Catatan Popular

Sabtu, 27 Disember 2025

JILID 1 : 1.12. MAQAM FANA/MAQAM BINASA (KITAB BARENCONG)

[Warisan Datu Sanggul, Banjarmasin, Kalimatan Selatan]


Makam fana ialah : Hilangnya ujud kita ini lahir dan bathin. 

Bukan hilang pada nafsu ammaroh, tetapi hilang dalam pandangan makhluk, kalau kita sudah benar-benar memesrakan diri kita lahir bathin kepada Nur Muhammad dan bersatu dengan seluruh perikemanusiaan dan bersatu dengan seluruh perikemanusaiaan dan bersatu dengan seluruh alam, maka kalau sudah beroleh wasiat, hingga lenyaplah sifat-sifat Allah Ta’ala.

Inilah yang disebut dengan fana dan baqa,

1. Kudrat kita lenyapkan kepada kudrat Allah Ta’ala,

2. Iradat kita lenyapkan kepada iradat Allah Ta’ala,

3. Ilmu kita lenyapkan kepada ilmu Allah Ta’ala,

4. Hayat kta lenyapkan kepada hayatullah Zat,

5. Pendengaran kita lenyapkan kepada pendengaran Allah Ta’ala,

6. Penglihatan kita lenyapkan kepada penglihatan Allah Ta’ala,

7. Perkataan kta lenyapkan kepada perkataan Allah Ta’ala.


Maksud diatas tadi ialah :

1. wala qadirun : tiada kuasa hanya Allah Ta’ala,

2. wala muridun : tiada berkehendak hanya Allah Ta’ala,

3. wala alimun : tiada tahu hanya Allah Ta’ala,

4. wala hayyun : tiada hayat/hidup hanya Allah Ta’ala,

5. wala basyirun : tiada melihat hanya Allah Ta’ala,

6. wala sami’un : tiada mendengar hanya Allah Ta’ala,

7. wala muttakalimun : tiada yang berkata-kata hanya Allah Ta’ala.

Jadi kalau sudah begini fanalah zat kita dan sifat kita zahir dan bathin, inilah dalilnya.

1. MAUJUDUN WAHIDUN : Ujud yang empunya ujud Esa.

2. WAJATUN WAMAUSUFUN : Zat dengan empunya zat adalah Esa jua.

3. SIFATUN WAMAUSUFUN,Wahidun sifatun wahidun ; sifat dengan empunya sifat adalah Esa.

4. ASMAUN WAMAUSFUN,Wa asmaun wahidun ; nama dengan yang empunya nama adalah Esa jua.

5. AF’ALUN WAMAUSUFUN,af’alun wahidun ; af’al dengan yang empunya af’al Esa jua.

Jadi inilah yang disebt arti dan makna yang sebenarnya daripada fana dan baqa itu tadi.

Inilah arti fana dan baqa yang dituntut oleh seorang salik/penuntut/tholib/murid. 

Adapun alam insan itu terhimpun kepada diatas daripada segala alam,jika bukan karena insan, sesuatu pun tiada dijadikan/dijahirkan oleh Tuhan selamanya. 

Dalil menyatakan : Al insan sirri wa ana sirrohu, artinya insan itu rahasiaku dan akupun rahasianya. 

Dan lagi : Al insanu sirri wa ana sirri, sifatun wasifatin lagoirih : artinya ; insan itu rahasiaku, rahasiaku itu sifatku, tiada lain daripadaku jua.

Maka dari itulah insan dilebihkan oleh Allah Ta’ala daripada malaikat ; pun demikian lah hendaknya iktikad kita adanya. Yaitu : iktiqad yang putus adanya, dan tiadanya,dan adanya.

Kalau anda sudah faham benar berarti putus itiqadnya, dan tiadanya dan adanya; maka barulah mendapat makam ARIFIN yang sebenarnya. 

Baiklah hamba uraikan secara ringakas tentang; ADANYA DAN TIADANYA.

MANUNGGAL DUA UNSUR KETIDAK ADANYA : ADALAH KEADAANYA, DAN KEADAANYA ADALAH KETIADAANYA.

Sekarang baiklah kita buat contoh/missal :

Kalimah : LA ILAHA ILLALAH itu meliputi sangkalan dan pengakuan. Adalah keadaan / adanya dan tiadanya keadaannya/tiadanya, artinya : hakikat dari Tuhan adalah tiadanya? Dalam ketidak adaannya/tiadanya : DIA mulai ADA. Yang terakhir lagi disebut : keadaan yang abadi.

Itulah makna atau arti dari : ADANYA DAN TIADANYA.

Sekarang kita teruskan sedikit lagi tentang ada dan tiada. Keadaan yang abadi dan ketidak adaanya keduanya sekalian bersamaan (sekaligus bersamaan). Adalah merupakan : Ujud dati Tuhan. Sangkalan mengandung pengakuan yang positif.

Jadi disini sangkalan dan pengakuan tidaklah terpisah dan tidaklah tersentuh, maksudnya ialah : bercerai tidak , bersatu tidak : akan tetapi keduanya Nafi dan dibatasi oleh kalimah ILA dan tidak boleh masuk kedalam kalimah ILLALLAH.

Selanjutnya kita harus tahu keadaan harus memberi petunjuk yang terang tentang apa yang dianggap ada, seperti suatu petunjuk terhadap yang ditunjuk.

Jadi rumus ILLALLAH adalah yang dianggap sebagai ADA. Maka mutlak lah nama keadaan yang maha mulia dari Tuhan Allah Azzawalla, hanya untuk dialah rumus ILALLAH itu tepat. Jadi kesimpulannya adalah : 

SERBA ESA,SERBA SATU, DAN HITUNGAN SEGALA JIWA-PUN ADALAH SATU (DALAM RAHASIA TUHAN).

Disini tidak ada lagi dua faham dalam ujud,tidak ada lagi dua kata dalam perbuatan,tidak ada lagi dua unsur dalam asma dan tidak ada lagi dua jenis kehidupan. Dan tidak ada lagi dua rumus dalam Zat dan Sifat segalanya : QADIRUN BI ZATIHI, MURIDUN BI ZATIHI, ALIMUN BIZATIHI, HAYUN BIZATIHI,SAMIUN BIZATIHI, BASYIRUN BIZATIHI, DAN MUTTAKALIMUN BIZATIHI


==TAMAT KITAB BARENCONG JILID SATU,  SAMBUNGAN DI JILID DUA==


JILID 1 : 1.11. TAUHIDUL ZAT (KITAB BARENCONG)

[Warisan Datu Sanggul, Banjarmasin, Kalimatan Selatan]


MENGESAKAN ALLAH TA’ALA PADA ZAT

Meesakan Allah Ta’ala pada zat adalah jalan yang terakhir dari perjalan seorang salik. Di sinilah titik terakhir bagi arifbillah untuk menuju Allah dan di sini perhentian perjalanan kaum sufi dan para wali-wali.

Dan disinilah batasnya mi’rajnya orang-orang mukmin sejati. Apabila sudah mencapai kepada makam tauhidul zat itu, maka diperolehnya kelezatan dan kenikmatan yang tiada taranya.

Hanya dengan itulah yang dapat memuaskan dahaga jiwanya : menenangkan qalbunya, nikmat-nikmat yang tak dapat diperoleh orang lainnya. Inilah puncak rasa menikmati ridhanya : puncak kebahagiaan yang kekal dan abadi sepanjang masa. Bermula kaifiat atau cara meesakan Allah Ta’ala pada zatnya, yaitu : engkau pandang dengan mata hatimu dan curahkan seluruh perhatianmu itu semata-mata kepada Tuhan seru sekalian alam. Karena sudah nyata kepada kita bahwa : TIADA YANG MAUJUD DALAM ALAM INI, KECUALI ALLAH. DAN TIADA MAUJUD YANG DALAM UJUD INI, HANYA ALLAH. TIADA/TIDAK DALAM JUBAH MELAINKAN ALLAH. DAN TIDAK ADA DIDALAM YANG ADA INI, KECUALI DIA. Karena sudah jelas bagi ariffbillah,bahwa : AL HAK ADA PADA NABI KITA MUHAMMAD S.A.W.

Kalau akhlak ada pada nabi,demikianlah ada pada kita. Demikianlah hamba tambahkan supaya anda menjadi faham, dan supaya dapat melaksanakan tugas masing-masing.

Firman Allah Ta’ala : AL INSANU SIRRI WA ANA SIRROHU. Artinya insan itu rahasiaku dan akupun rahasianya. 

Dan lagi firmannya : AL INSANU SIRRI WA ANA SIRRI WASIFATIN WA SIFATUN LAGOIRIH. Artinya insan itu rahasiaku, rahasiaku itu sifatku, dan sifatku itu tiada lain daripada aku jua. 

Jadi jelas kepada kita bahwa memang : LA MAUJUDA BIHAQQIN ILALLAH. Artinya tiada yang maujud didalam alam ini, melainkan Allah.

Pandangan yang demikian adalah dengan alasan-alasan :

1. Semua zat mahluk itu nampak dilihat dengan mata ini, itu bukan hakiki ( rusak ). Dan itu hanya ujud hayali dan wahmi jua, yaitu sangka-sangka saja, dengan tidak beralasan, karena ujudnya berada antara dua ADAM. Sedang ujud yang berada antara dua itu, hukumnya ADAM, yaitu : ujud hayal.

2. Sedang ujud Adam itu tiada maujud pada hakikatnya, hanyalah ia maujud kepada Allah Ta’ala yang hakiki dan fana dibawah ujudnya. Ujud yang lain daripada ujud Allah semuanya qaim, artinya berhajat kepada Allah Ta’ala. Jadi jelasnya begini dia tidak akan ujud, kalau tidak diwujudkan oleh Allah Ta’ala. Yaitu : yang biasanya disebut dengan majhor atau kenyataan ujud Allah Ta’ala.

3. Adanya nyata : dan semua ujud ala mini adalah yang dimaksudkan hanya sekedar dalil titian untuk memandang kepada zat Allah Ta’ala.

4. Jadi pada pelajaran yang lalu itu sudah kita jelaskan bahwa sifat-sifat yang ada pada mahluk ini nyata sifat-sifat Allah s.w.t. Jadi kalau demikian jelas dan nyata bahwa : zat mahluk ini berarti juga sesungguhnya nyata sifat dan afi ’al, tidak lepas dari zat.

5. Ujud semesta ala mini tak ubahnya laksana debu yang terbang atau diterbangkan oleh angin diangkasa : pada penglihatan mata ada,tapi kalu dicari tak ada. Kalau sekiranya ada ujud ala mini pada hakikatnya, maka pasti pula ada sifat-sifat atau af’al yang memberi bekas itu. Sedangkan semua itu sifat dan af’al yang memberi bekas itu tidaklah ada, selain daripada sifat dan af’al Allah Ta’ala semata-mata.

6. SYEH SIDIK IBNU UMAR KHAN berkata : Semua ujud lain daripada Allah Ta’ala, laksana ujud sesuatu yang kita lihat dalam mimpi. Tidak ada baginya hakikat apabila kita terbangun dari tidur, maka hilanglah semua itu. Begitulah hendaknya pandangan kita terhadap ujud ala mini sesuai dengan hadist yang berbunyi : FALANNASU NIYA’AFAIJA MA’ATU INTABAHUA. Artinya ; “manusia adalah tidur apabila mereka mati, barulah mereka bangun atau jaga.”

Baiklah hamba uraikan sedikit tentang hadist yang baru kita baca tadi, supaya kita faham. Manusia semuanya itu tidur, apabila bangun barulah mereka jaga, maksud hadist ini tadi ialah : orang yang hidup dengan hawa nafsunya sendiri, bagaikan orang yang tidur, walaupun ia dalam keadaan bangun. Mereka berbangga dengan nafsunya sendiri dan dengan akuanya, tetapi orang yang telah sampai kepada rahasia yang satu itu, itulah orang yang bangun dari tidurnya. Jadi siapapun yang masih tidur, maka mereka itu tetap betah pada nafsunya sendiri, yaitu yang belum mengembalikan hak Allah Ta’ala, mereka itu tetap dalam hak Adam

Demikianlah sepintas kilas hamba uraikan dan yang dimaksud mati disini ialah : mati ma’nawi atau mati ma’na saja. 

Itu sesuai dengan hadist nabi s.a.w. yang berbunyi : ANTAL MAUTU QOBLAL MAUTU. Artinya matikan dirimu sebelum engkau mati. 

Jadi disini adalah mati nafsu saja. Maka daripada itu untuk mematikan nafsu itu jalannya ialah melepaskan diri dari belenggu penjajahan hawa nafsu angkara murka. 

Jalannya ialah mengikuti jalan sufiah, yang mereka itu telah berada di puncak. Demikian seperti apa-apa yang hamba uraikan menurut yang terdahulu itu. Untuk lebih mantapnya lagi, baiklah hamba bawa anda kedalam laut ma’rifat yang penuh dengan ombak dan badai, sehingga anda bisa mabuk karenanya. Mabuk di sini artinya : Karam lenyap, hancur dan lebur ke dalam hakikat hidup yang sebenarnya. Yaitu lebur ke dalam hidup yang sejati telah Esa dengan seisi alam dan bersatu dengan seluruh per-kemanusiaan. Demikianlah contoh bagi orang yang hendak mengenal diri. Sekarang baiklah kita berkisar pula kepada membicarakan tentang makam fana atau maka binasa.


JILID 1 : 1.10. TAUHIDUS SIFAT (KITAB BARENCONG)

[Warisan Datu Sanggul, Banjarmasin, Kalimatan Selatan]


MENGESAKAN ALLAH TA’ALA PADA SEGALA SIFAT

Maksudnya meesakan Allah Ta’ala pada segala sifat ialah : megembalikan, meninggalkan seluruh sifat-sifat yang ada pada mahkluk ini ke dalam sifat-sifat Allah s.w.t. dengan pengertian yaitu memfanakan sifat-sifat mahluk ini, kedalam sifat-sifat Allah Ta’ala sehingga tercapailah pandangan, bahwa tidak ada yang bersifat kecuali Allah Ta’ala saja.

Adapun tujuannya adalah untuk ma’rifat kepada Allah, sedangkan sifat-sifat yang ada pada mahluk ini adalah nyata sifat-sifat Allah Ta’ala. Dan sengaja Allah zahirkan sifat-sifatnya itu kepada hambanya atau makhluknya, karena rahmatnya supaya makhluk itu sendiri mempunyai tangga dan jembatan untuk mengenal sifat-sifat Allah. Dan bukan jadi dinding dan hijab untuk melihat sifat-sifat Allah, Tuhan yang kita cari, kita cintai.


Adapun kaifiat dan cara memandang sifat Tuhan itu ialah :

Engkau pandang dengan hatimu dan dengan mata kepalamu dengan hakkul yakin dan dengan itiqad yang putus, bahwasanya tidak ada yang bersifat dialam alam ini kecuali Allah. Seperti : kudrat, iradat, ilmu, hayat, sama, basyar dan kalam. Semuanya adalah sifat-sifat Allah.

Jadi sifat-sifat yang ada pada mahluk ini adalah sifat-sifat majazi belaka, bukan hakiki. Maka daripada itu nyatalah kepada kita bahwa sifat-sifat yang ada pada kita sekarang ini adalah nyata sifat-sifat Tuhan Allah semata. Kalau kita sudah mengembalikan sifat-sifat yang ada pada kita itu kepada Allah, niscaya fanalah sifat-sifat kita itu kepada sifat-sifat Allah.

Sehingga tidak ada lagi yang bersifat, kecuali Allah. Jadi jelaslah sudah kepada kita bahwa : kita ini tidak punya perbuatan, tidak punya nama dan tidak punya sifat kecuali Tuhan. Sekarang tinggal lagi mengeesakan Allah Ta’ala pada Zatnya.


BEBERAPA PENJELASAN

Sebelum kita membicarakan tentang tauhidul Zat. Maka marilah kita jelaskan dahulu tentang tauhidis sifat itu tadi. Di dalam istilah ilmu tasauf ada beberapa perkataan yang menyangkut masalah sifat itu tadi. Kata-kata itu seperti di bawah ini :

ZAIDUN MAAQAAMA, MANQALA, MANFAKA, MAAKUMA, LA’UDMA, QADIMUN, LA HANA.

Maksudnya ialah : tentang dari sifat-sifat itu sebagai berikut :

Sifat-sifat Allah itu tidaklah berdiri kepada ZAT. ( tidak berdirinya seprti sifat hitam kepada sesuatu benda ). Maksudnya tidak berpindah dari Zatnya, tidak terlepas daripada Zatnya. Dan tidak tersembunyi dari Zatnya, bukan berarti tidak ada. 

Dia qadim karena qadimnya zat, dan tidak akan binasa selamanya, jadi begitulah hakikat sifat-sifat Tuhan tidak pernah berpindah kepada makhluknya. Ia seperti nafi isbat jua, tidak bercerai dan tidak bersatu, tetapi memang satu dalam rahasia. Maka dari itu supaya hambanya dapat mengenal sifat-sifat Tuhan. Ia zahirkan NUR dan benderangnya sifat-sifatnya itu kepada Roh kita, seperti sudah kita jelaskan dahulu tadi.

Jadi kalau tahkik pandangan kita dengan cara demikian, niscaya fanalah sifat-sifat kita dan makhluk sekaliannya kedalam sifat Allah. Maka dapatlah kita rasakan bahwa : tidak mendengar kita, tidak melihat kita, tidak berkata-kata kita, tidak tahu kita, melainkan dengan pendengaran Allah, dengan penglihatan Allah, dengan kalam Allah, dengan tahunya Allah. Dan tidak hidup kita ini, melainkan hayatullah zat, hingga yang lainya daripada sifat-sifat Allah s.w.t. semata-mata. Demikianlah penjelasan hamba. Baiklah kita teruskan kepada mengeesakan Allah Ta’ala pada ZAT,agar supaya para penuntut menjadi maklum adanya.


JILID 1 : 1.9. TAUHIDUL ASMA (KITAB BARENCONG)

[Warisan Datu Sanggul, Banjarmasin, Kalimatan Selatan]


MENGESAKAN ALLAH TA’ALA PADA ASMA

Maksud dan tujuan mengesakan Allah Ta’ala pada nama : yaitu yang sebenarnya ialah untuk mengenal Zat Allah, sehingga manakala kita memandang, mendengar,atau melihat nama apapun jua pada mahluk ini, maka tercurahlah pandangan basyirah kita dan perhatian kita kepada Allah s.w.t. 

Adapun pengertian meng esakan nama itu ialah menyatukan, meninggalkan,dan mengembalikan seluruh nama-nama atau nama-nama yang ada pada makhluk ini, kepada nama dan Zat Allah Ta’ala. Baik nama-nama yang menurut hikmah dan manfa’at daripada benda ala mini ataupun nama-nama menurut perbuatan mahluk ini, yang disebut dengan nama perbuatan atau asmaul af’al. Sekira-kira dalam pandangan basyirah hati kita tidak ada yang bernama kecuali Allah. 

Jadi nama-nama ini tidak terbatas kepada asmaul husna saja, tetapi lebih luas dan lebih mendalam sekali atau tak dapat dihinggakan. Bermula kalfiat mengesakan Allah Ta’ala pada asma itu, yaitu kita pandang dengan mata kepala dan dengan mata hati kita pada asma Tuhan semata. Atau harus dikembalikan kepada Allah Ta’ala dengan dalil-dalil dan alasan sebagai berikut :

1. Karena af’al makhluk adalah majhor dan kenyataan perbuatan Allah. Maka begitu juga asma makhluk adalah majhor asma Allah yang tujuannya adalah untuk mengenal Allah.

2. Tiap-tiap nama menuntut ujud musama, yakni tiap-tiap nama tidak pisah dengan zat yang empunya nama. Sedangkan kalau diperiksa dengan teliti dan dipandang dengan pandangan ma’rifat, maka tidak ada yang maujud pada hakikatnya kecuali Zat Allah Ta’ala.

3. Allah berfirman : WALILLAHIL ASMA UL HUSNA FAD’UHU BINAA. Artinya : Bagi Allah ada nama yang baik-baik ,maka beroleh kamu dengan DIA.

4. Sabda Rasulullah S.A.W : INNAMA TAD’UUMA MAN HUWA SAMI’UN BASYIRUN,MUTAKALLIMUN, WA HUWA MA’AKUM AINAMA KUNTUM. Artinya : hanya saja kamu berdoa kepada Tuhan yang maha mendengar lagi maha melihat, dan yang berkata-kata dan DIA selalu beserta kamu dimana saja kamu berada.

Adapun cara kita mamusyahadahkan pandangan ini ialah dengan dua cara yaitu : 

SYUHUDUL KASRAH FIL WAHDAH dan SYUHUDUL WAHDAH FIL KASRAH. Artinya : Pandang yang banyak pada yang satu. Dan pandang yang satu pada yang banyak. Disni hamba simpulkan saja bahwa : Seluruh ASMA ini dari Allah dan kembali kepada Allah. Jadi pada hakikatnya nama-nama yang ada pada mahluk ini nyata adalah : nama-nama Tuhan Allah.

Maka dari itu wahai sekalian penuntut, mantapkan lah pandanganmu dalam segala perkara, supaya ia tetap bagimu. Kalau sudah mantap pandanganmu, maka engkau yang bernama khalifah Tuhan dalam dunia fana ini. Sekarang baiklah kita teruskan tentang mengesakan sifat Allah Ta’ala. Tetapi sebelum kita membicarakan tentang meesakan sifat Allah Ta’ala : maka baiklah anda sekalian hamba bawa kepada membicarakan tentang ayat Alqur’an yang berbunyi : FA’ILUN ILALLAH, Artinya SEMUA KERJA DARI ALLAH. Maka yakinlah kita sekarang ini tak da yang perlu kita ragukan lagi. Karena sysk dan ragu itu adalah musuh kemerdekaan akal. Demikianlah penjelasan hamba mengenai tauhidul asma. Sekarang baiklah kita teruskan kepada membicarakan tentang meng  esakan Allah Ta’ala pada sifat,  artinya : seluruh sifat-sifat yang ada dalam alam ini, si empunya kepada sifat Hayat.


JILID 1 : 1.8. TAUHIDUL AF’AL. (KITAB BARENCONG)

[Warisan Datu Sanggul, Banjarmasin, Kalimatan Selatan]


MENGESAKAN ALLAH TA’ALA PADA PERBUATAN

Dalam pelajaran atau pengajian-pengajian kita yang terdahul sudah kita jelaskan/kita sampaikan, titik tujuan pelajaran dan ilmu tasawuf adalah menuju jalan kembali kepada Allah dan supaya liqo/ bertemu Allah, maka jalan bagi salik/ penuntut haruslah dimulai dengan mempelajari dan mengamalkan tauhidul af’al, artinya : meng esakan Allah Ta’ala pada segala perbuatan, yakni meninggalkan seluruh perbuatan yang ada pada makhluk ini kepada Allah.maksudnya pandanganlah olehmu dengan syuhud hati dan dengan mata mata kepala dengan itikad yang putus dan dengan Haqqul yakin, bahwa segala perbuatan dan gerakan yang ada terlihat dalam ala mini, baik yang datang dari diri kita sendiri maupun yang datang dari semua mahluk yang ada dalam ala mini : baik perbuatan yang diridhai oleh syara maupun yang dilarang oleh syara ; adalah kesemuanya itu perbuatan Allah Ta’ala.

Memang itu perbuatan Allah; maka kalau kita lihat pada lahirnya segala perbuatan itu dilakukan oleh manusia/hamba dan segala hayawan dan lain-lain sebagainya. Tetapi namun kita teliti dengan cermat dan dengan penuh keyakainan dan dengan tinjauan akal, dengan seksama bahwasanya memang mahluk ini lemah, daif, hina tak punya daya upaya sama sekali. Dan tidak punya sifat ta’sir dan sebagainya. Sedangkan segala pebuatan itu tidak akan ada kalau sifat yang memperbuat itu tidak memiliki sifat-sifat tsb. Sifat-sifat ta’sir itu ialah Qudrat, Iradat, ilmu, hayat sedang semua sifat-sifat itu ialah kepunyaan dan milik Allah. Jadi segala perbuatan yang ada terlihat pada ala mini dan diri kita, itulah perbuatan majazi belaka, dan bukan hakiki. Itu adalah majhor dan kenyataan perbuatan Allah kepada kita.
Allah menyandarkan perbuatannya kepada kita, adalah tanda kasih sayangnya, supaya kita punya titik dan penempatan mengenal perbuatan Allah dan ZATnya. Disamping itu juga merupakan coba dan ujian kepada kita ; apakah kita sanggup memandang perbuataan Allah, atau menjadi orang buta dan syirik, mengakui/kekuatan dan perbuatan dia sendiri lahir dan bathin/luar dan dalam.
Kenyataan dan kejahiran perbuatan Allah kepada hambanya ; inilah oleh kaum sufi disebut usaha ikhtiar hamba. Dan disinilah takluknya hukum syara’.

SYEH WAHAB SYAHRANI berkata ; beliau ada mendengar dari syaidina ALI AL HAWAS ia berkata : Wajib bagi hamba meng’itiqadkan bahwa segala perbuatan dan usaha ikhtiar hamba, sama sekali tidak memberi bekas dangan sekira-kira takwin dan atsar. Lebih jauh beliau berkata, Allah menghendaki mengadakan suatu harakat atau yang disebut gerak perbuatan, maka tidak akan ada ujudnya kecuali pada maddah atau tempat yang menerima hokum yang dimaksud ; mustahil ada ujud gerak atau perbuatan tanpa ada maddah itu. Maka yang dijadikan maddah atau tempat menzahirkan perbuatan Allah itu, adalah hamba dan lain-lainnya. Itulah sebabnya dipandang ada segi lain, ada perbuatan hamba.

Sanagat banyak sekali penjelasan dalam Al qur’an dan hadits-hadits nabi yang memberikan keterangan-keteragan bahwa hamba atau mahluk ini sama sekali tidak punya perbuatan. Antara lain menegaskan, WALLAHU KHOLAQOKUM WAMAA TA’MALUN artinya : “Allah yang menjadikan kamu dan segala perbuatan kamu”. (surah as shaa ayat 96).

Dan lagi ayat yang berbunyi : WAMAA ROMAITA IZROMAITA WALAKINNALAHA HAROMA Artinya ; “Hai Muhammad bukanlah engkau yang melempar dikala engakau melempar, tapi Allah lah yang melempar dikala engkau melempar.” ( Surah anfaal 17 ).

Jadi untuk kemantapan pandangan kita, kita harus selalu melatih diri dengan tidak bosan-bosannya mensyuhud perbuatan Allah Ta’ala Azzawazalla.kita hendak lah dalam hidup ini tidak hanya melihat yang tersurat saja, tetapi juga yang tersirat. Dengan basyirah hati kita ini, biar saja mata melihat perbuatan alam, namun dalam hati melihat perbuatan Allah.
Biar saja telinga mendengar alam, namun hati kepada Allah. Biar saja mulut mengatakan perbuatan si A si B dan si C, namun hati tetap tercurah kepada Allah. Boleh saja buat misal sekedar untuk mendekatkan kepada Allah (kepada faham). Bahwa alam AKUAN yang kita lihat ini dengan bermacam-macam corak dan ragam, hendaknya tak ubahnya laksana kita melihat bayang-bayang yang mana hati kita akan tertuju kepada yang punya bayang-bayang itu.
Tidak mungkin bergerak bayang bayang, tanpa bergerak yang punya bayang-bayang. Jadi kesimpulannya adalah : tiada yang hidup, tiada yang tahu, tiada yang kuasa, tiada yang berkehendak dan tiada yang berkata-kata pada hakikatnya melainkan Allah Ta’ala.

Adapun zahir sifat ini kepada mahluk adalah tempat memandang sifat-sifat Tuhan yang zahir pada mahluk, yakni bayang2 sifat tuhan kepada hamba. Seperti ujud kita adalah bayang-bayang  ujud Allah Ta’ala. Mustahil ujud bayang-bayang dengan tiada ujud yang mempunyai/empunya bayang-bayang. Dan mustahil pula bergerak bayang-bayang  dangan tiada bergerak yang empunya bayang-bayang. Bermula misal ini karena untuk menghampirkan faham jua adanya.

Jadi untuk kemantapan pandangan ini bahwa makhluk ini tiada mempunyai perbuatan barang perbuatan, hanya saja perbuatan yang ada dalam ala mini perbuatan,hanya saja perbuatan Tuhan Allah semata-mata. Dan jika engkau sangka ada perbuatan lainnya daripadanya, walaupun sebesar zarrah, maka syirik lah engkau, artinya : mensekutukan Tuhan dengan lainnya, (syirik khafi).

Demikianlah orang yang hendak mengesakan Allah Ta’ala pada Af’al atau perbuatan, tanamkanlah keyakinan kita itu ke dalam lubuk jiwa yang sangat mendalam. , sekira-kira/tidak bergeser walau sebesar zarrahpun, kalau sudah mantap pandangan akan Af’al Allah Ta’ala maka manunggallah perbuatanmu (manunggal dalam rahsia) dengan Af’al-Nya.

JILID 1 : 1.7. PEMBAHGIAN FANA (KITAB BARENCONG)

[Warisan Datu Sanggul, Banjarmasin, Kalimatan Selatan]

FANA TERBAHAGI ATAS TIGA BAGIAN.

1. Fana pada Af’al (perbuatan), sampai merasakan bahwa tidak ada satu perbuatan pun didalam ala mini.selain dari perbuatan Allah Ta’ala.

2. Fana pada Sifat, hingga sampai menyakinkan bahwa tidak ada yang hidup kecuali Allah. Apabila dikatakan tidak ada yang hidup pada hakikatnya kecuali Allah ; berarti juga tidak ada yang kuasa, yang berkehendak, yang berilmu, yang mendengar, yang melihat, dan yang berkata-kata, kecuali Allah semata-mata.

3. Fana pada Zat ialah ; hilang ujud yang lahir ini dan alam seluruhnya dan pandangan  kecuali Allah.

Jadi barang siapa yang melihat mahluk tidak punya perbuatan pada mereka, maka sesungguhnya ia menang. Dan barang siapa yang melihat mahluk yang tidak ada hidup pada mereka, maka derajatnya telah naik. 

Barang siapa melihat mahluk tidak ada pada hakikatnya, maka ia telah sampai kepada titik yang dituju, yaitu titik puncak ilmu dan ma’rifat. Apabila kita sudah menjalani yang tiga perkara ini, maka itulah makam fana namanya, dan selanjutnya naik kemakam baqa, makam baqa itu ialah : HU ITU ALLAH TA’ALA. Sedang makam fana kesimpulannya kepada : LAMAUJUDA BIHAQQIN ILLALLAH. Tidak ada yang maujud, kecuali Allah Ta’ala.

Demikianlah apa yang dapat hamba sampaikan, kalau sudah faham dan mengerti,kuburlah ia. Jangan dibeberkan ditengah masyarakat umum/awam, nanti bisa membawa fitnah besar. Sekarang baiklah kita teruskan kepada membicarakan tentang meng-esakan Allah Ta’ala pada segala perbuatan.


1.8. TAUHIDUL AF’AL. (KITAB BARENCONG)

[Warisan Datu Sanggul, Banjarmasin, Kalimatan Selatan]


MENGESAKAN ALLAH TA’ALA PADA PERBUATAN

Dalam pelajaran atau pengajian-pengajian kita yang terdahul sudah kita jelaskan/kita sampaikan, titik tujuan pelajaran dan ilmu tasawuf adalah menuju jalan kembali kepada Allah dan supaya liqo/ bertemu Allah, maka jalan bagi salik/ penuntut haruslah dimulai dengan mempelajari dan mengamalkan tauhidul af’al, artinya : meng esakan Allah Ta’ala pada segala perbuatan, yakni meninggalkan seluruh perbuatan yang ada pada makhluk ini kepada Allah.maksudnya pandanganlah olehmu dengan syuhud hati dan dengan mata mata kepala dengan itikad yang putus dan dengan Haqqul yakin, bahwa segala perbuatan dan gerakan yang ada terlihat dalam ala mini, baik yang datang dari diri kita sendiri maupun yang datang dari semua mahluk yang ada dalam ala mini : baik perbuatan yang diridhai oleh syara maupun yang dilarang oleh syara ; adalah kesemuanya itu perbuatan Allah Ta’ala.

Memang itu perbuatan Allah; maka kalau kita lihat pada lahirnya segala perbuatan itu dilakukan oleh manusia/hamba dan segala hayawan dan lain-lain sebagainya. Tetapi namun kita teliti dengan cermat dan dengan penuh keyakainan dan dengan tinjauan akal, dengan seksama bahwasanya memang mahluk ini lemah, daif, hina tak punya daya upaya sama sekali. Dan tidak punya sifat ta’sir dan sebagainya. Sedangkan segala pebuatan itu tidak akan ada kalau sifat yang memperbuat itu tidak memiliki sifat-sifat tsb. Sifat-sifat ta’sir itu ialah Qudrat, Iradat, ilmu, hayat sedang semua sifat-sifat itu ialah kepunyaan dan milik Allah. Jadi segala perbuatan yang ada terlihat pada ala mini dan diri kita, itulah perbuatan majazi belaka, dan bukan hakiki. Itu adalah majhor dan kenyataan perbuatan Allah kepada kita.

Allah menyandarkan perbuatannya kepada kita, adalah tanda kasih sayangnya, supaya kita punya titik dan penempatan mengenal perbuatan Allah dan ZATnya. Disamping itu juga merupakan coba dan ujian kepada kita ; apakah kita sanggup memandang perbuataan Allah, atau menjadi orang buta dan syirik, mengakui/kekuatan dan perbuatan dia sendiri lahir dan bathin/luar dan dalam.

Kenyataan dan kejahiran perbuatan Allah kepada hambanya ; inilah oleh kaum sufi disebut usaha ikhtiar hamba. Dan disinilah takluknya hukum syara’.

SYEH WAHAB SYAHRANI berkata ; beliau ada mendengar dari syaidina ALI AL HAWAS ia berkata : Wajib bagi hamba meng’itiqadkan bahwa segala perbuatan dan usaha ikhtiar hamba, sama sekali tidak memberi bekas dangan sekira-kira takwin dan atsar. Lebih jauh beliau berkata, Allah menghendaki mengadakan suatu harakat atau yang disebut gerak perbuatan, maka tidak akan ada ujudnya kecuali pada maddah atau tempat yang menerima hokum yang dimaksud ; mustahil ada ujud gerak atau perbuatan tanpa ada maddah itu. Maka yang dijadikan maddah atau tempat menzahirkan perbuatan Allah itu, adalah hamba dan lain-lainnya. Itulah sebabnya dipandang ada segi lain, ada perbuatan hamba.

Sanagat banyak sekali penjelasan dalam Al qur’an dan hadits-hadits nabi yang memberikan keterangan-keteragan bahwa hamba atau mahluk ini sama sekali tidak punya perbuatan. Antara lain menegaskan, WALLAHU KHOLAQOKUM WAMAA TA’MALUN artinya : “Allah yang menjadikan kamu dan segala perbuatan kamu”. (surah as shaa ayat 96).

Dan lagi ayat yang berbunyi : WAMAA ROMAITA IZROMAITA WALAKINNALAHA HAROMA Artinya ; “Hai Muhammad bukanlah engkau yang melempar dikala engakau melempar, tapi Allah lah yang melempar dikala engkau melempar.” ( Surah anfaal 17 ).

Jadi untuk kemantapan pandangan kita, kita harus selalu melatih diri dengan tidak bosan-bosannya mensyuhud perbuatan Allah Ta’ala Azzawazalla.kita hendak lah dalam hidup ini tidak hanya melihat yang tersurat saja, tetapi juga yang tersirat. Dengan basyirah hati kita ini, biar saja mata melihat perbuatan alam, namun dalam hati melihat perbuatan Allah.

Biar saja telinga mendengar alam, namun hati kepada Allah. Biar saja mulut mengatakan perbuatan si A si B dan si C, namun hati tetap tercurah kepada Allah. Boleh saja buat misal sekedar untuk mendekatkan kepada Allah (kepada faham). Bahwa alam AKUAN yang kita lihat ini dengan bermacam-macam corak dan ragam, hendaknya tak ubahnya laksana kita melihat bayang-bayang yang mana hati kita akan tertuju kepada yang punya bayang-bayang itu.

Tidak mungkin bergerak bayang bayang, tanpa bergerak yang punya bayang-bayang. Jadi kesimpulannya adalah : tiada yang hidup, tiada yang tahu, tiada yang kuasa, tiada yang berkehendak dan tiada yang berkata-kata pada hakikatnya melainkan Allah Ta’ala.

Adapun zahir sifat ini kepada mahluk adalah tempat memandang sifat-sifat Tuhan yang zahir pada mahluk, yakni bayang2 sifat tuhan kepada hamba. Seperti ujud kita adalah bayang-bayang  ujud Allah Ta’ala. Mustahil ujud bayang-bayang dengan tiada ujud yang mempunyai/empunya bayang-bayang. Dan mustahil pula bergerak bayang-bayang  dangan tiada bergerak yang empunya bayang-bayang. Bermula misal ini karena untuk menghampirkan faham jua adanya.

Jadi untuk kemantapan pandangan ini bahwa makhluk ini tiada mempunyai perbuatan barang perbuatan, hanya saja perbuatan yang ada dalam ala mini perbuatan,hanya saja perbuatan Tuhan Allah semata-mata. Dan jika engkau sangka ada perbuatan lainnya daripadanya, walaupun sebesar zarrah, maka syirik lah engkau, artinya : mensekutukan Tuhan dengan lainnya, (syirik khafi).

Demikianlah orang yang hendak mengesakan Allah Ta’ala pada Af’al atau perbuatan, tanamkanlah keyakinan kita itu ke dalam lubuk jiwa yang sangat mendalam. , sekira-kira/tidak bergeser walau sebesar zarrahpun, kalau sudah mantap pandangan akan Af’al Allah Ta’ala maka manunggallah perbuatanmu (manunggal dalam rahsia) dengan Af’al-Nya.


JILID 1 : 1.6. CARA PANDANGAN ITU ADA DUA MACAM (KITAB BARENCONG)

[Warisan Datu Sanggul, Banjarmasin, Kalimatan Selatan]


Pertama : SYUHUDUL WAHDAH FIL KASRAH artinya : memandang yang satu kepada yang banyak. Di mana pokok pandangan dimulai dari syuhud bathin, naik kepada Nur bathin, dan kepada ilmu bathin. Dan akhirnya sampai kepada ujud bathin.

Pandangan kedua ialah : SYUHUDUL KASRAH FIL WAHDAH, Artinya : memandang banyak kepada yang satu. Pandangan ini dimulai pada pangkal pertama yakni ujud bathin yang hakikatnya Zat semata-mata dan Zat yang satu itulah yang menerbitkan ilmu bathin ; yakni Sifat. Dan juga Nur bathin yakni Asma. Bahkan syuhud bathin yakni Af’al. maka apabila yang banyak itu berasal dari yang satu : akhirnya akan kembali juga kepada yang satu. Dan apabila sekarang kita sudah kembalikan, maka tidak ada lagi ujud kecuali Allah semata. Tamsil, cahaya terang itu adalah permulaan dari sinar matahari, yang disebut siang. Sebelum itu didapat, lebih dahulu yang dipandang itu adalah cahayanya yang terang tersebut. Kemudian baru sinar yang menerangi itu, sinar itu menyatakan cahaya matahari. Meskipun tidak tampak, karena sinar itu tidak lepas dari matahari. Bahkan cahaya terang itu juga menyatakan adanya matahari, karena datang dari sinar yang ada pada matahari tersebut.

Maka apabila sudah lenyap dan fana segala yang lain daripada Allah Ta’ala dan sudah lenyap segala sifat-sifat kejadian, yakni majhor kenyataan, maka akan tercapailah makam baqa ; yang disebut juga makam tajali atau Nampak, makam Zuhur atau nyata; yang menghasilkan pandangan :

MA RAYTU SYAI’A ILLA WAROITULLAH MA’AH Artinya : tidak aku lihat sesuatu, yang Nampak bagiku Allah besertanya.

MA RAYTU SYAI’A ILLA WAROITULLAH QABLAH Artinya : tidak aku lihat sesuatu, kecuali yang Nampak bagiku Allah sebelumnya.

MA RAYTU SYAI’A ILLA WAROITULLAH BA’DAH Artinya : tidak aku lihat sesuatu, yang Nampak bagiku Allah sesudahnya.

MA RAYTU SYAI’A ILLA WAROITULLAH FI’IH Artinya : tidak aku lihat sesuatu, kecuali yang Nampak bagiku Allah dalamnya.

Demikianlah makam yang dicari setelah melewati fana dan fana ul fana.

Adapun yang dimaksud dengan fana oleh ahli tasawuf ialah : lenyapnya perasaan hamba dari nafsu basyariah, yakni segala sifat-sifat ke-ia-an dan ke akuan dari kemanusiaan, sudah takluk pada tuhannya, maka jadilah ia baqa dengan Allah Ta’ala.


ii. Pertanyaan yang kedua adalah tentang diri.

Bilakah datangnya dan kapan pula kembalinya? 

Jawabnya ialah : bahwa diri bathin itu datang ke dunia ini adalah setelah adanya jasad, sesuai dengan firman Allah : yang artinya ; kemudian kami sempurnakan jasad itu, lalu ditiupkan roh kepadanya.


Dan pertanyaan yang ketiga dan yang ke-empat ialah :

Dari mana diri itu datangnya dan kemana pula kembalinya, serta apa maksud datang ke dunia ini?

Jawabnya ialah : datangnya dari Allah dan kembalinya kepada Allah, adapun maksud datang ke dunia ini adalah dengan jasad sebagai alatnya.

Karena sudah dijelaskan fasal yang lewat : yaitu laksana kuda tungganganya dengan penunggangnya. Kuda ditamsilkan sebagai jasad. Dan Roh sebagai penunggangnya. 

Pada fasal yang lalu sudah kita jelaskan bahwa perjalanan salik dalam mencari dan mengenal Zat Allah itu adalah dimulai dari bawah hingga kepada ke atas atau yang disebut TARRAQI : misalnya dimulai dari tauhidul asma, tauhidul sifat, tauhidul af’al dan tauhidul Zat sampai kepada LA’MAUJUDA BIHAQQIN ILLALLAH, artinya : “Tidak ada yang ada kecuali dia jua yang ada.”

Sekarang kita mengambil dalil dari pada kaum sufi yaitu sudah dimufakati bersama bahwa : segala sesuatu selain Allah pada hakikatnya tidak ada, dengan kata lain semua itu tidak dapat dikatakan ada, sebagai adanya tuhan.

Di sini hamba katakan bahwa semua itu Allah dan Allah itu semuanya. Ujud alam ain ujud Allah dan Ujud Allah ain ujud alam. Allah itulah hakikat Alam : maka wajarlah kita ini dengan Zat Allah atau Ujud Allah (rahasia Allah).

Berkata ABU HASSAN AS SYAZALI r.a Bahwa ; melihat Allah itu dengan penglihatan iman dan yakin, ini lebih kaya daripada melihat dalil-dalil. Lebih baik kita katakan bahwa; kita tidak akan melihat alam, dan andaikata ada juga, maka penglihatan itu atau penglihatan ariffbillah itu tak  ubahnya laksana melihat debu terbang di angkasa yang pada penglihatan ada, tapi/namun dicari tak ada, artinya : tak dapat menangkapnya. Itulah perjalanan arffbillah atau Wali Allah ; yang telah sampai kepda makam fana dan makam baqa.


*********


JILID SATU 1.5 RUMUS/ MUTIFATOR (KITAB BARENCONG)

 [Warisan Datu Sanggul, Banjarmasin, Kalimatan Selatan]


1. Hidup tubuh karena nyawa, hidup nyawa karena Allah.

2. Tahu hati karena tahu Ruh, tahu Ruh karena Allah.

3. Kuasa anggota tubuh karena Ruh, kuasa Ruh karena kuasa Allah.

4. Berkehendak fuad kerena berkehendak Ruh, berkehendak Ruh karena berkehendak Allah.

5. Mengdengar telinga karena mendengar Ruh, mendengar Ruh karena mendengar Allah.

6. Melihat mata karena melihat Ruh, melihat Ruh karena melihat Allah.

7. Berkata mulut karena berkata Ruh, berkata Ruh karena berkata Allah.

Maka kita rumuskan pula tentang diri bathin itu sebagai berikut dibawah ini :

1. Wujud bathin, hakikatnya adalah wujud Allah.kepada kita jadi Rahsia. Maksudnya tentang Zat Tuhan itu tidak dapat dilihat dan diraba, hanya dengan nur iman dan dirasakan oleh sinar hati.

 Inilah yang dimaksud oleh hadits yang berbunyi : Al insanu sirri wa ana sirrohu. Artinya : insan itu rahasiaku , dan akupun rahasianya.

2. Ilmu bathin, hakikatnya adalah sifat Allah, yang kepada kita menjadi nyawa/Ruh. Dan ruh itulah tempat majhor sifat-sifat Allah. Hingga dia kuasa memerintahkan jasad dan lain-lainnya.

3. Nur bathin, hakikatnya Asma Allah, yang kepada kita menjadi hati. Maksudnya hati itu adalah tempat majhor daripada Asma Allah.

4. Syuhud bathin, hakikatnya adalah Afal Allah, yang kepada kita menjadi batang tubuh. Maksunya batang tubuh kita ini adalah tempat majhor dan tempat nyata perbuatan Allah. Jalannya adalah bahwa segala amal usaha lahir yang dilakukan oleh manusia. Tapi pada hakikatnya dan pada bathinnya adalah semata-mata perbuatan Allah.

Maka hal itu dinamakan penyaksian Bathin. Karena amal usaha zahir itulah yang membuktikan perbuatan bathin. Itulah yang memberi bekas, kerena terjadi dari sifat bathin, yang tidak bias lepas dari ujudnya : yakni Zatnya yang maha kuasa. Demikianlah yang dinamakan tauhidul Zat, tauhidul Sifat, tuahidul Asma, tauhidul Af’al. maka melihat sesuatu apa saja perbuatan Allah.

Maka dengan demikian fana lah yang lain : yakni ujud lahir dan sifat lahir, dikala itu tidak ada yang ada kecuali bathin. Maka sekarang bathinlah yang melihat bathin/melihat gerakan Zat. Dari itu maka jelaslah sekarang kepada kita bahwa yang memandang ia yang memandang. Dan kalau sudah mantap pandangan ini, dengan sendirinya naiklah ke makam baqabillah. Karena pada makam ini seperti ucapan ahli tasawuf, BAQA itu ialah daripada Allah, dan dengan Allah.


******###******


JILID SATU 1.4. MENGENAL DIRI (KITAB BARENCONG)

[Warisan Datu Sanggul, Banjarmasin, Kalimatan Selatan]


Diri itu ada dua unsur.

1. Diri zahir berupa jasad.

2. Diri bathin berupa Ruh.


Dan diri itu dapat pula dibagi atas 3 unsur.

1. Diri yang Hak. (diri yang sebenarnya)

2. Diri terperi. (Muhammad)

3. Diri terdiri. (Adam).


Dan Ruh itu ada tiga Martabat.

1. Ruh idhofi (nafas yang keluar masuk)

2. Ruh mukayyat (yang mengedari/yang bergerak keseluruh tubuh)

3. Ruh mutlak (yang tetap pada tempatnya)


Dan Zat itu ada tiga Asma.

1. ZAT illahiyah

2. ZAT masbiyah

3. ZAT addahiyah.


Dan diri zahir ada dua unsur bahagian pula.

1. Jasad yang mengandung Ruh.

2. Ruh yang mengandung Jasad.


Dan diri kita ini mengandung dua aspek.

1. Diri yang bersifat ketuhanan (lahut)

2. Diri yang mengandung kehambaan (nasut)


Dan dalam diri kita ini mengandung tiga Rahsia.

1. Rasa yang Hak (rasa tuhan)

2. Rasa Muhammad (Nur Muhammad)

3. Rasa Adam (rasa yang tercela).

Dan di dalam diri kita ini ada suatu perbendaharaan yang tersembunyi : di situ ada mahligai. Di dalam mahligai itu ada alat yang halus , ada yang kasar. Kesemuanya itu adalah berupa amanah tuhan dan suatu titipan Tuhan kepada hambanya.  Amanah itu ialah suatu titipan Ruh dan itulah yang wajib kita pelihara dan kita jaga kemurniaannya. Ruh inilah yang sanggup mengenal Tuhannya. Dan yang sanggup melaksanakan sebagai khalifah di dalam bumi ini. 


i. Pertanyaan pertama

Apakah alat yang halus dan kasar itu tadi?

Sekarang marilah kita huraikan satu persatunya.

Adapun diri kita ini ada dua unsur/macam.

Pertama diri zahir berupa jasad. 

Batang tubuh dengan kelengkapannya seperti ; kaki, tangan, mata, hidung, mulut , telinga, dan lainnya. Serta dalam tubuh ini ada Ruh, hati, akal dan nafsu. 

Yang kesemuanya itu tergolong dalam alam yang disebut alam sagir (alam kecil).Yang kesemuanya itu terjadi dari unsur-unsur api, angin, air dan tanah/bumi. Inilah yang disebut laksana kuda tunggangan yang menjadi alat bagi hakikat Roh itulah sebagai penunggangnya.


Kedua diri bathin yang berujud qalbu atau Ruh. 

Bukannya berujud benda dalam tubuh, dan dia tidak akan binasa untuk selamanya. Dialah yang sanggup memerintah jasad, dialah yang mampu mengenal Allah. Dialah Raja kuasa. Ruh itu raja kuasa dan sanggup mengenal Allah. Apakah sebabnya dikatakan raja kuasa? Sebabnya ialah kerena ruh itu adalah yang menjadi tempat majhor kenyataan terang benderangnya sifat-sifat Allah.  

Ruh Muhammad itulah/adalah dari NUR menyata. Itulah yang dikatakan cahaya yang cerlang cemerlang yang tiada harapan : Tuhan bertajjali kepadanya. Sedang sifat sifat Allah itu ada pada ZATnya. Maka apabila kita mendakwa kepada Ruh, maka haruslah ditembuskan pandangan kita kepada Sifat dan Zat Allah. supaya tidak terdinding lagi kepada Allah.

Kalau kita terhenti kepada ruh itu saja, tidak kita teruskan kepada Allah, maka kita terdinding kepada Allah. Kalau masih betah berdiam kepada Muhammad, berarti belum kembali atau belum pulang landas ke pangkalannya. Kalau sudah pernah tinggal landas inilah yang dikatakan orang yang bergembira setiap saat. Sedangkan Rasulullah sendiri sebagai asal usul segala kejadian, toh beliau pulang kembali kepangkalannya, apalagi kita ini.


Jumaat, 26 Disember 2025

JILID SATU : 1.3. PERINTIS JALAN YANG PERTAMA : RASULULLAH

Pengantar dan Perintis yang pertama dalam ilmu bathin, atau ilmu hakikat/ilmu tasawuf adalah RASULULLAH sendiri. Kemudian dijadikan suatu pelajaran, dan ilmu tersendiri oleh Syaidina ALI KARAMMULLAHUWAJHAH, kemudian dilanjutkan oleh HASAN BASRI anaknya. Hairoh yang menjadi pembantu peribadi Ummu Salamah yaitu ketika HASAN BASRI masih kecil ilmu ini sudah mulai melimpah kepada beliau, karena dekatnya kepada Rasulullah s.a.w.

Kemudian Ahli kebatinan yang pertama sekali ialah : ABU HASYIM AL KUFI, beliau berasal dari koufah yang meninggal pada tahun 150 atau tahun 761 M. Adapun sumber ilmu tasawuf itu adalah dari AL QUR’AN dan AL HADITS. Dan menuntut ilmu ini adalah hukumnya Fardhu ain. Maka barang siapa tidak peroleh ilmu ini ditakuti mati dalam kekafiran.


JILID SATU : 1.2 DIRI KITA YANG SEBENAR-BENARNYA.

DI SINI KITA BICARAKAN SEDIKIT TENTANG DIRI KITA YANG SEBENAR-BENARNYA 

Adapun diri kita ini ada tiga bagian :

Pertama ialah diri yang sebenarnya (rahsia) – kembali pada yang haq

Kedua ialah diri terperi (Muhammad)

Ketiga ialah diri terdiri (adam).

Jadi yang pertama tadi ialah kembali kepada yang hak. Kedua ialah kembali kepada rasa Muhammad. Ketiga ialah yang betah tinggal kepada rasa adam semula. Jadi dosa besar yang tiada ampunan : kecuali kembali kepada yang sebenarnya. Insya Allah kita uraikan panjang lebar dan lebih mendalam lagi dalam pelajaran yang akan datang.


MENGENAL DIRI

Sabda Rasulullah s.a.w. : MAN AROFA NAFSAHU FAQOD AROFA RABBAHU. Artinya: “Barang siapa mengenal dirinya, niscaya mengenal akan Tuhannya”.

Jadi sebelum mengenal Tuhan, kenallah diri. Perjalanan itu kita mulai dari dalam diri kita sendiri, dari dalam terus ke dalam, akhirnya serba alam dan keindahannya dan dengan keganjilannya : hanyalah sebagai pencari diri.

Alam ini penuh dengan rahsia-rahsia yang tersembunyi. Rahsia itu tertutup oleh dinding-dinding,  dinding- dinding itu ialah hawa nafsu kita sendiri, atau yang disebut nafsu kita sendiri, atau disebut pula nafsu syaitan, atau dengan kata lain ialah : nafsu lawammah atau nafsu sawiyah atau nafsu yang batal/agiar. Dinding-dinding itu mungkin tersimbah dan terbuka, asal kita sudi menempuh jalannya, jalannya ialah : jalan yang ditempuh oleh orang arif, dan mahu mengurangi sedikit dari hawa nafsu kebendaan. Dan sanggup menyisihkan segala halangan dan rintangan yang hendak menggagalkan niat kita yang baik itu. Jadi yang hendak kita kenal ini bukanlah diri yang kasar ini. Tetapi diri yang bersifat ketuhanan.


Diri kita ini ada dua unsur : 

Pertama unsur jasad atau badan kasar. 

Kedua unsur Ruh atau badan latif. Ruh itu erat sekali pertaliannya dengan Tuhan. Memang sudah hamba katakan dahulu bahwa RUH itu adalah suatu Rahsia yang amat pelit sekali.

Jadi yang sebenar-benar Ruh itu Nur Muhammad.

Jadi yang sebenar-benar Nur Muhammad itu Sifat. Sebenar-benar sifat itu ialah Zat. Jadi Zat itu Zat Hayat, bukan Zat Hayun. Jadi Allah adalah nama Zat, dan Muhammad nama Sifat. Zat dan Sifat itu tiada bersatu dan tiada bercerai.

Sekarang marilah kita teruskan untuk mengenal diri dan mengenal Tuhan Allah Azzawazalla.

WANAN KAANAFI HAJIHI AMA FAHUWA FIL AKHIRATIA’MA WA ‘ADHOLLU SABBILA, artinya : “Barang siapa buta dalam dunia ini, niscaya buta juga di akhirat sesat di jalan”.

Seratus dua puluh empat ribu (124,000) nabi-nabi diutus Tuhan ke dalam dunia ini, adalah untuk mengajar dan memimpin umat manusia, untuk cara-cara membersihkan bathin atau qalbu, supaya dapat ma’rifat dan mengenal Allah. Tujuan utama ialah : agar memperoleh kebahagiaan jiwa, dan ketenangan bathin. Karena yang sebenar-benar Kaya itu ialah kebahagiaan jiwa dan kebersihan hati.

Inilah tujuan utama bagi alat jiwa manusia ini. Inti daripada telaga kebahagiaan itu ialah : Ma’rifatullah. Jadi siapa yang sudah Ma’rifat itulah sorga dunia dan sorga akhirat nanti. Dan siapa belum/masih terdinding itulah neraka dunia dan neraka akhirat nanti.

Jadi barang siap tidak ada hasrat memiliki ilmu ini maka samalah ia makan nasi bercampur pasir.

Ma’rifat itu adalah suatu amanah dari tuhan yang wajib kita tuntut dan kita tuju.


JILID SATU : 1.1. MAKRIFATULLAH : MENGENAL TUHAN MENGENAL DIRI

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Sekarang kita teruskan pula kepada pelajaran yang kita tuju, yaitu Ma’rifatullah, artinya MENGENAL ALLAH AZZA WAZALLA. Jadi sebelum kita mengenal Tuhan, kenalilah DIRI. 

Ini sesuai dengan sabda Rasulullah s.a.w : MAN ARAFA NAFSAHU FAQAD AROFA ROBBAHU, artinya : “Barang siapa mengenal akan dirinya,niscaya mengenal akan tuhannya.”

Perjalanan itu dimulai dari dalam diri kita sendiri, perjalanan itu dimulai dari dalam terus ke dalam, akhirnya serta alam dengan keindahannya dan dengan keganjilannya, hanyalah sebagai saksi pencari diri.

Jadi sebelum kita mengenal Tuhan, maka kenallah diri, sebelum kita mengenal diri lebih dahulu, kenallah Adam lebih dahulu, dan sebelum kenal kepada Adam kenallah MUHAMMAD lebih dahulu. Demikianlah orang yang hendak mengenal diri dan mengenal akan tuhan Allah Azza Wazalla.

Baiklah kita mulai dengan ayat yang berbunyi : 

INNALAHA KHOLAQO QOBLAL ASIA INNURI NABIYUKA. “Bahwasanya Allah Taala menjadikan dahulu daripada segala rahsia itu ilah NUR NABIMU.”

Diriwayatkan oleh JABIR beliau pernah juga bertanya kepada Nabiallah s.a.w. : yaitu dijawab oleh Nabi AWWALUMA KHOLAQOL LAHU TAALA NURI NABIYIKA,YA JABIR. :”Mula mula dijakan Allah Ta’ala daripada segala rahsia itu ialah : NUR NABIMU ya JABIR.”

Maka nyatalah RUH NABI itu dijadikan dahulu daripada segala rahsia itu, dan lagi dijadikan ia daripda Zatnya jua, tetapi sebelum tuhan menjadikan NUR MUHAMMAD, Tuhan telah mengatakan dalam kitabnya Al’quranul qarim yang berbunyi : artinya : Pertama kujadikan ILMU sebelum kujadikan NUR MUHAMMAD. Maka nyatalah kepada kita bahwa : NUR MUHAMMAD.

Maka nyatalah kepada kita bahwa NUR MUHAMMAD itu jadi daripada ILMUnya dan daripada KUDRAT DAN IRADATNYA jua, seperti kata Syeh ABDUL WAHAB SYAHRANI : INNALAHA KHOLAQOR RUHUN NABIYI MUHAMMADIN MINZATIHI,WAKNOLAQOR RUHUL ALIMU MINNURI MUHAMMAD S.A.W. Bahwasanya Allah Ta’ala menjadikan Roh nabi itu daripada Zatnya jua, dan daripda ilmunya jua, dan serta qudrat dan iradatnya. Dan menjadikan Roh sekalian alam ini daripada NUR MUHAMMAD s.a.w 

Maka nyatalah kepada kita bahwa Roh sekalian alam ini daripada NUR MUHAMMAD jua.

Dan segala batang tubuh kita ini nyata daripada Adam, tetapi Nabi Adam itu dijadikan daripada tanah, seperti firman Allah Ta’ala dalam AL qur’an : KHOLAQOL INSANA MINTIN artinya : “Aku jadikan Insan Adam itu daripada tanah dan tanah itu jadi daripada Air, dan Air itu jadi daripada NUR MUHAMMAD  s.a.w. jua.”

Maka nyatalah kepada kita bahawa Roh kita dan batang tubuh kita ini jadi daripada NUR MUHAMMAD; maka wajarlah kita ini bernama MUHAMMAD. 

Dan nyatalah bahwa kalau Roh kita dan batang tubuh kita ini daripada Nur Muhammad. Maka kita ini tiada lain dan tiada bukan, pada Hakikatnya Nur Muhammad jua. 

Dan kalau telah jelas dalam hati makrifat akan hakikat Nur Muhammad itu, maka hendaklah engkau mesrakan Nur Muhammad itu kepada Roh dan kepada batang tubuhmu dan kepada seluruh kainat. Kalau sudah benar-benar mesra, insya allah engkau akan melihat keelokan zat yang wajibul wujud.

Sekarang baiklah kita teruskan kepada membicarakan tentang mengenal diri, yaitu sekalian nanti bab yang akan datang kita perdalam lagi menurut yang semestinya.

Dan Syeh ABDUL RA’UF berkata : yang sebenar-benar diri itu ialah nyawa. Yang sebenar-benarnya nyawa itu ialah Nur Muhammad. Dan yang sebenar-benarnya Nur Muhammad itu ialah sifat. Yang sebenar-benarnya sifat itu ialah zat. Tetapi di sini bukan zat hayun, tapi zat hayat.

Dan lagi kata Arifbillah : Bermula yang sebenar-benarnya diri itu ialah Roh, tatkala ia nasab sekalian tubuh, nyawa namanya. Tatkala keluar masuk nafas namanya. 

- Tatkala ia berkehendak = hati namanya. 

- Tatkala ia ingin akan sesuatu = nafsu namanya. 

- Tatkala ia memilih akan sesuatu = ikhtiar namanya. 

- Taktkala ia dapat memperbuat akan sesuatu = akal namanya. 

- Dan tatkala ia yakin akan sesuatu = iman namanya.

Jadi pohon akal itu adalah ilmu. Inilah yang disebut yang sebenar benar diri. Tetapi janganlah terhenti kepada roh itu saja, teruskanlah kepada yang hak. (kepada Allah Ta’ala).

Dan firman Allah Ta’ala dalam Al qur’an :

ANA MINNURILAH WAL ALIMU MINNUR, artinya : “Dari pada cahaya Allah, dan sekalian Ilmu daripada cahayaKu”

Tetapi Nur di sini bukan lah menurut fahaman umum yang berlaku ia bukan zat, bukan benda dan bukan materi, tetapi di atas segala-galanya. 

Insya Allah kita akan bertemu juga dengan NUR cerlang cemerlang itu. Sekarang kita teruskan kepada firman Allah : KHOLAQTUKA LIADJLI WA KHOLAQTUL ASNI LIADJLIKA, artinya : “Aku jadikan engkau karenaku ya Muhammad dan Aku jadikan sekalian alam itu karenamu ya Muhammad.” 

Jadi dengan adanya ini tadi, maka nyatalah kepada kita bahwa Nur Muhammad itu jadi daripada Nur Allah Jua, atau yang lazim disebut NUR ZAT atau NUR ILAHI ROBBI. Maka kalau demikan adanya, wajarlah kita ini dengan Zat Allah Ta’ala, sebab Zat itulah bermula segala ujud. Tidak ada yang ujud,  hanyalah Allah dan perbuatan Allah.

Maka adalagi sebuah hadis qudsyi berbunyi : AL INSANU SIRRI WAANA SIRRAHU. Artinya : “Insan itu rahasiaKu, dan Akupun rahsianya.” 

Dan lagi firman yang berbunyi : AL INSANU SIRRI WA ANA SIRRI WASIFATIN WA SIFATUN LAGOIRIH, artinya : “Insan itu rahsiaku, rahsia aku itu sifatku, dan sifat itu tiada lain daripada aku jua.”

Jadi yang sebenar-benarnya insan itu manusia, yang sebenar-benarnya manusia itu ialah Af’al Allah. Yang sebenar-benarnya Af’al Allah itu ialah Sifat Allah. Yang sebenar-benarnya Sifat Allah itu ialah Zat Allah. Karena zat dan sifat itu tiada menerima tunggal; dan Zat dan Sifat itu tiada sekutu dan tiada pula bercerai. Dan barang siapa menyekutukan Zat dan Sifat, atau menceraikannya, maka tersebut dihukumkan SYIRIK KHAFI.

Orang yang mmenceraikan itu berdosa. Orang yang syirik itu syirik Jali hidupnya penuh dosa yang tiada maaf  baginya. Karena orang yang seperti itu ia merasa bahwa dirinya yang ada. 

Sabda Rasulullah s.a.w. di dalam Al hadist : yang berbunyi UJUDUKA ZAMBUN QIAASALAHU LIGOIRIH. Artinya : “Syirik Khafi itu adalah dosa besar.”

Jadi selama ujud Adam masih melekat dalam dirimu, niscaya tiada sampai semua ibadatmu walau setinggi langit. Jadi untuk melepaskan syirik khafi itu keluarlah engkau dari diri engkau. 

.


Khamis, 25 Disember 2025

38. SYEKH ABDUL QADIR MENYELAMATKAN MURIDNYA DARI SIKSAAN MALAIKAT MUNKAR WA NAKIR

Diriwayatkan, Syekh Abdul Qadir mempunyai murid yang bodoh dan buta agama, namun ia menaruh cinta, rindu, kepada gurunya yaitu Syekh Abdul Qadir.


Pada waktu ia mati ditanya dialam kubur oleh malaikat Munkar Nakir:

"Apa agamamu, siapa Tuhanmu dan siapa Nabimu ?". Si mayat menjawab : "Saya tidak tahu, yang saya ketahui hanya guruku Syekh Abdul Qadir, beliaulah yang sangat kucintai". 


Mayat itu selalu memanggil-manggil Syekh Abdul Qadir, sehingga malaikat Munkar Nakir merasa bingung menghadapi kejadian ini, lalu hal ini diajukan kepada Alloh SWT: "Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui tentang jawaban mayat hamba-MU ini, untuk hal itu saya serahkan kepada-Mu". 


Alloh bersabda : "Beri siksaan dia sebagaimana mestinya".


Pada waktu malaikat Munkar Nakir akan melaksanakan siksaan sebagaimana perintah Allah SWT, tiba-tiba Syekh Abdul Qadir muncul sambil berkata : "Wahai

malaikat Munkar Nakir, mayat muridku jangan disiksa karena dia waktu hidupnya termasuk orang yang bodoh, dan tidak tahu tentang agama, yang dia ketahui hanyalah aku ini". 

Lalu Syekh melanjutkan pembicaraannya :

"Akulah yang yang akan memberi jawaban terhadap segala pertanyaan yang kalian akan tanyakan, nah sekarang mau menanyakan masalah apa ?".


Untuk kedua kalinya kejadian ini malaikat Munkar Nakir bertambah bingung dan dengan segera dilaporkan kepada Allah SWT.


Alloh bersabda sebagaimana tadi : "Siksa dia sebagaimana mestinya !". 


Setelah malaikat itu menerima perintah dari Allah lalu diambilnya godam, ketika mayat akan disiksa, tiba-tiba Syekh menghadang dan menggagalkan serta merebut godam dari tangan malaikat Munkar Nakir lalu

dilemparkan, beliau berkata : "Semuanya minggir! Demi

panasnya kecintaanku yangmembara dalam batinku kepada Allah, siapapun juga tidak ada yang menandingiku. Ingat, kalau mayat muridku disiksa, surga dan neraka semuanya akan kubakar ( artinya dalam surga tidak akan senang dan dineraka tidak akan

susah )".


Ketika itu datang sabda Allah : "Sekarang Ku ampuni dosa mayatorang itu, jangan kamu siksa, disebabkan karena kekasihku Abdul Qadir. Aku menanggung

rindu padanya, dan lebarkan pula kubur mayat orang itu!".


37. BERKAT DO'A SYEKH ABDUL QADIR SEORANG PEREMPUAN MEMPUNYAI TUJUH ANAK LAKI-LAKI

Dalam kitab Muntakhab Jawahiril Qalaid diriwayatkan, ada seorang perempuan datang menghadap

Syekh Abdul Qadir, maksudnya ia mohon do'a restu dan karomah Syekh agar ia dikaruniai seorang anak yang menjadi dambaan hati buah pelerai lara. 


Lalu Syaikh melihat tulisannya di Lauhil Mahfudz, ternyata bagi perempuan itu tidak ada tulisan

akan mempunyai anak. 


Disaat itu pula Syekh berdo'a kepada Allah Yang Maha Berkuasa agar perempuan itu diberi dua orang

anak. 


Selesai beliau berdo'a terdengar sabda Allah :

"Bukankah kamu sudah melihat di Lauhil Mahfudz bahwa seorang anakpun tidak ada tulisannya bagi

perempuan itu, dan sekarang malah kamu minta dua orang anak ?".


Syekh berkata lagi : "Saya mohon tiga anak". 


Dikala itu datang lagi sabda Alloh : "Kamu sudah melihat di Lauhil Mahfudz ia tidak ada lukisannya seorang anakpun, kini kamu minta tiga anak". 


Syekh berkata lagi: "Ya Alloh saya mohon empat orang anak". 


Demikian seterusnya permohonan Syekh bertambah meningkat sampai pada permohonan tujuh orang anak. 


Pada waktu sampai batas tujuh orang anak, datang

sabda Alloh: "Sekarang sudah cukup, jangan lebih dari tujuh, dan permohonan itu Ku-terima".


Atas anugerah karunia itu lalu beliau bersujud syukur kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.


Kemudian Syekh mencomot segumpal tanah, dan sedikit dari tanah itu diberikan kepada perempuan itu. Dengan

mengharap barokahnya lalu perempuan itu membuat liontin mata kalung dari tanah itu yang

dilapisi perak.


Beberapa hari kemudian perempuan itu hamil, dan sampai masa sembilan bulan ia melahirkan bayi kembar siam tujuh bayi laki-laki semuanya dalam keadaan sehat dan selamat.


Kian hari bayi itu menjadi besar dan meningkat menjadi anak- anak dewasa. Beberapa tahun kemudian, keyakinan perempuan itu menjadi berubah.


Tercetus dalam bisikan hati perempuan itu prasangka buruk  terhadap Syekh. Ia berkata sambilmemegang perhiasan liontin mata kalung yang dipakai: "Untuk apa

gunanya tanah ini tiap hari selalu bergantung di bawah leherku, sekarang aku sudah punya anak, untuk apalagi kalung ini kupakai, tidak ada gunanya". Seusai ia

berkata dalam hati nuraninya dengan spontanitas ketujuh anaknya itu mati.


Melihat kejadian yang tidak terduga itu, segera perempuan itu berangkat menghadap Syekh

sambil menangis tersedu-sedu dan bertobat mohon

ampunannya karena jauh sebelumnya sudah berprasangka buruk kepada Syekh.


Menerima pengaduan dan keluhan itu, Syekh berkata

"Sekarang juga kamu cepat pulang, dan apa yang menjadi niat dan harapanmu itu akan diterima juga nanti". 


Setibanya dirumah dengan penuh cemas

ternyata anaknya yang sudah mati, semuanya hidup kembali.


36. SYEKH AHMAD KANJI MENJUNJUNG KAYU BAKAR DIATAS KEPALANYA

Syekh Ahmad Kanji pekerjaannya adalah mencari kayu bakar untuk memasak roti bagi faqir-faqir.

Setelah mengenakan mahkota dari Syekh Abdul Qadir, gurunya berkata : "Sekarang engkau tidak layak mencari kayu bakar, sebab kepalamu telah dimahkotai

dengan mahkota yang mulia". Lalu Syekh Ahmad Kanji memohon ijin dari gurunya untuk mencari kayu

bakar. 


Ujar gurunya: "Ya kalau kamu ngotot, silakan saja".


Iapun berangkat ke gunung memgumpulkan kayu bakar dan diikat. Waktu akan diangkat kekepalanya, kayu bakar itu melayang diatas kepala Syekh Ahmad Kanji kira-kira sehasta dari kepalanya. Lantas Syekh Ahmad

Kanji pulang kepada gurunya.


Ikatan kayu bakar terus melayang mengikuti Syekh Ahmad.


Setibanya di tempat gurunya yaitu Syekh Abi Ishaq Maghribi, gurunya berkata : "Nah, Syekh Ahmad, tadi kataku bagaimana, kepalamu tidak pantas dipakai

membawa kayu bakar, sebab sudah ditempati mahkota dan sorban yang mulia. Sejak kini, sudahlah jangan mencari kayu bakar. Engkau oleh Sayyid Abdul

Qadir sudah ditunjukkan dalam pangkat Rijalullah".