kuucapkan". Lalu teruslah ia mengucapkan syairnya tanpa bertangguh, demikian kira-kira artinya secara bebas:
"Wahai putera Hasyim yang sesempurnanya kebaikan tersemat di jiwanya, 
sungguh Allah telah mengunggulkanmu dari seluruh manusia.
dan memberimu keutamaan, di mana orang tak usah iri.
Dan sungguh aku menaruh firasat baik yang kuyakini terhadap dirimu. 
Suatu firasat yang berbeda dengan pandangan hidup mereka.
Seandainya anda bertanya dan meminta pertolongan mereka 
dan memecahkan persoalan tiadalah mereka henhak menjawab atau membela
Karena itu Allah mengukuhkan kebaikan dan ajaran yang anda,bawa
Sebagaimana Ia telah mengukuhkan dan memberi pertolongan kepada Musa".

Mendengar itu Rasul menjadi gembira dan ridla kepadanya, lalu sabdanya: "Dan engkau pun akan diteguhkan Allah".

       Dan sewaktu Rasulullah sedang thawaf di Baitullah pada 'umrah qadla, Ibnu Rawahah berada di muka beliau sambil membaca syair dari rajaznya:

Oh Tuhan, kalaulah tidak karena Engkau, 
niscaya tidaklah kami akan mendapat petunjuk, 
tidak akan bersedeqah dan Shalat!
Maka mohon diturunkan sakinah atas kami 
dan diteguhkan pendirian kami jika musuh datang menghadang.
Sesuhgguhnya orang-orang yang telah aniaya terhadap kami, 
biIa mereka membuat fitnah akan kami tolak dan kami tentang".

Orang-orang Islam pun sering mengulang-ulangi syair-syairnya yang indah teresebut.

    Abdullah bin Rawahah yang produktif dalam membuat sya'ir ini amat berduka sewaktu turun ayat al-Quran al-Karim yang artinya "Dan para penyair, banyak pengikut mereka orang-orang sesat". (Q.S. Asy-syu'ara: 224).

Tetapi kedukaan hatinya jadi terlipur waktu turun pula ayat lainnya, yang artinya: "Kecuali orang-orang(penyair) yang beriman dan beramal shaleh dan banyak ingat kepada Allah, dan menuntut bela sesudah mereka dianiaya". (Q.S. Asy-syu'ara : 227)

       Dan sewaktu Islam terpaksa terjun ke medan perang karena membela diri,
tampillah Abdullah ibnu Rawahah membawa pedangnya ke medan tempur Badar, Uhud, Khandak, Hudaibiah dan Khaibar, seraya menjadikan kalimat-kalimat syairnya dan qashidahnya menjadi slogan perjuangan:

"Wahai diri! Seandainya engkau tidak tewas terbunuh, 
tetapi engkau pasti akan mati juga!"

Ia juga menyorakkan teriakan perang:
"Menyingkir kamu, hai anak-anak kafir dari jalannya. 
Menyingkir kamu setiap kebaikkan akan ditemui pada Rasulnya".

      Ketika datanglah waktunya perang Muktah, Abdullah bin Rawahah dipercaya Rasulullah sebagai panglima yang ketiga dalam pasukan Islam. Ibnu Rawahah berdiri dalam keadaan siap bersama pasukan Islam yang berangkat meninggalkan kota Madinah. Ia tegak sejenak lalu berkata, mengucapkan syairnya;

Yang kupinta kepada Allah Yang Maha Rahman
Keampunan dan kemenangan di medan perang
Dan setiap ayunan pedangku memberi ketentuan
Bertekuk lututnya angkatan perang syetan
Akhirnya aku tersungkur memenuhi harapan ….. 
Mati syahid di medan perang…!!"
Benar, itulah cita-citanya kemenangan dan hilang terbilang 
pukulan pedang atau tusukan tombak, 
yang akan membawanya ke alam syuhada yang berbahagia…!!

        Balatentara Islam maju bergerak kemedan perang muktah. Sewaktu orang-orang Islam dari kejauhan telah dapat melihat musuh-musuh mereka, mereka memperkirakan besarnya balatentara Romawi sekitar duaratus ribu orang. Karena menurut perkiraan barisan tentara mereka seakan tak ada ujung akhir dan seolah-olah tidak terbilang banyaknya. Orang-orang Islam melihat jumlah mereka yang sedikit, lalu terdiam dan sebagian ada yang menyeletuk berkata, "Baiknya kita kirim utusan kepada Rasulullah, memberitakan jurnlah musuh yang besar. Mungkin kita dapat bantuan tambahan pasukan, atau jika diperintahkan tetap maju maka kita patuhi".

     Tetapi.Ibnu Rawahah,.bagaikan datangnya siang bangun berdiri di antara barisan pasukan-pasukannya lalu berucap,
"Kawan:kawan sekalian! Demi Ailah, sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukan berdasar bilangan, kekuatan atau banyaknya. jumlah Kita tidak memerangi memerangi mereka, melainkan karena mempertahankan Agama kita ini, yang dengan memeluknya kita telah dimuliakan Allah ... !Ayohlah kita maju ….! Salah satu dari dua kebaikan pasti kita capai, kemenagan atau syahid di jalan Allah!"

      Dengan bersorak-sorai Kaum Muslimin yang sedikit bilangannya tetapi besar imannya itu menyatakan setuju. Mereka berteriak: "Sungguh, demi Allah, benar yang diucapkan Ibnu Rawahah.. !" Demikianlah, pasukan terus ke tujuannya, dengan bilangan yang jauh lebih sedikit menghadapi musuh yang berjumlah 200.000 yang berhasil dihimpun orang Romawi untuk menghadapi suatu peperangan dahsyat yang belum ada taranya. Kedua pasukan, balatentara itu pun bertemu, lalu berkecamuklah pertempuran di antara keduanya.

       Pemimpin yang pertama Zaid bin Haritsah gugur sebagai syahid yang mulia, disusul oleh pemimpin yang kedua Ja'far bin Abi Thalib, hingga ia memperoleh syahidnya pula dengan penuh kesabaran, dan menyusul pula sesudah itu pemimpin yang ketiga ini, Abdullah bin Rawahah. Di kala itu ia memungut panji perang dari tangan kananya Ja'far, sementara peperangan sudah mencapai puncaknya. Hampir-hampirlah pasukan Islam yang kecil itu, tersapu musnah diantara pasukan-pasukan Romawi yang datang membajir laksana air bah, yang berhasil dihimpun oleh Heraklius untuk maksud ini. Ketika ia bertempur sebagai seorang prajurit, ibnu Rawahah ini menerjang ke muka dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan tanpa ragu-ragu dan perduli. Sekarang setelah menjadi panglima seluruh pasukan yang akan dimintai tanggung jawabnya atas hidup mati pasukannya, demi terlihat kehebatan tentara Romawi seketika seolah terlintas rasa kecut dan ragu-ragu pada dirinya. Tetapi saat itu hanya sekejap, kemudian ia membangkitkan seluruh semangat dan kekutannya dan melenyapkan semua kekhawatiran dari dirinya, sambil berseru:
"Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga
Tapi kenapa kulihat engkau menolak syurga …..
Wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati
Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti …….
Tibalah waktunya apa yng engkau idam-idamkan selama ini
Jika kau ikuti jejak keduanya, itulah ksatria sejati ….!"
(Maksudnya, kedua sahabatnya Zaid dan Ja'far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada).

       Jika kamu berbuat seperti keduanya, itulah ksatria sejati…..!" Ia pun maju menyerbu orang-orang Romawi dengan gagahnya. Kalau tidaklah taqdir Allah yang menentukan, bahwa hari itu adalah saat janjinya akan ke syurga, niscaya ia akan terus menebas musuh dengan pedangnya, hingga dapat menewaskan sejumlah besar dari mereka. Tetapi, desah nafasnya sampailah pada bilangan terakhir, deyut jantungnya mengantarkannya pada detik-detik perjummpaan terakhir, maka berangkatlah ia ke hadirat Allah sebagai syahid. Jasadnya jatuh terkapar, tapi rohnya yang suci dan perwira naik menghadap Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Tinggi, dan tercapailah puncak idamannya:
"Hingga dikatakan, yaitu bila mereka meliwati mayatku:
Wahai prajurit perang yang dipimpin Allah, dan benar ia telah terpimpin!"
"Benar engkau, ya Ibnu Rawahah….! 
Anda adalah seorang prajurit yang telah dipimpin oleh Allah…..!"

     Selagi pertempuran sengit sedang berkecamuk di bumi Balqa' di Syam, Rasulullah saw. sedang duduk beserta para shahabat di Madinah sambil mempercakapkan mereka. Tiba-tiba percakapan yang berjalan dengan tenang tenteram, Nabi terdliam, kedua matanya jadi basah berkaca-kaca. Beliau mengangkatkan wajahnya dengan mengedipkan kedua matanya, untuk melepas air mata yang jatuh disebabkan rasa duka dan belas kasihan. Seraya memandang berkeliling ke wajah para shahabatnya dengan pandangan haru, beliau berkata: "Panji perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga ia gugur sebagai syahid. Kemudian diambil alih oleh Ja'far, dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula". Be!iau berdiam sebentar, lain diteruskannya ucapannya: "Kemudian panji itu dipegang oleh Abd Allah bin Rawahah dan ia bertempur bersama panji itu, sampai akhirnya ia·pun syahid pula". Kemudian Rasul diam lagi seketika, sementara mata beliau bercahaya, menyinarkan kegembiraan, ketentraman dan kerinduan, lalu katanya pula : "
Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku ke syurga …"
Perjalanan manalagi yang lebih mulia …….
Kesepakatan mana lagi yang lebih berbahagia …….
Mereka maju ke medan laga bersama-sama …….
Dan mereka naik ke syurga bersama-sama pula ….

        Dan penghormatan terbaik yang diberikan untuk mengenangkan jasa mereka yang abadi, ialah ucapan Rasullullah saw yang berbunyi : "Mereka telah diangkatkan ke tempatku ke syurga……


KITAB QOTRUL GHAITS PERMASALAHAN V : BERAPA KITAB YANG TELAH ALLAH TURUNKAN?

OLEH IMAM NAWAWI AL BANTANI (IMAM NAWAWI KEDUA)

PERMASALAHAN V BERAPA KITAB YANG TELAH ALLAH TURUNKAN?

Jika ditanyakan kepadamu: ” Berapa kitab yang telah Allah turunkan kepada para nabi-Nya yang menjadi rasul?”. ( kata kam, dalam perkataan musannif di kitab ini adalah isim istifham pada kedudukan nashab menjadi maf’ul yang di kedepankan, dan kata kitaban menjadi tamyiz.)

Maka hendakalah kamu berkata: Bahwa dalam satu riwayat, kitab-kitab tersebut berjumlah seratus empat kitab. Dari sebagian kitab-kitab tersebut, Allah telah menurunkan sepuluh kitab kepada Shafiullah Abil Basyar yaitu nabi Adam as., lima puluh kitab kepada nabi Syits as., kata Syits dibaca dengan menggunakan huruf tsa’ yang ditengahnya memakai huruf ya’, kata Syits kebanyakan dibaca dengan munsharif (dapat menerima tanwin), namun terkadang dibaca dengan ghairu munsharif (tidak dapat menerima tanwin), maknanya adalah Hibbatullah (tiupan Allah) Nabi Syits as. adalah putra kandung nabi Adam as. yang paling tampan, paling utama, paling mirip dan yang paling menyayanginya dari sekian banyak putra-putra nabi Adam as.

Beliau hidup selama tujuh ratus dua belas tahun. Allah juga telah menurunkan dari sebagian kitab-kitab tersebut, tiga puluh kitab pada nabi Idris as. ayah nabi Nuh as. Nama nabi Idris adalah Akhnun dengan dibaca fathah huruf Hamzah-nya, atau Khanun dengan di baca fathah huruf Kha’-nya serta membuang huruf Hamzah-nya. Telah disebutkan, bahwa beliau diberi nama Idris karena banyaknya beliau mempelajari kitab-kitab.
Beliau adalah orang pertama yang menulis dengan pena dan yang meneliti ilmu perbintangan dan ilmu hitung, juga orang pertama yang menjahit pakaian serta memakainya, yang mana orang-orang sebelum beliau memakai pakaian dari kulit, beliau jugalah orang pertama yang membuat persenjataan dan memerangi orang-orang kafir. 

Dari seratus empat kitab tersebut, Allah telah menurunkan Injil pada nabi Isa as. bin Maryam dan Taurat kepada nabi Musa as. bin Imran. Sebagian ulama’ mengatakan, Taurat dan Injil adalah dua nama dari bahasa Ibrani, dikatakan juga bahwa keduanya dari bahasa Suryani seperti Zabur, juga dikatakan oleh ulama’ bahwa kitab Taurat diberi nama dengan Taurat, karena sebenarnya di dalam kitab Taurat terdapat nur yang mana akan dikeluarkannya dari kesesatan menuju petunjuk sebab nur tersebut, sebagaimana akan dikeluarkannya dari kegelapan menuju keterang-benderangan sebab api.

Dikatakan juga, kitab Injil diberi nama Injil karena didalamnya terdapat kelapangan yang tidak terdapat pada kitab Taurat, sebab didalamnya telah dihalalkan beberapa perkara yang diharamkan dalam kitab Taurat. Juga dikatakan, bahwasannya kitab Injil diberi nama tersebut karena kitab Injil telah mengembangkan ringkasan nur kitab Taurat. Allah telah menurunkan Zabur kepada nabi Daud as. Beliau adalah sebagian dari pengikut nabi Musa as., Allah juga telah menurunkan Al-Quran dengan jelas dan dipisah-pisah dalam dua puluh tiga tahun setelah Al-Quran ditulis dalam beberapa mushhaf, Al-Quran diturunkan secara sekaligus pada malam Lailatul Qadar di Baitil Izzah, yaitu suatu tempat yang berada dilangit dunia.

Al-Quran diberi nama Al-Furqan karena ia membedakan antara yang hak dan yang bathil juga dikarenakan adanya Al-Quran yang jelas dan terpisah-pisah dalam beberapa tahun, dan ia diberi nama Al-Quran karena sebenarnya ia berada diposisi Taurat, Injil dan Zabur dalam banyaknya bacaannya, dan Al-Quran tersebut diturunkan kepada nabi Muhammad Al-Mustafa Al-Mukhtar saw. Bin Abdillah bin Abdil Muttalib bin Hasyim ban Abdil Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Mudlar bin Kinanah bin Huzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mushir bin Nizar bin Mu’id bin Adnan yaitu dari keturunan nabi Isma’il as. bin Ibrahim as. Ini (jumlah kitab yang diturunkan Allah) seperti yang telah di riwayatkan dari Ubay bin Ka’ab:

 “Dari Ubay bin Ka’ab, bahwasannya beliau bertanya kepada Rasulullah saw.: Berapa jumlah dari kitab yang telah Allah turunkan? Rasul menjawab: seratus empat kitab, sebagian darinya adalah sepluh mushaf kepada Adam, lima puluh mushaf kepada Syits, tiga puluh mushaf kepada Akhnun beliau adalah Idris, sepuluh mushaf kepada Ibrahim, Injil, Taurat, Zabur dan Al-Furqan”.

Sebagai mana yang telah dikatakan oleh Imam Syarbini dalam kitab tafsirnya. Adapun yang benar ialah tidak membatasi terhadap kitab-kitab dengan hitungan/jumlah tertentu, karena banyak perbedaan riwayat, akan tetapi yang wajib adalah, sesorang harus ber-i’tiqad bahwa sesungguhnya Allah telah menurunkan beberapa kitab dari langit, dan mengetahui terhadap kitab-kitab yang emp

KITAB QOTRUL GHAITS PERMASALAHAN IV : CARA BERIMAN TERHADAP KITAB-KITAB?

OLEH  IMAM NAWAWI AL BANTANI (IMAM NAWAWI KEDUA)

PERMASALAHAN IV CARA BERIMAN TERHADAP KITAB-KITAB?

Jika ditanyakan kepadamu: “Bagaimana cara kamu beriman terhadap kitab-kitab?”.

Maka hendakalah kamu berkata: Sesungguhnya Allah telah menurunkan beberapa kitab kepada para Nabi-Nya dan kitab-kitab tersebut yang diturunkan pada para utusan di dalam Alwah atau terhadap perkataan malaikat bukanlah makhluk. Yaitu, kitab-kitab yang diturunkan dari penyusunan Allah, bukan dari penyusunan makhluk adalah qadim dari segi dilalah-nya terhadap makna yang qadim, tanpa adanya tanaqud, yaitu perbedaan dalam makna kalimat. tanaqud adalah di sebabkan adanya sebagian kalimat pada suatu tempat yang menuntut terhadap pembatalan sebagian kalimat pada tempat yang lain

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”.


Maksudnya, apakah kalian tidak berpikir pada Al-Quran, kalau seandainya ia adalah dari perkataan manusia niscaya mereka telah menemukan padanya tanaqud dalam makna-maknanya dan tabayun dalam susunannya, di sebabkan adanya sebagian kabar-kabarnya yang tidak sesuai dengan kenyataan, dan adanya sebagian susunan lashih dan sebagian lagi kaikan, yaitu, seandainya Al-Quran adalah dari selain Allah, pastilah akan terdapat perbedaan yang banyak didalamnya disamping dari yang sedikit. 

Akan tetapi Al-Quran adalah dari Allah, maka tidak akan terdapat perbedaan didalamnya, tidak bayak tidak pula sedikit.

Barang siapa yang ragu dalam masalah kitab-kitab yang diturunkan kepada para utusan dengan tidak mempercayai terhadap sesuatu dari kitab-kitab tersebut, dari suatu ayat dan kalimat maka orang tersebut kafir.

KITAB QOTRUL GHAITS PERMASALAHAN III : CARA BERIMAN TERHADAP PARA MALAIKAT?

OLEH IMAM NAWAWI AL BANTANI (IMAM NAWAWI KEDUA)

PERMASALAHAN III CARA BERIMAN TERHADAP PARA MALAIKAT?

Jika ditanyakan kepadamu: ” Bagaimana cara kamu beriman terhadap para malaikat?”.
Maka hendaklah kamu berkata: Sesungguhnya para malaikat itu bermacam-macam dalam masalah keadaan, pekerjaan, dan bentuk rupa mereka. 

Sebagian dari mereka adalah sebagaimana berikut:

Hamalatul Arsyi (para pemanggu Arsy) Mereka adalah tingkatan tertinggi dari para malaikat dan yang pertama diciptakan. Mereka di dunia ada empat dan di akhirat ada delapan dalam bentuk rupa aw’al (jenis kambing yang bertanduk dua), jarak antara kuku kaki hingga lutut mereka adalah tujuh puluh tahun perjalanan burung yang cepat. Adapun sifat Arsy telah disebutkan, bahwasanya Arsy adalah sebuah permata hijau, dan ia termasuk makhluk paling agung dalam penciptaanya dari sekian banyak makhluk Allah, yang setiap harinya dipakaikan seribu warna dari cahaya yang tidak ada seorangpun makhluk dari sekian banyak makhluk Allah mampu unutk menatapnya, adapun keberadaan benda-benda yang ada kesemuanya di Arsy adalah ibarat sebutir pasir yang berada dipadang pasir, juga telah disebutkan, bahwasanya Arsy adalah kiblat para penduduk langit sebagaimana Ka’bah menjadi kiblat para penduduk bumi.

Hafun (yang menglilingi) Wahab bin Munabbih mengatakan, disekitar Arsy terdapat tujuh puluh ribu sof yang terdiri dari para malaikat. Satu sof berada dibelakang sof yang lain, yang mengelilingi Arsy . Mereka-mereka (yang berada di sof pertama) berangkat, dan yang lain juga berangkat (yang berada di sof sesudahnya). Apabila mereka-mereka bertemu satu sama lain, maka mereka bertahlil dan yang lian bertakbir. 

Dari belakang tujuh puluh ribu sof tadi terdapat tujuh puluh ribu sof malaikat yang mengangkat tangannya sampai keleher dan meletakkanya diatas leher mereka, ketika mereka mendengar takbir dan tahlil para malaikat tadi, maka mereka melantangkan suaranya seraya berkata:

Dari tujuh puluh ribu sof ini, dibelakangnya terdapat seratus ribu sof para malaikat yang meletakkan tangan sebelah kanan diatas sebelah kiri, tidak satupun dari mereka kecuali bertasbih dengan bacaan tasbih yang tidak dibaca oleh yang lain. Jarak anatara dua sayap satu dari mereka adalah perjalanan delapan ratus tahun, sedang jarak dari daun telinga hingga pundaknya adalah perjalanan empat ratus tahun.

Allah menghijab dari para malaikat yang berada disekitar Arsy dengan tujuh puluh hijab dari cahaya, tujuh puluh hijab dari kegelapan, tujuh puluh hijab dari mutiara putih, tujuh puluh hijab dari Yaqut merah (rubi), tujuh puluh hijab dari Zabarjad hijau, tujuh puluh hijab dari salju, tujuh puluh hijab dari air, tujuh puluh hijab dari bebatuan es dan dengan hijab-hijab yang tidak akan mengetahuinya kecuali Allah.

Ruhaniyyun (para kejiwaan) Telah dikatakan bahwasannya keberadaan mereka di Ardlul Baidla’ (bumi yang putih) adalah ibarat sebuah batu marmer yang mana lebar bumi tersebut adalah empat puluh hari perjalanan matahari dan panjangnya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah swt. Mereka memliki penikam dengan bertasbih dan bertahlil, kalau saja seandainya suara dari salah satu mereka diperdengarkan niscaya penduduk muka bumi pastilah binasa dari kengerian suaranya, dan ujung mereka sampai ke Hamaltul Arsy.
Karubiyyun (dengan di baca fathah huruf kafnya dan dibaca tahfif huruf Ra’-nya كَرُوبِيُّوْن ) Mereka adalah para pemimpin malaikat dan merekalah para malaikat yang berada disekitar Arsy.
Safarah (para duta) Yaitu yang menjadi perantara antara Allah dan semua para Nabi-Nya juga para Sholihin, yang menyampaikan risalah (pesan) Allah kepada mereka dengan melalui wahyu, ilham dan mimpi yang baik, atau yang menjadi perantara antara Allah dan makhluk-Nya. Mereka menyanpaikan kabar-kabar penciptaan-Nya kepada mereka. 

Adapun kata safarah disini adalah jamak dari kata safiir سَفِيْر) ) dengan makna utusan, bukan bentuk jamak dari kata saafir سَافِر) ) dengan makna sekretaris, karena sebenarnya Musannif telah mentafsirkan kata safarah dengan mereka para malaikat yang empat. Yaitu: Jibril, Mikail, Israfil dan Azrail (dengan dibaca fathah huruf ‘Ain-nya).

Jibril adalah malaikat yang turun kepada semua para Nabi, Mikail adalah yang menjadi wakil (staf) perhujanan, Israfil yang menjadi wakil peniupan sangkakala, yang mana sangkakala tersebut akan ditiup maka semua makhluk akan mati dan ditiup lagi untuk menghidupkan para makhluk tersebut, lalu nyawa-nyawa akan dikembalikan pada jasadnya, Azrail menjadi wakil pencabutan nyawa. Apabila ajal seorang telah tiba maka Allah memerintahkan untuk mencabut nyawanya. Malaikat maut memiliki beberapa asisten yang terdiri dari beberapa malaikat, yang mana malaikat maut akan menyuruh mereka terhadap pencabutan nyawa tersebut, lalu apabila nyawa telah sampai ketenggorokan maka malaikat maut mengambil alih pengambilan nyawa itu dengan dirinya sendiri.

Keluarnya nyawa adalah dari yafukh (ubun-ubun) sebagaimana masuknya kedalam badan. Adapun terbukanya mulut orang yang sakaratul maut (naza’) ketika nyawa keluar, maka disebutkan, karena saking mengerikan/menakutkannya apa yang ia lihat. Yang disebut yafukh ialah suatu tempat yang bergerak yang berada dikepala bayi.

Hafadhah (para penjaga) Muhammad Khalil mengatakan, telah diceritakan, bahwasannya Utsman bin Affan ra. bertanya pada Nabi saw.: berapa jumlah para malaikat yang ada pada manusia?. Rasullah saw. Menjawab: dua puluh malaikat, sebagian dari mereka adalah satu malaikat dari sebelah kananmu terhadap kebaikan-kebaikanmu, dia adalah yang menjadi pemimpin terhadap yang sebelah kirimu, jika kamu melakukan keburukan maka malaikat sebelah kiri berkata pada yang dari sebelah kanan: “Apakah akan aku tulis?” Yang dari sebelah kanan menjawab: “Jangan, siapa tahu ia akan bertaubat”, lalu yang sebelah kiri bertanya lagi, “Apabila tidak bertaubat?” Yang dari sebelah kanan menjawab, “Iya, tulislah, semoga Allah menyenangkan pada kita dari itu”. Nama malaikat sebelah kananmu adalah Raqib dialah yang menulis amal kebaikan dan yang sebelah kiri adalah Atid dialah yang menulis amal keburukan, dua malaikat yang berada dihadapan dan yang berada di belakangmu, satu malaikat yang memegang terhadap nashiyah-mu (kenig), apabila kamu tawadu’ terhadap Allah maka ia akan mengangkatmu, dan jika kamu sombong terhadap Allah maka ia akan menghancurkanmu, dua malaikat pada kedua bibirmu, mereka tidak mengingatkan padamu kecuali untuk bershalawat pada nabi Muhammad saw., satu malaikat pada mulutmu yang tidak akan membiarkan ular atau serangga masuk kedalam mulutmu, dan dua malaikat pada kedua belah matamu. Disebutkan bahwa nama mereka adalah Syawiyyah ((شَوِيَّة. Mereka inilah sepuluh malaikat yang ada pada diri manusia, lalu malaikat malam akan turun menggantikan malaikat siang, dan mereka-mereka inilah (malaikat malam dan malaikat siang) dua puluh malaikat yang berada pada diri manusia.

Katabah (para sekretaris) Merekalah para malaikat yang menghapus dari lauhul mahfudh, mereka adalah para malaikat yang mulia yang menjadi sekretaris. Sebagian dari mereka ada yang memiliki beberapa sayap, yaitu: Tiap-tiap satu dari mereka ada yang memiliki dua sayap-dua sayap, ada yang memiliki tiga sayap-tiga sayap, dan sebagian yang lain ada yang memiliki empat sayap-empat sayap, dan Allah akan menambahkan dalam penciptaan sayap-sayap pada selain bagian-bagian tadi,menurut kehendak dan kebijaksanaannya.


TAMBIHUN

Perkataan Mushannif pada kata hamalah, safarah, hafadhah dan katabah, dengan dibaca fathah ketiga hurufnya adalah bentuk jamak dari kata haamil, safiir, haafidh dan kaatib.
Semua para malaikat adalah makhluk. Yaitu yang tercipta dengan penciptaan Allah terhadap mereka sebagaimana makhluk lainnya, yang menyembah Allah. Mereka tidak akan berkata sesuatu hingga Allah mengatakannya, sebagaimana hamba sahaya yang terpelajar, tidak disifati dengan laki-laki dan tidak juga perempuan. Barang siapa yang ber-i’tiqad terhadap ke-perempuan atau kebancian mereka maka orang tersebut kafir, dan barang siapa yang ber-i’tiqad terhadap ke-lelakiannya maka orang tersebut fasiq. Mereka tidak memiliki syahwat, yaitu keinginan nafsu, dan tidak juga nafsu. 

Nafsu terbagi menjadi tujuh tingkatan, sebagaimana berikut:

Ammarah : Tempatnya di As-Shadr (dada), dan pasukannya adalah: bakhil (kikir), hirshu (cinta dunia), hasad, kebodohan, takabur, syahwat, ghosab (menggunakan milik orang lain tanpa idzin).

Lawwamah : Tempatnya di Al-Qalbu (hati), adapun hati letaknya dibawah buah dada sebelah kiri perkiraan dua bentang jari tangan. Pasukannya adalah: mencela, prasangka, memaksa, ujub, ghibah (bergunjing), riya’, sewenang-wenang, berbohong, lalai.

Mulhimah : Tempatnya di Ar-Ruh, adapun ruh letaknya dibawah buah dada sebelah kanan perkiraan dua bentang jari tangan. Pasukannya adalah: dermawan, kerelaan, tawadu’, taubat, sabar, lapang dada.

Muthmainnah : Tempanya di As-Sirru, yang mana letaknya disebelah buah dada sebelah kiri perkiraan dua bentang jari tangan hingga ke arah dada. Pasukannya adalah: kemurahan hati, tawkkal, ibadah, bersyukur, ridla’, khasyyah.

Rodliyah : Tempatnya di Sirrus Sirri, mungkin yang dimaksud oleh mushannif dengan kata Sirrus Sirri adalah Qalab (dengan dibaca fathah huruf lam-nya), yaitu seluruh jasad. Pasukannya adalah: kemurahan hati, zuhud, ikhlas, wara’, riyadlah, kepercayaan.

Mardliyyah : Tempatnya di Al-Khafi yang terletak di sebelah buah dada sebelah kanan perkiraan dua bentang jari tangan hingga kepertengahan dada. 
Pasukannya adalah: baik budi pekerti, meninggalkan yang selain Allah, halus/ramah terhadap manusia, membawa mereka pada kebaikan, memaafkan kesalahan, cinta dan condong kepada mereka guna mengeluarkan mereka dari kegelapan watak dan jiwa mereka menuju jiwa yang terang.

Kamilah : Tempatnya di Al-akhfa, yaitu pertengahan dada. Pasukannya adalah: ilmul yaqin, ainul yaqin dan haqqul yaqin.

Selain dari tidak memiliki nafsu, para malaikat juga tidak memiliki bapak dan ibu, karena sesungguhnya mereka adalah jasad yang berupa cahaya, yaitu kebanyakan dari mereka diciptakan dari cahaya. Namun kadang ada juga sebagin dari mereka yang diciptakan dari tetesan-tetesan yang menetes dari malaikat Jibril setelah ia mandi dari sebuah sungai yang berada dibawah Arsy. Para malaikat bisa berubah-rubah wujud/bentuk yang berbeda-beda, mereka juga tidak makan, minum dan tidak tidur. Adapun dalil yang mununjukkan akan hal itu adalah firman Allah: “Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya”.
Sedang tidur adalah suatu kelelahan/kelesuan yang akan menimpa pada manusia dan tidak menghilangkan akal mereka. Para malaikat tidak akan pernah maksiat atau menentang terhadap Allah, terhadap apa-apa yang telah Allah perintahkan kepada mereka, mereka akan selalu mengerjakan apa-apa yang telah diperintahkan.

Firman Allah:

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)”.
Yaitu yang berupa ketaatan dan peraturan.

Fiman Allah:
“Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan”
Yakni, para malaikat adalah para hamba dari sekian banyak hamba Allah yang dimuliakan dengan kesucian dari dosa-dosa, yang tidak akan mendahului terhadap izin Allah dengan sebuah perkataan. Mereka hanya akan mengerjakan terhadap perintah Allah apabila Allah telah memerintahkannya, karena sesungguhnya mereka berada dipuncak pengawasan (muraqabah) Allah swt. maka mereka menyatukan antara perkataan dan perbuatan dalam bertaat, dan itulah puncak dari ketaata