Catatan Popular

Selasa, 5 Februari 2013

KITAB AL-KALIMAT KE 4: SHALAT ADALAH SARANA ISTIREHAT PALING BESAR BAGI ROH, KALBU DAN AKAL

KARYA BADIUZZAMAN SAID NURSI DALAM KITABNYA “RISALAH NUR”

Shalat adalah Sarana Istirahat Paling Besar bagi Roh, Kalbu,
dan Akal

“Shalat adalah tiang agama”

Jika engkau ingin mengetahui nilai dan pentingnya shalat serta betapa
ia sangat mudah diraih, sementara orang yang tidak menunaikan
shalat akan merugi, jika engkau ingin mengetahui semua itu dengan
yakin sebagaimana hasil perkalian dua kali dua sama dengan empat,
maka perhatikan cerita imajiner yang singkat berikut ini:
Pada suatu hari, seorang penguasa agung mengirim dua orang
pelayannya ke ladangnya yang indah setelah masing-masing diberi
dua puluh empat koin emas agar bisa sampai ke ladang yang sejauh
dua bulan perjalanan. Penguasa ini berkata, “Keluarkan darinya untuk
biaya tiket dan keperluan perjalanan lainnya. Lalu ambillah apa yang
kau butuhkan untuk keperluan hidup di sana. Ada sebuah terminal untuk
para musafir yang jaraknya sejauh satu hari perjalanan. Di dalamnya
terdapat semua bentuk dan sarana transportasi seperti mobil, pesawat,
kapal laut, dan kereta. Pilihlah sarana transportasi sesuai dengan
modalmu.
Setelah menerima perintah, kedua pelayan itu pun keluar. Yang satu
bahagia, karena sampai ke terminal ia hanya mengeluarkan sedikit
wang untuk bisnis yang menguntungkan yang disenangi oleh tuannya.
Modalnya langsung meningkat, dari satu menjadi seribu. Adapun pelayan
yang lain, malang dan bodoh. Ia mengeluarkan dua puluh tiga
koin emas yang dimiliki untuk bermain-main dan berjudi. Ketika
sampai di terminal yang tersisa hanya satu koin emas.
Mengetahui kondisi tersebut, sahabatnya berkata, “Wahai pulan,
satu koin emas yang tersisa itu harus kau belikan tiket perjalanan agar
engkau tidak berjalan kaki dan menderita kelaparan. Tuan kita sangat
pemurah dan penyayang. Semoga ia melimpahkan rahmatnya padamu
dan mengampuni kesalahanmu, sehingga mereka membolehkanmu
naik pesawat agar kita bisa sampai ke tempat pada hari yang sama. Jika
tidak, engkau harus terus berjalan kaki melintasi padang pasir ini selama
dua bulan disertai rasa lapar ditambah dengan rasa kesepian yang
kau alami sepanjang perjalanan panjang tersebut.
Lihatlah, andaikan orang tersebut keras kepala, tidak membeli
tiket perjalanan yang laksana kunci perbendaharaan baginya dengan
satu lira yang tersisa itu dan menggunakannya untuk memperturutkan
syahwatnya yang bersifat sementara dan untuk memenuhi kenikmatan
yang segera lenyap. Bukankah ini berarti ia malang dan merugi serta
betul-betul bodoh. Bukankah ia merupakan orang yang paling tolol?
Wahai orang yang tidak menunaikan shalat, wahai jiwa yang merasa
berat untuk mengerjakannya!
Sang penguasa yang dimaksud adalah Tuhan dan Pencipta kita.
Adapun kedua pelayan yang melakukan perjalanan itu, salah satunya
adalah orang taat yang menjalankan agama dan menunaikan shalat dengan
penuh kerinduan. Sementara yang satunya lagi adalah orang yang
lalai dan meninggalkan shalat. Lalu uang koin emas yang sebanyak
dua puluh empat tersebut adalah dua puluh empat jam dari setiap hari usia
manusia. Kebun dan ladangnya berupa surga dan terminalnya berupa
kubur. Perjalanan panjangnya adalah perjalanan manusia menuju kubur,
mahsyar, dan negeri keabadian. Mereka yang meniti jalan panjang
ini menempuhnya dalam tingkatan yang berbeda-beda. Masing-masing
sesuai dengan amal dan tingkat ketakwaan. Kaum bertakwa menempuh
perjalanan sejauh seribu tahun hanya dalam satu hari laksana kilat. Sebagian
lagi menempuh jarak lima ribu tahun perjalanan hanya dalam
sehari secepat khayalan. Al-Qur’an menjelaskan hakikat ini dalam dua
ayat. Kemudian yang dimaksud dengan tiketnya adalah shalat. Satu jam
cukup untuk melaksanakan shalat lima waktu berikut wudhunya. KaAl-
rena itu, sungguh rugi orang yang menghabiskan dua puluh tiga jamnya
untuk kehidupan dunia yang singkat ini dan tidak menghabiskan satu
jam sisanya untuk kehidupan abadi. Sungguh ia sangat zalim terhadap
dirinya dan sungguh sangat bodoh.
Jika tindakan menghabiskan setengah harta untuk judi yang diikuti
lebih dari seribu orang dianggap sebagai sesuatu yang rasional
padahal kemungkinan menangnya satu banding seribu, bagaimana dengan
orang yang tidak mau mengeluarkan satu saja dari kedua puluh empat
asetnya untuk mendapatkan keuntungan yang terjamin serta untuk
meraih kekayaan abadi di mana kemungkinan untungnya sembilan puluh
sembilan persen. Bukankah ini tidak rasional dan sama sekali tidak
bijak? Bukankah setiap orang berakal dapat memahami hal tersebut?
Shalat merupakan kelapangan terbesar bagi roh, kalbu, dan akal. Ia
juga sama sekali tidak memenatkan badan. Lebih dari itu, seluruh perbuatan
duniawi yang bersifat mubah yang dikerjakan oleh orang yang
mengerjakan shalat bernilai ibadah jika dilakukan dengan niat yang
baik. Jadi, orang yang shalat dapat mengubah semua modal umurnya
untuk akhirat sehingga ia meraih usia yang kekal lewat usianya yang
fana.

Tiada ulasan: