Catatan Popular

Selasa, 14 Januari 2014

NAFS (JIWA)

Dalam bahasa Arab, nafs, mempunyai banyak arti, dan salah satunya adalah jiwa.  Nafs dalam arti jiwa telah di bicarakan para ahli sejak kurun waktu yang sangat lama. Persoalan nafs telah dibahas dalam berbagai kajian disiplin ilmu. Dalam psikologi misalnya, jiwa lebih dihubungkan dengan tingkah laku sehingga yang di selidiki oleh psikologi adalah perbuatan-perbuatan yang dipandang sebagai gejala-gejala dari jiwa. Teori-teori psikologi, baik psikoanalisa, behaviorisme maupun humanisme memandang jiwa sebagai sesuatu yang berada di belakang tingkah laku

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, nafsu dipahami sebagai dorongan hati yang kuat untuk berbuat burukpadahal dalam al-Quran nafs tidak selalu berkonotasi negative.

Kajian tentang nafs merupakan kajian tentang hakikat manusia itu sendiri. Manusia adalah makhluk yang bisa menempatkan dirinya menjadi subjek dan objek sekaligus. Ini tercermin dari banyaknya kajian tentang manusia dalam berbagai disiplin ilmu. Surat al-Rad  13: 11  mengisaratkan bahwa perbuatan manusia berhubungan erat dengan apa yang ada dalam nafs mereka. Di balik perbuatan seseorang atau suatu kaum ada sesuatu yang bersifat psikologis yang menentukan keberhasilan atau kegagalannya. Apakah perbuatan itu bernilai positif atau bernilai negative. Oleh karena itu kajian tentang konsep nafs dalam al-Quran, adalah penting dan tidak hanya terbatas pada kebutuhan pengetahuan, tetapi pada kepentingn mengurai, meramalkan, dan mengendalikan tingkah laku manusia, baik secara individual maupun secara kelompok baik dalam kaitannya dengan bidang dakwah atau pendidikan maupun social. Oleh karena itu penulis berupaya mengungkap konsef nafs menurut al-Quran.

Jiwa dalam Term nafs Al-Quran menyebutkan nafs dalam bentuk kata jadian anfus, nufus, nafs, mutanaffisun, yatanaafasu, tanaffasa. Dalam bentuk mufrad, nafs disebut 77 kali tanpa idhafah dan 65 kali kali dalam bentuk idhafah. Dalam bentuk jamak anfus disebut 158 kali. Sedangkan kata tanaffasa, yatanaafasu dan al-mutanafisu masing-masing hanya disebut satu kali.

 Dalam Bahasa Arab, kata nafs mempunyai banyak arti, tetapi yang menjadi objek kajian dalam tulisan ini adalah nafs seperti yang dimaksud dalam al-Quran. Term nafs dalam al-Quran semuanya disebut dalam bentuk isim atau kata benda, yakni nafs, nufus dan anfus. Sedangkan kata tanaffasa dalam surat al-Takwir / 81 : 18 : dan kata yatanaafasu dalam surat al-Muthaffifin / 83 : 26 meskipun kata-kata itu berasal dari kata nafisa atau nafasa, dalam kata jadian seperti itu mempunyai arti yang tidak berhubungan langsung dengan nafs.

Dalam Bahasa Arab, kata nafs, mempunyai arti untuk menyebut diri atau seseorang , sementara kata roh digunakan untuk menyebut nafas dan angin. Namun setelah al-Quran turun, masyarakat didunia islam menggunakan kata nafs dan roh dalam literatur arab secara silang, dan keduanya digunakan untuk menyebut rohani, malaikat dan jin. Bahasa arab juga menggunakan nafsiyun dan nafsaniyun untuk menyebut hal-hal yang berhubungan dengan nafs

Dalam al-Quran, kata nafs mempunyai aneka makna, di antaranya :

Nafs Sebagai Totalitas Manusia  Kata nafs di gunakan ai-Quran untuk menyebutkan manusia sebagai totalitas , baik manusia sebagai mahluk yang hidup di dunia maupun manusia yang hidup di akhirat. Misalnya, al-Quran,.s. Yaasin/ 36: 54 );

Maka pada hari ini seseorang tidak akan dirugikan sedikit pun dan kamu tidak dibalasi, kecil dengan apa yang telah kamu kerjakan.

 Dari penggunaan term nafs untuk menyebutkan manusia yang hidup di alam dunia maupun di alam akhirat melahirkan pertanyaan tentang pengertian totalitas manusia. Sebagaimana yang sudah menjadi pemahaman umum bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki dua dimensi, yaitu jiwa dan jasad. Tanpa jiwa dengan fungsi-fungsinya, manusia di pandang tidak sempurna, dan tanpa jasad, jiwa tidak dapat menjalankan fungsi-fungsi. Al-Quran, Surat Yaasin / 36 : 54 mengisyaratkan bahwa di samping manusia hidup di alam dunia lain, yakni alam akhirat di mana manusia nanti harus mempertanggung jawabkan perbuatannya selama di dunia. Jadi totalitas manusia menurut al-Quran tidak hanya bermakna manusia sebagai makhluk dunia, tetapi juga sebagai makhluk akhirat, yakni manusia juga yang harus mempertanggungjawabkan perbuatanya nanti di alam akhirat.

 2. Nafs sebagai sisi Dalam Manusia

 Al-Quran,. Surat al-Rad / 13: 10, mengisaratkan bahwa manusia memiliki sisi dalam dan sisi luar.

 Sama saja (bagi tuhan), siapa diantaramu yang merahasiakan ucapanya, dan siapa yang berterus terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.

 Kesanggupan manusia untuk merahasiakan dan berterusterang . Kemampuan mengucapkan kata-kata merupakan petunjuk adanya sisi dalam dan sisi luar dari manusia. Al-Quran juga menyebutkan hubungan antara sisi dalam dan sisi luarnya. Jika sisi luar manusia dapat dilihat perbuatan lahirnya, maka sisi dalam, menurut al-Quran berfungsi sebagai penggeraknya. Surat al-Syam / 91:7 ) secara tegas menyebutkan nafs sebagai jiwa. Jadi sisi dalam manusia adalah jiwanya.

Minimal al-Quran dua kali menyebutkan nafs sebagai sisi dalam yang mengandung potensi sebagai penggerak tingkah laku, yaitu pada surat al-Rad / 13 dan 11 dan surat al-Anfal / 8 : 53:

 Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dengan di muka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki kebutuhan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya ; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. al-Rad/ 13: 11).

Tiada ulasan: