Catatan Popular

Ahad, 25 September 2011

TAREKAT AGUNG 2 : TAREKAT BA’ ALAWI (ALAWIYYAH) – BAHAGIAN II


Tarekat Alawiyyah berbeza dengan tarekat sufi lain pada umumnya. Perbezaan itu, misalnya, terletak dari praktiknya yang tidak menekankan segi-segi riyadhah (olah ruhani) dan kezuhudan, melainkan lebih menekankan pada amal, akhlak, dan beberapa wirid serta dzikir ringan.
Sehingga wirid dan dzikir ini dapat dengan mudah dipraktikkan oleh siapa saja meski tanpa dibimbing oleh seorang mursyid. Ada dua wirid yang diajarkannya, yakni Wirid Al-Lathif dan Ratib Al-Haddad. Juga dapat dikatakan, bahwa tarekat ini merupakan jalan tengah antara Tarekat Syadziliyah [yang menekankan riyadlah qulub (olah hati) dan batiniah] dan Tarekat Al-Ghazaliyah [yang menekankan riyadlah al-‘abdan (olah fisik)].
Tarekat Alawiyyah merupakan salah satu tarekat mu’tabarah dari 41 tarekat yang ada di dunia. Tarekat ini berasal dari Hadhramaut, Yaman Selatan dan tersebar hingga ke berbagai negara, seperti Afrika, India, dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia).
Tarekat ini didirikan oleh Imam Ahmad bin Isa al-Muhajirlengkapnya Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir — , seorang tokoh sufi terkemuka asal Hadhramat pada abad ke-17 M. Namun dalam perkembangannya kemudian,
Tarekat Alawiyyah dikenal juga dengan Tarekat Haddadiyah, yang dinisbatkan kepada Sayyid Abdullah al-Haddad, selaku generasi penerusnya. Sementara nama “Alawiyyah” berasal dari Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir.
Tarekat Alawiyyah, secara umum, adalah tarekat yang dikaitkan dengan kaum Alawiyyin atau lebih dikenal sebagai saadah atau kaum sayyid – keturunan Nabi Muhammad SAW – yang merupakan lapisan paling atas dalam strata masyarakat Hadhrami. Karena itu, pada masa-masa awal tarekat ini didirikan, pengikut Tarekat Alawiyyah kebanyakan dari kaum sayyid (kaum Hadhrami), atau kaum Ba Alawi, dan setelah itu diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat muslim lain dari non-Hadhrami.
Tarekat Alawiyyah juga boleh dikatakan memiliki kekhasan tersendiri dalam pengamalan wirid dan dzikir bagi para pengikutnya. Yakni tidak adanya keharusan bagi para murid untuk terlebih dahulu diba’iat atau ditalqin atau mendapatkan khirqah jika ingin mengamalkan tarekat ini. Dengan kata lain ajaran Tarekat Alawiyyah boleh diikuti oleh siapa saja tanpa harus berguru sekalipun kepada mursyidnya. Demikian pula, dalam pengamalan ajaran dzikir dan wiridnya, Tarekat Alawiyyah termasuk cukup ringan, karena tarekat ini hanya menekankan segi-segi amaliah dan akhlak (tasawuf ‘amali, akhlaqi). Sementara dalam tarekat lain, biasanya cenderung melibatkankan riyadlah-riyadlah secara fisik dan kezuhudan ketat.
Oleh karena itu dalam perkembangan lebih lanjut, terutama semasa Syekh Abdullah al-Haddad – Tarekat Alawiyyah yang diperbaharui – tarekat ini memiliki jumlah pengikut yang cukup banyak seperti di Indonesia. Bahkan dari waktu ke waktu jumlah pengikutnya terus bertambah seiring dengan perkembangan zaman. Tarekat Alawiyyah memiliki dua cabang besar dengan jumlah pengikut yang juga sama banyak, yakni Tarekat ‘Aidarusiyyah dan Tarekat ‘Aththahisiyyah.

Awal Perkembangan Tarekat Alawiyyah
Tonggak perkembangan Tarekat Alawiyyah dimulai pada masa Muhammad bin Ali, atau yang akrab dikenal dengan panggilan Al-Faqih al-Muqaddam (seorang ahli agama yang terpandang) pada abad ke-6 dan ke-7 H. Pada masanya, kota Hadhramaut kemudian lebih dikenal dan mengalami puncak kemasyhurannya. Muhammad bin Ali adalah seorang ulama besar yang memiliki kelebihan pengetahuan bidang agama secara mumpuni, di antaranya soal fiqih dan tasawuf. Di samping itu, konon ia pun memiliki pengalaman spiritual tinggi hingga ke Maqam al-Quthbiyyah (puncak maqam kaum sufi) maupun khirqah shufiyyah (legalitas kesufian).
Mengenai keadaan spiritual Muhammad bin Ali ini, al-Khatib pernah menggambarkan sebagai berikut: (“Pada suatu hari, Al-Faqih al-Muqaddam tenggelam dalam lautan Asma, Sifat dan Dzat Yang Suci”). Pada hikayat ke-24, para syekh meriwayatkan bahwa syekh syuyukh kita, Al-Faqih al-Muqaddam, pada akhirnya hidupnya tidak makan dan tidak minum. Semua yang ada di hadapannya sirna dan yang ada hanya Allah. Dalam keadaan fana’ seperti ini datang Khidir dan lainnya mengatakan kepadanya: “Segala sesuatu yang mempunyai nafs (ruh) akan merasakan mati .” Dia mengatakan, “Aku tidak mempunyai nafs.” Dikatakan lagi, “Semua yang berada di atasnya (dunia) akan musnah.” Dia menjawab, “Aku tidak berada di atasnya.” Dia mengatakan lagi, “Segala sesuatu akan hancur kecuali wajah-Nya (Dia).” Dia menjawab, “Aku bagian dari cahaya wajah-Nya.” Setelah keadaan fana’-nya berlangsung lama, lalu para putranya memintanya untuk makan walaupun sesuap. Menjelang akhir hayatnya, Al- mereka memaksakan untuk memasukkan makanan ke dalam perutnya. Dan setelah makanan tersebut masuk mereka mendengar suara (hatif). “Kalian telah bosan kepadanya, sedang kami menerimanya. Seandainya kalian biarkan dia tidak makan, maka dia akan tetap bersama kalian.”
Setelah wafatnya Muhammad bin Ali, perjalanan Tarekat Alawiyyah lalu dikembangkan oleh para syekh. Di antaranya ada empat syekh yang cukup terkenal, yaitu Syekh Abd al-Rahman al-Saqqaf (739), Syekh Umar al-Muhdhar bin Abd al-Rahman al-Saqqaf (833 H), Syekh Abdullah al-‘Aidarus bin Abu Bakar bin Abd al-Rahman al-Saqqaf (880 H), dan Syekh Abu Bakar al-Sakran (821 H).
Selama masa para syekh ini, dalam sejarah Ba Alawi, di kemudian hari ternyata telah banyak mewarnai terhadap perkembangan tarekat itu sendiri. Dan secara umum, hal ini bisa dilihat dari ciri-ciri melalui para tokoh maupun berbagai ajarannya dari masa para imam hingga masa syekh di Hadhramaut.
Pertama, adanya suatu tradisi pemikiran yang berlangsung dengan tetap mempertahankan beberapa ajaran para salaf mereka dari kalangan tokoh Alawi, seperti Al-Quthbaniyyah, dan sebutan Imam Ali sebagai Al-Washiy, atau keterikatan daur sejarah Alawi dan Ba Alawi. Termasuk masalah wasiat dari Rasulullah untuk Imam Ali sebagai pengganti Nabi Muhammad SAW.
Kedua, adanya sikap elastis terhadap pemikiran yang berkembang yang mempermudah kelompok ini untuk membaur dengan masyarakatnya, serta mendapatkan status sosial yang terhormat hingga mudah mempengaruhi warna pemikiran masyarakat.
Ketiga, berkembangnya tradisi para sufi kalangan khawwash (elite), seperti al-jam’u, al-farq, al-fana’ bahkan al-wahdah, sebagaimana yang dialami oleh Muhammad bin Ali (Al-Faqih al-Muqaddam) dan Syekh Abd al-Rahman al-Saqqaf.
Keempat, dalam Tarekat Alawiyyah, berkembang suatu usaha pembaharuan dalam mengembalikan tradisi tarekat sebagai Thariqah (suatu madzhab kesufian yang dilakukan oleh seorang tokoh sufi) hingga mampu menghilangkan formalitas yang kaku dalam tradisi tokoh para sufi.
Kelima, bila pada para tokoh sufi, seperti Hasan al-Bashri dengan zuhd-nya, Rabi’ah al-Adawiyah dengan mahabbah dan al-isyq al-Ilahi-nya, Abu Yazid al-Busthami dengan fana’-nya, al-Hallaj dengan wahdah al-wujud-nya, maka para tokoh Tarekat Alawiyyah, selain memiliki kelebihan-kelebihan itu, juga dikenal dengan al-khumul dan al-faqru-nya. Al-khumul berarti membebaskan seseorang dari sikap riya’ dan ‘ujub, yang juga merupakan bagian dari zuhud. Adapun al-faqru adalah suatu sikap yang secara vertikal penempatan diri seseorang sebagai hamba di hadapan Khaliq (Allah) sebagai zat yang Ghani (Maha Kaya) dan makhluk sebagai hamba-hamba yang fuqara, yang selalu membutuhkan nikmat-Nya. Secara horizontal, sikap tersebut dipahami dalam pengertian komunal bahwa rahmat Tuhan akan diberikan bila seseorang mempunyai kepedulian terhadap kaum fakir miskin.

Penghayatan ajaran tauhid seperti ini menjadukan kehidupan mereka tidak bisa dilepaskan dari kaum kelas bawah maupun kaum tertindas (mustadl’afin). Syekh Abd al-Rahman al-Saqqaf misalnya, selama itu dikenal dengan kaum fuqara-nya, sedangkan istri Muhammad bin Ali terkenal dengan dengan ummul fuqara-nya.
Dalam kitab Khulasah al-Madad al-Nabawi fi aurad Al-BaAlawi yang ditulis oleh Al-Habib Umar bin Salim bin Hafiz al-Husaini (Hadhramaut: Maktabah Tareem al-Haditsah, cetakan 2, tahun 1425 H/2004 M) dijelaskan:

“Dari segi bahasa Tarikat berarti jalan, atau cara.
Dalam dunia tasawwuf, Tarikat yang harus ditempuh seorang murid (istilah bagi seseorang yang mengikut Tarikat) untuk membersihkan hatinya supaya lebih dekat dengan Allah S.W.T. Dalam usaha pembersihan hati, seseorang murid, diharuskan memperbanyak ritual dan zikir, terutama yang bersifat sunnah atau nawafil.”

Prinsipnya, tarikat apapun selama masih bernaung dibawah bimbingan Al-Quran dan Sunnah Nabi s.a.w., adalah sesuatu yang dianjurkan oleh agama Islam, dalam salah satu Hadis Qudsi yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Hurairah Allah berfirman yang bermaksud: “Sesiapa yang memusuhi waliku, maka Aku (Allah) mengizinkan untuk memerangi orang-orang (yang memusuhi) tersebut. Dan hambaku tersebut senantiasa mendekatkan diri padaKu, dengan amalan-amalan selain yang telah Aku fardhukan (wajibkan) untuknya. Hambaku tersebut terus menerus mendekatkan dirinya dengan amalan-amalan sunnah (nawafil) sehingga Aku mencintainya. Ketika Aku mencintainya, maka Aku adalah ‘pendengaran’ yang ia gunakan untuk mendengar, dan Aku adalah ‘penglihatan’ yang ia gunakan untuk melihat, dan Aku adalah ‘tangan’ yang ia gunakan untuk menggerakkan, dan (Aku adalah) ’ kaki’ yang ia gunakan untuk berjalan. Jika hambaku itu meminta kepadaKu, maka Aku kabulkan, jika ia meminta perlindungan kepadaku, maka Aku melindunginya.”

Tarikat Al-BaAlawi ialah salah satu Tarikat Ahlul Bait. Pendiri Tarikat ini ialah As-Sayyid Al- Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali BaAlawi Alhusaini. Tarikat ini dijalankan dengan peraktek dari generasi ke generasi. Sebagaimana Tarikat Ahlul Bait lainnya, tarikat ini berpanduka Al- Quran dan Sunnah Nabi s.a.w., fondasinya ialah penyerahan diri kepada Allah s.w.t. dan mengikuti apa yang diperintah oleh Allah s.w.t. dan RasulNya. Dengan kata lain seorang hamba harus berjuang terus menerus menghadapi hawa nafsunya dengan terus mendekatkan dirinya kepada Allah s.w.t., pada saat itulah akan dibentagkan kepada hamba tersebut jalan-jalan menuju kemenangan. Tariqaah Al-BaAlawi adalah Tarikah Ahli Sunnah wal jamaah, ia berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunnah Rasulallah s.a.w. dan amalan para salaf saleh. Zahirnya adalah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ghazali, yaitu Ilmu, amal sesuai dengan manhaj (jalan) yang benar. Batinnya adalah sebagaiman penjelasan Syadziliyyah, mencapai kebenaran dan pemurnian Tauhid.

Tarikat al-Alawiyah adalah Tarikat Ahli Sunnah wal Jama’ah. Ia berpegang teguh kepada al-Quran, da Sunnah Rasulallah s.a.w. dan amalan para salaf. Zahirnya adalah al-Ghazaliyyah ataupun apa yang terdapat dalam kitab Imam al-Ghazali seperti ‘Bidayah al-Hidayah, Ihya Ulumuddin, Minhaj al-Abidin dan lain-lain.”

Seorang pengikut Tarikat al-Alawiyyah tidak dapat dikesan dengan pakaian atau amalan tertentu. Tarikat ini tidak menekankan kepada pakaian seragam atau wirid-wirid yang tertentu.

Amalan dan akhlak mereka adalah apa yang diamalkan dan dilakukan oleh Nabi s.a.w. dan para sahabat. Disamping beribadah kepada Allah, mereka juga mengambil berat tentang mencari nafkah setiap hari, mengambil berat tentang keluarga dan masyarakat.

Sayidina Ali bin Abi Thalib k.w., misalnya mempunyai wirid-wirid yang tersendiri yang diperolehi dari Nabi s.a.w. yang diamalkan setiap hari, tetapi juga mempunyai waktu mencari nafkah, mempunyai waktu bersama keluarga, mempunyai waktu berjuang untuk menegakkan Islam.
Satu perkara dalam Tarikat al-Alawiyah ialah selalu berada dalam wuduk, jika batal akan terus beruduk lagi. Begitulah biasanya. Selalu tidak sembahyahyang fardhu melainkan berjamaah dan di masjid pula, melainkan jika ada kepayahan. Juga sembahyang witir selepas isya atau diakhir malam, bagi yang sanggup bangun sebelum subuh, sekurang-kurangnya 3 rakaat. Sembahyang Duha setelah naik matahari sekurang-kurangnya 2 rakaat dan yang sempurnanya adalah 8 rakaat.

Juga tidak meninggalkan pembacaan al-Quran sebagai wirid sebanyak satu juz atau lebih atau kurang daripadanya (setiap hari). Orang yang tidak tahu membaca al-Quran akan membaca sahaja apa yang diketahuinya dari surah-surah Wadhuha sehingga akhir, dan berudhuk sebelum tidur.

Ratib al-Attas atau ratib al-Haddad akan dibacanya sebelum tidur. Sesiapa yang mengetahui wirid al-Haddad yang ringkas, dibacanya setiap hari. Juga sentiasa menjaga dan mengamalkan zikir-zikir dan wirid-wirid yang diajarkan oleh Nabi Muhammad s.a.w.

Daripada adat kebiasaan mereka yang mengamalkan tarikat al-Alawiyah, tidak suka mencaci atau mengumpat atau mengadu domba. Tidak membiasakan diri bersumpah secara sia-sia atau bercakap sesuatu yang tidak perlu atau berborak-borak.

Tidak masuk campur masaalah orang ramai melainkan untuk memperbaiki, mengajar atau menggembirakan. Jika tidak ada munasabah yang memerlukan kehadiran mereka, mereka tidak akan hadir.

Satu daripada amalan Tarikat al-Alawiyah adalah tidak suka menceburkan diri perkara syubhat dan kezaliman. Berhati-hati dalam pergaulan, terutama terhadap penipu dan pembelit. Tidak suka menyentuh kehormatan orang, atau mengambil harta orang lain melainkan dengan haq. Takut kepada Allah serta menjauhkan diri dari perkara-perkara yang boleh merusakkan nama baik atau mencemarkan akhlak mereka.

Selalu berusaha mencari keredaan Allah, membuat apa yang disuruh dan meninggalkan apa yang dilarang. Kalau sampai kedengaran, cakapan orang yang menyinggung perasaan mereka yang tidak sepatutnya dicakapkan, mereka cepat memaafkan. Tetapi kalau diceroboh larangan Allah, mereka akan marah, dan terus mengingatkan perkara yang haram itu. Dicegah kezaliman orang yang zalim dengan memberi ingatan kepadanya. Kalau tidak dilakukannya sendiri, dibawa perkara itu kepada pihak yang berkuasa untuk diselenggarakan demi mencegahi kezaliman terhadap orang-orang Islam.

Masanya selalu dipenuhkan sama ada dengan pelajaran, muzakarah dengan kawan-kawan, mengajar, memimpin, mengaji al-Quran atau sembahyang. Kalau duduk-duduk dengan keluarga dan anak-anak, akan bermesra, bergurau dan mengajar dengan lemah lembut. Sesiapa yang berbuat baik dibalasnya dengan baik. Kalau tidak dapat membalasnya, akan digembirakan hatinya dengan mendo’akannya.”


Intisari Tarekat ‘Alawiyyah

Kalam Al-Habib Muhammad bin Husin bin Ali Ba’bud Sesungguhnya asas thariqah para salafunas sholihin dari Bani Alawy yaitu adalah Al-Kitab dan As-Sunnah, dan yang menjadi bukti tentang itu semua adalah perjalanan hidup mereka yang diridhoi oleh Allah dan hal ihwal mereka yang terpuji.
Secara garis besar, thariqah mereka itu adalah sebagai berikut :
-Menjaga waktu-waktu yang diberikan Allah dan memanfaatkan waktu tersebut untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya.
–Selalu terikat dan hadir dalam majlis-majlis ilmu dan majlis yang bersifat dapat mengingatkan diri kepada Allah. –
Berakhlak dengan adab-adab yang baik, menjauhi ketenaran, meninggalkan hal-hal yang tidak berguna, dan menghilangkan semua atribut kecuali atribut kebaikan.
-Membiasakan diri dalam membaca dzikir terutama dzikir-dzikir Nabawiyyah sesuai dengan batas kemampuannya, seperti amalan-amalan dzikir yang disusun oleh Al-Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad.
-Ziarah kepada para ulama dan auliya baik yang masih hidup ataupun yang telah meninggal, selalu ingin bermaksud menghadiri perkumpulan-perkumpulan yang penuh dengan dzikir khususnya yang mengandung unsur mengingatkan diri kepada Allah, dan menghadirinya dengan penuh rasa husnudz dzon (berbaik sangka), dengan syarat bahwa perkumpulan-perkumpulan tersebut bebas dari perbuatan-perbuatan mungkar yang dipandang oleh agama.

 

Dimanakah para salaf Bani Alawy berjalan?

Kitab Ar-Risalah Al-Muawanah, karangan Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad. Di dalam buku tersebut, Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad berkata : “Hendaklah kamu selalu membaikkan dan meluruskan aqidah dengan mengikuti kelompok yang selamat, yang dikenal di antara berbagai kelompok Islam sebagai Ahlu Sunnah wal Jamaah, yang berpegang teguh pada teladan Rasulullah serta para Sahabatnya.” Buku Aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah, yang dibiayai oleh Al-Habib Al-Qutub Abubakar bin Muhammad Assegaf Gresik untuk disebarkan. Pada cover depan buku tersebut, Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad berkata dalam suatu syairnya yang berbunyi : “Jadikankanlah Asy’ariyyah sebagai aqidahmu…” (Asy’ariyyah adalah salah satu dari 2 aliran aqidah dalam Ahli Sunnah wal Jamaah, disamping Maturidiyyah)
Kitab ‘Uquudul Almas, karangan Al-Habib Alwi bin Thohir Alhaddad Mufti Johor, hal. 89. Di dalam buku tersebut, Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad berkata : “Hendaklah kamu membentengi aqidahmu dan memperbaiki pondasinya di atas jalan kelompok yang selamat, yang dikenal di antara seluruh firqoh-firqoh Islam yaitu kelompok Ahlu Sunnah wal Jamaah, yang berpegang teguh dengan apa-apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para Sahabat beliau.”
Kitab Majmu’ Kalam Al-Imam Abdulah bin Husin Bin Thohir Ba’alawy, karangan Al-Imam Abdulah bin Husin Bin Thohir Ba’alawy, hal. 105.
Di dalam kitab tersebut, Al-Imam Abdulah bin Husin Bin Thohir Ba’alawy berkata : “Sesungguhnya itulah jalan yang ditempuh oleh sebagian besar para Tabi’in dengan mengikuti jalan para Sahabat, begitu juga hal ini diikuti oleh Tabi’ Tabi’in seperti Al-Imam Asy-Syafi’i, Al-Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Imam Malik, Al-Imam Abu Hanifah, dan juga diikuti oleh orang-orang yang berjalan diatas jalan mereka, dan seperti para Saadah kita. Maka Itulah mereka yang disebut Sawaadhul A’dhom dan golongan yang selamat. Karena mereka berjalan diatas apa-apa yang telah dijalankan oleh Rasulullah SAW dan para Sahabat beliau dengan sebaik-baiknya aqidah dan suluk diatas jalan kebenaran dan petunjuk dengan tanpa mengecam salah seorang pun dari para Sahabat dan tidak juga mengundat (mencaci/melaknat) mereka…”
kitab Al-’Iqdul Yawaaqit Al-Jauhariyyah, karangan Al-Habib Idrus bin Umar Alhabsyi, juz 1, hal. 28. Di dalam buku tersebut, Al-Imam Idrus bin Umar Alhabsyi berkata : “…Maka menjadi sucilah lembah itu (Hadramaut) berkat adanya Al-Fagih Al-Muqoddam. Beliau senantia sa membangun pondasi ketakwaan di masjid yang ada di lembah itu, sehingga semakin tampaklah disana aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah…”
Kitab Al-Maslak Al-Qorib, karangan Al-Imam Thohir bin Husin Bin Thohir Ba’alawy, pada bagian akhir. Di dalam buku tersebut, Al-Imam Thohir bin Husin Bin Thohir Ba’alawy berkata : “Sesungguhnya thariqah Alawiyah adalah suatu thariqah dari golongan sufi yang berdasarkan atas aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang bersumber dari para Sahabat yang mulia, Tabi’in dan para pengikut Tabi’in yang utama…” (Hal senada diatas juga telah diungkapkan oleh Al-Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz dalam kitabnya Khulasoh Al-Madad An-Nabawi, hal. 26)
Kitab Tadzkiirun Naas, karangan Al-Habib Hasan bin Ahmad Al-Atthas, hal. 24. Di dalam buku tersebut, Al-Habib Hasan bin Ahmad Al-Atthas berkata : “Para salaf kita Alawiyyin mengikuti madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i dalam sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan hukum-hukum Islam, masalah ibadah dan muamalah, dan permasalahan-permalasahan figih.”
Kitab Al-’Alam An-Nibros, karangan Al-Imam Abdullah bin Alwi Al-Atthas, penerbit ‘Isa Al-Khalabi Mesir. 1. Di dalam buku tersebut, hal. 6-8, Al-Imam Abdullah bin Alwi Al-Atthas berkata : “…Dalam segi akidah, mereka tidak menyimpang walau seujung kaki semut pun dari akidah Asy’ariyyah/Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan bermadzhabkan Syafi’i…” 2. Di dalam buku tersebut, hal. 10-15, Al-Imam Abdulah bin Alwi Al-Atthas berkata : “…Mereka itulah yang dikatakan sebagai golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dikategorikan pada golongan yang selamat bersama Nabi SAW…”
Kitab Maulud Simtud Duror, Al-Habib Al-Qutub Ali bin Muhammad Alhabsyi, pada bagian syair. Dalam syairnya, beliau berkata : “Ya Allah, berilah kekuatan pada kami untuk berjalan diatas jalan yang benar, yaitu diatas jalan Nabi dan jalan yang ditempuh Saadah Syadziliyyah.” Dalam riwayat lain ditulis dengan : “…dan jalan yang ditempuh Saadah Alawiyyah.” (Dua-duanya, baik Thariqah Syadziliyyah ataupun Alawiyyah berada dalam koridor Ahli Sunnah wal Jamaah) Kitab Al-Bidh’ah Al-Muhammadiyyah, Al-Ustadz Alwi bin Muhammad Bilfagih, hal. 137-140, dalam bab Madzhab Al-Imam Al-Muhajir.
Di dalam buku tersebut, Ustadz Alwi menuliskan : “Sungguh teranglah bahwa madzhab Al-Imam Al-Muhajir adalah madzhab Asy-Syafi’i dan tidak berseberangan dengan jalan yang ditempuh oleh para datuknya. Menurut sumber-sumber sejarah di masa itu dikatakan bahwa beliau menganut madzhab Imamiyyah. Akan tetapi menurut sumber-sumber yang lebih dapat terpercaya, pendapat tersebut tidak dapat diterima. Apalagi ada bukti yang lebih kuat bahwa putera beliau Abdulloh (terkenal dengan Ubaidillah) berguru kepada Abu Thalib Al-Makki yang menganut faham Ahli Sunnah. Bagaimana mungkin Al-Imam Al-Muhajir dikatakan bukan menganut madzhab Asy-Syafi’i, padahal beliau adalah orang pertama yang menyebarkan atau memasukkan madzhab Syafi’i ke Hadramaut setibanya beliau disana.”

 

Menyingkap sifat-sifat aimmah Thariqah Alawiyyah

Kalam Al-Imam Abdullah bin Alwi Al-Atthas Mereka salafunas sholeh lebih cenderung kepada merendahkan diri dengan hidup sederhana dan mereka puas dengan hal itu, padahal mereka adalah para aimmah (pemimpin) keluarga Bani Alawy. Mereka sebagai pemimpin thariqah ini lebih menyukai untuk mengorbankan diri mereka sendiri demi kepentingan orang lain sekalipun mereka mempunyai kebutuhan yang mendesak.
Telah berkata salah seorang ulama dari salafunas sholeh tentang keluarga Bani Alawy, “Banyak dari mereka yang menjadi ulama-ulama besar dan iImam sebagai panutan umat di zamannya. Sehingga tidak sedikit di antara mereka yang kita kenal sebagai seorang Wali Allah yang mempunyai karomah. Hati mereka itu tenggelam dalam lembah cinta kepada Allah SWT.
Disamping itu mereka mempunyai perhatian yang besar sekali terhadap kitab-kitab karangan Al-Imam Al-Ghazaly, terutama kitab Ihya’, Al-Basith, Al-Wasith dan Al-Wajiz. Lagipula tidak jarang dari mereka yang mencapai derajat Al-Huffadz (orang yang banyak menghafal hadits-hadits Nabi SAW).” Kalau kita teliti sejarah mereka, setiap orang dari aslafunas sholihin berkhidmat kepada orang-orang, makan bersama orang-orang miskin dan anak-anak yatim piatu. Bahkan mereka memikul hajat orang-orang miskin dari pasar, berjabat tangan kepada orang yang kaya dan yang miskin, para pejabat dan rakyat jelata.
Oleh karenanya, berkata Al-Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad, “Barang siapa yang melihat salah seorang dari mereka, begitu menatap pandangannya kepada mereka, pasti akan merasa kagum akan keanggunan budi pekerti mereka.” Telah diuraikan oleh salah seorang ulama terkenal yaitu Al-Imam Ahmad bin Zain Alhabsyi bahwa dalam diri mereka keluarga Bani Alawy terdapat ilmu dhohir dan batin. Dalam segi akidah, mereka tidak menyimpang walau seujung kaki semut pun dari akidah Asy’ariyyah/Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan bermadzhabkan Syafi’i. Mereka tidak terpengaruh oleh beraneka ragam bid’ah dan kerawanan lilitan harta duniawi. Itulah sebagian daripada sifat-sifat aimmah Bani Alawy dan masih banyak lagi sifat-sifat mereka jika kita mau meninjau jejak mereka dan menyingkap lembaran hidup mereka.

Kalam Al-Imam Abdullah bin Alwi Al-Atthas
1. Menjaga putra-putri alawiyyin khususnya dan para generasi muda umumnya dari sifat-sifat ambisi untuk mencari pengaruh dan pangkat/kedudukan yang di puja-puji oleh semua orang. Sebagaimana sikap Nabi SAW terhadap para sahabatnya seakan-akan seperti ayah mereka, beliau SAW tidak takut akan kemiskinan yang bersifat duniawi yang akan menimpa mereka.
Telah berkata Ath-Thiby ra., “Seorang ayah yang materialis (cinta kepada harta-harta duniawi) khawatir apabila anaknya ditimpa miskin harta. Sedangkan ayah yang religius (yang kuat pendidikan moral dan agamanya) khawatir apabila anaknya miskin akan ilmu-ilmu agama.”
Sebagaimana hadits Nabi SAW yang diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. :
“Celakalah penyembah dinar dan dirham serta penyembah karpet dan selimut. Bila ia diberi, rela dan senang, dan jika tidak ia diberi, tidak senang (benci).”
Telah berkata seorang ulama besar di zamannya Hamdun Al-Qoshshor,
“Jika berkumpul iblis dan bala tentaranya, mereka tidak gembira pada suatu hal seperti kegembiraan mereka akan tiga perkara berikut :
Orang mukmin membunuh seorang mukmin.
Orang yang mati diatas kekafiran.
Orang yang hatinya ada rasa takut kepada kemiskinan harta.
2. Menjaga putra-putri ‘Alawiyyin dari akidah-akidah yang bejat dan rusak serta melarang mereka untuk memperbincangkan apa-apa yang terjadi di antara para sahabat (rodhiyalloohu ‘anhum ajma’iin). Mereka bahkan mendambakan putra-putrinya untuk berpegang teguh dengan apa yang ada dalam kitab Ihya’, sebagaimana mereka telah mengamalkan apa yang ada di dalam kitab tersebut. Sehingga berkata Al-Habib Abdurrahman Assegaf ra. :
“Barang siapa yang tidak menelaah kitab Ihya’, maka tidak ada pada dirinya rasa malu.”
Para leluhur yang saleh dan mulia, kita akan dibimbing kepada jalan yang penuh petunjuk dari Allah SWT. Berkata Al-Imam Asy-Syeikh Abdullah bin Ahmad Basaudan RA di dalam kitabnya Al-Futuuhah Al-Arsyiah, setelah menyebutkan beberapa kitab yang terkarang dimana disana disebutkan riwayat hidup para Saadah. Beliau berkata, “Pintasilah jalan yang penuh cahaya sebagaimana yang telah dipaparkan dalam kitab Ihya Ulumiddin, supaya anda tergolong dari orang-orang yang punya rasa malu, dan pintasilah jalan hidayat dengan mengamalkan apa yang ada di dalam kitab Bidayatul Hidayah.”
Berkata Sayyiduna Al-Imam Muhammad bin Ahmad bin Ja’far bin Ahmad bin Zein Alhabsyi, “Qodho (ketetapan) itu tidak dapat dipungkiri, dan syariat harus diikuti tanpa dikurangi dan ditambahi. Para imam kita keluarga Bani Alawy telah melintasi jalur yang mulus dan jalan yang lurus. Barangsiapa yang mencari aliran baru untuk dirinya sendiri atau untuk putra-putrrinya dengan cara tidak menempuh di jalan para datuk-datuknya yang saleh dan mulia, maka pada akhir umurnya ia akan menemui kekecewaan dan kebinasaan.”
Mereka itulah yang dikatakan sebagai golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dikategorikan pada golongan yang selamat bersama Nabi SAW. Mereka itulah orang-orang yang bakal mendapat syafaat beliau SAW.
Berkata Sayyiduna Al-Imam Al-Ahqof As-Sayyid Umar bin Saggaf Assaggaf kepada anaknya, “Aku berpesan kepadamu, hendaklah kau bersungguh-sungguh mengikuti perjalanan para Salafuna As-sholeh dari Ahlul Bait An-Nabawy, terlebih-lebih dari keluarga Bani Alawy. Bersungguh – sungguhlah dan bergiatlah dalam mengikuti perjalanan mereka niscaya kau akan sukses.”
[Diambil dari Al-'Alam An-Nibros, karya Al-Imam Abdullah bin Alwi Al-Atthas, hal. 10-15, penerbit 'Isa Al-Khalabi Mesir]
Tarekat yang dianut oleh Alfagih Al Muqaddam dan pengikutnya adalah “Atthariqah Al-Alawiyah” yang dasarnya adalah mengikuti apa yang tersurat di dalam Alkitab (Alqur’an) dan Assunnah (ajaran Nabi), meneladani tokoh-tokoh Islam kurun per¬tama (para sahabat dan tabi’in). Itulah yang di¬nyatakan di dalam kitab-kitab mereka, ceramah dan nasihat agama, dan surat menyurat mereka antara yang satu dengan yang lain, serta dikuatkan pula oleh perilaku dan tindak tanduk Salaf Al¬ alawiyin.
Hal ini diungkapkan oleh salah seorang tokoh Alawiyin yaitu Habib Abdullah Al Haddad dalam sebuah bait syair sebagai berikut :
Berpegang teguhlah engkau dengan Kitab Allah,ikutilah Sunnah nabi Serta teladanilah para Salaf terdahulu Semoga Allah memberi engkau petunjuk-Nya
Demikian pula dinyatakan oleh Al Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi :
Demikian inilah amalan-amalan murni dari segala campuran ditambah ilmu dan keluhuran akhlak serta wirid-wirid yang cukup banyak
Dengan demikian jelaslah, golongan Alawiyin pengikut tarekat tasawuf, tetapi tasawuf mereka tidak menghalangi untuk melakukan tugas-tugas kehidupan, baik yang bersifat kemasyarakatan (sosial), keluarga maupun pribadi. Dalam segi tasawuf ini, Alawiyin menyerupai sahabat Nabi dan para tabi’in yang terkenal dengan kesufiannya namun tidak terhalang untuk berjihad menyebar¬luaskan ilmu dan dakwah.
Kaum Alawiyin adalah penganut madzhab tasawuf yang berintikan sikap zuhud. Namun zuhud tidak menghalangi mereka untuk mengum¬pulkan harta yang amat besar jumlahnya asal di¬peroleh melalui jalan yang wajar dan halal, yang kemudian disalurkan untuk kepentingan umum, menjamu tamu, mendirikan masjid dengan men¬cadangkan wakaf untuk pembiayaannya, menggali sumur untuk menyediakan air bersih yang sangat diperlukan, membuka dapur-dapur umur, dan mendirikan pondok pesantren untuk menyebar¬luaskan ilmu dan dakwah ke jalan Allah. Meng-usahakan perdamaian dan memperbaiki hubungan antara golongan-golongan yang bersengketa, ber¬sedekah dan membantu mereka yang memerlukan bantuan.

Kaum Alawiyin adalah orang-orang sufi penga¬nut madzhab Syafi’i, namun mereka tidak ber¬taklid kepada Syafi’i dalam segala hal. Dalam soal-¬soal tertentu, mereka meninggalkan pendapat Syafi’i.
Kaum Alawiyin adalah penganut Al-Asy’ari (dalam soal-soal Tauhid), namun mereka juga meninggalkan faham Al-Asy’ari dalam beberapa hal, seperti mengenai sahnya taklid dalam soal iman.
Meskipun tokoh-tokoh Alawiyin sangat mengagumi karya-karya Al-Ghazali serta falsafahnya dalam bidang akhlak dan tasawuf, namun mereka tidak mengikutinya secara bertaklid buta, melainkan memperhatikan kekurangan dan kelemahan AlGhazaIi, sehingga ada diantara tokoh mereka yang mengatakan. “Di dalam kitab Ihya’ ada beberapa pernyataan seandainya dapat dihapus dengan air mata kami, kami akan melakukannya”
Kaum Alawiyin adalah orang-orang sufi, sebagian mereka menyukai nyanyi dan lagu yang sehat tanpa disertai tindakan yang melangar akhlak, apalagi minum-minuman yang memabukan, seperti yang dilakukan oleh beberapa penganut tarekat lainnya.
Kaum Alawiyin adalah orang-orang sufi, namun mereka tidak berkhalwat atau melakukan latihan¬ latihan rohani secara berlebihan dan melampaui batas. Kalaupun ada, sangatlah jarang, dan mereka melakukannya dengan cara yang tidak merusak, baik fisik maupun mental, serta bertujuan semata mata mendidik jiwa, menghilangkan sifat-sifat kelemahan dan kekotoran rohani, sebagai usaha untuk menyucikan diri dari kungkungan nafsu angkara murka dan syahwat.

Kaum Alawiyin adalah orang-orang sufi, namun tasawuf mereka tidak melarang tokoh-tokoh besar dan ulama mereka menduduki jabatan-jabatan penting: sebagai hakim, pemberi fatwa (Mufti), guru-guru besar, atau usahawan dalam bidang pertanian, perdagangan atau pertukangan, baik sebagai pimpinan maupun pelaksana lapangan.
Alfagih Al-Muqaddam - misalnya - bapak Ala¬wiyin dalam tasawuf, mungkin kita tidak pernah mengira bahwa Alfagih bertindak mengurusi per¬kebunan dan sawah ladangnya sendiri, mengatur rumah tangga dan keluarga, bahkan kadang-kadang berbelanja sendiri ke pasar. Kita mungkin tidak pernah rnembayangkan bahwa perkebunan Alfagih ini terdiri dari ribuan batang pohon kurma dan buah kurma hasil perkebunan itu - seperti di riwayatkan di dalam Silsilah Al A’idarusiyah - adalah sekitar 360 guci (zier). setiap guci berisi sekitar 1800 rathl (kati).
Penulis kitab Almasyra’ Arrawiy bercerita tentang kekayaan Alhabib Abdullah bin Alawi. Putera Al-faqih Al-Muqaddam (wafat 731 H.) Abdullah bin Alawi ini telah mewakafkan untuk masjid Bani Alawi di Tarim seharga 90.000 dinar. Ia mempunyai daftar tetap yang didalamnya tercatat nama orang-orang yang memerlukan bantuan, selain hadiah-hadiah yang diberikan kepada para penyair. Kendati demikian, ditinjau dari segi tasawuf dan ibadahnya, hampir tidak ada orang yang dapat menandinginya. Sedang dari ilmu, telah dicatat bahwa dia pernah berguru kepada seribu orang Syekh (guru) terdiri dari ulama-ulama Yarnan, Hadramaut, Hijaz, Irak dan Maghrib(Afrika Utara).
Demikian pula dengan Habib Assagaf, betapa¬pun banyak kegiatan dan kesibukannya dalam rnengerjakan wirid, zikir dan rnengajar, namun memiliki perkebunan dan sawah ladang yang luas sekali serta meminta laporan tentang biaya-biaya yang dikeluarkan oleh, para pekerjanya, pada waktu antara maghrib dan isya’, seperti diriwayatkan oleh Alkhathib, penulis kitab Aljauhar. Pohon¬pohon kurmanya amatlah banyak, tidak sedikit di antara pohon-pohon itu yang ditanam dengan tangannya sendiri, sambil membaca surat YaSin pada setiap pohon yang ditanamnya.
Habib Al Muhdhar putra Assaqaf, adalah se¬orang ulama besar yang diyakini sebagai seorang wali Allah, namun tergolong seorang yang cukup kaya, yang kekayaannya di antaranya adalah kapal-¬kapal, tanah-tanah pertanian, kebun kurma dan lain-lain, seperti diterangkan semua itu di dalam surat wasiatnya.
Demikian pula dengan Imam Abubakar Al-A’dani, putra Habib Al-A’idarus (yang makamnya cukup terkenal di kota Aden) tergolong seorang hartawan di zamannya.Setiap hari memotong 30 ekor kambing untuk menjamu para tamu dalam berbuka puasa seperti dicatat oleh penulis biografi¬nya. Al-A’dani telah melunasi hutang ayahnya setelah wafat sebanyak 30 ribu dinar. Al-A’dani wafat 914 H.
Demikian pula halnya dengan keturunan Abdullah bin Syekh Al-A’idarus ( keponakan Al¬A’dani), yang banyak berhubungan dengan raja-¬raja India. Kita akan kagum mempelajari riwayat hidup mereka, sebab di samping hasil karya ilmiah yang mereka cipta dan perbaikan sosial yang mereka lakukan serta ketekunan mereka di bidang ilmu dan ibadah, tokoh-tokoh ini mampu me-miliki kekayaan yang demikian besar, menandingi para raja dan pangeran. Sedang sebagian besar kekayaan itu, dinafkahkan untuk perbaikan sosial dan kepentingan umum.
Jadi, faharn tasawuf yang dianut oleh golongan Alawiyin adalah ajaran tasawuf yang wajar dan sehat, tidak membawa pengikutnya menjurus kepada fanatisme dan jumud (kebekuan)atau menjurus kepada ekstrimisme dan ingkar. Ajaran tasawuf mereka merupakan sikap tengah yang memelihara keseimbangan dalam semua segi.
Perlu kiranya dicatat disini, bahwa apa yang dihubungkan kepada tokoh-tokoh Alawiyin berupa latihan amat banyak secara umum tidak mampu dilakukan manusia biasa serta bertentangan dengan naluri yang wajar, baik itu berupa tidak tidur siang malam untuk beberapa tahun lamanya berhenti makan dan minum berpuluh-puluh hari secara terus menerus, maupun mengkhatamkan pembacaan Alqur’an beberapa kali di waktu siang dan beberapa kali di waktu malam. Hal - hal semacarn itu hanyalah merupakan tindakan-tindakan khusus yang hanya mampu dilakukan oleh orang-orang tertentu saja yang memang diberi kemauan dan kemampuan oleh Allah, di samping adanya kesediaan batin untuk melakukannya. Hal-hal semacarn ini memang tidak dapat dilakukan oleh selain mereka sebab sifatnya yang khusus dan merupakan pengecualian dan yang umum. Bahkan lingkungan mereka sendiri memandang hal itu sebagai sesuatu yang aneh, sehingga apabila ada yang menceritakannya, hanyalah sekadar menyatakan rasa kagum terhadap sesuatu yang luar biasa¬. Akan tetapi hal-hal semacarn itu boleh saja digolongkan sebagai “karamah” yang telah diuraikan oleh ulama (tasawuf) secara jelas. Perlu pula dicatat di sini, bahwa pernyataan¬-pernyataan yang kadang-kadang diucapkan oleh beberapa tokoh Alawiyin tertentu - seperti di¬catat oleh sebagian penulis sejarah terdahulu yang pada lahirnya bertentangan dengan prinsip-¬prinsip syara’, dan yang terkenal dengan sebutan syathahat adalah bukan karena mereka telah meyakini faham “wahdatul wujud” (panteisme), bukan pula untuk menyatakan kesombongan dan membanggakan diri, seperti dituduhkan oleh sementara orang. Sebab kebersihan pribadi dan kejujuran tokoh-tokoh itu cukup dikenal dalam sejarah. Pada hakikatnya, pernyataan-pernyataan itu dilontarkan pada saat mereka dalam keadaan ganjil dan luar biasa, di mana mereka berada dalam suasana tak sadar (keadaan fana), sehingga apa yang diucapkan itu dapatlah dimaafkan, dan tidak dapat dicatat sebagai pelanggaran yang mengakibat¬kan dosa, apalagi kufur, Betapa pun juga, tidaklah sepatutnya hal-hal seperti itu disiarkan, mengingat mereka sendiri pun tidak rnenyukainya. Pada tahap perkembangan ini, lahirlah jabatan ” Munshib”. Jabatan itu sendiri dikenal sebagai “Manshabah”. Sebagian besar Munshib Alawiyin muncul pada abad kesebelas dan abad kedua¬belas H. Seperti Munshib Al-Attas, Munshib Al ‘Aidarus, Munshib Al-Syekh Abubakar bin Salim, Munshib Alhabsyi, Munshib Al Haddad, Al-Jufri, Al-Alawi bin Ali, Al-Syathiri, Al-Abu Numay dan lain-lain.
Tugas yang dilakukan oleh lembaga ini adalah tugas yang mulia dan bermanfaat, baik bagi agama maupun bagi sesama manusia. Pemangku jabatan ini - yang menerimanya secara turun temurun - selalu berusaha mendamaikan suku-suku yang ber¬sengketa - khususnya sengketa antara suku-suku yang bersenjaia - menjamu tamu yang datang berkunjung, menolong orang-orang lemah, memberi petunjuk kepada mereka yang memerlu¬kan petunjuk dan bantuan bagi yang memerlukan bantuan.
Lembaga ini senantiasa memainkan perannya hingga kini, sesuai dengan tujuan “Manshabah” yang didirikan untuknya. Para Munshib tidak jarang mengorbankan harta dan kepentingan pribadi demi tugas dan jabatannya. Hanya saja generasi yang kernudian biasanya makin lemah bila dibanding dengan pendahulunya, baik di bidang keahlian, kemampuan, maupun kewibawaan, se¬hingga secara berangsur, lembaga ini makin lama makin berkurang peranannya. Hal ini terutarna disebabkan kurangnya perhatian terhadap pendidikan, baik ilrnu maupun keahlian, sesuai dangan, apa yang dahulu dikuasai oleh bapak-bapak mereka

Syekh Abdullah al-Haddad dan Tarekat Alawiyyah
Nama lengkapnya Syekh Abdullah bin Alwi al-Haddad atau Syekh Abdullah al-Haddad. Dalam sejarah Tarekat Alawiyyah, nama al-Haddad ini tidak bisa dipisahkan, karena dialah yang banyak memberikan pemikiran baru tentang  pengembangan ajaran tarekat ini di masa-masa mendatang. Ia lahir di Tarim, Hadhramaut pada 5 Safar 1044 H. Ayahnya, Sayyid Alwi bin Muhammad al-Haddad, dikenal sebagai seorang yang saleh. Al-Haddad sendiri lahir dan besar di kota Tarim dan lebih banyak diasuh oleh ibunya, Syarifah Salma, seorang ahli ma’rifah dan wilayah (kewalian).
Peranan al-Haddad dalam mempopulerkan Tarekat Alawiyyah ke seluruh penjuru dunia memang tidak kecil, sehingga kelak tarekat ini dikenal juga dengan nama Tarekat Haddadiyyah. Peran al-Haddad itu misalnya, ia di antaranya telah memberikan dasar-dasar pengertian Tarekat Alawiyyah. Ia mengatakan, bahwa Tarekat Alawiyyah adalah Thariqah Ashhab al-Yamin, atau tarekatnya orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk ingat dan selalu taat pada Allah dan menjaganya dengan hal-hal baik yang bersifat ukhrawi. Dalam hal suluk, al-Haddad membaginya ke dalam dua bagian.
Pertama, kelompok khashshah (khusus), yaitu bagi mereka yang sudah sampai pada tingkat muhajadah, mengosongkan diri baik lahir maupun batin dari selain Allah di samping membersihkan diri dari segala perangai tak terpuji hingga sekecil-kecilnya dan menghiasi diri dengan perbuatan-perbuatan terpuji. Kedua, kelompok ‘ammah (umum), yakni mereka yang baru memulai perjalanannya dengan mengamalkan serangkaian perintah-perintah as-Sunnah. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa Tarekat Alawiyyah adalah tarekat ‘ammah, atau sebagai jembatan awal menuju tarekat khashshah.
Karena itu, semua ajaran salaf Ba Alawi menekankan adanya hubungan seorang syekh (musryid), perhatian seksama dengan ajarannya, dan membina batin dengan ibadah. Amal shaleh dalam ajaran tarekat ini juga sangat ditekankan, dan untuk itu diperlukan suatu tarekat yang ajarannya mudah dipahami oleh masyarakat awam.
Al-Haddad juga mengajarkan bahwa hidup itu adalah safar (sebuah perjalanan menuju Tuhan). Safar adalah siyahah ruhaniyyah (perjalanan rekreatif yang bersifat ruhani), perjalanan yang dilakukan untuk melawan hawa nafsu dan sebagai media pendidikan moral. Oleh karena itu, di dalam safar ini, para musafir setidaknya membutuhkan empat hal. Pertama, ilmu yang akan membantu untuk membuat strategi, kedua, sikap wara’ yang dapat mencegahnya dari perbuatan haram. Ketiga, semangat yang menopangnya. Keempat, moralitas yang baik yang menjaganya.

Silsilah Khirqah Kesufian Yang Didapat dari Abu Madyan
Sampai Ke Al Faqihi Muqadam Thariqah Alawiyah Terdapat Silsilah Khirqah Kesufian Yang Didapat dari Abu Madyan ( Syu’aib Bin Husain Al Anshari) Sufi terkemuka yang berasal dari Maroko.
Lihat silsilahnya Dibawah ini:

Rasulullah Muhammad s.a.w.
Ali Bin Abu Thalib, Beliau dari
Hasan Al Bashri, Beliau dari
Habib Al ‘AJami, Beliau dari
Dawud At-Tha’i, Beliau dari
Ma’ruf Al Kharkhi, Beliau dari
Sari As-Saqati, Beliau dari
Al Junaid Bin Muhammad Al Baghdadi, Beliau dari
As-Syibli, Beliau dari
Abu Thalib Al Makki, Beliau dari
Abi Muhammad Al Juwaini, Beliau dari
Imamul Haramain, Beliau dari
Imam Al Ghadzali, Beliau dari
Abu Bakar Muhammad Bin Abdullah Ibnul ‘Arabi, Beliau dari
Abil Hasan Bin Hirzihim, Beliau dari
Abi Ya’za, Beliau dari
Abu Madyan; Syu’aib Bin Husin Al Anshari, Beliau dari
Al Faqihi Muqadam Muhammad Bin Ali Ba’Alawi, Beliau dari

Silsilah Khirqah Kesufian Thariqah Alawiyah 
Melalui Jalur MURSYIDUNA Al HABIB UMAR BIN HAFID BIN SYEIKH ABUBAKAR

Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW
Al-Imam Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah
Assayyid Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah
Assayyid ‘Ali Zaenal ‘Abidin
Assayyid Muhammad Al-Baqir
Assayyid Ja’far Asshodiq
Assayyid ‘Ali Al’Uryadh
Assayyid Muhammad Annaqib
Assayyid ‘Isa Arrumy
Assayyid Ahmad Almuhajir (Leluhur Alawiyin Di Hadramaut; Hijrah dari Iraq)
Assayyid ‘Ubaydillah bin Ahmad Almuhajir
Assayyid ‘Alawy bin ‘Ubaydillah (Dari Alwi nama Thariqah Alawiyah berasal)
Assayyid Muhammad bin ‘Alawy
Assayyid ‘Alawy bin Muhammad
Assayyid ‘Ali bin ‘Alawy Kholi’ Qosam
Assayyid Muhammad Shohibul Mirbath
Assayyid ‘Ali bin Muhammad
Al-Imam Faqihil Muqoddam Muhammad bin ‘Ali (Pencetus Thariqah alawiyah menjadi sebuah Tarekat Sufi yang utuh)
Habib ‘Alawy Alghoyyur bin Faqihil Muqoddam
Habib ‘Ali bin ‘Alawy Alghoyyur
Habib Muhammad Maula Addawilah
Habib ‘Abdurrahman Asseqaf bin Muhammad Maula Addawilah
Habib Abu Bakar Assakran
Habib ‘Ali bin Abu Bakar Assakran

Habib ‘Abdurrahman bin ‘Ali
Habib Ahmad bin Abdurrahman Syahaabuddin
Habib Abu Bakar bin Salim Fakhrul Wujud
Habib Husein bin Abu Bakar
Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman Al Atthas
Habib ‘Abdullah bin ‘Alawy Alhaddad
Habib Ahmad bin Zein Alhabsyi
Habib Hamid bin ‘Umar Ba’Alawy
Habib ‘Umar bin Seqaf Asseqaf
Habib ‘Abdulloh bin Husin bin Thohir
Habib ‘Abdurrahman Almasyhur
Habib ‘Ali bin Muhammad Alhabsyi
Habib ‘Abdullah bin Umar Assyathiry
Habib ‘Abdul Qadir bin Ahmad Asseqaf
Habib ‘Umar bin Hafiz

Tiada ulasan: