Catatan Popular

Isnin, 18 April 2016

KITAB AL LUMA’ FI AL TASHAWWUF MUKADIMMAH : V CIRI KHAS KAUM SUFI DAN ETIKA,KONDISI DAN ILMU YANG MEMBEDAKAN MEREKA DARI ULAMA YANG LAIN



(RUJUKAN LENGKAP ILMU TASAWWUF)

Tulisan Abu Nashr Abdullah bin Ali as-Sarraj ath-Thusi yang diberi gelar Thawus al-Fuqara' (Si Burung Merak orang-orang fakir Sufi)

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -- rahimahullah -- berkata: Hal pertama yang merupakan ciri khas kaum Sufi yang membedakannya dari ulama yang lain setelah mereka bisa melakukan semua kewajiban dan meninggalkan larangan,adalah meninggalkan hal-hal yang tidak dianggap perlu dan penting,memutus semua hubungan yang hanya akan menghambat antara mereka dengan apa yang diinginkan dan dituju.Sebab yang menjadi maksud dan tujuannya tak lain adalah al-Haq,Allah Azza wa Jalla. 

Mereka memiliki adab (etika) dan kondisi spiritual yang beregam.Di antaranya adalah,merasa puas (qana'ah) dengan sedikit materi (dunia),sehingga tidak perlu yang banyak,mencukupkan diri dengan mengonsumsi makanan yang menjadi kebutuhan pokok. Sangat sederhana dalam sarana hidup yang ta munnkin ditinggalkan, seperti pakaian, tempat tidur, makanan dan lain-lain. Mereka lebih memilih miskin daripada kaya. Mereka bergelut dengan kesederhanaan dan menghindari kemewahan. Lebih memilih lapar daripada kenyang, sesuatu yang sedikit daripada yang banyak. Mereka tinggalkan kedudukan dan posisi terhormat (dimata manusia).Mereka korbankan pangkat dan kedudukan. Mereka curahkan kasih sayang kepada senua makhluk,ramah sopan dan rendah hati kepada yang muda maupun yang tua.Mengutamakan orang lain meskipun saat itu masi membutuhkannya.Mereka tidak pernah iri dan dengki serta tidak perduli terhadap mereka yang memiliki hata melimpah.Dirinya selalu berprasangka baik kepada Allah swt., ikhlas ketika bersaing dalam melakukan ketaatan dan kebaikan.Dirinya selalu menghadap kepada Allah swt.dan mencurahkan segalanya hanya untuk-Nya.Selalu bertahan dalam menghadapi cobaan dan bencana yang diberikan-Nya,rela (ridha) akan ketentuan (qadha')-Nya,bersabar dalam berjuang dan menggempur hawa nafsunya.Selalu menghindari kesukaan-kesukaan nafsu dan selalu menentangnya.Karena Allah telah menjelaskan,bahwa nafsu akan selalu memerintah kejelekan (amarah bi-su'),dan melihatnya sebagai musuh terbesar yang selalu berdampingan dengan Anda,sebagaimana sabda Nabi,

"Musuh engkau yang paling besar adalah hawa nafsu yang ada dalam dirimu sendiri."(H.r. Al-Baihaqi)

(1).

Dan diantara mereka etika (adab) dan prilaku mereka adalah selalu menjaga rahasia-rahasia hatinya dan selalu muraqabah (menjaga hak-hak Tuhan yang Mahaagung).Senantiasa menjaga hatinya,dengan membersihkannya dari bisikan-bisikan jelek,menenangkan pikiran-pikiran yang sibuk,dimana hanya Allah Yang mengetahuinya.Sehingga mereka menyembah Allah dengan penuh konsentrasi (hati yang hadir), tekad yang menyatu,niat yang murni dan maksud yang tulus.Seba Allah swt.tidak menerima perbuatan-perbuatan hamba-Nya yang tidak ditujukan murni untuk-Nya.Allah berfirman,

"Ingatlah!! Hanya kepunyaan Allah agama yang bersih (dari syirik)." (Q.s. Az-Zumar: 3).
(2).
wusul) kepada al-Haq yang menjadi tujuan utamanya,ia tidak menginginkan yang lain selain apa yang dikehendaki-Nya.
 
Ini hanyalah awal sesuatu yang tampak dari bebagai hakikat yang muncul dan hakikat suatu kebenaran.Apakah Anda tidak melihat,bahwa Nabi pernah bertanya kepada Hritsah r.a.
"Setiap kebenaran (haq) tentu memiliki hakikat.Lalu apa hakikat keimanan mu?"

Tiada ulasan: