Catatan Popular

Rabu, 11 Mei 2016

KARAMAH ABU TURAB AN NAKSHABI



Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering membaca Al Fatihah dipersembahkan untuk Abu Turab,qs.
Dalam dunia kesufian telah disepakati bahwa apa-apa yang dicintai oleh guru, maka murid pun wajib turut mencintainya, dan sebaliknya apa-apa yang dibenci oleh guru, maka murid pun wajib turut membencinya. Oleh karenanya mengetahui biografi dari Syaikh Abu Turab,qs., menjadi wajib hukumnya.

Menurut sebuah kitab, nama lengkapnya adalah Abu Turab ‘Askar bin Al Husayn Al Nakhsyabi Al-Nasafi,qs., beliau adalah seorang Syaikh kepala di Khurasan, bersahabat dengan Syah Syuja Al Kirmani,qs., dan Syaikh Abu Hamzah Al Khurasani,qs. Murid beliau paling cemerlang adalah Syaikh Abu Shaleh Hamdun bin Ahmad bin ‘Umara Al Qashshar,qs. Beliau terkenal dengan kemurahan hatinya, kezuhudan dan kesalehannya.
Beliau telah memperlihatkan banyak karomah dan mengalami penjelajahan menakjubkan yang tidak terbilang di padang pasir dan di tempat lainnya. Beliau salah seorang pengembara yang paling terpandang di kalangan kaum sufi dan biasa menyeberangi padang pasir yang sepenuhnya terlepas dari hal-hal keduniawian. Beliau meninggal di padang pasir Basrah. Setelah bertahun-tahun, jasadnya ditemukan telah mengering dan berdiri tegak dengan wajah menghadap Ka’bah, dengan sebuah ember didepannya dan sebuah tongkat ditangannya, dan binatang-binatang buas tidak berani menyentuhnya atau datang menghampirinya.
Diriwayatkan bahwa beliau berkata : ‘Makanan darwisy ialah apa yang dia dapati, dan pakaiannya ialah apa saja yang menutupi badannya, dan tempat tinggalnya ialah di mana saja dia berada.’ Yakni beliau tidak memilih-milih makanan, baju atau membuat sebuah rumah bagi dirinya.

Seluruh manusia diatas dunia ini dibuat sibuk oleh ke tiga hal ini, makanan, pakaian dan tempat tinggal. Segala daya dan upaya dikerahkan hanya untuk memilikinya, sejak kecil disekolahkan sampai memperoleh gelar kesarjaan hanya untuk memperloleh ketiga hal ini, segala sesuatu dijadikan sarana untuk memperolehnya, bahkan ‘Tuhan’ pun dijadikan sarana pula, karena banyak yang berdoa sebagai berikut : ‘Yaa Tuhan jadikan aku kaya,’ sarananya adalah Tuhan dan tujuannya adalah kaya. 

Oleh sebab itu, yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) membimbing murid-muridnya dengan selalu mengawali doa munajatnya dengan kalimat yang indah : ‘Illahi anta maqsudi, waridhoka matlubi, a’tini mahabbataka wa ma’rifataka, yaa Arhamaar Rohimiin,’ Yaa Allah engkaulah yang aku maksud, ridhoilah aku, karuniakan cinta hanya kepada-Mu dan sebenar-benar mengenal-Mu.’

Tiada ulasan: