Catatan Popular

Isnin, 14 Mei 2018

ASY-SYAIMA BINTI AL HARITS : SAUDARA SEDUAN NABI MUHAMMAD SAW


Asy-Syaima’ adalah salah seorang wanita yang mempunyai hubungan khusus dengan Rasulullah. Wanita yang bernama asli Hadzafah ini adalah saudara sesusu Nabi Muhammad. Ialah anak perempuan dari Halimah as-Sa’diyyah, ibu susuan Rasulullah.

Kenangan Masa Kecil Bersama Rasulullah
Asy-Syaima’ sangat menyayangi Muhammad kecil. Oleh karena itu dengan senang hati ia membantu ibunya mengasuh apabila ibunya sibuk bekerja. Ia akan membawanya bermain bersama saudara-saudaranya yang lain, mereka adalah Abdullah dan Unaisah. Jika Muhammad berlari, dia akan mengejarnya. Jika Muhammad nampak keletihan, dia akan menggendongnya. Ketika Muhammad berusia dua tahun, Halimah mengembalikannya kepada ibunya di Makkah, akan tetapi karena melihat banyaknya berkah yang ia dapatkan selama Muhammad bersama mereka maka Halimah meminta kepada Aminah; ibu Rasulullah untuk membawanya kembali ke dusun tempatnya tinggal. Melihat kekerasa hati Halimah yang ingin terus mengasuh anaknya, akhirnya Aminah mengizinkannya.

Betapa senang hati Asy-Syaima’ ketika melihat ibunya membawa kembali saudara sesusunya, Muhammad kembali ke rumah. Wajahnya kembali berseri setelah sebelumnya murung karena harus berpisah dengan adik kesayangannya. Ia merasa bahagia dan tidak sabar menanti pagi menjelang agar esok ia dapat bermain bersamanya kembali.

Asy-Syaima’ sering membawa Rasulullah bermain di bawah pohon yang rindang agar tidak kepanasan. Sambil duduk-duduk ia akan menyenandungkan sebuah syair yang digubahnya sendiri untuk adiknya, Muhammad yang berbunyi,

“Wahai Rabb kami, biarkan Muhammad bersama kami sehingga saya dapat melihatnya hingga beranjak remaja dan menjadi seorang pemuda. Seterusnya saya dapat melihatnya menjadi pemimpin yang terhormat dan disegani. Binasakan musuh-musuh dan orang yang selalu mendengkinya. Berilah dia kekuatan dan kemuliaan yang abadi.”
Dan Allah Mewujudkan Ungkapan-ungkapan Asy-Syaima’ itu Sehingga Menjadi Kenyataan

Pada suatu hari yang cukup panas, ketika ibu mereka sedang mengembalakan kambing-kambingnya, ia terlupa melihat ke arah Muhammad dan saudaranya bermain. Ketika Halimah tersadar dan melihat ke sekeliling, ia tidak melihat seorangpun dari anak-anaknya.

Halimah teringat Asy-Syaima’ sering bermain dengan Muhammad. Dia pun segera mendapatkan anak-anaknya itu. Dia pergi ke tempat mereka biasa bermain. Di sana ia dapatkan anak-anaknya. Halimah berkata kepada Asy-Syaima’, “Ternyata kalian ada di sini! Hari ini panas terik, mengapa engkau biarkan Muhammad bermain di tengah panas?”

Asy-Syaima’ menjawab, “Muhammad tidak pernah terkena panas matahari. Saya selalu mengikutinya dan melihat ada sekelompok awan yang melindunginya. Apabila Muhammad berlari, awan itu juga ikut bergerak, apabila Muhammad berhenti, awan itu juga berhenti.”

Halimah terkejut mendengar penuturan anak perempuannya itu. Dia seperti tidak percaya dengan cerita puterinya. Halimah pun bertanya, “Benarkah? Atau kamu sengaja membuat cerita supaya kamu tidak dimarahai oleh ibu?”

“Benar Ibu. Saya berkata benar”, jawab Asy-Syaima’.

Halimah menjadi keheranan. Kejadian itu adalah satu dari peristiwa aneh yang pernah terjadi pada Muhammad. Dia dapat merasakan bahwa Muhammad adalah seorang anak yang baik.

Kemudian Halimah berkata pada dirinya sendiri, “Dahulu ketika pertama kali saya membawa Muhammad ke kampung ini, semua kambing peliharaanku menjadi gemuk dan mengeluarkan susu yang banyak. Padahal waktu itu temapt ini mengalami musim kemarau yang panjang. Pada hari ini terjadi lagi kejadian aneh pada Muhammad. Muhammad memang anak yang baik dan istimewa.”

Selama lima tahun Nabi Muhammad diasuh dan dijaga oleh Halimah yang dibantu oleh Asy-Syaima’. Mereka hidup dengan aman dan bahagia. Asy-Syaima’ dan keluarganya sangat dihormati dan dicintai oleh Muhammad. Sampai terjadi lagi peristiwa yang membuat hati Halimah sangat cemas dan takut. Yaitu ketika terjadi peristiwa pembedahan perut Nabi Muhammad yang dilakukan oleh Malaikat Jibril. Setelah kejadian itu Halimah memutuskan untuk mengembalikan Muhammad kepada ibunya, karena takut akan terjadi lagi peristiwa-peristiwa yang aneh lainnya. Semenjak saat itu asy-Syaima’ tidak pernah bertemu lagi dengan Nabi Muhammad.

Membuka Memori Lama
Sampai pada hari penaklukan Hawazin, kaum muslimin mengambil harta rampasan perang dan membawa tawanan masing-masing. Asy-Syaima’termasuk di antara para tawanan itu. Ketika itu ia sudah tua dan lemah. Raut wajahnya pun sudah banyak berubah karena keriput. Ia berkata kepada kaum muslimin yang menawannya, “Aku adalah saudari pemimpin kalian.” Akan tetapi mereka tidak mengindahkannya karena mereka tidak mau memutuskan segala sesuatu sebelum Rasulullah memutuskan terlebih dahulu.

Ketika mereka sampai di hadapan Rasulullah, asy-Syaima’ pun berkata, “Wahai Rasulullah, aku adalah saudari sesusuanmu.” Nabi pun bertanya, “Apa tandanya?” Ia menjawab, “Bekas gigitan yang terdapat di punggungku yang engkau gigit ketika aku menggendongmu.” Mendengar itu Nabi pun percaya kalau itu adalah kakak sesusuannya yang dahulu selalu mengasuhnya dengan kasih sayang. Beliau segera membentangkan jubahnya, kemudian beliau mempersilahkannya duduk di atasnya.

Dengan wajah berseri gembira beliau berbincang-bincang dengan kakaknya itu. Beliau menawarkan kepadanya untuk tinggal bersama beliau di Madinah, Nabi berkata, “Kalau Engkau suka, tinggallah bersamaku, dicintai dan dihormati, atau jika engkau ingin pulang ke kaummu aku akan memberimu bekal.” Asy-Syaima’ lantas menjawab, “Berikanlah aku bekal dan pulangkan aku kepada kaumku. Maka Rasulullah memenuhi permintaannya dan memberinya hadiah yang banyak. Ia pun kembali kepada kaumnya setelah memeluk Islam terlebih dahulu.

Tidak hanya sampai di situ penghargaan Rasulullah terhadap asy-Syaima’, bahkan semua bani Sa’d, yaitu kabilah asy-Syaima’ juga mendapatkan penghargaan yang sama. Terbukti ketika kaum muslimin menaklukan Hawazin, pada perang Hunain, saat itu kaum muslimin mengambil dari mereka harta rampasan, perempuan-perempuan serta anak keturunan mereka. Ketika itu utusan Hawazin telah masuk Islam dan mendatangi kaum muslimin di Ji’ranah, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kita mempunyai hubungan kekeluargaan, dan kami telah ditimpa musibah, berilah kami jaminan keamanan.” Rasulullah berkata kepada mereka, “Apakah kalian lebih mencintai istri-istri dan anak-anak kalian atau harta-harta kalian?” Mereka menjawab, “Tentu saja kami lebih mencintai istri dan anak akmi.” Nabi pun berkata, “Apa yang aku miliki dan bani Abdul Muththalib adalah milik kalian. Apabila aku dan kaum muslimin telah melaksanakan shalat, maka berdiri dan katakan oleh kalian, ‘Kami meminta pertolongan dengan perantara Rasulullah kepada kaum muslimin dengan kaum muslimin kepada Rasulullah untuk anak-anak dan istri-istri kami.’ Maka pada saat itu aku akan memberi apa yang kalian minta dan memintakan untuk kalian.”

Setelah shalat, para utusan itu berdiri seraya mengucapkan apa yang disuruh oleh Rasulullah. Nabi berkata, “Apa yang aku dan bani Abdul Muththalib miliki adalah milik kalian.” Kaum Muhajirin pun berkata, “Apa yang kami miliki adalah miliki Rasulullah.” Kaum Anshar juga berkata, “Apa yang kami miliki adalah miliki Rasulullah.

Tegar Dalam Keimanan Hingga Akhir Hayat

Ketika Rasulullah wafat, bani Sa’d murtad dari Islam. Tetapi asy-Syima’ tetap teguh dengan keimanannya, membela Islam dengan segala kemampuannya sampai Allah menghilangkan fitnah dari kaumnya. Ia habiskan sisa umurnya untuk beribadah dan membela Islam sampai ajal menjemputnya. Semoga Allah meridhainya dan menempatkannya di surga yang tertinggi.

Tiada ulasan: