Catatan Popular

Selasa, 5 November 2013

SEJERNIH-JERNIH MAKRIFAT TOK KENALI : HIJAB ITU SENDIRI ADALAH ALLAH

NUKILAN HJ SAARI MOHD YUSOF (PEWARIS KETIGA ILMU MAKRIFAT TOK KENALI KELANTAN)

Tuan-tuan dan puan-puan, muslimin serta muslimat yang dirahmati Allah sekalian. Sebagaimana yang kita ketahui umum, bahawa Allah itu tidak sedikit pun terhijab, terdinding, Allah tidak ada tembok pemisah, tidak ada tirai, tidak ada penghadang dari kita memandang, menilik, melihat atau menatapNya.

Allah itu bukan sesuatu, sungguhpun Allah itu bukan sesuatu, namun Allah zahir pada tiap-tiap sesuatu. Bagaimana mungkin Allah itu terhijab oleh sesuatu, sedangkan Allah itu, zahir pada tiap-tiap sesuatu. Kenapa sehingga kita tidak terlihat atau terpandang Allah pada tiap-tiap sesuatu? Tidakkah terangnya cahaya matahari itu dikala teriknya, terang lagi wajah dan rupa Allah. Tidakkah dekatnya mata putih dengan mata hitam dan dekatnya urat leher dengan nyawa, sesungguhnya dekat lagi Allah dan wajahNya. Bagaimana mungkin Allah itu tidak kelihatan? Adalah menjadi suatu perkara mustahil, bilamana Allah tidak dapat dilihat.

Allah itu halus, sungguhpun Allah itu teramat halus, tetapi Ianya adalah teramat terang dan teramat nyata. Sehalus mana pun Allah itu, ianya tetap akan dapat dilihat, dipandang dan ditilik oleh pandangan mata. Sungguhpun Allah itu teramat-amat halus, namun mata tetap akan terlihat Allah. Biarpun mata zahir tertutup, tercabut, tercungkil keluar atau sebagaimana buta sekalipun, rupa dan wajah Allah akan tetap dapat kita lihat dan dapat kita pandang.

Wajah Allah beserta rupaNya itu, akan tetap dapat dilihat, dipandang dan akan tetap dapat ditilik oleh pandangan. Allah itu terang, terangnya Allah itu sehingga tidak sedikit pun terlindung oleh pandangan mata (mahupun mata kasar). Dengan hanya melalui pandangan pancaindera mata kasarpun, Allah itu akan terlihat, tertilik, terpandang dan ternampak, apa lagi dengan mata halus (mata basyirah).

Allah itu, akan dapat ditilik, dilihat dan dipandang, sungguhun mata dipejam, apa lagi bilamana kita membuka mata. Allah sedikitpun tidak terlindung, tertutup atau terhijab oleh kelopak mata, diketika kita memejam mata, apa lagi diketika kita membuka mata.

Allah tidak ada hijab dan tidak ada dinding untuk menghalang kita dari memandangNya. Walau sekalipun orang itu dari kalangan orang-orang yang buta
sifat mata zahirnya. Allah akan terkelihatan walaupun tanpa biji mata. Senang dan mudahnya untuk melihat Allah itu, sehingga tidak memerlukan kepada adanya biji mata. Tanpa adanya biji mata sekalipun, kita akan tetap dapat melihat Allah. Melihat dan memandang Allah itu, adalah pekara mudah dan perkara senang. Sekalipun mata dipejam, Allah akan tetap ternyata pada sekalian pandangan.

Allah tidak ada hijab (dinding). Sebab apa Allah itu tidak ada hijab? Allah itu tidak ada hijab, sebabnya adalah kerana “HIJAB ITU SENDIRI, ADALAH ALLAH”. Mana mungkin Allah tidak terlihat atau tidak terpandang, sedangkan “hijab itu sendiri adalah Allah”. Begitulah terang, begitulah jelas dan begitulah dekatnya Allah, kenapa masih tidak terpandang Allah? Selagi tebal hijab, selagi itulah terangnya Allah (lagi tebal hijab, lagi terang Allah). Allah itu tidak terhijab oleh sesuatu. Tidak ada sesuatu yang boleh menghijab Allah.

Jika ada sesuatu yang boleh menutup, mendinding atau menghijab Allah, bererti sesuatu itu lebih tinggi dan lebih berkuasa dari Allah. Untuk itu, ketahuilah olehmu bahawa dengan sesungguhnya, tidak ada sesuatu makhluk yang boleh menutup, menghijab atau mendinding Allah dari terpandang, terlihat atau dari ternampak oleh pandangan kita.

Tidak ada sebab untuk dibuat alasan dan tidak ada alasan untuk dibuat sebab, kenapa Allah tidak terlihat atau tidak terpandang mata. Tidak ada kerana dengan suatu kerana untuk tidak terpandang Allah.

Dimanapun jua kamu hadapkan muka mu, di situ juga kita akan tetap tertilik Allah. Tidak ada ruang untuk tidak terpandang Allah. Lagi kita letakkan tembok batu, dinding kayu, kain tirai, kain tabir atau menghadangnya dengan kain langsir atau hijab pemisah yang paling tebal sekalipun, tidak akan sekali-kali memisahkan kita dari terlihat Allah.

Lagi kita letakkan hijab atau kita letak tembok penghadang dihadapan mata kita, lagi terang terlihat Allah. Lagi tebal hijab kita letak dihadapan mata, lagi jelas terpandang Allah dan lagi nyata tertilik Allah. Ketahuilah olehmu wahai sekalian pembaca yang budiaman sekalian, sesunggguhnya tidak ada ruang untuk kita supaya tidak terpandang, terlihat atau tertilik Allah. Hadanglah penglihatan kita itu dengan tujuh bukit bukau, gunung ganang atau jarakkanlah diri kita dengan tujuh lautan sekalipun, namun tidak sedikitpun memisahkan dari mata kita memandang wajah dan rupa Allah! KERANA HIJAB ITU SENDIRI, ADALAH ALLAH.

Kerana hijab itulah Allah!
Baik dengan mata halus, sekalipun dengan mata kasar, Allah itu tidak sedikitpun terlindung dari pandangan. Begitulah terang, jelas dan nyatanya Allah itu. Allah itu
nyata, senyata-nyatanya. Allah itu terang, seterang-terangnya dan Allah itu jelas, sejelas-jelasnya.

Diketika kita sedang melihat, tidakkah yang besifat melihat itu sendiri adalah sifat Allah? Bilamana perkara “melihat” itu sendiri adalah sifat Allah, mana mungkin Allah terhijab oleh sesuatu. Sedangkan melihat itu sendiri adalah sifat Allah, mana mungkin Allah itu akan terhijab oleh sesuatu. Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin dan tidak mungkin Allah terhijab, tidak mungkin Allah terdinding dan tidak mungkin Allah terlindung. Kenapa kamu tidak melihat? Sila jawab pertanyaan saya. Disaat ini, dimasa ini dan diketika ini, saya mahu tuan-tuan ajukan pertanyaan itu kepada diri tuan-tuan sendiri. Sekarang ajukan petanyaan.

Apakah jawapan tuan-tuan dan puan-puan memihak kepada tidak atau belum? Jika tidak dan jika belum, kenapa, kenapa dan kenapa?

Bilamana mata bertemu penglihatan atau bilamana sifat bertemu sifat, itulah tanda orang makrifat, itulah yang dikatakan tilikan makrifat. Bilamana ditilik dengan tilikan makrifat, tidaklah yang dilihat itu, adalah juga yang melihat. Tidakkah yang ditilik itu, adalah juga yang menilik. Sudah tidak ada yang lain lagi selain Allah. Mana mungkin Allah itu tidak kelihatan, sedangkan yang bersifat melihat itu sendiri, adalah Allah. Inilah yang dikatakan wajah bertemu wajah. Bilamana wajah bertemu wajah, maka Allahlah yang tertilik oleh segenap pandangan. Itulah makanya ulamak-ulamak terdahulu meyimpulkan bahawasanya Allah itu tidak ada hijab, “kerana yang menghijab itu sendiri adalah Allah!”.

Saya teringgat pantun Tok Kenali yang diceritakan oleh ayahanda Mohd Yusof Cik Wook;

PUCUK PAKU SAYUR PUN PAKU, DIMASAK OLEH ULAMAK SEBERANG,
TENGOKLAH AKU DAN TILIKLAH AKU, AKU BERADA DITEMPAT TERANG.

Jika Allah boleh terhijab, terlindung atau terdinding hanya dengan kulit kelopak mata yang nipis itu, alangkah lemahnya Allah. Apalah sangat tebalnya kulit kelopak mata, jika dibandingkan dengan kuasa Allah. Kenapa kulit kelopak mata sahaja, boleh sampai menghijab Allah? Jika ditoreh dengan kuku pun kulitnya boleh terkoyak, belum lagi ditoreh dengan pisau, masakan Allah Yang Maha Besar itu, boleh terlindung hanya dengan kulit kelopak mata yang berupa daging yang nipis? Cuba tuan-tuan jawab?

Sesunggguhnya yang menghijabkan kita dengan Allah itu, adalah kebodohan sifat diri kita sendiri!. Diri yang “booooooooooooodoh” sahaja yang tidak nampak Allah.

Bagi mereka-mereka yang makrifatulah (mengenal Allah), sebenar dan sesungguuhnya Allah itu, tidak ada hijab. Lagi kita adakan hijab, lagi ternampak Allah, lagi kita adakan dinding, lagi terpandang Allah dan lagi kita adakan penghadang, sesunggguhnya lagi tertilik Allah. Tidak ada alasan, tidak ada ruang, tidak ada sebab dan tidak ada penyebab untuk tidak tertilik Allah. Kerana alasan itu Allah, ruang itulah Allah, sebab itulah Allah dan penyebab itulah Allah. Lebih tepat lagi, bolehlah disimpulkan bahawa “Allah itu adalah segala-galanya dan segala-galanya itu, adalah Allah”.

Allah itu, adalah Allah. Maka tidak ada ruang lain lagi untuk mengisi ruang, melainkan Allah. Allah menempatkan diriNya Allah, sehingga tidak ada ruang lagi
untuk sifat-sifat lain memasuki dicelah-celah antara keduanya. Sudah tidak ada ruang lagi untuk diisi oleh selain Allah. Wujud, ujud dan maujudnya diri Allah itu, sehingga tidak ada tempat dan tidak ada ruang lain lagi untuk yang lain selain Allah. Melainkan engkaulah engkau, ya Allah. Tidak ada yang lain selain diri mu ya Allah.

Segala dan segenap ruang penglihatan ku ya Allah, hanya engkaulah yang ku pandang, hanya engkaulah yang ku lihat dan hanya engkaulah yang ku tilik ya Allah.

Seumpama terbukanya mata kita diketika mula-mula bangkit dari tidur. Yang mula-mula kita nampak ialah dinding atau tembok simen. Bagaimanakah caranya untuk kita merlihat Allah dikala tertilik tembok simen? Dan bagaimana caranya untuk memandang hijab itu adalah Allah?

Tunggu jawapannya di dalam kitab keluaran ketiga yang tidak berapa minggu lagi… Amin.

 

Tiada ulasan: