Pertanyaan Kedelapan: Apakah Hikmah Tidak Disebutkannya Siksa Kubur di dalam al-Quran Meski Hal Itu Sangat Perlu untuk Diketahui dan Diimani agar Manusia Dapat Mawas Diri dan Berhati-hati?
JAWABAN ATAS pertanyaan itu dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu yang bersifat umum dan jawaban yang bersifat rinci.
Jawaban umum atas pertanyaan ini adalah sebagai berikut:
Allah swt. telah menurunkan dua macam wahyu kepada rasul-Nya dan Dia telah mewajibkan hamba-hamba-Nya untuk mengimani dan mengamalkan kedua jenis wahyu tersebut. Kedua jenis wahyu itu adalah: 1) al-Kitab dan 2) Hikmah. Hal ini disampaikan oleh Allah swt. dalam firman-Nya,
“Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu…” (QS. an-Nisa’ [4]: 113)
Allah swt. berfirman,
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah.” (QS. al-Jumu’ah [62]: 2)
Allah swt. berfirman,
“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah…” (QS. al-Ahzab [33]: 34)
Menurut kesepakatan generasi salaf, yang dimaksud “al-kitab” dalam ayat ini adalah “al-Quran”, sementara yang dimaksud “al-hikmah” dalam ayat ini adalah “sunah” berikut segala yang Rasulullah saw. sampaikan yang bersumber dari Allah swt. Semua itu hukumnya wajib untuk dipercayai dan diimani, sebagaimana yang Allah swt. kabarkan melalui lisan Rasulullah saw. Ini merupakan sebuah perkara pokok (ushul) yang disepakati oleh seluruh pemeluk Agama Islam tanpa ada yang mengingkarinya kecuali mereka yang tidak termasuk golongan mereka. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya aku diberi al-Kitab dan sesuatu yang serupa dengannya bersamanya.”
Adapun jawaban rinci atas pertanyaan ini adalah sebagai berikut:
Kenikmatan dan siksa di Alam Barzakh telah disebutkan di dalam al-Quran pada lebih dari satu tempat. Salah satu di antaranya adalah firman Allah swt., “… Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sementara para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawa kalian”. Di hari ini kalian dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan karena kalian selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kalian selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (QS. al-An’am [6]: 93)
Ucapan ini ditujukan secara tegas kepada mereka (orang-orang zalim) ketika maut datang. Para malaikat mengabarkan—dan tentu saja mereka semua jujur adanya—bahwa mereka pada saat itu akan “dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan’’. Kalau memang semua itu ditunda dari mereka sampai dunia ini musnah (maksudnya, setelah kiamat terjadi—Penj.), tentu akan menjadi tidak benar kalau dikatakan kepada mereka “Di hari ini kalian dibalas.”
Ayat lainnya adalah firman Allah swt.,
“Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (QS. Ghafir [40]: 45-46)
Dalam ayat ini Allah swt. menyebutkan adanya siksa di kedua alam (yaitu Alam Barzakh dan Alam Akhirat—-Penj.) dengan penyebutan yang sangat jelas sehingga kalimat yang difirmankannya itu tidak memiliki kemungkinan pengertian lain.
Ayat lainnya adalah firman Allah swt.,
“Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan, (yaitu) hari ketika tidak berguna bagi mereka sedikitpun tipu daya mereka dan mereka tidak ditolong. Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang zalim ada azab selain itu. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. ath-Thur [52]: 45-47)
Ayat ini mengandung kemungkinan pengertian bahwa yang dimaksud di sini yaitu siksa terhadap orang-orang zalim dengan kematian yang menimpa mereka dan berbagai petaka lainnya di dunia; dan mungkin pula yang dimaksud oleh ayat ini adalah siksa terhadap mereka di Alam Barzakh. Pengertian yang terakhir inilah yang lebih eksplisit karena kebanyakan dari orang-orang zalim itu ternyata mati sebelum mereka sempat disiksa di dunia.
Ada pula yang menyatakan secara lebih gamblang bahwa siapa pun yang mati dari kalangan orang-orang zalim, mereka pasti akan disiksa di Alam Barzakh, sementara mereka yang masih tetap hidup di dunia akan disiksa dengan terbunuhnya mereka atau ditimpa berbagai bentuk mala petaka. Semua ini merupakan bentuk ancaman akan datangnya azab terhadap orang-orang zalim itu baik di dunia maupun di Alam Barzakh.
Ayat lainnya adalah firman Allah swt.,
“Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. as-Sajdah [32]: 21)
Ayat ini digunakan sebagai hujah oleh sekelompok orang di antaranya, yaitu ‘Abdullah bin ‘Abbas ra. untuk membantah adanya siksa kubur. Walaupun bukti yang mereka sampaikan itu dengan menggunakan ayat ini mengandung “sesuatu” karena siksa yang disebutkan di sini memang siksa di dunia yang dengan siksa itu Allah swt. ingin mendorong agar orang-orang zalim itu kembali ke jalan yang benar dan meninggalkan kekufuran. Tentu saja, pengertian semacam ini tidak akan luput dari pengetahuan Ibnu Abbas sang Hibr al-Ummah yang juga berjuluk Turjuman Al-Quran.
Hanya saja, dengan pengertian mendalam yang dimilikinya tentang al-Quran dan detil pemahamannya terhadap Kitab Suci ini, rupanya Ibnu “Abbas ra. memahami bahwa yang dimaksud oleh ayat ini adalah siksa kubur karena Allah swt. yang mengabarkan bahwa Dia memiliki dua macam siksaan yang akan ditimpakan kepada orang-orang zalim, yaitu azab yang dekat (al-’adzab al-adna) dan azab yang lebih besar (al-’adzab al-akbar). Allah mengabarkan bahwa Dia akan menimpakan kepada mereka “sebagian azab yang dekat” agar “mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)’’. Apa yang Allah swt. sampaikan ini menunjukkan bahwa memang benar masih ada azab yang dekat (al-’adzab al-adna) yang tersisa bagi orang-orang zalim, mereka kelak akan disiksa karena apa yang tersisa itu setelah datangnya azab di du. nia. Itulah sebabnya Allah swt. menggunakan kalimat yang berbunyi, ““Sebagian azab yang dekat” (min al-’adzab al-adna) dan Dia tidak mengatakan, “Kami akan menimpakan kepada mereka azab yang dekat’’, Silakan masalah ini Anda renungkan.
Semua ini menjadi selaras dengan sabda Rasulullah saw., “…lalu dibukakan untuknya sebuah gerbang menuju neraka, maka kemudian datanglah sebagian panas yang membakar dari neraka itu (ya‘tihi min hurriha wa sumumiha) kepadanya.” Dan Rasulullah saw. tidak menggunakan kalimat “Maka kemudian datanglah panas yang membakar dari neraka itu” (ya‘tihi harruha wa samamuha). Tentu saja itu karena sebenarnya yang memapar orang kafir itu adalah “sebagian” dari panasnya neraka dan masih ada tersisa baginya panas yang jauh lebih hebat lagi. Itulah sebabnya musuh-musuh Allah yang telah Dia timpakan di dunia dengan “sebagian dari azab dunia’’, tentu masih ada azab lain yang tersisa bagi mereka yang jauh lebih besar dari azab yang sudah menimpa mereka di dunia itu.
Ayat lainnya adalah firman Allah swt.,“Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kalian ketika itu melihat dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kalian. Tetapi kalian tidak melihat, maka mengapa jika kalian tidak dikuasai (oleh Allah)? Kalian tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kalian adalah orang-orang yang benar?, adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketentraman dan rezeki serta surga kenikmatan. Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan, maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan. Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air yang mendidih dan dibakar di dalam neraka. Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar.” (QS. al-Waqi’ah [56]: 83-96)
Dalam rangkaian ayat-ayat ini Allah swt. menuturkan tentang kondisi ruh ketika maut datang. Di awal Surah al-Waqi’ah Allah swt. menyampaikan tentang kondisi ruh di saat Hari Pembalasan Besar terjadi. Allah swt. sengaja mendahulukan penjelasan tentang hal ini (di awal surah) sebagai bentuk tindakan mendahulukan apa yang menjadi tujuan (taqdim al-ghayah) karena masalah itulah yang jauh lebih penting dan lebih utama untuk disampaikan. Allah membagi mereka ketika maut datang menjadi tiga bagian, sebagaimana Dia juga membagi mereka menjadi tiga bagian kelak di akhirat.
Ayat lainnya adalah firman Allah swt.
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. al-Fajr [89]: 27-30)
Generasi salaf berbeda pendapat tentang kapankah sebenarnya kata-kata yang termuat dalam ayat-ayat tersebut di atas itu disampaikan. Segolongan dari mereka menyatakan bahwa kata-kata itu disampaikan ketika kematian tiba. Pengertian eksplisit dari ayat-ayat di atas memang mendukung pendapat golongan ini. Kalimat tersebut jelas merupakan bentuk ucapan yang ditujukan kepada jiwa (nafs) yang telah terpisah dari badan dan keluar darinya. Rasulullah saw. menafsirkan ini dengan sabda beliau dalam hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Barra’ dan lainnya, “…lalu dikatakanlah kepadanya, ‘Keluarlah engkau dengan ridha dan diridhai…’”. penjelasan tentang masalah ini akan disampaikan nanti pada pertanyaan mendatang yang mengandung penjelasan tentang menetapnya ruh di Alam Barzakh. Insyaallah ta’ala.
Firman Allah swt. yang berbunyi “Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku.” Selaras dengan sabda Rasulullah saw. “Wahai Allah ar-rafiq al-a’la”. Jika Anda merenungkan hadis-hadis yang berbicara tentang siksa dan nikmat kubur, Anda pasti akan mendapati hadis-hadis itu merinci dan menafsirkan berbagai hal yang ditunjukkan oleh al-Quran. Wabillahit taufiq.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan