Catatan Popular

Khamis, 22 Ogos 2019

Syekh Abu Syaqiq Al-Balkhi Bertemu dengan Penyembah Berhala


Abu Ali Syaqiq ibnu Ibrahim al-Azdi al-Balkhi, seseorang yang berpengetahuan luas.

Ahli berbagai cabang ilmu pengetahuan dan menulis banyak buku. Dalam perjalanan hidupnya selalu dipenuhi dengan kisah penuh hikmah. Berikut ini kisahnya. 

Suatu hari Abu Ali Syaqiq pergi ke Turkistan dalam sebuah ekspedisi dagang.

Di tengah perjalanan ia berhenti sejenak memandangi sebuah kuil, di mana ia melihat seorang lelaki menyembah berhala dan membungkukkan badannya dengan sangat hormat. "Engkau mempunyai seorang Pencipta Yang Hidup, Mahakuasa, dan Mahatahu," ia memberi tahu lelaki itu. "Sembahlah Dia. Engkau harusnya malu, jangan menyembah berhala yang tak dapat mendatangkan kebaikan maupun keburukan." Si penyembah berhala itu menjawab, "Jika kata-katamu benar, apakah Dia tak sanggup memenuhi kebutuhanmu di kotamu sendiri? Haruskah engkau jauh-jauh datang kemari?" Kata-kata ini membangunkan jiwa Syaqiq, dan ia pun segera kembali ke Balkh.

Kebetulan, seorang Zoroastrian bersamaan dalam sebuah perjalanan. "Apa tujuan perjalananmu?" tanya si Zoroastrian. "Berdagang," jawab Syaqiq. "Jika engkau pergi mencari apa yang tidak ditakdirkan bagimu, engkau tidak akan pernah meraihnya, walaupun engkau berkelana hingga Hari Kebangkitan.

Dan jika engkau mencari apa yang telah ditakdirkan bagimu, engkau tidak perlu repot-repot mencarinya ke sana kemari, ia akan datang sendiri kepadamu.” Kata-kata ini semakin menyadarkan Syaqid, dan cintanya kepada dunia semakin menyusut. Akhirnya, Syaqiq kembali ke Balkh, para sahabatnya menyambut hangat kepulangannya, karena ia adalah orang yang sangat dermawan. Sekembalinya di kampung halamannya membuat banyak orang yang mengaji ilmu kepadanya di masjid.

Makin lama makin banyak jumlah muridnya yang mengaji. Sehingga dapat memberikan ilmunya tanpa harus bersusah payah pergi ke kota lain. 

Suatu hari, Syaqiq sedang mengajar di sebuah masjid. Ketika itu tersebar berita di seantero kota bahwa pasukan kaum kafir telah berada di gerbang kota untuk melakukan penyerangan. Tanpa mendapat perintah beliau langsung bergegas pergi meninggalkan tempat mengajar untuk mengusir pasukan kaum kafir tersebut, lalu ia pun kembali untuk mengajar.

Saat Syeh Syaqiq pergi meninggalkan murid-muridnya, salah seorang muridnya meletakkan seikat bunga di dekat sajadahnya. Sekembalinya ke medan perang Syeh Syaqiq mengambil dan mencium bunga-bunga itu yang baunya masih semerbak wangi. Tiba-tiba ada seorang lelaki bodoh dan munafik melihat hal itu dan kemudian berteriak dengan lantangnya, "Pasukan kaum kafir telah berada di gerbang kota, tetapi Imam Kaum Muslim malah menciumi bunga!" Sehingga banyak orang berdatangan dan mau menyumpah serapah. Namun diurungkan karena Syeh Syaqiq Al-Balkhi menjelaskan bahwa orang munafik itu memang melihatku mencium bunga, tetapi ia tidak melihatku mengusir kaum kafir. Penjelasan tersebut menjadikan ia selamat dari fitnah yang cukup keji itu.

Peristiwa itu merupakan kejadian yang tidak terlupakan baginya. Karena hampir saja dikeroyok banyak orang seandainya tidak menjelaskan dengan tepat.

Bisa-bisa mati di dalam masjid tempat mengajarnya gara-gara fitnah keji dari orang-orang munafik yang tidak suka akan keberadaan ulama. 

Baginya, fitnah memang dapat menimpa siapa saja. Karena waktu itu memang banyak orang yang suka memfitnah. Khususnya yang dilakukan musuh-musuh Islam. Para munafikin itulah yang selalu mencari celah untuk memfitnah umat Islam dan ulama-ulama yang memegang teguh kebenaran.

Tiada ulasan: