Catatan Popular

Rabu, 10 Disember 2014

Kitab Mengenal Diri Melalui Rasa Hati Bab 5 - Cara-cara Mengamalkan Amalan batin



Sambungan Bab 4

Di sini akan saya huraikan cara-cara mujahadah terhadap penyakit hasad, dengki, pemarah dan gila dunia.

Sebelum itu akan dijelaskan bahwa dalam berusaha melawan nafsu itu, kita hendaklah menempuh tiga tingkat:

1.     Takhalli (Mengosongkan atau membuang atau membersihkan)
2.     Tahalli (Mengisi atau menghiasi)
3.     Tajalli (Terasa kebesaran dan kehebatan Allah)

1. Takhalli
Di tingkat takhalli kita mesti melawan dan membuang semua kehendak-kehendak nafsu yang rendah dan dilarang Allah. Selagi kita tidak mahu membenci, memusuhi dan membuangnya jauh-jauh dari diri kita, maka nafsu itu akan selalu menguasai dan menghambakan kita.
Sabda Rasulullah SAW:
Terjemahannya: Sejahat-jahat musuhmu ialah nafsumu yang terletak di antara dua lambungmu.
(Riwayat Al Baihaqi)

Kerana kejahatannya itu telah banyak manusia yang ditipu dan diperdaya untuk tunduk, bertuhankan hawa nafsu. Itu  diceritakan oleh Allah dengan firman-Nya:
Terjemahannya: Apakah tidak engkau perhatikan orang-orang yang mengambil hawa nafsu menjadi Tuhan lalu dia disesatkan Allah.
(Al Jaatsiah: 23)

Apabila nafsu dibiarkan menguasai hati, iman tidak memiliki tempat. Bila iman tidak ada, manusia bukan lagi menyembah Allah, Tuhan yang sebenar-benarnya tetapi menyembah hawa nafsu.

Oleh itu usaha melawan hawa nafsu jangan dianggap ringan. Itu adalah satu jihad yang sangat besar. Ingatlah sabda Rasulullah SAW pada sahabat-sahabatnya ketika pulang dari satu medan peperangan:     

Terjemahannya: Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar. Sahabat bertanya, "Peperangan apakah itu?" Baginda berkata, "Peperangan melawan hawa nafsu."
(Riwayat Al Baihaqi)

Melawan hawa nafsu sangat susah. Mungkin kalau nafsu itu ada di luar jasad kita dan boleh kita pegang, mudahlah kita menekan dan membunuhnya sampai mati. Tetapi nafsu kita itu ada di dalam diri kita, mengalir bersama aliran darah dan menguasai seluruh tubuh kita. Kerana itu tanpa kesedaran dan kemahuan yang sungguh-sungguh kita pasti dikalahkan untuk diperalat sekehendaknya.

Seseorang yang dapat mengalahkan nafsunya akan meningkat ke taraf nafsu yang lebih baik. Begitulah seterusnya hingga nafsu manusia itu benar-benar dapat ditundukkan kepada perintah Allah.

Untuk lebih jelas akan saya sebutkan tingkat-tingkat nafsu manusia sebagaimana iman itu pun bertingkat-tingkat. Saya sebutkan dari tingkat yang serendah-rendahnya iaitu nafsu amarah, nafsu lawwamah, nafsu mulhamah, nafsu mutmainnah, nafsu radhiah, nafsu mardhiah dan nafsu kamilah.

Kita yang berada pada tingkat iman ilmu, berada di taraf nafsu yang kedua yakni nafsu lawwamah. Kita mesti berjuang melawan nafsu itu hingga tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah. Paling minimal mencapai nafsu mulhamah dan nafsu mutmainnah, iaitu nafsu yang ada pada diri seseorang beriman ayan.

Di tingkat iman itu saja kita akan dapat menyelamatkan diri dari siksaan Neraka. Itu dinyatakan sendiri oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
Terjemahannya: Hai jiwa yang tenang (nafsu mutmainnah) kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diredhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam Syurga-Ku.
(Al Fajr 27-30)

Nafsu jahat dapat dikenal melalui sifat keji dan kotor yang ada pada manusia. Dalam ilmu tasawuf, nafsu jahat dan liar itu dikatakan sifat mazmumah. Di antara sifat-sifat mazmumah itu ialah sum’ah, riya', ujub, cinta dunia, gila pangkat, gila harta, banyak bicara, banyak makan dan mengumpat.

Sifat-sifat itu melekat pada hati seperti daki melekat pada badan. Kalau kita malas menggosok sifat itu akan semakin kuat dan menebal pada hati kita. Sebaliknya kalau kita rajin meneliti dan kuat menggosoknya maka hati akan bersih dan jiwa akan suci.

Bagaimana pun membuang sifat mazmumah dari hati tidaklah semudah membuang daki di badan. Hal itu memerlukan latihan jiwa yang sungguh-sungguh, didikan yang terus menerus dan petunjuk yang berkesan dari guru yang mursyid yakni guru yang dapat membaca dan menyelami hati murid-muridnya hingga ia tahu apakah kekurangan dan kelebihan murid itu. Malangnya di akhir zaman ini, kita tidak memiliki guru yang mursyid.    

Nasib kita hari ini seperti nasib anak-anak ayam yang kehilangan pedoman. Tidak ada yang akan menunjukkan jalan kebaikan yang ingin kita tempuh. Meraba-rabalah kita dalam kegelapan.
Tetapi bagi orang yang mempunyai keinginan yang kuat untuk membersihkan jiwanya, ia tidak akan kecewa bila tidak ada orang yang boleh mendidik dan memimpinnya. Ia akan sanggup berusaha demi kesempurnaan diri dan hidupnya sendiri.

2.     Tahalli
Tahalli bererti menghias, lawan kata bagi takhalli. Sesudah kita mujahadah yakni mengosongkan hati dari sifat terkeji atau mazmumah, kita mesti segera menghias hati dengan sifat-sifat terpuji atau mahmudah.

Supaya mudah difahami mari kita gambarkan hati kita sebagai sebuah mangkuk. Selama ini mangkuk itu berisi sifat-sifat mazmumah. Setelah kita mujahadah maka sifat itu keluar meninggalkan mangkuk kosong. Waktu itulah kita masukkan ke dalam mangkuk itu sifat mahmudah.

Di antara sifat-sifat mahmudah yang patut menghias hati kita ialah jujur, ikhlas, tawadhuk, amanah, taubat, bersangka baik, takut pada Allah, pemaaf, pemurah, syukur, zuhud, timbang rasa, redha, sabar, rajin, berani, lapang dada, lemah lembut, kasih sayang sesama mukmin, selalu ingat mati dan tawakal.

Untuk menghias hati dengan sifat mahmudah kita sangat memerlukan mujahadah. Saya tegaskan sekali lagi bahwa bila dalam tingkat mujahadah kita masih terasa berat dan susah, maknanya belum ada ketenangan dan kelezatan yang sebenarnya. Insya Allah kalau kita sungguh-sungguh, lama kelamaan akan beryatu dengan hati kita dan akan terasalah lazatnya.

Cara-cara mujahadah dalam tahalli sama seperti kita mujahadah untuk takhalli. Misalnya kita mahu mengisi hati dengan sifat pemurah, maka kita mujahadah dengan mengeluarkan harta atau barang kita terutama yang kita sukai dan sayangi untuk diberikan kepada yang memerlukan. Awalnya tentu terasa berat dan susah tetapi janganlah menyerah. Kita mesti melawan. Tanamkan dalam hati bagaimana orang-orang muqarrobin berebut untuk mendapat pahala sedekah.

Sayidatina Aisyah r.a. di waktu tidak memiliki apa-apa untuk dimakan, beliau mencuba untuk mendapatkan hanya sebelah kurma untuk disedekahkan. Begitu besar keinginan mereka pada pahala dan rindu kepada Syurga. Mereka berlomba-lomba menyahut pertanyaan Allah SWT:
Terjemahannya: Siapakah yang mahu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik nanti Allah akan melipat gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.
(Al Hadid: 11)

Setiap kali kita merasa sayang pada harta kita setiap itu pula kita mengeluarkannya. Insya Allah lama-kelamaan kita akan memiliki sifat pemurah. Begitu juga dengan sifat-sifat yang lain seperti kasih sayang, berani, tawadhuk, pemaaf, zuhud dan semua sifat-sifat mahmudah yang lain perlu kita miliki. Untuk itu mesti bermujahadah. Jika tidak, iman akan ikut tiada sebab iman berdiri di atas sifat-sifat mahmudah.

3.     Tajalli
Sebagai hasil mujahadah dalam takhalli dan tahalli kita memperoleh tajalli iaitu sejenis perasaan yang datang sendiri tanpa memerlukan usaha lagi.
Agak sukar untuk ditulis apa erti tajalli sebenarnya, sebab merupakan sejenis perasaan (zauk) yang hanya mungkin difahamkan oleh orang-orang yang merasakannya. Seperti manisnya gula, tidak dapat digambarkan dengan tepat kecuali dengan merasakan sendiri gula tersebut.

Tajalli secara ringkas ialah perasaan tenteram, tenang dan bahagia. Hati seakan-akan terbuka, hidup, melihat dan merasa kehebatan Allah. Hati selalu teringat dan rindu pada Allah. Harapan dan pergantungan tidak pada selain Allah. Seluruh amal bakti adalah kerana dan untuk Allah semata-mata. Apa pun masalah hidup, dihadapi dengan tenang dan bahagia. Kesusahan apa pun tidak terasa dalam hidupnya sebab semua itu dirasakan sebagai pemberian dari kekasihnya, Allah SWT.

Akhirnya bagi orang-orang yang beriman, dunia ini sudah terasa bagai Syurga. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan sejati dan abadi iaitu kebahagiaan hati. Firman Allah:

Terjemahannya: Hari kiamat iaitu hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna kecuali mereka yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat sejahtera.
(Asy Syuara': 88-99)

Setelah kita menghuraikan tentang proses pembersihan hati, marilah kita melihat cara-cara untuk mujahadah terhadap beberapa penyakit hati.

1.     HASAD DENGKI
Hampir semua orang dihinggapi penyakit hasad dengki. Cuma bezanya banyak atau sedikit, bertindak atau tidak. Bahkan ulama-ulama pun terkena penyakit itu bahkan lebih berat lagi. Hasad dengki membuat jiwanya menderita, kecewa dan sakit jiwa. Hatinya merasa tidak selamat di dunia apalagi di akhirat.

Hadits telah menceritakan tentang enam golongan manusia yang akan tercampak ke dalam Neraka dengan enam sebab. Salah satu dari mereka adalah ulama kerana hasadnya.
Allah SWT menjelaskan tentang orang-orang yang hasad dengki dalam surah Muhammad:
Terjemahannya: Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Dan kalau Kami kehendaki niscaya Kami tunjukkan mereka padamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan kamu.
(Muhammad: 29-30)

Tanda adanya hasad dengki dalam diri kita ialah apabila orang lain mendapat kejayaan, maka kita akan sakit hati dan bila orang lain mendapat bencana kita akan merasa senang. 
Bahaya hasad dengki adalah seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:
Terjemahannya: Sesungguhnya hasad itu memakan amalan kebaikan seperti api memakan ranting kayu kering.

Bila kita saling hasad dengki, kita akan hina-menghina, fitnah-memfitnah, benci-membenci, dendam-mendendam, jahat sangka dan mengadu domba. Kesemuanya akan mendatangkan dosa-dosa dan menghapuskan kebaikkan lainnya.

Seseorang yang membiarkan dirinya berada dalam hasad dengki adalah penjahat dan perosak serta pemecah-belah persaudaraan antara manusia. Dia juga seorang yang paling biadab dengan Allah SWT. Sedar atau tidak, dia sebenarnya benci kepada Allah. Walau sebanyak apa pun solatnya, puasanya, hajinya dan hebat perjuangannya tetapi di sisi Allah tetaplah dia ahli Neraka.

Pernah sahabat-sahabat bertanya Rasulullah SAW:
Terjemahannya: Sesungguhnya ada seorang wanita yang berpuasa siang harinya dan di malam harinya shalat tahajjud tetapi selalu menyakiti tetangga dengan lidahnya. Jawab baginda Rasulullah: "(Tidak ada kebaikan lagi baginya) dia adalah ahli Neraka."

Orang yang banyak bertahajjud dan berpuasa sunat pun masuk Neraka kerana hasad dengki, apalagi kita yang tidak bertahajjud, puasa sunat, masih cinta dengan hasad dengki dan umpat-mengumpat.

Kalau betul kita beriman kepada Allah dan takut akan Neraka, insaflah akan kejahatan hati kita itu dan marilah kita memperbaikinya dengan melakukan mujahadatunnafsi.
Allah berfirman:
Terjemahannya: Hai orang yang beriman, janganlah satu kaum menghina kaum yang lain (kerana) boleh jadi mereka (yang dihina) lebih baik dari mereka (yang menghina) dan janganlah pula wanita-wanita menghina wanita-wanita lain (kerana) boleh jadi wanita (yang dihina) itu lebih baik dari mereka (yang menghina) dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelaran yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman (seperti hai fasik, kafir dan lain lain) dan barangsiapa yang tidak bertaubat maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
(Al Hujurat: 11)

Terjemahannya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah dari banyak prasangka. Sesungguhnya sebahagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu mengumpat sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang.
(Al Hujurat: 12)

Begitulah pujukan Allah pada kita supaya kita tidak lagi hasad dengki, mengumpat dan buruk sangka.
Langkah-langkah yang mesti kita lakukan untuk mujahadah terhadap hasad dengki diantaranya ialah:
-   Setiap kali orang yang kita dengki itu memperoleh kejayaan,
     kita kunjungi dia untuk mengucapkan tahniah (selamat) dan
     bergembira bersamanya. Sebaliknya apabila orang itu
     mendapat bencana, kita kunjungi juga untuk mengucapkan
     takziah(turut berduka) dan ikut bersedih bersamanya.
-    Sanjung dan pujilah kebaikan dan keistimewaan orang yang
     kita hasad dengki itu di belakangnya dan kalau ada kesalahan
     dan keburukannya kita rahsiakan.
-    Selalu datang dan berilah hadiah kepada orang yang kita
     dengki itu.
-    Kalau ada orang mencuba menjatuhkan orang yang kita dengki
     itu, kita mesti membelanya. Jangan melayani orang atau
     syaitan yang hendak merosakkan mujahadah kita.
-    Berdoalah pada Allah SWT agar memudahkan kita mengubati
     penyakit dengki yang ada dalam diri kita itu.

Ingatlah selalu firman-Nya:
Terjemahannya: Dan mereka yang bermujahadah pada jalan Kami niscaya Kami tunjukkan jalan-jalan Kami itu.
(Al Ankabut: 69)

Timbulnya hasad dengki kita pada seseorang adalah kerana orang itu mempunyai keistimewaan dan kelebihan yang lebih daripada apa yang ada pada diri kita. Bila kita terasa orang itu telah mengalahkan kita dalam perjuangan atau perlombaan maka datanglah rasa dengki itu. Sebaliknya tidak akan terjadi begitu, kalau kita beriman dengan Allah, yakin akan keadilan-Nya mengatur pemberian kepada hamba-hamba-Nya, kita tidak akan merasa dengki lagi.
Firman Allah:
Terjemahannya: Janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikurniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.
(An Nisa’: 32)

Allah yang melebihkan dan mengurangkan pemberian-Nya kepada seseorang. Dan Allah Maha Adil atas pemberian yang lebih dan kurang itu. Dia bermaksud menguji kita. Siapa yang sedar bahwa dirinya adalah hamba, ia akan senantiasa bersyukur pada nikmat yang diperoleh, redha dengan takdir dan sabar menghadapi ujian.
Dalam hadits Qudsi Allah berfirman:

Terjemahannya: Barangsiapa tidak redha terhadap takdir yang terjadi dan tidak sabar terhadap bala (cubaan) dari-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku.
(Riwayat: At Tabrani)

Dalam Al Quran Allah berfirman:
Terjemahannya: Dialah yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu siapa antara kamu yang lebih baik amalnya dan Dia maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
(Al Mulk: 2)

Itulah maksud Allah menjadikan hidup yang sementara.
Firman-Nya lagi:
Terjemahannya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setitis mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan) kerana itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.
(Al Insan: 2)

Kalau Allah melebihkan seseorang dari kita, ertinya Allah mahu menguji apakah kita sabar dan redha dengan kekurangan yang Allah takdirkan. Dan kalau Allah melebihkan kita daripada seseorang, ertinya Allah mahu menguji kita, apakah kita bersyukur terhadap nikmat itu atau sebaliknya sombong, bongkak, dan lupa diri sebagai hamba Allah.

Kalau begitu mengapa hasad dengki? Kalau kita masih hasad dengki ertinya kita tidak redha dengan Allah. Kita tidak senang dengan peraturan-Nya dan tidak menerima kehendak-Nya. Sebab itu orang yang hasad dengki bukan saja bermusuhan dengan orang lain tetapi juga bermusuhan dengan Allah. Biadab dengan manusia dan biadab dengan Allah maka layaklah menjadi ahli Neraka.

2.     PEMARAH
Sifat pemarah berasal dari sifat sombong (ego). Semakin besar ego seseorang itu semakin besar pemarahnya. Itu berkaitan pula dengan kedudukan seseorang.

Kalau tinggi kedudukannya, besar pangkatnya, banyak hartanya, ramai pengikutnya maka makin tinggi egonya dan pemarahnya makin menjadi-jadi. Sebaliknya seseorang yang rendah taraf kedudukannya akan kurang rasa egonya, maka kurang juga sifat pemarahnya.

Lihatlah perbezaan antara seorang ayah dengan anaknya. Jarang kita dengar bahwa anak memarahi ayah. Yang selalu terjadi adalah ayah memarahi anak. Atau antara tuan rumah dengan pembantunya. Tidak pernah pembantu marah pada tuannya tetapi tuan sering marah pada pembantunya. Atau seperti murid dengan guru. Murid tidak pernah marah pada gurunya tetapi guru sering marah pada muridnya.

Sebagai contoh yang lain, ketua pejabat dengan pegawainya. Jarang pegawai marah pada 'boss'nya tetapi boss sering marah pada anak buahnya. Begitulah seterusnya. Jarang kita temui seorang ayah, guru, ketua pejabat, tuan rumah dan seorang pemimpin yang tidak bersifat pemarah terhadap orang-orang di bawah mereka.

Pendeknya sifat pemarah itu ada pada setiap diri kita seperti halnya hasad dengki. Pemarah adalah sifat mazmumah yakni sifat terkeji. Pemarah boleh memecah-belahkan hati manusia. Sebab itu seorang yang pemarah adalah seorang yang biadab terhadap Allah SWT.

Kenapa mesti marah? Cuba kita renungkan sebuah syair gubahan seorang mujahid:
Takdir Allah sudah putus dan keputusan Allah sudah terjadi. Istirihatkan hati dari kata-kata 'barangkali' dan 'kalau'.

Setiap kesalahan dan kelemahan manusia pada kita adalah ujian Allah untuk kita. Allah mahu melihat siapa yang mampu menahan rasa malunya kepada Allah sambil mengucapkan,"Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun." Mari kita lihat bagaimana tindakan seorang mukmin sejati terhadap takdir-takdir buruk yang menimpa hidupnya:

Ahnaf bin Qais adalah seorang yang lemah lembut. Beliau ditanya orang, dengan siapakah beliau belajar berlemah lembut itu?
Ahnaf menjawab: Dengan Qais bin Asim, iaitu pada suatu hari ketika Qais bin Asim sedang beristirahat masuklah jariahnya (hamba) membawakan Qais panggang besi berisi daging panggang yang masih panas. Belum sempat diletakkan di depan Qais tanpa sengaja besi pemanggang itu jatuh menimpa anak kecil Qais. Anak itu menjerit-jerit  kesakitan dan kepanasan hingga meninggal dunia.

Qais dengan tenang melihat kejadian yang menyayat hati itu dan berkata kepada hamba yang pucat mukanya, "Aku bukan saja tidak marah kepada kamu, tetapi mulai hari ini aku memerdekakan kamu."
"Begitulah sopan santun dan lemah lembutnya Qais bin Asim," kata Ahnaf bin Qais mengakhirkan ceritanya.

Bukannya Qais tidak sayang pada anaknya tetapi hatinya senantiasa melihat pengaturan Allah dan senantiasa merasakan setiap kejadian adalah takdir dari Allah. Ia senantiasa sabar dengan Allah, redha dengan Allah serta merasa kehambaan pada Allah. Rasa malu, hina dan takut dengan kekuasaan Allah membuat Qais tenang menghadapi kematian anak yang disebabkan kelalaian hambanya.

Hati Qais memandang kejadian itu sebagai ujian Allah ke atas dirinya. Barangkali untuk penghapusan dosa atau untuk mengangkat derajatnya di sisi Allah SWT. Kerana itu hatinya tenang. Dia (Qais) redha dengan ujian itu malah dengan ujian itu ia merasakan mendapat peluang untuk mendekatkan lagi hatinya pada Allah SWT. Sebab itu dia tidak nampak lagi kesalahan hambanya.
Bukan saja dia tidak marah bahkan merasa kasihan pada jariah yang ketakutan itu, memaksa Qais untuk membebaskan hambanya. Dia hanya nampak ketentuan Allah yang wajib diterima tanpa tanya jawab (alasan) dan tanpa 'kalau' lagi. Demikianlah rasa kehambaan yang menghias hati dan roh Qais, seorang yang cukup berakhlak terhadap Allah SWT dan terhadap manusia (hambanya).
Demikianlah rasa marah itu lahir dari perasaan 'ketuanan' yang ada dalam hati kita. Kita merasa kita yang lebih besar,  lebih mulia, lebih hebat dari orang lain. Tanpa perasaan-perasaan itu tidak mungkin kita menjadi pemarah. Kita akan berlemah lembut, memaafkan kesalahan orang dan bertimbang rasa dengan sesama manusia.

 Sesama manusia mempunyai asal yang sama. Kita datang ke dunia melalui jalan yang gelap, lubang kencing yang hina tanpa sedikitpun harta, dalam keadaan busuk, amis, bodoh, dungu, tuli, bisu, buta, lemah dan hina sekali.
Firman Allah:
Terjemahannya: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati. Moga-moga kamu bersyukur.
(An Nahl: 78)

Kemudian Allah juga mencantikkan kita dan memberi sedikit kelebihan. Kepandaian dan keistimewaan itu Allah pinjamkan sebentar saja. Tujuannya supaya kita dapat beribadah dan berbakti menurut kehendak-Nya (bersyukur). Bukan supaya kita merasa lebih mulia, lebih hebat, hingga datang perasaan-perasaan sombong, riya', bengis dan pemarah kepada orang lain yang agak kurang dari kita.

Sebaiknya  bila kita merasa mempunyai kelebihan, kita menjadi takut pada Allah. Takut kalau nikmat itu digunakan secara salah sehingga derhaka kepada Allah Taala dan berdosa pada manusia. Takut kalau nikmat itu menjadikan hati kita merasa 'tuan' sehingga timbul sifat ego yang besar,  yang akan melahirkan bermacam-macam mazmumah yang sangat dibenci oleh Allah. Firman-Nya:
Terjemahannya: Dalam hati mereka terdapat penyakit kemudian Allah tambahkan penyakit mereka.
(Al Baqarah: 10)

Kita mesti mengubati penyakit hati kita. Ertinya kita mesti membuang rasa 'ketuanan' kita iaitu dengan melakukan mujahadatunnafsi.

1. Mula-mula kita mesti rasa malu kepada Allah. Perbandingannya adalah kalau ada orang penting di rumah kita, sanggupkah kita memarahi isteri kita di depan orang itu? Tentu tidak. Terlebih lagi terhadap Allah, kerana Allah senantiasa melihat bahkan senantiasa bersama kita.
Kalau kita yakin akan hal itu tentu kita tidak akan menjadi pemarah sebab kita tahu Allah tidak suka kita menjadi pemarah. Rasa malu dan takut kepada Allah akan membuat kita senantiasa berlemah-lembut dan memaafkan kesalahan orang kepada kita.

2. Bila datang rasa hendak marah, maka katakan pada diri kita,"Ya Allah, aku tahu pemarah itu adalah hina di sisiMu. Tolonglah pelihara diriku dari kejahatan nafsu dan selamatkan aku dari api Neraka."

3. Sesudah itu kita diam. Jangan marah tetapi banyakkan zikir dan ingat kebesaran Allah. Allah Tuhan yang Maha Besar itu pun bersifat sangat pemaaf. Kalau begitu layakkah kita menjadi pemarah? Bukankah kita hamba yang hina dina?

4. Kita harus insaf bahwa setiap manusia termasuk diri kita sendiri, memiliki kelemahan dan kekurangan. Kalau hari ini orang bersalah pada kita, maka tidak mustahil bahwa satu saat nanti kita akan bersalah dengan orang lain.
Kalau kita bersalah kita tidak suka orang lain memarahi kita. Begitulah juga kalau orang lain yang bersalah dengan kita, dia tentu tidak suka kalau dimarahi. Karena itu tegurlah dengan lemah lembut dan kasih sayang.

Firman Allah:
Terjemahannya: Maka katakanlah (hai Musa dan Harun) kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat dan takut
(Thaha: 44)

Sebegitu jahat dan kufurnya Firaun terhadap Allah, namun Allah masih perintahkan kepada Nabi-Nya supaya berlemah lembut. Sebab hanya dengan lemah lembut, hati manusia menjadi lembut, insaf dan takut.

Sebaliknya kalau kita kasar bukan saja orang yang lain tidak menerima teguran kita bahkan dia akan benci dengan kekerasan kita. Di sisi Allah kekerasan kita akan tercatat. Dan di sisi Allah kita akan tercatat sebagai orang yang tidak berakhlak dan tidak berhikmah, padahal Allah memerintahkan kita supaya berhikmah:
Terjemahannya: Serulah (semua manusia) kepada Tuhanmu dengan hikmah (bijaksana) dan pengajaran yang baik dan berhujjahlah dengan mereka secara yang paling baik.
(An Nahl: 125)

3.     GILA DUNIA
Gila dunia adalah penyakit hati atau satu mazmumah yang menghalangi kita untuk mendekatkan hati dengan Allah (yakni menghalang untuk mencapai darjat kerohanian yang tinggi).
Seorang pencinta dunia adalah seorang yang hatinya dipenuhi keinginan untuk meluaskan serta memperbanyak ketinggian dan kekayaan di dunia sehingga fikirannya senantiasa bekerja untuk tujuan itu dan secara lahir ia bekerja keras untuk itu.

(Dunia ialah segala sesuatu yang tidak ada manfaatnya untuk Akhirat. Sebaliknya perkara apa saja yang boleh digunakan untuk akhirat maka  tidak lagi disebut dunia).

Lawan dari penyakit gila dunia adalah sifat zuhud yaitu hati yang tidak memiliki keinginan kepada sesuatu yang tidak bermanfaat untuk akhirat.
Firman Allah:
Terjemahannya: Itulah negara Akhirat (syurga) yang Aku jadikan (syurga itu) untuk orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian dan kerusakan di muka bumi ini.
(Al Qashash: 83)

Hati yang tidak memiliki keinginan untuk menjadi 'tuan' dan tidak pula ingin untuk melakukan kejahatan (kerosakan) di dunia, itulah hati yang selamat dan itulah hati penghuni syurga. 
Firman Allah:
Hari Qiamat (hari manusia meninggalkan dunia) adalah hari di mana harta dan anak-anak tiada memberi manfaat kecuali mereka yang datang menghadap Allah membawa hati yang selamat.
(Asy Syuara’: 88-89)

Mungkin kita bertanya,"Bagaimana saya bisa membuang keinginan kepada dunia yang indah?" Sebab kita hidup di kelilingi oleh tarikan dunia yang amat menarik dan hati kita pun sangat cinta padanya?

Pertama, ketahuilah bahwa di dunia ini ada yang diharamkan dan wajib kita jauhi. Selain itu ada  yang dihalalkan dan tidak berdosa kalau diambil asalkan tidak berlebih-lebihan atau lebih dari keperluan.

Rasulullah SAW pernah menyatakan benci kepada dunia, karena dua perkara. 
Sabda baginda:
Terjemahannya:  Halalnya akan dihisab dan haramnya disiksa (dalam Neraka).

Satu hari ketika baginda berjalan bersama sahabat-sahabat, terlihat oleh Rasulullah  seekor bangkai kambing. Baginda bertanya kepada sahabat, "Mengapa bangkai itu dibuang oleh tuannya?"
Sahabat menjawab, "Kerana ia tidak berguna lagi maka ia dibuang dan tidak dihiraukan oleh tuannya."

Maka bersabda Rasulullah SAW:
"Demi Allah yang menguasai diriku, maka dunia itu lebih rendah pada pandangan Allah daripada bangkai kambing pada pandangan tuannya."

Seterusnya baginda bersabda:
"Dunia itu terkutuk dan terkutuk pula apa-apa yang ada di dalamnya kecuali yang digunakan untuk mencari keredhaan Allah."

Kerana itu ketahuilah bahwa mengambil dunia lebih dari keperluan atau bukan untuk mencari keredhaan Allah adalah tidak sunnah hukumnya. Dunia akan menjadi hijab antara kita dengan Allah yakni akan membutakan hati dan memisahkan kita dari Allah.

Bagi orang yang menyedari hakikat itu tentu mereka tidak cinta lagi kepada dunia. Dunia yang nampaknya indah itu ternyata buruk sifatnya. Ibarat bunga hiasan plastik, rupa dan warnanya sungguh menarik hati tetapi tidak ada baunya. Atau ibarat perempuan cantik yang jahat tingkah lakunya tentu tidak ada gunanya.

Sebagai orang awam yang tidak kenal sifat dunia ini, tentu kecantikan dunia akan menawan hati kita. Tetapi bagi bijak pandai, iaitu orang-orang arif seperti Nabi dan Rasul, para muqarrobin dan solihin, mereka sangat kenal pada dunia ini, terutama tentang keburukan dan kehinaannya. Sebab itu mereka zuhud terhadapnya. Mereka mengambil sebagian dari dunia, yaitu yang tidak boleh tidak mesti diambil. Selebihnya adalah seperti najis pada mereka, sebab itu mereka membuangnya.

Tugas kita sekarang adalah mujahadah dengan nafsu gila dunia itu. Kita lawan keinginan rendah itu hingga ia tewas. Barulah keinginan kita kepada Allah dan hari Akhirat akan timbul dan menyala dalam dada kita.


Langkah-langkah yang perlu diambil antaranya:
-     Harta, wang, pakaian, makanan, kenderaan, tempat tempat
     tinggal dan lain-lain kekayaan kita yang halal, yang kita
     letakkan di bank selama ini hendaklah kita gunakan untuk
     mencari keredhaan Allah.
-   Kedudukan kita, jabatan, pangkat, nama yang masyhur,
     pengaruh dan ketinggian apa saja yang memungkinkan kita
     merasa 'tuan' di dunia ini hendaklah digunakan untuk
     mencari keredhaan Allah, baik untuk menegakkan hukum
     Allah, menggiatkan dakwah Islamiah, berlaku adil dan ikhlas
     dalam mengatur kegiatan dakwah serta membuka peluang-
    peluang untuk Islam dan umatnya.
-    Hentikan dari usaha-usaha mencari kekayaan dan ketinggian
     dunia hanya karena keindahan duniawi tetapi arahkan usaha
     itu kepada agama Allah untuk negara Akhirat yang kekal
     abadi.
-     Bagikan isi dunia yang datang pada kita untuk hamba-hamba
     Allah yang lebih memerlukannya.
-    Kosongkan hati kita dari keinginan kepada kekayaan dan
     ketinggian duniawi.
-    Mohonlah selalu hidayah dan taufik dari Allah agar kita
     menjadi seorang yang zahid yang berilmu, menolak dunia
     kerana Allah sebagaimana telah yang disunnahkan oleh
     junjungan mulia Muhammad SAW.

Sabda baginda: 
Dua rakaat solat seorang alim yang hatinya zuhud lebih baik dan lebih disukai Allah dari ibadah orang-orang abid yang dilakukan selama umur dunia kerana ibadah tanpa ilmu tiada bernilai.

Firman Allah SWT:
Terjemahannya: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia berbagai keinginan kepada wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (Syurga).

    Katakanlah, mahukah aku khabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu. Untuk orang-orang yang bertaqwa terhadap Tuhan mereka ialah Syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dan (ada pula) isteri-isteri yang disucikan serta mendapat keredhaan Allah dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.

    Mereka itu selalu berdoa, "Ya Tuhan kami sesungguhnya kami telah beriman maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa Neraka."
(Ali Imran: 14-16)

Bersabda Rasulullah SAW maksudnya:
Sesungguhnya Allah suka memberi keduniaan dengan sebab amalan Akhirat tetapi kalau amalnya khusus untuk dunia maka tidak akan diberi Akhirat.

Kitab Mengenal Diri Melalui Rasa Hati Bab 4 - Cara-cara Mengamalkan Amalan batin



SETELAH kita mengetahui erti dan maksud amalan batin (hakikat) maka marilah kita mempelajari cara-cara mendapatkan hakikat. Mudah-mudahan dengan mengetahui hal tersebut kita dapat beramal dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya.
Untuk mendapatkan hakikat kita mesti melatih roh kita supaya taat pada Allah. Jasad batin (roh) kita waktu masih berada di alam roh, yakni sebelum dimasukkan ke dalam sangkarnya (jasad lahir) memang sudah mengenal Allah, seperti dalam firman-Nya:
Terjemahannya: (Allah bertanya pada roh) "Bukankah Aku Tuhanmu?". Roh menjawab: Ya, kami akui Engkaulah Tuhan kami.
(Al ‘Araaf: 172)

Sebelum masuk ke badan kita roh sudah mengenal Allah, bahkan sudah menyaksikan ketuhanan Allah dan sudah mengaku kehambaan pada Allah. Tetapi ketika dilahirkan ke dunia, roh dikurung dalam jasad lahir bersama-sama musuhnya nafsu dan syaitan. Tentang nafsu, Allah SWT berfirman:
Terjemahannya: Sesungguhnya nafsu itu sangat mengajak kepada kejahatan.
(Yusuf: 53)


Dan Nabi pula bersabda:
Terjemahannya: Sejahat-jahat musuhmu ialah nafsumu yang terletak di antara dua lambungmu.
(Riwayat Al Baihaqi)

Sedangkan tentang syaitan, Allah berfirman:
Terjemahannya: Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.
(Yusuf: 5)

Berhadapan dengan dua musuh batin itu, roh menjadi lemah (rosak atau hilang rasa kehambaan). Walaupun dia sudah mengenal Allah SWT, tahu wujud dan Maha Perkasanya Allah, tetapi roh tidak boleh mentaati perintah Allah. Pujukan serta tarikan syaitan dan hawa nafsu lebih kuat dan berpengaruh.


Roh sudah derhaka pada Tuhan, seakan-akan sudah tidak kenal Tuhan. Roh terbelenggu dalam jasad, dikongkong oleh nafsu dan syaitan itu. Roh sudah tidak takut dan tidak malu lagi pada Tuhan. Roh tidak rindu dan tidak cinta lagi pada Tuhan, tidak merasa hina dan rendah diri serta bersifat ketuanan. Roh sudah sombong, keras, hasad dengki, tamak, pendendam, bakhil, gila dunia, kuat makan, banyak tidur dan lain-lain, menyerupai kehendak nafsu yang terkutuk itu. Roh  sudah dikuasai oleh jasad lahir yang beku (bersifat seperti tanah kerana dicipta dari tanah).


Laksana burung, roh terkurung dalam sangkar. Kerana sangkar itu kuat maka burung terpaksa terkurung di dalam sangkar yang sempit dan menyiksa. Sebaliknya kalau burung lebih kuat dari sangkar, burung akan dapat memecahkan sangkar dan dapat terbang bebas ke seluruh alam. Demikianlah kalau roh kita lebih kuat dari nafsu dan syaitan, roh dapat menundukkan nafsu dan syaitan. Saat itu bukan jasad lagi yang menguasai roh tetapi roh yang menguasai jasad lahir. Roh akan bebas melakukan kehendaknya mentaati perintah Allah SWT. Roh akan terbang bebas kemana-mana dan dapat merasakan perkara-perkara gaib.


Itulah yang terjadi pada roh para Nabi, Rasul dan wali-wali Allah. Roh tidak lagi dibelenggu dalam jasad lahir oleh nafsu dan syaitan tetapi sudah bebas, sudah dapat menundukkan nafsu dan syaitan di bawah kehendaknya. Sudah melihat alam rohani, alam malakut dan alam jin. Jasad lahir tidak bererti apa-apa lagi kerana sudah dikuasai oleh roh untuk menyembah Allah sepanjang masa.


Lain halnya dengan jasad lahir, roh bukan dibuat dari tanah tetapi dari nur (cahaya) yang  serupa dengan malaikat dan jin. Sebab itu roh yang sudah bebas dari kungkungan nafsu dan syaitan akan bergerak bebas seperti cahaya, tembus di setiap ruang dan bidang. Pandangan roh adalah pandangan tembus yang dapat membaca hati dan batin manusia. Kerana itu bersabda Rasulullah SAW:


Terjemahannya: Takutilah Firasat (pandang tembus) orang Mukmin kerana ia memandang dengan cahaya Allah.
(Riwayat At Tarmizi)

Itulah rahsia diri kita yang mesti kita sedari. Bila kita sedar hakikat kejadian kita itu, barulah akan terjadi apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW: 
Terjemahannya: Barangsiapa yang kenal dirinya, maka dia pasti kenal Tuhannya. 

Untuk meningkatkan diri mencapai darjat yang mulia itu, kita mesti berusaha bersungguh-sungguh, berjuang dan berkorban. Siapa saja dapat berhasil kalau memenuhi syarat dan cara yang telah ditetapkan iaitu dengan mendidik roh kita kembali untuk mengenal dan mencintai Allah SWT. Caranya adalah mujahadah (berperang) dengan nafsu dan syaitan. Allah berfirman:

Terjemahannya: Wahai orang-orang yang beriman, sabarlah kamu (dalam menegakkan agama Allah) dan sabarlah kamu dalam perjuangan menghadapi musuh (hawa nafsu) dan tetap teguhlah kamu (dalam barisan perjuangan) dan bertaqwalah kamu kepada Allah moga-moga kamu mendapat kemenangan.
(Ali Imran: 200)

Nafsu yang mesti diperangi di antaranya adalah sifat mementingkan diri sendiri, tamak, gila dunia, kedudukan dan kehormatan diri. Itu semua adalah penghalang yang cukup kuat untuk kita mendapatkan hakikat (amalan batin), juga sebagai hijab yang menghalang kita untuk mendapat sifat kerohanian sebab kita merasakan diri sebagai tuan.


Supaya kita bertambah yakin, maka ada satu kisah pengalaman seorang wali bernama Yazid Bustami:
Satu hari seorang temannya datang pada Yazid Bustami  untuk mengadu, "Saya telah berpuasa setiap hari dan melakukan solat setiap malam selama 30 tahun tetapi tidak juga memperoleh keringanan batin seperti yang engkau ceritakan."


Yazid Bustami pun memotong kata-kata temannya,"Kalaupun engkau melakukan solat dan berpuasa selama 300 tahun, engkau pasti tidak dapat menemukannya."


"Kenapa?" Tanya temannya.
Jawab Yazid, "Sifatmu yang mementingkan diri sendiri dan serakah  menjadi penghalang dan hijab antara engkau dengan Allah."


Teman itu lantas bertanya, "Katakanlah padaku apakah ubatnya?"
"Ada ubatnya," kata Yazid, "Tetapi engkau tidak akan sanggup melakukannya."


Setelah dipaksa oleh temannya Yazid pun berkata:
"Pergilah ke tukang gunting rambut yang terdekat dan guntinglah janggutmu. Bukalah bajumu kecuali ikat pinggang yang melingkari pinggangmu. Ambillah karung yang biasa diisi makanan kuda, isilah buah kenari dan gantungkanlah karung itu di lehermu. Kemudian pergilah ke pasar sambil menangis, teriakkanlah seperti ini, "setiap anak-anak yang memukul batang leherku akan mendapat sebiji kenari." Selanjutnya pergilah ke pengadilan, hakim dan ahli hukum, katakanlah kepada mereka,"Selamatkanlah jiwaku."


Teman itu berkata, "Sungguh aku tidak sanggup berbuat begitu. Berilah cara pengubatan yang lain."


Yazid berkata, "Yang aku ceritakan tadi adalah cara pengubatan pendahuluan yang sangat perlu dilakukan untuk mengubati penyakitmu. Tapi sebagaimana yang aku katakan tadi, engkau tidak dapat disembuhkan lagi."

Yazid Bustami seorang wali Alah yang mukasyafah dapat membaca hati (rahsia batin) temannya yang berjuang untuk nama, pangkat dan sanjungan manusia. Sebab itu Beliau perintahkan sahabat itu bermujahadah dengan nafsunya itu dengan cara menghina diri di pasar dan mengaku jahat di hadapan hakim. Perintah itu memang berat, tetapi bagi Yazid tidak ada jalan lain lagi. Itulah cara majahadatunnafsi yang mesti dilakukan.


Begitulah pentingnya mujahadatunnafsi untuk siapa saja yang ingin meningkatkan kerohaniannya. Selagi nafsu tidak dapat dikalahkan, selama itulah roh tidak akan suci dan bersih. Kalau roh tidak bersih, Allah tidak akan memasukkan taufik dan hidayah ke dalam hati. Sebab benda yang berharga akan Allah letakkan di tempat yang mulia.


Roh seperti wadah. Kalau kotor, maka taufik dan hidayah tidak akan masuk. Kalau tidak ada taufik dan hidayah, roh akan terhijab dan kita tidak akan dapat meningkatkan kerohanian (amalan batin) ke taraf kerohanian yang tinggi. Dan tanpa kerohanian, hati (roh) tidak akan selamat dari penyakit-penyakit mazmumah. Firman Allah:


Terjemahannya: Hari Qiamat ialah hari di mana anak dan harta tidak dapat memberi manfaat kecuali mereka yang mengadap Allah membawa hati yang selamat sejahtera.
(Asy-Syu’ara: 88-89)

Amalan lahir seperti solat, puasa, walaupun dilakukan sepanjang hari dan solat tahajjud setiap malam (seperti cerita di atas), berjihad, berkorban, belajar, menutup aurat dan lain-lain, tidak dapat menjamin bahwa hati sudah selamat. Yang menjamin selamatnya hati ialah mujahadatunnafsi. Itulah amalan batin yang wajib kita lakukan.


Suatu hari di dalam kuliahnya, seorang ulama sufi, Bisyulhafi bercerita kepada muridnya bahwa, mempunyai isteri yang banyak itu tidak menolak zuhud. Salah seorang muridnya yang mengetahui bahwa gurunya tidak pernah berkahwin, lalu bertanya,
"Tuan, kalau begitu kenapa tuan tidak berkahwin? Bukankah menyalahi sunnah?"


Bisyulhafi pun menjawab, "Aku tidak sempat melakukan sunnah itu kerana sibuk. Sibuk melakukan perkara yang lebih fardhu, yang belum mencapai tujuan iaitu mujahadatunnafsi."


Begitulah pandangan ahli sufi tentang pentingnya mujahadatunnafsi. Mereka tidak pernah berhenti memperhatikan perjalanan nafsu dan syaitan, sehingga nafsu dan syaitan itu selalu dapat diperangi dan dikalahkan untuk menghambakan diri pada Allah SWT.


Kalau kita ingin berjumpa Allah dengan selamat, jalan itulah yang mesti ditempuh. Tanpa menempuh jalan itu, kita akan dapat juga berjumpa dengan Allah (kerana kita semua akan mati) tetapi dalam keadan susah-payah dan hina-dina, wal ‘iyazubillah!


Jalan keselamatan itu adalah melakukan mujahadatunnafsi. Kita mesti bermujahadah atas semua mazmumah yang setiap saat selalu menyerang kita. Mazmumah atau penyakit hati yang dihidupkan oleh nafsu itu adalah semua sifat batin yang bertentangan dengan amalan batin. Penyakit hati saya bahagikan kepada dua iaitu:


1.     Penyakit hati terhadap Allah.
2.     Penyakit hati terhadap manusia.


Penyakit hati terhadap Allah, diantaranya:
-     Tidak khusyuk beribadah
-     Lalai dari mengingat Allah
-     Tidak yakin dengan Allah
-    Tidak ikhlas dengan Allah
-     Tidak takut pada ancaman Allah
-     Tidak harap pada rahmat Allah
-     Tidak redha akan takdir Allah
-    Tidak puas dengan pemberian Allah
-    Tidak sabar atas ujian Allah
-    Tidak syukur atas nikmat Allah
-    Tidak terasa di awasi Allah
-    Tidak terasa kehebatan Allah
-    Tidak rindu dan cinta dengan Allah
-    Tidak tawakal kepada Allah
-    Tidak rindu pada syurga dan tidak takut pada neraka
-    Cinta dunia, membuang waktu dengan sia-sia.
-    Penakut (takut pada selain Allah)
-    Ujub
-    Riya'
-     Gila pujian dan kemasyhuran.

Sedangkan penyakit hati (mazmumah) terhadap manusia diantaranya:
-    Benci membenci.
-    Rasa gembira kalau dia mendapat celaka dan rasa  sedih kalau dia berjaya
-    Mendoakan kejatuhannya
-    Tidak mahu meminta maaf dan tidak memaafkan kesalahannya.
-    Hasad dengki
-    Dendam
-    Bakhil
-    Buruk sangka.
-    Tidak bertimbang rasa.
-    Tidak bertoleransi.
-    Tidak tolong-menolong.
-    Tamak
-    Keras hati
-    Mementingkan diri sendiri.
-    Sombong.
-    Tidak sabar dengan ulah manusia.
-    Memandang hina kepada seseorang
-    Riya'
-    Ujub
-    Merasa diri bersih.

Terhadap semua penyakit itu kita wajib melakukan mujahadatunnafsi. Firman Allah: 


Terjemahannya: Wahai orang-orang beriman, sabarlah kamu (dalam menegakkan agama Allah) dan sabarlah kamu dalam perjuangan menghadapi musuh (hawa nafsu) dan tetap teguhlah kamu (dalam barisan perjuangan) dan bertaqwalah kamu kepada Allah moga-moga kamu mendapat kemenangan.
(Ali Imran: 200)

Untuk mujahadah melawan penyakit hati (mazmumah) dengan Allah, langkah-langkahnya ialah: memperbanyak ibadah-ibadah hamblumminallah seperti solat sunat (dengan faham, khusyuk dan istiqamah), zikrullah, wirid dan tahlil, membaca Al Quran, berdoa, tafakur dan sebagainya yang akan diuraikan sebagai berikut:


1.     SOLAT
Hal penting yang perlu diambil perhatian saat menunaikan solat adalah khusyuk. Itu didasarkan pada apa yang diingatkan oleh Rasulullah SAW kepada Abu Zar:
"Ya Abu Zar, dua rakaat solat yang dilakukan dengan khusyuk itu lebih baik dari solat sepanjang malam tetapi dengan hati yang lalai."

Solat yang khusyuk dapat diertikan sebagai solat yang sempurna lahir dan batin. Ketika jasad menghadap Allah, hati juga tunduk menyembah Allah. Ketika mulut menyebut Allahu Akbar, hati juga mengaku Allah Maha Besar. Ketika jasad sujud menghina diri, hati juga bersujud menghina diri. Dan ketika mulut memuji mengagungkan Allah dan berdoa pada Allah, hati juga memuja, merintih dan tenggelam dalam penyerahan pada Allah.


Telah bertanya Jibril pada Nabi SAW:
Terjemahannya: Khabarkan padaku apa itu Ihsan? Dijawab oleh Rasulullah, Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia senantiasa melihat engkau.


Kalaulah solat itu dapat dihayati, sebagaimana yang dianjurkan di atas, pengaruhnya akan cukup besar pada diri dan jiwa manusia. Iman akan bertambah seiring dengan bertambahnya rasa tawakal, syukur, redha, sabar dan lain-lain sifat mahmudah.
Cukuplah sedikit rakaat solatnya asalkan khusyuk daripada banyak rakaat solat tetapi lalai. Sebab perkara yang menjadi tujuan ibadah ialah membuahkan iman dan akhlak.


Walaupun banyak rakaatnya tetapi dikerjakan dengan hati yang lalai, maka bukan saja iman dan akhlak tidak bertambah, bahkan ibadah akan menjadi sia-sia. Mungkin Allah akan memberikan pahala juga, tetapi apakah kita akan bangga kalau perniagaan yang kita buat hanya mengembalikan modal, tidak mendapat untung sama sekali? Solat yang lalai tidak akan menambah iman dan menguatkan jiwa sebaliknya hanya akan membuat badan menjadi letih.
Di Padang Mahsyar nanti, Allah akan memanggil manusia yang solat untuk diperiksa solatnya. Waktu itu solat akan dikategorikan pada lima tingkat:

1.  Solat orang jahil.
2.  Solat orang lalai.
3.  Solat orang yang setengah lalai setengah khusyuk.
4.  Solat orang khusyuk.
5.  Solat Nabi-Nabi dan Rasul.


Solat orang jahil ialah solat yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki ilmu tentang solat. Dia tidak tahu tentang rukun dan sunat dalam solat serta solat tanpa peraturan yang telah ditetapkan syariat. Kerana itu sejak awal solatnya tidak diterima bahkan ia berdosa kerana tidak belajar tentang ilmu solat.


Solat orang lalai ialah solat yang walaupun sempurna lahirnya tetapi hatinya sama sekali tidak ikut dalam solat. Bermacam-macam hal yang diingat sewaktu berdiri, rukuk, sujud dan duduk dalam solat itu. Dari awal hingga akhir solatnya, sedikit pun tidak ingat Allah. Solat seperti itu akan dianggap sebagai dosa bukannya mendapat pahala. Allah berfirman:


Terjemahannya: Neraka Wail bagi orang yang solat. Yang mereka itu lalai dalam solatnya.
(Al Maa’un: 45)

Solat yang ketiga ialah solat yang di dalamnya terjadi tarik-menarik dengan syaitan. Ertinya orang itu selalu merasakan  bila syaitan mulai membuat dirinya lalai dari mengingat Allah. Cepat-cepat dikembalikan ingatannya pada Allah. Begitulah seterusnya terjadi hingga akhir solat. Ada waktu lalai dan ada waktu khusyuk. Solat seperti itu tidak berdosa dan tidak juga berpahala, tetapi dimaafkan oleh Allah.


Solat orang khusyuk ialah solat orang yang terus mengingat Allah di sepanjang solatnya serta memahami apa yang dibacanya dalam solat. Orang itu dapat merasakan bahwa dia sedang mengadap Allah. Perhatiannya hanya kepada Allah. Bagi orang tersebut, solatnya bererti menunaikan janji kepada Allah, memohon ampun kepada Allah, mengharap kepada Allah, menghina diri kepada Allah dan mengagungkan Allah.


Solat seperti itulah yang akan menghapuskan dosa, memperbaharui ikrar (yang pernah diucapkan di alam roh), menguatkan iman, mendekatkan hati kita kepada Allah, meningkatkan taqwa dan mengelakkan diri dari perbuatan keji dan mungkar. Itulah keuntungan di dunia. Dan di akhirat Allah akan menganugerahkan pahala syurga yang penuh kenikmatan.


Solat yang kelima ialah tingkat tertinggi iaitu solat para Nabi dan Rasul. Mereka itu khusyuknya luar biasa. Mereka benar-benar melihat Allah dengan mata hati. Dalam solat, mereka seakan-akan sedang bercakap-cakap dengan Allah. Sebab itu mereka tidak pernah jemu melakukan solat. Sebagaimana indahnya perasaaan hati orang yang dapat bertemu kekasihnya, begitulah indahnya perasaan mereka itu dalam solat.


Salah satu perkara utama yang disukai oleh Rasulullah SAW adalah shalat. "Solat penyejuk mataku," sabda Rasulullah. Syurga yang akan Allah anugerahkan pada mereka adalah syurga tertinggi yang tidak dapat dicapai oleh orang-orang awam seperti kita.


Jadi tugas kita sekarang ialah memperbaiki solat kita sekaligus memperbanyakkannya. Untuk itu sekali lagi kita mesti mujahadah. Hanya dengan mujahadah kita dapat meningkatkan iman dan memperbanyak amal soleh. Serta hanya dengan iman dan amal soleh saja  kita akan dapat membangun dan menghias rumah kita di akhirat nanti.


2.     ZIKRULLAH, WIRID DAN TAHLIL
Semua ibadah zikrullah kalau dikerjakan dengan betul akan meresap ke hati dan menghasilkan iman, ketenangan, serta kebahagiaan di hati. Firman Allah:
Terjemahannya: Ketahuilah bahwa dengan mengingat  Allah itu, hati akan tenang.
(Ar Ra’d: 28)

Syaratnya ibadah itu mesti dilakukan dengan beradab, memahami dan  menghayati maksudnya. 


Misalnya kita menyebut Subhanallah, hati mesti diberitahu bahwa Allah Maha Suci dari kekurangan yang disifatkan pada-Nya. Bila menyebut Alhamdulilah, hati mesti merasakan bahwa segala puji hanya bagi Allah. Segala kebaikan, nikmat dan rahmat yang memenuhi langit dan bumi adalah kepunyaan Allah. Hati mesti merenungkan segala pemberian Allah pada kita sewaktu menyebut pujian itu supaya terasa hubungan  antara kita dengan Allah. Begitu juga ketika menyebut Allahu Akbar, hati mesti sedar bahawa Allah Maha Besar, Maha Pencipta, Maha Perkasa dan Maha Mengatur seluruh langit dan bumi. Rasakan betapa kerdilnya kita di bawah kekuasaan Allah yang hebat itu.


3.     MEMBACA AL QURAN
Al Quran adalah Kitabullah yang diturunkan khusus untuk kita manusia. Membacanya adalah ibadah, memahaminya adalah ubat, mengikutinya adalah petunjuk dan menghayatinya menambah iman dan taqwa. Maka orang yang menganggap remeh dan ringan terhadap Al Quran akan menderita kerugian besar.


Bertanya Allah dalam surah Al Waaqi’ah:
Terjemahannya: Sesungguhnya Al Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia. Terdapat dalam kitab yang terpelihara (lauhul mahfuz). Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al Quran ini? Kamu (mengganti) rezeki (Allah) dengan mendustakan Allah.
(Al Waaqi’ah: 77-82)


Begitulah umat Islam pada hari ini. Mereka menyamakan kitab mulia itu dengan buku ciptaan manusia. Kadangkala, Al Quran dipermainkan dengan tujuan duniawi semata-mata. Alangkah sedihnya.


Mari kita kembali menjunjung pusaka mulia, warisan yang betul-betul ditujukan untuk kita. Mari kita agungkan dengan seagung-agungnya dan kita perjuangkan sungguh-sungguh. Tindakan seperti itulah yang sesuai dengan kemuliaan dan kehebatan yang ada pada Al Quran.
Adab-adab yang perlu dilakukan ketika kita membaca Kitab mulia ini diantaranya adalah:
-     Berwudhu'.
-     Tempat duduk kita bersih dan suci seperti mesjid, surau dan
         lain-lain.
-     Menghadap kiblat.
-     Membaca ta’awwudz "a'udzubillahi minas syaithon nirrajiim"
         sebelum memulai membaca Al Quran.
-     Bacaan dilakukan dengan tertib yakni dengan jelas dan
         perlahan-lahan.
-    Memahami dan menghayati bacaan dengan melakukan apa
         yang dikehendaki oleh ayat yang dibaca. Misalnya kita
         membaca ayat tasbih, maka maka kita berdoa dan bertasbih.
-    Bila membaca ayat doa dan istighfar, maka kita berdoa dan
         meminta ampun.
-    Bila membaca ayat yang menceritakan azab Neraka, maka kita
          berlindung dari Neraka Allah dengan doa "a'udzubillahi min
         dzalika"
-    Bila membaca ayat yang menceritakan nikmat syurga, maka            
kita berdoa "allahumma arzuqna" semoga Allah juga
         menganugerahkannya kepada kita.
-     Bila membaca ayat tentang orang kafir yang mensyirikkan
         Allah, maka kita segera menolak dengan ucapan
         "Subhanallahi ‘amma yasifuun", dan begitulah seterusnya.
-    Ucapan-ucapan itu dapat diucapkan di mulut atau di hati
         tetapi yang penting adalah kesungguhan dan keikhlasan kita
         dalam menyebutnya (mengucapkannya) .
-     Bacaan dibuat dengan suara dan nada yang merdu serta enak didengar.
-     Jangan memutuskan bacaan hanya karena hendak makan atau            
bercakap-cakap. Berhentilah di tempat-tempat yang telah
ditentukan. Sebaiknya diakhiri dengan doa.

Sesungguhnya kalau kandungan Al Quran itu selalu kita perhatikan dengan kefahaman dan keimanan, Insya Allah hati kita akan terdidik, keimanan dan ketaqwaan kita akan bertambah.


4.     BERDOA
Berdoa adalah ibadah. Selain itu berdoa juga merupakan sumber iman dan tempat menggantungkan diri kepada Allah. Orang-orang yang tidak mahu berdoa kepada Allah sebetulnya adalah orang  yang sombong dengan Allah. Bukankah terlalu banyak keperluan, keinginan dan harapan kita yang hanya mungkin tercapai dengan pertolongan Allah?


Kalau begitu, marilah kita berdoa. Kita ceritakan semua masalah pada Allah dan kita gantungkan harapan yang penuh kepada-Nya. Berdoalah di tempat-tempat dan waktu-waktu yang makbul dengan hati yang penuh khusyuk, harap, yakin serta sabar. Insya Allah doa akan menjadi sumber ketenangan dan kebahagiaan.


Sudah menjadi fitrah manusia, bila berada dalam kesusahan ia akan mengalami ketegangan fikiran dan perasaan. Satu-satunya cara mengubati penyakit itu adalah dengan mengadu, mengharap dan menyandarkan diri kepada suatu kuasa yang boleh menolongnya menyelesaikan masalah itu. Kerana itu, agama Islam mengajar kita untuk berdoa. Sebab hanya Allahlah kuasa mutlak yang layak dan mampu berbuat begitu.


Faedah berdoa adalah jiwa yang lemah akan menjadi kuat, hati yang susah menjadi senang dan perasaan yang gelisah akan menjadi tenang.


5. TAFAKUR
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:
Terjemahannya: Berfikir satu saat itu lebih baik daripada ibadah setahun.

Anjuran untuk berfikir itu bertujuan untuk menyedarkan manusia tentang sifat wujud Allah dan Maha Kuasanya Allah. Perkara-perkara yang sebaiknya difikirkan adalah tentang keberadaan diri kita di hadapan Allah. Allah memulai penciptaan kita hanya dari setitik air mani. Harga setitik air mani lebih rendah daripada harga sebiji padi, kalau saja  Allah tidak menanamnya di dalam rahim perempuan.


Juga tidak akan berharga kalau Allah tidak memelihara dan menghidupkannya dengan memberi segala keperluan untuk tinggal di dalam rahim. Belum juga berharga sekiranya Allah tidak memudahkan baginya keluar ke atas bumi. Bahkan belum juga berharga kalau Allah tidak membesarkan serta memberi akal fikiran.


Dengan akal yang Allah kurniakan, manusia dapat menjadi raja, menteri, anggota kabinet, tentara, ahli fikir, profesor, doktor, jurutera, pensyarah, guru dan lain-lain yang pandai, kuat, kaya dan hidup secara bebas. Dengan akal fikiran, manusia telah dapat meratakan gunung, membelah angkasa, menyelami lautan dan memperkosa bumi sekehendaknya. Tetapi tidak selamanya begitu. Kita tidak akan boleh selamanya berbuat sekehendaknya atau memperoleh apa yang kita inginkan.


Kita akan mengalami kematian. Bagaimana kita dapat menghalangi datangnya kematian itu? Tidak mungkin. Seperti halnya kita tidak mungkin mendatangkan diri kita ke dunia ini. Firman Allah dalam Al Quran:
Terjemahannya: Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah kemudian Dia menjadikan kamu sesudah lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menetapkan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Perkasa.
(Ar Rum: 54)

Sesudah mati, Allah berjanji untuk menghidupkan dan membangkitkan kita kembali di hari Qiamat. Apakah alasan kita untuk tidak percaya pada janji Allah itu? Siapakah diri kita yang berani menolak kedatangannya?
Firman Allah SWT:
Terjemahannya: Tidaklah susah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) melainkan hanya seperti (mencipta dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
(Luqman: 28)

Mari kita fikirkan juga nikmat-nikmat Allah yang kita terima sekarang ini. Mata, telinga, kaki, tangan dan semua anggota tubuh kita sangat penting untuk keperluan hidup. Allah kurniakan kepada kita tanpa meminta bayaran satu sen pun dari kita. Padahal harga sepasang kaki palsu sudah beribu-ribu begitu juga dengan gigi palsu. Apalagi mata, telinga, hati, lidah dan akal yang Allah kurniakan, tentu tidak akan ternilai harganya.


Dengan apa kita akan membalas pemberian yang begitu besar? Renungkanlah apakah kita sudah berterimakasih kepada Allah? Sudahkah kita laksanakan suruhan-Nya? Sudahkah kita berhenti melakukan hal-hal yang dilarang-Nya? Sudah cukupkah amal bakti kita sebagai hamba untuk membalas kemurahan dan kasih sayang Allah yang telah memelihara kita?


Pernah diceritakan bahwa telah meninggal seorang abid (ahli ibadah). Lalu Allah memanggilnya untuk diberitahu bahwa dia akan dimasukkan ke syurga kerana kemurahan dan rahmat Allah kepadanya. Mendengar hal itu, si abid merasa tidak puas kerana ia masuk ke syurga melalui belas kasihan dari Allah sedangkan di dunia dia begitu kuat beribadah. Si abid lalu memohon dimasukkan ke syurga yang setimpal dengan amal ibadahnya yang banyak itu.
Allah SWT memerintahkan malaikat menghitung dan menilai ibadah si abid tersebut. Setelah selesai, Allah mengumumkan bahwa ibadah-ibadah yang telah dibuat oleh si abid itu tidak cukup hanya untuk membayar harga sebelah matanya apalagi untuk mendapatkan syurga? Si abid pun tersipu-sipu lalu memohon agar diberi peluang untuk masuk ke syurga.


Demikianlah satu contoh yang menunjukkan bahwa nilai amal bakti kita masih belum sebanding dengan pemberian Allah pada kita. Meskipun setiap detik dari umur kita, kita gunakan untuk menghambakan diri kepada Allah, itu pun belum memadai untuk menandingi nikmat dari Allah. Apalagi kalau kita sombong, ingkar dan derhaka kepada Allah tentu sangat setimpal bila Allah lemparkan kita ke dalam api neraka dan tersiksa untuk selama-lamanya.


Lihat juga kejadian padi yang kita masak menjadi nasi. Dapatkah batang padi itu tumbuh dengan sendirinya kalau Allah tidak menurunkan hujan dan kalau Allah tidak menggemburkan tanah supaya biji yang di dalam tanah itu dapat menembus naik untuk mendapatkan cahaya matahari? Dapatkah manusia membuat air? Dapatkah manusia melubangi tanah dengan sehalus-halusnya hingga akar batang itu dapat menjalar mencari makanan dan minumannya? Manusia menanam, tetapi siapa yang menumbuhkannya?


Sesudah berfikir dan membuat kesimpulan, sudah selayaknya hati kita terbuka, nampak kewujudan, kemurahan dan kekuasaan Allah SWT. Seharusnya hati akan menyedarkan akal tentang perlunya menyembah Allah. Hati selanjutnya akan memerintahkan kaki, tangan dan seluruh anggota lahir menunaikan perintah Allah dan berhenti dari mengerjakan larangan-Nya. Kalau tidak terjadi seperti itu, maka  selayaknya kita menangis, kerana hati yang buta lebih parah dari akal yang buta.


Kemudian hadapkan muka kita ke langit. Lihatlah matahari yang terbit dan terbenam, memberi panas, membuat perbezaan waktu dan pergantian musim. Bulan yang kecil dan besar, membuat malam kadang-kadang gelap dan kadang-kadang terang, membuat air laut pasang dan surut. Lihatlah bintang-bintang yang berkerlipan menghiasi langit hingga berseri-seri.
Lihatlah semua itu dan ingatlah Allah. Tanamkan dalam hati betapa besar kuasa-Nya dan pemurah-Nya. Dengan begitu mudah-mudahan hati kita menjadi lembut dan tunduk untuk menyembah dan mengabdikan diri kepada Allah.


Bersabda Rasulullah SAW maksudnya:
"Siapa yang memandang ke langit, melihat bulan dan bintang kemudian terasa betapa kuasanya Allah, maka Allah akan mengampunkan dosanya sebanyak jumlah bintang-bintang itu."

Seseorang yang melihat alam kemudian berfikir tentang Allah, lalu terasa kehebatan Allah hingga hatinya lembut dan tunduk menyembah Allah dengan sedar dan khusyuk, itulah manusia yang sempurna.


Dia menyedari bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan Allah. Segala sesuatu yang dimilikinya merupakan pemberian Allah. Kerana itu ia ingin menyerahkan kembali segala pemberian Allah itu untuk beribadah kepada Allah. Hasilnya dia akan berbahagia di dunia dan akhirat.


Di dalam Al Quran Allah berulang kali menyuruh manusia untuk berfikir serta menggunakan akal yang telah diberikan untuk menyaksikan wujud dan perkasanya Allah. 
Firman-Nya:
Terjemahannya: Tidakkah kamu memperhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan (untuk kepentinganmu) apa yang di langit dan di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan sebahagian manusia masih ada yang membantah tentang keesaan Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan kitab yang memberi penerangan.
(Luqman: 20)

Terjemahannya: Dan di antara kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikannya di antara kamu kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu sebagai bahan renungan, bagi kaum yang berfikir.
(Ar-Rum: 21)

Terjemahannya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak (menguasai bumi).
(Ar Rum: 20)


Terjemahannya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah penciptaan langit dan bumi dan begitu juga berlain-lainan bahasa dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.
(Ar-Rum: 22)

Terjemahannya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari kurnia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.
(Ar-Rum: 23)


Terjemahannya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan dan Dia menurunkan air dari langit lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.
(Ar-Rum: 24)


Terjemahannya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah terbinanya langit dan bumi dengan perintah-Nya. Kemudian apabila Dia memanggilmu dengan sekali panggilan dari bumi, ketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).
(Ar-Rum: 25)


Satu hal lagi yang perlu difikirkan adalah tentang dosa kita kepada Allah dan sesama manusia. Berapa banyak dosa kita kepada Allah dan sesama manusia? Selamatkah kita dari siksaan dan kemurkaan Allah di dunia dan di Akhirat? Mampukah kita berhadapan dengan Munkar dan Nakir di dalam kubur nanti? Sanggupkah kita menghadapi panasnya api Neraka? Renungkan dan fikirkanlah selalu. Insya Allah renungan itu akan melembutkan hati. 


Setelah itu tanamkan keyakinan yang mendalam bahwa kematian itu benar, masuk ke liang kubur itu benar, pertanyaan Munkar dan Nakir itu pun akan kita hadapi. Melintasi Siratal Mustaqim itu benar, pembalasan siksa Neraka dan nikmat Syurga adalah kebenaran yang akan terjadi. Semua itu pasti terjadi tanpa keraguan lagi.


Sekiranya peringatan itu diulang-ulang setiap hari pada hati kita, maka insya-Allah iman yang kuat akan masuk ke dalam hati kita, sehingga tidak mudah digoyangkan walaupun dengan angin taufan yang kuat dan dahsyat.


Usaha lain yang sebaiknya dilakukan untuk mendapatkan iman adalah berpuasa sunat, berjuang, berjihad, bersedekah, menziarahi orang sakit atau jenazah dan lain-lain. Kalau amalan-amalan itu dilakukan sesuai dengan adab dan tujuan yang dianjurkan syariat, semuanya akan menambah iman.
Perlu diingatkan pula bahawa setiap dosa baik kecil maupun besar akan meruntuhkan dan membinasakan iman.
Rasulullah SAW bersabda:
Terjemahannya: Bukanlah seorang yang berzina ketika berzina seorang mukmin.
(Riwayat Al Bukhari dan Muslim)

Ertinya bila seseorang itu sedang berzina maka imannya akan hilang dan rosak. Jadi bagi mereka yang sangat ingin  memelihara dan meningkatkan imannya, janganlah melakukan dosa kecil ataupun besar. Kalau tidak sengaja membuat dosa, maka cepat-cepat istighfar, menyesal dan taubat.
Iman juga boleh turun setelah naik atau boleh naik setelah turun. Itulah sifat iman kita iaitu iman ilmu. Sebab itu supaya tidak mengalami penurunan, iman mesti selalu dipupuk dengan cara-cara yang telah diuraikan di atas. Siapa yang rajin, maka ia akan selamat. Sebaliknya siapa yang lalai akan menerima akibatnya.


Saya tegaskan bahwa ibadah-ibadah di atas mesti dilakukan dengan khusyuk dan tawadhuk. Kalau tidak, ibadah itu tidak akan bererti apa-apa. Perbandingannya seperti orang yang lapar kemudian mengambil nasi hanya untuk dipermainkan bukan untuk disuapkan ke mulut. Apakah laparnya akan hilang?


Begitulah ibadah, kalau tidak dihayati, maka jiwa tidak akan memperoleh apa-apa. Lebih baik tidak solat sunat kalau dilakukan dengan tergopoh-gopoh. Selain tidak beradab dengan Allah, solat itu tidak akan berkesan pada hati kita.


Dengan ibadah-ibadah yang khusyuk kita akan membiasakan hati untuk:
-    Membesarkan Allah,
-    Mengenal Allah,
-    Menghina diri dan malu dengan Allah,
-    Takut ancaman Allah dan harap pada nikmat Allah,
-    Terasa diawasi Allah,
-    Terasa gentar dengan kehebatan Allah di samping rasa cinta kepada-Nya,

Bila perasaan-perasaan seperti itu sudah tertanam di dalam hati, dengan sendirinya hati kita akan melakukan amal soleh, diantaranya:


1. Bila kita menerima nasib buruk, kita akan redha sebab kita yakin Allah yang telah mentakdirkannya. Selain itu  Allah cukup adil dan pengasih kepada makhluk-Nya. Setiap takdir-Nya akan membawa kebaikan, bukan untuk menganiaya dan menyiksa kita. Lagi pula bila dibandingkan nasib buruk itu hanya sedikit sedangkan nikmat-nikmat lain tidak terhitung banyaknya.


2. Bila datang ujian, kita akan sabar. Allah menguji kita atas dua maksud:


a. Untuk menghapuskan dosa
Sebagai manusia kita akan selalu berdosa baik disedari atau tidak. Jadi sudah selayaknya kita diuji untuk mengingatkan kita agar kejahatan itu jangan berulang kembali. Renungilah, bahwa balasan di dunia pun rasanya tidak mampu untuk ditanggung apalagi balasan di Neraka. Dengan begitu kita akan menerima balasan (ujian Allah itu) dengan tenang sambil mengharapkan ujian itu akan berakhir. Dengan demikian dosa kita akan terampun dan hati kita akan tenang kembali.


b. Untuk meninggikan darjat kita. 
Kita akan merasa senang kalau mendapat kenaikan pangkat. Jadi kalau ada ujian Allah yang bermaksud menguji kesabaran kita untuk mendapat kenaikan pangkat maka sudah sepatutnya kita terima dengan sabar dan senang hati. 

3. Bila datang nikmat dari Allah baik lahir mahupun batin, maka kita akan bersyukur. Kita akan merasakan bahwa kesenangan lahir dan ketenangan jiwa kita semuanya adalah pemberian Allah (kuasa Allah dan nikmat dari-Nya). Hasil yang kita capai merupakan izin dan pertolongan Allah. Kerana itu kita selalu merasa berterima kasih kepada Allah.


Perasaan itu akan menolong kita untuk ingat serta cinta kepada Allah. Kita akan redha kepada kehendak-Nya. Selain itu kita memperbanyak ibadah-ibadah yang disukai-Nya dan mengorbankan kepentingan kita untuk beribadah kepada-Nya sebagai tanda syukur kepada-Nya.


4. Setiap kali selesai berusaha, berikhtiar dan beribadah kepada Allah, kita akan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Allah mempunyai hak mutlak untuk menentukan hasilnya baik atau buruk, berjaya atau gagal. Bahkan diri kita pun berada dalam tangan-Nya. Kita serahkan diri kita kepada-Nya dengan penuh baik sangka kepada-Nya untuk diatur mengikut kehendak-Nya.

5. Setiap kali kita membuat dosa, kita akan takut pada Allah. Hukuman Allah di dunia dan di Akhirat pasti menimpa kepada siapa yang berdosa. Hendaklah kita bertaubat (menyesal dan berjanji tidak akan membuatnya lagi). Kemudian, kita mengharapkan pengampunan Allah kerana Allah adalah Tuhan yang Maha pemaaf, Maha sopan santun dan lemah lembut.


6. Kita akan selalu beradab dan malu dengan Allah yakni senantiasa menunaikan kehendak-Nya dengan penuh takut, rindu, harap dan cinta kepada-Nya. Kita cukup merasa malu untuk sombong kepada-Nya, tidak menghiraukan-Nya dan menjauhi-Nya. Ertinya kita senantiasa merendahkan diri terhadap Allah dan khusyuk dalam beribadah. Selain itu kita berhati-hati, bimbang dan cemas, jangan-jangan kita telah membuat kesalahan dengan Allah.

7. Kita juga akan selalu merenung dan menyesali diri. Apakah kita sudah mendapat keredhaan dan keampunan dari Allah. Kita yang selalu lalai, lemah serta berdosa, layakkah mendapat keredhaan dan pengampunan-Nya? Waktu untuk beribadah terlalu pendek dibandingkan dengan waktu yang kita gunakan untuk bercakap-cakap kosong, berangan-angan memikirkan bagaimana untuk meluaskan dunia kita, bermegah-megah dengan harta, anak dan pengikut serta bermacam-macam kelalaian lagi.


8. Layakkah kita masuk ke dalam Syurga? Belum pernah bulu roma kita tercabut kerana berjuang di jalan Allah. Sedangkan ahli syurga seperti Nabi dan para sahabat pernah tercabut gigi, pecah muka, remuk tulang dan hilang nyawa kerana berjuang mempertahankan agama Allah.


Pengorbanan apa yang telah kita buat yang perbandingannya mampu menebus kita dari api neraka?

9.  Jika yang kita inginkan, tidak kita peroleh, kita akan redha sebab kita sedar bukan kita yang menunaikan hajat tetapi Allah. Dialah yang memberi dan menyempitkan rezeki. Sebab itu kita tenang, redha dan sabar, sesuai dengan kehendak dari Allah.
Renungilah siapa diri kita. Sepatutnya kita merasa lemah, kita merasa tidak mampu menunaikan keperluan kita sendiri tanpa bantuan Allah. Kita merasa malu pula untuk tidak redha dengan Allah.


Nyawa yang ada pada diri kita itu pun kepunyaan Allah. Kalau Allah matikan kita, tentu akan terasa berat. Semuanya terserah pada Allah. Dengan begitu kita merasa tidak keberatan bila nikmat yang diberi oleh Allah itu sedikit. Kita hanya boleh meminta bukan memaksa. Meminta itu sifat hamba sedangkan memaksa itu sifat tuan.


Kalaulah perasaan-perasaan (amalan-amalan batin) yang telah dihuraikan di atas tidak ada dalam jasad batin kita, itu tandanya mujahadah kita tidak kuat dan ibadah kita belum sampai tujuannya (untuk mendidik jiwa). 


Usaha kita mesti ditambah. Kalau ibadah kita cukup dan sampai pada tujuan, maka kita akan menjadi orang yang bahagia dan selamat dari sakit jiwa. Sebab hanya orang yang mempunyai tasawuf (kerohanian) yang tinggi saja yang mampu mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Mereka lah yang membangun dan mendapatkan syurga untuk dunia dan Akhirat mereka.

Amalan-amalan mereka lahir dan batin akan menyelamatkan mereka di dunia dan Akhirat. Hati mereka yang selamat di dunia, juga akan selamat di Akhirat. Mereka akan mendapat kemanisan iman, kelezatan beribadah karena hatinya benar-benar cinta Allah dan Rasul serta benci kepada mungkar dan maksiat.


Bersabda Rasulullah SAW:


Terjemahannya: Tiga perkara ini, siapa yang memilikinya akan mendapat kemanisan iman:
1.     Mencintai Allah dan Rasul lebih daripada lainnya. 
2.     Mencintai seseorang semata-mata kerana Allah.
3.     Benci kembali kepada kekufuran sebagaimana benci
     dilemparkan ke Neraka. 
   (Riwayat Ahmad, Al Bukhari dan Muslim, 
At Tarmizi, An Nasai dan Ibnu Majah)

Bila mendapat kemanisan iman, penderitaan menjadi kecil dan dunia tidak ada lagi dalam ruang hatinya. Hatinya asyik dengan Allah. Itulah yang terjadi pada sahabat-sahabat Rasulullah. Bilal, waktu dijemur di tengah panas serta diazab untuk dipaksa kembali kepada kekufuran, dengan tenang dia menjawab, "Ahad, Ahad." Azab tidak terasa azab lagi.


Peristiwa lain juga terjadi pada seorang sahabat. Untanya dicuri  orang di waktu malam ketika sedang shalat. Dia tidak langsung menghentikan shalatnya. Dia merasa kemanisan iman dan ibadah hingga lupa bertindak terhadap pencuri itu.


Cerita lain, ada dua orang sahabat yang Rasulullah lantik untuk mengawal tentara Muslimin di satu peperangan di waktu malam. Seorang tidur sementara seorang lagi berjaga dan melakukan shalat. Tiba-tiba datang mata-mata musuh, dan terlihatlah kedua sahabat tadi. Ia menarik busur panah dan memanah sahabat yang sedang solat.


Sahabat itu tidak memutuskan solatnya. Dipanah lagi, sampai tiga kali barulah ia membangunkan sahabatnya dan berkata, "Kalau tidak takut, sesuatu akan menimpa umat Islam niscaya aku tidak berhenti solat." Begitulah kemanisan iman yang dirasakannya.


Mujahadatunnafsi terhadap mazmumah kita kepada manusia seperti hasad, dengki, dendam, buruk sangka, mementingkan diri sendiri, gila pangkat, serakah, bakhil, sombong dan lain-lain juga bisa dilakukan dengan cara menentang sifat-sifat itu.


Dalam buku saya bertajuk Iman dan Persoalannya, telah dinyatakan tiga contoh bagaimana melakukan mujahadah terhadap sifat bakhil, sombong dan takut.


(bersambung)