Catatan Popular

Isnin, 8 Februari 2016

KESABARAN RASULULLAH BERDEPAN DENGAN PENGHINAAN DARI GOLONGAN MUNAFIK....(15).....AKHLAK SABAR SAW



Hadis Usamah bin Zaid r.a:
Sesungguhnya pada suatu hari Nabi s.a.w menaiki seekor keldai yang berpelana dan di bawahnya ada kain selimut yang agak lusuh buatan Fadakiah. Sementara itu Usamah mengikuti dari belakang baginda untuk menjenguk Saad bin Ubadah di kalangan Bani Al-Harith bin Al-Khazraj. Peristiwa itu terjadi sebelum peperangan Badar. Semasa dalam perjalanan tersebut baginda telah pergi ke suatu majlis yang bercampur di antara kaum Muslimin dengan orang-orang Musyrikin yang menyembah berhala dan orang-orang Yahudi.
Di dalam majlis tersebut terdapat orang yang bernama Abdullah bin Ubai dan Abdullah bin Rawahah. Ketika majlis tersebut ditutupi oleh debu-debu yang berterbangan dari tapak kaki binatang, Abdullah bin Ubai menutup hidungnya dengan kain serban agar tidak dimasuki oleh debu-debu tersebut......

Oleh kerana tidak tertahan dengan debu itu, Abdullah bin Ubai berkata: Jangan taburkan debu padaku. (Setelah beliau terlebih dahulu berada di samping mereka), Nabi s.a.w kemudiannya berhenti dan turun dari keldainya, kemudian baginda menyeru mereka kepada Allah dengan membacakan beberapa potong ayat Al-Quran. 

Setelah mendengarnya, Abdullah bin Ubai berkata: Wahai seseorang! Aku kira lebih baik kamu duduk di rumah saja sekiranya apa yang kamu katakan itu benar, maka janganlah kamu menyakiti kami di majlis kami sendiri. Pulanglah kamu ke rumahmu. Sesiapa di antara kami yang datang kepadamu, maka ceritakanlah kepadanya. Seterusnya Abdullah bin Rawahah berkata: Sertailah majlis kami, sesungguhnya kami lebih menyukainya. 

Oleh itu orang-orang Islam sendiri, orang-orang musyrik dan juga orang-orang Yahudi yang hadir di dalam majlis tersebut semuanya mencaci maki Nabi s.a.w seolah-olah mereka mahu menerkam baginda. Namun begitu Nabi s.a.w tetap tenang dengan sikap dan karenah mereka. Sementara itu baginda tanpa banyak bicara terus menaiki keldainya ke tempat Saad bin Ubadah, lalu Nabi s.a.w bersabda: Wahai Saad! Apakah kamu tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Abu Hubad beliau menyuruh Abdullah bin Ubai berkata begini dan begini? Saad bin Ubadah cuba menghiburkan baginda dengan berkata: Maafkanlah beliau wahai Rasulullah! Maafkanlah beliau. 

Demi Allah, tuhan engkau (baginda) telah memberikan apa yang memang hendak Dia berikan kepada engkau (baginda). Sesungguhnya penduduk Madinah ini sudah ramai yang bergabung dan menaikkan engkau (baginda). Kalau sekiranya Allah menarik semula perkara itu dengan kebenaran yang telah Dia berikan kepada engkau, itu bererti ada yang masih belum sempurna. Nabi s.a.w dapat memahami ucapan Saad tersebut dan akhirnya baginda memaafkan perbuatan Abdullah bin Ubai.

PERISTIWA RASULULLAH DENGAN SEORANG PEREMPUAN DI KUBUR ...(14) .....AKHLAK SABAR SAW



Diriwayatkan didalam Shahih Al Bukhari bahwa ketika Rasul shallallahu 'alaihi wasallam melewati seorang wanita yang sedang ziarah kubur dan menangis di kuburan itu, maka Rasul bersabda: " Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah "
Maka wanita itu menghardiknya dan berkata: " engkau tidak mendapatkan musibah seperti aku, maka diamlah !!". 

Sang nabi yang pemaaf dan berhati mulia, manusia yang paling sopan dan ramah pun terdiam dan sabar, kemudian meninggalkan wanita itu. Itulah Sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Kemudian datanglah seseorang kepada wanita itu dan berkata: " Taukah engkau siapa yang telah kau bentak tadi ?", maka wanita itu menjawab: "ia seseorang yang menasihati aku karena ia tidak mendapat musibah seperti aku". 

Orang itu berkata: " dia adalah Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam".

Maka wanita itu menangis dan menjerit meninggalkan pemakaman dan mengejar sang nabi, dan ketika itu nabi Muhammad telah masuk ke dalam rumahnya. Ketika wanita itu sampai di rumah sang nabi ia berlutut dan berkata: "maafkan aku wahai Rasulullah", sang nabi hanya tersenyum seraya bersabda:

"Sesungguhnya sabar itu dipermulaan musibah"
Jika ingin bersabar hendaknya dari tadi sehingga tidak perlu meminta maaf, demikian perkataan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam. Alangkah indahnya sayyidina Muhammad. 

KESABARAN RASULULLAH MENGHADAPI KAUM YAHUDI....(13) ...AKHLAK SABAR SAW



Agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW adalah kesimpulan ajaran semua Nabi dan Rasul Allah. Sebab itu maka banyak sekali persamaanya dengan ajaran agama Yahudi  dan Kristen. Di zaman Rasulullah SAW orang Yahudi hidup secara diaspora/menyebar, ada yang tinggal di Arab Saudi terutama di kota Madinah dan Khaibar. Ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, siasat pertama yang beliau lakukan berdasarkan wahyu Allah adalah mendekati orang-orang Yahudi, sehingga menghasilkan sebuah perjanjian “ Orang-orang Yahudi dan Islam bersama-sama hidup rukun di Madinah menurut ajaran agama masing-masing. Bila Madinah diserang musuh maka orang Yahudi dan Islam bersama-sama mempertahankan. Bila orang Yahudi yang diserang maka orang Islam membela. Begitu juga bila orang Islam yang diserang dari luar maka orang Yahudi harus membela orang Islam”.

Orang-orang Yahudi dalam masa berabad-abad lamanya sudah meramalkan berdasarkan kitab suci mereka bahwa akan bangkit Nabi dan Rasul baru. Tetapi setelah Nabi dan Rasul itu lahir di Mekkah dan pindah ke Madinah dan pengaruh ajarannya bertambah luas maka orang-orang Yahudi merasa iri hati. Lalu mereka sekalipun sudah ada perjanjian senantiasa berusaha agar orang banyak tidak percaya kepada Nabi Muhammad SAW. Bahkan mereka berusaha membendung bahkan mau mmbunuh Nabi SAW dengan segala macam cara khianat. Tetapi segala usaha mereka itu selalu digagalkan Allah dan mereka tetap tidak berputus asa. Firman Allah di QS Ali Imran ayat 186 “Dan engkau (Muhammad) akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu (orang-orang Yahudi) yang musyrik, gangguan yang banyak dan menyakitkan hati. Jika engkau bersabar dan bertaqwa maka sesungguhnya itu adalah termasuk urusan yang utama”.

Bersabar dan bertaqwa tentu saja tidak berarti membiarkan saja tetapi harus melawan dengan cara yang ditentukan oleh Allah, tidak boleh melewati batas. Berpuluh dan bahkan beratus peristiwa demi peristiwa tentang Kaum Yahudi yang mengejek dan menghina Rasululla SAW dan ajaran beliau, juga mengejek Allah dan mempermainkan kalimat-kalimat Allah dari sejak dahulu di zaman Nabi Musa a.s dan Harun a.s, Daud a.s, Sulaiman a.s, Zakariya a.s, Yahya a.s, lalu Isa a.s. Turunlah ratusan ayat Al Quran menerangkan dan menjawab ejekan dan tantangan Yahudi itu. Rasulullah SAW dan umat islam menghadapi segala tindakan Yahudi dengan cara yang baik, tetapi harus membalas tindakan kekerasan dengan kekerasan yang setimpal. Firman Allah SWT QS Al Baqarah ayat 194 “ Barang siapa yang menyerang kamu maka seranglah ia dengan cara yang seimbang dengan serangannya terhadap kamu, dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah berpihak kepada orang-orang yang bertaqwa”

Tetapi diantara pendeta-pendeta Yahudi ada yang beriman dan membela Rasulullah Muhammad SAW , diantaranya Hushain dari Bani Tsalabah yang menyerahkan semua kekayaanya untuk perjungan dakwah Islam dan akhirnya ia mati syahid membela Islam dalam perang Uhud. Namanya diganti Rasulullah menjadi Abdullah bin Salam. Keislamannya disembunyikan jangan sampai diketahui oleh orang-orang Yahudi karena akan diuji oleh Rasulullah. Dan ketika orang-orang Yahudi datang ke rumah Rasulullah Muhammad SAW , beliau bertanya kepada mereka “Apa yang kalian ketahui tentang Hushain bin Salam?” Mereka menjawab “Ia penghulu kami, anak dari penghulu kami, orang alim kami dan seorang yang paling alim ditengah-tengah kami”

Setelah mereka berkata demikian, Abdullah bin Salam muncul ditengah tengah mereka, kemudian Abdullah bin Salam berseru kepada mereka “Hai Kaum Yahudi, takutlah kamu akan Allah, terimalah apa yang sudah disampaikan kepadamu dari Muhammad, demi Allah tentu kamu tahu bahwa ia (Muhammad) adalah Rasul Allah, bahkan namanya tercantum dalam Kitab Tauratmu begitu juga sifat-sifatnya. Saya sendiri sudah beriman kepadanya”
Baru saja mereka mendengar perkataan Abdullah bin Salam, mereka langsung berkata “Engkau pembohong” lalu mereka mengejeknya. Mengertilah Rasulullah SAW bagaimana karakter bangsa Yahudi itu sesuai dengan ayat-ayat Al Quran yang diturunkan kemudian. Tetapi ada pula orang-orang Yahudi yang jujur dan mengimani dan membela Rasulullah SAW, diantaranya Said bin Syanah, Tsalabah bin Said, As`ad bin Asad bin Ubaid.

Diantara Kaum Yahudi yang tidak jujur karena kekuatan Rasulullah SAW semakin meluas dan mereka pura-pura masuk Islam yang sebenarnya mau melenyapkan Islam bahkan kalau dapat membunuh Rasulullah. Diantara yang tidak jujur ini ialah As`ad bin Hanif, Said bin Shait dan Says bin Qais. Merekalah yang disebut golongan Munafiqun.

BELAJAR DARI KESABARAN RASULULLAH SAW.... ..(12)... AKHLAK SABAR SAW



"Demi sesungguhnya, kisah Nabi-nabi itu mengandungi pelajaran yang mendatangkan iktibar bagi orang-orang yang mempunyai akal fikiran. (Kisah Nabi-nabi yang terkandung dalam Al-Quran) ia bukanlah cerita-cerita yang diada-adakan, tetapi ia mengesahkan apa yang tersebut di dalam Kitab-kitab agama yang terdahulu daripadanya dan ia sebagai keterangan yang menjelaskan tiap-tiap sesuatu, serta menjadi hidayah petunjuk dan rahmat bagi kaum yang (mahu) beriman". (surah Yusuf :111)
Berstatus anak yatim piatu bukan satu ujian yang mudah.Membesar dengan datok,kemudian wafat datok kesayangan.Lantas membesar pula bersama bapa saudara sebagai pengembala kambing bukanlah kehidupan yang menyenangkan…hidup dalam masyarakat yang rosak akhlak di Mekah bukanlah perkara yang menggembirakan…namun semuanya dilalui dengan penuh kesabaran. 

Siapakah Rasulullah saw?Baginda saw adalah manusia seperti kita,berdarah merah dan mempunyai perasaan.Bezanya Baginda saw dilantik sebagai Nabi dan Rasul,manakala kita adalah manusia biasa…Namun adakah Rasulullah tidak pernah bergenang air mata merasai kepayahan dan kesulitan dalam kehidupan? Hayati kisah Rasulullah saw ketika usia remaja… 
Ketika usia Nabi saw genap dua belas tahun, Abu Talib membawa bersamanya Nabi Muhammad s.a.w ke Syam untuk berdagang. Apabila tiba di Busra, mereka melintas dihadapan seorang rahib yang terkenal disana iaitu Buhaira. Buhaira merupakan seorang yang alim tentang kitab Injil dan agama Nasrani. Apabila melihat nabi, Buhaira mengamati dan berbual dengan baginda. 
Setelah itu beliau berpaling kepada Abu Talib lalu bertanya; 
“Apakah hubungan tuan dengan kanak-kanak ini?” 
Lalu Abu Talib menjawab, “Dia anak saya. (Abu Talib sangat sayangkan Nabi sebab itu dia mengaku nabi sebagai anaknya)” 
Mendengar jawapan tersebut, Buhaira berkata, “Dia bukan anak tuan. Sepatutnya bapa anak ini telah meninggal dunia.” 
Maka Abu Talib menjawab, “Dia anak saudara saya.” Buhaira bertanya, “Di mana ayahandanya?”
Jawab Abu Talib, “Ayahandanya telah meninggal dunia dan ibunya ialah adik ipar saya.” 
Lantas Buhaira berkata, “Benar. Bawalah anak ini pulang ke negerinya dan berhati-hati dengan orang yahudi. Demi Allah jika mereka melihatnya, pasti anak ini akan ditimpa kecelakaan. Sesungguhnya anak saudara tuan ini memiliki masa hadapan yang agung.” 

Lalu Abu Talib segera membawa Rasulullah s.a.w pulang ke Mekah. 
Sebagai orang Islam,kita wajar membaca sirah Nabi saw sejak Nabi saw dilahirkan,zaman kanak-kanak,remaja,dewasa hinggalah Nabi saw wafat.Banyak pengajaran dan teladan yang patut digali dalam sirah Nabi saw.Namun berapa ramai yang membaca sirah Nabi saw dan menghayatinya? Rasulullah saw mempunyai perasaan seperti kita iaitu sedih,kecewa,marah,benci,suka,meluat,geram dan sebagainya.

Namun bagaimanakah Baginda saw melalui kehidupan dengan penuh kesabaran? Tatkala orang Islam di Mekah melalui pelbagai keperitan dan penderitaan lantaran dizalimi dan diseksa orang kafir,para sahabat saw yang setia memohon Nabi saw agar meminta bantuan Allah swt Maha Perkasa.Lantas Nabi saw bersabda “Umat dahulu lebih teruk ujian dan penderitaan,malah para Nabi pun mengalaminya.Tahukah kalian Nabi Zakaria a.s digergaji hingga mati oleh kaumnya?” Tatkala Nabi saw berdakwah ke Thaif, bukan sahaja dakwah tidak diterima,malah Nabi saw dilontar dengan batu hingga darah membasahi pipi hingga Nabi pingsan.

Apabila terjaga,Malaikat Jibril a.s meminta Nabi saw memohon apa sahaja untuk ditimpakan bala dan bencana buat kaum Thaif.Lantas Nabi mengangkat tangan dan berdoa “ Ya Allah…maafkan kaumku kerana mereka itu jahil….” Subhanallah…begitulah luhurnya jiwa Rasulullah saw… 

Adakah kita mampu bersabar sebagaimana Baginda saw? Kesabaran itu adalah perkataan yang mudah disebutkan oleh semua manusia,namun untuk menghayati dalam kehidupan,bukan sesuatu yang mudah.

 Aku sendiri hidup tanpa ibu bapa sejak usia 1 tahun.Aku sendiri pernah gagal dalam pekerjaan,pernah gagal dalam perniagaan,pernah gagal dalam dunia percintaan..aku pernah gagal dan gagal,namun aku sentiasa menenangkan jiwa dengan iman dan takwa kepada suratan takdir… 

Firman Allah swt “Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Surah al-Nahl, ayat 96)

Rasulullah SAW memberi galakan untuk kita bersabar terhadap kesusahan dan kepayahan hidup. “Dalam kesabaran terhadap perkara yang tidak disukai itu banyak kebaikannya.” (Hadis Riwayat Imam al-Tirmizi daripada Ibn Abbas) 

Hadis berikut perlu dijadikan falsafah kehidupan orang Islam : “Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkara adalah baik baginya. Dan tidak lah didapati seorang pun hal tersebut melainkan pada diri seorang mukmin. Jika dia merasakan kesenangan maka dia bersyukur. Dan itu lebih baik baginya. Jika kesusahan menerpanya maka dia bersabar. Dan itu lebih baik baginya.” - Hadith riwayat Imam Muslim.