Catatan Popular

Isnin, 18 April 2016

KITAB AL LUMA’ FI AL TASHAWWUF MUKADIMMAH : VI.CIRI KHAS KAUM SUFI YANG TIDAK SAMA DENGAN TINGKATAN ORANG-ORANG YANG BERILMU DALAM PENGERTIAN YANG LAIN



(RUJUKAN LENGKAP ILMU TASAWWUF) 

Tulisan Abu Nashr Abdullah bin Ali as-Sarraj ath-Thusi yang diberi gelar Thawus al-Fuqara' (Si Burung Merak orang-orang fakir Sufi) 

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -- rahimahullah -- berkata: Kaum Sufi juga memiliki ciri khas yang berbeda dengan tingkatan orang-orang berilmu,dalam menggunakan ayat-ayat dari kitab ALLAH SWT.yang dibaca dan Hadis Rasulullah.saw.yang diriwayatkan.Tidak ada satu ayat pun yang menyalin atau Hadis maupun Atsar yang menghilangkan hukum yang menganjurkan keutamaan akhlak,membahas tentang kemuliaan berbagai kondisi spiritual dan keutamaan amal,menceritakan tentang berbagai kedudukan spiritual (maqam) yang tinggi dalam agama,dan posisi-posisi terhormat yang hanya dikhususkan untuk kelompok orang-orang mukmin.Dimana para Sahabat dan Tabi'in selalu bergantung pada akhlak-alkhlak tersebut.Dan itulah etikan dan sopan santun Rasulullah.saw.,dan akhlak beliau yang mulia.Sebab Rasulullah.saw.bersabda: 

"Sesungguhnya Allah telah membina mental (akhlak) ku,kemudian Dia membinanya dengan sangat baik." (Hr. Al-Askari dari Ali r.a ) 

Disamping itu ALLAH SWT.juga telah menegaskan dalam firman-Nya:

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (Q.s. Al-Qalam:4)

Semua itu tertera dalam dokumen dan kitab-kitab para ulama dan ahli fiqih.Sementara pemahaman mereka dalam mengambil kesimpulan dan penggalian hukum berbeda dengan para Sufi dalam memahami ilmu-ilmu yang lain.Sedangkan orang-orang berilmu yang menegakkan keadilan,selain para Sufi tidak memiliki bagian tersebut,kecuali mereka harus mengakui dan mempercayai,bahwa hal itu benar.Hal-hal tersebut adalah seperti hakikat tobat dan sifat-sifatnya,derajat orang-orang yang bertobat dan hakikatnya,masalah-masalah (wara') yang sulit dipahami dan kondisi orang-orang yang wara' (jaga diri dari syubhat), tingkatan orang-orang yang bertawakal,kedudukan orang-orang yang ridha dan derajat orang-orang yang sabar.Demikian pula dalam masalah kekhusyu'an,merendah dihadapan Allah swt.dan takut ancaman siksa-Nya,cinta (mahabbah) dan takut (khauf),penuh harap (raja') dan rindu (syauq),kesaksian hati nurani dengan penuh hadir (musyahadah),kembali dan bertobat dari berbuat maksiat (inabah) dan ketenangan (thuma'ninah).

"Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar beriman adalah mereka yang apabila disebutkan Nama Allah tergetarlah hatinya." (Q.s. Al-Anfal:2)

.Demikian pula masalah yakin dan puas dengan apa yang ada (qana'ah).
Sementara masalah kondisi spiritual mereka lebih banyak yang tidak mungkin bisa dihitung jumlahnya.Dimana setiap kondisi spiritual (hal) terdapat orang yang ahli dan tingkatan masing-masing.Mereka memiliki berbagai hakikat dan musyahadah, hal, muraqabah,rahasia hati (asrar),ijtihad,kedudukan (maqam) dan derajat yang berbeda-beda.Mereka juga memiliki keinginan (iradah) yang berbeda-beda.Mereka juga tidak sama dalam masalah kuatnya keinginan,menghadang kekosongan dan memenangkan rasa cinta dan penghayatan hati nurani (wajd).Masing-masing kondisi spiritual tersebut ada batas dan posisinya,ilmu dan penjelasannya,sesuai dengan apa yang telah dianugrahkan Allah Azza wa Jalla.
Dan salah satu nikmat paling agung yang menjadi ciri khas mereka adalah keberadaan mereka dalam muraqabah secara kontinuitas,dimana ia merupakan realisasi dari tingkatan ihsan.
(1)
Para Sufi juga memiliki ciri khas dalam mengetahui rasa tamak dan angan-angan panjang serta masalahnya yang rumit,mengetahui nafsu dan amarahnya serta gejolak-gejolaknya yang berbahaya, masalah-masalah riya' (pamer) yang tidak jelas,syahwat yang tersembunyi serta syirik yang samar.Mereka pun tahu,bagaimana cara menyelamatkan diri dari jeratnya,berlindung diri pada Allah Azza wa Jalla,berlindung diri kepada Allah dengan sebenarnya,melanggengkan rasa perlu segala kebutuhan kepada Allah,tunduk dan berserah diri kepada-Nya,serta membebaskan diri dari adanya usaha dan kekuatan diri sendiri.
(2)
Kaum Sufi juga memiliki kesimpulan-kesimpulan hukum dari berbagai ilmu yang sulit dipahami oleh para ulama fqih dan ulama yang lain. Karena hal itu adalah latha'if (hal-hal yang sangat pelik dan lembut) yang terdapat pada isyarat-isyarat mereka,dimana hal itu tidak bisa jelas bila diungkapkan,karena sangat samar dan lembutnya.Dan itu adalah dalam kategori berbagai rintangan,penghalang,berbagai keterikatan dengan makhluk,tabir (hijab) ,rahasia-rahasia hati yang tersembunyi, berbagai kedudukan (maqam) ikhlas,kondisi spiritual ma'rifat,hakikat penghambaan ('ubudiah), hilangnya alam bila dibandingkan dengan yang azali,sinarnya makhluk yang huduts (baru) jika di bandingkan dengan Yang Maha Qadim,hilang (fana)nya penglihatan terhadap berbagai anugrah.Kekekalan melihat Sang Maha Pemberi akibat hancurnya penglihatan terhadap pemberian,berlalunya berbagai kondisi dan kedudukan spiritual, mengumpulkan hal yang beranekaragam,fananya melihat tujuan akibat kekekalan melihat Dzat yang dituju, berpaling dari melihat pemberian dan tidak pernah berpaling dari Dzat yang dituju,menceburkan diri dalam menempuh jalan-jalan yang penuh risiko dan melintasi "padang sahara" yang penuh bahaya. 

Kaum Sufi adalah kaum yang memiliki kekhususan di kalangan orang-orang berilmu yang menegakkan keadilan dan memecakan berbagai kesulitan yang sulit diselesaikan.Merekalah yang akan memecahkan persoalan-persoalan sulit yang ada, dengan cara langsung dan menyerangnya dengan cara mengerahkan jiwa dan raga,sehingga bisa memberitahukan tentang kelezatan dan cita rasanya,kekurangan dan kelebihannya.Merekalah yang akan menguak kebohongan orang-orang yang mengaku kaum Sufi dengan cara menuntut mereka untuk memberikan dalil-dalil dan membicarakan tasawuf yang benar dan yang salah.Tentu saja manusia seperti ini sangat sedikit jumlahnya, karena memang jarang yang sampai kesana.
Semua ilmu tersebut berada dalam Kitab Allah Azza wa Jalla dan Sunnah Rasulullah.saw.,yang dipahami oleh para ahlinya yang ta mungkin seorang ulama pun akan mengingkarinya tetkala mereka mencarinya.

Orang-orang yang mengingkari ilmu tasawuf hanyalah sekelompok orang yang bercirikan ilmu zhahir (kulit).Sebab hukum-hukum yang mereka pahami dari kitab Allah dan Hadis-hadis Rasulullah.saw. hanya sebatas hukum lahiriah dan yang layak untuk dijadikan argumentasi terhadap orang-orang yang menentangnya.Sementara itu, manusia di zaman kita sekarang ini memang lebih cendrung kesana,karena lebih gampang untuk mencari kedudukan dan posisi dimata orang-orang awam.Dan cara ini pula yang paling gampang untuk bisa sampai pada dunia. 

Sungguh sangat sedikit orang yang menyibukkan diri dengan ilmu batin sebagaimana yang telah kami sebutkan.Karena ilmu ini ilmu khusus yang selalu saja dikepung dengan kepahitan,kepedihan dan rintangan.Sementara mendengarnya saja akan melemahkan lutut,menyedihan hati,membuat air mata mengalir deras,mengecilkan yang agung dan mengagungkan yang kecil.Lalu bagaimana menggunakan dan melaksanakannya secara langsung,merasakan cita rasanya padahal jiwa tidak cendrung kesana.Sebab ilmu itu berusaha membunuh hawa nafsu,menghilangkan rasa dan menjauhi tujuan dunia.Karenanya, tak heran jika banyak ulama banyak meninggalkan ilmu ini,kemudian menyibukkan diri dengan ilmu yang biaya pengorbanannya lebih murah dan ringan,yang sering mendorong mereka pada penakwilan,kemudahan-kemudahan dan keringanan,bahkan kadang-kadang lebih condong pada kenikmatan manusiawi, lebih suka mentolerir nafsu dimana ia diciptakan sesuai watak dan kodratinya cendrung mengikuti kesenangan dan lari dari hak dan tanggung jawab._ Dan hanya Allah swt.Yang Mahatahu.

Tiada ulasan: