Catatan Popular

Sabtu, 18 Januari 2020

Kitab Manazil al-Sa'irin - Manzilah kedua Manzilah al-Taubah


(Tingkatan-tingkatan Perjalanan Ruhani)

karya 'Abdullah Al-Ansari Al-Harawi

Manzilah kedua Manzilah al-Taubah

Manzilah al-Taubah adalah manzilah kedua dari Manzilah Al-Bidayat yang tercantum dalam kitab Manazil al-Sairin.

Manzilah al-Taubah ini terdiri dari tiga: Awwam, Awsath, dan Khusus.  

Awwam

"Dan barangsiapa yang belum bertaubat maka mereka adalah orang-orang yang zalim" (QS 49:11).

Dalam ayat ini, Allah melepaskan Sifat Zalim dari orang yang bertaubat. Taubat tidak akan benar kecuali setelah mengenali dosa. Mengingat taubat adalah kembali tunduk pada hukum Al-Haqq setelah penentangan atasnya. Bagaimana mungkin seseorang dapat kembali tunduk sekiranya dirinya tidak menyadari penentangan yang dilakukannya. 
Kesadaran akan dosa hendaknya diiringi kesadaran tentang dosa tersebut dalam tiga hal: terlepasnya perlindungan Allah ketika melakukannya, rasa lega ketika terlepas dari dosa (dan rasa sedih bahwa dirinya telah terperosok ke dalam dosa), rasa malu dan hina bahwa dirinya disaksikan Allah ketika melakukan dosa tersebut. 
Sedangkan syarat dari taubat ada tiga hal: penyesalan, permohonan maaf, dan berlepas diri dari perbuatan tersebut untuk selanjutnya.

Kemudian hakikat taubat ada tga hal: merasa bahwa dosa tersebut adalah besar, merasa bahwa taubatnya tidaklah memadai dan memohon dengan kerendahan diri dihadapan Allah. 

Taubat awwam dengan memperbanyak upaya untuk taat kepada Allah yang menuntut tiga hal: kesungguhan dalam mengharapkan penutupan dari Allah bahwa Allah adalah Zat yang Maha kaya dan tidak membutuhkannya dirinya, terus memohon kemurahan ganjaran dari Allah SWT. 

Awsath

Sekarang masuk pada taubat Awsath, yaitu mereka yang telah menempuh perjalanan ruhaniah. Ini merupakan kelanjutan dari taubat Awwam.
Pada tingkat ini adalah Taubat atas keterlepasan dirinya dari maksiat yang berasal dari hakikat kegigihan perjuangannya serta upayanya yang terus menerus untuk melepaskan diri dari maksiat (sehingga fokus hatinya tidak lebih adalah menjauhi kemaksiatan).
Yang dimaksud dalam konteks ini adalah Taubatnya mereka yang sudah melewati tahap perjalanan ruhaniah, sudah terlepas dari dosa-dosa yang biasa melingkupi orang Awwam.

Salik pada tingkat ini haruslah bertaubat dari usahanya melepaskan diri dari maksiat. Mengingat bahwa usaha yang dilakukannya sebenarnya semata muncul dari bantuan dan perlindungan Allah atasnya bukan dari dirinya. Ketika dia masih menyaksikan hal tersebut adalah hasil usahanya maka hal tersebut adalah maksiat tersendiri dan dia harus bertaubat atasnya.

Semua Kemuliaan, Rahmat dan Ampunan yang didapatnya semata karena kemuliaan Allah dan perlindungan Allah atas dirinya. Hati yang terus menerus dalam upaya ini terperosok pada kondisi yang berlebihan sehingga dirinya berada dalam keadaan ketidak tentraman dan hilangnya keyakinan bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Pengampun.

Salik yang seperti ini mereka tengah menghancurkan dirinya dalam kesulitan yang dibuatnya sendiri di dalam kemudahan yang Allah berikan padanya. Hatinya akan kesulitan untuk memandang Allah sebagai cahaya Rahmat.

Khusus

Sekarang tentang Taubat pada tingkat Khusus sebagai kelanjutan taubat Awsath. Taubat pada tingkat Khusus ini adalah Taubat atas hilangnya 'waktu' karena mengantarkan Salik pada dasar kekurangan dan padamnya cahaya al-Muraqabah dan keruhnya mata air kebersamaan dengan Allah.

Yang dimaksud dengan 'waktu' di sini adalah kebersamaan dan keterhubungan dengan Allah SWT.

Kehilangan waktu dalam konteks ini adalah kelalaian yang merupakan keburukan yang besar pada diri Salik sehingga menuntut Taubat atas hal tersebut.

Mengingat kelalaian akan menyebabkan terputusnya hubungan  khusus dengan Allah SWT dan  karena hatinya tidak lagi terhubung dengan hakikat Ilahi menyebabkan hatinya kembali keruh dan hilangnya cahaya pengawasan Ilahi atasnya. Hijab dirinya kembali menutupi dirinya.

Puncak dari Taubat adalah Taubat atas kesadaran selain dari Allah dan memandang penyebab kelalaian tersebut pada akhirnya taubat atas kesadaran terhadap sebab kelalaian tersebut.
Yang dimaksud pada puncak Taubat ini adalah Taubat dari Taubat itu sendiri. Mengingat seorang Salik ketika masih bertaubat dan kesadarannya masih mencari sebab atas kelalaiannya menunjukkan kesadarannya masih belum sepenuhnya hanya kepada Allah dan ini adalah keburukan yang atasnya dia harus bertaubat. Ketika seseorang masih bertaubat atas selain Allah menunjukkan pada dirinya ada selain Allah dan atas hal tersebut dia harus bertaubat.

Syaikh memaknai ayat "Bertaubatlah jamu semua kepada Allah secara keseluruhan wahai orang-orang yang beriman" (QS 24:31).

Bahwa Mukminin bukanlah pendosa sehingga dia harus bertaubat dari dosanya, tapi dari masuknya dirinya pada Maqom Jami' agar dirinya dapat sampai pada Maqom ketunggalan sehingga diperintahkan untuk bertaubat. 

Kitab Manazil al-Sa'irin - Manzilah Pertama "Manzilah al-Yaqzhah"


(Tingkatan-tingkatan Perjalanan Ruhani)

karya 'Abdullah Al-Ansari Al-Harawi

Manzilah Pertama "Manzilah al-Yaqzhah".

Manzilah Pertama dari Manzilah al-Bidayat, yaitu "Manzilah al-Yaqzhah"(Keterjagaan, Kesadaran).

Al-Yaqzhah adalah keterjagaan seorang hamba dan tumbuhnya kesadaran.

"Katakan Aku memberikan nasihat pada setiap kamu satu hal saja. Hendaklah kamu berdiri menghadap Allah" (QS 34:46).

Berdiri dihadapan Allah adalah keterjagaan seorang hamba dari kelalaian dan bangkit dari keterpurukan dan ini merupakan awal munculnya cahaya di hati seorang hamba sebagai cahaya peringatan baginya.

Manzilah Al-Yaqzhah memiliki tiga manzilah:

Pertama adalah Kesadaran hati atas nikmat yang dicurahkan Allah untuknya dan penyesalan atas penggunaan nikmat tersebut yang bukan sebagaimana mestinya dan hanya memandang nikmat tersebut batasan pada yang sempit.

Kesadaran akan tidak layaknya sikap terhadap nikmat tersebut.

Pada tingkat dasar ini seorang hamba haruslah sadar bahwa betapa nikmat Allah, baik Zhahir maupun Bathin selama ini meliputi hidupnya:

"Dan Allah memenuhinya dengan nikmat yang Zhahir dan bathin"(QS 31:20).

Dan kesadaran bahwa penghargaannya terhadap nikmat tersebut begitu rendahnya. Menyesal bahwa nikmat tersebut kemudian berlalu dengan perlakuan yang belum layak atasnya. Kesadaran bahwa apa pun kebaikan yang dilakukan tidak lain adalah semata kenikmatan yang Allah curahkan untuknya bukan berasal dari dorongan dirinya.

Cahaya pertama yang harus muncul pada diri salik pada Manzilah Yaqzhah tingkat pertama.

Kedua adalah salik harus melihat kembali keburukan yang pernah dilakukannya dan betapa dia sudah membahayakan dirinya selama ini.

Dan berusaha dengan segala keinginannya untuk melepaskan diri dari kebutuhan-kebutuhan itu dengan tekad penyucian diri darinya.

Salik harus melihat bahwa dosa adalah bahaya yang menghancurkan dirinya, baik sekarang atau masa datang, baik Zhahir maupun bathin, karena efek setiap dosa begitu besarnya yang sering tidak disadari.
Dosa membuat kotor jiwanya sehingga jiwa tidak akan mampu merasakan getaran Ruhaniah.

Tidak ada jalan baginya kecuali berupaya membuat dirinya kembali jernih dengan ketaatan dan mengikuti kembali jalan kesucian. 

Ketiga, kesadaran dan pengetahuan atas bertambah dan berkurangnya ketaatan di hari-hari lalu dan mengetahui sebab darinya sehingga dapat menata di waktu berikutnya. 

Bahwa dalam waktu yang lewat dari kehidupan ada saat-saat ketaatan dan ketundukan kita kepada Allah demikian baiknya sehingga saat-saat tersebut adalah saat yang istimewa, namun ada juga saat yang di situ kita jauh dari Allah bahkan melakukan keburukan sehingga menjadi saat yang buruk bagi kita.

Kita harus menyadari penyebab yang membawa kita menjadi taat kepada Allah shigga bisa kita jaga sebab tersebut yang dengan menjaganya akan membawa efek ketaatan.

Kita juga harus tahu sebab yang membawa kelengahan yang dengan kesadaran itu kita bisa menjauhi sebab tersebut dan berefek lepasnya kita dari jeratan kelengahan dan keburukan.  

Penjelasan ringkas jalan bagi ketiga Manzilah Yaqzhah dikemukakan oleh Syaikh sebagai berikut: 

Ma'rifat nikmat melalui tiga hal:

Cahaya Akal, merasakan kilatan cahaya keghaiban dan mengambil pelajaran dari mereka yang celaka.

Menyadari keburukan melalui tiga jalan :

Mengagungkan Allah, ma'rifat diri dan menunaikan janji.

Marifat atas bertambah dan berkurangnya ketaatan melalui tiga hal:

Belajar ilmu kepada 'Alim, mengikuti ajakan akan kesucian dan kemuliaan dan selalu bersama dengan orang-orang yang menempuh perjalanan Ruhaniah.

KITAB RIYADHUS SHALIHIN Bab 32 Keutamaan Kelemahan Kaum Muslim'm, Kaum Fakir Dan Orang-orang Yang Tidak Masyhur


KITAB RIYADHUS SHALIHIN (TAMAN ORANG-ORANG SHALIH)
IMAM NAWAWI

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan sabarkanlah dirimu bersama dengan orang-orang yang menyeru Tubannya di waktu pagi dan sore, mereka menginginkan keridhaan Tuhan dan janganlah engkau hindarkan pandanganmu terhadap mereka itu." (al-Kahf: 28)


253. Dari Haritsah bin Wahab r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulultah s.a.w.bersabda:

"Sukakah engkau semua saya beritahu,siapakah ahli syurga itu? Mereka itu setiaporang yang lemah dan dianggap lemah oleh para manusia, tetapi jikalau ia bersumpah atasAllah, pastilah Allah mengabulkan apa yang disumpahkannya itu.

Sukakah engkau semua saya beritahu, siapakah ahli neraka itu? Mereka itu ialahsetiap orang yang 'utul - keras, jawwazh  kikir tetapi gemar mengumpulkan harta, lagi pulacongkak." (Muttafaq 'alaih)

Al'utul ialah orang yang keras kepala lagi kasar dalam pergaulan.Aljawwazh, dengan fathah jim dan syaddahnya wawu dan dengan zha' mu'jamah yaitu
orang yang gemar mengumpulkan harta, tetapi kikir kalau dimintai sesuatu kebaikan. Adayang mengatakan artinya ialah orang yang gemuk lagi sombong ketika berjalan. Ada pulayang mengatakan artinya ialah orang yang pendek lagi suka makan.


254. Dari Abul Abbas yaitu Sahal bin Sa'ad as-Saidi r.a., katanya: "Ada seorang lelakiyang berjalan melalui Nabi s.a.w., lalu beliau bertanya kepada seseorang yang sedang dudukdi sisinya: "Bagaimanakah pendapatmu tentang orang ini." Orang yang ditanya itu menjawab:"Ini adalah seorang lelaki dari golongan manusia bangsawan. Orang ini demi Allah, sudah
nyatalah apabila ia melamar seseorang wanita, tentu terlaksana ia dikawinkan dan apabilamemintakan pertolongan pada sesuatu, tentu akan dikabulkan permintaan pertolongannyaitu - untuk kepentingan orang lain."

Selanjutnya ada seorang lelaki lain berjalan melalui Nabi s.a.w. kemudian Rasulullahs.a.w. bersabda - kepada kawan seduduknya itu: "Bagaimanakah pendapatmu tentang orangini?" Orang itu menjawab: "Ya Rasulullah. Ini adalah seorang lelaki dari golongan kaumfakirnya orang-orang Islam. Orang ini nyatalah bahwa jikalau meminang, tentu tidak akanditerima untuk dikawinkan dengan yang dipinangnya - dan jikalau memintakanpertolongan pada sesuatu, tentu tidak akan dikabulkan permintaan pertolongannya itu."

Kemudian Rasulullah bersabda:

"Yang ini - yakni yang engkau hinakan karena kefakirannya -adalah lebih baik daripada seluruh isi bumi itu penuh seperti yang ini - yakni yang dimuliakan karenakekayaannya." (Muttafaq 'alaih)


255. Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Syurga dan neraka itusaling berbantah-bantahan. Neraka berkata: "Di dalamku ada orang-orang yang keras kepala- gemar memaksakan kehendaknya pada orang lain - serta orang-orang yang congkak."

Syurga berkata: "Di dalamku ada para manusia yang lemah-lemah serta kaum fakir miskin."
Allah lalu memutuskan perbantahan mereka itu dan firmanNya: "Engkau itu, syurga,sesungguhnya adalah tempat kerahmatanKu, yang Aku merahmati denganmu itu siapa sajayang Kukehendaki, sedang engkau neraka, sesungguhnya adalah tempat penyiksaanKu,yang Aku menyiksa denganmu siapa saja yang Kuhendaki. Atas kehendakKu pulalah keduaduanyaitu siapa-siapa yang akan diisikannya." (Riwayat Muslim)


256. Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya: "Sesungguhnya saja nantiakan datanglah seseorang yang besar lagi gemuk pada hari kiamat, tetapi di sisi Allah, tidakada timbangan beratnya lebih dari timbangan sehelai sayap nyamuk." (Muttafaq 'alaih)


Keterangan

Maksud Hadis di atas ialah bahwa orang yang sewaktu di dunia ini besar dan tinggikedudukannya, gemuk badannya serta gendut perutnya, tetapi kosong amalannya yang baik,tidak mentaati perintah Allah dan malahan melanggar laranganNya, maka pada hari kiamatnanti oleh Allah orang tersebut tidak ada harganya samasekali, dianggap ringan dan remeh
dan sudah dipastikan akan memperoleh siksaNya yang pedih dalam neraka.

Jadi untuk mencapai keluhuran tingkat di sisi Allah, dapat mendekatkan diri padaNyaserta mendapatkan keridhaanNya hanyalah dengan jalan membersihkan hati dari semua sifatyang tercela, menyucikannya agar menerima cahaya Ilahiyah, di samping mengamalkan
semua perintah dan menjauhi laranganNya.
Dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, ada lanjutannya Hadis di atas itudan berbunyi:
"Bacalah jika kamu suka firman Allah, yaitu : "Maka Kami (Allah) tidak merasaperlu menimbang orang-orang yang semacam itu - sebab timbangannya yang berupa amalkebaikan samasekali tidak ada dan tidak lebih berat daripada sayap nyamuk belaka."


257. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya ada seorang wanita hitam yang biasanyamenyapu masjid. Dalam sebuah riwayat dikatakan: seorang pemuda - sebagai ganti wanitahitam tersebut, yang pekerjaannya juga suka menyapu masjid. Kemudian Rasulullah s.a.w.
pada suatu hari -tidak menemukannya lagi, lalu bertanya, ke mana orang yang sukamenyapu itu. Para sahabat berkata bahwa ia telah meninggal dunia.

Beliau bersabda:

"Mengapa engkau semua tidak memberitahukan hal itu padaku." Mereka tidakmemberitahukan itu, seolah-olah mereka menganggap remeh saja kematian orang tersebut.

Beliau bersabda pula: "Tunjukkanlah aku di mana kuburnya." Orang-orang menunjukkannya,kemudian beliau s.a.w. menyembahyangi orang yang mati itu - yang sudah dalam kubur.
Setelah itu beliau bersabda: "Sesungguhnya kubur itu penuh kegelapan atas parapenghuninya, tetapi Allah membuatnya bercahaya untuk mereka itu dengan sebab sayamenyembahyangi atas mereka itu." (Muttafaq 'alaih)


258. Dari Abu Hurairah r.a. lagi, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Kadang-kadang orang-orang yang tidak karuan letak rambutnya lagi pula penuhdebu tubuhnya, serta selalu ditolak jika ada di pintu - tidak dihiraukan karena miskinnya,jikalau bersumpah atas Allah niscayalah Allah mengabulkan padanya - apa yangdisumpahkannya itu." (Riwayat Muslim)


259. Dari Usamah r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Saya berdiri di pintu syurga, tibatiba saya lihat - kebanyakan orang yang memasukinya itu adalah orang-orang miskin,sedang orang-orang yang mempunyai kekayaan masih tertahan - belum lagi diizinkan untukmasuk syurga. Tetapi para ahli neraka sudah semua diperintahkan untuk masuk neraka.
Saya juga berdiri di pintu neraka, tiba-tiba -saya lihat -kebanyakan para ahli neraka ituadalah kaum wanita." (Muttafaq 'alaih)


260. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Tidak seorang bayipun yangdapat berbicara ketika masih dalam belaian kecuali tiga anak. Ini yang dari kalangan BaniIsrail, sedang yang tidak dari kalangan mereka ada pula yang lain-lain seperti tertera dalam
Hadis nomor . Tiga anak itu ialah Isa putera Maryam. Kedua sahabat Juraij yangmenyaksikan kebenaran Juraij. Juraij adalah seorang lelaki yang tekun ibadatnya, lalu iamengambil sebuah tempat yang tinggi letaknya. Ia senantiasa berada di situ. Suatu ketika
ibunya datang dan ia sedang bersembahyang, serunya: "Hai Juraij." Juraij berkata - dalamhatinya: "Ya Tuhanku, itu adalah ibuku, tetapi saya lebih mengutamakan shalatku." Ia terustekun dalam shalatnya - dan ibunya tidak dihiraukan olehnya.

Ibunya lalu pergi. Ketikamenjelang esok harinya, ibunya datang lagi dan ia juga sedang bersembahyang. Ibunyaberseru: "Hai Juraij." Ia berkata pula - dalam hatinya: "Ya Tuhanku, itu adalah ibuku, tetapisaya lebih mengutamakan shalatku." Ia terus tekun dalam shalatnya. selanjutnya pada esokharinya lagi, ibunya datang sekali lagi dan ia sedang bersembahyang. Ibunya berseru: "HaiJuraij." Ia berkata pula - dalam hatinya: "Ya Tuhanku, itu adalah ibuku, tetapi saya lebihmengutamakan shalatku." Ia terus pula tekun dalam shalatnya. lbunya lalu berkata - berdoa
"Ya Allah, janganlah Engkau mematikannya, sehingga ia melihat wajahnya wanita-wanitapelacur."
Kaum Bani Israil sama menyebut-nyebutkan perihal diri juraij itu serta ketekunanibadatnya. Di kalangan mereka ada seorang wanita pelacur yang karena cantiknya sampaidibuat sebagai perumpamaan. Wanita itu berkata: "Jikalau engkau semua suka, niscaya
dapatlah aku memfitnahnya." Wanita itu menunjukkan diri pada Juraij, tetapi ia tidakmenoleh samasekali pada wanita itu.
Wanita itu lalu mendatangi seorang penggembala yangberdiam di tempat peribadatan Juraij lalu ia memungkinkan dirinya pada penggembala itu yakni membolehkan dirinya disetubuhi olehnya. Penggembala itu menyetubuhinyakemudian ia pun hamillah. Setelah wanita itu melahirkan, ia berkata bahwa anak itu adalahhasil dari hubungannya dengan Juraij. Orang-orang banyak sama mendatangi Juraij, ia
diturunkan dan mereka merobohkan tempat ibadatnya, bahkan merekapun memukulnya.

Juraij bertanya: "Ada apa engkau semua ini?" Orang-orang sama berkata: "Engkau berzinadengan wanita pelacur ini, lalu ia melahirkan anak dari hasil perbuatanmu."

Ia berkata:
"Manakah anak itu?" Orang-orang sama mendatangkan anak itu padanya. Juraij laluberkata: "Biarkanlah saya hendak bersembahyang dulu." Iapun bersembahyanglah. Ketika iakembali di hadapan orang banyak, ia mendatangi anak itu lalu menusuk perutnya - denganjarinya - dan berkata: "Hai anak, siapakah ayahmu?" Anak kecil itu berkata: "Ayahku siFulan, penggembala itu." Kemudian orang-orang banyak itu sama menghadapi Juraijmenciuminya dan mengusap-usap tubuhnya. Mereka berkata: "Kita akan mendirikan tempatsembahyangmu itu dari emas." Juraij berkata: "Jangan, kembalikan sajalah dari tanah batu
merah -sebagaimana dahulunya." Mereka terus mengerjakan pembangunannya kembali.
Ketiga dari anak yang dapat berbicara ialah - pada suatu ketika ada seorang anak bayisedang menyusu pada ibunya. Kemudian berlalulah seorang lelaki mengendarai seekorbinatang kendaraan yang indah dan serba bagus keadaan serta pakaiannya. Ibunya laluberkata: "Ya Allah, jadikanlah anakku ini seperti orang itu!" Anak itu lalu melepaskanteteknya dan menghadap untuk melihat orang lelaki tersebut, kemudian berkata: "Ya Allah,janganlah saya Engkau jadikan seperti orang itu!" Selanjutnya anak itu kembali menghadapiteteknya dan mulai menyusui lagi.
Saya  yang meriwayatkan Hadis ini  seolah-olah melihat kepada Rasulullah s.a.w. diwaktu beliau menirukan cara anak itu menyusu, yaitu dengan menggunakan jari telunjukbeliau dan beliau mengisapnya.

Selanjutnya beliau s.a.w. melanjutkan sabdanya:
Seterusnya mereka melalui seorang hamba sahaya wanita dan orang-orang samamemukulinya, dan mereka mengucapkan: "Engkau berzina dan engkau mencuri," sedangwanita itu berkata: "Cukuplah Allah sebagai penolongku dan Dia adalah sebaik-baiknya Zat
yang memberikan perlindungan." Ibu anak tadi lalu berkata: "Ya Allah, janganlah Engkaumenjadikan anakku ini seperti wanita itu!" Anak tersebut melepaskan teteknya lagi lalumelihat pada wanita itu kemudian berkata: "Ya Allah, jadikanlah saya seperti wanita itu!"
Sampai di sini kedua orang ibu dan anaknya tadi mengulangkan percakapannya.

Ibunya berkata: "Ada seorang lelaki yang indah sekali keadaannya, lalu saya berkata: "YaAllah, jadikanlah anakku seperti orang itu," tetapi engkau berkata: "Ya Allah, janganlahEngkau menjadikan saya seperti orang itu." Orang-orang sama melalui seorang hamba
sahaya wanita dan mereka memukulinya, juga mengatakan: "Engkau berzina dan engkaumencuri." Saya lalu berkata: "Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan anakku seperti wanitaitu," tetapi engkau berkata: "Ya Allah, jadikanlah saya seperti wanita itu." Apakah sebabnyademikian." Anak bayi itu menjawab: "Orang lelaki itu adalah seorang yang keras kepala -
dalam kebathilan, maka itu saya mengatakan: "Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan sayaseperti orang itu," sedangkan wanita yang orang-orang sama mengatakan padanya: "Engkauberzina," sebenarnya ia tidak berzina dan: "Engkau mencuri," sebenarnya ia tidak mencuri.Oleh sebab itu saya mengatakan: "Ya Allah, jadikanlah saya seperti wanita itu." (Muttafaq
'alaih)

KITAB RIYADHUS SHALIHIN Bab 31Mendamaikan Antara Para Manusia


KITAB RIYADHUS SHALIHIN (TAMAN ORANG-ORANG SHALIH)
IMAM NAWAWI

Allah Ta'ala berfirman:

"Tiada kebaikannya samasekali dalam banyaknya pembicaraan rahasia mereka itu, melainkan orang yang memerintahkan bersedekah, menyuruh berbuat kebaikan serta mengusahakan perdamaian antara seluruh manusia." (an-Nisa': 114)

Allah Ta'ala berfirman lagi:

"Dan berdamai itu adalah yang terbaik."

Allah Ta'ala berfirman pula:

"Maka benaqwalah engkau semua kepada Allah dan damaikanlah antara sesamamu sendiri."(al-Anfal: 1)

Juga Allah Ta'ala berfirman:

"Hanyasanya kaum mu'minin itu adatah sebagai saudara, maka damaikanlah antara keduasaudaramu." (al-Hujurat: 10)

249. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Setiap seruas tulang dari seluruh manusia itu harus memberikan sedekahnya padasetiap hari yang matahari terbit pada hari itu. Mendamaikan dengan cara yang adil antaradua orang adalah sedekah, menolong seseorang pada kendaraannya lalu mengangkatnya ditas kendaraannya itu atau mengangkatkan barang-barangnya ke sana, itupun sedekah,ucapan yang baik juga sedekah dan setiap langkah yang dijalaninya untuk pergi shalat juga
merupakan sedekah, menyingkirkan benda-benda yang berbahaya dari jalan termasuk
sedekah pula." (Muttafaq 'alaih)


250. Dari Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abu Mu'aith, katanya: "Saya mendengarRasulullah s.a.w. bersabda:
"Bukannya termasuk pendusta orang yang mendamaikan antara para manusia, lalu ia
menyampatkan berita yang baik atau mengatakan sesuatu yang baik." (Muttafaq 'alaih)

Dalam riwayat Muslim disebutkan tambahannya demikian: Ummu Kultsum berkata:

"Saya tidak pernah mendengar dari Nabi s.a.w. tentang dibolehkannya berdusta daripadaucapan-ucapan yang diucapkan oleh para manusia itu, melainkan dalam tiga hal yaituperihal peperangan, mendamaikan antara para manusia dan perkataan seseorang suami
kepada isterinya serta perkataan isteri kepada suaminya yang akan membawa kebaikan
rumah-tangga dan lain-lain."


251. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. mendengar suarapertengkaran di arah pintu, yang suara kedua orang yang bertengkar itu terdengar keraskeras.
Tiba-tiba salah seorang dari keduanya itu meminta kepada yang lainnya agar sebagianhutangnya dihapuskan dan ia meminta belas kasihannya, sedangkan kawannya itu berkata:
"Demi Allah, permintaan itu tidak saya lakukan - tidak dibenarkan."Rasulullah s.a.w. kemudian keluar menemui keduanya lalu bersabda: "Siapakah orangyang bersumpah atas Allah untuk tidak melakukan kebaikan itu?" Orang itu berkata: "Sayaya Rasulullah. Tetapi baginya- orang yang berhutang tadi mana saja yang ia sukai maksudnya pemotongan sebagian hutangnya dikabulkan dengan sebab syafa'at beliau s.a.w.
itu." (Muttafaq 'alaih)


252. Dari Abul Abbas yaitu Sahal bin Sa'ad as-Saidi r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.menerima berita bahwa antara sesama keturunan 'Amr bin 'Auf itu terjadi suatu hal yangtidak baik - perselisihan faham, lalu Rasulullah s.a.w. keluar menemui mereka untukmendamaikan antara orang-orang itu dan beliau disertai beberapa orang sahabatnya.
Rasulullah s.a.w. tertahan ditahan oleh orang-orang yang didatangi olehnya untuk diberijamuan sebagai tamu, sedangkan shalat Ashar sudah masuk waktunya. Bilal mendatangiAbu Bakar r.a. lalu berkata: "Hai Abu Bakar, sesungguhnya Rasulullah tertahan, sedangkan
shalat sudah masuk waktunya. Adakah Tuan suka menjadi imamnya para manusia?" AbuBakar menjawab: "Baiklah, jikalau engkau menghendaki demikian." Bilal membaca iqamahdan majulah Abu Bakar, kemudian ia bertakbir dan orang-orangpun bertakbir pula.
Di tengah shalat itu Rasulullah s.a.w. datang berjalan di barisan sehingga berdirilahbeliau di suatu barisan. Orang-orang banyak mulai bertepuk tangan, sedangkan Abu Bakartidak menoleh dalam shalatnya itu. Tetapi setelah para manusia makin banyak yang
bertepuk-tepuk tangan, lalu Abu Bakar menoleh ke belakang, tiba-tiba tampaklah olehnyaRasulullah s.a.w. Beliau s.a.w. mengisyaratkan supaya shalat diteruskan - dan ia sebagaiimamnya. Tetapi Abu Bakar setelah mengangkat tangannya - untuk beri'tidal lalu bertahmid kepada Allah terus kembali ke belakang perlahan-lahan sampai berada di belakang terus berdiri di jajaran shaf.

Rasulullah s.a.w. lalu maju, kemudian bersembahyang sebagai imamnya para manusia.
Setelah selesai beliau s.a.w. menghadap orang-orang itu lalu bersabda: "Hai sekalian manusia,mengapa ketika terjadi sesuatu dalam shalat, lalu engkau semua bertepuk tangan?

Hanyasanya bertepuk tangan itu untuk kaum wanita. Barangsiapa yang terjadi sesuatudalam shalatnya, hendaklah mengucapkan: Subhanallah, maka sesungguhnya tiadaseorangpun yang mendengar ketika dibacakan Subhanallah itu, melainkan ia tentu akan
menoleh. Hai Abu Bakar, apakah yang menyebabkan saudara terhenti tercegah tidakmeneruskan - melakukan shalat sebagai imamnya orang banyak, ketika saya memberikanisyarat untuk meneruskannya itu?" Abu Bakar menjawab: "Kiranya tidak sepatutnyalah
untuk anak Abu Quhafah ini kalau bersembahyang sebagai imam di sisi Rasulullah s.a.w. maksudnya Rasulullah sebagai makmumnya." (Muttafaq 'alaih)


KITAB RIYADHUS SHALIHIN Bab 30 Syafaat


KITAB RIYADHUS SHALIHIN (TAMAN ORANG-ORANG SHALIH)
IMAM NAWAWI

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan barangsiapa yang memberikan pertolongan berupa kebaikan, maka tentulah ia akanmemperoleh bagian daripadanya." (an-Nisa':85)


247. Dari Abu Musa al-Asy'ari r.a., katanya:

 "Nabi s.a.w. itu apabila didatangi olehseseorang yang meminta hajat, maka beliau menghadapi semua kawan-kawan duduknya,kemudian bersabda: "Berilah pertolongan padanya, niscayalah engkau semua mendapatkanpahala dan Allah akan memutuskan apa-apa yang disenanginya atas lisan nabiNya."
(Muttafaq 'alaih) Dalam suatu riwayat lain disebutkan: "Apa-apa yang dikehendakinya," sebagai ganti:
apa-apa yang disenanginya.


248. Dari Ibnu Abbas radhiallahu'anhuma, dalam menguraikan kisah Barirah danisterinya, ia berkata: "Nabi s.a.vv. bersabda: Alangkah baiknya kalau engkau wanita sukakembali baik kepadanya - yakni suaminya, sebab kedua suami isteri itu timbul perselisihanlalu bercerai. Barirah berkata: "Ya Rasulullah, apakah Tuan memerintahkan itu padaku?"
Beliau s.a.w. menjawab: "Saya hanyalah hendak memberikan pertolongan menganjurkan."
Wanita itu lalu berkata: "Saya tidak berhajat lagi padanya." (Riwayat Bukhari)