Catatan Popular

Rabu, 31 Julai 2013

KISAH TAUBATNYA MALIK BIN DINAR

Diriwayatkan dari Malik bin Dinar, dia pernah ditanya tentang sebab-sebab dia bertaubat, maka dia berkata : "Aku adalah seorang polis dan aku sedang asyik menikmati khamr, kemudian aku beli seorang budak perempuan dengan harga mahal, maka dia melahirkan seorang anak perempuan, aku pun menyayanginya.

Ketika dia mulai boleh berjalan, maka cintaku bertambah padanya. Setiap kali aku meletakkan minuman keras dihadapanku anak itu datang padaku dan mengambilnya dan menuangkannya di bajuku, ketika umurnya menginjak dua tahun dia meninggal dunia, maka aku pun sangat sedih atas musibah ini.
 
Ketika malam dipertengahan bulan Syaban dan itu di malam Jumat, aku meneguk khamr lalu tidur dan belum shalat isya. Maka akau bermimpi seakan-akan qiyamat itu terjadi, dan terompet sangkakala ditiup, orang mati dibangkitkan, seluruh makhluk dikumpulkan dan aku berada bersama mereka, kemudian aku mendengar sesuatu yang bergerak dibelakangku.  

Ketika aku menoleh ke arahnya kulihat ular yang sangat besar berwarna hitam kebiru-biruan membuka mulutnya menuju kearahku, maka aku lari tunggang langgang karena ketakutan,  

Ditengah jalan kutemui seorang syaikh yang berpakaian putih dengan wangi yang semerbak, maka aku ucapkan salam atasnya, dia pun menjawabnya, maka aku berkata :  

"Wahai syaikh ! Tolong lindungilah aku dari ular ini semoga Allah melindungimu". Maka syaikh itu menangis dan berkata padaku : 

"Aku orang yang lemah dan ular itu lebih kuat dariku dan aku tak mampu mengatasinya, akan tetapi bergegaslah engkau mudah-mudahan Allah menyelamatkanmu", 

Maka aku bergegas lari dan memanjat sebuah tebing Neraka hingga sampai pada ujung tebing itu, aku lihat kobaran api Neraka yang sangat dahsyat, hampir saja aku terjatuh kedalamnya karena rasa takutku pada ular itu. Namun pada waktu itu seorang menjerit memanggilku, 


"Kembalilah engkau karena engkau bukan penghuni Neraka itu!", aku pun tenang mendengarnya, maka turunlah aku dari tebing itu dan pulang. Sedang ular yang mengejarku itu juga kembali. Aku datangi syaikh dan aku katakan,  

"Wahai syaikh, aku mohon kepadamu agar melindungiku dari ular itu namun engkau tak mampu berbuat apa-apa". Menangislah syaikh itu seraya berkata, "Aku seorang yang lemah tetapi pergilah ke gunung itu karena di sana terdapat banyak simpanan kaum muslimin, kalau engkau punya barang simpanan di sana maka barang itu akan menolongmu"  

Aku melihat ke gunung yang bulat itu yang terbuat dari perak. Di sana ada setrika yang telah retak dan tirai-tirai yang tergantung yang setiap lubang cahaya mempunyai daun-daun pintu dari emas dan di setiap daun pintu itu mempunyai tirai sutera.  

Ketika aku lihat gunung itu, aku langsung lari karena kutemui ular besar lagi. Maka tatkala ular itu mendekatiku, para malaikat berteriak : "Angkatlah tirai-tirai itu dan bukalah pintu-pintunya dan mendakilah kesana!" Mudah-mudahan dia punya barang titipan di sana yang dapat melindunginya dari musuhnya (ular).


Ketika tirai-tirai itu diangkat dan pintu-pintu telah dibuka, ada beberapa anak dengan wajahberseri mengawasiku dari atas. Ular itu semakin mendekat padaku, maka aku kebingungan, berteriaklah anak-anak itu :

"Celakalah kamu sekalian!, Cepatlah naik semuanya karena ular besar itu telah mendekatinya"Maka naiklah mereka dengan serentak, aku lihat anak perempuanku yang telah meninggal ikutmengawasiku bersama mereka. Ketika dia melihatku, dia menangis dan berkata :  

"Ayahku, demi Allah!" Kemudian dia melompat bak anak panah menuju padaku, kemudian dia ulurkan tangan kirinya pada tangan kananku dan menariknya, kemudian dia ulurkan tangan kanannya ke ular itu, namun binatang tersebut lari.

 Kemudian dia mendudukkanku dan dia duduk di pangkuanku, maka aku pegang tangan kanannyauntuk menghelai jenggotku dan berkata :  

"Wahai ayahku! Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah". (QS. Al-Hadid : 16). 
 
Maka aku menangis dan berkata : "Wahai anakku!, Kalian semua faham tentang Al-Quran", maka dia berkata :

"Wahai ayahku, kami lebih tahu tentang Al-Quran darimu", aku berkata :  

"Ceritakanlah padaku tentang ular yang ingin membunuhku", dia menjawab :  

"Itulah pekerjaanmu yang buruk yang selama ini engkau kerjakan, maka itu akan memasukkanmu ke dalam api Neraka", akau berkata : 

"Ceritakanlah tentang Syaikh yang berjalan di jalanku itu", dia menjawab : "Wahai ayahku, itulah amal shaleh yang sedikit hingga tak mampu menolongmu", aku berkata : 

"Wahai anakku, apa yang kalian perbuat di gunung itu?", dia menjawab : "Kami adalah anak-anak orang muslimin yang di sini hingga terjadinya kiamat, kami menunggu kalian hingga datang pada kami kemudian kami memberi syafaat pada kalian". (HR. Muslim dalam shahihnya No. 2635).  

Berkata Malik : "Maka akupun takut dan aku tuangkan seluruh minuman keras itu dan kupecahkan seluruh botol-botol minuman kemudian aku bertaubat pada Allah, dan inilah cerita tentang taubatku pada Allah". 

Sabtu, 27 Julai 2013

TERSIRAT WUDHU (SIRI 1)

Atas nama Allah Yang Maha Pemurah Dan Maha Penyayang, Segala Puja dan Puji hanya pantas bagi-Nya, pemilik segala Kelembutan dan pemilik segala Kesempurnaan, Segala Do`a dan Permohonan hanya Pantas dimintakan padaNya, Pemilik Sumber Ilmu yang tak ada habisnya, dan Pemilik Kekuasaan yang CahayaNya meliputi Langit dan Bumi.
Shalawat serta Salam bagi junjungan umat manusia, Teladan semesta, gudang dari ilmu Allah, Muhammad Shallallohu alaihi wassalam. Pemilik Uswatun Hasanah, Penutup para Nabi dan Para Rasul, Jalan menuju keridhaan-Nya.
Syukur Alhamdulillah, kusampaikan pula pada sang Guru yang telah membimbingku selama ini, dan telah bersabar hati menghadapi kebebalan otak dan hatiku.
Bahasan kali ini, adalah masalah makna tersirat dari Wudhu.
Beberapa dasar yang menyertai,
(silahkan dicari di Qur`an atau Hadits)
Keterangan yang erti bebasnya demikian,
"Tidak sah sholat itu dikerjakan, apabila tidak didahului wudhu"
"Tidak boleh / tidak boleh seseorang itu menyentuh Qur`an sebelum berwudhu"
Berwudhu sendiri, sudah sama-sama kita fahami adalah diertikan "Bersuci dari hadats kecil",
Banyak sekali keterangan-keterangan secara makna tersurat dari masalah berwudhu ini di dalam FIQIH.
Dan itu tidak saya bahas di sini.
Tetapi, bagaimanakah makna tersirat dari berwudhu itu ???
Mengapakah kita harus berwudhu sebelum sholat ???
Bila belum berwudhu, maka tidak sah sholatnya....
Mengapakah kita harus berwudhu sebelum membaca Qur`an ???
Kalau untuk menghilangkan hadats kecil, bukankah lebih bersih apabila kita mandi saja sekalian ???
Tetapi mengapakah kita mesti berwudhu ??
Secara Umum, wudhu yang kita kenal adalah:
1. Mencuci kedua tangan sampai pergelangan tangan,
2. Berkumur.
3. Membersihkan hidung,
4. Mencuci muka.
5. Mencuci lengan tangan.
6. Membersihkan sedikit di bagian kepala (depan).
7. Membersihkan telinga.
8. Membersihkan kaki sampai kedua mata kaki.
Yang kesemuanya itu di sunnahkan diulang tiga kali,
Dengan dimulai bagian kanan terlebih dahulu, baru dilanjutkan bagian yang kiri.
Mengapakah kita diperintahkan seperti itu oleh Allah ???
Ajaran yang disampaikan Allah melalui Nabi Muhammad, adalah ajaran yang Tinggi dan adalah ajaran yang Lembut.
Banyak sekali perlambang-perlambang di dalamnya.
Banyak sekali misalan - misalan di dalamnya.
Sebelum saya meneruskan bahasan tentang wudhu, ada baiknya saya sampaikan beberapa hal,
keterangan hadits,"Inna Qur`an dhahiran wa bathinan",” sesungguhnya Qur`an ada makna lahir dan ada makna bathin".
Di Qur`an di sebutkan,"Ajaran Islam, agama Islam diturunkan pada manusia sesuai fitrahnya".
Manusia terdiri dari jasmani dan rohani, maka wujud agama Islam, melalui Qur`an hadits, adalah sesuai dengan wujud manusia.
Artinya, pahamilah bahwa Perintah dan larangan yang ada dalam Qur`an, merupakan perintah yang mengatur wujud jasmani dan ruhani manusia, dan demikian juga dengan larangan yang ada di dalamnya, juga larangan yang bersifat mengatur jasmani dan ruhani manusia.
Rasanya terlebih dahulu perlu saya sampaikan hal di atas, karena umumnya manusia, atau mayoriti manusia, memandang wujud perintah dan larangan dalam agama, hanyalah bersifat satu sisi saja (majoriti) yaitu sisi lahiriyah saja.
Contoh:
Perintah Syahadat, difahami oleh umumnya umat Islam, adalah rukun Islam yang apabila lahir kita membaca dua kalimat syahadat, maka cukuplah sudah.
Perintah Sholat, dipahami umumnya oleh umumnya umat Islam, adalah rukun Islam, yang apabila secara lahiriyah sudah dikerjakan, maka cukuplah sudah.
Perintah Puasa, dipahami oleh umumnya umat Islam, adalah rukun Islam yang apabila secara lahir kita sudah tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan badan di siang hari di bulan puasa, maka cukuplah sudah.
Perintah Zakat, difahami oleh umumnya umat Islam, adalah rukun Islam, yang apabila zakat sudah kita keluarkan secara lahiriyah, apakah itu zakat mal ataukah fitrah, ataukan qurban, maka itu cukuplahj sudah.
Perintah haji, dipahami oleh umumnya umat Islam, adalah rukun Islam, yang apabila secara lahiriyah sudah melaksanakan ibadah haji, maka cukuplah sudah.
Itulah pemahaman yang sekarang ini majoriti kita fahami atau difahami oleh umat Islam.
Hanya sebahagian yang melihat atau memandang segala macam perintah adalah dalam sisi-sisi sesuai wujud yang diperintah yaitu manusia yang terdiri dari jasmani dan terdiri dari ruhani.
Semua perintah Allah, pastilah ada sisi-sisi dari lahiriyah dan ada sisi-sisi dari bathiniyah atau ruhaniyahnya.
Untuk melengkapi pemahaman itulah pembahasan dari sisi tersiratnya khusus untuk masalah wudhu, saya sampaikan bagi para peminat, yang moga-moga benar-benar anda sudah siap untuk menerima penyampaian-penyampaian ini.
Kontrol yang jelas, adalah Qur`an dan Hadits Nabi,
Maka sebelumnya saya ingatkan,
Kalau misalkan ada yang nanti saya sampaikan, yang bertentangan dengan Qur`an dan Hadits, maka tolaklah,
Tetapi apabila yang saya sampaikan sesuai apa yang ada di Qur`an dan hadits,
Tidak bertentangan dengan Qur`an dan Hadits
Meskipun itu mungkin tidak sesuai dengan pemahaman yang selama ini anda yakini,
Maka semuanya terserah anda.......
"Lana a`maluna walakum a`malukum". "Apa-apa yang engkau yakini itulah yang engkau kerjakan".
Saya hanya menyampaikan pemahaman yang selama ini sudah saya peroleh.

TOKOH SUFI HEBAT : PENCURI DI RUMAH MALIK BIN DINAR



Seorang pencuri masuk ke rumah Malik bin Dinar. Ia memeriksa sisi rumah, namun tidak menemukan barang yang dapat dicuri. Malik bin Dinar mengawasi gerak-gerik si pencuri dari kejahuan. Setelah si pencuri yakin bahwa usahanya sia-sia, ia pun segera bergegas keluar. Belum sempat ia keluar, Malik bin Dinar menyapa, "Kemarilah, kamu telah datang kepadaku karena menginginkan sesuatu, namun tidak memperolehnya. Sekarang, jika kamu tidak berhasil mendapatkan kebaikan hissi (kebendaan), insyaa Allah kamu akan mendapatkan kebaikan maknawi. Shalatlah dua rakaat di atas sajadahku ini!"

Pencuri itu kemudian berwudhu dan shalat dua rakaat di atas sajadah beliau, sementara Malik bin Dinar berdoa agar si pencuri mau bertobat.

Ketika pencuri itu keluar dari rumah Malik bin Dinar, ia telah berada di alam (kehidupan) yang lain.Tanda-tanda pengabulan tampak pada dirinya. Cahaya ketaatan bersinar di
wajahnya.  Keesokan harinya kawan-kawannya sesama pencuri bertemu dengannya di jalan.

"Wahai Fulan, melihat wajahmu  yang berseri-seri, kami yakin bahwa semalam kamu mendapatkan hasil curian yang memuaskan," kata mereka "Sama sekali tidak, tidak sedikitpun kuperoleh harta, tapi yang kudapatkan adalah curian cahaya dan ilmu. Aku masuk ke rumah Malik bin Dinar, tetapi tidak menemukan sesuatu  yang dapat kucuri.
Ketika akan krluar, beliau memanggilku dan menyuruhku shalat dua rakaat di
sajadahnya, sewaktu aku shalat beliau mendoakan aku. Jadi, kebahagiaan ini adalah
kebahagiaan ketaatan. Karena itu, setelah hari ini, aku bukanlah teman kalian
lagi”.

TOKOH SUFI HEBAT : MALIK BIN DINAR MENINGGALKAN SYAHWAT DUNIA



Dialah Abu Yahya Malik bin Dinar. Sosok yang meninggalkan syahwat dunia. Penakluk jiwa ketika sedang bergejolak. Demikianlah Abu Nuaim memberikan sifat pada Malik bin Dinar dalam al-Hilyahnya.
Malik bin Dinar dilahirkan pada masa Ibnu Abbas R.a. Ia sempat bertemu dengan Anas bin Malik. Karenanya, ia diliputi berkah ilmu yang bermanfaat. Ia pun mengambil manfaat dari ulama shalih dari kalangan sahabat Nabi. Ia belajar akhlak suci dari mereka, adab dan sunah yang diridhoi Allah. Malik bin Dinar menjadi salah satu seorang pemimpin kaum muslimin yang ternama.
Ibnu Sa’ad berkata,”Dia seorang yang tsiqah dan sedikit bicara.”
Ibnu Hibban menambahkan dalam ats-Tsiqatnya,” Malik bin Dinar menulis Mushaf dan mendapatkan honor. Ia makan dari honor itu.”
Dialah imam zuhud. Terdepan dalam Wara’. Kezuhudannya menjadi perumpamaan. Mati kita renungi potongan kisah dari kehidupan ulama ini. Suatu ketika ia menemui Anas bin Malik R.a. Bersamanya ikut Tsabit dan Yazid ar-Raqasyi. Anas bin Malik memandang mereka dengan kagum, seraya berkata,”Betapa mirip kalian dengan para sahabat Rasulullah SAW. Sungguh kalian lebih aku cintai dari sekian anakku, kecuali mereka mempunyai keutamaan seperti kalian. Sungguh aku mendoakan kalian dimalam hari.”
Renungkanlah. Mereka didoakan oleh Abu Hamzah Anas bin Malik. Semata karena cinta pada Allah SWT. Apakah ada seseorang yang mencintai seperti Anas bin Malik kecuali orang-orang shalih dan ahli taat? Merekalah orang-orang yang benar bersama Allah dan Allah pun membenarkan mereka dengan kecintaan orang-orang shalih dan ahli ibadah.
Betapa tinggi kedudukan mereka! Suatu ketika ia membaca firman Allah SWT:
Artinya: “Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quraan ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah.”(QS.al-Hasyr:21)

Malik bin Dinar berkata,”Aku bersumpah pada kalian, tidak beriman seorang hamba dengan al-Qur’an kecuali hatinya terpecah.”
Abdul Aziz bin Salman menuturkan,”Aku dan Abdul Wahid bin Zaid menemui Malik bin Dinar. Kami dapati dia berdiri dari majelisnya, lalu masuk kerumahnya. Kemudian dia menutup pintu kamar. Kami duduk menunggunya hingga keluar atau mendengar darinya suatu gerakan. Kami kemudian minta izin. Malik bin Dinar seperti mengucapkan sesuatu yang tidak bisa dipahami, lalu terdengar dia menangis. Sampai-sampai kami merasa kasihan mendengar tangisannya. Kemudian tubuhnya bergetar, bernafas lalu pingsan.”
Abdul Wahid berkata,”Kita pergi. Kita tidak ada urusan hari ini dengan laki-laki ini. Dia sibuk dengan dirinya sendiri.”
Pada kesempatan lain ia memasuki kawasan pekuburan. Tiba-tiba ada seseorang yang sedang dikubur. Malik datang dan berdiri disamping kuburan sambil memperhatikan orang yang dikubur. Malik bin Dinar mulai berkata, ”Wahai Malik, besok beginilah keadaanmu. Tidak ada seseorang pun yang bisa menolongmu dikuburan.“
Malik bin Dinar terus berkata,“ besok beginilah keadaanmu.“ Hingga ia pingsan dan tersungkur dilubang kubur. Orang-orang pun segera membawanya kerumah dalam keadaan tak sadarkan diri.
Malik bin Dinar selalu mengulang-ngulang,“Wahai Tuhannya Malik!Engkau telah mengetahui penghuni surga dan penghuni neraka. Maka, dimanakah tempat malik?“kemudian Malik bin Dinar menangis!
Renungkan bagaimana ia menggambarkan keadaan seorang hamba di hari Kiamat ketika ia meninggalkan dunia ini.
Suatu ketika ia naik kapal. Saat kapal itu berada disebuah jembatan, diserukan agar awaknya tidak keluar dan berdiri dari tempatnya.
Malik bin Dinar malah keluar, mengambil pakaiannya dan memanggulnya lalu melompat dari kapal dan berdiri diatas tanah.“Apa yang membuatmu keluar?seru juru mudi.
”Tidak ada apa-apa!Jawab Malik.
“Pergi!” ujar juru kemudi lagi.
Malik berkata dalam hati,”beginilah akhirat.”

Betapa indah perumpamaan ini!Tidak mungkin dimengerti kecuali oleh hati yang suci, bersih seperti putihnya susu.
Beginilah Malik selalu mengevaluasi dirinya.. Tak ada temapat dihatinya kecuali zikir kepada Allah dan ketakutan yang selalu melekat disekujur anggota tubuhnya.
Suatu ketika, Harits bin Nabhan memberinya hadiah sebuah bejana yang terbuat dari kulit. Bejana itu berada ditempat Malik bin Dinar beberapa saat. Ketika Harits datang, Malik segera memanggilnya,”Wahai Harits, kemarilah!Ambil bejanamu!Dia telah membuat hatiku sibuk. Setiap kali aku memasuki masjid, syetan datang dan berkata,”Wahai Malik, bejanamu telah dicuri.”Dia telah membuat sibuk hatiku.”
Sungguh! Malik tak ingin ada yang mengusik hatinya kecuali takut pada Allah. Alangkah bahagianya pemilik hati ini!
Simaklah keluhannya suatu saat,”Aku berharap Allah mengizinkan ketika aku berada dalam genggaman TanganNya kelak aku sujud sekali saja. Sehingga aku tahu bahwa Dia telah ridha. Lalu Dia berkata kepadaku,”Wahai Malik jadilah debu.”
Sungguh ketakutan pada Allah telah memenuhi hati orang-orang yang bertakwa. Maka ia pun mendekat padaNya dan jauh dari godaan makhluk.
Ada seorang laki-laki terkaya di Bashrah. Ia mempunyai seorang putri yang teramat cantik. Suatu saat sang Ayah berkata,”Keturunan Hasyim pernah melamar padamu, dari bangsa arab!Tapi engkau menolak. Kukira engkau menginginkan Malik bin Dinar dan sahabatnya?”
”Demi Allah, itulah cita-citaku,”jawab sang putri.
Sang ayah berkata pada salah seorang saudaranya,”Temui Malik. Kabarkan tentang kedudukan putriku dan keinginannya!”
Ketika bertemu Malik, utusan ayah gadis itu berkata,”seseorang menyampaikan salam untukmu. Dia berpesan,’Sungguh engkau mengetahui bahwa aku orang paling kaya dikota ini. Aku punya seorang putri cantik yang ingin menikah denganmu. Apa pendapatmu?”
Malik menjawab,”Sungguh aneh. Apakah engkau tidak tahu bahwa aku telah menceraikan dunia dengan talak tiga!” Malik bin Dinar telah menceraikan dunia sehingga ia tidak peduli dengan apa-apa yang hilang dari dunianya.
Saat lain, Malik tertarik untuk memakan roti campur susu. Seorang temannya datang membawakan makanan yang dimaksud. Sejenak Malik membolak-balikkan roti itu lalu berkata,”Aku merindukanmu selama 40 tahun. Dan aku berhasil mengalahkan keinginanku itu. Hari ini engkau ingin mengalahkanku?pergi dari sisiku!” Malik tak mau memakannya.
Malik bin Dinar tak hanya zuhud dalam hal makanan. Kediamannya pun sangat sederhana. Dirumahnya tak ada apa pun kecuali Mushaf dan pakaiannya. Tentang rumahnya ini dia berkata,” Siapa yang masuk ke rumahku lalu mengambil sesuatu, maka itu halal baginya. Saya tak butuh gembok atau kunci.”
Suatu saat, seorang pencuri masuk ke rumahnya. Namun ia tidak menemukan sesuatu pun. Malik berkata,”wahai pencuri, engkau tidak menemukan apa-apa dari harta dunia. Apakah engkau ingin bagian dari akhirat?”
”Ya!” jawab pencuri.
”Berwudhulah dan shalat dua rakaat.”
Pencuri itupun melakukannya. Ia pun pergi ke masjid bersama Malik bin Dinar. Ketika Malik di tanya tentang orang yang bersamanya, ia menjawab,”Dia datang untuk mencuri. Maka dia yang kami curi.”
Suatu ketika, gubernur bashrah lewat bersama rombongan dan tentaranya. Malik berseru,”Paling sedikit dari perjalananmu ini.”Para pembantu gubernur marah dan mengancam Malik. Namun sang gubernur buru-buru mencegah, lalu berkata pada Malik,”Apakah engkau tidak mengenalku?”
“Siapa yang lebih tahu tentang dirimu daripada aku?Awalmu dari tetsan mani yang jijik. Akhirmu adalah jenazah yang hina. Sekarang engkau berada di antara dua kondisi itu membawa kotoran.”
Sang gubernur menundukan wajahnya lalu pergi sembari berkata,”Sekarang, sungguh engkau telah mengetahui siapa diriku.”
Begitulah kehidupan Malik bin Dinar. Seorang zuhud dalam segala hal. Berani pada semua makhluk dan hanya takut pada Allah.
Ia meninggal dunia sebelum wabah Tha’un (kolera) melanda Bashrah. Wabah itu melanda pada tahun 131 Hijriyah. Semoga kita bisa mengikuti jejaknya

TOKOH SUFI HEBAT : MALIK BIN DINAR DAN PEMUDA MAHLIGAI



Jaafar bin Sulaiman rah berkata ''Satu ketika semasa berjalan di Basrah bersama Hadrat Malik bin Dinar rah kami melihat satu mahligai yang besar sedang dalam pembinaan. Seseorang pemuda sambil duduk memberi arahan kepada pekerja-pekerjanya. Hadrat Malik bin Dinar rah berkata kepada saya,'' Lihatlah betapa kacak pemuda ini! Tetapi dia sedang terlibat dalam urusan tidak berguna. Aku rasa terdesak untuk berdoa kepada Allah agar dia diselamatkan pemuda ini dari urusan sia-sia ini dan menjadikan hambanya yang mukhlis. Alangkah baiknya jika ia menjadi salah seorang dari pemuda-pemuda di syurga! Mari kita jumpa pemuda itu.'' Jaafar rah berkata bahawa mereka berdua telah pergi kepada  pemuda itu lalu mengucap salam kepadanya.

Pemuda itu menjawab salam kami. Dia mengetahui tentang Hadrat Malik bin Dinar rah, tetapi ketika itu beliau masih belum mengenalinya. Selepas beberapa lama apabila datang dia dapat mengenalinya maka dengan serta merta dia berdiri lalu berkata,'' Sila duduk. Bagaimana tuan datang kemari? Betapa tuahnya kami kedatangan tuan!'' Malik bin Dinar rah berkata,'' Berapakah yang kamu berlanjakan untuk pembinaan ini?'' Dia menjawab,'' Seratus ribu dirham.'' Malik rah berkata,'' Wang seratus ribu dirham itu kamu berilah kepadaku, maka aku akan mengambil tangungjawab dan memberi jaminan bahawa kamu akan diberi satu mahligai yang berlipat kali ganda lebih baik dari ini dalam syurga . Khadam-khadam yang ramai, khemah dan kubah dari Yaqut merah dan nikmat-nikmat syurga yang lain-lainnya akan menjadi milik kamu. Dindingnya dari mutiara, lantainya dari Jaafran dan cantuman dindingnya dari kasturi . Mahligai itu sentiasa akan berbau harum dan tidak sekali-sekali menjadi buruk. Mahligai itu bukanlah dibina oleh tukang-tukang pembinaan tetapi ia wujud dengan perintah Allah Kun yakni jadilah'.

''Pemuda itu meminta,'' Tolonglah berikan masa kepada saya untuk memikirkan perkara itu pada malam ini. Esok pagi saya akan memberi pandangan saya.'' Hadrat Malik bin Dinar rah pulang ke rumahnya. Pada sepanjang malam itu beliau berfikir untuk pemuda itu. Ketika hujung malam beliau telah berdoa untuknya sambil menangis. Selepas solat subuh kami pergi sekali lagi kepadanya. Pemuda itu sedang menunggu kami di pintu. Dia bergembira melihat Hadrat Malik bin Dinar rah. Hadrat Malik bin Dinar bertanya,'' Apakah pendapat kamu mengenai apa yang aku cadangkan kelmarin?'' Dia bertanya, Apakah tuan bersedia untuk menyempurnakan apa yang dijanjikan oleh tuan?'' Beliau menjawab,'' Tentu tiada syak lagi,'' Maka dia membawa satu uncang berisi seratus ribu dirham dan kertas serta pena untuk di tulis.

Hadrat Malik bin Dinar rah menulis di kertas itu, bismillahhirohmannirrohim. Seterusnya beliau menulis,'' Dengan ini saya Malik bin Dinar berjanji bahawasanya si anu bin si anu akan mendapat satu mahligai bersifat begini begini ( beliau menulis semua ciri-ciri mahligai itu di syurga seperti yang beliau telah ceritakan kelmarin ). Bahkan dia akan memperolehi kedudukan perhampiran Allah Taala.'' Surat jaminan itu beliau telah serahkan kepada pemuda itu lalu mengambil uncang berisi seratus ribu dirham dan membawa pulang. Pada sebelah petang hari itu juga kesemua wang seratus ribu dirham telah habis di bahagikannya sebagai sedekah sehingga tidak ketinggalan apa-apa walaupun untuk membeli makanan.

Selepas itu telah berlalu empat puluh hari.Satu pagi Malik bin Dinar rah mengimami solat subuh di Masjid. Setelah selesai solat beliau telah melihat sepucuk kertas di mihrab. Beliau mengambil dan melihat bahawa ianya adalah surat jaminan yang telah beliau berikan kepada pemuda itu. Tetapi di atasnya ada tambahan tulisan tidak berdakwat yang terang boleh dibaca,'' Aku melepaskan Malik bin Dinar dari tangungjawab jaminan ini, sebab aku berikan si anu bin si anu satu mahligai di syurga penuh dengan semua nikmat-nikmat yang dituliskannya, bahkan tujuh puluh kali ganda lebih daripadanya.''Setelah membacanya tulisan itu beliau tersangat kagum sehingga tidak dapat bergerak atau bercakap beberapa lama. Selepas itu beliau pergi ke rumah pemuda itu. Apabila tiba , beliau mendapati ada tanda-tanda kesedihan dan juga kedengaran suara tangisan di rumah itu . Bertanya kami telah di beritahu bahawa baru kelmarin pemuda itu sudah meninggal dunia.

Malik bin Dinar rah bertanya,'' Siapakah yang telah memandikan dan mengapani mayatnya?'' Maka orang yang dimaksudkan itu telah pun dipanggil dan diminta menceritakan semua peristiwa yang berlaku. Dia berkata, ''sebelum meninggal dunia beliau telah memberi sepucuk kertas kepada saya lalu mewasiatkan agar saya meletakkan kertas itu antara kapan dan tubuh mayatnya. Saya pun telah membuat sebagaimana wasiatnya.'' Hadrat Malik bin Dinar rah telah mengeluarkan kertas yang beliau jumpai di mihrab masjid dan sebelum sempat beliau berkata apa-apa orang itu berkata, ''Wallah! Inilah kertas yang saya telah letak di dalam kapannya.'' Setelah memerhatikan kesemua peristiwa itu maka salah seorang pemuda telah mendekati Dinar bin Malik rah lalu berkata,'' Tuan Syaikh, saya hendak memberikan dua ratus ribu dirham. Tolong tuliskan satu kertas lagi untuk saya.'' Beliau berkata .'' Peluang itu telah terlepas jauh! Allah membuat apa sahaja yang di kehendakinya .'' Selepas itu bila-bila masa sahaja beliau teringat peristiwa itu, maka beliau akan menceritakan kisah itu sambil menangis dan mendoakan untuk pemuda itu.

 

Khamis, 25 Julai 2013

TERAMAT PENTINGNYA SYARIAT DALAM AMALAN TASAWWUF

Seluruh pengamal tasawuf yang mengamalkan pengamalan tarekat muktabarah sepakat bahwa landasan utama peramalan itu adalah pengamalan syariat yang kuat. Semua lembaga tarekat Muktabarah berlandaskan Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang sangat menekankan pengamalan syariat yang sempurna, adalah satu-satunya jalan untuk berhasilnya pengamalan tarikat itu. Sementara ada sebagian orang yang berpura-pura mengaku pengamal tasawuf tapi tidak mengamalkan syariat, mengatakan mereka telah sampai ke tingkat yang tinggi, telah sampai ke tingkat musyahadah yang dibuktikan dengan beberapa kekeramatan-kekeramatan.

Pengakuan yang demikian ini adalah sesat, karena sangat bertentangan dengan Al Qur'an dan Al Hadis, dan tidak sesuai dengan aliran Ahlus Sunnah wal Jamaah dan berbeda atau sangat bertentangan dengan kenyataan yang dilaksanakan oleh para tokoh sufi pengamal tarikat Al Muktabarah. Pengakuan-pengakuan yang demikian ini umumnya datang dari orang yang berpura- pura pengamal tasawuf atau datang dari pihak-pihak yang tidak senang kepada jalan yang ditempuh oleh para sufi.

Para sufi menekankan peramalannya harus didasarkan kepada at Taslim (penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT), At Tafwidh (berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT), At Tabarri Minan Nafsi (Pembebasan diri dari hawa nafsu), dan At Tauhid bil Khalqi wal Masyi'ah (mengesakan hanya Allah sajalah yang Maha Pencipta dan Maha Berkehendak).Berbeda dengan golongan Qadariah yang mendasarkan peramalannya kepada Al Fi'lu (perbuatan adalah kehendak yang bersangkutan), al Masyi'ah (semua kehendak adalah kehendak yang bersangkutan), al Khalqah (semua yang diciptakan adalah ciptaan yang bersangkutan) dan at Takdir (semua takdir itu tergantung kepada yang bersangkutan). Mereka ini semuanya, mendasarkan apa saja yang mereka lakukan tergantung kehendak mereka.

Di dalam Al Qur'an banyak sekali dalil yang menunjukkan kebenaran landasan peramalan para sufi tersebut. Hasilnya pun kelihatan dengan pengamalan yang sungguh-sungguh yang didasarkan kepada syariat yang kuat, para sufi memperoleh kesenangan, kemanisan dalam beriman dan beribadat, ketentraman dan ketenangan. Apa yang diperoleh para sufi ini merupakan buah, hasil ibadatnya yang merupakan rahmat dari Allah SWT. Apa yang diperoleh oleh para sufi ini belum tentu, atau bahkan kecil sekali kemungkinannya dapat diperoleh oleh orang lain. Letak perbedaannya menurut Al-Ghazali, para sufi lebih gigih dalam riyadlah dan mujahadah. Mereka tidak memadai dengan pengamalan-pengamalan syariat wajib saja, tetapi harus juga mengamalkan syariat-syariat sunnah. Para sufi tidak hanya meninggalkan yang haram dan makruh saja, tetapi juga meninggalkan hal-hal yang mubah (kebolehan), yang tidak berfaedah apalagi kalau hal itu dapat membawa kepada melalaikan syariat.

Ibnu Khaldun menyatakan, berkat riadlah dan mujahadah yang sungguh-sungguh, maka para wali memperoleh tanda-tanda kemenangan yang besar, memperoleh kekeramatan-kekeramatan, sebagaimana hal itu juga diperoleh para sahabat Rasulullah As Sabiqunal Awwalun. Orang tidak boleh tertipu dan terpedaya dengan adanya kekeramatan-kekeramatan ini sebelum dibuktikan kuatnya syariat yang bersangkutan. Kekeramatan ini tidak menjadi tujuan dan tidak pula menjadi ukuran. Yang menjadi tujuan adalah dekat kepada Allah, mendapat ridla-Nya dan yang menjadi ukurannya mengamalkan syariat dengan berhakikat sempurna.

Pengamal tasawuf yang telah memperoleh kesenangan, kemanisan dalam beriman dan beribadat, ketentraman dan ketenangan adalah suatu bukti bahwa dia telah menjalani atau menempuh jalan yang benar dan mengamalkan syariat yang haq.

Dalam buku "Al Munqiz Minadlalal" diuraikan tentang para sufi yang banyak memberikan pendapat atau komentar berkenaan tasawuf dihubungkan dengan syariat, ini disebutkan di dalamnya.

a. Imam Al Ghazali
Al Ghazali mengatakan, "Ketahuilah bahwa banyak orang yang mengaku, dia adalah menempuh jalan (tarikat) kepada Allah, tapi yang sesungguhnya, yang bersungguh-sungguh menempuh jalan itu adalah sedikit. Adapun tanda orang yang menempuh jalan yang sungguh-sungguh dan benar, diukur dari kesungguhannya melaksanakan syariat. Kalaupun ada orang yang mengaku bertasawuf dan bertarikat dan telah menampakkan semacam kekeramatan-kekeramatan, melalaikan atau tidak mengamalkan syariat, ketahuilah bahwa itu adalah tipu muslihat, sebab orang yang bijaksana (orang tasawuf) mengatakan,

Artinya : Jikalau kamu melihat seseorang mampu terbang di angkasa dan mampu berjalan di atas air, tetapi ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat, maka ketahuilah bahwa sebenarnya ia itu adalah setan."

b. Abu Yazid Al Bustami,
menyatakan:
Artinya : Andaikata kamu melihat seseorang yang diberi kekeramatan hingga dapat naik ke udara, maka janganlah kamu tertipu dengannya sehingga kamu dapat melihat dan meneliti bagaimana dia melaksanakan perintah dan larangan agama serta memelihara ketentuan-ketentuan hukum agama dan bagaimana dia melaksanakan syariat agama.

c. Sahl at Tasturi

At Tasturi mengungkapkan tentang pokok-pokok tasawuf yang terdiri dari tujuh pokok jalan (tarikat), yaitu berpegang kepada Al Kitab (Al Qur'an), mengikuti Sunnah Rasul, makan dari hasil yang halal, mencegah gangguan yang menyakiti, menjauhkan diri dari maksiat, selalu melazimkan tobat dan menunaikan hak-hak orang lain.

d. Junaid al Baghdadi
Al Junaidi mengomentari orang yang mengaku ahli makrifat tetapi dalam gerak geriknya meninggalkan perbuatan-perbuatan baik dan meninggalkan mendekatkan diri kepada Allah, maka beliau mengatakan "Ketahuilah bahwa dia itu adalah setan". Selanjutnya beliau mengatakan,
Artinya : Ucapan itu adalah ucapan suatu kaum yang mengatakan adanya pengguguran amalan-amalan. Bagiku hal itu merupakan suatu kejahatan yang besar, dan orang yang mencuri atau orang yang berzina adalah lebih baik daripada orang yang berpaham seperti itu.

e. Abul Hasan As Syazili
As Syazili mengatakan,
Artinya : Jika pengungkapanmu bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah Rasul, maka hendaklah engkau berpegang kepada Al Qur'an dan Sunnah Rasul itu, sambil engkau mengatakan kepada dirimu sendiri "sesungguhnya Allah SWT telah menjamin diriku dari kekeliruan dalam Al Qur'an dan Sunnah Rasul". Allah tidak menjamin dalam segi pengungkapan, ilham, maupun musyahadah (penyaksian), kecuali setelah menyesuaikan perbandingannya dengan Al Qur'an dan Sunnah Rasul.

Sebagai kesimpulan, semua pengamalan kaum sufi harus mengikuti semua Nash Al Qur'an dan As Sunnah dan meneladani amaliah-amaliah Rasulullah, sebagai panutan tertinggi para sufi.


Sabda Rasulullah SAW,

Ertinya : Nabi SAW ditanya tentang suatu kaum yang meninggalkan amalan-amalan agama, sedangkan mereka adalah orang-orang yang berbaik sangka kepada Allah SWT. Maka jawab Nabi SAW, "Mereka telah berdusta. Karena jika mereka berbaik sangka, tentu amal perbuatan mereka juga adalah baik."