Catatan Popular

Isnin, 13 Mei 2013

TOKOH SUFI KLASIK SAHL AT TUSTARI BAHAGIAN 3 : KISAH HEBATNYA

Pada suatu hari Sahl berkata, "Taubat adalah kewajiban setiap manusia di setiap saat, tanpa perduli apakah ia manusia yang telah di-muliakan Allah ataupun manusia kebanyakan, dan tanpa perduli apakah ia patuh atau ingkar kepada Allah".

Pada masa itu di Tustar ada seorang yang mengaku sebagai seorang terpelajar dan pertapa. Orang ini menyangkal pernyataan Sahl di atas. "Sahl menyatakan bahwa seorang yang ingkar harus bertaubat karena keinkarannya dan seorang yang patuh harus bertaubat karena kepatuhannya".

Akhirnya berhasillah orang itu membuat orang banyak menentang Sahl. Kemudian ia menuduh Sahl sebagai seorang bid'ah dan kafir. Maka semua pihak, dari rakyat biasa sampai kaum bangsawan, menyerang Sahl. Sahl menahan dirinya. Ia tidak mau berbantahan dengan mereka untuk; membenarkan kesalahpahaman mereka itu. Dengan kobaran api suci agama, dituliskannya semua harta benda yang dimilikinya yaitu: kebun-kebun, rumah-rumah, perabot-perabot, permadani-permadani, jembangan-jembangan, emas dan perak; masing-masing di atas secarik kertas. Kemudian ia memanggil orang-orang berkumpul dan setelah berkumpul kertas-kertas tadi dilemparkannya kepada mereka untuk menjadi rebutan. Kepada setiap orang yang berhasil mendapatkan sehelai di antara kertas-kertas itu, Sahl memberikan harta benda miliknya yang tertulis di situ. Hal ini dilakukannya sebagai tanda terimakasihnya kepada mereka karena membebaskan dirinya dari harta benda dunia ini. Setelah menyerahkan segala harta kekayaannya itu berangkatlah Sahl menuju Hijaz. Ia berkata kepada dirinya sendiri:

"Wahai diriku, kini tiada sesuatu pun yang masih kumiliki. Janganlah meminta apa-apa lagi dari diriku karena akan sia-sia belaka".

Hatinya setuju untuk tidak meminta apa pun juga. Tetapi ketika sampai ke kota Kufah, hatinya berkata: "Hingga sejauh ini aku tidak pernah meminta sesuatu pun jua darimu. Tetapi pada saat ini aku ingin sekerat roti dan sepotong ikan. Berikanlah roti dan ikan kepadaku, dan engkau tidak akan kuusik lagi di sepanjang perjalanan menuju Mekkah".

Ketika memasuki kota Kufah, Sahl melihat sebuah penggilingan yang sedang digerakkan oleh seekor unta. Sahl bertanya: "Berapakah yang kalian bayar untuk mempekerjakan unta ini?"

"Dua dirham!"

"Lepaskanlah unta ini dan ikatlah aku sebagai penggantinya. Berikanlah satu dirham untuk kerjaku hingga waktu Isa nanti".

Unta itu pun dilepaskan dan tubuh Sahl diikat ke penggilingan itu. Setelah malam tiba ia pun memperoleh upahnya sebesar satu dirham. Dengan uang itu dibelinya sekerat roti dan sepotong ikan yang kemudian ditaruhnya di depan dirinya. Maka berkatalah Sahl kepada dirinya sendiri: "Wahai hatiku, setiap kali engkau menghendaki makanan ini, camkanlah olehmu bahwa engkau harus melakukan pekerjaan seekor keledai dari pagi hingga matahari terbenam untuk mendapatkannya".

Kemudian Sahl menerusican perjalanannya ke Ka'bah, di mana ia bertemu dengan banyak tokoh-tokoh sufi. Dan dari Ka'bah ia kembali ke Tustar, di mana Dzun Nun sudah menantikan kedatangannya.

Tiada ulasan: